Anda di halaman 1dari 6

Pemeriksaan Pada Cerebral Palsy Spastic Triplegia

1) ANAMNESIS
a. Anamnesis Umum
Anamnesis ini meliputi (1) identitas pasien antara lain : (nama,tanggal lahir, usia,
jenis kelamin, agama, alamat, ) (2) mengetahui riwayat sekarang dan penyakit dahulu
(3) heteroanamnesis kepada orang tua pasien tentang alasan untuk mencari
pertolongan medis terutama pelayanan fisioterapi,kapankah gejala pada pasien sudah
mulai muncul,dan apa yang menyebabkan gejala tersebut muncul dan telah berobat
kemana saja?. Diagnosis medis apa saja yang pernah diperoleh,dan pada pasien
tersebut apakah sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
b. Anamnesis
Dalam anamnesis ini pertanyaan ditujukan pada riwayat ibu sedang mengalami
kehamilan dan masa tumbuh kembang anak,yaitu (1) Pada waktu ibu hamil,apakah
pernah mengalami perdarahan,apakah pernah mengalami keracunan obat, kekurangan
vitamin,

dan

apakah

pernah

terkena

virus

atau

radiasi,(2)

Pada

masa

persalinan,apakah ibu mengalami kesulitan waktu proses persalinan dan sehingga


memerlukan alat bantu,dan apakah bayi lahir dengan berat normal? Dan Apakah bayi
mengalami prematur? (3) apakah pada masa kembang anak pernah mengalami trauma
kepala.
c. Anamnesis Sistem
Anamnesis ini untuk melengkapi data yang belum tercakup dari data anamnesis
diatas.Anamnesis ini meliputi : (1) kepala dan leher,ditanyakan apakah mengalami
rasa pusing dan kaku,(2) kardiovaskuler, ditanyakan apakah pasien merasa nyeri dada
dan jantung terasa berdebar-debar, (3) respirasi pasien merasa sesak nafas,dan batuk,
(4) gastrointestinal, apakah pasien mearsa mual dan muntah,dan apakah defekasi
(buang air besar ) terkontrol atau tidak (5) urogenital ditanyakan apakah pasien
mengalami buang air kecil terkontrol atau tidak (6) nervorum perlu pemeriksaan pada
fungsi sensibilitas.

d. Anamnesis tambahan
Merupakan pencarian data mengenai riwayat keluarga yang berhubungan dengan
adanya cerebral palsy seperti apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita
cerebral

palsy

sebelumnya,

apakah

keluarga

penderita

pernah

mengalami

incompatibilitas rhesus.
2) PEMERIKSAAN FISIK
a. Vital sign Pemeriksaan vital sign meliputi :
1. Tekanan darah ( blood preasure )
Tekanan darah diukur dengan menggunakan tensimeter pada pengukuran tekanan
darah dilakukan sebelum,sesudah dan selama intervensi fisioterapi. Jika pasien
anak-anak menggunakan manset ukuran anak-anak,sedangkan pasien dewasa
menggunakan manset ujuran dewasa.
2. Nadi
Pemeriksaan denyut nadi dilakukan dengan cara manual.Pada umumnya
pemeriksaan denyut nadi dilakukan pada arteri radialis dengan menggunakan 3 jari
dengan cara dipalpasi dan pemeriksaan nadi juga dapat dilakukan pada arteri
femoralis,arteri dorsalis pedis,arteri temporalis,dll. Frekuensi nadi sama dengan
frekuensi nadi sama dengan frekuensi denyut jantung.
3. Suhu tubuh ( Temperatur )
Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan dengan manual untuk mengetahui apakah
pasien sedang demam atau tidak tanpa memperhatikan besarnya derajat suhu
tubuh. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah terapi bisa dilakukan atau
tidak.jika pasien demam tidak dilakukan untuk diterapi.
4. Tinggi badan
Pengukuran pada tinggi badan dilakukan dengan menggunakan pita ukur atau
midline.

5. Berat badan
Pengukuran berat badan dilakukan dengan menggunakan timbangan berat badan.
b. Inspeksi
lewat inspeksi terapis memperhatikan pola gerak khususnya saat berjalan,postur anak

dan gerakan-gerakan yang bisa dilakukan oleh anak dan faktor-faktor penghambat
pada gerakan-gerakan tersebut.
c. Palpasi
Pada pemeriksaan dengan menggunakan palpasi untuk mengetahui ada tidaknya
spasme dan temperatur tubuh secara subyektif.
d. Perkusi dan Auskultasi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan jika pasien mempunyai riwayat penyakit jantung
dan paru-paru.
3) PEMERIKSAAN GERAK
Pemeriksaan gerak dilakukan secara aktif,pasif maupun isometrik melawan tahanan.disini
yang perlu diperhatikan yaitu ada tidaknya keterbatasan ROM,kekuatan otot, dan
koordinasi gerakan serta pola gerak yang salah.
a. Pemeriksaan gerak aktif
Pada pemeriksaan gerak aktif pasien diminta menggerakkan anggota yang diperiksa
secara aktif ( free active movement ). Dan kalau meyakinkan dilakukan secara
bilateral dan terapis melihat dan memberi aba-aba.
b. Pemeriksaan gerak pasif
Pemeriksaan gerak pasif adalah pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh terapis
pada penderita sementara dalam keadaan pasif relaks misalnya : memeriksa lingkup
gerak sendi, end feel, provokasi nyeri, kelenturan otot, pola kapsuler, kualitas tonus
otot, derajat spastisitas,adanya kontraktur anggota gerak.
c. Pemeriksaan isometrik melawan tahanan
Pemeriksaan isometrik melwan tahanan adalah suatu cara pemeriksaan gerakan oleh
penderita secara aktif, dan terapis memberikan tahanan yang berlawanan arah dari
gerakan yang dilakukan oleh penderita
4) PEMERIKSAAN SPESIFIK
a. Pemeriksaan spastisitas
Pemeriksaan spasstisitas dilakukan dengan cara menggerakan pasien dengan cara
pasif dan gerakan fleksi ekstensi dengan gerakan yang semakin cepat, penilaianya
menggunakan

skala

asworth

dengan

kriteria

sebagai

berikut

0 Normal, tidak ada peningkatan tonus otot


1 Ada peningkatan tonus otot ditandai dengan terasanya tahanan minimal
pada akhir gerakan, sendi masih mampu full ROM dan mudah digerakan

2 Ada sedikit peningkatan tonus otot ditandai dengan adanya pemberhentian


gerak serta diikutinya munculnya tahanan minimal mulai dari prtengahan

hingga akhir gerakan, sendi masih bisa full ROM dan mudah digerakan
3 Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM, tetapi
secara umum sendi masih mudah digerakan
4 Peningkatan tonus otot sangat nyata, sendi sulit digerakan
5 Sendi dan ekstremitas kaku (rigid)
b. Pemeriksaan reaksi-reaksi otomatis
Pada pemeriksaan reaksi otomatis ini didapatkan informasi tentang penurunan atau
hilangnya reaksi-reaksi otomatis antara lain : (1) reaksi tegak kepala (righting
reaction) diperiksa dengan cara anak didudukan dan trunk digerakan ke depan, ke
belakang dan ke samping maka anak akan mempertahankan kepala agar tetap tegak
(2) reksi keseimbangan (equilibirum reaction) diperiksa dengan cara menggerakan
tubuh melawan tahanan agar tetap menjaga keseimbangan (3) reaksi ekstensi protektif
(protective reaction) anak didudukan kemudian didorong ke salah satu sisi dilihat
apakah lengan bereaksi bisa memepertahankan badan dengan ekstensi lengan.
Dari hasil pemeriksaan reaksi-reaksi otomatis, jika positif maka pasien tidak
mengalami penurunan. Reaksi otomatis, sedangkan jika negatif maka pasien
mengalami penurunan atau hilangnya reaksi otomatis.
c. Pemeriksaan reflek primitif
Pada pemeriksaan reflek primitif disesuaikan dengan umur anak /keadaanya dan
stimulasi yang diberikan saat pemeriksaan harus tepat. Secara fisiologis beberapa
reflek yang terdapat pada bayi tidak lagi dijumpai pada anak yang sudah besar. Bila
reflek-reflek ini masih ada,menunjukkan adanya kemunduran fungsi saraf.
Abnormalitas reflek ini ada 3 macam yaitu : (1) reaksi asimetris, (2) tidak timbulnya
reaksi yang diharapkan ada. (3) reflek tetap pada usia yang seharusnya reflek tersebut
sudah hilang. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui reflek-reflek primitif yang
masih

ada.

Adapun pemeriksaan reaksi reflek primitif meliputi : (1) reflek babinky, (2) reflek
moro.(3) grasp reflek, (4) asymmetrical tonic neck reflek (5) body righting (6) tonic
labyrinthine reflek, (7) positive suporting reaction (8) reflek tendon patella, (9) ankle
clonus
d. Pemeriksaan pola gerak
Pemeriksaan pola gerak dilakukan (1) pada posisi terlentang, pada posisi dilihatnya
semetris atau tidaknya posisi kepala saat diangkat full to shit secara pasif (2) posisi

tengkurap, pada posisi diliohat kesimetrisanya, kemampuan kepala pada salah satu sisi
mid line, lengan mampu menyangga atau tidak, kemampuan menjangkau benda,
upaya keposisi merangkak (3) pada posisi duduk, dilihat kesimetrisanya, ada tidaknya
gangguan lengan, long sitting, side sitting, dilihat dari gerakan tungaki dari satu sisi
ke sisi yang lain (4) posisi merangak, dilihat dari kesimetrisan, aktifitas lengan dalam
menjangkau objek bermain, beralih ke posisi side sitting, beralih keduduk, beralih
posisi dari half kneeling kemampuan berakhir posisi duduk (5) kneeling dilihat
berpegangan atau tidak, bagaimana berjalan kneeling kedepan dan kebelakang
pemindahan berat badan ke kanan dan ke kiri (6) half kneeling, dilihat diawali dengan
kaki kanan atau kiir, berpegangan atau tidak (7) ke posisi berdiri, dilihat bagaimana
reaksinya dari duduk di lantai ke berdiri (8) pada posisi berdiri,dilihat apakah tungkai
pararel dimana letak berat badan saat berjalan kemampuan menyangga satu
tungkai,kemampuan berjalan kedepan,kebelakang, dan kesamping.
e. Pemeriksaan lingkup gerak ( LGS )
Pemeriksaan LGS dilakukan untuk mengetahui luas bidang gerak dari suatu sendi.
Dilakukan aktif pasif pada sendi-sendi yang ada dilengan (shoulder, wrist, elbow dan
jari-jari tangan) dan tungkai (hip, knee dan ankle) alatbyang digunakan untuk
mengukur

adalah

gonemeter.

Pengukuran

standart

internasional

ortopeadic

measurments (ISOM).
f. Pemeriksaan deformitas
Pemeriksaan deformitas bertujuan untuk mengetahui : (1) subluksasi atau dislokasi
shoulder, (2) skoliosis kearah sisi yang sakit pada vertebra, (3) keterbatasan luas gerak
sendi, (4) kontraktur pada jaringan lunak.
g. Gait analisis
Gait analisis dilakukan untuk mengetahui : (1) apakah anak melakukan independen
atau dengan bantuan, (2) fase gait circle lengkap atau tidak, (3) bidang tumpu normal /
melebar / menyempit, (4) sikap / postur trunk dan kepala lengan dan tungkai normal
atau tidak.
h. Pemeriksaan intrapersonal dan interpersonal
Alat ukur atau metode yang digunakan dalam pemeriksaan intrapersonal dan
interpersonal disesuaikan dengan aspek intrapersonal dan interpersonal yang akan
diperiksa dengan menggunakan cara interview.Aspek yang dinilai sejauh mana pasien
dapat melakukan aktifitas perawatan diri serta mana pasien dapat bekerja sama
dengan fisioterapi.

i. Pemeriksaan aktifitas fungsional


Pemeriksaan aktifitas fungsional dilakukan untuk menilai tingkat kemandirian anak,
apakah anak dapat melakukan aktifitas sehari-hari dan secara mandiri,dibantu
sebagian atau sepenuhnya oleh orang lain.Gross Motor Function Measurment
(GMFM)

dapat

digunakan

dalam

melakukan

pemeriksaan

ini.

GMFM adalah suatu jenis pengukuran klinis untuk mengevaluasi perubahan fungsi
gross motor pada penderita cerebral palsy. Penilaian GMFM ada 4 skor yaitu
0,1,2,dan 3 yang masing-masing mempunyai arti sama mekkipun deskripsinya
berbeda tergantung pada penilaiannya
http://ortotik-prostetik.blogspot.com/2009/03/penatalaksanaan-terapi-latihanpada.html?m=1