Anda di halaman 1dari 22

UNIVERSITAS

ISLAM

DEPARTEMEN ILMU BEDAH ORTOPEDI


STATUS PASIEN UNTUK UJIAN

INDONESIA

Untuk Dokter Muda

FAKULTAS KEDOKTERAN
Nama Dokter Muda

Dinar Deby Saraswati

NIM

06711014

Tanda Tangan

Tanggal Ujian
dr. R. Goeteng

Rumah Sakit

Taroenadibrata

Gelombang Periode

April 2015-Juni 2015

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. R

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 33 tahun

Alamat

: Purbalingga

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Bangsal

: Menur -- Gardena Baru

Tanggal Masuk

: 12 mei 2015

Nomor RM

: 610805

ANAMNESIS
1

Diberikan oleh

: Pasien

Tempat / Tanggal / Pukul: Ruang Menur/ 12-5-2015 / 19.30


Keluhan Utama

: Jika berjalan timpang/pincang

Riwayat Penyakit Sekarang :


SMRS : pasien datang ke poli dengan keluhan jika berjalan kaki kanan timpang atau pincang.
dikatakan bahwa pada tahun 2006, pasien sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dengan
posisi jatuh yang lupa akan tetapi pasien sadar saat kecelakaan kemudian dibawa ke dokter dan
dikatakan mengalami patah tulang di paha bagian kanan, disarankan di operasi akan tetapi pasien
tidak mau sehingga pasien pulang dan kemudian berobat alternatif dengan cara dipijat selama
beberapa bulan kemudian sembuh. saat ini pasien mengeluhkan jika berjalan pincang (+), merasa
kaki kanan lebih pendek (+), pasien malu dengan keadaannya dan ingin sembuh.

Riwayat Penyakit Dahulu

: riwayat jatuh sebelumnya (+)

Riwayat Penyakit Keluarga: riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-)

Anamnesis Sistem
Sistem Cerebrospinal

: demam (-), sakit kepala -)

Sistem Cardiovaskular

: berdebar-debar (-), nyeri dada (-)

Sistem Respiratorius

: sesak nafas (-), batuk pilek (-)

Sistem Gastrointestinal

: mual (-), muntah (-), nafsu makan menurun (-)

Sistem Urogenitale

: BAK (+) normal, berwarna kuning


2

Sistem Integumentum

: tampak scar bekas luka pada paha kanan (+)

Sistem Musculoskeletal

: pegal (-)

Resume Anamnesis :
Pasien laki-laki, Tn. R umur 33 tahun , keluhan pincang saat berjalan (+), kaki kanan lebih
pendek dari kaki kiri (+) sejak 9 tahun yang lalu, tampak bekas luka pada paha kanannya (+)

PEMERIKSAAN FISIK
I.

Status Generalis

Kondisi Umum

: cukup

Kesadaran

: compos mentis, GCS: E4V5M6

Tanda vital
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Respirasi

: 17 x/menit

Suhu

: 36,5 C

Kepala

: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher

: pembesaran limfonodi (-)

Thorax
Cor : S1S2 reguler dengan S1 > S2 bising (-)

Pulmo : dinding dada sejajar dinding perut, suara dasar vesikuler (+/+),

wheezing (-/-),

ronkhi (-/-)
Abdomen

: dinding abdomen supel (+), bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)

Ekstremitas

: edem (-), hangat (+)

II.

Status Lokalis

Regio

: femur dextra

Look

: deformitas (+), pemendekan (+)

Feel

: nyeri (-), pegal (-)

Move

: bebas

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan rontgen femur dextra AP/Lateral

DIAGNOSIS
Malunion fraktur Femur Dextra

USULAN TERAPI / TINDAKAN


Operasi rekonstruksi dengan osteotomi kemudian internal fiksasi.

MALUNION FRAKTUR FEMUR


Definisi

Fraktur merupakan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung
menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Sedangkan
trauma tidak langsung, bila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur,
misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur klavikula. Pada keadaan ini
biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Anatomi Femur
Femur atau tulang paha adalah tulang terbesar dan terkuat pada tubuh manusia yang
menghubungkan bagian pinggul (pelvis) dan lutut. femur sendiri terdiri dari bagian kepala dan
leher pada bagian proksimal dan dua condylus pada bagian distalnya.
Femur memiliki bagian yaitu caput, collum, trochanter mayor dan trochanter minor,
bagian caput beratikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. pada
pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis yaitu tempat perlekatan ligamentum
dari caput. sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan
memasuki tulang pada fovea.
Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah,
belakang, lateral dan membentuk sudut kurang lebih 125 derajat dengan sumbu panjang batang
femur. besar sumbu ini dapat berubah bila ada penyakit.
Trochanter mayor dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang, yang
menghubungkan 2 trochanter ini adalah linea intertrochanteriaca didepan dan crista
intertrochanterica yang mencolok dibagian belakang dan padanya terdapat tuberculum
quadratum.

Bagian batang femur umumnya menanmpakan kecembungan ke depan, ia licin dan bulat
pada permukaan anteriornya namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspara,
tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah, tepian medial berlanjut ke bawah sebagai
5

crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. tepian
lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. pada permukaan posterior
batang femur, dibawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah
berhubungan dengan linea aspera. bagian batang melebar ke arah ujung ditasl dan membentuk
daerah segitiga dartar pada permukaan posteriornya yang disebut fascia poplitea.
Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang dibagian posterior
dipisahkan oleh incisura intercondylaris. permukaan anterior condylus dihubungkan oleh
permukaan sendi untuk patela. kedua condylus ikut membentuk articulatio genu, di atas condylus
terdapat epicondylis lateralis dan emdialis. tuberculum adductorium berhubungan langsung
dengan epicondilus medialis.

Etiologi
Penyebab dari fraktur antara lain:
a. Trauma langsung benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu
b. Trauma tak langsung di mana jarak antara titik tumpul benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan
c. Proses penyakit kanker dan riketsia
d. Compression force penderita yang melompat dari ketinggian dapat menyebabkan fraktur
kompresi tulang belakang
e. Muscle (otot) akibat injury/ sakit, terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat
menyebabkan fraktur. Misal electric shock dan tetanus.

Patofisiologi
7

Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur:


1. Faktor intrinsik
Adalah sifat-sifat dari tulang bersangkutan dalam hal menahan tekanan dan menyerap tekan.
2. Faktor ekstrinsik
Adalah faktor yang berasal dari luar tulang, dari mana tekanan berasal, seberapa besar tekanan
terhadap tulang, dan kapan terjadinya.

Fraktur

Periosteum, pembuluh darah di korteks, dan jaringan sekitar rusak

Terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang

Terbentuk hematom di canal medulla

Jaringan mengalami nekrosis

Nekrosis merangsang terjadinya peradangan, yang ditandai dengan:


a. Vasodilatasi
b. Pengeluaran plasma
c. Infiltrasi sel darah putih

Klasifikasi
8

Klasifikasi fraktur secara umum :


Berdasarkan garis fraktur
1. Fraktur komplit : garis patahannya melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang.
2. Fraktur inkomplit : garis patahannya tidak melalui seluruh penampang tulang.
3. Greenstick fracture bila mengenai satu korteks di mana korteks tulangnya sebagian
masih utuh juga periosteum akan segera sembuh dan segera mengalami remodelling ke
bentuk normal.

Berdasarkan jumlah dan garis patah/ bentuk/ konfigurasi


1. Fraktur kominutif : fraktur dengan tulang yang pecah menjadi beberapa segmen.
2. Fraktur segmental : bila garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Satu ujung
yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk sembuh dan keadaan ini
memerlukan terapi bedah.
3. Fraktur EMultiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan
tempatnya. Misalnya fraktur femur, cruris, dan vertebra.

Berdasarkan posisi fragmen


1. Fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak
bergeser, periosteumnya masih utuh.
2. Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang disebut
juga dengan dislokasi fragmen.

Berdasarkan hubungan antara fragmen dengan dunia luar


1. Fraktur terbuka (open fracture / compound fracture) : fraktur terbuka karena integritas
kulit robek/ terbuka dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit.
2. Fraktur tertutup (closed fracture / simple fracture) : fraktur tidak kompleks, integritas
kulit masih utuh, tidak ada gambaran tulang keluar dari kulit.

10

Berdasarkan bentuk fragmen dan hubungan dengan mekanisme trauma


1. Fraktur transversal (melintang); trauma langsung : garis fraktur tegak lurus, segmen
tulang yang patah direposisi/ direduksi kembali ke tempat semula, segmen akan stabil
dan biasanya mudah dilakukan dengan bidai gips.
2. Fraktur oblique; trauma angulasi : fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap
tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
3. Fraktur spiral; trauma rotasi : fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstremitas,
menimbulkan sedidkit kerusakan jaringan lunak dan cenderung cepat sembuh dengan
imobilisasi luar.
4. Fraktur kompresi; trauma axial flexi pada tulang spongiosa : fraktur terjadi ketika dua
tulang menumpuk tulang ketiga yang berada di antaranya, seperti satu vertebra dengan
dua vertebra lainnya.
5. Fraktur avulsi; trauma akibat tarikan (fraktur patela) : fraktur yang memisahkan suatu
fragmen tulang tempat insersi tendon atau ligamen.
6. Fraktur patologis :Terjadi pada daerah yang menjadi lemah oleh karena tumor atau prose
patologik lainnya.

Klasifikasi fraktur femur :


11

a. Fraktur collum femur


Dapat disebabkan oleh trauma langsung misalnya pada penderita jatuh dengan posisi miring
dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras ataupun disebabkan
oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai
bawah, dapat dibagi menjadi fraktur intrakapsuler (fr collum femur) dan fraktur
ekstracapsuler (fraktur intertrochanter femur)
b. Fraktur subtrochanter femur
c. Fraktur dimana garis patahannya berada 5 cm distal dari trochanter minor dibagi dalam
beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi
fielding dan magliato yaitu :
1. garis fraktur satu level dengan trochanter minor
2. garis patah berada 1-2 inch dibawah dari batas atas trochanter minor
3. garis patah berada 2-3 inch di distal dari batas trochanter minor.fraktur batang femur
d. Fraktur batang femur
Biasa terjadi karena trauma langsung akibat kll atau jatuh dari ketinggian sehingga dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup hebat. fraktur batang femur dibagi menjadi fraktur
tertutup dan fraktur terbuka
e. Fraktur supracondiler femur
Fraktur supracondiler fragmen bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini
biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot-otot gastrocnemius, biasanya fraktur
supracondiler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi
gaya axial dan stress valgus atau varus disertai gaya rotasi.
f. Fraktur intercondylar
Biasanya fraktur ini diikuti oleh fraktur supracondilar, sehingga umunya terjadi bentuk T
atau Y fraktur
g. Fraktur condyler femur
mekanisme traumanya biasa kombinasi dari garis hipereduksi dan adduksi disertai dengan
tekanan pada sumbu femur ke atas.

Manifestasi Klinis
Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi, spasme
otot akibat refleks involunter pada otot, trauma langsung pada jaringan, peningkatan tekanan
pada saraf sensori, pergerakan pada daerah fraktur dan dapat diminimalkan dengan bidai
alamiah.
12

Deformitas, akibat pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai (perbedaan
fungsi normal otot pada integritas tulang).
Pemendekan tulang yang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah
tempat fraktur.
Krepitasi, bunyi derik tulang yang dapat diperiksa dengan tangan. Hal ini terjadi karena
gesekan antara fragmen satu dengan yang lain. Uji krepitasi ini dapat berdampak kurang baik
karena menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit, terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur yang timbul beberapa jam setelah kejadian.
Ekimosis, yaitu ekstravasasi darah dalam jaringan subkutan

Diagnosis
Diagnosis fraktur didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma, baik trauma hebat maupun trauma
ringan yang diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak.

Pemeriksaan fisik
Inspeksi (Look) :

Bandingkan dengan bagian yang sehat


Perhatikan posisi anggota gerak
Keadaan umum penderita secara keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
Lidah kering/ basah
Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
13

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup

atau fraktur terbuka


Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan pemendekan
Lakukan survei pada seluruh tubuh, apakah ada trauma pada organ lain
Perhatikan kondisi psikis penderita
Keadaan vaskularisasi

Palpasi (Feel)

dilakukan secara hati-hati karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri


Temperatur setempat yang meningkat
Nyeri tekan, bersifat superfisial yang disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang

dalam akibat fraktur


Krepitasi, dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan dengan hati-hati
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri

dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena
Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit bagian distal daerah trauma,

temperatur kulit
Pengukuran tungkai, terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan
panjang tungkai

Pergerakan (Movement)

mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan

distal dari daerah yang mengalami trauma.


Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris, serta
gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis, atau neurotmesis.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
14

1. Hitung darah lengkap hematokrit mungkin meningkat (hemokonsentrasi) / menurun


(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma multipel),
peningkatan sel darah putih (sebagai respon trauma multipel).
2. Kreatinin trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
3. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah atau cedera hepar.
Radiologi
Pemeriksaan rontgen untuk menentukan lokasi dan luasnya fraktur/ trauma.

Penatalaksanaan
Tahap-tahap penyembuhan tulang:
Tahap pembentukan hematom
- dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk karena fraktur
- suplai darah meningkat
- terbentuk hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima.

Tahap proliferasi
- dalam waktu 5 hari, hematom mulai mengalami organisasi
- terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah
- membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan oseoblast yang akan
menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang
- terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan.

Tahap pembentukan kalus

15

- pertumbuhan jaringan berlanjut


- lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan
- fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang serat
imatur
- fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrous membutuhkan waktu 3 4
minggu.

Konsolidasi (6 8 bulan) dan Remodelling (6 12 bulan)


- merupakan tahap akhir dari perbaikan patah tulang
- dengan aktivitas osteoblast dan osteoklas, kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya.

16

Prinsip penanganan fraktur dikenal sebagai 4R, yaitu rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisi, mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umum; riwayat kecelakaan,
parah tidaknya luka, deskripsi kejadian oleh pasien, menentukan kemungkinan tulang
yang patah dan adanya krepitasi.
2. Reduksi, mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
Reduksi ada tiga, yaitu:
3. Reduksi tertutup (close reduction), dengan cara manual, dengan tarikan untuk
menggerakkan fragmen tulang/ mengembalikan fragmen tulang ke posisinya.,raksi,
digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi, di mana berat traksi
disesuaikan dengan spasme otot. Sinar-X digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan
aproksimasi fragmen tulang,Reduksi terbuka (open reduction), dengan memasang alat
untuk mempertahankan pergerakan, yaitu fiksasi interna dan fiksasi eksterna.,etensi,
setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi atau dipertahankan dalam
posisi penyatuan yang tepat.
4. Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi, dengan cara:
17

Mempertahankan reduksi dan imobilisasi


Meninggikan ekstremitas untuk meminimalkan pembengkakan
Memantau status neurovaskular
Mengontrol kecemasan dan nyeri
Latihan isometrik dan setting otoT
Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
Kembali ke aktivitas secara bertahap

MALUNION

Malunion terjadi bila fragmen tulang menyambung pada posisi yang tidak memuaskan (angulasi,
rotasi, atau pemendekan yang tak dapat diterima)fraktur itu dikatakan mengalami malunion.
faktor penyebabnya adalah :
1.tidak tereduksinya fraktur secara cukup
2.kegagalan mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan, atau
3.kolaps yang berangsur angsur pada tulang yang osteoporotik atau kominuitif.

Gambaran klinis
deformitas biasanya jelas, tetapi kadang tingkat malunion yang sebenarnya hanya tampak pada
rontgen, deformitas akan terlihat sangat jelas apabila dibandingkan dengan ekstremitas
sebelahnya. rontgen sinar X dibutuhkan untuk mengecek posisi fraktur ketika sedang terjadi
penyatuan. ini terutama diperlukan selama 3 minggu pertama ketika keadaan dapat berubah
tanpa tanda sebelumnya. pada tahap ini kadang sulit untuk menentukan apakah ini merupakan
malunion

Penatalaksanaan
18

1. pada orang dewasa , fraktur harus direduksi sedekat mungkin dengan posisi anatomis,
tetapi aposisi kurang begitu penting dibandingkan allignment dari rotasi. angulasi lebih
dari 15 derajat pada tulang panjang atau deformitas rotasional yang nyata mungkin
membutuhkan koreksi dengan manipulasi ulang atau membutuhkan osteotomi dan fiksasi
internal.

2. pada anak-anak , deformitas sudut dekat ujung tulang biasanya akan berubah bentuknya
sejalan dengan waktu sedangkan deformitas rotasional tidak
3. pada tungkai bawah, pemendekan lebih dari 2.5 cm jarang dapat diterima pasien sehingga
prosedur pemanjangan dapat dilakukan
Pada Tn. R dikarenakan permasalahannya adalah penyambungan tulang yang tidak baik akibat
fraktur femur sebelumnya atau yang biasa di sebut malunion maka dilakukan bedah rekontruksi
os femur dengan cara mengahncurkan atau mematahkan tulang yang menyambungnya tidak
benar (osteotomi) kemudian disambungkan dengan internal fiksasi.

19

DAFTAR PUSTAKA
Brinker. Review of Orthopaedic Trauma. Pennsylvania: Saunders Company, 2001. 127-135.
Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius, 2000. 346370.
Apley. A.G. Dan Louis Solomon, 2002. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Edisi ke
tujuh Penerbit Widya Medika,Jakarta
Anonim. Fraktur. dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor : Sjamsihidajat, Wim de Jong, EGC,
Jakarta 2002.
Rasjad, Chairuddin, 2003, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Penerbit Bintang Lamumpatue
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Makasar.

LAMPIRAN

20

21

22