Anda di halaman 1dari 6

43

Analisis Kestabilan Berdasarkan Prediksi Voltage Collapse Pada Sistem


Standar IEEE 14 Bus Menggunakan Modal Analysis
Vita Lystianingrum#1, Adi Soeprijanto#2, Teguh Yuwono#3
#

Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Industri


Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya 60111
1
vita@ee.its.ac.id, 2adisup@ee.its.ac.id
Abstract Pada sistem tenaga listrik AC, sering terjadi
permasalahan kestabilan tegangan sistem akibat adanya voltage
collapse bila terjadi gangguan. Analisis voltage collapse
diaplikasikan untuk mempelajari masalah kestabilan sistem.
Metode modal analysis digunakan untuk memprediksi kestabilan
tegangan dari suatu power system. Kurva V-Q digunakan
sebagai acuan untuk memprediksi kestabilan atau besaran nilai
voltage collapse untuk kondisi beban daya reaktif tertentu.
Analisis ini akan digunakan pada sistem IEEE 14 bus. Dalam
implementasi dengan modal analysis diasumsikan tegangan bus
konstan. Kondisi kritis akan diidentifikasi untuk kondisi semua
pembebanan pada semua bus. Prediksi mode sistem yang
terlemah berdasarkan besaran eigenvalue yang terkecil dari
sistem tersebut. Sedangkan prediksi bus yang terlemah
diidentifikasi menggunakan metode faktor partisipasi yang dapat
disesuaikan dengan nilai faktor sensitifitas tegangannya. Kurva
V-Q dihasilkan pada bus tertentu untuk memeriksa hasil yang
diperoleh dengan menggunakan metode modal analysis dan
untuk memperkirakan kestabilan dan besaran nilai voltage
collapse pada bus tersebut.
Keywords Kestabilan Tegangan, Voltage Collapse, Eigenvalue,
Faktor Partisipasi Bus, Faktor Sensitifitas Tegangan , Kurva VQ.

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Meningkatnya kebutuhan akan energi listrik
stabilitas menjadi parameter yang sangat penting dalam
perencanaan dan pengoperasian sistem tenaga listrik.
Sehingga kestabilan harus terus dijaga untuk memperoleh
tahap perencanaan dan menjaga keberlangsungan proses
operasi sistem tenaga listrik yang baik. Pada sistem tenaga
listrik ideal, energi listrik disalurkan dalam frekuensi
tunggal yang konstan dan pada level tegangan yang
konstan pula, hal tersebut dikatakan bahwa sistem berada
dalam keadaan stabil. Salah satu faktor yang menyebabkan
suatu sistem menjadi tidak stabil yaitu adanya voltage
collapse pada sistem tersebut. Ada beberapa faktor yang
dapat menyebabkan timbulnya voltage collapse
diantaranya stress pada sistem yang diakibatkan
pembebanan daya aktif yang besar pada sistem, selain juga
voltage
collapse
dapat
disebabkan
karena
ketidakseimbangan sumber daya reaktif, serta tidak
bekerjanya rele proteksi dengan baik. Suatu sistem tenaga
listrik akan mengalami ketidakstabilan tegangan akibat
adanya voltage collapse jika setelah terjadinya gangguan,
keseimbangan tegangan yang paling dekat dengan beban
berada di bawah batas nilai kestabilan tegangan. Voltage
collapse dapat menyeluruh (blackout) atau sebagian.
Kestabilan dapat menjaga kualitas daya yang dibangkitkan

hingga sampai pada konsumen tetap baik.


B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas akan dibatasi pada halhal berikut:
1. Analisis kestabilan sistem dalam menentukan voltage
collapse.
2. Analisis faktor partisipasi bus dalam menentukan
kontribusi setiap bus terhadap kestabilan sistem.
3. Bagaimana pengaruh perubahan daya aktif dan daya
reaktif pada bus sistem terhadap voltage collapse dalam
kaitannya dengan kestabilan sistem.
Pembahasan dari sisi teknis dibatasi hanya menjelaskan
kestabilan tegangan berdasarkan prediksi voltage collapse
berdasarkan metode modal analysis pada sistem
kelistrikkan distribusi industri seimbang standar IEEE 14
bus menggunakan software MATLAB.
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Mengetahui kestabilan sistem berdasarkan voltage
collapse menggunakan modal analysis pada sistem
standar IEEE 14 bus.
2. Mengetahui kontribusi bus sistem baik yang terbesar
maupun yang terlemah terhadap kestabilan sistem
menggunakan metode faktor partisipasi bus.
3. Dapat memperbaiki bus yang dianggap terlemah
dengan menaikkan daya reaktif pada bus sistem
tersebut untuk memperkecil besaran nilai voltage
collapse agar sistem menjadi lebih stabil.
II. TEORI PENUNJANG
A. Kestabilan Tegangan dan Voltage Collapse
Kestabilan
tegangan
didefinisikan
sebagai
kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam menstabilkan
tegangan menjadi normal kembali setelah terjadinya
gangguan dalam sistem tersebut yang mencakup area yang
luas. Sedangkan voltage collapse terjadi jika nilai tegangan
setelah terjadinya gangguan berada di bawah batas yang
dapat diterima. Voltage collapse dapat secara total
(blackout) atau sebagian [1].
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan voltage
collapse diantaranya :
1. Jarak yang jauh antara pembangkit dan beban
2. Cara kerja ULTC selama kondisi tegangan rendah
3. Pembebanan dan karakteristik beban dalam sistem
yang kurang baik
4. Koordinasi yang kurang baik antara kontrol sistem
dengan pengaman sistem tenaga listrik.

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306

44

B. Kurva V-Q
Kurva V-Q memplot hubungan antara tegangan
terhadap daya reaktif pada bus yang sama. Sensitivitas dan
perubahan tegangan bus terhadap injeksi daya reaktif dapat
diketahui secara jelas dengan menggunakan kurva ini.
Secara umum keuntungan dari kurva ini adalah :
1. Kurva V-Q memberikan batas daya reaktif pada
bus pengujian.
2. Karakteristik pengujian bus reaktif shunt dapat
digambarkan secara langsung pada kurva V-Q.
3. Kemiringan dari kurva V-Q mengindikasikan
hubungan antara perubahan V terhadap perubahan
Q.

Gambar 1. Batas Daya Reaktif


III.

METODE MODAL ANALYSIS

A. Sistem Eksisting Single Line Diagram Standar IEEE


14 bus
Yang dimaksud dengan sistem eksisting adalah
sistem kelistrikan distribusi industri 14 bus seimbang
standar
International
Electrical
Electronic
and
Engineering (IEEE) sebelum dipasang kapasitor bank
ataupun filter. Adapun single line diagram standar IEEE
14 bus ditunjukkan oleh gambar di bawah ini :

standar IEEE 14 bus terdapat trafo 3 kumparan yang


dianggap sebagai bus beban. Total daya yang dibangkitkan
pada sistem adalah 272.869 MW sedangkan total beban
pada sistem adalah 259 MW.
B. Analisis Aliran Daya Menggunakan Metode Newton
Raphson
Analisis aliran daya adalah penentuan atau
perhitungan tegangan, arus, daya, dan faktor daya atau
daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik dalam suatu
jaringan listrik pada keadaan normal.
Pada tiap bus terdapat 4 besaran penting yang
digunakan di dalam analisis aliran daya, yaitu [5] :
1. Injeksi netto daya nyata yang dinyatakan dalam P
dengan satuan Mega Watt (MW).
2. Injeksi netto daya semu yang dinyatakan dalam Q
dengan satuan Mega Volt Ampere Reaktif (MVAR).
3. Besaran atau magnitude tegangan, yang dinyatakan
dalam V, dengan satuan Kilo Volt (KV).
4. Sudut phasa tegangan, yang dinyatakan dalam dengan
satuan radian.
Untuk analisis aliran daya, bus-bus yang digunakan
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu [3] :
1. Bus Beban
Biasanya disebut sebagai bus P.Q, parameter-parameter
yang diketahui adalah P dan Q, parameter-parameter
yang tidak diketahui adalah V dan
2. Bus Generator
Pada bus ini, parameter-parameter yang diketahui
adalah P dan V, parameter-parameter yang dihitung
adalah Q dan
3. Bus Referensi (Bus Slack)
Pada bus ini parameter-parameter yang diketahui
adalah adalah V dan dan nilai dari adalah 0.
Sedangkan besaran P dan Q ditentukan setelah iterasi
selesai. Bus ini berfungsi sebagai bus referensi, maka
sudut fasa tegangan adalah sama dengan nol.
Dalam analisis kestabilan tegangan ini digunakan
analisis aliran daya menggunakan metode Newton
Raphson untuk mendapatkan elemen matriks Jacobian.
Matriks Jacobian terdiri dari turunan parsial P dan
Q terhadap masing-masing variabel dalam persamaan di
atas. Dapat dituliskan sebagai berikut :
=

(1)

Submatrik J1, J2, J3, J4 menunjukkan turunan parsial dari


persamaan di atas terhadap dan V yang bersesuaian, dan
secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
Nilai untuk elemen J1 adalah :
(2)
Gambar 2. Sistem Kelistrikan Distribusi Industri
14 Bus Seimbang Standar IEEE
Dari sistem eksisting terdiri dari 14 bus, dengan jumlah
bus slack sebanyak 1bus, bus generator sebanyak 4 bus,
danbus beban sebanyak 9 bus. Pada single line diagram

Nilai untuk elemen J2 adalah :


(3)
Nilai untuk elemen J3 adalah :

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306

45

(12)
(4)
Nilai untuk elemen J4 adalah :
(5)
C. Metode Modal Analysis
Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh
Morrison dan Kundur [1] yang telah menemukan teknik
untuk memprediksi terjadinya voltage collapse pada
sistem. Dasar metode modal analisis adalah dengan
menghitung nilai eigenvalue dari masing-masing bus dan
nilai eigenvector dari matriks Jacobian Reduksi sistem.
Eigenvalue merupakan representasi dari perubahan daya
reaktif terhadap perubahan tegangan. Modal analysis
didasarkan pada matriks Jacobian Reduksi yang diperoleh
dari studi aliran daya menggunakan metode Newton
Raphson . Persamaan aliran daya menggunakan metode
Newton Raphson sebagai berikut [1,4] :
(6)

Di mana :
= Vektor eigen sebelah kanan matriks JR
= Vektor eigen sebelah kiri matriks JR
= Nilai eigen diagonal matriks JR
Dengan mengubah JR menjadi
diperoleh :
(13)
Dengan = I
Persamaan (10) dan (12) disubstitusikan, diperoleh :
(14)
(15)
Dimana
adalah ith kolom eigenvector kanan sedangkan
th
adalah i baris eigenvector kiri dari matriks Jacobian.
serta
Setiap eigenvalue i dan nilai eigenvector kanan
nilai eigenvector kiri merupakan mode ith dari respon Q= , persamaan 28 dapat dituliskan menjadi
V. Karena
:
(16)

merupakan matriks Jacobian


Matriks Jacobian yang didapatkan melalui studi
aliran daya dengan metode Newton Raphson akan
memiliki ukuran tertentu pada setiap elemen matriksnya,
adapun ketentuannya sebagai berikut :

Matriks Jacobian =
Dengan asumsi P = 0, diperoleh :
0=
=
=

(7)
(8)

Substitusi persamaan (2) dan (3) diperoleh :


=
Di mana :

(9)
(10)

JR adalah matriks Jacobian Reduksi dari sistem, sehingga


persamaan (9) dapat dituliskan menjadi :
(11)
Matriks JR merepresentasikan hubungan yang
linear antara perubahan tegangan terhadap perubahan
injeksi daya reaktif pada suatu bus.
Nilai eigen dan vector eigen dari matriks Jacobian
Reduksi JR digunakan untuk analisis kestabilan tegangan.
Ketidakstabilan tegangan dapat diidentifikasi dari bentuk
nilai eigenvalue dari matriks JR. Analisis dari hasil nilai
eigen JR sebagai berikut :

v=

(17)

di mana :
v=
adalah variasi vektor dari tegangan pada modal
analysis
q =
adalah variasi vektor dari daya reaktif pada
modal analysis
Perbedaannya antara persamaan 10 dengan persamaan 16
adalah
merupakan matriks digonal sedangkan
bukan merupakan matriks diagonal. Di mana, i
merupakan nilai eigen ke i.
Sehingga diperoleh persamaan berikut :
(18)
Dengan ketentuan bahwa :
1. Jika i > 0, tegangan sistem dalam keadaan stabil
2. Jika i = 0, tegangan akan collapse karena perubahan
daya reaktif akan menyebabkan perubahan tegangan
menjadi tak berhingga
3. Jika i < 0, tegangan sistem dalam keadaan tidak stabil.
Stabilitas sistem yang didasarkan pada kestabilan
bus beban dapat diidentifikasi dari keadaan masing-masing
bus berdasarkan nilai eigenvalue masing-masing bus beban
[1,2]. Jika semua nilai eigenvalue bernilai positif (>0)
maka system dikatakan stabil, sedangkan system dikatakan
tidak stabil jika terdapat nilai eigenvalue bernilai negatif
(<0) [4,12].
D. Faktor Partisipasi Bus
Faktor bus partisipasi menentukan area yang

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306

46

tercakup berdasarkan setiap mode. Jumlah dari semua


faktor bus partisipasi harus sama dengan satu, karena nilai
eigenvector kiri dan eigenvector kanan yang telah
dinormalisasi. Adapun nilai faktor partisipasinya
ditentukan dengan persamaan berikut :
(19)
Berdasarkan sensitivitas V-Q pada bus k dinyatakan dalam
persamaan

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

0
0
2
0
2
0
0
0
0
0
0

47.8
7.6
11.2
0
0
29.5
9
3.5
6.1
13.5
14.9

-3.9
1.6
7.5
0
0
16.6
5.8
1.8
1.6
5.8
5

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
12.2
0
17.4
0
0
0
0
0
0

(20)
Dari persamaan tersebut didapatkan Pki
menentukan kontribusi dari i terhadap sensitivitas V-Q
pada bus k. Nilai partisipasi bus menentukan daerah yang
diwakili oleh setiap mode. Jumlah dari semua nilai
partisipasi untuk setiap mode besarnya sama dengan satu
karena eigenvector kanan dan eigenvector kirinya telah
dinormalisasi. Ukuran dari matriks partisipasi bus dalam
mode yang diberikan mengindikasikan keefektifan dari
iterasi yang dilakukan pada bus dalam menstabilkan mode.
E. Analisis Sensitivitas Tegangan
Adapun nilai faktor sensitifitas
ditentukan oleh persamaan berikut ini :

tegangan

Sensitifitas V-Q pada sebuah bus menyatakan


kemiringan dari kurva V-Q pada titik operasi tertentu.
Nilai positif dari sensitifitas V-Q mengindikasikan bahwa
sistem dalam keadaan stabil. Semakin kecil nilai
sensitifitas, maka sistem akan menjadi lebih stabil.
IV. ANALISIS KESTABILAN TEGANGAN AKIBAT
VOLTAGE COLLAPSE DAN PENGARUHNYA
PADA STANDAR IEEE 14 BUS
A. Data Standar IEEE 14 Bus
Penelitian ini mengambil sistem kelistrikkan
distribusi industri 14 bus seimbang standar IEEE sebagai
sistem yang akan dianalisis kestabilan tegangannya.
Analisis ini akan digunakan untuk perencanaan ke depan,
jika pada sistem kelistrikkan tersebut akan ditambahkan
beban baru. Tabel 4.1 menunjukkan bus data dari standar
IEEE 14 bus yang terdiri atas tegangan bus, data bus
beban, data bus generator. Pada tabel 4.2 menunjukkan line
data dari standar IEEE 14 bus yang terdiri atas saluran
kabel dengan besaran resistansi dan reaktansi dalam
besaran per unit (pu).
TABEL 1.
DATA BUS BERDASARKAN
DATA BUS BEBAN, SERTA BUS GENERATOR

No
bus
1
2
3

Kode
Bus
1
2
2

Load
MW MVAR
0
0
21.7
12.7
94.2
19

Generator
MW
MVAR
232.4
-16.9
40
42.4
0
23.4

Total daya yang dibangkitkan pada sistem adalah


272.869 MW sedangkan total beban pada sistem adalah
259 MW.
TABEL 2.
DATA LINE BERDASARKAN RESISTANSI DAN REAKTANSI

Bus nl
1
1
2
2
2
3
4
4
4
5
6
6
6
7
7
9
9
10
12
13

Bus nr
2
5
3
4
5
4
5
7
9
6
11
12
13
8
9
10
14
11
13
14

R (p.u)
0.01938
0.05403
0.04699
0.05811
0.05695
0.06701
0.01335
0.0
0.0
0.0
0.09498
0.12291
0.06615
0.0
0.0
0.03181
0.12711
0.08205
0.22092
0.17093

X (p.u)
0.05917
0.22304
0.19797
0.17632
0.17388
0.17103
0.04211
0.20912
0.55618
0.25202
0.19890
0.25581
0.13027
0.17615
0.11001
0.08450
0.27038
0.19207
0.19988
0.34802

Gambar 3. Grafik Profil Tegangan Sistem


Standar IEEE 14 Bus
B. Prediksi Voltage Collapse berdasarkan eigenvalue
dari Matriks Jacobian Reduksi
Dengan data- data yang ada, maka dilakukan studi
aliran daya. Kemudian dengan metode Newton Raphson

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306

47

diperoleh Matriks Jacobian (J). Matriks Jacobian ini


direduksi sehingga diperoleh Matriks Jacobian Reduksi
(JR). Dengan bantuan software MATLAB maka diperoleh
eigenvalue atau lambda () dari Matriks Jacobian Reduksi
tersebut untuk setiap mode dari sistem standar IEEE 14
bus. Nilai-nilai eigenvalue sebagai variabel kestabilan
tegangan tiap-tiap mode sistem. Tabel 4.3 menunjukkan
nilai eigen dari setiap mode sistem standar IEEE 14 bus
TABEL 3.
NILAI EIGENVALUE DARI TIAP MODE SISTEM PADA
SINGLE LINE DIAGRAM STANDAR IEEE 14 BUS

Mode ke i
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nilai Eigenvalue
64.3416
37.5266
20.8267
15.6352
17.9414
10.7033
2.5624
5.2474
7.2211

sistem. Tabel 4.5 menunjukkan nilai faktor partisipasi dari


tiap-tiap bus pada mode ke 7 sistem standar IEEE 14 bus.
TABEL 5.
NILAI FAKTOR PARTISIPASI DARI
TIAP BUS BEBAN TERHADAP MODE SISTEM NOMOR 7

Bus Beban
4
5
7
9
10
11
12
13
14

Nilai Faktor Partisipasi


0.0077
0.0038
0.0678
0.1976
0.2403
0.1137
0.0188
0.0322
0.3181

Dari tabel dan grafik dapat ditunjukkan bahwa nilai


faktor partisipasi terendah dalam menstabilkan kondisi
mode sistem nomor 7 adalah bus beban nomor 5 dengan
nilai partisipasi 0.0038, sedangkan nilai faktor partisipasi
tertinggi dalam menstabilkan kondisi mode nomor 7
adalah bus beban nomor 14 dengan nilai partisipasi 0.3181.

Maka diperoleh empat nilai eigenvalue terendah


sebagai berikut :
1. Mode sistem ke 7 dengan eigenvalue 2.5624
2. Mode sistem ke 8 dengan eigenvalue 5.2474
3. Mode sistem ke 9 dengan eigenvalue 7.2211
4. Mode sistem ke 6 dengan eigenvalue 10.7033.
Dari data tersebut, maka mode sistem yang
diprediksi sebagai mode sistem yang paling tidak stabil
atau mode yang memiliki kemungkinan terbesar untuk
collapse adalah mode sistem ke 7.
C. Faktor Sensitifitas Tegangan
Dalam analisis aliran daya secara berkelanjutan,
elemen perubahan tegangan (dV) pada kondisi vektor
tangen tertentu sangat berguna dalam mengidentifikasi bus
yang lemah. Sehingga bus dapat menyesuaikan perubahan
tegangan yang besar terhadap perubahan beban. Nilai
faktor sensitifitas tegangan dari single line diagram standar
IEEE 14 bus ditunjukkan pada tabel 4.7 berikut ini :
TABEL 4.
NILAI FAKTOR SENSITIFITAS DARI TIAP MODE SISTEM PADA SINGLE LINE
DIAGRAM STANDAR IEEE 14 BUS

Mode
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nilai Faktor Sensitifitas


Tegangan
0.01554
0.02665
0.04801
0.06395
0.05574
0.09343
0.39026
0.19057
0.13848

D. Faktor Partisipasi Bus


Berdasarkan eigenvalue terendah yaitu 2.5624,
kemudian ditentukan faktor partisipasi dari setiap bus pada
mode sistem terlemah tersebut. Faktor partisipasi ini
digunakan untuk menentukan bus yang terlemah dari

Gambar 4. Grafik nilai faktor partisipasi dari tiap bus beban terhadap
ketidakstabilan mode sistem ke 7

E. Kapasitor Kompensasi Daya Reaktif


Faktor partisipasi terbesar terletak pada bus beban
nomor 14 dengan nilai 0.3181. Sehingga diperlukan
pemasangan kompensator daya reaktif pada bus beban
nomor 14 untuk memperbaiki kondisi kestabilan tegangan
mode sistem ke 7.

Gambar 5. Grafik nilai eigenvalue mode sistem sebelum dan setelah


pemasangan kompensator

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306

48

1.
Setelah dipasang kompensator daya reaktif yang
mensuplai daya reaktif sebesar 10 Mvar, maka kondisi
sistem lebih stabil.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari simulasi dan analisis yang telah dilakukan, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sistem pada single line diagram IEEE standar 14
bus dalam keadaan stabil berdasarkan besaran
eigenvalue setiap mode lebih besar dari nol (>0).
2. Mode sistem dari single line diagram IEEE
standar 14 bus yang paling mendekati kritis adalh
mode sistem nomor 7 dengan besaran eigenvalue
2.5624.
3. Didapatkan nilai-nilai partisipasi bus terhadap
mode sistem yang paling lemah, nilai partisipasi
bus yang terbesar pada bus nomor 14 sebesar
0.3181dan yang terkecil pada bus nomor 5
sebesar 0.0038.
4. Pemasangan kompensator daya reaktif berupa
kapasitor dengan kapasitas 10 MVAR pada bus
14 menjadikan sistem menjadi lebih stabil namun
mode sistem yang terlemah terdapat pada mode
sistem nomor 6 dengan besaran eigenvalue 2.6255
dikarenakan pengaruh nilai partisipasi bus 14
tersebut.
B. Saran
Saran-saran yang dapat diberikan berkaitan dengan
penelitian ini antara lain:

2.
3.

Pemasangan
kapasitor
bank
hendaknya
memperhatikan besaran nilai partisipasi bus dari
masing-masing bus dalam sistem berdasarkan
mode sistem yang terlemah dengan besaran
eigenvalue yang terkecil
Pemilihan kapasitor bank sebagai kompensator
harus tepat untuk menghindari overvoltage.
Pemasangan
kapasitor
bank
hendaknya
memperhatikan dampak terhadap fenomena
resonansi.
DAFTAR PUSTAKA

[1]
[2]

[3]
[4]

[5]
[6]
[7]
[8]

[10]
[11]
[12]

Taylor, Carson.W, Power System Voltage Stability, McGrawHill, New York, Ch. 2, 1994.
B.Gao, G.Morrison and P. Kundur, Voltage Stability Evaluation
Using Modal Analysis IEEE Trans. On Power System, Vol.8,
No.3, pp. 1159-1171, Aug. 1993.
P. Kundur, Power System Stability and Control. McGraw-Hill,
New York, Ch. 14, 1994.
Sirisuth, Piya Voltage Instability Analysis Using The Sensitivity
of Minimum Singular Value of Load Flow Jacobian McGrawHill, New York, 1993.
Grainger, John J. and Stevenson, William. D. Jr, Power System
Analysis, , McGraw-Hill, New York, Ch. 16, 1994.
Saadat, Hadi, Power System Analysis, , McGraw-Hill, New
York, Ch. 6, 1994.
Stevenson, William D, Jr, Analisa Sistem Tenaga, Penerbit
Erlangga, Jakarta, Bab. 16, 1994.
Sukriyadin and Gunadin, Indar. C, Prediksi Voltage Collapse
pada Sistem Interkoneksi Jawa-Bali menggunakan metode Modal
Analysis Teknik Elektro Unsyiah dan Teknik Elektro Unhas,
Makassar, 2005
Titarenko, M. And Noskov, Dukelsky, I., Protective Relaying In
Electric Power System, Peace Publishers, Moskow. 1985
Cook, V., Analysis of Distance Protection, New York, John Wiley &
Sons Inc, 1985.
B. Gao, Voltage Stability Analysis of Large Power System , Ph.D.
Thesis. University of Toronto. 1992

JAVA Journal of Electrical and Electronics Engineering, Vol. 8, No.1, Apr . 2010, ISSN 1412-8306