Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PORTOFOLIO EKONOMI

KELAS X MIA 5

NAMA KELOMPOK 5 :

INNE WIDYA UTAMI


INTAN SINDI ANTIKA
M.DHIMAS PRASTIA

SMA NEGERI 1 GADINGREJO


KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2014/2015

STUDI KASUS MANAJEMEN PERUBAHAN JAPAN AIRLINES

PROFIL PERUSAHAAN

Japan Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan dunia yang sudah dikenal
reputasinya yang baik. Baik dalam hal pelayanan di darat maupun di udara. Itulah mengapa, maskapai
yang berdiri sejak 1 agustus 1951 sering menjadi barometer pelayanan maskapai lain di dunia. Untuk
penerbangan internasional pertamanya, Japan Airlines menempuh Tokyo San Fransisco
menggunakan pesawat Douglas DC 6. Penerbangan ini dilakukan pada tanggal 2 februari 1954.
Dengan kekuatan armada mereka yang cukup kuat, Japan Airlines tidak mengalami kesulitan
manakala pada tahun 1970an, pemerintah Jepang menerapkan deregulasi penerbangan. Diantaranya

melakukan privatisasi Japan Airlines dan membuka kran persaingan di transportasi udara. Akhirnya
dengan kondisi ini masuklah dua pesaing baru yaitu All Nipon Airways dan Japan Air System.
Perkembangan yang selanjutnya terjadi antara Japan Airlines dan Japan Air System
kemudian mengikat kerjasama. Proses kerjasama ini adalah kesepakatan kedua maskapai untuk
melakukan marger. Bergabungnya dua perusahaan ini terjadi pada tahun 2001 dan selesai pada tahun
2004. Untuk menjaga potensi pasar yang sudah terbentuk, dan proses marger tersenut disepakatai
bahwa nama Japan Airlines akan dipertahankan sebagai identitas perusahaan tersebut.

PENDAHULUAN

Setelah melakukan marger dengan nama Japan Air System terjadi sedikit perubahan dalam
manajemen Japan Airlines. Salah satu yang dilakukan adalah masuk ke dalam aliansi OneWorld sejak
1 april 2007. Sayangnya, keputusan ini justru tidak diikuti dengan perkembangan positif dalam
transkasi keuangan Japan Airlines.
Salah satu dampak yang terasa adalah kerugian besar yang menimpa Japan Airlines pada
tahun transaksi 2009. Perusahaan ini mengalami goncangan yang sangat dahsyat dan mengancam
stabilitas. Japan Airlines tak kuasa menanggung beban utang korporat sekitas US$25,6 miliar. Japan
Airlines mengajukan perlindungan pailit kepada Pengadilan Distrik di Tokyo. Maskapai itu juga dibebani
dengan pembayaran gaji dan pensiun yang terus membengkak dan rute domestik nirlaba yang secara
politis wajib dipertahankan.
Untuk menyelamatakan perusahaan dari ancaman kebangkrutan, akhirnya pemerintah
memberikan dana talangan sebesar 100 juta yen. Selain itu dibentuk pula kepanitian yang bertugas
menangani penyelesaian masalah keuangan maskapai ini.

Beberapa program pun dirancang demi menghindarkan Japan Airlines dari kebangkrutan.
Salah satunya dilakukan dengan menjual saham mayoritas kepada American Airlines yang juga
anggota dari OneWorld. Selain kepada American Airlines, Japan Airlines sempat menjajaki
kemungkinan menjual saham mereka kepada Delta Airlines.
Namun demikian proses penjualan saham kepada Delta Airlines mengalami hambatan. Hal
ini disebabkan Delta Airlines merupakan anggota Sky Team, aliansi penerbangan seperti OneWorld.
Dengan kondisi ini, Japan Airlines memutuskan tidak melanjutkan proses transaksi dengan Delta, maka
keanggotaan Japan Airlines akan berada di bawah aliansi Sky Team serta keluar dari OneWorld.
Jika ini terjadi dikhawatirkan akan terjadi kebingungan dikalangan konsumen. Selain itu,
Japan Airlines akan kehilangan kesempatan perlindungan antimonopoli dari agen Amerika Serikat. Hal
ini merupakan salah satu kesepakatan yang didapat dari perjanjian ruang terbuka Jepang dan Amerika
Serikat.
Akhirnya American Airlines menjadi salah satu maskapai yang memiliki kesempatan untuk
membeli saham mayoritas dari Japan Airlines. Meski pada saat yang bersamaan ada beberapa
maskapai besar lain yang sebenarnya juga berminat untuk memiliki saham dari Japan Airlines seperti
Prancis melalui Air France KLM, Britrish Airways dari inggris dan juga Qantas dari Australia, namun
Japan Airlines menolak semua tawaran tersebut.
Namun, meski sudah menjual saham mayoritas mereka masalah keuangan yang melanda
Japan Airlines belum juga selesai. Akhirnya sejak 19 januari 2010. Maskapai dimasukkan ke dalam
program Perlindungan Kebangkrutan Jepang. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya restrukturisasi
atau pengurangan jumlah karyawan mereka. sebelum mengalami masalah keuangan, Japan Airlines
memiliki 47 ribu karyawan. Namun dengan kesulitan finansial yang melanda, mereka harus
menghentikan 15 ribu karyawan. Selain itu, aramda yang dimiliki pun dikurangi jumlahnya disamping

juga mengadakan pembaruan pesawat. Sementara untuk masalah rute penerbangan internasional,
Japan Airlines mengadakan penjadwalan ulang guna mendapatkan efisiensi.

PERMASALAHAN

Japan Airlines mengalami kebangkrutan akibat menjadi buruk selama bertahun-tahun, biaya
tinggi, serta tekanan pemerintah untuk melayani rute tidak menguntungkan di bandara kecil. Selain itu,
Japan Airlines terpuruk akibat krisis global.
Operasi Japan Airlines yang merugi, hutang yang membengkak, kebijakan penerbangan
yang tidak efisien, dan birokrasi yang lambat, membuat kebijakan Bail Out bagai menebar garam di
laut. Masalah mendasar dari Japan Airlines adalah permainan dari segitiga besi (Iron Triangle) antara
perusahaan, penguasa dan politisi dalam operasional Japan Airlines selama ini. Japan Airlines
dianggap sebagai sebuah perusahaan besar kebanggan negri yang tak boleh bangkrut ( Too Big Too
Fail). Oleh karena itu, suntikan likuiditas secara massif diberikan terus menerus kepada Japan Airlines.
Namun di sisi lain, operasi Japan Airlines tidak dibenahi secara serius. Tekanan dari kekutan politik dan
pemerintah pada eksekutif Japan Airlines untuk melayani ambisi mereka mebuka rute-rute yang tidak
menguntungkan, telah menambah beban operasional Japan Airlines. Hal ini ditambah lagi dengan
berbagai masalah birokrasi dan Remunerasi yang tidak efisien.
Sejak merugi ditahun 2001, lonceng kematian bagi Japan Airlines memang seolah hanya
menunggu waktu. Tragedi 9/11, wabah virus SARS, flu burung, ancaman teroris, disamping resesi
ekonomi, telah memukul Japan Airlines secara bertubi-tubi. Meski melayani lebih dari 217 airport dan
35 negara, Japan Airlines menjadi perusahaan penerbangan yang gemuk dan tidak efisien. Hutangnya
pun membengkak hinggan mencapai sekitar Rp 200 triliun.

Bangkrutnya Japan Airlines semakin memperkuat adanya maslah serius yang dihadapi oleh
perekonomian jepang. Meski hanya memegang gelar sebagai negara dengan perekonomian terkuat
nomor 2 di dunia, Jepang bagai macan yang terluka. Ekonominya melesu, pengangguran dan
kemiskinan meningkat, dan perusahaan besar berguguran. Bangkrutnya Japan Airlines adalah
kebangkrutan terbesar perusahaan di luar sektor keuangan sejak Perang Dunia ke-II. Oleh karena itu,
upaya serius untuk bangkit dari krisis sedang ditempuh oleh pemerintah Jepang.

PEMBAHASAN

Upaya bangkit yang dilakukan oleh Japan Airlines tentu menyakitkan. Dalam kasus Japan
Airlines misalnya, program restrukturisasi akan memakan banyak korban. Japan Airlines harus memPHK lebih dari 15 ribu karyawannya, memotong fasilitas pensiun dan menutup rute-rute domestik yang
tidak menguntungkan. Lebih parah lagi, Japan Airlines juga harus memotong banyk kontrak dengan
biro perjalanan, hotel dan berbagai jaringan pariwisata yang telah ada selama ini. Hal itu bisa
merugikan kalangan pengusaha, penguasa dan tentu politisi yang punya kepentingan selama ini.
Dari Japan Airlines kita belajar, bahwa intervensi yang berlebihan dari pemerintah dan
kekuatan politik akan merugikan sebuah perusahaan atau lembaga, baik itu perusahaan penerbangan,
perbankan, bahkan lembaga negara yang independen memerlukan ruang bagi professional untuk
bekerja. Politisi, penguasa dan pengusaha (The Iron Triangle) kadang memiliki tendensi untuk ikut
campur dalam kegiatan usaha ataupun lembaga atas nama rakyat.

SOLUSI

Solusi yang dapat diberikan untuk kasus Japan Airlines adalah pembaharuan Perusahaan.
Platt (2001) membedakan perubahan strategis suatu perusahaan ke dalam tiga kategori yaitu :
Tranformasi Manajemen, Manajemen Turn Around, dam Manajemen Krisis.
Untuk aplikasi pada Japan Airlines, maka yang dilakukan adalah dengan Manajemen Krisis,
dimana Japan Airlines sudah memasuka masa krisis yaitu saat perusahaan sudah mulai kehabisan
dana (Cash Flow), bahkan menimbun banyak hutang dan energi (Reputasi, Motivasi). Langkah
penyelamatan yang diambil adalah langkah penyelamatan strategi ( Stop The Bleeding)/ hentikan
pendarahan dapat berupa Cash Flow (aliran dana segar). Aplikasi dalam kasus Japan Airlines adalah
dengan :

a.

Mencari Investor yang Tepat

Cara untuk menyelamatkan Japan Airlines mungkin dengan cara mencari investir yang tepat.
Contohnya dengan menawarkan investasi kepada Delta Airlines atau American Airlines yang
merupakan raksasa industri penerbangan di Amerika. Dengan investor semacam ini, Japan Airlines
dapat melunasi hutang-hutangnya dan mendapatkan perubahan yang diperlukan agar menjadikan
Japan Airlines kompetitif dan profitable lagi. Japan Airlines yang memiliki279 pesawat (kebanyakan dari
Boeing) dan mempunya rute penerbangan di 220 bandara di 35 negara merupakan investasi yang
menggiurkan bagi perusahaan-perusahaan seperti Delta Airlines atau American Airlines yang tentunya
akan mendapatkan akses bisnis ke Asia melalui akuisisi atau investasi tersebut.

b.

Restrukturisasi dan Revitalisasi


Selain itu, berbagai upaya perampingan seharusnya dilakukan Japan Airlines agar tidak mengeluarkan
biaya terlalu banyak, terutama biaya opeasional, karena itu sudah seharusnya Japan Airlines
melakukan restrukturisasi karyawan dan penguarangan armada. Setelah tercipta restrukturisasi, maka
Japan Airlines dibawah bendera manajemen yang baru harus dapat melakukan rivitalisasi dan
perbaikan manajemen dengan konsep baru, seperti yang dilakukan Garuda Indonesia agar dapat
lkembali bersaing dengan industri maskapai dunia

Sumber : http://michaelfilemon28.blogspot.com/2015/01/studi-kasus-manajemen-perubahanjapan.html