Anda di halaman 1dari 24

Skenario 2 Blok Perawatan Kuratif dan Rehabilitatif III

PERAWATAN PERIODONTAL FASE II


Seorang perempuan berusia 34 tahun untuk pertama kali datang ke klinik
bagian periodonsia atas saran saudaranya untuk dilakukan perawatan pada
penyangga gigi. pasien mengeluh gusinya yang kadang-kadang bengkak, sering
berdarah saat menggosok gigi dan terasa longgar pada gigi-gigi depan rahang atas
dan bawah. Riwayat pasien menceritakan bahwa gusi berdarah sudah terjadi
sekitar 2 tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik umum menunjukkan tidak ada
kelainan sistemik dan tidak ada riwayat penyakit keluarga/genetik. Pemeriksaan
klinis menunjukkan sebagai berikut: 1) Kebersihan mulut pasien buruk dan
terdapat banyak sekali deposit plak pada permukaan gigi-gigi kedua rahang; 2)
Banyak terdapat kalkulus pad apermukaan lingual insisivus rahang bawah dan
subgingiva di semua sektan; 3) Terdapat resesi gingiva, poket periodontal 4-6 mm
dan kehilangan perlekatan di regio rahang atas dan bawah anterior; 4) Terdapat
bleeding on probing dalam sulkus gingiva semua gigi; 5) Semua gigi anterior
goyang o2 kecuali gigi caninus atas. Radiografi menunjukkan resorbsi tulang
sampai

1
2

panjang akar di regio gigi anterior bawah. Dokter gigi yang

memeriksa menjelaskan rencana perawatan yang harus dilakukan mengenai


penyakitnya tersebut dan perlu adanya perawatan pada daerah yang dikeluhkan
tersebut.
STEP 1
(Identifikasi Kata Sulit)
1. Perawatan Periodontal Fase II
Perawatan periodontal fase II adalah perawatan lanjutan dari evaluasi
perawatan periodontal fase I yang berupa perawatan bedah periodontal dan
dilakukan ketika perawatan periodontal fase I tidak dapat dengan sempurna
menghilangkan penyakit periodontal

1|TUTORIAL V

2. Poket periodontal
Poket periodontal adalah ruangan yang terbentuk karena faktor patologis yang
berupa pendalaman sulkus gingiva ke arah apikal karena hilangnya perlekatan
dari junctional epithelium yang sudah tidak pada posisinya semula
3. Bleeding on Probing
Bleeding on probing adalah perdarahan saat dilakukan probing, dimana
merupakan tanda awal peradangan gingiva karena bakteri patogen. Pengamatan
ini dilakukan dengan cara melewatkan atau menjalankan probe sepanjang
sulkus untuk mengetahui inflamasi
4. Resesi Gingiva
Resesi gingiva adalah penurunan margin gingiva lebih ke arah apikal, dimana
akar gigi bisa terbuka
5. Kalkulus
Kalkulus adalah deposit yang menempel pada permukaan gigi dan terbentuk
dari plak yang mengalami pengapuran
6. Resorbsi Tulang
Resorbsi tulang adalah penurunan tulang alveolar yang terbagi menjadi 2 pola
resorbsi, yaitu pola horizontal dan pola vertikal.

2|TUTORIAL V

STEP 2
(Rumusan masalah)
1. Apa diagnosa yang tepat dan sesuai dengan skenario ?
2. Apa saja rencana perawatan yang akan dilakukan dan pertimbangan dalam
memilih perawatan tersebut ?
3. Bagaimana prosedur perawatan periodontal fase II yang sesuai dengan
permasalahan pada skenario ?
4. Apa tujuan dari perawatan periodontal fase II yang dilakukan ?
5. Bagaimana instruksi pasca perawatan periodontal fase II ?
STEP 3
(Analisis Masalah)
1. Apa diagnosa yang tepat dan sesuai dengan skenario ?
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, didapatkan gejala klinis
berupa Oral Hygiene yang buruk, banyaknya kalkulus baik supragingiva
maupun subgingiva, resesi gingiva, poket periodontal 4-6 mm, kehilangan
perlekatan,

Bleeding on Probing positif, kegoyangan gigi o2 dan hasil

gambaran radiografi berupa resorbsi tulang sampai panjang akar, maka


diagnosa yang tepat dan sesuai adalah Periodontitis. Selain itu dari
waktu/progresifitas penyakit yang berjalan lambat, menandakan bahwa
keradangan yang terjadi bersifat kronis. Sehingga diagnosa penyakit dari
skenario ini adalah Periodontitis Kronis.
2. Apa saja rencana perawatan yang akan dilakukan dan pertimbangan
dalam memilih perawatan tersebut ?
A. Perawatan Pendahuluan

DHE, karena oral hygiene pasien masih buruk

3|TUTORIAL V

Scaling and Root planing, karena banyak ditemukannya kalkulus baik


supragingiva maupun subgingiva

Pemeriksaan secara menyeluruh. Pastikan bahwa pasien tidak


memiliki riwayat penyakit sistemik sebelum dilakukan terapi bedah.

Evaluasi kondisi fisik pasien

Berikan antibiotik profilaksis untuk menghindari kontaminasi bakteri

Splinting sementara. Diperlukan stabilisasi sementara terhadap gigi


yang goyang o2 sebelum dan selama perawatan periodontal

Pemberian obat antimikroba, seperti tetrasiklin atau minosiklin secara


topikal untuk mengurangi bahkan menghilangkan iritan.

Evaluasi perawatan periodontal fase I sebelum menentukan perawatan


periodontal fase II, dilihat respon jaringan dan progresifitas penyakit
terhadap perawatan periodontal yang diberikan sebelumnya

B. Perawatan Periodontal Fase II (Terapi Bedah)

Kuretase karena adanya resesi gingiva dan poket periodontal,


sehingga diperlukan re-attachment dari jaringan ikat gingiva.
Pertimbangan dilakukan kuretase adalah adanya true pocket, absorbsi
tulang alveolar, diperlukannya re-attachment, penghilangan jaringan
granulasi dan akumulasi bakteri untuk menyingkirkan perubahan
patologis berupa kedalaman poket

Flap dengan preservasi papila, dilakukan ketika faktor estetik sangat


dipertimbangkan terutama pada bagian anterior karena teknik ini
dapat meminimalkan resesi gingiva yang merupakan hasil dari
kebanyakan tindakan bedah yang dilakukan. Selain itu, perawatan ini
juga bertujuan untuk meregenerasi tulang dan meningkatkan
aksesibilitas instrument untuk scalling and root planing

Bone graft, dilakukan perawatan ini dikarenakan banyaknya tulang


alveolar yang teresorbsi sehingga diperlukan untuk regenerasi tulang
yang baru. Biasanya perawatan ini, merupakan perawatan lanjutan
dari kuretase

4|TUTORIAL V

3. Bagaimana prosedur perawatan periodontal fase II yang sesuai dengan


permasalahan pada skenario ?
Berdasarkan pertimbangan yang dilakukan, maka terapi bedah yang akan
dilakukan adalah kuretase subgingiva. Kuretase subgingiva merupakan
penyingkiran jaringan granulasi yang terinflamasi kronis pada dinding poket
periodontal tanpa dilakukan eksisi, dimana penyingkiran jaringan granulasi
tersebut dimulai dari junctional epithelium sampai hampir ke puncak tulang
alveolar. Berikut merupakan prosedur dari kuretase :
a) Anamnesa dan pemeriksaaan intraoral maupun ekstraoral
b) Diagnosa
c) Indikasi kuretase
d) Perawatan periodontal fase I
e) Evaluasi perawatan periodontal fase I
f) Perawatan periodontal fase II (Kuretase)

Anestesi lokal

Masukkan kuret sejajar dengan sumbu gigi sampai ke dasar poket


dan sisi tajam kuret berada pada epitel sulkuler dinding poket

Dilakukan pengerokan beberapa kali, dengan cara permukaan luar


gingiva ditekan dari luar dengan jari tangan agar pengerokan
maksimal kemudian dilakukan sapuan kearah luar dan dan koronal
untuk mengambil jaringan granulasi pada daerah tersebut. Lakukan
pengerokkan beberapa kali sampai bersih.

Lakukan pembersihan daerah kerja atau irigasi dengan aquadest


untuk menyingkirkan debris

Dinding poket yang telah dikuret diadaptasikan ke permukaan gigi


dengan jalan menekannya dengan jari selama 3-5 menit.

Aplikasikan eriodontal dressing jika perlu

Instruksikan kontol kembali 1 minggu pasca kuretase

5|TUTORIAL V

4. Apa tujuan dari perawatan periodontal fase II yang dilakukan ?


Menghilangkan faktor iritan
Menghilangkan jaringan granulasi yang terinflamasi kronis
Menghilangkan perubahan patologis sehingga dapat tercipta kondisi yang
stabil dan mudah dipelihara
Menurunkan kehilangan perlekatan dengan tumbuhnya perlekatan baru
sehingga kedalaman poket juga dapat berkurang
Meningkatkan regenerasi jaringan periodontal
Memperbaiki aksesibilitas dan visibilitas permukaan akar
Mengembalikan fungsi kunyah
5. Bagaimana instruksi pasca perawatan periodontal fase II ?
a) Tidak boleh makan selama 1 jam pasca bedah
b) Menghindari makan makanan yang kasar, lengket, dan panas
c) Menghindari minum minuman beralkohol
d) Menggunakan obat kumur klorheksidin selama 2 minggu pasca
pembedahan
e) Instruksi DHE untuk kontrol plak secara efektif
f) Menyikat gigi pada bagian yang tidak dilakukan pembedahan
g) Ketika terjadi pembengkakkan dapat dikompres dengan es selama 15
menit setiap 1 jam
h) Istirahat yang cukup, hindari aktivitas fisik yang berat
i) Kontrol 1 minggu pasca pembedahan

6|TUTORIAL V

STEP 4
(Mapping)
Pemeriksaan

Periodontitis kronis

Perawatan Periodontal Fase I

Evaluasi
Perawatan
Sembuh
Periodontal Fase

Tidak sembuh
Periodontal Fase

Perawatan Periodontal Fase IV

Perawatan Periodontal Fase II

Macam-macam Terapi Bedah

Dasar
pemikiran

Indikasi
Kontraindikasi

Prosedur

Respon
Jaringan

Instruksi Pasca Pembedahan

7|TUTORIAL V

STEP 5
(Tujuan Pembelajaran)
Mahasiswa diharapkan mampu memahami mengenai :
1. Macam-macam perawatan periodontal fase II (Gingivektomi, Kuretase, dan
Oprekulektomi), yang meliputi :
a) Dasar pemikiran
b) Indikasi dan kontraindikasi
c) Prosedur perawatan
d) Respon jaringan stelah dilakukan perawatan tersebut
2. Instruksi pasca pembedahan
STEP 7
(Pembahasan)
MACAM PERAWATAN PERIODONTAL FASE II
A. GINGIVEKTOMI
1.1 Dasar pemikiran
Gingivektomi adalah suatu tindakan mengeksisi gingiva dengan
menghilangkan dinding poket yang terinflamasi dan menghilangkan suatu
gingiva enlargement. Gingiva enlargement yaitu adanya pembengkakan
gingiva yang menetap dimana poket yang sesungguhnya dangkal namun
terlihat adanya pembesaran dan deformasi gingiva yang cukup besar.
Gingivektomi dilakukan untuk menyingkirkan dinding poket yang terinflamasi
agar tercipta kondisi yang normal baik secara anatomi maupun fisiologis dan
untuk

menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi penyembuhan

gingiva dan kontur gingiva yang fisiologis, memelihaara visibilitas dan


aksesibilitas untuk menghilangkan kalkulus dan menghaluskan akar.

8|TUTORIAL V

1.2 Indikasi dan Kontraindikasi


a. Indikasi
1) Adanya poket supraboni dengan kedalaman lebih dari 4 mm, yang tetap
ada walaupun sudah dilakukan scaling dan pembersihan mulut yang
cermat berkali-kali, dan keadaan dimana prosedur gingivektomi akan
menghasilkan daerah perlekatan gingiva yang adekuat.
2) Adanya pembengkakan gingiva yang menetap, dimana poket yang
sebenarnya dangkal namun terlihat pembesaran dan deformitas gingiva
yang cukup besar. Bila jaringan gingiva merupakan jaringan fibrosa, maka
gingivektomi merupakan cara perawatan yang paing cocok dan dapat
memberikan hasil yang memuaskan.
3) Adanya kerusakan furkasi (tanpa disertai cacat tulang), dimana terdapat
daerah perlekatan gingiva yang cukup lebar.
4) Abses gingiva yaitu abses yang terdapat di dalam jaringan lunak.
5) Flap koronal
6) Hiperplasia dilantin, dilantin merupakan suatu obat yang mengandung
fenitoin. Obat ini merupakan obat anti-konvulsi pada pasien pengidap
epilepsy yang memiliki efek meningkatkan produktivitas sel-sel yang
menyebabkan terjadinya pembengkakan gingiva.
7) Hiperplasia inflamatif kronis, yaitu merupakan hiperplasi yang disebabkan
oleh adanya suatu inflamasi kronis.
8) Fibromatosis herediter. Fibromatosis herediter merupakan suatu keadaan
dimana gingiva mengalami pembesaran yang difus. Kelainan ini
merupakan suatu kelainan genetik atau bersifat diturunkan.
9) Erupsi pasif yang terhambat.
10) Epulis
b. Kontraindikasi

9|TUTORIAL V

1) Apabila terdapat frenulum atau perlekatan otot pada daerah yang akan
dibedah
2) Poket infraboni
3) Attached gingiva yang sempit
4) Adanya penyakit sistemik yang tak terkontrol
5) Oral hygiene buruk
6) Gigi yang hipersensitif
7) Membutuhkan bedah tulang atau pemeriksaan bentuk tulang dan morfologi
8) Adanya pertimbangan faktor estetik
Gingivektomi dapat menyebabkan mahkota klinis memanjang karena
adanya pengambilan jaringan gingiva, sehingga ketika gingivektomi
dilakukan pada bagian depan mulut terutama rahang atas, dapat
menimbulkan estetik yang buruk dan kurang dapat diterima pasien.
9) Adanya inflamasi akut
Ketika ditemukan adanya inflamasi akut, sebaiknya terlebih dahulu untuk
mengeliminasi inflamasi tersebut sebelum dilakukan prosedur bedah
karena infeksi akan sangat cepat menyebar dalam keadaan akut.
10) Bila scaling dan root planing yang menyeluruh dapat menghilangkan dan
mengontrol lesi.
11) Motivasi pasien kurang adekuat
12) Frekuensi malposisi yang tinggi
Gigi yang mengalami malposisi menyebabkan daerah tersebut sulit
dibersihkan dan mudah terakumulasi oleh plak dan impaksi makanan.
Apabila tidak segera dibersihkan deposit kalkulus akan meningkat
sehingga dapat menyebabkan terjadinya inflamasi dan enlargement.
Apabila setelah gingivektomi tidak dilakukan perawatan terhadap
malposisi gigi, maka dapat terjadi kekambuhan.
13) Frekuensi karies yang tinggi
Kavitas karies terutama yang terletak didekat tepi gingiva dapat
merangsang timbunan plak sehingga apabila dilakukan perawatan
gingivektomi bisa terjadi kekambuhan. Timbunan plak yang berlebih ini

10 | T U T O R I A L V

menyebabkan proses inflamasi berlebih (terjadi gingivitis dengan


gambaran klinis kemerahan pada margin gingiva, pembengkakan dengan
tingkat yang bervariasi, adanya perdarahan dan penambahan kedalaman
poket saat probing, serta perubahan bentuk gingiva), selain itu pada karies
yang besar dapat mengganggu stabilitas gigi sebagai respon terhadap
perawatan periodontal memburuk.
1.3 Prosedur gingivektomi
1) Dilakukan anestesi lokal pada daerah yang akan dibedah.
2) Dilakukan penandaan dasar saku dengan . Caranya adalah dengan
memegang pocket marker dengan ujungnya sejajar dengan dasar sulkus.
Bagian ujung yang lurus diselipkan ke dalam dasar sulkus sampai
menyentuk dasar sulkus, sedangkan bagian ujung yang menyudut berada
di bagian luar. Lalu dijepitkan keduanya sehingga menimbulkan titik
perdarahan pada daerah tersebut. Hal ini dilakukan pada bagian distal,
tengah, dan mesial dari daerah yang akan dilakukan gingivektomi.

Gb.Memberi

titik

perdarahan

menggunakan Pocket Marker

3) Reseksi gingiva dilakukan dengan menggunakan pisau gingivektomi


(pisau Kirkland). Insisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu insisi kontinu
dan diskontinu. Dimana insisi kontinu dimulai dari daerah yang paling
distal yang akan dilakukan gignivektomi tanpa terputus mengikuti titik
perdarahan kea rah mesial. Sedangkan pada insisi diskontinu dilakukan
insisi dari gigi yang paling distal ke sudut distal gigi yang ada di sebelah

11 | T U T O R I A L V

dengan

mesialnya. Lalu dimulai lagi insisi berikutnya dimana insisinya menyilang


ruang interdental dan diarahkan ke sudur distal gigi berikutnya.
Insisi dimulai dari dasar sulkus dan diarahkan ke korona dengan sudut di
bevel 45 derajat dari permukaan akar. Insisi harus menembus jaringa lunak
sampai menyentuk permukaan sulkus.

Gb.Insisi dengan menggunakan pisau Kirkland


dengan

sudut

dibevel

45

derajat

terhadap

permukaan akar.

4) Setelah

dilakukan

insisi

pada

daerah

yang

dibedah,

dilakukan

penyingkiran gingiva dengan menggunakan kuret dengan sapuan kearah


korona.

Gb.Pengambilan jaringan gingiva yang telah


dibedah

5) Setelah daerah yang diinsisi diambil, maka akan terlihat mahkota dan
cervical gigi, dimana akan terlihat pula jaringan granulasi dan kalkulus
yang tidak dapat dibersihkan saat perawatan periodontal fase I. kemudian
dilakukan penyingkiran jaringan granulasi dengan kuret, lalu dilakukan
12 | T U T O R I A L V

scaling dan root planing untuk menghilangkan kalkulus. Dalam tahap ini
juga dilakukan reshaping / pembentukan dari gingiva sehingga bentukan
gingiva menyerupai gingiva normal.

Gb.Penampakan

gigi

setelah

dilakukan

penyingkiran jaringan gingiva. Daerah bekas


gingivektomi dilakukan shaping / pembentukan
kontur gigi .

6) Dilakukan pembersihan daerah kerja dengan menggunakan aquades. Lalu


dikeringkan dengan menggunakan kain kasa.
7) Pemasangan periodontal dressing pada daerah yang dibedah dilakukan
sebelum blood clot terbentuk. Periodontal dressing diberikan agar
mengurangi perdarahan, menjaga daerah yang telah dibedah agar tetap
bersih dan terhindar dari luka dan iritasi, mengontrol pembentukan
jaringan granulasi yang berlebihan. Periodontal pack ini dibuka setelah 1
minggu pasca bedah gingivektomi.
Gb.Pemasangan

Periodontal Pack

daerah yang telah dibedah

13 | T U T O R I A L V

pada

1.4 Respon jaringan


Menurut Buku Ajar Periodonti (1993), setelah dilakukan pembedahan,
luka jaringan ikat akan tertutup oleh bekuan darah. Daerah di baliknya akan
mengalami fase inflamasi akut yang singkat, diikuti dengan demolisi dan
organisasi. Segera setelah dilakukannya kuret gingiva, blood clot akan mengisi
daerah poket periodontal, yang mana tanpa epitelial lining total maupun
sebagian. Hemorage juga ada dalam jaringan dengan kapiler yang dilatasi dan
terdapat banyak PMNs yang tampak pada permukaan luka. Hal ini diikuti
dengan proliferasi yang cepat dari jaringan granulasi dengan berkurangnya
jumlah pembuluh darah kecil seiring pematangan jaringan.

24 jam pertama terlihat adanya peningkatan jaringan ikat baru terutama

angioblast tepat di bawah lapisan permukaan keradangan dan nekrosis.


12-24 jam sel epitel di tepi luka terlihat mulai bermigrasi ke atas jaringan

granulasi.
24-36 jam kegiatan epitel pada margin mencapai puncaknya. Sel epitel baru
muncul dari lapisan basal dan lebih ke spinosum dari lapisan epitel tepi luka

dan bermigrasi.
Hari ke 3 fibroblast muda sudah terlihat di area tersebut. Jaringan granulasi
yang kaya vaskularisasi tumbuh kearah koronal membentuk free gingival
margin dan sulcus baru. Kapiler yang berasal dari pembuluh darah ligament
periodontal bermigrasi ke jaringan granulasi dan dalam waktu 2 minggu

akan terhubung dengan pembuluh darah gingiva.


Hari ke 4 vasodilatasi dan vaskularisasi mulai menurun dan tampak hamper

normal pada hari ke 16.


6 minggu setelah gingivektomi gingiva tampak sehat berwarna merah muda

dan kenyal.
1 bulan setelah gingivektomi repair dari epitel telah selsai sedangkan untuk
repair jaringan ikatnya adalah sekitar 7 minggu setelah gingivektomi.
Segera setelah scalling dan kuretase, gingiva terlihat hemoragic dan merah

terang. Setelah 1 minggu, gingiva mengalami resesi dari posisi gingival


margin. Gingiva juga menjadi lebih merah gepal dari normal. Setelah 2
minggu, dengan OH yang tepat, tercapailah gingiva dengan warna, konsistensi,

14 | T U T O R I A L V

tekstur permukaan dan kontur yang normal. Dan juga, margin gingiva
beradaptasi baik dengan gigi.

B. KURETASE
1.1 Dasar Pemikiran
Kuretase merupakan prosedur penyingkiran jaringan granulasi yang
terinflamasi kronis yang berada pada dinding poket periodontal. Dimana
jaringan granulasi tersebut, selain mengandung daerah yang terinflamasi kronis
juga mengandung kalkulus dan koloni bakteri, koloni bakteri tersebut dapat
mempengaruhi

gambaran

patologis

dari

jaringan

dan

menghambat

penyembuhan.
Jaringan granulasi yang terinflamasi tersebut dilapisi oleh epitel. dimana
adanya epitel tersebut akan menghambat perlekatan serat-serat gingiva dan
ligamen periodontal baru ke permukaan sementum dan akar. Oleh karena itu
penyingkiran jaringan granulasi penting untuk mengurangi kehilangan
perlekatan dengan tumbuhnya perlekatan jaringan ikat yang baru serta
menghilangkan iritan berupa jaringan granulasi yang terinflamasi kronis
sehingga tercipta kondisi gingiva yang stabil dan mudah dipelihara.

1.2 Indikasi dan Kontraindikasi Kuretase


A. Indikasi
1. Dilakukan sebagai bagian dari prosedur perlekatan baru pada saku
dengan kedalaman sedang yang berada pada sisi yang aksesibel,
dimana bedah tertutup diperhitungkan lebih menguntungkan.
2. Dilakukan sebagai perawatan nondefinitif (alternatif) untuk meredakan
inflamasi sebelum penyingkiran saku dengan teknik bedah lainnya,
atau bagi pasien yang karena alasan medis, usia dan psikologi tidak

15 | T U T O R I A L V

mungkin diindikasikan teknik bedah yang lebih radikal, seperti bedah


flap. Harus dipahami pada kasus ini, tujuan dari eliminasi poket adalah
dikompromikan dan prognosa menjadi kurang baik. Indikasi yang
demikian hanya berlaku apabila teknik bedah yang sebenarnya
diindikasikan tidak memungkinkan untuk dilakukan. Baik klinisi
maupun pasien harus memahami keterbatasan dari perawatan
nondefinitif ini.
3. Dilakukan pada kunjungan berkala dalam rangka fase pemeliharaan,
sebagai metode perawatan pemeliharaan pada daerah2 dengan
rekurensi atau kambuhnya inflamasi dan pendalaman saku, terutama
pada daerah dimana telah dilakukan bedah saku.
4. Kuretase dapat dilakukan pada poket supraboni yang tidak meluas
melebihi mucogingival junction, poket supraboni yang lokasi
inflamasinya masih dapat dilihat.
5. Kuretase dapat dilakukan pada poket dengan kedalaman dangkal
(poket dangkal moderat (3-5 mm)).
6. Kuretase dapat dilakukan pada poket dengan lebar dan ketebalan
jaringan gingival yang adekua, kontur gingiva relatif baik.
7. Kuretase dapat dilakukan pada poket yang oedematous, inflamasi, non
fibrotik.

B. Kontraindikasi
1. Adanya pertimbangan faktor estetik
Ketika dilakukan kuretase berupa penyingkiran jaringan granulasi yang
terinflamasi kronis pada bagian junctional epithelium bahkan sampai ke
puncak tulang alveolar maka akan terjadi penyusutan cepat dari jaringan
gingiva, dimana penyusutan jaringan gingiva ini akan menimbulkan
peningkatan resesi gingiva yang berakibat pada masalah estetik.
2. Adanya jaringan fibrotic.

16 | T U T O R I A L V

3.
1.3 Prosedure
Teknik Dasar
1. Sebelum melakukan kuretase , dilakukan anastesi lokal.
2. Kuret dipilih dengan menghadapkan cutting edge menghadap ke
jaringan ( Contoh : universal Columbia 4R - 4L, atau kuret
Gracey no. 13 - 14 untuk permukaan mesial dan kuret Gracey no.
11 - 12 untuk permukaan distal). Permukaan fasial gingiva
ditekan dengan jari yang bebas, lalu dengan sapuan ke arah luar
dan koronal epitel saku dikuret.
3. Untuk kuretase subgingival, perlekatan jaringan dari dasar poket
sampai puncak alveolar crest di hilangkan dengan menggunakan
kuret dengan gerakan sapuan kearah koronal.
4. Setelah itu jaringan diadaptasikan kembali dengan gerakan
penekanan kearah permukaan gigi. Dilanjukan pemasangan
periodontal pack jika diindikasikan.
Teknik ENAP (Excisional New Attachment Procedure)
Teknik ENAP (Excisional New Attachment Procedure) adalah
modifikasi dari teknik ENAP (Ecxisional New Attachment Procedure)
yang dikembangkan oleh U.S. Naval Dental Corps (Dinas Kesehatan
Gigi angkatan Laut Amerika Serikat). Tehnik ini pada dasarnya
merupakan kuretase subgingival yang dilakukan dengan menggunakan
scalpel
Prosedur :
1. Setelah dilakukan anastesi lokal, Insisi bevel internal dibuat
dari margin gingiva ke dasar oket.
2. Hilangkan jaringan tersebut menggunakan kuret dan lakukan
rootplaning pada seluruh permukaan akar yang terekspos
17 | T U T O R I A L V

secara hati-hati sehingga menghasilkan pemukaan yang halus


dan keras
3. Tepi gingiva disatukan,

apabila tepi gingiva tidak dapat

disatukan dengan rapat, plat tulang vestibular sedikit ditipiskan


dengan

jalan

osteoplastik.

Dilakukan

pengaplikasian

periodontal dressing.
Kuretase Ultrasonic
Penggunaan alat ultrasonic telah direkomendasikan untuk kuretase
gingiva. Ultrasound efektif untuk debridemen epitel pada poket
periodontal. Menghasilkan lapisan nekrotik berkurang pada lapisan dalam
poket.
Teknik kuretase ini bekerja dengan cara mengganggu kontinuitas jaringan
sehingga dapat membersihkan lapisan epitel pada poket periodontal. Hasil
yang didapat dari teknik ini adalah nekrosis jaringan yang sempitPada
teknik ini digunakan instrumen ultrasonic Morse scaler-shaped dan rodshape. Beberapa penelitian menemukan instrumen ultrasonic sama
efektifnya

dibandingkan

dengan

instrumen

kuret

manual,

tetapi

menghasilkan inflamasi yang lebih kecil dan mengurangi sisa jaringan


konektif. Gingiva dapat dibuat menjadi lebih kaku untuk melakukan
kuretase ultrasonic dengan menginjeksikan larutan anestesi pada daerah
yang akan dilakukan kuretase

Caustic Drugs
Sejak awal perkembangan perawatan periodontal, penggunaat
caustic drugs telah direkomendasikan untuk menginduksi kuretase kimia
pada dinding lateral poket atau untuk mengeliminasi epitel secara selektif.
Obat-obatan yang meliputi, sodium sulfide, larutan alkaline sodium
hipochlorite (Antiformin), dan fenol, telah diusulkan dan kemudian tidak
digunakan

setelah

adanya

penelitian

yang

mengindikasikan

18 | T U T O R I A L V

ketidakefektifan obat-obatan tersebut. Tingkat destruksi jaringan akibat


penggunaan obat-obatan ini tidak dapat dikontrol, dan dapat meningkatkan
dibandingkan mengurangi jumlah jaringan yang dihancurkan oleh enzim
dan fagosit.
1.4 Respon Jaringan
Segera setelah dilakukannya kuret gingiva, blood clot akan mengisi daerah
poket periodontal, yang mana tanpa epitelial lining total maupun sebagian.
Hemorage juga ada dalam jaringan dengan kapiler yang dilatasi dan
terdapat banyak PMNs yang tampak pada permukaan luka. Hal ini diikuti
dengan proliferasi yang cepat dari jaringan granulasi dengan berkurangnya
jumlah pembuluh darah kecil seiring pematangan jaringan.
Restorasi dan epitelisasi dari sulkus biasanya terjadi dalam 2-7 hari dan
restorasi junctional epotelium pada hewan terjadi paling cepat 5 hari
setelah treatment. Serabut kolagen immature akan tampak kurang dari 21
hari. Serabut gingival sehat yang tidak sengaja terpotong dan robek
didalam epitelium akan diperbaiki dalam proses healing. Bebrapa
investigasi melaporkan bahwa monyet dan hewan yang dirawat dengan
scalling dan kuretase menunjukkan hasil perbaikan dalam formasi yang
panjang, juntional epitelium yang tipis didak menunjukkan adanya
perlekatan jaringan yang baru.
Segera setelah scalling dan kuretase, gingiva terlihat hemoragic dan merah
terang. Setelah 1 minggu, gingiva mengalami resesi dari posisi gingival
margin. Gingiva juga menjadi lebih merah gepal dari normal. Setelah 2
minggu, dengan OH yang tepat, tercapailah gingiva dengan warna,
konsistensi, tekstur permukaan dan kontur yang normal. Dan juga, margin
gingiva beradaptasi baik dengan gigi.

C. OPERKULEKTOMI

19 | T U T O R I A L V

Operkulektomi adalah suatu prosedur bedah yang dilakukan karena adanya


infeksi pada jaringan lunak yang menutupi gigi yang baru erupsi.
1.1 Dasar pemikiran
Infeksi non-spesifik pada jaringan dan adanya akumulasi plak yang sering
pada daerah disekitar gigi yang baru erupsi. Yang paling sering terjadi adalah pada
gigi molar ke-3 rahang bawah karena tumbuhnya paling terakhir dari gigi yang
lain dan didaerah tersebut mudah terjadi akumulasi plak akibat sulitnya
pembersihan. Adanya jaringan lunak di atas gigi ini juga dapat menyebabkan
terjadinya trauma yang dikarenakan oleh gigi antagonis. Oleh karena hal tersebut,
jaringan lunak di atas gigi tersebut mudah terjadi inflamasi.
Pada beberapa kasus yang berat, pasien biasanya mengeluh gigi molar ke3 rahang sakit, sulit membuka mulut,terjadi trismus, jaringan diatas gigi tampak
kemerahan, terkadang pasien mengeluh adanya bau mulut.

1.2 Indikasi dan Kontraindikasi


A. Indikasi

Adanya trauma jaringan yang disebabkan oleh gigi antagonis sehingga


menyebabkan adanya inflamasi pada mukosa yang menutupi gigi
antagonisnya.

B.Kontraindikasi

Dinding poket fibrotik.

Perikoronitis yang masih akut.

1.3 Prosedur Perawatan


1. Pertama, saraf pasien dimatikan terlebih dahulu dengan teknik anastesi
lokal.
2. Kedua, pembuatan insisi pada operkulum dengan bentuk persegi panjang.

20 | T U T O R I A L V

3. Kemudian, jepit ujung distal jaringan yang telah dilakukan insisi dengan
hemostat berparuh melengkung, lalu pisahkan jaringan tersebut dengan
puncak tulang alveolar.
4. Selanjutnya, dilakukan scaling dan root planning pada permukaan distal
molar tersebut (gigi yang telah dilakukan insisi).
5. Lalu, dilakukan penjahitan dengan cara menyatukan tepi-tepi luka dan dijahit
dengan jahitan terputus.
6. Pemasangan periodontal pack.
7. Beri instruksi pada pasien untuk kembali ke dokter gigi setelah 7 10 hari
untuk membuka jahitan. Setelah itu, lakukan pemolesan pada gigi yang telah
dilakukan operasi.

1.4 Respon Jaringan


Setelah dilakukan perawatan operkulektomi, akan terbentuk blood cloth.
Blood cloth yang tipis akan digantikan oleh jaringan granulasi dalam waktu satu
minggu. Jaringan ini akan matang menjadi jaringan ikat kolagen dalam waktu 2-5
minggu. Permukaan dalam flap akan bergabung dengan tulang untuk membentuk
mukoperiosteum yang menambah lebar daerah perletakan gingival.
Dua hari setelah operasi, epithelium akan mulai berproliferasi dari tepi flap
ke arah luka jaringan ikat. Epitelium akan bergeser ke apical dengan kecepatan
0,5 mm perhari untuk membentuk junctional epithelium yang baru. junctional
epithelium yang masak terbentuk dalam waktu empat minggu. Kebersihan mulut
yang baik sangat diperlukan selama periode pemulihan ini.

INSTRUKSI PASCA PERAWATAN BEDAH PERIODONTAL

Untuk 3 jam pertama setelah operasi, hindari makanan yang panas untuk
membiarkan periodontal pack agar bisa mengeras. Hindari makanan yang
sangat pedas karena akan menimbulkan rasa sakit.

Selama hari pertama, gunakan es secara perlahan di atas wajah daerah


yang dioperasi. Metode ini dapat mengurangi pembengkakan.
21 | T U T O R I A L V

Pasien harus diberi dorongan untuk segera menyikat giginya dengan sikat
lembut dan air hangat.

Apabila pasien belum bisa membersihkan gigi dengan sikat gigi karena
rasa sakit pada daerah bekas operasi, maka pasien diinstruksikan untuk
berkumur dengan larutan klorheksidin tiap pagi dan malam selama satu
minggu. Namun, selama pasien menggunakan larutan klorheksidin untuk
membersihkan rongga mulutnya, sebaiknya pasien tidak mengonsumsi teh,
kopi, dan rokok untuk menghindari terjadinya stain.

Pembersihan interdental sebaiknya baru digunakan setelah satu minggu


kemudian.

Banyak istirahat dan hindari aktivitas yang berat

Tidak diperbolehkan merokok. Panas dan asap rokok akan mengiritasi gusi
dan efek nikotin akan menghambat penyembuhan dan mencegah
tercapaunya keberhasilan prosedur yang dilakukan.

Ada kalanya setelah prosedur bedah, mungkin terlihat darah di dalam air
liur untuk 4-5 jam pertama. Hal ini biasa terjadi dan akan memperbaiki
dengan sendirinya. Jika ada perdarahan yang cukup besar di luar ini,
diinstruksikan untuk mengambil sepotong kasa, bentuk dalam bentuk U
(atau bisa menggunakan tampon), tahan dengan jari telunjuk dan jempol,
dan menerapkannya di kedua sisi pack selama 20 menit. Jika perdarahan
tidak berhenti setelah

20 menit, hubungi dokter gigi. Jangan

menghentikan perdarahan dengan cara berkumur.

Bedah periodontal dapat menimbulkan sedikit rasa nyeri dan rasa tidak
nyaman. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian analgesik seperti
ibuprofen (600-800 mg) 1 tablet 3 kali sehari serta perlu diperhatikan
pasien dengan hipertensi terkontrol pemberian analgesik harus hati-hati.
Apabila rasa nyeri bertahan lama maka dapat diberikan asetamenofen
bersama codein. Namun, Aspirin merupakan kontraindikasi sehingga tidak

22 | T U T O R I A L V

disarankan untuk diminum oleh pasien selama masa pemulihan luka


karena aspirin memiliki sifat mengencerkan darah sehingga blood cloth
atau bekuan darah sukar terbentuk dan ditakutkan proses penyembuhan
terhambat.

Pemberian antibiotik pascaoperasi sebaiknya hanya digunakan untuk kasus


tertentu saja, misalnya untuk penderita diabetes dan penderita cacat.

Sampaikan kepada pasien jika telah dipasang periodontal pack yang dapat
mencegah rasa nyeri, membantu penyembuhan, serta memberikan rasa
nyaman terhadap luka pasca operasi. Sampaikan pula bahwa pack akan
mengeras dalam beberapa jam sehingga dapat digunakan untuk
mengunyah meskipun butuh adaptasi terhadap adanya pack.

Dressing biasanya dibuka setelah satu minggu. Setelah semua kotoran


sudah dibersihkan dan luka diirigasi dengan air hangat. Bila luka masih
belum terepitelisasi dengan baik dan masih rentan, maka perlu dipasang
dressing yang baru selama satu minggu kemudian.

Kebersihan mulut penderita harus diperiksa ulang, sampai semuanya


memuaskan

dan

pemulihan

sempurna.

Setelah

itu

dijadwalkan

pengontrolan ulang dengan interval 3-6 bulan kemudian.

DAFTAR PUSTAKA
Carranza FA dan Henry HT. 2012. Gingival curettage, in: Carranza FA Jr
& Newman MG (eds), Clinical Periodontology, 11th edition. USA: W.B. Saunders
Co.

23 | T U T O R I A L V

Manson J.D. dan B.M. Eley. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Jakarta:
Hipokrates
Carranza FA dan Henry HT. 2002. Gingival curettage, in: Carranza FA Jr
& Newman MG (eds), Clinical Periodontology, 9th edition. USA: WB Saunders
Co.
Manson J. D. 1975. Periodontics. London: Hendry Kimton Publisher

24 | T U T O R I A L V