Anda di halaman 1dari 45

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL

PENGAMANAN PANTAI

BALAI WILAYAH SUNGAI SUMATERA V


PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Gambaran Umum
Wilayah Sumatera Barat terletak antara 0 derajat Lintang Utara hingga 3 derajat
Lintang Selatan, serta 98 derajat dan 101 derajat Bujur Timur. Wilayah Sumatera Barat
dilalui oleh garis khatulistiwa (garis lintang nol derajat), tepatnya berada di kecamatan
Bonjol kabupaten Pasaman Barat, kondisi ini menyebabkan wilayah Sumatera Barat
beriklim tropis. Luas wilayah sekitar 4.229.730 Ha, setara dengan 2,17 % dari luas
wilayah Negara Kasatuan Republik Indonesia, dengan luas perairan laut diperkirakan
186.500 Km2 dan panjang garis pantai 2.420.57 Km.
Keadaan topografi wilayah Sumatera Barat bervariasi, mulai dari wilayah datar,
landai, bergelombang serta wilayah dengan kondisi alam yang terjal/curam dan
berbukit. Dengan kondisi topografi ini, di Sumatera Barat banyak sekali didapati obyek
wisata alam. Suhu udara rata-rata di pantai Sumatera Barat berkisar antara 21 sampai
38 derajat celcius, daerah perbukitan berkisar antara 15 sampai 34 derajat celcius,
sedangkan pada daerah datar di sebelah timur Bukit Barisan dengan suhu antara 19
sampai 34 derajat celcius. Hampir setiap tahun di Sumatera Barat terjadi dua puncak
curah hujan maksimum, yaitu pada bulan Maret dan Desember. Curah hujan paling
rendah terjadi pada bulan Juni/Juli. Jumlah curah hujan rata-rata maksimum mencapai
4000 mm/tahun terutama di wilayah pantai barat, sedangkan di beberapa tempat di
bagian timur curah hujan relatif kecil antara 1500 sampai 2000 mm/tahun.
Adapun Batas-batas wilayah Sumatera Barat dengan propinsi lainnya sebagai
berikut :
Sebelah Utara

: berbatasan dengan Propinsi Sumatera Utara

Sebelah Selatan : berbatasan dengan Propinsi Bengkulu dan Jambi


Sebelah Timur

: berbatasan dengan Propinsi Jambi dan Riau

Sebelah Barat

: berbatasan dengan Samudra Hindia

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Dengan dukungan sarana dan prasarana serta fasilitas transportasi yang memadai,
daerah Sumatera Barat dapat dengan mudah dikunjungi dari daerah manapun, baik
melalui perjalanan darat, laut maupun udara.
Propinsi Sumatera Barat terdiri dari 19 daerah kabupaten dan kota, dengan rincian ,
13 daerah kabupaten dan 6 daerah kota. Dari 19 daerah ini terbagi lagi atas 158
daerah kecamatan. Jumlah daerah kecamatan pada setiap kabupaten dan kota sebagai
berikut :
NAMA DAERAH KABUPATEN DAN KOTA
DAN JUMLAH KECAMATAN SE SUMATERA BARAT

No.

Daerah Kabupaten dan Kota

Jumlah
Kecamatan

Kabupaten Agam

15

Kabupaten Pasaman

12

Kabupaten Pasaman Barat

Kabupaten Limapuluh Kota

13

Kabupaten Solok

14

Kabupaten Solok Selatan

Kabupaten Padang pariaman

17

Kabupaten Pesisir Selatan

11

Kabupaten Tanah Datar

14

10

Kabupaten Sawahlunto Sijunjung

11

Kabupaten Darmasraya

12

Kabupaten Kepulauan Mentawai

13

Kota Bukittinggi

14

Kota Padang

11

15

Kota Padang Panjang

16

Kota Sawahlunto

17

Kota Solok

18

Kota Payakumbuh

19

Kota Pariaman

3
Sumber : Profil Pendidikan Kab/Kota 2005/2006

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Wilayah Provinsi Sumatera Barat


II.

Kondisi Secara Umum Permasalahan Pantai di Provinsi Sumatera barat


Propinsi Sumatera Barat merupakan salah satu derah pesisir yang mempunyai
permasalahan pantai yang komplet, berbatasan sebelah Barat dengan Lautan Hindia
yang meliputi 5 (lima) Kabupaten (Pasaman, Agam, Padang Pariaman, Pesisir Selatan
dan Mentawai) serta 2 (dua) Kota (Kota Padang dan Kota Pariaman).

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Pantai Sumatera Barat mempunyai panjang total lebih kurang 420 km dimana 45%
(lebih kurang 180 km) di antaranya mengalami kerusakan akibat abrasi/erosi.
Sumatera Barat juga merupakan salah satu daerah yang sangat rawan terkena
bencana tsunami, dikarenakan daerahnya merupakan daerah pesisir yang cukup landai
dan padat penduduk terutama di daerah Kota Padang dan Kota Pariaman, serta
beberapa daerah di Kab. Padang Pariaman, Kab. Pesisir Selatan, Kab. Agam, Kab.
Pasaman Barat dan daerah Kepulauan Mentawai. Kerusakan pantai ini menyebabkan
kerugian ekonomi yang signifikan terutama pada area Kota Padang karena Kota
Padang adalah pusat ekonomi yang ada di Sumatera Barat. Terdapat 13 (tiga belas)
pantai diperkirakan kritis di Sumatera Barat yakni seperti tertera di Tabel 1.1.
Daftar Pantai Kritis di Provinsi Sumatera Barat
No.

Pantai

Lokasi

No.

Pantai

Lokasi

1.

Air Bangis

Kab. Pasamanan Barat

7.

Padang

Kota Padang

2.

Sasak

Kab. Pasamanan Barat

8.

Bungus

Kota Padang

3.

Tiku

Kab. Agam

9.

Kab. Pesisir Selatan

4.

Pasir Baru

Kab. Padang Pariaman

10.

Carocok
Painan
Luhung

5.

Pariaman

Kota. Pariaman

11.

Surantih

Kab. Pesisir Selatan

6.

Ketaping

Kab. Padang Pariaman

12.

Kambang

Kab. Pesisir Selatan

Kab. Pesisir Selatan

Permasalahan pantai dan muara juga cukup banyak dan perlu penanggulangan agar
lingkungan pantai tetap berfungsi. Secara umum permasalahan-permasalahan yang terjadi
di pantai adalah sebagai berikut:

a. Abrasi
Peristiwa Abrasi di
Pantai Padang

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Terkikisnya batuan atau material keras seperti dinding atau tebing batu di
sepanjang pantai, yang biasanya diikuti dengan longsoran atau tuntuhan material
di daerah pantai yang menyebabkan mundurnya garis pantai dari kedudukan
semula yang disebabkan oleh tidak adanya keseimbangan antara pasokan dan
kapasitas angkutan sedimen.
b. Perubahan Garis Pantai

Perubahan Garis Pantai


Penyebab utama terjadinya perubahan garis pantai adalah transport sedimen
sepanjang pantai. Perubahan profil pantai sangat dipengaruhi oleh angkta
sedimen tagak lurus pantai dan sedimen sejajar pantai. Sifat dinamis pantai
sangat diperngaruhi oleh littoral transport, yaitu gerakan sedimen di daerah
dekat pantai oleh gelombang dan arus. Littoral transport dibedakan menjadi dua
macam, yaitu transport sepanjang pantai (longshore transport), dan transport
tagak lurus pantai (onshore-ofshore transport). Laju transport sepanjang pantai
tergantung pada distribusi gelombang, sudut datang, gelombang, dan enerti
gelombang. Oleh karena itu, perlu dikaji terlebih dahulu kondisi iklim di daerah
yang akan diteliti perubahan garis pantainya.

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


c. Rusaknya fasilitas pengaman pantai

Kerusakan bangunan Pengaman Pantai

Proses abrasi dan akresi yang terjadi di pantai berpengaruh cukup besar
terhadap bangunan-bangunan pantai.

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI AIR BANGIS

KECAMATAN SEI BEREMAS


PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Lokasi
Pantai Air Bangis terletak di Desa Air Bangle, Kecamatan Sei Beremas, Kabupaten

Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.


Secara geografis, Pantai Air Bangis terletak pada :
99o 20 5,28 E dan 0o 14 34 N
Batas Ekologi Pantai Air Bangis adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

Kecamatan Ranah Batahan

Sebelah Timur

Kecamatan Koto Balingka

Sebelah Selatan

Selat Mentawai

Sebelah Barat

Selat Mentawai

II.

Gambaran Umum
Kabupaten Pasaman Barat adalah salah satu kabupaten di Sumatra Barat,
Indonesia. Dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pasaman berdasarkan UU
No.38 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, potensi terbesar Pasaman Barat
terletak pada sektor perkebunan kelapa sawit, jeruk dan salak.
Kota-kota penting di Pasaman Barat antara lain Simpang Empat, Sasak, Kinali,
Talu, Air Bangis, Silaping, Ujung Gading, Muara Kiawai, Sungai Aur, Parit,
Paraman Ampalu, Sikabau, Pulau Panjang, Cubadak, Simpang Tonang, Simpang
Tiga, Desa Baru, Sigantang, dan lain-lain.
Kabupaten Pasaman Barat merupakan salah satu dari 3 (tiga) Kabupaten
Pemekaran di Propinsi Sumatera Barat, berdasarkan Undang-undang Nomor 38
Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Solok Selatan dan
Pasaman Barat. Kabupaten Pasaman Barat dengan luas wilayah 3.887,77 km,

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


jumlah penduduk 388.893 jiwa dengan administrasi pemerintahan yang meliputi
11 (sebelas) kecamatan.
Secara geografis Kabupaten Pasaman Barat terletak diantara 00 33 Lintang
Utara sampai 00 11 Lintang Selatan dan 99 10 sampai 100 04 Bujur Timur.

Lokasi pantai Air Bengis

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


III.

Panjang Pantai

Garis pantai pada Pantai Air bangis yang perlu ditangani adalah sepanjang 3,000
m
IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Air Bengis ini adalah abrasi
pantai yang telah merusak bangunan bangunan ataupun fasilitas yang ada
disekitar pantai. Kondis-kondisi bangunan yang terancam adalah ; rumah
penduduk sebanyak 250 bh, sekolah 5 bh, industri perikanan sebanyak 10 bh,
jalan propinsi sepanjang 3 km, fasilitas umum sebanyak 3 bh.

Peristiwa abrasi di pantai air bengis

IV.I

Kondisi Topografi
Secara umum topografi daerah Kabupaten Pasaman Barat adalah datar

dan sedikit bergelombang, sedangkan daerah bukit dan bergunung hanya


terdapat di Kecamatan Talamau, dan Gunung Tuleh. Ketinggian daerah
bervariasi dari 0 sampai 913 meter diatas permukaan laut. Wilayah datar
dengan kemiringan 0-3%, datar bergelombang dengan kemiringan 3-8%,
berombak dan bergelombang dengan kemiringan lereng 8%-15% serta
wilayah

bukit

bergunung

dengan

kemiringan

lereng

diatas

15%.
9

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI SASAK

KECAMATAN SASAK RANAH PASISIE


PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Lokasi
Pantai Sasak terletak di Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman

Barat, Propinsi Sumatera Barat.


Secara geografis, Pantai Sasak terletak pada :
0o 00 38 N dan 99o 42 33 E
Batas Ekologi Pantai Galesong Utara adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

Kabupaten Lembah Melintang

Sebelah Timur

Kabupaten Kinali

Sebelah Selatan

Selat Mentawai

Sebelah Barat

Selat Mentawai

II.

Gambaran Umum
Kabupaten Pasaman Barat adalah salah satu kabupaten di Sumatra Barat,

Indonesia. Dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pasaman berdasarkan UU


No.38 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003, potensi terbesar Pasaman Barat
terletak pada sektor perkebunan kelapa sawit, jeruk dan salak.
Kota-kota penting di Pasaman Barat antara lain Simpang Empat, Sasak, Kinali,
Talu, Air Bangis, Silaping, Ujung Gading, Muara Kiawai, Sungai Aur, Parit, Paraman
Ampalu, Sikabau, Pulau Panjang, Cubadak, Simpang Tonang, Simpang Tiga, Desa
Baru, Sigantang, dan lain-lain.
Kabupaten Pasaman Barat merupakan salah satu dari 3 (tiga) Kabupaten
Pemekaran di Propinsi Sumatera Barat, berdasarkan Undang-undang Nomor 38
Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Dharmasraya, Solok Selatan dan
Pasaman Barat. Kabupaten Pasaman Barat dengan luas wilayah 3.887,77 km,
10

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


jumlah penduduk 388.893 jiwa dengan administrasi pemerintahan yang meliputi 11
(sebelas) kecamatan.
Secara geografis Kabupaten Pasaman Barat terletak diantara 00 33 Lintang Utara
sampai 00 11 Lintang Selatan dan 99 10 sampai 100 04 Bujur Timur.

Lokasi pantai Sasak

11

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Sasak yang perlu ditangani adalah sepanjang 5,000
m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Sasak ini adalah abrasi
pantai yang telah merusak bangunan bangunan ataupun fasilitas yang ada
disekitar pantai. Kondis-kondisi bangunan yang terancam adalah ; rumah
penduduk sebanyak 300 bh, sekolah 2 bh, tempat ibadah 6 bh,daerah wisata ,
jalan desa sepanjang 7 km.

Peristiwa akibat Abrasi pantai sasak

IV.I

Kondisi Topografi
Secara umum topografi daerah Kabupaten Pasaman Barat adalah datar

dan sedikit bergelombang, sedangkan daerah bukit dan bergunung hanya


terdapat di Kecamatan Talamau, dan Gunung Tuleh. Ketinggian daerah
bervariasi dari 0 sampai 913 meter diatas permukaan laut. Wilayah datar
dengan kemiringan 0-3%, datar bergelombang dengan kemiringan 3-8%,
berombak dan bergelombang dengan kemiringan lereng 8%-15% serta
wilayah bukit bergunung dengan kemiringan lereng diatas 15%.

12

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


IV.II Kondisi Iklim
Kondisi Iklim di Kecamatan Ranah Sasak Pasisie merupakan salah satu
faktor yang menentukan pertumbuhan tanaman dan faktor lingkungan
lainnya serta menjadi salah satu penentu evaluasi lahan. Curah hujan sebagai
unsur utama dari iklim sering diperhitungkan dalam budidaya tanaman.
Berdasarkan data curah hujan di stasiun terdekat (Sukamenanti dan Lubuk
Basung) terungkap bahwa curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara
3.423-4.765 mm/tahun dengan bulan basah (>200 mm) hampir sepanjang
tahun tanpa bulan kering (<200 mm/bulan) . Berdasarkan data curah hujan
ini dapat disimpulkan bahwa tipe curah hujan daeah ini termasuk Zona
Agroklimat A menurut kreteria Oldeman dan tipe hujan A menurut Schmidt
anf Fergussun (1951).
V.

Kondisi saat ini


Berdasarkan kondisi lapangan saat ini dan menurut keterangan dari
para penduduk sekitar adalah guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan
akibat arus pasang terhadap daerah pemukiman dan fasilitas umum disekitar
maka di pantai sasak pernah adanya kegiatan pembangunan jetty sepanjang
78 m. Namun dari data penjang pantai kritis yang hampir mencapai 5,000m,
maka pembangunan sepanjang 78 m adalah sangat kurang sekali.Apabila
tidak segera dilaksanakan pembangunan pengaman pantai lanjutan di
khawatirkan garis pantai akan semakin dekat dengan pemukiman.

Kerusakan akibat gelombang ombak yang


cukup tinggi
13

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Photo dokumentasi Kondisi Pantai Saat ini.

14

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI TIKU

KECAMATAN TANJUNG MUTIARA


PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Lokasi
Pantai Galesong Utara terletak di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam,

Propinsi Sumatera Barat.


Secara geografis, Pantai Tiku terletak pada :
0o 18 48 S danm 99o 49 54 E
Batas Ekologi Pantai Tiku adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan Lubuk Basung

Sebelah Timur

Kecamatan Koto Aur malintang

Sebelah Selatan

Kecamatan Batang Gasan

Sebelah Barat

Selat Mentawai.

II.

Gambaran Umum
Pada kabupaten Agam terdapat 2 buah gunung, yaitu Gunung Marapi di

kecamatan Banuhampu dengan ketinggian 2.891 meter dan Gunung Singgalang di


kecamatan IV Koto dengan ketinggian 2.877 meter. Pada kabupaten ini terdapat
sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Maninjau yang memiliki luas 9.950
ha dan terletak di wilayah pegunungan yang terbentuk dari 2 jalur utama, yaitu
Basin Batang Agam di bagian utara dan Batang Sri Antokan di bagian selatan.
Kabupaten Agam mempunyai posisi yang strategis karena dilewati oleh jalur arteri
primer yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Medan, maupun Kota
Pekanbaru. Secara geografis wilayah kabupaten Agam terletak antara 00 2" Lintang
Selatan, 99 52" - 100 23" Bujur Timur. Kabupaten Agam memiliki batas wilayah
dengan beberapa kabupaten di Sumatera Barat.
15

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Lokasi pantai Tiku

III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Tiku yang perlu ditangani adalah sepanjang 5,100 m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Tiku ini adalah abrasi akibat

gelombang arus pantai, dampak yang di timbulkan adalah selain Jarak garis pantai
dengan permukiman nelayan yang hanya sekitar 3 - 5 m tetapi juga menimbulkan
kerusakan pada bangunan pengaman pantai yang ada. Dalam kurun waktu 10 tahun
16

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


terakhir telah terjadi abrasi pantai Tiku sekitar 200350 m sepanjang 5 km yang
merupakan perkampungan penduduk dan perkebunan kelapa sawit di desa Ujung
Labung, Muaro Putuih, Masang, Labuhan dan Subang-subang Kenagarian Tiku V
Jorong Kec. Tanjung Mutiara.

Rusaknya Bangunan Pengaman Pantai

IV.I

Kondisi Topografi
Topologi wilayah Kecamatan Tanjung Mutiara

terdiri dari daerah

pantai, daratan. Untuk Kemiringan dan luas wilayahnya dibagi menjadi 4


bagian yaitu :
1. Wilayah datar dengan kemiringan 0,3 % dengan luas wilayahnya
662 km.
2. Wilayah Datar Berombak dengan kemiringan antara 3 8 %
dengan luas wilayahnya 153 km.

17

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


3. Wilayah berombak dan bergelombang dengan kemiringan antara 8
15 % dengan luas wilayahnya 801 km.
4. Wilayah Bukit Bergunung dengan kemiringan sebesar 15 % dengan
luas wilayahnya 616 km.
IV.II Kondisi Iklim
Iklim rata di kawasan ini adalah minimun 25 C, dengan kelembaman
udara rata-rata 88 %, kecepatan angin minimun 4 km/jam dan maksimum 20
km/jam. Dan rata-rata penyinaran matahari adalah 58%
V.

Kondisi saat ini

18

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI SUNGAI LIMAU


KECAMATAN SUNGAI LIMAU
PROVINSI SUMATERA BARAT

I.

Lokasi
Pantai Sungai Limau terletak di Kecamatan Sungai limau, Kabupaten Padang

pariaman, Propinsi Sumatera Barat.


Secara geografis, Pantai Sungai Limau terletak pada :
0o 31 19,2 S dan 100o 03 17,3 E
Batas Ekologi Pantai Sungai Limau adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan Sungai Geringging

Sebelah Timur

Kecamatan Patamuan

Sebelah Selatan

Kecamatan Koto Timur

Sebelah Barat

Selat Mentawai.

II.

Gambaran Umum
Pada awalnya Kabupaten Padang Pariaman sesuai dengan Peraturan
Komisaris Pemerintah di Sumatera No 81/Kom/U/1948 tentang Pembagian
Kabupaten di Sumatera Tengah yang terdiri dari 11 Kabupaten diantaranya
disebut dengan nama Kabupaten Samudera dengan ibukotanya Pariaman,
meliputi daerah kewedanaan Air Bangis, Pariaman, Lubuk Alung, Padang
Luar-Kota, Mentawai dan Nagari-Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan. Kabupaten
Samudera ini terdiri dari 17 wilayah (gabungan nagari-nagari).
Kabupaten Padang Pariaman dibentuk dengan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 1956 tanggal 19 Maret 1956 tentang Pembentukan Daerah otonom
Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, dimanana
Propinsi Sumatera tengah dibentuk menjadi 14 Kabupaten, yang salah
19

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


satunya adalah Kabupaten Padang/Pariaman dengan batas-batas sebagai
yang dimaksud dalam pasal 1 dari Surat Ketetapan Gubernur Militer Sumatera
Tengah tanggal 9 Nopember 1949 No. 10/G.M/S.T.G./49, dikurangi dengan
daerah Kampung-Kampung Ulak Karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk
Bajur, Seberang Padang dan Air Manis dari kewedanaan Padang Kota yang
telah dimasukkan kedalam daerah Kota Padang, sebagai dimaksud dalam
Surat ketetapan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Tengah Tanggal
15 Agustus 1950 No. 65/G.P./50 Bupati Padang Pariaman semasa Agresi
Milter Belanda Tahun 1948 adalah Mr. BA. Murad
Sampai akhir tahun 2007 Kabupaten Padang Pariaman memiliki 17
Kecamatan, 46 nagari dan 364 korong. Kecamatan yang paling banyak
memiliki nagari adalah Kecamatan Nan Sabaris dan Kecamatan Enam
Lingkung yang mempunyai 5 (lima) nagari, sedangkan kecamatan yang paling
sedikit memiliki nagari adalah Kecamatan Lubuk Alung dan Kecamatan IV
Koto Aur Malintang yang hanya mempunyai 1 (satu ) nagari. Sampai akhir
tahun 2007, Kecamatan VII Koto Sungai Sarik masih merupakan kecamatan
yang memiliki korong terbanyak, yakni 41 korong, dan yang paling sedikit
adalah kecamatan IV Koto Aur Malintang, yakni 5 korong.

20

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Lokasi pantai Sungai Limau

III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Sungai Limau yang perlu ditangani adalah sepanjang
3,800 m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Sungai Limau ini adalah
abrasi akibat gelombang arus pantai, pada tanggal 17 - 18 mei 2007 terjadi

21

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


abrasi pantai yang cukup parah yang mengakibatkan kerusakan pemukiman pada
sekitar pantai tersebut. Dampak yang di timbulkan juga berpengaruh terhadap
rumah dan fasilitas umum lainnya yang berada di sekitar pantai sungai limau,
antara lain : rumah penduduk sejumlah 100 bh, bangunan sekolah sebanyak 1
buah, Tempat ibadah sebanyak 2 buah, berpengaruh terhadap daerah wisata
dan sarana transportasi berupa jalan pedesaan sejauh 1,000 m.

Abrasi di pantai sungi limau

Persoalan abrasi pantai juga memberikan pengaruh kerusakan terhadap


ekosistem pantai. Yaitu yang terjadi adalah hilangnya mangroove, sand dunes,
dan terumbu karang (degradasi daya dukung lingkungan dan kerusakan biota
pesisir dan laut)
IV.I

Kondisi Topografi
Topografi wilayah Kabupaten Padang Pariaman termasuk iklim tropis

besar yang memiliki musim kering yang sangat pendek dan daerah lautan
sangat dipengaruhi oleh angin laut. Suhu udara terpanas jatuh pada bulan
Mei, sedangkan suhu terendah terdapat pada bulan September.

22

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Dilihat dari topografi wilayah, Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari
wilayah daratan pada daratan Pulau Sumatera dan 6 pulau-pulau kecil,
dengan 40 % daratan rendah yaitu pada bagian barat yang mengarah ke
pantai. Daerah dataran rendah terdapat disebelah barat yang terhampar
sepanjang pantai dengan ketinggian antara 0 10 meter di atas permukaan
laut, serta 60% daerah bagian timur yang merupakan daerah bergelombang
sampai ke Bukit Barisan. Daerah bukit bergelombang terdapat disebelah timur
dengan ketinggian 10 1000 meter di atas permukaan laut.
IV.II Kondisi Iklim
Suhu udara berkisar antara 24,4 C 25,7 C, jadi untuk rata-rata
suhu maksimum 31,08 C dan rata-rata suhu minimum yaitu 21,34 C,
dengan

kelembapan

relatif

86,75 %.

Rata-rata

curah

hujan

secara

keseluruhan untuk Kabupaten Padang Pariaman pada tahun 2007 adalah


sebesar 368,4 mm, dengan rata-rata hari hujan sebanyak 19 hari per bulan
dan kecepatan angin rata-rata yaitu 2.14 knot/jam.

23

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI PASIR BARU

KECAMATAN KOTO TIMUR


PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Lokasi
Pantai Pasir Baru terletak di Kecamatan Koto Timur, Kabupaten Padang

Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.


Secara geografis, Pantai Pasir Baru terletak pada :
0o 33 28,8 LS dan 110o 05 0,95 BT
Batas Ekologi Pantai Pasir Baru adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan Sungai limau

Sebelah Timur

Kecamatan Pariaman Timur

Sebelah Selatan

Selat Mentawai

Sebelah Barat

Selat Mentawai

II.

Gambaran Umum
Pada awalnya Kabupaten Padang Pariaman sesuai dengan Peraturan
Komisaris Pemerintah di Sumatera No 81/Kom/U/1948 tentang Pembagian
Kabupaten di Sumatera Tengah yang terdiri dari 11 Kabupaten diantaranya
disebut dengan nama Kabupaten Samudera dengan ibukotanya Pariaman,
meliputi daerah kewedanaan Air Bangis, Pariaman, Lubuk Alung, Padang LuarKota, Mentawai dan Nagari-Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan. Kabupaten
Samudera ini terdiri dari 17 wilayah (gabungan nagari-nagari).
Kabupaten Padang Pariaman dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 1956 tanggal 19 Maret 1956 tentang Pembentukan Daerah otonom
Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, dimanana
Propinsi Sumatera tengah dibentuk menjadi 14 Kabupaten, yang salah satunya
24

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


adalah Kabupaten Padang/Pariaman dengan batas-batas sebagai yang dimaksud
dalam pasal 1 dari Surat Ketetapan Gubernur Militer Sumatera Tengah tanggal 9
Nopember 1949 No. 10/G.M/S.T.G./49, dikurangi dengan daerah KampungKampung Ulak Karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk Bajur, Seberang
Padang dan Air Manis dari kewedanaan Padang Kota yang telah dimasukkan
kedalam daerah Kota Padang, sebagai dimaksud dalam Surat ketetapan
Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Tengah Tanggal 15 Agustus 1950
No. 65/G.P./50 Bupati Padang Pariaman semasa Agresi Milter Belanda Tahun
1948 adalah Mr. BA. Murad
Sampai akhir tahun 2007 Kabupaten Padang Pariaman memiliki 17
Kecamatan, 46 nagari dan 364 korong. Kecamatan yang paling banyak memiliki
nagari adalah Kecamatan Nan Sabaris dan Kecamatan Enam Lingkung yang
mempunyai 5 (lima) nagari, sedangkan kecamatan yang paling sedikit memiliki
nagari adalah Kecamatan Lubuk Alung dan Kecamatan IV Koto Aur Malintang
yang hanya mempunyai 1 (satu ) nagari. Sampai akhir tahun 2007, Kecamatan
VII Koto Sungai Sarik masih merupakan kecamatan yang memiliki korong
terbanyak, yakni 41 korong, dan yang paling sedikit adalah kecamatan IV Koto
Aur Malintang, yakni 5 korong.
Demikian pula dengan dukungan sarana dan prasarana transportasi darat,
seperti; akses jalan menuju kota Makassar, jarak yang relatif tidak jauh dari
pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, jalan beraspal dan sarana transportasi laut
yang

memadai berupa pelabuhan atau dermaga, Takalar siap menunjang

aktivitas berdagangan dalam taraf internasional.


III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Pasir Baru yang perlu ditangani adalah sepanjang
1,800 m

25

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Lokasi pantai Pasir Baru

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Sungai Pasir Biru ini adalah
abrasi akibat gelombang arus pantai yang mengakibatkan kerusakan pemukiman
pada sekitar pantai tersebut. Dampak yang di timbulkan juga berpengaruh
terhadap rumah dan fasilitas umum lainnya yang berada di sekitar pantai Pasir
Baru, antara lain : rumah penduduk sejumlah 120 bh, bangunan sekolah
sebanyak 2 buah, Tempat ibadah sebanyak 1 buah, prasarana jalan sepanjang 2
km. Juga berpengaruh terhadap daerah wisata.

26

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Abrasi pada pantai Pasir Biru

IV.I

Kondisi Topografi
Topografi wilayah Kabupaten Padang Pariaman termasuk iklim tropis

besar yang memiliki musim kering yang sangat pendek dan daerah lautan
sangat dipengaruhi oleh angin laut. Suhu udara terpanas jatuh pada bulan
Mei, sedangkan suhu terendah terdapat pada bulan September.
Dilihat dari topografi wilayah, Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari
wilayah daratan pada daratan Pulau Sumatera dan 6 pulau-pulau kecil,
dengan 40 % daratan rendah yaitu pada bagian barat yang mengarah ke
pantai. Daerah dataran rendah terdapat disebelah barat yang terhampar
sepanjang pantai dengan ketinggian antara 0 10 meter di atas permukaan
laut, serta 60% daerah bagian timur yang merupakan daerah bergelombang
27

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


sampai ke Bukit Barisan. Daerah bukit bergelombang terdapat disebelah timur
dengan ketinggian 10 1000 meter di atas permukaan laut.
IV.II Kondisi Iklim
Suhu udara berkisar antara 24,4 C 25,7 C, jadi untuk rata-rata
suhu maksimum 31,08 C dan rata-rata suhu minimum yaitu 21,34 C,
dengan

kelembapan

relatif

86,75 %.

Rata-rata

curah

hujan

secara

keseluruhan untuk Kabupaten Padang Pariaman pada tahun 2007 adalah


sebesar 368,4 mm, dengan rata-rata hari hujan sebanyak 19 hari per bulan
dan kecepatan angin rata-rata yaitu 2.14 knot/jam.
V.

Foto Kondisi saat ini

28

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI PARIAMAN

KOTA PARIAMAN
PROVINSI SUMATERA BARAT
I.

Lokasi
Pantai Pariaman terletak di Kota Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Secara geografis, Pantai Pariaman terletak pada :


0o 33 56,16 LS dan 100o 06 44,64 BT
Batas Ekologi Pantai Pariaman adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang


Pariaman

Sebelah Timur

Kecamatan VII Koto Sungai Sarik, Kabupaten padang


Pariaman

Sebelah Selatan

Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang pariaman

Sebelah Barat

Samudera Indonesia

II.

Gambaran Umum
Kota Pariaman merupakan salah satu dari 19 Kabupaten/Kota yang ada di Prov.

Sumatera Barat. Kota Pariaman diresmikan sebagai Kota Otonom dengan


diberlakukannya UU Nomor 12 tahun 2002. Secara geografis terletak pada 0 3300
- 04043 Lintang Selatan dan 10010 33 - 100 1055 Bujur Timur. Kota
Pariaman terbentang pada jalur strategis lintas Sumatera Bahagian Barat yang
menghubungkan Prov. Sumatera Utara dan ibukota Provinsi Sumatera Barat, Kota
Padang.
Berjarak kira-kira 56 kilometer dari Padang, atau kira-kira 1 jam perjalanan
dengan bis dan kira-kira 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Kabupaten
induk adalah Padang Pariaman, maka seluruh wilayah berbatasan dengan
29

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Kabupaten Padang Pariaman. Secara administratif Kota Pariaman memiliki tiga
kecamatan yakni: Kecamatan Pariaman Utara, Pariaman Tengah dan Pariaman
Selatan. Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang terletak di pantai
barat Provinsi Sumatera Barat dengan ketinggian antara 2 sampai dengan 35 meter
diatas permukaan laut dengan luas daratan 73,54 km dan luas lautan 282,69 km
dengan 6 buah pulau-pulau kecil: Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau
Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak. Panjang pantai lebih kurang 12,7 kilometer.
Potensi sumber daya alam di Kota Pariaman cukup banyak. Kota Pariaman
mempunyai daerah perairan laut yang luas. Sumber daya alam laut yang masih
sangat besar untuk dikembangkan antara lain aneka jenis ikan, budidaya kerapu,
ikan hias, rumput laut, udang, kepiting dan mutiara laut. Aneka biota disamping
untuk konsumsi, juga mempunyai potensi sebagai bahan baku industri, terutama
industri farmasi. Penelitian di bidang ini perlu dipacu agar biologi sumber daya laut
yang ada dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Kota Pariaman.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh mitra kerja BAPPEDA Kota
Pariaman pada bulan Agustus sampai September 2005 menunjukkan bahwa potensi
terumbu karang di lepas pantai Kota Pariaman sudah mulai rusak. Kerusakan itu
terjadi di sekitar pulau-pulau kecil yang diakibatkan oleh jangkar kapal yang
berlabuh. Potensi kelautan yang belum dimanfaatkan sama sekali adalah energi
yang dihasilkan oleh ombak dan gelombang laut yang menghempas ke pantai.
Energi kinetik yang dihasilkan oleh ombak dan gelombang laut sebenarnya dapat
dikonversi menjadi energi listrik. Disamping itu pengembangan konservasi juga
harus sudah dimulai. Disamping energi yang dihasilkan oleh ombak dan gelombang
laut, energi tenaga surya juga sebenarnya dapat dimanfaatkan. Rata-rata
penyinaran matahari dalam dalam sehari antara 7 sampai dengan 10 jam. Jika
energi ini dapat dikumpulkan dalam sel-sel penyerap panas matahari, maka dapat
digunakan untuk pembangkit tenaga listrik skala kecil dan menengah.

30

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Lokasi pantai Pariaman

III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Pariaman yang perlu ditangani adalah sepanjang
7,400 m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Salah satu permasalahan yang dihadapi di pantai Sungai Pariaman ini adalah
abrasi akibat gelombang arus pantai, pada tanggal 17 - 18 mei 2007 terjadi
abrasi pantai yang cukup parah yang mengakibatkan kerusakan pemukiman pada
sekitar pantai tersebut. Dampak yang di timbulkan juga berpengaruh terhadap
31

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


rumah dan fasilitas umum lainnya yang berada di sekitar pantai sungai limau,
antara lain : rumah penduduk sejumlah 275 bh, bangunan sekolah sebanyak 4
buah, Tempat ibadah sebanyak 5 buah, berpengaruh terhadap daerah wisata
dan sarana transportasi berupa jalan pedesaan sejauh 2,000 m.

Peristiwa gelombang tinggi di pariaman

IV.I

Kondisi Topografi
Seperti pada umumnya daerah lain yang berada di bagian pantai barat

pulau Sumatera, Kota Pariaman memiliki jenis batuan resen dan tuna vulkan.
Keadaan topografi wilayah, geomorfologi dan bentuk wilayah secara bersamasama membentuk pola aliran sungai. Kota Pariaman dilalui oleh 4 buah sungai
yaitu Batang Manggung yang melalui Kecamatan Pariaman Utara, Batang
Piaman dan Batang Jirak yang melewati Kecamatan Pariaman Tengah dan
Batang Mangau yang melalui Pariaman Selatan.
Kondisi topografi Kota Pariaman dapat dikelompokkan kepada jenis
morfologi dataran dengan ketinggian antara 2 35 meter di atas permukaan

32

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


laut dengan sedikit daerah perbukitan. Luas kemiringan lahan dapat dirinci
sebagai berikut:

Kondisi

Pariaman

Pariaman

Pariaman

Jumlah ( Ha )

Topografi

utara

tengah

selatan

Datar (0-2%)

2479

2313

1994

6786

Bergelombang

64

120

184

366

366

2845

2377

2114

7336

(3-15%)
Curam (1640%)
Sangat Curam
(>40%)
Jumlah (ha)

IV.II Kondisi Iklim


Kota Pariaman merupakan daerah yang beriklim tropis basah yang
sangat dipengaruhi oleh angin barat dan memiliki bulan kering yang sangat
pendek. Curah hujan pertahun mencapai angka sekitar 4.055 mm (tahun
2006) dengan lama hari hujan 198 hari. Suhu rata-rata 25,34C, dengan
kelembaban udara rata-rata 85,25 dan kecepatan angin rata-rata 1,80
km/jam.
Musim kemarau dan musim hujan selalu berubah-ubah menurut waktu.
Iklim yang demikian memungkinkan untuk tumbuhnya berbagai jenis
tanaman, akan tetapi curah hujan dan tingkat kelembaban yang tinggi yang
menimbulkan berbagai permasalahan, misalnya tanaman yang membutuhkan
iklim musim kemarau tidak dapat tumbuh dengan baik, merupakan kendala
bagi penanganan pasca panen komoditas tertentu yang memerlukan cuaca
panas dan cerah selama proses pengeringan, kendala dalam penyimpanan
komoditas, berkurangnya jumlah hari kerja produktif dan pengaruhnya
negatif terhadap sejumlah komoditas. Iklim juga sangat mempengaruhi
besarnya tangkapan ikan bagi nelayan.
33

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

V.

Kondisi saat ini


Berdasarkan kondisi lapangan saat ini dan menurut keterangan dari
para penduduk sekitar adalah sudah adanya bangunan pengamanan pantai
di sekitar pantai Pariaman sampai dengan tahun 2007 yang dibangun
sepanjang 1,500 m dengan besar anggaran Rp. 60,180,000,000. Yang
terdiri dari pemasangan groin dan revetment untuk meminimalisir dampak
yang ditimbulkan oleh arus pantai yang cukup tinggi.

Bangunan pengaman pantai yang telah terbangun

34

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI PADANG (ZONA A)


KOTA PADANG
PROVINSI SUMATERA BARAT

I.

Lokasi
Pantai Padang (zona a) terletak di Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat.

Secara geografis, Pantai Padang (zona a) terletak pada :


0o 55 56,64 - 0o 58 6,24 LS dan
100o 20 47,04 - 100o 21 12,96 BT
Batas Ekologi Pantai Padang (zona a) adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan Padang Utara

Sebelah Timur

Kecamatan Padang Timur

Sebelah Selatan

Kecamatan Padang Selatan

Sebelah Barat

Samudera Indonesia

II.

Gambaran Umum
Kota Padang adalah ibukota Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai

barat pulau Sumatera dan berada antara 0o 44' 00" dan 1o 08' 35" Lintang Selatan
serta antara 100o 05' 05" dan 100o 34' 09" Bujur Timur. Menurut PP No. 17 Tahun
1980, luas Kota Padang adalah 694,96 km2 atau setara dengan 1,65 persen dari
luas Propinsi Sumatera Barat. Kota Padang terdiri dari 11 kecamatan dengan
kecamatan

terluas

adalah

Kota

Tangah

yang

mencapai

232,25

km2.

Dari keseluruhan luas Kota Padang sebagian besar atau 52,52 persen berupa hutan
yang dillindungi oleh pemerintah. Berupa bangunan dan perkarangan seluas 9,01
persen atau 62,63 km2 sedangkan yang digunakan untuk lahan sawah seluas 7,52
persen

atau

52,25

km2.

35

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Selain di daratan pulau Sumatera, Kota Padang memiliki 19 pulau dimana yang
terbesar adalah Pulau Sikuai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km2,
Pulau Toran di kecamatan Padang Selatan seluas 25 km2 dan Pulau Pisang Gadang
seluas

21,12

km2

juga

di

Kecamatan

Padang

Selatan.

Wilayah daratan Kota Padang yang ketinggiannya sangat bervariasi, yaitu antara 01853 m diatas permukaan laut dengan daerah tertinggi adalah Kecamatan Lubuk
Kilangan. Kota Padang memiliki banyak sungai, yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai
kecil, dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km. Tingkat
curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm perbulan dengan rata-rata
hari hujan 17 hari per bulan pada tahun 2003. suhu udaranya cukup tinggi yaitu
antara 230-320 C pada siang hari dan pada malam hari adalah antara 220-280 C.
Kelembabannya berkisar antara 78-81 persen.

Lokasi pantai Padang Seksi A


36

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Padang Zona A yang perlu ditangani adalah sepanjang
4,500 m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Pada segmen ini terjadi setelah Banjir Kanal selesai dibangun. Debit air dan

suplai pasir terbagi dari Bt Arau ke Banjir Kanal, sehingga keseimbangan pantai
terganggu. Variasi garis pantai pada gedung Wisma Pancasila selama periode
tahun 1938 1969 (Gambar 3.1), garis pantai berkurang 67 dan laju erosi
adalah 2,2 m setiap tahun.
Pada tahun 1963 jalan Samudera antara Ujung Pandan dan Olo Ladang
terdapat permukiman nelayan dan kantor pemerintah telah hancur akibat erosi
pantai. Pada tahun 1964 bencana terjadi lagi dan menyebabkan kerusakan yang
lebih besar, dimana jalan Samudera sekitar Koto Marapak dan 10 rumah nelayan
hancur. Pada tahun 1964 dibangun dinding penahan pantai (seawall) darurat
untuk menjaga garis pantai stabil, namun demikian erosi pantai di depan seawall
tetap terjadi. Dikarenakan erosi pada dasar pantai (seabed) di depan dinding
penahan terus menerus berlangsung maka pada tahun 1968 dinding penahan
pantai rubuh. Kemudian pada tahun 1969 dibangun krib pengaman pantai (groin)
yang berfungsi efektif sampai dengan tahun 1983. .

Erosi di pantai padang


37

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


IV.I

Kondisi Topografi
Pada awalnya luas Kota Padang adalah 33 Km2, yang terdiri dari 3

Kecamatan dan 13 buah Kampung, yaitu Kecamatan Padang Barat, Padang


Selatan dan Padang Timur. Dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979
dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980 tanggal 21 Maret 1980
wilayah Kota Padang menjadi 694,96 Km2, yang terdiri dari 11 Kecamatan
dan 193 Kelurahan. Dengan dicanangkannya pelaksanaan otonomi daerah
sejak Tanggal 1 Januari 2001, maka wilayah administratif Kota Padang dibagi
dalam 11 Kecamatan dan 103 Kelurahan.
IV.II Kondisi Iklim
Tingkat curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm
perbulan dengan rata-rata hari hujan 17 hari per bulan pada tahun 2003.
suhu udaranya cukup tinggi yaitu antara 230-320 C pada siang hari dan pada
malam hari adalah antara 220-280 C. Kelembabannya berkisar antara 78-81
persen.

V.

Kondisi saat ini


Berdasarkan kondisi lapangan saat ini dan menurut keterangan dari
para penduduk sekitar adalah sudah terbangun bangunan pengaman pantai
berupa revetment dengan panjang 2,000 m dan groin namun sampai saat
ini masih tetap terjadi erosi di beberapa sisi pantai.

Bangunan revetment dan groin di pantai padang


38

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Photo dokumentasi Kondisi Pantai Saat ini.

39

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

PROFIL PROJECT

PANTAI PADANG (ZONA C)


KOTA PADANG
PROVINSI SUMATERA BARAT

I.

Lokasi
Pantai Padang (zona c) terletak di Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat.

Secara geografis, Pantai Padang (zona a) terletak pada :


0o 51 50,0 - 0o 54 12,96 LS dan
100o 20 47,04 - 100o 21 12,96 BT
Batas Ekologi Pantai Padang (zona c) adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

kecamatan Kubung

Sebelah Timur

Kecamatan Kubung

Sebelah Selatan

Kecamatan Padang Utara

Sebelah Barat

Samudera Indonesia

II.

Gambaran Umum
Kota Padang adalah ibukota Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai

barat pulau Sumatera dan berada antara 0o 44' 00" dan 1o 08' 35" Lintang Selatan
serta antara 100o 05' 05" dan 100o 34' 09" Bujur Timur. Menurut PP No. 17 Tahun
1980, luas Kota Padang adalah 694,96 km2 atau setara dengan 1,65 persen dari
luas Propinsi Sumatera Barat. Kota Padang terdiri dari 11 kecamatan dengan
kecamatan

terluas

adalah

Kota

Tangah

yang

mencapai

232,25

km2.

Dari keseluruhan luas Kota Padang sebagian besar atau 52,52 persen berupa hutan
yang dillindungi oleh pemerintah. Berupa bangunan dan perkarangan seluas 9,01
persen atau 62,63 km2 sedangkan yang digunakan untuk lahan sawah seluas 7,52
persen

atau

52,25

km2.

40

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


Selain di daratan pulau Sumatera, Kota Padang memiliki 19 pulau dimana yang
terbesar adalah Pulau Sikuai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km2,
Pulau Toran di kecamatan Padang Selatan seluas 25 km2 dan Pulau Pisang Gadang
seluas

21,12

km2

juga

di

Kecamatan

Padang

Selatan.

Wilayah daratan Kota Padang yang ketinggiannya sangat bervariasi, yaitu antara 01853 m diatas permukaan laut dengan daerah tertinggi adalah Kecamatan Lubuk
Kilangan. Kota Padang memiliki banyak sungai, yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai
kecil, dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km. Tingkat
curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm perbulan dengan rata-rata
hari hujan 17 hari per bulan pada tahun 2003. suhu udaranya cukup tinggi yaitu
antara 230-320 C pada siang hari dan pada malam hari adalah antara 220-280 C.
Kelembabannya berkisar antara 78-81 persen.

Lokasi pantai Padang Zona C


41

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


III.

Panjang Pantai
Garis pantai pada Pantai Padang Zona C yang perlu ditangani adalah sepanjang
4,000 m

IV.

Latar Belakang Permasalahan


Garis pantai pada segmen ini mengalami kemunduran terutama pada bagian
Selatan dan mengalami penambahan/kemajuan pada bagian Utaranya.

Pada Kampung Air Tawar daerah permukiman baru terbentuk 18 tahun yang
lalu, ini menunjukan adanya penambahan garis pantai sebelum tahun 1983.
Pada Kampung Air Tawar Barat garis pantai terus terjadi kemunduran sejak
tahun 1989. Pada bulan Juni 1991 gelombang menghantam bagian Utara dari
Batang Kuranji dimana sepanjang 750 m garis pantai mengalami kerusakan dan
14 rumah hancur. Pada September 1991 erosi yang cukup serius terjadi pada
segmen pantai ini, dimana 6 (enam) buah rumah runtuh dan kedalaman erosi
pantai 2 m. Tetapi kemudian terjadi deposit pasir dekat mulut Batang Kuranji
pada bulan Januari 1992.
Pada Tahun 1983 Kampung Pasir Parupuk Tabing terjadi penambahan garis
pantai 40 m selama 45 tahun terakhir.
Pada Tahun 2000 s/d 2007 pada Kampung Pasir Parupuk Tabing terjadi Abrasi
Pantai tiap tahunnya sehingga garis pantai berkurang 20 m selama 6 tahun
menimbulkan kerusakan dan kehancuran serta rumah penduduk dan sarana
umum lainnya terancam.

Dampak erosi pantai


42

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai


IV.I

Kondisi Topografi
Pada awalnya luas Kota Padang adalah 33 Km2, yang terdiri dari 3

Kecamatan dan 13 buah Kampung, yaitu Kecamatan Padang Barat, Padang


Selatan dan Padang Timur. Dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979
dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1980 tanggal 21 Maret 1980
wilayah Kota Padang menjadi 694,96 Km2, yang terdiri dari 11 Kecamatan
dan 193 Kelurahan. Dengan dicanangkannya pelaksanaan otonomi daerah
sejak Tanggal 1 Januari 2001, maka wilayah administratif Kota Padang dibagi
dalam 11 Kecamatan dan 103 Kelurahan.
IV.II Kondisi Iklim
Tingkat curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm
perbulan dengan rata-rata hari hujan 17 hari per bulan pada tahun 2003.
suhu udaranya cukup tinggi yaitu antara 230-320 C pada siang hari dan pada
malam hari adalah antara 220-280 C. Kelembabannya berkisar antara 78-81
persen.
V.

Kondisi saat ini


Berdasarkan kondisi lapangan saat ini dan menurut keterangan dari
para penduduk sekitar adalah sedang di bangun pembangunan prasarana
pengaman pantai berupa groin sebagian sisi pantai.
Data pembangunan prasarana pengaman pantai adalah sebagai
berikut :
a. Kontraktor pelaksana

: PT. ASHFRI PUTRALOKA

b. Biaya

: Rp. 8.347.425.000

c. Waktu Pelaksanaan

: 240 hari kalender

Proses pekerjaan T.A 2010

43

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

Photo dokumentasi Kondisi Pantai Saat ini.

44

Subdit Pengamanan Pantai, Direktorat Rawa dan Pantai

45