Anda di halaman 1dari 36

BAB II

ISI

A. Contoh Kasus
Dapatkah anda menggambarkan dan menjelaskan mekanisme perpindahan kalor
yang terjadi pada peristiwa angin laut dan angin darat,serta persamaan-persamaan
konveksi yang terlibat dalam penjelasan mekanisme tersebut ?

Gambar 6. Siklus Angin Darat dan Laut


(Sumber: http://www.thinglink.com/scene/446332007719370752)
Perpindahan kalor konveksi adalah perpindahan kalor pada suatu zat yang
disertai perpindahan partikel-partikel zat. Perpindahan kalor konveksi terjadi pada
fluida cair maupun gas yang mengalami pemanasan.Perpindahan kalor konveksi
dibagi menjadi 2 macam ,yakni konveksi paksa dan konveksi alamiah. Konveksi
paksa merupakan perpindahan panas yang terjadi jika fluida pembawa kalor yang
mengalir mendapat suatu tenaga luar yang mendorongnya. Adapun ,perpindahan
kalor konveksi alamiah adalah perpindahan panas yang terjadi jika fluida
1

pembawa kalor mengalir secara alami dan tidak terdapat tenaga luar yang
mendorongnya. Fluida yang mengalami pemanasan akan memuai yang
mengakibatkan densitasnya menjadi lebih kecil dibandingkan dengan fluida
dingin. Fluida panas dengan densitas lebih tinggi akan bergerak ke atas sedangkan
fluida dingin akan bergerak ke bawah menggantikan posisi fluida panas. Gerakan
fluida pada konveksi alami terjadi karena adanya gaya buoyancy (apung) yang
dialami. Gaya bouyancy adalah gaya angkat yang dialami suatu fluida apabila
densitas fluida di dekat permukaan perpindahan kalor berkurang sebagai akibat
proses pemanasan. Densitas fluida tersebut menurun sebagai akibat dari proses
pemanasan. Gaya apung tersebut tidak akan terjadi jika fluida tidak mengalami
medan gaya dari luar, seperti medan gaya gravitasi dan medan gaya sentrifugal.
Gaya apung yang menyebabkan arus konveksi bebas disebut gaya badan (body
forces).
Ketika suatu permukaan objek panas bersentuhan dengan udara, maka akan
terjadi perpindahan kalor secara konveksi. Suhu di sekitar permukaan akan naik
dan suhu objek akan menurun sehingga trercipta bagian fluida, dalam hal ini
udara, yang lebih panas. Fluida yang lebih panas tersebut mengalami penurunan
densitas dan menyebabkan pergerakan keatas. Pergerakan inilah yang disebut
sebagai arus konveksi alamiah.
Salah satu contoh peristiwa

ini adalah

angin darat dan laut. Berikut

merupakan hasil analisis dari peristiwa angin darat dan angin laut :
Pada peristiwa angin darat dan angin laut, kalor jenis pada daratan

lebih

kecil daripada kalor jenis pada air laut . Akibatnya ketika dipanaskan oleh cahaya
matahari pada siang hari, kenaikan suhu daratan lebih besar daripada kenaikan
suhu air laut. Tentunya hal ini menyebabkan daratan yang telah panas, dapat
memanaskan udara yang berada di atasnya sehingga suhu udara pun meningkat.
Hal ini mengakibatkan massa jenis udara berkurang dan membuat udara tersebut
bergerak ke atas (sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya). Posisi
udara yang bergerak ke atas dapat

digantikan oleh udara yang berada di atas

permukaan laut. Hal ini disebabkan karena massa jenis udara yang berada di atas
permukaan laut lebih besar. Ketika bergerak ke darat, posisi udara tadi digantikan

oleh udara lainnya yang berada tepat di atasnya. Sampai pada ketinggian tertentu,
udara panas yang bergerak ke atas mengalami penurunan suhu. Diketahui bahwa
ketika suhu udara menurun, volume udara juga berkurang. Berkurangnya volume
udara menyebabkan massa jenis udara bertambah. Akibatnya, udara yang sudah
mendingin tadi meluncur ke bawah untuk menggantikan posisi udara yang telah
pergi dari permukaan laut . Proses ini terjadi terus menerus sehingga terbentuk
arus konveksi udara. Inilah yang diketahui oleh para nelayan sebagai angin laut.
Disebut angin laut karena udara yang berada di atas permukaan air laut melakukan
pengungsian massal menuju daratan.
Adapun ketika malam tiba, daratan lebih cepat dingin daripada air laut.
Dengan kata lain, pada malam hari, suhu daratan lebih rendah daripada suhu air
laut. Hal ini karenakan kalor jenis daratan lebih kecil daripada kalor jenis air laut.
Walaupun jumlah kalor yang dilepaskan oleh daratan dan air laut sama, tetapi
karena kalor jenis daratan lebih kecil daripada kalor jenis air laut, maka penurunan
suhu yang dialami oleh daratan lebih besar daripada air laut. Air laut yang
memiliki suhu lebih tinggi menghangatkan udara yang berada di atasnya.
Akibatnya suhu udara yang berada di atas permukaan laut meningkat. Peningkatan
suhu udara menyebabkan massa jenis udara berkurang sehingga udara bergerak ke
atas. Daratan yang memiliki suhu lebih rendah mendinginkan udara yang berada
di atasnya. Akibatnya suhu udara yang berada di atas daratan menurun. Penurunan
suhu udara menyebabkan massa jenis udara bertambah. Hal ini menyebabkan
udara yang berada di atas daratan meluncur ke laut. Sampai pada ketinggian
tertentu, udara yang bergerak ke atas mendingin (suhunya menurun). Penurunan
suhu menyebabkan massa jenis udara bertambah. hal ini menyebabkan udara
tersebut meluncur ke bawah menggantikan posisi udara yang meluncur ke laut
tadi. Proses ini terjadi terus menerus sehingga terbentuk arus konveksi udara. Hal
ini lebih dikenal sebagai angin darat.
Pada kasus ini ,untuk dapat menentukan persamaan konveksi pada peristiwa angin
laut dan angin darat, penulis mengasumsikan bahwa :

Daratan merupakan plat horizontal


Permukaan daratan licin
3

Fluida udara inkromperisibel dan bersifat ideal


Aliran fluida dalam keadaan tunak
Distribusi kalor yang diberikan oleh matahari berlangsung secara konstan
Fluks kalor tetap
Viskositas, konduktivitas termal, dan kalor spesifik tetap

Tahap 1 (Menentukan bilangan Nusselt)


Angka Nusselt untuk mengetahui rasio perpindahan kalor antara konduksi dan
konveksi melalui persamaannya secara umum :
Nu L =

hL
k

Dimana, h = Koefisien perpindahan kalor konveksi


L= Panjang plat
Dalam kasus ini yang dimana ,daratan ditinjau sebagi plat horizontal dengan muka
yang dipanaskan menghadap keatas, maka persamaannya :

Nu L 0,13(GrL Pr)1 / 3
Nu L 0,16(GrL Pr)1 / 3

untuk GrL Pr < 2 108


untuk 2 108 < GrL Pr < 1011

Dimana :
2

Gr L . Pr =

g . . ( T w T ) . L . Pr
2

(Ket : nilai

dan Pr dapat diperoleh

dari tabel A-5 ; J.P Holman)


Dengan mensubtitusikan nilai

Gr L . Pr

kedalam persamaan diatas,maka

didapatkan angka Nu nya.

Tahap 2 (Menentukan nilai koefisen konveksi)


Nu L =

hL
k

h=

Nu L k
L

Tahap 3 (Menentukan perpindahan kalor konveksi alami)


Q = h. A. T
Dimana : h = koefisien konveksi
A = Luas (Area)
T

= Perbedaan suhu

B. Perhitungan
1. Sebuah kolektor sinar matahari

berbentuk plat rata berukuran 1m 3

,terletak miring dengan sudut 20o terhadap horizontal. Permukaan panas


berada pada suhu 160oC dan tekanan 0.1 atm. Sejajar diatas permukaan
panas tersebut,dipasang jendela transparan yang berfungsi melewatkan
energi radiasi matahari.

Jarak antara jendela transparan dengan

permukaan panas adalah 8 cm. Suhu jendela transparan dipertahankan


pada 40oc. Hitunglah perpindahan kalor konveksi alami yang terjadi
antara permukaan panas dengan jendela permukaan .
Jawab :

Gambar 7. Ilustrasi Sistem pada Nomor 1


Asumsi :
1. Terjadi pada ruang tertutup
2. Distribusi suhu dan tekanan pada plat berlangsung merata sehingga suhu dan
tekanan pada plat konstan pada 160oC dan 0.1 atm
3. Distribusi kalor yang diberikan matahari dianggap kontsan dan seragam.
4. Fluidanya merupakan udara yang bersifat gas ideal
5. Permukaan panas menghadap kebawah
6. Perpindahan kalor konveksi alami yang terjadi pada ruang tertutup plat mriring
horizontal
Diketahui:

Ditanyakan : q?

T1 = 1600C
P1 = 0.1 atm
T2 = 400C
Volume plat = 1m3
= 8 cm=0.08 m

= 20o ( terhadap sumbu horizontal)

= 70o ( terhadap sumbu vertikal)

Cara I : Jika sudut yang ditinjau berdasarkan sumbu horizontal ( = 20o )


Tahap I: Mencari dan menghitung data-data yang perlu diketahui untuk
perhitungan pada tahap kedua
Tf =

T 1+T 2 160+40
=
=100 0 C=373 K
2
2

1
1

0.002681
T f 373K
K-1

Dengan menggunakan interpolasi data dari tabel A-5 buku Heat Transfer J.P.
Holman, didapatkan sifat-sifat udara pada 373 K :

k = 0.0317 W/m.k
v = 23.12 x 10-6 m2/s
Pr = 0.69
P
=
=0.0946 kg/m3
RT
=2.172 x 105 kg / m. s

Tahap II : Mensubtitusikan data-data yang telah diketahui dan dihitung kedalam


rumus persamaan dibawah ini :

Gr Pr

g 2 T1 T2 3
Pr
2

9,8 0.002681 (0.0946) 160 40 0,08m

2.172 10^ 5
m

s2

m2

(0,69) 2.11 10^ 4

Tahap III : Menghitung nilai konduktivitas termal efektif


Berdasarkan tabel 1 (tabel 7-3 J.P. Holman), dengan nilai

Gr Pr 2.11 x 104

(berada di rentang 7000 hingga 3.2 x105), didapatkan:

C= 0.212
m= 0
n =1/4

Gr
n
( Pr .cos )
Ke
=C
K

Ke
= ( 0.212 ) (2.11 x 104 . cos 20 )1 / 4
K
Ke
=2.516W /m. K
K

Tahap IV : Menghitung besar perpindahan kalor konveksi alami yang terjadi


antara permukaan panas dengan jendela transparan
K e / K . K ud ( T w T ) A
q=
=

(2.516 ) (0.0317).

W
( 16040 )0 C .(1 m)2
0
m C
=120 W
0.08 m

Cara II : Jika sudut yang ditinjau berdasarkan sumbu vertikal ( = 70o ) ?


Tahap I : Mencari dan menghitung data-data yang perlu diketahui untuk
perhitungan pada tahap kedua

Suhu rujukan Te dan Tm (untuk menetukan

Te = T1-0.25 (T1- T2) = 160OC- 0.25(160-40)oC = 130OC = 403 K


Tm = T2 +0.50 (T1-T2) = 40 OC + 0.50 (160-40)oC = 100 OC= 373 K
Dengan menggunakan interpolasi data dari tabel 2 (tabel A-5 buku Heat Transfer
J.P. Holman), didapatkan sifat-sifat udara pada 403 K :

k = 0.03386 W/m.k
Pr = 0.68864
P
=
=
0.0946 kg/m3
RT

=2.298 x 10

kg/m.s
1
373

Adapun nilai

pada suhu 373 K =

= 0.002681

Tahap II : Mensubtitusikan data-data yang telah diketahui dan dihitung kedalam


rumus persamaan dibawah ini :
g 2 T1 T2 3
Gr Pr
Pr
2

9,8 0.002681 (0.0946) 160 40 0,08m

2.298 10^ 5
m

s2

m2

(0,6884) 18831.57

Tahap III : Menentukan angka Nu


Nu= 0,56 ( Gr Prcos )

1
4

(berlaku untuk <88

dan 105

Gr Prcos <1011 )
1

=0.56 ( 18831.57 cos(70)) 4


Nu = 5.02
Tahap IV : Menetukan nilai koefisien konveksi dan besar perpindahan kalor
konveksi alami yang terjadi antara permukaan panas dengan jendela transparan

Nu L =
q = h. A. T

hL
k

h=

Nu L k
L

( 5.02 ) ( 0.03386)
(0.08)

= 2.12 W/m2.oC

= (2.12 W/m2.oC) (1m2) (160-40) oC = 254.4 W

10

Dari atas ke bawah: Tabel (1) Rumus Empiris untuk Konveksi Alami, Tabel (2) Sifat
Udara pada Tekanan Atmosfer
(Sumber: : J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor edisi 6, Jakarta: Penerbit Erlangga)

2. Sebuah bola berdiameter 2,5 cm berada pada suhu 38 oC, akan


dibenamkan ke dalam suatu wadah yang berisi air dengan suhunya 15oC.
a. Bagaimana anda menjelaskan pengaruh dimensi dan ukuran wadah
tersebut terhadap mekanisme perpindahan kalor yang terjadi pada
sistem di atas?
b. Jika wadah yang digunakan adalah suatu bejana berukuran 8x7x6 cm 3,
bagaimana anda menentukan laju perpindahan kalornya?
c. Apa yang menjadi pertimbangan anda dalam menentukan persamaan
empiris yang akan digunakan untuk menyelesaikan problem di atas?
Jawab:

T=15C
D = 2,5 cm
Tw=38C

Gambar 8. Ilustrasi Sistem pada Soal Nomor 2


Diketahui:
Dbola

: 2,5 cm = 0,025 m

: 0,0123 m

Tw

: 38C = 311 K

: 15C = 288 K

Asumsi yang diberikan:


1. Perpindahan kalor secara radiasi diabaikan.
2. Wadah tertutup rapat.
3. Distribusi suhu antara bola dengan air dalam wadah seragam.
a. Dimensi dan ukuran wadah terhadap mekanisme perpindahan kalor tidak
berpengaruh karena perpindahan kalor tidak terjadi pada bola ke wadah tetapi

dari bola ke air yang berada dalam suatu wadah, sehingga dalam perhitungan
pun dimensi dan ukuran wadah tidak diperhitungkan, yang diperhitungkan
adalah fluidanya.
b. Pertama, kita harus mengevaluasi sifat fluida pada suhu tertentu, suhu
temperatur (film temperature Tf) yang didefinisikan sebagai rata-rata aritmetik
antara suhu dinding dan aliran suhu bebas.
T f=

T w + T 38
+15
=
=26,5
=299,5 K
2
2
=

1
1
1
=
=2,99.103
T f 334,5 K
K

Berdasarkan tabel 3 (Tabel A.9 pada lampiran buku Holman) kita dapat
mengetahui beberapa karakteristik air pada suhu 299,5K dengan cara
menginterpolasi data-data yang ada.

Tabel 3. Sifat Air


(Sumber: : J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor edisi 6, Jakarta: Penerbit
Erlangga)

c p 4,176 kJ

kg

8,6 x10 4 kg m.s


k 0,614W

5,8784

Pr

995,8 kg

1
1

3,339 x10 3
Tf
299,5

g 2 c p

1. Mencari Nilai
Grf Pr f

g 2 c p

m3

1,90 x1010 1

Gr Pr :

d 3 (Tw T ) 1,9 1010 ( 2,5 10 2 ) 3 .(38C 15C ) 6828125

Gr Pr 6,83x10 6
Untuk nilai 3105 < Gr Pr < 8108 (

), maka berlaku rumus

empiris konveksi bebas oleh Amato dan Tien pada bola:


hd
Nu
2 0,5(Gr Pr) 1 / 4
kf
Nu 2 0,5.(6,83x10 6 )1 / 4 27,26

Mencari nilai h

Nu.k f
d

0
27,26.0,614
676,85W 2 C
2
m
2,5 x10

1. Mencari nilai q
q hA(Tw T )
676,85W

C (4 .(1,25 10 2 ) 2 ) 23

30,57W

Jadi, laju perpindahan kalornya adalah sebesar 30,57 W.


c. Pertimbangan dalam menentukan persamaan empiris yang akan digunakan
adalah:

1. Mendefinisikan bentuk geometri dari sistem. Pada kasus ini, bentuk


geometri sistem adalah bola dengan L=D.
2. Menentukan tipe aliran air pada wadah (laminar atau turbulen) dengan
cara menentukan harga GrPr nya.
3. Mencari persamaan yang sesuai dengan bentuk geometri dan jenis
alirannya. Pencarian persamaan ini tentunya dipengaruhi oleh nilai
GrPr -nya.
4. Memilih persamaan empiris yang paling sederhana dan tidak
memerlukan variabel yang cukup banyak dan rumit.
hd
Nu
2 0,5(Gr Pr) 1 / 4
kf
Gr Pr 8,535 10 5
berada pada rentang nilai 3105 < Gr

5. Karena nilai

Pr < 8108. Selain itu, rumus empiris ini dapat berlaku untuk udara dan
zat cair, dimana zat cair dalam soal ini adalah air.
3. Sebuah silinder vertikal dengan tinggi 1,8 m, diameter 7,5 cm, dan suhu
93oC, berada dalam lingkungan dengan suhu 30oC.
a. Hitunglah kalor yang dilepas melalui konveksi alami dari silinder ini.
b. Dapatkah silinder tersebut diperlakukan sebagai sebuah plat rata
vertikal? Berapakah diameter minimum yang harus dimiliki oleh
silinder tersebut agar dapat diasumsikan sebagai sebuah plat rata
vertikal?
c. Jika silinder tidak dapat dianalogikan dengan plat rata vertikal,
bagaimanakah cara anda menyelesaikan permasalahan di atas?
Jawab:

7,5 cm

93C

30C

1,8 m

Gambar 9. Ilustrasi sistem soal nomor 3


Asumsi:
-

Tekanan lingkungan dianggap sama dengan tekanan atmosfer, 1 bar.


Gas di atmosfer dianggap gas ideal.
Suhu silinder adalah suhu di dinding silinder.
Silinder bukan silinder pejal.
Bilangan-bilangan tak berdimensi dievaluasi pada temperatur film, Tf:
Sistem adalah sistem dengan permukaan isotermal.

a) Mencari kalor yang lepas dapat dilakukan dengan berbagai cara. Harga kalor
yang hilang didapatkan dengan terlebih dahulu mencari koefisien konveksi
(h). Sebelum mencari koefisien konveksi (h), data-data yang diperlukan
adalah sebagai berikut:
T f=

T w + T 93+30
=
=61,5o C=334,5 K
2
2

1
1
1
=
=2,99.103
T f 334,5 K
K

Nilai , k , , g , Pr menggunakan tabel 2 sebagai berikut:


=0,27.104 m2 /s

k =0,0288551

W
o
m. C

=19,1883.106

g=9,8

m
s2

Pr=0,7

m2
s

Mencari nilai Gr f Pr

g ( T w T ) L3

9,8

Gr f Pr =

Gr f Pr =

Pr

m
. ( 2,99.103 ) K 1 ( 9330 ) K .(1,8 m)3
2
s
0,7=2,07.1010
2 2
m
(19,1883.106 )
s

Mencari bilangan Nusselt, koefisien konveksi dan nilai kalor hilang


Menggunakan persamaan Bayley yang memenuhi nilai
Gr f Pr >10 9
1

Nuf =0,1 ( Gr f Pr f ) 3
1
10 3

Nuf =0,1 ( 2,07.10 ) =274,57

h=

Nuf k
=
L

247,57 0,0288551

W
o
m. C

1.8

=4.408

W
2
m

Maka, harga kalor yang hilang adalah:


q=h A ( T w T )=h DL ( T w T )

q=4.408

W
2
( 7,5.10 m) ( 1,8 m )( 93
30
)=117,78W
2
m

Menggunakan persamaan Churchill dan Chu untuk


101 <Gr f Pr <1012

1
2

=0,825+
Nu

0,387 Ra

1
6

9 8
16 27

[ ( )]
0,492
1+
Pr

1
10 6

1
2

=0,825+ 0,387 ( 2,07.10 ) =16,981


Nu
8
0,492 169 27
1+
0,7

[ ( )]

=288,37
Nu

h=

kf
Nu
=
L

288,37. 0,0288551

W
o
m. C

1,8 m

=4,623

W
m .C
2 o

Maka, harga kalor yang hilang adalah:


q=4.623

W
( 7,5.102 m) ( 1,8 m )( 93
30
)=123,52W
2
m

Mencari h dengan menggunakan rumus dari tabel 4 (tabel 7.2 pada


buku Perpindahan Kalor oleh J.P. Holman)

Tabel 4. Persamaan sederhana untuk h


(Sumber: : J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor edisi 6, Jakarta: Penerbit
Erlangga)

1
3

h=1,31 ( T ) =1,31 ( T w T )
1
3

) =5,21
h=1,31 ( 93
30

W
2
m

Maka, harga kalor yang hilang adalah:

q=5,21

W
2
( 7,5.10 m ) ( 1,8 m ) ( 93
30
)=132,58 W
2
m

b) Syarat sebuah silinder vertikal dapat dianggap sebagai plat rata vertikal
adalah:
D
35

1
L
Gr L 4

7,5.102 m
=0,042
1,8 m
35
Gr L

1
4

35

1
10 4

=0.085

( 2,924.10 )

D 35
<
1
L
Gr L 4

Asumsi plat silinder tidak berlaku.


Mencari nilai diameter minimum:
D
35
=
1
L
Gr L 4
D min
=
1,8 m

35
1
10 4

( 2,924.10 )

Dmin =0,153 m=15,3 cm


Diameter minimum yang dibutuhkan agar asumsi plat vertikal dapat diambil
adalah 15,3 cm.
c) Karena asumsi plat vertikal tidak bisa diambil, penghitungan harga kalor yang
hilang dapat dilakukan seperti pada bagian (a). Selain, itu harga kalor juga

bisa dihitung dengan menggunakan faktor koreksi (F) yang dikalikan dengan
koefisien konveksi.
Menghitung nilai F dan GrD
1
L 4
D
F=1,3
+1,0
Gr d

[ ]

Gr d=

g ( T w T ) d 3
2
9,8

Gr d=

m
3
1
2 3 3
. ( 2,99.10 ) K ( 9330 )
. ( 7,5.10 ) m
2
s

19,1883.10

2 2

m
s

Gr d=2114811,45
F=1,3[(1,8 m/7,5.102 m)/2114811,45]1/ 4 +1,0=1,0134
Karena nilai F sangat dekat dengan 1, maka faktor koreksi dapat
diabaikan.
4. Suhu pada suatu permukaan dinding vertical 4ft x 10 ft dipertahankan
konstan 530oF sedangkan suhu udara sekeliling 70oF dan tekanan 1 atm.
a. Hitunglah kalor yang hilang dari permukaan dinding secara konveksi
bebas ke udara
b. Jika dinding itu disekat dengan bahan penyekat yang tebalnya 2 inchi
dan daya hantar panasnya (konduktivitas termal) = 0,121
BTU/jam.ft2.oF. Hitunglah kalor yang hilang secara konduksi dan
konveksi bebas bila dianggap suhu pada permukaan penyekat 250oF.
Jawab:
Asumsi:

Tinggi permukaan dinding vertikal (x) = 4 ft.

Lebar permukaan dinding vertikal (y) = 10 ft.

Permukaan dinding tidak rata.

Percepatan gravitasi (g) = 32,2 ft/s2

Dinding terbuat dari bata dengan konduktivitas termal, k 1 =


0,0215Btu/jam ftoF

Suhu pada permukaan luar isolasi = 250oF.

Bagian a
Untuk menghitung kalor yang hilang dari permukaan dinding secara konveksi
bebas ke udara, terdapat langkah-langkah yaitu :

1. Suhu film (Tf)


T f=

T w+ T
2

T f=

530o F+70 o F
=300o F
2

2. Koefisien muai volume ( )

1
Tf

0,0034 /o F
1
=
=
o
300 F

3. Sifat-sifat udara pada temperature 70oF dan tekanan 1 atm


Data sifat-sifat udara diperoleh dari Tabel A-5 buku Heat Transfer10th
Edition karangan J.P Holman halaman 658.

M=

v=

( X 2X )
( X X 1 )
x M 1+
x M2
( X 2 X 1 )
( X 2 X 1 )

( 450422,039 ) K
( 422,039400 ) K
x 25,9 m2 /s+
x 31,71 m2 / s
( 450400 ) K
( 450400 ) K

2
2
v 28,46 1 m / s = 306,354 ft / s

k=

( 450422,039 ) K
( 422,039400 ) K
x 0,03365 W /m+
x 0,03707W /m
( 450400 ) K
( 450400 ) K
4
k = 0,0351W /m = 3,254 x 10 W / ft

Pr=

( 450422,039 ) K
( 422,039400 ) K
x 0,689+
x 0,683
( 450400 ) K
( 450400 ) K

Pr = 0,686
4. Perhitungan Bilangan Rayleigh (Ra)

Ra=Gr Pr=

g ( T w T ) x 3
v2

0,0034 / F

o
( 530 F70
) ( 4 ft )3
( 32,2 ft / s 2 )
Ra=

5. Perhitungan Bilangan Nusselt (Nu)


1/ 2=0,825+
Nu

0,387 ( 0,0337 )

1/ 6

[ 1+ ( 0,492/ 0,686 )9 /16 ]

8 /27

Nu=
1,018

6. Perhitungan Koefisien Perpindahan Kalor Konveksi Bebas Rata-rata

( h )

Nu k
h=
x

4
)
( 0,0337 ) ( 3,254 x 10 W / ft
h=
=2,741 x 106 W /ft 2
4 ft

7. Perhitungan Kalor yang hilang secara konveksi alami dari dinding ke


udara ( q )
q=h A ( T w T )

q= 2,741 x 106

W
( 4 ft x 10 ft ) ( 530
70
)=0 , 0504 W
ft 2

Bagian b
Untuk menghitung kalor yang hilang secara konduksi dan konveksi bebas bila
dianggap suhu pada permukaan penyekat 250oF, terdapat langkah-langkah sebagai
berikut :

1.

Perhitungan Tahanan konduksi (Rkond)


Rkond =

Rkond =

y
( 32 )
k1 A

10 ft
jam
=11,628
Btu
Btu
0,0215
( 4 ft x 10 ft )
jam ft

2. PerhitunganTahanan isolasi (Riso)


t = 2 inchi = 0,167 ft
Riso =

Riso =

t
k2 A

0,167 ft
jam
=2,066
Btu
Btu
0,121
( 4 ft x 0,167 ft )
jam ft

3. Perhitungan Tahanan konveksi (Rkonv)


Rkonv =h A ( 34 )

Rkonv = 2,741 x 106

W
W
jam
( 4 ft x 10 ft )=1,096 x 104
2673,996
2

Btu
ft

4. Perhitungan Kalor yang hilang secara konduksi dan konveksi bebas (q


)

final

q final=

T overall
(35)
R

q final =

T w T
R kond + Riso + R konv

q final=

530
70

( 11,628+2,066+2673,996 )

q final=0 , 171

jam
Btu

Btu
=0 , 0501W
jam

5. Suatu alat pengukur panas dipakai untuk memanaskan sesuatu zat alir
dari suhu 50oF dengan kecepatan W lb/jam yang menyebabkan aliran
turbulen. Alat pengukur panas tsb terdiri atas n buah pipa dengan
diameter D ft dan panjang L ft. Jika kemudian dalam keadaan sama (W
sama) pipa-pipa pada alat pengukur panas tersebut diganti dengan pipapipa berdiameter 0,5 D sedang jumlahnya tetap n pipa, hitunglah berapa

% perubahan panjang pipa untuk mendapatkan pemanasan yang sama.


Dalam hal ini dianggap h = U serta sifat-sifat zat alir tetap.
Asumsi:
i.
Jenis aliran pada penukar kalor D2 adalah turbulen
ii. Aliran turbulen berekspansi penuh

Gambar 10. Skema sistem nomor 5


(Sumber: : J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor edisi 6, Jakarta: Penerbit
Erlangga)

Diketahui :
u1=u2 =W

lb
jam

D1= D ft
D2= 0,5 D ft
Ditanya : % perubahan panjang pipa (x) ?
Jawab :
Untuk menghitung % perubahan panjang pipa (x), terdapat langkahlangkah yaitu:
1. Angka Reynold dari masing-masing pipa

R e1 =

uD

R e2 =

u 0,5 D

1
R e2 = R e1
2
2. Koefisien perpindahan panas konveksi (h)
Asumsi bahwa Pr bernilai sama karena tidak diketahui untuk
pipa
Nu=0,023 R e 0,8 Pr n
n=0,4 untuk fluida yang dipanaskan, maka:

h=0,023

h=0,023

k
Nu
D

k 0,8 0,4
Pr
D

3. Membandingkan kedua nilai h pada masing-masing alat penukar


panas
h1 D2 R e10,8
=
h2 D1 R e20,8
Substitusi nilai D dan Re dari masing-masing alat penukar panas
ke dalam persamaan

R e1

0,8
0,5 D
h1
=
h2
h1
=0,87
h2
4. Perubahan panjang pipa dengan jumlah kalor tetap
q=hA T

Mensubstitusikan ilai A sebagai luas pipa


q=h DL T

L=

q
h DT

Perbandingan nilai L1 dan L2


L1 h2 D 2
=
L2 h1 D 1

Mensubstitusikan nilai dari D1 dan D2


L1 1.0,5 D
=
L2 0,87 D
Maka perbandingan L1 dan L2
L1
=0,57
L2

L2=1,74 L1

Karena D2

L2, Maka besar diameter pipa 2 adalah memiliki

panjang 1,74 L1
Panjang pipa dari kedua alat penukar kalor sudah diketahui, maka
dapat dihitung persentase perubahan panjang pipa yaitu :
Persentase (%)

1,74 L
.x
L

x=74

x menunjukkan besar perubahan D2

6. Dalam sebuah alat penukar kalor aliran silang, digunakan gas panas
(Cp = 1,09 kJ/kg oC) untuk memanaskan 2,5 kg/s air dari suhu 35 oC
hingga 85oC. Gas masuk pada suhu 200 oC dan keluar pada suhu 93 oC.
Koefisien perpindahan kalor menyeluruh sebesar 180 W/m2oC.
Hitunglah luas penukar kalor dengan menggunakan
a) LMTD
b) Metode NTU-efektifitas
Diketahui:
m
c

Laju alir massa air =

Suhu awal Air = Tc1 = 35OC


Suhu akhir Air = Tc2 = 85oC
Suhu awal Gas = Th1 = 200oC
Suhu akhir Gas = Th2 = 93oC
Koefisien Kalor menyeluruh = U = 180 W/m2 oC

= 2,5 kg/s

Ditanya: Luas Penukar Kalor (A) ?


Asumsi:

Digunakan Heat Exchanger Aliran Silang


Kedua fluida ( Air dan Gas) pada Heat Exchanger tidak bercampur

Gambar 11. Heat Exchanger aliran silang tak campur


(Sumber: : J.P. Holman. 1997. Perpindahan Kalor edisi 6, Jakarta: Penerbit
Erlangga)

Metode LMTD
Pada dasarnya, proses transfer kalor pada Heat Exchanger berlaku:
Qditerima = Qdilepas
Dimana, nilai perpindahan kalor yang ditransfer sebesar
q=m
air x c air x T air
q=2,5

kg
J
x 4180 x ( 8535 )O C
s
kg

q=522500

J
O

s. C

Dalam metode LMTD ini q juga dapat diukur dengan persamaan berikut,
dimana dapat dipakai untuk menentukan luas Heat Exchanger
q=U . A . F . T m

Mencari Nilai

Tm

ln[ ( T h 1T c 2) /(T h 2T c1 )]
( T h 1T c 2 )(T h 2T c1 )
T m=

( 20085 )
]
(9335)
( 20085 )(9335)
T m=

ln [

T m=

57
o
=83,2 C
ln 1,98

Mencari nilai F (factor koreksi), dengan menggunakan grafik factor


koreksi untuk Heat Exchanger Aliran Silang sekali lintas, kedua fluida tak
campur.

Untuk mencari nilai F dari grafik, maka harus menghubungkan


korelasinya dengan P dan R :
Tc 2Tc1
8535
P=
=
=0,3
T h 1Tc 1 20035
R=

T h 1T h 2 20093
=
=2,14
Tc 2Tc1
8535

Sehingga didapatkan
F = 0.93
Untuk mencari nilai A, pakai persamaan diatas yaitu
q=U . A . F . T m
A=

q
U . F . Tm

A=

522500
180 x 0,93 x 83,2

A=37 ,5 m2
Metode NTU- Efektivitas
Mencari laju alir massa gas
Qditerima = Qdilepas
m
c c c T c =m
h ch T h

h=
m

m
c cc Tc
ch Th

h=
m

2,5.4180 .( 8535)
1090.(20093)

m
h=4,48

kg
s

Mencari nilai laju kapasitas kalor


Cc m
c c c =2,5 .4180=10450

Ch m
h c h=4,48 .1090=4883,2

Diketahui bahwa
Ch

Ch <C c

, maka gas yang memiliki laju kapasitas

merupakan fluida minimum. Sehingga

C=

C min 4883,2
=
C maks 10450

C=0,467

Nilai efektivitas untuk system ini akibat fluida panas yang merupakan
fluida minimum :
=

T h ot T h 1T h 2
=
T max T h 1T c 1

20093
20035

=0,648
Selanjutnya untuk mencari nilai A, maka digunakan persamaan NTU yang
didapatkan nilainya dengan pendekatan grafik.
NTU max=

Grafik yang digunakan merupakan grafik efektivitas untuk Heat


Exchanger aliran silang pada fluida tak campur.

UA
C min

Dimana nilai NTU max yang didapat dari pendekatan tersebut adalah :
NTU max=1,35
Maka nilai luas Heat Exchanger adalah
NTU max=

A=

A=

UA
C min

NTU max .C min


U
1,35 . 4883,2W /
W
180 2
m
A=36 ,63 m2

7. Sebuah sistem pemanas air menggunakan alat penukar kalor jenis


selongsong-tabung. Uap panas mengalir dalam satu lintasan selongsong
pada suhu 120C, sedangkan air masuk pada suhu 30C dan melakukan
empat lintasan tabung dengan nilai U = 2000 W/m2.C.
a. Hitunglah luas penukar kalor, jika aliran air yang masuk sebesar 2,5
kg/detik dan air keluar pada suhu 100C!
b. Jika setelah beroperasi selama beberapa waktu alat penukar kalor
tersebut mengalami faktor pengotor sebesar 0,0002 m 2.C/W,
berapakah suhu air yang keluar pada kondisi tersebut?
Jawab :
a. Diketahui :
c = 2,5 kg/s
U = 2000 W/m2.C
Tc1 = 30C
cc = 4180 J/kgC
Tc2 = 100C
ch = 2100 J/kgC
Th1 = 120C
Ditanya :A = ?
Jawab :
Asumsi :
Air adalahfluida minimum
Karena air merupakan fluida minimum, maka dapat ditentukan nilai
Cmin

adalah sebagai berikut.

c air )
Cmin = m(
Cmin =2,5 kg /s 4180 J /kg
Cmin =10450

J
=10450 watt
s

T c2T c 1 100 C30 C


=
=0,778
T h1 T c 1 120 C30 C

0,778=1eNTU

NTU

= 0,222

NTU = 1,505
UA
=1,505
C min
2

2000 W /m . C A
=1,505
c cc
m
2000 W /m2 . C A
=1,505
2,5 kg/s 4180 J /kg . C
A=7,86 m2
b. Diketahui : Rf = 0,0002 m2.C/W
Ditanya :Tc2 = ?
Jawab :
1
1
Rf =

U kotor U bersih
0,0002 m2 . C /W =
1
U kotor

1
U kotor

1
2000W /m2 . C

=(0,0002+0,0005)m . C /W

U kotor =1428,57 W /m2 . C


U kotor A 1428,57 W /m 2 . C 7,86 m2
NTU =
=
=1,075
C min
2,5 kg /s 4180 J /kg . C
NTU

=1e

T c 2T c1
=1e1,075
T h 1T c1
T c 230 C
=0,658
120 C30 C
T c2=89,25 C