Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI
Poliomyelitis adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen
pembawa penyakit ini sebuah virus yaitu polio virus (PV), masuk kedalam tubuh melalui
mulut dan menginfeksi saluran usus, virus ini dapat memasuki aliran darah dan masuk ke
sistem saraf pusat yang mengakibatkan terjadinya kelemahan otot dan terkadang
menyebabkan kelumpuhan. Infeksi virus polio terjadi dalam saluran pencernaan yang
menyebar ke kelenjar limfe regional terjadi sebagian kecil penyebaran ke sistem saraf.
Sistem saraf yang diserang adalah saraf motorik otak bagian grey matter dan kadang
kadang menimbulkan kelumpuhan. 1,2,3,4

2.2. EPIDEMIOLOGI
Goar 1955 dalam uraiannya tentang poliomyelitis di negara yang baru
berkembang dengan sanitasi yang buruk berkesimpulan bahwa di daerah- daerah tersebut
epidemi poliomyelitis ditemui 90% pada anak- anak dibawah umur 5 tahun. Ini
disebabkan penduduk telah mendapatkan infeksi atau imunitas pada masa anak,
poliomylitis jarang ditemukan pada orang dewasa.3
Di Indonesia, pemerintah merencanakan tujuan akhir program imunisasi
menjelang tahun 2000 adalah eradikasi polio, eliminasi tetanus neonatorum, dan reduksi
campak. Dengan tidak ditemukannya virus polio liar dalam tinja penderita acute flaccid
paralysis atau lumpuh layu akut melalui survailans AFP pada tahun tahun berikutnya,
badan kesehatan dunia bisa menyatakan Indonesia sudah termasuk negara bebas polio.
Namun bangsa Indonesia dikejutkan dengan kejadian luar biasa di Sukabumi, dengan
ditemukannya virus- virus polio liar sebagai penyebab lumpuh layu akut.3

2.3. ETIOLOGI
Poliomyelitis disebabkan oleh infeksi virus dari genus enterovirus yang dikenal
sebagai poliovirus (PV) virus yang tergolong virus RNA ini biasanya berada di traktus
digestivus. PV hanya menginfeksi dan menyebabkan manifestasi penyakit pada manusia.
Strukturnya sederhana, tersusun oleh satu genom RNA yang terbungkus protein yang
disebut kapsid memungkinkan PV untuk menyerang beberapa jenis sel lain. 5
Ada 3 serotipe yang telah diidentifikasi yakni tipe 1 (PV1, Bruhilde), tipe 2 (PV2,
Lansing) dan tipe 3 (PV3, Leon). Masing masing memiliki protein capsid yang sedikit
berbeda. Ketiganya sangat virulen dan menyebabkan gejala yang sama. Walaupun
demikian PV 1 adalah strain yang paling sering ditemukan, dan yang paling sering
menyebabkan kelumpuhan. Suatu infeksi poliomielitis dapat disebabkan satu atau lebih
tipe tersebut, yang dapat dibuktikan dengan 3 macam zat anti dalam serum penderita.
Epidemi yang luas dan ganas biasanya disebabkan oleh tipe 1 , tipe 3 penyebab epidemi
ringan, sedangkan tipe 2 menyebabkan epidemi sporadic.
Poliomielitis menyebar dari traktus intestinal ke sistem saraf pusat yang
mengakibatkan meningitis aseptic dan poliomielitis. Polivirus cukup kuat dan bisa
bertahan aktif selama beberapa hari dengan suhu kamar, dan bisa tersimpan dalam
bentuk beku -200C. Polivirus menjadi tidak aktif bila terkena panas, formaldehid, klorin
dan sinar ultraviolet. Virus ini juga tumbuh baik diberbagai biakan jaringan dan
mengakibatkan efek sitopatik dengan cepat.
Virus ini dapat hidup dalam air untuk berbulan bulan dan bertahun tahun
dalam deep freeze. Dapat tahan terhadap banyak bahan kimia termaksud sulfonamine,
antibiotik, (streptomisin, penisilin, kloromisetin), eter, fenol, dan gliserin. Virus dapat
dimusnahkan dengan cara pengeringan atau dengan pemberian zat oksidator kuat seperti
peroksida atau kalium permanganate. Reservoir alamiah satu satunya ialah manusia,
walaupun virus juga terdapat pada sampah dan lalat.
Masa inkubasi antara 7 10 hari, tetapi kadang kdang terdapat kasus dengan
inkubasi antara 3 35 hari. 2,4

2.4. PATOFISIOLOGI
3

Kerusakan saraf merupakan ciri khas poliomyelitis, virus berkembang biak


pertama kali di dalam dinding faring atau saluran cerna bagian bawah, virus tahan
terhadap asam lamung, maka mencapai saluran cerna bawah tanpa melalui inaktivasi.
Dari faring setelah bermutasi, menyebar ke jaringan limfe dan pembulu darah. Virus
dapat dideteksi pada nasofaring setelah 24 jam sampai 3-4 minggu.
Dalam keadaan ini timbul : 1. Perkembangan virus 2. Tubuh bereaksi membentuk
antibodi spesifik. bila pembentukan zat anti tubuh mencukupi dan lebih cepat maka virus
dinetralisasi, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau tidak terdapat sama sekali
dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Bila proliferasi virus tersebut lebih cepat
maka akan timbul viremia dan gejala klinis
Infeksi pada susunan saraf pusat terjadi akibat replikasi cepat virus. Virus polio
menempel dan berkembangbiak pada sel usus yang mengandung polioviruses receptor
(PVR) dan telah berkoloni dalam waktu kurang dari 3 jam. Sekali terjadi perlekatan
antara virion dan replikator, pelepasan virion hanya butuh 4 5 jam.
Virus yang bereplikasi secara lokal kemudian menyebar pada monosit dan
kelenjar limfe yang terkait. Perlekatan dan penetrasian dapat dihambat oleh secretory
IgA local. Kejadian neuropati pada poliomyelitis merupakan akibat langsung dari
multivikasi virus di jaringan patognomonik, namun tidak semua saraf yang terkena akan
mati. 1,5
Daerah yang biasanya terkena lesi pada poliomyelitis adalah :
1. Medula spinalis terutama kornu anterior.
2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti inti saraf kranial serta
formation retikularis yang mengandung pusat vital.
3. Serebelum terutama inti inti pada vermis.
4. Midbrain terutama masa kelabu, substansia nigra dan kadang kadang
nukleus rubra.
5. Talamus dan hipotalamus
6. Palidum
7. Korteks serebri, hanya daerah motorik
Gambaran patologik menunjukan adanya reaksi peradangan pada sistem
retikuloendotelial, terutama jaringan limfe, kerusakan terjadi pada sel motor neuron
karena virus ini sangat neurotropik, tetapi tidak menyerang neuroglia, myelin, atau
pembuluh darah besar. Tejadi peradangan pada sekitar sel yang terinfeksi sehingga
kerusakan sel semakin luas. Kerusakan pada sumsum tulang belakang, terutama terjadi
pada anterior horn cell, pada otak kerusakan terutama terjadi pada sel motor neuron
4

formasi retikuler dari pons dan medula, nuclei vestibules, serebellum, sedangkan lesi
pada korteks hanya merusak daerah motor dan premotor saja. Pada jenis bulber, lesi
terutama mengenai medula yang berisi nucles motorik dari saraf otak. Replikasi pada sel
motor neuron di SSP akan menyebabkan kerusakan permanen.
Secara mendasar, kerusakan saraf merupakan ciri khas pada poliomyelitis. Virus
berkembang di dalam dindig faring saluran cerna bagian bawah, menyebar masuk
kedalam aliran darah dan kelenjar getah bening menembus dan berkembang biak di
jaringan saraf. Pada saat viremia pertama terdapat gejala klinik yang tidak spesifik
berupa minor illnes. Invasi virus ke susunan saraf dapat melalui hematogen atau
memalui perjalanan saraf. Tetapi yang lebih sering melalui hematogen. Virus masuk ke
susunan saraf pusat melalui sawar darah otak dengan berbagai cara yaitu :
1. Transport pasif dengan cara piknositosis
2. Infeksi dari endotel kapiler
3. Dengan bantuan sel mononuklear yang mengadakan transmisi ke dalam
susunan saraf pusat
4. Kemungkinan lain melalui saraf perifer, transport melalui akson atau
penyebaran melalui jaras olfaktorius. 1,3,4,5
2.5. GAMBARAN KLINIS
Masa inkubasi penyakit ini berkisar anatara 9 - 12 hari, tetapi kadang-kadang 3 35 hari. Gambaran klinis yang terjadi sangat bervariasi mulai dari yang paling ringan
sampai dengan yang paling berat, yaitu :
1. Infeksi tanpa gejala (asymptomatic, silent, anapparent)
Kejadian infeksi yang asimptomatik ini sulit diketahui, tetapi biasanya cukup
tinggi terutama di daerah-daerah yang standar higine-nya jelek. Pada suatu
epidemi diperkirakan terdapat pada 90-95% penduduk dan menyebabkan
imunitas terhadap penyakit tersebut. Bayi baru lahir mula-mula terlindungi
karena adanya antibodi maternal yang kemudian akan menghilang setelah usia 6
bulan. Penyakit ini hanya diketahui dengan menemukan virus di tinja atau
meningginya titer antibodi.
2. Infeksi abortif
Kejadiannya di perkirakan 4-8% dari jumlah penduduk pada suatu epidemi.
Tidak dijumpai gejala khas Poliomielitis. Timbul mendadak dan berlangsung 1-3
hari dengan gejala "minor illnesss" seperti demam bisa sampai 39.5 0C, malaise,
5

nyeri kepala, sakit tenggorok, anoreksia, filial, muntah, nyeri otot dan perut serta
kadang-kadang diare . Penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit virus
lainnya, hanya dapat diduga bila terjadi epidemi. Diagnosa pasti hanya dengan
menemukan virus pada biakan jaringan. Diagnosa banding adalah influenza atau
infeksi tenggorokan lainnya.
3. Poliomyelitis non paralitik
Penyakit ini terjadi 1 % dari seluruh infeksi. Gejala klinik sama dengan infeksi
abortif yang berlangsung 1-2 hari. Setelah itu suhu menjadi normal, tetapi
kemudian naik kembali (dromedary chart), disertai dengan gejala nyeri kepala,
mual dan muntah lebih berat, dan ditemukan kekakuan pada otot belakang leher,
punggung dan tungkai, dengan tanda Kemig dan Brudzinsky yang positip. Tandatanda lain adalah Tripod yaitu bila anak berusaha duduk dari sikap tidur, maka ia
akan menekuk kedua lututnya keatas, sedangkan kedua lengan menunjang
kebelakang. Head drop yaitu bila tubuh penderita ditegakkan dengan dengan
menarik pada kedua ketiak, akan menyebabkan kepala terjatuh kebelakang.
Refleks tendon biasanya normal. Bila reflek tendon berubah maka kemungkinan
akan terdapat poliomyelitis paralitik. Diagnosis banding adalah meningitis serosa
, meningismus
4. Poliomyelitis paralitik
Gambaran klinis sama dengan poliomyelitis non paralitik disertai dengan
kelemahan satu atau beberapa kumpulan otot skelet atau kranial. Gejala ini bisa
menghilang selama beberapa hari dan kemudian timbul kembali disertai dengan
kelumpuhan (paralitik) yaitu berupa flaccid paralysis yang biasanya unilateral
dan simetris. Yang paling sering terkena adalah tungkai. Keadaan ini bisa disertai
kelumpuhan vesika urinaria , atonia usus dan kadang- kadang ileus paralitik.
Pada keadaan yang berat dapat terjadi kelumpuhan otot pernapasan.
Secara klinis dapat dibedakan atas 4 bentuk sesuai tingginya lesi pada susunan
saraf pusat yaitu :
1. Bentuk spinal
Dengan gejala kelemahan otot leher, perut, punggung, diafgragma,
ekstremitas, dimana yang terbanyak adalah ekstremitas bawah. Tersering yaitu
otot-otot besar, pada tungkai bawah kuadriseps femoris, pada lengan otot
deltoideus. Sifat kelumpuhan ini adalah asimetris. Refleks tendon menurun
sampai menghilang dan tidak ada gangguan sensibilitas.
6

2. Bentuk bulbar
Ditandai dengan kelemahan motorik dari satu atau lebih saraf kranial dengan
atau tanpa gangguan pusat vital seperti pernafasan, sirkulasi dan tempratur
tubuh. Bila kelemahan meliputi syaraf kranial IX, X dan XII maka akan
menyebabkan paralisis faring, lidah, dan laring yang menyebabkan terjadinya
sumbatan jalan napas.
3. Bentuk bulbospinal
Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bulbar.
4. Bentuk ensephalitis
Ditandai dengan kesadaran menurun, tremor, dan kadang-kadang kejang.

2.6. DIAGNOSTIK
Diagnostik polio dibuat berdasarkan :
1. Pemeriksaan virologik dengan cara membiakan virus polio baik yang liar maupun
vaksin. Virus poliomyelitis dapat diisolasi dan dibiakan secara biakan jaringan
dari apusan tenggorokan, darah, likuor serebrospinaslis dan feses.
2. Pengamatan gejala dan perjalanan klinik
Banyak kasus yang menunjukan gejala lumpuh layu yang termaksud Acute
Flaccid Paralysis. Bisa dilihat dari gejala gejala klinis diatas. Cara menegakkan
ialah dengan menambahkan pola neurologik yang khas seperti proksimal,
unilateral, tidak ada gangguan sensori.
3. Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan hantaran saraf dan elektromiografi dapat merujuk secara lebih cepat
kerusakan saraf secara anatomi. Cara ini akan dapat mempermudah mendiagnosis
polio dengan kelainan lain akibat demielinisasi pada saraf tepi, sehingga dapat
membedakan polio dengan kerusakan motor neuron lainnya misalnya sindrom
Guilain Barre. Pemeriksaan lain seperti MRI dapat menunjukkan kerusakkan di
daerah kolumna anterior.
4. Pemeriksaan residual paralisis
Dilakukan 60 hari setelah kelumpuhan, untuk mencari defisit neurologik.5

2.7. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Virus polio dapat diisolasi dan dibiakan dari bahan hapusan tenggorokan pada
minggu pertama penyakit, dan dari tinja sampai beberapa minggu. Berbeda dengan
enterovirus lainnya, virus polio jarang dapat diisolasi dari cairan serebrospinal. Bila
pemeriksaan isolasi virus tidak mungkin dapat dilakukan, maka dipakai pemeriksaan
serologi berupa tes netralisasi dengan memakai serum pada fase akut dan konvalesen.
Dikatakan positif bila ada kenaikan titer 4 kali atau lebih. Tes netralisasi sangat spesifik
dan bermanfaat untuk meneggakan diagnosa poliomielitis. Selain itu bisa juga dilakukan
pemeriksaan CF (Complement Fixation), tetapi ditemukan reaksi silang diantara ketiga
tipe virus ini.
Pemeriksaan likuor serebrospinal akan menunjukkan pleositosis biasanya kurang
dari 500/mm3. Pada permulaan lebih banyak polimorfonukleus dari limfosit, tetapi
kemudian segera berubah menjadi limfosit yang lebih dominan. 10-14 hari jumlah sel
akan normal kembali. Pada stadium awal kadar protein normal, kemudian pada minggu
kedua dapat naik sampai 100 mg%, dengan jumlah sel menurun sehingga disebut
dissociation cytoalbuminique dan kembali mencapai normal dalam 4 6 minggu.
Glukosa normal. Pada pemeriksaan darah tepi dalam batas normal dan pada urin terlihat
gambaran yang bervariasi dan bisa ditemukan albuminuria ringan.

2.8. TERAPI DAN PENGOBATAN


Tidak ada obat untuk polio, hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Vaksin polio,
diberikan beberapa kali, hampir selalu melindungi anak-anak seumur hidup. Imunisas
lengkap mengurangi resiko terkena polio paralitik. Tidak ada antivirus yang efektif
melawan poliovirus. Terapi utamanya adalah suportif.2
Pada infeksi abortif, istirahat sampai beberapa hari setelah tempratur normal. Bila
perlu dapat diberikan analgetik, sedatif. Jangan melakukan aktifitas selama 2 minggu.
Dua bulan kemudian dilakukan pemeriksaan neuro muskuloskeletal untuk mengetahui
adanya kelainan.
Pada non paralitik, sama dengan tipe abortif pemberian analgetik sampai efektif
bila diberikan bersamaan dengan pembalut hangat selama 15 30 menit setiap 2 4 jam
dan kadang-kadang mandi air panas dapat membantu. Sebaiknya diberikan papan
8

penahan pada telapak kaki, agar kaki terletak pada sudut yang sesuai dengan tungkai.
Fisioterapi dilakukan 3-4 hari setelah demam hilang. Fisioterapi bukan mencegah atrofi
otot yang timbul sebagai akibat denervasi sel kornu anterior, tetapi dapat mengurangi
deformitas yang terjadi.
Paralitik, harus dirawat di Rumah Sakit karena sewaktu-waktu dapat terjadi
paralisis pernafasan, dan untuk ini harus diberikan pernafasan mekanis. Bila rasa sakit
telah hilang dapat dilakukan fisioterapi pasif dengan menggerakkan kaki dan tangan, jika
terjadi paralisis kandung kemih maka diberikan stimulan parasimpatik seperti
bethanechol oral 5-10 mg atau subkutan 2,5-5 mg.
2.9. PROGNOSIS
Hasil akhir dari penyakit ini tergantung bentukya dan letak lesinya. Jika tidak
mencapai korda spinalis dan otak, maka kesembuhan total sangat mungkin. Keterlibatan
otak dan korda spinalis bisa berakibat pada paralysis atau kematian (biasanya dari
kesulitan bernafas). Secara umum polio lebih sering mengakibatkan disabilitas daripada
kematian.
Pasien dengan polio abortif bisa sembuh sepenuhnya. Pada pasien dengan polio
non paralitik atau aseptic meningtis, gejala bisa menetap selama 2 10 hari, kemudian
sembuh total.
Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian yang terkena. Pada kasus polio
spinal, sel saraf yang terinfeksi akan hancur sepenuhnya, paralysis akan permanent. Sel
yang tidak hancur tapi kehilangan fungsi sementara akan kembali setelah 4 6 minggu
setelah onset. 50% dari penderita polio spinal sembuh total, 25% dengan disabititas
ringan, 25% dengan disabilitas berat. Perbedaan residual paralysis ini tergantung derajat
viremia, dan imunitas pasien. Bentuk spinal dengan paralysis pernafasan dapat ditolong
dengan bantuan pernapasan mekanik. Tanpa bantuan ventilasi, kasus yang melibatkan
sistem pernapasan, menyebabkan kesulitan bernapas atau pneumoni aspirasi, 5 10%
pasien dengan polio paralysis meninggal akibat paralysisis otot pernafasan. Angka
kematian bervariasi tergantung usia 2-5% pada anak anak, dan hingga 15-30% pada
dewasa.5
Tipe bulbar prognosisnya buruk, kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat
pernafasan atau infeksi sekunder jalan napas. Polio bulbar sering mengakibatkan
kematian bila alat bantu napas tidak tersedia, dengan alat bantu napas angka kematian
9

berkisar antara 25 50%. Bila ventilator tekanan positif tersedia angka kematian dapat
diturunkan hingga 15%. Otot otot yang lumpuh dan tidak pulih kembali menunjukkan
paralysis tipe flasid dengan atonia, arefleksia, dan degenerasi.5
Komplikasi residual paralysis tersebut ialah kontraktur terutama sendi, subloksasi
otot yang terkena sekitar sendi, perubahan tropik oleh sirkulasi yang kurang sempurna
hingga mudah terjadi ulserasi. Pada keadaan ini diberikan pengobatan secara ortopedik.5
2.10.POST POLIO SYNDROM
Sekitar 25% individual yang pernah mengalami polio paralitik mendapatkan
gejala tambahan beberapa dekade setelah sembuh dari infeksi akut, merupakan bentuk
manifestasi lambat (15-40 tahun) sejak infeksi akut. Gejala utamanya kelemahan otot,
kelemahan yang ekstrem, paralysis rekuren atau paralysis baru, nyeri otot yang luar
biasa. Kondisi ini disebut post polio syndrome (PPS). Gejala PPS diduga akibat
kegagalan pembentukan oversized motor unit pada tahap penyembuhan dari fase
paralitiknya.

Walau

demikian

patogenesisnya

belum

diketahui.

Faktor

yang

meningkatkan resiko PPS antara lain jangka waktu sejak infeksi akutnya, kerusakan
residual permanent setelah penyembuhan dari fase akut, dan kerja neuron yang
berlebihan.3,4
2.11.PENCEGAHAN POLIO
Beberapa cara pencegahan penyakit polio yang harus dilakukan adalah :
1. Peningkatan higiene
Karena penyakit polio ditularkan per oral melalui makanan dan minuman yang
tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung virus, maka higiene makanan/
minuman sangat penting.
2. Imunisasi Polio
Imunisasi polio yaitu proses pembentukan kekebalan terhadap penyakit polio dengan
mempergunakan vaksin polio oral (OPV) maupun injeksi (IPV). OVP sangat
bermanfaat pada saat KLB, karena selain menimbulkan kekebalan humoral dan lokal
pada usus resipen juga mempunyai community effect yaitu virus vaksin yang
berbiak di usus akan ikut menyebar ke anak sekitarnya, sehingga jangkauan
imunisasi makin meluas. Selain itu virus vaksin yang berbiak akan menutup PVR
(Polio Virus Receptor) di usus selama 100 hari, sehingga virus polio liar tidak dapat
menempel dan menimbulkan infeksi. Rekomendasi WHO semua anak harus
10

mendapatkan imunisasi pada saat baru lahir, enam minggu, 10 minggu dan 14
minggu. 2

11