Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika Statistik (Hukum Distribusi Statistik) digunakan dalam
mengungkapkan informasi tentang kumpulan benda banyak melalui lukisan
makro dan lukisan mikro.Anggapan yang digunakan adalah untuk system
yang ada dalam keadaan steimbang,hasil pengamatan akan banyak ditentukan
konfigurasi keadaan makro yangmencerminkan ragam lukisan mikro paling
banyak atau konfigurasi dengan peluangyang terbesar.
Lukisan mikro memberi informasi secara tepat staus (keadan fisis )dari
masing-masing partikel penyusun sistem. (Namun hal itu sulit didapat karena
jumlahpartikel banyak sekali)
Lukisan makro memberi informasi yang kurang terperinci tetapi dapat
melukiskan karakteristik kumpulan partikel penyusun system
Dalam Fisika Statistik dikenal 3 Hukum distribusi Statistika.
1. Hukum Distribusi Statistik Maxwell-Boltzmann (M-B)
2. Hukum Distribusi Statistik Bose-Einstein (B-E)
3. Hukum Distribusi Statistik Fermi -Dirac (F-D)
Fungsi distribusi bagi sistem partikel tidak terbedakan dalam ranah fisika
kuantum berbeda dari yang dalam ranah fisika klasik. Mengingat system
kuantum berprilaku tidak lazim, fungsi distribusi bagi system partikel yang
mematuhi asas larangan Pauli (electron, misalnya) haruslah kita bedakan dari
system partikel yang tidak mematuhi asas ini.
Kita sudah kenal sistem elektron (fermion) yang memenuhi prinsip
eksklusi Pauli. Untuk sistem ini, fungsi keadaan yang menggambarkan sistem
partikel bersifat anti-simetrik terhadap pertukaran elektron. Ada sistem yang
mengandung partikel-partikel yang tak memenuhi prinsip eksklusi Pauli.
Artinya, jumlah partikel pada suatu keadaan kuantum tidak terbatas sehingga
fungsi keadaan yang menggambarkan sistem partikel adalah simetrik terhadap
pertukaran partikel. Partikel-partikel ini disebut boson.
Penamaan statistik Bose-Einstein berhubungan dengan kenyataan bahwa
partikel yang ditinjau adalah partikel boson, yaitu yang memiliki momen
magnetik intrisik (spin) bulat. Partikel tidak diatur oleh larangan
Pauli sehingga dapat berada pada tingkat energi yang sama dengan yang
lainnya. Partikel yang mengikuti prinsip larangan Pauli disebut fermion dan

hanya boleh berada pada bilik yang sama maximum dua, dan statistiknya
disebut statitistik Fermi-Dirac.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun membuat beberapa rumusan
masalah yang berkaitan dengan judul yang akan kami bahas, diantaranya :
1. Bagaimana ciri-ciri fungsi distribusi statistik Bose-Einstein?
2. Bagaimana penurunan persamaan peluang probabilitas?
3. Bagaimana penurunan persamaan entropi?
4. Bagaimana penurunan persamaan fungsi partisi statistik Bose-Einstein?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut ;
1. Untuk memahami ciri-ciri fungsi distribusi statistik Bose-Einstein
2. Untuk memahami penurunan persamaan peluang probabilitas.
3. Untuk memahami penurunan persamaan entropi
4. Untuk memahami penurunan persamaan fungsi partisi statistik Bose-Einstein

BAB II
PEMBAHASAN
A. Ciri-Ciri Fungsi Distribusi Statistik Bose-Einstein

1.
2.
3.
4.

Syarat berlakunya hukum distribusi Bose-Einstein adalah sebagai berikut:


Berlaku untuk partikel-partikel Boson, yaitu semua partikel yang memiliki
fungsi gelombang simetrik: foton, fonon, 4He dan lain-lain
Partikel identik tidak dapat dibedakan.
Statistik kuantum, artinya hukum-hukum kuantum berlaku pada statistika
tersebut.
Tidak berlaku Asas Pauli (tidak ada pembatasan jumlah partikel yang dapat
menempati suatu status)(1).

Partikel-partikel yang tidak mematuhi asas larangan pauli adalah yang


memiliki spin bulat (0,1,2,,) yang secara kolektif disebut Boson. Fungsi
distribusi bagi system boson disebut distribusi Bose-Einstein. Bentuknya
adalah sebagai berikut:
f BE ( E)=

gi

Ei

e e 1

karena..

f BE ( E)=

1
kT

, maka

Ae

i
E / kT

Untuk distribusi Bose-Einstein, bagi sebagian kasus yang menarik perhatian:


1) A tidak bergantung pada T atau ketergantungannya pada T adalah
e E / kT
sedemikian lemahnya sehingga suku eksponensial
yang
dominan.
2) Pada suhu rendah, pada limit T rendah, dengan menganggap sementara
A=1 , faktor eksponensial menjadi besar untuk E yang besar; karena
itu,

f BE 0

untuk keadaan dengan energy yang besar.

3) Satu-satunya tingkat energy yang memiliki peluang beasar untuk


E 0 ; karena factor
ditempati adalah keadaan yang memiliki
f
eksponensial menghampiri 1, sehingga penyebut
menjadi sangat
kecil, dengan demikian

f BE

. Jadi, bila T kecil, semua partikel

dalam system berebut menempati keadaan energy yang terendah. Efek


ini dikenal sebagai pengembunan (condensation)(2).
(1)
Dikutip dari https://www.academia.edu/9502827/
2.0

fBE(E)
1.0

E
Gambar 1 : Fungsi Distribusi Bose-Einstein
sebagai fungsi dari energy E.
4) Untuk nilai E yang besar, fungsi distribusi Bose-Einstein menuju nol
5) Apabila E kT probabilitas populasi menjadi sangat kecil sekali,
f
pada distribusi Bose-Einstein, BE , menuju tak berhingga bila
E 0 ; ini yang disebut efek pengembunan, dalam mana semua
partikel boson berebut menempati keadaan kuantum terendah(2).

B. Penurunan Persamaan Peluang Probabilitas


Dasar pembeda antara statistika Maxwell-Boltzmann dan statistika BoseEinstein ialah yang terdahulu mengatur partikel identik yang dapat dibedakan
dengan suatu cara tertentu, sedangkan yang mengatur partikel identik yang
tidak dapat dibedakan, walaupun partikel itu dapat dicacah. Dalam statistika
Bose-Einstein, semua keadaan kuantum dianggap berpeluang sama untuk di
partikel
pembatas.

Gambar 2

(5)

n506-508
2010. Fisika
Statistik. Jakarta:
Prenada
Media. Halaman
i =20
Banyaknya
partikel
tak terbedakan
Banyaknya pembatas
Banyaknya sel
Sehingga

gi

g i1=11

gi=12

menyatakan banyaknya keadaan yang memiliki energi sama E i

Setiap keadaan kuantum bersesuain dengan satu sel dalam ruang fase, dan langkah
kita yang pertama ialah menentukan banyaknya cara n i partikel tak terbedakan
dapat terdistribusikan dalam sel

gi

.
gi

Untuk mencarinya, kita anggap deretan ni +


diletakkan pada gambar 2. Kita perhatikan bahwa
sebagai pembatas yang memisahkan selang

gi

gi

1 benda dapat dianggap

. sedangkan seluruh deretan

mengambarkan ni partikel yang diatur dalam sel


gi=12

- 1 benda yang

gi

. Dalam gambar itu

dan ni = 20; 11 pembatas memisahkan 20 partikel menjadi 12 sel.

Sel pertama berisi dua partikel, yang kedua tidak ada, yang ketiga satu
partikel, yang keempat tiga partikel, dan seterusnya. Terdapat (ni +
Permutasi ni partikel diantara mereka dan (

gi

-1)! Permutasi dari

gi

- 1)!

gi

- 1

pembatas yang tidak mempengaruhi distribusi dan tak relevan. Jadi terdapat

i+
g i1 )!
(
ni !(gi 1) !

Pengaturan yang berbeda mungkin dari ni partikel tak terbedakan diantara sel

gi

Banyaknya cara W supaya N partikel dapat didistribusikan ialah perkalian

n
( i+ g i1 )!
ni !(gi 1) !
W =
persamaan 1
Dari banyaknya pengaturan yang berbeda dari partikel diantara keadaan yang
memiliki energi tertentu. kita anggap
ni + gi 1

Sehingga

ni + gi1

dapat diganti dengan

ni + gi

, dan dianggap mengambil

logaritma natural dari persamaan 1 maka didapatkan


(gi 1)!
ln ( ni + gi ) !ln ni !ln

lnW =

Rumus Strilling

ln n !=n . ln nn memperbolehkan kita untuk menulis

ln W sebagai berikut:

( gi1 ) !gi
( ni + gi ) ln ( n i+g i )ni ln ni ln

ln W =
persamaan 2
Persyaratan supaya distribusi ini berpeluang terbesar ialah perubahan kecil
dalam setiap
ln W

yaitu

ni

ni

individual tidak mempengaruhi harga W. Jika perubahan

lnW

terjadi ketika

ni

berubah dengan

ni

persyaratan

tersebut dapat ditulis sebagai berikut :


lnW max=0
Jadi, jika W dari persamaan 2 menyatakan maksimum maka:
ln ( ni + gi ) ln ni

ln W max =
Disini kita telah membahas fakta
1
lnn= n
n
persamaan 3
Seperti sebelumnya kita memasukkan kekekalan jumlah partikel dengan menyatakan
dalam bentuk

ni=0
Dan kekekalan energi, dalam bentuk

Ei ni=0
Dengan mengalikan persamaan yang terdahulu dengan
dan menambahkannya pada persamaan

dan yang kemudian

ln ( ni + gi ) ln ni

ln W max =
lalu didapatkan
ni Ei
ln ( ni + gi ) ln

Karena secara efektif

ni

bebas, , maka kuantitas dalam tanda kurung harus

nol untuk setiap harga i, jadi:


ln

( ni + gi )
ni

Ei=0

g
1+ i =e e
ni
dan
ni=

Karena

gi
e e Ei 1

1
kT

e =A
ni=banyaknya partikel yang tak terbedakan

f BE ( E)=

, maka(3)

gi
A e E / kT 1

C. Penurunan Persamaan Entropi


Hukum termodinamika kedua adalah: proses-proses yang paling mungkin
bisa berlangsung dalam suatu sistem terisolasi adalah proses-proses di mana
entropi bisa meningkat ataupun tetap.
Contoh proses yang selalu mengambil satu arah (irreversibel) adalah
fenomena transport seperti difusi molekuler dan penghantaran kalor. Dalam
kedua kasus itu entropi sistem meningkat.
Difusi berlangsung dalam arah di mana konsentrasi cenderung disamakan
untuk menghasilkan sistem yang homogen. Proses sebaliknya, perubahan
(3)
Dikutip dari Chapter II(1).pdf :
spontan dari suatu sistem homogen menjadi tidak-homogen yang berkaitan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20010/4/Chapter
dengan penurunan entropi tak pernah teramati.
Jika sistem, meskipun terisolasi, tidak dalam kesetimbangan maka dapat
diasumsikan bahwa sistem itu ada dalam suatu partisi (distribusi) yang
peluangnya lebih rendah dari pada dalam kesetimbangan.
Namun, karena interaksi antara molekul-molekul, maka sistem tidak
setimbang itu akan menuju keadaan setimbang dengan distribusi yang paling
mungkin. Dalam keadaan itu harga P atau ln P tidak bisa meningkat lagi
(maksimum).
Proses suatu sistem dari keadaan tidak-setimbang menuju keadaan
setimbang (distribusi yang paling mungkin) berkaitan dengan entropi sistem
(S):
S=k ln P
k adalah konstanta Boltzmann. k=1,3805x10-23 J/K;
Entropi suatu sistem berbanding lurus dengan logaritma peluang P dari
partisi yang berkaitan dengan keadaan system itu. Jika sistem terisolasi
mencapai keadaan setimbang statistik, P maksimum, maka S maksimum.
Proses-proses yang bisa terjadi adalah proses-proses dengan dS=0. Prosesproses ini jelas merupakan proses-proses reversibel, karena sistem terisolasi
itu dalam keadaan setimbang. Jika suatu sistem terisolasi tidak dalam
kesetimbangan, maka secara alami sistem itu akan berkembang dalam arah di
mana entropinya meningkat, karena sistem itu harus menuju keadaan
setimbang statistik (P maksimum): dS>0. Proses ini disebut irreversible.
1. Entropi dalam Keadaan Setimbang Statistik

ln P=N ni ln
i

P= kN k ni ln
i

ni
gi

N= ni
i

ni
gi

S=k ln

Dalam keadaan setimbang statistik


N
ni= gi eE /kT
Z
i

ni
gi

E
N
i
Z
kT
ln

( )

Jadi,
S=k

[ ( )
i

S=

ni

Ei
+
kT

n i ln ( Z /N )+ N

[ () ]

1
Z
ni Ei +k N ln
+N

T i
N

S=

U
Z
+kN ln +1
T
N

Mengingat ln(n!)=n ln nn , maka,


N

S=

U
Z
+k ln
T
N!

10

2. Entropi Gas Ideal dalam Kesetimbangan Statistik


Untuk gas ideal, energi dalam:
U=3 /2kNT
Dan fungsi partisinya,
3

V (2 mkT ) 2
Z=
h3

Dari persamaan sebelumnya


S=

U
Z
+kN ln +1
T
N

V (2 mkT )
5
S= kN +kN ln
2
h3 N

3
2

V T2
S=kN ln
+S o
N

Persamaan S seperti di atas disebut persamaan Sackur-Tetrode


.
3

( 2 mk) 2
5
S o= kN +kN ln
konstanta
2
h3

D. Penurunan Persamaan Fungsi Partisi Statistik Bose-Einstein


Bose-Einstein merupakan sistem yang mengandung partikel-partikel yang
tak memenuhi prinsip eksklusi Pauli. Artinya, jumlah partikel pada suatu keadaan
kuantum tidak terbatas sehingga fungsi keadaan yang menggambarkan sistem
partikel adalah simetrik terhadap pertukaran partikel. Partikel-partikel ini disebut
boson. Contoh: semua partikel dengan spin bulat seperti foton (s=0) dan inti
helium (s=1).

11

Sama halnya dengan fermion, partikel-partikel boson itu identik dan tak
gi
dapat dibedakan. Peluang menempati tingkat energi Ei adalah
yakni derajat
degenerasinya. Untuk menentukan partisinya, mula-mula harus dievaluasi jumlah
gi
susunan tak terbedakan dari ni buah partikel dalam
buah keadaan dengan
tingkat energi Ei, yang menghasilkan fungsi-fungsi gelombang simetrik.
ni
Tempatkanlah
buah partikel boson dalam satu baris dan
gi

didistribusikan dalam

buah keadaan kuantum. Susunan yang mungkin

sebagai berikut:

ni =3, gi =2

ni =4, gi =2
menghasilkan 5 cara

ni =4, gi =3 menghasilkan 15
cara terbedakan

12

Rumus umum untuk

ni

dan

gi

g i( ni + gi1)!
ni ! g i !

Total jumlah cara yang tak terbedakan dari pembentukan partisi n1, n2, n3, ..
masing-masing pada tingkat energi E1, E2, E3,adalah
g
n
( i+ gi1 )!
ni !( g i1)!
n1 ! ( g11 ) ! n2 !( 21)! n3 !( g3 1) ! =
I

( n + g 1) !( n2 +g 21)! (n3 + g31) !


P= 1 1

Untuk memperoleh partisi dengan kemungkinan paling besar maka terlebih


dahulu
n
( i+ g i1 )!

ln
ln P=
i

Dengan rumus Stirling, ln x ! =

x ln xx

13

n
n
n
n

i+
g
1
(
)ni ln ni +ni ( gi1 ) ln ( gi 1 ) +( gi 1)
i
( i+ gi 1)ln( i+ gi1 )
( i+ g i1 )ln

ln P=
i

n
n
n
( i+ g i1 )ln ( i+ g i1 )ni ln ni( g i1 ) ln (gi 1)
( i+ gi1 ) ln

ln P=
i

Agar maksimum,
n
[ln( i+ g i1)+ ln ni ]d n i=0
d ln P=
i

Dengan menerapkan syarat

n i=N d ni =0
i

n i Ei =U Ei d ni=0
i

14

n
( i+ g i1 )+ ln ni + + Ei=0
ln

ln

ni
n
E i i =e E
ni +g i
ni + gi

Dimana

ni =

1
kT
g

e e

i
Ei/ kT

1
hukum distribusi Bose-Einstein(4)

BAB III
PENUTUP

Dikutip dari Termostatistik.pdf : http://phys.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/03/Termostatistik.pdf


A. Kesimpulan
(4)

Berdasarkan materi yang telah kami uraikan dalam pembahasan,


kami dapat disimpulkan , yaitu :
1. Fungsi distribusi Bose-Einstein berlaku untuk partikel-partikel Boson,
yang dimana partikelnya identik tidak dapat dibedakan, menggunakan
system statistik kuantum, serta tidak berlaku Asas Pauli (tidak ada
pembatasan jumlah partikel yang dapat menempati suatu status).
2. Hukum distribusi Bose-Einstein:

15

f BE ( E)=

gi
Ae E / kT 1

B. Kritik dan Saran


Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa kendala seperti
sumber atau referensi khususnya dari buku sulit didapat. Oleh karena itu,
kami berharap kritik dan saran dari pembaca, agar menyempurnakan
makalah yang kami buat.

DAFTAR PUSTAKA

.
Anonim. Termostatistik. Diakses melalui http://phys.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/03/Termostatistik.pdf . Tanggal 4 Maret 2015 Pukul
15.20 WIB
Anonim. fstat_07_statistika_kuantum.pdf. Diakses melalui
http://hikam.freevar.com/kuliah/fistat/pdf_bab/fstat_07_statistika_kuantu
m.pdf .Tanggal 4 Maret 2015 Pukul 16.00

16

Anonim. Chapter II(1).pdf . Diakses melalui


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20010/4/Chapter%20II.pd
f . Tanggal 4 Maret 2015 Pukul 16.10 WIB

17