Anda di halaman 1dari 22

UTS

Untuk Memenuhi UTS Matakuliah Manajemen Perpajakan


Dosen Pengampu : Hendi Subandi, SE., MA

Disusun oleh :
Anisa Ayu Kharismasari

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
2015

1. Maksud dari konsep TAXABLE-DEDUCTIBLE; NON TAXABLE NON


DEDUCTUBLE dengan kaitannya dengan UU PPh pasal 4,6,9 adalah
Secara umum dikenal konsep Taxable Deductible atau Non Taxable Non
Deductible. Taxable biasanya ditujukan untuk pengenaan pajak atas penghasilan yang
diperoleh orang atau badan tanpa melihat dari mana penghasilan tersebut diperoleh (sumber
penghasilan). Deductible adalah biaya yang diakui oleh pajak, biasanya ditujukan kepada
beban atau biaya yang menurut ketentuan menjadi pengurang penghasilan bruto sebagai
mana diatur dalam Pasal 6 Undang-undang Pajak Penghasilan (PPH). Pada umumnya jika
suatu biya yang terkait dengan karyawan akan terutang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 jika
biayanya diakui misalnya biaya gaji, tunjangan, bonus dan sebagainya. Jika pemberian dalam
bentuk natura atau kenikmatan tidak dapat dibebankan sebagai biaya fiskal (Non Deductible)
sehingga bagi karyawan yang menerima bukan merupakan penghasilan (Non Taxable).
Terdapat beberapa penyimpangan konsep Taxable Deductible atau Non Taxable
Non Deductible karena adanya ketentuan khusus yang mengaturnya. Bentuk penyimpangan
tersebut bisa berupa Taxable Deductible atau Non Taxable Non Deductible. Hal ini
terkadang menyulitkan Wajib Pajak karena hal ini akan menyebabkan perbedaan objek pajak
yang dilaporkan dalam SPT Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 tahunan dengan SPT Badan
khususnya pada pos biaya karyawan.
Untuk melihat prinsip ini secara utuh kita harus menggabungkan beberapa pasal dalam
UU PPh. Prinsip taxable diatur di Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (2) UU PPh, Sedangkan
prinsip deductible diatur di Pasal 6 UU PPh. Sementara itu, prinsip nontaxable diatur di Pasal
4 ayat (3) UU PPh, dan prinsip nondeductible diatur di Pasal 9 UU PPh. Sedangkan untuk
melihat suatu penghasilan yang taxable tersebut dikenai pajak apa, kita harus melihat setiap
pasal yang mengaturnya, misalnya di Pasal 15, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, maupun Pasal 29
UU PPh.

Tabel berikut memperlihatkan contoh taxable-deductible:


Bagi Penerima Penghasilan
Jenis Penghasilan

Bagi Pemberi Penghasilan


Taxable Bagi
Yang
Menerima

Jenis Biaya

Penggantian atau imbalan berkenaan


dengan pekerjaan atau jasa yang
PPh Pasal 21,
Biaya gaji, biaya honor,
diterima atau diperoleh termasuk gaji, PPh Pasal 23,
biaya tunjangan, biaya
upah, tunjangan, honor, komisi, bonus, PPh Pasal 4
komisi, dll
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
ayat (2)
dalam bentuk lainnya
PPh Pasal 21,
Hadiah dari undian atau pekerjaan atau PPh Pasal 23, Biaya hadiah/biaya
kegiatan, dan penghargaan
PPh Pasal 4 promosi/biaya lainnya
ayat (2)
Kerugian karena
penjualan atau
Keuntungan karena penjualan atau
PPh Pasal
pengalihan harta yang
karena pengalihan harta
25/29
dimiliki dan digunakan
perusahaan
Penerimaan kembali pembayaran pajak
yang telah dibebankan sebagai biaya
PPh Pasal Beban Pajak (selain
dan pembayaran tambahan
25/29
PPh)
pengembalian pajak
Bunga termasuk premium, diskonto,
dan imbalan sebagai jaminan
PPh Pasal 23 Biaya bunga
pengembalian utang
Royalti
PPh Pasal 23 Biaya royalty
PPh Pasal 23,
Sewa
PPh Pasal 4 Biaya sewa
ayat (2)
PPh Pasal 21, Biaya gaji, biaya
Penerimaan atau perolehan
PPh Pasal alimentasi, biaya
pembayaran berkala
25/29
lainnya
PPh Pasal Biaya piutang tak
Keuntungan karena pembebasan utang
25/29
tertagih
PPh Pasal 4
Dividen yang menjadi objek Pajak
ayat (2), PPh Mengurangi R/E
Pasal 23

Deductible

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

*dengan catatan biaya-biaya di atas merupakan biaya yang berhubungan dengan pengeluaran
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Sedangkan contoh untuk prinsip nontaxable-nondeductible diberikan pada tabel berikut:
Bagi Pene

rima
Penghasilan

Bagi Pemberi Penghasilan

Jenis Penghasilan
Pembayaran dari perusahaan
asuransi kepada orang pribadi
sehubungan dengan asuransi
kesehatan asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna,
dan asuransi beasiswa
Bantuan atau sumbangan
Warisan
Bagian laba yang diterima atau
diperoleh anggota perseroan
komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma
dan kongsi termasuk pemegang
unit KIK

Nontaxable
Bagi Yang
Menerima

Jenis Biaya

Nondeductible

Ya

Dividen yang dibayarkan


oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis

Ya

Ya
Ya

Bantuan atau sumbangan


Warisan

Ya
Ya

Ya

Gaji yang dibayarkan


kepada anggota
persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer
yang modalnya tidak
terbagi atas saham

Ya

Terdapat taxable-nondeductible atau bahkan nontaxable-deductible atau dalam bahasa


lainnya dapat dipajaki saat diberikan kepada pihak yang menerima, namun tidak dapat
dibebankan sebagai biaya oleh pihak yang mengeluarkan, dan sebaliknya, tidak dapat
dipajaki saat diberikan kepada pihak yang menerima, namun tetap dapat dibebankan sebagai
biaya oleh pihak yang mengeluarkan. Berikut beberapa contohnya:
Taxable-Nondeductible
Nontaxable-Deductible
Pemberian natura kepada
Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana
karyawan oleh perusahaan yang
nasional, sumbangan dalam rangka penelitian dan
dikenai PPh Final atau WP yang
pengembangan, biaya pembangunan infrastruktur sosial,
menggunakan norma
dan sumbangan fasilitas pendidikan
perhitungan khusus
Jumlah yang melebihi kewajaran
Pemberian natura berupa penyediaan makanan/minuman di
yang dibayarkan kepada
tempat kerja bagi seluruh pegawai
pemegang saham
Pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan
keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana
keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut

mengharuskannya, seperti pakaian dan peralatan khusus


untuk keselamatan kerja, pakaian satpam, serta akomodasi
awak kapal

Pemberian natura dan kenikmatan di daerah terpencil


Akibat ketidak-konsistenan prinsip ini dalam pelaksanaan, di satu sisi Wajib Pajak
akan merasa dirugikan apabila pengeluarannya yang tidak dapat dibebankan tetapi dikenai
pajak bagi yang menerima (taxable-nondeductible). Sementara di sisi lain, negara akan

merasa dirugikan apabila pengeluaran yang dapat dibebankan tetapi tidak ada uang pajak
yang masuk (nontaxable-deductible). Oleh karena itu prinsip ini sebaiknya tidak selalu dikaitkaitkan dalam pembahasan mengenai keadilan dalam pajak.
2. Strategi Perencanaan dan Manajemen Pajak Perusahaan bagi wajib pajak yang
tergolong sebagai wajib pajak PP 46 Tahun 2013 adalah
Perencanaan pajak merupakan salah satu upaya untuk mengefektifkan jumlah pajak
yang harus dibayar bagi Wajib Pajak baik Orang Pribadi maupun Badan. Dalam literatur
managemen perpajakan, tindakan tersebut termasuk dalam kategori tax avoidance yang
secara umum dianggap sebagai upaya tax management yang legal karena lebih banyak
memanfaatkan loopholes yang ada dalam peraturan perpajakan yang berlaku (lawfull)
(Iman dan Ning, 2013).
Dalam PP 46/2013 ini banyak terdapat loopholes. Loopholes inilah yang digunakan
dalam menetukan tax planning yang sesuai dengan kondisi wajib pajak. Loopholes yang ada
dalam PP 46/2013 ini antara lain batasan peredaran usaha sebesar 4,8 Milyar, negative list
pekerjaan bebas yang tidak dikenakan PP46/2013.
Dalam pengenaan PPh final berdasarkan PP46/2013 dengan tarif 1% baik bagi
UMKM berbentuk badan maupun orang pribadi dapat memberikan keuntungan maupun
kerugian hal ini tergantung tax planning apa yang diterapkan sesuai dengan kondisi UMKM
tersebut. Rumus dari PPh Final PP 46/2013 adalah: 1% X Peredaran Usaha. Jika
dibandingkan dengan perlakuan perpajakan sebelumnya yaitu fasilitas PPh Pasal 31 E,
jumlah pajak yang terutang adalah 12,5% X Penghasilan Kena Pajak, dalam hal peredaran
usaha dibawah 4,8 Milyar. Penghasilan Kena Pajak merupakan pengurangan dari Peredaran
Bruto- HPP- Biaya (setelah koreksi fiskal) PTKP (untuk WP OP) Kompensasi
Kerugian. Sehingga dari kedua fungsi tersebut dapat ditentukan titik impas dalam hal ini
bagi WP dalam bentuk badan.

WP Badan dalam penerapan PP46 akan mendapatkan titik impas jika nilai PKP minimalnya
8% dari Omzet. Analisa ini dapat diuji melalui benchmarking berikut (dalam rupiah) :
(Illustrasi berikut ini memberikan gambaran bagaimana dampak PP 46 Tahun 2013 terhadap
UMKM badan yang menyelenggarakan pembukuan)

Sedangkan dalam mencari titik impas untuk UMKM Wajib Pajak Orang Pribadi tidak bisa
digeneralisir layaknya perhitungan untuk UMKM bagi Wajib Pajak Badan. Pada aturan
perpajakan sebelumnya metode perhitungan pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi terdapat 2
metode : dengan Norma Penghitungan Penghasilan Netto (NPPN) dan tanpa norma.
1)

WP OP dengan NPPN

Dalam menentukan mana yang lebih menguntugkan dilihat secara langsung pada tarif efektif
yang dikenakan. Misalkan menggunakan nilai ekstrim penghasilan maksimal

Asumsi :
jenis usaha yang menggunakan NPPN adalah industri tekstil di 10 ibukota provinsi
utama dengan tarif NPPN 13,5%
30%

Peredaran bruto maksimal 4,8 M, pada tarif progresif dikenakan pada level ke-4, yaitu

Dari analisa diatas didapat bahwa tarif efektif atas NPPN lebih besar dari pada PP46/2013
untuk jenis industri tekstil di 10 ibukota provinsi utama. Sehingga dalam hal ini PP46 lebih
menguntungkan bagi WP.
1)

WP OP Menyelenggarakan Pembukuan

Untuk mencari titik impas di mana UMKM orang pribadi dalam hal ini dengan status K/3 dan
omzet maksimal 4,8 Milyar, tidak diuntungkan dan tidak dirugikan dengan PP 46 Tahun
2013 dibandingkan dengan penerapan tarif progresif pasal 17 ayat (1) UU PPh, maka dibuat
persamaan sederhana sebagai berikut:

Dari persamaan tersebut di atas, akan diperoleh:

Penghasilan Kena Pajak setelah PTKP Rp.312.000.000

PPh Terutang dengan tarif Progresif ps.17 ayat (1) UU PPh = Rp. 48.000.000, sama
dengan 1% x Rp.2.400.000.000 (PP 46 Tahun 2013) .

Total Penghasilan Kena Pajak sebelum dikurangi PTKP = Rp 344.400.000

( Rp.312.000.000 + Rp.32.400.000) atau ekuivalen dengan sekitar 7.175 % dari Sales

Ilustrasi berikut ini memberikan gambaran bagaimana dampak PP 46 Tahun 2013 terhadap
UMKM berbentuk orang pribadi yang dikenakan tarif progresif:

Dengan demikian dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa minimum


persentase penghasilan kena pajak sebelum dikurangi PTKP yang harus dicapai oleh UMKM
orang pribadi yang menyelenggarakan pembukuan dalam illustrasi tersebut agar tidak
dirugikan dengan terbitnya PP 46 Tahun 2013 adalah Rp.344.400.000 atau 7.175 % dari
peredaran usaha. Sebagaimana terlihat dalam tabel illustrasi di atas, apabila capaian
persentase dimaksud kurang dari 7.175 % maka UMKM akan membayar pajak lebih besar.
3. Diketahui :
1. Susunan Pemegang Saham PT. ABC adalah Tn. A, Tn B, Tn C
2. Tn. A menguasai 99% saham PT. ABC
3. Total nilai investasi Rp 20 Milyar terdiri dari 100.000 lembar saham dengan nilai
perolehan Rp 200.000/lembar
4. Harga saham saat ini Rp 1.000.000/lembar
Ditanya :

a. Jika Tn. A melepas sahamnya tanpa melalui bursa efek maka berapakah PPh yang
terutang ?
b. Jika Tn. A menjual sahamnya melalui bursa efek efek maka berapakah PPh yang
terutang?
c. Menurut anda strategi perencanaan pajak yang manakah agar Tn. A mendapatkan
penghematan pajak, apakah melepas sahamnya melalui bursa efek atau tidak ?
Jelaskan dan berapakah Tax Saving Tn. A dari strategi perencanaan pajaknya tersebut
Dijawab :
a. Jika Tn. A melepas sahamnya tanpa melalui bursa efek maka PPh yang terutang
adalah :
PPh terutang = Tarif 5% X Harga Jual
= 5% X (Rp 1.000.000 X 100.000 lembar)
= 5% X Rp 100.000.000.000
= Rp 5.000.000.000
b. Jika Tn. A menjual sahamnya melalui bursa efek maka PPh yang terutang adalah :
PPh terutang = Tarif 0,1% X Harga Jual
= 0,1% X (Rp 1.000.000 X 100.000 lembar)
= 0,1% X Rp 100.000.000.000
=Rp 100.000.000
Karena Tn.A merupakan pendiri perusahaan ditambahkan fasilitas tarif 0.5 % pada saat IPO
(Initial Public Offering) sebesar:
0,5% X Rp 20.000.000 = Rp 100.000.000
Sehingga Total PPh Terutang Tn. A adalah sebesar = Rp 100.000.000 + 100.000.000 = Rp
200.000.000
c. Tax Saving Tn A.
PPh terutang ketika saham Tn. A dilepas tanpa melalui bursa efek - PPh terutang ketika
saham Tn. A dilepas melalui bursa efek
Rp 5.000.000.000 Rp 200.000.000 = Rp 4.800.000.000
Melalui perhitungan PPh terutang antara ketika Tn. A melepas sahamnya tanpa melalui bursa
efek dan ketika Tn. A melepas sahamnya melalui bursa efek, didaptkan hasil bahwa ketika

Tn. A melepas sahamnya tanpa melalui bursa efek, PPh terutang yang harus dikeluarkan oleh
Tn. A yaitu sebesar Rp 5.000.000.000, sedangkan ketika Tn. A melepas sahamnya melalui
bursa efek, maka PPh yang harus dikeluarkan oleh Tn. A yaitu sebesar Rp 200.000.000. Dari
perhitungan tersebut, maka dapat disimplkan bahwa Tn. A harus memilih strategi
perencanaan pajaknya dengan pilihan Tn A. harus melepas sahamnya melalui bursa efek.
Karena dengan melepas saham melalui bursa efek, maka Tn. A dapat memperoleh
penghematan pajak sebesar Rp 4.800.000 yang harus dikeluarkan sebagai PPh terutangnya.
4. Berkaitan dengan pemilihan sumber pembiayaan, dampak dari menahan laba,
dampak dari pendanaan melalui modal dan distribusi laba, dampak dari pendanaan
melalui utang terutama oleh pemegang saham, dan skenario yang menguntungkan
dari pemilihan sumber pembiayaan tersebut adalah
Konsep analisis ini didasarkan bahwa penggunaan leverage/hutang dapat dibenarkan
di dalam perusahaan sejauh penggunaan leverage tersebut diharapkan memberikan
rentabilitas ekonomi yang lebih besar dari bunga hutang tersebut. Hal itu disebabkan karena
penggunaan hutang tersebut diharapkan akan meningkatkan rentabilitas modal sendiri, yang
menunjukkan bagian keuntungan yang menjadi hak pemilik perusahaan. Untuk memudahkan
penulisan, Rentabilitas Ekonomi disingkat dengan RE dan Rentabilitas Modal Sendiri sebagai
RMS, dengan formula :. RE = EBIT . Total Aktiva RMS = EAT .
Modal Sendiri Sebagai contoh misalkan : perusahaan memerlukan tambahan dana
sebesar Rp 200 juta. Suatu bank mengatakan bersedia memberikan kredit dengan suku bunga
18% per tahun. Apakah tawaran tersebut sebaiknya diterima? Analisis RE mengatakan bahwa
sejauh tambahan dana tersebut bisa memberikan tambahan laba operasi lebih besar dari 18%
x Rp 200 juta = Rp 36 juta dalam satu tahun, maka penggunaan kredit bisa dibenarkan. Dari
perhitungan ini memberikan ilustrasi bahwa RE penggunaan hutang tersebut adalah 18% ( 36
juta/ 200 juta). Dengan demikian berarti apabila tambahan laba operasi lebih kecil dari 18 %
yang juga berarti RE kurang dari 18% maka tambahan dana yang bersumber dari hutang tidak
dibenarkan, dalam arti menyebabkan perusahaan rugi. Sedangkan kalau tambahan laba
operasi atau RE sama dengan 18 % atau sama dengan tingkat bunga pinjaman, penggunaan
hutang tersebut tidak menyumbang satu rupiahpun terhadap laba setelah pajak. Dengan kata
lain, seluruh laba yang diperoleh dari operasi tersebut habis dipergunakan untuk membayar
bunga. Karena itulah diperlukan memperoleh RE lebih besar dari 18 %, atau lebih dari bunga
pinjaman. Dipandang dari pertimbangan RMS penggunaan hutang dalam jumlah tertentu
mungkin menguntungkan, mungkin pula tidak. Dikatakan menguntungkan kalau RMS

dengan penggunaan hutang lebih besar dari pada RMS dengan menggunakan modal sendiri.
Hal ini akan tercapai tingkat keuntungan yang diperoleh dari penggunaan hutang tersebut
adalah lebih besar dari pada bunga yang harus dibayar. Dengan demikian analisis ini hanya
memperhatikan sumber dana dari fakor RMS saja. Untuk memperjelas uraian, berikut ini
diberikan suatu illustrasi. Misalnya ada suatu proyek yang memerlukan dana sebesar Rp 100
juta. Taksiran EBIT proyek tersebut adalah Rp 25 juta setiap tahunnya. Perusahaan harus
menanggung pajak dengan tariff 20%. Untuk mendanai investasi tersebut tersedia dua
alternatif pendanaan. Dinanai 100% modal sendiri 50% didanai dengan hutang dan 50%
dengan modal sendiri. Kalau perusahaan menggunakan hutang, diperkirakan bunga yang
ditanggung adalah 20% per tahun. Apakah perusahaan sebaiknya memilih alternatif
pendanaan 1) ataukan 2) ? Untuk ini bisa dilakukan analisis dengan cara membandingkan
RMS untuk kedua alternatif pendanaan tersebut. Analisis RE dan RMS, dalam pemilihan
alternatif pendanaan

Dipandang dari pertimbangan RMS, maka penggunaan hutang nampak lebih


menguntungkan karena memberikan RMS yang lebih tinggi. Hal ini tidak mengherankan,
karena hutang tersebut bisa memberikan tingkat keuntungan 25%, sedangkan bunganya
hanya 20%. Dengan demikian penggunaan hutang bisa dibenarkan apabila dipandang dari
segi RMS.
Skenario yang lebih menguntungakn yaitu menggunakan pendanaan yang berasal dari
utang. Ketika perusahaan melakukan pendanaan melalui hutang, akan memperkecil
pemotongan pajaknya karena makin besar penggunaan utang, maka semakin besar

keuntungan penggunaan utang yang berasal dari penghematan pajak, tapi biaya kebangkrutan
dan biaya keagenan juga akan semakin besar.
5. Manajemen pajak untuk transaksi leasing dan contoh perhitungannya
Perencanaan pajak dapat digunakan untuk aset tetap yang baru akan dibeli maupun
aset tetap yang telah lama dimiliki. PT GL HI-TECH INDONESIA akan membeli kendaraan
baru untuk operasional perusahaannya sehingga sebelum dilakukan pembelian dapat dibuat
perencanaan pajaknya sehingga bisa melakukan penghematan pajak setelah aset tersebut di
miliki atau digunakan.
1. Pengadaan Kendaraan Baru PT GL HI-TECH INDONESIA akan membeli kendaraan
baru berupa mobil untuk operasional perusahaan, dengan harga Rp192.500.000.
Perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli langsung atau menggunakan
sewa guna usaha dengan hak opsi. Kendaraan tersebut termasuk asset tetap kelompok
2. Untuk membandingkan pembelian kendaraan dengan pembelian langsung atau
menggunakan sewa guna usaha dapat dilihat dengan menggunakan analisis sebagai

berikut:
Bunga Deposito: 5,76% (sumber PTBANK CENTRAL ASIA, www.bca.co.id per
Agustus 2013) Bunga Pinjaman: 8,18% (sumber PT BANK CENTRAL ASIA,

www.bca.co.id per Agustus 2013)


Bunga Sewa guna Usaha : 11,59% (sumber PT Arthabuana Margausaha Finance / AMF
Batam) Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya angsuran danbiaya sewa

yang harus dibayarkan setiap bulannya.Diasumsikan bahwa jangka waktu sewa 4


tahun

dan

jaminan(security

deposit)

30%

dari

nilai

kendaraan

yang

disewagunausahakan.
Jaminan :Rp57.750.000
Nilai Sewa guna Usaha:Rp134.750.000
Tingkat Bunga : 11,59%
Tingkat Diskon : 8,18%
Umur Aset : 4 tahun

Skedul pembayaran sewa guna usaha dan nilai tunainya terhadap kedaraan yang akan
disewagunausahakan oleh PT GL HITECH INDONESIA dari PT Arthabuana Margausaha
Finance (AMF) dapat dilihat pada tabel A

Skedul Pembayaran Biaya Sewa dan Nilai Tunai Sewa Guna Usaha

Tabel di atas diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:


PV
= Nilai sewa guna usaha Rp134.750.000
I
= Tingkat bunga per bulan (11,59%/12 = 0,96%)
D
= Tingkat diskon per bulan (8,18%/12 = 0,68%)
n
= jangka waktu (4 tahun = 48 bulan)
Berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.19 total biaya secara nominal adalahRp169.028.107,
sedangkan nilai tunai (present value-PV) dengan tingkat diskon 8,18% adalah sebesar
Rp144.725.904. Semua biaya sewa guna usaha ini dapat diakui sebagai biaya dalam menghitung
penghasilan kena pajak.

TABEL B
Penyusutan kendaraan yang dibeli dan yang disewagunausahakan dengan hak
opsi dengan tingkat diskon 8,18%
TAHUN

NILAI BUKU

BEBAN PENYUSUTAN

SALDO

TINGKAT

Tahun 1-4 tidak ada penyusutan karena sewa guna usaha

DISKON

NILAI TUNAI
PENYUSUTAN

57.750.000

28.875.000

28.875.000

0,67494

19.488.890,14

28.875.000

14.437.500

14.437.500

0,62390

9.007.621,62

14.437.500

7.218.750

7.218.750

0,57673

4.163.256,43

7.218.750

7.218.750

0,62390

Jumlah

57.750.000

4.503.810,81
37.163.579,00

Berdasarkan Tabel A dan Tabel B dengan menggunakan tingkat bunga sewa guna
usaha 11,59% dan tingkat diskon 8,18% maka nilai perolehan keseluruhan kendaraan (lease
fee dan nilai opsi) adalah sebesar Rp226.778.107 dan total nilai tunai yang dapat dibiayakan
adalah Rp181.889.482,51
2. Pengadaan Kendaraan dengan pembelian langsung diakui sebagai biaya adalah beban
penyusutan.Untuk menghitung besarnya beban penyusutan, metode yang dapat
digunakan adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun. Untuk perhitungan
dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah metode saldo menurun,
karena berdasarkan perhitungan sebelumnya metode saldo menurun lebih
menguntungkan bagi perusahaan. Sedangkan umur aset 8 (delapan) tahun sesuai
dengan ketentuan.Besarnya biaya pertahun penyusutan dapat dilihat pada Tabel 4.13
berikut.
Nilai Aset

: Rp192.500.0000

Umur Kendaraan

: 8 tahun

Metode penyusutan

: Saldo menurun

Tingkat Diskon

: 8,18%
TABEL C

Dari Tabel C diatas


diketahui bahwa nilai tunai dari
akumulasi penyusutan dengan
tingkat diskon 8,18% adalah
Rp165.491.220,26.
Perbandingan antara Sewa Guna Usaha dengan Pembelian Langsung Besarnya
perbandingan penghematan pajak antara sewa guna usaha dengan pembelian langsung secara
tunai dilakukan dengan cara membandingkan jumlah biaya yang dapat dikurangkan dalam
rangka menghitung penghasilan kena pajak. Untuk sewa guna usaha, biaya yang dapat
dikurangkan adalah seluruh biaya sewa dan beban penyusutan sebesar nilai opsi.Untuk
pembelian langsung adalah sebesar beban penyusutannya saja.Di samping dihitung
berdasarkan nilai nominal juga dihitung berdasarkan nilai tunai (PV) seperti pada Tabel D.
Perhitungan yang dilakukan pada Tabel D dapat diketahui besarnya penghematan
pajak apabila tingkat bunga sewa guna usaha 11,59% dan tingkat bunga 8,18% secara
nominal adalah Rp8.569.527 dan nilai tunainya adalah Rp4.099.566.ekonomis.Besarnya
jumlah total penghematan tunai dapat dilihat di Tabel E.
TABEL D

Walaupun sewa guna usaha lebih mahal dari pembelian langsung, penghematan
pajaknya juga karena semua biaya sewa dapat dibiayakan dan jangka waktu sewa guna usaha
lebih pendek dari umur ekonomis.Besarnya jumlah total penghematan tunai dapat dilihat di
Tabel E.

TABEL E

Bunga deposito dari penghematan dana tunai karena pembelian melalui sewa guna
usaha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelian secara sewa guna usaha lebih
menguntungkan dibandingkan dengan pembelian tunai.Karena dibandingkan dengan
pembelian tunai terdapat penghematan neto. Besarnya jumlah penghematan neto dengan
tingkat diskon 8,18% adalah Rp3.602.523.
Laporan Koreksi Fiskal setelah Perencanaan Pajak Setelah dilakukan perencanaan pajak
terhadap PT GL HI-TECH INDONESIA maka dapat dilihat laporan setelah
Fiskal sebagai berikut:

Keterangan dari laporan rekonsiliasi di atas adalah sebagai berikut:


a. Pendapatan jasa yang sebelumnya Rp389.655.800 berkurang menjadi Rp378.191.800
karena adanya penundaan pendapatan sebesar Rp11.464.000.
b. Biaya Material Servis yang sebelumnya Rp24.365.000 bertambah menjadi Rp26.815.000
karena adanya percepatan pengakuan beban material sebesar Rp2.450.000.
c. Biaya penyusutan aktiva tetap menggunakan metode saldo menurun.
d. Biaya perawatan kendaraan dan biaya penyusutan ditanggung 100% oleh perusahaan
karena kendaraan digunakan hanya untuk operasional sehinggga tidak di koreksi fiskal.
e. Biaya entertaiment dibuatkan bukti nominnatifnya sehingga bisa diakui sebagai biaya.
f. Pendapatan Jasa giro dan pajak giro dikoreksi karena telah dikenakan PPh final.
g. Biaya kesejahteran berupa natura untuk seluruh karyawan, biaya trasportasi dengan
pemberian fasilitas bus maupun tunjangan trasportasi dan Biaya tunjangan pajak PPh 21
dengan metode gross up tidak dapat diberikan sebagai fasilitas kepada karyawan karena
biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan lebih besar jika dibandingkan dengan
penghematan pajak yang diperoleh oleh perusahaan.
Dari Tabel diatas dapat dilihat setelah perusahaan menerapkan perencanaan pajak,
PPh terutang perusahaan yang mana sebelum perencanaan pajak sebesar Rp

5.364.686 run menjadi Rp2.207.124 sehingga perencanaan pajak yang dilakukan


bisamenghemat PPh terutang badan sebesar Rp 3.157.563.
6. Diketahui :
1. Tn Fathir

= Pegawai menikah dengan 2 anak

2. Gaji Tn. Fathir

= Rp 5.000.000/bln

3. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

= 0,5% dari gaji yang ditanggung oleh Tn

Fathir
4. Jaminan Kematian (JK)

= 0,3% dari gaji yang ditanggung oleh Tn

Fathir
5. Jaminan Hari Tua (JHT)

3,7% dari gaji yang ditanggung oleh

perusahaan
6. Jaminan Hari Tua (JHT)

= 2% dari gaji yang ditanggung oleh Tn Fathir

7. Iuran Pensiun

Rp 125.000 yang ditanggung oleh

perusahaan
8. Iuran Pensiun

= Rp 95.000 yang ditanggung oleh Tn Fathir

Ditanya :
Bagaimanakah perhitungan PPh 21 atas Tn Fathir ?
Dijawab :
Penghasilan Neto

Rp 5.000.000

Pengurang Penghasilan Bruto:


Biaya jabatan

5% X 5.000.000

JKK

0,5% X 5.000.000 = 25.000

JK

0,3% X 5.000.000 = 15.000

JHT

2% X 5.000.000

Iuran pensiun

= 250.000

= 100.000
= 95.000

Total pengurang penghasilan bruto

Rp

Penghasilan neto sebulan

Rp 4.515.000

Penghasilan neto setahun

Rp 54.180.000

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Rp 30.375.000

Penghasilan Kena Pajak (PhKP)

Rp 23.805.000

PhKP pembulatan

Rp 23.805.000

PPh Pasal 21 terutang :

485.000

5% X Rp 23.805.000

Rp 1.190.250

PPh Pasal 21 terutang 1 bulan

Rp

99.187,5

7. Diketahui :
1. Tn Rafa (ber-NPWP dan berstatus sebagai PKP)
2. Tn Rafa membangun sebuah rumah mewah
Des 2012 membangun dengan luas = 150 m biaya = Rp 350 juta (include HP

tanah Rp 150 juta)


Okt 2014 membangun dengan luas = 210 m, biaya = Rp 400 juta
April 2015 membangun dengan luas = 250 m, biaya = Rp 200 juta

Ditanya :
Bagaimana pengenaan PPN KMS (Kegiatan Membangun Sendiri) atas kegiatan yang
dilakukan Tn Rafa?
Dijawab :

Des 2012 membangun dengan luas = 150 m


Tidak dikenakan PPN KMS karena sesuai dengan pasal 2 ayat (3) PMK163/PMK.03/2012 bahwa yang dikenakan PPN KMS adalah bangunan dengan luas
minimal 200 m
Okt 2014 membangun dengan luas = 210 m biaya = Rp 400 juta
April 2015 membangun dengan luas = 250 m, biaya = Rp 200 juta

Sesuai dengan pasal 2 ayat (3) PMK-163/PMK.03/2012 bahwa yang dikenakan


PPN KMS adalah bangunan dengan luas minimal 200 m, maka untuk pembangunan
bulan Oktober 2014 dan April 2015, karena luas bangunannya sudah melebihi 200 m,
bangunan tersebut dikenakan PPN KMS dengan cara menjumlahkan biaya pada bulan
Oktober 2014 dan bulan April 2015 sesuai dengan pada Pasal 4 ayat (2) PMK163/PMK.03/2012 yang menyatakan bahwa Kegiatan membangun sendiri yang
dilakukan secara bertahap dianggap merupakan satu kesatuan kegiatan sepanjang
tenggang waktu antara tahapan-tahapan tersebut tidak lebih dari 2 (dua) tahun.

PPN = 10 % X DPP
DPP = 20% X jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk
membangun bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah.

PPN = 10 % X 20% X jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang


dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah

Total biaya yang dikeluarkan = (Rp 350.000.000- Rp 150.000.000) + Rp 400.000.000 +


Rp 200.000.000

= Rp 800.000.000
DPP

20% X Rp 800.000.000

Rp 160.000.000

PPN KMS

= 10% X DPP
= 10% X Rp 160.000.000
= Rp 16.000.000

8. Diketahui :
1. 2 Mar 14
= Menerima deviden sebesar Rp 35.000.000 (penyertaan modal 27%)
Tidak dikenakan PPh Pasal 23 karena deviden yang diterima lebih dari 25%
2. 5 Mar 14
= Membayar sewa ruangan di Hotel Regent Rp 5.000.000
Dikenakan PPh pasal 4 ayat 2 sebesar 10% dari harga sewa
3. 18 Mar 14
= Membeli 1000 sak semen Rp 220.000.000 (harga termasuk PPN)
Dikenakan PPh pasal 22 atas transaksi pembelian semen sebesar 0,25% dari Dasar
Pengenaan Pajak (DPP)
4. 20 Mar 14
= Menjual 200 Pakaian Dinas kepada Pemda Bali Rp 15.000.000/unit
Dikenakan PPh pasal 22 sebesar 1,5% dari harga pembelian (tidak termasuk PPN)
5. 25 Mar 14
= Menerima pembayaran sewa ruko seluas 197 m
Tidak dikenakan PPh pasal 4 ayat 2 karena PT. Tangguh merupakan pihak yang
menerima pembayaran atas sewa ruko
Ditanya : Hitung besar PPh pasal 22 dan 23 dan 4 ayat 2 terkait transaksi di atas
Dijawab :
1. 2 Mar 14 = Tidak dikenakan PPh Pasal 23 karena deviden yang diterima lebih dari
25%
2. 5 Mar 14 = Dikenakan PPh pasal 4 ayat 2 sebesar 10% dari harga sewa
PPh pasal 4 ayat 2

= 10% X Rp 5.000.000
= Rp 500.000

3. 18 Mar 14 = Dikenakan PPh pasal 22 atas transaksi pembelian semen sebesar 0,25%
dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Harga Perolehan semen (belum termasuk PPN)
=

100
110 X 220.000.000 = Rp. 200.000.000

Pengenaan PPh pasal 22

= 0,25% X Rp 200.000.000
= Rp 500.000

4. 20 Mar 14 = Dikenakan PPh pasal 22 sebesar 1,5% dari harga pembelian (tidak
termasuk PPN)
Total harga pakaian dinas 200 unit

= 200 X Rp 1.500.000
= Rp 300.000.000

Pengenaan PPh Pasal 22

= 1,5% X Rp 300.000.000
= Rp 4.500.000

5. 25 Mar 14 = Tidak dikenakan PPh pasal 4 ayat 2 karena PT. Tangguh merupakan
pihak yang menerima pembayaran atas sewa ruko

9. Diketahui:
Penghasilan Neto PT Ghopal dalam tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Negara A
Penghasilan (laba) = Rp 2.000.000.000
Tarif Pajak = 30 % (Rp 600.000.000)
2. Negara B
Penghasilan (laba) = Rp 1.000.000.000
Tarif Pajak = Rp 20% (Rp 200.000.000)
3. Negara C
Menderita Kerugian Rp 750.000.000
4. Penghasilan Usaha di Indonesia Rp 5.000.000.000
Ditanya :
Berapakah maksimum kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan sebagai pengurang
pajak terutang?
Dijawab:
Total PKP PT Ghopal

= (Rp 5.000.000.000 + Rp 2.000.000.000 + Rp 1.000.000.000)


Rp 750.000.000
= Rp 7.250.000.000

Rp 7.250.000.000 X 25% = Rp 1.812.500.000


kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan sbagai pengurang pajak terutang di
Indonesia adalah :

Negara A

2.000 .000 .000


7.250 .000 .000

X 1.812.500.000 = Rp 500.000.000

Kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan sebagai pengurang pajak terutang di
Indonesia adalah sebesar Rp 500.000.000.

Negara B

1.000 .000 .000


7.250 .000 .000

X 1.812.500.000 = Rp 250.000.000

Kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan sebagai pengurang pajak terutang di
Indonesia adalah sebesar Rp 200.000.000 karena kredit pajak luar negeri yang
diperbolehkan sebagai pengurang pajak terutang di Indonesia tidak boleh melebihi

besar pajak yang telah dikenakan di luar negeri.


Negara C
= Tidak dikenakan pajak karena Negara C menderita kerugian
sehingga tidak ada kredit pajak luar negeri sebagai pengurang pajak terutang di
Indonesia.
Total kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan sebagai pengurang pajak terutang di

Indonesia yang di perhitungkan di Indonesia dari negara A, B, dan C adalah :


Rp 500.000.000 + Rp 200.000.000 + Rp 0 = Rp 700.000.000