Anda di halaman 1dari 22

Refleks Fisiologis, Patologis

dan Pemeriksaan Spine


Menurut ASIA

Refleks Fisiologis dan


Patologis
Refleks adalah respon yang tidak berubah
terhadap perangsangan yang terjadi di
luar kehendak, respon yang terjadi secara
otomatis tanpa usaha sadar.
Reflek Fisiologis merupakan reflek yang
terdapat pada orang yang normal
Reflek Patologis merupakan reflek yang
terjadi karena adanya gangguan atau
kerusakan sistem saraf pusat.

Reflek Fisiologis Secara


Umum
a. Reflek Biceps:
Posisi : Dilakukan dengan pasien duduk, dengan
membiarkan lengan untuk beristirahat di pangkuan pasien,
atau membentuk sudut sedikit lebih dari 90 derajat di siku.
Minta pasien memflexikan di siku sementara pemeriksa
mengamati dan meraba fossa antecubital. Tendon akan
terlihat dan terasa seperti tali tebal.
Cara : Ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada
tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah diketuk
pada sendi siku.
Respon : Fleksi lengan pada sendi siku

b. Reflek Triceps
Posisi : Dilakukan dengan pasien duduk. dengan
Perlahan tarik lengan keluar dari tubuh pasien,
sehingga membentuk sudut kanan di bahu. atau
Lengan bawah harus menjuntai ke bawah
langsung di siku
Cara : Ketukan pada tendon otot triceps, posisi
lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi
Respon: Ekstensi lengan bawah pada sendi siku

c. Reflek brachioradialis
Posisi : Dapat dilakukan dengan duduk. Lengan bawah
harus beristirahat longgar di pangkuan pasien (hampir
sama dengan posisi pada reflek biceps).
Cara : Ketukan pada tendon otot brachioradialis
(Tendon melintasi (sisi ibu jari pada lengan bawah) jarijari sekitar 10 cm proksimal pergelangan tangan. posisi
lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi.
Respon : Fleksi pada lengan bawah, supinasi pada siku
dan tangan

d. Reflek patella
Posisi : Dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring terlentang
Cara : Ketukan pada tendon patella
Respon : Ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m.quadriceps femoris

e. Reflek achiles
Posisi : Pasien duduk dengan posisi kaki menggantung di tepi meja atau
dengan berbaring terlentang dengan posisi kaki di atas kaki yang lain.
Cara : Ketukan hammer pada tendon achilles
Respon : Plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius

Patellar jerk (L1,2,3,4


roots)

Achilles jerk (S1,2


roots)

f. Withdrawl Reflek
Reflek withdrawl merupakan salah satu reflek yang memiliki
fungsi sebagai proteksi tubuh ketika ada stimulus yang dapat
mengancam atau membahayakan kita.
Posisi : Salah satu cara untuk mengetes reflek withdrawl ini
adalah dengan pasien dalam keadaan duduk, letakkan tangan
pasien di atas meja dalam keadaan siku posisi ekstensi
Cara : Alihkan fokus pasien agar tidak tertuju pada lengan,
setelah itu berikan stimulus dengan jarum steril pada lengan.
Respon : Berupa fleksi lengan menjauhi stimulus yang
diberikan.

Jenis-Jenis Reflek
Patologis
a. Reflek Babinski:
Posisi : Pasien diposisikan berbaring terlentang
dengan kedua kaki diluruskan, posisi tangan kiri
pemeriksa memegang pergelangan kaki pasien
agar kaki tetap pada tempatnya
Cara : Lakukan penggoresan telapak kaki bagian
lateral dari posterior ke anterior
Respon : Positif apabila terdapat gerakan
dorsofleksi ibu jari kaki dan pengembangan jari
kaki lainnya

b. Reflek Chaddok
Cara : Penggoresan kulit dorsum pedis
bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari
posterior ke anterior
Respon : Positif apabila ada gerakan
dorsofleksi ibu jari, disertai pengembangan
jari-jari kaki lainnya (reflek seperti babinski).

c. Reflek Schaeffer
Cara : Menekan tendon achilles.
Respon : Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari
kaki, disertai mekarnya (fanning) jari-jari kaki lainnya.
d. Reflek Oppenheim
Cara : Penggoresan atau pengurutan dengan cepat krista
anterior tibia dari proksiml ke distal
Respon : Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari
kaki, disertai mekarnya (fanning) jari-jari kaki lainnya.

e. Reflek Gordon
Cara : Memberi penekanan pada musculus gastrocnemius (otot betis)
Respon : Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari kaki, disertai
mekarnya (fanning) jari-jari kaki lainnya.

f. Ankle Clonus
Posisi : Pasien tidur terlentang atau setengah duduk
Cara : Lutut dalam posisi fleksi, dan dengan cara manual lakukan
gerakan dorsofleksi secara kejut
Respon : Positif bila terjadi gerakan dorsi/plantar fleksi yang terus
menerus

g. Knee Clonus
Posisi : Pasien dalam posisi duduk di tepi bed
Cara : Dilakukan ketukan dengan reflek
hammer pada tendon patella
Respon : Positif bila terjadi terjadi gerakan
fleksi/ekstensi yang terus menerus pada
lututnya

Pemeriksaan Spine dengan


ASIA (American Spinal Injury
Association)

Anatomi
Medula spinalis merupakan bagian dari
susunan saraf pusat (SSP). Terbentang dari
foramen magnum sampai dengan L1
8 pasang saraf servikal

12 pasang saraf torakal

5 Pasang saraf lumbal


5 Pasang saraf sakral
1 Pasang saraf koksigeal

Akar saraf lumbal dan


sakral terkumpul yang
disebut dengan kauda
equina. Setiap pasangan
saraf
keluar
melalui
intervertebral
foramina.
Saraf spinal dilindungi
oleh tulang vertebra dan
ligamen dan juga oleh
meningen spinal dan CSF

Struktur internal medula


spinalis terdiri dari
substansi abu abu dan
substansi putih.
Keluar dari medula
spinalis merupakan akar
ventral dan dorsal dari
saraf spinal.

Substansi abu-abu
mengandung badan sel dan
dendrit dan neuron efferen,
akson tak bermyelin, saraf
sensoris dan motoris dan
akson
terminal
dari neuron
Substansi
abu-abu
membentuk seperti huruf H
dan terdiri dari tiga bagian
yaitu: anterior, posterior
dan komisura abu-abu.
Bagian posterior sebagai
input /afferent, anterior
sebagai output/efferent,
komisura abu-abu untuk
refleks silang dan substansi
putih merupakan kumpulan
serat saraf bermyelin

Klasifikasi
Metode klasifikasi menurut American Spinal Injury Association (ASIA)
berdasarkan hubungan antara kelengkapan dan level cedera dengan
defisit neurologis yang timbul :
Komplit: Tidak ada fungsi motorik dan sensorik yang tersisa pada
segmen sakral S4-S5
Inkomplit: Terdapat fungsi sensorik tanpa fungsi motorik di bawah lesi
termasuk segmen sakral S4-S5.
Inkomplit: Terdapat fungsi motorik di bawah lesi dan lebih dari separuh
memiliki kekuatan otot kurang dari 3.
Inkomplit: Terdapat fungsi motorik di bawah lesi dan lebih dari separuh
memiliki kekuatan otot 3 atau lebih.
Normal: Fungsi motorik dan sensorik normal.