Anda di halaman 1dari 22

Judul Praktikum

: Pemeriksaan Darah

Tujuan Praktikum

: Untuk Pemeriksaan Hematologi dan Menentukan Penyakit Infeksi

Dan Pertahanan Tubuh


A. Penghitungan Jumlah Eritrosit
1. Dasar Teori
Darah adalah partikel suspensi yang mengandung elektrolit. Darah terdiri atas 2
bagian yang penting, yaitu plasma darah dan sel darah. Di dalam plasma darah terdapat air
(dengan elektrolit terlarut) serta protein darah (albumin, globulin, dan fibrinogen).
Sedangkan komponen sel darah adalah eritrosit, leukosit, dan trombosit. Ketiga sel
tersebut terbentuk dari stem cell yang sama, yaitu sel induk pluripotent. Pada mamalia dan
unggas, pembentukan sel darah pertama kali terjadi di dalam yolk sac. Sekitar pertengahan
kehamilan, pembentukan sel darah terjadi di dalam beberapa jaringan tubuh, misalnya
sumsum tulang, hati, limpa, timus, dan nodus limpatikus. Menjelang masa kelahiran
sampai & dewasa, sumsum tufang pipih berperan utama dalam hematopoeiesis tersebut.
Eritropoeiesis diawali oleh adanya sel hemositoblast. Hemositoblast akan segera
membentuk proeritroblast yang mempunyai sitoplasma berwarna biru tua, nukleus di
tengah dan nukleoli sedikit mengelompok tetapi sel ini belum mengandung Hb. Sel
proeritroblast kemudian berubah menjadi eritroblast _yang mengandung kromatin dalam
nukleus dan Hb. Selanjutnya, sel berukuran lebih kecil dengan sitoplasma kebiruan karena
terdapat RNA dan kromatin mengalami kondensasi, pada saat ini sel disebut basofilik
eritroblast. Sel berubah menjadi polikromatik eritroblast yang ditandai dengan sitoplasma
mengandung Hb (340/0), nukleus mengecil, dan RE direabsorbsi dan selanjutnya berubah
lagi menjadi eritroblast. Pada tahap ini, nukleus mengalami fragmentasi dan autolisis,
sitoplama banyak mengandung Hb dan berwama merah. Pada tahap akhir akan terbentuk
sel retikulosit sebab eritrosit sudah tanpa inti, menghasilkan Hb terus-menerus dalam
jumlah kecil selama 3 hari dan akhimya membentuk eritrosit matang setelah berada di luar
sumsum tulang, berbentuk bulat pipih dan bikonkaf.
Eritropoeiesis sangat dipengaruhi oleh hormon eritropoitin. Ginjal mensekresikan
REF (renal errtropoeitin factor} yang segera akan dibawa menuju ke hati untuk mengubah
eritropoitinogen menjadi eritropoeitin. Eritropoeitin menyebabkan terjadinya peningkatan
kecepatan pembelahan sel hemositoblast.
Eritrosit matang tidak mempunyai inti, mitokondria, ataupun RE, tetapi mempunyai

enzim sitoplasma yang mampu memetabolisme glukosa meialui proses glikolitik untuk
membentuk ATP. ATP diperlukan untuk menjaga kehidupan eritrosit dan kelenturan
membran sel. Seiring pertambahan waktu, sistem metabolisme menjadi kurang aktif
sehingga mengakibatkan kerapuhan membran sel.

2. Alat Dan Bahan


1. Alat
Pipet eritrosit, Kamar hitung neubauer
2. Bahan
Darah anjing, Laruran hayem
3. Prosedur Kerja
1. Isaplah darah sampai garis tanda 0,5 tepat
2. Bersihkan kelebihan darah yang ada pada ujung pipet
3. Masukkan ujung pipet dalm larutan hayem sambil menahan darah pada garis tanda
tadi.pegang pipet dengan sudut 45 o dan larutan hayem dihisap perlahan lahan sampai
garis tanda 101. Hati hatilah jangan sampai terjadi gelembung udara
4. Angkatlah pipet dari cairan,tutp ujung pipet dengan ujung jari lalu lepaskan karet
penghisap
5. Kocoklah pipet selama 15-30 detik dengan menutup ujung pipet
4. Hasil
Dari pengamatan diatas hasilnya dapat dihitung sebagai berikut :
Kotak 1 :52
Kotak 2 :65
Kotak 3 :75
Kotak 4 :67
Kotak 5 :78
Jadi jumlah eritrosit dari anjing yang kami pakai untuk praktikum ini berjumlah:
RBC

= 52+65+75+67+78 x 10 x 200 x 5
= 3,37 x 10 6

5. Pembahasan
Eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 m dan
tidak berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam
sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa Hemoglobin (Ira P , 2012). Fungsi
utama dari eritrosit adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari
paru-paru ke jaringan. Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah
merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah
merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan membran sel
patogen, serta membunuhnya. (Maria K, 2009)
Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang dada, tulang
selangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari.
Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk.
Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat pembentukannya dan masuk ke
dalam sirkulasi darah. (Ira P, 2012). Sel darah merah yang sedang berkembang dalam
sumsum (eritroblas) memiliki nucleus (inti); inti memadat seiring Maturasi, dikeluarkan
sebelum sel darah merah lepas kedalam sirkulasi. (Atul mehta & Victor Hoffbrand, 2006)
Menghitung jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal
yang mudah karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil
sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer dengan
bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga
ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan sel-sel darah merah dihitung
di dalam kamar hitung yang bersakala atau berukuran kecil dengan jumlah 40 buah.

Pengenceran darah dengan larutan hayem menyebabkan lisis sel leukosit dan
trombosit sehingga memudahkan perhitungan jumlah sel eritrosit. Darah diencerkan 200x dan
sel eritrosit dihitung pada 5 bidang sedang di tengah pada kamar hitung Improved Neubauer.
Perhitungan jumlah eritrosit menggunakan pipet eritrosit (haemocytometer).
Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 1/400 mm kuatdrat,
tinggi kamar hitung 1/10 mm, sedangkan eritrosit yang dihitung dalam 5 x 16 bidang kamar
kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm kuatdrat. Faktor untuk mendapatkan
jumlah eritrosit dalam ul darah menjadi 5 x 10 x 200 = 10.000.
Pengenceran darah yang lazim dipakai untuk menghitung eritrosit ialah 20x tetapi
menurut keadaan (leukositas tinggi atau leucopenia) pengenceran itu dapat diubah sesuai
dengan keadaan itu. Pengaenceran dilakukan lebih tinggi pada leukositas dan lebih rendah
pada leocopenia.
Pada saat dilakukan percobaan bisa saja kita mendapatkan kesalahan, yang mana akan
sangat mempengaruhi hasil pemeriksaan, oleh karena itu ketelitian sangat diperlukan dalam
praktikum ini. Sumber kesalahan :

Jumlah darah/larutan Heyem yang diisap kedalam pipet tidak tepat.


Memakai pipet yang basah
Berkurangnya darah dalam pipet pada waktu penghapusan darah yang melekat pada

bagian luar ujung pipet.


Terjadinya gelembung udara dalam pipet pada waktu menghisap darah/larutan

pengencer.
Adanya bekuan darah
Darah tidak homogeny
Kamar hitung/kaca penutup kotor
Ada gelembung udara yang masuk pada waktu pengisian kamar hitung
Menghitung sel yang menyinggung garis batas tidak benar
Kaca penutup bergeser karena tersentuh oleh lensa mikroskop
Larutan pengencer kotor

Menghitung eritrosit tidak memakai lensa obyektif 40x sehingga kurang teliti
B. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
1. Dasar Teori
Hemoglobin (Hb) tersusun atas empat senyawa heme yang berikatan dengan rantai
globin yang berbeda. Ada beberapa jenis rantai globin, yaitu rantai , , dan . Hb
normal orang dewasa adalah Hb-A yang mengandung dua rantai dan dua rantai . Rantai

mengandung 141 asam amino dan terdapat 146 asam amino. Rantai dan disatukan
oleh unit heme yang mengandung asam amino histidin sebagai sisi perekat. Tiap unit heme
mengandung Fe sebagai pusatnya yang nantinya akan berikatan dengan O 2 dan setiap
molekul Hb mampu mengikat 4 molekul O 2. Hb berfungsi sebagai alat transportasi O 2 serta
membawa hasil akhir proses respirasi (CO 2). Hb merupakan komponen utama eritrosit.
Setiap eritrosit mengandung 640 juta molekul Hb Darah orang normal mengandung sekitar
15 gram Hb dalam setiap 100 ml darah dan setiap gram Hb dapat berikatan dengan
maksimum 34 ml O2.
Sintesis Hb berlangsung di dalam sumsum tulang. Langkah awal sintesis ini
dimulai dengan bergabungnya suksinil Ko-A, glisin, dan piridoksilat fosfat yang dikatalisis
oleh -ALAS (asam aminolevulinat sintetase) membentuk -ALA. Dengan bantuan enzim
-ALAD (aminolevulinat dehidratase), maka dua molekul -ALA akan membentuk
porfobilinogen. Porfobilinogen akan diubah menjadi.polipiril metan oleh enzim
porfobifinogen. Melalui katalis enzim uropofirinogen kosintetase, polipiril metan diubah
menjadi uroporfirinogen yang dapat mengalami modiflkasi membentuk kopropofirin.
Koproporfirin selanjutnya akan berubah menjadi protopofirin dengan bantuan enzim
protoporfirinogen oksidase. Selanjutnya enzim HS (heme sintetase) serta penempatan ion
Fe (yang dikatalisis oleh enzim ferokelatase) di pusat cincin porfirin, akan mengubah
protoforfirin menjadi heme.
Destruksi Hb menjadi Fe, globin, dan biliverdin terjadi di dalam hati dan limpa.
Protein globin akan masuk kembali dalam pool asam amino, sedangkan biliverdin akan
direduksi menjadi bilirubin. Ion Fe akan diangkut protein transferin plasma ke sumsum
tulang untuk digunakan kembali dalam biosintesis Hb.
Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menyebabkan suatu keadaan yang disebut
anemia. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menyebabkan oleh beberapa hal baik
faktor internal maupun faktor ekstemal. Faktor intemal yang mempengaruhi kadar Hb
darah adalah kurangnya kadar Fe dalam darah sehingga akan menghambat sisntesis Hb.
Untuk faktor ekstemal dapat disebabkan oleh adanya logam berat dalam darah dengan
konsentrasi tinggi sehingga mampu menginaktivasi enzim yang mengandung gugus sulfit
dan mampu menghambat sintesis Hb, proses kemoterapi (mampu menekan pertumbuhan
sel) serta penyinaran/radiasi
2. Alat Dan Bahan
3. Alat

Haemometer, Pipet kapiler, Botol penampung darah


4. Bahan
0,1 N HCI, Darah anjing, Akuades

3. Prosedur Kerja

Isilah tabung pengencer/pengukur hemometer dengan 0,1 N HCI sampai menunjukkan


angka 2

Hisaplah darah dengan pipet Hb sampai angkanya menunjukkan 20, hapuslah darah
yang melekat pada ujung pipet

Sebelum darah mengalami penjedalan, segera masukkan ke dalam tabung pengencer


hemometer yang teiah berisi 0,1 N HCI

Hisaplah HCI dalam tabung ke dalam pipet dan dikeluarkan lagi, ulangi sampai 3 kali

Diamkan selama 8 - 10 menit

Encerkan dengan akuades setetes demi setetes sambil diaduk dengan batang pengaduk,
sampai wamanya sesuai dengan wama standar

Bacalah angka yang sesuai dengan tinggi permukaan Isrutan darah ini (menunjukkan
kadar Hb)

4. Hasil
Dari pengamatan diatas hasilnya dapat dihitung sebagai berikut : 9,4 g/dl
( dibawah normal)

5. Pembahasan
Hemoglobin (Hb) adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi
sebagai media transport karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru dan oksigen dari
paru-paru ke jaringan. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah
berwarna merah. Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting
dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus
yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan
mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru.
Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya
gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut
anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan
tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan
akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.
Hemoglobin yang meningkat terjadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dehidrasi
yang menurun dipengaruhi oleh berbagai masalah klinis. Jumlah sel darah merah dan kadar
hemoglobin tidak selalu meningkat atau menurun bersamaan, sebagai contoh ; penurunan
jumlah sel darah merah disertai kadar hemoglobin yang sedikit meningkat atau normal terjadi
pada kasus anemia pernisiosa serta kadar sel darah merah yang sedikit meningkat atau normal
disertai dengan kadar hemoglobin yang menurun terjadi pada anemia difisiensi zat besi
(mikrositik). Pentingnya hemoglobin ini menyebabkan pemeriksaan kadar hemoglobin
memegang peranan penting dalam diagnosa suatu penyakit seperti anemia.
Prinsip kerja haemometer sahli adalah hemoglobin diubah menjadi asam hematin,
kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat itu. Cara
Sahli banyak dipakai di Indonesia, walau cara ini tidak tepat 100%, mengalami kurang darah
atau darahnya masih normal, pada pemeriksaan ini factor kesalahan kira-kira 10%,
kelemahan cara ini berdasarkan kenyataan bahwa asam hematin itu bukanlah merupakan
larutan sejati dan juga alat hemoglobimeter itu sukar distandarkan, selain itu tidak semua
macam hemoglobin dapat diubah hematin misalnya ; karboxyhemoglobin, methemoglobin,
sulfahemoglobin.
Faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin. Hal-hal yang dapat mempengaruhi
hasil pemeriksaan hemoglobin, antara lain sebagai berikut :

Reagen

Reagen adalah bahan pereaksi yang harus selalu baik kualitasnya mulai dari saat
penerimaan, semua reagen yang dibeli harus harus diperhatikan nomor lisensi kadaluarsanya,
keutuhan wadah atau botol atau cara transportasinya.

Metode
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang mengikuti perkembangan metode
pemeriksaan

dengan

pertimbangan

kemampuan

laboratorium

tersebut

dan

biaya

pemeriksaannya. Petugas laboratorium harus senantiasa bekerja dan mengacu pada metode
yang digunakan.

Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan meliputi ; cara pengambilan specimen, pengiriman specimen,
penyimpanan specimen, dan persiapan sampel.

Lingkungan
Dalam hal ini dapat berupa ; keadaan ruang kerja, cahaya, suhu kamar, kebisingan,
luas dan tata ruang.

Sampel
Kekeruhan dalam suatu sampel darah dapat mengganggu dalam fotokolorimeter dan
menghasilkan absorbensi dan kadar Hb yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kekeruhan
semacam ini dapat disbabkan antara lain oleh leukositosis, lipemia, dan adanya globulin
abnormal seperti pada macro iobulinemia (Dian Rakyat, 2006).
Pemeriksaan kadar hemoglobin sangat penting dilakukan dalam menegakan diagnosa
dari suatu penyakit, sebab jumlah kadar hemoglobin dalam setiap sel darah akan menentukan
kemampuan darah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh.
Pemeriksaan hemoglobin terdiri atas beberapa metode ; Metode Sahli. Metode
Kuprisulfat, Metode Tallsquit, dan Metode Cyanmethemoglobin,, dari keempat macam
metode di atas yang paling populer atau banyak digunakan adalah metode
cyanmethemoglobin, karena praktis atau mudah dikerjakan serta ketelitiannya lebih baik dari
pada tiga metode diatas.
C. Penghitungan Nilai Hematokrit
1. Dasar Teori
Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang
diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu
volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala

hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal
sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut disentrifus dengan kecepatan dan
waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding
tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya.
Hematokrit merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel
darah merah terhadap volum darah. Kata hematokrit berasal dari bahasa Yunani, yaitu hema
(berarti darah) dan krite (yang memiliki arti menilai atau mengukur). Secara harafiah,
hematokrit berarti mengukur atau menilai darah.
Hematokrit memiliki satuan menggunakan persen, contoh 42% (memiliki arti bahwa
terdapat 42 ml sel darah merah di dalam 100 ml darah).
Hematokrit digunakan untuk mengukur sel darah merah. Pengukuran ini dilakukan bila ada
kecurigaan penyakit yang mengganggu sel darah merah, baik berlebihan ataupun kekurangan.
Beberapa contoh penyakit yang menyebabkan hematokrit menurun, antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Anemia (kekurangan sel darah merah)


Perdarahan
Penghancuran sel darah merah
Kekurangan gizi atau malnutrisi
Konsumsi air yang berlebihan

Beberapa jenis penyakit atau kondisi yang dapat meningkatkan hemaokrit, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Penyakit jantung atau paru


Dehidrasi atau kekurangan cairan
Polisitemia vera
Hipoksia (keadaan rendah oksigen sehingga tubuh berupaya dengan meningkatkan
sel darah merah

2. Alat Dan Bahan


1. Alat
Mikrokapiler, sentrifus, pembaca hematokrit
2. Bahan
darah
3. Prosedur Kerja

1. Isilah tabung mikrokapiler yang khusus dibuat untuk penetapan mikrohematokrit


dengan darah.
2. Tutuplah ujung satu dengan penutuo khusus.
3. Masukkan tabung kapiler itu kedalam centrifuge khusus yang mencapai kecepatan
besar, yaitu lebih dari 16.000 rpm (centrifuge mikrohematokrit ).
4. Pusingkan selama 3 5 menit.
5. Bacalah nilai hematokrit dengan menggunakan grafik atau alat khusus

3. Hasil
Dari hasil praktikum didapatkan nilai hematokrit pada anjing adalah : 33 % ( dibawah
normal)

5. Pembahasan
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah
dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%).Pemeriksaan hematokrit dilakukan
dengan mengambil sampel darah dari pembuluh darah vena. Pengambilan darah dilakukan
dengan menggunakan jarum suntik. Darah yang sudah terambil akan dimasukan ke dalam
wadah khusus. Pemeriksaan dilakukan dengan sentrifugasi (memutar sampel dengan
kecepatan tinggi). Dengan sentrifugasi, sel darah merah akan terpisah dengan komponen
darah lainnya. Komponen sel darah merah ini yang digunakan untuk menghitung hematokrit.
Hematokrit menunjukkan persentase zat padat (kadar sel darah merah, dan Iain-Iain)
dengan jumlah cairan darah. Semakin tinggi persentase HMT berarti konsentrasi darah makin
kental. Hal ini terjadi karena adanya perembesan (kebocoran) cairan ke luar dari pembuluh
darah sementara jumlah zat padat tetap, maka darah menjadi lebih kental.Diagnosa DBD

(Demam Berdarah Dengue) diperkuat dengan nilai HMT > 20 %. Penurunan HMT terjadi
pada pasien yang mengalami kehilangan darah akut (kehilangan darah secara mendadak,
misal pada kecelakaan), anemia, leukemia, gagalginjal kronik, mainutrisi, kekurangan
vitamin B dan C, kehamilan, ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung) Peningkatan HMT
terjadi pada dehidrasi, diare berat,eklampsia (komplikasi pada kehamilan), efek pembedahan,
dan luka bakar, dan Iain-Iain.

D. Penghitungan Jumlah Leukosit


1. Dasar Teori
Pada mamalia dan unggas, pembentukan sel darah pertama kali terjadi di dalam
yolk sac. Sekitar pertengahan kehamilan, pembentukan sel darah terjadi di dalam beberapa
jaringan tubuh, misalnya sumsum tulang, hati, limpa, timus, dan nodus limpatikus.
Menjelang masa kelahiran sampai & dewasa, sumsum tufang pipih berperan utama dalam
hematopoeiesis tersebutBening, tidak berwama dengan bentuk yang lebih besar dad sel
darah merah, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Dalam tiap mm 3 terdapat 5000-10.000 sel
darah putih (dalam kondisi normal).
Leukosit memiliki peranan penting dalam pelindungan tubuh terhadap
mikroorganisme. Yang paling berperan dalam fungsi ini adalah sel granulusit dan monosit.
Dengan kemampuannya sebagai fagosit, mereka memakan bakteri hidup yang masuk ke
peredaran darah. Dan dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di da!
am dan dapat keluar dari pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh.
Apabila kurang 1 lebih dari keadaan normal, dapat terjadi keadaan antara lain :
a. Leukositosis : penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah, yaitu jika
penambahan melampaui 10.000 butir / mm 3.
b. Leukopenia

: berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau kurang.

c. Limfositosis : penambahan jumlah limfosit,


d. Agranulositosis

2. Alat Dan Bahan


1. Alat

: penurunan jumlah granulosit atau sel polimorfnuklear

Pipet eritrosit, Kamar hitung neubauer


2. Bahan
Darah anjing, Laruran turk
3. Prosedur Kerja

Darah dihisap sampai angka menunjukkan 1,0 pada mikropipet dan ujungnya
dibersihkan dengan kertas hisap

Hisaplah larutan Turk (yang dituangkan terlebih dahulu ke dalam tabung) sampai
menunjukkan angka 11

Lepaskan pipet karet dari mikropipet, tutuplah kedua ujung mikropipet dengan jari dan
kocoklah selama 2 menit

Buanglah 2 - 3 tetes cairan pada ujung mikropipet, selanjutnya letakkan ujung


mikropipet ke Improved Neubauer dan tuangkan cairan darah yang ada Letakkan di
bawah permukaan mikroskop (dengan pembesaran lemah, carilah bilik hitung
Improved Neubauer, kemudian dengan pembesaran kuat) dan hitunglah semua jumlah
leukosit yang terdapat di dalam bujur sangkar pojok

Jadi jumlah bujur sangkar yang dihitung sebanyak 4 x 16 = 64, dengan setiap sisinya
mm

Cara penghitungan (diamati pada pembesaran mikroskop 10 x 10) :


Jumlah bujur sangkar yang dihitung

= 64 kali

Volume setiap bujur sangkar

= 1/160 mm3

Darah yang diencerkan

= 10 kali

Jumlah leukosit yang terhitung

=L

Maka jumlah leukosit per mm 3

= L/64 x 160 x 10

4. Hasil
dari praktikum yang dilakukan dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
Kotak 1 :185
Kotak 2 :121
Kotak 3 :108

Kotak 4 :110
Jadi, jumlah leukosit dari anjing yang kami pakai untuk praktikum ini berjumlah:
WBC = (185+121+108+110) /4 x 10 x 20
=26,2 x 10 3

5. Pembahasan
Leukosit berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan kytos yang
berarti sel. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh yang terdiri dari
neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit (Guyton 2008). Leukosit adalah sel darah
yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih (Effendi 2003), bergerak bebas secara
ameboid, berfungsi melawan kuman secara fagositosis, dibentuk oleh jaringan retikulo
endothelium di sumsum tulang untuk granulosit dan kelenjar limpha untuk agranulosit (LIPI,
2009). Setelah dibentuk, sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh
untuk digunakan.
Fungsi leukosit adalah sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda asing yang
masuk ke dalam tubuh. Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme
penyerang terutama dengan cara mencernanya, yaitu melalui fagositosis.

Fungsi utama

limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun yaitu produksi antibodi (Guyton
2008).
Kondisi yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan fisiologis yang akan
berakibat juga pada perubahan nilai hematologi. Sebagai contoh, hewan yang terkena infeksi
bakteri secara akut akan memperlihatkan perubahan suhu tubuh.

Perubahan ini akibat

aktivitas sistem kekebalan tubuh yang bekerja melawan agen penyakit. Jika dilihat dari nilai
hematologi, jumlah leukosit dalam darah akan mengalami peningkatan (Maruf et al. 2005).

Respon leukosit muncul pada keadaan fisiologis normal dan patologis.Manifestasi


respon leukosit berupa penurunan atau peningkatan salah satu atau beberapa jenis sel
leukosit. Informasi ini dapat memberikan petunjuk terhadap kehadiran suatu penyakit dan
membantu dalam diagnosa penyakit yang diakibatkan oleh agen tertentu (Jain 1993).
Peningkatan jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses
infeksi atau radang akut, misalnya pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput
otak), apendiksitis (radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan Iain-Iain. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya aspirin, prokainamid, alopurinol, antibiotika
terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan Iain-Iain.
Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi pada infeksi tertentu
terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan obatobatan, terutama asetaminofen (parasetamol),kemoterapi kanker, antidiabetika oral,
antibiotika (penicillin, cephalosporin, kloramfenikol), sulfonamide (obat anti infeksi terutama
yang disebabkan oleh bakter).
E. Penghitungan Jumlah Jenis Leukosit
1. Dasar teori
Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya bersifat
mampu bergerak pada keadaan tertentu. Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya
dalam pembuluh darah, sedangkan leukosit mampu keluar dari pembuluh darah menuju
jaringan dalam menjalankan fungsinya. Jumlah seluruh leukosit jauh di bawah eritrosit, dan
bervariasi tergantung jenis hewannya. Fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu
cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya: stress, aktivitas fisiologis, gizi, umur, dan lainlain. Jumlah leukosit yang menyimpang dari keadaan normal mempunyai arti klinik penting
untuk evaluasi proses penyakitMasa hidup sel darah putih pada hewan domestik sangat
bervariasi mulai dari beberapa jam untuk granulosit, bulanan untuk monosit bahkan tahunan
untuk limfosit (Frandson, 1992).
Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini
sebagian dibentuk di sumsum tulang (granulosit, monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian
lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut
dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan Kebanyakan sel darah putih
ditranspor secara khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius
(Guyton, 1983).

Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Dilihat
dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang
dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai
bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan
inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Granula dianggap spesifik bila secara tetap terdapat
dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya) (Effendi, 2003).
Ada enam macam sel darah putih yang secara normal ditemukan dalam darah yaitu
netrofil polimorfonuklir, eosinofil polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit
dan kadang-kadang sel plasma. Selain itu terdapat sejumlah besar trombosit, yang merupakan
pecahan dari tipe ketujuh sel darah putih yang dijumpai dalam sumsum tulang,n yaitu
megakariosit (Guyton, 1983).
Sel - sel polimorfonuklir seluruhnya mempunyai gambaran granular sehingga disebut
granulosit. Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama
dengan cara mencernanya yaitu melalui fagositosis. Fungsi pertama sel limfosit dan sel-sel
plasma berhubungan dengan sistem imun. Fungsi trombosit erutama mengaktifkan
mekanisme pembekuan darah. Pada manusia dewasa dapat dijumpai sekitar 7000 sel darah
putih per mikroliter darah. Presentase normal dari sel darah putih yaitu netrofil
polimorfonuklir 62%, eosinofilpolimorfonuklir 2,3%, basofil polimorfonuklir 0,4%, monosit
5,3%, dan limfosit 30%. (Guyton, 1983).
Jenis jenis Leukosit
1 Granulosit
Granulosit memiliki granula kecil di dalam protoplasmanya, memiliki diameter
sekitar 10 -12 mikron. Berdasarkan pewarnaan granula, granulosit dibagi menjadi tiga
kelompok berikut :
Neutrofil memiliki granula yang tidak bewarna, mempunyai inti sel yang terangkai,
kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus atau granula,
serta banyaknya sekitar 60 -70 % (Handayani, 2008).Neutrofil merupakan leukosit darah
perifer yang paling banyak. Sel ini memiliki masa hidup singkat, sekitar 10 jam dalam
sirkulasi. Sekitar 50 % neutrofil dalam darah perifer menempel pada dinding pembuluh
darah. Neutrofil memasuki jaringan dengan cara bermigrasi sebagai respon terhadap
kemotaktik (Hoffbrand, 2006)

Eosinofil memiliki granula bewarna merah dengan pewarnaan asam, ukuran dan
bentuknya hampir sama dengan neutrofil, tetapi granula dalam sitoplasmanya lebih besar,
banyaknya kira-kira 24 % (Handayani, 2008) Sel ini sangat penting dalam respon terhadap
penyakit parasitik dan alergi. pelepasan isi granulnya ke patogen yang lebih besar membantu
dekstruksinya dan fagositosis berikutnya (Hoffbrand, 2006). Fungsi utama eosinofil adalah
detoksifikasi baik terhadap protein asing yang masuk ke dalam tubuh melalui paru-paru
ataupun saluran cerna maupun racun yang dihasilkan oleh bakteri dan parasit. Eosinofilia
pada hewan domestik merupakan peningkatan jumlah eosinofil dalam darah. Eosinofilia
dapat terjadi karena infeksi parasit, reaksi alergi dan kompleks antigen-antibodi setelah
proses imun (Frandson, 1992)
Basofil memiliki granula bewarna biru dengan pewarnaan basa, sel ini lebih kecil
daripada eosinofil, tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur, di dalam protoplasmanya
terdapat granula-granula yang besar, banyaknya kira-kira 0,5 % di sumsum merah
(Handayani, 2008) Jumlah basofil di dalam sirkulasi darah relatif sedikit. Di dalam sel basofil
terkandung zat heparin (antikoagulan). Heparin ini dilepaskan di daerah peradangan guna
mencegah timbulnya pembekuan serta statis darah dan limfe, sehingga sel basofil diduga
merupakan prekursor bagi mast cell. Basofilia meupakan peningkatan jumlah basofil dalam
sirkulasi. basofilia pada hewan domestik dapat terjadi karena hipotirodismus ataupun
suntikan estrogen. Penurunan jumlah sel basofil dalam sirkulasi darah atau basopenia dapat
terjadi karena suntikan corticosteroid pada stadium kebuntingan (Frandson, 1992).
2. Agranulosit
Limfosit memiliki nucleus besar bulat dengan menempati sebagian besar sel limfosit
berkembang dalam jaringan limfe. Ukuran bervariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron.
Banyaknya 20-25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri masuk ke dalam
jaringan tubuh. Limfosit ada 2 macam, yaitu limfosit T dan limfosit B (Handayani, 2008)
Sistem imun tubuh terdiri atas dua komponen utama, yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel B
bertanggung jawab atas sintesis antibodi humoral yang bersirkulasi yang dikenal dengan
nama imunoglobulin. Sel T terlibat dalam berbagai proses imunologik yang diperantarai oleh
sel. Imunoglobulin plasma merupakan imunoglobulin yang disintesis di dalam sel plasma. Sel
plasma merupakan sel khusus turunan sel B yang menyintesis dan menyekresikan imonoglobulin ke dalam plasma sebagai respon terhadap pajanan berbagai macam antigen (Murray,
2003)

Monosit memiliki ukuran yang lebih besar daripada limfosit, protoplasmanya besar,
warna biru sedikit abu-abu, serta mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Inti selnya
bulat atau panjang. Monosit dibentuk di dalam sumsum tulang, masuk ke dalam sirkulasi
dalam bentuk imatur dan mengalami proses pematangan menjadi makrofag setelah masuk ke
jaringan. Fungsiya sebagai fagosit. Jumlahnya 34% dari total komponen yang ada di sel darah
putih (Handayani, 2008) Monosit adalah leukosit terbesar yang berdiameter 15 sampai 20 m
dan berjumlah 3 sampai 9% dari seluruh sel darah putih. Terdapat kesulitan dalam identifikasi
monosit dengan adanya bentuk transisi antara limposit kecil dan besar, karena terdapat
kemiripan satu sama lain. keadaan ini jelas bila mempelajari sediaan ulas darah sapi. Uraian
tentang bentuk transisi akan diberikan pada pembahasan tiap spesies yang berbeda.
Sitoplasma monosit lebih banyak dari limfosit, dan berwarna biru abu-abu pucat. Sering
tampak adanya butir azurofil halus seperti debu. Inti berbentuk lonjong , seperti ginjal atau
mirip tapal kuda, jelasnya memiliki lekuk cukup dalam. Kromatin inti mengambil warna
lebih pucat dari limfosit. Inti memiliki satu sampai tiga nukleus, tetapi tidak tampak pada
sediaan ulas yang diwarnai. Monosit darah tidak pernah mencapai dewasa penuh sampai
bermigrasi ke luar pembuluh darah masuk jaringan. Selanjutnya dalam jaringan menjadi
makrofag tetap, seperti pada sinusoid hati, sumsum tulang, alveoli paru-paru, dan jaringan
limfoid. Sering terletak berdekatan dengan endotel pembuluh darah. Dalam jaringan limfoid
sumsum tulang dan sinusoid hati, makrofag tetap lazimnya melekat pada penjuluran dendritik
dari sel retikuler

3. Alat dan bahan


1. Alat
mikroskop, gelas objek, gelas penutup,
2. Bahan
methanol absolute, alkohol 70 %, tisu, pewarna Gimsa , minyak imerasi dan air
mengalir.
3. Prosedur kerja
1. Dibersihkan gelas objek dengan menggunakan alkohol 70 % ( untuk membuang
lemak yang menempel ), selanjutnya dikeringkan dalam suhu kamar.

2. Darah diteteskan pada ujung gelas objek I, kemudian diambil gelas objek ke II,
disentuhkan di ujung tetesan darah membentuk sudut 45C, lalu dihapuskan ke arah
depan.
3. Preparat darah didiamkan sampai kering pada suhu kamar, difiksasi dengan methanol
absolute 5 menit dengan cara memasukkan gelas objek ke dalam bekker gelas yang
telah diisi dengan methanol absolute sampai semua apusan darah terendam dalam
methanol.
4. Preparat dikeringkan dalam suhu kamar. Setelah kering preparat diwarnai dengan
larutan Gimsa 7 % selama 20 menit.
5. Dicuci preparat dengan air mengalir dan dikeringkan dalam suhu kamar.
6. Apusan darah ditetesi dengan 1 tetes minyak imersi dan ditutup dengan gelas penutup,
kemudian diferensial leukosit ( presentase neutrofil, limfosit, monosit, eusinofil dan
basofil ) dihitung dibawah mikroskop.

4. Hasil

No

Jenis Leukosit

Jumlah

% presentase

Basofil

3%

Neutrofil

6%

Eusinofil

7%

Limfosit

80

80 %

Monosit

4%

Perhitungan :
Persentase =

jumla h leukosit
x 100
jumla h total keseluru h an

1. Neutrofil = 6 x 100 = 600 = 0,6 x 103 l


2. Eosinofil = 7 x 100 = 700 = 0,7 x 103 l
3. Basofil
= 3 x 100 = 300 = 0,3 x 103 l

4. Limfosit
5. Monosit

= 80 x 100 = 8000 = 8 x 103 l


= 4 x 100 = 400 = 0,4 x 103 l

5. Pembahasan
Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Di
dalam darah manusia normal, didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9sel/mm, bila
jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dleukopenia.
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granu (granulosityang
dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti
yang bervariasi, yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk
bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil, sitoplasma
sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenis
leukosir granular : Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (atau eosinofil) yang dapat dibedakan
dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam. Granula dianggap spesifik
bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor
(pra zatnya)..
Peningkatan jumlah monosit (disebut monositosis) dapat dijumpai pada : penyakit
virus (mononucleosis infeksiosa, parotitis, herpes zoster), penyakit parasitic (demam bintik
Rocky Mountain, toksoplasmosis, bruselosis), leukemia monositik, kanker, anemia (sel sabit,
hemolitik), SLE, arthritis rheumatoid, colitis ulseratif. Penurunan jumlah monosit dapat
dijumpai pada leukemia limfositik, anemia aplastik.
Limfosit berperan penting dalam respons imun sebagai limfosit T dan limfosit B.
Dalam keadaan normal, jumlah limfosit berkisar 25-35 % atau 1.7-3.5 x10^3/mmk. Jumlah
limfosit meningkat (disebut limfositosis) terjadi pada infeksi kronis dan virus. Limfositosis
berat umumnya disebabkan karena leukemia limfositik kronik. Limfosit mengalami
penurunan jumlah (disebut leukopenia) selama terjadi sekresi hormon adenokortikal atau
pemberian terapi steroid yang berlebihan.
Peningkatan jumlah limfosit dijumpai pada leukemia limfositik, infeksi virus
(mononucleosis infeksiosa, hepatitis, parotitis, rubella, pneumonia virus, myeloma multiple,
hipofungsi adrenokortikal.Penurunan jumlah limfosit dijumpai pada kanker, leukemia,

hiperfungsi adrenokortikal, agranulositosis, anemia aplastik, sklerosis multiple, gagal ginjal,


sindrom nefrotik, SLE.
Dalam keadaan normal, basofil dijumpai dalam kisaran 0- 0,1 %. Peningkatan jumlah
basofil (disebut basofilia) dapat dijumpai pada proses inflamasi, leukemia, tahap
penyembuhan infeksi atau inflamasi, anemia hemolitik didapat. Penurunan jumlah dapat
dijumpai pada stress, reaksi hipersensitivitas, kehamilan, hipertiroidisme.
Leukosit agranulosit

Tidak mempunyai granul


Besar kurang lebih 12-15 mikron,terdiri dari:
1. Limphosit yaitu intinya hampir sebesar dari selnya sendiri,jumlahnya 18 %.
2. Monosit yaitu leukosit agranular dengan dua macam inti,ginjal (kacang merah)
dan tapal kuda,jumlah 13%.

KESIMPULAN
Eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 m dan
tidak berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam

sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa Hemoglobin (Ira P , 2012). Fungsi
utama dari eritrosit adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari
paru-paru ke jaringan.
Hemoglobin (Hb) adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi
sebagai media transport karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru dan oksigen dari
paru-paru ke jaringan. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah
berwarna merah. Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting
dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus
yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan
mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah
dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%). Hb dan Ht nilainya berbanding
lurus, jadi penyakit yang menyebabkan Hb turun maka Ht juga akan turun
Leukosit memiliki ciri-ciri yaitu : tidak berwarna (bening), bentuknyapun tidak tetap,
berinti, serta ukurannyapun lebih besar dari pada sel darah merah.Leukosit dibedakan
menjadi dua yaitu : Agranular dan Granular,agranular terdiri dari Neutrophil, Eosinophil,
Basophil dan granular terdir dari : Limphosit, Monosit

DAFTAR PUSTAKA

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi 4.Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Laboratorium Patologi Klinik FK-UGM. 1995.Tuntunan Praktikum Hematologi, Bagian
Patologi Klinik FK-UGM. Yogyakarta.
R. Gandasoebrata. 1992Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat, Bandung.
Sadikin, M. 2001. Biokimia Darah. Widya Medika. Jakarta.
Hoffbrand, A.V & Pettit, J.E, 1996. Penuntun Praktikum. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Anonym. 2000. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana esdisi 2 FKIU Jakarta.
Corwin. 2000. Berorientasi Pada kasus Klinik. Penerjemah H. K Nutojo dalam catatan Kuliah
Hematologi . Jakarta ECG.
Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Gibson J. 2002. Fisiologi Dan Anatomi Modern Untuk Perawat. Edisi 2, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Hardjoeno H. 2003. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Dianognostik. Hasanuddin
Universitas Press. Makassar.
Kee L. J. 1997.Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnosis Dengan Implikasi
Keperawatan. EGC, Jakarta.
Kee L. J. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diognostik. Edisi 6, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
www.blogdokter.net/2008/06/130/hemoglobin/diakses pada tanggal 29/05/2015.
www.hemoglobin-wikipedia-bahasa-indonesia,com/diakses pada tanggal 29/05/2015.