Anda di halaman 1dari 6

Ngengat dan

kupu-kupu
Esti dan Delfi adalah dua ekor ulat bulu yang tinggal di hutan yang indah. Mereka
bersahabat baik dan melakukan segala sesuatu bersama. Berguling-guling di rumput,
saling memburu naik dan turun pohon, dan mengunyah daun muda.
Pada suatu hari tibalah saatnya bagi Esti dan Delfi untuk membuat kepompong.
Karena ingin berada dekat dengan satu sama lain, kedua sahabat itu memilih
daun yang berbeda tetapi pada cabang yang sama, kemudian mulai membuat
kepompong lalu jatuh tertidur.
Waktu telah berlalu ketika Esti terjaga dan merasakan dorongan kuat untuk
keluar dari kepompongnya. Dengan segenap tenaga, dia mendorong dan menggeliat
serta menendang hingga dia bebas merdeka.
Menyenangkan sekali! serunya. Udara terasa segar! Alangkah nikmatnya!
Esti mencari Delfi. Delfi! Kamu masih di situ? tanyanya. Mengelilingi kepompong
Delfi, dia mendapati kepompong itu belum terbuka, jadi dia menantikan temannya.
Persis sebelum matahari terbenam kepompong Delfi mulai bergerak. Setelah
bergumul beberapa menit lamanya, Delfi keluar.
Hai! Esti menyalami temannya. Kamu terlihat berbedaapa yang terjadi
denganmu?
Kamu juga terlihat berbeda dari terakhir kita bertemu, jawab Delfi. Tetapi
lihatlah kita sama-sama punya sayap.

Oh, ya, kata Esti sambil mengepak-ngepakkan


sayapnya. Pasti terbang sangat menyenangkan!
Setelah meregang dan melatih sayap mereka, Esti dan
Delfi melepaskan diri dari cabang di mana mereka berpijak
dan dengan senang hati mendapati bahwa sayap itu
bukan hanya membuat mereka tetap berada di udara
tetapi juga memungkinkan mereka untuk bergerak
dengan cepat dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mengasyikkan sekali dapat bergerak dengan bebas setelah
istirahat panjang.
Aku sudah siap untuk bersenang-senang?, kata Delfi.
Ayo kita bertualang lagi? Sebetulnya, aku sangat lelah,
jawab Esti. Hari sudah gelap, rasanya aku mau tidur.
Oh kalau begitu, sampai nanti, kata Delfi. Kemudian
dia terbang pergi.
Esti menemukan tempat bernaung di bawah daun yang
besar dan jatuh tertidur.
d
Keesokan paginya, Esti terjaga ketika hari masih dini, siap
untuk bersenang-senang.
Selamat pagi, Delfi. Nyenyakkah tidurmu? Aku
tidur nyenyak, kata Esti dengan riang gembira kepada
Delfi, yang baru saja mendarat di cabang yang ada di
sebelahnya.
Aku belum tidur sama sekali, kata Delfi. Aku terjaga
sepanjang malam sekarang aku mengantuk sekali.
Oh. Mungkin kita bisa bermain bersama sewaktu
kamu bangun.

Seraya hari berganti, Esti dan


Delfi mendapati jadwal mereka
berbeda. Esti tidur di malam hari
dan Delfi tidur pada waktu siang
hari, jadi kedua sahabat itu tidak
menghabiskan waktu bersama
seperti dulu. Tetapi setiap hari,
menjelang matahari terbenam, Esti
dan Delfi meluangkan waktu saling
bercerita tentang petualangan mereka
atau bermain umpet-umpetan di
antara dedaunan pohon-pohon besar.
Pada suatu hari keduanya terbang
di atas kolam dan mendarat pada
sehelai daun lili dan melihat pantulan diri
mereka di air.
Lihatlah sayapku bercorak aneka rupa
dan berwarna-warni, Esti berseru kegirangan.
Namun Delfi tidak gembira dengan pantulan
dirinya. Tubuhnya besar dan berbulu, dan warna
sayapnya coklat dan biasa saja. Ia telah menjadi
ngengat, bukannya kupu-kupu yang indah
seperti Esti. Delfi mulai berlinang air mata. Aku
bukan apa-apa, aku hanyalah seekor ngengat
buruk rupa!
Esti merasa tidak enak karena Delfi begitu sedih.
Apa yang bisa kulakukan untuk membuat Delfi
merasa lebih baik? Esti mencoba mengalihkan
pembicaraan. Ayo Delfi! Ayo! Coba tangkap aku!
katanya sambil terbang pesat ke cabang di atasnya.

Delfi menengadah melihat kepada temannya. Esti terlihat sangat cepat dan anggun sewaktu terbang. Aku merasa
janggal dan lamban!
Ini bahkan membuat dirinya semakin sedih.
Tidak, aku tidak ingin bermain sekarang, gerutunya.
Esti berdoa kepada sang Pencipta, Pencipta, tolonglah Delfi agar menjadi gembira lagi! Dia adalah sahabatku.
Tolonglah lakukan sesuatu untuk menolong dia.
Sang Pencipta mendengar doa Esti dan berkata, Aku punya gagasan apa yang dapat kamu lakukan untuk
membantu Delfi merasa bersyukur tentang bagaimana Aku menciptakan dirinya.
Esti menghampiri Delfi. Terima kasih, kamu sudah menjadi sahabatku yang paling baik, katanya berusaha
membesarkan semangat Delfi.
Tiba-tba angin kencang meniup Esti!
Oh, Delfi! Delfi! Tolong aku! Angin kencang menerjangku! serunya.
Tanpa ragu-ragu, Delfi berusaha menolong Esti. Dia terbang secepat mungkin dan berhasil mengejar Esti. Menyambar
kakinya, Delfi menarik Esti ke balik batu sehingga terlindung dari angin yang kencang itu.
Esti sangat bersyukur atas sahabatnya yang sudah menyelamatkan dirinya.

Terima kasih banyak Delfi! Aku senang sekali kamu adalah sahabatku! Seandainya kamu sekurus dan seringan aku, kita
berdua pasti sudah binasa. Untung sang Pencipta menciptakan kamu lebih kuat sehingga angin tidak dapat menyapu kamu
dengan begitu mudah!
Dia benar, pikir Delfi. Harusnya aku bersyukur bagaimana aku diciptakan!
Tidak jauh dari situ seorang anak kecil berlari-lari sambil membawa jaring untuk menangkap kupu-kupu. Mengamati bungabunga kemuning, dia melihat sayap Esti yang berwarna cerah sewaktu dia hinggap di kelopak bunga.
Anak itu berlari mendekati Esti, mengayunkan jaringnya dan mencoba untuk menangkap Esti. Delfi berseru, Awas, Esti!
Cepat! Sembunyi!
Esti cepat-cepat terbang
pergi. Delfi mencoba mengalihkan perhatian anak
itu, berusaha agar anak itu
mengejar dirinya.
Dalam keributan itu,
Esti bergegas bersembunyi
di balik semak-semak
dan anak itu tidak
dapat melihat dirinya
lagi. Setelah mencari-cari
sebentar, akhirnya anak itu
menyerah dan pergi.
Sekali lagi Esti mengutarakan rasa syukurnya
kepada Delfi: Terima kasih.
Warnaku terlalu banyak
menarik perhatian. Kamu
menyelamatkan nyawaku
lagi!
Sang Pencipta tersenyum.
Rencana itu berhasil. Satu
contoh lagi, kata-Nya.

Keesokan harinya, menjelang malam,


ketika Esti dan Delfi bertemu lagi, mereka
berdua bertengger pada sebatang ranting
yang rendah menikmati detik-detik terakhir
sinar matahari. Seekor kadal datang mencari
makanan lezat. Melihat ngengat dan
kupu-kupu, si kadal memutuskan untuk
menyantap ngengat karena lebih mantap
daripada kupu-kupu. Dia melompat dan
menyambar Delfi dengan mulutnya! Namun
dengan segera, ia memuntahkan Delfi lagi.
Oh! Aku tidak suka yang ini, si kadal
berseru. Mana yang satu lagi? Dia mencaricari Esti, tetapi Esti sudah terbang. Dan
mereka berdua sekali lagi luput dari bencana!
Kedua sahabat itu menarik nafas lega.
Sejak saat itu, Delfti sudah tidak lagi
berandai-andai dirinya sebagai seekor kupukupu. Dia sangat gembira bagaimana sang
Pencipta menciptakan dirinya, dan karena
kwalitas lainnya yang telah diberikan-Nya,
dan Delfi sangat bersyukur!
Esti dan Delfi tetap bersahabat erat hingga
akhir hayat mereka.
Contributed by Aaliyah Smith,
adapted from a story by Tom E.
Illustrations by Nicole. Colors by Catherine Lynch. Design
by Stefan Merour.
Published by My Wonder Studio.
Copyright 2013 by The Family International