Anda di halaman 1dari 13

Telaah Semantik Leksikal Bahasa Sunda Dialek Tasikmalaya

1.

Pendahuluan

1.1

Latar Belakang
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang

laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa

dan

bersuku-suku

supaya

kamu

saling

kenal

mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. Alhujuraat:13).
Firman Allah SWT dalam ayat Al-Quran di atas memberikan
pertanda bahwa keberadaan manusia yang berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku merupakan kehendak-Nya dan memang benar adanya. Dari
sekian banyak bangsa di dunia salah satunya adalah bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan dari setiap suku
bangsa memiliki bahasa tersendiri yang membedakannya dengan suku
bangsa

yang

lain.

Lembaga

Bahasa

Nasional

yang

melakukan

penginventarisasian bahasa-bahasa di Indonesia mulai 1969 s.d 1971,


dalam laporannya (1972) menyebutkan angka 418 buah bahasa; Grimes
(2000) menyebutkan ada 672 buah bahasa; Summer Institute of
Linguistics/SIL (2006) menyebut angka 741 bahasa; Pusat Bahasa (2008)
menyebut angka 442.
Keberadaan bahasa daerah berkaitan erat dengan eksistensi suku
bangsa yang menggunakan bahasa tersebut. Bahasa daerah pada saat ini
lebih banyak dipergunakan oleh penduduk suku bersangkutan yang
kebanyakan bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, ataupun
kota-kota kecil, serta daerah urban. Kelestarian, perkembangan, dan
pertumbuhan bahasa daerah sangat tergantung dari komitmen para
penutur atau pengguna bahasa tersebut untuk senantiasa secara sukarela
mempergunakan bahasanya dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Jika
penutur suatu bahasa daerah masih berjumlah banyak, dan merekapun
menurunkan bahasa daerah yang dikuasainya kepada anak-anak dan
generasi remaja, maka kelestarian bahasa yang bersangkutan akan lebih

terjamin dalam jangka panjang. Sebaliknya, jikalau penutur suatu bahasa


daerah semakin berkurang dan tidak ada upaya regenerasi kepada
generai muda, maka sangat besar kemungkinan secara perlahan-lahan
akan terjadi gejala degradasi bahasa yang mengarah kepada musnahnya
suatu bahasa daerah.
Bahasa sunda merupakan salah satu bahasa daerah yang dituturkan
oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan jumlah penutur
terbanyak

kedua

setelah

bahasa

Jawa.

Sesuai

dengan

sejarah

kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di kawasan selatan provinsi


Banten, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura
yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini
semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di
wilayah Brebes, Jawa Tengah.
Ada

beberapa

dialek

dalam

bahasa

Sunda.

Dialek

(basa

wewengkon) bahasa terdiri dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek


Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar
bahasa membedakan enam dialek yang berbeda. Keenam dialek tersebut
adalah dialek barat, dialek utara, dialek selatan, dialek tengah timur,
dialek timur laut, dan dialek tenggara.
Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan, dialek utara
mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian
Pantura, dialek Selatan adalah dialek priangan yang mencakup kota
Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek
di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan,
dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan
akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Tasikmalaya bagian selatan
dan Ciamis.
Dialek

berhubungan

erat

dengan

pembendaharaan

leksikon.

Leksikon merupakan satuan terkecil yang mengandung makna. Makna


hadir dari leksikon secara otonom (semantik leksikal). Sedangkan makna
kata yang hadir akibat adanya hubungan gramatikal disebut semantik
kalimat. Semantik kalimat lazim disebut semantik/makna gramatikal.
Istilah makna gramatikal dalam penelitian ini dapat disamakan dengan

makna struktural. Makna struktural adalah makna yang muncul akibat


susunan kata-kata. Ciri yang membedakan makna struktural yang
diterima oleh pemakainya membentuk tata bahasa sebuah bahasa.
Dengan demikian, kegramatikalan atau ketatabahasaan sebuah kalimat
ditentukan oleh makna runtunan yang diterima oleh pemakainya (Parera,
1991:99).
Tujuan

diadakannya

peneltian

ini

guna

menginventarisasi

pembendaharaan leksikon bahasa Sunda daerah Tasikmalaya. Itu juga


mencakup tataran kata, frasa, dan kalimat. Dan penelitian ini berfokus
pada variasi leksikon dalam bahasa sunda. Target atau sasaran penelitian
ini mencakup aspek kata, frasa dan kalimat. Oleh karena itu seperti yang
sudah disinggung di atas bahwa semuanya tercakup dalam semantik
leksikal dan semantik kalimat. Menurut Aminuddin (2008:19) bahwa
bahasa memiliki sifat vaguenes karena makna yang terkandung di dalam
suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya mewakili realitas yang diacunya.
Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar, tidak akan
setepat dan sejelas dibandingkan dengan bersama-sama mengamati
secara langsung aneka warna bunga mawar. Dengan demikian, hal
tersebut bisa disebut juga makna gramatikal yang mengalami pergeseran
makna dari makna leksikal. Misalnya saja kata bunga berkaitan dengan
bunga-bungaan. Akan tetapi dalam frasa bunga desa akan memiliki
makna yang lain.
Sebelumnya, penelitian tentang semantik pernah dilakukan oleh
Azhar (2008) tentang Analisis Semantik Bahasa Melayu Dialek Bandar
Khalipah (tesis USU). Akan tetapi dalam bahasa Sunda penelitian sejenis
disinyalir masih langka. Oleh karena itu penyelidikan bahasa mengenai
telaah semantik khusunya bahasa Sunda penting untuk dilaksanakan.
1.2

Rumusan Masalah
Penelitian ini akan merumuskan beberapa pertanyaan penelitian

sebagai berikut:
1.

Bagaimanakah semantik leksikal dalam bahasa Sunda dialek

Tasikmalaya?

2.

Bagaimanakah semantik kalimat dalam bahasa Sunda dialek

Tasikmalaya?
1.3

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:

1.

Mendeskripsikan semantik leksikal dalam bahasa Sunda dialek

Tasikmalaya.
2.

Mendeskripsikan semantik kalimat dalam bahasa Sunda dialek

Tasikmalaya.
1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat:

1.

Mengembangkan semantik leksikal dan semantik kalimat dalam


bahasa daerah khusunya bahasa Sunda.

2.

Sebagai pedoman dan pengembangan konsep bagi peneliti lain


untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

2.

Landasan Teori

2.1

Pengertian Semantik
Semantik merupakan studi ilmiah mengenai makna. Kata semantik

berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti tanda atau
lambang. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau
melambangkan. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini adalah
tanda linguistik (signe) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de
Saussure, yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang
berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan
atau makna dari komponen yang pertama itu. Jadi, setiap tanda linguistik
terdiri dari unsur bunyi dan makna. Keduanya merupakan unsur dalam

bahasa

(intralingual)

yang

merujuk

pada

hal-hal

di

luar

bahasa

(ekstralingual).
Pada perkembangannya kemudian, kata semantik ini disepakati
sebagai istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari
hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.
Atau dengan kata lain bidang studi dalam linguistik yang mempelajari
makna atau arti dalam bahasa. (Chaer, 1995).
Sebagai studi linguistik, semantik tidak mempelajari makna-makna
yang berhubungan dengan tanda-tanda nonlinguistik seperti bahasa
bunga, bahasa warna, morse, dan bahasa perangko. Hal-hal itu menjadi
persoalan semiotika yaitu bidang studi yang mempelajari arti dari suatu
tanda atau lambang pada umumnya. Sedangkan semantik hanyalah
mempelajari makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
Mengkaji makna bahasa (sebagai alat komunikasi verbal) tentu tidak
dapat

terlepas

dari

para

penggunanya.

Pengguna

bahasa

adalah

masyarakat. Oleh karena itu studi semantik sangat erat kaitannya dengan
ilmu sosial lain, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan filsafat.
Relasi makna atau hubungan makna adalah hubungan kemaknaan
antara sebuah kata atau satuan bahasa (frase, klausa, kalimat) dengan
kata atau satuan bahasa lainnya. Hubungan ini dapat berupa kesamaan
makna

(sinonimi),

kebalikan

makna

(antonimi),

kegandaan

makna

(polisemi), kelainan makna (homonimi), ketercakupan makna (hiponimi),


dan ambiguitas. Secara harfiah, kata sinonimi berarti nama lain untuk
benda

atau

hal

yang

sama. Sedangkan Verharr

secara

semantik

mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase,


atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna
ungkapan lain (Verhaar, 1990).
Sinonimi dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari
sudut pandang yang digunakan. Yang harus diingat dalam sinonim adalah
dua buah satuan bahasa (kata, frase atau kalimat) sebenarnya tidak

memiliki makna yang persis sama. Menurut Verhaar yang sama adalah
informasinya. Hal ini sesuai dengan prinsip semantik yang mengatakan
bahwa apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun
perbedaannya hanya sedikit. Selain itu, dalam bahasa Indonesia, katakata yang bersinonim belum tentu dapat dipertukarkan begitu saja
Antonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari kata
onoma yang berarti nama, dan anti yang berarti melawan. Arti harfiahnya
adalah nama lain untuk benda lain pula. Menurut Verhaar antonim ialah
ungkapan (biasanya kata, frase atau kalimat) yang dianggap bermakna
kebalikan dari ungkapan lain.

Polisemi adalah satuan bahasa yang

memiliki makna lebih dari satu. Namun sebenarnya makna tersebut masih
berhubungan. Polisemi kadangkala disamakan saja dengan homonimi,
padahal keduanya berbeda. Homonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno,
yaitu onoma yang berarti nama dan homos yang berarti sama. Jadi,
secara harafiah homonimi dapat diartikan sebagai nama sama untuk
benda lain. Secara semantis, Verhaar mendefinisikan homonimi sebagai
ungkapan (kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan
ungkapan lain tetapi berbeda makna.
Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam,
yaitu: Homonim yang: (a) homograf, (b) homofon, dan (c) homograf dan
homofon. Kata hiponimi berasal dari Yunani Kuno yang terdiri dari kata
onoma nama dan hypodi bawah. Secara harfiah hiponimi berarti nama
yang termasuk di bawah nama lain (Verhaar, 1993). Secara semantis,
hiponimi dapat didefinisikan sebagai ungkapan (kata, frase, ata kalimat)
yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna ungkapan lain.
Istilah ambiguitas berasal dari bahasa Inggris (ambiguity) yang menurut
Kridalaksana berarti suatu konstruksi yang dapat ditafsirkan lebih dari
satu arti (Kridalaksana, 1982).Ambiguitas dapat terjadi pada komunikasi
lisan maupun tulisan. Namun, biasanya terjadi pada komunikasi tulisan.
Dalam komunikasi lisan, ambiguitas dapat dihindari dengan penggunaan
intonasi yang tepat. Ambiguitas pada komunikasi tulisan dapat dihindari
dengan penggunaan tanda baca yang tepat. Makna-makna dalam bahasa

Indonesia dapat mengalami perubahan makna, seperti perluasan makna,


penyempitan makna, penghalusan makna, dan pengasaran makna.
2.2

Pengertian Makna
Di bawah ini akan dipaparkan beberapa pengertian mengenai

makna menurut Kridalaksana (1993).


1.

Semantik
Bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan
dan juga dengan struktur makna suatu wicara.

2.

Semantik Gramatikal
Penyelidikan

makna

bahasa

dengan

menekankan

hubungan-

hubungan dalam begbagai tataran gramatikal.


3.

Semantik historis
Bagian dari linguistik historis yang menyelidiki perubahan makna.

4.

Semantik kombinatoris
Cabang semantik yang menyelidiki hubungan antara makna kalimat
dan makna kata atau makna morfem yang membentuknya.

5.

Semantik leksikal
Penyelidikan makna unsur unsur kosakata suatu bahasa pada

umumnya.
6.

Semantik semesta
Unsur dan sistem makna yang tidak terikat pada suatu bahasa

apapun.
7.

Semantik struktural
Istilah umum untuk pendekatan kepada semantik yang menekankan

hubungan makna antara kata atau kelompok kata dan bukan pada aspek
konseptual atau referensi dari makna.
8.

Semantik umum
Ajaran tentang makna dalam komunikasi bahasa yang menolak

ajaran Aristoteles bahwa kata hanya mempunyai satu makna leksikal.


Menurut Aminuddin (2008:52) kata makna sebagai istilah mengacu
pada pengertian yang sangat luas. Sebab itu tidak mengherankan bila
Ogden dan Richards dalam bukunya, The Meaning of Meaning (1983),

mendaftar enam belas rumusan pengertian makna yang berbeda-beda


antara satu dengan lainnya. Adapun batasan pengertian makna dalam hal
ini, makna adalah hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang telah
disepakati bersama oleh para pemakai bahasa sehingga dapat saling
dimengerti. Dari batasan pengertian itu dapat diketahui adanya tiga unsur
pokok yang tercakup di dalamnya, yakni (1) makna adalah hasil hubungan
antara bahasa dengan dunia luar, (2) penentuan hubungan terjadi karena
kesepakatan para pemakai, serta (3) perwujudan makna itu dapat
digunakan

untuk

menyampaikan

informasi

sehingga

dapat

saling

dimengerti.
2.3

Fitur-fitur Makna Leksikal


Linguistik struktural yang dikembangkan oleh Saussure selain

dilatari pandangan strukturalisme dalam filsafat yang oleh Levi-Straus


maupun

Durkheim

juga

digunakan

sebagai

dasar

dalam

kajian

antropologi, memiliki masa yang oleh Lyons disebutnya pre-Saussurean


(Lyons, 1979:231 dalam Aminuddin, 2008:104).
2.3.1 Teori Medan Makna dan Kolokasi
Menurut Kridalaksana (1993:134) medan makna adalah bagian dari
sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan
atau relitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh
seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Dalam Bahasa
Inggris, teori medan makna disebut juga Theory of Semantics Fields atau
Field Theory. Itu berkaitan dengan teori bahwa pembendaharaan kata
memiliki medan struktur yang dapat dideskripsikan secara semantik
leksikal dan semantik kalimat. Teori ini dikembangkan oleh Herder (1972)
dan Humboldt (1836) dalam Aminuddin (2008:108). Medan makna
merupakan apa yang dibicarakan, pelibat merupakan siapa yang terlibat
dalam interaksi, terkait, atau terbabit dalam suatu pembicaraan, dan
sarana mengacu ke bagaimana bahasa digunakan. Setiap pemakaian
bahasa atau interaksi bahasa mencakup dan melibatkan ketiga unsur
situasi itu: apa, siapa, dan bagaimana. Hubungan ideologi, budaya dan

situasi sebagai unsur konteks sosial adalah hubungan semiotik konotatif.


Ideologi direalisasikan oleh budaya dan budaya direalisasikan oleh situasi.
2.3.2 Hiponimi dan Sinonimi
Sewaktu menggambarkan hubungan makna

kata

yang satu

dengan yang lainnya, kita mungkin dapat menemukan sejumlah kata


yang memiliki kemiripan ciri acuan referen sehingga keseluruhannya
dapat diberi label umum yang berlaku bagi setiap anggota yang memiliki
kemiripan ciri acuan tersebut Aminudin (2008:111). Dengan kata lain ciri
leksikal memiliki makna sama dalam linguistik lazim disebut sinonim.
Secara terminologi umum sinonim dapat didefinisikan sebagai persamaan
kata. Persamaan kata memiliki derajat leksikalitas yang setara ketika
mengacu pada sebuah referen yang sama.
Dalam

pelbagai

bahasa

disinyalir

hampir

dapat

diidentifikasi

terdapat sinonim. Pada dasarnya studi semantik memandang sinonim


sebagai wujud lain dari makna leksikal. Menurut Kridalaksana (1993:198)
sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan
bentuk lain. Kesamaan itu berlaku bagi makna kata, kelompok kata, atau
kalimat, walaupun umumnya yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata
saja. Senada dengan hal itu Aminuddin (2008:111) mengemukakan bahwa
sejumlah kata yang memiliki hubungan atau kemiripan ciri referen itu
disebut subordinat, sedangkan julukan yang memayunginya disebut super
ordinat.
Hubyngan antara mawar dengan bunga disebut hiponim karena
mawar adalah bagian dari bunga. Misalnya bunga dan kembang memiliki
makna yang sama. Akan tetapi bunga melati dengan bunga-bungaa
disebut hiponim. Itulah yang membedakan antara sinonim dan hiponim.
Hubungan dalam semantik antara makna spesifik dan makna generik
atau antara anggota-anggota taksonomi dan nama taksonomi lazim
disebut hiponim(Kridalaksana, 1993:74).
2.3.3 Antonimi

Dalam pandangan umum, banyak orang mengatakan antonimi


adalah kebalikan dari sinonimi. Antonim lazim disebut lawan kata.
Hubungan logika bahasa atau logika pikiran diistilahkan oleh Lyons
sebagai kontradiktif. Sedangkan antonimi adalah bentuk lawan (lihat
Aminuddin, 2008). Dalam pandangan pribadi penulis, prinsip antonim
dapat disamakan dengan ikonisitas dalam semiotika. Sesuatu akan
bermakna

jika

ada

makna

yang

lainnya.

Logika

tersebut

dapat

digambarkan seperti berikut. Ketika seorang laki-laki mencintai seorang


perempuan, akan bermakna jika perempuan itu membalas cintanya. Akan
tetapi ketika seorang laki-laki mencintai laki-laki, menyalahi prinsip
antonim atau lawan. Misalnya siang berantonim dengan malam, benar
dengan salah, pulang dengan pergi, baik dengan buruk, dan sebagainya.
2.3.4 Homonimi
Menurut Kridalaksana (1993:76) homonimi adalah hubungan antara
kata yang ditulis atau dilafalkan dengan cara yang sama. Dengan kata
lain tidak memiliki hubungan makna.
3.

Metodologi Penelitian

3.1

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriftif analisis. Penelitian

dilaksanakan apa adanya berdasarkan fakta yang ada atau fenomena


yang secara empiris hidup pada penuturnya, sehingga memberikan
pemerian bahasa yang apa adanya (Sudaryanto, 1992:62).
3.2

Lokasi Penelitian
Penelitian

ini

dilakukan

di

Kecamatan

Sodonghilir

Kabupaten

Tasikmalaya.
3.3

Teknik Pengumpulan Data


Peneliti mengumpulkan data dengan metode simak dan wawancara.

Metode simak dan wawancara adalah metode dengan melakukan


wawancara dan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133).
Adapun teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah teknik
catat (Sudaryanto, 1993:139).

3.4

Teknik Analisis Data


Metode anaiisis data yang digunakan oleh penulis yaitu dengan cara

menganalisis setiap kata berdasarkan pengertian makna yang dimilikinya.


Dengan demikian, akan ditemukan hubungan makna leksikal. Sedangkan
untuk mendeskripsikan semantik kalimat, penulis menggunakan prinsip
yang dikemukakan oleh Parera (1991:100) bahwa makna sebuah kalimat
ditentukan

oleh

makna

unsur-unsur

pembentuknya

dan

hubungan

gramatikal yang terdapat dalam kalimat itu.


3.5

Rencana Penelitian
Penelitian ini diharapkan sesuai dengan jangka waktu yang telah

ditentukan yaitu selama enam bulan dimulai Desember 2012 sampai


dengan Mei 2013. Rencana ini dibuat untuk menjaga keefektifan waktu
penelitian dan menghindari waktu yang terbuang. Adanya rencana
penelitian ini dimaksudkan agar penelitian selesai tepat waktu. Adapun
rencana kegiatannya tercantum pada tabel di bawah ini.

N
o

Kegiatan

Tahun 2012/ 2013


Bulan
Februar Mare

Desemb
er

Januari

April

Rancangan proposal dan


1

bimbingan usulan
penelitian

Persiapan ujian proposal


2

dan
perbaikan ujian proposal

Penelitian tesis

Pengolahan data serta


4

menyusun laporan
penelitian

Mei

5
6

Tahap bimbingan

Tahap akhir dan ujian


tesis

Daftar Pustaka
Aminuddin, 2008. Semantik Pengantar Studi tentang Makna. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Chaer, Abdul. 1995. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Grimes, Barbara dalam Summer Institute of Linguistics (SIL). 2000.
Geographical Linguistics. http://www.yahoo.com. Diunduh 15
Januari 2013
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia
Parera, J.D., 1991. Teori Semantik. Jakarta: Airlangga
Sudaryanto, 1992. Metode Linguisti. Yogyakarta: Gajah Mada University
Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Wacana. Yogyakarta:
Duta Wacana University Press.
Verhaar, J. W. M. 1990. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press