Anda di halaman 1dari 20

Tax Incentive adalah pengurangan, pengucilan, atau pembebasan dari kewajiban pajak,

yang ditawarkan pemerintah sebagai daya tarik untuk terlibat dalam kegiatan tertentu
(seperti investasi barang modal) untuk jangka waktu tertentu. jenis insentif pajak secara umum
adalah ; tax holiday, Investment allowance and tax credit, timing differences, dan reduced tax rates.

1.

Tax holidays dan Tax Allowance

Tax Holiday dapat diartikan sebagai periode pembebasan pajak penghasilan


untuk industri-industri baru, yang diberikan oleh negara-negara berkembang dalam
rangka untuk mengembangkan atau diversifikasi industri. Tax allowance diterjemahkan
sebagai keringanan/pengurangan pajak. Fasilitas PPh yang diberikan dalam tax allowance berupa
pengurangan penghasilan neto sebesar 30 persen dari jumlah investasi yang dibebankan selama
enam tahun, masing-masing 5 persen per tahun.
Tax holiday diberikan dalam periode waktu yang terbatas dan hanya diperbolehkan bagi perusahaan
yang baru didirikan. Jangka waktu efektif dari tax holiday tergantung dari start awal berlakunya tax holiday.
Alternatif titik awal tax holiday antara lain tanggal perusahaan didirikan atau terdaftar secara resmi, tanggal
perusahaan mulai berproduksi atau usaha mulai dijalankan, tahun dimana perusahaan pertama kali
mendapatkan keuntungan, atau tahun dimana perusahaan pertama kali memperoleh penghasilan kena pajak
Insentif tax holiday sangat berkaitan dengan ketentuan mengenai penyusutan dan kompensasi
kerugian. Dalam beberapa sistem pajak, Wajib Pajak dapat memilih untuk membebankan biaya penyusutan
saat mulai diperolehnya aktiva atau menunda beberapa tahun sampai dengan kegiatan usaha dimulai dan
memperoleh laba.
Keuntungan insentif pajak berupa tax holiday antara lain adalah keuntungan dari segi kesederhanaan,
karena dengan tidak adanya pajak yang harus dibayar pada masaholiday maka baik bagi kantor pajak maupun
wajib pajak tidak perlu melakukan filing danaudit pajak serta tidak ada biaya administrasi. Sedangkan
kelemahannya antara lain adalah:

The cost of tax holiday, dalam arti penerimaan pajak yang hilang bagi host country yang tidak dapat
diperkirakan didepan dengan tingkat akurasi yang cukup.

Tax holiday sering dimanfaatkan oleh investor yang cenderung mobile dengan memindahkan
usahanya ke negara lain untuk mendapatkan tax holiday yang baru jika masa manfaat tax holiday di suatu
negara sudah habis. Dengan praktek tersebut, negara host country kehilangan benefit dari adanya investor
tersebut.

2.

Tax holiday menciptakan kesempatan untuk penghindaran pajak atau manipulasi pajak.

Tax sparing credit


Insentif pajak berupa Tax holiday agar efektif harus didukung dengan ketentuan mengenai tax sparing
credit yaitu suatu kredit pajak semu yang disepakati oleh negara asal investor dimana negara asal investor
memperbolehkan investor mengakui adanya kredit pajak di luar negeri dalam penghitungan pajak global di
negara asal investor (the country of resident) walaupun dalam kenyataannya tidak ada pajak yang dibayar di
negara sumber karena negara sumber memberikan insentif pajak (tax holiday). Insentif pajak berupa tax
holiday yang diberikan oleh negara sumber tidak akan efektif jika di negara asalnya, investor harus membayar

pajak atas keseluruhan penghasilan yang diterima dari seluruh dunia (world wide income). Hal ini pernah
terjadi di Indonesia pada periode pemberlakuan tax holiday pada periode waktu tahun 1967 sampai dengan
1983.
3.

Investment allowances and tax credits


Investment allowances and tax credits pada umumnya diterapkan pada investasi baru yang
dibuat. Investment allowances and tax credits adalah bentuk insentif pajak yang didasarkan pada besarnya
investasi. Tax allowance berarti mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan. Sedangkan tax credit secara
langsung mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam
mendesain investment allowance adalah:

Investasi yang memenuhi syarat (eligible investment), yaitu bahwainvsetment allowance diterapkan
atas semua bentuk investasi modal atau dapat pula atas kategori khusus saja, seperti mesin atau peralatan
berteknologi canggih.

Jumlah allowance, yang pada umumnya dalam bentuk persentase dari investasi tertentu. Di
Indonesia, besarnya allowance adalah 30% dari investasi yang memenuhi syarat.

Jangka waktu (duration) dan batasan lainnya, yaitu batas waktu dimanainvestment allowance dapat
diklaim. Untuk Indonesia jangka waktunya adalah 6 tahun.
Permasalahan utama berkenaan dengan insentif jenis ini adalah dalam mendefinisikan pengeluaran
yang memenuhi syarat, pilihan tarif dari allowance atau kredit pajak, dan perlakuan dari jumlah insentif yang
tidak dapat dipergunakan dalam tahun tersebut dalam hal penghasilan kena pajak tidak mencukupi.
Sedangkan kelebihan jenis insentif ini dibandingkan dengan tax holiday dilihat dalam perspektif host
country adalah biaya maksimal yang muncul dapat ditentukan dengan mudah; biaya tersebut berhubungan
secara langsung dengan jumlah investasi yang diberikan allowance; serta insentif tersebut tidak membatasi
khusus kepada investor baru tapi juga kepada investor lama yang meningkatkan investasinya.

4.

Accelerated depreciation (timing difference)


Perbedaan waktu dapat terjadi dalam hal pembebanan biaya yang dipercepat atau penangguhan
pengakuan penghasilan. Bentuk umum dari pembebanan biaya yang dipercepat adalah penyusutan, yaitu
penyusutan dibebankan dalam periode waktu yang lebih pendek dari umur ekonomis aktiva tersebut atau
melalui pembebanan khusus di periode tahun pertama. Maksud dari insentif tipe ini adalah untuk membantu
perusahaan memperoleh pengembalian modalnya (return on investment) lebih cepat. Namun, insentif ini
secara keseluruhan tidak mempengaruhi jumlah pajak yang seharusnya dibayar ke negara, tetapi hanya
menggeser beban pajak ke belakang. Misalnya atas suatu aktiva yang mempunyai manfaat ekonomis selama
8 tahun, seharusnya dibiayakan melalui penyusutan selama 8 tahun. Namun dengan kebijakan insentif,
penyusutan tersebut dapat dibebankan lebih pendek, misalnya menjadi 4 tahun. Namun total biaya penyusutan
yang boleh dibebankan tetap sama sesuai dengan nilai perolehan aktiva tersebut.

5.

Tax rate reductions


Pengurangan tarif pajak secara umum diterapkan atas penghasilan dari sumber tertentu atau kepada
perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu. Misalnya, kepada perusahaan kecil di bidang manufaktur atau
pertanian. Pengurangan tarif ini berbeda dengan tax holiday sebab kewajiban pajak dari perusahaan tidak
dibebaskan secara keseluruhan, dan insentif ini dapat diperluas pada perusahaan baru termasuk penghasilan
dari kegiatan yang telah ada serta tidak dibatasi pada periode waktu tertentu.Persoalan utama dalam

menerapkan insentif tipe ini adalah dalam mengidentifikasi penghasilan yang memenuhi syarat dan kriteria
perusahaan tertentu. Seringkali dalam membuat definisi atas penghasilan dan perusahaan tertentu yang
berhak mendapatkan insentif menimbulkan peluang untuk dimanipulasi. Untuk mencegah dimanipulasi,
biasanya dibuat aturan hukum yang ketat sehingga justru mengurangi efektifitas dari insentif tersebut.

http://catatannaim.blogspot.com/2015/02/beragam-insentifpajak.html Beragam Insentif Pajak Muhammad Na'im Amali FEBRUARI 2015

http://liafatrathohir.blogspot.com/2014/10/dampak-diberlakukannya-tax-incentive.html
OKTOBER 2014

DAMPAK DIBERLAKUKANNYA TAX INCENTIVE DAN TAX HOLIDAY BAGI


DUNIA USAHA

1. Fasilitas PPh atas Industri Tertentu dan Wilayah Tertentu

http://www.binafiscal.co.id/index.php/articles-update/88-pemberian-fasilitaspembebasan-atau-pengurangan-pph-badan-.html

Pemberian Fasilitas Pembebasan Atau Pengurangan PPh Badan

Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan/pengurangan pajak (Tax Holiday) dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 130/PMK.011/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak
Penghasilan Badan.
Wajib Pajak yang Dapat Menggunakan Fasilitas Tax Holiday
Fasilitas tax holiday ini diberikan kepada Wajib Pajak badan baru yang memenuhi kriteria:
1.
2.

merupakan Industri Pionir;


mempunyai rencana penanaman modal baru yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi yang berwenang paling
sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah);

3.

menempatkan dana di perbankan di Indonesia minimal 10% dari total rencana penanaman modal sebagaimana dimaksud
pada huruf angka 2 di atas, dan tidak boleh ditarik sebelum saat dimulainya pelaksanaan realisasi penanaman modal; dan

4.

harus berstatus sebagai badan hukum Indonesia yang pengesahannya ditetapkan maksimal 12 bulan sebelum Peraturan
Menteri Keuangan ini mulai berlaku atau pengesahannya ditetapkan sejak atau setelah berlakunya Peraturan Menteri

Keuangan ini. Untuk diketahui bahwa Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku mulai 15 Agustus 2011.
Industri Pionir yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan ini mencakup:
1.

Industri Logam Dasar;

2.

Industri pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organic yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam;

3.

Industri permesinan;

4.

Industri di bidang suberdaya terbarukan; dan/atau

5.
Industri peralatan komunikasi.
Syarat bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Kriteria Untuk Memanfaatkan Fasilitas Tax Holiday
Fasilitas Tax Holiday ini dapat dimanfaatkan oleh Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sepanjang memenuhi persyaratan:
1.

telah merealisasikan seluruh penanaman modalnya sebagaimana disebutkan dalam kriteria nomor 2 di atas; dan

2.

telah berproduksi secara komersial. Saat dimulainya berproduksi secara komersial ini akan diatur dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak.

Tata Cara Untuk Memperoleh Fasilitas Tax Holiday

Wajib Pajak harus menyampaikan permohonan kepada Menteri Perindustrian atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM).

Dalam rangka pemberian fasilitas Tax Holiday, Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM setelah berkoordinasi dengan
menteri terkain, menyampaikan usulan kepada Menteri Keuangan, dengan melampirkan fotokopi:

Penyampaian usulan ini harus disertai dengan uraian penelitian mengenai:


1.

kartu NPWP;

2.

surat persetujuan penanaman modal baru dari Kepala BKPM beserta rinciannya; dan

3.

Bukti penempatann dana di perbankan di Indonesia.

1.

ketersediaan infrastruktur di lokasi investasi;

2.

penyerapan tenaga kerja domestic;

3.

kajian mengenai pemenuhan kriteria sebagai industry pionir;

4.

rencana tahapan alih teknologi secara rinci; dan

5.

adanya ketentuan mengenai tax sparing di negara domisili.

Tax sparing adalah pengakuan pemberian fasilitas tax holiday dari Indonesia dalam penghitungan PPh di negara domisili sebesar
fasilitas yang diberikan.
Persetujuan Menteri Keuangan
Atas usulan pemberian tax holiday oleh Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM, Menteri Keuangan menugaskan komite verifikasi
pemberian fasilitas tax holiday (yang dibentuk oleh Menteri Keuangan) untuk membantu melakukan penelitian dan verifikasi dengan
mempertimbangkan dampak strategis Wajib Pajak bagi perekonomian nasional.
Dalam melaksanakan tugasnya komite verifikasi pemberian fasilitas tax holiday berkonsultasi dengan Menteri Koordinator
Perekonomian.
Atas hasil penelitian dan verifikasi, komite verifikasi menyampaikan kepada Menteri Keuangan yang disertai dengan pertimbangan
dan rekomendasi, serta rekomendasi jangka waktu pemberian fasilitas.
Berdasarkan hasil rekomendasi ini, Menteri Keuangan memutuskan pemberian fasilitas setelah berkonsultasi dengan Presiden
Republik Indonesia. Apabila Menteri Keuangan menyetujui pemberian fasilitas tax holiday ini, maka diterbitkan Surat Keputusan.
Namun apabila Menteri Keuangan menolak, maka penolakan disampaikan melalui pemberitahuan secara tertulis kepada Wajib
Pajak dengan tembusan kepada Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM.

Kewajiban Bagi Wajib Pajak yang Telah Memperoleh Fasilitas Tax Holiday
Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas Tax Holiday harus menyampaikan laporan secara berkala kepada Direktur Jenderal
Pajak dan komite verifikasi mengenai:
1.

laporan penggunaan dana yang ditempatkan di perbankan di Indonesia; dan

2.
laporan realisasi penanaman modal yang telah diaudit.
Ketentuan mengenai tata cara pelaporan ini diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
Sanksi Pencabutan Fasilitas Tax Holiday
Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas tax holiday ini dapat dicabut, apabila:
1.

tidak memenuhi ketentuan kriteria sebagai Wajib Pajak yang dapat diberikan fasilitas dan persyaratan telah
merealisasikan seluruh penanaman modal yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang; dan/atau

2.
tidak memenuhi ketentuan penyampaian laporan.
Pencabutan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri Keuangan setelah mendapat rekomendasi dari
komite verifikasi pemberian pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan.
Fasilitas Pembebasan Pajak yang Diperoleh oleh Wajib Pajak
Wajib Pajak yang mendapatkan persetujuan untuk memperoleh fasilitas tax holiday, mendapatkan fasilitas pembebasan pajak
berupa:
1.

pembebasan atau pengurangan PPh badan dalam jangka waktu maksimal 10 tahun dan minimal 5 tahun, terhitung sejak
Tahun Pajak dimulainya produksi komersial.

2.

setelah berakhirnya pemberian fasilitas tax holiday, Wajib Pajak diberikan pengurangan PPh badan sebesar 50% dari
PPh terutang selama 2 Tahun Pajak.

3.

atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari kegiatan usaha yang memperoleh fasilitas tax holiday,
tidak dilakukan pemotongan dan pemungutan pajak selama periode pemberian fasilitas tax holiday.

Jangka waktu pemberian fasilitas tax holiday sebagaimana disebutkan di atas dapat melebihi jangka waktu sebagaimana yang telah
ditetapkan tersebut berdasarkan pertimbangan dari Menteri Keuangan.
Kewajiban Perpajakan yang Masih Tetap Berlaku Bagi Wajib Pajak yang Dapat Fasilitas Tax Holiday
Bagi Wajib Pajak yang memperoleh fasilitas tax holiday masih berlaku ketentuan:

atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak di luar kegiatan usaha yang memperoleh fasilitas tax holiday,
tetap dilakukan pemotongan dan pemungutan pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.

tetap melaksanakan kewajiban pemotongan dan pemungutan pajak kepada pihak lain sesuai ketentuan perpajakan yang
berlaku.
Ketentuan Memperoleh Fasilitas PPh
1.

Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas PPh sesuai Pasal 31A UU PPh, tidak dapat memperoleh fasilitas tax holiday
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini.

2.

Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas PPh sesuai Peraturan Menteri Keuangan ini, tidak dapat memperoleh

fasilitas tax holiday berdasarkan Pasal 31A UU PPh.


Saat Pengajuan Usulan Pemberian Fasilitas Tax Holiday
Usulan untuk memberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan PPh badan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini, harus
diajukan oleh Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM dalam jangka waktu selama 3 tahun terhitung sejak diundangkannya
Peraturan Menteri Keuangan ini.
Saat Berlakunya Ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Ini
Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku pada pada tanggal diundangkannya, yaitu tanggal 15 Agustus 2011

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA


TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU
-Pada tanggal 6 April Tahun 2015, pemerintah menerbitkan revisi regulasi fasilitas PPh melalui Peraturan Pemerintah
Nomor 18 Tahun 2015 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang
UsahaTertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu yang secara efektif akan berlaku mulai tanggal 6 Mei 2015.
-Peraturan Pemerintah ini mencabut dan menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2011 yang mengatur
tentang fasilitas Pajak Penghasilan di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu.
-Tujuannya adalah untuk mendorong peningkatan investasi langsung guna mendorong pertumbuhan ekonomi dalam
rangka pemerataan pembangunan.
Kebijakan umum dalamfasilitas Tax Allowance (PeraturanPemerintahNomor 18 Tahun 2015):
1. Menciptakan efek pengganda yang besar dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki
neraca pembayaran;
2. Memenuhi kebutuhan dalam negeri sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi;
3. Mengisi pohon industri yang kosong guna mendorong kemandirian nasional;
4. Tidak mengganggu pertumbuhan industri yang ada dalam rangka menjaga iklim usaha yang kondusif;
5. Tidak saling menghapuskan dengan kebijakan lain sejalan dengan konsistensi kebijakan pemerintah;
6. Lebih ramah terhadap investor, seperti penyederhanan proses pengurusan fasilitas;
7. Lebih terbuka dari peraturan sebelumnya dengan persyaratan yang tidak bersifat kumulatif.
-WajibPajak yang dapat diberikan fasilitas Tax Allowance adalah Wajib Pajak badan dalam negeri yang melakukan
penanaman modal baru maupun perluasan dari usaha yang telah ada.
-Terdapat setidaknya 66 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) di dalamLampiran I dan 77 KBLI di
dalamLampiran II.

-Dari total 143 KBLI tersebut sebagian besar didominasi oleh sektor industri makanan, industri petrokimia (seperti
industri pengolahan CPO atau CPKO), industri tekstil, industri produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi,
industri logam dasar, industri pembangkit listrik dengan menggunakan energi baru dan terbarukan, industri farmasi,
produk obat kimia dan obat tradisional.
-Terdapat juga dalam PP ini industri untuk sektor pertanian, kelautan perikanan, peternakan, kehutanan, dan
kawasan pariwisata juga diberikan fasilitas, termasuk bidang-bidang usaha yang dapat mendorong sektor
kemaritiman, sepertiga langan kapal dan kepelabuhanan yang meliputi industri kapal dan perahu, industri peralatan,
perlengkapan dan bagian kapal, dan industri penanganan kargo (bongkarmuatbarang).
BentukfasilitasTax Allowance yang diberikanmeliputi:
1.Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tigapuluhpersen) yang dibebankan selama 6 (enam) tahun masingmasing sebesar 5% (lima persen),
2.Penyusutan dan amortisasi dipercepat,
3.Pengenaan PPh sebesar 10% (sepuluh persen) atas dividen yang dibayarkan kepada Wajib Pajak luar negeri atau
tarif yang lebih rendah apabila terdapat Tax Treaty, dan
4.Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.
Khusus untuk tambahan kompensasi kerugian, Pemerintah akan memberikan reward berupa tambahan kompensasi
kerugian selama 2 (dua) tahun kepada Wajib Pajak yang melakukan perluasan dari usaha yang telah ada yang
sebagian sumber pembiayaannya berasal dari laba setelah pajak (earning after tax) dan tambahan 2 (dua) tahun lagi
kepada Wajib Pajak dalam negeri di bidang usaha tertentu di luar kawasan berikat yang melakukan ekspor paling
sedikit 30% (tiga puluh persen) dari nilai total penjualan.
Bentukrelaksasidalam PP ini meliputi:
1.Persyaratan umum Wajib Pajak yang dapat mengajukan fasilitas Tax Allowance:
a.

Wajib Pajak badan dalam negeri dengan tidak dibatasi hanya pada Perseroan Terbatas dan Koperasi

b.

Tidak lagi mensyaratkan jangka waktu penerbitan Izin Prinsip, sepanjang belum berproduksi secara komersial

2.Lebih memberikan relaksasi pada kriteria dan persyaratan pengajuan fasilitas Tax Allowance(besaran investasi,
ekspor, tenaga kerja, dan TKDN tidak bersifat kumulatif)
3.Wajib

Pajak

dapat

bersamaan

mengajukan

permohonan Tax

Holiday dan Tax

Allowance.

Dalam

permohonan Tax Holidaynya ditolak, akan diberikan fasilitas Tax Allowance.


4. Jangka waktu penyelesaian yang lebih cepat dan proses pengajuan yang lebih mudah:
- Penguatan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pusat di BKPM,
- Simplifikasi dokumen persyaratan dengan tujuan tidak memberatkan Wajib Pajak,
- Lebih memberikan kepastian jangka waktu penyelesaian pemberian fasilitas, yaitu paling lama 28 hari kerja.

http://www.ekon.go.id/press/view/poin-poin-penting-dalam-ppno.1447.html#.VV5W0Y6qqko
POIN POIN PENTING DALAM PP NO 18 TAHUN 2015 TENTANG FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK
PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU

hal

2015

2. Beragam Fasilitas PPN dan Bea Masuk

Ada 4 (empat) jenis fasilitas PPN di Indonesia yaitu : Fasilitas PPN Tidak Dikenakan, PPN Dibebaskan, PPN Tidak
Dipungut dan PPN 0% (Nol Persen). Pengertian keempat fasilitas tersebut adalah sama-sama tidak dibebani PPN.
Tetapi, ada beberapa perbedaan mendasar di antara keempat fasilitas tersebut, yaitu :

1.

2.

PPN Tidak Dikenakan:


o

BKP/JKP dikecualikan dari objek PPN.

Apabila tidak ada usaha lain, maka wajib pajak tidak wajib untuk dikukuhkan sebagai PKP.

Pajak Masukan atas perolehan Barang dan/atau Jasa Kena Pajak tidak dapat dikreditkan.

PPN Dibebaskan:
o

Ada Objek PPN.

Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP dan wajib membuat Faktur Pajak kecuali ada
peraturan yang menyatakan tidak diperlukan.

o
3.

Pajak Masukan atas perolehan Barang dan/atau Jasa Kena Pajak tidak dapat dikreditkan.

PPN Tidak Dipungut:


o

Ada Objek PPN.

Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP dan wajib membuat Faktur Pajak kecuali ada
peraturan yang menyatakan tidak diperlukan.

o
4.

Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dapat dikreditkan.

PPN 0% (Nol Persen):


o

Ada Objek PPN.

Wajib Pajak harus minta dikukuhkan sebagai PKP.

Pajak Masukan atas perolehan BKP dapat dikreditkan.

http://pajakppn.blogspot.com/2011/06/fasilitas-ppn.html Fasilitas PPN 2011

Fasilitas Fiskal Kepabeanan


Pada dasarnya fasilitas fiskal yang dibicarakan disini adalah fasilitas yang terkait
dengan penerimaan perpajakan, khususnya Bea Masuk. Fasilitas fiskal dalam
konteks Undang-undang Kepabeanan mengandung pengertian sebagai bentukbentuk insentif perpajakan yang diberikan kepada industri, perdagangan, dan pihakpihak tertentu. Bentuk-bentuk fasilitas fiskal kepabeanan dapat berupa:

Tidak dipungut Bea Masuk, sesuai Pasal 24 Undang-undang Kepabeanan;


-

Pembebasan Bea Masuk, sesuai Pasal 25 Undang-undang Kepabeanan;


-

Pembebasan atau Keringanan, sesuai Pasal 26 Undang-undang kepabeanan;


-

Pengembalian Bea Masuk, sesuai Pasal 27 Undang-undang Kepabeanan;


-

Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk dalam rangka Impor Sementara, sesuai
pasal 10D Undang-undang Kepabeanan;
-

Penangguhan Bea Masuk terhadap tempat penimbunan berikat, sesuai pasal 44


Undang-undang Kepabeanan. Pada dasarnya fasilitas fiskal kepabeanan yang
diberikan oleh Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 17 tahun 2006 bertujuan
untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pertumbuhan ekonomi
nasional dan juga bentuk perlakuan yang lazim terhadap tata pergaulan
internasional. Untuk kepentingan industri dan perdagangan, pemerintah
memberikan insentif terhadap industri yang sedang membangun atau melakukan
pengembangan. Berkaitan dengan tata pergaulan internasional, pemerintah
memberikan perlakuan pembebasan terhadap barang impor yang akan digunakan
oleh perwakilan negara asing atau pejabat pada Badan internasional. Demikian pula
erhadap barang-barang yang digunakan untuk kepentingan publik yang tidak
berorientasi pada hal-hal yang bersifat komersial, diberikan perlakuan pembebasan
terhadap Bea Masuk.

1) Tidak Dipungut Bea Masuk


Sesuai dengan ketentuan pasal 24 undang-undang Kepabeanan diatur bahwa
barang yang dimasukkan ke Daerah Pabean untuk diangkut terus atau diangkut
lanjut ke luar Daerah Pabean tidak dipungut Bea Masuk. Dasar pertimbangan
perlakuan tidak dipungut Bea Masuk pada hakekatnya mempertimbangkan asasasas pemungutan pajak. Pada dasarnya asas pemungutan Bea Masuk di Indonesia
menerapkan asas domisili. Pengertiannya bahwa pemungutan Bea Masuk dikenakan
terhadap subyek yang berdomisili di Indonesia atau obyek yang dikonsumsi di
dalam wilayah pabean Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, maka terhadap
barang yang diangkut terus atau diangkut lanjut ke luar daerah pabean, maka dari
sisi subyek maupun obyek tidak memenuhi asas domisili tersebut.
2) Pembebasan Bea Masuk
Pasal 25 Undang-undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa
pembebasan Bea Masuk terhadap barang impor yang digunakan untuk keperluan
tertentu. Antara lain sebagai bentuk tata krama dalam pergaulan internasional
berupa pembebasan terhadap barang impor yang digunakan untuk keperluan
perwakilan negara asing dan pejabat pada Badan Internasional. Disamping itu,
pembebasan Bea Masuk diberikan pula terhadap barang-barang yang digunakan
untuk kepentingan publik yang bersifat nonkomersial, kemajuan pendidikan dan
ilmu pengetahuan, sosial kemanusiaan, pertahanan dan keamanan, serta
kesehatan. Sifat pembebasan yang diatur dalam pasal 25 undang-undang
Kepabeanan adalah pembebasan mutlak. Pengertiannya bahwa bentuk
pembebasan atau peniadaan terhadap pemenuhan kewajiban pembayaran Bea
Masuk yang diberikan pemerintah bersifat permanen. Dengan kata lain, selama pos
tarif dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) memberikan pembebananan
tarif Bea Masuk diatas 0% (nol persen) terhadap barang impor dengan fasilitas
pembebasan, maka terhadap barang impor tersebut secara permanen tidak akan
dikenakan pungutan Bea Masuk. Untuk mendapatkan skema pembebasan Bea
Masuk tersebut, para pihak yang berhak menerima pembebasan wajib memenuhi
persyaratan-persyaratan yang ditentukan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Mungkin dalam pikiran anda timbul pertanyaan,
bagaimana kalau barang yang diberikan pembebasan sesuai pasal 25, dalam
BTBMI tarif Bea Masuknya sudah 0%, apakah pembebasan Bea Masuk tersebut
masih relevan ? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ditegaskan bahwa apabila
pembebanan tarif dalam BTBMI sudah 0% maka secara tidak langsung telah berlaku
pembebasan mutlak (
absolute
) tanpa syarat apapun

. Pengertiannya bahwa importir dalam hal ini tidak perlu mengajukan permohonan
fasilitas pembebasan sesuai Pasal 25 undang-undang Kepabeanan. Contoh kasus
seperti ini terjadi pada barang berupa buku-buku yang digunakan untuk keperluan
ilmu pengetahuan. 3) Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk
Pasal 26 Undang-Undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa
pembebasan atau keringanan Bea Masuk terhadap barang impor yang digunakan
untuk keperluan tertentu. Fokus pemberian fasilitas ini terutama ditujukan terhadap
sektor industri dan perdagangan. Antara lain pembangunan dan pengembangan
sektor indsutri baik dalama skema penananaman modal maupun swasta murni.
Disamping itu, fasilitas pembebasan atau keringanan Bea Masuk diberikan sebagai
insentif sektor pertanian, pencegahan pencemaran lingkungan, keperluan olah raga,
kepentingan publik yang dikelola pemerintah, proyek pembangunan yang dibiayai
hibah, serta sektor industri yang berorientasi ekspor. Sifat pembebasan yang diatur
dalam pasal 26 Undang-undang Kepabeanan adalah
pembebasan yang bersifat relatif
. Pengertiannya bahwa bentuk fasilitas yang diberikan dapat berupa pembebasan
atau hanya berupa keringanan Bea Masuk saja, dan hal ini bersifat
tentative
(sementara), tergantung kepada kebijakan yang akan diterapkan pemerintah pada
kondisi-kondisi tertentu. Contoh:
-

perlakuan fasilitas terhadap pembangunan atau pengembangan industri berdasar


Keputusan Menteri Keuangan (KMK) nomor 135/KMK.04/2002 adalah berupa
keringanan Bea Masuk. (tarif akhir Bea Masuk menjadi 5%).
-

sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 176/PMK.04/2009,


perlakuan fasilitas terhadap pembangunan atau pengembangan industri adalah
berupa pembebasan Bea Masuk.
4) Pengembalian Bea Masuk
Pasal 27 undang-undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa
pengembalian Bea Masuk atas bea-bea yang telah dibayar sebelumnya oleh
importir. Dalam hal ini undang-undang kepabeanan telah memberikan batasan
terhadap kategori barang atau subyek mana yang dapat menerima pengembalian

Bea Masuk. Berdasar ketentuan pasal 27 tersebut, pengembalian dapat diberikan


terhadap seluruh atau sebagian Bea Masuk yang telah dibayar atas:
-

kelebihan pembayaran Bea Masuk yang timbul akibat penetapann tarif dan nilai
pabeana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5), Pasal 17 ayat (3), atau
karena kesalahan tata usaha;
-

impor barang yang mendapat fasilitas pembebasan dan/atau keringanan Bea Masuk
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26;
-

impor barang yang oleh sebab tertentu harus diekspor kembali atau dimusnahkan
di bawah pengawasan pejabat bea dan cukai;
-

impor barang yang sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai kedapatan
jumlah yang sebenarnya lebih kecil daripada yang telah dibayar Bea Masuknya,
cacat, bukan barang yang dipesan, atau berkualitas lebih rendah; atau
-

kelebihan pembayaran Bea Masuk akibat putusan Pengadilan Pajak.


5) Fasilitas Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk atas Barang Impor Sementara
(Referensi : Pasal 10D Undang-undang Kepabeanan) Barang impor dapat
dikeluarkan sebagai barang impor sementara jika pada waktu importasinya benarbenar dimaksudkan untuk diekspor kembali paling lama 3 (tiga) tahun. Terhadap
barang impor sementara dapat diberikan pembebasan Bea Masuk atau keringanan
Bea Masuk. Ketentuan operasional yang mengatur impor sementara adalah
Peraturan Menteri Keuangan nomor 140/PMK.04/2007 tentang Impor Sementara .
Kategori barang impor sementara yang mendapat pembebasan Bea Masuk diatur
dalam Pasal 3 ayat 2 PMK tersebut, yang meliputi:

barang untuk keperluan pameran yang dipamerkan di tempat lain dari tempat
penyelenggaraan pameran berikat;
-

barang untuk keperluan seminar atau kegiatan semacam itu;


-

barang untuk keperluan peragaan atau demonstrasi;


-

barang untuk keperluan tenaga ahli;


-

barang untuk keperluan penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan;


-

barang yang diimpor untuk keperluan perlombaan dibidang olahraga;


-

kemasan yang digunakan untuk pengangkutan barang impor atau ekspor secara
berulang-ulang;
-

barang keperluan contoh atau model;


-

kendaraan atau sarana pengangkut yang digunakan sendiri oleh wisatawan manca
negara; -

kendaraan atau sarana pengangkut yang masuk melalui lintas batas dan
penggunaannya tidak bersifat regular;
-

barang untuk diperbaiki, direkondisi, diuji, dan dikalibrasi;


-

binatang hidup untuk keperluan pertunjukan umum, olahraga, perlombaan,


pelatihan, pejantan, dan penanggulangan gangguan keamanan;
-

peralatan khusus yang digunakan untuk penanggulangan bencana alam, kebakaran,


dan gangguan keamanan;
-

kapal niaga yang diimpor oleh perusahaan pelayaran niaga nasional;


-

pesawat dan mesin pesawat yang diimpor oleh perusahaan penerbangan nasional;
-

barang yang dibawa oleh penumpang dan akan dibawa kembali ke luar negeri;
dan/atau
-

barang pendukung proyek pemerintah yang dibiayai dengan pinjaman dari luar
negeri. Pemberian keringanan Bea Masuk diperlakukan terhadap barang impor
berupa mesin dan peralatan untuk kepentingan produksi atau pengerjaan proyek
infrastruktur. Atas kegiatan impor sementara terhadap barang tersebut, importir
akan dikenakan pungutan berupa :
-

Bea Masuk sebesar 2% untuk setiap bulan atau bagian dari bulan dari jumlah Bea
Masuk yang seharusnya dipungut;
-

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn.BM) secara
penuh (100%). Akan tetapi, kewajiban membayar PPN atau PPn.BM tidak berlaku,
apabila importir mendapatkan skema fasilitas perpajakan berdasarkan peraturan
perpajakan yang berlaku;
Selain kewajiban membayar Bea Masuk, PPN dan PPn BM, Importir diwajibkan
mempertaruhkan jaminan sebesar selisih antara Bea Masuk yang seharusnya
dibayar dengan yang telah dibayar ditambah dengan Pajak Penghasilan Pasal 22.
6) Fasilitas Penangguhan Bea Masuk terhadap Tempat Penimbunan Berikat
(Referansi: pasal 44, Undang-undang Kepabeanan) Bentuk insentif yang diterima
oleh pihak yang menyelenggarakan Tempat Penimbunan Berikat (TPB) berupa
penangguhan Bea Masuk dan tidak dipungut pajak-pajak dalam rangka impor
maupun pajak-pajak dalam negeri. Fasilitas tempat penimbunan berikat merupakan
bentuk fasilitas yang bersifat institusional terhadap subyek pajak. Pengertiannya
bahwa perlakuan insentif perpajakan melekat terhadap institusi atau subyek pajak
tertentu dan bukan terhadap obyek pajaknya. Secara prinsip barang-barang impor
yang ditimbun di dalam TPB masih terutang Bea Masuk dan apabila dikeluarkan dari
TPB selain untuk diekspor maka wajib dipungut Bea Masuk dan PDRI. Pada
prinsipnya tujuan pengadaan Tempat Penimbunan Berikat adalah untuk
memberikan insentif berupa penangguhan pembayaran Bea Masuk, atas kegiatan
menyimpan, menimbun, memamerkan, menjual, mengemas dan mengolah barang
yang berasal dari impor di dalam tempat penimbunan berikat. Pelaksanaannya, TPB
dibagi menjadi beberapa jenis yaitu Kawasan Berikat, Gudang Berikat, Entrepot
Tujuan Pameran, Toko Bebas Bea, Tempat Pelelangan Berikat dan Tempat Daur
Ulang Berikat.

1.

Pasal 25 Undang-Undang Kepabeanan No. 10/1995 jo Undang-Undang No. 17/2006

2.

Pasal 26 Undang-Undang Kepabeanan No. 10/1995 jo Undang-Undang No. 17/2006

http://www.bcsoetta.net/v2/page/impor-fasilitas-pembebasan-bea-masuk

3. Strategi memanfaatkan seluruh fasilitas perpajakan yang ada

A. Pertama, Wajib Pajak harus mengerti peraturan perpajakan yang terkait. Akan sangat sulit dapat melakukan
pemanfaatan fasilitas perpajakan untuk tax planning yang baik dan tidak melanggar undang undang bila dirancang
tidak dalam koridor undang undang undang perpajakan yang berlaku. Pemanfaatan fasilitas perpajakan yang
melanggar undang undang akan berakibat fatal dan bahkan dapat mengancam keberhasilan Tax Planning.
Apabila suatu perencanaan pajak ingin dipaksakan dengan melanggar ketentuan perpajakan, bagi wajib pajak
merupakan resiko yang berbahaya dan mengancam keberhasilan perencanaan pajak. Karena itu, sebaiknya wajib
pajak menghindari hal tersebut karena dapat sangat merugikan wajib pajak sendiri
B. Kedua, menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan memanfaatkan fasilitas perpajakan dalam tax planning. Tax
planning paling tidak memiliki dua tujuan utama yakni :
1. menarik investor lokal maupun asing untuk menanamkan modalnya

mengurangi beban perusahaan (tergantung pada sektornya)


C. Ketiga, dalam memanfaatkan fasilitas perpajakan yang ada, perusahaan harus memahami
karakter usaha Wajib Pajak. Hal ini dikarenakan hampir setiap industri memiliki perbedaan perbedaan dalam
kebijakan maupun perilaku dan kebiasaan kebiasannya. Dengan memahami secara mendalam seluk beluk
usaha akan sangat membantu dalam melakukan pemanfaatan fasilitas

perpajakan.

D. Keempat, memahami tingkat kewajaran atas transaksi transaksi yang diatur dalam tax planning. Hal ini
dikarenakan apabila dalam pelaksanaan tax planning untuk memanfaatkan fasilitas perpajakan jika mengabaikan
kewajaran sudah tentu akan menimbulkan kesulitan kesulitan karena adanya kecurigaan fiskus dan ini dapat
berimplikasi dengan pemeriksaan, karena bisa diindikasikan adanya kecurangan pajak.

http://padyangantaxcenter.blogspot.com/2013/05/perencanaanpajak_3.html#.VV5U_46qqko

Strategi Perencanaan Bagian I


2013

Insentif untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menurut Tait (1988) dalam bentuk tax
exemption atau pembebasan pajak, dan zero rating atau pengenaan tarif nol persen. Exemption dalam PPN
berarti pengusaha yang mendapatkan fasilitas pembebasan atas penyerahan barang atau jasanya, tidak dapat
mengkreditkan PPN yang telah dibayar pada waktu pembelian barang atau jasa sebagai pajak masukan.
Sedangkan zero rate berarti pengusaha secara penuh dapat mengkreditkan PPN yang telah dibayar, sehingga
secara murni bebas dari PPN. Karakteristik dasar dalam sistem pembebasan PPN adalah tidak adanya
pembebasan secara penuh dari pengenaan PPN. Pembebasan PPN hanya diterapkan pada saat pengusaha
yang mendapatkan fasilitas pembebasan melakukan penjualan atau penyerahan barang dan atau jasa.
Sedangkan semua pembelian yang dilakukan oleh pengusaha tersebut, termasuk barang modal dikenakan
pajak. Oleh karena itu, jika petani dibebaskan dari pengenaan PPN, maka petani tersebut tidak harus
berhubungan dengan petugas pajak, tetapi petani tersebut harus membayar semua pajak masukannya pada
waktu melakukan pembelian pupuk, benih dan semua barang modal yang dipergunakan seperti mesin
pertanian. Pembebasan PPN membantu menyederhanakan administrasi perpajakan karena pengusaha atau
pedagang yang bebas PPN tidak perlu melakukan registrasi dan pencatatan untuk PPN. Namun, pembebasan
PPN dapat menimbulkan distorsi. Hal tersebut dapat terjadi misalnya pengusaha yang bebas PPN melakukan
penjualan atau penyerahan barang kepada pihak lain selain konsumen akhir. Pengusaha yang bebas PPN
akan menambahkan PPN atas pembelian barang yang tidak dapat dikreditkan pada harga jual barang yang
diserahkan kepada pengusaha lainnya yang tidak bebas PPN. Bagi pengusaha yang tidak bebas PPN tersebut
tentunya akan memperhitungkan harga pembelian yang didalamnya terdapat PPN tersebut sebagai bagian
dari harga pokok penjualan, sehingga atas penyerahan barang tersebut akan terjadi pengenaan PPN atas
PPN. Hal ini disebut sebagai cascading efect atau efek pajak yang kumulatif yang menimbulkan distorsi dalam
pertumbuhan perekonomian karena pajak berganda tersebut akan menyebabkan tingginya harga yang harus
dibayar oleh konsumen. Oleh karena itu, menurut Tait sebaiknya pembebasan PPN hanya diterapkan pada
kondisi tertentu dan terbatas saja serta yang paling dekat dengan konsumen akhir.
Kerugian dalam memberikan insentif pajak untuk tujuan menarik investasi adalah hilangnya potensi
pajak yang seharusnya diterima oleh negara. Kerugian tersebut dapat dikurangi apabila insentif tersebut
diterapkan pada sektor yang tepat, yaitu sektor yang menarik investor hanya jika sektor tersebut diberikan
insentif. Pemerintah telah mengembangkan berbagai teknik untuk mencapai target yang lebih baik dalam
membuat kebijakan pemberian insentif pajak. Tehnik tersebut antara lain dengan mengkaitkan pemberian
insentif dengan pengembangan wilayah yang pertumbuhan ekonominya masih rendah dan untuk tujuan
tertentu, seperti penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi dan peningkatan ekspor.
a) Pengembangan Wilayah. Kebijakan pemberian insentif pajak untuk tujuan pengembangan suatu wilayah
biasanya berbentuk tax holiday, investment allowanceatau penyusutan yang dipercepat. Wilayah yang menjadi
target pemberian insentif pajak biasanya daerah yang terpencil dan tingkat penganggurannya tinggi.

b) Penciptaan lapangan kerja. Insentif pajak dapat diarahkan untuk merangsang pendirian perusahaan di bidang
industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Industri manufaktur merupakan contoh industri padat
karya yang sering menjadi target pemberian insentif.
c) Transfer Teknologi. Banyak negara memformulasikan kebijakan pemberian insentif pajak dengan tujuan untuk
menarik investasi yang membawa teknologi yang lebih modern. Namun, kebijakan tersebut sulit diterapkan
karena kantor pajak mengalami kesulitan dalam menentukan kriteria suatu teknologi yang canggih
atau advanced. Di samping itu, sangat jarang perusahaan asing yang membawa teknologi canggih bersedia
mengalihkan atau mentransfer teknologi tersebut kepada host country.
d) Pengembangan ekspor. Kebijakan pemberian insentif pajak untuk menarik investasi yang berorientasi ekspor
cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pemberian insentif pajak untuk tujuan lain. Perusahaan
berorientasi ekspor tertentu yang sensitif terhadap adanya insentif pajak adalah perusahaan yang bergerak di
bidang industri textile dan elektronika. Alasannya, industri tersebut tidak bergantung pada bahan baku lokal
dan pasar dari produknya sebagian besar di luar negeri. Industri tersebut dikenal sebagai footloose yang
sangat tertarik dengan lingkungan yang mempunyai biaya rendah. Komponen biaya paling besar adalah
tenaga kerja dan pajak yang harus dibayar, sehingga dengan adanya insentif pajak maka industri tersebut
akan tertarik untuk berinvestasi. Musgrave dan Musgrave (1989) berpendapat bahwa insentif perpajakan
sangat berguna bagi kegiatan ekspor. Insentif untuk kegiatan ekspor adalah kebijakan yang populer untuk
membangun pasar internasional dan memperkuat keseimbangan neraca pembayaran. Jenis insentif pajak
penghasilan yang biasa diberikan pada jenis industri yang berorientasi ekspor adalah tax holidaydan tunjangan
investasi khusus. Tax holiday diberikan dalam bentuk pembebasan pajak atas bagian dari keuntungan yang
berhubungan dengan ekspor atau dapat pula berupa pembebanan biaya secara maksimal atas biaya untuk
tujuan ekspor, seperti biaya promosi ekspor.
e) Daerah perdagangan bebas atau export processing zones. Export processing zones berhubungan dekat
dengan pengembangan investasi yang berorientasi ekspor. Zona ini juga disebut sebagai customs-free zones,
duty-free zones, free trade zones, bonded zones atau special economic zones. Insentif jenis ini sudah
diterapkan lebih dari 50 negara di seluruh dunia dan telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun
(Thuronyi, 1998). Ciri yang membedakan kawasan khusus tersebut adalah adanya daerah terbatas atau
kawasan terbatas yang terikat dengan ketentuan tertentu dimana perusahaan yang berada di kawasan
tersebut baik lokal maupun asing dapat melakukan impor mesin, komponen dan bahan baku tanpa harus
membayar bea masuk dan pajak lainnya sepanjang barang tersebut sebagai sarana untuk merakit, mengolah
atau diolah menjadi barang untuk tujuan ekspor. Apabila barang tersebut dijual di pasar domestik, maka atas
penjualan tersebut diperlakukan sebagai impor sehingga dikenakan pajak dan bea masuk seperti
impor. Maksud dari negara yang mendirikan export processing zone pada umumnya adalah untuk
mendapatkan devisa dari penjualan ekspor. Disamping itu juga untuk menciptakan lapangan kerja, menarik
teknologi dari luar negeri atau mendorong perkembangan wilayah tertentu.
Insentif pajak yang diberikan pada kawasan khusus tersebut terutama adalah pembebasan bea masuk
dan PPN. Pembebasan tersebut diterapkan atas bahan baku dan komponen yang diimpor yang kemudian
diekspor. Pembebasan juga berlaku atas barang modal yang digunakan untuk proses produksi untuk tujuan
ekspor tersebut. Dengan adanya insentif berupa pembebasan atas impor barang tersebut diharapkan investor
asing akan tertarik untuk menanamkan modalnya karena insentif tersebut langsung berdampak pada
rendahnya harga pokok barang sehingga barang yang diproduksi mempunyai daya saing yang tinggi.
Pembebasan PPN atas kegiatan impor di kawasan khusus untuk tujuan ekspor disertai dengan
penerapan zero rateatas kegiatan ekspor. Dengan tarif 0% atas ekspor, berarti PPN yang masih melekat dalam
harga barang dapat dieliminasi sehingga barang tersebut dapat bersaing di pasar internasional. Hal ini sesuai
dengan prinsip destinasi dari PPN, yaitu bahwa PPN dikenakan di tempat barang tersebut dikonsumsi. Dengan

adanya pembebasan bea masuk dan PPN atas impor barang untuk tujuan ekspor, perusahaan akan
diuntungkan dari segi cash flow karena tidak harus membayar pajak terlebih dahulu.