Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya pengendalian nyamuk untuk mengurangi kejadian penyakit
arthropod-born viral disease telah banyak dilakukan. Pengendalian tersebut
meliputi pengendalian fisik, pengendalian hayati, pengendalian kimiawi,
pengendalian genetik dan pengendalian terpadu. Pengendalian fisik dengan
mengelola lingkungan sehingga keadaan lingkungan tidak sesuai bagi
perkembangbiakan nyamuk, pengendalian hayati dengan memanfaatkan
organisme

predator

dan

patogen,

pengendalian

kimiawi

dengan

menggunakan insektisida untuk membunuh nyamuk, pengendalian genetic


dilakukan dengan menyebarkan pejantan mandul ke dalam ekosistem, dan
pengendalian terpadu dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknik
pengendalian yang ada (Soviana, 2000).
Pemberantasan vektor dengan menggunakan insektisida merupakan salah
satu program pengendalian penyakit yang ditularkan vektor. Insektisida yang
digunakan biasanya hanya berdasarkan hasil uji coba terhadap satu spesies
saja nyamuk vektor dan pada kondisi satu daerah saja, sedang indonesia yang
merupakan negara kepulauan dengan keragaman ekosistem kepekaan nyamuk
vektorpun mungkin berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Selain
itu akibat penggunaan insektisida kimia yang berulang-ulang menimbulkan
masalah baru yaitu membunuh serangga bukan target dan timbulnya resistensi
vektor terhadap insektisida.

Untuk itu dilakukan pengujian terhadap insektisida yang di gunakan


untuk melakukan pengendalian. Apakah insektisida tersebut masih bias di
gunakan untuk membrantas vektor atau sudah resisten. Uji biokimia adalah
uji resistensi nyamuk terhadap insektisida yang sangat esensial berdasarkan
kuantifikasi enzim yang bertanggung jawab pada proses resistensi.
Keunggulah dari uji biokimia adalah informasi status kerentanan diperoleh
lebih cepat dan dapat menunjukan mekanisme penurunan kerentanan
(Resistensi dan toleransi) yang di ukur pada serangga secara individu.
(Widiarti, 2002).
Tanaman sirsak merupakan salah satu jenis tanaman buah yang
banyak tumbuh di pekarangan rumah dan di ladang-ladang sampai ketinggian
tempat kira-kira1000 m dari permukaan laut. Sirsak juga memiliki manfaat
yang besar bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai buah yang syarat dengan
gizi dan merupakan bahan obat tradisional yang memiliki multi khasiat.
Dalam industri makanan, sirsak dapat diolah menjadi selai buah dan sari
buah, sirup dan dodol sirsak.
Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetoginin, antara lain
asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa
acetogenin memiliki keistimewan sebagai anti feedent. Dalam hal ini,
serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang
disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang
bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Septerina, 2002).

Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 3032 rantai


karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai
furanone dalam gugus hydrofuranone pada C23 memiliki aktifitas sitotoksik,
dan derivat acetogenin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin, bulatacin,
dan squamocin (Shidiqi dkk., 2008).
Menurut Mitsui et al. (1991), bahwa squamocin mampu menghambat
transport elektron pada sistem respirasi sel, sehingga menyebabkan gradien
proton terhambat dan cadangan energi tidak dapat membentuk ATP.
Bulatacin diketahui menghambat kerja enzim NADH-ubiquinone reduktase
yang diperlukan dalam reaksi respirasi di mitokondria (Panji, 2009).
Rislansyah (2000), membuktikan hasil penelitiannya, bahwa ekstrak
daun sirsak dapat digunakan untuk membunuh jentik Anopheles aconitus
dengan

tingkat

kematian

sebesar

100%.

Caranya

adalah

dengan

mencampurkan ekstrak daun sirsak ke dalam mangkok yang sudah berisi


jentik Anopheles aconitus dengan konsentrasi sebesar 0,130%.
Simanjuntak (2007), membuktikan hasil penelitiannya, bahwa ekstrak
bubuk daun sirsak dapat digunakan untuk mengendalikan hama rayap,
caranya adalah dengan meletakkan umpan rumah rayap yang diberi ekstrak
bubuk daun sirsakdengan dosis 6 gram kedalam toples yang telah berisi 20
ekor rayap.
Pada

umumnya,

petani

melakukan

pengendalian

dengan

menggunakan pestisida sintetik (kimia) dengan asumsi bahwa pestisida


sintetik lebih efektif untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Padahal jika dikaji lebih dalam penggunaan pestisida kimia mempunyai


dampak negatif bagi kehidupan baik tanaman, hewan, maupun manusia. Hal
ini karena pestisida sintetik (kimia) dapat menimbulkan dampak residu dan
mengakibatkan terjadinnya pencemaran pada tanah, air dan udara (rina,
2007).

B. Tujuan
Dari paparan latar belakang diatas maka tujuan dari penulisan laporan ini
yaitu : Mengetahui bagaimana pengendalian vector nyamuk secara alami
dengan menggunakan daun sirsak

C. Manfaat
1.
Secara Teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran bagi lingkungan akademik
dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan tentang pengendalian
vecktor nyamuk secara alami
2.

Secara Praktis
a.
Bagi penulis
a. Mendapatkan

pengalaman

kerja

khususnya

dalam

mengaplikasikan teori yang telah didapat di bangku kuliah.


b. Dapat mengetahui pengendalian vecktor nyamuk yang ada
b.

Loka Litbang P2B2 (SLPV) di Batu Raja


Bagi Dinas Kesehatan
Memberikan sumbangan pemikiran bagi lingkungan
akademik dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan
tentang tentang pengendalian vecktor nyamuk secara alami

c.

Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas


1. Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat dapat menjadi
salah satu bahan referensi bagi mahasiswa Fakultas
Kesehatan

Masyarakat

Universitas

Muhammadiyah

Bengkulu
2. Sebagai masukan dan data dasar bagi peneliti lain untuk
pengembangan penelitian lebih lanjut.
D. Ruang Lingkup
1. Lingkup Lokasi
Praktikum Kesehatan Masyarakat ini dilaksanakan di Loka Litbang
P2B2 (SLPV) di Batu Raja
2. Lingkup Materi
1. Identifikasi pengertia nyamuk
2. Identifikasi masalah pengendalian

vector

nyamuk

dengan

menggunakan bahan alami


3. Alternatif pemecahan masalah pengendalian vector nyamuk di Loka
Litbang P2B2 (SLPV) di Batu Raja
4. Prioritas alternatif pemecahan masalah pengendalian vector nyamuk
di Loka Litbang P2B2 (SLPV) di Batu Raja
3. Lingkup Waktu
Waktu pelaksanaan kerja Praktikum Kesehatan Masyarakat dimulai
dari tanggal 9 Februari 2015 sampai dengan 12 Februari 2015

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Nyamuk
1. Pengertian Nyamuk
Nyamuk adalah serangga tergolong

dalam

order Diptera;

genera

termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus,Aedes, Sabethes, W


yeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35
genera yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap
bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antarspesies
berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm. (Petrick Manupassa :
2005)

Dalam bahasa Inggris, nyamuk dikenal sebagai "Mosquito", berasal


dari sebuah kata dalam bahasa Spanyol atau bahasa Portugis yang
berarti lalat kecil. Penggunaan kata Mosquito bermula sejak tahun 1583.
Di Britania Raya nyamuk dikenal sebagai gnats. (Petrick Manupassa :
2005)
Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probosis panjang
untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian kasus burung atau
juga

reptilia

dan amfibi untuk menghisap darah.

Nyamuk

betina

memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet


nyamuk terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein,
kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan
protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina,
dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. Agak
7

rumit nyamuk betina dari satu genus, Toxorh (Petrick Manupassa : 2005)
2. Habitat Nyamuk
Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai
dengan keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak.
Kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk tidak sama
tiap jenis/spesies nyamuk. Nyamuk Anopheles aconitus cocok pada daerah
perbukitan dengan sawah non teknis berteras, saluran air yang banyak
ditumbuhi rumput yang menghambat aliran air. Nyamuk Anopheles
balabacensis cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan

dan perkebunan. Jenis nyamuk Anopheles maculatus dan Anopheles


balabacensis sangat cocok berkembang biak pada tempat genangan air
seperti bekas jejak kaki, bekas jejak roda kendaraan dan bekas lubang
galian (Petrick Manupassa : 2005).
Nyamuk Anopheles betina mempunyai kemampuan memilih tempat
perindukan atau tempat untuk berkembang biak yang sesuai dengan
kesenangan dan kebutuhannya. Oleh karena perilaku berkembang biak ini
sangat bervariasi, maka diperlukan suatu survai yang intensif untuk
inventarisasi tempat perindukan, yang sangat diperlukan dalam program
pemberantasan (Petrick Manupassa : 2005).

In the Southeast Asian countries of Vietnam, Cambodia, Laos and


Thailand the primary malaria vectors are An. dirus, An. minimus, An.
maculatus, and An. sawadwongporni with the relative importance of each
varying, depending on the ecology of the area where transmission is
occurring. Other species are occasionally incriminated: An. aconitus, An.
jeyporiensis, An. philippinensis, An.nivipes, An. barbirostris, and members
of the An. hyrcanus group. One feature common to all these species is that
they are zoophilic and are found more often feeding on cattle and buffalo
than on humans; the only exceptionbeing An. dirus, which has consistently
been shown to be an anthropophilic species and for this reason is the most

dangerous vector of all the species mentioned above (Petrick Manupassa :


2005)
Genus nyamuk yang tertangkap di Loka Litbang P2B2 (SLPV)
di Batu Raja
No.

Genus
1.

Anopheles

Jumlah nyamuk yang ditangkap (%)


Dalam Rumah
Luar Rumah
11,64
7,79

2.

Culex

85,34

91,56

3.

Aedes

3,02

0,65

Dari tabel 1 terlihat bahwa prosentase nyamuk Anopheles yang


tertangkap di dalam rumah sebesar 11,64%, sedangkan yang
tertangkap di luar rumah sebesar 7,79%. Prosentase Anopheles yang
tertangkap lebih sedikit dibandingkan dengan Culex, baik di dalam
maupun di luar rumah, sebesar 85,34% dan 91,56%. Hal ini mungkin
disebabkan masih banyak parit yang merupakan tempat yang potensial
bagi Culex untuk berkembang biak. Menurut Depkes RI (2001), Culex
dapat berkembang biak pada sembarang genangan air yang langsung
berhubungan dengan tanah, sedangkan Aedes hanya dapat berkembang
biak pada air yang cukup bersih dan tidak langsung berhubungan
dengan tanah (Ria Hastuty : 2006).
Jenis nyamuk Anopheles yang tertangkap di Loka Litbang P2B2
(SLPV) di Batu Raja
No

Jenis anopheles

An. sundaicus

Jumlah
nyamuk
tertangkap (%)
58,87

yang

10

2
3
4
5
6
Total

An. logilostrik
An. leucosphyrus
An. ramsayi an. maculatus
An. subpictus
An. ramsayi

19,61
3,92
5,88
5,88
7,84
100,00

Dari tabel 2 didapatkan 6 spesies Anopheles dengan presentase


paling banyak yaitu Anopheles sundaicus (58,87%), kemudian An.
longilostris (19,61%), An. subpictus (7,84%), An. maculatus dan An.
ramsayi (5,88%) dan yang paling sedikit An. leucosphyrus yaitu
(3,92%). Hasil identifikasi, Anopheles yang didapatkan di daerah
Pantai Puri Gading tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Ningsih
(2005)

hasil

yang

sama

juga

diperlihatkan

pada

penelitian

Naelittarwiyyah (1999) di Dusun Selesung, Pulau Legundi, Lampung


Selatan. Penelitian Fatma (2002) di Desa Hanura, dimana An.
sundaicus juga merupakan vektor yang paling dominan, diikuti oleh
An. annularis dan An.punctulatus (gambar terlampir). Hal ini diduga
karena Puri Gading merupakan daerah yang dekat dengan pantai
sehingga An. sundaicus keberadaannya lebih dominan dibandingkan
dengan spesies lain. Dominannya An. sundaicus juga tidak lain adalah
karena masih banyak ditemukannya tambak dan hutan bakau yang
dapat menjadi tempat perindukan yang paling disukai oleh An.
sundaicus. (Ria Hastuty : 2006).
3. Siklus Nyamuk

11

Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur, larva, pupa,
dan dewasa. Tempo tiga peringkat pertama bergantung kepada spesies dan suhu. Hanya nyamuk betina saja yang menyedot darah mangsanya.
dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan. Sebab, pada
kenyataanya, baik jantan maupun betina makan cairan nektar bunga. sebab
nyamuk betina memberi nutrisi pada telurnya. Telur-telur nyamuk
membutuhkan protein yang terdapat dalam darah untuk berkembang.
SIKLUS NYAMUK

Fase perkembangan nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa


sangat menakjubkan. Telur nyamuk biasanya diletakkan pada daun lembap
atau kolam yang kering. Pemilihan tempat ini dilakukan oleh induk
nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah perutnya.
Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembapan. Setelah

12

tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Telur-telur


itu panjangnya kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam
kelompok maupun satu persatu. Beberapa spesies nyamuk meletakkan
telur-telurnya saling berdekatan membentuk suatu rakit yang bisa terdiri
dari 300 telur (Ria Hastuty : 2006).
Selesai itu, telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman).
Pada periode ini, inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu
larva mulai keluar dari telurnya semua dalam waktu yang hampir sama.
Sampai siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan. Larva nyamuk
akan berubah kulitnya sebanyak 2 kali (Ria Hastuty : 2006).
Selesai berganti kulit, nyamuk berada pada fase transisi. Fase ini
dinamakan "fase pupa". Pada fase ini, nyamuk sangat rentan terhadap
kebocoran pupa. Agar tetap bertahan, sebelum pupa siap untuk perubahan
kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk muncul ke atas air. pipa itu
digunakan untuk alat pernapasan (Ria Hastuty : 2006).
Nyamuk dalam kepompong pupa yang cukup dewasa dan siap terbang
dengan semua organnya seperti antenaa, belalai, kaki, dada, sayap, perut,
dan mata besar yang menutupi sebagian besar kepalanya. lalu kepompong
pupa disobek di atas. Tingkat ketika nyamuk yang telah lengkap muncul
ini adalah tingkat yang paling membahayakan (Ria Hastuty : 2006).

13

Nyamuk harus keluar dari air tanpa kontak langsung dengan air,
sehingga hanya kakinya yang menyentuh permukaan air. Kecepatan ini
sangatlah penting, meskipun angin tipis dapat menyebabkan kematiannya.
Akhirnya, nyamuk tinggal landas untuk penerbangan perdananya setelah
istirahat sekitar setengah jam (Ria Hastuty : 2006).
Culex tarsalis bisa menyelesaikan siklus hidupnya dalam tempo 14
hari pada 20 C dan hanya sepuluh hari pada suhu 25 C. Sebagian spesies
mempunyai siklus hidup sependek empat hari atau hingga satu bulan.
Larva nyamuk dikenal sebagai jentik dan didapati di sembarang bekas
berisi air. Jentik bernafas melalui saluran udara yang terdapat pada ujung
ekor. Pupa biasanya seaktif larva, tetapi bernafas melalui tanduk thorakis
yang terdapat pada gelung thorakis. Kebanyakan jentik memakan
mikroorganisme, tetapi beberapa jentik adalah pemangsa bagi jentik
spesies lain. Sebagian larva nyamuk seperti Wyeomia hidup dalam keadaan
luar biasa. Jentik-jentik spesies ini hidup dalam air tergenang dalam
tumbuhan epifit atau di dalam air tergenang dalam pohon periuk kera.
Jentik-jentik spesies genusDeinocerites hidup di dalam sarang ketam
sepanjang pesisir pantai. (Ria Hastuty : 2006).
4. Kontak Vektor Dengan Host
Frekuensi menggigit, telah diketahui bahwa nyamuk betina
biasanya hanya kawin satu kali selama hidupnya. Untuk mempertahankan
dan memperbanyak keturunannya, nyamuk betina hanya memerlukan

14

darah untuk proses pertumbuhan telurnya. Tiap sekian hari sekali nyamuk
akan mencari darah. Interval tersebut tergantung pada species, dan
dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban, dan disebut siklus
gonotrofik. Untuk iklim Indonesia memerlukan waktu antara 48-96 jam.
Penangkapan nyarnuk didalam dan diluar rumah maka dari hasil
penangkapan tersebut dapat diketahui ada dua golongan nyamuk, yaitu:
eksofagik yang lebih senang mencari darah diluar rumah dan endofagik
yang lebih senang mencari darah didalam rumah. (Petrick Manupassa :
2005)

Grafik 1. Aktivitas menggigit nyamuk Anopheles


di dalam dan di luar rumah
Grafik memperlihatkan aktivitas menggigit nyamuk Anopheles
di dalam rumah terjadi peningkatan pada pukul 23.00 WIB kemudian
turun dan meningkat lagi pada pukul 02.00 dan 03.00 dini hari,
sedangkan aktivitas menggigit di luar rumah terjadi peningkatan pada
pukul 24.00 WIB dan kemudian turun dan meningkat lagi pada pukul
05.00 dini hari.

15

Nyamuk penular malaria mempunyai keaktifan menggigit pada


malam hari. Menurut Lestari (2007) nyamuk Anopheles paling aktif
mencari darah pukul 21.00-03.00. Menurut Darmadi (2002) kebiasaan
penduduk barada di luar rumah pada malam hari antara pukul 21.00 s/d
22.00 berhubungan erat dengan kejadian malaria, karena frekuensi
menghisap darah jam tersebut tinggi.
Perilaku menghisap darah vektor malaria (An. maculatus dan
An. balabacensis)

di kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo,

Yogyakarta disajikan pada gambar berikut :

Pada gambar tersebut tampak kedua spesies tersebut menghisap


darah sepanjang malam baik di dalam maupun di luar rumah dengan
puncak kepadatan terjadi dua kali, yaitu sekitar pukul 21.00 - 22.00
dan pukul 03.00 - 04.00 untuk Anopheles maculatus, sedang untuk
Anopheles balabacensis puncak kepadatan sekitar puku119.00 -21.00
dan puku124.00 - 02.00. Anopheles balabacensis paling dominan
menghisap darah di dalam rumah di semua wilayah, sedang Anapholes
maculatus dominan menghisap darah di luar rumah di desa Hargorejo.

16

Distribusi vektor malaria pada malam hari sebagian besar (89,44% 97,90%) ditemukan di kandang sapi dan sekitarnya.
From 2003 to 2007, 10,078 anophelines were collected off
human and animal baits. Using morphology and molecular analysis 21
species were identified from this material (Table 3). Six species: An.
sinensis,

An.

aconitus,

An.

harrisoni,

An.

maculatus,

An.

sawadwongporni and An. philippinensis were the most common and


accounted for 80.5% of all the specimens collected. While all species,
except for some of the less common ones (< 10 specimens collected),
were collected from humans the majority (80.94%) of specimens were
collected off non-human (cattle and buffalo) baits (Ria Hastuty : 2006).
5. Tempat Istirahat
Istirahat bagi nyamuk mempunyai 2 macam artinya: istirahat yang
sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur dan
istirahat sementara yaitu pada waktu nyamuk sedang aktif mencari darah.
Meskipun pada umumnya nyamuk memilih tempat yang teduh, lembab
dan aman untuk beristirahat tetapi apabila diteliti lebih lanjut tiap species
ternyata mempunyai perilaku yang berbeda-beda. (Tiara M.S.P)
Nyamuk Anopheles aconitus biasanya suka hinggap didaerah-daerah
yang lembab. Seperti dipinggir-pinggir parit, tebing sungai, dekat air yang
selalu basah dan lembab. Sedang spesies Anopheles maculatus pada siang
hari ditemukan istirahat di luar rumah pada tempat-tempat yang teduh
antara lain di kandang sapi dan kerbau, di semak-semak, di lubang-lubang

17

di tanah pada tebing dan lubang-lubang tempat pembuangan sampah.


Selama penangkapan pada siang hari tidak pernah menemukan Anopheles
maculatus istirahat di dalam rumah (Boesri dkk, 2003). Di daerah
Ketosari, bahwa pada siang hari Anopheles maculatus dan Anopheles
balabacensis ditemukan istirahat di semak-semak dan di kandang kambing
yang terbuat dari bambu (Petrick Manupassa : 2005)
Perilaku istirahat nyamuk Anopheles Sundaicus sangat berbeda
antara lokasi yang satu dengan lokasi yang lainnya. Di pantai Selatan
Pulau Jawa dan pantai Timur Sumatera Utara, pada pagi hari, sedangkan di
daerah Cilacap dan lapangan dijumpai pada pagi hingga siang hari, jenis
vektor An. Sundaicus istirahat dengan hinggap didinding rumah penduduk.
Sementara nyamuk Anopheles balabacensis Pada siang hari hanya sedikit
yang dapat ditangkap, didalam rumah penduduk, karena tempat istirahat
nyamuk ini adalah di alam terbuka. paling sering hinggap pada pohonpohon seperti pahon kopi, nenas dan tanaman perdu disekitar rumah
6. Jarak Terbang
Pergerakan nyamuk dari tempat perindukan ke tempat mencari mangsa
dan selanjutnya ke tempat untuk beristirahat ditentukan oleh kemampuan
terbang nyamuk. Pada waktu terbang nyamuk memerlukan oksigen lebih
banyak, dengan demikian penguapan air dari tubuh nyamuk menjadi lebih
besar. Untuk mempertahankan cadangan air di dalam tubuh dari
penguapan maka jarak terbang nyamuk menjadi terbatas. Aktifitas dan

18

jarak terbang nyamuk dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: faktor eksternal dan
faktor internal. Eksternal meliputi kondisi luar tubuh nyamuk seperti
kecepatan angin, temperatur, kelembaban dan cahaya. Adapun faktor
internal meliputi suhu tubuh nyamuk, keadaan energi dan perkembangan
otot nyamuk (Petrick Manupassa : 2005)
Jarak terbangnya nyamuk Anopheles aconitus dapat mencapai 1,5 km,
tetapi mereka jarang terdapat jauh dari sarangnya. Sementara jarak terbang
Anopheles maculatus kurang lebih 1 km tetapi mereka jarang terdapat jauh
dari sarangnya dan lebih suka mengigit binatang dari pada manusia
(Iskandar dkk, 1985). Sedangkan jarak terbang An. Sundaicus betina
cukup jauh. Pada musim densitas tinggi, masih dijumpai nyamuk betina
dalam jumlah cukup banyak disuatu tempat yang berjarak kurang lebih 3
kilometer (Km) dari tempat perindukan nyamuk tersebut

(Petrick

Manupassa : 2005)
B. Daun Sirsak
Menurut Tjitrosoepomo (1991), sistematika dari sirsak (Annona
muricata Linn.) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatopyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Class

: Dikotil

Sub Class

: Dialypetalae

19

Ordo

: Ranales

Familia

: Annonaceae

Genus

: Annona

Species

: Annona muricata Linn.

Nama sirsak berasal dari bahasa Belanda, Zuurzak yang berarti


kantung yang asam. Sirsak dalam bahasa Indonesia disebut nangka sabrang,
nangka landa atau nangka walanda (Jawa), sirsak (Sunda), nangka buris
(Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyen belanda (Aceh), durio ulondro
(Nias), durian batawi (Minangkabau), jambu landa (Lampung), langelo
walanda (Gorontalo), sirikaya balanda (Bugis dan Ujungpandang), wakano
(Nusa Laut), naka walanda (Ternate), naka (Flores), Ai ata malai (Timor)
(CoData, 2000).
Sirsak merupakan pohon yang tinggi dapat mencapai sekitar 3-8 meter.
Daun memanjang, bentuk lanset atau bulat telur terbalik, ujung meruncing
pendek, seperti kulit, panjang 6-18 cm, tepi rata. Bunga berdiri sendiri
berhadapan dengan daun dan baunya tidak enak. Daun kelopak kecil. Daun
mahkota berdaging, 3 yang terluar hijau, kemudian kuning, panjang 3.5-5 cm,
3 yang terdalam bulat telur, kuning muda. Daun kelopak dan daun mahkota
yang terluar pada kuncup tersusun seperti katup, daun mahkota terdalam
secara genting. Dasar bunga cekung sekali. Benang sari banyak penghubung
ruas sari di atas ruang sari melebar, menutup ruangnya, putih. Bakal buah
banyak, bakal biji 1. Tangkai putik langsing, berambut kepala silindris. Buah

20

majemuk tidak beraturan, bentuk telur miring atau bengkok, 15-35 kali,
diameter 10-15 cm. Biji hitam dan daging buah putih (Steenis, 2003).
Akar tunggang, perbanyakan dengan biji. Daun dan biji bisa dibuat
untuk ramuan insektisida nabati, tetapi daun dan biji sirsak perlu dihaluskan
terlebih dahulu lalu dicampur dengan pelarut. Buah yang mentah, biji, daun,
dan akarnya mengandung senyawa kimia annonain. Dengan cara kerja sebagai
racun kontak dan racun perut, ekstrak daun srikaya dapat dimanfaatkan untuk
menanggulangi hama belalang dan hama lainnya (Kardinan, 2004).

C. Pengendalian Vektor Nyamuk secara Alami


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.374 tahun 2010 tentang
Pengendalian Vektor mendefinisikan bahwa pengendalian vektor merupakan
kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor
serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi beresiko untuk
terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah atau menghindari kontak
masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh
vektor dapat dicegah.
Prinsip dasar dalam melakukan pengendalian vektor adalah sebagai
berikut :
a. Pengendalian

vektor

harus

menerapkan

bermacam-macam

cara

pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak
merugikan atau membahayakan.

21

b. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi


terhadap tata lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001)
Menurut Afrizal, berikut merupakan jenis-jenis pengendalian vektor :
a

Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan


memanfaatkan kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vektor.
Hal ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan


perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor. Namun, hal
ini hanya dapat dilakukan sementara.
1) Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation
improvement).
2) Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control)
yaitu dengan modifikasi atau manipulasi lingkungan.
3) Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan
memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa atau predator,
fertilisasi.
4) Pengendalian

dengan

pendekatan

perundang-undangan

(legal

control) yaitu dengan karantina.


5) Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control)
Teknologi yang tepat dan sesuai perlu diterapkan dalam pengendalian
vektor agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat
mencapai hasil yang baik. Namun, sampai saat ini masalah yang dihadapi

22

dalam pengendalian vektor di Indonesia yaitu dikarenakan factor terkait


kondisi geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman
vektor, belum teridentifikasinya spesies vektor (pemetaan sebaran vektor) di
semua wilayah endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida
dalam pengendalian vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor
terhadap pestisida tertentu, keterbatasan sumberdaya baik tenaga, logistik
maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian
vektor.
Telaah fitokimia telah mengungkapkan bahwa tumbuhan yang tergolong
Annonaceae mengandung bermacam-macam alkaloid, karbohidrat, lipid, asam
amino, protein, polyphenol, minyak esensial, terpen, dan senyawa aromatik
(Leboeuef et al., 1982 dalam Yus 1996). Salah satu tumbuhan yang tergolong
famili Annonaceae adalah sirsak (A. muricata) yang merupakan salah satu
tanaman penghasil insektisida. Daun sirsak mengandung bahan aktif annonain,
saponin, flavonoid, tanin (Kardinan, 2004). Bahkan Naria (2005), menyatakan
bahwa pada sirsak ditemukan senyawa bersifat bioaktif yang dikenal dengan
nama acetogenin.
Annonain merupakan senyawa golongan alkaloid yang terdapat pada daun
sirsak. Aktifitas fisiologinya bersifat racun dan memiliki rasa yang pahit.
Alkaloid memiliki sifat metabolit terhadap satu atau beberapa asam amino. Efek
toksik lain bisa lebih kompleks dan berbahaya terhadap insekta, yaitu
mengganggu aktifitas tirosin yang merupakan enzim esensial untuk pengerasan
kutikula insekta (Harborne, 1982).
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi dalam

23

lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan
bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya
membentuk busa dan menghemolisis sel darah merah. Sementara flavonoid
termasuk kelas fenol. Kelompok flavonoid yang bersifat insektisida alam
yang kuat adalah isoflavon. Isoflavon memiliki efek pada reproduksi yaitu
antifertilitas (Harborne, 1987).
Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang
tidak larut dalam air. Dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim
sitoplasma. Bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi.
Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan
hewan kita menganggap salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah
sebagai penolak hewan termasuk serangga (Harborne, 1987). Gejala yag
diperlihatkan dari hewan yang mengkonsumsi tanin yang banyak adalah
menurunnya laju pertumbuhan, kehilangan berat badan dan gejala gangguan
nutrisi (Howe & Westley, 1990 dalam Yus, 1996). Xu & Qin (1994, dalam Yus,
1996) juga telah membuktikan pengaruh hambatan tanin terhadap enzim protease
yang dikorelasikan dengan mencerna larva Heliothis armigera.
Senyawa acetogein pada konsentrasi yang tinggi akan bersifat antifeedant
bagi

serangga,

sehingga

menyebabkan

serangga

tidak

mau

makan.

Pada konsentrasi rendah dengan pemberian oral bersifat racun perut dan dapat
menyebabkan kematian (Naria, 2005).
Dari hasil pengujian aktivitas biologi terungkap bahwa bahan aktif
acetogenin yang berasal dari tumbuhan Annonaceae ini mempunyai kisaran

24

pengaruh yang cukup luas, yaitu bersifat toksik terhadap sel, memiliki
aktifitas anti tumor, anti mikroba, anti malaria, anti makan dan pestisida
(Rupprecht et al.,1990 dalam Yus, 1996).

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/tanggal : 9-12 Februari
Tempat: Loka Litbang P2B2 (SLPV) di Batu Raja
B. Tujuan Khusus Kegiatan Praktikum
Untuk mengetahui jumlah mortalitas atau kematian dari jentik nyamuk
yang direndam dengan ekstrak daun sirsak (Annona muricata).
C. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:
- Cup aqua
- Gelas ukur
- Mortal
- Timbangan digital
- Alat tulis
2. Bahan

25

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:


-

Daun sirsak (Annona muricata)


Jentik nyamuk Aedes aegypti
Air

D. Standar Operasional
Pertama daun sirsak ditimbang dahulu masing-masing 10 gram dengan 90
ml air, 20 gram dengan 80 ml air, 30 gram dengan 70 ml air, 40 gram dengan 60
ml air, dan 50 gram dan 50 ml air. Setiap masing-masing daun sirsak ditumbuk
dengan menggunakan mortal. Kemudian ekstrak daun sirsak tersebut dimasukkan
kedalam masing-masing cup. Cup yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Lalu
dimasukkan 10 ekor jentik nyamuk kedalam masing-masing cup.
Setelah itu dibiarkan selama 30 menit untuk menghitung kematian dari
jentik nyamuknya, masing-masing cup diletakkan secara acak yang disebut
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengamatan dilakukan sampai jentik
nyamuknya banyak yang mati. Tapi karena kurangnya angka kematian dari jentik
nyamuknya, waktu pengamatan ditambah sampai 24 jam.
Kemudian setelah waktu 24 jam, setiap jentik dimasing-masing cup
dihitung. Setiap satu perlakuan masing-masing 3 cup, sampai 6 perlakuan jadi 18
cup. Dihitung jumlah jentik nyamuk yang mati, setelah itu dijumlah didapatkan
persentase mortalitas jentik nyamuk yang mati.

26

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Deskripsi Tempat Penelitian
a. Sejarah
Melalui proyek ICDC/ADB di Baturaja Kabupaten Ogan
Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan telah dibangun secara bertahap
Stasiun Lapangan Pemberantasan Vektor (SLPV) tahun 1999. Dalam
perjalanan waktu SLPV berubah menjadi Unit Pelaksana Fungsional
Pemberantasan Vektor dan Reservoir Penyakit (UPF-PVRP) dan yang
kemudian, melalui persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dalam surat nomor 283/M.PAN/8/2003 tanggal 29 Agustus 2003 berubah
lagi menjadi Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Bersumber Binatang atau yang disingkat Loka Litbang P2B2. Organisasi
dan tata kerja dari Loka ini diputuskan melalui Surat Keputusan Menteri
Kesehatan

RI

Nomor

1406/MENKES/SK/IX/2003

tanggal

30

September2003.
Pembentukan unit baru bernama Loka Litbang P2B2 di Baturaja
ini dilatarbelakangi oleh keadaan geografis Indonesia, khususnya di Pulau
Sumatera yang secara alami membentuk keberagaman tipe ekologi dan
kehidupan, termasuk adanya variasi perbedaan jenis bionomik dan potensi
penyebaran vektor penyakit bersumber binatang dari suatu wilayah ke
wilayah lain, dengan keberagaman ini menyebabkan keberagaman variasi
terhadap faktor-faktor epidemiologis yang meliputi perubahan lingkungan

27

dari waktu ke waktu, perbedaan sosiobudaya, perbedaan kerentanan


penyakit dan perbedaan pola kehidupan binatang penular penyakit
(vektor) mengakibatkan adanya perbedaan pola penularan penyakitpenyakit bersumber bianatang seperti malaria, DHF, pes, filariasis,
chikungunya, Japanese B. enchepalitis dan lain sebagainya. Dengan
demikian upaya pemberantasan penyakit bersumber binatang dari wilayah
yang satu ke wilayah lain dimungkinkan adanya berbagai alternatif baik
pendekatan maupun metode dan cara pemberantasannya atau dengan kata
lain harus memakai pendekatan yang local specific.
Dengan terbatasnya tenaga baik kualitas maupun kuantitasnya
ditingkat Dinas Kesehatan Kabupaten dan Propinsi, dan bila dikaitkan
dengan kinerja aktifitas pemberantasan penyakit bersumber binatang,
terutama dengan kurangnya data epidemiologi, data parasitologi dan
entomologi menyebabkan kendala dan masalah dalam mencapai
pemberantasan penyakit bersumber binatang yang efektif dan efisien.
Dalam kegiatannya, Loka Litbang punya visi : pemberi informasi
iptek dan pengembang utama sumber daya manusia yang handal dalam
pengamatan dan kajian vektor, bionomiknya serta cara pengendalian
vektor penyakit bersumber binatang di wilayah regional Sumatera. Dan
misi : menghimpun, mengkaji, mengembangkan dan menyebarkan
informasi iptek tentang vektor, bionomik dan dinamika penularan penyakit
bersumber binatang, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia
dalam bidang pengamatan dan pengajian vektor, dan dinamika penularan
serta

cara

pengendalian

vektor

penyakit,

dan

menggalang

dan

28

mengembangkan kemitraan lintas program dan sektor terkait dalam


pengamatan dan pengkajian vektor serta dinamika penularan penyakit.
Melalui proyek ICDC/ADB di Baturaja Kabupaten Ogan
Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan telah dibangun secara bertahap
Stasiun Lapangan Pemberantasan Vektor (SLPV) tahun 1999. Dalam
perjalanan waktu SLPV berubah menjadi Unit Pelaksana Fungsional
Pemberantasan Vektor dan Reservoir Penyakit (UPF-PVRP) dan yang
kemudian, melalui persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dalam surat nomor 283/M.PAN/8/2003 tanggal 29 Agustus 2003 berubah
lagi menjadi Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Bersumber Binatang atau yang disingkat Loka Litbang P2B2. Organisasi
dan tata kerja dari Loka ini diputuskan melalui Surat Keputusan Menteri
Kesehatan

RI

Nomor

1406/MENKES/SK/IX/2003

tanggal

30

September2003.
Pembentukan unit baru bernama Loka Litbang P2B2 di Baturaja
ini dilatarbelakangi oleh keadaan geografis Indonesia, khususnya di Pulau
Sumatera yang secara alami membentuk keberagaman tipe ekologi dan
kehidupan, termasuk adanya variasi perbedaan jenis bionomik dan potensi
penyebaran vektor penyakit bersumber binatang dari suatu wilayah ke
wilayah lain, dengan keberagaman ini menyebabkan keberagaman variasi
terhadap faktor-faktor epidemiologis yang meliputi perubahan lingkungan
dari waktu ke waktu, perbedaan sosiobudaya, perbedaan kerentanan
penyakit dan perbedaan pola kehidupan binatang penular penyakit
(vektor) mengakibatkan adanya perbedaan pola penularan penyakit-

29

penyakit bersumber bianatang seperti malaria, DHF, pes, filariasis,


chikungunya, Japanese B. enchepalitis dan lain sebagainya. Dengan
demikian upaya pemberantasan penyakit bersumber binatang dari wilayah
yang satu ke wilayah lain dimungkinkan adanya berbagai alternatif baik
pendekatan maupun metode dan cara pemberantasannya atau dengan kata
lain harus memakai pendekatan yang local specific.
Dengan terbatasnya tenaga baik kualitas maupun kuantitasnya
ditingkat Dinas Kesehatan Kabupaten dan Propinsi, dan bila dikaitkan
dengan kinerja aktifitas pemberantasan penyakit bersumber binatang,
terutama dengan kurangnya data epidemiologi, data parasitologi dan
entomologi menyebabkan kendala dan masalah dalam mencapai
pemberantasan penyakit bersumber binatang yang efektif dan efisien.
Dalam kegiatannya, Loka Litbang punya visi : pemberi informasi
iptek dan pengembang utama sumber daya manusia yang handal dalam
pengamatan dan kajian vektor, bionomiknya serta cara pengendalian
vektor penyakit bersumber binatang di wilayah regional Sumatera. Dan
misi : menghimpun, mengkaji, mengembangkan dan menyebarkan
informasi iptek tentang vektor, bionomik dan dinamika penularan penyakit
bersumber binatang, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia
dalam bidang pengamatan dan pengajian vektor, dan dinamika penularan
serta

cara

pengendalian

vektor

penyakit,

dan

menggalang

dan

mengembangkan kemitraan lintas program dan sektor terkait dalam


pengamatan dan pengkajian vektor serta dinamika penularan penyakit.
b. Visi dan Misi

30

Visi: Pemberi informasi iptek dan pengembang utama sumber daya


manusia yang handal dalam pengamatan dan kajian vektor, bionomiknya
(perilaku) serta cara pengendalian vektor penyakit bersumber binatang di
wilayah regional Sumatera.
Misi:
1. Menghimpun,

mengkaji,

mengembangkan,

dan

menyebarkan

informasi iptek tentang vektor, bionomik dan dinamika penularan


penyakit bersumber binatang;
2. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam bidang
pengamatan dan pengajian vektor, dan dinamika penularan serta cara
pengendalian vektor penyakit; serta
3. Menggalang dan mengembangkan kemitraan lintas program dan sektor
terkaitdalampengamatan dan pengkajian vektor serta dinamika
penularan penyakit.
Misi utama Loka Litbang P2B2 Baturaja adalah melaksanakan
kegiatan penelitian yang bertujuan menghimpun data-data yang diambil
baik dari lapangan maupun laboratorium dalam bentuk informasi yang
selanjutnya dikaji dan dikembangkan bagi kepentingan para pengelola
program di daerah.

c. Tugas dan Fungsi


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1144 Tahun 2010,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan mempunyai tugas
melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan.

31

Untuk

menyelenggarakan

tugas

tersebut,

Badan

Litbangkes

mempunyai fungsi:
1. Penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penelitian dan
pengembangan kesehatan;
2. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan kesehatan;
3. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian dan
pengembangan kesehatan; dan
4. Pelaksanaan administrasi Badan.
2. Deskripisi Hasil Penelitian
Persentase Kematian Jentik Nyamuk Terhadap Konsentrasi Ekstrak Daun
Sirsak
Konsentrasi Ekstrak Daun Sirsak Ke0%
10%
20%
Cup Ke-

30%

1 2

10

40%
11

12

50%
14

15

16

18

Jumlah Kematian Jentik Nyamuk Selama 24 jam


-

1. Persentase mortalitas konsentrasi 0%


a) 10 10 = 0
b) 10 10 = 0
c) 10 10 = 0

6 7

9 7

10

10

32

Persentase mortalitas =

Jumlah

matiJumlah seluruh serangga x 100%


= 030 x 100 %
= 0%
2. Persentase mortalitas konsentrasi 10%
a. 10 5 = 5
b. 10 7 = 3
c. 10 - 9 = 1
Persenatse mortalitas = 930 x 100%
= 30%
3. Persentase mortalitas konsentrasi 20%
a. 10 - 5 = 5
b. 10 6 = 4
c. 9) 10 4 = 6
Persentase mortalitas = 1530 x 100%
= 50%
4. Persentase mortalitas konsentrasi 30%
a. 10 2 = 8
b. 10 5 = 5
c. 10 4 = 6
Persentase mortalitas = 1930 x 100%
= 63,33%
5. Persentase mortalitas konsentrasi 40%
a. 10 3 = 7
b. 10 1 = 9
c. 10 3 = 7
Persentase mortalitas = 2330 x 100%
= 76,66%
6. Persentase mortalitas konsentrasi 50%
a. 10 2 = 8

serangga

yang

33

b. 10 0 = 10
c. 10 0 = 10
Persentase mortalitas = 2830 x 100%
= 93,33%
B.

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan hasil uji coba dengan
formulasi yang sama dalam konsentrasi yang berbeda-beda menyebabkan
jumlah kematian jentik yang berbeda dengan rentang waktu yang sama. Hasil
yang diperoleh setelah penambahan ekstrak daun sirsak dengan waktu selama
24 jam adalah:
-

Konsentrasi 10% ekstrak daun sirsak dengan 90 ml air jumlah jentik yang

mati 9 (30%).
Konsentrasi 20% ekstrak daun sirsak dengan 80 ml air jumlah jentik yang

mati 15 (50%).
Konsentrasi 30% ekstrak daun sirsak dengan 70 ml air jumlah jentik yang

mati 19 (63,33%).
Konsentrasi 40% edktrak daun sirsak dengan 60 ml air jumlah jentik yang

mati 23 (76,66 %)
Konsentrasi 50% ekstrak daun sirsak dengan 50 ml air jumlah jentik yang
mati 28 (93,33%).
Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak sangat efektif dalam

membunuh jentik nyamuk karena dengan konsentrasi 50% ekstrak daun sirsak
mampu membunuh 28 jentik nyamuk dengan persentase hampir mendekati
100%. Berarti semakin besar konsentrasi ekstrak daun sirsak yang digunakan
maka jumlah jentik yang matipun semakin banyak dengan waktu yang lama.

34

C. Hasil analisa data


Data diatas diperoleh bahwa ekstrak daun sirsak sangat efektif dalam
membunuh jentik nyamuk. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah dan persentase
kematian jentik nyamuk pada percobaan dengan metode rancangan acak
lengkap (RAL). Dengan demikian dapat diketahui bahwa semakin besar
konsentrasi ekstrak daun sirsak maka jumlah kematian jentik nyamuk semakin
besar pula dengan waktu yang sangat lama, tetapi semakin kecil konsentrasi
ekstrak daun sirsak maka jumlah kematian jentik nyamuk semakin kecil pula.
Praktikum ini juga menggunakan kelompok kontrol dan jumlah jentik
yang digunakan pada kelompok kontrol adalah sama dengan jumlah jentik
pada kelompok perlakuan. Kelompok kontrol digunakan sebagai pembanding
apakah faktor lain selain ekstrak daun sirsak yang mempengaruhi kematian
jentik nyamuk tersebut.

35

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Penggunaan Ekstrak daun sirsak sebagai engendali vector nyamuk sangat
efektif dalam membunuh jentik nyamuk. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah
dan persentase kematian jentik nyamuk pada percobaan dengan metode
rancangan acak lengkap (RAL). Dengan demikian dapat diketahui bahwa
semakin besar konsentrasi ekstrak daun sirsak maka jumlah kematian jentik
nyamuk semakin besar pula dengan waktu yang sangat lama, tetapi semakin
kecil konsentrasi ekstrak daun sirsak maka jumlah kematian jentik nyamuk
semakin kecil pula.
B. Saran
1. Bagi Peneliti Lain, perlu dilakukan penelitian mengenai:
a. efikasi bioinsektisida sejenis dan memiliki kandungan senyawa yang
lebih efektif mematikan larva nyamuk
b. fikasi ekstrak daun sirsak selanjutnya, sebaiknya dilakukan pemisahan
klorofil dengan senyawa insektisida spesifik yang efektif membunuh
larva,
2. Bagi Masyarakat
Dalam upaya pengendalian vektor DBD masyarakat dapat
menggunakan bioinsektisida nabati yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan
yang ada di sekitar salah satunya daun sirsak salah satu alternatif yang
dapat dilakukan.
3. Bagi Pemerintah
Dalam upaya pengendalian vektor nyamuk, pemerintah dapat
melakukan pemberdayaan kepada masyarakat untuk memenfaatkan

36

potensi yang ada di lingkungan masyarakat seperti tumbuhan daun sirsak


sebagai bioinsektisida nabati sebagai salah satu upaya pengendalian vektor
secara kimia yang efektif dan aman untuk menurunkan angka kesakitan
yang ditularkan oleh nyamuk

37

DAFTAR PUSTAKA
Borror, D.J., Charles. dkk. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Ahli bahasa
oleh Soetiyono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Campbell, N.A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta. Erlangga : xxii + 403
hlm.
Tjitrosoepomo, G., 2005, Morfologi Tumbuhan, 145, UGM Press, Yogyakarta.

Abdul Rahim Mangiri. K11108280. Vectors And Malaria Transmission In


Deforested, Rural Communities In North-Central Vietnam.
Petrick Manupassa. K11108501. Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan
Insiden Penyakit Malaria di Kelurahan Teluk Dalam Kecamatan Teluk
Dalam Kabupaten Nias Selatan Tahun 2005.
Fitriani Sudirman. K11108251. Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dan Lingkungan
Sekitar Rumah Dengan Kejadian Malaria Di Desa Ketosari Kecamatan
Bener Kabupaten Purworejo. 2003
Andi Tilka Muftiah R. K1108286. Identifikasi Dan Aktivitas Menggigit Nyamuk
Vektor Malaria Di Daerah Pantai Puri Gading Kelurahan Sukamaju
Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung. 2005
Tiara A. M. S. Putirululan. K11108541. Gambaran Penyaklt Dan Vektor Malaria
Di Indonesia.2007
Ria Hastuty. K11108869. Bionomik Vektor Dan Situasi Malaria Di Kecamatan
Kokap, Kabup Aten Kulonprogo, Yogy Akarta, 2006

38

LAPORAN
PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT
PENGENDALIAN VEKTOR NYAMUK SECARA ALAMI

DISUSUN OLEH
CHARLES TAMBUNAN
1180100022

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
BENGKULU

39

2015
HALAMAN PERSETUJUAN
PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT

PENGENDALIAN VEKTOR NYAMUK SECARA ALAMI

DISUSUN OLEH
CHARLES TAMBUNAN
1180100022

Disetujui,
Pembimbing PKM

_____________________

40

LEMBAR
ii PENGESAHAN

PENGENDALIAN VEKTOR NYAMUK SECARA ALAMI

Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat


Telah Diseminarkan dan Disetujui
Oleh Dosen Pembimbing dan Penelaah

1. Drs. Rifai,M.Pd
Dosen Pembimbing

(______________________)

2. Alfian, SKM,MM
Dosen Penguji

(______________________)

3. Ir. Agus Ramon, M.Kes


Dosen Penguji

(______________________)

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Drs. RifaI, M.Pd


NBK. 029 577 375

41

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah


SWT,karena berkat rahmat, taufiq dan hidayah-Nya jualah, kita dapat
menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengarahkan kita pada
hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Laporan magang yang telah disusun, dibuat dalam rangka pelaporan
Magang Kerja Institusional yang telah dilaksanakan di Lokal Litbang, Kabupaten
Batu Raja Propinsi Palembang pada 9-12 Februari
Dalam pembuatan laporan ini penulis banyak dibantu oleh berbagai pihak,
oleh sebab itu penulis ucapkan terima kasih, dan penulis doakan semoga amal
dan ibadahnya mendapat balasan dari Allah SWT dengan berlipat ganda.
Selanjutnya penulis berharap semoga laporan magang kerja institusional
ini dapat dijadikan suatu karya ilmiah dalam bentuk laporan,

penulis juga

menyadari bahwa dalam laporan ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dari
berbagai pihak untuk penyempurnaan di masa yang akan datang.

Bengkulu,

Maret 2015

Penulis

iv

42

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...........................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
BAB

PENDAHULUAN ......................................................................
A. Latar Belakang ......................................................................
B. Tujuan....................................................................................
C. Manfaat..................................................................................
D. Ruang Lingkup.......................................................................

BAB

II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Nyamuk ................................................................................
B. Daun Sirsak ...........................................................................
C. Pengendalian Vektor Dengan Sirsak.....................................

BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................
B. Tujuan Khusus Kegiatan Praktikum......................................
C. Alat dan Bahan.......................................................................
D. Standar Operasional...............................................................

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil ......................................................................................
B. Saran......................................................................................

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


C. Kesimpulan ...........................................................................
D. Saran......................................................................................

Daftar Pustaka

43

44

45

46

47

48

49