Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Terkadang para dokter memberikan obat tanpa melihat atau

memperhatikan interaksi antara obat tersebut, apakah interaksi yng terjadi


dapat membahayakan pasien atau tidak.
Interaksi obat adalah peristiwa dimana aksi suatu obat di ubah atau
dipengaruhi oleh obat lain yang di berikan bersamaan. Interaksi obat
terjadi jika suatu obat mengubah efek obat lainnya. Kerja obat yang
diubah dapat menjadi lebih atau kurang aktif (1). Pengobatan dengan
beberapa obat sekaligus (Poifarmasi) yang menjadi kebiasaan para dokter
memudahkan terjadinya interaksi obat.
Suatu survey yang di laporkan pada tahun 1997 mengenai
Polifarmasi pada penderita yang dirawat di rumah sakit menunjukkan
bahwa insidens efek samping pada penderita yang mendapat 0-5 macam
obat adalah 3,5%, sedangkan yang mendapat 16 20 macam obat adalah
54%. Peningkatan insidens efek samping yang jauh melebihi Peningkatan
jumlah obat yang di berikan bersama ini diperkirakan akibat terjadinya
interaksi obat yang juga makin Meningkat (1).
Terkadang para dokter memberikan obat tanpa melihat atau
memperhatikan interaksi antara obat tersebut, apakah interaksi yng terjadi
dapat membahayakan pasien atau tidak.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1

Hiperglikemia (2)
Hiperglikemia merupakan keadaan peningkatan glukosa darah

daripoada rentang kadar puasa normal 80 90 mg / dl darah, atau


rentang non puasa sekitar 140 160 mg /100 ml darah.
Etiologi
Penyebab tidak diketahui dengan pasti tapi umumnya diketahui
kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor herediter yang
memegang peranan penting yang lain akibat pengangkatan pankreas,
pengrusakan secara kimiawi sel beta pulau langerhans.
1. Faktor predisposisi herediter, obesitas.
2. Faktor imunologi; pada penderita hiperglikemia khususnya DM
terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini
mereupakan

repon

abnormal

dimana

antibody

terarah

pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap


jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing
Patofisiologi
Hiperglikemia dapat disebabkan defisiensi insulin yang dapat
disebabkan oleh prosesautoimun, kerja pancreas yang berlebih, dan
herediter. Insulin yang menurunmengakibatkan glukosa sedikit yang
masuk kedalam sel. Hal itu bisa menyebabkan lemasdengan kadar
glukosa

dalam

darah

meningkat.

Kompensasi

tubuh

dengan

meningkatkanglucagon sehingga terjadi proses glukoneogenesis. Selain


itu tubuh akan menurunkanpenggunaan glukosa oleh otot, lemak dan hati
serta peningkatan produksi glukosa olehhati dengan pemecahan lemak
terhadap kelaparan sel. Hiperglikemia dapat meningkatkan jumlah urin
yang mengakibatkan dehidrasi sehingga tubuh akan meningkatkan rasa

haus(polydipsi).

Penggunaan

lemak

untuk

menghasilkan

glukosa

memproduksi badan ketonyang dapat mengakibatkan anorexia (tidak


nafsu makan), nafas bau keton dan mual(nausea) hingga terjadi
asidosis.Dengan menurunnya insulin dalam darah asupan nutrisi akan
meningkat sebagaiakibat kelaparan sel. Menurunnya glukosa intrasel
menyebabkan sel mudah terinfeksi.Gula darah yang tinggi dapat menyebabkan
penimbunan glukosa pada dinding pembuluh darah yang membentuk plak
sehingga pembuluh darah menjadi keras (arterisklerosis) danbila plak itu
telepas akan menyebabkan terjadinya thrombus. Thrombus ini dapat
menutupaliran darah yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit lain
(tergantung letak tersumbatnya, misal cerebral dapat menyebabkan
stroke,

ginjal

dapat

menyebabkan

gagal

ginjal,

jantung

dapat

menyebabkan miocard infark, mata dapat menyebabkan retinopati)bahkan


kematian.
II.2

Hipoglikemia (3)
Hipoglikemia adalah keadaan kadar gula darah di bawah nilai

normal ( < 45 50 mg / dL). Hipoglikemia perlu dicegah pada pasien


diabetes yang mendapatkan terapi pengendalian kadar glukosa darah
karena dapat menyebabkan kematian apabila kadar gula darah tidak
segera ditingkatkan.
Hipoglikemia adalah salah satu komplikasi yang dihadapi oleh
penderita diabetes melitus. Tidak seperti nefropati diabetik ataupun
retinopati diabetik yang berlangsung secara kronis, hipoglikemia dapat
terjadi secara akut dan tiba tiba dan dapat mengancam nyawa.2 Hal
tersebut disebabkan karena glukosa adalah satu satunya sumber energi
otak dan hanya dapat diperoleh dari sirkulasi darah karena jaringan otak
tidak memiliki cadangan glukosa. Kadar gula darah yang rendah pada
kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan kerusakan sel sel otak.
Kondisi inilah yang menyebabkan hipoglikemia memiliki efek yang fatal

bagi penyandang diabetes melitus, di mana 2% 4% kematian penderita


diabetes melitus disebabkan oleh hipoglikemia.
Etiologi
Hipoglikemia bisa disebabkan oleh: Pelepasan insulin yang
berlebihan oelh pankreas Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu
tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkankadar
gula darahnyaHipoglikemia paling sering terjadi disebabkan oleh insulin
atau obat lain (sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes
untuk menurunkan kadar gula darahnya. Jika dosis obat ini lebih tinggi
dari makanan yangdimakan maka obat ini bisa bereaksi menurunkan
kadar gula darah terlalu banyak. Penderita diabetes berat menahunsangat
peka terhadap hipoglikemia berat. Hal ini terjadi karena sel-sel pulau
pankreasnya tidak membentuk glukagon secara normal dan kelanjar
adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal. Padahal kedua
haltersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk mengatasi kadar
gula darah yang rendah. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar
adrenal Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan
glukosa di hati.Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia
akibat AIDS juga bisa menyebabkan hipoglikemia.Hipoglikemia kadang
terjadi

pada

penderita

kelainan

psikis

yang

secara

diam-diam

menggunakan insulin atau obathipoglikemik untuk dirinya.Pemakaian


alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang lama bisa
menyebabkan hipoglikemiayang cukup berat sehingga menyebabkan
stupor.Olah raga berat dalam waktu yang lama pada orang yang sehat
jarang menyebabkan hipoglikemia.Puasa yang lama bisa menyebabkan
hipoglikemia, hanya jika terdapat penyakit lain (terutama penyakit
kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal) atau mengkonsumsi sejumlah
besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati bisamenurun secara perlahan
sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan kadar gula darah yang
adekuat. Pada orang-orang yang memiliki kelainan hati, beberapa jam

berpuasa bisa menyebabkan hipoglikemia. Bayi dan anak-anak yang


memiliki kelainan sistem enzim hati yang memetabolisir gula bisa
mengalami hipoglikemia diantara jam-jammakannya. Seseorang yang
telah menjalani pembedahan lambung bisa mengalami hipoglikemia
diantara jam-jammakannya (hipoglikemia alimenter, salah satu jenis
hipoglikemia reaktif). Hipoglikemia terjadi karena gula sangatcepat diserap
sehingga merangsang pembentukan insulin yang berlebihan. Kadar
insulin yang tinggi menyebabkan penurunan kadar gula darah yang cepat.
Hipoglikemia

alimentari

kadang

terjadi

pada

seseorang

yang

tidak menjalani pembedahan. Keadaan ini disebut hipoglikemia alimentari


idiopatik. Jenis hipoglikemia reaktif lainnyaterjadi pada bayi dan anakanak karena memakan makanan yang mengandung gula fruktosa dan
galaktosa atau asamamino leusin. Fruktosa dan galaktosa menghalangi
pelepasan glukosa dari hati; leusin merangsang pembentukaninsulin yang
berlebihan oleh pankreas. Akibatnya terjadi kadar gula darah yang rendah
beberapa saat setelahmemakan makanan yang mengandung zat-zat
tersebut.
Penyebab lainnya adalah penyakti autoimun, dimana tubuh
membentuk antibodi yang menyerang insulin. Kadar insulin dalam darah
naik-turun secara abnormal karena pankreas menghasilkan sejumlah
insulin untuk melawanantibodi tersebut. Hal ini bisa terjadi pada penderita
atau bukan penderita diabetes. Hipoglikemia juga bisa terjadiakibat gagal
ginjal atau gagal jantung, kanker, kekurangan gizi, kelainan fungsi hipofisa
atau adrenal, syok dan infeksi yang berat. Penyakit hati yang berat
(misalnya hepatitis virus, sirosis atau kanker) juga bisa menyebabkan
hipoglikemia.
II.3

Artritis Gout (Pirai) (4)


Asam urat merupakan sebutan orang awan untuk rematik pirai

(gout artritis). Selain osteoartritis, asam urat merupakan jenis rematik

artikuler terbanyak yang menyerang penduduk indonesia. Penyakit ini


merupakan gangguan metabolik karena asam urat (uric acid) menumpuk
dalam jaringan tubuh, yang kemudian dibuang melalui urin. Pada kondisi
gout, terdapat timbunan atau defosit kristal asam urat didalam persendian.
Selain itu asam urat merupakan hasil metabolisme normal dari
pencernaan protein (terutama dari daging, hati, ginjal, dan beberapa jenis
sayuran seperti kacang dan buncis) atau dari penguraian senyawa purin
yang seharusnya akan dibuang melalui ginjal, feses, atau keringan. Asam
urat merupakan sebutan orang awan untuk rematik pirai (gout artritis).
Selain osteoartritis, asam urat merupakan jenis rematik artikuler terbanyak
yang menyerang penduduk indonesia. Penyakit ini merupakan gangguan
metabolik karena asam urat (uric acid) menumpuk dalam jaringan tubuh,
yang kemudian dibuang melalui urin. Pada kondisi gout, terdapat
timbunan atau defosit kristal asam urat didalam persendian. Selain itu
asam urat merupakan hasil metabolisme normal dari pencernaan protein
(terutama dari daging, hati, ginjal, dan beberapa jenis sayuran seperti
kacang dan buncis) atau dari penguraian senyawa purin yang seharusnya
akan dibuang melalui ginjal, feses, atau keringat.
Patofisiologi
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih
besar

dari

7,0

mg/dl)

dapat

menyebabkan

penumpukan

kristal

monosodium urat. Peningkatan atau penurunan kadar asam urat serum


yang mendadak mengakibatkan serangan gout. Apabila kristal urat
mengendap dalam sebuah sendi, maka selanjutnya respon inflamasi akan
terjadi dan serangan gout pun dimulai. Apabila serangan terjadi berulangulang, mengakibatkan penumpukan kristal natrium urat yang dinamakan
tofus akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan,
dan telinga (Smeltzer & Bare, 2001).

Pada kristal monosodium urat yang ditemukan tersebut dengan


imunoglobulin yang berupa IgG. Selanjutnya imunoglobulin yang berupa
IgG

akan

meningkat

fagositosis

kristal

dengan

demikian

akan

memperlihatkan aktivitas imunologik (Smeltzer & Bare, 2001).


Etiologi
Penyebab asam urat yaitu :
a. Faktor dari luar
Penyebab asam urat yang paling utama adalah makanan atau
faktor dari luar. Asam urat dapat meningkat dengan cepat antara
lain disebabkan karena nutrisi dan konsumsi makanan dengan
kadar purin tinggi.
b. Faktor dari dalam
Adapun faktor dari dalam adalah terjadinya proses penyimpangan
metabolisme yang umumnya berkaitan dengan faktor usia, dimana
usia diatas 40 tahun atau manula beresiko besar terkena asam
urat.
Selain itu, asam urat bisa disebabkan oleh penyakit darah, penyakit
sumsum tulang dan polisitemia, konsumsi obat obatan, alkohol,
obesitas, diabetes mellitus juga bisa menyebabkan asam urat.
II. 4

Interaksi Farmakoterapi Obat Hiperglikemia dan Obat Pirai

Kasus :
Seorang penderita komplikasi hiperglikemia dan sakit piraimendapatkan
farmakoterapi

simultan

untuk

mengatasi

penyakitnya

itu.

Setalah

mengkonsumsi obatnya beberapa hari kemudian, pasien justru mengalami


hipoglikemia berat. Jelaskan interaksi yang menyebabkan hipoglikemia
tersebut.
Pembahasan :
Interaksi obat yang terjadi antara obat hiperglikemik ( misal:
Gliklazid dari golongan Sulfonilurea) dengan obat pirai ( misal: Allupurinol)
adalah

sulfonilurea

yang

dierikan

bersama

dengan

allupurinol

mengakibatkan berkurangnya sekresi sulfonilurea atau metabolit lain


dalam urin sehingga efek hipoglikemik dari obat-obat sulfonilurea
meningkat. Allupurinol yang diberikan bersama glibengklamid salah satu
derivat sulfonilurea dapat meningkatkan efek glibengklamid terhadapt
kadar glukosa darah.
Allupurinol

sbagai

inhibitor

enzim

oksidase

menghambat

metabolisme gliklazid, karena kedua obat sama-sama dimetabolisme di


dalam hat secara oksidase, sehingga hal tersebut sangat mungkin terjadi
dan mengakibatkan kadar gliklazid dalam darah lebih besar dibandingkan
tanpa diberikan bersamaan dengan allupurinol. Kombinasi gliklazid
dengan allupurinol memberikan efek hipoglikemik yang lebih baik daripada
pemberian gliklazid tanpa allupurinol.
II.4.1 Cara Penanganannya
Untuk mengatasi interaksi tersebut dapat dilakukan dengan
memberikan jarak konsumsi kedua obat tersebut selama kurang lebih 2
jam dari waktu konsumsi obat pertama.

DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Departemen Farmakologi. 2009. Kumpulan Kuliah


Farmakologi eds. 2. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

2. Corwin J. Elizabeth. 2008. Handbook of Pathophysiology 3rd eds.


Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Bakta I Made, Suastika Ketut. 1998. Gawat Darurat di Bidang
Penyakit Dalam. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
4. Misnadiarly. 2007. Rematik : Asam Urat-Hiperuresemia, Arthritis
Gout. Jakarta. Pustaka Obor Populer.

TUGAS INTERAKSI OBAT

MAKALAH
INTERAKSI OBAT HIPERGLIKEMIA DENGAN OBAT PIRAI

OLEH
RINDY WULANDARY
N211 14 062
KELAS C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR
2015