Anda di halaman 1dari 10

CATATAN MATA KULIAH GEOLOGI RESERVOAR

(Ir. Sugeng Widada, MT)


M. Fachreza
CARBONATES RESERVOIR (Setelah UTS)

*40 % reservoir migas di dunia merupakan Batuan Karbonat (ex : Migas raksasa di Timur
Tengah)
*Namun reservoir ini memiliki tingkat kesulitan yg lebih besar ketimbang reservoir
silisiklastik
*Karbonat : Intrabasinal -> kimiawi/biokimiawi
*Silisiklastik : Commonly extrabasinal -> mekanis
*Proses kejadian : Presipitasi kim/bio, rombakan, endapan anorganik
Carbonate Sediment Factory
-

Lingkungan marin dangkal, hangat, dan jenih dimana mineral karbonat dapat
terendapkan secara maksimum
Faktor2 yang mempengaruhi :
1. Lintang dan iklim
Sebagian besar paparan karbonat terletak diantara 30o LU dan 30o LS. Namun
sedimen karbonat plangtonik bisa dijumpai melimpah di laut dalam (kaya akan

cangkang plangtonik) diantara 40o LU 40o LS.


Iklim mengontrol kecepatan suplai sedimen klastik darat ke basin. Jumlah
influx sedimen silisiklastik mempengaruhi tingkat kejernihan air, proses

fotosintesa, dan produktivitas karbonat.


2. Daya tembus sinar
Dibutuhkan oleh organisme penghasil material karbonat untuk berfotosintesa

dan dipengaruhi oleh kedalaman air, lintang, dan kejernihan air.


Kedalaman air dimana penguapan dan fotosintesa pada keadaan setimbang dsb

sebagai zona eufotik (Kedalaman maximal koral utk hidup).


Batas kedalaman koral utk dapat tumbuh dipengaruhi oleh posisi geografis dan
kejernihan air.
(ex : Laut Karibia pada kisaran 40-60 m, Indo-Pasifik pd 15-90 m)
1

3. Salinitas
Keanekaragaman dan kelimpahan biota merupakan indikator kesehatan

carbonat factory.
Peningkatan salinitas akan mengurangi keanekaragaman biota dan akan
diimbangi dengan peningkatan populasi biota yang bertahan hidup.

Komposisi Batuan Karbonat


Batuan karbonat terdiri dari 3 konstituen utama, yakni :
1. Butiran
Merupakan komponen utama
Sisa-sisa cangkang yang terendapkan secara organik
Dapat terendapkan secara anorganik
Maupun campuran keduanya
Terdiri dari 2 jenis, yakni : Skeletal Grains & Non Skeletal Grains
Ex. Skeletal Grains : Bioklast
Ex. Non Skeletal Grains : Intraklast, Ooid, Pellet/Pelloid,dll.
2. Lumpur Karbonat
3. Semen
Klasifikasi Batuan Karbonat oleh Dunham,1962
1. Mudstone
Kondisi air tenang tanpa pengaruh pasang surut, arus dan gelombang laut (laut dalam.
Lingkungan transisi dan laut dangkal yang tertutup)
2. Wackestone & Packestone
Merupakan transisi antara mudstone dan grainstone
Terakumulasi pada lingkungan dengan aktivitas arus yang tidak mampu
mencuci lumpur (lingkungan yang jauh dari platform margin)
3. Grainstone
Terbentuk oleh bioklas, ooid &/ Pellet dan terbentuk pada lingkungan dgn

energi tinggi seperti pada beach dan shoal.


Kondisi energi tinggi bisa konstan maupun periodik, dimana aktivitas

gelombang mencuci lumpur dan meninggalkan butiran2 yg kasar.


4. Boundstone
Merupakan bagian organik non klastik yang terbentuk dari hasil aktivitas binding,
baffling, maupun frame building.

Porositas Batuan Karbonat


1. Porositas Primer (Energi hidraulik pada lingkungan pengendapannya)
2

Pada saat terendapkan sedimen karbonat mempunyai porositas tinggi yakni


berkisar 70%. Porositas pada lumpur karbonat akan berkurang dengan cepat
menjadi 40% karena kompaksi mekanis pada awal pembebanan. Porositas
primer pada sedimen karbonat pasiran berkurang karena sementasi dan

kompaksi kimiawi.
Syarat-syarat batuan karbonat dapat mempunyai porositas primer tinggi :
Porositas inisial bagus.
Terhindar dari proses sementasi kimiawi awal secara total.
Terhindar dari kompaksi kimiawi dan mekanis.
(note : Sulit mendapatkan kondisi dimana porositas primer bagus,
kebanyakan reservoir batugamping ialah porositas sekunder yang

berkembang).
2. Porositas Sekunder
Pelarutan mineral-mineral tidak stabil.
Fase tensional yang membentuk rekahan atau suture terbuka.
Perubahan mineralogi dalam batuan yg menyebabkan terjadinya perubahan
volume dengan terbentuknya mineral dengan berat jenis >>> sehingga
terbentuk pori (dolomitisasi).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karateristik Reservoar Karbonat
1. Lingkungan Pengendapan;
2. Proses Diagenesa.
1. Lingkungan Pengendapan
Mempengaruhi distribusi dan ukuran pori inisial serta geomteri dari facies

pengendapan individual.
Pembagian lingkungan pengendapan karbonat :
Peritidal (Tidal Flat)
a. Supratidal :
Merupakan lingkungan yang terletak di atas batas pasang
tertinggi.
Sifat endapan tergantung pada iklim.
Peloidal Wackestone biasa dijumpai.
Fauna terbatas, seperti Gastropod, Algae, Foram, dan
Ostracoda.
Adanya air asin dan air tawar menjadikan supratidal zone
penting untuk terjadinya proses alterasi diagenetik awal.
b. Inter-tidal :

Merupakan lingkungan yang terletak antara pasang rata-rara


tertinggi dan terendah, dimana perubahan yang teratur antara
surut dan pasang terjadi.
Proses sedimentasi terjadi secara ritmik yang mencerminkan
proses pasang surut periodik.
Kehidupan cukup melimpah tetapi dengan kondisi ekstrim krn
biota harus beradaptasi dengan pasang surut, suhu, pH,
salinitas, dan kimia air yang bervariasi.
Iklim mempunyai pengaruh penting, sebagai contoh algae mat
hanya terbentuk pada daerah arid.
Terdiri dari sub-lingkungan foreshore, beach, tidal channel,
levee, mangrove swamp, dan beach ridge.
Merupakan zona untuk teradinya alterasi diagenetik awal
termasuk pembentukan dolomit dan evaporit.
Litologi yang dijumpai : Oolitik Grainstone, Bioclast
Grainstone, Intraclast Storm Deposit.
Merupakan zona dengan tingkat energi tinggi, tergantung pada
pengaruh pasang-surut, arah angin, arus, dan ada tidaknya
barrier.
c. Subtidal :
Dibawah pasang terendah.
Low energy (?), ttp pada daerah dengan aktivitas arus dan
gelombang yang tinggi, tingkat energi masih tinggi dan
sedimen yang dijumpai sama dengan zona inter-tidal.
Merupakan zona dimana koral tumbuh, ooid terbentuk,
pembentukan channel, delta, dan bioklas shoal.
Merupakan lingkungan penting untuk pengendapan karbonat.
Mikrofauna beraneka ragam tergantung pada salinitas air.
Litologi yang dijumpai : wackestone, packestone, grainstone.
Kompleks Tepian Paparan (Shelf Margin)
Dijumpai pasir karbonat dan terumbu.
Terumbu dijumpai dimana kerangkanya yg rigid mampu menahan
aksi gelombang dan bahkan dengan itu, biota tersebut dapat
memperoleh nutrien dari laut dalam.
Pasir karbonat berasal dari terumbu/ hewan dan tumbuhan yang
hidup di tepian paparan dan terakumulasi sepanjang daerah antara
tepian paparan dan slope.
Ada 3 profil organix build-up yang biasa dijumpai, yakni :
4

a. Tipe-1 Downslope lime-mud accumulation


- Akumulasi lumpur karbonat dan endapan organik yang
-

menuruni lereng.
Membentuk endapan lumpur bioklastik/mounds belt

yang linier pada lereng depan dari tepian paparan.


b. Tipe-2 Knol Reefs sepanjang profil dengan lereng landai
- Tepian paparan tersusun oleh mound, organic fram
building dalam kelompok terpisah atau organisme yang
berkembang diatas wave base dan dari akumulasi
rombakan.
c. Tipe-3 Frame Build Organic Reefs
- Tepian paparan berupa frame-constructed reef rims
seperti kumpulan coral-algae dengan kehidupan sessile
-

yang berkembang diatas wave base.


Tepian paparan biasanya mempunyai lereng curam dan

talus debris.
Slope
Terletak diatas batas bawah air yang teroksigenasi dan diatas sampai
dibawah wave base.
Kemiringan lereng sekitar 40o dan biasanya tidak stabil.
Proses deposisi : didominasi oleh transportasi sedimen dari tepian
paparan ke arah laut oleh proximal turbidite atau hugh density
sediment gravity flow dan slide atau slump.
Partikel berbutir halus terendapapkan secara suspensi membentuk
lapisan tipis mudstone, sementara slump, debris flow dan arus turbidit
mengendapkan sedimen berbutir kasar. Ex : Breksi, konglomerat/pasir
karbonat (Grainstone,packestone,dkk)
Pola facies dipengaruhi oleh relief tepian paparan.
Basin
Kedalaman mencapai ratusan meter dan berada dibawah wave base.
Kolom air teroksigensasi, salinitas air laut normal, dan sirkulasi arus
baik tetapi lemah.
Didominasi oleh partikel berbutir sangat halus yang berasal dari
cangkang mikroorganisme plangtonik yang akan membentuk chalk
pada saat terlitifikasi.
Fauna bentos laut dalam hadir dan terawetkan dalam bentuk fosil
utuh/pecah. Burrow melimpah dan perlapisan nodular umum dijumpai.
Hubungan Antara Lingkungan Pengendapan dengan Reservoar

Ada dua unsur lingkungan pengendapan yang mempengaruhi karateristik reservoar


karbonat, yakni :
1. Tingkat Energi Kinetik Air
Energi kinetik air yang tinggi mempengaruhi pembentukan porositas
interpartikel pada batuan karbonat berbutir kasar. Partikel halus tercuci dan
tertrasnport ke zona sub-tidal, sementara partikel kasar terendapkan dgn

porositas interpartikel.
Pada lingkungan pengendapan berenergi rendah yang konstan, akumulasi
mikroorganisme atau pecahan cangkangnya akan membentuk porostias

interpartikel yang sangat kecil.


2. Bentuk Pertumbuhan Organisme
Porositas framework dipengaruhi oleh pertumbuhan organisme tipe framebuilding seperti koral, namun tipe porositas ini mudah teralterasi oleh

diagenesis sehingga jarang terpreservasi dalam kondisi aslinya.


Porositas fenestral biasanya berhubungan dengan perkembangan alga mat dan
terdiri dari rongga-rongga yang terbentuk oleh gelembung gas atau peruraian

material organik setelah proses litifikasi sedimen disekitarnya.


Porositas intraprtikel sering dijumpai pada bebearap sedimen seperti Rudistid
reef, konsentrasi foram atau bivalves.

Note : Porositas primer sangat dipengaruhi oleh setting pengendapan. Dalam sikuen
pengendapan pengkasaran keatas yang terbentuk oleh peningkatan energi, bagian yang paling
bagus untuk berkembangnya reservoar dgn porositas primer adalah bagian top dari sekuen.
Sementara itu, pada sikuen penghalusan keatas, batuan dengan potensi reservoir terbaik
terletak pada batuan yang terendapkan oleh energi tertinggi, yaitu pada bagian bawah sikuen.
Diagenesa Batuan Karbonat
Terjadi karena interaksi antara air dekat permukaan dengan batuan. Ada 3 zona air
tanah berdasarkan dengan pola distribusinya, yakni :
1. Zona Vadose
Zona yang terletak diatas muka air tanah.
Dicirikan oleh aliran air tanah yang tidak menerus.
Merupakan xona penting untuk pembentukan pori karena adanya proses

dissolusi.
Proses sementasi pada kontak partikel jarang terjadi dan jenis semennya ialah
kalsit.
6

Proses dissolusi dan sementasi dipengaruhi iklim.

2. Zona Phreatik
Merupakan zona yang terletak di bawah muka air tanah.
Dicirikan oleh aliran tanah yang permanen.
Merupakan zona penting untuk terjadinya proses sementasi.
Aragonite tidak terbentuk pada zona ini.
Air dipenuhi CaCo3 yang mempunyai rasio Mg/Ca kecil. Semen kalsit
diinterpreasikan mengisi didalam rongga pori dan menutup pori intra maupun
interpartikel.
3. Zona Phreatik Marin
Merupakan zona yang terbentuk akibat adanya invasi air laut pada sedimen.
Dampaknya terhadap proses diagenesa tidak diketahui dengan baik.
Zona percampuran air tawar dengan air laut merupakan tempat terjadinya
sementasi.
Fase Diagenesa
Terdiri dari 3 fase, yakni :
1. Fase Awal
2. Fase Pembebanan
3. Fase Alterasi Subaerial Akhir
1. Fase Awal (Eogenesis)
Proses Biologis
Sebelum/sesudah litifikasi dan akan mengubah karakter reservoir, terdiri dari :
Aktivitas organisme :
Mempunyai efek langsung pada porositas, yaitu dengan terbentuknya
aringan pori pada sedimen lunak (burrow oleh cacing atau udang)/ pada
sedimen yang sudah terlitifikasi (boring oleh moluska). Aktivitas hanya
terbatas terjadi dekat permukaan sedimen saja.
Aktivitas mikroorganisme (Algae,dll) :
Tidak mempunyai efek langsung terhadap porositas. Biota tersebut
merusak permukaan partikel sehingga mengalami korosi/mikritisasi dan
membentuk

kondisi

yang

memungkinkan

terjadinya

dissolusi/perlindungan terhadap adanya overgrowth. Aktivitas ini sebagian


besar berlangsung pada sedimen dekat permukaan, namun dapat menerus

pada burial sedimen.


Proses Fisik

Proses keluarnya air dari sedimen permukaan yang lunak dapat membentuk

porositas tipe rekahan shrinkage atau breksiasi.


Proses Kimiawi
Dissolusi :
Dapat terjadi pada Aragonite karena interaksi dengan air laut/tawar, kalsit
karena interaksi dengan air meteorik/ dolomite dengan campuran air lautair tawar, sebagai hasilnya terbentuk porositas moldic, vuggy, micro
crystaline, intercrystaline, chalky.
Sementasi :
Presipitasi Aragonite akan memberikan semen anorganik tipe fibrous dan
akan mengurangi porositas. Presipitasi kalsit dapat membentuk kristalkristal berukuran seragam yang akan mengisi rongga pada cangkang
organisme/membentuk semen tipe drusy mosaic yang akan mengisi rongga
interpartikel.
Dolomitisasi :
Interaksi antara kalsit dengan air hypersaline dapat menyebabkan
perubahan kalsit menjadi dolomite (pada lumpur karbonat), sebagai
hasilnya terbentuk porositas sekunder tipe interkristalin. Namun pada awal
proses dolomitisasi akan ditandai dengan pengurangan porositas karena

sementasi pada lumpur karbonat.


Proses Biokimia
Aktivitas
bakteri
pada
material

organik

pada

lingkungan

supratidal/intertidal dapat membentuk porositas fenestral. Pori terbentuk


karena lepasnya gelembung gas akibat proses peruaraian material organik
oleh bakteri.
2. Fase Pembebanan (Mesogenesis)
Mulai terjadi pada saat sedimen sudah tidak dipengaruhi oleh air permukaan

dan berakhir pada saat sedimen tersingkap lagi ke permukaan.


Faktor yang mempengaruhi karateristik reservoar :
Kedalaman, suhu, aliran air, dan waktu burial.
Aktivitas tektonik, intensitasnya, durasi, dan sifatnya.
Faktor tersebut akan mengubah porositas awal, baik mengurangi ataupun
menambah dengan terbentuknya jaringan rekahan.
Proses yang berlangsung dan efeknya :
a. Kompaksi
Sesudah pengendapan dan menerus seiring dengan waktu.
Jika sedimen masih lunak maka akan terjadi proses deformasi
plastis.

Pada sedimen yang telah terlitifikasi akan terjadi proses


penyusunan kembali fabric dan mengurangi porositas interpartikel.
Fragmen yang rapuh akan hancur, fragmen yang rigid akan
memipih.
b. Pressure Solution
Pada awalnya efeknya terlihat pada kontak antar partikel dan akan
membentuk mikrostilolit yang akan mengurangi volume pori,
setelah volume pori berkurang tekanan akan tersebar kesemua
bagian batuan.
c. Pertumbuhan Kristal
Karena peningkatan suhu dan tekanan, kesetimbangan kimia
karbonat pada fase awal diagenesa akan berubah, sebagai akibatnya
terjadi perubahan sifat kimia (transformasi, hilang/hadirnya
magnesium)

sifat

kristalografik

(epitaxial,

overgrowth,

rekristalisasi, mikritisasi) yang akan mengurangi porositas dgn


adanya pertumbuhan kristal / penyusunan kembali fabric.
d. Dolomitisasi
Perubahan sifat kimia yang dapat menyebabkan terjadinya
dolomitisasi yang akan menambah porositas.
Proses dolomitisasi juga dapat berhubungan dengan sesar / rekahan
dan dapat meningkatkan porositas.
e. Pergerakan Tektonik
Terbentuknya rekahan baik yang terbuka (tensi) maupun yang
tertutup (kompresi).
3. Fase Alterasi Sub-Aerial Akhir (Telogenesis)
Sesudah terjadi pembebanan, litifikasi dan kompaksi, batuan karbonat dapat terekspos ke
permukaan kembali. Proses-proses penting yang dapat mengubah sifat reservoir karbonat
pada fase ini :
Dekomposisi Batuan :
Hilangnya overburden dapat menyebabkan pembentukan rekahan yang extensive.
Pedogenesis akibat perubahan iklim dapat membentuk jaringan porositas yang
sangat besar.
Interaksi dengan air yang merembes melalui rekahan yang terbentuk pada saat
pembebanan dapat menyebabkan terjadinya korosi atau dissolusi pada batuan.

Peristiwa ini dapat membentuk goa, porositas vug dan fissure (karstic porosity),
pengisian breksi runtuhan dapat mengubah sifat reservoir. Perubahan mineralogi
seperti dolomitisasi / dedolomitisasi dapat terjadi.

-Semoga bermanfaat-

10