Anda di halaman 1dari 14

CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM (CDM) /

MEKANISME PEMBANGUNAN BERSIH (MPB) DI INDONESIA

Tugas Mata Kuliah


Kualitas & Pengelolaan Pencemaran Lingkungan

Oleh
THOMAS ARIA CIPTA
NPM 1420011011

MAGISTER ILMU LINGKUNGAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I.

PENDAHULUAN

Bumi kini berbeban berat karena pemanasan global menyebabkan perubahan


iklim. Karena itu berbagai negara berupaya membuat kerangka kerja tentang
perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change).
Indonesia telah meratifikasi UNFCC 1994. Secara umum konvensi berupaya
menstabilkan temperatur global untuk menghindari dampak buruk. Kemudian,
1997, Protokol Kyoto disetujui bersama sebagai mekanisme mereduksi emisi gas
rumah kaca. Protokol Kyoto akan berlaku apabila telah diratifikasi 55 negara
dan mewakili 55 persen emisi negara Annex I tahun 1990. Hingga April 2004,
122 dari 134 negara telah meratifikasi, yang mewakili 44,2% emisi dunia. DPR
baru-baru ini juga telah menyetujui ratifikasi Protokol Kyoto yang kini tinggal
menunggu tanda tangan presiden. Protokol Kyoto hanya mewajibkan negara
maju (negara Annex I) untuk mengurangi tingkat emisinya.
Protokol Kyoto yang ditandatangani tahun 1997 akhirnya mulai berlaku sejak
16 Februari 2005. Sejak penandatanganan Persetujuan Marrakesh tahun 2001,
yang menetapkan aturan- aturan dasar bagi mekanisme Kyoto Clean
Development Mechanism (CDM) / Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB), Joint
Implementation (JI) / Implementasi Bersama, dan Emission Trading (ET) /
Perdagangan emisi CDM telah menjadi pelopor.
Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat pertumbuhan ekonomi dan
penduduk selama dua abad telah memperburuk dampak dari pemanasan global,
yang dapat mengarah pada perubahan iklim yang tidak dapat dipulihkan.
Meningkatnya kepedulian masayarakat global telah dibuktikan dengan
diadopsinya Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) oleh sebagian besar negara di
dunia pada KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992. Sejak saat itu diskusi
tentang isu perubahan iklim telah mencapai batu loncatan yang penting. Salah
satunya adalah diadopsinya Protokol Kyoto pada tahun 1997, dimana negara
industri/yang termasuk dalam Annex B memberikan komitmennya untuk
mengurangi emisi GRK dengan tujuan untuk mencapai stabilisasi konsentrasi
GRK di atmosfir.

CDM adalah salah satu dari tiga mekanisme fleksibel dalam Protokol Kyoto yang
dirancang untuk membantu negara industri/Annex B untuk memenuhi
komitmennya mengurangi emisi GRK dan membantu negara berkembang dalam
mencapai pembangunan berkelanjutan. CDM adalah satu-satunya mekanisme
fleksibel yang melibatkan negara berkembang. Berdasarkan Protokol Kyoto,
negara berkembang tidak memiliki kewajiban membatasi emisi GRKnya, akan
tetapi dapat secara sukarela berkontribusi dalam pengurangan emisi global dengan
menjadi tempat pelaksanaan proyek CDM.
Protokol Kyoto hanya dapat mengikat secara hukum jika sedikitnya 55 negara
pihak (Parties) Konvensi Perubahan Iklim meratifikasi dan jika total emisinya
mencapai 55% dari emisi negara Annex I Konvensi Perubahan Iklim pada
tahun 1990. Persyaratan ini dimasukkan untuk memastikan bahwa tidak ada
satupun Negara Pihak yang dapat mengagalkan Protokol Kyoto menjadi mengikat
secara hukum. Dengan telah disampaikannya dokumen dan instrumen ratifikasi
oleh Rusia kepada Sekretariat Konvensi pada bulan November 2004, Protokol
Kyoto telah mengikat secara hukum pada 16 Februari 2005. Dengan demikian
mekanisme fleksibel dalam rangka mencegah atau mengurangi emisi yang terdiri
dari Joint Implementation (JI), Clean Development Mechanism (CDM) dan
Emission Trading (ET) akan dapat menyerap aliran dana yang diperuntukkan bagi
mekanisme tersebut dan akan menarik lebih banyak negara untuk berpartisipasi.
Indonesia meratifikasi Konvensi Perubahan Iklim melalui UU No. 6 tahun 1994.
RatifikasiProtokol Kyoto disetujui oleh DPR tanggal 28 Juni 2004 dan melalui
UU No. 17 tahun 2004. Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto, dan disampaikan
ke Sekretariat Konvensi Perubahan Iklim tanggal 3 Desember 2004 melalui
Departemen Luar Negeri. Dengan meratifikasi Protokol Kyoto berarti membuka
peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi untuk
mengembangkan proyek CDM, yang akan bermanfaat dalam upaya menuju
pembangunan berkelanjutan. Sebagai konsekuensinya, akan memerlukan
persiapan di berbagai aspek mulai dari kebijakan dan regulasi, keuangan dan
aspek teknis dalam implementasi CDM.

Meskipun modaliti dan aspek-aspek teknis untuk implementasi CDM sudah cukup
jelas, namun bagi Indonesia masih terdapat beberapa isu dominan yang harus
ditangani. National Strategy Study (NSS) - CDM baik di sektor energi (tahun
2001) maupun sektor kehutanan (tahun 2003) menunjukkan adanya beberapa
tantangan/kendala yang perlu ditangani untuk implementasi CDM di Indonesia.
Hasil dari NSS mengindikasikan bahwa potensi CDM sektor energi sekitar 2,1 %
dari total1200 juta ton CO2 emisi Indonesia per tahun. Dengan demikian potensi
CDM sektor energi sebesar 25,2 juta ton CO2 per tahun dengan harga US $ 1,83
per ton. Pilihan kegiatan mitigasi yang paling memungkinkan antara lain : energi
panas bumi (geothermal energy), gas flaring, integrated combined cycle,
penggantian bahan bakar (fuel switching), cogeneration dan sistem pemanas
(heating systems). Di sektor kehutanan, hasil NSS menunjukkan bahwa sekitar 5,5
giga ton CO2 dapat diserap melalui kegiatan aforestasi dan reforestasi pada lahan
sekitar 32,5 juta ha. Diperkirakan 50 % dari luasan tersebut memenuhi syarat
untuk dijadikan proyek CDM, dengan demikian areal yang dapat dijadikan
proyek CDM sekitar 16 juta ha, setara dengan2,75 giga ton CO2 carbon sink
dengan potensi sekitar 184 juta ton CO2 per tahun.
CDM yang merupakan mekanisme internasional untuk mengurangi emisi GRK
tidak cukup sederhana untuk dengan mudah diikuti oleh para pihak yang
berminat. Ketentuan yang diatur di tingkat internasional baik teknis maupun nonteknis cukup banyak dan harus diterjemahkan serta disesuaikan dengan peraturanperundangan di tingkat nasional. Proyek CDM juga harus mematuhi prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Banyaknya isu teknis dan nonteknis dalam implementasi CDM merupakan salah satu pertimbangan dibuatnya
buku petunjuk ini. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk praktis
tentang potensi proyek CDM dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam
implementasi CDM energi dan non-energi di Indonesia.
II.

PENGEMBANGAN DAN PELAKSANAAN CDM / MPB

Negara berkembang (non-Annex I termasuk Indonesia), tidak diwajibkan. Protokol


Kyoto menetapkan tiga mekanisme utama dalam implementasinya, yaitu (a)
Implementasi Bersama (Joint Implementation) yang merupakan kerja sama antar

negara-negara Annex I; (b) CDM (Clean Development Mechanism atau Mekanisme


Pembangunan Bersih / MPB), di mana negara Annex I berinvestasi di negara nonAnnex I untuk proyek- proyek yang menghasilkan Pengurangan Emisi yang
Tersertifikasi (Certified Emission Reduction / CER); serta (c) Perdagangan Emisi
di mana negara maju menjual gas rumah kaca yang tidak diemisikan ke negara
maju lain yang tidak dapat memenuhi kewajiban. Dari paragraf di atas tampak
bahwa peluang Indonesia untuk mendapatkan dana dalam pengurangan emisi
adalah melalui proyek- proyek MPB.
2.1 Klasifikasi Kegiatan Proyek CDM / MPB
Proyek CDM dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian utama: (1) Reduksi emisi
GRK dan (2) Sekuestrasi (sink, penyerapan karbon). Di bawah 2 kategori
utama tersebut terdapat beberapa sub kategori yang digolongkan berdasarkan
dari besar/kecilnya proyek tersebut.

CDM

Sekuestrasi
(Penyerapan
Karbon)

Reduksi
Emisi GRK

Proyek
Skala Besar

Proyek
Skala Kecil

Proyek
Skala Biasa

Proyek
Skala Kecil

Gambar 1. Klasifikasi kegiatan proyek CDM

2
3

Emission reductions
activities

Tabel 1. Daftar kategori proyek yang memenuhi syarat CDM


Ruang Lingkup
Sektoral
Industri penghasil
energi
(terbarukan/ tak
terbarukan)
Distribusi Energi

Energi
Terbarukan
Energi
Tak
Terbarukan

Pemakaian Energi

Efisiensi Energi

Contoh Proyek

Listrik

Tenaga angin, matahari, air


dan panas bumi
Pembangkit
termal yang
menggunakan batubara dan
bahan bakar fosil
Jalur transmisi dan
distribusi
Peralatan yang pemakaian
energinya sangat efisien
dan fasilitas penerangan

Ruang Lingkup
Sektoral
Industri
Manufaktur

Industri Kimia

Konstruksi

Transportasi

Produksi
Pertambangan/Mi
neral
Produksi Logam

9
1
0

Emisi buangan
bahan bakar
(padat, minyak
dan gas)
Emisi akibat
produksi dan
konsumsi
halokarbon dan
sulfur
Pemakaian zat
heksaflorida
pelarut

1
1

1
2

Contoh Proyek
Efisiensi Energi
Penggantian
jenis bahan
bakar
Perubahan
proses produksi
Penggantian
material

Efisiensi Energi
Penggantian
Bahan bakar
Penggantian
bahan bakar
Efisiensi Energi
Perubahan
proses
Penggantian
bahan bakar
HFC

Insinerasi (pembakaran)
HFC-23 yang dihasilkan
oleh sampah

Penggantian
material pelarut

Penggantian dengan zat


yang memiliki emisi GRK
lebih rendah
Pemulihan gas hasil
landfill, pengolahan limbah
cair, pengolahan limbah
ternak

1
3

Penanganan dan
Pembuangan
Sampah

Penggantian
Bahan bakar

1
4

Afforestation and
reforestation

Afforestation
Reforestation

1
5

Sequestration

Peralatan yang pemakaian


energinya sangat efisien
Batubara diganti gas alam,
pemakaian batubara
berteknologi bersih
Penghilangan emisi
nitrogen oksida
Penggantian material
konstruksi yang
menghasilkan emisi GRK
lebih sedikit ; jarak
transport yang
lebih yang
Perbaikan
kendaraan
singkat
dari truk-truk
lebih
efisien,
penambahan
transit
Penggunaan bahan bakar
biologis, gas alam
Pemulihan gas metan dari
tambang batubara
Perbaikan efisiensi proses
Kuens (pendinginan)
batubara kering
(dry coke)
Pemulihan
dan pemakaian
kembali gas sampingan
dari pengeboran minyak

Pertanian

Pencegahan pembentukan
gas metan akibat
pembusukan biomasa

Sumber: UNFCC 2001;

2.2 Status dan peranan CDM di Indonesia


Di Indonesia, proyek-proyek yang berpotensi dapat menurunkan emisi
greenhouse gases dapat didaftarkan menjadi proyek CDM melalui Komisi
Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) untuk diteruskan ke
CDM Executive Board. Komnas MPB bertanggung jawab untuk menerbitkan

surat persetujuan atas usulan proyek CDM dan melakukan monitoring terhadap
kemajuan proyek CDM. Anggota Komnas MPB terdiri dari 14 instansi
kementerian, BAPPENAS, BPPT, Badan Pertanahan Nasional, dan Dewan
Nasional Perubahan Iklim. Struktur Komnas MPB diperkuat oleh tim ahli, tim
teknis dari 14 instansi, dan forum pemangku kepentingan. Keputusan persetujuan
atas usulan proyek CDM selalu mempertimbangkan empat bidang kriteria yang
berlaku di seluruh negara, yang kemudian diadopsi menjadi indikator
pembangunan berkelanjutan pada negara tersebut, yaitu: indikator lingkungan,
ekonomi, sosial, dan teknologi.
Sejak program CDM dibuka pada tahun 2008, hingga 1 Juli 2010 terdapat 48
proyek CDM dari Indonesia yang telah teregistrasi di CDM Executive Board.
Disamping itu, terdapat 122 proyek yang telah mendapat persetujuan Komnas
MPB untuk diteruskan ke tingkat CDM Executive Board. Sementara itu, sebanyak
134 proyek sedang dalam proses validasi untuk mendapatkan persetujuan
Komnas MPB [1]. Secara keseluruhan, terdapat 11 klasifikasi proyek pada
48 proyek yang telah teregistrasi di CDM Executive Board, dimana dapat
diketahui informasi mengenai rata-rata reduksi emisi tahunan, total reduksi emisi
pada tahun 2012, dan jumlah CERs yang telah diterbitkan.
2.3 Potensi MPB
Meski pada praktiknya proyek MPB prosesnya sangat sulit dan panjang untuk
didapatkan, potensi pasar MPB di Indonesia sebenarnya sangat besar
dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Simulasi Jotzo dan Michaelowa (2003)
menyatakan Indonesia memiliki potensi pasar CDM 3% dari potensi pasar dunia
atau setara dengan 125 juta ton karbon. Beberapa pakar lain bahkan memprediksi
potensi pasar Indonesia dapat mencapai 5% pasar, setara dengan 125-300 juta ton
CO2 atau 81,5-1.260 juta dollar AS dalam periode komitmen pertama dari Protokol
Kyoto. Berdasarkan National Strategy Study (NSS), emisi CO2 tertinggi berada
pada sektor yang berhubungan dengan energi (terdiri dari industri energi,
industri pengolahan, transportasi dan penggunaan rumah tangga/komersial) yaitu
55-77% total emisi domestik, kemudian Penggunaan Lahan, Perubahan Tata Guna
Lahan serta Kehutanan (Land Use, Land Use Change and Forestry/LULUCF) 1113%, dan terakhir sektor pertanian 13%.

2.3.1 Sektor Energi


Besarnya emisi di sektor energi menggambarkan besarnya potensi sektor energi
sebagai penerima proyek MPB. Masalah ratifikasi dari sisi energi terletak
pada dampaknya terhadap perekonomian makro domestik, karena pemanfaatan
energi perkapita rendah dan konsumsi energi dari bahan bakar fosil per rupiah
masih tinggi. Hasil simulasi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) 2003 menggunakan Tabel
Input-Output tahun 2000 dan diskusi penulis dengan Widjono Soetjipto dari LPEM
FEUI menunjukkan bahwa ratifikasi Protokol Kyoto berpengaruh kecil terhadap
perekonomian nasional. Penyebabnya terutama Indonesia sebagai negara
berkembang tidak diwajibkan mengurangi emisi CO2 setidak-tidaknya pada periode
komitmen pertama dalam implementasi Protokol Kyoto. Maka pilihan untuk
meratifikasi Protokol Kyoto bukan- lah sesuatu yang merugikan. Indonesia bahkan
dimungkinkan untuk memanfaatkan dana dari proyek MPB untuk mengurangi
tingkat emisinya.
Namun demikian, terdapat beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.
Pertama, Indonesia tidak secara otomatis berhak (eligible) memperoleh dana
MPB. Kelayakan proyek tetap menjadi acuan dalam mengalokasikan dana MPB.
Kedua, harga untuk CER saat ini, 3-7 dollar AS, jauh lebih kecil dari perkiraan
harga semula yang layak, yaitu 10-25 dollar AS, bahkan jika dibandingkan dengan
harga di negara Annex I yang 100 dollar AS. Harga yang rendah itu hanya
berpengaruh kecil terhadap kelayakan (peningkatan IRR) proyek energi sehingga
tidak menarik para investor. Ketiga, kesiapan kelembagaan yang berhubungan
dengan prosedur aplikasi dan persetujuan bagi proyek-proyek berbasis MPB di
Indonesia relatif tertinggal dibandingkan negara- negara Asia lainnya yang lebih
dahulu meratifikasi. Keempat, pengalaman awal pelaksanaan proyek berbasis
MPB menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk konsultansi yang
umumnya dilakukan oleh pihak asing sangat besar. Sehingga penting sekali
membangun kapasitas (capacity building) lokal agar domestik yang memanfaatkan.
Kelima, ketegasan pemerintah diperlukan dalam menetapkan siapa penerima
manfaat dari proyek MPB. Pengusaha ingin agar manfaat tersebut diterima

pengembang (developer) sebagai insentif untuk mengembangkan proyek-proyek


energi terbarukan. Pihak lainnya menginginkan agar manfaat tersebut dapat
diterima oleh penduduk lokal. Hal utama yang dapat dilakukan adalah
mempersiapkan aspek kelembagaan seperti Designated National Authority (DNA)
yang bersifat lintas sektoral; Domestik Operational Entity (DO) agar manfaat MPB
dapat lebih dinikmati; mengembangkan prosedur aplikasi dan persetujuan proyekproyek MPB untuk mengurangi biaya transaksi; mengembangkan kriteria
pembangunan berkelanjutan; serta menyatakan siapa penerima manfaat proyek
MPB. Untuk mengantisipasi kegagalan, pemerintah harus mempersiapkan
perencanaan pengembangan sektor energi jangka panjang dengan peningkatan
efisiensi energi, peningkatan pemanfaatan bahan bakar fosil yang relatif bersih
(clean fossil fuel), dan peningkatan kontribusi energi terbarukan.
2.3.2 Sisi Politis
Perlu dicatat pula bahwa pada akhirnya keputusan untuk meratifikasi Protokol
Kyoto tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi semata. Dari sisi
politis, kebersamaan dengan negara-negara berkembang untuk memperjuangkan
kepentingan bersama dalam mengatasi pemanasan global perlu memperoleh
perhatian. Dengan segala pertimbangan itu, tampaknya presiden tak perlu ragu-ragu
lagi menandatangani ratifikasi. Selain tidak diwajibkan menurunkan emisi,
Pemerintah Indonesia juga berhak untuk keluar dari ratifikasi jika pada periode
komitmen kedua Indonesia wajib menurunkan emisinya. Secara makro-ekonomi,
dampak ratifikasi ini cenderung dapat diabaikan. Ratifikasi ini juga akan dapat
berdampak positif terhadap Indonesia dengan adanya insentif penggunaan energi
yang lebih ramah lingkungan, terjadinya efisiensi penggunaan energi serta
mendorong lebih jauh energi mix di Indonesia dengan memperbesar penggunaan
energi yang terbarukan yang relatif ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari perjanjian internasional, CDM memiliki perspektif global yang
menyangkut banyak kepentingan berbagai Pihak, baik secara kolektif maupun
secara individu. Disamping itu CDM juga memiliki perspektif nasional dari segi
kepentingan setiap Pihak yang akan berpartisipasi dalam mekanisme ini. Negaranegara maju memiliki tanggungjawab atau target penurunan emisi adalah aspek

penting dari Protokol Kyoto. Sebagai bagian dari tanggungjawab tersebut negaranegara industri memiliki jatah emisi (assigned amount), artinya mereka memiliki
kesempatan mengurangi atau menambah emisi dalam jumlah tertentu agar
target pengurangan emisi global tetap tercapai. Keberhasilan CDM terletak pada
sumbangan proyek tersebut dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Kesetaraan antara negara maju dan berkembang menjadi konsep penting dalam
pembangunan berkelanjutan, kesetaraan juga berorientasi pada masalah sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Untuk mengimplementasikan CDM dan mekanisme
Kyoto lainnya diperlukan kelembagaan yang jelas dan transparan. Sebagai lembaga
tertinggi Protokol Kyoto, tugas utama Cop/mop seperti tercantum dalam Pasal 13.4
adalah mengupayakan terjadinya implementasi Protokol secara efektif dengan cara:
Menilai implementasi Protokol, menilai kewajiban Para Pihak, mendorong
terjadinya pertukaran informasi, memobilisasi dana, memanfaatkan jasa dan kerja
sama. Pengembangan proyek CDM dapat dilakukan oleh berbagai pihak, misalnya
lembaga pemerintah, lembaga nonpemerintah atau sektor swasta. Langkahlangkah yang harus dilakukan dalam mengembangkan proyek CDM adalah
identifikasi proyek, penyusunan dokumen desain proyek, pengesahan, validasi,
pendaftaran, implementasi dan pemantauan, verifikasi dan sertifikasi dan penerbitan
CERs.
Pembiayaan proyek harus dipikirkan oleh pengembang proyek dan disepakati
antara investor dan tuan rumah dalam hal pembagian bebannya. Biaya tersebut
meliputi: biaya transaksi, pungutan pajak dan biaya administrasi. Untuk
menjembatani kepentingan para peserta (investor dan tuan rumah) Bank Dunia
telah mengembangkan dana yang bernama Prototype Carbon Fund (PCF) yang
merupakan kontribusi para investor. Selain PCF Bank Dunia juga membentuk
Dana Karbon untuk Pengembangan Masyarakat (Community Development Carbon
Fund, CDCF). Di awal tahun 2003 Bank Dunia juga meluncurkan dana
karbon baru yang dikenal dengan nama BioCarbon Fund (BCF). Sedangkan
aspek teknis meliputi penentuan garis awal (baseline), perolehan (additionality),
kebocoran (leakage), dan cadangan tetap (permanence). Implementasi proyek
CDM di sektor energi perlu dipandang sebagai kesempatan untuk
mengembangkan sumber-sumber energi yang berkelanjutan. Pembangkit tenaga

energi meliputi: energi nuklir dan energi terbarukan. Energi terbarukan meliputi:
energi biomassa (biomass energy), tenaga air (hydro power), tenaga angin (wind
power), tenaga surya (solar heat and photovoltaic, PV), dan tenaga panas bumi
(geothermal). Dalam sektor kehutanan kegiatan yang diizinkan untuk dijadikan
proyek CDM adalah kegiatan aforestasi dan reforestasi. Aforestasi adalah
penanaman hutan kembali pada lahan yang sudah tidak berhutan sejak 50 tahun
yang lalu. Sedangkan reforestasi adalah penanaman hutan kembali pada lahan yang
tidak berupa hutan sebelum tahun 1990. Suatu negara atau Pihak Konvensi
Perubahan Iklim yang hendak mengimplementasikan kegiatan CDM harus menjadi
Pihak Protokol Kyoto. Oleh karena itu, negara atau Pihak tersebut harus
mengesahkan Protokol Kyoto melalui ratifikasi. Jika negara tersebut bukan Pihak
Konvensi Perubahan Iklim, maka langkah yang harus diambil adalah melakukan
penerimaan (acceptance), pengesahan (approval), atau aksesi (accession) atas
Protokol. Protokol Kyoto terbuka untuk diratifikasi beberapa saat setelah diadopsi
pada tanggal 11 Desember 1997. Setelah meratifikasi Protokol Kyoto, agar dapat
berpartisipasi di dalam CDM suatu Pihak disyaratkan memiliki lembaga yang
ditunjuk untuk melakukan implementasi CDM. Dengan lembaga inilah Pihak
investor dan tuan rumah berurusan. Persiapan lain yang diperlukan untuk
memperlancar implementasi CDM adalah peningkatan kemampuan sumberdaya
manusia yang berurusan langsung dengan implementasi CDM, dan peningkatan
kesadaran publik agar memahami masalah ini dan berpartisipasi dalam proses
implementasinya.
Menurut Protokol Kyoto Pasal 12, selain untuk mencapai tujuan utama
Konvensi Perubahan Iklim, CDM juga dirancang untuk membantu negara
berkembang dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Tiga komponen
utama yang harus diperhatikan dalam menunjang pencapaian tujuan
pembangunan berkelanjutan adalah kegiatan proyek harus menunjang
terjadinya pertumbuhan ekonomi (economic growth), kegiatan tersebut juga
harus meningkatkan kesejahteraan sosial (social welfare), dan memperhatikan
kelestarian lingkungan (environmental integrity). Ada tiga topik penting yang
menjadi catatan terakhir penulis buku ini untuk mengatasi masalah perubahan iklim
di luar CDM (beyond CDM) yang normal. Tiga topik yang dipilih masing-

masing untuk mewakili aspek ekologis, teknis dan politis yang akan berkembang di
waktu yang akan datang, berturut-turut adalah pasar non-Kyoto, CDM unilateral,
dan isu supplementarity.
2.4 Potensi Proyek CDM di Indonesia pada Sektor Kehutanan
Untuk sektor kehutanan pada periode komitmen pertama hanya aforestasi dan
reforestasi yang dapat dijadikan kegiatan proyek CDM. Sesuai ketentuan
yang berlaku untuk CDM, aforestasi dan reforestasi didefinisikan sebagai
berikut :
Aforestasi adalah kegiatan penanaman hutan pada lahan yang tidak
berhutan sedikitnya 50 tahun sebelum proyek dilaksanakan.
Reforestasi adalah kegiatan penanaman hutan pada lahan yang sudah
tidak berhutan sejak 31 Desember 1989.
Kegiatan kehutanan yang dapat dijadikan proyek CDM pada periode
komitmen I (2008-2012) terbatas pada aforestasi dan reforestasi (A/R CDM).
Aforestasi adalah kegiatan penanaman hutan pada lahan yang sedikitnya sejak 50
tahun yang lalu sudah tidak berhutan. Reforestasi adalah kegiatan penanaman
hutan pada lahan yang sudah tidak berhutan sejak 31 Desember tahun 1989.
Kegiatan kehutanan lain yang potensial yang dapat meningkatkan Sinks tetapi
tidak layak untuk dijadikan CDM pada periode komitmen I adalah konservasi atau
mencegah deforestasi dan penebangan ramah lingkungan (RIL). Menjaga
hutan dari eksploitasi akan menekan emisi GRK dan mempertahankan stok
carbon, sedangkan perbaikan teknik silvikultur untuk mengurangi kerusakan
akibat tebangan akan mengurangi laju emisi GRK dibanding teknik tebangan
konvensional. Di Indonesia, RIL diterapkan pada tebang pilih tanam Indonesia
(TPTI) dan tebang pilih tanam jalur (TPTJ). Saat ini jenis proyek ini hanya
diperbolehkan untuk joint implementation (JI).

III.

KESIMPULAN

Indonesia sebagai salah satu negara dengan status Non-Annex I Kyoto Protocol
tidak dikenai target penurunan emisi, namun tetap berkewajiban melaporkan

tindakan-tindakan dalam rangka mendukung mitigasi perubahan iklim global dan


dapat berpartisipasi melalui mekanisme CDM sebagai sarana pelaksanaan
pembangunan yang berkesinambungan.

REFERENSI
Hellen, Greg. 2010. Panduan Kegiatan MPB di Indonesia. Diakses dari
http://pub.iges.or.jp/modules/
envirolib/upload/255/attach/panduanmpb.pdf. tanggal 18 April 2015.
ISBN: 4-88788-025-1 (Printed version); 4-88788-034-0 (Electronic
version)
Institute for Global Environmental Strategies (IGES), 2011. Lembar Fakta CDM:
Indonesia. Kanagawa-Japan. Didownload dari:
http://enviroscope.iges.or.jp/modules/envirolib/upload/984/attach/indone
sia_bahasa_fin al.pdf. Tanggal 18 April 2015
Murdiyarso, Daniel., CDM: Mekanisme Pembangunan Bersih, Jakarta: Kompas,
2003.
Tanoto, Yusak. Clean Development Mechanism (CDM) dan Kaitannya Bagi
Pengelolaan Energi dan Lingkungan Hidup Dalam Konteks Perubahan
Iklim di Indonesia. Diakses dari
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=
6&cad=rja&uact=8&ved=0CEUQFjAF&url=http%3A%2F%2Freposito
ry.petra.ac.id%2F16681%2F1%2FPaper_Seminar_Nasional_Energi_Yu
sak_Tanoto_UK_Petra_1_.pdf&ei=ohpkVenTIdCguQT2uIGgBg&usg=
AFQjCNEaEAy2DQZ_tM7ixc9kSl2woZxww&sig2=YDlB2hYoR4Tq0jz454UP6A&bvm
=bv.93990622,d.c2E. Tanggal 18 April 2015
Zuhdi, Muslim. 2011. Ringkasan Buku CDM: Mekanisme Pembangunan Bersih.
Diakses dari https://muslimzuhdi.wordpress.com/2011/08/18/ringkasanbuku-cdm-mekanisme-pembangunan-bersih/. Tanggal 18 April 2015

Lampiran 1. Daftar Negara - Negara Anggota Annex I dan Annex B


Negara - Negara Eropa (15 anggota)

Negara
Portugis
Yunani
Spanyol
Irlandia
Swedia
Finlandia
Perancis
Belanda
Italia
Belgia
Inggris
Austria
Denmark
Jerman
Luxembourg
EU (Uni
Eropa)

Target**

Emisi tahun
1990 (juta
tCO2e)

27.0%
25.0%
15.0%
13.0%
4.0%
0.0%
0.0%
6.0%
6.5%
7.5%
12.5%
13.0%
21.0%
21.0%
28.0%

61.4
104.9
287.6
53.2
72.8
77.2
568.2
210.0
508.6
144.4
744.1
78.1
69.2
1,213.5
13.4

8.0%

4,225.1

Negara - Negara lainnya


Islandia
10.0%
Australia***
8.0%
Norwegia
1.0%
Selandia Baru
0%
Kanada
6.0%

2.8
425.2
52.0
61.8
607.6

Negara - Negara ekonomi dalam


transisi****
Negara
Federasi Rusia
Ukraina
Polandia
Rumania
Republik Ceko
Bulgaria
Hungaria
Slovakia
Lithuania
Estonia
Latvia
Slovenia
Kroasia***
Belarusia***

Jepang
Amerika
Serikat***
Swiss
Liechtenstein
Monaco***
Turki***

Target**

Emisi tahun
1990 (juta
tCO2e)

0%
0%
6.0%
8.0%
8.0%
8.0%
6.0%
8.0%
8.0%
8.0%
8.0%
8.0%
5.0%

6.0%
7.0%
8.0%
8.0%
8.0%

3,040.1
919.2
564.4
264.3
192.0
157.1
101.6
72.2
51.0
43.5
29.0
20.2
32.0
133.6

1,187.1
6,139.6
53.1
0.2
0.1

Sumber: MoE, Japan, dan IGES 2005.


Catatan:
*

: Kroasia, Slovenia, Liechtenstein, and Monaco memiliki target pengurangan emisi


GRK, tapi mereka bukan negara Annex I menurut UNFCCC.

**

: Target adalah persentase jumlah emisi GRK yang harus dikurangi berdasarkan
emisi tahun 1990.

*** : Negara-negara yang belum meratifikasi Protokol Kyoto per Maret 2005.
**** : Beberapa negara Uni Eropa yang ekonominya dalam transisi tidak menetapkan
emisi GRK mereka berdasarkan tahun 1990, misalnya Bulgaria (tahun dasar
1988), Hungaria (198587 rata-rata), Polandia (1988), Rumania (1987), dan
Slovenia (1986).