Anda di halaman 1dari 15

Model Pembelajaran Ekspositori

Pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses


penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa
sehingga dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Menurut Killen (dalam
Sanjaya, 2006) model pembelajaran ekspositori ini sama dengan model
pembelajaran langsung (direct instruction) karena materi pembelajaran
disampaikan secara langsung oleh guru. Model pembelajaran Ekspositori
menganut paham behavioristik yang menekankan mahwa perilaku manusia pada
dasarnya merupakan keterkaitan antara stimulus dengan respon, sehingga dalam
kegiatan pembelajaran peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor
yang sangat menentukan. Pembelajaran ini menempatkan guru sebagai sumber
dan pemilik pengetahuan dan siswa bersifat pasif dengan hanya menerima
pengetahuan
dari
guru.
Pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang
berorientasi pada guru (teacher centered). Pembelajaran ekspositori berbeda
dengan ceramah. Perbedaan pembelajaran ekspositori dengan ceramah adalah
dominasi guru yang dikurangai. Pada pembelajaran ekspositori guru hanya
memberikan informasi pada waktu-waktu tertentu yang diperlukan siswa.
Adapun

langkah-langkah

pembelajaran

ekspositori,

yaitu

sebagai

berikut.

1)
Persiapan
Langkah persiapan berkaitan dengan persiapan siswa untuk menerima pelajaran.
Persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung pada
langkah persiapan. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan
di antaranya adalah memberikan motivasi dan memulai pelajaran dengan
mengemukakan
tujuan
yang
harus
dicapai.
2)
Penyajian
Langkah penyajian adalah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan
yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian
adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan
dipahami oleh siswa. Oleh karena, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu penggunaan bahasa yang mudah dimengerti
oleh siswa, intonasi suara yang tepat, dan menjaga kontak mata dengan siswa,
3)
Korelasi
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan
pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat
menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki oleh
siswa.
4) Menyimpulkan
Langkah menyimpulkan merupakan langkah untuk memahami inti dari materi
pelajaran yang telah disajikan. Langkah ini sangat penting karena siswa akan
dapat mengambil inti sari dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

5) Penerapan
Langkah penerepan adalah unjuk kemampuan siswa setelah proses pembelajaran
berlangsung. Penerapan sangat penting karena melalui langkah ini guru akan
dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi
pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini adalah dengan
membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan dan memberikan
tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan. Guru juga bisa
memberikan tugas berupa proyek atau produk sesuai dengan materi.

Metode pembelajaran ekspositori adalah metode pembelajaran yang menekankan kepada


proses penyampaian

materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa
dapat menguasai

materi pelajaran secara optimal. Dalam metode ini materi pelajaran disampaikan langsung
oleh guru, siswa tidak

dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi, karena
metode ekspositori lebih

menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan chalk and talk.
2. Karakteristik Pembelajaran Ekspositori
Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori di antaranya:
a. Metode pembelajaran ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran
secara

verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh
karena itu sering

orang mengidentikannya dengan ceramah.


b. Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi,
seperti data

atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk
berpikir ulang.
c. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri, artinya setelah
proses

pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara

dapat

mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan. Pembelajaran ekspositori merupakan


bentuk dari

pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach).


Dikatakan demikian,

sebab dalam pembelajaran ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui
pembelajaran ini guru

menyampaikan materi secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan
itu dapat dikuasai

siswa dengan baik. Fokus utama adalah kemampuan akademik (academic achievement)
siswa. Metode

pembelajaran dalam kuliah merupakan bentuk metode ekspositori.


3. Langkah-langkah pelaksanaan Pembelajaran Ekspositori
Ada beberapa langkah dalam penerapan pembelajaran ekspositori, yaitu:
a. Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam
pembelajaran

ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan


pelaksanaan pembelajaran

dengan menggunakan pembelajaran ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan.


Beberapa hal yang

harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah:

1) Memberikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.


2) Dimulai dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.
3) Menggali kemampuan siswa.
b. Penyajian (Presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan
yang telah dilakukan.

Guru harus dipikirkan guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat
dengan mudah

ditangkap dan dipahami oleh siswa. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pelaksanaan

langkah ini, yaitu: (1) penggunaan bahasa, (2) intonasi suara, (3) menjaga kontak mata
dengan siswa, dan (4)

menggunakan joke-joke yang menyegarkan.


c. Korelasi (Correlation)
Langkah Korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman
siswa atau dengan

hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur
pengetahuan yang telah

dimilikinya Langkah korelasi dilakukan untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran,
baik makna untuk

memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan
kualitas

kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa

d. Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan generalization adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi
pelajaran yang telah

disajikan.Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam


pembelajaran ekspositori,

sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses
penyajian.
e. Mengaplikasikan (Application)
Mengaplikasikan application, langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa
setelah mereka menyimak

penjelasan guru.Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses
pembelajaran ekspositori,

sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan
pemahaman

materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini di antaranya: (1)
dengan membuat

tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan, (2) dengan memberikan tes yang
sesuai dengan materi

pelajaran yang telah disajikan.


4. Pengertian Pembelajaran Konvensional
Yang dimaksud dengan pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa
dilakukan oleh para guru.

Pembelajaran konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya

lebih

mengutamakan hapalan daripada pengertian, menekankan kepada keterampilan berhitung,


mengutamakan hasil

daripada proses, dan pengajaran berpusat pada guru. Metode mengajar yang lebih banyak
digunakan guru

dalam pembelajaran konvensional adalah metode ekspositori. Menurut Ruseffendi (1991)


metode ekspositori ini

sama dengan cara mengajar yang biasa (tradisional) kita pakai pada pengajaran matematika.
Sebagai contoh,

guru memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, kemudian memberi soal-soal latihan, dan
siswa disuruh

mengerjakannya. Jadi kegiatan guru yang utama adalah menerangkan dan siswa
mendengarkan atau mencatat

apa yang disampaikan guru. Subiyanto (1988) menjelaskan bahwa, kelas dengan
pembelajaran secara biasa

(tradisonal) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) pembelajaran secara klasikal, 2) para siswa
tidak mengetahui

apa tujuan mereka belajar pada hari itu. Dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan
bahwa yang

dimaksud dengan pembelajaran secara konvensional adalah suatu kegiatan belajar mengajar
yang selama ini

kebanyakan dilakukan oleh guru dimana guru mengajar secara klasikal yang di dalamnya
aktivitas guru

mendominasi kelas dengan metode ekspositori Secara umum terdapat tiga pokok strategi
pembelajaran yang

dapat dilaksanakan menggunakan metode ekspositori yaitu: 1) tahap permulaan


(prainstruksional), 2) tahap

instruksional (instruksional), 3) tahap penilaian dan lanjutan, adapun langkah-langkah secara


umum pelaksanaan

pembelajaran konvensional yang dilaksanakan pada diklat jaringan komputer tingkat dasar di
PPPPTK BMTI

Bandung adalah sebagi berikut:


a. Kegiatan awal:
1) Menarik perhatian peserta tentang arti penting dari materi diklat yang akan disampaikan
2) Meyampaikan tujuan pembelajaran
3) Menstimulir, memanggil terlebih dahulu informasi atau pengetahuan yang sudah diperoleh
sebelum

proses pembelajaran
b. Kegiatan Inti:
1) Menyajikan isi pembelajaran
2) Meyediakan pedoman atau petunjuk pembelajaran
3) Memberikan kesempatan untuk latihan / unjuk perfoemance
4) Memberikan umpan balik
c. Kegiatan Akhir:
1) Merangkum/menyimpulkan materi pembelajaran

2) Melakukan penilaian (lisan dan tertulis)


3) Pemberian tugas individu tentang materi yang dibahas

Metode Ekspositori
Mungkin kita sering mendengar, membaca atau diberitahu teman tentang
ekspository learning, dan banyak juga orang yang tidak mengetahui hal itu. Ekspository
Learning adalah suatu pendekatan pengajaran yang dilatar belakangi dari anggapan
terhadap siswa bahwa mereka msih kosong dengan ilmu. Hal ini sangat cocok diterapkan
pada materi ketauhidan. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai desainer dan sebagai aktor.
Dalam sistem ini jua guru menyajikan materi ajar dalam bentuk yang telah dipersiapkn
secara rapi, sistematis dan lengkap sehingga anak didik tinggal menyimak dan
mencernakannya saja secara tertib dan teratur.
Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan
memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta
memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah,
demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru
secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah
kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung.
Pembelajaran dengan Metode Ekspositori merupakan strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada
siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy
Killen (dalam Wina Sanjaya) menamakan metode ekspositori dengan istilah strategi
pembelajaran langsung (Direct Instruction). Karena dalam hal ini siswa tidak dituntut
untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena
metode ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan
istilah metode chalk and talk.
Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan
memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta
memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah,
demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru
secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah
kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung.
Penggunaan metode ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri faktafakta, konsep dan prinsip karena telah disajikan secara jelas oleh guru. Kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori cenderung berpusat kepada guru.
Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi pembelajaran secara terperinci tentang
materi pembelajaran. Metode ekspositori sering dianalogikan dengan metode ceramah,
karena sifatnya sama-sama memberikan informasi.
Pendapat David P. Ausebul dalam Pentatito Gunowibowo (1998:6.7) menyebutkan
bahwa metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam
menanamkan belajar bermakna. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (1999:172)
mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah 1) menyusun program
pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4)

pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan
informasi. Sedangkan peranan siswa adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai
media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.
Wina Sanjaya (2008:179) menyatakan bahwa: Metode ekspositori merupakan
bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered
approach). Dikatakan demikian, sebab guru memegang peran yang sangat dominan.
Melalui metode ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan
harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus
utama
metode
ini
adalah
kemampuan
akademik
siswa
(academic
achievement student).
Pendapat David P. Ausebul dalam Pentatito Gunowibowo (1998:6.7) menyebutkan
bahwa metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam
menanamkan belajar bermakna. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (1999:172)
mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah 1) menyusun program
pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4)
pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan
informasi. Sedangkan peranan siswa adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai
media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.
Terdapat beberapa karakteristik Metode Ekspositori. Pertama, dilakukan dengan
cara penyampaian materi pelajaran secara verbal. Kedua, biasanya materi pelajaran yang
disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsepkonsep tertentu. Ketiga, tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu
sendiri. Artinya setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat
memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah
diuraikan.
Pada Pelaksanaannya metode ekspositori memiliki prosedur-prosedur pelaksanaan,
secara garis besar digambarkan oleh Wina Sanjaya (2008) sebagai berikut :
1. Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima
pelajaran. Dalam metode ekspositori, keberhasilan pelaksanaan pembelajaran sangat
bergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan
yaitu :
1).Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
2).Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajaran
3).Merangsang dan mengubah rasa ingin tahu siswa
4).Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.
2. Penyajian (Presentation)
Tahap penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan
persiapan yang telah dilakukan.Hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana

materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu,
ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini diantaranya :
Penggunaan bahasa, intonasi suara, Menjaga kontak mata dengan siswa, serta
menggunakan kemampuan guru untuk menjaga agar suasana kelas tetap hidup dan
menyenangkan.
3. Korelasi (Correlation)
Tahap korelasi adalah langkah yang dilakukan untuk memberikan makna terhadap
materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimiliki
siswa maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan
motorik siswa.
4. Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran
yang telah disajikan. Sebab melalui langkah menyimpulkan, siswa dapat mengambil inti
sari dari proses penyajian. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada
siswa tentang kebenaran suatu paparan. Sehingga siswa tidak merasa ragu lagi akan
penjelasan guru. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan cara mengulang kembali inti- inti
materi yang menjadi pokok persoalan, memberikan beberapa pertanyaan yang relevan
dengan materi yang diajarkan, dan membuat maping atau pemetaan keterkaitan antar
pokok-pokok
materi.
5. Mengaplikasikan (Aplication)
Tahap aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak
penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses
pembelajaran ekspositori. Sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan
informasi tentang penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya, dengan membuat tugas yang
relevan, serta dengan memberikan tes materi yang telah diajarkan untuk dikerjakan oleh
siswa.
Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
b. sumber referensi terbatas;
c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
d. alokasi waktu terbatas; dan
e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak.
1.2. Kelebihan dan Kekurangan Metode Ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajran
yang berorientasi kepada guru, dikatakan demikian sebab dalam strategi ini guru
memegang peranan yang sangat penting atau dominan. Dengan menggunakan strategi
pembelajaran ekspositori terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan di dalam
menggunakan strategi ini, yaitu:

1.

Keunggulan / kelebihan
Berikut ini adalah beberapa kunggulan/ kelebihan dari metode ekspositori, yaitu:
Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan
keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa
menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran
yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar
terbatas.

Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui


penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran juga sekaligus siswa bisa melihat atau
mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).

Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah
siswa dan ukuran kelas yang besar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi pembelajaran
ekspositori ini dilakukan melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses
penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Karena itu sebelum strategi ini diterapkan
terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur. Hal
ini sangat penting untuk dipaham, karena tujuan yang spesifik memungkinkan untuk bisa
mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran.
2.

Kelemahan / kekurangan
Disamping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran ekspositori ini juga memiliki
beberapa kelemahan, antara lain :
Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang
memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik, untuk siswa yang tidak
memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi yang lain.

Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik
perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.

Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit
mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan
interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.

Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang


dimiliki guru seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme,
motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi) dan
kemampuan mengelola kelas, tanpa itu sudah pasti proses pembelajaran tidak mungkin
berhasil.

Oleh karena itu, gaya komunikasi strategi pembelajaran ekspositori lebih banyak
terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa sangat terbatas

pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki
siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru. sumber : aadesanjaya.blogspot.com
1.3 Inovasi Metode Ekspositori
Jika dilihat secara sekilas, maka kita akan mengatakan bahwa metode Ekpositori
adalah sama dengan metode ceramah yang biasanya digunakan dalam pembelajaran
konvensional atau tradisional. Pada metode eksositori, peran yang dimiliki guru tidak
hanya monoton berceramah.
Seperti yang dikatakan oleh Somantri (2001 : 45) membedakan metode ekspositori
dan metode ceramah. Dominasi guru dalam metode ekspositori banyak dikurangi. Guru
tidak terus bicara, informasi diberikan pada saat-saat atau bagian-bagian yang diperlukan,
seperti di awal pemebelajaran, menjelaskan konsep-konsep dan prinsip baru, pada saat
memberikan contoh kasus di lapangan dan sebaginya. Metode ekspositori adalah suatu
cara menyampaikan gagasan atau ide dalam memberikan informasi dengan lisan atau
tulisan.
Menurut Herman Hudoyo(1998 : 133) metode ekspositori dapat meliputi gabungan
metode ceramah, metode drill, metode tanya jawab, metode penemuan dan metode
peragaan. Pentatito Gunawibowo (1998 : 6.7) dalam pembelajaran menggunakan metode
ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru. Dibanding metode ceramah, dalam
metode ini dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode
demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak.
Seperti yang kita ketahui bahwa metode ekpositori adalah metode pembelajaran
yang memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Dimana
pembelajaran ekspositori tidak dapat kita gunakan secara menyendiri. Metode ekspositori
ini harus kita dampingkan dengan beberapa metode lain, agar proses pembelajaran
berlangsung dengan baik dan dapat mencapai tujuan belajar.
Jika Melihat dari posisi proses pembelajaran di Indonesia lebih condong Teacher
Learning Center (TLC), maka untuk menggeser kecendrungan Teacher Learning Center
menuju Studen Learning Center (SLC) akan lebih baik jika kita menggunakan metode
ekspositori. Hal ini dikarenakan, dalam pembelajaran yang menggunakan metode
ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru. Dibanding metode ceramah, dalam
metode ini dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode
demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak.
Dalam pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan metode eskpositori kita dapat
melakukan inovasi atau penggabungan metode ekspositori dengan beberapa metode yang
lain. Penggabungan beberapa metode ini bertujuan untuk mengurangi peran guru
berkomunikasi langsung dengan siswa, tapi mampu meningkatkan keaktivan siswa
tersebut.
Beberapa contoh cara yang dapat dilakukan untuk memberikan inovasi pada metode
ekspositori adalah dengan melakukan metode ekspositori di dalam model pembelajaran

kooperatif. Dimana model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang


membimbing siswa untuk dapat aktiv dalam mencari pengetahuannya secara mandiri.
Pengajaran metode ekspositori akan terasa lebih baik jika dipadukan dengan
menggunakan metode: pemecahan masalah, inkuiri, dan metode belajar yang dapat
menumbuhkan berfikir kreatif dan kritis; mengajarkan materi yang berguna bagi
menghadapi kehidupan, Peningkatan kebudayaan dan ketrampilan dasar pada umumnya.
Ekspositori merupakan pembelajaran yang menggunakan Komunikasi bersifat satu
arah. Untuk melengkapi komunikasi yang satu arah ini, maka sering dilengkapi dengan
alat bantu audio visual, demonstrasi, tanya jawab, diskusi singkat dan sebagainya yang
bertujuan untuk mempercepat jalur komunikasi yang hanya berlangsung satu arah ini.
Tetapi D.P. Ausubel percaya bahwa cara ekspositori (ceramah) itu tidak sejelek
seperti yang dituduhkan orang. Malahan sebaliknya ia percaya bahwa cara ceramah itu
merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien yang dapat menyebabkan siswa
belajar secara bermakna.
Dari beberapa pendapat di atas, bahwa metode ekspositori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mengobinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas.
Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan rumah) yang dikerjakan
secara individual atau kelompok. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan
jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dikuasai siswa. Pada umumnya alat
evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atau tes buatan
guru.