Anda di halaman 1dari 5

1

Penemuan Hukum Oleh Notaris


Setelah di undangkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang
Jabatan

Notaris

perkembangan

dunia

notaris

di

Indonesia

telah

mengalami perubahan yang sangat besar dalam kaitan tugasnya sebagai


pejabat umum yang berwenang membuat akta-akta dalam lalu lintas
hukum perdata.
Notaris sebagai officium nobile atau profesi yang terhormat di bidang
hukum tentu dibutuhkan penguasaan materi akan bidang hukum perdata
yang mumpuni dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan jasa
hukum di bidang pembuatan alat bukti. Perkembangan hukum yang
sangat cepat tentu mempengaruhi tugas yang dijalankan oleh notaris
untuk membuat akta-akta dalam rangka mengikuti perkembangan atau
perbuatan manusia yang begitu cepat tersebut.
Dasar perbuatan atau tugas notaris sangat jelas diatur dalam UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, akan tetapi tidak
semuanya perbuatan atau tugas notaris tersebut telah memenuhi
tuntutan masyarakat akan pemenuhan kebutuhan jasa di bidang hukum
dalam

rangka

perkembangan

pembuatan
hukum

di

akta-akta
masyarakat.

karena

begitu

cepatnya

Dengan

begitu

cepatnya

perkembangan hukum di masyarakat maka notaris dituntut dapat


menemukan cara atau terobosan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
tersebut seperti apa yang ada dalam Undang-Undang, kegiatan tersebut
disebut Penemuan Hukum yang lazimnya diartikan sebagai pembentukan
hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas
melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit.
Sama seperti hakim, notaris sebagai petugas-petugas hukum lain harus
dapat menemukan cara atau membuat akta untuk sarana penyelesaian
hukum dibidang keperdataan asal perbuatan itu tidak dilarang oleh
Undang-Undang dan kebutuhan akan jasa bidang tersebut benar-benar

2
dibutuhkan masyarakat dalam hal efisiensi Seperti halnya tata cara
penyelesaian kredit macet yang dijamin dengan hak tanggungan,
berdasarkan

Undang-Undang

Nomor

tahun

1996

Tentang

Hak

Tanggungan atas Tanah dan Benda-Benda yang berkaitan dengan Tanah


(UU HT) bahwa pada Pasal 6 dijelaskan bahwa apabila debitor cidera janji
maka pemegang hak tanggungan atas kekuasaan sendiri dapat menjual
obyek tersebut melalui pelelangan umum.
Meskipun sudah diatur dengan pelelangan umum, akan tetapi dalam
kenyataannya

notaris

dapat

membuat

terobosan

dengan

mengesampingkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 Tentang Hak


Tanggungan Atas Tanah dan Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah,
dengan membuat akta-akta mengenai penjualan di bawah tangan jaminan
kredit yang dijamin dengan hak tanggungan.
Berangkat dari kenyataan tersebut diatas, salah satu penemuan hukum
oleh notaris bisa dalam pembuatan akta-akta berkaitan dengan penjualan
jaminan kredit yang dijamin dengan hak tanggungan.
Notaris adalah pejabat umum yang diangkat oleh Undang-Undang
sehingga kepadanya mempunyai landasan hukum yang kuat yaitu
Undang-Undang Jabatan Notaris tersebut. Pengertian notaris adalah
pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan
kewenangan lain. Dalam Undang-Undang Jabatan Notaris tidak ada satu
pasal pun yang melarang notaris untuk membuat akta perkaitan dengan
penjualan jaminan kredit yang dijamin dengan hak tanggungan.
Mengenai ketentuan pelelangan di muka umum obyek hak tanggungan
yang disyaratkan dalam Undang-Undang Hak Tanggungan memang wajib
dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan perintah Undang-Undang,
akan tetapi dalam kenyataannya bahwa pelaksanaan lelang memakan
waktu dan biaya yang banyak, serta kebutuhan debitur yang utangnya
macet juga sangat mendesak untuk menutup pinjamannya tersebut.

3
Dengan dasar tersebut notaris karena kewenangan jabatannya tersebut
membuat penemuan hukum baru dalam menyelesaikan kredit macet
atau penjualan asset tersebut melalui penjualan dibawah tangan, selain
didapat hasil penjualan yang lebih besar juga debitur masih terlibat dalam
proses penjualan tersebut.
Apakah hal itu menimbulkan masalah atau melanggar Undang-Undang
karena sudah ada instrumen yang mengaturnya yaitu Undang-Undang
Hak Tanggungan, menurut hemat saya adalah tidak karena hal itu
merupakan bagian dari penemuan hukum yang dilakukan oleh notaris,
selain cepat dan mudah pelaksanaan eksekusinya juga akan didapat hasil
yang besar pula serta aman.
Kaitan dengan penemuan hukum tadi, akta-akta yang harus dibuat oleh
notaris dalam rangka penjualan jaminan kredit yang dipasang dengan hak
tanggungan sehingga memberikan keamanan bagi pihak debitor, kreditor
dan bahkan notaris sendiri adalah:
a. Akta pernyataan mengenai ketidaksanggupan debitor melunasi utangutangnya kepada kreditor.
b. Akta surat kuasa berisi mengenai kuasa untuk melunasi utang dan
mengambil jaminan kepada debitor.
c. Akta Surat Kuasa Menjual Kuasa untuk menjual tanah dan bangunan
yang dijadikan jaminan kepada kreditor.
d. Akta Pengosongan.
Pengosongan tanah dan bangunan dari penghuni-penghuni dan
penghuni lain yang menjadi tanggungan pihak Debitor.
Apa yang dilakukan oleh notaris tidaklah salah karena debitor secara
sukarela telah menyerahkan kepada kreditor untuk menjualkan assetnya
yang sedang macet tersebut, serta bagi notaris didapat pekerjaan
pembuatan akta notaris. Dasar dari perjanjian apapun termasuk penjualan
asset dibawah tangan adalah terpenuhi syarat sahnya suatu perjanjian
yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan diri.
2. Cakap dalam membuat perjanjian.
3. Adanya hal tertentu.

4
4. Sebab yang halal, serta apakah dalam perjanjian tersebut ada unsur

penipuan, kekhilafan dan pemaksaan, kalau hal itu tidak ada tentu
perbuatan hukum antara kreditor dan calon pembeli aset tersebut
tidak ada masalah bahkan itu merupakan terobosan baru untuk
membantu pejabat lelang mengurangi menumpuknya tugas lelang
aset kredit macet tersebut.
Pada penjualan dibawah tangan ini antara debitor dengan kreditor sudah
terjadi kesepakatan mengenai harga, pembeli aset bahkan dimungkinkan
yang mencarikan pembeli adalah debitor sendiri. Dengan demikian
penemuan hukum atau perbuatan hukum yang dilakukan oleh notaris
memenuhi tiga unsur dalam menegakkan hukum yaitu:
1. Kepastian hukum (Rechtssicherheit), akta yang
memenuhi

kepastian

kebutuhan

para

hukum

pihak

dan

karena

akta

kenyataan

dibuat

tersebut
dalam

sangat

memenuhi

praktek

juga

dipergunakan.
2. Kemanfaatan (Zweckmassigkeit) bermanfaat bagi kreditor, debitor
maupun notaris sendiri, sebagai alternatif pengganti lelang obyek hak
tanggungan.
3. Keadilan (Gerechtigkeit), tidak ada pihak yang dirugikan dalam
pembuatan hukum ini.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas, bahwa notaris pada
dasarnya termasuk pihak-pihak yang dapat melakukan penemuan hukum
berkaitan dengan pembuatan akta-akta yang menjadi tugasnya yang
sudah diatur oleh Undang-Undang tentang Jabatan Notaris. Pembuatan
akta-akta tersebut dimaksudkan untuk membuat terobosan atau alternatif
penyelesaian suatu kasus dengan cara lain sepanjang hal itu tidak
melanggar hukum dan memenuhi asas kemanfaatan. Seperti halnya
pembuatan akta-akta mengenai penjualan jaminan yang dijamin dengan
hak tanggungan secara dibawah tangan dengan mengenyampingkan
Undang-Undang Hak Tanggungan.
Perbuatan notaris tersebut diatas yang menjadi bagian dari penemuan
hukum harus dilaksanakan dengan mengindahkan syarat-syarat yang
menjadi sahnya suatu perjanjian sehingga akta yang merupakan bagian

5
dari penemuan hukum tersebut dapat bermanfaat dan berguna bagi para
pihak atas asas efisiensi.