Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala


bercak kemerahan berbentuk makulo popular selama 3 hari
atau lebih yang sebelumnya didahului panas badan 38 C atau
lebih juga disertai salah satu gejala batuk pilek atau mata
merah (WHO).
Penyakit campak merupakan penyebab kematian pada
anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun.
Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta orang yang
menderita campak. Pada tahun 2002, dilaporkan 777.000
kematian akibat campak di seluruh dunia, 202.000 kematian
diantaranya berasal dari negara ASEAN, serta 15% dari
kematian akibat campak tersebut berasal dari Indonesia. Di
Indonesia diperkirakan lebih dari 30.000 anak meninggal setiap
tahun karena komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit
campak.
Pada sidang WHA (World Health Assembly) tahun 1988,
ditetapkan kesepakatan global untuk dilakukan reduksi campak
(RECAM) pada tahun 2000. Di Indonesia, program imunisasi
campak dimulai pada tahun 1982 dan masuk dalam
pengembangan program imunisasi. Pada tahun 1991, Indonesia
dinyatakan telah mencapai UCI secara nasional yang
berdampak positif terhadap penurunan insidens campak pada
balita.

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 1

Walaupun imunisasi campak telah mencapai UCI, tetapi


dibeberapa daerah masih mengalami KLB Campak, terutama di
daerah dengan cakupan imunisasi rendah. Kejadian KLB
campak di beberapa daerah tersebut, terjadi akibat cakupan
imunisasi yang rendah atau effikasi vaksin yang rendah yang
dapat disebabkan oleh pengelolaan rantai dingin vaksin yang
kurang baik dan cara pemberian imunisasi yang kurang baik
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Data

Pasien

Ayah

Ibu

Nama

An. N

Tn. D

Ny. S

Umur

4 tahun

45

40

Jenis Kelamin

Laki-laki

Laki-laki

Perempuan

Alamat

Kp. Pulo Gede 005/011 Jakasampurna Bekasi Barat

Agama

Islam

Islam

Islam

Pendidikan

SMA

SMA

Pekerjaan

Wiraswasta

IRT

Keterangan

Hubungan dengan orang tua : Anak Kandung

Tanggal Masuk RS

15 April 2015

II. ANAMNESIS
Dilakukan anamnesis dengan pasien dan orang tua pasien dilakukan pada tanggal 16 April
2015 pukul 10.00 WIB di Bangsal Melati dan didukung catatan medis.
a. Keluhan Utama
:
b. Keluhan Tambahan
:
c. Riwayat Penyakit Sekarang :

Demam sejak 1 minggu yang lalu


Bintik-bintik kemerahan di seluruh badan

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 2

Pasien datang diantar oleh keluarga ke IGD RSUD Kota Bekasi dengan keluhan
demam sejak 1 minggu SMRS. Demam dirasakan terus menerus walaupun sudah diberi
obat penurun panas. Demam tidak disertai kejang dan penurunan kesadaran.
Orang tua pasien mengatakan ada batuk pilek yang menyertai demam. Batuk pilek
timbul sejak 5 hari yang lalu. Sesak napas disangkal. Banyak berkeringat di malam hari
dan penurunan berat badan yang drastis disangkal. Kedua mata pasien berair dan merah
namun tidak ada kotoran, rasa silau disangkal. Pasien mengeluh sakit saat menelan.
Buang air besar cair sejak 2 hari lalu, tidak ada darah, lendir dan tidak berbau busuk..
Perut terasa sakit. BAK normal. Nafsu makan menurun. Pasien merasa mual namun
muntah disangkal
1 hari SMRS timbul bercak-bercak kemerahan yang awalnya timbul di wajah, badan
dan ke kedua lengan dan tungkai. Bercak-bercak tersebut disertai dengan demam dan
tidak terasa gatal. Mimisan dan gusi berdarah disangkal.
Ibu pasien mengaku seminggu yang lalu kakak pasien juga menderita penyakit serupa
tetapi tidak dirawat di Rumah Sakit. Pasien tinggal serumah dengan orang tua dan
saudara-saudaranya. Menurut ibunya, pasien sudah di imunisasi campak saat berusia 9
bulan di Posyandu oleh bidan.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit
Alergi
Cacingan
DBD
Thypoid
Otitis
Parotis

Umur
-

Penyakit
Difteria
Diare
Kejang
Maag
Varicela
Asma

Umur
-

Penyakit
Jantung
Ginjal
Darah
Radang paru
Tuberkulosis
Morbili

Umur
-

e. Riwayat Penyakit Keluarga :


Kakak pasien menderita hal serupa 1 minggu yang lalu. Namun tidak dirawat di
Rumah Sakit.
f. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :
KEHAMILAN

KELAHIRAN

Morbiditas kehamilan
Perawatan antenatal

Tidak ada
Periksa ke bidan 1 kali tiap

Tempat kelahiran
Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi

bulan
Rumah Sakit
Dokter
SC atas indikasi PEB
37 minggu

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 3

Keadaan bayi

BBL : 2800 gram


PB : 49 CM
Langsung menangis, merah
Apgar score tidak tahu
Tidak ada kelainan bawaan

g. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Pertumbuhan gigi I

: Usia 9 bulan (normal: 5-9 bulan)

Psikomotor
Tengkurap

: Usia 4 bulan

(normal: 3-4 bulan)

Duduk

: Usia 6 bulan

(normal: 6 bulan)

Berdiri

: Usia 10 bulan

(normal: 9-12 bulan)

Bicara

: Usia 11 bulan

(normal: 9-12 bulan)

Berjalan

: usia 12 bulan

(normal: 13 bulan)

Kesan : Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien baik


h. Riwayat Makanan
Umur

ASI/PASI

Buah/biskuit

Bubur susu

Nasi tim

(bulan)
0-2
+/2-4
+/4-6
+/6-8
+/+
+
+
8-10
+/+
+
+
10-12
+/+
+
+
Kesan : Pasien selalu minum ASI sampai umur 2 tahun, tidak pernah minum susu
formula, pasien mulai makan makanan buah atau biskuit sejak berumur 6 bulan.
i. Riwayat Imunisasi :
Vaksin
Dasar (umur)
Ulangan (umur)
BCG
1 bln
DPT
2 bln
4 bln
6 bln
POLIO
Lahir 2 bln
4 bln
6 bln
CAMPAK
9 bln
HEPATITIS B Lahir 1 bln
6 bln
Kesan : Riwayat imunisasi pasien menurut PPI lengkap
Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 4

III.PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
b. Tanda Vital
- Kesadaran
: Compos mentis
- Tekanan darah
: 110/70 mmHg
- Frekuensi nadi
: 142x/menit
- Frekuensi pernapasan
: 26x/menit
- Suhu tubuh
: 39,5C
c. Data antropometri
-

Berat badan

:17 kg

Tinggi badan

:114 cm

o BB / U : 17 / 16 x 100 % = 106 %
o TB / U : 114/102 x 100 % = 111 %
o BB / TB : 17 / 19 x 100% = 89%
Kesan : Gizi Baik

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 5

d. Kepala
Bentuk
Rambut
Mata

: Normocephali
: Rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
: edema palpebra -/-, lakrimasi +/+, sekret -/-,
Conjungtiva anemis -/-, injeksi konjungtiva +/+, sklera
ikterik -/-, pupil bulat isokor, RCL+/+, RCTL +/+
: Normotia, serumen -/: Bentuk normal, sekret -/-, nafas cuping hidung -/: bibir pecah-pecah + , lidah kotor + , tonsil T2/T2,

Telinga
Hidung
Mulut

faring hiperemis +, bercak koplik Leher

: KGB tidak membesar


kelenjar tiroid tidak membesar

e. Thorax
- Inspeksi
- Palpasi
- Perkusi
- Auskultasi

: Pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-)


: Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
: Sonor pada kedua paru
: BND vesikuler, ronki -/-, wheezing -/Cor BJ I & II normal, murmur -, Gallop -

f. Abdomen
- Inspeksi
- Auskultasi
- Palpasi

: Perut datar
: Bising usus (+) normal 3x/menit
: Supel, nyeri tekan + epigastrium, hepar dan lien tidak

teraba membesar
- Perkusi
g. Kulit
h. Ekstremitas

: shifting dullness -, nyeri ketok : ikterik -, petechie -, ruam makulopapular (+)


: akral hangat, Sianosis (-), oedem (-), turgor kulit

cukup, CRT< 2detik


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG (15 April 2015 )
Pemeriksaan
Leukosit
Hb
Hematokrit
Trombosit
GDS
Na
K
Cl

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Hasil
Seri DHF
4,2 ribu/uL
11,9 g/dL
34,8 %
186 ribu/uL
Kimia Klinik
86 mg/dl
Elektrolit
133 mmol/L
4,1 mmol/L
91 mmol/L

Nilai Normal
5.000-10.000
12 16 g/dl
37-47 %
150.000 400.000
60 110 mg/dl
135-145 mmol/L
3,5 -5,0 mmol/L
94-111 mmol/L

Page 6

V. RESUME
Pasien datang diantar oleh keluarga ke IGD RSUD Kota Bekasi dengan keluhan
demam sejak 1 minggu SMRS. Demam dirasakan terus menerus walaupun sudah diberi
obat penurun panas. Demam tidak disertai kejang dan penurunan kesadaran.
Orang tua pasien mengatakan ada batuk pilek yang menyertai demam. Batuk pilek
timbul sejak 5 hari yang lalu. Sesak napas disangkal. Banyak berkeringat di malam hari dan
penurunan berat badan yang drastis disangkal. Kedua mata pasien berair dan merah namun
tidak ada kotoran, rasa silau disangkal. Pasien mengeluh sakit saat menelan.
Buang air besar cair sejak 2 hari lalu.. tidak ada darah, lendir dan tidak berbau busuk..
Perut terasa sakit. BAK normal. Nafsu makan menurun. Pasien merasa mual namun muntah
disangkal. 1 hari SMRS timbul bercak-bercak kemerahan yang awalnya timbul di wajah,
badan dan ke kedua lengan dan tungkai. Bercak-bercak tersebut disertai dengan demam dan
tidak terasa gatal. Mimisan dan gusi berdarah disangkal. Ibu pasien mengaku seminggu yang
lalu kakak pasien juga menderita penyakit serupa tetapi tidak dirawat di Rumah Sakit. Pasien
tinggal serumah dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Menurut ibunya, pasien sudah di
imunisasi campak saat berusia 9 bulan di Posyandu oleh bidan.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi : 142 x/mnt , suhu :
39,5 C , pernapasan : 26 x /mnt. Terdapat injeksi konjungtiva pada kedua mata, bibir pecah
pecah, lidah kotor, faring hiperemis, nyeri tekan epigastrium dan didapatkan ruam
makulopapular di seluruh tubuh. Pada pemeriksaan lab didapatkan anemia, leukopeni dan
hematocrit yang menurun.
VI. DIAGNOSIS KERJA
Morbili
VII.

DIAGNOSIS BANDING

Campak Jerman
Demam Berdarah Dengue
VIII. PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa
Rawat diruang isolasi
Observasi ketatanda-tanda vital
Bed rest total

Medikamentosa
IVFD : Kaen 3B 15 tpm

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 7

PCT 3 x cth
Vometa 2 x cth
Ambroxol 3 x cth

IX. PROGNOSIS
- Ad vitam
- As fungsionam
- Ad sanationam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

VI. FOLLOW UP
Tanggal
16/4/2015

Follow UP
S/ Batuk pilek, BAB cair, bintik merah pada hampir seluruh tubuh
O/ Kepala : normocephali, CA -/-, SI -/Mulut : bibir pecah-pecah, faring hiperemis (+)
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks : BND vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheez -/BJ I&II reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, BU + 4x/menit
Ekstremitas : Akral hangat, sianosis -, CRT < 2dtk
Kulit : Bintik merah pada hampir seluruh tubuh.
A/ Morbili
P/

17/4/2015

- IVFD Tridex 27 B 20 tpm


- Cefotaxim 3 x300
- Sanmol 3 x
- Ambroxol 3 x cth
- Vit A 1 x 100.000
S/ Batuk pilek, bintik merah pada hampir seluruh tubuh
O/ Kepala : normocephali, CA -/-, SI -/Mulut : bibir pecah-pecah, faring hiperemis (+)

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 8

Leher : KGB tidak teraba membesar


Thoraks : BND vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheez -/BJ I&II reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, BU + 4x/menit
Ekstremitas : Akral hangat, sianosis -, CRT < 2dtk
Kulit : Bintik merah pada hampir seluruh tubuh.
A/ Morbili
P/

18/4/2015

- IVFD Tridex 27 B 20 tpm


- Cefotaxim 3 x300
- Sanmol 3 x
- Ambroxol 3 x cth
- Vit A 1 x 100.000
S/ Bintik merah pada tubuh mulai berkurang
O/ Kepala : normocephali, CA -/-, SI -/Mulut : faring hiperemis (+)
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks : BND vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheez -/BJ I&II reguler, murmur -, gallop
Abdomen : Supel, BU + 4x/menit
Ekstremitas : Akral hangat, sianosis -, CRT < 2dtk
Kulit : Bintik merah pada hampir seluruh tubuh.
A/ Morbili
P/
-

Sanmol 3 x

Ambroxol 3 x cth

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 9

Boleh Pulang

BAB II
ANALISIS KASUS

Campak atau measles atau rubeola adalah penyakit virus yang disebabkan oleh virus
campak. Penyakit ini sangat infeksius, dapat menular sejak awal masa prodromal sampai
lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Penyebaran infeksi terjadi dengan droplet.
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah menimbulkan infeksi
Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 10

pada seseorang. Dari anamnesa didapatkan kakak pasien menderita hal serupa namun tidak
dirawat di rumah sakit. Kemungkinan pasien tertular dari kakaknya.
Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang sangat
berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa
hari, diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telingan
kemudian menyebar kemuka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya
suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Pada stadium
prodmoral dapat ditemukan anantema dimukusa pipi yang merupakan tanda patognomonis
campak (bercak koplik).
Stadium Campak dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
Stadium inkubasi
Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). Walaupun pada masa
ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita tidak menampakkan gejala
sakit.
Stadium prodromal
Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal yang
berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk,
pilek dan konjungtivitis, juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi
petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang kemerahan yang terdapat pada
konjungtiva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal. Garis tersebut akan
menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang
Koplik spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari
ke-101 infeksi. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran pasir dengan
areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Tersering ditemukan pada
mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari
rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis.
Muncul 1 2 hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18
jam kemudian. Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi
hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan.
Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 11

Stadium erupsi
Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada
saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan dan saat
suhu berkisar 39,5C. Ruam pertama kali muncul sebagai makula yang tidak terlalu tampak
jelas di lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut. Kemudian ruam menjadi
makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher, lengan atas dan dada bagian atas pada
24 jam pertama. Kemudian ruam akan menjalar ke punggung, abdomen, seluruh tangan, paha
dan terakhir kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam. Saat ruam muncul di kaki,
ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh lainnya sesuai dengan urutan
munculnya.
Pasien ini termasuk dalam stadium erupsi karena didapatkan demam yang terus
menerus tinggi selama 7 hari lalu disusul oleh munculnya bintik bintik merah pada hampir
seluruh tubuh yang diawali dari wajah, badan dan kaki tangan. Bersamaan dengan demam
juga dikeluhkan adanya batuk pilek, mata sering berair dan merah.
Pemeriksaan fisik didapatkan adanya suhu yang meningkat, injeksi konjungtiva serta
bintik-bintik merah dan hasil laboratorium didapatkan leukosit yang masih dalam batas
normal bahkan nyaris turun ini mengindikasikan bahwa adanya infeksi dari virus.
Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan. Pada stadium prodromal dapat
ditemukan sel raksasa berinti banyak dari apusan mukosa hidung. Serum antibodi dari virus
campak dapat dilihat dengan pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement
fixation (CF), neutralization, immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi
IgM-IgG, dan fluorescent antibody (FA).
Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan
dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat sistomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif,
ekspektoran. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Dirumah
sakit pasien campak dirawat dibangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan perbaikan
keadan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai. Vitamin A
100.000 IU peroral diberikan satu kali, apabila terdapat malnutrisi dialanjutkan 1500 IU tiap
hari.
Indikasi Rawat :
Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 12

Hiperpireksia (>39 oC)


Dehidrasi
Kejang
Asupan oral sulit
Adanya komplikasi

Pasien dirawat atas indikasi hiperpireksia dan asupan oral yang sulit
Pencegahan Penyakit Campak :
Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention)
Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap
prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan
status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan
daya tahan tubuh.
Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena
penyakit campak, yaitu :
a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi
campak untuk semua bayi.
b. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak
berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.
Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk
mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya
dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan
membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu :
a. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah.
b. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama
empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau
mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium
kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat
mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya.

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 13

c. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik


untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi
sekunder untuk mencegah komplikasi.
d. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis,
otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.
Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian.
Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu :
a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.
b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat
terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian I, Edisi 12, Alih Bahasa : Siregar, M.R,
Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta .1988. p.1068-1071
2. WHO. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.Jakarta : WHO Indonesia . 2008.
P.180-183

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 14

3. Suharyo J.B . Vaksinasi Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Kanisius : Jakarta.
2010.p.80-83.
4. Hay Jr, William W, Currrent Pediatric Diagnotic and Treatment, 17th Ed. Lange
Medical Books. USA. P1163-65
5. Mansjoer A, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid Kedua, Bab 47. Media
Aeskulapius. Jakarta. 2000. Hal 417-18
6. Munasir, Zakiudin, Pengaruh Suplementasi Vitamin A terhadap Campak dalam Sari
Pediatri. Vol 2, No 2, Agustus 2000. Hal 72-76
7. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Buku Kuliah Ilmu Anak 2, Bab 21, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Jakarta. Hal 624-28
8. Campak
Available

at

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31365/4/Chapter

%20II.pdf

Laporan Kasus Morbili RSUD Bekasi

Page 15