Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pengorganisasian komunitas merupakan suatu proses ketika komunitas atau kelompok
dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan prioritas dari kebutuhankebutuhan itu dan selanjutnya mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi
kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan skala prioritas, tetapi bersadarkan atas sumber daya
yang tersedia baik di dalam komunitas itu sendiri maupun sumber daya yang berasal dari
luar. Usaha tersebut di Indonesia dapat dilakukan secara gotong royong.
Di Indonesia elemen masyarakat biasanya diartikan sebagai kelompok besar yang
mempunyai batasan geografi, seperti desa, kecamatan atau kabupaten. Namun bisa juga
diartikan sebagai suatu kelompok individu atau populasi yang mempunyai persamaan
kebutuhan. Namun tidak jarang ditemukan bahwa kebutuhan atau masalah yang dirasakan
oleh suatu kelompok kecil ternyata tidak dirasakan oleh kelompok yang lebih besar.
Kesadaran akan adanya kebutuhan/masalah biasanya hanya ditemukan pada
segelintir orang saja. Oleh karena itu, penting sekali untuk melakukan usaha menyadarkan
bagian terbesar komunitas lainnya akan adanya masalah itu dan selanjutnya bersama-sama
mengatasi. Untuk berhasilnya suatu pendekatan pengorganisasian komunitas tertentu
diperlukan adanya partisipasi aktif dari masyarakat.
Praktik keperawatan komunitas berpusat pada tersedianya paduan antisipasi dan
penyuluhan/pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Sebagai perawat komunitas, maka
kegiatan pendidikan kesehatan yang secara langsung dilakukan dapat berbentuk
penyuluhan. Untuk dapat melakukan penyuluhan kesehatan dengan baik sehingga sasaran
yang diinginkan dapat tercapai, perawat kesehatan dalam komunitas perlu dibekali landasan
teori yang baik, attitude dan practice yang memadai. Tidak kalah penting adalah
kemampuan dalam mengorganisasikan masyarakat sehingga terjadi partisipasi masyarakat
atau peran serta masyarakat.

1.2 TUJUAN
1.2.1
1.2.2

Tujuan umum
Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang Pengorganisasian Komunitas.
Tujuan khusus
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang Definisi.
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang Pendekatan.
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang Model Pengorganisasian

Masyarakat.
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang Pengorganisasian Komunitas

Dalam Perawatan Kelompok.


Meningkatkan pengetahuan

Keperawatan Komunitas.
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang Tahap-Tahap Pengorganisasian

mahasiswa

tentang

Model

Sistem

Dalam

Komunitas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Menurut Denver (1991), komunitas adalah keseluruhan elemen masyarakat berserta
kelembagaan yang ada di dalamnya. Sedangkan menurut WHO (1974), masyarakat
didefinisikan

sebagai suatu pengelompokan sosial yang ditentukan oleh batas-batas

geografi serta kesamaan nilai-nilai dan interes. Pada umumnya anggota-anggota saling
1

mengenal dan berinteraksi. Komunitas berfungsi dalam struktur sosial tertentu serta
menerapkan dan membentuk norma-norma tertentu pula.
Sejalan dengan itu, Hendrik Blum (1974), selain membagi komunitas (masyarakat)
berdasarkan geopolitik juga berdasarkan interaksi yang berlangsung, seperti Nampak pada
jenis-jenis komunitas (tipologi komunitas) yang dikemukakannya sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Komunitas temu muka


Komunitas menurut kewilayahan/administrasi pemerintahan
Komunitas menurut kesamaan kebutuhan
Komunitas berdasarkan masalah ekologi
Komunitas berdasarkan interes tertentu
Komunitas berdasarkan sumber daya dan/atau pemecahan masalah
Pengorganisasian komunitas menurut Sasongko A. (1996) diartikan sebagai suatu

proses ketika suatu komunitas tertentu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhannya serta


mengembangkan keyakinannya untuk berusaha memenuhi kebutuhan itu termasuk
menentukan prioritas dari kebutuhan tersebut yang disesuaikan dengan sumber daya yang
tersedia dan dengan usaha secara gotong royong.
Pada pengertian diatas ada 3 aspek penting yang terkandung di dalamya yaitu:
1. Proses
a. Merupakan proses yang terjadi secara sadar, tetapi mungkin pula tidak.
b. Jika proses disadari, berarti masyarakat menyadari adanya kebutuhan.
c. Dalam prosesnya ditemukan unsur-unsur kesukarelaan, kesukarelaan timbul karena
adanya kebutuhan sehingga mengambil inisiatif atau prakarsa untuk mengatasi.
d. Kesukarelaan terjadi karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
kelompok atau masyarakat.
e. Kesadaran terhadap kebutuhan dan masalah yang dihadapi biasanya ditemukan
pada segelintir orang saja yang kemudian melakukan upaya menyadarkan
f.

masyarakat untuk mengatasinya.


Selanjutnya menginstruksikan

kepada

masyarakat

untuk

bersama-sama

mengatasinya.
2. Masyarakat
a. Batas-batas geografis.
b. Suatu kelompok dari mereka yang mempunyai kebutuhan bersama dari kelompok
yang lebih besar.
c. Kelompok kecil yang menyadari masalah harus dapat menyadarkan kelompok yang
lebih besar.
d. Secara bersama-sama mereka mencoba mengatasi masalah dan memenuhi
kebutuhannya.
3. Memfungsikan masyarakat
Untuk dapat memfungsikan masyarakat, maka harus dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja untuk membentuk
kepanitian yang akan menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan
kesehatan masyarakat.
b. Menyusun rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh keseluruhan
masyarakat.
c. Melakukan upaya penyebaran rencana agar masyarakat dapat menyebarkan
rencana tersebut.
2.2 PENDEKATAN
Terdapat tiga jenis pendekatan dalam pengorganisasian komunitas sebagai berikut:
1. Pendekatan bertujuan khusus (Spesific content objective approach)
Pendekatan baik perseorangan (promotor kesehatan desa), lembaga swadaya atau
badan tertentu yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari
masyarakat akan pelayanan kesehatan mengajukan suatu prosposal atau program
2

kepada instansi yang berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan
masyarakat tersebut. Misal: program penanggulangan masalah kesehatan seperti
sampah, pencemaran lingkungan.
2. Pendekatan bertujuan umum (General content objective approach)
Pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam
suatu wadah tertentu. Misalnya program pos pelayanan terpadu yang melaksanakan 5
sampai 7 upaya kesehatan yang dijalankan sekaligus seperti KIA, KB, Gizi, Imunisasi,
penanggulangan diare, penyediaan air bersih dan penyediaan obat-obatan esensial.
3. Pendekatan proses (Process objective approach)
Pendekatan yang lebih menekankan kepada proses yang dilaksanakan oleh masyarakat
sebagai pengambil prakarsa, mulai dari mengidentifikasi masalah, analisa, menyusun
perencanaan penanggulangan masalah, pelaksanaan kegiatan samapai dengan
penilaian

dan

pengembangan

kegiatan,

dimana

masyarakat

sendiri

yang

mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki dan yang
dipentingkan dalam pendekatan ini adalah partisipasi masyarakat atau peran serta
masyarakat dalam pengembangan kegiatan.
2.3 MODEL PENGORGANISASIAN KOMUNITAS
Dalam pengorganisasian komunitas ada tiga model yang dipergunakan, yaitu:
1. Locality development: peran serta seluruh masyarakat untuk mandiri.
Prinsip: keterlibatan langsung, melayani sendiri, membantu diri sendiri dalam
penyelesaian

masalah,

mengembangkan

keterampilan

(individu/kelompk)

proses

pemecahan masalah. Peran kita sebagai pendukung, fasilitator dan pendidik (guru).
2. Social planning: perencanaan para ahli dan menggunakan birokrasi.
Keputusan komunitas didasarkan pada fakta/data yang dikumpulkan, membuat
keputusan secara rasional. Penekanan penyelesaian masalah bukan proses, harus
cepat, tujuan/hasil. Pendekatan langsung (perintah) dalam rangka untuk merubah
masyarakat dengan penekanan pada perencanaan. Peran perawat sebagai fasilitator,
pengumpulan fakta/data, menganalisa dan melaksanakan program implementasi.
3. Social action: focus pada korban.
Mengubah komunitas pada polarisasi/pemusatan/ issue yang ada d9 komunitas dengan
menggunakan

konflik/konfrontasi

antara

penduduk

dan

pengambil

keputusan/kebijaksanaan. Penekanan proses atau tujuan. Fokus utama transfer


kekuatan pada tingkat kelompok. Peran perawat sebagai aktivis, penggerak dan
negosiator (Mubarak, 2006).
2.4 PENGORGANISASIAN KOMUNITAS DALAM PERAWATAN KELOMPOK
Pengorganisasian komunitas dalam perawatan kelompok telah dikenal dan dipraktikan
sepanjang sejarah keperawatan yakni dimulai sejak zaman Florence Nightingale yang
mengorganisasikan perawatan kesehatan bagi para prajurit Perang Cream (1856).
Pengelolaannya didasarkan pada para korban yang tergolong miskin, terdiskriminasi
(mereka umumnya orang Irlandia penganut Katholik) serta berada dalam posisi yang tak
berdaya. Setelah perang Cream berakhir, Nightingale mengorganisasikan rumah sakit
sebagai tempat perawatan serta pendidikan keperawatan.
Sementara itu, perkembangan keperawatan komunitas di Amerika Serikat baru
muncul di era 1877 dalam bentuk kunjungan rumah oleh perawat yang dipelopori oleh Lilian
Wald dengan cara Fee for Services, dengan System Cost Accounting serta melalui
periklanan di surat kabar. Upaya ini berhasil menurunkan anka kematian akibat penyakit
infeksi. Perkembangan di Amerika Serikat terus berlangsung terutama di awal abad ke-20
(PD I dan II). Adapun penahapannya yang penting adalah berturut-turut: masa PD I-PD II,
3

masa PD II-1961 dan 1961 sampai saat ini. Tahun 1961 ditandai dengan awal
diberlakukannya asuransi kesehatan/keperawatan masyarakat.
Perawatan kesehatan masyarakat selaku suatu bentuk pelayanan tersendiri semakin
berkembang sebagai suatu spesialisasi yang mengembangkan kedua aspek pengetahuan
(Public Health dan Nursing) yang saling mengisi serta merupakan suatu proses sistematik
karena:
1.

Pengkajian kebutuhan kesehatan penduduk dilakukan bersama disiplin ilmu lainnya


yang ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok penduduk yang beresiko terhadap

penyakit, cacat dan kematian prematur.


2. Mengembangkan rencana intervensi untuk mengatasi masalah tersebut di atas dengan
menggunakan sumber daya yang tersedia.
3. Rencana pelayanan kesehatan tersebut butir 2, selanjutnya dilaksanakan secara efektif,
efisien dan seimbang.
4. Untuk mengukur tingkat keberhasilan, perlu dievaluasi mengenai status kesehatan
kelompok penduduk tersebut.
Standar praktik keperawatan komunitas. (Sumber: American Nurses Association;
Standars of Community Health Nursing, 1986)
1. Perawat mengaplikasikan konsep teorinya sebagai landasan pengambilan keputusan
dalam praktik.
2. Secara sistematis perawat mengumpulkan data yang komprehensif dan akurat.
3. Perawat menganalisis data yang terkumpul mengenai komunitas, keluarga maupun
individu untuk menegakkan diagnosis.
4. Perawat membimbing dalam perencanaan, intervensi untuk promosi, mempertahankan
atau memperbaiki kesalahan, mencegah penyakit dan mengefektifkan rehabilitasi.
5. Pada setiap tingkatan prevensi, perawat mengembangkan perencanaan yang spesifik
dan unik untuk kebutuhan klien.
6. Perawat mengevaluasi respons komunitas, keluarga maupun individu dalam berbagai
kemajuan untuk mencapai tujuan serta merevisi data dasar, diagnosis dan perencanaan.
7. Perawat berpartisipasi dalam pertemuan sebaya (peer) dengan tujuan dapat
memperbaiki praktik dan ikut bertanggung jawab untuk mengembangkan serta
berkontribusi dalam peran profesionalnya bersama tenaga kesehatan lainnya.
8. Perawat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain secara professional dalam
melaksanakan pengkajian, perencanaan, implementasi dan program evaluasi pada
kesehatan komunitas.
9. Perawat berkontribusi untuk menyumbangkan ilmu dan praktiknya pada komunitas
melalui penelitian.
2.5 MODEL SISTEM DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS
Model sistem lebih terfokus pada pengorganisasian, interaksi, interdepensi dan integrasi dari
bagian-bagian dan elemen yang ada. Dalam keperawatan komunitas, model yang
digunakan antara lain model Betty Neuman dan Ohama.
1. Model Sistem Betty Neuman
Teori Neuman berpijak pada metaparadigma keperawatan yang terdiri dari klien,
lingkungan, kesehatan dan keperawatan. Fokus pelayanan keperawatan adalah klien
yang berinteraksi dengan lingkungannya. Yang terpenting adalah menjaga agar klien
dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Model ini berdasarkan kepada teori
Gestalt, teori Stres dari Selye dan teori sistem secara umum. Sistem Neuman lebih
melihat pada hubungan individu terhadap stress, reaksi terhadap stress serta factor
rekonstruksi yang dinamis.
Rekonstruksi adalah pernyataan keadaan terhadap adaptasi pada stressor.
Menurut Neuman, klien adalah suatu sistem terbuka yang terdiri dari struktur dasar atau
4

sumber energy pusat. Klien mempunyai lima macam variabel interaksi, yaitu fisiologi,
psikologi, sosio-kultural, spiritual dan pengembangan.
Neuman berpendapat bahwa stressor merupakan kekuatan di lingkungan yang
dapat mengubah sistem kestabilan. Stresor dikategorikan dalam tiga area, yaitu:
a. Stresor intra-personal terjadi di dalam individu, seperti infeksi.
b. Stresor inter-personal terjadi di antara individu, seperti pengharapan peran.
c. Stresor ekstra-personal terjadi di luar individu itu sendiri, seperti masalah keuangan.
Tujuan dari keperawatan model Neuman adalah menjaga agar sistem tetap dapat
stabil dengan cara melakukan pengkajian terhadap stressor, baik yang aktual maupun
potensial. Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang ditujukan pada
pertahanan kestabilan sistem yang meliputi tiga hal penting, yaitu:
a. Prevensi primer adalah suatu cara yang mengidentifikasi faktor-faktor resiko dan
berusaha mengurangi stresor serta berfokus pada pelindungan garis normal dan
mengurangi stresor serta berfokus pada perlindungan garis normal dan memperkuat
garis fleksibel/pertahanan.
b. Prevensi sekunder, berkaitan dengan penatalaksanaan aktif setelah gejala terjadi.
Fokusnya adalah memperkuat garis internal perlawanan dengan cara mengurangi
reaksi dan meningkatkan faktor perlawanan.
c. Prevensi tersier, mengarah pada intervensi selanjutnya yang telah diberikan pada
tingkat sekunder dan berfokus pada adaptasi ulang serta stabilitas dalam melindungi
penatalaksanaan selanjutnya.
2. Model Sistem Omaha
Perawat dan administrator pada servis komunitas bersama-sama memperlajari
dokumentasi dan data manajemen yang ada. Hal ini perlu dilakukan karena perawatan
pada komunitas sangat kompleks, berbeda-beda dan mandiri. Ada tiga hal penting yang
dikategorikan pada kebutuhan kritis, yaitu:
a. Data yang dapat diukur, valid dan tepat tentang karakteristik demografi, tindak
kekerasan, penyakit yang ada, tipe dan lokasi pelayanan dan isu pembayarannya.
b. Data yang dapat diukur, valid dan tepat tentang kualitas pelayanan perawatan yang
diterima klien, jenis pelayanan yang diberikan, jumlah biaya yang harus dibayarkan
dan hasil dari pelayanan tersebut.
c. Metode lisan dan tertulis untuk kolaborasi di antara perawat dan juga tenaga
professional lainnya.
Berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengalami evolusi dan perubahan
dan perubahan, tetapi pada prinsipnya sama, yaitu mengacu pada proses keperawatan
yang terdiri dari diagnosis keperawatan dan masalah klien, intervensi keperawatan,
kegiatan dan aktivitas serta evaluasi dan pengukuran keberhasilan. Semua konsep
diaplikasikan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat pada suatu saat itu
(divergen). Konsep tersebut dapat juga diterapkan pada program perawatan akut
maupun kronis, ditujukan pada klien secara individu, keluarga, kelompok maupun
masyarakat yang lebih luas.
Diagnosis keperawatan merupakan pernyataan klinis tentang masalah dan
proses kehidupan klien, baik yang bersifat aktual maupun yang masih bersifat potensial.
Dasar pemilihan intervensi adalah tercapainya hasil yang sesuai dengan kemampuan
perawat yang ada.
Masalah klien yang bersifat sulit maupun yang sederhana membutuhkan datadata yang akurat, tepat dan dapat diukur. Oleh karena itu, keterampilan perawat dalam
melaksanakan pengkajian sangat dibutuhkan. Intervensi keperawatan merupakan
kegiatan yang dilakukan dengan mengacu pada perencanaan. Kegiatan ditujukan pada
5

masalah klien yang spesifik untuk melengkapi, mempertahankan, memperbaiki


kesehatan atau mencegah terjadinya penyakit. Intervensi dapat dilakukan secara
langsung dengan melibatkan klien, termasuk menginisiasi kebutuhan pengobatan dokter
dan pengamatan pada kegiatan fungsi dari klien itu sendiri
Evaluasi merupakan proses yang didesain untuk menilai keberadaan klien dan
bandingkan dengan standar. Menurut Donabedian (1966), kerangka kerja klasik yang
sering digunakan adalah pengukuran pada komponen-komponen dalam sistem yaitu
struktur, proses dan hasil. Pada komponen hasil, dasar yang digunakan adalah
perubahan kesehatan atau perilaku klien setelah mendapatkan perawatan. Evaluasi
dapat diartikan sebagai hasil perbandingan antara sebelum mendapatkan penanganan
dengan setelah selesai penangannya. Hal-hal yang dapat dinilai adalah perubahan
status kesehatan, pengetahuan dan perilaku.
2.6 TAHAP-TAHAP PENGORGANISASIAN KOMUNITAS
Langkah-langkah dalam pengorganisasian masyarakat ada 4 langkah, yaitu:
1. Persiapan sosial
Dalam praktik perawatan kesehatan tujuan persiapan sosial adalah mengajak partisipasi
atau peran serta masyarakat sejak awal kegiatan selanjutnya sampai dengan
perencanaan

program,

pelaksanaan

hingga

pengembangan

program

praktik

keperawatan kesehatan masyarakat. Ada dua pendekatan dalam partisipasi masyarakat


yaitu:
a. Pendidikan partisipasi
Dalam kegiatan ini komunitas dilibatkan dalam perencanaan, penyelesaian masalah,
namun biasanya dengan pendekatan ini proses perubahan lambat namun
keuntungannya adalah keompok/masyarakat merasa memiliki dan komunitas untuk
berubah dalam jangka waktu yang panjang.
b. Pendidikan langsung (perintah)
Dalam pendekatan ini proses berubah ditentukan oleh kekuatan luar, proses berubah
berjalan cepat namun kerugiannya adalah masyarakat tak merasa memiliki dan
perubahan hanya berlangsung dalam jangka pendek.
Kegiatan-kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan pada persiapan-persiapan
yang harus dilakukan baik aspek teknis, administrasi dan program-program kesehatan
yang akan dilaksanakan. Dalam tahap persiapan sosial ada 3 kegiatan:
a) Pengenalan masyarakat
Pada tahap ini dapat dilakukan melalui jalur formal, sebagai pihak yang bertanggung
jawab secara teknis administrative dan birokratif suatu wilayah yang akan dijadikan
daerah

binaan.

Pendekatan

terhadap

informal

leader

umumnya

melalui

pemerintahan setempat yang bertanggung jawab terhadap wilayah tersebut dan


pusat kesehatan masyarakat atau instansi terkait yang bertanggung jawab dalam
bidang kesehatan masyarakat. Pendekatan ini didahului melalui surat permintaan
daerah binaan yang akan dijadikan lahan praktik dilengkapi proposal rencanan
pembinaan suatu daerah binaan. Selanjutnya langkah berikutnya mengadakan
pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang ada di wilayah tersebut.
b) Pengenalan masalah
Untuk dapat mengenal masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh yang
benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat pada saat ini. Hal ini dapat dilakukan
melalui survei kesehatan masyarakat dalam ruang lingkup terbatas. Sehingga
masalah-masalah dirumuskan benar-benar masalah yang menjadi kebutuhan
masyarakat setempat. Oleh karenanya keterlibatan masyarakat sangat diperlukan
6

sehingga mereka menyadari sepenuhnya masalah yang mereka hadapi dan mereka
sadar bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. Masalah yang ditemukan pada
tahap ini tentunya tidak hanya satu masalah, oleh karenanya perlu dilakukan
penyusunan skala prioritas penanggulangan masalah bersama-sama masyarakat
formal dan informal.
c) Penyadaran masyarakat
Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka:
Menyadari masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.
Secara sadar mereka mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan

masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.


Mereka tahu cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan upaya pelayanan
kesehatan dan keperawatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada
pada mereka.

Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan
kesehatan dan keperawatan diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan
terorganisasi dengan baik dan istilah yang sering digunakan dalam keperawatan
komunitas dalam menyadarkan masyarakat, yaitu: lokakarya mini kesehatan,
musyawarah masyarakat desa atau rembuk desa. Hal-hal yang mendapat perhatian
dalam penyadaran masalah adalah

Libatkan masyarakat.
Dalam menyusun rencana penanggulangan masalah disesuaikan dengan potensi

dan sumber daya yang ada pada masyarakat.


Hindari konflik dari berbagai kepentingan dalam masyarakat.
Kesadaran dari kelompok-kelompok kecil masyarakat hendaknya disebarkan

kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.


Adakan interaksi dan interelasi dengan tokoh-tokoh masyarakat secara intensif
dan akrab sehingga mereka dapat dimanfaatkan untuk usaha motivasi,

komunikasi sehingga dapat mengguggah kesadaran masyarakat.


Dalam mengatasi sifat-sifat masyarakat dapat memanfaatkan jalur kepemimpinan
masyarakat setempat dalam mendapatkan legitimasi dari pihak pemerintah
setempat untuk mempercepat kesadaran masyarakat.

Dari penjelasan tersebut diatas dapat dipahami bahwa apabila dalam pembelajaran
praktik di komunitas yang dilakukan pertama oleh mahasiswa adalah melakukan
pertemuan (temu kenal), selanjutnya melakukan pengkajian pada masyarakat baru
dilakukan mini lokakarya.
2. Pelaksanaan
Setelah rencana penanggulangan masalah disusun dalam mini lokakarya atau dalam
musyawarah masyarakat desa, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan
kegiatan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dan beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat adalah:
a. Pilihlah kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
b. Libatkan peran serta masyarakat secara aktif dalam upaya penanggulangan
masalah.
c. Kegiatan disesuaikan dengan kemampuan, waktu dan sumber daya yang tersedia di
masyarakat.
d. Tumbuhkan rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka mempunyai kemampuan
dalam penanggulangan masalah
7

Dalam tahap ini, maka kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan masalah salah
satunya adalah melalui penyuluhan kesehatan untuk menanggulangi masalah, setelah
dilakukan suatu penentuan skala prioritas masalah. Agar penyuluhan tersebut mudah
dipahami oleh masyarakat, maka petugas kesehatan atau mahasiswa keperawatan
komunitas harus membuat satuan acara pembelajaran (SAP) dan disertai lampiran
materi penyuluhan dan leaflet.
3. Evaluasi
Penilaian dapat dilakukan setelah pelaksanaan dijalankan dalam jangka waktu tertentu.
Dalam melakukan penilaian dapat dilakukan dalam 2 cara:
a. Selama kegiatan berlangsung (penilaian formatif)
Penilaian ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan kegiatan yang dijalankan
sesuai perencanaan penanggulangan masalah yang disusun. Penilaian ini juga
dapat dikatakan monitoring, sehingga dapat diketahui perkembangan hasil yang
akan dicapai.
b. Setelah program selesai dilaksanakan (penilaian sumatif)
Penilaian ini dilakukan setelah melalui jangka waktu tertentu dari kegiatan yang
dilakukan atau disebutkan juga penilaian pada akhir program sehingga dapat diketaui
apakah tujuan atau target tertentu dalam pelayanan kesehatan dan keperawatan
telah tercapai atau belum.
4. Perluasan
Merupakan pengembangan dari pada kegiatan yang akan dilakukan dan dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
a. Perluasan kuantitatif, yaitu perluasan dengan menambah jumlah kegiatan yang akan
dilakukan, apakah pada wilayah setempat atau di wilayah lainnya sesuai dengan
kebutuhan masyarakat setempat.
b. Perluasan kualitatif, yaitu meningkatkan mutu atau kualitas kegiatan yang telah
dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan kepuasan dari masyarakat yang
dilayani.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:
Komunitas adalah keseluruhan elemen masyarakat berserta kelembagaan yang ada di
dalamnya. Komunitas berfungsi dalam struktur sosial tertentu serta menerapkan dan
membentuk

norma-norma

tertentu

pula.

Terdapat

tiga

jenis

pendekatan

dalam

pengorganisasian komunitas, yaitu pendekatan bertujuan khusus,pendekatan bertujuan


khusus dan pendekatan proses. Selain itu, dalam pengorganisasian komunitas ada tiga
8

model yang dipergunakan, yaitu locality development, social planning dan social action.
Pengorganisasian komunitas dalam perawatan kelompok telah dikenal dan dipraktikan
sepanjang sejarah keperawatan yakni dimulai sejak zaman Florence Nightingale yang
mengorganisasikan perawatan kesehatan bagi para prajurit Perang Cream (1856). Model
sistem lebih terfokus pada pengorganisasian, interaksi, interdepensi dan integrasi dari
bagian-bagian dan elemen yang ada. Langkah-langkah dalam pengorganisasian dalam
masyarakat ada 4 langkah, yaitu persiapan sosial, pelaksanaan, evaluasi dan perluasan.
Dalam keperawatan komunitas, model yang digunakan antara lain model Betty Neuman dan
Ohama.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran dari penulis, yaitu:
1. Sebagai mahasiswa keperawatan, sebaiknya rajin membaca literatur-literatur yang
berhubungan dengan pengorganisasian komunitas sehingga menambah pengetahuan
dan wawasan berpikir dan memudahkan dalam praktik keperawatan komunitas di
tatanan nyata.
2. Sebagai perawat komunitas, perlu mengetahui konsep pengorganisasian komunitas
dengan baik sehingga dapat mengatasi masalah-masalah yang terjadi di komunitas.

DAFTAR PUSTAKA
Mubarak, W.I. dkk (2006): Ilmu Keperawatan Komunitas 2: Buku dan Aplikasi dalam praktik
dengan pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik dan Keluarga,
Jakarta.
Sumijatun, dkk (2005):Konsep Dasar Keperawatan Komunitas, EGC, Jakarta.