Anda di halaman 1dari 25

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

Arifianto Efendi1), Evy Ariska Novelia2), Muhammad Arafiq3), Tri Utami Nurul Hidayah4),
Windra Kurniawan5), Zulfiyansyah 6)
1) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: arifiantoefendi@gmail.com
2) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: evy.ariska@gmail.com
3) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: m.arafiq.stan@gmail.com
4) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: tunhidayah@gmail.com
5) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: winzera.kun@gmail.com
6) Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Reguler, 9E STAN, Tangerang Selatan
email: zulfiyansah@gmail.com

AbstrakKorupsi sebagai kejahatan luar biasa memiliki dampak masif kepada seluruh sendi kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Oleh karenanya, diperlukan upaya penegakan hukum tindak pindana korupsi yang
serius dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat. Peraturan perundang-undangan yang dibentuk
oleh pemerintah serta norma moralitas yang berlaku dalam masyarakat menjadi bagian dari upaya mencegah dan
memberantas korupsi. Lembaga serta aparat penegak hukum yang tegas diperlukan untuk melaksanakan peraturan
perundang-undangan. Peran serta masyarakat dalam mengawal penegakan hukum menjadi tonggak penting
tegaknya hukum pemberantasan tindak pidana korupsi.

Kata Kunci: penegakan hukum, tindak pidanakorupsi.


1. PENDAHULUAN
2.
Tindak pidana korupsi
telah lama ada di Indonesia. Sejak zaman
kerajaan-kerajaan terdahulu, korupsi telah
terjadi meski tidak secara khusus
menggunakan istilah korupsi. Setelah
zaman kemerdekaan, Korupsi pun makin
menjamur di Indonesia. masih terjebak
dengan cengkraman korupsi. Indonesia
sulit lepas dari ganasnya korupsi. Korupsi
menyerang pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tidak
heran adanya korupsi menjadi ancaman
stabilitas pembangunan nasional.
3.
Indonesia
mengkategorikan tindak pidana korupsi.
[1]

sebagai tindak pidana kejahatan luar biasa


(extra ordinary crime). Hal ini karena
tindak pidana korupsi memiliki daya
hancur yang luar biasa dan dapat merusak
sendi-sendi perekonomian suatu negara.
Tak heran, penegakan hukum terhadap
tindak pidana korupsi di Indonesia sangat
berbeda dengan tindak pidana yang lain. Di
Indonesia terdapat empat lembaga yang
berfungsi sebagai penegak hukum tindak
pidana korupsi. Lembaga-lembaga tersebut
yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Kepolisian, Kejaksaan dan
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Keempat lembaga tersebut berwenang
dalam melakukan proses peradilan
terhadap tindak pidana korupsi.

4.
Upaya penegakan hukum
dan
pemberantasan
korupsi
oleh
pemerintah melalui keempat lembaga
tersebut memang masih menemui banyak7.
kendala. Disamping para pelakunya yang
cerdik berlindung di balik hukum, para
aparat penegak hukum juga masih
kelihatan canggung menjalankan tugasnya.
Kurangnya sinergi antara ketiga lembaga
tersebut membuat pemberantasan korupsi
menjadi kurang efektif. Selain itu,
pemerintah terkesan belum berani dan
tegas dalam menindak para koruptor di
negeri ini. Beberapa perilaku aparat
penegak hukum sering gagal dalam
menyelesaikan kasus korupsi. Banyak
kasus korupsi yang tidak diproses dengan
alasan kesalahan administrasi atau kurang
cukup bukti.
5.
Terdapat dua faktor yang
menjamin penegakan hukum berjalan
efektif yaitu, faktor hukum dan faktor
aparat penegak hukum. Kedua faktor ini
yang akan menentukan efektifitas dalam
pemberantasan tindak pidana korupsi.
Faktor hukum dalam upaya pemberantasan
korupsi telah dilakukan sejak awal
kemerdekaan
dengan
menggunakan
peraturan perundang-undangan yang ada
maupun dengan membentuk peraturan
perundang-undangan baru yang secara
khusus mengatur mengenai pemberantasan
tindak pidana korupsi. Sedangkan aparat
penegak hukum berfungsi sebagai lembaga
yang dapat menjalankan peraturan
perundang-undangan
dan
melakukan
proses peradilan
6.
Jurnal ini akan membahas
mengenai peraturan perundang-undangan
yang pernah digunakan untuk mendasari
penegakan hukum dalam memberantas
tindak pidana korupsi dan norma norma,
baik hukum maupun moral, dalam

masyarakat serta masalah yang terjadi


dalam penegakan hukum di Indonesia.

LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Korupsi
8.
Menurut
Wordnet
Princeton
Education korupsi adalah lack of integrity or
honesty (especially susceptibility to bribery); use
of a position of trust for dishonest gain).Colin Nye
( 1967:416) mendefinisikan korupsi sebagai
berikut:
9.
10.corruption is behaviour that deviates
from the formal duties of a public role
(elective or appointive) because of privateregarding (personal, close family, private
clique) wealth or status gains.
11.

Definisi terbaru dengan elemen-elemen


yang sama diberikan oleh Mushtaq
Khan(1996:12):

12.corruption is behaviour that deviates


from the formal rules of conduct governing
the actions of someone in a position of public
authority because of private-regarding
motives such as wealth, power, or status.

13.
14.
Sedangkan menurut UU No. 31
Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang
termasuk dalam Tindak Pidana Korupsi meliputi :
a. Setiap orang yang secara melawan hukum
melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara (Pasal 2 UU No. 31
tahun 1999).
b. Setiap
orang
yang
dengan
tujuan
menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi, menyalahgunakan
kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan yang
dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara (Pasal 3 UU No. 31
tahun 1999).

[2]

c. Setiap
orang
atau
pegawai
negeri
sipil/penyelenggara negara yang memberi atau
menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri
atau penyelenggara negara dengan maksud
supaya pegawai negeri atau penyelenggara
negara tersebut berbuat atau tidak berbuat
sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan
dengan kewajibannya; atau memberi sesuatu
kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara karena atau berhubungan dengan
sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban,
dilakukan atau tidak dilakukan dalam
jabatannya (Pasal 5 UU No. 20 Tahun 2001).
d. Setiap orang yang memberi atau menjanjikan
sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk
mempengaruhi
putusan
perkara
yang
diserahkan kepadanya untuk diadili; atau.
memberi atau menjanjikan sesuatu kepada
seseorang yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan ditentukan menjadi
advokat untuk menghadiri sidang pengadilan
dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat
atau pendapat yang akan diberikan berhubung
dengan perkara yang diserahkan kepada
pengadilan untuk diadili. (Pasal 6 UU No. 20
Tahun 2001).
e. Pasal 7 UU No. 20 Tahun 2001:
pemborong, ahli bangunan yang pada
waktu membuat bangunan, atau penjual
bahan bangunan yang pada waktu
menyerahkan
bahan
bangunan,
melakukan perbuatan curang yang dapat
membahayakan keamanan orang atau
barang, atau keselamatan negara dalam
keadaan perang;
setiap orang yang bertugas mengawasi
pembangunan atau penyerahan bahan
bangunan, sengaja membiarkan perbuatan
curang yang dapat membahayakan
keamanan orang atau barang, atau
keselamatan Negara dalam keadaan
perang
setiap orang yang pada
waktu
menyerahkan barang keperluan Tentara
Nasional Indonesia dan atau Kepolisian
[3]

Negara Republik Indonesia melakukan


perbuatan
curang
yang
dapat
membahayakan keselamatan negara
dalam keadaan perang; atau
setiap orang yang bertugas mengawasi
penyerahan barang keperluan Tentara
Nasional Indonesia dan atau Kepolisian
Negara Republik Indonesia dengan
sengaja membiarkan perbuatan curang
yang dapat membahayakan keselamatan
negara dalam keadaan perang.
Bagi orang yang menerima penyerahan
bahan bangunan atau orang yang
menerima penyerahan barang keperluan
Tentara Nasional Indonesia dan atau
Kepolisian Negara Republik Indonesia
dan membiarkan perbuatan curang yang
dapat membahayakan keamanan orang
atau barang, atau keselamatan negara
dalam keadaan perang atau yang dapat
membahayakan keselamatan negara
dalam keadaan perang.
f. Pegawai negeri atau orang selain pegawai
negeri yang ditugaskan menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atau untuk
sementara
waktu,
dengan
sengaja
menggelapkan uang atau surat berharga yang
disimpan karena jabatannya, atau membiarkan
uang atau surat berharga tersebut diambil atau
digelapkan oleh orang lain, atau membantu
dalam melakukan perbuatan tersebut (Pasal 8
UU No. 20 tahun 2001).
g. Pegawai negeri atau orang selain pegawai
negeri yang diberi tugas menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atau untuk
sementara waktu, dengan sengaja memalsu
buku-buku atau daftar-daftar yang khusus
untuk pemeriksaan administrasi (Pasal 9 UU
No. 20 tahun 2001).
h. Pegawai negeri atau orang selain pegawai
negeri yang diberi tugas menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atau untuk
sementara waktu, dengan sengaja (Pasal 10
UU No. 20 Tahun 2001):

i.

j.

menggelapkan,
menghancurkan,
merusakkan, atau membuat tidak dapat
dipakai barang, akta, surat, atau daftar
yang digunakan untuk meyakinkan atau
membuktikan di muka pejabat yang
berwenang, yang dikuasai karena
jabatannya; atau
membiarkan orang lain menghilangkan,
menghancurkan,
merusakkan,
atau
membuat tidak dapat dipakai barang,
akta, surat, atau daftar tersebut; atau
membantu orang lain menghilangkan,
menghancurkan,
merusakkan,
atau
membuat tidak dapat dipakai barang,
akta, surat, atau daftar tersebut.
Pegawai negeri atau penyelenggara negara
yang menerima hadiah atau janji padahal
diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau
janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau
kewenangan yang berhubungan dengan
jabatannya, atau yang menurut pikiran orang
yang memberikan hadiah atau janji tersebut
ada hubungan dengan jabatannya (Pasal 11
UU No. 20 Tahun 2001).
Pasal 12 UU No. 20 Tahun 2001 :
pegawai negeri atau penyelenggara negara
yang menerima hadiah atau janji, padahal
diketahui atau patut diduga bahwa hadiah
atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang
bertentangan dengan kewajibannya;
pegawai negeri atau penyelenggara negara
yang menerima hadiah, padahal diketahui
atau patut diduga bahwa hadiah tersebut
diberikan sebagai akibat atau disebabkan
karena telah melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya;
hakim yang menerima hadiah atau janji,
padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
mempengaruhi putusan perkara yang
diserahkan kepadanya untuk diadili;

seseorang yang menurut ketentuan


peraturan perundang-undangan ditentukan
menjadi advokat untuk menghadiri sidang
pengadilan, menerima hadiah atau janji,
padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut untuk
mempengaruhi nasihat atau pendapat yang
akan diberikan, berhubung dengan perkara
yang diserahkan kepada pengadilan untuk
diadili;
k. Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara dianggap pemberian
suap, apabila berhubungan dengan jabatannya
dan yang berlawanan dengan kewajiban atau
tugasnya. (Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001).
l. Setiap orang yang memberi hadiah atau janji
kepada pegawai negeri dengan mengingat
kekuasaan atau wewenang yang melekat pada
jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi
hadiah atau janji dianggap melekat pada
jabatan atau kedudukan (Pasal 13 UU No. 31
Tahun 1999).
m. Setiap orang yang melanggar ketentuan
Undang-undang yang secara tegas menyatakan
bahwa pelanggaran terhadap ketentuan
Undang-undang tersebut sebagai tindak pidana
korupsi berlaku ketentuan yang diatur dalam
Undangundang ini (Pasal 14 UU No. 31 Tahun
1999).
15.

16.
2.2 Penegakan hukum
17.
Menurut
Prof.
Dr.
Jimly
Asshiddiqie, penegakan hukum adalah proses
dilakukannya upaya untuk tegaknya atau
berfungsinya norma-norma hukum secara nyata
sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau
hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut
subjeknya, penegakan hukum itu dapat dilakukan
oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan
sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek yang
terbatas atau sempit.
18.
Pengertian penegakan hukum
dapat pula ditinjau dai sudut objeknya, yaitu dari

[4]

segi hukumnya. Dalam arti luas, penegakan hukum


itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang
terkandung di dalamnya bunyi aturan formal
maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam
masyarakat. Tetapi, dalam arti sempit, penegakan
hukum itu hanya menyangkut penegakan peraturan
yang formal dan tertulis saja. Karena itu,
penerjemahan perkataan law enforcement ke
dalam bahasa Indonesia dalam menggunakan
perkataan penegakan hukum dalam arti luas dan
dapat pula digunakan istilah penegakan peraturan
dalam arti sempit.
19.
Berdasarkan pengertian di atas,
yang dimaksud dengan penegakan hukum tindak
pidana korupsi adalah upaya yang dilakukan untuk
menjadikan hukum sebagai pedoman perilaku
dalam upaya membaerantas dan menanggulangi
tindak pidana korupsi oleh semua subjek hukum
yaitu masyarakat maupun aparat hukum.
20.
Menurut Undnag-Undang Dasar
1945 Amandemen Pasal 1 ayat (3), Indonesia
adalah negara hukum. Sebagai negara hukum,
negara harus melindungi kepentingan rakyatnya
sebagaimana tercantum dalam alinea IV UUD 1945
amandemen: untuk membentuk suatu
Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia.
21.
Bentuk penegakan hukum tindak
pidana korupsi di Indonesia meliputi aspek formil
dan materil berupa peraturan perundang-undangan
serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
yaitu norma hukum dan norma moral.
22.

23.
PEMBAHASAN
3.1 Peraturan Terkait Tindak Pidana Korupsi
24.
Peraturan
perundang-undangan
mengenai tindak pidana korupsi telah banyak
dibuat dan berlaku di Indonesia. Peraturan
perundang-undangan tersebut dibuat bertujuan
untuk meberantas tindak pidana korupsi.
Banyaknya peraturan perundang-undangan korupsi
yang pernah dibuat dan berlaku di Indonesia
menarik untuk disimak tersendiri untuk mengetahui
dan memahami lahirnya tiap-tiap peraturan
perundang-undangan tersebut, termasuk untuk

mengetahui dan memahami


kelebihannya masing-masing.

kekurangan

dan

25.

a. Delik Korupsi dalam KUHP


26.
KUHP tidak secara khusus
mengatur mengenai tindak pidana korupsi, namun
KUHP telah mengatur banyak perbuatan yang
merugikan keuangan negara dimana pengaturan
tersebut dijadikan sebacai acuan pembuatan
undang-undang
pemberantasan
korupsi.Delik
korupsi yang ada di dalam KUHP meliputi delik
jabatan dan delik yang ada kaitannya dengan delik
jabatan.Berikut beberapa delik korupsi yang
diadopsi dari KUHP.
Delik yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara (Pasal 2 dan Pasal 3
UU No. 31 Tahun 1999 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi).
Delik
penyuapan
memberikan
atau
menjanjikan sesuatu Pasal 5 UU NO. 31
Tahun 1999 JO. UU NO. 20 Tahun 2001yang
diadopsi dari Pasal 209KUHP (SUAP
AKTIF).
Delik
penyuapan
memberikan
atau
menjanjikan sesuatu kepada Hakim dan
Advokat Pasal 6 UU NO. 31 Tahun 1999 JO.
UU NO. 20 TAHUN 2001 yang diadopsi dari
Pasal 210 KUHP (SUAP AKTIF).
Delik dalam hal membuat bangunan dan
menjual bahan bangunan dan korupsi dalam
menyerahkan alat keperluan TNI dan
Kepolisian RI Pasal 7 UU. No. 31 Tahun
1999 Jo. UU NO. 20 Tahun 2001 yang
diadopsi dari Pasal 387 dan 388 KUHP.
Delik Pegawai Negeri menggelapkan Uang
dan Surat Berharga Pasal 8 UU. No. 31 Tahun
1999 Jo. UU NO. 20 Tahun 2001 yang
diadopsi dari Pasal 415 KUHP.
Delik Pegawai Negeri memalsu buku-buku
dan daftar-daftar yang khusus untuk
pemeriksaan administrasi Pasal 9 UU. No. 31
Tahun 1999 Jo. UU NO. 20 Tahun 2001 yang
diadopsi dari Pasal 416 KUHP.
Delik Pegawai Negeri merusakkan barang,
akta,
surat,
atau
daftar
untuk

[5]

meyakinkan/membuktikan di muka pejabat


yang berwenang Pasal 10 UU. No. 31 Tahun
1999 Jo. UU No. 20 Tahun 2001 yang
diadopsi dari Pasal 417 KUHP.
Delik Pegawai Negeri menerima hadiah atau
janji yang berhubungan dengan kewenangan
jabatan, Pasal 11 UU. No.31 Tahun 1999 Jo.
UU NO. 20 Tahun 2001 yang diadopsi dari
Pasal 418 KUHP.
Delik Pegawai Negeri atau penyelenggara
negara, hakim dan advokat menerima hadiah
atau janji (suap pasif), Pegawai Negeri
memaksa membayar, memotong pembayaran,
meminta pekerjaan, menggunakan tanah
negara, dan turut serta dalam pemborongan,
Pasal 12 UU. No.31 Tahun 1999 Jo. UU NO.
20 Tahun 2001 yang diadopsi dari Pasal 419,
420, 423, 425, 435 KUHP.

27.
b. Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa
Perang Pusat Nomor Prt/ Peperpu/013/1950.
28.
Pada masa awal kemerdekaan,
Peraturan yang secara khusus mengatur
pemberantasan
korupsi
adalah
Peraturan
Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat
Nomor Prt/Peperpu/013/1950, yang kemudian
diikuti dengan Peraturan Penguasa Militer tanggal
9 April 1957 Nomor Prt/PM/06/1957, tanggal 27
mei 1957 Nomor Prt/PM/03/1957, dan tanggal 1
Juli 1957 Nomor Prt/PM/011/1957. Dalam
peraturan ini, korupsi dikategorikan ke dalam dua
perbuatan, yaitu:
Korupsi sebagai perbuatan pidana.
29.
Korupsi sebagai perbuatan pidana
dijelaskan sebagai :
1) Perbuatan seseorang dengan atau karena
melakukan suatu kejahatan atau
pelanggaran memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau badan yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan
keuangan atau perekonomian negara
atau daerah atau merugikan suatu badan
yang menerima bantuan dari keuangan
negara atau badan hukum lain yang

[6]

mempergunakan
modal
dan
kelonggaran-kelonggaran masyarakat.
2) Perbuatan seseorang yang dengan atau
karena melakukan suatu kejahatan atau
pelanggaran memperkaya diri sendiri
atau suatu badan dan yang dilakukan
dengan menyalahgunakan jabatan atau
kedudukan.
3) Kejahatan-kejahatan tercantum dalam
Pasal 41 sampai dengan Pasal 50
Pepperpu ini dan dalam Pasal 209, 210,
418, 419, dan 420 KUHP.
Korupsi sebagai perbuatan lainnya;
30.
Korupsi sebagai perbuatan bukan
pidana atau perbuatan lainnya dijelaskan sebagai,
1) Perbuatan seseorang yang dengan atau
karena melakukan perbuatan melawan
hukum memperkaya diri sendiri atau
orang lain atau suatu badan yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan
keuangan negara atau daerah atau
merugikan keuangan suatu badan yang
menerima bantuan dari keuangan negara
atau daerah atau badan hukum lain yang
mempergunakan
modal
atau
kelonggaran-kelonggaran
dari
masyarakat.
2) Perbuatan seseorang yang dengan atau
karena melakukan perbuatan melawan
hukum memperkaya diri sendiri atau
orang lain atau suatu badan dan yang
dilakukan dengan menyalahgunakan
jabatan atau kedudukan.
31.
c. Undang-Undang No.24 (PRP) tahun 1960
tentangTindakPidanaKorupsi.
32.
Undang-undang Nomor 24
(Prp) tahun 1960 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi dibuat karena
adanya
pertimbangan
penyesuaian
perubahan Peraturan Penguasa Perang
Pusat tentang Pemberantasan yang dibuat
berlandaskan UU Keadaan Bahaya. bahwa
dari keadaan bahaya menuju keadaan
normal. Perubahan utama dari Peraturan

Penguasa Perang Pusat ke dalam Undangundang ini adalah diubahnya istilah


perbuatan menjadi tindak pidana.Undangundang ini dianggap para pakar hukum
memiliki beberapa celah dalam menangani
tindak pidana korupsi sehingga perlu
dibuat peraturan perundang-undangan yang
dapat lebih memberatkan hukumannyadan
memudahkan
dalam
membuktikan
prosedur tindak pidana korupsi.

hampir 32 tahun, ditetapkanlah TAP No.


XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara
Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme.Hal ini sebagai
bentuk upaya-upaya untuk memfungsikan
Lembaga Tertinggi dan Lembagalembaga Tinggi Negara sesuai dengan
yang diharapkan bersama, meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam kehidupan
dalam memberikan kontrol sosial, dan
menghapus
praktek-praktek
yang
menyuburkan
KKN.Melalui
TAP
tersebut, MPR mengamanatkan bahwa
para
penyelenggara
negara
pada
lembaga-lembaga eksekutif, legislatif,
dan yudikatif harus melaksanakan fungsi
dan
tugasnya
dengan
baik
dan
bertanggung jawab kepada masyarakat,
bangsa, dan negara.Dalam melaksanakan
fungsi dan tugasnya, para penyelenggara
negara harus jujur, adil, terbuka dan
dapat
dipercaya
serta
mampu
membebaskan
diri
dari
praktek
KKN.Selain itu, diamanatkan pula bahwa
upaya pemberantasan tindak pidana
korupsi dilakukan secara tegas dengan
melaksanakan secara konsisten undangundang tindak pidana korupsi.

33.
d. Undang-Undang No.3 tahun 1971 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
34.
Pada pemerintahan Orde
Baru, masyarakat menuntut adanya
hukuman yang setimpal dan memberatkan
pada pelaku tindak pidana korupsi. Pada
tahun 1970 Presiden membentuk komisi 4
dengan tujuan membentuk Rencana
Undang-undang baru yang dapat lebih
efektif dan efisien dalam memberantas
korupsi. Asas legalitas dikedepankan
dalam pembuatan Undang-undang ini
dimana
tercermin
dengan
adanya
pemikiran untuk memberlakukan asas
pembuktian terbalik dan keinginan untuk
memasukkan
ketentuan
berlaku
surut.Rencana Undang-undang tentang
Tindak Pidana Korupsi tersebut akhirnya
disetujui dan disahkan menjadi undangundang pada tanggal 29 Maret 1971, dan
diundangkan pada hari itu, termuat dalam
Lembaran Negara tahun 1971 Nomor 19,
dengan nama Undang-Undang Nomor 3
tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
e. TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
35.
36.Setelah runtuhnya rezim orde baru
dan seiring dengan gerakan reformasi yang
timbul dari ketidakpuasan rakyat atas
kekuasaan Presiden Soeharto selama
[7]

f.

Undang-Undang No.28 Tahun 1999 tentang


Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
37.Undang-undang Nomor 28 tahun
1999 tentang Penyelenggara negara yang
bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme memberikan suatu definisi baru
atas tindak pidana atau kriminalisasi
mengenai Kolusi dan Nepotisme. Lahirnya
undang-undang ini memperkenalkan suatu
terminologi tindak pidana baru atau
kriminalisasi atas pengertian Kolusi dan
Nepotisme. Undang-undang ini memiliki
tujuan yang sama dengan TAP MPR No.
XI/MPR/1998 yaitu untuk mewujudkan
Penyelenggaraan Negara yang mampu

menjalankan fungsi dan tugasnya secara


sungguh-sungguh
dan
penuh
tanggungjawab

38.
g. UU Nomor 31 Tahun 1999 Jo UU No 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi
39.
Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi lahir untuk
menggantikan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, yang diharapkan mampu
memenuhi
dan
mengantisipasi
perkembangan
kebutuhan
hukum
masyarakat dalam rangka mencegah dan
memberantas korupsi secara lebih efektif.
Undang-Undang ini terdiri dari:
1) Ketentuan Umum
2) Tindak Pidana Korupsi
3) Tindak Pidana Lain yang berkaitan dengan
tindak pidana korupsi
4) Penyidikan, penuntuutan, dan pemeriksaan
di sidang pengadilan
5) Peran Serta Masyarakat, dan
6) Ketentuan Peralihan
7) Ketentuan Lain-lain
40.
Perumusan
UndangUndang tipikor dimaksudkan untuk
menjangkau berbagai modus operandi
penyimpangan keuangan negara atau
perekonomian negara yang semakin
canggih dan rumit seiring perkembangan
tekonologi dalam transaksi finansial.
Tindak pidana yang diatur dalam undangundang ini dirumuskan sedimikian rupa
sehingga meliputi perbuatan-perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi secara melawan
hukum dalam pengertian formil dan
materiil.
1. sifat melawan hukum secara formil: yang
dimaksud melawan hukum secara formil

adalah apabila perbuatan diancam pidana


dan dirumuskan sebagai suatu delik dalam
undang-undang; sedang sifat melawan
hukumnya perbuatan itu dapat hapus, hanya
berdasarkan suatu ketentuan undang-undang.
Jadi menurut ajaran ini melawan hukum
sama dengan melawan atau bertentangan
dengan undang-undang (hukum tertulis).
2. sifat melawan hukum secara materil: Suatu
perbuatan itu melawan hukum atau tidak,
tidak hanya yang terdapat dalam undangundang (yang tertulis) saja, akan tetapi harus
dilihat berlakunya azas-azas hukum yang
tidak tertulis.
Jadi menurut ajaran ini
melawan hukum sama dengan bertentangan
dengan undang-undang (hukum tertulis) dan
juga bertentangan dengan hukum yang tidak
tertulis termasuk tata susila dan sebagainya.
41.
42.
Perkembangan baru yang diatur
dalam Undang-undang ini adalah korporasi sebagai
subyek tindak pidana korupsi yang dapat dikenakan
sanksi. Hal ini tidak diatur dalam undang-undang
Nomor 3 Tahun 1971. Ketentuan pidana yang
termuat dalam bab II dan bab III menentukan
ancaman pidana minimu khusus, pidana denda
yang lebih tinggi, dan ancaman pidana mati yang
merupakan pemerataan pidana. Undnag-undang ini
juga memuat pidana penjara bagi pelaku tindak
pidana lorupsi yang tidak daat membayar pidana
tambahan berupa uang pengganti kerugian negara.
43.
Aparat penegak hukum juga diatur
kewenanganyna
untuk
meperlancar
proses
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan tindak
pidana korupsi. Kewenangan penyidik, penuntut
umum atau hakim sesuai dengan tingkat penangan
perkaran untuk dapat langsung meminta
keterangam tentang keadaan keuangan tersangka
atau terdakwa kepada bank dengan mengajukan hal
tersebut kepada Gubernur Bank Indonesia.
44.
Disamping itu, undang-undang ini
juga menerapkan pembuktian terbalik yang bersifat
terbatas atau berimbang, yakni terdakwa
mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia
tidak melakukan tindak pidana korupsi dan wajib

[8]

memberikan keterangan tentang Seluruh harta


bendanya dan harta benda istri atau suami, anak,
dan harta benda setiap orang atau korporasi yang
diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang
bersangkutan,
an
penuntut
umum
tetap
berkewajiban membuktikan dakwaannya.
45.
Undang-undang ini juga memberi
kesempatan
yang
seluas-luasnya
kepada
masyarakat berperan serta untuk membantu upaya
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
korupsi, dan terhadap anggota masyarakat yang
berperan serta tersebut diberikan perlindungan
hukum dan penghargaan.
46.
47.
h. Undang-undang No.8 Tahun 2010 Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang
48.

49.
Indonesia seperti halnya dengan
negara-negara lain, memberi perhatian besar
terhadap kejahatan lintas negara yang terorganisir
seperti pencucian uang (Tuanakotta, 2007).
Pencucian uang (Money Laundering) adalah suatu
upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul uang/dana atau Harta
Kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai
transaksi keuangan agar uang atau Harta Kekayaan
tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan
yang sah/legal.Pada umumnya pelaku tindak
pidana
berusaha
menyembunyikan
ataumenyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang
merupakan hasil dari tindakpidana dengan berbagai
cara agar Harta Kekayaan hasil tindak
pidananyasusah ditelusuri oleh aparat penegak
hukum sehingga dengan leluasamemanfaatkan
Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang
sahmaupun tidak sah. Karena itu, tindak pidana
Pencucian Uang tidak hanyamengancam stabilitas
dan integritas sistem perekonomian dan
sistemkeuangan, tetapi juga dapat membahayakan
sendi-sendi kehidupanbermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara berdasarkan Pancasila danUndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

50.
Dalam konsep antipencucian uang,
pelaku dan hasil tindak pidana dapatdiketahui
melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak
pidanatersebut dirampas untuk negara atau
dikembalikan kepada yang berhak.Apabila Harta
Kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh
pelaku atauorganisasi kejahatan dapat disita atau
dirampas, dengan sendirinya dapatmenurunkan
tingkat kriminalitas. Untuk itu upaya pencegahan
danpemberantasan tindak pidana Pencucian Uang
memerlukan landasanhukum yang kuat untuk
menjamin
kepastian
hukum,
efektivitas
penegakanhukum
serta
penelusuran
dan
pengembalian Harta Kekayaan hasil tindakpidana.
51.
Dalam perkembangannya, tindak
pidana Pencucian Uang semakinkompleks,
melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan
modus yangsemakin variatif, memanfaatkan
lembaga di luar sistem keuangan, bahkantelah
merambah
ke
berbagai
sektor.
Untuk
mengantisipasi hal itu, FinancialAction Task Force
(FATF) on Money Laundering telah mengeluarkan
standarinternasional yang menjadi ukuran bagi
setiap negara dalam pencegahandan pemberantasan
tindak pidana Pencucian Uang dan tindak
pidanapendanaan terorisme yang dikenal dengan
Revised 40 Recommendationsdan 9 Special
Recommendations (Revised 40+9) FATF, antara
lain mengenaiperluasan Pihak Pelapor (reporting
parties) yang mencakup pedagangpermata dan
perhiasan/logam mulia dan pedagang kendaraan
bermotor.Dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana Pencucian Uang perludilakukan kerja
sama regional dan internasional melalui forum
bilateralatau multilateral agar intensitas tindak
pidana yang menghasilkan ataumelibatkan Harta
Kekayaan
yang
jumlahnya
besar
dapat
diminimalisasi.Dikutip dari Penjelasan Atas
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8
Tahun
2010
Tentang
Pencegahan
Dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
a. Sejarah
52.
Indonesia
baru
memandang
praktek pencucian uang sebagai suatu tindak
pidana dan menetapkan sanksi bagi pelakunya

[9]

adalah ketika diundangkannya UU No 15 Tahun


2002 tentang Pencucian Uang (UUPU).
Sebelumnya pencucian uang di Indonesia
belumdinyatakan sebagai suatu tindak pidana
sehingga mengakibatkan Indonesia menjadisurga
dan sasaran kegiatan pencucian uang. Di masa
Orde Baru, yaitu ketika Soehartomasih berkuasa
sebagai Presiden Republik Indonesia, Pemerintah
pada waktu itu tidakpernah menyetujui untuk
mengkriminalisasi pencucian uang. Alasannya
adalah karenapelarangan pencucian uang di
Indonesia hanya akan menghambat penanaman
modalasing yang sangat diperlukan bagi
pembangunan
di
Indonesia
(Sjahdeini,
2007).Dengan kata lain, kriminalisasi perbuatan
pencucian uang justru merugikan masyarakat
Indonesia karena akan menghambat pembangunan.
53.
Negara Indonesia ini memang
memiliki kondisi yang menguntungkan sekali
bagipara pelaku kegiatan pencucian uang. Kondisikondisi tersebut antara lain adalah sistemdevisa
bebas yang dianut, sistem kerahasiaan bank, belum
memadainya perangkathukum, kebutuhan negara
ini akan likuiditas, dan lainnya (Siahaan, 2002).
54.
Sistem devisa bebas yang dianut di
Indonesia memungkinkan tiap orang bebasuntuk
memasukkan atau membawa keluar valuta asing
dari wilayah yuridiksi Indonesiasesuai dengan PP
No 1 Tahun 1982. Sebelum keluarnya PP ini, ada
ketentuan yangmengatur agar setiap devisa yang
keluar masuk negara Indonesia harus di catat
olehBank Indonesia sebagaimana yang digariskan
dalam UU N0 32 tahun 1964. BerlakunyaPP No 1
Tahun 1982 ini memang dimaksudkan untuk
mengatasi keterbatasan dana bagipembangunan
nasional dengan mengundang para investor asing
untuk menanamkanmodalnya di Indonesia, akan
tetapi di sisi lain mengakibatkan dampak negatif
yaitumaraknya kegiatan pencucian uang. Sistem
devisa bebas ini memungkinkan berbagaicara
pencucian uang melalui transaksi lintas negara
dalam waktu singkat sehinggamenyulitkan pihak
berwenang yang ingin melacaknya.
55.
Sistem kerahasiaan bank dan
kelemahan perangkat hukum di Indonesia

jugamerupakan sarana yang dimanfaatkan oleh


para pelaku pencucian uang (Swastika, 2011).
Adanyapengaturan kerahasiaan ini membuat
mereka merasa aman untuk menyimpan uang
hasilkejahatannya tanpa harus takut akan dilacak
oleh pihak berwenang. Selain itu kondisiyang
mengakibatkan negara ini menjadi surga kegiatan
pencucian uang adalah karenaIndonesia masih
membutuhkan likuiditas, sehingga dunia perbankan
Indonesia masihmemandang pentingnya dana-dana
asing untuk masuk dan diinvestasikan di
Indonesia.Sementara ada pihak-pihak asing tertentu
yang hanya setuju untuk melakukan investasidi
Indonesia jika dijamin tidak diusut asal usul
dananya.
56.
Beberapa kondisi di atas adalah
hal-hal yang membuat Indonesia didesak olehdunia
internasional untuk segera memberlakukan UU
pencucian uang danmengkriminalisasi kegiatan
pencucian uang.Pemberantasan kegiatan pencucian
uang dapat dilakukan melalui pendekatanpidana
maupun pendekatan bukan pidana, seperti
pengaturan dan tindakan administratif.
57.
Setelah diundangkannya UU No
15 Tahun 2002 tentang Tindak PidanaPencucian
Uang (UUTPPU) pada tanggal 17 April 2002 yang
kemudian diubah denganUU No.25 Tahun 2003
dan kemudian dicabut dan diganti dengan UU No.
8
Tahun
2010tentang
Pencegahan
dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,
terjadiperubahan besar dalam tata cara memandang
dan menangani kegiatan pencucian uang
diIndonesia. Perubahan yang pertama adalah
keberlakuan UUTPPU ini telah menyatakanpraktek
pencucian uang sebagai suatu tindak pidana,
sehingga akan ada sanksi bagiorang-orang yang
melakukan kegiatan ini. Perubahan yang kedua
adalah dibentuknyaunit independen yang akan
berperan
besar
dalam
pencegahan
dan
pemberantasankegiatan
pencucian
uang
di
Indonesia yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis
TransaksiKeuangan (PPATK).
b. Prinsip Mengenali Nasabah
58.
Penelusuran Harta Kekayaan hasil
tindak pidana pada umumnya dilakukanoleh

[10]

lembaga keuangan melalui mekanisme yang diatur


dalam peraturanperundang-undangan. Lembaga
keuangan memiliki peranan pentingkhususnya
dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna
Jasa danmelaporkan Transaksi tertentu kepada
otoritas (financial intelligence unit)sebagai bahan
analisis dan untuk selanjutnya disampaikan
kepadapenyidik.
59.
Lembaga keuangan tidak hanya
berperan dalam membantu penegakanhukum, tetapi
juga menjaga dirinya dari berbagai risiko, yaitu
risikooperasional,
hukum,
terkonsentrasinya
Transaksi, dan reputasi karenatidak lagi digunakan
sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku tindak
pidanauntuk mencuci uang hasil tindak pidana.
Dengan pengelolaan risiko yangbaik, lembaga
keuangan akan mampu melaksanakan fungsinya
secaraoptimal sehingga pada gilirannya sistem
keuangan menjadi lebih stabil danterpercaya.
c. Proses Pencucian Uang
60.
Praktek
pencucian
uang
merupakan tindak pidana yang amat sulit
dibuktikan.Hal ini dikarenakan kegiatannya yang
amat kompleks dan beragam, akan tetapi parapakar
telah berhasil menggolongkan proses pencucian
uang ini ke dalam tiga tahap yangmasing-masing
berdiri sendiri tetapi seringkali juga dilakukan
secara bersama-samayaitu placement, layering dan
integration (Yunus Husein, 2001).
1) Placement
61.Placement diartikan sebagai upaya untuk
menempatkan dana yang dihasilkandari suatu
aktivitas
kejahatan,
misalnya
dengan
mendepositokan uang tersebut kedalam sistem
keuangan atau perbankan. Dalam hal ini
terdapat pergerakan fisik uang tunai dari luar
sistem keuangan masuk ke sistem keuangan.
Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui
cara-cara sebagai berikut:
Penempatan dana dalam bentuk tabungan,
giro, deposito
Pembayaran angsuran kredit
Setoran modal secara tunai
Penukarnan uang
Pembelian polis asuransi

Pembelian produk sekuritas atau surat-surat


berharga
2) Layering
62.
Layering
diartikan
sebagai
pelapisan atau memisahkan hasil kejahatan
darisumbernya, yaitu aktivitas kejahatan yang
terkait melalui beberapa tahapantransaksi
keuangan. Dalam hal ini terdapat proses
pemindahan dana daribeberapa rekening atau
lokasi tertentu sebagai hasil placement ke
tempat lainnyamelalui serangkaian transaksi
yang
kompleks
yang
didesain
untuk
menyamarkanatau mengelabui sumber dana
haram
tersebut.
Berbagai
cara
dapat
dilakukandalam tahap ini yang tujuannya adalah
untuk menghilangkan jejak, baik ciri-ciriasli
atau asal-usul uang tersebut. Seringkali terjadi
bahwa si penyimpan dana di suatu rekening
justru bukanlah pemilik sebenarnya dan si
penyimpan dana tersebut sudah merupakan
lapis-lapis yang jauh, karena sudah diupayakan
berkali-kali simpan-menyimpan sebelumnya.
Upayanya antara lain sebagai berikut:
melakukan transfer dana hasil placement
darisuatu rekening ke beberapa rekening ke
lokasi lainnya atau dari satu negara ke
negara lainnya dandapat dilakukan berkalikali
memecah-mecah jumlah dananya yang
tersimpan dibank
menggabungkan antara uang tunai yang
berasal dari kejahatan dengan uang yang
diperoleh dari hasil kegiatan yang sah
pembukaan sebanyak mungkin rekening
perusahaan-perusahaan
fiktifdengan
memanfaatkan ketentuan rahasia bank.
Transaksi yang dilakukan dalam jumlah
relative kecil namun dengan frekuensi
tinggi untuk menghindari pelaporan
transaksi tunai.
Transaksi dilakukan dengan menggunakan
beberapa rekening atas nama individu yang
berbeda untuk kepentingan satu orang
tertentu (smurfing).
3) Integration

[11]

63.
Adapun tahap integration yaitu
upaya untuk menetapkan suatu landasan
sebagailegitimate explanation bagi hasil
kejahatan44. Disini uang hasil kejahatan
yangtelah melalui tahap placement maupun
layering dialihkan atau digunakan kedalam
kegiatan-kegiatan resmi sehingga tampak tidak
berhubungan sama sekalidengan aktivitas
kejahatan yang menjadi sumber uang tersebut.
Pada tahapintegration ini, uang yang telah
diputihkan
dimasukkan
kembali
ke
dalamsirkulasi dengan bentuk yang sejalan
dengan ketentuan hukum.
64.
Cara-cara yang lazim dilakukan
antara lain:
Menggabungkan uang yang telah dicuci
dengan uang yang sah untuk kegiatan
bisnis atau investasi yang sah
Melakukan setoran modal bank dengan
sumber dana dari perusahaan yang
diciptakan untuk menampung hasil uang
haram dan sumber dana yang sah
Sumbangan untuk kegiatan social melalui
yayasan seperti rumah sakit, sekolah, amal
dan pendirian tempat ibadah dari uang hasil
pencucian
Pemanfaatan lain untuk kegiatan tertentu
seperti pembelanjaan untuk konsumtif
66.
P
65.
el
N
a
67.
Aset
k
u
68.
T
ub
ag
69.
17 Bidang
us
Tanah dan
C
Bangunan
ha
tersebar di
er
Kuta dan
i
Ubud an
W
Sendiri
ar
da
na
[12]

71.

70.

Dj
ok
o
S
us
il
o

72.

A
ng
eli
na
S
on
da
kh

74.

F
ua
d
A
m
in
I
m
ro
n
H
ad
i
P
oe
rn
o
m
o

76.

73.

Rumah di
perumahan
elite
Harvestlan
d Jalan
Raya Kuta.
Lahan
seluas
7.000
meter
persegi di
Desa
Sudimara,
Tabanan.
Tanah
seluas
1.000
meter
persegi
Jalan
Pantai
Nelayan,
Kuta Utara

75.

Kondomini
um 50 - 60
kamar di
jalan utama
penghubun
g Denpasar
dan Kuta

77.

Aneka
Lovina
Villas &
Spa ,
Pantai
Lovina,
menggunak
an nama
anak
pertama
Hadi,
Ratna

Permata
Sari (belum
disita)
78.

Tabel Contoh Pencucian Uang


Koruptor di Bali

79.
d. Tindak Pidana Pencucian Uang
Tindak pidana pencucian uang aktif (Pasal 3)
80.Setiap
Orang
yang
menempatkan,
mentransfer,
mengalihkan,membelanjakan,
membayarkan,
menghibahkan,
menitipkan,membawa ke luar negeri, mengubah
bentuk, menukarkandengan mata uang atau surat
berharga atau perbuatan lainatas Harta Kekayaan
yang diketahuinya atau patutdiduganya merupakan
hasil tindak pidana sebagaimanadimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) dengan tujuanmenyembunyikan
atau menyamarkan asal usul HartaKekayaan
dipidana karena tindak pidana Pencucian
Uangdengan pidana penjara paling lama 20 (dua
puluh)
tahun
dandenda
paling
banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliarrupiah).
Tindak pidana pencucian uang pasif (Pasal 5)
81.(1) Setiap Orang yang menerima atau
menguasaipenempatan, pentransferan, pembayaran,
hibah,sumbangan, penitipan, penukaran, atau
menggunakanHarta Kekayaan yang diketahuinya
atau patutdiduganya merupakan hasil tindak pidana
sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
dipidana denganpidana penjara paling lama 5
(lima)
tahun
dan
dendapaling
banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
82.(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidakberlaku bagi Pihak Pelapor yang
melaksanakankewajiban pelaporan sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang ini.
Pasal 4
83.Setiap Orang yang menyembunyikan atau
menyamarkan asalusul, sumber, lokasi, peruntukan,
pengalihan hak-hak, ataukepemilikan yang
sebenarnya atas Harta Kekayaan yangdiketahuinya
atau patut diduganya merupakan hasil tindakpidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1)dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang

denganpidana penjara paling lama 20 (dua puluh)


tahun dan dendapaling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
84.
3.2 Norma Moralitas
85.Banyak masalah menimpa bangsa ini
dalam bentuk krisis yang multidimensional. Krisis
ekonomi, politik, budaya, sosial, hankam,
pendidikan dan lain-lain, yang sebenarnya berhulu
pada krisis moral. Tragisnya, sumber krisis justru
berasal dari lembaga yang ada di negara ini, baik
eksekutif, legislatif maupun yudikatif, yang
notabene lembaga-lembaga inilah yang seharusnya
mengemban amanat rakyat. Setiap hari kita
disuguhi berita-berita ketidak-amanahan yang
dilakukan oleh orang-orang yang telah dipercaya
rakyat untuk melaksanakan pemerintahan ini.
86.Moralitas memegang kunci sangat penting
dalam mengatasi krisis. Kalau krisis moral sebagai
hulu dari semua masalah, maka melalui moralitas
pula krisis dapat diatasi. Indikator kemajuan
bangsa tidak cukup diukur hanya dari kepandaian
warganegaranya, tidak juga dari kekayaan alam
yang dimiliki, namun hal yang lebih mendasar
adalah sejauh mana bangsa tersebut memegang
teguh moralitas. Moralitas memberi dasar, warna
sekaligus penentu arah tindakan suatu bangsa.
Moralitas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu
moralitas individu, moralitas sosial dan moralitas
mondial.
87.Moralitas dapat dianalogikan dengan
seorang kusir kereta kuda yang mampu
mengarahkan ke mana kereta akan berjalan. Arah
perjalanan kereta tentu tidak lepas dari ke mana
tujuan hendak dituju. Orang yang bermoral tentu
mengerti mana arah yang akan dituju, sehingga
pikiran dan langkahnya akan diarahkan kepada
tujuan tersebut, apakah tujuannya hanya untuk
kesenangan duniawi diri sendiri saja atau untuk
kesenangan orang lain atau lebih jauh untuk
kebahagiaan ruhaniah yang lebih abadi, yaitu
pengabdian pada Tuhan. Moralitas juga dapat
dikategorikan menjadi moralitas objektif dan
subjektif.

[13]

1. Moralitas obyektif lahir dari kesadaran


manusia untuk mencapai kebaikan bersama.
Moralitas obyektif adalah tata nilai yang
secara obyektif ada dan dipatuhi bersama
sebagai konsekuensi dari kodrat manusia
sebagai makhluk berakal budi. Moralitas
seperti ini hadir dalam bentuk aneka peraturan,
perundangan, norma, dan nilai-nilai yang
berkembang dalam tata hidup bersama. Ia bisa
berwujud aturan yang sudah diwariskan turuntemurun, tetapi bisa juga berwujud aturan
yang dengan sengaja dibuat untuk pencapaian
kebaikan bersama, misalnya undang-undang,
KUHP, aneka tata-tertib, dll. Untuk mencegah
korupsi
misalnya,
manusia
kemudian
membuat
undang-undang
antikorupsi.
Pelanggaran terhadap moralitas obyektif ini
mengakibatkan si pelanggar dikenai sanksi
dan hukum yang berlaku. Seorang koruptor,
misalnya, harus dihukum jika secara obyektif
dia terbukti melakukan korupsi.
2. Moralitas subyektif adalah tata nilai yang
secara konstitutif ada di dalam hati sanubari
manusia. Karena setiap manusia berakal budi,
maka setiap manusia mempunyai dalam
dirinya sendiri tata nilai yang mengantarnya
kepada kebaikan, dan ini harus ditaati.
Berbeda
dengan
moralitas
obyektif,
pelanggaran terhadap norma subyektif ini
tidak bisa dikenai hukum obyektif. Lalu
instansi apa yang bisa mengawasi moralitas
subyektif semacam ini? Bukan polisi, tentara,
jaksa, ataupun KPK, melainkan hati nurani!
Hati nurani inilah yang kemudian terlanggar
jika seseorang memilih untuk menyimpang
kepada keburukan dengan mau-tahu-dan
bebas. Secara sekilas, agaknya moralitas
subyektif ini sanksinya lebih ringan karena
hanya dirinya sendiri yang tahu. Tetapi
betulkah demikian? Tidak! Justru sanksi dari
moralitas subyektif ini akan menghantuinya
seumur hidup. Jika hukuman obyektif (sanksi
penjara misalnya) hanya berlaku selama
beberapa tahun dan setelah itu ia bisa

melenggang bebas, tidak demikian dengan


sanksi yang dijatuhkan nurani manusia.
88.Korupsi adalah penyakit bangsa dan secara
tegas pula merupakan penyakit moral. Moral yang
mana? Kedua-duanya: moralitas obyektif dan
sekaligus subyektif. Pemberantasan korupsi dengan
demikian juga memasuki kedua ranah tersebut.
Korupsi bisa diberantas jika secara obyektif ia
dilarang (dengan memberlakukan hukum yang
amat berat), dan secara subyektif pula diperangi
(dengan mempertajam peran budi-nurani yang
dimiliki oleh setiap manusia).
89.Di satu sisi, penegakan moralitas obyektif
adalah soal penegakan aturan main dalam hidup
bernegara,
ketegasan
pemerintah
dalam
menegakkan hukum terhadap para koruptor, dan
pembenahan sistem peradilan yang semakin adil.
Di sisi lain, penegakkan moralitas subyektif adalah
soal pembenahan mentalitas aparatur negara,
pembenahan hidup kemanusiaan sebagai mahkluk
yang berakal budi, dan penazaman hati nurani.
90.Penekanan kepada salah satu moralitas saja
sudah cukup baik, tetapi belum cukup.
Pemberlakuan hukum yang berat terhadap para
koruptor itu baik, tetapi belum cukup. Karena
dengan demikian orang hanya dididik untuk takut
menjadi koruptor. Ia takut melakukan korupsi
hanya karena takut akan hukuman mati, padahal
yang seharusnya muncul adalah kesadaran untuk
menghindarinya karena korupsi itu tindakan yang
buruk, bukan hanya soal takut.
91.Pukulan telak bagi proses wacana dan
gerakan pemberantasan korupsi bertambah saat
sejumlah bekas terdakwa atau narapidana justru
tetap bisa mengemban jabatan-jabatan publik.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 adalah ada
14 mantan narapidana korupsi kembali menjadi
pejabat di Provinsi Kepulauan Riau. Pemerintah
berpedoman pada argumen ketentuan dalam
Undang-Undang Pokok Kepegawaian yang
menyebutkan, PNS yang dihukum kurang dari
empat tahun tidak diberhentikan. Dari sisi aturan
hukum, kebijakan ini tidak menyalahi undangundang.

[14]

92.Namun, dari aspek moral dan etika,


pengangkatan kembali ini dipandang tidak patut.
Rohaniwan Franz Magnis-Suseno dalam buku
Etika Politik (1987) menyebutkan peran etika
politik untuk mempertanyakan tanggung jawab dan
kewajiban manusia yang berpedoman pada etika
politik. Bila batasan itu dilanggar, akan muncul
hukuman moral. Promosi jabatan bagi mantan
narapidana korupsitentu menjadi pertanyaan besar
tentang keseriusan pemerintah dan konsistensi
sistem hukum dalam upaya pembersihan korupsi di
negeri ini. Sejak disuarakan saat reformasi, publik
terus menanti kemerdekaan negeri ini dari praktik
yang telah menggerogoti moralitas bangsa.
Sayangnya, tingginya asa masyarakat masih
berjarak dengan kondisi realitas sesungguhnya.
93.Karena itu, tak heran bahwa publik melihat
kini saatnya mekanisme hukuman sosial
diterapkan bagi koruptor. Contoh-contoh hukuman
sosial yang bisa diterapkan adalah pengumuman
koruptor di media massa, seperti televisi atau
koran, mengajak masyarakat untuk tidak memilih
pejabat korup dalam semua kontestasi politik,
mengucilkan dari pergaulan masyarakat.Dibanding
hukuman badan (penjara), hukuman sosial memang
kurang dinilai efektif meredam aksi korupsi. Meski
demikian, bercermin dari lemahnya aturan dan
sistem hukum, perlu kedua mekanisme itu
diterapkan bersamaan. Penerapan hukuman sosial
oleh masyarakat memang bisa dimaknai sebagai
sebuah perlawanan publik atas rasa putus asa
publik terhadap kebijakan negara yang terlalu
longgar bagi pelaku korupsi. Lebih jauh, korupsi
dan berbagai penyimpangan etika dalam konteks
politik bisa membahayakan perjalanan demokrasi
karena menimbulkan krisis kepercayaan terhadap
parlemen, bahkan negara.
94.Hukuman sosial bagi koruptor, menurut
pengamat politik Universitas Airlangga, Kacung
Maridjan, menyiratkan arti dipenjara secara
sosial, tetapi memiliki dampak yang tidak kalah
dahsyat dibanding hukuman penjara fisik.
Contohnya, kepala daerah yang terbukti korup bisa
dihukum untuk menjadi tukang bersih-bersih
kantor di tempat mereka menjadi kepala daerah

dalam kurun tahun tertentu. Selain rasa tidak puas,


minornya pemberantasan korupsi dan keberpihakan
kebijakan kepada pelaku korupsi menggugah
kesadaran masyarakat untuk memberikan hukuman
dengan caranya sendiri. Selama ini, penyelenggara
negara dinilai terlalu permisif terhadap pelaku
korupsi. Menilik fakta yang terjadi, aturan hukum
dan komitmen aparatnya menjadi celah yang dapat
dimanfaatkan koruptor untuk kembali menduduki
posisinya.

95.
3.3 Lembaga Penegak Hukum, Pemberantasan,
dan Pencegahan Korupsi di Indonesia
96.Dalam buku ajar pendidikan dan budaya
antikorupsi oleh pusdiklatnakes kementerian
kesehatan, Ada sejumlah lembaga yang memiliki
peran dalam pencegahan dan penanggulangan
korupsi, antara lain: Kepolisian, Kejaksaan, Komisi
Pemberantasan Korupsi, dan Pengadilan.
a. Kepolisian
97.
Berdasarkan
UndangUndang Nomor 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Republik Indonesia disebutkan
bahwa Kepolisian di samping berfungsi
dalam Harkamtibnas, perlindungan dan
pengayoman, pelayanan masyarakat namun
juga
bertugas
untuk
melakukan
penyelidikan dan penyidikan terhadap
semua tindakan pidana.
98.
b. Kejaksaan
99.
Menurut Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan
Republik Indonesia, disebutkan bahwa
Kejaksaan berwenang untuk melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu
berdasarkan undang-undang, termasuk di
antaranya Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001.
100.
c. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
101.
KPK dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002.
Undang-undang
ini
terbit
dengan
pertimbangan penegakan hukum untuk

[15]

memberantas tindak pidana korupsi yang


dilakukan secara konvensional selama ini
terbukti mengalami berbagai hambatan.
Saat ini korupsi telah menjadi kejahatan
luar biasa (extraordinary crime) sehingga
harus ditangani secara luar biasa
(extraordinary measures). Persepsi publik
terhadap kejaksaan dan kepolisian dan atau
lembaga pemerintah dipandang belum
berfungsi secara efektif dan efisien dalam
penanganan kasus-kasus korupsi sehingga
masyarakat telah kehilangan kepercayaan
(losing trust). Selain itu, korupsi terbukti
telah merugikan keuangan negara,
perekonomian negara, dan menghambat
pembangunan nasional. Untuk itu,
diperlukan metode penegakan hukum
secara luar biasa melalui pembentukan
suatu badan khusus yang mempunyai
kewenangan luas, serta bebas dari
kekuasaan
manapun
dalam
upaya
pemberantasan tindak pidana korupsi, yang
pelaksanaannya dilakukan secara optimal,
intensif,
efektif,
profesional,
serta
berkesinambungan (Santoso P., 2011)
102.
Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 menyebutkan KPK
mempunyai tugas:
a. koordinasi
dengan
instansi
yang
berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi;
b. supervisi terhadap instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi;
c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan
tindak pidana korupsi;
e. melakukan
monitor
terhadap
penyelenggaraan pemerintahan negara.
103.
KPK menurut pasal 7 Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2002 mempunyai
kewenangan:
a. mengoordinasikan
penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan tindak pidana
korupsi;
b. menetapkan sistem pelaporan dalam
kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi;

[16]

c. meminta informasi tentang kegiatan


pemberantasan tindak pidana korupsi
kepada instansi yang terkait;
d. melaksanakan dengar pendapat atau
pertemuan
dengan
instansi
yang
berwenang melakukan pemberantasan
tindak pidana korupsi; dan
e. meminta laporan instansi terkait mengenai
pencegahan tindak pidana korupsi.
104.
Pasal 8 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 menyebutkan KPK
berwenang:
a. melakukan pengawasan, penelitian, atau
penelaahan
terhadap
instansi
yang
menjalankan tugas dan wewenangnya yang
berkaitan dengan pemberantasan tindak
pidana korupsi, dan instansi yang dalam
melaksanakan pelayanan publik
b. mengambil
alih
penyidikan
atau
penuntutan terhadap pelaku tindak pidana
korupsi yang sedang dilakukan oleh
kepolisian atau kejaksaan
c. mengambil
alih
penyidikan
atau
penuntutan, kepolisian atau kejaksaan
wajib menyerahkan tersangka dan seluruh
berkas perkara beserta alat bukti dan
dokumen lain yang diperlukan dalam
waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja, terhitung sejak tanggal diterimanya
permintaan
Komisi
Pemberantasan
Korupsi
d. membuat dan menandatangani berita acara
penyerahan sehingga segala tugas dan
kewenangan kepolisian atau kejaksaan
pada saat penyerahan tersebut beralih
kepada KPK
105.
Pasal 11 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 menyatakan bahwa dalam
melaksanakan tugas KPK berwenang
melakukan penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan tindak pidana korupsi
yang:
a. melibatkan aparat penegak hukum,
penyelenggara negara, dan orang lain yang
ada kaitannya dengan tindak pidana
korupsi yang dilakukan oleh aparat
penegak hukum atau penyelenggara
negara;
b. mendapat perhatian yang meresahkan
masyarakat; dan/atau

b. menyangkut kerugian negara paling sedikit


Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
106.
Pasal 12 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2002 yang menyatakan bahwa
dalam
melaksanakan
tugas
penyelidikan,
penyidikan,
dan
penuntutan
sebagaimana
KPK
berwenang:
a. melakukan penyadapan dan merekam
pembicaraan;
b. memerintahkan kepada instansi yang
terkait untuk melarang seseorang bepergian
ke luar negeri;
c. meminta keterangan kepada bank atau
lembaga keuangan lainnya tentang keadaan
keuangan tersangka atau terdakwa yang
sedang diperiksa;
d. memerintahkan kepada bank atau lembaga
keuangan lainnya untuk memblokir
rekening yang diduga hasil dari korupsi
milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain
yang terkait;
e. memerintahkan kepada pimpinan atau
atasan tersangka untuk memberhentikan
sementara tersangka dari jabatannya;
f. meminta data kekayaan dan data
perpajakan tersangka atau terdakwa kepada
instansi yang terkait;
g. menghentikan sementara suatu transaksi
keuangan, transaksi perdagangan, dan
perjanjian lainnya atau pencabutan
sementara perizinan, lisensi serta konsesi
yang dilakukan atau dimiliki oleh
tersangka atau terdakwa yang diduga
berdasarkan bukti awal yang cukup ada
hubungannya dengan tindak pidana korupsi
yang sedang diperiksa;
h. meminta bantuan Interpol Indonesia atau
instansi penegak hokum negara lain untuk
melakukan pencarian, penangkapan, dan
penyitaan barang bukti di luar negeri;
i. meminta bantuan kepolisian atau instansi
lain yang terkait untuk melakukan
penangkapan, penahanan, penggeledahan,
dan penyitaan dalam perkara tindak pidana
korupsi yang sedang ditangani.
107.
d. Pengadilan
Tindak
Pidana
Korupsi
(Tipikor)
108.
Pengadilan
Tipikor
merupakan pengadilan khusus yang berada

di lingkungan peradilan umum dan


berkedudukan di setiap ibu kota
kabupaten/kota yang daerah hukumnya
meliputi daerah hukum pengadilan negeri
yang bersangkutan. Khusus untuk Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Pengadilan Tipikor
berkedudukan di setiap kota madya yang
daerah hukumnya meliputi daerah hukum
pengadilan negeri yang bersangkutan.
Pengadilan Tipikor diatur dalam UndangUndang Nomor 46 Tahun 2009 tentang
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Pengadilan Tipikor berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara:
a. tindak pidana korupsi;
b. tindak pidana pencucian uang yang tindak
pidana asalnya adalah tindak pidana
korupsi; dan/atau
c. tindak pidana yang secara tegas dalam
undang-undang lain ditentukan sebagai
tindak pidana korupsi.

109.
3.4 Penegakan

hukum
korupsi di Indonesia

tindak

pidana

a. Indeks Persepsi Korupsi


110.
Pada masa pemerintahan Presiden
SBY mulai dari periode pertama (KIB I)
sampai dengan periode kedua (KIB II) dapat
dilihat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang
diberikan oleh Transparancy International
berada pada tren peningkatan. Diawali pada
tahun 2004 awal pemerintahan SBY-JK, IPK
masih bernilai 2 dari skala 10 meningkat
menjadi 32 dari skala 100 menjelang akhir
pemerintahan SBY-Boediono di tahun 2013.
Data perkembangan IPK dari tahun 2004-2013
dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
111.

[17]

112.

Dari data pada website anti


corruption clearing house (ACCH) yang
dimiliki oleh KPK menunjukkan data Tindak
Pidana Korupsi (TPK) yang ditangani KPK per
31 Maret 2015 adalah penyelidikan 25 perkara,
peyidikan 60 perkara, penuntutan 38 perkara,
inkracht 8 perkara, dan eksekusi 9 perkara. Dan
dengan demikian maka total penanganan
perkara tindak pidana korupsi dari tahun 20042014 adalah penyelidikan 658 perkara,
peyidikan 402 perkara, penuntutan 314 perkara,
inkracht 277 perkara, dan eksekusi 287 perkara.
Berikut gambar dan tabel TPK yang ditangani
KPK sampai dengan Maret 2015 :
122.

113. Sumber : Bappenas (2013)

114.
115. Dan kemudian, melihat IPK
ditahun 2014 yang merupakan tahun peralihan
pemerintahan dari SBY-Boediono ke JokowiJK, IPK meningkat dari yang sebelumnya 32
menjadi 34 dari skala 100. Dan Indonesia
berada di urutan 107 peringkat dunia namun
masih jauh dari negara serumpun, Malaysia,
yang berada di posisi 50 dunia. Berikut IPK
yang
diberikan
oleh
Transparancy
International di tahun 2014 :
116.
117.
118.
119.

123.

124.

125.
126.

Sumber : www.acch.kpk.go.id (2015)

120. Sumber:http://www.ti.or.id/index.php/publication/2014/12/
06/corruption-perceptions-index-2014

121.
b. Data Tindak Pidana Korupsi
Jumlah Perkara Tindak Pidana Korupsi
[18]

127.
TPK berdasarkan Jenis Perkara
128.
Data ACCH KPK menunjukkan
per 31 Oktober 2014, KPK melakukan
penanganan korupsi yang sebagiannya dari jenis
perkara penyuapan yaitu sebesar 16 kasus,
korupsi pengadaan barang/jasa sebanyak 13
kasus, TPPU sebanyak 5 kasus, pungutan
sebanyak 5 kasus, perijinan sebanyak 4 kasus,
penyalahgunaan anggaran sebanyak 4 kasus,
dan merintangi proses KPK 2 kasus. Data
penanganan TPK berdasarkan jenis perkara dari
tahun 2004-214 dapat dilihat dari gambar dan
tabel dibawah ini :
129.

130.

131.
132.

139.
TPK berdasarkan Instansi
140.
Berdasarkan data ACCH KPK,
Kementerian/Lembaga Lebih Banyak Kasusnya
di tahun 2014. Data Per 31 Oktober 2014,
menunjukkan penanganan tindak pidana korupsi
di lingkungan kementerian/lembaga sebanyak
23 perkara, instansi Pemerintah Kabupaten/Kota
yakni sebanyak 13 perkara, disusul di
Pemerintah Provinsi yakni sebanyak 11 perkara,
dan DPR RI 2 perkara. Berikut data penanganan
TPK berdasarkan instansi dari tahun 20042014 :
141.
142.

133. Sumber : www.acch.kpk.go.id (2015)

134.
TPK berdasarkan Profesi/Jabatan
135.
Dilihat dari profesi atau jabatan
maka hampir semua bidang pemerintahan tidak
ada yang luput dari korupsi. Eksekutif,
legislatif, yudikatif dan pihak swasta atau
pribadi pun ada yang tersangkut dengan kasus
korupsi. Apabila melihat data pada tahun 2014
maka akan dijumpai berbagai pihak yang
tersangkut korupsi antara lain : Anggota DPR
dan
DPRD
4
perkara,
Kepala
Lembaga/Kementerian 9 perkara, Gubernur 2
perkara, Walikota/Bupati dan Wakil 12 perkara,
Eselon I, II, dan III 2 perkara, Hakim 2 perkara,
Swasta 15 perkara, dan lain-lain 8 perkara.
Berikut data penanganan TPK berdasarkan
profesi/jabatan dari tahun 2004-2014 :
136.

137.

Sumber : www.acch.kpk.go.id (2015)

138.
[19]

143.
144.

145. Sumber : www.acch.kpk.go.id (2015)

146.
147.
TPK berdasarkan Wilayah
148.
Apabila melihat data penanganan
TPK berdasarkan wilayah dari tahun 2004-2011
maka pemerintah pusat masih mendominasi
perkara TPK yang ditangani oleh KPK disusul
kemudian Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Selanjutnya apabila melihat data penanganan
TPK berdasarkan wilayah untuk tahun 2014
maka dapat dilihat pola yang hampir sama yaitu
masih didominasi oleh pemerintah pusat
sebanyak 18 perkara, lalu diikuti oleh Jawa
Barat 8 perkara, Banten 5 perkara, Papua 4

perkara, Sumut dan Riau Kepri masing-masing


3 perkara. Berikut data penanganan TPK
berdasarkan wilayah dari tahun 2004-2011 :
149.
150.

151. Sumber : www.acch.kpk.go.id (2015)

152.
153.
c. Permasalahan dan Hambatan
Pelemahan KPK
154. Pelemahan KPK adalah isu
nasional yang akhir-akhir ini mengemuka. Isu
ini semakin mengahangat ketika muncul istilah
cicak vs buaya jilid I, jilid II dan jilid III yang
baru saja terjadi di tahun 2015 ini.
155. Terkait isu pelemahan KPK ini,
Indonesia
Corruption
Watch
(ICW)
menyebutkan sedikitnya ada 11 upaya
pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), sejak berdirinya pada tahun 2003.
Upaya pelemahan KPK ini muncul, karena
banyak pihak yang dirugikan dan tidak suka
dengan keberadaan KPK. "Sejak berdiri tahun
2003, dalam pantauan ICW terdapat sedikitnya
11 upaya pelemahan KPK yang dilakukan oleh
para koruptor maupun pendukungnya," kata
peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW)
Tama Langkun saat konferensi pers peringatan
11 tahun KPK, di kantor ICW, Kalibata, Jakarta
Selatan, Senin 29 Desember 2014.
156. Pertama, pengajuan uji materiil
(judicial review) UU KPK ke Mahkamah
Konstitusi. Sedikitnya ada tujuh judicial review
(JR) UU KPK berpotensi melemahkan KPK
yang diajukan ke MK. Terakhir adalah JR UU
KPK oleh Akil Mochtar, mantan Ketua MK

[20]

khususnya mengenai kewenangan KPK dalam


menuntut korupsi dengan UU pencucian uang.
157. Kedua, Penolakan Anggaran KPK
oleh DPR. Seperti halnya pada anggaran gedung
baru KPK yang pernah tertahan sehingga tidak
bisa dicairkan. Namun, setelah mendapatkan
dukungan publik, dana gedung baru tersebut
disetujui. "Usulan KPK mengajukan anggaran
untuk membuat penjara dan kantor perwakilan
di daerah juga pernah ditolak DPR," sebut
Tama.
158. Ketiga, Pemilihan Calon Pimpinan
KPK. DPR pernah memilih Antasari Azhar
sebagai Ketua KPK jilid II meski rekam
jejaknya dinilai bermasalah oleh LSM.
Keempat, Pengusulan dan Pembahasan Regulasi
oleh DPR maupun pemerintah. Sejumlah
rancangan UU pernah diusulkan dibahas di
DPR, meskipun substansinya dinilai berpotensi
melemahkan KPK. Misalnya Revisi UU KPK,
RUU KUHP dan RUU KUHAP.
159. Kelima, Penarikan tenaga Penyidik
yang diperbantukan di KPK. Pada tahun 2009,
sejumlah penyidik dan pejabat KPK yang
berasal dari Kepolisian pernah ditarik kembali
ke Mabes Polri. Keenam, Kriminalisasi dan
rekayasa hukum terhadap pimpinan atau
pegawai KPK. "Muncul upaya kriminalisasi
terhadap Bibit Samad dan Chandra Hamzah dan
Novel Baswedan meskipun akhirnya gagal.
160. Ketujuh,
Intimidasi
terhadap
pegawai, pejabat dan pimpinan KPK.
Contohnya, gedung KPK pernah diancam bom
pada tahun 2009. Selain itu, pada tanggal 5
Oktober 2012, penyidik Kepolisian pernah
mengepung gedung KPK untuk menangkap
Novel
Baswedan.
Kedelapan,
upaya
pembubaran KPK. Beberapa anggota DPR
seperti Achmad Fauzi, Marzuki Alie dan Fahri
Hamzal pernah menyatakan supaya KPK
dibubarkan.
161. Kesembilan, menghalang-halangi
proses penyidikan dan penuntutan kasus korupsi
yang ditangani KPK. Seperti halnya pada kasus
korupsi pengadaan Simulator Mabes Polri.

Kesepuluh,
intervensi
dan
delegitimasi
kewenangan KPK. Pada tahun 2009, pasca
Antasari Azhar non aktif sebagai ketua KPK,
komisi III DPR pernah meminta KPK tidak
mengambil kebijakan strategis.
162. Kesebelas, Pengurangan hukuman
(remisi dan pembebasan bersyarat) terhadap
pelaku korupsi yang dijerat KPK. Berdasarkan
catatan ICW, setidaknya ada 48 terpidana
korupsi yang ditangani KPK yang kemudian
dibebaskan oleh pemerintah sebelum waktunya
melalui remisi dan pembebasan bersyarat yang
dinilai kontroversial.
163.
Perselisihan Norma Hukum
164. Beberapa norma hukum dalam
pelaksanaannya
mungkin
saja
terjadi
perselisihan ataupun pertentangan. Hal ini bisa
terjadi karena setiap norma hukum yang
dikeluarkan oleh pembuat kebijakan memiliki
latar belakang, pertimbangan dan tujuan
masing-masing. Sehingga dapat saja terjadi
perbedaan kondisi, tujuan dan urgensi seketika
aturan itu dibuat.
165. Adapaun contoh pertentangan
norma hukum yang terjadi adalah terkait
pemahaman keuangan negara dan kekayaan
negara yang dipisahkan dalam Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara; Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara; Undangundang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara; berkaitan dengan Undangundang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan
Tindak
Pidana
Korupsi
sebagaimana diubah dengan Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
166. Pendapat ahli hukum mengatakan
asas posterior derogate legi priori (undangundang yang lebih baru mengalahkan yang lebih
lama pembuatannya. Secara kronologis, UU KN
diundangkan pada tanggal 5 April 2003, UU
BUMN diundangkan pada tanggal 19 Juni 2003,
[21]

dan UU PT diundangkan pada tanggal 16


Agustus 2007. Dari kronologi pengundangan
jelas bahwa UU BUMN dan UU PT (lex
posteriori) diundangkan setelah adanya UU KN
(lex apriori). Dengan menggunakan asas lex
posteriori derogat legi apriori, aturan hukum
yang seharusnya digunakan adalah UU BUMN
dan UU PT. Tidak perlu ada keraguan lagi
bahwa kekayaan negara yang telah dipisahkan
dan disertakan sebagai modal PERSERO
merupakan kekayaan PERSERO. Dengan
demikian, unsur delik merugikan keuangan
negara seyogyanya dianggap tidak ada.
167. Namun, Mahkamah Konstitusi
ternyata mempunyai pertimbangan lain. Pada
putusannya tanggal 18 September 2014 MK
menolak semua permohonan penggugat secara
keseluruhan dan tetap memasukkan BUMN
termasuk dalam bagaian Keuangan Negara.
168. Satu contoh lagi adalah ketika
Mahkamah Konstitusi menolak permohonan
pemerintah mengenai pembelian 7 persen
saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara,
31 Juli 2012. Putusan ini mengakhiri polemik
pembelian saham yang berlangsung sejak
pertengahan 2011 dan berujung pada Sengketa
Kewenangan
Lembaga
Negara
antara
pemerintah, Badan Pemeriksa Keuangan, dan
DPR.
169. Sengketa Kewenangan Lembaga
Negara (SKLN) tidak perlu terjadi apabila
Kementerian Keuangan dan DPR memahami
dengan baik mekanisme dan proses pembahasan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN). Peran eksekutif dan komisi/Badan
Anggaran DPR dalam APBN tertuang dalam
Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dan UU No 27/2009
tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
Kewenangan BPK diatur dalam UU No 15/2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara dan amandemen UUD
45.
170.
Moral Penegak Hukum

171. Penegak hukum adalah penentu


pemberian remisi bagi koruptor (terpidana kasus
dari tegak dan berhasilnya penegakan hukum.
korupsi).
176. Di pertengahan Maret 2015 lalu
Wibawa hukum ada di tangan para penegak
Komisi
III DPR RI dan Menkumham Yasonna
hukum ini. Dengan demikian kewibawaan dan
Laoly berencana akan membahas revisi
keluhuran budi dari para penegak hukum
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 tahun
tersebut harus sungguh-sungguh dijaga dan
2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan
dipelihara. Satu kasus saja namun tamparannya
Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Revisi PP
begitu terasa bagi semua penegak hukum, yaitu
99 2012 ini adalah usulan yang ajukan eksekutif
kasus Akil Mochtar.
172. Akil Mochtar terbukti menerima
(pemerintah). Menkumham Yasonna berkilah
suap terkait empat dari lima sengketa pilkada
dengan mengatakan bahwa konsep remisi yang
dalam dakwaan kesatu, yaitu Pilkada Kabupaten
diwacanakannya bukan untuk mengurangi
Gunung Mas (Rp 3 miliar), Kalimantan Tengah
hukuman bagi pelaku extraordinary crime atau
(Rp 3 miliar), Pilkada Lebak di Banten (Rp 1
kejahatan luar biasa. Tetapi, kata dia, secara luas
miliar), Pilkada Empat Lawang (Rp 10 miliar
gagasan ini untuk memperbaiki sistem
dan 500.000 dollar AS), dan Pilkada Kota
praperadilan.
177. Namun apapun alasannya, yang
Palembang (sekitar Rp 3 miliar). Mahkamah
jelas wacana ini menjadi kemunduran dalam
Agung menolak kasasi yang diajukan mantan
pemberantasan tindak pidana korupsi yang telah
Ketua Mahkamah Konstitusi ini sehingga
digaungkan bersama semua elemen bangsa.
menguatkan putusan penjara seumur hidup.
Banyak pihak yang menolak wacana ini, namun
Dalam pertimbangan majelis hakim kasasi
sampai saat ini pemerintah bergeming, dan
disebutkan bahwa perbuatan Akil dinilai telah
beralasan bahwa wacana ini masih dalam
meruntuhkan wibawa MK. Diperlukan usaha
kajian.
yang sulit dan memerlukan waktu lama untuk
178.
mengembalikan
kepercayaan
masyarakat
kepada MK. Selain itu, Akil merupakan ketua179. KESIMPULAN
lembaga tinggi negara yang merupakan bentenga. Berbagai upaya pemberantasan korupsi telah
dilakukan oleh pemerintah sejak kemerdekaan,
terakhir bagi masyarakat yang mencari keadilan.
baik
dengan
menggunakan
peraturan
Menurut hakim, Akil seharusnya memberikan
perundang-undangan yang ada maupun
contoh teladan yang baik dalam masalah
dengan membentuk peraturan perundangintegritas.
undangan baru yang secara khusus mengatur
173.
mengenai pemberantasan tindak pidana
Kesamaan
Persepsi
Memandang
korupsi.
Korupsi
174. Korupsi adalah kejahatan luarb. Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary
crime), oleh karena itu upaya mengatasinya
biasa (extraordinary crime) adalah hal lazim
harus extraordinary pula. Seluruh elemen
yang sudah dimaklumi bersama. Namun
bangsa, pemerintah dan masyarakat harus
ternyata dalam praktiknya, ada beberapa
berperan dan bertanggung jawab dalam
kebijakan yang diambil oleh pengambil
memberantas korupsi.
kebijakan yang belum mencerminkan kesamaan
c. Upaya penegakan hukum dalam rangka
persepsi ini.
pencegahan dan pemberantasan korupsi baru
175. Salah satu hal yang mencerminkan
akan efektif ketika hukum benar-benar
ketidaksamaan
persepsi
antara
para
ditegakkan dengan sebenar-benarnya dan
penyelenggara negara adalah adanya wacana
seadil-adilnya.
[22]

d. Terkait dengan permasalahan dan hambatan yang


dihadapi KPK khususnya yang terkait
pelemahan KPK, terbukti bahwa masyarakat
dan rakyat Indonesia adalah benteng yang
sangat kuat yang menjadi pelindung bagi
KPK. Hal ini merupakan bentuk kesadaran
masyarakat akan pentingnya kehadiran KPK
dan semangat ini harus selalu dijaga guna
mengawal proses pemberantasan korupsi
kedepannya.

180.
181.

DAFTAR REFERENSI

[1] BUKU AJAR PENDIDIKAN DAN BUDAYA


ANTIKORUPSI, Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Tenaga Kesehatan, 2014
[2] Buku Pendidikan Antikorupsi di Perguruan
Tinggi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan
RI
Direktorat
Jenderal
Pendidikan Tinggi.
[3] Husein, Yunus. 2001. Telaah Penyebab
Indonesia Masuk Dalam List Non Cooperative
CountriesAnd Territories Oleh FATF On
Money Laundering. Jakarta
[4] Maryanto. 2012. Pemberantasan Korupsi
Sebagai Upaya Penegakan Hukum. Jurnal
Ilmiah CIVIS
[5] Swastika, Benny. 2011. Tinjauan Hukum Asas
Pembuktian Terbalik Dalam Tindak Pidana
Pencucian Uang. Tesis Fakultas Hukum
Universitas Indonesia
[6] Sjahdeini, Sutan Remy. 2007.Seluk Beluk
Tindak Pidana Pencucian Uang dan.
Pembiayaan Terorisme. PT. Pustaka Utama
Grafitri. Jakarta.
[7] Siahaan, N.H.T. 2002.Pencucian Uang Dan
Kejahatan Perbankan. Jakarta: Pustaka
SinarHarapan.
[8] Tuanakotta, Theodorus M. 2007. Akuntansi
Forensik dan Audit Investigatif. Jakarta :
Lembaga
Penerbit
Fakultas
Ekonomi
Universitas Indonesia.
[9] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
[10] Undang-Undang Dasar Tahun 1945
Amandemen

[11]Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004


tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
[12] Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002
tentang Kepolisian Republik Indonesia.
[13] Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009
tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
[14] Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
[15] Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan Dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang
182.
183.
Akses internet
184.
[17] http://www.jimly.com/makalah/namafile/5
6/Penegakan_Hukum.pdf(diakses tanggal 27
April 2015)
[18] http://mahathir71.blogspot.com/2012/04/sif
at-melawan-hukum-rechtswdrigunrecht.html(diakses tanggal 27 April 2015)
[19] http://www.jokowinomics.com/2015/02/20
/berita/ekonomi/jumlah-kasus-korupsiindonesia-meroket-di-tahun-2014/
(diakses
tanggal 27 April 2015)
[20] http://hukum.kompasiana.com/2014/12/05/
dari-data-tranparency-international-tahun2014-ada-kemajuan-pemberantasan-korupsidi-indonesia--690432.html (diakses tanggal
27 April 2015)
[21] http://www.ti.or.id/index.php/publication/2
014/12/06/corruption-perceptions-index-2014
(diakses tanggal 27 April 2015)
[22] http://acch.kpk.go.id/ (diakses tanggal 27
April 2015)
[23] http://news.metrotvnews.com/read/2015/03
/26/377149/senin-dpr-menkumham-bahaswacana-remisi-koruptor (diakses tanggal 27
April 2015)
[24] http://nasional.kompas.com/read/2015/02/2
3/19381651/Kasasi.Akil.Ditolak.Kuasa.Huku
m.Akan.Pelajari.Putusan.MA (diakses tanggal
27 April 2015)
[25] http://kmfhunud.blogspot.com/2013/04/penalaran-danargumentasi-hukum.html (diakses tanggal 27
April 2015)
[26] http://publications.feb.ugm.ac.id/node/27
(diakses tanggal 27 April 2015)
[27] http://www.gresnews.com/berita/ekonomi/
00269-uji-materi-uu-keuangan-negara-ditolak-

[23]

mk-beri-batas-bisnis/
April 2015)

(diakses tanggal 27

[28] http://news.metrotvnews.com/read/2014/12
/29/338097/ini-11-upaya-pelemahan-kpkversi-icw (diakses tanggal 27 April 2015)

[24]

185.

186.
187.