Anda di halaman 1dari 15

SISTEM PERPIPAAN

Makalah
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengenalan Pabrik yang
dibimbing oleh Ir. Irawan Rusnadi, M. T.

Oleh :
KELOMPOK I
Aryo Juliansyah P.

(061340411638)

Ossy Dewinta Putri Pertiwi

(061340411656)

Kelas : 4 EG.B

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015

BAB I

1. 1. Latar Belakang

Sistem perpipaan terus berkembang kearah yang lebih baik. Pada mulanya manusia
memindahkan air dari sungai ke rumah dengan menggunakan ember. Lalu berkembang dari
satu orang menjadi banyak orang yang berurutan sehingga proses pengambilan air menjadi
lebih mudah. Melalui analogi sederhana ini manusia berfikir untuk lebih mengefisienkan
waktu dan tenaga maka dibuatlah distribusi melalui sistem perpipaan.
Saat ini sistem perpipaan sudah amat maju, sebagai contoh sistem perpipaan yang dibuat
untuk mengantarkan minyak dari satu negara ke negara lain melalui sistem perpipaan bawah
laut (offshore). Dengan sistem ini akan dihemat waktu lebih banyak, walaupun kendala yang
akan dihadapi lebih banyak.
Sistem perpipaan identik dengan saluran pembuluh darah yang mengalirkan darah
keseluruh bagian tubuh. Sistem perpipaan digunakan untuk penyediaan dan pendistribusian
air besih, pembuangan limbah dari kawasan industri ataupun dari fasilitas publik lainnya.
Selain itu, sistem pemipaan digunakan untuk mentransportasikan minyak mentah dari sumur
minyak menuju tangki yang kemudian akan diproses selanjutnya, mentransportasikan dan
mendistribusikan gas alam dari sumber gas menuju tangki penyimpanan. Sistem perpipaan
juga di aplikasikan dalam pendistribusian minyak atupun gas untuk menyuplai kebutuhan
industri, mesin pembangkit tenaga dan keperluan komersial. Sistem perpipaan juga
digunakan untuk mengangkut cairan, bahan kimia, campuran kimia dan uap pada industri
makanan, pabrik kimia dan industri lainnya. Sistem pemipaan juga digunakan untuk instalasi
pemadam kebakaran, untuk keperluan mesin-mesin dan lain lain.
Semakin banyak penggunaan pipa dalam aspek kehidupan manusia maka semakin
banyak di perlukan ahli-ahli dibidang pemipaan. Umumnya bagian perpipaan dan detailnya
merupakan standar dari unit, seperti ukuran diameter, jenis katup yang akan dipasang, baut
dan gasket pipa, penyangga pipa, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian akan terdapat
keseragaman ukuran antara satu dengan lainnya. Sedangkan di pasaran telah terdapat
berbagai jenis pipa dengan ukuran dan bahan-bahan tertentu sesuai dengan kebutuhan seperti
dari bahan Carbon Steel, PVC (Polyvinil Chloride), stainless Steel, dan lain-lain. Peralatan
sistem perpipaan yang berbeda-beda yang memiliki jenis dan fungsi masing-masing
terkadang sulit untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu dibuatlah
makalah Sistem Perpipaan ini agar nantinya mahasiswa yang ingin bekerja di suatu industri
dapat memahami seperti apakah sistem perpipaan itu dan memperluas pengetahuannya di
bidang sistem perpipaan.

1. 2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sejarah pengenalan awal suatu sistem perpipaan?
b. Apa saja jenis-jenis pipa dan bahan yang menyusun pipa tersebut?
c. Bagaimana cara membaca ukuran pipa dan standar suatu pipa ?
d. Bagaimana membedakan warna serta label (tanda) pada suatu pipa?
e. Apa saja peralatan dalam sistem perpipaan dan cara kerjanya?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui sejarah dan pengenalam perpipaan.
b. Mengetahui jenis-jenis pipa serta bahan yang menyusunnya.
c. Memahami pembacaan ukuran suatu pipa dan mengetahui standar nya.
d. Memahami perbedaan warna pipa sesuai materi yang mengalir didalamnya.
e. Mengetahui peralatan sistem perpipaan dan memahami cara kerjanya.

BAB II
DASAR TEORI

2. 2. Jenis Jenis Pipa


Untuk melayani jenis-jenis penggunaan dari pipa, maka pipa-pipa telah dibedakan
menjadi beberapa jenis. Berikut hanya beberapa klasifikasi dari keseluruhan klasifikasi pipa,
antara lain :
1. Berdasarkan jenis fluida yang dialirkan.
1 - Pipa air
2

- Pipa minyak

- Pipa gas

- Pipa uap
- Pipa udara
- Pipa lumpur
- Pipa drainage
- dan sebagainya
2. Berdasarkan bahan pembuatnya.
- Pipa logam
- Pipa non logam
1
3. Berdasarkan jenis instalasinya.
- Pipa proses
- Pipa service
- Pipa utilitas
- Pipa kelautan (marine piping)
- Pipa transportasi
- Pipa sipil
- Plumbing

BAB III
PERALATAN

Komponen perpipaan harus dibuat berdasarkan spesifikasi standar yg terdaftar dalam


simbol dan kode yg telah dibuat atau dipilih sebelumnya. Komponen perpipaan yg dimaksud
disini meliputi :
1. Pipes (pipa-pipa)
2. Fittings (sambungan)
3. Valves (katup-katup)

3. 1. Pipes (Pipa-pipa)
Piping atau pemipaan adalah pekerjaan yang akan selalu ditemukan dalam sebuah
proyek - proyek sipil, migas dan fasilitas industri, dan lain-lain.
Pipa merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam sistem plumbing.
Ada beragam jenis pipa yang terbagi menurut fungsi, letak, dan materialnya. Menurut
fungsinya, jenis pipa terbagi dalam pipa saluran untuk air bersih, pipa saluran air kotor, pipa
saluran air bekas, dan pipa saluran air hujan. Perbedaan air kotor dan air bekas adalah dari
sumbernya, dimana air bekas bersumber dari air bekas pakai atau cucian, sedangkan air kotor
adalah yang bersumber dari toilet / closet maupun urinoir. Pada intinya, air bekas bisa
langsung masuk ke saluran kota, sedangkan air kotor akan masuk ke dalam instalasi septic
tank atau STP.
Material Pipa
Secara umum, pipa dapat diartikan sebagai suatu benda yang relatif panjang, memiliki
lubang dan berfungsi untuk memindahkan sebuah zat ataupun materi yang memiliki
karakteristik dapat mengalir. Materi tersebut dapat berupa cairan, gas, uap, zat padat yang
dilelehkan ataupun butiran yang sangat halus.
Bahan penyusun pipa yang digunakan pun sangat beragam dan tergantung
kebutuhannya, mulai dari beton, kaca, timah, kuningan, tembaga, plastik, alumunium, baja
tuang, baja karbon, dan baja alloy. Penggunaan material tersebut sangat tergantung pada
peruntukan pemipaan, karena setiap material memiliki keunggulan dan kelemahannya
sendiri. Namun karena pembahasan kali ini lebih ke arah pemipaan migas dan industri, maka
bahan penyusun pipa yang paling banyak digunakan adalah baja karbon (carbon steel).
Sedangkan jenis pipa menurut materialnya terbagi dalam :
1.

Pipa GIP (Galvanized Iron Pipe)

Pipa GIP atau lebih dikenal dengan pipa besi galvanis, yang biasanya digunakan
untuk intalasi air bersih yang dingin saja, karena tidak dianjurkan untuk saluran pipa air
panas.

Pipa galvanis adalah pipa yang telah dilapisi dengan lapisan seng. Zat kimia Seng
dapat memberikan penghalang terhadap korosi, sehingga pipa galvanis tidak dapat langsung
terkena unsur-unsur lingkungan luar. Hambatan pelindung atau seng telah terbukti dapat
memberikan ketahanan material pipa galvanis dari kelembaban seperti didalam ruangan.
Jenis pipa galvanis ini telah digunakan dalam berbagai aplikasi. Dimulai sekitar 30
tahun yang lalu, pipa galvanis yang digunakan untuk pipa pasokan air di konstruksi. Hal ini
digunakan dalam aplikasi luar ruangan mana pun kekuatan baja yang diinginkan, seperti tiang
pagar dan rel, scaffolding dan sebagai pagar pelindung.
Sistem perpipaan yang saat ini semakin maju dengan berbagai variable pertimbangan
yang menjadikan semakin banyaknya muncul berbagai macam jenis-jenis pipa yang
dikeluarkan produsen pipa. Banyak kebutuhan akan pipa saat ini digunakan untuk
mendistribusikan berbagai macam fluida cair maupun fluida solid. Beragam fluida cairlah
yang menjadikan banykanya muncul bermacam-macam pipa karena fluida cair tersebut
memiliki kemampuan yang menjadikan tidak semua pipa cocok untuk dialiri cairan fluida.
Fluida cair seperti minyak tentu saja memiliki tingkat korosif yang tinggi sehingga
menyebabkan pipa mudah terkorosi dan membuat pipa tersebut bocor. Tentu saja hal ini
menjadi salah satu varible penting yang menjadikan produsen pipa terus meningkatkan cara
mengurangi korosi pada pipa yang diproduksinya dengan mencampurkan tambahan material
seng/zinc (Zn) kedalam material pembuat pipa tersebut. Hal ini diharapkan mampu
mengurangi tingkat korosi pada pipa sehingga menjadi lebih awet. Teknik penghindaran
korosi dengan menggunakan zink tidak hanya dengan mencapurkan bahan tersebut namun
bisa saja dilakukan dengan metode hotdipping atau metode galvanisasi.
Metode galvanisasi merupakan sebuah langkah pencegahan korosi dengan
mencelupkan material kedalan material seng (Zn) yang sudah dicairkan. Teknik ini
merupakan salah satu cara produksi material yang tahan terhadap korosi. Selain itu metode
galvanis bisa juga menggunakan metode elektrokimi dan metode elektrodeposisi. Metodemetode tersebutlah yang memunculkan banyak produk pipa yang muncul berdasarkan teknik
pembuatannya untuk mencegah korosi sehingga muncul lah pipa galvanis.
Pengertian pipa galvanis sendiri berdasarkan literatur di atas berarti sebuah pipa yang
menggunakan material seng (Zn) sebagai bahan tambahan maupun sebagai pelapis pipa
utamanya dengan menggunakan metode galvanisasi seperti dijelaksan di atas baik dengan
menggunakan pencelupan panas atau elektrokimia dan lain sebagainya.
Melihat dari teknik tersebut tidak cukup sulit tentu saja menjadikan produk pipa
galvanis ini muncuk pasaran dengan harga pipa galvanis yang lebih murah dan terjangkau
sehingga banyak juga digunakan disistem perpipaan perumahan dan perhotelan. Selain itu
aplikasi pipa ini banyak digunakan sebagai tiang listrik di jalan-jalan kota saat ini. Selain itu
juga banyak digunakan untuk bahan bangunan seperti pembuatan pagar, pintu gerbang dan
penguat kursi besi bahkan mobil-mobil baru saat ini juga banyak menggunakan pipa baja
galvanis sebagai bagian dari rangka maupun bagian-bagian tertentunya seperti kenalpot.

2.

Pipa PVC

Pipa PVC (Poly Vinyl Chloride) adalah pipa yang terbuat dari gabungan material
vinyl plastik yang menghasilkan pipa yang kuat, ringan, tidak berkarat serta tahan lama. Jenis
pipa ini lebih cocok digunakan pada intalasi air dingin saja. Sebagai contoh merk pipa PVC
terbaik adalah pipa saluran Vinilon, yang telah memiliki sertifikat SNI.
Pipa PVC atau biasa disebut peralon akrab digunakan dalam pembuatan sistem
pengairan maupun kelistrikan. Secara alamiah, pipa ini memiliki sifat tidak membusuk dan
tidak berkarat serta tidak gampang rusak. Hal ini tidak lain karena komponen penyusunannya
terdiri dari plastik yang dicampur dengan berbagai bahan vinyl lainnya.
Adapun satuan ukuran pipa PVC yang umum dipakai di Indonesia adalah inchi.
Satuan ini berdasarkan pada standar JIS (Japanese Industrial Standart). Sedangkan untuk
proyek-proyek pemerintah, seperti pembangunan saluran PDAM di suatu rumah maka akan
menggunakan standar SNI (Standar Nasional Indonesia).
Berdasarkan tingkat ketebalannya, pipa peralon bisa dibagi menjadi 3 macam yaitu :

Tipe C : Ini adalah pipa yang paling tipis. Ukuran diameter yang ada di pasaran mulai
dari yang 5/8 inci, 1/2 inci, 3/4 inci, 1 inci, 1 1/4 inci, 1 /2 inci, 2 inci, 2 1/2 inci, 3
inci, 4 inci sampai dengan 5 inci. Pipa jenis ini biasanya digunakan saat membangun
saluran pembuangan air dengan tekanan yang lemah dan sebagai pelindung kabel
listrik.
Tipe D : Ini adalah jenis pipa dengan ketebalan yang sedang. Biasanya dipakai di
dalam saluran pembuangan air dengan tekanan yang normal. Adapun ukuran diameter
yang dijual di pasaran mulai dari 1 1/4 inci hingga 10 inci
Tipe AW : Ini adalah pipa PVC yang paling tebal. Ukuran diameternya mulai dari 1/2
inci sampai yang 1inci. Adapun kegunaan dari pipa AW diperlukan saat membangun
saluran air bertekanan tinggi, seperti saluran pompa air tanah.

Selain fungsi-fungsi umum di atas, dalam pembangunan sistem pengairan juga ada
beberapa ukuran yang lumrah digunakan saat membangun sesuatu. Jadi hal ini sudah
mendarah daging dan seperti sudah menjadi sebuah standar, meskipun anda bebas
menggunakan ukuran berapa saja saat membangun saluran. Berikut ini beberapa ukuran pipa
yang sering digunakan :

3.

Untuk membuat saluran pembuangan air bertekanan lemah biasa menggunakan pipa
tipe C ukuran 3 inci dan 4 inci.
Untuk melindungi kabel listrik biasa menggunakan pipa tipe C ukuran 5/8 inci.
Untuk membangun saluran buangan kamar mandi rumah tangga biasa menggunakan
pipa tipe D ukuran 2 1/2 inci, 3 inci, dan 4 inci.
Untuk penyedian air minum di dalam rumah tangga biasa menggunakan pipa tipe AW
ukuran 1/2 inci dan 3/4 inci.

Pipa HDPE

Pipa HDPE (High-Density Poly Ethylene) adalah pipa yang terbuat dari bahan polyethylene yang mempunyai kepadatan tinggi sehingga jenis pipa HDPE ini dapat menahan
daya tekan yang lebih tinggi. Adapun karakteristik pipa HDPE ini adalah kuat, lentur atau
fleksibel dan tahan terhadap bahan kimia.
Pengertian Pipa HDPE yang perlu anda ketahui, bahwa pipa ini berbeda dengan pipa
lain pada umumnya. Pipa HDPE adalah pipa khusus anti karat dan tahan asam. Jenis pipa ini
umumnya ditemukan dan digunakan pada saluran air maupun gas. Pipa ini terbuat dari
plastik yang berasal dari minyak bumi, yaitu polymer. Karena terbuat dari polymer, pipa
jenis ini mempunyai umur penggunaan yang relatif lama yaitu sekitar setengah abad (50
tahun). Ditambah lagi, lapisan pipa yang keras mampu bertahan di suhu 120 derajat.
Pipa ini memiliki satuan ukuran tersendiri yaitu SDR (Standard Dimension Ratio).
Satuan tersebut berguna sebagai standar pengukuran tebal dan diameter (OD) pipa.
Rumusnya yaitu diameter pipa (OD) dibagi dengan tebal pipa, yang nantinya akan
menghasilkan SDR. Contohnya jika OD 300 mm, dan tebal pipa 15mm maka SDRnya yaitu
20, yang harus dicatat yaitu jika nilai SDR semakin kecil maka pipa akan semakin tebal, yang
berarti semakin baik.
4.

Pipa Baja (Steel Pipe)

Proses pembuatan
Secara umum, ada 3 metode pembuatan pipa baja karbon, dimana juga metode
tersebut menjadi nama untuk menyebutkan jenis pipa-pipa tersebut,(carbon steel) yang
digunakan untuk bidang migas dan industri. ketiga metode itu adalah metode Seamless pipe,
butt-welded pipe, dan spiral welded pipe.
5.

Pipa Tembaga

Pipa tembaga merupakan jenis pipa yang kuat dan tahan lama, dan biasanya lebih
banyak digunakan untuk instalasi air panas. Pipa Tembaga bisa menjadi alternatif karena
lebih flexibel dan tidak berkarat,selain juga tahan panas dan tekanan tinggi.pemasangan tidak
perlu banyak sambungan ,sehinggga lebih praktis dan cepat.harganya lebih mahal meskipun
lebih murah ketimbang pipa besi.
6.

Pipa Beton

Pipa Beton adalah adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran
semen atau bahan perekat sejenisnya,air, batu koral dan agregat dengan atau tanpa bahan
tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu pipa beton itu. Digunakan untuk saluran
limbah, terowongan, dan irigasi.
Pembuatan Pipa Beton
Proses pembuatan pipa beton yaitu menggunakan teknologi vibro vacuum dan
circumferential prestressing (pratekan melingkar). Selama ini, pipa beton yang dibuat

perusahaan menggunakan proses vibro, metode "penggetaran" untuk mengangkat kualitas


beton. Atau sistem steam curing, yang menggunakan penguapan untuk mengeringkan beton.
Proses pembuatan pipa beton menempuh tiga tahap inti. Mula-mula, dilakukan
pembuatan kerangka dengan sistem melingkar dan memanjang. Kemudian, dipasang cetakan
luar dan cetakan dalam, yang dilanjutkan dengan pengecoran. Pada tahap inilah, sekaligus,
diterapkan prosedur vibro vacuum, sehingga beton mencapai kekuatan tertentu
3. 2. Valves (Katup-Katup)
Valve atau yang biasa disebut katup adalah sebuah perangkat yang mengatur, mengarahkan
atau mengontrol aliran dari suatu cairan (gas, cairan, padatan terfluidisasi) dengan
membuka,
menutup,
atau
menutup
sebagian
dari
jalan
alirannya.
Valve/katup dalam kehidupan sehari-hari, paling nyata adalah pada pipa air, seperti keran
untuk air. Contoh akrab lainnya termasuk katup kontrol gas di kompor, katup kecil yang
dipasang di kamar mandi dan masih banyak lagi.
Jenis jenis Valve yang sering digunakan :
1. Gate valve
Gate valve adalah jenis katup yang digunakan untuk membuka aliran dengan cara
mengangkat gerbang penutup nya yang berbentuk bulat atau persegi panjang.Gate Valve
merupakan jenis valve yang paling sering dipakai dalam sistem perpipaan karena fungsinya
adalah membuka dan menutup aliran.
Gate valve tidak untuk mengatur besar kecil laju suatu aliran fluida dengan cara
membuka setengah atau seperempat posisinya, Jika posisi gate setengah terbuka maka akan
terjadi turbulensi pada aliran tersebut. Turbulensi akan menyebabkan :
a. Akan terjadi pengikisan pada sudut-sudut gate valve
b. Terjadi perubahan pada posisi dudukan gerbang penutupnya
2. Globe Valve
Globe Valve digunakan untuk mengatur besar kecilnya laju aliran fluida dalam pipa
(throttling). Prinsip dasar dari operasi Globe Valve adalah gerakan tegak lurus disk dari
dudukannya. Hal ini memastikan bahwa ruang berbentuk cincin antara disk dan cincin
kursi bertahap sedekat Valve ditutup.
3. Ball Valve
Ball Valve adalah sebuah Valve atau katup dengan pengontrol aliran berbentuk disc bulat
(seperti bola/belahan). Bola itu memiliki lubang, yang berada di tengah sehingga ketika

lubang tersebut segaris lurus atau sejalan dengan kedua ujung Valve / katup, maka aliran akan
terjadi. Tetapi ketika katup tertutup, posisi lubang berada tegak lurus terhadap ujung katup,
maka aliran akan terhalang atau tertutup.
Ball valve banyak digunakan karena kemudahannya dalam perbaikan dan kemampuan
untuk menahan tekanan dan suhu tinggi. Tergantung dari material apa mereka terbuat, Bal
Valve dapat menahan tekanan hingga 10.000 Psi dan dengan temperature sekitar 200 derajat
Celcius.
Ball Valve digunakan secara luas dalam aplikasi industri karena mereka sangat
serbaguna, dapat menahan tekanan hingga 1000 barr dan suhu hingga 482 F (250 C).
Ukurannya biasanya berkisar 0,2-11,81 inci (0,5 cm sampai 30 cm).

4. Check Valve
Check valve adalah alat yang digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir ke
satu arah saja atau agar tidak terjadi reversed flow/back flow. untuk mengalirkan fluida hanya
ke satu arah dan mencegah aliran ke arah sebaliknya. tidak menggunakan handel untuk
mengatur aliran, tapi menggunakan gravitasi dan tekanan dari aliran fluida itu sendiri. Karena
fungsinya yang dapat mencegah aliran balik (backflow) Check Valve sering digunakan
sebagai pengaman dari sebuah equipment dalam sistem perpipaan.
Aplikasi valve jenis ini dapat dijumpai pada outlet/discharge dari centrifugal pump.
Ketika laju aliran fluida sesuai dengan arahnya, laju aliran tersebut akan membuat plug atau
disk membuka. Jika ada tekanan yang datang dari arahberlawanan, maka plug atau disk
tersebut akan menutup.
5. Butterfly Valve
Butterfly Valve memiliki bentuk yang unik jika dibandingkan dengan valve-valve yang
lain.
Butterfly menggunakan plat bundar atau disk yang dioperasikan dengan ankel untuk posisi
membuka
penuh atau menutup penuh dengan sudut 90. Disk ini tetap berada ditengah aliran, dan
dihubungkan ke ankel melalui shaft. Saat valve dalam keadaan tertutup, Disk tersebut tegak
lurus dengan arah aliran, sehingga aliran terbendung, dan saat valve terbuka wafer sejajar/
segaris dengan aliran, sehingga zat dapat mengalir melalui valve.
Butterfly valve memiliki turbulensi dan penurunan tekanan (pressure drop) yang
minimal. Valve ini bagus untuk pengoperasian on-off ataupun throttling, dan bagus untuk
mengontrol aliran zat cair atau gas dalam jumlah yang besar. Namun demikian valve ini
biasanya tidak memiliki kekedapan yang bagus, dan harus digunakan pada situasi/ sistem
yang memiliki tekanan rendah (low-pressure).

6. Safety Valve
Safety/Relief valve memiliki fungsi yang sangat berbeda dari valve-valve yang lain.
Valve ini didisain khusus untuk melepas tekanan berlebih yang ada di equipment dan sistem
perpipaan. Untuk mencegah kerusakan pada equipment, dan lebih penting lagi cedera pada
pekerja, relief valve dapat melepas kenaikan tekanan sebelum menjadi lebih ekstrim.
Relief valve menggunakan pegas baja (lihat gambar di bawah ini), yang secara
otomatis akan terbuka jika tekanan mencapai level yang tidak aman. Level tekanan pada
valve ini bisa diatur, sehingga bisa ditentukan pada level tekanan berapa valve ini akan
terbuka. Ketika tekanan kembali normal, relief valve secara otomatis akan tertutup kembali.
Safety valve merupakan jenis valve yang mekanismenya secara otomatis
melepaskan zat dari boiler, Bejana tekan, atau suatu sistem, ketika tekanan atau temperatur
melebihi batas yang telah ditetapkan.

3. 3. Flanges (Flens-Flens)
Flange adalah sambungan baut di mana dua buah pipa, equipment, fitting atau valve
dapat dihubungkan bersama-sama. Mereka tersedia dalam berbagai bentuk, tekanan, rating
dan ukuran untuk memenuhi persyaratan desain. Flange di bagi dalam berbagai jenis,
perbedaan jenis-jenis flange ini salah satunya adalah berdasarkan facenya, seperti yang
pernah saya bahas di artikel type flange berdasarkan facenya. Kali ini saya akan berbagi
mengenai perbedaan jenis flange dari kategori yang lain.
Jenis flang berdasarkan ratingnya
Flange atau yang memiliki nama lain forging (untuk jenis yang self reinforcement),
dapat di bagi menjadi beberapa jenis bila di lihat dari ratingnya. Yaitu flange rating 150#,
300#, 600#, 900#, 1500# bahkan sampai 2500#. Pembagian flange dari jenis ratingnya
dikarenakan flange tersebut bekerja dalam pressure (tekanan) yang berbeda sesuai dengan
ratingnya, rating flange tersebut dalam satuan pound. Lain kesempatan, saya akan
membahasnya lebih dalam mengenai rating pada flange.
Jenis flange berdasarkan ukurannya (NPS)
Flange juga dapat dibagi menurut ukuran pipanya. Jadi antara satu pipa dengan pipa
lainya yang ukurannya berbeda, jenis flangenya pun berbeda. Dalam artikel sejarah dan teori
dasar pemipaan, disinggung bahwa untuk menyebut ukuran dalam pipa kita mengenalnya
dengan istilah NPS. NPS adalah kependekan dari nominal pipe size, yaitu suatu ukuran
nominal yang digunakan untuk membedakan pipa.
Kembali mengenai flange, pembagian jenis flange beradarkan NPSnya kita akan
mengenal ukuran , , 1, 2 10, 12 24 dan seterusnya, mengikuti ukuran dari

pipa yang akan di pasangkan flange. Saya tidak mebahasnya secara detail pembagian jenis
flange ini karena cukup mudah untuk dipahami.
Pertanyaan selanjutnya, Kalau memang flange di bedakan beradarkan NPSnya,
apakah flange dibedakan juga melalui schedule nya seperti halnya pipa? ternyata tidak, hanya
flange jenis weldneck lah yang memiliki schedulue.
Jenis flange beradarkan ANSI
Di flange ANSI, kita akan membedakan flange dari bentuknya dan kegunaanya. Agak
membingungkan sebenarnya meberikan jenis klasifikasi flange dari sisi ini, soalnya ada yang
menyebutkan pembagian flange ini karena design-nya. Satu sisi lagi, klasifikasi flange disini
bisa di dibilang di bedakan dari jenis sambungan flangenya, mirip dengan artikel sebelumnya
yang membahas jenis sambungan pada pipa.
Tapi saya tidak akan memperdebatkanya karena esensinya sama, namun saya akan
mengikuti literatur yang saya baca, saya membanginya berdasar ANSI. Apa itu ANSI? Ansi
adalah American National Standards Institute. Berdaraskan ansi, flange dibedakan jenisnya
menjadi :
1. FlangeTipe Weldneck
Weldneck flange, flange jenis ini memiliki ciri yang amat ketara yaitu penyambungan
flangenya mengunakan las. Flange jenis ini biasa dan paling banyak digunakan dalam sebuah
plant, karena sifatnya mudah untuk disambungkan dengan pipa. Flange jenis ini dapat
digunakan untuk pressureyang tinggi, baik untuk temperature rendah atau tinggi.
2. Flange Tipe Slip-on dan Lap Joint
Untuk tipe flange slipon, sebenarnya hampir mirip bentuknya dengan jenis flange lap
joint. Kedua jenis flange ini sama sama memasukan pipa utamanya ke dalam flange, bedanya
kalau slip on si pipa tidak sampai keluar dari flange, sedangakan tipe lap joint, ada sisi pipa
yang keluar dari flange, dan sisi samping dalam flangenya pun biasanya radial.
Dalam slip on, flange hanya masuk sebagain, sisi luar dan dalamnya akan di las. Oleh
karena si pipa itu masuk ke dalam flange, maka diametar dalam slip on harus lebih besar
daripada diameter outside si pipa, lihat gambar di bawah.
Dalam beberapa literatur, slip opening ada yang menyebutnya dengan sleeve opening.
Untuk lap joint flange sendiri, jenis flange ini biasanya digunakan untuk pipa yang
sering dibongkar, atau di dimana fluida tidak diperkenankan kontak dengan las lasan atau tipe
penyambungan lainya. Karena pipa ini tidak di las, maka penyambungannya dapat di puntir
tanpa memikirkan posisi bautnya. Jenis flange ini tidak bisa disarankan untuk pressure yang
tinggi.
3. Flange Tipe Threaded (ulir)

Seperti namanya, jenis flange ini memiliki tipe penyambungan mengunakan ulir.
Biasanya digunakan untuk system yang sangat rawan kebakaran kalau mengunakan las,
disamping itu flange tipe ini harganya lebih murah.
4. Flange Tipe Soket
Soket flange, jenis flange ini mirip dengan slip on, hanya saja pada sisi terluar dari
flange terdapat tahanan yang menyebabkan pipa yang dimasukan ke dalamnya tidak tembus.
5. Reducing Flange
Reducing flange, jenis flange yang satu ini memiliki fungsi untuk mengabungkan pipa
yang memiliki diameter berbeda.
6. Blind Flange
Blind flange adalah jenis flange yang berfungsi untuk menutup aliran, seperti halnya
cap dalam fitting. Jenis flange ini rata, tidak ada apapanya karena memang berfungsi untuk
menutup.
Lalau kenapa aliran itu di tutup? Bisa jadi pipa yang di tutup alirannya di maksudnya
untuk dilakukan maintenance kemudian hari, atau memang aliran itu di tutup untuk akeses
manusia. Untuk akeses manusia? Iya, seperti dalam nozzle, biasanya ada manhole yang di
tutup dengan blind flange. Untuk yang belum tau manhole, bisa membaca artikel istilah
istilah dalam vessel.
Jenis flange bedasarkan cara pemasangan
Masih ada satu lagi pembagian flange berdasarkan cara ia di pasang di dalam pipa
atau vessel. Memang semua pembagian tersebut tidak ada aturan bakunya, hanya pembagian
dari flange dari ANSI yang mungkin paling mendekati klasifikasi sebenarnya dari flange.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sejarah manusia memproduksi pipa dimulai ketika manusia mulai membutuhkan
aliran air dari suatu tempat ketempat lain tanpa harus mengangkutnya menggunakan tenaga
manusia. Kebutuhan serta aktivitas manusia yang beraneka ragam membuat berbagai jenis
pipa bermunculan contohnya pipa baja, PVC, galvanis, dan lain-lain. Pipa tersebut digunakan
sesuai dengan fungsinya masing-masing sehingga membutuhkan bahan-bahan penyusun pipa
yang baik dan berkualitas.
Dalam sebuah sistem perpipaan, terdapat istilah NPS, Nominal Pipe Size dan satu lagi
adalah DN, yaitu singakatan dari Diameter Nominal untuk menentukan ukuran suatu pipa.
Sedangkan untuk ukuran ketebalan dan panjang pipa memilki satuan dan sebutan dan satuan
tersendiri. Selain itu untuk warna pipa, terdapat beragam jeis warna yang digunakan,
tergantung pada zat atau materi yang dialirkan dalam pipa tersebut.
Untuk mendukung proses dalam sistem perpipaan terdapat beberapa komponen yang
penting. Komponen komponen tersebut meliputi : (1). Pipes (pipa-pipa), (2). Flanges
( flens-flens), (3). Fittings (sambungan), (4). Valves (katup-katup), (5). Pump (Pompa).

4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat memberikan saran kepada pembaca
sebagai berikut:
1. Sebagai generasi muda hendaknya kita memiliki pengetahuan yang luas dengan
banyak membaca referensi-referensi yang akurat dan dapat dipercaya.
2. Sebagai generasi penerus bangsa hendaknya kita mampu dan mau menyalurkan
ilmu yang dimiliki untuk dibagi kepada sesama sehingga bermanfaat dan tercipta
kelestarian lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Dreant. 2014. Indonesian Piping Knowledge, (Online) (


http://www.idpipe.com/search/label/
General%20Piping, diakses pada 9 Maret 2015).
Kharisma, Adila. 2014. Sistem Perpipaan Uing, (Online) (https://www.scribd.com/doc/2482
75968/SISTEM-PERPIPAAN-Uing-doc, diunduh 9 Maret 2015).
Adzim, Hebbie Ilma. 2013. Label (Tanda) Kode Warna Perpipaan, (Online) (http://sistem
manajemenkeselamatankerja.blogspot.com/2013/10/label-tanda-dan-kode-warnaperpipaan.html, diakses pada 9 Maret 2015).
Setiawan, Agoes. 2013 Jenis-Jenis Pipa, (Online) (
http://agoessetiawan.blogspot.com/
2013/01/3-jenis-pipa-untuk-industri-piping-atau.html, diakses pada 9 Maret 2015).
Piping, Pujangga. 2010. Code And Standard ASME, (Online) (
http://pujanggapiping.
blogspot.com/2010/02/code-dan-standard-asme.html, diakses pada 9 Maret 2015).
Adithya, Rendy. 2012. Pipa Beton, (Online) (https://www.scribd.com/doc/84211131/PIPABETON, diunduh pada 9 Maret 2015).
Anonim. 2010. Macam-Macam Pompa, (Online) (
http://artikel-teknologi.com/pompa-2macam-macam-pompa/, diakses pada 12 Maret 2015).

Anda mungkin juga menyukai