Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LAPORAN KASUS

AIdentitas Pasien
Nama/Jenis Kelamin/Umur
Pekerjaan orang tua
Alamat

: Ny. MIS / Perempuan / 22 tahun


: Ibu rumah tangga
: RT 18, Kel. Rawa Sari

BLatar Belakang Sosial, Ekonomi, Demografi Lingkungan, dan Keluarga


a Status
: Sudah menikah
b Jumlah anak
:c Status ekonomi
: Menengah
d Biaya Kesehatan
: BPJS
e Lingkungan
:
Os tinggal bersama suaminya di rumah sewaan dengan 2 kamar tidur, 1
kamar mandi, 1 ruang tamu, dan 1 ruang dapur. Os tinggal di lingkungan
yang

cukup

ramai

penduduk

dan

cukup

terjaga

kebersihan

lingkungannya. Ventilasi rumahnya juga cukup baik, baik dari segi


pencahayaan maupun udara yang masuk dari luar rumah.
CKeluhan Utama:
Os mengeluh terdapat benjolan pada kemaluannya yang semakin membesar
sejak + 2 bulan yang lalu.
DKeluhan Tambahan:
Rasa tidak nyaman pada kemaluan.
E

Riwayat Perjalanan Penyakit:


Os datang keluhann terdapat benjolan pada kemaluaannya sejak + 2
bulan yang lalu. Benjolan tersebut muncul pada bibir kemaluannya secara
tiba-tiba, yang awalnya berukuran kecil dan semakin lama semakin
membesar. Benjolan tersebut mulai terasa mengganggu Os sehingga
menimbulkan rasa tidak nyaman, apalagi Os saat ini sedang hamil 28-29
minggu. Os mencemaskan dampak yang dapat terjadi pada kehamilannya
bila benjolan tersebut tidak diobati.
Sebelumnya Os pernah hamil 1 (satu) kali, namun karena
didiagnosis oleh dokter hamil anggur, akhirnya kehamilan pertamanya
tersebut dikuret. Dan pada kehamilan yang kedua ini Os tidak mau terulang

kembali. Sebelumnya Os juga sudah sering kontrol dan berobat ke


Puskesmas Rawa Sari, namun Os merasa tidak puas dengan pengobatan di
sana karena tidak ada perubahan terhadap benjolan di bibir kemaluannya
tersebut. Oleh karena itu, Os berdalih ke Puskesmas Simpang IV Sipin
untuk diambil tindakan yang sebaiknya dilakukan.
F Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya (-)
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat penyakit gangguan pembekuan darah (-)
Riwayat kencing manis (-)
G

Riwayat Penyakit keluarga:


Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama sebelumnya (-).

Data Kebidanan
1

Haid

Menarche

: Umur 12 tahun

HPHT

: 06 11 2014

Haid

: Teratur

Lama haid

: 7 hari

Siklus

: 28 hari

Dismenorrhea

: Iya

Warna

: Merah kehitaman,bergumpal

Riwayat Perkawinan:
Pasien menikah satu kali, 11 hari, pada usia 15 tahun
Riwayat Kehamilan:
Hamil 1 kali, didiagnosis Mola hidatidosa, kemudian dilakukan kuretase.

3
4

Riwayat Kontrasepsi (-)

Riwayat keputihan (+)

I Pemeriksaan Fisik:
Keadaan Umum
1
2
3
4
5
6

Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Suhu
Nadi
Pernafasan

: Tampak sakit ringan


: Compos mentis
: 110/80
: 36, 8C
: 84 x/menit
: 19 x/menit
2

7
8

Berat Badan
Tinggi Badan

: 73 kg
: 158 cm

Pemeriksaan Fisik Head to Toe


1

Kepala
Mata

Bentuk

: normocephal

Simetri

: simetris

Conjungtiva

: anemis (-/-)

Sklera

: ikterik (-/-)

Reflex cahaya : +/+


Palpebra
Hidung
Telinga
Mulut

2 Leher
3 Thorax
Pulmo

: edema (-)

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
Bibir
: lembab
Gusi

: warna merah muda, perdarahan (-)

Lidah

: merah, ulkus (-)

Tonsil

: T1/T1, hiperemis (-)

Faring

: hiperemis (-), granul (-)

: tak ada pembesaran KGB, JVP tidak diperiksa


: simetris, pergerakan dinding dada tertinggal (-)

Pemeriksaan
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Auskultasi

Kanan

Kiri

Statis : simetris
Dinamis: simetris
Stem fremitus normal
Sonor
Batas paru-hepar: ICS

Statis simetri
Dinamis : simetris
Stem fremitus normal
Sonor

VI kanan
Vesikuler (+) Normal,
Vesikuler (+) normal.
Wheezing (-), rhonki (-) Wheezing (-), rhonki (-)

Jantung
Pemeriksaan
Inspeksi
Palpasi

Hasil Pemeriksaan
Ictus cordis tidak terlihat
Ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicula
kiri, tidak kuat angkat
3

Perkusi

Auskultasi
4

Batas-batas jantung :
Atas : ICS II kiri
Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS IV linea midclavicula kiri
BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Pemeriksaan
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Membesar, skar (-), spider nevi (-).


*Leopold
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Ekstremitas
Edema (-), akral hangat.

J Status Obstetri
- Leopold I
- Leopold II
- Leopold III
- Leopold IV
- TFU
- DJJ
K

Hasil Pemeriksaan

: teraba masa lunak, tak melenting


: punggung di sebelah kanan, tangan di sebelah kiri
: teraba masa keras, melenting
: belum masuk pintu atas panggul
: 30 cm
: 136 x/menit

Pemeriksaan Ginekologi
1. Pemeriksaan luar:
Pertumbuhan rambut pubis: dbn, klitoris: dbn, labia minora simetris,
sikatriks (-), edema (-), inflamasi (-). Pada labia mayora dextra terdapat
benjolan yang berjonjot, permukaan tidak rata, multiple,

bertangkai

dengan ukuran sebesar telur puyuh, mobile (bisa digerakkan), warna


merah kehitaman, nyeri tekan (-). Labia mayora sinistra dalam batas
normal.
2. Inspekulo:
Tidak dilakukan.
3. Periksa Dalam:
Tidak dilakukan.
LPemeriksaan Penunjang
- Gravindex test: (+) positif
- Leukosit urin: 4 - 5 / LPB
- Eritrosit urin: 0 / LPB
- Kristal: (-) negatif
4

Silinder: (-) negatif


Reduksi urin: (-) negatif
Protein urin: (-) negatif
Sifilis: (-) negatif
GDS: 123 mg/dL

Diagnosa Banding
- Kondiloma akuminata
- Karsinoma sel skuamosa
- Kondiloma latum

NDiagnosis
Kondiloma akuminata saat kehamilan 28-29 minggu.
O

Manajemen
a Non farmakologis
-

Menjaga kebersihan organ genital.

Tidak melakukan hubungan seksual selama masih ada benjolan dan


menjalani pengobatan.

b Farmakologis
- Asam trikloroasetat 25% dioleskan pada benjolan 1 kali seminggu
-

sampai benjolan hilang


SF 1x1 tablet selama kehamilan.

Resep
DINAS KESEHATAN KOTA JAMBI
PUSKESMAS SIMPANG IV SIPIN
Kel. Simp. IV Sipin Jambi, Kec. Telanai Pura
Jambi, 11 Mei 2015
R/

Asam trikloroasetat 25% fls


Kassa
S.u.e

R/

SF tab
S1dd tab I

No. I
No. X

No. XXX

Pro
: Ny. MIS
Umur : 22 tahun
5

BAB II
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A Definisi1,2,3
Kondiloma akuminata ialah vegetasi oleh human papilloma virus (HPV)
tipe tertentu, bertangkai dan permukaannya berjonjot.
B Epidemiologi1,2
Penyakit ini termasuk Penyakit akibat Hubungan Seksual (PHS).
Frekuensinya pada pria dan wanita sama. Tersebar kosmopolit dan transmisi
melalui kontak kulit langsung. Prevalensi terbesar adalah pada usia 17-33 tahun,
dengan insiden yang memuncak pada usia 20-24 tahun.
C Etiologi2,3
Virus penyebabnya adalah Human Papilloma Virus (HPV), yaitu virus
DNA yang tergolong dalam family virus Papova. Sampai saat ini telah dikenal
sekitar 60 tipe HPV, namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma
akuminata. Tipe yang pernah ditemui pada kondiloma akuminata adalah tipe 6, 11,
16,18, 30,31, 33,35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan 56.
Pada referensi lain menyebutkan, lebih dari 120 subtipe yang berbeda dari
HPV yang telah diidentifikasi, dengan 40 subtipe yang mampu menginfeksi
traktus anogenital. Jenis ini dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu low risk,
intermediate risk, dan high risk. HPV tipe 6 dan 11 jarang menimbulkan kanker
serviks sehingga disebut subtipe low risk. Infeksi dari genotif ini bertanggung
jawab sekitar 90% pada formasi genital warts. Sebaliknya tipe 16 dan 18 sangat
berhubungan dengan displasia serviks sehingga dianggap high risk, subtipe
onkogenik. Penelitian menunjukkan infeksi pada genotif ini adalah sampai 70%
terjadi Squamous Cell Carcinoma (SCC) dari serviks. HPV tipe 31, 33, 45, 51, 52,
56, 58, dan 59 adalah tipe intermediate risk, sering ditemukan pada neoplasma
skuamosa, tetapi jarang dihubungkan dengan SCC serviks. Pasien dengan
kondiloma akuminata dapat terinfeksi stimultan oleh beberapa jenis HPV.
6

Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi,


yaitu tipe 16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai
pada kanker serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering ditemui pada
kondiloma akuminata dan neoplasia intraepitelial serviks derajat ringan. 1
kondiloma juga dapat menjadi koinfeksi yang high risk HPV seperti HPV tipe
16. Merupakan penyakit menular seksual, dengan transmisi rata-rata 60% di
antara partner seksual.
D Faktor Risiko1,2,3
Adapun beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan Kondiloma
akuminata adalah sebagai berikut:
1. Usia dan jenis kelamin
Pakar mengemukakan, usia adalah faktor risiko independen pada
kondiloma akuminata, 80% penderita kondiloma akuminata terjadi pada
usia 17-33 tahun, puncak usia menderita penyakit ini di usaia 20-24 tahun.
Pria rata-rata diusia 22 tahun bisa menderita kondiloma akuminata dan
wanita 19 tahun, pria wanita proporsi adalah 11,4.
2. Status perkawinan dan kehamilan
Data menunjukan perceraian, suami istri tidak serumah, janda atau duda,
belum nikah adalah paling mudah menderita kondiloma akuminata, karena
keadaan diatas mudah terjadi perilaku seksual yang berisiko tinggi.
Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilan
pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu besar
dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca
persalinan. Selain itudapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau
papilomatosis laring (kutil padasaluran nafas) pada bayi baru lahir.
3. Fungsi kekebalan tubuh lemah
Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi
imunosupresif dan mengunakan dexamethasone. Persentase menderita
kondiloma akuminata serta persentase kambuh juga tinggi dan jumlah
kutil pun bertambah banyak.
4. Merokok dan minum alkohol
Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, dan persentase menderita
penyakit ini pun bertambah berdasarkan lama merokok dan jumlah batang
rokok yang dihisap per hari. Minum alkohol juga bisa menghambat

kekebalan tubuh. Merokok dan alkohol bisa menghambat sistem saraf


tengah, mengurangi kecemasan, meningkatan libido, resiko seksual pun
bertambah, sehingga meningkatkan kekambuhan akuminata mudah.
5. Hubungan seksual
Berdasarkan hasil penelitian dan statistik menunjukan, penyebab
terjadinya kondiloma akuminata karena memiliki banyak pasangan yang
menderita kondiloma akuminata, dan tingkat kekambuhan lebih tinggi
dibandingkan pasangan seksual tunggal.
6. Pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat
Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukan infeksi HPV bisa
dicegah dimana harus mengunakan alat kontrasepsi. Penelitian lain
menunjukan, penyebab terjadinya kondiloma akuminata dimana wanita
yang mengunakan obat kontrasepsi persentase terjadinya kondiloma
akuminata lebih tinggi dibandingkan tidak memakai obat kontrasepsi.
7. Menderita penyakit lain
Penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan
penyakit menular seksual lainnya seperti alat kelamin, kencing nanah dan
AIDS. Banyak penderita kondiloma akuminata bisa menyebabkan
penyakit kelamin lainnya, dan beberapa patogen penyakit menular seksual
merusak mukosa, sehingga kemampuan tubuh melawan HPV pun
menurun.
E Patofisiologi1,3
Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang
terinfeksi HPV. HPV ini masuk melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada
daerah kelamin dan melakukan penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi
permukaan epitel. Human Papilloma Virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya
mempunyai afinitas tinggi pada sel-sel epitel. Replikasinya tergantung pada
adanya diferensiasi epitel skuamosa. Virus DNA (Deoxyribonucleic Acid) dapat
ditemukan pada lapisan terbawah dari epitel. Protein kapsid dan virus infeksius
ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang berdiferensiasi. HPV dapat masuk
ke lapisan basal, menyebabkan respon radang. Pada wanita menyebabkan
keputihan dan infeksi mikroorganisme. HPV yang masuk ke lapisan basal sel
epidermis dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak

terkendali. Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang
dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus
DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel dari tuan rumah menjadi infeksius dari
struktur koilosit atipik dari kondiloma akuminata (morphologic atypical
koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang. Lamanya inkubasi sejak
pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih lama.
HPV yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan
di sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti
bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme
dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.
HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang
merangsang pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat menstimulasi
saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak dan timbul impuls
elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord kemudian ke thalamus dan
dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks serebri. Pada wanita yang terinfeksi
HPV dapat menyebabkan keputihan dan disertai infeksi mikroorganisme yang
berbau, gatal dan rasa terbakar sehingga tidak nyaman pada saat melakukan
hubungan seksual.

F Gejala Klinis1,2,3
Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan
ringan. Keluhan yang paling sering adalah ada bejolan atau terdapat lesi di
perianal.
1. Gejala
Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan
tanpa gejala. Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan, atau
dispaurenia. Tetapi terkadang lesi dapat menimbulkan ketidaknyamanan,
rasa panas, dan pruritus. Lesi yang besar dapat berdarah dan iritasi bila
kontak dengan pakaian atau selama hubungan seksual
2. Tanda-Tanda Fisik
Kondiloma biasanya pada jaringan yang lembab pada area anogenital. Lesi
sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan
seksual. Pada pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus,
sulkus koronarius, glands penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal
9

penis. Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina,


kadang-kadang pada porsio uteri. Terkadang dapat berkembang di mulut
atau tenggorokam setelah kontak seksual secara oral yang terinfeksi dari
partnernya. Kondiloma akuminata memiliki bentuk yang sangat bervariasi,
mungkin flat (datar), dome-shaped (seperti kubah), cauliflower-shape
(kembang kol) atau pedunculated. Kondiloma dapat bermanifestasi
sebagai soliter keratotik papul atau plak. Awalnya dalam bentuk kecil,
ukuran 1-2 mm flesh-colored papule dari kulit dan bentuk ini dapat
bertahan selama infeksi. Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai
dan berwarna kemerahan kalau

masih baru, jika telah lama agak

kehitaman. Permukaannya berjonjot (papilomatosa) sehingga pada


vegetasi yang besar dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul
infeksi sekunder warna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan
berbau tidak enak.

Vegetasi yang besar disebut sebagai giant condyloma (Buschke) yang


pernah dilaporkan menimbulkan degenerasi maligna, sehingga harus dilakukan
biopsy. sering terdapat pada gland penis, daerah perianal.3

Giant condyloma dari Buschke-Lowenstein atau Buschke-Loewenstein


tumor (BLT) pertama kali ditemukan oleh Buschke pada tahun 1886. Oleh

10

Buschke dan Loewenstein tahun 1925, kemudian dinamai oleh Loewenstein


carcinoma-like condyloma acuminata pada penis. Pertumbuhannya sangat
lambat tumor verukosa dan mencapai ukuran besar. Beberapa penulis
menyebutkan bahwa etiologinya adalah HPV low risk yaitu tipe 6 dan 11,
sementara yang lain melaporkan pentingnya munculnya HPV

risiko tinggi

onkogenik yaitu tipe 16 dan 18. Faktor risikonya adalah kebersihan yang buruk,
pasien yang tidak disirkumsisi, seks bebas, iritasi kronik, imunosupresi karena
infeksi virus HIV.
G Diagnosis1,2,3
Untuk dapat menegakkan diagnosis Kondiloma akuminata, dapat
dilakukan urutan sebagai berikut:
1. Anamnesis
a. Partner seksual multipel dan usia coitus yang lebih muda merupakan
faktor risiko kondiloma akuminata.
b. Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak seksual
dengan kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam waktu 3
bulan.
c. Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus atau
discharge. Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat lesi
multipel.
d. Lesi pada mukosa oral, laring atau trakea (tapi jarang) mungkin terjadi
karena kontak oral-genital.
e. Riwayat hubungan seksual anal baik pada lak-laki maupun perempuan
dapat menyebabkan lesi pada perianal.
f. Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat terjadi,
dapat disebabkan oleh kondiloma yang terdapat di meatus.
g. Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.
h. Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan vagina selama
kehamilan terjadi karena erupsi dari kondiloma.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Erupsi papular single atau multipel dapat diobservasi. Erupsi mungkin
muncul mutiara, filiform, kembang kol (caulifowler) atau plaquelike.
Semuanya ini dapat secara halus (terutama pada penis), verukosa atau

11

lobular. Erupsi ini mungkin tidak berbahaya atau dapat mengganggu


penampilan.
b. Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga
eritema atau hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam bentuk,
warna yang mensugesti melanoma atau keganasan.
c. Kecenderungan pada glands penis pada pria dan daerah vulvovagina
dan serviks pada perempuan.
d. Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.
e. Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi, adenopati,
vesikelm discharge).
f. Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau risiko
dari imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Kolposkopi (Stereoskopi Mikroskopik)
Hal ini sangat berguna untuk mengidentifikasi (sebagian besar) lesi
pada serviks, dimana lebih baik melakukan identifikasi dengan
menggunakan asam asetat.
b. Biopsi
Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekurent setelah terapi
awal berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien dengan
risiko tinggi untuk neoplasia atau imunosupresi. Biopsi tidak
diperlukan untuk kutil anogenital yang khas.
H Diagnosis Banding2,3
Adapun beberapa diagnosis banding dari Kondiloma akuminata adalah
sebagai berikut:
1. Veruka vulgaris
Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama
dengan warna kulit. Terutama terdapat pada anak-anak, tetapi dapat juga
pada dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas
bagian ekstensor, walaupun penyebarannya dapat ke tubuh bagian lain
termasuk mukosa mulut dan hidung. Kutil ini bentuknya bulat berwarna
abu-abu, besarnya lentikular, permukaan kasar (verukosa). Dengan
goresan dapat timbul autoinkolusi sepanjang goresan (fenomena Kobner).

12

2. Karsinoma sel skuamosa


Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau.
Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai
beberapa tingkat kematangan, dapat intraepidermal, dapat pula bersifat
invasif dan bermetastasis jauh. Umur yang paling sering adalah 40-50
tahun (dekade V-VI).

3. Kondiloma latum
Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata dan STS positif, ditemukan
banyak Spirochaeta pallidum dengan mikroskop lapangan gelap.

13

4.

Moluskum Kontagiosum
Penyakit yang disebabkan oleh pox
virus, klinis berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi
massa

yang

mengandung

badan

moluskum. Penyakit ini merupakan penyakit akibat hubungan seksual.


Transmisinya melalui kontak kulit langsung. Lokalisasi di daerah muka,
badan dan esktremitas, sedangkan pada orang dewasa di daerah pubis dan
genitalia eksterna.
I Penatalaksanaan3,4,5,6
Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum
dapat dibedakan menjadi kemoterapi, dan bedah.
1. Kemoterapi
a. Podophyllin
Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan
kondiloma oleh Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah
agen sitotoksik yang berasal dari resin podofilum emodi dan peltatum
podofilum yang mengandung senyawa lignin biologis aktif, termasuk
podofilox, yang merupakan komponen paling aktif terhadap
kondiloma akuminata. Podophyllin memiliki keuntungan menjadi
mudah digunakan dan sangat murah. Yang digunakan ialah tingtura
podofilin 25%. Kulit disekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta
agar tidak terjadi iritasi. Jika belum ada penyembuhan dapat diulangi
setelah 3 hari. Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena
akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksisitas ialah mual, muntah,
nyeri abdomen, gangguan alat napas, dan keringat yang disertai kulit
dingin. Dapat pula terjadi supresi sumsum tulang yang disertai
trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita hamil sebaiknya jangan
diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.
Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan dan
toksisitas sistemik. Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam karena
sangat mengiritasi kulit normal di sekitarnya dan menyebabkan reaksi
lokal yang parah berupa dermatitis, nekrosis, dan jaringan parut. 9
b. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid

14

Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil


digunakan untuk terapi kondiloma akuminata. Seperti podophyllin,
Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid murah dan mudah
diterapkan. Namun, juga dapat menyebabkan iritasi kulit lokal dan
seringkali memerlukan kunjungan beberapa kali, umumnya pada
interval mingguan. Dalam sebuah studi oleh Swerdlow dan Salvati,
bichloracetic acid dan trichloracetic acid lebih nyaman digunakan
oleh pasien dan memiliki kemungkinan kekambuhan yang minimal
dibandingkan

yang

lain.

Mempunyai

efek

kaustik

dengan

menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada jaringan superfisial


terutama pada bentuk hiperkeratotik.
c. 5-fluorourasil
Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim. Bersifat sebagai
antimetabolit yang dapat mengganggu sintesis DNA , dipakai terutama
pada lesi di meatus uretra. 5-FU krem 1 % digunakan 2 kali sehari
secara periodik selama 2-6 minggu, dan krem 5% digunakan 4 kali
sehari secara periodik selama 10 minggu. Sebaiknya penderita tidak
miksi selam 2 jam setelah pengobatan.
2. Bedah Terapi
a. Elektrokauterisasi
Elektrokauterisasi

adalah

cara

yang

efektif

untuk

menghancurkan kondiloma akuminata di anus internal dan eksternal


tetapi teknik ini memerlukan anestesi lokal dan tergantung pada
keterampilan operator untuk mengontrol kedalaman dan lebar
kauterisasi tersebut. Mengontrol kedalaman luka penting untuk
mencegah jaringan parut dan luka pada sfingter ani mendasarinya.
Luka bakar melingkar harus dihindari untuk mencegah stenosis ani.
Jika penyakit ini sangat luas atau melingkar, upaya-upaya harus
dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas kulit.
b. Eksisi bedah
Eksisi bedah telah lama digunakan untuk mengobati
kondiloma akuminata dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kombinasi
eksisi dan elektrokauter dianggap sebagai gold standard untuk
pengobatan kondiloma akuminata.

15

c. Bedah Beku (N2, N2O cair)


Bedah beku merupakan

metode

pengobatan

umum

dermatologi, berbahan dasar nitrogen atau karbondioksida cair, es beku


kering penghancur kulit, penghancur kulit untuk edema lokal,
bertujuan untuk mencapai tujuan pengobatan. Virus kondiloma
akuminata menyebabkan terjadinya hiperplasia prostatik jinak pada
kulit dan membran mukosa. Ini memiliki pembuluh darah lecil dalam
jumlah

banyak,

berproliferasi

secara

cepat.

Metode

dapat

menggunakan es beku untuk kondiloma akuminata, membentuk edema


lokal derajat tinggi. Keuntungan yang paling bagus dari bedah beku ini
ialah hanya bersifat lokal tanpa meninggalkan bekas, tingkat
keberhasilan pengobatan kira-kira 70%. Tersedia dalam metode
semprot atau kontak langsung, mampu diaplikasikan pada bentuk
kecil. Dapat digunakan dalam 1 minggu sebanyak 2-3 kali. Bedah beku
ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma akuminata pada
wanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah.
3. Terapi Laser
Terapi laser karbon dioksida untuk menghancurkan kondiloma
pertama kali dilaporkan oleh Baggish pada tahun 1980. Sebuah tingkat
keberhasilan keseluruhan dari 88 sampai 95% telah dilaporkan. Ini mirip
dengan elektrokauter, namun ablasi laser memiliki tingkat kekambuhan
tinggi dan menimbulkan nyeri pasca operasi, keuntunganya luka lebih
cepat sembuh, dan meninggalkan sedikit jaringan parut.
4. Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan
topikal (krim). Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali
seminggu selama 6 minggu atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6
minggu. Interferon beta diberikan dengan dosis 2x106 unit i.m selama 10
hari berturut-turut.
Interferon tidak direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan
utama. Diproduksi secara alami oleh protein dengan antivirus, antitumor
dan immunomodulatory actions.
5. Imunoterapi
16

Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap


pengobatan dapat diberikan pengobatan bersama imunostimulator.

J Komplikasi1,2,3
Adapun beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat Kondiloma
akuminata adalah sebagai berikut:
1.

Transformasi untuk keganasan genitourinaria pada laki-laki maupun

2.
3.
4.

perempuan
Penularan pada neonatus
Kondiloma akuminata yang berulang.
Pre-cancer dan cancer
Pre-malignant (vulva, anal, penile intra-epithelial neoplasia) atau lesi

invasif (vulva, anal dan kanker penis) dapat muncul bersamaan dengan
kondiloma. Bowenoid papulosis (BP) adalah lesi coklat kemerahan yang
dihubungkan dengan tipe HPV yang onkogenik dan merupakan bagian dari
spektrum klinis neoplasia intraepithelial anogenital. Biopsi dapat dilakukan.
Varian lain yang jarang adalah HPV tipe 6/11 yaitu penyakit kondiloma raksasa
atau Buschke-Lowenstein tumor. Ini merupakan karsinoma verukosa, ditandai
dengan infiltrasi lokal yang agresig sampai ke struktur dermal.
K Prognosis1,2,3
Walaupun

sering

mengalami

residif,

prognosisnya

baik.

Faktor

predisposisinya dicari, misalnya higienitas, adanya flour albus, atau kelembaban


pada pria akibat tidak disirkumsisi.
Banyak pasien baik itu gagal untuk merespon pengobatan atau rekuren.
Tingkat kekambuhan lebih dari 50% setelah 1 tahun dihubungkan dengan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Infeksi berulang dari kontak seksual


Masa inkubasi yang panjang dari HPV
Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial
Virus yang persisten di kulit, folikel rambut
Lesi yang dalam
Lesi subklinik
Anunderlying immunosuppression.

L Pencegahan1,2

17

Adapun beberapa pencegahan dapat dilakukan adalah dengan cara sebagai


berikut:
a. Tidak ada medikasi yang efektif 100%. Vaksin HPV dapat dilakukan dan
telah disetejui oleh FDA. The Advisory Committee on Immunization
Practice (ACIP) merekomendasikan vaksinasi rutin untuk perempuan usia
11-12 tahun dan vaksinasi catch-up untuk perempuan usia 13-26 tahun.
b. Sexual abstinence.
c. Kondom dapat mencegah terjadinya penularan.

BAB III
ANALISA KASUS

18

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada Ny. MIS,
dapat ditegakkan diagnosa kerja Kondiloma akuminata saat kehamilan 28-29
minggu.
Dari anamnesis didapatkan keluhan berupa benjolan pada kemaluaannya
sejak + 2 bulan yang lalu yang awalnya berukuran kecil dan semakin lama
semakin

membesar, kemudian

mulai

terasa

mengganggu

Os

sehingga

menimbulkan rasa tidak nyaman. Os saat ini sedang hamil 28-29 minggu dan
mencemaskan dampak yang dapat terjadi pada kehamilannya bila benjolan
tersebut tidak diobati. Sebelumnya Os pernah hamil anggur dan dikuret.
Dari pemeriksaan fisik obstetri didapatkan perut membesar dengan TFU
30 cm, dan DJJ 136x/menit. Pada pemeriksaan Leopold dapat disimpulkan bahwa
kehamilan dengan presentasi kepala yang belum masuk pintu atas panggul, bagian
punggung di sebelah kanan, dan bagian tangan di sebelah kiri.
Pada pemeriksaan ginekologi luar didapatkan pada labia mayora dextra
terdapat benjolan yang berjonjot, permukaan tidak rata, multiple,

bertangkai

dengan ukuran sebesar telur puyuh, mobile (bisa digerakkan), warna merah
kehitaman, nyeri tekan (-). Sedangkan pemeriksaan dalam dan inspekulo tidak
dilakukan karena tidak ada indikasi.
Dari pemeriksaan penunjang didapatkan Gravindex test: (+) positif
leukosit urin 4 - 5 / LPB, eritrosit urin: 0 / LPB, kristal: (-) negatif, silinder: (-)
negatif, reduksi urin: (-) negatif, protein urin: (-) negatif, sifilis: (-) negatif, dan
GDS: 123 mg/dL. Jumlah leukosit urin yang didapatkan tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan untuk dapat
menegakkan diagnosis Kondiloma akuminata.
Diagnosis bandingnya adalah veruka vulgaris dan karsinoma sel
skuamosa. Pada veruka vulgaris, vegetasinya tidak bertangkai, kering dan
berwarna abu-abu atau sama dengan warna kulit, bentuknya bulat berwarna abuabu, besarnya lentikular, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat
timbul autoinkolusi sepanjang goresan (fenomena Kobner). Sedangkan pada
karsinoma sel skuamosa vegetasinya seperti kembang kol, mudah berdarah dan
berbau.

19

Penatalaksanaan yang diberikan yang paling utama adalah edukasi untuk


menjaga higienitas organ genital dan tidak melakukan hubungan seksual hingga
penyakit ini hilang. Karena penyakit ini dapat menular melalui kontak seksual.
Terapi farmakologis yang diberikan adalah asam trikloroasetat 25% yang
dioleskan pada benjolan 1 kali seminggu sampai benjolan hilang. Dan pemberian
SF sebagai tablet tambah darah dalam kehamilan juga perlu diberikan 1 x 1 tablet.
Untuk prognosis penyakit ini perlu dipertimbangkan untuk dilakukan terapi bedah
ataupun elektrokauter pada saat setelah kehamilan. Untuk proses kelahirannya
mungkin saja dapat mengganggu, di mana pada bayi yang dilahirkan mungkin
juga dapat terinfeksi HPV.

DAFTAR PUSTAKA

20

Budimulja U. Kondiloma akuminata dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.


Siregar. Kondiloma akuminata dalam Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. EGC.

Jakarta. 2004.
Standring S, Ellis H, Healy JC, Johnson D, Williams A, et al. Grays
Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice. 39th Edition. [textbook

of Anatomy]. Elsevier Churchill Livingstone: 2008.


Amir Syarif dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit

FKUI.
Katzung BG. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: EGC. 1997.

Sabiston. 1994. Buku Ajar Bedah, Bagian 2. Jakarta: EGC.

Lampiran

21

22