Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

KARSINOMA ENDOMETRIUM

OLEH :
Berland P.E. Candra, S.ked

PEMBIMBING
dr. Laurens Paulus, Sp.OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITRAAN KLINIK


SMF/BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FK UNDANA- RSUD PROF W.Z. JOHANNES
KUPANG 2015

Lembar Pengesahan

REFERAT
Karsinoma Endometrium

Diajukan Untuk Melengkapi


Persyaratan Pendidikan Dokter di Bagian Obstetri dan Ginekologi
FK UNDANA

Diperiksa dan Disetujui


Kupang,

April 2015

Pembimbing

dr. Laurens Paulus, Sp.OG

Daftar Isi

Lembar Pengesahan ...........................................................................................1


Daftar Isi .............................................................................................................2
Daftar Tabel .......................................................................................................3
Daftar Gambar ....................................................................................................4
BAB 1 Pendahuluan ..........................................................................................5
1.1 Latar Belakang .............................................................................................5
BAB 2 Tinjauan Pustaka .................................................................................7
2.1 Definisi .........................................................................................................7
2.2 insidensi .......................................................................................................7
2.3 Etiologi .........................................................................................................8
2.4 Faktor Resiko ...............................................................................................8
2.5 Gejala dan tanda ...........................................................................................9
2.6 Diagnosis ......................................................................................................11
2.7 Terapi ...........................................................................................................16
2.8 Pengamatan Lanjut .......................................................................................18
2.9 residif dan penanganannya ...........................................................................20
BAB 3 Penutup .................................................................................................21
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................21
Daftar Pustaka ....................................................................................................22

Daftar Tabel

Tabel 2.1 Klasifikasi Histologik Kanker Endometrium .....................................13


Tabel 2.2 Pembagian Stadium FIGO 2009 ........................................................14
Tabel 2.3 Kriteria Histopatologik untuk menentukan grade FIGO ...................16

Daftar Gambar
Gambar 2.1 Pembagian stadium karsinoma endometrium FIGO 2009 ............... 15

BAB 1
Pendahuluan

1. Latar belakang
Endometrium adalah lapisan dari uterus (rahim). Endometrium ini
berperan penting dalam berbagai perubahan klinis terutama pada masa
subur wanita. Mayoritas keganasan yang muncul pada badan uterus adalah
kanker endometrium, terutama adenokarsinoma yang angka kejadiannya
70-75% dari kasus karsinoma endometrium. Karsinoma endometrium
adalah keganasan yang berasal dari sel-sel epitel yang melapisi rongga
rahim. (1,3)
Saat ini karsinoma endometrium sering ditemukan pada keganasan
ginekologi, karsinoma endometrium menduduki peringkat keenam
penyebab kematian dari keganasan pada wanita. Di Indonesia kanker
endometrium menduduki peringkat ketiga kanker genitalia setelah kanker
serviks (leher rahim) dan ovarium. Secara keseluruhan kira-kira 2-3%
wanita akan mengalami karsinoma endometrium selama hidupnya.(1)
Karsinoma endometrium sering memberikan gejala pada stadium
awal, sehingga seharusnya penyakit ini dapat didiagnosis lebih awal. Ratarata angka rata-rata harapan hidup 5 tahunnya (membandingkan angka ratarata harapan hidup pada penderita kanker dan pasien non kanker pada usia
yang sama ) relatif tinggi di negara maju, seperti di Amerika dapat mencapai
69%, meskipun di negara berkembang lebih rendah dibanding di negara
maju. Angka kejadian kanker dan rata-rata harapan hidupnya saat ini didata
pada register kanker yang sudah banyak dibentuk pada berbagai negara,
namun belum semua kasus terdata. Sebagai contoh pada negara-negara
berkembang, yang masih kurang kesadaran masyarakat untuk menghubungi

pihak medis, serta tindakan pelayanan deteksi dini kanker yang belum
sepenuhnya berjalan pada negara berkembang.(1,3)
Peningkatan angka kejadian karsinoma endometrium berhubungan
dengan meningkatnya status kesehatan sehingga usia harapan hidup kaum
wanita semakin tinggi yang mengakibatkan jumlah wanita yang berusia
lanjut semakin banyak diiringi dengan terapi hormon pengganti untuk
mengatasi gejala-gejala menopausenya.(1,2)

BAB 2
Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi
Karsinoma endometrium adalah tumor ganas yang muncul dari sel-sel epitel
primer lapisan endometrium. Umumnya dengan differensiasi grandular dan
berpotensi mengenai miometrium dan menyebar jauh. 75% tumor ganas
endometrium adalah adenokarsinoma, sisanya ialah karsinoma epidermoid atau
karsinoma tipe sel squamous (5-10%), adenoakantoma dan adenosquamous(30%),
sarkoma uterin (1-5%).(2,9)
Secara biologis dan histologis, karsinoma endometrium adalah jenis
neoplasma yang memiliki dua model pathogenesis. Karsinoma endometrium tipe 1
yang estrogen dependent dan mempunyai prognosis lebih baik, dan karsinoma
endometrium tipe 2 non- estrogen dependent yang lebih agresif dan berprognosis
lebih buruk.(3)

2.2 Insidensi
Karsinoma endometrium adalah kejadian keganasan tertinggi keenam yang
paling sering terjadi yang terjadi pada wanita di seluruh dunia. Dari 290.000 kasus
baru yang dilaporkan pada 2008, terhitung 5 % dari semua kasus keganasan baru
pada wanita. Penyakit ini paling banyak terjadi di negara maju seperti Amerika,
negara-negara di Eropa tengah dan Eropa timur dan insiden lebih rendah di Afrika
timur. Tingkat kejadian karsinoma endometrium seiring pertambahan usia juga
meningkat di negara-negara berkembang.(3)
Di seluruh dunia, angka kejadian karsinoma endometrium seiring
pertambahan usia berkisar antara 15 per 100.000 wanita (di daerah Amerika dan
sebagian Eropa) sampai kurang dari 5 per 100.000 wanita (di daerah Afrika dan

Asia). Resiko karsinoma endometrium meningkat seiring usia, dimana kebanyakan


kasus terdiagnosa setelah menopause. (1,3)
Di Indonesia, sebuah penelitian tahun 2005 mendapatkan prevalensi kanker
endometrium di Jakarta mencapai 7,2 kasus per tahun. Usia penderita yang
cenderung lebih muda pada penelitian tersebut jika dibandingkan dengan penderita
di negara-negara barat dan eropa (berusia>50 tahun terbanyak), kemungkinan
disebabkan di indonesia pengguanaan TSH masih sangat jarang. Pemakaian TSH
menyebabkan tingginya jumlah penderita kanker ini di negara Barat dan Eropa di
era tahun 70-an.(2)

2.3 Etiologi
Kebanyakan kasus karsinoma endometrium (80%) dihubungkan dengan
endometrium terpapar stimulasi estrogen secara kronis (hormonal) dari sumber
endogen dan eksogen lain. Kanker yang dihubungkan dengan estrogen (estrogen
dependent ) ini cenderung untuk mengalami hiperplasia dan berdiferensiasi lebih
baik, dan secara umum punya prognosis baik. Sementara itu, tipe kanker
endometrium yang tidak bergantung pada estrogen (non estrogen dependent)
berkembang dengan non hiperplasia dan berdiferensiasi jelek dan lebih agresif.
Banyak kasus karsinoma endometrium yang dilaporkan pada wanita tanpa faktor
resiko yang sudah diketahui seperti mereka dengan gangguan hormonal. Beberapa
studi menunjukan bahwa sindroma ovarium polikistik dan resistensi insulin yang
merupakan komponen dari sindrom metabolik, dapat berperan dalam pathogenesis
karsinoma endometrium. (1,2,3)

2.4 Faktor resiko


Kebanyakan penelitian menyimpulkan bahwa nulipara mempunyai resiko
tiga kali lebih besar menderita kanker endometrium dibanding multipara. Berbeda
dengan kanker payudara, usia pertama melahirkan tidak memperlihatkan adanya

hubungan terhadap terjadinya kanker ini walaupun masa laktasi yang panjang dapat
berperan sebagai proteksi.(2)
Hipotesis bahwa infertilitas menjadi faktor resiko untuk kanker
endometrium didukung oleh penelitian- penelitian yang menunjukkan resiko yang
lebih

tinggi

untuk

nulipara

dibanding

wanita

yang

tidak

pernah

menikah.Perubahan-perubahan biologis yang berhubungan dengan infertilitas


dihubungkan dengan resiko kanker endometrium adalah siklus anovulasi (terekspos
estrogen yang lama tanpa progesteron yang cukup), kadar androstenodion serum
yang tinggi

(kelebihan androstenodion dikonversi menjadi estrone), tidak

mengelupasnya lapisan endometrium setiap bulan dan efek dari kadar estrogen
bebas dalam serum rendah pada nulipara. (2,3)
Usia menarche dini (<12 tahun) berhubungan dengan meningkatnya faktor
resiko kanker endometrium walaupun tidak selalu konsisten. Kebanyakan
penelitian juga menunjukkan usia saat menopause mempunyai hubungan langsung
terhadap resiko meningkatnya kanker ini. sekitar 70% dari semua wanita yang
didiagnosis kanker endometrium adalah pascamenopause.(2)
Selain yang disebutkan diatas, faktor-faktor resiko yang masih terus diteliti
mempunyai hubungan erat dengan kanker ini adalah obesitas, diabetes melitus,
hipertensi, asupan gula, kopi, merokok, penggunaan tamoxifen, dan kebiasaan
(aktivitas fisik,waktu duduk atau berbaring). Resiko karsinoma karena obesitas
dihubungkan dengan kecenderungan peningkatan kadar estrogen yang terjdai
akibat perubahan jaringan lemak oleh hormon androgen menjadi estrogen.
Sedangkan asupan gula yang tinggi berujung pada kondisi hiperinsulinemia, yang
meningkatkan bioavabilitas IGF-1 (insulin- like growth factor-1) sehingga
menstimulasi pertumbuhan sel. Asupan gula dan diabetes juga meningkatkan resiko
karsinoma endometrium dengan meningkatkan stres oxidatif. (3)
Penyakit- penyakit yang diteliti memiliki resiko langsung menjadi
karsinoma endometrium adalah sindroma polikistik ovarium dan adanya tumor
ovarium, dimana keduanya memiliki dampak menimbulkan ketidakseimbangan

hormon, peningkatan produksi estrogen yang akhirnya mengarah pada karsinoma


endometrium. Selain penyakit, penggunaan obat tamoxifen untuk penatalaksanaan
kanker payudara memiliki pengaruh lain pada jaringan uterus. Pada jaringan uterus,
obat ini bertindak seperti estrogen, sehingga bagi wanita yang telah menopause,
pengaruhnya dapat membuat pertumbuhan lapisan endometrium secara berlebihan,
namun resikonya masih rendah (kurang dari 1% kasus). (5)

2.5 Gejala dan tanda


Diagnosis dini dari karsinoma endometrium hampir sepenuhnya bergantung
pada pengetahuan dan kesadaran pasien akan adanya perdarahan pervaginam yang
tidak teratur. Sebagian besar keluhan utama yang diderita pasien kanker
endometrium adalah perdarahan abnormal pascamenopause bagi pasien yang telah
menopause dan perdarahan intermenstruasi bagi pasien yang belum menopause.
Seorang klinisi harus mengevaluasi dengan teliti adanya perdarahan saat menstruasi
yang berlebihan atau bercak darah. Karena beberapa kelainan atau tumor jinak juga
memberikan gejala serupa. Selain itu keluahan yang dapat menyertai adalah :
-

Keluhan keluar sekret putih atau merah muda dari vagina

Keluhan nyeri perut bawah atau panggul yang menetap 2 minggu atau lebih

Nyeri saat berhubungan sex

Sayangnya, kebanyakan pasien tidak langsung mendatangi tenaga medis saat


sampai terjadi perdarahan berbulan-bulan, tahun, atau perdarahan yang berlebihan
dan irregular. Pasien dengan tipe Papillary serous tumour atau clear cell tumour
sering datang dengan gejala dan tanda yang mengindikasikan karsinoma epitel
ovarium yang sudah memberat. Tipe papillary serous tumour dan clear cell tumour
adalah termasuk karsinoma endometrium tipe 2 yang berkembang agresif dan
memiliki prognostik cenderung lebih buruk. Tipe papillary serous tumour
(insidensinya 5-10% dari seluruh kasus) adalah jenis yang tumbuh dari sel
endometrium yang atrhropi ( biasanya dari wanita lansia) yang memiliki tipikal
histologik pertumbuhan selnya lebih tidak beraturan, adanya keratinisasi dengan

10

inti yang atipik. Karsinoma endometrium tipe 2 yang mayor lainnya adalah clear
cell tumour

dengan insiden lebih rendah ( <5%). Secara mikroskopik,

penampakannya lebih predominan solid, kistik dan tubular atau dapat bercampur
(mixed) dari dua atau lebih bentuk ini.(3,4)

2.6 Diagnosis
Untuk mengevaluasi perdarahan intrauterine abnormal, diagnosis dilakukan
dengan biopsi endometrium. Namun, pada pasien yang tidak dapat dilakukan biopsi
endometrium karena stenosis servikal atau gejala tetap bertahan walaupun hasil
biopsi normal, maka dapat dilakukan dilatasi dan kuretase dengan anastesi.
Prosedur dilatasi dan kuretase sampai saat ini merupakan baku emas untuk
diagnosis kanker endometrium.(2)
Melalui pemeriksaan mikroskopik biopsi endometrium dan kuret
endoserviks biasanya

dapat

ditegakkan

diagnosis

adenokarsinoma jenis

endometrioid atau musinous, tapi jarang dapat dihubungkan dengan lesi awal
berupa adenokarsinoma serviks insitu atau hiperplasia atipik pada endometrium.
Terlebih lagi gambaran histologik kanker endometrium sering tumpang tindih atau
terkontaminasi dengan sel-sel endoserviks. Padahal, darimana pertumbuhan tumor
berasal, apakah dari endometrium atau endoserviks mempengaruhi pilihan terapi
jenis pembedahan dan pascapembedahan) yang akan dilakukan. Penelitian terakhir
di Jakarta menyatakan bahwa pemeriksaan kimia dengan vimentin dapat membantu
membedakan kanker endometrium dan kanker endoserviks, khususnya pada
gambaran histologi tumpang tindih dengan sensitivitas (93,7%) dan spesifitas
(94,4%) yang cukup tinggi.(2,3)
Penggunaan histeroskopi untuk deteksi dini (prosedur diagnostik dengan
melihat langsung kedalam uterus dengan histeroskop yang biasanya dilakukan
bersamaan dengan dilatasi dan kuretase) memiliki sensitifitas dan spesifitas yang
tinggi dalam mendiagnosis dan mengevaluasi uterus jika dicurigai ada lesi awal
karsinoma endometrium. Pada penelitian Yela (2009) menunjukan hasil sensitifitas

11

96,5% dan spesifitas 93,6% bagi histeroskopi dalam mengenali lesi intra uterin pada
pasien menopause dengan perdarahan pervaginam, termasuk lesi awal karsinoma
endometrium.(7)
Satu-satunya tumor marker klinis yang berguna dalam penatalaksanaan
kanker endometrium adalah jumlah serum CA-125. Secara langsung, peningkatan
jumlah serum ini menunjukan progresivitas penyakitnya (sensitivitas 63% dan
spesifitas 88% pada level cuttoff 35 U/mL). Dalam aplikasinya, pada pasien tingkat
lanjut, serum ini dapat membantu mengevaluasi respon terhadap terapi selama
dalam penanganan. Namun, meskipun evaluasi serum ini cukup bermakna,
biasanya penemuan klinis lain masih terbatas.(3,10)
Penggunaan radiologi pada karsinoma endometrium juga masih terbatas.
Secara umum, pada wanita dengan karsinoma endometrium tipe 1 yang
progresifitasnya lebih baik, foto thoraks adalah satu-satunya evaluasi radiologis
yang dibutuhkan dalam diagnosa preoperativ. Visualisasi menggunakan Computed
tomography (CT) atau Magnetic Resonance (MR) biasanya tidak banyak
dibutuhkan. Namun dalam beberapa kasus, MRI dapat membantu membedakan
karsinoma endometrium dan perluasan dari karsinoma serviks primer. Penelitian
Yela (2009) menunjukan penggunaan USG transvaginal juga memiliki hasil yang
memuaskan dalam diagnostik kelainan uterus. USG transvaginal dapat mendeteksi
lesi pada endometrium dengan ketebalan lebih dari 4-5cm sehingga sangat akurat
dalam mendeteksi polip, mioma, hiperplasia ataupun karsinoma endometrium.

(2,7)

Histologi
Umumnya (70-75% kasus) tipe histologik kanker endometrium adalah
endometrial/endometrioid adenokarsinoma, yaitu karsinoma yang berasal dari
jaringan kelenjar atau karsinoma yang memiliki karakteristik sel-sel tumornya
membentuk struktur seperti kelenjar sehingga membedakan dengan jaringan
endometrium normal. Adanya karsinoma tipe endometrium tipe ini biasanya
dihubungkan dengan tumor grade rendah dan invasi ke miometrium yang kurang
masiv. Namun, ketika komponen kelenjar berkurang dan diganti dengan jaringan

12

solid dan sel berlapis, tumor ini akan diklasifikasi sebagai grade yang tinggi,
sebagai tambahan, endometrium yang atropi biasanya lebih dihubungkan dengan
lesi pre-kanker grade tinggi yang umumnya bermetastase.(3) Empat varian dari tipe
endometrioid dan tipe histologis lainnya dapat dilihat dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1
Klasifikasi histologik kanker endometrium oleh The International Society of
Gynecologic Pathologist (3,4)
1 Endometrioid (75%) (secretory, ciliated, papillary or
villoglandular)
2 Adenocarcinoma with squamous differentiation.
3 Adenoacanthoma (benign squamous component)
4 Adenosquamous (malignant squamous component)
5 Uterine papillary serous (5%10%)
6 Clear cell (1%5%)
7 Malignant mixed Mullerian tumours or carcinosarcomas
(12%)
8 Uterine sarcomas (leiomyosarcoma, endometrial stromal
sarcoma, undifferentiated) (3%)
9 Mucinous (1%)
10 Undifferentiated.
Sumber : Endometrial Cancer. :ESMO Clinical Practice Guidelines for diagnosis, treatment and
follow up. http://annonc.oxfordjournals.org/.

Berdasarkan histopathologinya, terdapat 2 jenis kanker endometrium, yaitu


adenokarsinoma endometrium tipe 1 dengan karakteristik berdiferensiasi baik dan
invasi secara superfisial. Tipe ini sensitif terhadap progesteron dan penderita
cenderung memiliki prognosis yang baik. Adenokarsinoma endometrium tipe 2
berdiferensiasi dengan buruk atau bertipe histologik yang agresif (clear cell,
papillary serous) dan berinvasi ke miometrium. Prognosis penderita tipe ini kurang
baik dan memiliki survival rate yang lebih rendah dibanding penderita tipe 1. Selain
itu pada beberapa jenis adenokarsinoma endometrium tipe 2 ditemukan
peningkatan molekul-molekul yang umumnya ditemukan pada tipe 1, ini
mengindikasikan bahwa adenokarsinoma endometrium tipe 2 dapat terjadi sebagai
perburukan dari tipe 1 yang telah ada sebelumnya. (4)

13

Stadium
Pada literatur lama, terdapat 2 jenis stadium pada kanker endometrium,
yaitu stadium klinis dan stadium surgikal. Stadium klinik bertujuan untuk
menentukan jenis terapi yang akan diberikan, sedangkan stadium surgikal bertujuan
untuk menentukan terapi adjuvannya.(2,4)
Kini penentuan stadium telah bergeser dari stadium klinik ke stadium
surgikal/operasi. Akan tetapi stadium klinik masih dipergunakan bila penderita
dipertimbangkan tidak dapat menjalani proses pembedahan. Pembagian stadium
menurut FIGO (the International Federation of Gynecology and Obstetric) 2009
terlampir dalam tabel 2.2.
Tabel 2.2 Pembagian Stadium FIGO 2009 (4)

Sumber : Endometrial Cancer. :ESMO Clinical Practice Guidelines for diagnosis, treatment and
follow up. http://annonc.oxfordjournals.org/

14

Penilaian FIGO secara pathologis meliputi(3) :


-

Kedalaman invasi ke miometrium (ratio invasi dan total ketebalan


miometrium.

Keterlibatan serviks (invasi stroma/glandular)

Ukuran tumor dan lokasi ( fundus, segmen bawah rahim, atau serviks)

Meluasnya tumor ke tuba fallopi dan ovarium.

Grade tumor dan tipe histologis sel

Invasi ke kelenjar lmfe dan pembuluh darah /Lymphovascular space


invasion (LVSI)

Status kelenjar limfe. Tingkat insidensi keterlibatan kelenjar limfe dalam


klasifikasi FIGO ; stage IA :5%, IB :10%, IC; 15%, II: 20%, III : 55%.

Gambar 2.1 Gambaran Pembagian stadium karsinoma endometrium FIGO 2009(3)

Sumber : Williams Gynecology. Second Edition. McGraw-Hill Companies.Inc. United States. 2008

15

Grade
Pada grade 1 lesi minimal dengan kecenderungan belum menyebar keluar
uterus, tumor grade 2 memiliki prognosis sedang / intermediet, dan grade 3 identik
dengan meningkatnya potensi invasi dalam miometrium serta metastase nodular ke
jaringan luar. Metastase kgb pelvis dan para aorta meningkat dengan meningkatnya
grade. Pembagian karsinoma endometrium dalam grade yang paling umum
digunakan di seluruh dunia adalah berdasarkan FIGO.(4)

Tabel 2.3 Kriteria Histopatologik untuk menentukan grade FIGO(3)


Grade
1

Defenition
5 % of a non squamous or nonmorular solid growth
pattern

6-50 % of a non squamous or nonmorular solid growth


pattern

>50% of a non squamous or nonmorular solid growth


pattern

Sumber : Williams Gynecology. Second Edition. McGraw-Hill Companies.Inc. United States. 2008

Untuk menentukan stadium surgikal kanker uterus, dua faktor prognosisgrade dan kedalaman invasi miometrium harus dicantumkan dalam penulisannya.

2.7 Terapi
Radiasi atau histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis merupakan
pilihan terapi untuk adenokarsinoma endoserviks yang masih terlokalisasi,
sedangkan staging surgikal (surgical staging) yang meliputi histerktomi simpel dan
pengambilan contoh kelenjar getah bening para aorta adalah penatalaksanaan

16

umum adenokarsinoma endometrium. Staging surgikal dengan bantuan laparoskopi


untuk kanker endometrium stadium 1 telah banyak dilaporkan, yaitu meliputi
histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi disertai limpadenektomi kgb
pelvis dan para-aorta.(2,3)

Pembedahan
Pasien dengan karsinoma endometrium sebagian besar harus menjalani
histerektomi. Penentuan stadium surgikal meliputi insisi mediana, bilasan
peritoneum, eksplorasi metastasis, histerektomi total, salpingo ooforektomi
bilateral, limfadenektomi kelenjar getah bening pelvis dan para-aorta. Beberapa ahli
hnya melakukan sampel biopsi pada kelenjar getah bening, terutama pada yang
mengalami pembesaran.(2,6)
Pada stadium II dimana terbukti ada keterlibatan endoserviks, prosedur
pengangkatan uterus dilakukan secara radikal (histerektomi radikal). Akan tetapi,
beberapa ahli tetap melakukan histerktomi total apabila diyakini bahwa keganasan
memang berasal dari endometrium, dengan alasan lokasi kekambuhan terbanyak
pada vagina dan angka kekambuhan yang kurang dari 10%.(2,6)
Pada stadium III dan IV dapat dilakukan radiasi, dan/ atau kemoterapi.
Penanganan pasien stage III dan IV sangat bersifat individual dengan radiasi dan
kemoterapi. Pada beberapa literatur untuk stage III dan IV dengan metastase masih
menganjurkan dilakukan histerektomi paliativ dengan pengangakatan kedua tuba
dan ovarium serta eksisi metastase bila mungkin, tergantung kondisi pasien,
manfaat yang diharapkan dan keputusan tim ahli. Pembedahan dapat diikuti dengan
terapi radiasi dan kemoterapi.(2,4)
Radioterapi
Stadium I dan II yang inoperabel secara medis hanya diberi terapi radiasi,
angka ketahanan hidup 5 tahunnya menurun 20-30 % dibanding pasien dengan

17

terapi operatif dan radiasi. Pada pasien dengan resiko rendah (stadium IA grade
1atau 2) tidak memerlukan radiasi ajuvan pascaoperasi.
Radiasi ajuvan diberikan pada
-

Penderita stadium 1, apabila berusia diatas 60 tahun, grade III dan atau
invasi melebihi setengah miometrium.

Penderita stadium II A/II B, grade I,II,III

Penderita dengan stadium IIIA atau lebih diberikan terapi secara tersendiri.(2,3)

Terapi medikamentosa
Kemoterapi
a. Cisplatin dan doxorubicin adalah agen yang paling sensitif
b. Agen kemoterapi lain adalah paclitaxel, doxorubicin, dan ifosfamide.
Hormon
Tumor yang mempunyai reseptor estrogen dan progesteron akan memberikan
respon yang lebih baik terhadap terapi hormon. Pemberian progestin oral sama
efektifnya dengan pemberian intramuskular. Sepertiga pasien yang mengalami
kekambuhan memberikan respon terhadap progestin (2,3)
Dosis yang dianjurkan :
-

Depo-Provera, 400mg IM per minggu

Provera, 200 mg per oral 4 x sehari

Megastrol acetate (Megace), 800 mg per oral 4 x sehari.

2.8 Pengamatan lanjut


Untuk pasien dengan stadium I dan II, evaluasi dilakukan setiap 6 bulan
selama 3 tahun pertama dan setelah itu cukup setahun sekali. Pap smear dilakukan
setiap tahun. Tidak dibutuhkan rontgen thoraks secara rutin. Level CA-125 harus
dipantau jika saat diagnosis terdapat peningkatan.(2)

18

Untuk pasien dengan stadium III dan IV, evaluasi dilakukan lebih sering,
dengan interval 3 bulan di 2 tahun pertama, interval 6 bulan untuk 3-5 tahun
berikutnya dan selanjutnya setahun sekali. Pap smear dilakukan setiap 6 bulan. Foto
thoraks dibutuhkan setiap tahun. Level CA-125 harus dipantau jika saat diagnosis
terdapat peningkatan. (2)
Pasien karsinoma endometrium dapat dibagi

kedalam kelompok

pengobatan berdasarkan resiko kekambuhan dan prognostik penyakitnya(8).


-

Resiko rendah : karsinoma endometrium terbatas pada endometrium (stage


IA : tidak ada atau invasi <50% miometrium)

Resiko intermediet/menengah : karsinoma endometrium pada daerah


endometrium dan menginvasi miometrium >50%, termasuk pasien dengan
stage IA, IB dan sebagian pasien dengan stage II yang belum menginvasi ke
serviks.

Resiko tinggi : termasuk didalamnya pasien dengan karsinoma


endometrium yang melibatkan serviks, stage II, III, IV, dan pasien dengan
karsinoma endometrium tipe 2 yang agresiv seperti papillary serous tumour
dan clear cell tumour.
Tabel 2.4

Pembagian kelompok pengobatan berdasarkan resiko rekurensi dan prognosis

19

2.9 Residif dan penanganannya


Pada penelitian Sofian A (2005), angka bebas dari kekambuhan penderita
kanker endometrium pada tahun pertama adalah 97,8 %dan angka bebas dari
kekambuhan pada tahun kelima adalah 71,9%. Angka ini sedikit rendah
dibandingkan jika semua penderita tidak mempunyai faktor resiko derajat
diferensiasi dan invasi miometrium, dimana rata-rata bebas kekambuhan dalam 3
tahun dapat mencapai 92,7%. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ketahanan hidup
penderita cukup baik.(2)
Pilihan terapi untuk pasien residif meliputi terapi hormonal dan kemoterapi.
Terapi hormonal merupakan pilihan utama bagi pasien dengan diferensiasi baik dan
sedang.respon terapi endokrin akan maksimal pada kasus kanker endometrium
berdsiferensiasi baik, disease free interval setelah terapi utama yang panjang dan
meningkatnya konsentrasi reseptor progesteron.(4)
Kemoterapi untuk pasien kanker endometrium stadium lanjut yang residif
bersifat paliatif. Sebagian kecil penderita yang mengalami remisi komplit, responya
akan bertahan sampai beberpa tahun. Tidak ada keuntungan mengombinasikan
kemoterapi dengan terapi hormonal.(2,6)

20

BAB 3
Penutup

3.1 Kesimpulan
Karsinoma endometrium adalah salah satu jenis keganasan yang tinggi
kejadiannya, sekaligus menyumbang angka kematian besar pada peringkat
keganasan yang terjadi khususnya pada wanita. Pengenalan dan deteksi dini akan
jenis keganasan ini sangat penting untuk penentuan status keparahan dan
prognosisnya serta penentuan tatalaksana yang tepat. Survival rate penyakit ini
bergantung pada stadium dan gradenya sehingga diperlukan pemantauan lanjut oleh
tenaga medis untuk terapi lanjutan dan terapi saat terjadinya relaps atau residif.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Endometrial Cancer 2013 Report. American Institute for Cancer


Research. http://www.dietandcancerreport.org. Diakses pada 28-022015
2. Farid M. Abdul S. Onkologi ginekologi. Edisi 1. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawihardjo. Jakarta 2006
3. Barbara L, Hoffman w. Et al. Williams Gynecology. Second Edition.
McGraw-Hill Companies.Inc. United States. 2008
4. Platnois G, Castiglione M. Endometrial Cancer. :ESMO Clinical
Practice Guidelines for diagnosis, treatment and follow up. Annals of
Oncology 21 : V41-V45. 2010.
http://annonc.oxfordjournals.org/. Diakses tanggal 28-02-2015.
5. William B, Orr. J, Leitao M, Et al. Endometrial cancer: A review and
current management strategies: Part I. Gynecologic Oncologic 134
:382-385.2014. http://www.elsevier.com/locate/ygyno. Diakses tanggal
3-03-2015
6. Endometrial Cancer. CLINICAL PRACTICE GUIDELINE GYNE002. Alberta healt Service 2014. http://Albertahealthservices.ca/ diakses
tanggal 3-03-2015
7. Yela D.A, Et al. Comparative Study of Trasvaginal Ultrasound and
Outpatient Hysterecopy for Diagnosing Pathologic endometrial Lession
in Postmenopausal Women. Revised Association Medical Brass 2009 ;
55 (5).
8. William T, Marion J. Endometrial Cancer treatment protocol.
Distinguished University Professor, Department of Obstetrics and
Gynecology, Medical University of South Carolina College of
Medicine. Dalam http://emedicine.medscape.com diakses tanggal 1903-2015.
9. Stern J. Uterus : Endometrial Carcinoma. Womens Cancer Information
Center. http://www.womenscancercenter.com/info/types/uterus.html .
Diakses tanggal 19-03-2015
10. Sebastianelli A. Preoperative CA-125 Tumour marker in Endometrial
Cancer : Correlation with Advanced Stage Disease. Gynaecology.
JOGC. September 2010 : 856-860.
11. Muggia,F. Oliva E. Uterine Cancer-Screening,Diagnostik and
treatment. 2009. http://www.springer.com/978-1-58829-736-5. Diakses
tanggal 3-03-2015

22