Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dermatofitosis terdapat di seluruh dunia, terutama pada daerah tropis dan insiden meningkat
pada kelembaban udara yang tinggi. Penyakit ini masih banyak terdapat di Indonesia dan masih
merupakan salah satu penyakit rakyat.4
Angka insidensi dermatofitosis pada tahun 1998 yang tercatat melalui Rumah Sakit
Pendidikan Kedokteran di Indonesia sangat bervariasi, dimulai dari prosentase terendah sebesar
4,8 % (Surabaya) hingga prosentase tertinggi sebesar 82,6 % (Surakarta) dari seluruh kasus
dermatomikosis (Adiguna, 2001).
Di Jakarta, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Di daerah lain,
seperti Padang, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Manado, keadaanya kurang lebih sama,
yakni menempati urutan kedua sapai keempat terbanyak dibandingkan golongan penyakit
lainnya.2.,8
Dermatofitosis dapat menyerang semua umur. Dapat menyerang pria dan wanita.
Kebersihan badan dan lingkungan yang kurang sangat besar pengaruhnya terhadap
perkembangan penyakit ini.
Cara penularannya dapat langsung dari tanah, hewan dan manusia ke manusia dan secara
tidak langsung, yaitu kontak dengan benda yang sudah terkontaminasi, misalnya dari tanaman
yang terkena jamur, kateter, pakaian yang lembab, dan air.3,4,9
Namun belum ada data yang jelas mengenai jumlah penderita penyakit kulit, dalam hal ini,
dermatofitosis di wilayah Riau, khususnya kecamatan Kampar.
Dilihat dari banyaknya ditemukan kasus Dermatofitosis pada Posyandu Lansia di Desa
Limau Manis dan Desa Air Tiris RW 1 bulan November 2013 yaitu sebanyak 24% dan pada
bulan Desember tahun 2013 sebanyak 29%, maka dilakukan observasi gambaran tingkat
kebersihan individu dan lingkungan dengan terjadinya dermatofitosis.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagi berikut :
1. Bagaimana gambaran hygiene diri dengan dermatofitosis di Kecamatan Kampar?
2. Bagaimana gambaran hygiene lingkungan dengan dermatofitosis di Kecamatan Kampar?
3. Apakah jenis Dermatofitosis yang sering ditemui pada pasien Posyandu lansia di kecamatan
Kampar?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Mengetahui gambaran tingkat kebersihan diri dan lingkungan rumah pasien dengan
dermatofitosis serta mengetahui cara mencegah dan mengurangi angka kejadian
dermatofitosis.
1.3.2. Tujuan khusus
1. Mengetahui gambaran tingkat kebersihan pasien dengan dermatofitosis di Kecamatan
Kampar
2. Mengetahui gambaran tingkat kebersihan lingkungan dengan pasien dermatofitosis
Kecamatan Kampar.
3. Mengetahui jenis Dermatofitosis yang sering ditemui pada pasien Posyandu lansia di
kecamatan Kampar.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1.

Bagi peneliti

1. Menyelesaikan sebagian syarat pelaksanaan program dokter internsip di Puskesmas


Kampar
2. Menambah pengalaman dalam melaksanakan penelitian berbasis kesehatan masyarakat
3. Menambah pengetahuan dan keterampilan penyusunan laporan penelitian
4. Menambah wawasan mengenai fakta seputar rokok yang terjadi di lingkungan pelajar dan
kalangan remaja/dewasa muda
5. Meningkatkan kemampuan edukasi mengenai rokok kepada pelajar

1.4.2. Bagi ilmu pengetahuan


2

Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian diharapkan dapat bermanfaat dalam


memberikan tambahan data berupa fakta seputar penyakit kulit, khususnya dermatofitosis.
1.4.3. Bagi intansi kesehatan
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dalam penyusunan program
pencegahan dan pengurangan angka terjadinya kasus dermatofitosis dalam masyarakat.
1.4.4. Bagi masyarakat
Penelitian ini diharapkan mampu mengurangi angka terjadinya dermatofitosis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.

DEFINISI
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya

stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur dermatofita
( Budimulja, 2005 ).
Dermatofita dibagi menjadi Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton yang
menyerang epidermis bagian superfisial (stratum korneum), kuku dan rambut. (Madani, 2000).
Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Hingga kini dikenal sekitar 40
spesies dermatofita, masing-masing dua spesies Epidermophyton, 17 spesies Microsporum dan
21 spesies Trichophyton (Budimulja, 2005). Microsporum menyerang rambut dan kulit.
Trichophyton menyerang rambut, kulit dan kuku. Epidermophyton menyerang kulit dan jarang
kuku (Sutomo, 2007).
Topikal berasal dari bahasa Yunani topikos yang artinya berkaitan dengan daerah permukaan
tertentu, seperti anti infeksi topikal yang dioleskan pada daerah tertentu di kulit dan yang hanya
mempengaruhi daerah yang dioles tersebut (Dorland, 1996).
B.

ETIOLOGI
Menurut Petrus 2005 & Utama 2004 faktor yang mempengaruhi adalah udara yang lembab,

lingkungan yang padat, sosial ekonomi yang rendah, adanya sumber penularan disekitarnya,
obesitas, penyakit sistemik, penggunaan obat antibiotik, steroid, sitostatika yang tidak
terkendali.2,7
Berdasarkan sifat makro dan mikro, dermatofita dibagi menjadi: microsporum, tricopyton,
dan epidermophyton.2

1.

Microsporum
4

Kelompok dermatofita yang bersifat keratofilik, hidup pada tubuh manusia (antropofilik)
atau pada hewan (zoofilik). Merupakan bentuk aseksual dari jamur. Terdiri dari 17 spesies, dan
yang terbanyak adalah :3
SPECIES
Microsporum audouinii
Microsporum canis
Microsporum cooeki

CLASSIFICATION (NATURAL RESERVOIR)


Anthropophilic
Zoophilic (Cats and dogs)
Geophilic (also isolated from furs of cats, dogs, and

Microsporum

rodents)
Anthropophilic

ferrugineum
Microsporum gallinae
Microsporum gypseum
Microsporum nanum
Microsporum persicolor

Zoophilic (fowl)
Geophilic (also isolated from fur of rodents)
Geophilic and zoophilic (swine)
Zoophilic (vole and field mouse)

Tabel 1. Spesies Microsporum.


Koloni mikrosporum adalah glabrous, serbuk halus, seperti wool atau powder. Pertumbuhan
pada agar Sabouraud dextrose pada 25C mungkin melambat atau sedikit cepat dan diameter dari
koloni bervariasi 1- 9 cm setelah 7 hari pengeraman. Warna dari koloni bervariasi tergantung
pada jenis itu. Mungkin saja putih seperti wol halus yang masih putih atau menguning sampai
cinnamon.3,6
2. Epidermophyton
Jenis

Epidermophyton

terdiri

dari

dua

jenis;

Epidermophyton

floccosum

dan

Epidermophyton stockdaleae. E. stockdaleae dikenal sebagai non-patogenik, sedangkan E.


floccosum satu-satunya jenis yang menyebabkan infeksi pada manusia. E. floccosum adalah satu
penyebab tersering dermatofitosis pada individu tidak sehat. Menginfeksi kulit (tinea corporis,
tinea cruris, tinea pedis) dan kuku (onychomycosis). Infeksi terbatas kepada lapisan korneum
kulit luar. koloni E. floccosum tumbuh cepat dan matur dalam 10 hari. Diikuti inkubasi pada
suhu 25 C pada agar potato-dextrose, koloni kuning kecoklat-coklatan.3,6,7
3.

Tricophyton

Trichophyton adalah suatu dermatofita yang hidup di tanah, binatang atau manusia.
Berdasarkan tempat tinggal terdiri atas anthropophilic, zoophilic, dan geophilic. Trichophyton
concentricum adalah endemic pulau Pacifik, Bagian tenggara Asia, dan Amerika Pusat.
Trichophyton adalah satu penyebab infeksi pada rambut, kulit, dan kuku pada manusia.3
NATURAL HABITATS OF TRICHOPHYTON SPECIES
Species
Natural Reservoir
Ajelloi
Geophilic
Concentricum
Anthropophilic
Equinum
zoophilic (horse)
Erinacei
zoophilic (hedgehog)
Flavescens
geophilic (feathers)
Gloriae
Geophilic
Interdigitale
Anthropophilic
Megnini
Anthropophilic
Mentagrophytes
zoophilic (rodents, rabbit) /
Phaseoliforme
Rubrum
Simii
Tonsurans
Vanbreuseghemii
Verrucosum

anthropophilic
Geophilic
Anthropophilic
zoophilic (monkey, fowl)
Anthropophilic
Geophilic
zoophilic (cattle, horse)

Tabel 2. Spesies Trichophyton.


C.

PENYEBAB
Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat ditemukan

hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang terjadi di berbagai
rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak
menggambarkan populasi umum. Menurut Rippon tahun 1974 ada 37 spesies dermatofita yang
menyebabkan penyakit di dunia.1,3
Frekuensi infeksi pada spesies tertentu antara lain:3,4
1. Sekitar 58% dermatofita yang terisolasi adalah Trichophyton rubrum
2. 27% Trichophyton mentagrophytes
3. 7% Trichophyton verrucosum

4. 3% Trichophyton tonsurans
5. Kecil dari 1 % yang terisolasi: Epidermophyton floccosum, Microsporum audouinii,
Microsporum canis, Microsporum equinum, Microsporum nanum, Microsporum
versicolor, Trichophyton equinum, Trichophyton kanei, Trichophyton raubitschekii, and
Trichophyton violaceum.
D.

GEJALA KLINIK
Satu jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda, tergantung letak

lokasi anatominya
Bentuk Bentuk gejala klinis Dermatofitosis
1) Tinea Kapitis
Adalah kelainan kulit pada daerah kepala rambut yang disebabkan jamur golongan
dermatofita. Disebabkan oleh species dermatofita trichophyton dan microsporum. Gambaran
klinik keluhan penderita berupa bercak pada kepala, gatal sering disertai rambut rontok ditempat
lesi. Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran klinis, pemeriksaan lampu wood dan pemeriksaan
mikroskopis dengan KOH, pada pemeriksaan mikroskopis terlihat spora diluar rambut atau
didalam rambut. Pengobatan pada anak peroral griseofulvin 10-25 mg/kg BB perhari, pada
dewasa 500 mg/hr selama 6 minggu.3,6

Gambar 1. Tinea Kapitis


2) Tinea Favosa
Adalah infeksi jamur kronis terutama oleh

Trychophiton schoen lini, Trychophithon

violaceum, dan Microsporum gypseum. Penyakit ini mirip tinea kapitis yang ditandai oleh
skutula warna kekuningan bau seperti tikus pada kulit kepala, lesi menjadi sikatrik alopecia
permanen. Gambaran klinik mulai dari gambaran ringan berupa kemerahan pada kulit kepala dan
terkenanya folikel rambut tanpa kerontokan hingga skutula dan kerontokan rambut serta lesi
menjadi lebih merah dan luas kemudian terjadi kerontokan lebih luas, kulit mengalami atropi
sembuh dengan jaringan parut permanen. Diagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis langsung,
prinsip pengobatan tinea favosa sama dengan pengobatan tinea kapitis, hygiene harus dijaga.3,6

Gambar 2. Tinea Favosa


3) Tinea Korporis
Adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus (globurus skin) di daerah muka, badan,
lengan dan glutea. Penyebab tersering adalah T. rubrum dan T. mentagropytes. Gambaran klinik
biasanya berupa lesi terdiri atas bermacam-macam efloresensi kulit, berbatas tegas dengan
konfigurasi anular, arsinar, atau polisiklik, bagian tepi lebih aktif dengan tanda peradangan yang
lebih jelas. Daerahsentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara tepi lesi meluas
sampai ke perifer. Kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi tetap meninggi dan
tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gambaran klinik dan lokalisasinya serta kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan
larutan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur. Pengobatan sistemik berupa
griseofulvin 500mg sehari selama 3-4 minggu, itrakenazol 100mg sehari selama 2 minggu, obat
topikal salep whitfield.1.2,3,6

Gambar 3. Tinea Korporis


4) Tinea Imbrikata
Adalah penyakit yang disebabkan jamur dermatofita yang memberikan gambaran khas
berupa lesi bersisik yang melingkar-lingkar dan gatal. Disebabkan oleh dermatofita T.
concentricum. Gambaran klinik dapat menyerang seluruh permukaan kulit halus, sehingga sering
digolongkan dalam tinea korporis. Lesi bermula sebagai makula eritematosa yang gatal,
kemudian timbul skuama agak tebal terletak konsensif dengan susunan seperti genting, lesi
tambah melebar tanpa meninggalkan penyembuhan dibagian tangahnya. Diagnosis berdasar
gambaran klinis yang khas berupa lesi konsentris. Pengobatan sistemik griseofulvin 500 mg
sehari selama 4 minggu, sering kambuh setelah pengobatan sehingga memerlukan pengobatan
ulang yang lebih lama, ketokonazol 200 mg sehari, obat topikal tidak begitu efektif karena
daerah yang terserang luas.1,2,3,6

Gambar 4. Tinea Imbrikata


10

5) Tinea Kruris
Adalah penyakit jamur dermatofita di daerah lipat paha, genitalia dan sekitar anus, yang
dapat meluas kebokong dan perut bagian bawah. Penyebab E. floccosum, kadang-kadang
disebabkan oleh T. rubrum. Gambaran klinik lesi simetris dilipat paha kanan dan kiri mula-mula
lesi berupa bercak eritematosa, gatal lama kelamaan meluas sehingga dapat meliputi scrotum,
pubis ditutupi skuama, kadang-kadang disertai banyak vesikel kecil-kecil. Diagnosis berdasar
gambaran klinis yang khas dan ditemukan elemen jamur pada pemeriksaan kerokan kulit dengan
mikroskopis langsung memakai larutan KOH 10-20%. Pengobatan sistemik griseofulvin 500 mg
sehari selama 3-4 minggu, ketokonazol, obat topikal salp whitefield, tolsiklat, haloprogin,
siklopiroksolamin, derivat azol dan naftifin HCL.1,2,3,6

Gambar 5. Tinea Kruris


6) Tinea Manus et Pedis
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita didaerah kilit telapak
tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki serta daerah interdigital.
Penyebab tersering T. rubrum, T. mentagrophytes, E. floccosum.1,2,8

11

Gambaran klinik ada 3 bentuk klinis yang sering dijumpai yaitu :5


1. Bentuk intertriginosa
Berupa maserasi, deskuamasi, dan erosi pada sela jari tampak warna keputihan
basah terjadi fisura terasa nyeri bila disentuh, lesi dapat meluas sampai ke kuku
dan kulitjari. Pada kaki lesi sering mulai dari sela jari III, IV dan V.7

2. Gambar 6. Tinea Manus et Pedis bentuk intertriginosa


3. Bentuk vesikular akut
Ditandai terbentuknya vesikula-vesikula dan bila terletak agak dalam dibawah
kulit sangat gatal, lokasi yang yang sering adalah telapak kaki bagian tengah
melebar serta vesikulanya memecah.7,9
4. Bentuk moccasin foot
Bentuk ini seluruh kaki dan telapak tepi sampai punggung kaki terlihat kulit
menebal dan berskuama, eritema biasanya ringan terutama terlihat pada bagian
tepi lesi. Diagnosis ditegakkan berdasar gambaran klinik dan pemeriksaan
kerokan kulit dengan larutan KOH 10-20% yang menunjukkan elemen jamur.
Pengobatan cukup topikal saja dengan obat-obat anti jamur untuk interdigital dan
vesikular selama 4-6 minggu.7,9

12

5. Gambar 7. Tinea Manus et Pedis Bentuk moccasin foot


7) Tinea unguium
Adalah kelainan kuku yang disebabkan infeksi jamur dermatofita. Penyebab tersering adalah
T. mentagrophites, T. rubrum. Gambaran klinik biasanya menyertai tinea pedis atau manus
penderita berupa kuku menjadi rusak warna menjadi suram tergantung penyebabnya, distroksi
kuku mulai dari distal, lateral, ataupun keseluruhan. Diagnosis ditegakkan berdasar gejala klinis
pada pemeriksaan kerokan kuku dengan KOH 10-20 % atau biakan untuk menemukan elemen
jamur. Pengobatan infeksi kuku memerlukan ketekunan, pengertian kerjasama dan kepercayaan
penderita dengan dokter karena pengobatan sulit dan lama. Pemberian griseofulvin 500 mg
sehari selama 3-4 bulan untuk jari tangan untuk jari kaki 9-12 bulan. Obat topical dapat diberikan
dalam bentuk losion atau crim.7,9

13

Gambar 8. Tinea unguium

BAB III
ALAT DAN METODE PENELITIAN

III.1

Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ialah Kuesioner.


III.2

Metode Penelitian

III.2.1 Tempat Penelitian

14

Penelitian ini akan dilaksanakan di Posyandu lansia Desa Limau Manis, Kampar
dan Posyandu lansia Desa Air Tiris RW 1, Kampar.
III.2.2 Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat survei deskriptif dengan rancangan cross sectional.
III.2.3 Subjek Penelitian
III.2.3.1 Subjek Penelitian
Kriteria inklusi:
a. Pasien lansia berusia di atas 50 tahun baik laki laki maupun perempuan.
b. Setuju mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent.
Kriteria Eksklusi :
Pasien lansia yang tidak berkompeten dalam menjawab pertanyaan kuesioner.
III.2.3.2

Jumlah Subjek Penelitian

Populasi penelitian ialah seluruh siswa tingkat menegah atas di Kecamatan Kampar.
Sedangkan sampel yang dibutuhkan dihitung berdasar rumus :

Dimana n ialah jumlah sampel, oleh karena interval kepercayaan yang digunakan
pada penelitian ini ialah 95%, maka diperoleh nilai z sebesar 1,96. Nilai P ialah
estimasi proporsi pasien lansia yang terkena dermatofitosis pada penelitian ini
diperkirakan sebesar 0,5 dan batas kesalahan (nilai d) yang ditoleransi pada
penelitian ini ialah sebesar 15% sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak
38 pasien. Pada penelitian ini berhasil dikumpulkan kuesioner dari 40 pasien lansia.
III.2.4 Variabel Penelitian
Variabel Bebas

Variabel Terikat

Faktor Fisik
Usia
Jenis Kelamin

15

Pasien posyandu lansia Desa Limau


Manis dan Desa Air Tiris RW 1,
Kampar
dengan
Penyakit
Dermatofitosis
Faktor Pendidikan

16

Faktor hygiene diri


Kebiasaan mandi 2x/ hari
Kebiasaan mandi dengan
sabun
Kebiasaan bertukar
pakaian dengan orang lain
Kebiasaan mengganti
pakaian minimal 1x/ hari
Kebiasaan menggunting
kuku minimal 1x/ minggu
Kebiasaan mencuci
rambut minimal 2x /
minggu
Kebiasaan mencuci
rambut dengan shampo
Kebiasaan mencuci tangan
setelah bekerja
Kebiasaan menggunakan
sarung tangan saat bekerja
Kebiasaan menggunakan
alas kaki saat bekerja
Faktor hygiene lingkungan
Type rumah
Ventilasi rumah
Hewan peliharaan / hewan
di pekarangan rumah
keluarga

Gambar 9. Variabel Penelitian

III.2.5 Pengukuran Hasil Penelitian


Pengukuran dilakukan sesudah selesai pengisian kuesioner berupa data primer, lalu
dilakukan manajemen data dengan tahapan sebagai berikut :
III.2.5.1

Editing

Tahap ini meliputi penyuntingan data untuk memeriksa dan memastikan data yang
terkumpul sudah benar dan dapat terbaca
III.2.5.2

Coding
17

Pada tahap ini dilakukan klasifikasi dan pemberin kode pada setiap jawaban
dalam bentuk angka sehingg mempermudah dan mempercepat entry serta analisa
data
III.2.5.3

Entry

Pada tahap ini dilakukan pemasukan semua data yang sudah dilakukan pengodean
ke dalam aplikasi SPSS versi 17.01
III.2.5.4

Cleaning

Tahap terakhir dari proses manajemen data sebelum dapat dianalisis ialah
pengecekan kembali data yang terkumpul apakah sudah lengkap atau terjadi
kesalahan dalam pengisian.
III.2.6 Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, data tersebut dianalisis mengunakan uji statitika
univariat menggunakan cross tabulasi.

III.3

Alur Penelitian
Populasi Penelitian
Randomisasi
Pengisian Kuesioner

Analisis data
18

Gambar 10. Bagan Alur Penelitian


III.4

Jadwal Kegiatan Penelitian


Kegiatan

Tahun 2013 2014

1. Persiapan
a. Studi literatur
b. Perizinan
c. Konsolidasi lapangan
d. Penyiapan alat

Des
Jan
----------------------------------------------

Feb

----------------------

2. Pelaksanaan
Pengumpulan data
3. Pelaporan
a. Analisis data
b. Laporan hasil
c. Seminar

---------Tabel 3. Jadwal Kegiatan Penelitian

BAB IV
HASIL PENELITIAN
IV.1 . Karakteristik Dasar Responden
Berdasar hasil yang tampak pada tabel di bawah, dari 40 pasien lansia yang mengisi
kuesioner, sebanyak 18 orang (45%) nya menderita atau pernah menderita dermatofitosis
dalam dua bulan terakhir dan 22 orang (55%) lainnya tidak pernah menderita
dermatofitosis sama sekali.
Usia rerata responden yang menderita dermatofitosis maupun yang tidak,

tidak

ditemukan adanya perbedaan yang bermakna. Kedua kelompok memiliki responden

19

dengan rerata usia berturut turut 61.6 7.7 dan 65.4 8.1 tahun. Dari karakteristik
responden berdasarkan jenis kelaminnya, memperlihatkan adanya perbedaan yang tidak
bermakna oleh karena jumlah pasien lansia laki laki yang dating ke posyandu lansia tidak
seimbang dengan jumlah pasien lansia wanita. Jumlah responden laki laki sebanyak 7
orang (17.5%) dan sisanya berjenis kelamin wanita dengan jumlah responden sebanyak 33
orang (82.5%).

Rerata SB
Variabel

Dermatofitosis
n = 18

Jumlah (%)

Tidak
Dermatofi
tosis

Dermatofitosis
n = 18

Tidak
Dermatofitosis
n = 22

n = 22
Usia
(tahun)
Jenis
Kelamin
Pria
Wanita

61.6 7.7

65.4 8.1

5
(27.8%)
2 (9.1%)
13
20 (90.9%)
(72.2%)
Tabel 4. Karakteristik Dasar Responden

IV.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kasus Dermatofitosis


IV.2.1. Pendidikan
Jumlah (%)
n = 40
Variabel

Dermatofitosis
n = 18 (45%)

Tidak
Dermatofitosis
n = 22 (55%)

Pendidikan
Tidak tamat SD
1 (5.6%)
1 (4.5%)
Tamat SD
5 (27.8%)
8 (36.4%)
Tamat SMP
9 (50.0%)
9 (40.9%)
Tamat SMA
3 (16.7%)
4 (18.2%)
Tamat
Perguruan
0(00.0%)
0 (00.0%)
Tinggi
Tabel 5. Karakteristik pendidikan
Berdasarkan dari Tabel. Menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden tidak
memperlihatkan perbedaan yang bermakna dalam kejadian Dermatofitosis. Dari 2 responden
20

yang tidak tamat SD, terdapat 1 responden (5.6%) yang terkena Dermatofitosis. Dari 13
responden yang tamat SD, terdapat 5 responden (27.8%) yang terkena Dermatofitosis. Dari
18 responden yang tamat SMP, terdapat 9 responden (50.0%) yang terkena Dermatofitosis.
Dari 7 responden yang tamat SMA, terdapat 3 responden (16.7%) yang terkena
Dermatofitosis.
IV.2.2. Hygiene Diri
Dari literatur, dipaparkan bahwa salah satu etiologi Dermatofitosis adalah hygiene diri.
Mulai dari kebiasaan mandi dalam sehari, mencuci rambut, menggunting kuku, kebiasaan
berganti pakaian, dan kebiasaan perlindungan diri saat bekerja.
Dapat dilihat dari Tabel. , dari ciri kebiasaan mandi didapatkan responden yang mandi
kurang dari dua kali per hari ada 15 responden (83.3%) dari 17 responden. Terdapat 2
responden (11.1%) dari 5 responden dengan kebiasaan suka menggunakan pakaian orang
lain. Terdapat 1 responden (5.6%) yang terkena Dermatofitosis pada responden yang tidak
memiliki kebiasaan mengganti baju satu kali per hari. Terdapat 15 responden (83.3%) dari
27 responden dengan kebiasaan menggunting kuku lebih dari satu kali per minggu yang
terkena dermatofitosis. Sebanyak 11 responden (61.1%) dari 13 responden dengan keadaan
kuku panjang dan tidak bersih yang terkena dermatofitosis. Terdapat 6 responden (33.3%)
dari 7 responden yang tidak memiliki kebiasaan mencuci tangan setelah bekerja yang
terkena Dermatofitosis. Terdapat 6 responden (33.3%) dari 9 responden yang memiliki
kebiasaan tidak menggunakan alas kaki saat bekerja yang terkena Dermatofitosis. Dalam hal
ini hampir keseluruhan responden bekerja sebagai petani atau bekerja di lading.
Jumlah (%)
n = 40
Variabel
Kebiasaan mandi
2x / hari
< 2x / hari
Kebiasaan
mandi
dengan sabun
Ya
Tidak
Kebiasaan
menggunakan
pakaian orang lain
Ya

Dermatofitosis
n = 18 (45%)

Tidak
dermatofitosis
n = 22 (55%)

3 (16.7%)
15 (83.3%)

17 (77.3%)
5 (22.7%)

18 (100%)
0 (00.0%)

22 (100%)
0 (00.0%)

2 (11.1%)

3 (13.6%)

21

Tidak
Kebiasaan
mengganti pakaian
minimal 1x/hari
Ya
Tidak
Kebiasaan
menggunting kuku
minimal 1x/hari
< 1x/minggu
>1x/minggu
Kuku pendek dan
bersih
Ya
Tidak
Kebiasaan mencuci
tangan
setelah
bekerja
Ya
Tidak
Kebiasaan mencuci
rambut
Min 2x/minggu
<2x/minggu
Kebiasaan mencuci
rambut
dengan
shampoo
Ya
Tidak
Kebiasaan
menggunakan
sarung tangan saat
bekerja
Ya
Tidak
Kebiasaan
menggunakan alas
kaki saat bekerja
Ya
Tidak

16 (88.9%)

19 (86.4%)

17 (94.4%)
1 (5.6%)

22 (100.0%)
0 (00.0%)

3 (16.7%)
15 (83.3%)

11 (50.0%)
11 (50.0%)

7 (38.9%)
11 (61.1%)

20 (90.9%)
2 (9.1%)

12 (66.7%)
6 (33.3%)

21 (95.5%)
1 (4.5%)

4 (22.2%)
14 (77.8%)

14 (63.6%)
8 (36.4%)

18 (100.0%)
0 (00.0%)

22 (100.0%)
0 (00.0%)

0 (00.0%)
18 (100.0%)

0 (00.0%)
22 (100.0%)

12 (66.7%)
19 (86.4%)
6 (33.3%)
3(13.6%)
Tabel 6. Faktor Hygiene diri
IV.2.3. Hygiene Lingkungan
Dari sumber yang peneliti baca, selain hygiene diri, hygiene lingkungan juga
mempengaruhi terjadinya kejadian Dermatofitosis. Terdapat 2 responden (11.1%) dari 4
responden yang tinggal di rumah semi permanen yaitu dimana rumah sebagian dari
tembok dan sebagian dari papan dengan lantai semen yang terkena Dermatofitosis.
22

Hewan peliharaan seperti anjing, kucing, sapi, burung, dan lainnya dapat menjadi
perantara dalam kasus Dermatofitosis. Terdapat 4 responden (22.2%) yang terkena
Dermatofitosis dimana mereka memelihara hewan di sekitar rumah mereka.

Jumlah (%)
n = 40
Variabel

Dermatofitosis
n = 18 (45%)

Tidak
dermatofitosis
n = 22 (55%)

Type rumah
Permanen
16 (88.9%)
20 (90.9%)
Semi permanen
2 (11.1%)
2 (9.1%)
Tidak permanen
0 (00.0%)
0 (00.0%)
Ventilasi rumah
Cukup memadai
18 (100%)
22 (100%)
Tidak cukup memadai
0 (00.0%)
0 (00.0%)
Hewan peliharaan /
di sekitar rumah
Ya
4 (22.2%)
3 (13.6%)
Tidak
14 (77.8%)
19 (86.4%)
Tabel 7. Faktor hygiene lingkungan
IV.5. Frekuensi Terjadinya Kasus Dermatofitosis
Di lihat dari Tabel. ,terlihat frekuensi Dermatofitosis yang paling banyak di
temui pada Posyandu lansia di Desa Limau Manis dan Desan Air Tiris adalah Tinea
cruris.

Variabel

Jumlah (%)
n = 40
Tidak
Dermatofitosis
dermatofitosis
n = 18 (45%)
n = 22 (55%)

Jenis
dermatofitosis
0 (00.0%)
22 (100.0%)
Tinea capitis
2 (11.1%)
0 (00.0%)
Tinea corporis
10 (55.6%)
0 (00.0%)
Tinea cruris
4 (22.2%)
0 (00.0%)
Tinea manus et pedis
2 (11.1%)
0 (00.0%)
TInea unguium
Tabel 8. Frekuensi Kasus Dermatofitosis

23

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1.

Kesimpulan
1. Dari 40 orang yang dijadikan responden penelitian, terdapat 18 orang menderita
Dermatofitosis atau pernah menderita Dermatofitosis, dan 22 orang tidak pernah
2.

menderita Dermatofitosis.
Hygiene diri mempengaruhi terjadinya kasus Dermatofitosis. Terdapat 15 orang
responden (83.3%) dari 18 orang responden (16.7%) yang terkena Dermatofitosis yang
memiliki kebiasaan mandi kurang dari dua kali per hari. Terdapat 2 orang responden
(11.1%) dari 5 orang responden (13.6%) yang terkena Dermatofitosis yang memiliki
kebiasaan suka menggunakan pakaian orang lain. Terdapat 1 orang responden dari 40
orang responden yang terkena Dermatofitosis dengan memiliki kebiasaan tidak
mengganti pakaian minimal satu kali dalam sehari. Terdapat 15 orang responden dari
40 orang responden yang terkena Dermatofitosis dengan memiliki kebiasaan
menggunting kuku lebih dari seminggu.Terdapat 11 orang responden dari 40 orang
responden yang terkena Dermatofitosis dengan kuku yang panjang dan tidak
bersih.Terdapat 6 orang responden dari 7 orang responden yang terkena Dermatofitosis
yang memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan setelah bekerja.Terdapat 14 orang
responden dari 22 orang responden yang terkena Dermatofitosis yang memiliki
kebiasaan mencuci rambut kurang dari dua kali per minggu. Terdapat 6 orang
responden dari 9 orang responden yang terkena Dermatofitosis yang tidak
menggunakan alas kaki saat bekerja di luar rumah. Sedangkan kebiasaan mandi
24

dengan sabun, kebiasaan mencuci rambut dengan shampoo, dan kebiasaan


menggunakan sarung tangan saat bekerja tidak dapat dinilai oleh karena semua
responden mandi dengan sabun, mencuci rambut dengan shampoo, dan tidak terbiasa
menggunakan sarung tangan saat bekerja.
3. Hygiene lingkungan mempengaruhi terjadinya kejadian Dermatofitosis. Terdapat 4
orang responden dari 7 orang responden yang terkena Dermatofitosis yang memiliki
hewan peliharaan atau hewan yang sering berada di sekitar rumahnya. Sedangkan
keadaan rumah dengan ventilasi rumah tidak dapat dinilai oleh karena, semua
responden mengaku memiliki ventilasi yang baik di rumah mereka.
4. Frekuensi Dermatofitosis yang paling banyak dijumpai di Desa Limau Manis dan Desa
Air Tiris adalah Tinea Cruris (10 orang), Tinea Manus et pedis (4 orang), Tinea
unguium (2 orang)
V.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian mini project dan kesimpulan di atas, tampak ada
beberapa hal yang harus dilakukan untuk menurunkan kejadian Dermatofitosis dan
mencegah terjadinya Dermatofitosis.
1. Bagi masyarakat
Pentingnya masyarakat untuk tau tentang bagaimana menjaga kebersihan diri dan
lingkungan tempat tinggal.
2. Bagi instansi kesehatan
Peneliti menyarankan bagi instansi kesehatan dalam hal ini Puskesmas untuk
melakukan penyuluhan edukasi yang mengangkat tentang Dermatofitosis.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Adiguna MS. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia. Dalam: Budimulya U, Kuswadji,
Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S, editor. Dermatomikosis Superfisialis. Edisi
ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. h. 16.
2. Brannon,

Tinea

(Internet).

(Diakses

tanggal

12

Januari

2014)

Tersedia

pada:

www.about.com/Dermatology.
3. Budimulya U. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah Has, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. h. 89105.
4. Burkhart,Craig., et al. Tinea versicolor (Internet). (Diakses tanggal 12 Januari 2014). Tersedia
pada: http://emedicine.medscape.com/article/1091575-overview.
5. Cholis M. Imunologi Dermatomikosis Superfisialis. Dalam: Budimulya U, Kuswadji,
Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S, editor. Dermatomikosis Superfisialis. Edisi
ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. h. 718.
6. Ervianti E, Martodiharjo S, Murtiastutik D, editor. Etiologi dan Patogenesis Dermatomikosis
Superfisialis.
7. Koga T. Immune Surveillance against Dermatophytes Infection. In: Fidel PL,Jr.,Huffnagle
G.B, editors. Fungal Imunologi from Organ Perspective. Netherlands: Springer; 2005. p.
4439.
8. Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis Masa Kini; 11 Mei 2002; Surabaya,
Indonesia.
9. Wollf K, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology. 5thed. New York: McGraw-Hill; 2005.

26

LAMPIRAN
DAFTAR PERTANYAAN (QUESIONER)
Pengantar:
Pertanyaan-pertanyaan di dalam kuesioner ini merupakan acuan bagi penulis untuk
mengetahui bagaimana pengaruh kebersihan terhadap angka penyakit dermatofitosis (penyakit
kulit oleh karena jamur) pada Posyandu Lansia dalam wilayah Kecamatan Kampar.
Pengisian kuesioner ini dilakukan untuk tujuan tulisan ilmiah guna memenuhi salah satu
syarat untuk memenuhi program internship.
Penulis akan benar-benar menjaga kerahasiaan data yang diperoleh dari responden. Penulis
meminta kerjasama/bantuan responden dalam pengisian kuesioner ini.
Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis memohon kesediaan Bapak/Ibu untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan dan mengisi jawaban yang sebenarbenarnya padatempat yang disediakan.
PetunjukPengisian:
1. Bacalahdenganbaikpertanyaandanpilihjawabansesuaidengankeadaan yang
sebenarnya.
2. Isilahjawabanpadatempatjawaban yang telahtersedia.
3. Jawablahseluruhpertanyaantanpaada yang terlewatkan.
No. Responden :
TanggalWawancara:
I. KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. Nama :

2. Umur:
27

3. Jeniskelamin:

c. Tamat SLTP

4. Lama bekerja:

d. Tamat SLTA

5. Tingkat Pendidikan:

e. TamatAkademi/ PT

a. Tidaktamat SD

6. Alamat:

b. Tamat SD
II. KEBERSIHAN PERORANGAN
a. Kebersihan Kulit
1. Apakah saudara/i mandi secara teratur (minimal 2x sehari) :
a. Ya

b. Tidak

2. Apakah saudara/i mandi dengan menggunakan sabun :


a. Ya

b. Tidak

3. Apakah saudara/i pernah memakai pakaian orang lain :


a. TidakPernah

b. Pernah

4. Apakah saudara/i mengganti pakaian (minimal 1kali sehari):


a. Ya

b. Tidak

b. Kebersihan Kuku
5. Berapa kali saudara/i membersihkan/memotong kuku dalam seminggu :
a. 1 kali seminggu

b. < 1 kali seminggu

6. Apakah kuku saudara/i dalam keadaan bersih dan pendek (Observasi) :


a. Ya

b. Tidak

7. Apakah saudara/i mencucitangansetelahbekerja :


a. Ya

b. Tidak

c. Kebersihan Kulit Kepala dan Rambut


8. Apakahsaudara/i mencucirambut (minimal 2x seminggu) :
a. Ya

b. Tidak

9. Apakahsaudara/i mencucirambutmenggunakan shampoo ataubahanpencuci


rambutlainnya :
a. Ya

b. Tidak

III. PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI


10. Apakah saudara/i memakai sarung tangan saat bekerja
28

a. Ya

b. Tidak

11. Apakah saudara/i memakai alas kaki tertutup seperti sepatu saat bekerja dan
dalam keadaan bersih (Observasi)
a. Ya

b. Tidak

12. Apakah saudara/i mengganti pakaian (minimal 1kali sehari):


a. Ya

b. Tidak

13. Apakah saudara/i memakai pakaian umtuk bekerja dalam keadaan bersih,:
a. Ya

b. Tidak

IV. KEBERSIHAN RUMAH


14. Apa tipe rumah yang saudara miliki ?
a. Permanen (tembokdanbeton)
b. Semi Permanen (kayu, papandantembok).
c. TidakPermanen (kayu, bambudanjelajah).
15. Apakah ventilasi di rumah cukup?
a. Cukup (ventilasi ada di setiap ruangan, ruangan tidak lembab, ada aliran udara keluar
masuk)
b. Tidak cukup (ventilasi tidak ada di setiap ruangan, ruangan lembab, tidak ada aliran udara
keluar masuk)
16. Apakah Anda memiliki hewan peliharaan atau terdapat hewan di sekitar rumah?
a. Ada
b. Tidak ada
V. Keluhan Gangguan Kulit
1. Sejak saudara/i bekerja, apakah saudara/i pernah mengalami keluhan pada kulit:
a. Ya
b. Tidak

29

2. Jikaya, sebutkankeluhantersebut :
-3. Jikaya, sudah berapa lama saudara/i mengalami gejala tersebut :
_______________________
4. Apakahs audara/i pernah merasakan gejala khas seperti gatal-gatal:
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah pada kulit permukaan tubuh saudara/i muncul bintik-bintikmerah/
bentol-bentol/ nanah (Observasi) :
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah keluarga saudara pernah mengalami gangguan kulit :
a. Ya
b. Tidak

30

31