Anda di halaman 1dari 2

A.

Estetika Nilai Seni Tradisional

1. Budaya Ontologis

Berawal dari datangnya masyarakat budaya barat ke Indonesia, yakni setelah masa
Renainsans abad ke-15 dan ke-16 di Eropa. Dengan datangnya budaya barat itu, nilai-
nilai barat pun mulai berkembang di Indonesia.

Nilai-nilai barat merupakan bentuk pemikiran yang lebih bersifat formal, resmi, dan
teratur. Segala sesuatu memiliki aturan yang jelas sehingga setiap orang memiliki
pengertian yang sama akan suatu hal. Kumpulan nilai-nilai oleh Van Peursen
dinamakan budaya ontologis.

Dalam bidang musik, budaya ontologis sangat jelas terlihat dalam musik klasik.
Keberadaan aturan yang pakem (jelas dan standart) dalam musik ini menunjukkan cirri
khas dari budaya ontologis. Aturan pakem itu dapat terlihat dalam partitur yang
digunakan dalam musik klasik. Musik klasik terus dijadikan barometer (tolok ukur)
keterampilan bermain musik internasional.

Bentuk musik budaya ontologis yang terdapat di Indonesia dapa di lihat dari
lagu-lagu yang berkembang pada masa sekarang. Lagu-lagu jenis pop yang
dinyanyikan oleh banyak penyanyi terkenal merupakan suatu bentuk budaya ontologis.
Contoh konkretnya misalnya, gubahan lagu yang dilakukan komposer Erwin Gutawa
untuk konser-konser beberapa penyanyi seperti Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Sahanaya,
dan lain-lain. Gubahan lagu itu diperuntukkan bagi pemain pemain musik dalam konser
menjadi patokan aturan yang akan mendasari permainan musik secara keseluruahan.

2. Budaya Mistis

Musik Indonesian juga dipengaruhi oleh estetika budaya mistis, hidup ini
merupakan kesatuan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, antara
manusia dengan roh gaib, serta antara manusia dengan seluruh alam semesta ini.

Contoh lain budaya mistis adalah berbagai upacara adat istiadat, tari-tarian yang
sakral, serta seni ukir yang menggambarkan berbagai mitos, legenda, dan sage.

Dalam budaya mistis ada hal-hal yang menjadi perhatian utama bagi individu dalam
masyarakat. Hal tersebut antara lain:
➢ sistem upacara atau ibadah yang dilakukan,
➢ dasar mitologi yang dipercayai sebagai kisah asal-usul semesta,
➢ tatanan kepercayaan masyarakat,
➢ etika agama yang lazim disebut hukum adat,
➢ sistem mistik yang menyatukan diri dengan alam gaib.

Kesenian bagi masyarakat tidak hanya sekadar keindahan atau persoalan estetika,
tetapi juga terutama persoalan persatuan diri dengan alam.
Seni tradisional, termasuk juga seni musik tradisional, mempunyai ciri estetika: dibuat
berdasarkan budaya mistis, memiliki unsur penyatuan antara manusia dan alam, dan
seni merupakan produk budaya masyarakat. Estetika bukan sekedar keindahan, tetapi
merupakan pengalaman religius.

Memang banyak karya seni tradisional yang telah bergeser fungsinya akibat
perubahan sejarah masyarakatnya. Namun,struktur bentuknya rata-rata masih belum
berubah. Walaupun sikap ontologis sampai sekarang terus berkembang di Indonesia,
faktanya adalah cara berfikir masyarakat Indonesia –terutama yang kurang terpelajar-
masih mengikuti cara berfikir mistis nenek moyang bangsanya. Untuk karya musik
tradisional ataupun semi-tradisional, unsur-unsur estetika budaya mistis yang
aturannya longgar, masih banyak dibutuhkan.