Anda di halaman 1dari 5

GAMBARAN PENYESUAIAN DIRI ORANG TUA DENGAN ANAK AUTISM

SPECTRUM DISORDER (ASD)


Nisa Fitriani
Magister Psikologi Sains, Universitas Muhammadiyah Malang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak yang didiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki gangguan
neurologis kompleks yang berpengaruh pada fungsi otak. Karakteristik ASD adalah adanya
gangguan yang sedang hingga parah pada interaksi sosial, bahasa, perkembangan kognitif,
dan perilaku repetitif (American Psychiatric Assosiaciation, 2000). Karakteristik khas yang
menentukan ASD menyebabkan gangguan dalam dinamika keluarga. Gangguan dinamika
keluarga dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam memberikan
pengajaran pada anak untuk berkomunikasi, ketrampilan dasar, menjaga anak dari bahaya,
dan mempersiapkan masa depan anak (Bashir, dkk., 2014). Sebagai kompensasi, orang tua
dengan anak ASD harus mengeluarkan usaha ekstra, baik dari segi finansial, waktu, dan
fikiran, untuk menghadapi tantangan pengasuhan anak dengan ASD (Ah hing, Oliver, dan
Everts, 2013).
Masalah lain terkait dengan ASD adalah keterbelakangan mental dan masalah
perilaku seperti stereotip dan perilaku agresif yang menetap dalam jangka waktu panjang.
Masalah-masalah ini, tergantung pada tingkat keparahan dan frekuensi kemunculan, akan
berpengaruh pada perkembangan individu dengan ASD dan kesejahteraan serta
penyesuaian orang tua ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih lebih rendah (Herring, dkk.,
2006). Butuh proses untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru yaitu memiliki
anak yang didiagnosis ASD. Gangguan penyesuaian diri terjadi apabila seseorang tidak
mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan menimbulkan respon serta reaksi yang tidak
efektif, situasi emosional yang tidak terkendali, seperti marah dan keadaan yang tidak
memuaskan.

Banyak studi telah meneliti penyesuaian emosional orang tua dari anak-anak dengan
ASD. Salah satu studi mendokumentasikan bahwa memiliki anak yang didiagnosis ASD
dapat memicu stres baik pada ayah maupun ibu (Simon-Tov dan Kaniel, 2011). Bahkan
orang tua dengan anak ASD berpotensi stres lebih tinggi (Mancil, dkk., 2009; Dunn, dkk.,
2001; Baker, dkk., 2005; dan Baker, dkk., 2003) dan kecemasan (Hasting, dkk., 2005)
dibandingkan orang tua dengan anak disabilitas lainnya.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada penelitian adalah Bagaimana gambaran penyesuaian diri
orang tua dengan anak ASD?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penyesuaian Diri
Schneider (1964) mengemukakan bahwa penyesuaian diri berhubungan dengan
sejauh mana individu tersebut memenuhi kriteria tertentu. Schneider (1964) memberikan
penggambaran ciri-ciri dari penyesuaian diri yang sehat sebagai berikut:
1. Tidak ditemukan emosi yang berlebihan Individu menunjukkan kontrol dan ketenangan
emosi, yang memungkinkan dirinya untuk menghadapi permaslahan secara tepat dan
dapat menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul
hambatan. Hal ini bukan berarti tidak ada emosi sama sekali, namun lebih menekankan
pada kemampuan kontrol emosi ketika menghadapi situasi tertentu.
2. Tidak ada mekanisme pertahanan diri Pendekatan langsung terhadap masalah lebih
mengindikasikan respon yang normal daripada penyelesaian masalah yang memutar
melalui serangkaian defense mechanism yang tidak disertai tindakan nyata untuk
mengubah suatu kondisi.
3. Tidak adanya frustasi personal Frustasi menimbulkan kesulitan untuk melakukan
respon secara normal terhadap permasalahan atau situasi. Jika individu mengalami
frustasi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa harapan, maka akan
menjadi sulit baginya untuk mengorganisasi kemampuan berpikir, perasaan, motivasi
dan tingkah laku untuk menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.
4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri Kemampuan berpikir dan
melakukan

pertimbangan

terhadap

masalah

atau

konflik

serta

kemampuan

mengorganisasi pikiran, tingkah laku dan perasaan untuk pemecahan masalah dalam
kondisi sulit sekali pun menunjukkan penyesuaian yang normal. Hal ini tidak akan
mampu dilakukan apabila individu tersebut dikuasai oleh emosi yang berlebihan ketika
berhadapan dengan situasi yang menimbulkan konflik.
5. Kemampuan belajar dan memanfaatkan pengalaman masa lalu Penyesuaian yang
normal merupakan proses belajar berkesinambungan yang dapat dilihat dari
perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi koflik dan

stress. Di dalam proses belajar, individu dapat menggunakan pengalamannya maupun


pengalaman orang lain. Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa
saja yang membantu dan mengganggu penyesuaian.
6. Sikap realistik dan objektif Sikap realistik dan objektif bersumber dari belajar,
pengalaman, pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah atau
keterbatasan individu sebagaimana kenyataan sebenarnya.
Schneider (1964) mengklasifikasikan berbagai unsur penentu penyesuaian, ia
menyebutkan bahwa unsur-unsur penentu tersebut membentuk dan mempengaruhi
kepribadian. Adapun unsur-unsur tersebut adalah:
1. Kondisi fisik; tergolong dalam kategori ini adalah unsur heriditer, konstitusi fisik,
sistem syaraf, sistem kelenjar dan sistem otot dalam tubuh manusia, keadaan sehat dan
keadaan sakit.
2. Perkembangan dan kemasakan unsur-unsur kepribadian; misalnya kemasakan
intelektual, kemasakan sosial, kemasakan moral dan kemasakan emosional.
3. Unsur-unsur penentu psikologis; termasuk di sini pengalaman yang diterima, proses
belajar, pembentukan kebiasaan, terbentuknya kekuatan untuk dapat menentukan diri
sendiri, pengalaman frustasi dan konflik.
4. Kondisi lingkungan; khususnya situasi rumah, keadaan keluarga dan sekolah.
5. Peranan kebudayaan; termasuk pengaruh keyakinan dan agama.
Schneider (1964) selanjutnya menerangkan bahwa unsur bawaan atau herediter
merupakan dasar dari pembentukan berbagai unsur yang kemudian tumbuh dan
berkembang dalam kepribadian. Unsur tersebut dapat dikatakan sebagai kondisi primer
untuk suatu proses penyesuaian dan stabilitas mental seseorang.
B. Autism Spectrum Disorder (ASD)
ASD adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,
interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3
tahun. Bahkan pada autisme infantil gejalanya sudah ada sejak lahir (Suryana, 2004).
Penyebab autisme adalah multifaktor, kemungkinan besar disebabkan adanya kerentanan
genetik seperti infeksi virua selama kehamilan, bahan-bahan kimia serta polutan.

Kebanyakan orang tua mengalami shock bercampur perasaan sedih, khawatir, cemas, takut
dan marah ketika pertama kali mendengar diagnosa bahwa anaknya mengalami gangguan
autisme. Setiap orang tua pasti berbeda-beda reaksi emosionalnya, bagaimanapun reaksi
emosional yang dimunculkan oleh para orang
Schneider, A. A. 1964. Personal Adjustment and Mental Health. New York : Holt,
Rinehart and Winston.