Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengadilan pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan


Kekuasaan kehakiman di Indonesia bagi wajib pajak atau
penanggung pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak.
Dimana yang dimaksud sengketa pajak adalah sengketa yang
timbul dibidang perpajakan antara wajib pajak dengan pejabat yang
berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat
diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan pajak. Itu
termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan
undang-undang penagihan dengan surat paksa
Pengadilan pajak dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Kedudukan Pengadilan
Pajak berada di ibu kota negara. Persidangan oleh Pengadilan Pajak
dilakukan di tempat kedudukannya, dan dapat pula dilakukan di
tempat lain berdasarkan ketetapan Ketua Pengadilan Pajak.
Susunan Pengadilan Pajak terdiri atas: Pimpinan, Hakim Anggota,
Sekretaris, dan Panitera. Pimpinan Pengadilan Pajak sendiri terdiri
dari seorang Ketua dan sebanyak-banyaknya 5 orang Wakil Ketua.
Menurut UU Nomor 14 Tahun 2002 tetang Pengadilan pajak,
pembinaan serta pengawasan umum terhadap hakkim Pengadilan
Pajak dilakukan oleh Mahkamah Agung. Sedangkan pembinaan
organisasi, administrasi, dan keuangan ditanggulangi oleh
Kementrian Keuangan. Selain itu, ada juga penjelasan dalam pasal
9A ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara. Selain itu, dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor
6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor
16 tahun 2009 , secara tegas dinyatakan bahwa putusan Pengadilan
1

Pajak merupakan putusan


peradilan tata usaha negara.

pengadilan

khusus

di

lingkungan

Adapun dasar untuk menegaskan kedudukan Pengadilan Pajak


dalam lingkup peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung,
adalah berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi atas perkara
nomor 004/PUU-11/2004 dinyatakan, pihak-pihak yang bersengketa
dapat mengajukan peninjauan kembali atas putusan Pengadilan
Pajak kepada Mahkamah Agung.
B. Rumusan Masalah
Dari rumusan di atas maka penulis merumuskan beberapa
permasalahan sebagai beriku:
1. Bagaimana peradilan Administrasi di bidang pajak?
2. Bagaimana peradilan administradi saat seseorang melakukan
gugatan atau keberatan?
3. Bagaimana prosedur administrasi saat melakukan peninjauan
kembali?

BAB II
PEMBAHASAN
PERADILAN ADMINISTRASI DI BIDANG PAJAK

A. Unsur-Unsur Peradilan
Suatu peradilan haru memiliki unsur-unsur seperti:
1. Adanya suatu hokum yang abstrak yang mengikat umum. Dalam
hal ini hokum harus ada dan berlaku adil untuk umum, sehingga
jika di kaitkan dengan hokum pajak maka harus menggunakan
asas Equality (Persamaan)
2. Adanya suatu perselisihan hokum yang konkret.
3. Adanya sekurang-kurangnya dua pihak. Jelas dalam hal ini
perselihan pada umunya terjadi karena ada dua atau lebih orang
yang berselisih, jika hanya individu sendiri saja maka itu bukan
perselisihan yang harus di tangani hokum.
4. Adanya suatu aparatur peradilan yang berwenang memutuskan
perselisihan. Di sini penegak hokum seperti hakim di butuhkan.
Dalam suatu peradilan administasi unsur-unsur tersebut harus di
dukung dengan unsur lainnya, seperti:
1. Yang menjadi perselisiannya adalah adminitrasi yang diakibatkan
kesalahan salah seorang pejabat dalam batas wewenangnya.
2. Hukum Publik atau Hukum Administrasi yang diberlakukan dalam
pengajuan persoalan atau perselisihan.
Secara garis besar Peradilan Administrasi terbagi atas dua:
1. Peradilan Administrasi Murni, yaitu peradilan yang di mana unsurunsur Peradilan Administrasi itu ada dan diberlakukan.
2. Peradilan Administasi tidak Murni, yaitu peradilan yang di mana
unsur-unsur Peradilannya tidak ada.

Jika dikaitakan lebih khusus lagi ke peradilan administrasi pajak,


maka yang unsur-unsurnya yaitu:
1. Sifat dan pihak yang berselisih
2. Sifat perselisihannya
Unsur-Unsur peradilan ini jika kita kaikan dengan Filosofi Hukum
Pajak, maka dapat di masukan ke asas Administrasi, yang merupakan
salah satu asas untuk terpenuhinya pajak Ideal.
B. Pemasukan Surat Keberatan
Ketentuan-Ketentuan dalam Pemasukan Surat Keberatan dalam
Pajak, yaitu:
1. Ditujukan kepada Direktur Jendral Pajak (DJP), untuk 1 jenis pajak
dan 1 tahun pajak.
2. Batas waktu pengajuan surat keberatan ditentukan dalam waktu 3
bulan setelah terbitnya Surat Ketetapan Pajak, akan tetapi jika
terdapat kendala di luar kuasa wajib pajak maka waktu pengajuan
keberatannya dapat diperpanjang DJP.
3. Jika pengajuan keberatannya diterima maka akan adanya
pengiriman tanda bukti/resi dari DJP untuk Pihak Keberatan.
4. Wajib pajak menjadikan tanda bukti sebagai alat control waktu
yang di berikan DJP untuk gugatan keberatan, karena dalam jangka
waktu 1 tahun DJP akan member keputusan.
5. Pengajuan surat keberatan bukan untuk menghalangi aparatur
pajak untuk melakukan tindakan penagihan.
Jika di kaikan dengan asas filosofis hokum pajak yang diutarakan
Adam Smith, maka dalam hal ini pihak wajib pajak menggunakan Asas
Daya-Pikul dan Asas keringanan Beban. Sebab karena merasa tidak
sepadan dengan kemampuannya dan mengharapkan keringanan maka
pihak wajib mengajukan keberatan.
C. Isi Surat Keberatan
Syarat-syarat yang di harus di penuhi Isi surat keberatan, sesuai
Undang-Undang Pajak yaitu :
1. Pernyataan keberatan disertai dengan alasan dan bukti yang kuat.
2. Jenis Pajaknya
3. Tahun pajak
4. Nomor Pokok wajib pajak
5. Nama dan tanda tangan wajib pajak

Dalam surat pemberitahuan wajib pajak berkewajiban memasukan


seluruh jenis sumber penghasilannya. Berdasarkan ketentuan pasal 4
UU No. 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, penghasilan
seseorang dapat di bagi menjadi 4 yaitu:
1 Penghasilan dari pekerjaan
2 Penghasilan dari kegiatan usaha
3 Penghasilan dari modal
4 Penghasilan lain-lain.
Jika dikaitan dengan filosofi hokum pajak maka sesuai dengan asas
Certainty (kepastian) dimana dalam isi surat keberatan terdapat
kepastian real wajib pajak, serta asas Low Cost Of Collection (asas
efesiensi), yang di mana wajib pajak dalam isi surat keberatannya
berkewajiban memasukan jenis penghasilannya sehingga dapat di
pertimbangkan efesiensi pajak yang seharusnya di kenakan padanya.
D. Keputusan Atas Surat Keberatan
Keputusan DJP atas wajib pajak dapat berupa:
1. Menerima seluruhnya atau sebagian
2. Menolak seluruhnya keberatan
Dalam hal ini berkaitan dengan asas manfaat yang menjelaskan
bahwa pengenaan pajak oleh pemerintah didasarkan atas alasan
bahwa masyarakat menerima manfaat barang-barang dan jasa yang
disediakan oleh pemerintah. Sehingga seandainya jika keberatannya
ditolak maka mungkin karena dipertimbangkan dengan manfaat yang
telah di terima wajib pajak dalam penghasilannya.
E. Banding ke Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP)
Ketentuan-ketentuan pengajuan banding:
1. Jika wajib pajak menolak Surat keputusan Wajib Pajak, maka Wajib
Pajak masih dapat mengajukan banding pada pengadilan pajak
yang berada di Jakarta.
2. Jangka waktu banding 3 bulan setelah tanggal di terimanya
keputusan yang disbanding.
3. Banding diajukan dan disertai alas an dan bukti yang jelas.
4. Banding dapat diajukan apabilah telah membayar 50% pajak yang
terutang.
Dalam hal ini sama halnya dengan keberatan maka asas yang di
kaitkan yaitu asas Certainty (kepastian) dan asas Low Cost Of
Collection (asas efesiensi).

F. Gugatan
Ketentuan gugatan wajib pajak yaitu mengenai pelaksanaan UU
perpajakan terhadap pelaksanaan penagihan pajak. Dalam hal ini pada
Pasal 8 UU No. 19 tahun 2000, terdapat ketentuan yang mengharuskan
pejabat pajak untuk terlebih dahulu menerbitkan surat teguran atau
surat peringatan kepada wajib pajak. Jika wajib pajak tidak
mempedulikannya maka di keluarkannya surat paksa. Akan tetapi, jika
pejabat pajak terlebih dahulu tidak menerbitkan surat teguran atau
surat peringatan. Maka dalam hal ini Pejabat Pajak dapat dikatakan
melakukan kesalahan dan pihak wajib pajak berhak melakukan
gugutan. Jangka waktu mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan
penagihan pajak adalah 14 hari sejak tanggal pelaksanaanya
penagihan, sedangkan jangka waktu untuk mengajukan gugatan
terhadap putusan selain gugatan terhadap pelaksanaan penagihan
pajak adalah 30 hari sejak diterima keputusan yang digugat.
Jika dikaikan dengan asas hokum pajak maka gugatan ini dapat
dikaikan dengan Asas Yuridis atau Asas Hukum yang di mana poinnya
menjelaskan kejelasan UU perpajakan.
G. Persiapan Persidangan
Adapun Ketentuan-ketentuan persiapan persidangan:
1. Setiap banding dan gugatan yang masuk ke pengadilan pajak akan
di teliti terlebih dahulu oelh Panitia Pengadilan pajak.
2. Penelitian ini mengenai identittas dan jangka waktu pengajuan
banding atau gugatan wajib pajak.
3. Sebelum persidangan di mulai, Panitera Pengadilan Pajak meminta
uraian banding atas surat tanggapan atas surat banding atau surat
gugatan kepada yang terbanding atau tergugat dalam jangka
waktu 14 hari sejak tanggal diterimanya surat banding dan surat
gugatan.
4. Salinan uraian di kirim ke pemohon banding atau gugatan dalam
jangka waktu 14 hari setelah tanggal diterima.
5. Pemohon banding atau gugatan dapat menyerahkan surat
bantahan ke pengadilan pajak dalam jangka waktu 30 hari.
6. Salinan surat bantahan di kerim ke pemohon banding atau gugatan
dalam jangka waktu 14 hari sejak diterima surat bantahan.

Sehingga untuk persiapan persidangan ini jika di kaikan dengan


asaa hokum pajak, makaada beberapa asas yang sangat berkaitan
yaitu asas kepastian hokum, asas administrasi, dan asas yuridis atau
asas hokum.

H. Pemeriksaan Di Muka Sidang


Pemeriksaan dalam sidang dalam UU No.14 tahun 2002, terdapat
dua macam yaitu:
1. Pemeriksaan dengan acara biasa (oleh majelis)
2. Pemeriksaan dengan acara cepat (oleh hakim Tunggal)
Karena masalah persidangan telah masuk ranah hokum maka asa
hokum pajak yang dikaikan yaitu asas Yuridis.
I. Bentuk Putusan Hukum
Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan
mempunyai kekuatan hokum tetap. Putusan Pengadilan
berupa:
Menolak,
mengabulkan,
menambah,
membetulkan, dan membatalkan. Jelas jika dikaitkan
hokum pajak maka asa yang di pakai yaitu asa Yuridis.

akhir dan
Pajak dapat
mengurangi,
dengan asa

J. Peninjauan Kembali
UU No. 17 tahun 1997 tidak memberikan kesempatan kepada pihak
pembanding atau penggugat untuk mengajukan permohonan
peninjauan kembali atas banding atau gugatan yang ditolak oleh
majelis Badan Penyelesaian Sangketa pajak (BPSP). Akan tetapi dalam
UU No. 14 tahun 2000, menyatakan Upaya Hukum terakhir peninjauan
kembali diajukan ke Mahkamah Agung. Namun, putusan pengadilan
pajak tetap dijalankan. Jangka waktu peninjauan kembali 3 bulan
terhitung setelah di ketahui kebohongan.
Peninjauan kembali hanya dapat di lakukan dengan alas an-alasan
sebagai berikut:
1. Apabila Putusan pengadilan pajak didasarkan pada suatu
kebohongan, didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oelh
hakim Pidana dinyatakan palsu,
2. Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan menentukan,
3. Apabila di kabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari
pada yang dituntut.

4. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputuskan


tanpa dipertimbangkan sebab-sebab, atau
5. Apabila tidak sesuai peratutan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam hal ini asa yang berkaitan yaitu asa administrasi yang
mungkinsaja ada manipulasi data dan asas Yuridis di mana ada
undang-undang yang mengaturnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka penulis menyimpulkan bahwa Peradilan
admisitrasi perpajakan adalah upaya hukum yang dilakukan oleh wajib
pajak dalam rangka mencari keadilan terhadap Surat Ketetapan Pajak
yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak atau Kepala Daerah.
B. Saran
Dari kesimpulan diatas maka penulis menyarankan bahwa dalam
menjalankan administrasi perpajakan kita harus mematahi peraturan
yang berlaku dan sebenar-benarnya agar hokum itu dapat di jalankan
dengan sebaik-baiknya. Dan di sesuaikan dengan asa-asa hokum pajak.