Anda di halaman 1dari 66

I.

SIRKUIT DALAM SISTEM HIDROLIK

1. Open Center dalam Sirkuit Paralel

Gambar 1. Open center, parallel circuit


Pada diagram di atas ditunjukkan dua sirkuit open center yang
disambung secara paralel. Persimpangan yg dilingkari adalah
merupakan tanda bahwa sirkuit tersambung secara paralel.
Dengan sirkuit yang tersambung secara paralel tersebut, beberapa
aktuator dalam sirkuit paralel dapat menerima aliran secara
bersamaan. Bagaimanapun, sirkuit dengan jumlah hambatan yang
paling kecil akan menerima semua aliran.
Apakah kekurangan dengan sistem seperti ini???
Ketika spool sebelah kiri dimisalkan bergerak (Shift) ke hidrolik
pertama untuk extend (keluar). Karena hidrolik pertama tertahan oleh
beban sedangkan silinder hidrolik ke-2 tak terbeban, maka aliran
fluida akan ke sirkuit yang tahanan lebih rendah. Sehingga dalam hal
ini, fluida akan terarah ke spool ke-2 untuk dialirkan ke silinder hidrolik
ke-2. Akibatnya silinder pertama tidak melakukan kerja sebelum
silinder ke-2 selesai melakukan kerja.

2. Open center dalam Sirkuit Seri

Gambar 2a. Open center, series connection


Diagram di atas merupakan open center valves dengan koneksi
seri. Saat posisi netral, oli hidrolik melewati ketiga spool (direction
control valves) dan kemudian kembali ke tangki hidrolik.
a. Silinder no. 1 retract
Dari diagram, dapat dilihat bahwa spool bergerak untuk
menggerakkan silinder bekerja ke posisi retract. Sehingga oli
mengalir ke sisi rod pada silinder hidrolik. Sedangkan pada sisi
silinder akan mengalir ke tangki hidrolik melalui spool no. 2 dan
spool no. 3.

Gambar 2b. Open center, series connection


b. Silinder no. 2 retract.

Gambar2c. Open center, series connection


Ketika silinder no. 1 retract, oli dari sisi silinder akan mengalir
melalui spool 2 untuk kerja retract dari silinder hidrolik no. 2. Kedua
silinder hidrolik akan melakukan retract secara bersama-sama. Hal itu

terjadi sampai silinder hidrolik no.1 dan silinder hidrolik no.2 mencapai
langkah maksimumnya.
Akan tetapi apa yang terjadi saat silinder hidrolik melakukan
extend..???
Saat silinder hidrolik no.1 mencapai extend penuh, maka
silinder hidrolik no.2 dan silinder hidrolik no.3 tidak akan mendapat
suplai oli hidrolik. Karena ketika silinder hidrolik no.1 full extend, oli
hidrolik akan mencari bagian yang paling lemah hambatannya. Maka
di sini, oli hidrolik akan membuka relief valve untuk kembali ke tangki,
sehingga oli hidrolik tidak bisa mencapai silinder hidrolik no.2 dan
silinder hidrolik no.3. demikianlah keterbatasan dari sistem open
center dengan koneksi seri.
3. Open center dengan koneksi seri-paralel

Gambar 3. Open center valves with series/parallel connection


Ketika spool no.1 dalam posisi extend, oli hidrolik dari silinder
hidrolik pertama akan diarahkan langsung ke tangki hidrolik. Pada
saat yang sama, koneksi seri ditutup, tetapi oli hidrolik akan lewat
koneksi yang lain, yaitu koneksi paralelnya.
Aliran paralel yang menuju ke spool no.2 dan spool no.3 akan
ditutup ketika kondisinya dalam posisi netral.

II. SIRKUIT HIDROLIK PADA EXCAVATOR


Sistem hidrolik pada excavator secara garis besar terbagi menjadi
dua sirkuit, yaitu main circuit dan pilot circuit
Circuit
Main Circuit

Pilot Circuit

Power source
Main pumps

Pilot pumps

Controller

Actuator

Control valves - Motor


- Cylinders Hydraulic
- Front Attachmens
- Pilot valves
- Pump
regulator
- Solenoid valve

(optional)
Operation control circuit
Pump control circuit
Valve control circuit
Swing parking brake

release circuit
unit
- Travel motor swash angle
- Signal control
control circuit
valve
- Hydraulic oil heat circuit
- Boom
electronic
cushion
solenoid
valve

1. Pilot circuit
Tekanan oli dari pilot pump digunakan untuk mengoperasikan
dari operation control circuit, valve control circuit, swing parking brake
release circuit, travel motor swash angle control circuit, positioning
circuit (optional) dan hydraulic oil heat circuit.

Gambar 4. Sirkuit diagram dari pilot circuit

a. Komponen pada Pilot circuit


1) Pilot Valve
Pilot valve mengontrol tekanan oli dari pilot pump yang menuju ke
spool pada control valve. Ada dua jenis pilot valve pada unit ini.
Pertama yg digunakan untuk menggerakkan front attachment dan
swing yg berjumlah 2 buah. Dan jenis yg kedua adalah digunakan
untuk kontrol travel.
- Pilot valve untuk front attachment/swing
Standar ISO
Kanan

Kiri

1
2
3
4
1
2
3
4

Standar

Hitachi
Bucket Roll-out Bucket Roll-out
Boom Lower
Boom Lower
Bucket Roll-in
Bucket Roll-in
Boom Raise
Boom Raise
Right swing
Arm Roll-in
Arm Roll-out
Right swing
Left swing
Arm Roll-out
Arm Roll-in
Left swing

Gambar 5. Pilot valve untuk menggerakkan front attachmnet


Pilot valve untuk travel
1

Right travel reverse

2
3
4

Right travel forward


Left travel forwad
Left travel reverse

Gambar 6. Pilot valve untuk menggerakkan travel


Cara kerja:
Netral
1. Ketika netral, spool (6) sepenuhnya menutup tekanan oli dari
saluran (port) P (dr pilot pump). Port output terbuka ke port T
(tangki) melalui saluran di spool (6). Oleh karena itu tekanan di
port out put sama dg di port T.
2. Ketika control lever miring sedikit, cam (1) ikut miring dan
menekan pusher (2) ke bawah. Kemudian, pusher (2)
menekan spring (5) melalui spring guide (3). Pada saat yg
sama, tekanan oli di port output sama dg di port T, spool (6)
bergerak ke bawah sampai hole (7) terhubung ke port P.

1.
2.

Cam
Pusher

3. Spring guide
4. Balance spring

5. Returning spring
6. Spool

7. Hole

Gambar 7. Pilot valve saat posisi netral


Variable stroke
1. Ketika control lever terus dimiringkan untuk menggerkaan
pusher (2) lebih ke bawah, hole (7) pada spool (6) terhubung
ke port P, sehingga tekanan oli dari port P mengalir ke output
port.
2. Tekanan oli pada output port menekan pada bagian bawah
spool (6) sehingga terdorong ke atas.
3. Bagaimanapun, spool (6) yg bergerak

ke

atas

akan

diseimbangka oleh spring (4). Kemudian, ketika spool (6)


sudah tidak ke atas, maka tekanan pada out put port akan
bertambah.
4. Karena tekanan oli di output port naik, maka gaya yg
mendorong spool (6) ke atas jg naik. Gaya ini menekan
balance spring (4), balance spring (4) tertekan sehingga spool
(6) bergerak ke atas.
5. Saat spool (6) bergerak ke atas, hole (7) tertutup, sehingga
tekanan oli dari port P berhenti mengalir ke output port.
6. Ketika spool (6) bergerak ke bawah, balance spring (4)
tertekan. Tekanan oli di output port sama dg tekanan pada

bagian baah spool (6) posisinya diseimbangkan oleh tekanan


pegas.

Gambar 8. Pilot valve saat posisi variable stroke


Full stroke
1. Ketika control lever pada posisi ful stroke, pusher (2) bergerak
ke bawah sampai pusher (2) menyentuh sambungan casing.
2. Pada saat itu, bagian bawah pusher (2) langsung menekan
spool (6). Oleh karena itu, tekanan oli pada output port
bertambah karena hole (7) pada spool (6) selalu terbuka.
Catatan: total lever stroke untuk control lever fornt attachment dan
swing tergantung ukuran stroke (E) dari pusher (2). Sedangkan
untuk control lever pada travel ditentukan ukuran stroke (E) dari
cam (E).

Gambar 9. Pilot valve saat posisi full stroke


2) Pilot Shut-Off Valve
Pilot shut-off valve adalah switch yang dioperasikan secara
manual. Spool dalam pilot shut-off pilot valve bekerja dengan cara
berotasi untuk posisi on dan off-nya. Posisi on dan off adalah
aliran yang menuju ke pilot valve.

Posisi LOCK.
Tekanan oli dari pilot pump tidak dialirkan ke pilot valve, tetapi
diarahkan

ke

signal

control

valve.

Ketika

control

lever

dioperasikan, maka pilot valve tidak akan bekerja.


Posisi UNLOCK
Pilot shut-off valve dalam posisi On. Tekanan oli dari pilot pump
mengalir ke pilot valve. Ketika control lever dioperasikan, pilot
valve akan bekerja.

a. Posisi LOCK
b. Posisi UNLOCK
Gambar 10. Pilot Shut-off valve
3) Signal Control Valve
Signal control valve terletak antara pilot valve dan control valve
dan berfungsin untuk mengontrol tekanan yang digunakan untuk
mengatur pompa dan berbagai jenis valve.
Bagian utama dari signal control valve adalah, shuttle valve,
shockless valve, pump1 flow rate control valve, pump2 flow rate
control valve, flow combiner valve control spool, bucket flow rate
control valve cantrol spool, swing parking brake release spool dan
arm flow rate control valve control spool.

Gambar 11. Signal control valve


Pilot Port

Gambar 12. Signal control valve sisi pilot valve


Sisi ke pilot valve
Port
name
Port A
Port B
Port C
Port D
Port E
Port F
Port G
Port H
Port I
Port J
Port K
Port L
Port M
Port N
Port SA
Port SB
Port PI
Port PH
Port SH
Port DF

Connecting to
Right pilot valve
Right pilot valve
Left pilot valve
Left pilot valve
Left pilot valve
Left pilot valve
Right pilot valve
Right pilot valve
Travel pilot valve
Travel pilot valve
Travel pilot vavle
Travel pilot valve
Auxiliary pilot valve
Auxiliary pilot valve
Pump 1 regulator
Pump 2 regulator
Pilot shut-off valve
Pilot shut-off valve
Swing parking brake
Hydraulic oil tank

Note
Boom raide pilot pressure
Boom lower pilot pressure
Arm roll-out pilot pressure
Arm roll-in pilot pressure
Left swing pilot pressure
Right swing pilot pressure
Buccket roll-in pilot pressure
Buccket roll-out pilot pressure
Left travel forward piloy pressure
Left travel reverse piloy pressure
Right travel forward piloy pressure
Right travel reverse piloy pressure
Auxiliary open pilot pressure
Auxiliary close pilot pressure
Pump 1 control pressure
Pump 2 control pressure
Primary pilot pressure
Primary pilot pressure
Brake release pressure
Returning to hydraulic tank

Gambar 13. Signal control valve sisi control valve

Sisi ke control valve


Port
name
Port 1
Port 2
Port 3
Port 4
Port 5
Port 6
Port 7
Port 8
Port 9
Port 10
Port 11
Port 12
Port 13
Port 14
Port SE
Port SM
Port SN
Port SP
Port SL
Port SK

Connecting to
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Control Valve
Hydraulic oil tank
Hydraulic oil tank
Control Valve
Control Valve

Shuttle valve

Note
Boom raide pilot pressure
Boom lower pilot pressure
Arm roll-out pilot pressure
Arm roll-in pilot pressure
Left swing pilot pressure
Right swing pilot pressure
Buccket roll-in pilot pressure
Buccket roll-out pilot pressure
Left travel forward piloy pressure
Left travel reverse piloy pressure
Right travel forward piloy pressure
Right travel reverse piloy pressure
Auxiliary open pilot pressure
Auxiliary close pilot pressure
Arm floe rate control valve control pressure
Returning to hydraulic oil tank
Plug
Returning to hydraulic oil tank
Flow combiner valve control pressure
Returning to hydraulic tank

Shuttle valve memilih tekanan oli yg digunakan untuk


melakukan tiap-tiap operasi dan mengarahkannya ke flow rate
control valve dan atau ke spool switch valve.

Gambar 14. Skema shuttle valve


Shockless valve
Shockless valve terletak pada sirkuit boom raise dan berfungsi
selama operasi dari boom lower.
Boom raise
1. Tekanan oli untuk boom raise diarahkan ke port A dan
mendorong spool.
2. Segera setelah itu, oli tekanan rendah mengalir ke port 1
melalui celah C antara spool dan housing, dan inner
pasaage2.
3. Pegas A lebih lemah daripada spring B. Oleh karena itu,
ketika tekanan pilot bertambah, spool bergerak ke kiri.
4. Saat spool bergerak ke kanan, port A terhubung ke port 1,
meningkatkan tekanan di port 1 sehingga spool di control
valve bergerak.
Boom lower
1. Ketika boom diturunkan (lower), return oli dari spool boom
raise di control valve diarahkan ke port 1.
2. Spool menutup saluran oli antara port 1 dan port A, return oli
tidak dapat mengalir langsung ke port A.

3. Port 1 terhubung ke spring A melalui passage 1 dan oil


chamber melalui inner passage 2.
4. Tekanan oli pada oil chamber mengalir keluar dari celah C
antara spool dan housing, mengurangi tekanan di oil
chamber. Kemudian, spool bergerak ke kanan oleh tekanan
di spring A. Maka, celah C antara spool dan housing
tertutup, menutup aliran oli.
5. Ketika celah C tertutup, tekanan di chamber oil naik,
menggerakkan spool ke kiri. Sehingga celah C terbuka lagi,
mengalirkan oli ke port A.
6. Saat langkah ke 4 dan 5 berulang, tekanan oli secara
bertahap dikembalikan ke port A sehingga spool kembali
secara perlahan.

Gambar 15. Shockless vavle


Pump 1 and pump 2 flow rate control valve
Valve ini mengirim tekanan Pi ke regulator pompa dalam
merespon tekanan dari pilot valve.
1. Tekanan oli dari pilot valve diarahkan ke sisi spring
chamber setelah melalui shuttle valve.

2. Kemudian,

spool

bergerak

ke

kanan,

menyebabkan

tekanan pilot primary mengalir ke port SA atau SB.


3. Oleh karena itu, tekanan pd port SA atau SB meningkat.
4. Tekanan oli pada port SA atau SB mendorong ujung kanan
dari spool. Jadi, spool bergerak kembali ke kiri sampai gaya
tekanan di port SA atau SB seimbang dengan gaya tekanan
pilot di spring chamber sehingga tekanan di port SA atau
SB berhenti naik.

Gambar 16. Pump flow rate control valve


4) Regulator
Regulator mengatur flow rate dari pompa atas respon dari
berbagai perintah tekanan sinyal sehingga daya untuk memutar
pompa tidak melebihi daya engine. Bagian utama dari regulator
adalah spring (1), sleeve A (2), sleeve B (7), spool A (3), spool B
(6), piston (4), load piston (5), inner spring (8) dan outer spring (9).
Sesuai variasi tekanan perintah, regulator membuka dan menutup
sirkuit ke servo piston (10), kemiringan dari cylinder block (11)
berubah dan flow rate pompa terkontrol.

Gambar 17. Skema dari regulator


Beberapa Control pada regulator
- Control by pump control pressure
Ketika control lever dioperasikan, valve pengontrol flow rate
pompa pada signal control valve mengatur pump control
pressure (Pi) yg merupakan respon dari gerakan lever. Ketika
regulator menerima tekanan Pi, regulator mengontrol flow rate
dari

pompa

sesuai

tekanan

Pi.

Ketika

control

lever

dioperasikan, Pi bertambah dan regulator menaikkan flow rate


dari pompa. Ketika control lever kembali ke posisi normal, Pi
berkurang dan regulator menurunkan flow rate dari pompa.

Control by own or opponent pump delivery pressure


Regulator menerima tekanan delivery pump Pd1 dan Pd2. Jika
tekanan dari kedua pompa bertambah melebihi garis P-Q,
regulator mengurangi flow rate kedua pompa dan output pompa
dikembalikan ke garis P-Q. Oleh karena itu, engine terlindungi
dari overload.

Control by pilot pressure from Torque Control Solenoid


Valve
Main controller (MC) beroperasi atas data kecepatan target
engine dan kecepatan aktual engine dan keluaran berupa
signal ke torque control solenoid valve. Karena dapat sinyal dari
MC, torque control solenoid valve mengirimkan tekanan pilot
(Pps) ke regulator untuk mengurangi flow rate dari pompa.

5) Solenoid Valve Unit


Fungsi dari solenoid valve unit adalah untuk mengontrol regulator
pompa, control valve dan servo piston dari travel motor. Solenoid
valve terdiri dari empat solenoid valve yaitu SE, SC, SI, SG.
SE* : mengontrol arm flow rate terletak pada control valve.
SC : mengontrol arm regenerative valve yang terletak di dalam
control valve.
SI : mengontrol servo piston pada motor travel (pemilihan
kecepatan travel)

SG : berfungsi untuk meningkatkan kekuatan pressure pada main


relief valve

Gambar 18. Solenoid valve


unit
Proportional Solenoid Valve
Pada penerimaan sinyal arus listrik dari MC, proportional solenoid
valve mengeluarkan tekanan hidrolik yg sebanding dengan arus
listrik.
- Tanpa aliran (netral)
Pegas mendorong spool ke kanan, menghubungkan output port
-

S ke port T (tangki).
Dengan aliran
Solenoid mendorong spool ke kiri untuk jarak yang sebanding
dengan arus listrik yang mengalir ke solenoid. Pilot oli dari port
P mengalir ke output port S, meningkatkan tekanan pada port
S. Tekanan pada port S menekan dua dinding dari spool (lihat
detail a).
Karena area dari dinding berbeda, maka tekanan akan
mendorong spool ke kanan. Saat tekanan pada port S
bertambah, gaya dorong spool ke kanan juga bertambah.
Ketika gaya ini melebihi gaya untuk mendorong spool ke kiri
oleh solenoid, spool bergerak ke kanan, menutup aliran antara
output port S dan port P. Akibatnya, tekanan yang naik pada
port S dihentikan.

Gambar 19. Proportional solenoid valve


b. Operation control circuit
- Pilot valves digunakan untuk mengontrol tekanan oli dari pilot
-

pump untuk kerja spool control valve.


Signal control valve terpasang antara pilot valve dan control valve.
Shockless valve (pada sirkuit boom lower) terpasang pada signal
control valve berfungsi untuk meredam gerakan cepat (tiba2) dari

spool di control valve.


Boom electronic cushion solenoid valve terpasang antara pilot
valve (kanan) dan signal control valve. Valve ini mengurangi
benturan ketika boom mencapai posisi langkah penuh.

c. Pump control circuit


- Pump flow rate control by flow rate control pressure Pi
Tekanan oli dari pilot valve, oleh shuttle valve dalam signal control
valve diarahkan baik ke flow rate cotrol valve pompa 1 ataupun
flow rate control valve pompa 2 untuk menggeser flow rate control
-

valve.
Ketika flow rate control valve pompa 1 atau pompa 2 bergeser,
tekanan oli dari pilot pump diarahkan ke main pump1 atau main
pump 2 sebagai flow rate control pressure Pi.
Catatan: ketika boom, arm, bucket, auxiliary, travel (right)
bekerja, maka flow rate control pressure Pi diarahkan
ke main pum 1. Sedangkan ketika boom, arm, swing
dan atau travel (left) yang bekerja, maka flow rate
control pressure Pi diarahkan ke main pump 2.

Torque control (speed sensing) by torque control solenoid valve


Setelah tekanan oli dari pilot pump diatur oleh torque control
solenoid valve, maka kemudian diarahkan ke main pump 1 atau
main pump 2 sebagai speed sensing pressure.

Gambar 20. Diagram operational control circuit

Gambar 21. Diagram pump control circuit

d. Valve control circuit


Valve-valve yang dikontrol oleh tekanan oli dari pilot valves adalah:
- Boom lower pilot pressure; boom anti drift valve

Arm roll-In pilot pressure; arm anti drift valve


Auxiliary pilot pressure; auxiliary flow combiner valve, bypass

shut-Out valve (ketika spool auxiliary digunakan)


Solenoid SC: Arm regenerarive
Solenoid SE : Arm Flow rate control valve
Solenoid SG: Main relief valve (increasing the set pressure)
Dan lain-lain

e. Swing parking brake release circuit


Ketika front attachment dan atau fungsi swing dioperasikan, maka
tekanan oli dari pilot pump oleh shuttle valve di dalam signal control
valve diarahkan untuk menggeser spool dari swing parking brake.
Akibatnya, release signal pressure diarahkan ke swing motor,
membuka swing parking brake.
f. Travel motor swash angle control circuit
Tekanan oli dari pilot pump melalui solenoid valve SI mengatur sudut
dari travel motor.

Gambar 22. Valve control circuit

Gambar 23. Diagram dari swing parking brake circuit dan travel
motor swash angle control circuit

2. Main Circuit

Main pump (1 dan 2) mengalirkan oli hidrolik dari tangki hidrolik.


Main pump 1 dan main pump 2 memberikan oli bertekanan ke 4-

spool control valve, dan 5-spool control valve.


Oli bertekanan diarahkan ke motor atau silinder atas respon dari

operasi dari spool di control valve.


Oli kembali dari motor atau silinder mengalir kembali ke tangki

hidroli melalui control valve dan oil cooler.


Ketika temperatur oli rendah (viskositas tinggi), maka akan sulit
mengalir pada oil cooler. Sehingga dengan membuka bypass check
valve, oli hidrolik akan mengalir ke tangki hidrolik tanpa melalui oil
cooler.

Gambar 24. Sirkuit Diagram dari Main circuit hydraulic


a. Komponen Valve pada main circuit
1) Check Valve

Gambar 25. Aplikasi check valve


Pada gambar di atas, terdapat satu rangkaian sistem hidrolik
dengan beberapa check valve yang terpasang di jalur yang
berbeda dan tentunya memiliki fungsi yang berbeda juga.
Check valve 1 terpasang di pump delivery line dan biasa
dikenal sebagai load/lift check valve. Load check valve
umumnya terpasang pada sirkuit cylinder. Fungsi utama dari
load check valve ini sendiri adalah sebagai penahan tekanan
balik atau pump protect manakala terjadi beban kejut akibat
benturan pada cylinder. Saat terjadi benturan, maka akan
terjadi tekanan tinggi secara tiba-tiba. Tekanan tersebut akan
diteruskan ke segala arah, termasuk menuju ke pompa.
Dengan adanya load check valve ini, maka tekanan yang
menuju pompa akan tertahan di check valve, sehinga pompa
akan terhindar dari kerusakan. Fungsi ke dua dari load check
valve adalah untuk menahan tekanan balik saat posisi
attachement menggantung. Sebagai contoh, saat boom raise

dan lever boom dilepas, maka tekanan di sisi bottom cylinder


boom akan ditahan oleh spool. Apabila terdapat kebocoran
pada spool, maka bisa saja tekanan tersebut akan menuju ke
tangki melalui spool. Dengan adanya load check valve tersebut,
maka load check valve lah yang akan menahan tekanan
tersebut.
Check valve 2 bekerja bersama-sama dengan orifice dan
dikenal dengan nama Slow return valve. Aktualnya, valve ini
adalah sebuah check valve, dengan sebuah lubang (orifice) di
badannya. Orifice tersebut bisa fixed, tetapi ada juga yang
variable. Pada gambar, saat cylinder retract, maka aliran oli dari
control valve akan menuju cylinder rod side melalui check
valve. Dengan kata lain aliran oli yang menuju cylinder tidak
dihambat. Saat cylinder extend, oli dari cylinder rod side yang
menuju ke control valve tidak bisa melewati check valve,
sehingga

oli

tersebut

akan

melewati

orifice.

Hal

ini

mengakibatkan aliran oli tersebut dihambat, sehingga gerakan


cylinder pun terkontrol. Umumnya Slow return valve ini letaknya
menempel di cylinder, bukan di control valve.
Check valve 3 dikenal dengan nama make up atau anti
cavitation valve. Valve ini biasanya dipasangkan dengan
sebuah relief valve. Pada unit kecil relief valve dan make up
valve ini menjadi satu komponen yang tak terpisahkan, sedang
pada unit besar biasanya antara relief valve dan make up valve
ini terbagi menjadi dua komponen yang terpisah, kendati
bekerjanya tetap saling berkaitan. Fungsi valve ini adalah untuk
mengalirkan oli dari tangki menuju ke sistem saat terjadi
kevakuman, untuk mencegah terjadinya kavitasi di dalam
system hidrolik. Saat actuator bergerak akibat external force,
maka pada satu sisi akan timbul tekanan yang sangat tinggi,
dan di sisi satunya akan terjadi vakum karena aliran oli dari

pompa telah berhenti. Pada sisi bertekanan tinggi, oli akan


dibuang ke tangki melalui relief valve. Dan pada sisi yang
vakum, oli akan dialirkan dari tangki untuk mengisi kevakuman
tersebut melalui make up valve.
2) Flow combiner valve
- Ketika kerja kombinasi dari front attachment dan travel, spool
dari combiner control valve yang berada di signal control
-

valve bergeser.
Ketika spool dari combiner flow control bergeser, tekanan oli

dari main pump1 mengalir ke spool dari travel kiri.


Oleh karena itu, tekanan oli dari main pump1 diarahkan ke
spool travel kanan dan kiri. Kemudian, tekanan oli dari main
pump2 diarahkan ke front attachmen dan swing. Akibatnya,
ketika kerja kombinasi dari travel, front attachment dan
swing, unit dapat berjalan lurus.

Gambar 26. Flow combiner valve

Gambar 27. Aplikasi flow combiner valve


3) Main relief valve
Main relief valve mencegah tekanan pada sirkuit utama dari
kenaikan tekanan yang melebihi set-pressure, selama aktuator
(motor dan silinder hidrolik) bekerja. Sehingga kebocoran oli
pada sambungan hose dan pipa serta kerusakan dari aktuator
dapat dicegah.
Cara kerja: Tekanan dalam port HP (main circuit) pilot poppet
melalui orifice A pada main poppet, dan orifice B pada dudukan.
Ketika tekanan pada port HP naik melebihi tekanan dari pegas
B, pilot poppet akan membuka, sehingga oli akan mengalir ke
port LP (tangki hidrolik) melalui saluran dan celah di sekitar
sleeve.
Pada saat itu, perbedaan tekanan terjadi antara port HP
dengan spring chamber.
Jika perbedaan tekanan bertambah melebihi tekanan spring A,
main poppet membuka sehingga oli dari port HP mengalir ke
port LP (tangki).
Menambah set-pressure

Pilot pressure dari katup solenoid (SG) diarahkan ke port SG,


piston akan menekan spring B. Sehingga kekuatan spring B
akan bertambah. Oleh karena itu, tekanan yg diperlukan untuk
membuka pilot poppet naik, atau set-pressure dari relief valve
naik.

Gambar 28. Main relief valve


4) Overload relief valve
Overload relief valve terletak di boom, arm, bucket. Overload
relief valve mencegah tiap sirkuit aktuator dari kenaikan
tekanan berlebihan ketika aktuator bergerak karena terkena
beban luar. Selain itu, ketika tekanan sirkuit aktuator dikurangi,
aliran oli hidrolik dari tangki untuk mencegah terjadinya kavitasi
(fungsi dari make up).
Relief operation
- Tekanan dalam port HP (sirkuit aktuator) mendorong pilot
-

poppet melalui sebuah orifice dalam piston.


Ketika tekanan di port HP bertambah melebihi tekanan dari
pegas B, pilot poppet akan terdorong dan tekanan oli akan
mengalir ke port LP (tangki) melalui saluran A dan celah

sekitar sleeve.
Pada saat itu, perbedaan tekanan terjadi antara port HP dan

spring chamber dikarenakan orifice.


Jika perbedaan tekanan ini bertambah melebihi tekanan
pegas A, main poppet membuka sehingga di port HP

mengalir ke port LP.


Dengan demikian, tekanan sirkuit aktuator berkurang.

Ketika tekanan sudah berkurang sampai ke tekanan yg


diperbolehkan, piston dan main poppet menutup oleh spring
A.

Gambar 29. Overload relief valve saat relief


Make-Up Operation
- Ketika tekanan di port HP (sirkuit aktuator) berkurang sampai
lebih rendah drpd port LP (tangki), sleeve bergerak ke
-

kanan.
Oli hidrolik mengalir ke port HP dari port LP dan kavitasi

dapat dicegah.
Ketika tekanan dalam port HP sudah tinggi, sleeve tertutup
oleh gaya spring C.

Gambar 30. Overload relief valve saat make-up


5) Regenerative valve
Regenerative valve terdapat pada sirkuit boom lower, arm rollin, dan bucket roll-in. Regenerative valve menambah kecepatan
silinder dan menambah controllability.
Cara kerja
Boom regenerative valve dan baucket regenerative valve

Ketika bucket roll-in, return oil dari sisi rod silinder masuk

lubang di spool dan melalui check valve.


Pada saat itu, jika tekanan pada silinder sisi bottom lebih

rendah drpd sisi rod, check valve terbuka.


Kemudian, return oil pada silinder sisi rod mengalir kedalam
sisi bottom bersama dengan oli yg dari pompa, sehingga

kecepatan silinder bertambah.


Ketika silinder sdh bergerak penuh, tekanan pada silinder
sisi bottom lebih tinggi drpd sisi rod. Oleh karena itu, check
valve tertutup dan proses regenerative berhenti.

Gambar 31. Proses regenerative


Arm regenerative valve
Saat normal
- Selama operasi dari arm roll-in normal, return oil dari silinder
sisi rod mengalir ke chamber B melalui notch (C) pada spool
-

arm1.
Return oil dibagi dari chamber B. Satu mengalir ke tangki
melalui notch (A) pada spool arm1. Yang lain mengalir ke
tangki melalui hole (orifice) pada spool dari arm regenerative

valve.
Saat tekanan pada silinder di sisi bottom lebih besar drpd

tekanan di sisi rod, check valve tetap tertutup.


Akibatnya, tekanan oli pada silinder di sisi rod tidak mengalir
ke silinder sisi bottom, proses regenerative tidak terjadi.

Saat regenerative
- Ketika solenoid valve (SC) diaktifkan oleh sinyal dari main
controller, pilot pressure menggeser spool pada arm
-

regenerative valve.
Tekanan oli dari chamber B (sisi rod) tertutup oleh spool dari

arm regenerative valve.


Tekanan oli yg mengalir ke tangki dari chamber hanya
melalui notch (A) pada spool arm1, tekanan di chamber B

bertambah.
Tekanan pada silinder di sisi rod menjadi lebih besar dari

pada sisi bottom.


Akibatnya, tekanan pada sisi rod membuka check valve,
dikombinasikan dengan tekanan oli dari main pump2

bersama-sama dan mengalir ke silinder pada sisi bottom.


Proses regenerative terjadi dengan cara di atas dan
menambah kecepatan silinder.

Gambar 31. Arm regenerative valve

Gambar 32. Proses regenerative

6) Anti-Drift valve
Anti drift valve terpasang sirkuit dari silinder boom pada sisi
bottom, dan silinder arm pada sisi digunakan untuk mencegah
silinder mengalami drift.
Holding operation
- Ketika control lever pd posisi netral, switch valve pada anti
-

drift valve tidak bergeser.


Tekanan pada boom silinder sisi bottom (arm pd sisi rod)
lewat melalui switch valve dan mendorong check valve pd

anti drift valve.


Akibatnya, karena check valve terdorong dan return circuit

dari silinder ditutup, sehingga cylinder drift dapat dikurangi.


Releasing operation
- Ketika arm roll-in atau boom lower, tekanan oli dari pilot
valve

mendorong

piston

dalam

anti

drift

valve

dan

menggeser switch valve.


Oli di spring chamber dari check valve mengalir kembali ke

tangki melalui saluran di switch valve.


Ketika tekanan di spring chamber berkurang dan tekanan oli
dari silinder sisi bottom lebih besar dari pada tekanan di
spring chamber dan gaya pegas, check valve bergerak ke

kanan karena perbedaan luasan.


Akibatnya, return oil dari boom silinder sisi bottom (arm

silinder sisi rod) mengalir ke spool.


Penurunan tekanan pada spring chamber dengan dikurangi
oleh orifice pada swtch valve, check valve dicegah dari
bergerak terlalu cepat dan benturan dikurangi waktu boom
lower.

Gambar 33. Proses anti-drift

Gambar 34. Anti-drift valve


7) Flow Rate Control Valve
Flow rate control valve terdapat pada sirkuit boom, arm, bucket
dan auxiliary, membatasi oli pada sirkuit selama kerja
kombinasi dan memberikan prioritas ke aktuator yg lain.
Flow rate control valve dioperasikan selama kerja kombinasi
ditunjukkan di bawah ini.
Flow control valve
Boom

Combined operation
Boom lower (operasi

dg

front

attachment di atas tanah (tekanan


Arm1
Arm2
Bucket
Auxiliary

tinggi pada sisi bottom))


Swing dan Arm Roll-In
Swing, Boom Raise dan Arm Roll-In
Boom Raise dan Arm Roll_in
Front attachment dan Auxiliary

Arm Flow Rate Control Valve


Normal operation
- Tekanan oli dari pump2 mendorong check valve pada poppet
-

valve.
Dengan switch valve yang biasanya terbuka, tekanan oli dari

pump2 membuka check valve mengalir ke spool arm1.


Jika beban pada aktuator tinggi, poppet valve terbuka dan
tekanan oli dari pump2 mengalir ke spool arm1.

Oleh karena itu, aliran yang mengalir melalui spool arm1 naik
dan kecepatam arm naik.

Gambar 35. Arm flow rate operation (saat normal)


Flow rate control operation
- Switch valve dalam flow rate valve dari arm1 bergeser oleh
tekanan pilot dari spool flow rate dari arm1 pada signal
-

control valve.
Maka dari itu, tekanan balik dalam poppet valve bertambah

dan gaya untuk menutup poppet valve muncul.


Akibatnya, poppet valve membatasi aliran ke spool arm1 dan
tekananoli disuplai ke sisi swing yang tekanan bebannya
lebih tinggi.

Gambar 36. Arm flow rate operation (saat kerja)

(a)

(b)

(c)
Gambar 37. Arm flow rate control valve
8) Digging Regenerative Valve
Digging regenerative valve terletak pada return circuit dari boom
lower dan berfungsi selama kerja kombinasi dari boom raise
dan arm roll-in
Ketika digging regenerative valve bergeser, tekanan oli dari
silinder boom sisi rod (return side) melalui digging regenerative
valve dikombinasikan dengan tekanan oli dari pump2 dan
mengalir ke spool arm1. Oleh karena itu, kecepatan dari arm
roll-in bertambah.
Cara kerja:
- Ketika solenoid valve unit SF dapat sinyal dari MC, tekanan oli
-

dari pilot pump mengalir ke port SF melalui solenoid valve (SF).


Tekanan oli dari port SF mendorong ujung spool melalui

inner passage.
Spool bergerak ke bawah oleh tekanan dari pegas.
Oleh karena itu, tekanan oli dari silinder boom pada sisi rod
(return side) membuka check valve, dikombinasikan dengan

tekanan oli dari pump2 dan mengalir ke spool arm1.


Akibatnya, aliran ke silinder arm bertambah, kecepatan arm
roll-in juga bertambah.

Gambar 38. Digging Regenerative Valve

Gambar 39. Sirkuit diggingregenerative


b. Neutral circuit

Ketika kontrol lever dalam posisi netral, tekanan oli dari main
pump lewat melalui control valve dan kembali ke tangki hidrolik.

Gambar 40. Sirkuit Netral

c. Single operation circuit

Tekanan oli dari main pump 1 diarahkan ke 4-spool control


valve dan kemudian diarahkan ke tiap spool yaitu, travel (kanan),
bucket, boom 1, dan arm 2.
Tekanan oli dari main pump 2 diarahkan ke 5-spool control
valve dan kemudian diarahkan ke tiap spool, yaitu : swing, arm1,
boom 2 dan travel (kiri).
Boom dan arm digerakkan oleh tekanan oli dari ke-2 main
pump. Tekanan oli dari tiap main pump dikombinasi dan dialirkan
secara bersama-sama.

d. Combined operation circuit


- Swing and boom raise operation
Ketika boom naik (raise) sambil swing, tekanan oli dari pilot

menggeser/menggerakkan spool swing, boom1 dan boom2.


Tekanan oli dari main pump 1 mengalir ke silinder boom

melalui sirkuit paralel dan spool boom 1, untuk boom naik.


Tekanan oli dari main pump 2 mengalir ke motor swing

melalui spool dari swing.


Pada saat yang sama, tekanan oli dari main pump 2
mengalir melalui sirkuit paralel dan setelah dikombinasikan
dengan aliran dari main pump 1, mengalir ke boom cylinder,
menaikkan boom bersama-sama dengan tekanan oli dari
main pump 1.

Gambar 41. Combined operation circuit (swing & boom raise)

Travel and arm Roll-In Operation


Ketika arm bergerak roll-in dibarengi dengan traveling,
tekanan oli dari pilot pump menggerakkan spool dari travel,
arm1 dan arm2.

Pada saat yang sama, tekanan oli dari pilot pump pada
travel kanan menggerakkan spool dari flow combiner valve
yang terdapat pada signal control valve. Tekanan oli dari
spool flow combiner valve kontrol diarahkan ke flow
combiner valve, kemudian menggerakkan flow combiner

valve.
Tekanan oli dari main pump1 menggerakkan motor travel

kanan melalui spool travel kanan.


Pada saat yang sama, tekanan oli dari main pump1 lewat
melalui flow combiner valve dan spool travel kiri dan

menggerakkan motor travel kiri.


Tekanan oli dari main pump2 mengalir ke arm cylinder

melalui spool arm1, menggerakkan arm.


Akibatnya, tekanan oli dari main pump2 digunakan hanya
untuk kerja arm. Tekanan oli dari main pump1 sama saja
diarahkan ke motor travel kanan dan motor travel kiri,
sehingga unit dapat berjalan lurus.

Gambar 42. Combined operation circuit (Travel and arm Roll-In)

Auxiliary circuit
Ketika front attachment semisal hydraulic breaker digunakan,
tekanan oli dari hydraulic breaker pilot valve diarahkan ke
auxiliary flow combiner valve dan bypass shut-out valve.
Oleh karena itu, netral circuit pada 4-spool control valve
ditutup sehingga oli dari main pump1 diarahkan ke spool
auxiliary melalui auxiliary flow combiner valve.

Gambar 43. Auxiliary circuit


III. SISTEM KONTROL DALAM HIDROLIK EXCAVATOR

Main controller (MC) digunakan untuk mengontrol operasional dari


excavator. Sinyal elektronik dari engine control dial, berbagai sensor dan
switches dikirim ke Main Controller. Setelah memproses sinyal yang
diterima dalam logic circuit, MC mengirim sinyal kontrol ke solenoid valve,
dan sirkuit kontrol yg lain untuk mengatur engine, motor dan valve-valve.

Gambar 44. Input dan output sinyal pada Main Controller

1. Pump control
Pump control system mempunyai fungsi untuk:
- Speed sensing control

- Pump 1 flow rate limit control


- Pump 2 flow rate limit control
Lay out dari pump control system

Gambar 45. Lay out dari sistem kontrol pompa

a. Speed sensing control


Fungsi : mengontrol flow rate pompa yang merupakan respon
dari perubahan kecepatan engine yang bervariasi akibat beban,
sehingga output engine dapat dimanfaatkan secara efisien.
Cara kerja:
- Target kecepatan engine diatur oleh engine control dial.
- MC menghitung perbedaan kecepatan antara kecepatan
target dan kecepatan aktual yang dimonitor oleh N sensor.

Kemudian, MC mengirim sinyal ke torque control solenoid


-

valve.
Torque control solenoid valve memberikan tekanan oli dari
pilot pump sebagai respon ketika ada sinyal yang diterima
dari MC, ke regulator pompa untuk mengontrol flow rate

pompa.
Jika beban engine bertambah dan kecepatan aktual engine
lebih rendah dari kecepatan target, sudut dari pompa akan
dikurangi sehingga flow rate pompa juga akan berkurang.

Sehingga beban engine berkurang, mencegah engine stall.


Jika kecepatan aktual engine lebih cepat dari kecepatan
target, sudut pompa akan bertambah sehingga flow rate
pompa akan bertambah, dan output engine dapat digunakan
secara efisien.

Gambar 46. Lay out speed sensing control


b. Pump 1 flow rate limit control (pada unit dg sensor auxiliary)
Fungsi: Membatasi flow rate dari main pump1, ketika front
attachment (terutama vibrating hamer) digunakan.
Cara kerja: Ketika fornt attachment digunakan, MC menerima
sinyal dari sensor tekanan auxiliary. Maka MC menggerakkan
maximum flow rate limit solenoid valve dari main pump1 untuk
mengurangi maximum pump flow rate.

Gambar 47. Lay out Pump flow rate control


2. Valve control
Sistem valve control berfungsi untuk
- Power digging control
- Auto power lift control
- Arm flow rate control
- Arm regenerative control
- Travel motor swash angle control
- Auxiliary flow rate control

Gambar 48. Lay out dari valve control system


a. Power digging control
Fungsi : menambah daya digging secara temporari dengan
menambah tekanan relief.
Cara kerja: Maksimum 8 detik setelah switch untuk power digging
dihidupkan, MC secara kontinu akan mengaktifkan solenoid valve
(SG) yang mengalirkan oli dari pilot pump ke main relief valve,
menaikkan relief set-pressure.

Gambar 49. Power digging control


b. Auto Power Lift Control
Fungsi : Menambah tekanan oli saat menaikkan boom.
Cara kerja: MC mengaktifkan solenoid valve (SG) ketika
menerima sinyal dari sensor tekanan (boom naik) dan sensor
tekanan main pump1. Solenoid valve (SG) mengirim oli ke relief
valve, menambah set-pressure dari relief valve.
Syarat:
Sensor tekanan boom naik : ada sinyal
Sensor tekanan pompa 1 : tekanan tinggi
Sensor tekanan arm roll-in : nol (control lever dalam posisi netral)

Gambar 50. Auto power lift control


c. Arm Flow Rate Control
Fungsi : memberikan prioritas tekanan oli dari main pump2
mengalir ke spool swing motor daripada ke ke spool arm1 untuk
memastikan tenaga swing.
Cara kerja: MC mengaktifkan solenoid valve (SE) ketika
menerima sinyal dari sensor tekanan main pump2 dan sensor
tekanan swing & sensor tekanan arm. Solenoid valve (SE)
mengirimkan pilot pressure oil ke arm flow rate control sehingga
saluran parallel ke spool arm1 dipersempit (restricted). Dengan
demikian, spool untuk swing diprioritaskan, memastikan tenaga

swing, mencegah upperstructure berputar karena gaya reaksi saat


arm roll in.
Syarat:
Sensor tekanan main pump2 : tekanan tinggi
Sensor tekanan Swing : harus ada sensor
Sensor tekanan arm : mengeluarkan sinyal

Gambar 51. Arm flow rate control

d. Arm regenerative control


Fungsi: mengakselerasi kecepatan arm roll-in ketika arm
sedang roll in
Cara kerja: MC mengaktifkan solenoid (SC) sehingga
solenoid

valve

mengirimkan

pilot

pressure

untuk

menggerakkan arm regenerative valve ketika ada sinyal dari


sensor tekanan main pump2, sensor tekanan swing, sensor
tekanan arm roll-in, sensor tekanan boom naik. Saat arm
regenerative valve bergeser, aliran oli dari arm silinder pada
sisi rod yg menuju ke tangki hidrolik ditutup. Kemudian oli
tersebut dikombinasikan dengan oli dari pompa dan
diarahkan ke silinder arm pada sisi bottom untuk menambah
kecepatan silinder arm ketika roll-in.
Syarat :
Sensor tekanan main pump2 : low pressure
Sensor tekanan Arm roll in : high output
Sensor tekanan Swing atau boom : outputing signal.

Gambar 52. Arm regenerative control

e. Travel Motor Swash Angle Control


Fungsi : Mengontrol mode travel
Cara kerja: ketika switch mode travel dalam posisi SLOW,
sudut dari swash plate dalam posisi maksimum sehingga
kecepatan travel adalah lambat.
Ketika MC menerima sinyal dari sensor tekanan travel,
sensor tekanan main pump1 dan sensor tekanan main pum2
untuk mode kecepatan FAST, MC mengaktifkan solenoid
(SI). Kemudian solenoid (SI) mengirimkan pilot pressure ke
pengatur sudut (Swash plate), mengurangi sudut swash
angel ke minimum sehingga kecepatan travel bertambah.
Syarat:
Sensor tekanan travel : ON
Sensor tekanan front attachment : OFF
Sensor tekanan main pump 1 dan 2 : tekanan rendah
Sensor control tekanan main pump1 dan 2 : tekanan tinggi

Gambar 53. Travel motor swash angle control

f. Auxiliary Flow Rate Control (hanya pada unit dg sensor


tekanan auxiliary dan solenoid untuk flow rate auxiliary)

Fungsi : menyempitkan oli yang ke spool auxiliary ketika


kerja kombinasi swing, boom raise, dan arm roll in saat
menggerakkan

front

attachment

menggunakan

spool

auxiliaryagar saat kerja kombinasi dapat terkontrol dg baik.


Cara kerja: MC mengaktifkan solenoid dari auxiliary flow
rate, sehingga spool auxiliary dikecilkan alirannya.
Syarat:
Sensor Tekanan auxiliary : ON
Swing, boom, raise, sensor tekanan arm roll-in : ON

Gambar 54. Auxiliary flow rate control