Anda di halaman 1dari 6

ACARA IV

POLIPLOIDISASI
A. Hasil Pengamatan
Hasil Pengamatan Metafase pada Akar Bawang Merah (nama latin)
Penambahan Colchicine (C-metafase)
Jumlah Kromosom :

Tanpa Pemberian Colchicine


Jumlah Kromosom :

B. Pembahasan
Kromosom adalah struktur yang paling penting dalam sel dan berada di inti sel.
Kromosom memiliki dua molekul DNA identik dan mereka disebut kromatid. Di dalam sel
kromosom berpasangan, pasangan kromosom ini identik yang disebut kromosom
homolog. Setiap organisme memiliki seperangkat kromosom tertentu di dalam tiap-tiap sel
dan jumlah kromosom tersebut konstan untuk suatu organisme. Pada bawang merah
memiliki 16 pasang kromosom. Organisme yang memiliki dua set kromosom homolog
disebut diploid dan dilambangkan dengan 2n. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan
akan terjadinya perubahan perangkat kromosom tersebut (Sopiana, 2015). Poliploidi
adalah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom) lebih dari
sepasang. Organisme yang memiliki keadaan demikian disebut sebagai organisme
poliploid. Usaha-usaha yang dilakukan orang untuk menghasilkan organisme poliploid
disebut sebagai poliploidisasi (Rieger et al., 1976).
Di alam poliploidi dapat terjadi karena kejutan listrik (petir), kedaan lingkungan
ekstrem atau persilangan yang diikuti dengan gangguan pembelahan. Perilaku reproduksi
tertentu mendukung poliploidi terjadi, misalnya perbanyakan vegetatif atau partenogenesis
dan menyebar luas (Afifauliya, 2010).
Penggandaan kromosom dapat terjadi secara spontan atau buatan. Penggandaan
kromosom terjadi bila pada pembelahan sel. Proses penggandaan kromosom tidak diikuti
penggandaan kromosom terjadi segera setelah fertilisasi maka individu yang dihasilkan
akan menjadi individu poliploid sempurna. Bila penggandaan berlangsung pada tahap
perkembangan lanjut maka poliploid hanya terjadi pada bagian atau jaringan tertentu saja.
Bila penggandaan terjadi setelah meiosis maka akan terjadi pengurangan gamet sehingga
bila dibuahi dengan gamet normal maka akan terbentuk poliploid tidak berimbang. Proses
penggandaan kromosom pada tanaman yang terjadi karena larutan kolkisin pada
konsentrasi kritis tertentu akan menghalangi penyusunan mikrotubula dari benang-benang
spindel yang mengakibatkan ketidakteraturan pada mitosis. Apabila benang-benang
spindel tidak terbentuk pada pembelahan mitosis sel diploid, kromosom yang telah
mengganda selama interfase gagal memisah pada anaphase. Sebuah membrane inti
kemudian terbentuk mengelilingi dua sel kromosom diploid yang seharusnya
menghasilkan dua sel anak, menghasilkan sel dengan empat sel kromosom (tetraploid)
(Gardner et al, 1991). Pembelahan sel secara mitosis yang mengalami modifikasi ini

disebut C-mitosis, dan hasilnya adalah sel-sel yang mengandung genom dua kali lipat dari
jumlah genom semula.
Poliploidi buatan dapat dilakukan dengan meniru yang terjadi di alam atau dengan
menggunakan mutagen. Kolkisin (C22H25O6N) adalah mutagen yang umum dipakai untuk
pembuatan poliploid. Kolkisin merupakan alkaloid yang diekstrak dari biji dan umbi
tanaman Colchicum autumnale Linn (Suryo, 1995). Kolkisin merupakan senyawa yang
bersifat toksik dan karsinogenik, larut dalam air, alkohol, dan kloroform tapi tidak begitu
larut dalam eter. Kolkisin umum digunakan untuk menginduksi sel poliploid. Pemberian
kolkisin pada titik tumbuh tanaman akan menghambat pembentukan benang-benang
spindel dalam sel- sel jaringan tersebut yang menyebabkan kromatid gagal berpisah pada
anafase, akibatnya menyebabkan terjadinya penggandaan kromosom tanpa pembentukan
dinding sel (Crowder, 1997). Dampak kolkisin terhadap kromosom tanaman yaitu
kromosom yang telah mengganda selama interfase gagal memisah pada saat anafase
sehingga menghasilkan sel-sel yang mengandung dua kali lipat dari jumlah genom semula,
menampilan tanaman menjadi jelek, sel-sel banyak yang rusak atau bahkan menyebabkan
matinya tanaman.
Seacara alami poliploid secara morfologi sering lebih besar penampakkannya
dari spesies diploid, seperti permukaan daun lebih luas, organ bunga lebih tebal, dan
tanaman lebih tinggi. Populasi poliploidi mempunyai kemampuan berkompetisi lebih baik
dan daerah penyebarannya luas. Menurut Simon et.al. (1987); Nyman and Wallin (1993)
Ciri-ciri tanaman poliploid yaitu tanaman lebih besar dan daun lebih tebal, seperti pada
bunga Alyssum maritimum, strawberry. Cabai di samping juga menghasilkan sistem
perakaran yang lebih baik (Kulkarni and Borse, 2010), toleran terhadap cekaman abiotik,
dan mampu mengatasi ketidak sesuaian antar spesies.

Kesimpulan
1

2
3

Penggandaan kromosom dapat terjadi secara alami dan buatan. Secara alami dapat terjadi
karena dipengaruhi kedaan ekstrem lingkungan dan terjadi persilangan. Secara buatan
dapat terjadi karena diberi perlakuan khusus dengan cara mekanis dengan cara grafting,
cara fisis dengan memberikan perlakuan lingkungan ekstrem, dan cara kemis dengan
menggunakan zat-zat kimia yang mampu menggandakan anakan kromosom
Pemberian Colchicine pada tanaman akan menghalang-halangi terbentuknya benang
spindel, sehingga kromosom anak tidak bergerak ke kutub-kutub set, tetapi tetap
ditengah-tengah sebagai pasangan
Ciri-ciri tanaman poliploid yaitu tanaman lebih besar dan daun lebih tebal dan lebar,
tanaman lebih tinggi, organ bunag lebih tebal, sistem perakaran yang lebih baik, toleran
terhadap cekaman abiotik, dan mampu mengatasi ketidak sesuaian antar spesies tanaman.

Daftar Pustaka
Afifauliya. 2010. Poliploidi. <http://www.slideshare.net/afifauliya/poliploidi>.Diakses
tanggal 21 Mei 2015.
Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Gardner, E.J., M.J. Simmons and D.P. Snustad., 1991. Principles of Genetics. Edisi ke-2,
John Wiley and Sons Inc., New York.
Kulkarni, M. And T. Borse. 2010. Induced polyploidy with gigas expression for root traits in
Capsicum annum (L). Plant Breeding 129:461-464.
Nyman M. And A. Wailin. 1993. Somacional variation in protoplast-derived strawberry
plants. II International Strawberry Symposium. Maryland. Acta Horticulturae 348.
Rieger R, A. Michaelis, and M. M. Green. 1976. Glossary of Genetics and Cytogenetics 4th
edition. Spring Verlag, New York.
Simon I, Racz E & Zatyko JM. 1987. Preliminary notes on somacional variation of
strawberry. Fruit Science Reports. (Skierniewice, Poland) 14:154-155.
Sopiana, Angga. 2015. Perbedaan Antara Aneuploidi dan Poliploidi.
<http://www.sridianti.com/perbedaan-antara-aneuploidi-dan-poliploidi.html>. Diakses
tanggal 21 Mei 2015.
Suryo. l995. Sitogenetika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Lampiran
1. Profase kontrol

1. Profase kolkisin

2. Metafase kontrol

2. Metafase kolkisin

3. Anafase

4. Telofase