Anda di halaman 1dari 123

r

Prof. t': EK-O FUDiI{ARD.!O, M.Sc.


{F-Citor)

]f'TI

f;

r.;
t

T
I
I
I

r;
A [t )! T Lt\TU[t
I

t 0 NfijIN

lffi"i
Timur
I
lu*a

EFT_r.--ffit'r: LLj

JATI DIRI
ARSITEIffUR INDONESIA

Hak Cipta yang-dilindungi undang_undang pada: pengarang


Hak Penerbitan
p.n"iiitAlrrnii---

pada
Percetakan
Perancangkulit

,
:
;
:
:
:

Cetakan ke1
Cetakan ke2
Cetakan ke3

Alumni
EkoBudihardjo
Tahun 1989
Tahun 1991
Tahun 1996

Sebagian atau seluruhnya isi buku


ini dilarang digunakan
atau diperbanyak dalam bentuk apa pun

t""p""irfri.rr,ii.
---'-'

Editor:
PROF.IR. EKO BUDIHARDIO, M.Sc.

dari penerbitAlumni, kecualidalamhai


pengutipan untuk keperluan penulisan
artjkel atau karangan ilmiah.

),rW'q IfMUI
ru.--.A
5Urtrrot'-}=,;

-156-9

P.T. ALUMNI
Jl. Bukit pal<ar Timur IIl109
T el. @22)

Fax. (022)

2sll?st,

2503038, 2503039
Bandung - 40197

2fiN44 -

PENERB IT ALUMNI /

L997

/ BANDUN G

KOTAK POS 8232 BIIID

ul

KATA PENGANEAR CE*fAI{AI.{ I'EKIAryIA

Riwayat Singkat Penulis

ilR()li 1fi. Fltr0 ti{iDIfLARDJO, M.Sc., dilahirkan tanggal 9 Juni 1944 di


r'),irhatinr'fr.;, rrr,.ri'.'lr',irrillrrr sludr sl'l)?)!iai sarjana tckntk Arsitt'ktur pada F'akultas
''t.krrii< i nj'"-i'r,rit;rs {iadjirh l,iaria Y,,gyak;,rta tahrn 1969.
I:',.rrr1irlir.r;i l'.r'rcir-raria.nanf ir dilr:nrJrrrh ss;xla(ltti,ue.rsily of ll'aleslnstituteof Science
n'hr!4!,4ty tli irrggr-i" dalarr birlarr.r', pcren(',rnaan kota (1976-1t)78). Tahun 1U90
Jiiri;k,r,,ir.in r,..lr,Ul;ri {i:rrri lJr sar, terrrasuk salah satu _v;rir.g tr:rrnuda di t-lndip.

$ri'!

,{}qr1}i;1.1;,r',nt\.ri:,mcnyalikannrakalahrlrlarnbt:rbagai p('rtemuanilnriah,baikdi

IAIIOI'H Congress oil PLanniilg towards a


Clti,l;11 ;.'" r,rt iKrrala l.unrpui. 191)11\: ILtlLl In/iastrucfure Confcrente ft>r Local
(]r.,rn't'tttLttl:. trtid Ptthltt: Authorrljp-r (llan.llkok, 1992); Couference on Urban IIU'itagc
i)orsrrrilt,.tt llian l,'ransisco, l:lyilt: World Planning Coilgress ott lIunan Settlentents
li,tr ltii:; 2: i.rt i'{,nlilry ([3t:ijing. 199tr); lnlernotionul Congress on Engineeriilg
diil.u!r r!i.tui,un di luar nt,geri. antara lain

[,"lti,,tii.,* l\lrlhournt,l*)5)thnhiltrnotional L)ottfuptceon'nnoisntondlTeritoge


r" orlvakarta, M)(i)
ttlah ri!perroieh, dianf;rranya I/panyasa lihakti UPa|radaka
rJ u'i ii riri lurrr .lalva'lengah (1969); Penghargaan rlengan Prrjian dari IkatanArsitek
lriri,:n,.;.r (i:1.)11. 11in,nu* ilrn;ri+ Iluda,','a rlari Prrvrt Lcmbaga Kebudayaan Jawzr

l;l

t;

rpr? i,

jir.rl:nt:.rr

f,,.

t,1""',,\.t'i,Mtiitl

ngli:rrE,urn

r:ftheYnrdari llariaoSuar;rlVlerdeka (199i1);Wibau:aSerojaNugraha

i i-r nilriirrrr:rs {i\$4) ,.tulh ici[kt R&ayust; rJari Pcrsatuan ln sinyur Indonesia (l 995)
darr.trr{vr" l.ttilturo !'it!t\k |\l\t tlirri Prr:sirlon Itl (1lXt6)
,.irr i

.j;rhal;iri:tr,,a srlritang ;,rlai;rir I)t'k;rn lr:ikttltas 'l'eknik Universitas Dipononegoro,


1{1 i1in K,,h,}}r});ri;rn lA! da lAii (labang,lawa1i.ngah, Ketua I)ewan Kesenian.Jawa

'l r'ngaii, Ketu:i

l)r"*;r'r lrr'nasihat Arsitrktitr rian I'embangunan Perkotaan

srrrta

i)resi.l,.ri Ii,,ht ry L'tu l; l'ilrn;q13ng.


Kr'ar:qgot,i,rri I'r,rii'si<,,nal dalam badern intrrirasional

ltisnotitttttt.! r..'ottlitrun (llitl)

r-n

eliputi couwil menbei l{ahitut

ir,lt'xico; touncil nenher Eastern Regianal

()rg,ttirt:tltr,;tr i,n l'lqnning ond Ilousittg (EAROPIl) Malaysia; aoggotaltltt/fiatio,tul


l"ciryltt.irtt .i:it I l,ttrt'itry onl l'lnnilng (lh'tlP) N t.derland, dan ang.qota Natio'nol Tiust
for i lisloti' I'rrce rt ittt,tn , Anre'rika Sr-'rikat"
I)ada iahun 191).i trrpilih sebagai anggota Dewan Riset Nasional dan anggota Pokja
-,'.i:ri Ij'r,!ir.,',,,!i I, rllltantt;tt.

il

Tukar pendapat dan arlu argurnenlasi terrrang lati diri


atau identitas arsitektur, baik rlaiam skala ]olcal, regional.
nasional maupun internasional, <lewasa irti r:eririerung
semakin menghangat, Terutartra seteiah ki;rn riisad;ir i hahwa
perkembangan Arsitektur Nloclerri derrgan B,-dy.l internasionalnya, telah mencipi.akan ketunggai-rrrl)aan wajah
lingkungan pada berbagai kota Lre'sar iii selurirl, rluni;r.
Para arsitek dan budayawan Indonesia sebetulnva telah
banyak men gemukakan ga.gasan ten *ur g upavil

rn r-'rtir r pta

kan

karya arsitektur yang berwawasan pa(-la perigrm.gkixparl jati


diri dan rasa ruangyang idlas berpribadi. Flanya saja $angat
disayangkan bahwa pokok-ylokoh pikiran )'an,r- hand;rl
tersebut terlontar secara spora(lis llal;lnr hr:::[;1gni
kesempatan terpisah sehingga tiilak tereir;rni (I{'r,g.aIi h;rik.
'ferasa kesan bahwa para arsitek bt'rirui:rr"rrrlt;-ir' l( i'rr$ l)ada
maulah sempa sepanjang waldu. Slrk,ltlar si'b;:jlirr r.,,rltoh,
patla tahun 198O-an <triserlengganrlilii: I,ii{rivirll st'}iaii
pertentuan ihniah dan lrrofesioriiil nleni.i('! r:ii u I r;l]1':r r i rfl]luju
arsitektur Indonesia, Padalhal surlah stj;rli ini:rrrr ti)50.an
Prof.lr. Van Romondt meiemlrarkan gagasan rnrn1.j,-.i i)"ri hal
yang sama,

Saya lantas merasa terpanggii untuk niruiilih rian


rnenyusun secara urut. dan mnhrt, beri:agai gagilsan, J)okok
pikiran dan ide-ide yang tersebar tercerai tierai itr,r iiaian-r
bentuk antologi.
Ucapan terinia kasih t-ak terhingga saya sampaikan
kepada para penlumbang fulisan yang telah merrbcdkan izin
rlan dengan anfusias menyarnbut haik peni,rli;l1rr i;riku ini.
Demikian juga kepada pirnpinan JLrnlv)!r :n'rsitr:kiur" patla
berbagai universitas dan institut nr,t{eri nraril}r.'{ri swasta
(khususnya ITB, UGiVI, Undip, LII. IfS, Untar) rl;n, iiratan
Arsitek Indonesia yang telah ihul mernbanhr tersusun clan

terbitnya antologi ini, baik secara langsung maupun tidak


langsung, saya sampaikan penghargaan yang setinggi'
tingginya.
Dengan segenap keterbatasan, saya percaya buku
antologi ini akan mampu menjalankan misinya sebagai salah
safu bahan acuan yang bermanfaat, terutama bagr bagr para
arsitek dan mahasiswa arsitekfur yang berminat menggali
lebih dalam esensi arsitektur Indonesia yang memiliki jati
diri.

Semarang, November 1989

Eko Budihardjo
Editor

I{Af,A PENGANIAR CEIAI(AN XEDUA


Pada cetakan kedua buku ini tidak mengalami perubahan

mengenai materinya. Disain sampul dan kualitas kertas isi


buku diperbaiki sehingga tampil lebih memadai.
Semoga dengan cetakan kedua buku ini masih tetap
bermanfaat bagi para Pembaca.
Ikitik dan saran demi perbaikan buku ini senantiasa akan
dihargai.

I{AIA PENGANTAR CETAIGN KETIGA


Cetakan ketiga dari buku ini menyiratkan adanya rasa

haus akan bacaan tentang gagasan penciptaan karya


arsitektur yang memiliki jati diri atau identitas.
Kenyataan di berbagai kota besar di dunia memang

menunjukkan gejala kian lunturnya jati diri akibat


bermunculannya karya-karya arsitektur modern yang

memang efisien, rasional, fungsional, bahkan juga sangat


cerdas, namun acap kali lepas tercabut dari akarnya, tidak
kontekstual, dan kurang menyuguhkan karakter lokalnya.
Jati diri memang merupakan istilah yang berwayuh arti
alias mendua. Di satu sisi bisa diartikan dengan
penyeragaman, seperti yang pernah terjadi di Jawa Tengah
dengan 'joglonisasi'. Di sisi lain jati diri lebih tepat
diidentild<an dengan keunikan atau karakter pribadi, yang
membedakannya dari yang lain.
Jati diri se.bagai kekhasan atau kepribadian arsitektural
semacam itulah yang seyogianya dikembangkan terusmenerus bila memang disepakati bahwa karya arsitekhrr
merupakan pertanda zzLman dan cerminan dari masyarakat
yang selalu berubah. Panta rei, mengalir terus tanpa henti.
Hanya dengan tekad dan upaya tak kenal lelah unfuk
menciptakan karya arsitektur yang memiliki jati diri, baru
akan bisa diharap terb entuknya lingkungan binaan yang tidak
sekadar merupakan kumpulan bangunan dengan bahasa
arsitektur yang centang perenang.
Jati diri arsitektur Indonesia akan muncul dengan
sendirinya bila si perancang tidak terpasung pada persepsi
visual saja, melainkan juga memasukkan pertimbangan
budaya, perilaku masyarakat, ildim rlan seni-kriya setempat
yang khas.

Bandung, Maret 1991

vl

Penerbit

Kumpulan fulisan tentang jati diri arsitekfur Indonesia


ditilik dari berbaeai disiplin ilmu dan sudut pandang ini,
vll

cliharapkan akan menyuburkan dialog yang sinambung, agar

DAFTAR ISI

kita tidak terlindas arus globalisasi sehingga kehilangan


kepribadian.

Merupakan tugas luhur bersama, mengupayakan

suburnya lahan penciptaan h'arya arsitektur yang berjatidiri


agar kita ttdakpangling pada diri kita sendiri.
Semarang, 10 November 1996

Eko Budihardjo

Kata Pengantar Cetakan Pertama


Kata Pengantar Cetakan Kedua
Kata Pengantar Cetakan Ketiga

BAB

vi

vii

IDENTITAS BUDAYA DAN ARSITEKIUR


TRADISIONAL ..

I.1.
1.2.

Identitas Budaya dan Arsitekfur Indonesia/


Prof.Ir. Sidharta
Identitas Budaya dalam Karya Arsitektur/
Prof.Dr. S. Budhisantosa . . .

1.3. Arsitektur dan Kebudayaan/lr. Hindro


ljatrjono Sumardjan, IAI . . .
1.4. Memahami Arsitektur Tradisional dengan
Pendekatan Tipologi/Ir. Budi A. Sukada,
Grad.Hons. Dipl. (M)
1.5.

BAB

II.

20

30

Arsitektur Tradisional: Sebuah Faktor dalam Perancangan/lr. Baskoro Sardadi, IAI


Arsitektur Bukan Sekadar Bangunan/lr.

60

Eko Budihardjo, M.Sc.

70

WAWASAN ARSITEKIUR, SENI DAN TEK.


NOLOGI
II.1. Menczri Wawasan Arsitektur/lr. 'l)uk
Kuswartojo, IAI
ll.2 Arsitektur sebagai Seni-Skuktur/lr.
Wiratman Wangsadinata

fusitektur dan Teknologi/lr.

76
76
82

Yuswadi

Saliya, M.Arch.
dan Kesempalan KerjadiSektor

93

II.4. Arsitektur

Industri Konstruksi/Dr. Hidayat

IL5.

103

Penjabaran Wawasan Identitas dalaLrn Waclag

Arsitektur/lr.hkoBudiharcljo, M.Sc.

113

1X

ARSITEKIUR'IROPIS IN DONESIA
I[.1. Proses Berpikir Perancangan Arsitektur

dan Arsitektur 'liopis/lr'

t20

lII.2. fusitukhrr Tropis di lndonesia/Dipl' Ing'


Harisanto . ..
lII.3. I-aboratorium Arsitektur Tropis/lr' Maurn
Purnomo Rahardjo' M'SArs
III.4 fusitektur liopis: Tinjauan dari Segi Fisika
Bangunan/Dr'l' R'M' Sugijanto
I[.5. Landasan fusitektur Indonesia/Drs'
Darmanto Jatman, S'U' ' '
III.6. Pusarnya fusitektur Tropis Indonesia/Ir'
AndY Siswanto,

IAI

'

BAB W. ARSITEK|UR DAN MASYARAKAT


kepada
IV. 1. Kembalikan Arsitektur Tradisional
IAI
Silas,
MasYarakat/Ir' Johan
IV.2. fusitektur Masyarakat Transisi/Dr' Llmar
KaYam

IV.3. fusitektur dan Kepentingan Masyarakat/


Permadi, S'H' ' '
IV.4. Tradisi, Transisi, dan Identitas/Dipl'lng'
Suwondo Sutedjo, IAI . . .

IV.5.

Arsitektur: Suahr Profesi

Jati diri dalam bidang arsitektur bukanlah merupakan

Zaenudin

Kartadiwiria, M.fuch

131

136
143
153
161
166
166

773
186
196

Esoteris?/

Gunawan W. Gandasubrata. '


IY.6. Ilmu Sosial dan Humaniora dala''n Pendidikan Arsitektur/Ir' Eko Budihardjo, M'Sc'

PENDAHULUAN

120

201,

218

objek mati atau sasaran yang statis, melainkan lebih berupa


proses yang dinamis dengan sasaran yang selalu bergerak.
Menggali dan mengungkap jati diri arsitektur Indonesia serupa
saja halnya dengan menjelajahi perjalanan budaya dan
peradaban masyarakatnya sepanjang sejarah.
Sebagai suatu proses yang menerus, jati diri arsitektur tidak
bisa sekadar direncanakan, dirancang, dan dibuat dari luar,
semata-mata dengan maksud membentuk identitas itu
sendiril) Jati diri arsitektur lebih mungkin terbentuk dari
dalam, seringkali secara tanpa sadar, dengan wawasan
kontekstual untuk memecahkan masalah yang spesifik. Para
undagi dari Bali, misalnya menciptakan karya-karya arsitektur
berlandaskan pada kaidah-kaidah yang telah disepakati
sesuai kepercayaatt tnereka, tanpa ada maksud khusus untuk
menampilkan jati diri. Ternyata kemudian hasilnya diakui
sebagai karya arsitektur yang unik, berkarakter, khas. Dengan
perkataan lain, jati diri arsitektur akan muncul secara wajar
sebagai produk samping hasil pemecahan masalah arsitektur
setempat, dan bukan sebagai tujuan akhir yang harus dicapai.
Prof. Udo Kultermann lebih jauh melontarkan pendapat
bahwa jati diri dalam bidang arsitektur hanya dapat tumbuh
dari akar kebudayaan yang khusus. Semakin dalam akar
tradisinya di masa silam, semakin tinggi dan sehat pula tumbuhnya pohon arsitektur yang berkepribadian di masa depan.
Jati diri arsitektur yang berakar pada tradisi tersebut tidak
merupakan komoditi yang dapat dipindah-pindahkan. Lain
halnya dengan produk di bidang teknologi atau hasil penelitianpenelitian ilmiah, yang dapat dialihkan, diserah-terimakan atau
diperjual-belikan.2)
l)
2\

Powell. R.ed: "Architecture and ldentitt", 1983 :

10.

Kultermann, U: "Revilalizalion oJ Traditional Pqttern in Modern Architecture"'


1984

2.

xl

Faktor-faktor kunci yang dinilai sangat berpengaruh


terhadap penciptaan jati diri arsitektur Indonesia. meliputi
antara lain keunikan budaya dan arsitektur tradisional;
perkembangan ihnu, seni, dan teknologi; iklim setempat yang
tropis lembap; dan sudah barang tentu masyarakat lndonesia
sendiri yang sarat dengan kekhasan perilaku, tata nilai, dan
nornla-llorrna yang dianut.
Antologi ini disusun atas dasar kategitri I'aktor_l'aktor
penenlri terscbut.
Dalam Bab I yang bertemakan "ldentitas Budaya dan
Arsitektur Tradisional", disajikan pokok-pokok pikiran dari
Porf. Ir. Sidharta (gurubesar arsitektur Undip), Prof. DR.S.
Budhisantoso (antropolog UI dan Direktur Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional. Ditjen Kebudayaan PDK), Ir. Hindro
Tjahjono Soemardjan, IAI (mantan Ketua lkatan Arsitek
Indonesia), Ir. Budi A. Sukada. Grad. Hons. Dipl.AA. (staf
pengajar UI) Ir. Baskoro Sardadi, IAI (arsitek profesional)
dan lr. Eko Budihardjo, M.Sc (arsitek-planolog dosen Undip).
Berbagai wawasan dalam arsitektur, seni dan teknologi
dirangkum dalam Bab II yang menampilkan tokoh-tokoh
seperti Ir. Tjuk Kuswartojo (sekretaris PSLH, dan dosen ITB),
Ir. Wiratman Wangsadinata (Ketua Himpunan Ahli Konstruksi
dan Ketua INKINDO), Ir. YuswadiSaliya, M. Arch (mantan
Ketua Departemen Arsitektur FTSP ITB), DR. Hidayat
(ekonom, direktur Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan
[-ingkungan, Unpad) dan Ir. Eko Budihardjo, M.Sc (Kepala
Iliro Penelitian Ir.T. Undip).
Bab III mencoba mengupas kaitan antara iklim tropis
dengan karya arsitektur di Indonesia, dengan pembahaspembahas yang latar belakang pendidikan dan profesinya
'ferekam
bcrbcda.
di sini pendapat lr. Zainuddin Kartadiwira,
M. Arch (staf pengajar senior dari ITB), Dipl. Ing. Harisarrto (konsLrltan, pemegang satya lcncana dari Menristck), Ir.
IVlauro f)urnomo Rahardjo, MS.Ars (Untar), DR.lr.R.lVl
Sugiyanto (l)osen t.'isika Teknik I I'li), Drs. Darmarrto.lirtrrr;rrr,
xii

SU (Psikolog, pertyair), dan Ir.Andy Siswattto'

lAl (direktur

biro konsultan).
Pengkajian tentang saling ltubungatt alltara arsitcktur datr
masyarakat banyak, dikelonlpokkatt dalam llab lV' yaltg
mengetengahkan pcndapat lr. Johan Silas (dosen dan pcrrcliti
dari ll-S), DR. Urnar Kayanl (bLrdayawan, UCN'l), l)ettnadi,
S. H. (rnantatt Ket tta Yayasatl l.erttbaga Kottstttttctt), I)ipl. Irlg'
Suwondo Bisrno Strtedjo (stal'pcrlgajar se rtior Ul), (iuttawatl
W. (landasubrata, darl Ir. Eko lludiharclio, NISc (Kettra Ikatart
Arsitek lndortcsia Cabang Jatcng).
Harus diakui dengan jujur dan rendah hati, banyak sekali
kendala yang dihadapi dalam setiap upaya penyuntingan karya

tulis para pakar dan arsitek profesional. Bahkan nlulai dari


pemilihan jenis tulisan dan pengelompokannya pun sudah
dapat terpancing beda pendapat yang tajam" Apalagi Inemeras,
menyarikan, dan menyimpulkan gagasan, ide darr pokokpokok pikiran yang sungguh sangat beraneka ragam.
Oleh karena itu, penulis mengambil sikap tcrbuka: mempersilakan setiap pembaca untuk memilih dan menangkap sendiri dari setiap pembahasan sesuai dengan minat dan daya serap
masing-masing.

Berbekal pernahaman yang bervariasi itu, bisa dilangsungkan forum temu wicara labih lanjut yang diharapkan
dapat kian memperjelas masalah yang masih helum terungkap
atau terpecahkan. Dengan dernikian 'roda dwicakap' akan
menggelinding terus, sesuai dengan hakikat dan tlatasan
pengertian jati diri sebagai suatu proses yang menerus dan
berkesinambungan.
,I**

xllt

BAB I
IDENTITAS BUDAYA DAN
ARSITEKTUR TRADISIO NAL
I.I. IDENTITAS

BUDAYA DAN
ARSITEKTUR I NDON ESIA*)
Oleh: Prof. Ir. Sidharta.

1i

Persoalan tentang bagaimana penerapan identitas budaya


atau adat pada bangunan-bangunan baru secara tepat, analog
dengan pertanyaan bagaimana identitas Arsitektur Indonesia
di masa depan.

Pertanyaan di atas dilatar belakangi:


l. Adanya Arsitektur Tradisional yang merupakan sarana
(wadah) bpgi bermacam kegiatan kehidupan manusia Indonesia Tradisional yang kemungkinan memiliki unsurunsur yang dapat diterapkan pada Arsitektur Indonesia
masa kini atau masa depan.
2. Bahwa ungkapan Arsitektur Tradisional menunjukkan
identitas budayanya.
3. []ahwa Arsitektur l'radisional di Inclonesia dilatar
belakangi olch budaya suku bangsa yang telah berkembang
nre lewati be rbagai kurun waktu.

Penelitian Arsitektur
Usaha meneliti Arsitektur Tradisional Indonesia dan
Arsitektur Hindu Jawa sebenarnya sudah lama dilakukan,
jauh-jauh sebelum pendidikan Arsitektur di Indonesia dimulai.

*)

xlv
L.

Dsajikan dalam Simposium "Peranan Identitas Budaya dalam Arsitektur", IAIDKJ-DI'ITABA, Jakarta, l0 September 1984.

r
Sayangnya ini semua dalam bahasa Belanda, dan tersimpan
dalam perpustakaan musium di Indonesia dan khususnya di
Negeri Belanda sehingga tidak terjamah oleh Arsitek-Arsitek
Indonesia sekarang. Mengenai Arsitektur Tradisional Jawa dan
bagaimana masa depannya banyak ditulis oleh Ir. H. Maclaine
Pont dan juga oleh Ir. Thomas Karsten. R. Goris, J.L.
Swellengrebel dan V.E. Korn banyak menulis mengenai
Arsitektur Bali, dan latar belakangnya. DR. N.J. Krom,
DR.W.F. Strutterheim, DR.F.D.K. Bosch dan lain-lain penulis
lagi sebelum Perang Dunia II, banyak mengemukakan pandangannya mengenai Arsitektur Hindu Jawa. Henri Parmentier pada tahun 1907 mengenai konstruksi kayu yang gambargambarnya ditemukan pada relief-relief Candi Hindu Jawa.
Meskipun pendapat ahli, ini belum tenlu betul atau sesuai
untuk masa kini ada baiknya dijadikan acuan bagi kita
dalam usaha mencari identitas Arsitektur Indonesia (daripada
mulai dari depan sama sekali). Kepada yang masih menguasai
Bahasa Belanda saya ajak untuk bersedia menerjemahkan
tulisan-tulisan tersebut.

Batasan Kebudayaan
Karena yang dipermasalahkan adalah identitas budaya dan
Arsitektur Indonesia masa depan maka di sini diajukan salah
satu definisi dari kebudayaan atau budaya yang sangat banyak
macamnya. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dari
W.J.S. Poerwadarminta, budaya sama dengan pikiran, akal
budi (penulis: intuisi); kebudayaan : hasil kegiatan, dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan sebagainya. Jadi kebudayaan dapat
berarti benda abstrak atau non materil maupun benda materil.
Menurul kamus Poerwadarminta dan juga kamus lnggris
lndonesia dari John M. Echols dan Hassan Shadily:
kebudayaan : Culture : kultur. Jadi norma-norma, kaidah
kehidupan adat istiadat merupakan kebudayaan juga (u mun

of cuiture =

seorang yang baik tingkah lakunya, sopan


santun, beradat).
Kalau norma atau kaidah yang lama merupakan aspek
kebudayaan, tentunya norma atau kaidah demikian tercermin
dalam ungkapan Arsitektur: Contoh-contoh yang kongkret
memang kita jumpai dalam Arsitektur Tradisional misalnya:
1. Cara menentukan/memberikan dif'erensiasi tentang ruang,
dan tempat yang memperbedakan ruang milik seorang
terhadap orang luar, kita jumpai ungkapannya dalam
Arsitektur Tradisional di Jawa, di Minangkabau, di
daerah-daerah lain di Indonesia. Pada rumah Jawa Kuno
kita lihat dinding seketeng yang memisahkan "Dolem
ogeng " dengan peringatan sekaligus memisahkan teritorial
privocy, dan setengah public atau daerah anggota keluarga
wanita dan daerah anggota keluarga pria. Pemisah
teritorial demikian yang menunjukkan sifat outside alau
mole, femolekitajumpai pula pada Arsitektur TradiSional
Maya, Latin Amerika, Norway, Swedia bahkan pada
hewan baboon (Amos Rapoport: "Culture Origins of

2.

3.

Architecture").
Untuk menyiapkan pusaka atau barang keramat dan
penyelenggaraan upacara-upacara tertentu pada Arsitektur
Jawa Tradisional tersedia ruangnya, yaitu dalem ageng
dengan pedaringan yang dianggap ruang yang paling
keramat.
Bali merupakan daerah yang norma dan kaidah-kaidah
kehidupan sangat jelas diungkapkan dalam arsitekturnya.

Perubahan Norma
Dengan lebih mudahnya hubungan antarbangsa maka terbukalah kebudayaan Indonesia terhadap pengaruh luar. Maka

terjadilah perubahan norma. Apa yang dahulu merupakan


larangan, sekarang telah diterima oleh masyarakat. Kedudukan

dan peranan wanita telah berubah, wanita Indonesia bukan


lagi berperan di belakang tembok seketeng; cara bergaul muda
3

tuanya juga
mudi juga berubah, sikap anak terhadap orang
yang
lalu' Anak
,ungui ierbeda dengan zaman 30 tahun
Jawa dengan
f..f,iurgu Jawa di Jakarta jarang dapat berbahasa
mana elemen
baik, Jpa lagi berkrama-hinggil' Sampai sejauh
pada
bangunan
diterapkan
Arsiiekiur Tiadisional masih dapat
penulis
sosial
baru berkaitan dengan perubahan norma-norma
yang
lebih
penelitian
belum dapat menjawab. Diperlukan suatu
mendalam.

sukar
Kenyataan menunjukkan bahwa kita tidak terlalu
(teryang
harus
mengadaptasi cliri, contoh: keluarga-keluarga
mengadaptasikan
pafJa) tinggal di rumah susun lambat laun
timii.i auU. *asana baru, meskipun pada permulaan dapatpada
bul konflik-konflik sosial' Jadi budaya bertetangga
rumah susun juga berubah'
tema pem'
Yang berkaitan dengan persoalan yang menjadi
juga
Tradisional
bahasari ialah dapattcatr ciii-ciri Arsitektur
norditerapkan pada Arsitektur masa depan yang dilandasi
ma dan kaidah baru?

Arsitektur
Tradisional

rI

lndonesia

I *".*", $",0"n,

l['"::::::"
Ll+
I

tndonesia
ruuru Depan

L***rfu

Ciri Arsitektur Tradisional


Mengingat norma, kaidah, dan tata nilai dalam masa kini
masih banyak kemungkinan berubah maka dalam usaha mencari identitas budaya yang dapat diterapkan pada bangunan
baru disarankan sebagai berikut. Fa[tor-faktor apa yang dapat
kita tqplkan dalam Arsitektur, fang mempunyai identitas
yang sedikit atau tidak dipengaruhi oleh perubahan norma tata
nilai. Carilah ciri-cirinya ini dalam Arsitektur Tradisional
untuk diterapkan pada bangunan baru.

a.

Iklim merupakan faktor yang tidak berubah (relatif)


Indonesia beriklim tropis panas dan lembap. Karena letaknya
di sekitar khatulistiwa antara garis-giris lintang utara dan
selatan 23,5" maka sepanjang tahun sudut jatuhnya sinar
matahari tegak lurus, hal mana mengakibatkan suhu yang
selalu panas. Ciri Arsit ek_t u r_T radis io nal yalr g_b"g..\gl!an de1gan
iklim yang parras -misalnya. at?p- y.gng, mempunyai-lonjo*ugan

(Verhong) yang panjang dan mempunyai sudut yang tidak


terlalu landai.
Di samping itu rua_ngruang-y.aUg"Jeu.hu-k-4, di mana dinding tidak menutup rapat ke bidang bawah atas atau langitlangit memungkinkan ventilasi yang leluasa, hal mana mempertinggi comfort dalam ruang.
Dinding atau bidang kaca yang berlebihan, apa lagi tidak
dilindungi terhadap sinar matahari langsung, dan hujan tidak
sesuai untuk iklim tropis.
Kita sering menggunakan air conditioning untuk ruangruang yang jika direncanakan dengan tepat sebenarnya tidak
memerlukannya. Energi yang diperlukan untuk air conditioning cukup besar. Dalam negara yang sedang menganjurkan
hemat energi, hendaknya penggunaan air conditioning iuga
dibatasi. Rumah tradisional Jawa dan B_4li 111e-1.11pakan open

air habitation.
Dengan pohon-pohon yang rindang di sekitarnya ntembuat
suasana menjadi sejuk. Juga dalam berpakaian,

iklim dan

orang Jawa dan Bali menyesuaikan diri. Orang Indonesia


dilahirkan dan dibesarkan di daerah tropis. Secara fisiologis
dan kultural kita telah mengadaptasikan diri dengan kondisi
tropis itu. (Otto Sumarwoto: "Ekologi, Iingkungan Hidup,
dan Pembangunan", hal. 318).
Seni KeraJinan
Seni kerajinan yang banyak ragamnya di Indonesia seper-

ti seni ukir, seni ornamen, seni tenun, seni anyam, batik dan
lain-lain lagi harus dimanfaatkan untuk memberi identitas
kepada Arsitektur Indonesia masa depan. Orang Jepang menggunakan tatomi atau tikar, tidak hanya untuk duduk atau tidur
di atasnya, tetapi juga sebagai modul untuk menentukan luas
ruang. Seni kerajinan dalam arsitektur dapat dikembangkan,
lepas dari perubahan norma dan tata nilai. Suatu ornamen
kadang-kadang mempunyai arti simbolik yang sangat da"l[m
yang tidak mudah dijelaskan dalam satu dua kata.
Sering artinya harus dicari dalam sejarah bahkan dalam
prasejarah. Seni hias Indonesia yang modern tentunya tidak
dapat dikembangkan hanya dengan sekadar meniru contohcontoh kuno yang bagaimanapun bagusnya. Para seniman
sekarang harus mempelajari jiwa dan arti seni yang kuno,
tetapi juga harus mencari jalan baru sendiri. Perlunya
mempelajari seni yang kuno adalah juga untuk menjaga agar
tidak melakukan yang sebaliknya, yaitu meniru hiasan atau
motif Eropa dengan seenaknya (Th. Van. der Hoop: 1ndonesisc he Sier mot ieven ; I ndo nesian Orna ment al Desi gn, hal
7-8). Munculnya ornamen-ornamen klasik (yang jauh menyimpang dari bentuk murninya) pada rumah-rumah baru di kotakota di Indonesia yang disebut dengan nama yang salah
kaprah, Arsitektur Spanyolan, justru membuat kabur usaha
kita membina Arsitektur yang modern. Kita tidak perlu raguragu dalam pengetrapan ornamen sebagaielemen estetis dalam
arsitektur, asal:

batas yang wajar dan tempat yang tepar.


1 P3lT
2'
Dihindari ornamen mesin, nirat hontdcraftornamen
terretak

pada virtuositynya atau kemahiran yang


membuat, jadi
menampilkan keterampilan dan kemampuan
,.nirn n
pengrajin, ingat pada victorion styte
orname:rt ying
{icetak dengan mesin dan yang sangat ditentang oleh
William Morris.
lr'H' Macraine polrl cjararn lulisann-va bcrludur "Javaan.vthe A r<'hite(tuur", majalah Jawa I g23_lg24
r.,,g"tonrfnt
karr scni kcraji.arr craram Arsitckrur
sera,ra tujuannya sesuai
dengan def'i n i si A rsi tck t u r. ",4 rc h i t e.
I u u r,, f ooi, r,' r) ri,"",lir
gen eer.tte, yoornaom'le w,roc.hlsel,
dar i.E tlc omge,inC dii )e
mensch uit de aonzich zef schept, om den
zru l;;r:;r;;;;,;;g
mogelijk temaken, in de vereischte sfeer le brengen
en doarao'n
de verenschte statie te voilen derhitve in het
alg"mernroo,ror
de bouwkunst, de schilderkunst, de beeldhou*ium"nrt,
ini,
kunstnijverheid in zoo verredeze kunsten
srrkken
bevengenoemd doel.,'
(_-].:rj.rnuhan penulis: Arsitektur atau .,aarts,, (bahasa
rnggrrs: arch) artinya yang pertama atau
asal mula yaitu
lingkungan yang diciptakan manusia sendiri
.tari d;;
dikuasainya, untuk memungkinkan kedudukannyu ;;;;
f"Lonl
disinya) dan sikap hidupnya, dalam suasana yang
diinginkan
dan dalam status yang diharapkan. Daram
definisilni
pula seni bangunan, seni lukis, seni pahat,
"."r"rr[
dan seni t..r;inu,
')'-'"''"
selama seni rersebut sesuai dengan'tujuan
di ;;.

Bahan

Lokal

./

Di samping bahan produksi teknologi maju penggunaan


PlhT lokal seperti batu bata, genting, L"V, b;.b",;il;;lain lagi hasil produksi industrilutyui t
u.u. tetap clianjurkan.
Selama bahan tersebut.memenuhi k.grnrun
dan persyaratan
teknis apa lagi ekonomis, maka bahai
tersebut t.tup *od.rn.
Bahwa sering dijumpai kualitas produksi
industri ,"f.V"iV""g

inferiorjanganmenjadisebabkitamutlakharusmemilihbahan
impor, utuu Uuhun produksi industri padat modal' Arsitek
haius ikut menunjang pembinaan dan pengembangan industri
rakyat kita.
Keaneka ragaman dalam Arsitektur Indonesia modern

harus tetap
sesuai dengan keaneka ragaman budaya daerah
kita kembangkan. Justru keaneka ragaman inilah merupakan
ciri khas Indonesia.

I.2 IDENTITAS BUDAYA


DALAM KARYA ARSITEKTUR*)
Oleh: Prof. DR. S. Budhisantoso.
Dalam usaha bertahan dan mengembangkan jenisnya,
manusia dihadapkan kepada berbagai tantangan baik yang timbul dari dalam dirinya maupun yang timbul karena faktor luar.
Sebagai mahluk hidup manusia menghadapi kebutuhan'
pokok (biological needs) yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan organismanya serta menyalurkan
dorongan biologis secara memadai. Sementara itu faktor luar
juga menimbulkan berbagai tantangan yang harus ditanggapi
seperti berbagai kebutuhan yang timbul dalam proses adaptasi dan pemanfaatan lingkungan alam untuk memenuhi
kebutuhan pokok dan sampingan.
Sesungguhnya secara ragawi manusia termasuk mahluk
yang masih serba umum. Manusia tidak mempunyai
kelengkapan jasmaniah tertentu untuk hidup dalam suatu
iingkungan tertentu. Akan tetapi kelemahan ragawi itu nam_
paknya diimbangi dengan kemampuan akalygg memungkinkan manusia berfiki r r.carulireta fo
nifan lamLang
yang bermakna. P=engal kepampuan mengembangll1 d1"
-tj
m e n g gu n a k an I a mb q!g:! eqb atg jtu
11e ! !-s i tFalm g_ t h u _

ii[ftffi

ryal-,mele-$ffi k*,drrr.ng.rn-bingkanpenie,ut,uun

mereka secara lebih e_fektif. Segala pengalaman manusia dapar

cifi id;;AiilmpaiFd,-n, dan aip.it, [urkan dengan sesama


sehingga memperkaya pengetahuan mereka melintasi
generasinya secara kolektif. pengalaman itu akhirnya
memungkinkan manusia menanggapi lingkungan secara aktif

serta mewujudkan pedoman bagi sikap dan pola tingkah laku

mereka dalam proses adaptasiriya.

t)

Dsajikan dalam Simposium "Peranan ldentitas Budaya dalam Arsitektur", IAI-

DKJ-DITTABA, Jakarra, l0 September

1984.

lingkungannya

Demikian manusia hidup menghadapi


oleh nalurinya semata'
Oalam arti luas, tidak lagi dikuasai
pengalaman yang
*.iuintrn ia didominasi oleh abstraksi
hidttp
..*"irar."n nilai-niiai, norma-norma, dan pandangart
sebagai
Pedoman'
"-"
K;i"; pada mulanya manusia bersikap dan bertindak atas

kebutuhan biodasar dorongan naluri untuk memenuhi


manusia berselanjutnya
Iogisnya, dalam proses kehidupan
b'd'l1J.i:i
pada
;;k"p a;; bertindak dengan berpedoman
manusla
,"rrtu mereka kembangkan. Abstraksi pengalaman
itu mewujudkatt
;;il beradaptasi de"ngan lingkungan
dan apa yang
baik
yang
apa
p.t""gf.", nila-i atau asumsi
nilai-nilai abstraksi
seharusnya aininaartan' Oi samping
yang mengatur
p.ruuturnun itu mewujudkan norma-norma
ansgota masvarakat di sam;;;;;;i;*tosial di antara sesama
khususnya yang menceriirE [.v"f inan-keyakinan (beliefs)
gambaran tentang semesta yang
mirikan-pandangan hidup dan
nilai-nilai' norma..fiputi'-.reka. Dengan berpedoman pada
kolektif
pengalaman
dan keyalii.,ui ttUugui abstraksi
,".*u,'manusia
berusaha memahami gejala vang dalam
i;;ilh
atau mengelomiingf,ungunnya kemudian memilah-milahnya
untuk merenburuk
dan
baik.
polf un"auf am kategori-kategori
tindakan
ataupun
sikap
canakan langkahJaigkah dan memilih
,.rrui dengan kemampuan yang ia miliki' keyakinan' yang
DemikLn nilai-nilai, norma-norma' dan
pengetahuan budaya.bagi
berlaku dalam .nuryu.utt"t menjadi
Demikian pengetahuan
setiap anggota masyarakat pendukung'
pendidikan dalam arti
budaya yang diperoleh melalui proses
untuk memahami
luas sejak lahir itu *.t'putun rnodel-model
manusia dan
**..ng.fompokkan gtjut" yang dihadapi oleh Dengan
lain
landasan untuk U.iti["p ataupun bertindak'
itu merupakan pengetahuan yang
;;il;", kebudayaansebagai
kerangka acuan yang hanya
lur,iur. yang berfungsi
dan peragaannya
Aupu, diiihai melaluiberbagai perwujudan
(expression ond rnonifestation)'

l0

li

Sementara itu L.A. White (1949) menganggap kebudayaan


itu sebagai sistem terpadu dan terorganisasi (integroted organized system) yang dapat terperinci dalam tiga bagian atau aspek,
yaitu sistem teknologi, terdiri dari peralatan materil, fisik, dan
kimiawi beserta manusia menyesuaikan diri secara aktif
terhadap lingkungan hidupnya. Dalam sistem teknologi tercakup peralatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pokok,
perlindungan fisik atau perumahan dalam arti luas, peralatan
berperang maupun peralatan pertahanan.
Sedang. yang dimaksud dengan sistem sosial menurut
White, merupakan perwujudan alam hasil pergaulan sosial
yang tercermin dalam pola-pola tingkah laku kolektif maupun
perorangan yang menghasilkan keteraturan yang berpola,
seperti sistem organisasi kemasyarakatan, sistem kemiliteran,
sistem kepercayaan, sistem pembagian kerja, sistem rekreasi,
dan sebagainya. Egdar1g_1-sJem idea terdiri dari gagasan, kepercayaan, dan pengetahuan yang biasanya tercermin dalam percakapan ataupun bentuk perlambang lainnya. Dalam kategori
ini termasuk mitologi, legenda, kesusastraan, filsafat, dan
ilmu pengetahuan, kebijakan (kata mutiara), serta pengetahuan
umum (common sense knowledge). Ketiga sistem itu saling
berkaitan dan walaupun tidak samtEatnya mereka itu
saling berpengaruh. Sebagai seorang penganut paham
neoevolusionis L.A. White berpendapat bahwa sistem sosial
itu merupakan wujud fungsionalisasi sistem teknologi. Sedang
sistem idea merupakan cermin atau pantulan sistem teknologi.
Pendapat L.A. Whiti ini dapat dimengerti karena ia seorang
evolusionis yang mendewakan teknologi sebagai dasar
kebudayaan.
Sementara itu ada juga orang yang berpendapat bahwa
sistem idealah yang lebih dominan dan menentukan corak
interaksi serta teknologinya. Johan Galtung (1978) dalam
uraiannya mengenai pengaruh sosial budaya pengambil alihan
teknologi dan ilmu pengetahuan di negara yang sedang berkembang menyatakan bahwa hambatan proses penyerahan itu
justru terjadi karena perbedaan sistem idea dan sistem sosial.

II

7
Walaupun mendatangkan teknologi dan ilmu pengetahuan
dari
Barat tidak sulir, akan tetapi yang sulit ialah meiy rrup
iiop_
tio.n)
menyesuaikan nilai_nilai ke yang aaa

.!an

teknologi dan ilmu

itu ke dalam

ai Uatlt
sistem idea dan sosial

masyarakat yang bersangkutan.


Lepas dari setuju ataupun tidak dengan kedua pendapat
yang bertolak.belakang itu, budaya suatu
bangsa Vung puOu
hakikatnya mengandung nilai_nilai, gagasan utama,
dan
keyakinan nampak jelas dalam iehidupan sosiai dan
kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Dengan
mudah,
sebelum intensitas komunikasi dan transportasi yang
didukung
oleh teknologi modern, kita mengenal kebuduyuurir.r"orung
dengan melihat bahasa dan ragam pakaiannya.
xurau [iiu
mengadakan perjalanan di ke pulauan Nusantara,
maka afa
yang menunjukkan keanekaragaman
kebudayaan penduduk
ialah bentuk perumahan tradisional dan lain-lain
teuuaayaan
materil. Sedangkan untuk memahami budaya mefafui poia_
pola tingkah laku (social system) ataupun tata
kelakuan
(ideologicol system) diperlukan pengamatan
lebih rama dan
mendalam, walaupun bentuk bangunan tradisional
itu sudah
mencerminkan sistem sosial maupun ideologi
-uryu.uLut yung
bersangkutan.

Arsitektur Tradisional
Dalam kesempatan ini uraian akan dipusatkan pada
sistem
teknologi khususnya arsitektur tradisional sebagai
sarah satu

manifestasi dan ekspresi kebudayaan. Sesungguhnya


perumahan (shelter) merupakan salah
satu kebutuhin"poroI
manusia yang tidak mengenal waktu, tempat,
dan tingkat
teknologi. Kita masih ingar betapa nenek moyang
tira iang
hidup pada zaman

batu telah mengembangkan sistem perlin]


yaitu
fisik,
perumahan di gua-gua, kemudian disusul
lWsan

dengan penggunaan tenda-tenda

tadih

angin (windsueen)

ataupun tenda yang sifatnya sementara karena seringnya


n.n.i
moyang kita berpindah mengikuti binatang perburuin
ataupun

t2

musim panen tanaman liar. Apabila mereka sudah mulai bercocok tanam dan menetap di perkampungan, maka perumahan
semi permanen pun dibangun. Kita hidup dalam rumah-rumah

yang lebih kokoh dengan harapan dapat bertahan untuk


selamanya walaupun kenyataan seringkali berlainan dengan
harapan.

Apabila kita perhatikan dengan seksama, uraian tersebut


menunjukkan cara berfikir yang evolusionis. Sementara itu
kita dapat pula melihatnya dari sudut pandangan fungsionis
ataupun strukturalis. Akan tetapi sebaiknya kita telaah arsitektur tradisional secara menyeluruh sehingga dapat dipahami
kaitannya dengan nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Untuk keperluan tersebut, kita telaah arsitekturarsitektur tradisional dengan memperhatikan kegunaan (use),
fungsi (function), dan arti sosial (meoning)di samping wujud
dan gayanya.
Kegunaan rum4h khususnya bangunan tradisional itu
beranbka ragam, sesuai dengan struktur masyarakat dan
kebudayaan penduduk yang bersangkutan. Akan tetapi pada
umumnya sebagai bangunan tradisional mempunyai kegunaan
sebagai perlindungan fisik terhadap dinginnya udara, panasnya
matahari atau derasnya angin serta air hujan. Kalau kita
perhatikan dengan sungguh-sungguh ada rumah-rumah yang
sekadar menjadi tempat perlindungan sementara orang perlu
istirahat (windscreen) pada penduduk asli Australia, misalnya:
masyarakat Arunta sebagian besar waktunya dihabiskan di
alam terbuka untuk berburu binatang reptile yang langka,
meramu ataupun bercengkrama dengan sesamanya. Sebaliknya

ada pula penduduk yang memanfaatkan tempat berlindung


semaksimal mungkin untuk, bekerja, beristirahat maupun
menyelenggarakan pertemuan sosial seperti pada kebanyakan
masyarakat petani yang sudah menetap.
dengan kehidupan sosial
@nnya
budaya lainnya, beraneka ragam'pula. Rumah dapat berfungsi
sebagai kesatuan sosial, anggotanya terikat dalam kerja sama

l.l

7
ekonomi (rumah tangga, keluarga luas, rumah bujangan).
Dapat pula ia berfungsi sebagai wadah ke[iatan pendidikan
(sosialisasi) anggota-anggotanya belajar memahami dan
menghayati kebudayaan dengan cara belajar sambil bekerja
(informal/non formal education) atau sebagai satu asosiasi
seperti rumah bujang, yang berfungsi sebagai tempat penampungan anggota masyarakat yang telah dewasa dan berperan
sebagai prajurit ataupun penggembala ternak sukunya. Banyak

ragam fungsi rumah/bangunan tradisional, sesuai kaitannya


dengan struktur dan kehidupan sosial budaya masyarakat yang
bersangkutan, sehingga menimbulkan berbagai perwujudan
fisik dan gaya serta hiasan yang beraneka ragam. Bagi banyak
suku di Indonesia rumah bisa berarti identitas seseorang.
Si A misalnya orang A, karena ia berasal atau anak dari rumah
A. Rumah dapat diartikan sebagai lambang status sosial, pendidikan maupun ekonomi, karena itu kita lihat orang kaya
dewasa ini berlomba membangun rumah megah dengan segala
gaya dan bentuk fisiknya. Sekadar ilustrasi bagi orang Jawa,
seseorang lelaki itu dianggap sempurna'kalau sudah memiliki
lima syarat, wonodyo (istri), turonggo (kuda) atau kedudukan,
curigo, (keris lambang keamanan lahir batin) kukilo (burung)
atau kesenangan (hiburan) yang berarti sanggup menyisihkan
waktu dan wismo (rumah). memang rumah merupakan lambang keberhasilan seseorang. Rumah juga berarti tanggung
jawab yang dikaitkan dengan status orang yang telah berumah
tangga atau mempunyai tanggungan keluarga. Oleh karena itu
ia berhak menjadi anggota penuh dari masyarakat setempat
dengan segala hak dan kewajibannya.
Mengingat arti pentingnya rumah dalam kehidupan sosial
masyarakat kalau ditinjau dari segi kegunaan fungsi, dan arti
sosialnya, maka wujud dan struktur rumah sebagai bangunan
tradisional dapat dipakai sebagai cermin tingkat teknologi,
cermin gaya hidup (woy of life) serta nilai-nilai budaya
masyarakat yang bersangkutan.

Arsitektur tradisional (baca rumah tradisional) baik


struktur maupun bahannya menunjukkan kondisi lingkungan
serta sumber bahan bangunan yang tersedia. Orang-orang di
daerah tropis lebih banyak menggunakan bambu atau kayu
dalam membangun rumah. Sebaliknya kayu dan bambu itu
membatasi variasi bentuk/struktur bangunan, terutama apabila
dikerjakan dengan teknologi sederhana. Demikian pula bentuk dan struktur bangunan dipengaruhi oleh iklim. C)rangorang di daerah hujan tropis tidak ada pilihan lain, kecuali
membuat rumah yang beratap curam dan memperlancar
jatuhnya air. Demikian pula di hutan yang banyak binatang
buasnya orang terpaksa mendirikan rumah di atas tiang yang
tinggi-tinggi (Sumatra Selatan). Sedang mereka yang hidup di
daerah rawa-rawa (Asmat) terpaksa mendirikan rumah di atas
tiang yang cukup tinggi untuk menghindarkan pasang surutnya air payau. Sedang di Jawa Barat yang berudara dingin,
orang mendirikan rumah panggung sekadar menghimpun
udara hangat sebagai antara yang memisahkan lantai, dan
tanah.

Keterbatasan variasi itu tentunya tidak berlaku dalam


masyarakat yang teknologinya sudah maju. Orang dengan
mudah membuat bangunan yang mampu memberikan
kenyamanan tanpa pengaruh langsung iklim maupun bahan
yang tersedia di sekitarnya. Sebagai contoh ialah
kecenderungan orang kita membuat rumah dengan langit-langit
yang disesuaikan dengan teknologi air conditioned. Mereka
menjinakkan iklim di luar dan manfaatkan kemampuan

teknologi.

Sebagai cermin gaya hidup, rumah dapat dilihat dari


struktur ataupun denah pokoknya. Kalau kita perhatikan
rumah-rumah orang Amerika di masa awal kemerdekaan, pada
umumnya didirikan dalam perkampungan baru (new settlement) yang menghadap ke jalan-jalan kaki lima yang

menghubungkan rumah-rumah serta pelayanan umum


sehingga mempermudah penghuninya bepergian dengan.jalan

l4

l5

JT
kaki. Bagian depan dilengkapi beranda terbuka untuk
berangin-angin di musim panas dan sekaligus untuk
bercengkerama. Ke sebelah dalam ruang tamu resmi dan
sekaligus untuk pertemuan kekeluargaan, disambung dengan
kamar makan dan kemudian dapur yang luas untuk masak
dan menerima tamu dekat atau kawan karib. Di bagian
belakang ada halaman tempat berkebun, jemuran pakaian,
tempat sampah, dan WC serta garasi. Kesemuanya itu menunjukkan gaya hidup tahun 1930-an.
Pada tahun 1970-an gaya hidup orang Amerika berubah
dan tercermin dalam bentuk dan struktur ruang rumah mereka.
Jalan kaki Iima yang menghubungkan dengan rumah-rumah
lain tidak penting (kecuali belakangan karena krisis energi).
Pagar dibuang dan diganti dengan halaman depan yang dihias
dengan pertamanan. Beranda depan terbuka hilang, diganti
dengan ruang makan dan dapur yang mengecil. Di samping
itu kamar-kamar tidur dilengkapi dengan kamar mandi dan
peturasan di dalam rumah.
Sementara itu orang kaya sudah melengkapi rumah dengan
beranda belakang terbuka dan sekaligus kolam renang, di samping garasi yang membuat dua mobil (ingat revolusi auto mobil
di Amerika Serikat pada tahun 1950-an).
Perkembangan demikian itu juga terlihat di kota-kota besar
di Indonesia. Banyak bangunan rumah tradisional dihancurkan
dan diganti dengan rumah-rumah gaya modern. Akan tetapi
berlainan dengan apa yang dilakukan penduduk di Amerika
Serikat,. orang-orang Indonesia sekadar mengikuti mode
sebagai lambang tanpa memperhatikan kegunaan praktis,
misalnya dalam pembagian ruang tidur dan dapur yang
merupakan bagian belakang (paling kotor) disatukan dengan
ruang makan dan tamu. Akibatnya dapat dibayangkan kalau
cara-cara memasak dan kebiasaan lama masih tetap dipraktekkan. Bukan tidak jarang terpaksa orang kaya di Indonesia
membuat dua dapur, satu dapur mewah dan satu dapur tam-

t6

bahan yang dibuat di luar bangunan pokok sebagai tempat


memasak yang sesungguhnya.
Contoh lain betapa jelas adanya hubungan dengan antara
bentuk perumahan dengan gaya hidup ialah apa yang terjadi
di kalangan orang Minangkabau. Pada masa lampau, kehidupan adat yang berprinsip pada garis keibuan, orang
Minangkabau hidup dalam kesatuan sosial yang berupa
keluarga luas (porui). Kesatuan keluarga luas yang seketurunan
dari satu ninik, dan dipimpin oleh seorang msmak itu tercermin dalam bentuk rumah gadang yang biasanya terdiri dari
sejumlah kamar yang masing-masing menampung seorang
wanita yang telah bersuami dengan anak-anak yang masih
kecil. Sedang anak-anak dewasa tidur di bagian "dalam"
secara bersama. Anak laki-laki yang sudah besar tinggal di
rumah bujang atau kemudian di surau. Para suami tidak mempunyai tempat tinggal khusus kecuali rumah gadang ibunya
sebagai pengenal dan kamar (kamar) istri (istri)nya tempat bermalam atau bergilir. Keadaan masyarakat matrilineal dan
uxorilokalitu sudah berubah, kini terjadi nuclearisasi, yaitu
proses perubahan dari keluarga batih. Akibatnya ialah
kurangnya arti penting rumah gadang dan selanjutnya digantikan bermunculan rumah-rumah kecil yang berpenghuni
keluarga batih yang outonomous (berdiri sendiri).
Hal yang sama melanda masyarakat Bali, kini terlihat
kehidupan "modern" dengan lebih banyak pilihan pencaharian
di luar sektor pertanian. Kalau di masa lampau kesatuan sosial
yang berdasarkan budaya kerabat patrilineal sangat dominan
dan orang menetap secara y,irilocaldan mewujudkan kesatuan
dadio (keluarga luas terbatgs patrilineal) kini terjadi
kecenderungan untuk menetap secara bebas sesuai dengan tempat kerja mereka. Demikian kalau perkampungan orang Bali
dulu terbagi dalam blok-blok yang menarnpung sejumlah
rumah dari satu keluarga luas, kini orang mulai mendirikan
rumah di luar lingkungan blok dadia mendekati tempat kerja
yang baru dengan segala gaya hidup.

-l

oounol'"'^\J^l.{':'l;''

yuMr\Jn
tJ.ts','" 1v'

Sebaliknya perumahan modern di kota-kota besar tidak


bebas dari gaya hidup penghuninya. Ikatan kerabat dan kewajiban sosial yang masih kuat mendorong orang untuk
memperluas rumah-rumah modern, yang semula direncanakan
untuk menampung satu keluarga batih dengan menambah
kamar ke belakang, ke samping atau ke atas. Tidak jarang
mereka harus mengorbankan nilai estetika demi nilai-nilai
budaya yang berlaku.
, Ee!ry3n l$[ional sebagai cermin nilai budava masih
anfat jelas nampakialam perwujudan bentuk, struktur, tata
ruang, dan hiapannya. Bentuk fisik rumah tradisional,
walaupun tidak mengabaikan rasa keindahan (estetika), namun
ia terikat oleh nilai-nilai budaya yang berlaku dalam
masyarakat. Pertama-tama mengenai letak lintangnya tidak
bebas dari keperc ay aan / key akinan yang berlaku. Kebanyakan
masyarakat kita percaya bahwa arah muka yang menghadap
matahari itu ideal karena menyongsong kehidupan dan rezeki.
Sebaliknya dianggap pantang dan dapat mendatangkan bencana kalau posisi rumah itu membelakangi matahari terbit.
Karena itu rumah-rumah tradisional amat jelas membedakan
mana bagian muka dan mana bagian belakang sebagaimana
tercermin dalam lambang/ragam hias. Belum lagi terhitung
tata susunannya dalam perkampungan, ada tempat-tempat
istimewa/suci yang perlu diperhitungkan, misalnya tempat
mendirikan lumbung dan pura pemujaan di samping pelataran
tempat berkur4pul penduduk.
Mengenai pembagian ruang, amat jelas dikerjakan sesuai
dengan nilai-nilai budaya yang berlaku. Rumah dianggap tempat suci dan hanya layak dimasuki oleh penghuni rumah dan
kerabat dekat. Oleh karena itu ada bagian-bagian yang terbuka buat tamu dan sebaliknya ada bagian-bagian ruang tamu
bagi orang lain menjadi satu dengan tempat tinggal. Contohnya
di pulau Lombian (Pulau l.ambate) Toraja dan bahkan juga
pada masyarakat orang Karo ditemukan juga bangunan khusus
untuk menumbuk padi secara kolektif dalam setiap perkam-

l8

pungan. Tempat itu merupakan salah satu bangunan yang penting bagi kegiatan sosialisasi penduduk setempat.
Nilai-nilai yang tercermin pada bentuk rumahnya. Ada
sementara masyarakat yang memberikan arti tertentu pada
bentuk rumah mereka, sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku.
Orang Batak Karo dan Toraja serta Minang bentuk bangunan
hubungan rumah itu dibuat mirip perahu sebagai kendaraan
suci dalam mitologi kehidupan mereka. Semakin banyak atap
bersusun (Mang) semakin tinggi martabat keluarga yang bersangkutan. Demikian pula hubungan berganda hanya boleh
dimiliki oleh bangsawan di Sulsel.
Sementara itu bentuk dan pola hiasan rumah juga tidak
bebas dari pengaruh nilai budaya, gagasan utama dan
keyakinan yang mendominasi penduduk. Kepala kerbau,
sebagai hewan kerja dalam pertanian, sangat tinggi nilainya.
Ada yang mengkaitkan dengan pemujaan bulan sebagai
sumber air hujan/kesuburan dan bukan semata-mata sebagai
hewan kerja. Oleh karena itu kepala kerbau atau sekurangkurangnya tanduknya menjadi bahan penghias yang penuh
arti. Di samping itu ada pula lambang-lambang lain yang
menggambarkan nilai-nilai budaya, gagasan vital, dan
keyakinan masyarakat ikut menghias rumah/bangunan tradisional dalam bentuk ukiran dan gambar.
Kenyataan ini menunjukkan betapa penting artinya arsitektur tradisional sebagai salah satu cermin kebudayaan,
sekurang-kurangnya mengandung nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat. Oleh karena itu pelestarian bangunan tradisional mempunyaiarti bukan sekadar memelihara bangunan
kuno akan tetapi ikut memperluaskan pesan dan informasi
nilai-nilai budaya yang ada untuk ditawarkan kalau tidak
dikukuhkan pada generasi mendatang.

()

7
I.3 ARSITEKTUR DAN KEBUDAYAAN
Oleh:

Ir. Hindro Tjahjono Sumardjan, IAI

Perspektif Kebudayaan Indonesia


Pokok persoalan yang kita bahas dalam temu karya ini adalah:
bagaimanakah identitas budaya atau adat dapat diterapkan
pada bangunan-bangunan baru secara tepat?
Mencari dan menemukan identitas budaya adalah masalah
yang sulit bagi kita, bangsa Indonesia, disebabkan oleh posisi
titik perjalanan sejarah saat ini kita berada. Kesulitan-kesulitan
tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

l. Ke-bhineka-an Ragam Budaya di Indonesia


Tidak dapat kita ingkari bahwa sejarah terbentuknya
negara kesatuan kita dari Sabang sampai Merauke ini dipertautkan oleh kesamaan nasib dan penderitaan karena samasama dijajah oleh Belanda. Secara etnologis sesungguhnya
suku-suku bangsa di lndonesia tidak mempunyai cukup banyak
kesamaan untuk dapat dipandang sebagai suatu kesamaan,

untuk dapat dipandang sebagai suatu kesatuan

bangsa.

Baik dalam hal bahasa, adat istiadat ataupun agama, terdapat


perbedaan-perbedaan yang cukup besar, bila kita menggunakan ukuran Eropa maka perbedaan sebegitu sudah cukup
untuk menjadi dasar menyebut diri sebagai bangsa yang
berbeda. Namun tekad yang pernah dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 1928 serta semangat kemerdekaan 1945 telah
berhasil menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut sehingga
darihari ke hari rasa kebangsaan tersebut makin kuat. Namun
suatu kesatuan budaya yang tuntas utuh masih memerlukan

perjalanan panjang.

2. Struktur

Sosial yang Baru Setelah Kemerdekaan


Setelah kemerdekaan bangsa kita telah memilih bentuk
republik bersifat demokratis. Ditilik secara historis maka ben20

tuk tatanan republik yang demokratis, adalah suatu hal yang


sama sekali baru bagi bangsa Indonesia. Sejarah Indonesia
sebelumnya hanya mengenal bentuk tatanan kerajaan yang
otokratis, lengkap dengan perangkat feodalnya. Oleh karena
itu mudah dimengerti bahwa banyak terjadi kekikukan dan
kesalahpahaman mengenai arti kaidah-kaidah kehidupan yang
baru ini. Banyak norma kehidupan sehari-hari harus ditukar
dengan yang baru. Terjadi kekacauan norma selama norma
baru yang diterima semua pihak belum tercipta. Timbul
keracunan budaya.
Beberapa contoh dapat kita sebutkan antara lain:

Di Bidang Sosial Politik


Misalnya tentang pengertian 'oposisi'. Pihak yang satu
menganggap bahwa oposisi itu adalah hal yang wajar dalam
kehidupan demokrasi, bahkan itu adalah hal yang wajar dalam
kehidupan demokrasi, bahkan mutlak diperlukan. Sementara
pihak lainnya, karena masih terbiasa berpikir dalam pola
otokratis berpandangan bahwa oposisi adalah ketidakpatuhan
yang mendorong kewibawaan penguasa dan merupakan bibit
pemberontakan, oleh karenanya perlu segera ditumpas sebelum
terlambat. Soal lain menyangkut hubungan antara agama dan
negara. Apakah negara perlu (berhak) mencampuri masalah
agama? atau sebaliknya yaitu agama mencampuri masalah
negara? Secara undang-undang hal ini mungkin cukup jelas
tapi hal ini tidak berarti cukup jelas diterima oleh seluruh
masyarakat. Salah satu latar belakangnya adalah kebiasaan,
dahulu seorang raja selain sebagai pemimpin eksekutif adalah
juga 'pendita' (pemimpin agama), bahkan bisa bergelar Sayid-

din Panatagama (orang suci pembina agama)

seperti di
Yogyakarta.
Contoh soal lain lagi, menyangkut kepemerintahan.
Masalahnya, pemerintah itu adalah penguasa (the ruler)atau
pamong (public servont)? Secara undang-undang jelas bahwa
peran pemerintah lebih ditekankan sebagai pamong. Tapi

lt

masyarakat hanyak masih terbiasa memandang pemerintah


sebagai penguasa sebagaimana di zaman kerajaan. Terlebihlebih di kalangan aparat pemerintah pun banyak yang sadar
ataupun tidak, bertindak lebih menyerupai penguasa.

kunci mukjizat yang disebut modernisasi. Kita harus memodernisasikan segala hal agar bisa mengejar ketinggalan kita. Maka
dipaculah gerakan modernisasi yang berintikan meningkatkan
teknologi dan pembangunan ekonomi. Maka didengungkanlah
nilai-nilai baru yang akan dipakai mengukur keberhasilan dan

Dalam Kehidupan Ekonami


Masih menjadi persoalan apakah mengusahakan untung
yang sebesar-besarnya itu sikap yang benar atau tidak?
Masalahnya bukan soal hukurn, tidak dilarang, melainkan
secara etika normatif . Masyarakat masih menganggap
mengusahakan untung sebesar nluttgkin itu berarti tamak,
rakus dan bukan tindakan yang patut dipuji sebagai ekonomi
rasional. Sulitriya, sampai kini belum didapat kesepakatan
berapa batas keuntungan yang dianggap wajar.

keluhuran manusia modern. Manusia yang baik kini bukan


lagi yang saleh, rendah hati, sopan santun, tahu diri,
sederhana, dan lain sebagainya melainkan yang pragmatis,
efisien, produktif, ambisius, agresif, dan lain sebagainya.
Perubahan ini betul-betul menjungkir-balikkan tata nilai yang
lama. Dan siapa tidak cepat turut bergerak, akan ketinggalan
dan terlindas. Tapi, belum lagi seluruh barisan rnulai trergerak
tiba-tiba barisan terdepan terperangah. Tiba-tiba gambaran
masyarakat modern yang dicita-citakan tidak lagi secemerlang
gambaran semula. Dan sekali lagi gerakan pertumbuhan
bangsa menghadapi masalah besar yang ketiga.

Dalam Stratifikasi Sosial


Bagaimanakah stratifikasi sosial di dalam pola republik?
Mana yang lebih tinggi antara keturunan bangsawan, ulama,
pejabat pemerintah, perwira, politisi, orang yang dituakan,
cerdik cendekiawan, dan kaum hartawan? Bila iniditanyakan
maka kita akan mendapat j4waban yang berbeda-beda yang
membuktikan belum adanya suatu kesatuan norma di antara
kita.
Bila contoh-contoh itu kita kaji secara lebih mendalam
maka kita akan menemukan bahwa sesungguhnya akar pandangan filosofislah yang menciptakan perbedaan-perbedaan
tersebut. Oleh karena itu tidak mengherankan bila dalam
kehidupan sehari-hari kita seringkali bingung menghadapi
situasi tertentu. Lain daripada itu kita sebagai bangsa yang
baru berkembang, sebagaimana bangsa lainnya yang setaraf,
dihantui oleh perasaan terbelakang dibandingkan dengan
bangsa-bangsa lain yang telah maju. Oleh karenanya kita
merasa terdorong untuk mengejar ketinggalan itu. Untuk itu
kita umumnya berpendapat bahwa jawabannya terletak pada

22

3"

Krlsls Perkembangrn Budaya Dunia

Perkembangan kebudayaan negara rnaju dalam kurun dan


dasawarsa terakhir menunjukkan gejala-gejala yang memprihatinkan. Berbagai tatanan mudern yang sernula."lianggap
mukjizat ternyata mengandung hibit-bibit penyakit yang amat
membahayakan kehidupan manusia, bahkan juga planet bumi

ini. Industri yang

sangat maju ternyata telah melahirkan

pencemaran lingkungan, yang mengganggu kelestarian alam.


lndustri telah pula mendorong tingkat konsumsi yang rnelewati
batas wajar yang tertanggungkan oleh suntber daya alam yang
tersedia. Sedangkan teknologi telah mendorong terciptanya

senjata-senjata pernunah, yang maha dahsyat yang dengan

mudah menghancur leburkan planet bumi dan segenap


kehidupannya dalam tempo sekejap saja" Sernentara itu
telah terbukti juga bahwa kemajuan ekonouri dan tingkat
kemakmuran tidak dengan ser"rdirinya rneningkatkan rasa
bahagia dan sejahtera pada manusianya. Tatanan politik dan
ekonomi dunia vang ada di lain pihak telah mendurong ter-

l.l

Fr--

ciptanya jurang pemisah yang makin lebar antara bangsabangsa maju dengan yang terbelakang, hal ini mendorong
ketidak stabilan politik dunia yang pada gilirannya akan
memukul balik negara-negara maju itu juga. Dengan
kenyataan-kenyataan seperti itu tentu kita harus mempertanyakan kembali benarkah kita sebagai umat manusia telah
memilih jalan yang tepat untuk mencapai kesejahteraan
manusia dan kelestarian alam kita? Bila tidak, alternatif
manakah yang tersedia untuk dipilih? Dan kita pun harus
memilih, ke arah manakah perjalanan bangsa ini akan menuju?
Bila kita mengamati ketiga kesulitan besar tersebut maka
dengan mudah kita menyadari besarnya kesulitan budaya yang
kita.hadapi. Jadi bila kita ingin membicarakan tentang ciri
budaya yang akan kita tetapkan dalam arsitektur kita maka
kita akan dihadapkan pada serangkaian pertanyaan berikut
ini. Budaya yang mana yang ingin kita cerminkan? Yang dulu
pernah kita punyai dan sedang kita ubah ini? Atau yang
sekarang, yang masih rancu dan sedang kita pertanyakan kembali? Atau yang akan datang yang belum kita ketahui
gambarannya?

Ciri Budaya dan Arsitektur


Bila kita membicarakan ciri budaya dalam arsitektur kita
dapat membicarakan tentang dua seginya yaitu:
a. Apa ciri yang ingin diungkapkan.
b. Bagaimana ciri itu dapat diungkapkan.

Suatu karya arsitektur hampir selalu, secara disadari


ataupun tidak, mencerminkan ciri budaya dari kelompok
manusia yang terlibat di dalam proses pcncipraannla.
Sekurang-kurangnya akan tercermin di situ tata nilai yang
mereka anut. Dengan demikian apabila kita secara cermat
mengamati sejumlah karya arsitektur suatu masyarakat maka
lambat laun kita pasti dapat mengenali ciri budaya masyarakat
tersebut. Namun untuk dapat mengenalinya dengan benar-

),1

benar baik kita akan perlu mengenali kondisi lain dari


masyarakat tersebut.
Sebagai contoh kita dapat mencoba mengenali gejala
budaya masyarakat kita sendiri dengan mengamati karya
arsitektur di sekeliling kita. Saya akan mengambil kasus kota
Jakarta yang cukup saya kenal.

l.
-

Arsitektur Perubahan Elite di Jakarta


Mengamati arsitektur ini cukup relevan karena:
Jakarta adalah pusat orientasi budaya lndonesia masa kini.
di Indonesia sangat berperan dalam

Golongan elite

mempengaruhi tata nilai masyarakat karena masih kuatnya sikap feodal di masyarakat kita.
Dari pengamatan perkembangan arsitektur sektor ini
terasa adanya alur kecenderungan tertentu yaitu:
* Perubahan mode bentuk yang relatif cepat/sering.
Hal ini menunjukkan belum mantapnya kedudukan suatu
ungkapan arsitektonis tertentu yang 'pas' dengan hasrat
dan keinginan golongan elite tersebut. Dengan perkataan
lain mereka masih mencari-cari ungkapan yang dirasakan
tepat.

Sikap individualistik secara konsisten tetap ber_


tahan. Hal ini tercermin dari bentuk disain yang sangat
mengabaikan keadaan lingkungan sekitarnya. Hal ini

mencerminkan tiadanya rasa solidaritas dengan masyarakat


sekelilingnya. Terungkap juga pemahamannya terhadap
kemerdekaan dan haknya sebagai individu yang merdeki.
* Penonjolan kemewahan kini dibarengi juga oleh
penonjolan ciri aristokratis. Hal ini mengungkapkan
adanya kebutuhan kuat untuk menciptakan atribut status

sosial. Demikian kuatnya kebutuhan atribut ini sehingga


terasa fungsi utama rumah sudah tergeser bukan lagi
sebagai gua garba keluarga (fungsi primer) tetapi lebih
sebagai aktualisasi diri (fungsi sekunder).

l5

Gejala-gejala budaya tersebut memang makin terasa kokoh


di masyarakat kota Jakarta bila kita mengamati pula bentuk
kehidupan lainnya. Bila kemudian kita amati perumahan
golongan yang lebih rendah di daerah pelosok kota atau di
kampung-kampung maka kita melihat juga imitasi mode
tersebut dalam skala mini atau terbatas. Gejala ini mencerminkan tingkat kesadaran dari masyarakat golongn bawah
bahwa mereka mempunyai hak untuk berbuat yang sama
dengan golongan atas. Suatu hal yang tabu dilakukan dimasa
lalu.
a

Cl

-ra
a)

\
't
o
o

.r<
q)

o.

q!

2.

Arsitektur Perkotrsn

Pada gedung-gedung perkotaan yang disewakan (komersial) kita akan menemukan gejala yang agak berbeda. Gedunggedung tersebut umumnya dibangun dengan penekanan yang
kuat dalam ciri prestise. Atribut yang biasanya dikenakan
bukan saja kemewahan tapi juga atribut ke-internasional-an,
ke-modern-an dan teknologi tinggi. Pada hal gaya internasional
jet-set ini telah mereka tinggalkan untuk bentuk rumah tinggal mereka. Nampaknya ada gejala penerapan standar ganda
bagi mereka yaitu di kantor bercitra modern-ftrgh technology
tapi di rumah bercitra aristokratis"
Pada gedung-gedung perkantoran pemerintah terdapat ciri
yang berbeda. Kemewahan tidak terasa menonjol, meskipun
di sana sini terlihat adanya keinginan untuk itu (tapi terhalang
biaya), tapi sering terasa adanya keinginan kuat untuk menampilkan citra wibawa. Hal ini tercermin dari bentuk yang
simetris, tempat masuk utama yang ingin megah atau penjagaan yang ditonjolkan. Gejala lain yang sering terasa
menyolok adalah penyediaan fasilitas yang menyolok berbeda
antara pejabat tinggi dengan segenap bawahannya.
Selain itu fasilitas yang disediakan untuk publik selalu
sangat minim, terbatas pada lobby di tempat masuk utama
dan di lorong-lorong. Gejala-gejala tersebut mengungkapkan
sikap aparat pemerintahan yang berorientasi pada status

)7

v
penguasa dan adanya sikap yang feodalistik antara atasan dan

bawahan.

3.

Bangunan-bangunan Fasilitas Umum

Pada bangunan-bangunan sekolah umum selalu menimbulkan kesan seadanya. seolah-olah yang penting ada ruangan
tertutup. Susunan ruang dan pengaturan dalam kelas tidak
menunjukkan adanya perbedaan dengan sekolah yang
dibangun 40-50 tahun yang lalu. Sebaliknya pada bangunanbangunan sekolah yang bersifat khusus (biasanya sekolah percobaan seperti STM pembangunan dan lain sebagainya) terasa
adanya usaha agak berlebihan untuk menunjukkan bahwa
'yang ini memang lain'. Gejala ini mengungkapkan sikap dan
pandangan kurang serius terhadap pendidikan dan sikap
ingin memaksakan kesan sukses pada proyek-proyek
percobaan.

4.

Dan dalam proses


karena ruang lingkupnya yang sangat luas'
p.-U.n,"f.ui t .UuOuvaan ini arsitek- dapat turut berperan'
tentang
Untut ini pertama-tama perlu ditegaskan sikap dasar
menclpperan arsiiek yaitu mengikuti arus kebudayaan atau
pilihan
adalah
yang
terakhir
iatan arus kebudayaan- Pilihan
pun
menganyang berat karena selain sukar memerankannya
arus'
iutl Uunyuk risiko terutama bila berusaha menentang
sendiri bagaimana
Kesulitan yang pertama adalah menentukan

baik, untuk
tata nilai dan bentuk kebudayaan yang diyakini
setiap
memanfaatkan
t*gru ini. Selanjutnya ia harus berusaha
meyakinkan
dan
kesempatan yung udu untuk menyadarkan
dan benar' Upaya
masyarakat bahwa tata nilai itulah yang baik
ini adalah suatu upaya yang luhur tapi berskala raksasa'
dengan
Arsitek secara p..or"ngun mustahil dapat memerankan
masa
media
dan
baik. Ia harus ditunjang oleh suatu organisasi
f)apatkah
luas'
vurg Uitu efektif menjangkau masyarakat
lrginisasi para arsitek menialankan perannya?

Pengamatan Segi Mutu Pengerjaan

Bila kita mengamati segi mutu pengerjaan maka kita


temukan bahwa dibandingkan dengan tahun-tahun terdahulu
maka keterampilan pengerjaan telah meningkat. Hal ini
mengungkapkan adanya gairah dan kemauan untuk menumbuhkan sikap profesionalisme di kalangan pekerja. Dari berbagai contoh di atas kiranya jelas bagaimana berbagai ciri
tatanilai budaya suatu masyarakat dapat tercermin (dicerminkan) dalam masyarakat.
Penutup
Kembali pada pertanyaan pokok temu karya ini maka
jelaslah bahwa yang menjadi masalah sesungguhnya bukanlah
'bagaimana menerapkan ciri budaya yang tepat dalam arsitektur?' Masalah utamanya justru pada 'ciri budaya apa yang

ingin kita cirikan di dalam arsitektur kita?' dan jawaban


untuk itu tidak terletak pada pundak arsitek semata-mata
28

l()

I.4. MEMAHAMI ARSITEKTUR TRADISIONAL


DENGAN PF,NDEKATAN TIPOLOGI
Oleh: Ir. Budi A. Sukada, Grand.Hond, Dipl. (AA)
Tipologi berarti ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang
Arti kata ;tipe" sendiri diambil
kata "typos" (bahasa yunani) ying berarti: ,,the dari
root
o!. ". Untuk dapat membahas tipofogi secara tuntas, perlu
dikemukakan dahulu pengertian yang teikandungg
dalam kata
arsitetur", karena demikian banyaknya pengertian yang
dimiliki oleh kata itu dewasa ini.
. ',r Secara tipologis, yang dimaksudkan dengan ,,arsitektur,,
ialah aktifitas yang menghasilkan objek tertentu, yang
disebut
"objek arsitektural". Dengan begitu tipologi derusaha
menelusuri asal-usul/awal mula terbentuknvu
oUj.t_oUj.l
arsitektural. Untuk itu, ada 3 tahapan yang harus
dit.*put,
yaitu:
l ' Menentukan tJbentuk-bentuk dasar" (formar
structures)
yang ada di dalam tiap objek arsirektural
2' Menentukan "sifat-sifat dasar" (properties) yang dimiliki
oleh setiap objek arsitektural, berdasarkan bentuk
dasa.
yang ada padanya.
3. Mempelajari proses perkembangan bentuk dasar tersebut
sampai kepada perwujudannya saat ini.
Yang dimaksudkan dengan "bentuk dasar,,
ialah unsurunsur geometris utama: segi tiga, segi empat,
lingkaran, dan
glips; beritut segala variasi niasing-_masing unsur t..r.Urt.
Unsur geometris utama ini serinlkafi ai"seUui ,,i.",n.r.i
abstrak" atau disebut juga ',dee-per gro*iiy,,.
"abstrak
karena unsur-unsur ini
keadaan tidak terwujud secara nyata di
da-lam
diamati, melainkan hanya terindiiasikan saja. "U:.f. ,"r;
seuuatr atai
berbentuk pelana misalnya,.bisa dianggap
terdiri dari beberafl
unsur segi tiga yang dibariskan.
berkenaan dengan tipe.

"

30

";i;;;;,
lebih,-.;;;;ir-dfi;

Yang dimaksudkan dengan "sifat dasar" ialah hal-hal


(.1'ealures) seperti: memusat, memencar, simetris, statis, sen-

tris, dan sebagainya. Beberapa sifat dasar ini sudah menjadi


rnilik beberapa bentuk clasar tertetttu dengan sendirinya (inherent). Misalnya, sebuah bujur sangkar mempunyai sifSt
dasar "statis", sedangkan sebuah lingkaran mempunyai sifat
dasar "memusat". Akan tetapi, beberapa bujur samgkar atau
lingkaran yang digabungkan belum tentu rnempunyai sifat
dasar itu lagi. Demikian pula halnya bila beberapa bentuk
dasar yang berlainan digabungkan menjadi satu bentuk dasar
baru.
Sebagai sebuah objek arsitektural, terdapat dua pendapat
vans berbeda mengenai asal-usul arsitektur. Pendapat yang
i"ieruentut pada saat
manusia berhasil mewujudkan kehadiran Tuhan di dunia. Atas
dasar anggapan tersebut, objek arsitektural yang pertama di
dunia adalah bentukan/konstruksi yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa arsitektur terbentuk pada saat manusia sadil akan kehadiran-

ir.

nya di dunia dan mulai terarah pada lingkungannya. Atas dasar

hal tersebut, objek argjlektu1 yang.,pertaml. di dunia adalah


bentu kan/ koriiliu'ksi iang trsitnngsi sebagai tempat pemuj aan.
Pendapat yang kedua mengalakan "ba!.ryva arpljekt"q1 terbentuk pada saat manusia sadar akan kehadirannya di dunia dan
mulai terarah pada lingkungannya. Atas dasar hal tersebut,
objek arsitektural yang pertama di dunia adalah bentukanbentukan yang berfungsi sebagai hunian/tempat tinggal
primitif (primitive hut).
Dewasa ini, pengaruh kedua pendapat di atas masih dapat
dirasakan. Pendapat yang pertama menghasilkan keyakinan
bahwa yang pantas disebut sebagai karya arsitektur adalah
karya-karya yang monumental sifatnya dan diperuntukkan
bagi kepentingan umum, Contoh: Nikr:rlaus Pevsner. dalam
buku ",4n Outline of Europeon Architecture" (i 974) berpendapat sebagai berikut:

rl

'

"Gudang sepedo adalah sebush bqngunqn; kotedral Lincoln


sdaloh sebuoh karyo orsitektur. Apapun yang membentuk
ruang dalam skalo yang cukup bogi monusio untuk bergerak
di dolamnya sdoloh sebuah bqngunqn; istiloh ursitektur
hanya berloku bagi bongunan-bangunon yong dirancong
dengan tuiuan estelis". t )

\/

Pada abad ke-18 dan 19, sebutan "estetis" hanya ditujukan

iiiDlllttii l lll
l

il*I
m rillil
!r, * iil
ll*![t!

pada bangunan-bangunan monumental dan umum saja.


Memang itulah yang ditampilkan oleh Pevsner dalam uraiannya. Pengaruh pandangan ini terasa juga di Indonesia. Mata
kuliah Sejarah Arsitektur misalnya, penuh berisikan materi

'E
*'"'
r&

r: T.e.tI

tf,

-o

\
c
q,)

*a
a"
^\<
e)

mengenai bangunan-bangunan monumental saja.


Di pihak lain, pendapat yang kedua menghasilkan pendapat
yang percaya bahwa setiap bangunan, apa pun fungsinya dan
bagaimanapun penampilannya, harus disebut sebagai karya

arsitektur; bahkan apabila didirikan bukan oleh seorang


arsitek.
Mengenai arsitektur sebagai sebuah objek pun terdapat dua
pendapat yang berbeda. Pendapat yang pertama mengatakan
bahwa objek arsitektural itu unik dan orisinal sifatnya. Setiap
objek arsitektural merupakan ekspresi dari apa yang dipikirkan
oleh pembuatnya, sehingga seharusnya tidak mungkin ada dua
objek arsitektural yang persis sama, sekalipun dibuat oleh

orang yang sama. Pendapat ini masih berpengaJqb*gUlfi


sekarang. Perhartikan pendapat prefeso(.P4.mrrano Atmadi
berikut ini:
"Psdq dasarnya orsileklur selalu ingin menyampaikan
peson, honya karena peson itu tidok tertulis maka pesan tadi
dapar saja diartikan berbedo dori yang, dimaksudkan. Selain
ilu peson yang diharopkan dupal dctn hampir selalu diartikqn lain oleh seseorqng yong men<'r.tba membaca pesan

l.

PEVSNER, Nikolaus

-AN

"i

,'

OUTLINE OF EUROPEAN ARCHITECTURE-

England: 1974, hal. l5

-r,

1.1

tersebut. Apuktgi bilo pengamaton dilokukqn dengon selisih


wak.tu yong cukup luml".2)

Menurut beliau, hal itu disebabkan karena:


". . . tumbuhnyo pondongan dsn nilai boru yang tidak honya
berbeda tetopi iuga dopot bertolok belakong dengan yang
lqmq".3)
Pendapat profesor Parmono di atas berasal dari salah satu

aktifitas bidang Linguistik yang disebut "Semiologi".


Semiologi berusah a meli h at balqqseba_g" 1! sAlqa komuni kasi .
Dalam halinimanusia dilihat sebagai makhluk bersimbol, yang
berkomunikasi dengan sesamanya dengan tanda-tanda yang
mengisyaratkan/ditujukan pada suatu arti atau maksud tertentu. Oleh karena itu, bahasa yang kita pakai sehari-hari
dipelajari dalam Semiologi dengan jalan menguraikannya menjadi sebuah sistem tanda-tanda. Melalui pendekatan ini proses pembentukan pengertian tentang apa pun diharapkan dapat

ditelusuri. Baik simbol maupun tanda (sign) diyakini bersifat


universal, sehingga proses yang terjadi dalam pembentukan
sebuah bahasa terjadi juga pada hal lainnya, antara lain pada
arsitektur. Elemen-elemen tektonis pembentukan sebuah
objek arsitektural disamakan dengan kata-kata, sedangkan
objek arsitekturalnya sendiri disamakan dengan sebuah
kalimat. Kita tahu bahwa dalam prakteknya tiap orang mempunyai cara masing-masing dalam bercakap-cakap. Arsitektur
pun diperlakukan seperti itu. Setiap pembuat objek arsitektural
dianggap mempunyai cara masing-masing dalam pengolahannya agar objek yang dihasilkannya komunikatif. Dengan
demikian setiap objek arsitektural adalah khas milik pembuatnya (dalam pengertian: hanya mewakili si pembuatnya). Setiap
objek arsitektural unik dan orisinal karena hanya membawakan pesan dari pembuatnya.
1

Parmono Atmadi
-APA YANG TERJADI PADA ARSITEKTUR JAWA?Yogyakarta: 1984, hal. 3

3.

idem

34

Pendapat yang kedua justru mengatakan yang sebaliknya.

Menurut pendapat ini, objek-objek arsitektural mempunyai


nilai yang sama dengan objek lain yang dihasilkan dari sebuah
aktivitas yang bersifat repetitif (berulang kali). Bukan hanya
itu. Objek arsitektural justru sengaja dibuat agar untuk
seterusnya dapat diulangi lagi. Dengan perkataan lain, objek
arsitektural bukan saja menghasilkan sebuah pengulangan
melainkan juga dihasilkan dari sebuah pengulangan.
Atas dasar pandangan seperti itu, seseorang yang akan membuat objek arsitektural dianggap hanya mempunyai satu
pegangan, yaitu "bentuk-bentuk dasar" beserta "sifat-sifat
dasar"-nya. Kemampuan yang dimilikinya hanyalah keterampilan melakukan klasifikasi, yaitu membeda-bedakan pelbagai
bentuk dasar dan mencirikan sifat dasar masing-masing. Dia
bisa saja mOlakukan transformasi, modifikasi, atau imitasi
bentuk-bentuk dasar, akan tetapi hal itu bisa saja dilakukan
setelah dia menetapkan satu bentuk dasar atau satu penggabungan bentuk-bentuk dasar pilihannya. Itulah sebabnya,
orang lain akan dapat meniru apa yang dilakukannya dengan
mudah, segera setelah berhasil menelusuri bentuk dasar atau
gabungan bentuk-bentuk dasar asli pilihan orang pertama tadi.
Sering timbul anggapan bahwa pendapat ini merupakan
embrio dari konsep produksi arsitektur secara massal. Hal

tersebut tidak seluruhnya benar, walaupun memang


merupakan satu dari beberapa konsekuensi yang timbul.

Sebenarnya tidak mudah meniru objek arsitektural hasil karya


seseorang, karena menelusuri bentuk-bentuk dasar asli tidak
dapat dilakukan dengan mudah.
Tulisan di atas memperlihatkan bahwa pengertian ,'karakter',
tidak dihubungkan dengan pembuatnya, melainkan dengan objeknya sendiri, dengan pengaturan di dalam objek itu sendiri.
Si pembuat objek tidak punya andil sedikitpun dalam objek
yang dibuatnya, dan tiap objek arsitektural telah mengandung
sesuatu yang sudah ada dengan sendirinya bahkan sebelum

disentuh oleh tangan si pembuatnya.

3s

,tda cara untuk menafsirkan objek-objek arsitektural dengan

ffi

lalan mengidentikkannya dengan suatu objek ragawi terentu, yang selanjutnya akan menghasilkan sebuah citra
ertentu pula. Contoh: sebuah kolom mengekspresikan
ekuatan karena berfungsi menahan berat atap atau bangunanrrya sekaligus (bila berlantai banyak). Kekuatan identik dengan
kejantanan atau keperkasaan seorang pria. Itulah sebabnya
scbuah kolom harus berdimensi besar, tidak berukir atau
rrkirannya seminimal mungkin, dan di bagian atasnya memlrunyai profil yang ditransformasikan dari profil seorang pria.
l)i kemudian hari, konsep "physiognomy" ini mengakibatkan
ripologi dilihat sebagai sebuah aktivitas pengelompokan berdasarkan langgam (style). Itu disebabkan oleh pernyataan

ro

Kombinasi dan kompos,r,


r.3iT"1T.,1,, n ouru.
(J. N. L. D,RAND)
o,

l,tit"tlli;;.

berikutnya, bahwa tiap objek mempunyai tipenya


rnasing-masing berdasarkan fungsi objek-objek tersebut dan
kebiasaan masyarakat dalam memakai objek-objek itu.
Dengan demikian muncul penambahan aspek baru, yaitu
selera, yang dianggap sebagai faktor penggerak utama dari
munculnyasebuah langgam tertentu.
Dipakainya langgam sebagai kriteria klasifikasi tipologis
juga dirangsang oleh pemikiran yang diajukan oleh JeanNicolas-Louis Durand, profesor arsitektur di Ecole Polytechnique, pada tahun 1795. Dikatakan oleh Durand:

de Quincy

ersebu t di koreksi
oI eh
euarremere de

euincy

i'ff rllli,.?,: : 1' on padai pepri ipnya horus isa


m, r, i n, y ), i 6iii1
ipe n ii
ia' rir'J!: " "'
,
o,
d
r ; ; ;r; ;;A:rr;
::, :i:i; f ot.to
; "i i,,i,, i, i
;;: r:mereka
tuk
,"i;d,:,'::':t.:,:
n

o;,"*,

se

it

ns

.m

e ta t u

ek a

". . . dalam bidang literstur misalnyo, seseorang selalu mulsi


dengan elemen pembahason. Bila paro siswa menerimo
usulan metode ini, mereka akan terbioso dengan bentukbentuk dan proporsi elemen-elemennyo, dan terlebih logi

"

berharop in_
memberi
b,;;s;;;:;'Y;;' PhYsiognomt" indi,idrr, orJr',ii,
Perhatikan bahwa

lm:,,'r:n::, $;):"r,,,f":flffiT::jffil##

dengan pelbagoi kombinusi dari elemen-elemen yang sams.


Setelqh itu, ketika mereko sendiri membuat sebuah kom'
posisi, mereka akan mampu memilih dengon tepat bentuk'
bentuk, proporsi dan kombinosi yong paling cocok dengon
kebutuhannya; don akhirnya, dengon usahq sertq keria yong

4.

lebih ringan mereks akan mampu menciptakan karyakorya yang bisu lebih memuaskan selera dqn masuk akal".5)

Raphaet

lloNIo,
Jemlnar on

_oN

Typology.,,

,Lf^il?,ll; f{{Tlil

ii;Summer

e78

dari

5.

idem

36

5t

Tidak seluruh pendapat di atas termasuk dalam aktivitas


bidang tipologi. Bidang ini dibangun atas dasar pendapat yang
mengatakan bahvra "primitive hul" merupakan awal objek
arsitektural pada prinsipnya bersifat "repetitif"; atau seperti
yang dikatakan olehlRap[aai]\fon&
berikur :
lsebagai
"setora sederhana, tipotogi rtapat didefinisikqn sebugui

i<-:tr

z rt

-: -aI

sebuah konsep .yang mendeskripsikan sebuoh kelompok olt

<

jek atas dasar kesumaan kar(tkter bentuk-bentuk dssarn.y'u.


Padq dssarn.va tipologi berlandaskan poda kemungkinun

mengelompokkan beberapo objek karenq mempunyai kcsurnaon sifat-si-fut dasar. Bahksn bisu juga dikataksn buhwu
tipologi berqrti tittdskan berpikir clolam kerungku
PengelomPoksn".6)

.)

(
\-\

t$
ct-

./Atas dasar itu, pengertian "arsitektur"

".

sebuah cara membuqt elemen-elemen tipologi


ide
benluk- mencupoi keadaon-.yuitu
.yunq bi.sa
mencirikan karya yang utuh".7)
mengenai sebuuh struktur

Pelbagai Tafsiran
Mudah diduga bahwa pendekatan tipologis ini akan mengundang pelbagai tafsiran, baik yang tepat maupun tidak, karena penekanannya yang diletakkan pada "karakter" sebagai
fungsi klasil'ikasi. Masalah ini bahkan telah berlangsung sejak dua abad yang lalu, pada saat istilah "tipe" dituliskan
untuk pertama kalinya oleh Quatremere dc Quincy pada tahun
1788 dalam buku Ensiklopedi yang pertama di dunia.
Pengertian "karakler" ditulis pertama kalinya oleh
Jacques-Francoise Blondel pada tahun l77l dcngan
menyatakan bahwa:

lrt

P]f1J
^rrtfsl Cr9!*+ ,E
/--(3-\

F i:ilii+,.,,
q:d*>
I

VIDLER, Anthony -A NOTE ON THE IDEA OF TYPE IN ARCHITECTL,IREdalam: A. Henry - The Building oJ a Club, Princeton: 1976; dari "Seminar orr
Typology", op.cit. hal.23.
'7.

38

idem, hal. 26

Gambar

PRIMITM HUT: awal objek arsitektural


-19

".

. . segenap hosil korya yong digolongkan harus mencer'

minkan tujuan spesdiknya mosing-mosing, semuanya harus

memiliki sebuqh korokter yang menenlukon bentuk


keseluruhannya, don menghadirkun bangunon lersebut apo
adanYa".8l

Gambar 3
Physiognomy

Tipologi sering juga disalahtafsirkan sebagai sebuah cara


melakukan klasifikasi atas dasar kriteria "model", atau dengan
perkataan lain, "tipe" itu identik dengan "model". Masalah
ini sudah ada sejak tipologi dibahas untuk pertama kalinya,
dan diketahuijuga oleh Quatremere de Quincy. Sebagai contoh, dianrbil masalah atap bangunan, Dikatakannya:
"Sebuah 'pediment' tidok lagi dilihot sebogai represenlasi
sebuqh otap, kebetulsn karens bentuknyo yang segi tigo,
maka sebush atop odoloh sebush segi tiga misterius, sesuoltt

yong melombongkon keobodion ".9 )

Dengan mengambil contoh mengenai atap bangunan, de


Quincy menyerang mereka yang rnelihat dulu apakah objek
tersebut telah mengandung syarat-syarat yang diperlukan agar

8.
9.

idem, hal.

model

_;;J*ff.

representasi dalam tiga dimensi clari


struktur atau langgam sebuah struktur
. . . untuk dibuat kembali dengan bahan
lain
atau yang cliusulkan untuk

ditiru.
cara
berbicara, menulis, atau melakukan
sesuatu; sebuah karakter yang bersifat
kolektif; sebuah rumus deskriptif; jenis,
ragam, terutama yang berhubungan
dengan caranya ditampilkan.ro;
Baik "tipe" maupun "langgam,, menyinggung hal yang sama,
yaitu: kesamaan karakter yang bersifat mengelompot<ztotet<tir,
sedangkan "model" justru berusaha melakukan imitasi atas
"langgam". Akan tetapi, pada pemakaian tertentu, ',model,,
mempunyaipengertian yang sama dengan "tipe,, karena sama_
sama berhubungan dengan masalah representasi.
Tipologi memakai ketiga kata tersebut dalam ruang lingkup
berlainan, yaitu dikaitkan langsung dengan "bentuk-beniuki,

langgam

27

VIDLER, Anthony
-Tt{E IDEA OF A TYPE: THE TRANSFORMATION
OIi THE ACADEMIC
IDEAL, 1750-1830- Oppositions, Spring 1977: dari
"Semitrar on Typology", op.cit. hal. 70.

40 ' : '

dapat diperlakukan sebagai sebuah ,,bentuk dasar,l Dalam


contoh yang diberikannya, sebuah ,,pediment,, dianggap
sebagai model yang menyebabkan atap bangunan diidentit<_
kan dengan sebuah segi tiga.
Pelbagai tafsiran yang memunculkan pelbagai aspek baru
dalam bidang tipologi seberulnya disebabkan oieh pengertian
yang terkandung dalam masing-masing aspek, yung
-..ung
berkaitan satu sama lain. Dalam bahasa Inggris, kata-kata:
tipe, model, dan langgam didefinisikan sebagai berikut:
: seseorang, sesuatu, peristiwa, dan sebagai_
- tipe
nya, yang dianggap sebagai sebuah contoh
dari satu kelas atau kelompok tertentu
dianggap mempunyai kesamaan

..

10. THE CONCISE OXFORD DICTIONARy, Oxford


\i
PUKI'iJS-'',{1

JL. i'vtlr"

-t

University

ilro^*

JAw^ ltMuB

lUM,'U;r('r\N 'fl
'l
$

J'l

lT
dan "sifat-sifat dasar" sebuah objek arsitektural' Oleh karena
itu, ketiganya harus dilihat secara konsepsional saja, tidak
boleh dikaitkan dengan sebuah wujud fisik tertentu. Dengan
demikian, yang dimaksudkan dengan "model" dalam analisis

tipologi iaiah-sebuah bentuk dasar geometris yang dipilih


r.Uugui sumber ideal bagi pembentukan sebuah objek ar-

sitektural tertentu, sedangkan langgam, adalah ciri khas yang


timbul dalam penampilan sebuah objek arsitektural yang
dibuat, sebagai akibat dari dipilihnya sebuah bentuk dasar
tertentu untuk dijadikan sebuah model ideal'

Seluruhuraiandiatasbarumeliputiduatahapanpertama

yang dilakukan dalam tipologi' Pada tahap yang terakhir'


ilpotogi memakai metode yang biasa dilakukan dalam bidang
,.1u.uh, setiap objek arsitektural dipelajari perkembangannya
dengan mengikutsertakan aspek kebudayaan manusia'
khuiusnya yang berkaitan dengan caralteknik mendirikan
bangunan. Melalui tahapan terakhir inilah tipologi dikembanlkan bukan hanya sebagai aktifitas teoretis belaka
melainkan juga sebagai aktifitas praktis, sebagai alat perencana dan perancangan.
Bila sejarah arsitektur Barat kita lihat dalam ruang lingkup
ideologinya, maka tipologi ini termasuk dalam kelompok
Rasionalisme. Paham pemikiran tersebut dipelopori oleh MarcAntoine Laugier melalui karya tulisnya berjudul "Essai sur
l'architecture" (1753). Dialah yang menyatakan bahwa arsitektur berawal dari sebuah "primitive hut", yang terdiri dari
4 buah batang kayu vertikal membentuk sebuah segi empat'
yang dihubungkan satu sama lain oleh 4 batang kayu horisontal
di bagian atasnya. Batang-batang kayu horisontal tersebut
sekalilus menjadi dasar lantai hunian manusia primitif'
Konstruksi ini menjadi bagian pertama dari hunian primitif.
Bagian kedua berupa empat batang kayu lain yang disusun

,n*;uAiduabuahsegitiga,yangdipasangdiduasisiterjauh
daritidang lantai dan dihubungkan satu sama lain oleh sebuah
batang kayu berikutnya yang dipasang horisontal' Bagian ke
42

dua inilah yang akan membentuk atap bangunan, setelah diberi

ranting dan ditutupi dengan dedaunan.


Dengan demikian, sebuah objek arsitektural pada prinsipnya hanya mempunyai dua bagian utama, yaitu: kolom-kolom
"free standing" dan bidang atap. lnilah elemen-elemen dasar
arsitektur Rasional. Di luar elemen-elemen ini, semuanya harus
dianggap berfungsi sekunder. Melalui logika seperti itu,
dinding-dinding pembentuk ruangan yang muncul dalam
perkembangan selanjutnya, tidak boleh dilihat sebagai pemikul
beban bangunan karena hal itu akhn melanggar prinsip dasar
yang telah ditentukan. Dinding maupun elemen lainnya yang
muncul kemudian harus dilihat'sebagai elemen pengisi saja
sehingga logikanya, elemen-elemen tersebut harus bisa dicopot
untuk dipindahkan sesuka hati atau sesuai dengan kebutuhan
penghuninya. Seperti inilah perancangan yang rasional itu,
yang sbkarang telah berkembang demikian jauhnya mer{adi
produksi massal (rasionalisasi seluruh elemen bangunan melalui
teknik pabrikasi), efisiensi dan ekonomisasi bangunan, modernisasi bahan bangunan, standardisasi, dan pelbagai penemuan

lainnya dalam bidang arsitektur modern.

Arsitektur Tradisional Indonesia


Isu terbesar di kalangan arsitek Indonesia dewasa ini ialah
bagaimana caranya ynenciptakan karya yang memberi citra
Indonesia, dan di mana-mana sumber-sumber inspirasinya bisa
ditemukan. Pandapat umum yang beredar mengatakan bahwa
jawabnya harus dicari dalam arsitektur tradisional Indonesia
sendiri. Yang dianggap Sebagai penghalang ialah pranata
ilmiahnya, yang dirasakan belum memadai (Djauhari S., 1984)
ditambah dengan definisi arsitektur itu sendiri yang masih
belum disepakati oleh semua pihak.
Ide tentang suatu keputusan bersama memang sangat baik,
karena dengan demikian semua pihak yang terlibat merasa puas
dan terikat untuk mengamalkannya. Akan tetapi, arsitektur
adalah sebuah ilmu. Seperti juga ilmu lainnya, arsitektur dapat
43

dan harus diperdebatkan tanpa harus menunggu keputusan


bersama mengenai definisinya. Uraian ini pun ditulis dengan
sikap serupa, yaitu bahwa arsitektur tradisional lndonesia
hanya dapat dimengerti apabila langsung dipelajari, dan dalam
hal ini berarti dipelajari secara tipologis. Dengan demikian
arsitektur tradisional Indonesia akan dilihat semata-mata
sebagai objek arsitektural, yang dibentuk oleh unsur-unsur
geometris dasar yang di dalamnya mengandung sifat-sifat dasar
tertentu serta berkembang secara historis menjadi bentukbentuk yang kita lihat dewasa ini.
Sebagai langkah pertama, beberapa kutipan berikut ini
akan diajukan sebagai bahan perbandingan. Yuswu!!.Salya
mengemukakan pendapat sebagai berikut:

". . jelas ada kecenderungqn masyarakat untuk mendapatkon kembali miliknya sendiri yang belum posti
diketahuinya"t2 )
dan disambung lagi dengan pernyataan sebagai berikut:
"Memandang orsitektur todisional dari benluk luarnyo,
sudoh barang tenlu ukon menuntpilkon gombaran dalsm
citrq ke-kini-on kito yong rumit-runyarn, yung musykil-

musprq, yong lomban-lumbat dan yang kolot-ngotot,


meskipun justru sering hal yang demikion ini digandrungi
dengon salah mengerti, dan dicemooh tsnpa mengerti".t3)
nl

k at al, an

il

model surgawi (divine model): ado kalonya arsiteklur itu sendiril()h mitos . . . Kalsu arsitektur merupokon iembaton yang
menghubungksn msnusia dengan dunia pengalaman don
ideasi (ideqtion tidsk selolu venerotion), maka sehartunyoloh
orsitektur bersifot komunikotif . . . Campur tongan arsitek

akan terbotss pado penafsiran (buksn hanya penerjemahan!) ritual penghuni sesuai dengan koidoh-kaidah polo
(sistem) ekspresi, sedemikisn agar bentuk dan makna terpadu odanya. Ini berkaiton dengon paradigma arsitektur

b ah wa

"Berbogai arsitektur trqdisional yang teloh melemboga


dengan montop don utuh, poda umumnya mengandung

". . - arsitektur tidsk dopat dirumuskan dengan ksto-katq


tqnpo menyertakon sesuatu yong dinomakon misteri .
Arsitektur berusahs (merupakan usaha) untuk menggejalakan atau mewujudkon spa yang dinamakan misteri
(mysterium fasciman) itu melalui unsur-unsurnyo (agregatagregatnya) . . . srsitektur dopot dikatskan iuga sebagai

l6igb=lis&S;b$o.

pengetahuon dan pengertiqn yang songol mendalam dan luas


mengenai toto ruong dan wqktu bagi kehidupan manusia di
dunia dan di qkhirat. Pado dasarnya io memosalahksn

bagaimono monusiq menempatkon dirinya dslam


lingkungon ke-diri-annya, dalam lingkungan keluarga,
lingkungan masyarokat, lingkungan negora, lingkungan
kehidupon dunio, dan akhirot".ta)
sedangkan arsitektur

itu

sendiri didefinisikannya sebagai:

". . . perwujudant'pernyotqsn bentuk dqn tutq ruang/waktu dari


suatu lingkungon kehidupon yang membudoyu (sedangkan) arsitektur maso depan kita tidaklah dopat kito bikin; sr.titektur itu
diluhirksn don bukan sekador dibikin".ts)

yang dianutnla".tt1
Pendapat lain dikemukakan oleh Robi Sularto dan Darmawan
Prawirohardjo, yang mengatakan:

t2

Darmawan Prawirohardjo dan Robi Sularto -MENUJU ARSITEKTUR


INDONESIA- Yogyakarta Desember 1982
Robi Sularto

ARSITEKTTJR INDONESIA: DALAM KAITAN-

-MENUJU
NYA DENGAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BAI-I- Cipta, no.64, Xlll

ll.

Yuswadi Salya

-POLITIK

ARSITEKTUR INDONESIA: ''TAMASYA KE

MASA DEPAN"- Yogyakarta: Desember

44

1982

14.

1984,
idem

t5.

idem

hal.

42.

45

Akhirnya dipertanyakannya:
"Seberapa lauhkan dunio pendidiksn orsitektur kits telah
mampu melihat masoloh orsitektur Indonesiq kecuoli
tergopoh-gopoh melatih keterampilan profesional? Dan
seberapa jauhkah kita, para arsitek telqh memberikan sumbangan ke arah pembentukan ar,siteklur Indonesis ini?".t6)

itu, ada juga yang berpendapat bahwa arsitektur


tradisional sulit diteliti karena pranata ilmiahnya kurang
Sementara

memadai atau bahkan belum ada sama sekali. Pendapat seperti


ini sebenarnya berasal dari pendapat yang melihat arsitektur
sebagai pengetahuan keterampilan, baik bersifat teknis maupun
seni. Arsitektur dianggap sebagai keterampilan memadukan
masalah teknis dengan nonteknis. Sumbernya adalah asal kata
"arsitektur" itu, yaitu "architecton" (kepala tukang). Pengertian yang terkandung di dalam kata tersebut memang
menekankan pada keterampilan. Padahal, sudah sejak

Vitruvius menuliskan pemikirannya ke dalam l0 jilid buku,


arsitektur sudah dilihat sebagai ilmu. Sebagai sebuah ilmu,
bidang arsitektur sudah sarat dengan catatan-catatan ilmiah
sehingga kita tinggal memilih saja yang cocok dengan apayang
ingin dicapai di Indonesia.
Sebelum sampai pada pembahasan mengenai pendekatan

tipologi arsitektur tradisional Indonesia, akan digambarkan


lebih dulu pelbagai penerapan pendekatan tipologi yang
dilakukan di dunia barat sebagai pembanding dari pendapatpendapat yang dikemukakan oleh para arsitek Indonesia
tersebut di atas.

Tipologi Di Barat
Sejarahwan Anthony Vidler mengatakan bahwa dalam sejarahnya, pendekatan tipologis dapat dibagi dalam 3 babak
Babak pertama dimulai oleh "ensiklopedis" abad ke-19,
16.
46

idem

dengan tokoh utamanya Marc-Antoine (Abbe) Laugier.


Seperti
telah diuraikan terdahulu, sumber acuannya ialah sebuah

struktur yang disebut "primitive hut,,. Di antara kelompok


ini, yang pemikirannya paling mempengar.uhi babak berikut_

nya ialah Jean-Nicolas-Louis Durand (1760_1g34), dalam karya

tulisnya: "summary of Lectures git,en at Ecole polytechni_


que" (1802-1805). Buku itu berisi kumpulan gambar pelbagai
bangunan dari pelbagai negara dan zaman, yang dikelo*po*_

kan atas dasar pemakaiannya dan digambar dalam skala yang


sama baik denah, potongan maupun tampaknya. Dari maiing_

masing kelompok, Durand mengambil beberapa elemen


tektonis yang dianggapnya paling menentukan karakter

masing-masing. setelah itu dicampurkannya kenrbali membentuk pelbagai bangunan yang sesuai dengan kebutuhan baru.
Selain fungsi yang lebih baru, sasaran lain yang clituju oleh
Durand adalah efektif dan ekonomis, misalnya: kolom_kolom
sedikit mungkin, luas dinding sekecil rnungkin, bahan semurah

mungkin, dan seterusnya. Atas dasar komposi.si baru elemenelemen tektonis tadi, Durand menentukan langgain arsitektur
mana yang paling tepat dipakai sebagai dasar aturan masing_
masing bangunan.
Babak kedua terjadi di akhir abad ke-19, sebagai usaha
untuk menjawab tantangan revolusi dalam bidang industri.
Dalam ruang lingkup teoretis, Walter Gropius dapat disebut
sebagai pelopornya; akan tetapi L,e Corbusierlah yang pertama
kali mewujudkannya <lalam perancangan perunrahan di pesac,
Prancis. Pada pokoknya, yang dijadikan model dalant perancangan ialah penafsiran atas sebuah ,,proses,,, sebagaimana
diperlihatkan oleh mekanisasi pembuatan barang secara
massal. Perancangan arsitektur tidak lagi dilihat atas dasar
elemen-elemen tektonisnya, melainkan komponen-komponen
fisiknya: yang diproduksikan secara massal setelah dirasionalisasikan terlebih dahulu.
Bila kita perhatikan, pendekatan tipologi dalam kedua
babak di atas sangat mengutamakan penguasaan atas bentuk,

4l

rasio, dan teknologi. Akibat dari penekanan tersebut pada


babak yang pertama ialah munculnya kebiasaan memakai lang-

gam, arsitektur tertentu untuk fungsi tertentu, misalnya:


bangunan pemerintahan harus berlanggam Klasik, bangunan
keagamaan harus berlanggam Gothic, bangunan umum harus
berlanggam campuran, dan sebagainya; walaupun yang dituju oleh Durand bukanlah yang seperti itu. Babak kedua, seperti
telah kita ketahui bersama akhirnya menghasilkan konsep
arsitektur berlanggam Internasional(International Style) yang
dikomersilkan sejak tahun 1950-an sampai sekarang ini, dan
yang justru sedang dipertanyakan kembali ketepatannya
untuk diamalkan di Indonesia.
Babak ketiga terjadi di sekitar tahun 1960-an, akan tetapi
baru mendapatkan perhatian dari para pengamat arsitektur
pada tahun 1970-an sampai sekarang. Mereka adalah para arsitek yang disebut "para Rasionalis generasi ketiga" oleh
Vidler, sedangkan Kenneth Frampton menyebut mereka
sebagai para Neo-Rasionalis yang menerapkan pengertian yang
I

{
i

Cambar 4
paesrum (5
SM)
-

Kuil Poseidon

TIPOLOCI DENAH KUIL


YUNANI

sebenarnya, sebagaimana dituliskan oleh Laugier, yaitu:


l. Melihat makna arsitektur sebagaimana diwariskan oleh
bentuk-bentuk yang teriadi di masa lampau.
2. Memilih bentuk-bentuk dasarnya atas dasar pewarisan cli

3.

atas.

Membuat usulan perancangan atas dasar pengkomposisian


kembali bentuk-bentuk dasar hasil pervarisan tersebut di
atas.

Sebagaicontoh dapat disebutkan sebuah monumen karya


Aldo Rossi dari Itali. Monumennya lerdiri dari 3 bentuk-dasar:
lingkaran, kotak, dan seeitiga. Mengikuti Laugier, maka
bentuk-dasar lingkaran menjadi sebuah kolom, kotak menjadi dinding, dan segitiga menjadiatap, yang menumpu pada
dinding dan dilopang oleh kolom. Akan tetapi, Aldo Rossi
tidak merrrl)uatnya seperti sebuah "primilite hut" seperti yang
diceritakan oleh I-augier. melainkan digeser sehingga masingmasing elemen mendukung yang lainnya hanya di satu titik

Gambar 5
Monumen karya. ALDO ROSSI,
dengan 3 bentuk dasar:

lingkaran, kotak, segitiga

48
49

saja. Hasilnya adalah (sebagaimana digambarkan oleh Anthony Vidler)" ... bukan bangunan yang terdiri dari elemenelemen yang terpisah ... berdiri dengan lengkap dan siap untuk dipecah kembali menjadi fragmen-fragmen ... yang tidak
mengindikasikan bentuk-bentuk yang sudah melembaga
ataupun mengulangi kembali bentuk-bentuk dasar aslinya".
(Cambar 5).
Yang menjadi bahan untuk dipecahkan melalui tipologi
dari generasi Neo-Rasionalis ini adalah kota-kota besar di
I

Eropa atau daerah-daerah rurol (pinggiran) yang masih terasa


keaslian lingkungannya. Dalam hal perkotaan, sebuah kota

dilihat sebagai sebuah lingkungan fisik yang terdiri dari


pelbagai fragmen objek arsitektural, yang telah dikikis habis
aspek historisnya oleh industrialisasi. Untuk menjawab
masalah itu, dicari sebuah model historis yang dianggap paling mencerminkan pola kehidupan bermasyarakat yang ideal.
Dari model tersebut dicarikan aspek-aspek pembentukan
lingkungan fisik yang paling baik mencerminkan keadaan ideal
tadi dan ditelusuri bentuk-bentuk dasarnya. Leon dan Rob
Krier misalnya, melihat zaman Pertengahan sebagai cermin
dari pola kehidupan bemasyarakat yang paling ideal di Eropa.

Hal itu tercermin dari 2 aspek lingkungan fisiknya, yaitu:


"Squares" (ruang terbuka yang seluruhnya dikelilingi oleh
bangunan), dan urban corridors/galleries" (selasar lebar di
antara dua deret bangunan, tertutup atau terbuka; bisa juga
berupa selasar di pinggiran bangunan). Dari situ ditentukan
bentuk-bentuk dasar "squures "dan "torridor" tadi, sekaligus
ditentukan juga elemen-elemen tektonis yang mencirikannya.
Akhirnya dibuatlah komposisibaru yang akan menghasilkan
kesan seperti yang telah digambarkan oleh Anthony Vidler di
atas.

Hal yang sama dilakukan juga pada situasi regional. Contoh yang paling banyak dibahas ialah arsitek Mario Bota.
Pertama-tama, dia akan menentukan bentuk-bentuk dasar
yang dominan dari objek arsitektural di wilayah yang ber-

sangkutan (daram hal.ini berarti objek-objek


arsitektural yang
bersifat ',t,ernoculor,,). Setelatr itu
a;caiiry" [u."L,.. v"rg
paling terrihat daram bangunan-bangunan
di w,ayah tersebut,
misalnya: bahan kayu, atau dindinE
bata. Setelah itu, sesuai
dengan fungsi bangunannya, dia membuat

,.ko_.nJr;;;r_

tuk-bentuk dasar tadi dalam pengaturan yang


seringkali di
luar dugaan, akan tetapi dengan
klterarahan yang jelas yaitu
agar ''vista" terbaik wilayah Grsebut
dapat terrihat dari daram
bangunannya. Setelah itu karakte.
bungunun,,ver,acular,,
wilayah itu diuranginya kembali tanpa
memakai sumber
aslinya, misalnya: dengan memberi warna
bata pada dinding
beton bangunan barunya, atau warna yang
bermotif susunan
--)
bata. (Gambar 6).

Tipologi Arsitektur Indonesia Tradisional


Kita kembali sejenak ke Indonesia
untuk membahas apa
yang dikemukakan oleh para
arsitek Indonesia *.**il,
warisan arsitekturnya. yuiwadi
Salya pada dasarnya tidak
setuju b,a arsitektur hanya dilihat
,.Lugui objek fisik beraka,
dan tugas seorang arsitek p*
Urf"riln menciptakan objek
fisik tersebut merainkun p.nurri.tln pe.,ar.u
yang ritual.
Aspek ritualisasi inilah sebenu.r,u
menghadirkan
Vurg
unsur
"ntisteri" karena seringkari
diatami ffi;" dilakukannya suatu
aktifitas ritual tidak pernah bisa
dimer[erti alasannya, sehingga
penafsiran secara arsitekturar
utur"urpek tersebut sudah
seharusnya menampilkan pula
,.rruru Vun g ,,misterius,, di
dalamnya.
Dalam karya tulisnya, Abbe Laugier
membuat

sebuah gam_
bar yang melukiskan apa yang
dimaksudkannya dengan sebuah
" p r i m i t i t, e h u t' ! p
sebuah strukrur
yang tidak tergambar
seluruhnya, t..Ouput juga seorang
anak
ibu yang menunjuk ke arah yang
9T
:.9.lnt
sangar
misterius
(ridak jeras apakatr sl iuu
itu m.nuniru-;0" srruktur tergambar ataukah pada sesuatu yang
adadi belakangnya).

adicpUi.,;;il;;.lain

adaiah kita,para arristik;

r.o"Gr",

Si anak

Jlu'u aoaurr ,,arsitektur,,

50

5t

ooEoOOCIOOOEOCI

Gambar 6
RekomPosisi bentuk dasar:

karya: MARIO BOTA

untuk'mengacu pada sesuatu yang ditunjukkannya (dalam hal


ini "primitive hut" atau sesuatu yang misterius di
belakangnya). Dalam penafsiran seperti apa pun, seluruh gambar tersebut selalu menampilkan penafsiran misteri, sama
seperti yang dikatakan oleh Yuswadi Salya sebelumnya.
Sebuah "primite hut" sebenarnya sebuah bentuk yang
tidak jelas. Tidak ada seorangpun yang bisa menggambarkannya atau memberi contoh wujud fisiknya dengan tepat.
Struktur tersebut merupakan sesuatu yang belum pasti benar
adanya, tapi dianggap "perndh" ada, pernah dimiliki oleh
peradaban manusia; seperti juga halnya pernyataan yang
diucapkan oleh Robi Sularto dan Darmawan Prawirohardjo
terdahulu.
Pada waktu J.N.L. Durand menuliskan bahan kuliahnya
dalam sebuah buku, dan menurunkan variasi baru yang
diperuntukkan bagi fungsi-fungsi bangunan yang lebih baru,
tidak ada sedikit pun maksud untuk menetapkan sebuah
generalisasi langgam-langgam arsitektur bagi bangunanbangunan tertentu (Gambar l). Hanya karena tidak dipelajari latar-belakangnya sajalah maka Durand dianggap sebagai
biang keladi pemakaian langgam arsitektur lama pada
bangunan berfungsi baru.Yang dilihat dari pemikiran Durand
hanyalah hasil akhirnya saja, bukan prosesnya, hanya kulit
luarnya, bukan isinya. Yang seperti itu jugalah yang
menyebabkan Robi Sularto mengeluarkan pernyataan yang
cukup keras tentang kebiasaan "memandang arsitektur tradisional dari bentuk luarnya", sehingga "digandrungi dengan
salah mengerti, dan dicemooh tanpa mengerti".
Leon dan Rob Krier memilih arsitektur zaman Pertengahan
sebagai model ideal mereka bukan karena menyukai bentuk
atau langgamnya, melainkan karena di zaman Pertengahan
kehidupan masyarakatnya mencerminkan cara
mengekspresikan eksistensi dirinya, keluarganya, kelompok
masyarakatnya, hubungannya dengan gereja dan pemerintah.
Di zaman Pertengahan, seorang tukang mendirikan bangunan

53

52

adalah sekaligus arsitek, kontraktor, dan seniman. Mereka


brrkarr "ltro.fesional" melainkan seorang pengabdi
kemanusiaan. Bila mereka sedang mengerjakan sebuah
bangunan, seluruh keluarganya ikut pindah ke lokasi bangunan
pemiliknya'
tersebut dan bersatu dengan kelompok masyarakat
bekerpara
suaminya
selama
seluruh kebutuhan hidup mereka
Dengan
yang
bersangkutan'
ja, ditanggung
oleh kelompok
-proses
berdirinya sebuah bangunan sekaligus
iemikian
mengatur juga pola kehidupan seluruh pihak yang terlibat di
dalamnya- Oleh karena itu tidak mengherankan apabila pusat
perhatian para tipologis generasi ketiga ini dicurahkan di
yang
masalah perancangan "urbon", karena di situlah kondisi
dianggap terparah dewasa ini, semakin lama semakin
juga
mempe.iihatkan kesemrawutan (gambar 7)' Tidak
*.ngh..unkan apabila keinginan untuk mencari bentuk arsitekiur lndonesia dimulai di kota-kota, sedangkan sumber
acuannya dicari di desa-desa'
Dari perbandingan di atas, dapat dilihat bahwa pendekatan
tipologis sebenarnya mempunyai peluang yang cukup besar
Uita AiUandingkan dengan pendekatan lainnya' Hal itu
disebabkan karena sudut pandangnya yang langsung, yaitu
melihat arsitektur sebagai sebuah objek tanpa terjerumus ke
dalam sikap "me-material-kan" objek tersebut selama masih
dalam proses pencaharian' penemuan, dan peng-komposisian kembali bentuk-bentuk dasarnya.

Studi Kasus
secara tipologis, arsitektur Indonesia tradisional cocok
dengan gambaran primitive hut yang dilakukan oleh Abbe
t-augier. Hanya ada 2 unsur utama di dalamnya: kolom dan
atapl Oi luar itu semuanya bersifat sekunder. Bila denah,
potongan, dan tampak bangunan tradisional tersebut
digu.bu.-ulang dengan mereduksikannya, maka komponen
yu-ng n,rn.ut aOiUfr titik (mewakili kolom) dan garis (mewakili

iegiiiga-bidang). Bila dikelompokkan berdasarkan tipenya, ter-

54

THE CITY

THE ANTI-CITY

RES PUBLICA

RES (ECONON,IICA) PRIVATA

CIVITAS

Gambar

Proses penciptaan lingkungan binaan yang tuntas (LEON KRTER)

55

jadi 2 kelompok sifat dasar: linier dan memusat. Bila akan


di-transformasi-kan ke dalam pemakaian/fungsi yang lebih
baru, baik titik maupun garis tersebut bisa diperbesar dimensinya, misalnya: menjadi kolom atau "t'ore" bangunan bagi
titik, dan menjadi dinding, atap, atau garis luar sebuah bentuk fisik tertentu. Walaupun terlihat demikian leluasanya, ada
syarat yang harus dipatuhi agar citra aslinya masih terasa,
yaitu: unsur titik harus lebih dominan dibandingkan unsur

garisnya.
Dalam hal cara mengatur beberapa bangunan menjadi satu
kompleks pun dapat dilakukan penafsiran yang sama. Akan
selalu dijumpai adanya pola pengaturan atas dasar unsur titik
dan garis, yang menghasilkan sifat-sifat dasar serupa. Dengan
berpegangan pada penafsiran di atas, apa pun transformasi
dan peng-komposisi-an kembali yang dilakukan tidak akan
sampai meleset dari harapan semula, yaitu seperti yang
dilukiskan oleh Anthony Vidler: suatu yang terpadu, akan

i.lif

.i,).JI

iii,)

ifu;

*r*.

tetapi bisa ditafsirkan dalam fragmen-fragmennya, tidak

,],

'1i

mengesankan peniruan secara mentah, akan tetapi mengangkat


kembali kenangan atas sesuatu yang pernah dikenal sebelum-

lrr;ii;,ri

,li"t

nya di masa yang lalu.


Saat ini di Depok tengah dibangun sebuah kampus baru
bagi Universitas Indonesia, yang perencanaan keseluruhannya
dan beberapa bangunan di dalamnya dirancang dengan
pendekatan tipologi; mengikuti program yang telah digariskan
oleh pimpinan universitas yang bersangkutan, yaitu: mencerminkan "taxonorn.r, " ilmu pengetahuan dan mengekspresikan
nilai-nilai arsitektur yang diwariskan oleh generasi pembangun
terdahulu di Indonesia. Beberapa ilustrasi yang dilampirkan
dalam tulisan ini kiranya bisa memperlihatkan bagaimana arsitektur tradisional di Indonesia bisa ditampilkan kembali tanpa
terjerumus ke dalam pengulangan bentuk-bentuk luar semata
(gambar 8, 9, 10).

.;:

,:',1' (
,

t.i

i1.,:t

I;il: i
!:.i,
r

Gambar

Kampus LII Depok


56
57

Gambar 9
Keberagaman yang menyatu, sekaligus kesatuan yang memberagam

58

Gambar l0
Arsitektur halaman yang lega, dengan pemisahan yang jelas antara
lalulintas kendaraan dan pejalan kaki.

59

rI.5. ARSITEKTUR TRADISIONAL: SEBUAH


FAKTOR DALAM PERANCANGAN

Ir.

Baskoro Sardadi, IAI

Belakangan

ini

banyak sekali

pengertian-pe.ngertian
-

pengerurri*k,u, yang simpang riur. Makin "menyimpang"


" svur" bagi kelom;1", ;;;;dtterlma oi.t' i,utvutakat' makin
kegaulan
menambah
oalam usaha untuk tidak
p"t
p.rrutis akan mencoba membahas anggapan-anggapan
IJi, "itir.f..
acuan ini'
v""g iigr.akan dalam kerangka t'
tn
/ r,..'t' :'''
l.\r*.,r^.,11.', it,,,';,;'-;;-,-,:,
Arsitektur Adalah Wadah Kegiatan

identik dengan
Dalam pengertian ini airif.r.iui iioiah-olar,
seperti ini adalah
bangunan atau fasilitas fisik. Anggapan
Tidak dapat menampung
sangat jelas, namun terlalu ekstrim'
dengan fasilitas (seperti
kaitan yang "halut;;;;i;;" kegiatan
dan lainterjadinya "spatiote,npo'o|",'lhoppening"'suasana'
,_

lain).

Arsitektur adalah produk dari kebudayaan


arsitektur adalah
i Kalau seseorang dapat menerima bahwa
anggapan pada
mengerti
*'tj;;;gi",".. iialffah sukar untuk
pengertian bahwa arsitektur

Uutir ini. Selama diikuti dengan


(dan saling mempengaruhi)'
uJuiut bagian dari kebuduyiun
kejadian-kejadian di
mengamati
kita akan lebih mudah
pen,""r,"i"f"dKesulitan akan timbul bila disertai dengan
sedangkan
bahwa arsitektur adalah "hardware"

dapat

kebudayaan adalah "software"'

Dalamduniakomputerhalinidapatdipahami'namun

dunia bangunan
tidak di dunia bangunan' Arsitektur dalam

;p,og'u*-program" tertentu yang sewaktuini pada saat


waktu dapat ';di-uinkitt" ' "Program-program
gem-

sudah menyimpan

yang bersuasana
tertentu dapat menghasilkan penampilan

bira, khusur, utuu buhkan mendirikan bulu roma"'

Arsitektur ,A,dalah "Alat Ungkapo' Dari Kehidupan


Masyarakatnya

Tersirat dalam anggap;;r ini adalah bahwa arsitektur juga


mEifipakan media komunikasi bagi masyarakatnya. Sebelum
diketemukannya alat cetak, sernua benda buatan manusia menjadi "buku" untuk mcnitipkan pesan-pesan sosial. Paradigma
agama, paham kosmos, pernbagian golongan masyarakat,
nilai-nilai, moral, dan lain-lain adalah pesan yang harus
dimengerti oleh anggota mas5'arakat.l
Bangunan, sebagai benda terbesfi, adalah "buku dengan
format yang ideal" bagi "penulisan" semacam ini. Makincanggih sebuah masyarakat, makin sarat pula pesannya diletakkan pada bangunannya. Kemaiuan teknologi komunikasi telah
"membebaskan" Lrangunan dari heban-beban diatas. Namun
demikian, masih tetap diakui bahwa bagaimanapun juga
bangunan rnerupakan media kornunikasi yang efektif bagi
manusia.

Setiap Kebudayaan lVlempunyai ldentitas


Bagi yang jelas identitasnya, hal ini tidak menimbulkan
masalah. Orang akan dapat dengan mudah "membaca" arsitektur Bali, atau Jepang tradisional. Namun tidak demikian
halnya dengan kebudayaan yang sedang berubah.
Para pengarnat arsitektur Melayu tentu dapat merasakan
ini. Varian-varian yang ada sangat sedikit bedanya, itu pun
kadang-kadang disertai dengan keterangan yang sulit
dimengerti.

Perlu Diketahui Carn Atau "Bentuk" Penerapan ldentitas Budaya Secera Tepat Padr Bangunan
Timbul dari keinginan untuk "menempelkan" pesan sosial
pada bangunan! anggapan ini akan rnenjadi titik tolak tindak
penelitian masalah simhol pada ciunia arsitektur. Salah satu
cabang ilmu yang dapat membantu kita adalah Semiotika.
6l

60

E_adalah' terdapat kaitan yang


Anggapan dasar dari penelitian ini
pesan secara keseluruhan' serta
erat diantara pesan' pengertian
cabang
memilitiptian tersebut' Sebagai lazimnya

i*O" r"r*

pesan halyl diukur


ilmu informasi, efisiinsi penyampaian
atau tidak oleh si
pada apakah pesan tadi dapat dimengerti
ul*yu, waktu dan. usaha hanya dapat
ffi;t*;. Segala
bila pesan tadi
dikatakan *.*uOui- uiu' "ekonomis"
"bahasa" yang berlaku
dimengerti. tni menyangttut ptttoulan

Oi^-"tr"*tat.

orang setuju atau mengerti bahasa

Tida-k

'*uu
prokem, apalagi prokem arsitektur'

Unsur-Unsur Rancangan

kalangan arsitek InBeberapa masalah yang terdapuJ Pugu


aOatatr "penerapan 1;i1eti1ur
donesia sekarang,
arsitektur masa kini" ' Apa
tradisional Uifu -'igXi" ke dalam

"t*"iui'

pun motivasi dari

-keinginan

ini' terasa bahwa


jawaban' Upaya untuk

semacam

masalah tersebut ptti':tttOapat


*.nJ"f.uti persoalan tersebut bermacam-macam' dari segi
Di tulisan ini uftun Oitoba untuk "melihatnya"
pada saat si perancang
proses-awal perancangan' yaitu
ptrrdtkututt' Bergerak dari
melakukan ,.n.niuln" tttu*gi
di atas' akan dicoba
komentar u,u, u"Lilp#unglupun
menjadi sebagai
membagi Oa'ar-aa'ar rancangan

keluarga atau masyarakat, usaha penaikan kualitas pribadi,


sanksi malu dalam masyarakat, dan lain-lain.

c.

Identitas kelompok atau sosial. Antara lain perasaan


teritorial, perasaan memiliki, perasaan keantanan, dan lainlain.

d.

Pengembangan dan kendali sosial. Antara lain:


Pengumuman norma-norma, pemberitahuan tentang
mekanisme sangsi, dasar-dasar hidup, dan lain-lain.

e.

Kegiatan ekonomi dan politik. Antara lain: sistem tukar


menukar jasa, benda dan budi, pola pengelolaan
lingkungan, sistem keamanan yang dianut, dan lain-lain.

f.

Kegiatan agama. Pandangan tentang hidup, pandangan


tentang hubungan manusia dengan alam, pengalaman
misteri, dan lain-lain adalah bagian dari dasar-dasar sikap
manusia dalam melakukan kegiatannya.

g.

Teknologi.

1.2

Alam Dengan Segala "Tingkah Lakunya"


Klimat
"Daya dukung" tanah (sebagai elemen yang "hidup")
Kondisi-kondisi geoteknik, imbangi tumbuhan dengan

a.
b.

untuk

Ini adalah kemampuan yang diturunkan


melalui banyak generasi.

mahluk hidup, kemampuan ekosistem, dan lain-lain adalah


faktor yang di samping membatasi, juga memberi peluang
bagi pengembangan kehidupan.

berikut:

1. Elemen Program Rancangan

c.

lakunya
1.1 Manusia dengan segala tingkah
termasuk
a. Kebutuhan dasar (untuk kelangsungan hidup)

Lingkungan buatan manusia.


Kota, sawah, hunian, dan lain-lain adalah elemen fisik yang
mempengaruhi arsitektur pada suatu tempat.

d.

Alam sebagai "suplier" bahan bangunan.


Kemampuan alam untuk menyediakan bahan bangunan

cahaya' tidur'
di sini aaafaft *e"dapatkan udutu' dan
keturunan

b.

kelangsungan
makan, perlindungan dari alam'
dan lain-lain'
posisi seseorang dalam
Identitas pribadi' Antara lain:

ada batasnya. Disertai dengan kemampuan teknologi dan


pendanaan, pilihan bahan bangunan yang dapat digunakan
menjadi sangat "sempit".
63

62

2.

Elemen Rancangan

Seperti yang kita dapatkan di bangku sekolah dahulu,


elemen-elemen
'&

ini

adalah:

2.1 Tata Leta.k


Sistem as, orientasi, "zoning", hubungan antar bangunan,
dan lain-lain adalah elemen rancangan yang menentukan.

ffi

2.2 Pembagian Ruang


!j
":a

\r
L

a"

Pembagian ruang secara fisik dapat dengan mudah kita


rasakan namun tidak demikian dengan abstrak. Ada ruangruang yang "rasa"-nya berbeda, seolah-olah ada hierarki
ataupun pemisahan yang tidak terlihat tetapi nyata. Bagian
depan dan belakang tidaklah sama "harga"-nya. Bagi
penganut agama tertentu, ada ruang-ruang yang tidak dapat
dilewatinya. Sisi depan dari orang yang kita hormati lain
dengan sisi belakangnya.

q)

<
tj
A.

q)

dtinJ..li''.

,;,

k&#'*e,'&* a-+
!:::,:,.1r. it'li i:''
',.,. .il '* :r
,.in+,,,fi.

:",

2.3Bentuk
Ini adalah elemen favorit dari para perancang. Elemen yang
paling sering dijadikan kancah akrobat dan manipulasi (demi
kebaikan maupun keburukan).
2.4 Hiasan/Ornamen

.s

Sebagai perancang, karena beban analitis merasa "berdosa" bila menggunakannya. Elemen ini untuk beberapa

:ir*::i'h r;: ,, | , i

kontroversial.
nF

s.rl;**s=S',&.

d*+.-

sy

,&s

6:.,*

2.5 Aturan Bangunan

P.ir:$*

Setiap kelompok masyarakat mempunyai seperangkat


aturan yang dikenakan pada "proses kelahiran" cara penggunaan, serta cara memusnahkan bangunan. Bagi masyarakat
tradisional, bangunan dianggap "hidup" dan sangat
mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Dengan sendirinya

*,ik
t*:s

-1'I;t * t""I

64

ry
#t

65

aturan yang dikenakan juga sama rumitnya dengan aturan


masyarakat lainnya. Bagi masyarakat modern, secara eksplisit,
aturan bangunan dikenakan untuk tujuan keselamatan dan
kenikmatan bersama.
Bagaimanapun juga peraturan-peraturan diturunkan dari
pandangan hidup dan norma-norma yang berlaku. Dalam rancangan skala besar, rencana tapak dari pusat kota misalnya,
akan terasa bahwa elemen ini merupakan bagian dari alat kendali yang formal dari arsitektur.
Kemahiran sangat diperlukan dalam menentukan alat-alat
pengembangan dan nonformal. Kesempatan dan larangan yang
tidak tertulis adalah salah satu sumbangan arsitektur dalam
peningkatan kualitas hidup manusia, atau juga sebaliknya
dapat merupakan alat "pembunuh" yang ampuh.
Beberapa Strategi Pendekatan Perencsngan
Seandainya penyederhanaan unsur rancangan di atas dapat
diterima, maka "daerah permainan" para perancang menjadi
jelas. Yang diperlukan adalah keterampilan dalam mengolah
butir 2.2. Pola-pola yang sering ditemui dalam "olah kreasi"
ini, secara garis besar, dapat dibagi dalam 3 kelompok.

Menggunakan bagian-bagian butir arsitektur tradisional


sebagai bahan rakitan dalam kerangka rancangan. Arsitektur

hotel, pesan komersial, rumah makan Padang, gaya


"Spanyolan", adalah contoh dari kelompok ini. Sistem

" ini biasanya

cukup efektif bila menggunakan


unsur yang komunikatif. Atap rumah gadang cukup dikenal
oleh sebagian besar penduduk kota. Untuk menyampaikan
pesan bahqlq kedai/rumah makan tadi menjual masakan
Padang, .aFren.rnpel bentuk yang tepat. Demikian pula,
penggunaan hiasan-hiasan tradisional pada fasilitas pariwisata
adalah usaha yang cukup meyakinkan untuk membawa hasil.
Kunci utamanya adalah ditemukannya unsur-unsur yang sudah
66

Kedua

Mengkaji hubungan
-belakangnya"

bentuk dengan ,,alasan_alasan di

kemudian dengan b.a;, membuat interpretasi


untuk diterapkan pada rancangan.
Plda kelompok ini proses yang terjadiadarah

-kompleks

sedikit rebih
dari pertama. Dalam teaAaan yang
sulit, jalan yang
paling aman adarah mencari kaitan
fungsi pemanfaatan faktor
alam ("eavs5', miring Suyudi). nugi
f.i"n.ang yang kuat daya
kreasinya pendekatan ini me.up"afan
futitin ,i* ,"rr;,
menarik. Ujian yang sebenarnyaadalah
pada pi"r.i ,.r.".,
maan ciptaan tadi oleh *uryu.ukat.
Kalau berha.il, ,nurliurut u,
akan dapat merasakan tradisi yung;i,..uskan
oreh si perancang. Kalau tidak, berarti bahwa
t<otetsi barang ur.h;i;;;iu
ini akan semakin bertambah.

Ketigo

Mengkaji proses perubahan dalam


masyarakat (beserta
jalur ungkapan_
nya pada proses perubahan arsitekturnya.
Hasil p*gL":i",
ini diterapkan pada .un.ungun- ,.rii.Lru,
untuk kondisi
segala nilai-nilainya) untuk
kemudian menca.i

Pertama

"assemblitrg,

dikenal oleh masyarakat. Kadang_kadang


digunakan usaha
untuk membuat unsur tadi dapat
d-ikenar kembali (contohnya,
l
Batik Iwan Tirta).

masyarakat sekarang.
pelak lagi, cara ini adalah yang paling
,.Ti{ak
canggih dan
sulit.
Segudang data dan sepasuk;;
il;",
ahti dari berbagai
disiplin ilmiah harus diker"hk"n
*b.lr. proses perancangan
dimulai' Ini pun berum tentu menjamin
bahwa has, rancangan
akan dapat menaikkan kualitas lil;i.;;s"nrya.
Di tansan
perancang*yang tidak mampu,
nurl :;rpor" progomrning,,
semacam ini dapat saja tidak
berarti apa-apa. Namun harus
diakui, di rangan perancang yang jempol";:;;;il;;ffi;bi
kemungkinan besar akan memb;ir#
ilrgkungan yang baik
bagi masyarakatnya' B,a cara
t.iie;'-r d,akukan dengan
67

FF

sungguh-sungguh oleh berbagai kalangan, hasil yang didapat


tentu merupakan sumbangan yang besar bagi arsitektur. Pendikerjakan berdasarkan
jelasan
-hasil tertulis dan grafis akan mudah

tadi, untuk membantu komunikasi dalam

dunia

arsitektur.
Ketiga pendekatan di atas dibuat sekadar untuk memudahkan pembicaraan. Pada prakteknya seseorang dapat
melakukan secara bersama-sama atau salah satu saja' Apa pun
cara yang dipilih, ada dua persyaratan yang harus dipenuhi
untuk terjadinya rancangan yang baik.
Pertama, tersedianya data dan hasil analisis yang memadai
tentang arsitektur tradisional.
Kedua, adanya perancang yang kreatif, terampil serta terbiasa menghadapi masalah perancangan nyata dalam
masyarakatnya.

Penutup
Kondisi sekarang di tndonesia adalah pada taraf permulaan
sekali dari tahap pengumpulan data. Bangunan dan
masyarakat tradisional masih banyak terdapat di seluruh
pelosok di Nusantara. Tetapi, kemajuan pendidikan dan sarana
Lomunikasi telah memacu proses perubahan dengan sangat
gencarnya. Perub,ahan nilai-nilai tradisional yang disertai
lemahnya kemamiuan ekonomi akan mengarah kepada keadaan arsitektur menjadi sangat sederhana (rumah-rumah di
Halmahera Utara). dapat diduga bahwa tidak lama lagi
bangunan tradisional di tempat asalnya akan segera musnah.
Suka atau tidak, proses ini sedang terjadi dengan cepatnya'
Masalah ini adalah sangat gawat bagi arsitektur Indonesia. Bila
kita berbuat sesuatu, benda-benda tadi akan lenyap dengan
tanpa ada keterangan peninggalannva. [ruU!e!1-tttt4T

bangunan, masyarakat serta lingkungan hidupnya dari ber_

bagai zaman akan merupakan data besar uagi

plnettian seranjutnya. Pengalaman kerja dasar bagi penelitian


selanjutnya.

Pengalaman kerja sama dengan para peneliti dari disipiin


lain,
menunjukkan bahwa bantuan tentang pengukuran dan peng_
gambaran situasi dari objek merupakan kemahiran
standir
yang dituntut dari para arsitek. Suatu kemampuan yang
telah
dapat dikuasai oleh para mahasiswa arsitektur kelas 3 utuu
+.
Persoalan yang berikutnya, apakah kemampuan ini dapat
ditularkan kepada orang lain yang tanpa mempunyai laiar
belakang pendidikan arsitektur? Kalau tidak, bagaimana
cara
melakukan survai pendapatan sederhana mungkin dengan
hasil
setepat mungkin? Kalau ya, bagaimana caranya?
P_ertanyaan-pertanyaan ini adalah sekadar contoh
untuk
dipikirkan bersama apabila kita tidak ingin kehilangan kesempatan yang berharga (yang tinggal sebentar) ini.
Kalau kita tidak ingin berdosa kepada generasi berikutnya
marilah segera kita lakukan gerakan pendatang ini dengan
sebaik mungkin.

Melalui temu karya ini penulis mengusulkan agff segera


dibentuk kelompok khusus untuk menangani pendapatan
lengkap tentang arsitektur tradisional. Kelengkapan data
68

69

1.6 Arsitektur
OIeh:
I

Ir.

Bukan Sekadar Bangunan

Eko BudthardJo,

M.Sc. 4 V,,t'Tl#
ll

L-( Oari qtsEl_gpedikita dapatkan batasan p{engertian bahwa


"Arsitektur adalah seni, ilmu, dan teknologi yang berkaitan
dengan -bangunan dan penciptaan ruang untuk kegunaan
m5nusia". Dalam pidato pengukuhan selaku guru besbr dalam
ilmu arsitektur di Undip, Prof. Ir. Sidharta mengutip teori
paling kuno yang dikemukakan oleh Vitruvius, bahwa adatiga
aspek yang harus disintesiskan dalam arsitektur, yaitu: Firmitas (kekuatan atau konstruksi), Utilitas (kegunaan atau
fungsi), dan Venustas (keindahan atau estetika)f,A. Gordon
kemudian menambahkan dengan kata-kata 'ffi time und at
the right price". Psikolog Frank Barron dan kawan-kawannya
dari University of CakiJ'ornia, Berkeley, atas dasar hasil
penelitiannyamenyimpulkan bahwa arsitektur mewakili domain
profesi kreatif, praktisi yang berhasil adalah yang sekaligus
juga seniman dan ilmuwan. (Broadbent: Design in Architecture, l98O:3).
[*Di sinilah letak uniknya arsitektur sebagai disiplin ilmu,
yang harus merangkum tidak hanya teknologi tetapi juga seni.
Manakala tugas ilmu adalah merumuskan hipotesis dan membuat teori baru, tugas teknologi memecahkan masalah teknis
dan praktis secara elegan, efisien, dan ekonomis, maka tugas
seni adalah menciptakan karya-karya yang kreatif dan orisinal.
Sebagaimana halnya dengan karya sastra yang dituntut
harus selalu kreatif dan inovatif, demikian pula arsitektur tidak
b oleh terpaky padaupgk\r tgt-t-saj a, karenp den gan begit u
maka kreativitas sudah- lingiung te.purung.l
Gerakan Arsitektur Modern telah berbual keliru dengan
universalism e gayainternasionalnya, yang telah menciptakan
monotoni di seluruh pelosok kota di dunia, kemudian terjebak
oleh teknologi yang tidak manusiawi, sehingga kemudian
dinyatakan 'meninggal dunia' pada tahun 1972. Peristiwa ini
ditandai dengan diledakkannya rumah susun l4 lantai di St.

Lgul: yang perencanaannya terlalu


ditekankan pada
teknik-fisik dan mengabailan

aspek

unsur manusia dengan segala

keunikan perilakunya.

Sentuhan Artistik yang Kreatif


Dalam bidang arsitektur yang
merupakan seni-guna, tidak
selayaknya ada pemecat an
staniar,-r,u, model standar yang
kaku.
Karena kalau sudah

d.;;il;n,

hasil

akhirnya aclalah
sekadar bangunan, dan bukan
arsitektur.
Beda antara keduanya adalatr
iahwa bangunan hanya
memenuhi dua syarat dari Trinitas_nya
Vitruriir, vultu-lrrr_
mitas dan Uititas. Sedangkan
k4I;
mesri

kil

kei n dahan dan

r.nt*'-fr*ffi<

e5!{t_u_r

memiliki

reatr f. yang- d st ra h han


Pugin dalam bukunya ,,fni
fri"rtinciptes of Architecture,,,
dengan enrichment dan visuat
iitiin,.
ii

Mac Kinnon mengatakan, dalair


perancangan arsitektur
,.rr1L*^!r, di dalamnVa-p.mecahan
masalah yang
spesifik, penyesuaian dengan
,ltrur] tertentu, evaluasi dan
elaborasinya dengan pengamatan,
penalaran dan penghayatan
vang runtas (Mac Kinnon:The Noture
and Nurtuie oi'ciriii*
Tetent, 1982). Selaxjutnya
o..l;;;;;'
kutip kara_kata datam
bahasa aslinya: ",qi orintiii
;";;;;,
reat buitdins to
so on
reol sites for real cllents. H,
;i;;A"not
design
unspecified
on an undefined,i;r-j;;;inown
^ buitling
ctient,,.
Kalau kita membuat benru"k
fiJt,'
bangunan,
,uru
"model" tanpa,tl
i;Gii;;;rnunnru, iru sama atau
?0"
artinya dengan 'mem.buar
.
,d;i ;;;;; tahu kudanya,.saja
Yang terwujudnva jadinya
aaatJ ..sruq
;;;;; berpredikar bangunan
saia, bukan arsitektur.' -----..
yang kreatif,

Belajar Dari Nenek Moyang


Nenek

moyang kita saja cukup arif


memilah_milah, dengan
menciptakan bermacam_macam
bentuk
arsitektur untuk
kegiatan manusia yang juga
U.rU.au_U.da. Tidak main pukul
rata dengan modelatau
bentuk t..i.nir'ru:a.

Misalnya untuk

70

7t

kios atau pasar, menggunakan atap Panggang Pe dengan berbagai jenis dan variasinya. Untuk rumah rakyat bisa digunakan
bentuk Kampung, Trajumas. Pacul gowang, Gajah Ngombe,
Daragepak, Klabang Nyander, dan lain-lain. Berbagai ragam
bentuk Tajug seperti Lawakan, Lambang Teplok, Semar
Tinandu, Tawon Boni, Pendowo, dan lain-lain digunakan
untuk langgar, mesjid, bangsal, maupun cungkup makam.
Untuk rumah bangsawan terdapat bermacam-macam bentuk
Limason: Limolasan, Apitan, Semar Pinondong, Bapangan,
Trajumas, Sinom Mangkurat. Sedangkan untuk kalangan
Raja-raja d4n Pangeran digunakan bentuk joglo yang juga
banyak variasinya seperti Mangkurat Limolasan, Pangrawit,
atau Lambangsari. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa
disebutkan di sini. Belum lagi kalau kita menengok keunikankeunikan bentuk arsitektur di beberapa daerah tertentu seperti
Banyumasan dengan Srotongan, Trojogan, dan Tikelannya;
daerah Kudus dengan Bekuk-lulang-nya, Jepara dengan atapwayangnya dan lain-lain. Semua itu bisa dikembangkan terus
sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, kemajuan
teknologi, dan penemuan bahan-bahan baru. Pada hakikatnya memang arsitektur adalah ibarat jasad hidup yang selalu
akan tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan
zarnan.

*
B

i.l,'i,'t'
l',

,$

fi.
k

s\r
\
-k

\
qJ

aa

Panduan Dasar Perancangan


Saya berpegang pada pendapat bahwa dalam upaya men-

jabarkan wawasan identitas dalam wadah arsitektur, yang


harus ditemukan, bukanlah 'model arsitektur baku' (apa pula
maknanya itu?) melainkan panduan atau dasar perancangan
(basic design guides) yang bisa dijadikan pegangan bagi segenap

pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pembangunan


lingkungan binaan. Beberapa butir patokan yang saya maksud
sebetulnya sudah disannpaikan dalam berbagai kesempatan
temu wicara antararsitek antara lain:
'12

73

perlu dicegah adanya instruksi yang terlalu tegar


memaksakan suatu wadah/bentuk fisik tertentu yang
tunggal-rupa (monoton).
tempat, waktu dan sikon yang berbeda mesti tercermin juga
dalam pertampilan arsitektonisnya.
perlu penelitian dan pengkajian ilmiah arsitektur
lingkungan budaya setempat untuk bisa mencerap kaitan
antara bentuk dengan fungsi, makna sosial, makna
spiritual dan implikasi kulturalnya.
konservasi arsitektur tradisional dan lingkungan kunobersejarah wajib mendapatkan porsi perhatian yang layak,
sebagai sumber ilham dan khasanah warisan budaya yang
memperkaya wajah lingkungan binaan.
perancangan rekayasa sedapat mungkin berwajah partisipatif, dalam arti mampu mengadopsi, mensublimasi,
dan mengkreasi kembali wujud budaya fisik khas setempat, termasuk hasil kerajinan hasil ukir, pahat, dengan
bahan-bahan setempat, berkaitan dengan penciptaan
lapangan kerja.

Mengenai produk akhir hasil perancangan fisiknya, sewajarnyalah bila kita serahkan kepada para wastuwidyawan yang
memang digembleng untuk melakukan tugas tersebut.

Yang benar adalah bahwa


para
arsitek wajib mengabdi
-banyak,.dan
pada kepentingan
perlu mer-esapi
perepsi, aspirasi, .masyarakat
adat, t'ata"ii;i, ;ila
dan
perilaku manusia
yang terah saya sarankan
daram-'rnakarah saya
di deoan
"Forum Nasional p.nal*r,li'?o*urrr,,
yang disele.ng_
garakan di Semarang
tahun fqt+ yang silam
dengan judul
"Pentingnva IImu-irriu
dalam pendidikan e..it.tturl;.'r.rO"o"r n.ngerahuan sosial
serupa dilontarkan
oleh G. Broadbenr:,,A.;;i;;
j;;g;';;krli_kari mendewakan
bentuk, melainkan h".r.
;;;;;,i", menerjemahkan iiwa
('geniui'-iJ"'i)'

Hilfi;Jlun

a,,

l,il",:::;:,,:''ou'

p..u,uun'au.i

0",#r?Tji:;:'#," adalah para arsirek harus rebih sering


tidJ;;;?;"1#i;,,?ii:Hi,T,TJl:1",,*naiaisrus*an
*:1., 0;; 0" ["i'o, b d ;;;i ;il ;.:;.t fi [oi: f,iliT," ji'J
Juga masyarakat
r

para;;;;;t
pada
r, dan' ffi ;il|:v-1 ::'pun:ang
I::, n I a
er k eillb ns-::
q;in ; ;il ii,rd',I, iill; _,li : u,ifil
nya bisa fatat: suatu
saat biia,.rj;i;;;,
arsitek hanya akan
menciptak
luas. Bila

by u".

aka

r.ngg",

bu

an ban s u n an_ uurg rrur'.;ari;;,d"k

lil il:ffi;:TffiflT'"i;;;ffi '#-J,

bisa di k ategori_

ini pasrirah rlcrat

Mengabdi Masyarakat
Terakhir, saya betul-betul tidak sependapat bila para
arsitek harus mengikuti kehendak si pemilik uang yang meminta jasanya" Justru kecenderungan semacam inilah yang
telah mengakibatkan banyak kekacauan dalam lingkungan binaan kita, antara lain dalam bentuk menjamurnya bangunanbangunan mewah ala Gedung Putih atau kapsul ruang angkasa
yang tidak berakar di bumi nusantara tercinta; bangunanbangunan kotak kaca yang steril beru,ajah dingin tanpa emosi,
tidak memperhatikan keserasiannya dengan sekitar; tergusurnya bangunan-bangunan bersejarah yang seharusnya

dilestarikan dan lain sebagainya.


74
75

BAB
WAWASAN

II.1.

II

+$iLffiffiH,*'

SENI DAN

MENCARI WAWASAN ARSITEKTUR*)


Oleh: Tjuk Kuswartojo

L wawasan r.r,runr/u1;fi,;r tentu saja bisa mengenai berbagai seginya. Tetapi pencaharian ini hanya mengenal makna
dan definisinya, apa Arsitektur itu. Barangkali ini dapat dipandang terlalu bersahaja, naif, kuno, ketinggalan zaman, dan
sebagainya.iArsitektur bukan barang baru, bahkan sejak lama
menjadi bahan per,bincangan, dan kekaguman, juga di Indonesia (kalangan atas tenl.unya, karena Pariyem tetap tidak
mengenal istilah itu). Di kalangan pihak yang menekuninya,
istilah arsitektur sudah dikenal sejak dua ribu tahun yang lalu,
bahkan sebagai wujud sudah dikenal lebih dari lima ribu tahun.
Karena itu kalau sekarang masih dipertanyakan: apa arsitektur
itu, agaknya dapat dianggap mengada-ada. Tetapi justru
karena rentanya itu, maka sekarang ini perlu dipertanyakan:
apakah pengertian arsitektur dan dua ribu tahun yang lalu,
atau bahkan lima ribu tahun yang lalu, harus sama dengan
arsitektur sekarang dan pengertian akan datang.
Dari sejak dulu arsitektur adalah gedung, tetapi tidak
semua gedung dapat atau Uoleh disebut arsitektur. Banyak
gedung tidak diakui sebagai arsitektur, kalaupun diakui, dia
dinista sebagai arsitektur gombal. Asal katanya sendiri menunjukkan kaitan antara wujud dan pembuatnya. Arsitektur
adalah gedung yang diciptakan atau dibuat oleh ahli teknik

")

Disajikan dalam Seminar Keci.l Jurusan Arsirektur FTSP-ITB, Bandung, l2


Desember [983.

(_'yycnne"), atau tukang bikin bar


jagoan, yang
("tecton"), yang
utama (,,archi,,1ou,'runun
mampu memimpin.
. vitruviui mengamati hasil karvYang
para jagoan atau "orchitecron "iru, Uiotitr;;;;;ffi;:,Ira
sendiri dan lahirlah
dua ribu tahun yang
lalu rumusan:'annya
prin
p,
si
kai dah, norma,
kon sep *rii !r'rii"i',lil'"1'.Tltn-'
b ; k; ;G i
Xjil"#,.#l U I
jud dan konseo. gegiiurah,
;uiur"J..;"ranannya selama
ribu tahun, *ui"a,Iun.toiJe;:Iir-.r.tu.
dua
telah mengatami
perkembansan d1n
t.runa.gu;; L*.ari mak na
dapatlah diartikan.m..r.rikun-t.rnUuti,
arsltektur
apa arsitektur itu
dalam wujud a"n tonr.fny"lE'^ert

ili j;'f

*if Ui#,,}# *,

Arsitektur Sebagai WuJud

pada zama,
y:.-rl,r: ,.apa yangperlu dan dapat diwujudkan tentu belum
banyak jumtu,f, ,?,
ragamnya. Karena
vitruvius membedak;
;il;;;r'laupun
arsitek,mana yan; buk"n.'J;;,;];;i:" vang menjadi iatah

frW,,#1",k'lj',x?^1;jla:,,11'6:'::il:#:i:',:T;
Tidak jelas

siz

wu;ua-wu;uJI"#.i,llf ,iTX'.ffi

jT,Lffi

:
bagai bidane kea-hlian.
r;;;;;-;.rJl,un 0,., ;l'.TXl?[f
sendiri, arau
karena d ij atah orans
I"i r, ;;;;k'i..,ir1, o,
un d ianggap h an ya
menangan i o"rru n?.:_
u ng. w; ;;;;,
demik
ian j arane ii_
_red
Sumpai suatu pengakuan
terti
,.."rgl"U"nwa
arsitektur
gedung. Sesuai dengan.wujudnya
adalah
OjrJrt dengan ruang atau
Iingkungan (sering a.iaengar';eir]t.;.,,arsitek,,
p..ung
Korea , arsitei oe.kembang",
.r."r"#'r.rrn",
Barat,
tidak pernah didengar
tetapi
,unOui""ru, arsitek bungkus
rokok, kesemuanva menunj
".rit.k
uk kun
Van Romondt menyebutk"r: f,.U.r".un sebutan tersebut ).
;;;i;; sebagai ruans rem_
pat manusia hidup
dgnsan U"rr"gr", ,iilng
Amos Rapoport
menyebutkan arsitekrur
;ilU"**
yang dirertibkan
fgugui
dan diorganisasikan.
rri ;;;;'iiil.rr,..,, karena
apabira

76

l7

,
perhatian mulai tertuju pada kumpulan gedung atau sejumlah
'geO.rng
(dan jurnlah itu menjadi kota), persoalannya jelas
f,ukan hanya gedung. Barangkali ada yang berpendapat bahwa
perpaduan antara gedung dengan alam jaringan manusia dan
'm"ryarut
ut tidak Lgi dapat disebut arsitektur' Tetapi dalam
kenyataannya, batryak pakar yang mendapat pengakuan
hanya itu'
sebagai arsitek memikirkan hal tersebut' Dan bukan
banjunan industri yang banyak dibilang surnbangan arsitek
kecil sekali pembaharuannya clilakuka. oleh arsitek Peter.
Behrens. tsahkan Corbu pernah menciptakan voituTe moximum yang menjadi prototipe mobil ekonomis di Eropa' Kesemuanya bukan hanya kebetulan bahwa si jagoan ini memang
betul jago. Tetapi disiplin berfikir. kemampuan berimajinasilah
yurrg *i*ungkinkan suatu konsep tertuang dalam berbagai
wujua. Karena itu apa wujucl arsitektur agaknya tidak pentini. Kalau toh wujucl itu harus ditentukan untuk berbagai
keientingan, lebih tepat apabila arsitektur sebagai wujud
disebut ruang atau lingkungan dan bukan gedung atau

'r
.s

'r,
s

A<

\
q)

.j

q)
qJ

bangunan.

Arsitektur Sebagai KonseP


Arsitektur sebagai wujud agaknya memang kabur' Kalau
pun disepakati bahwa arsitektur dalam wujudnya adalah
ruang, pertanyaan atas: ruang yang mana yang disebut arsitektur, toh tetap sulit dijelaskan. Jagat raya adalah ruang,
gua garbajuga ruang, tetapi keduanya tak dapat dibilang arsitektur. Dengan mempersempit lingkup, arsitektur adalah

juga
ruang buatan manusia. Kejelasan yang diharapkan tidak
jemkolong
diperoletr. Banyak ruang buatan seperti tambak,

aa

>
:i

bO

su

t)

batan, gubuk reot, dan banyak lainnya, sulit untuk dibilang


arsitektur.
Arsitektur memang bukan wujud, dia adalah cita (idea)'
konsep, kaidah, prinsip dan lainnya, pokoknya hasil
pengoiahan batin, pikiran dan perasaan. Ruang itu ada dan
Air.tut arsitektur, karena kegiatan batin itu menentukan
78
7c)

begitu. Hasil pengolahan batin itu bisa sama bagi setiap orang,
bisa juga berbeda. Karena mana yang ruang lingkungan dan
arsitektur itu, bisa sangat subjektif, sepihak, dan ditetapkan
menurut kebutuhan dan tujuan. Oleh karena itu bisa saja
dibilang tidak ada arsitektur di jalan Thamrin yang ada hanya
sekumpulan gedung dan bangunan. Kalau rumah Bali bisa
dibilang arsitektur, mestinya bisa juga hotel Indonesia dibilang
bukan arsitektur. Padahal dari pemikiran ini bisa juga dibilang
tidak ada jurusan arsitektur yang ada jurusan bangunan
gedung. Dari apa yang telah diuraikan di atas, tampak bahwa
usaha untuk mencari definisi dan makna arsitektur agaknya
tidak ada gunanya. Barangkali yang lebih penting dan lebih
gayut adalah menjawab pertanyaan mengapa arsitektur ada
dan bagaimana cara dia berada.

-- Ketiga , .,:l: yang wajib , yangberranggung


jawab,
yang berhak da
Yans mampu
,.n-n.,,Ji;:"::.,,--1on.
dan
-.n..,iur.In
r;:1il;:l',X:ff:

Penutup
Jawab atas perti
mestinya

sTl; il;'

itu' bila

"k;;#invaan
#;,-';,ffi

pertanyaan di

atai.

ffif

mer

* ;: li l!, ll;l?,H?

fl;
---"'vqrr6^Crtt
uillur rangka menjawab

Hanya Arsitektur
Seperti halnya dengan wujud buatan lainnya arsitektur
diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apa
kebutuhan manusia itu, kalau mau diperinci tidak ada komputer yang mampu menyimpan datangnya/ daftarnya.
Kebutuhan tidak terbatas dalam ragilm dan jumlahnya, namun
kesemuanya pada dasarnya ditujukan untuk:

Menjaga kelangsungan hidup dan kehidupan. Tidak ada


manusia yang mau menjadi generasi terakhir.
Mengembangkan kehidupan, karena hidup bagi manusia
bukan hanya mempertahankan hidup, tetapi ada
kebutuhan untuk membuat dirinya lebih bermakna,
Membuat kehidupan lebih nyaman.

Arsitek memenuhi kebutuhan tersebut dengan menerbitkan, mengorganisasikan dan mengatur lingkungan.
Persoalannya kemudian:
_- Pertama : Siapa manusia yang harus dipenuhi
kebutuhannya itu.
Kedua : dengan cara bagaimana lingkungan ditertibkan.
80

8l

nl

SENI-STRUKTUR
II.2. ARSITE,K'I'UR SEBAGAI
Oleh:

Ir'

Wiratman Waleladinata

Pengertian Arsitektur
Yunani' yaitu dari
berasal dari.bahasa
"arsitektur"
lstilah
r
suku kata "tekton"

dan
"srkhe";;;;;i.Gti" pengertiannya
yang semula
dalam
yang berarti "kokohli'ladi'
k ;;;;0"*]
:ilfrHffi ;;|lllj:l
uirit.kt ur " da par di#t

suku kata
1,

sela

r."utu kokoh' Memang


atau
upurtun itu rumahnva
#;;;;;;n'
untuk
melawan
sua-suanva
ia it'u'-*tnt'us bergulat
angtn
iempat peribadatannya'
hembusan
iari k an bumi'
t'
kekuatan-k.x'utu" u't'# ;;
*,
k e n c a n g,, o,.
:::' lY;-'##. XTT,?;;,":1\

;;;;;.

#';{;'

:**:

jm:";;#?:llle:[::! ji'i1J"'iii^";;"ir'

asli) denean menggunakan


membangun ,un*"'ni';;^ o;;t
kokoh terhadap
-Kemudian' karena
baharr-bahan bangunan-bang.u'nan..1'n;
kekuatan-ktxuut#"uiu* *"tttpukan
"kitu'nyu'naluri alami rnanusta'
rtinOliun
urtun
kesadaran
*t*uuneun masuklah unsur
t#;'i.adiJ
dalam
ke
maka
arsitektur
t.rt.ntu vu1,g r*urnai ciri
estetika atau unsui ,.ni
konsekuensi logis
nada kurun-t..u'u'l ;;*;;';;;;iuliou'un manusia' seorang
tarr*a sejat awal ptti't*u""*"n frradaban
ia adalah
nrlsvarakat yang unik:
mt'upukul';;k;tr
seorang
arsitek
seorang seniman sekaligus'
Periieorang teknokrai dan
sekaligus'
;t*bansun
:'J;;';itii
d""
pada diri
r)erancans
ini rntntupui iuntuknya
sonifikasi u"ittr "pt'i
zaman Renaissance menjelmakan
Micheiangert, y"* i"latn
pelukis dan
sebagai':'-p;;;n!'cirinva
ftiu*eunan'
sl' Petrus di Roma)'
o::ju
pematuns ,trurigu'"iu'i';";."
dikemukakan di
Berpangkal pada pengertiannya'seperti
perkembangan
berkembang sesuai clengan
";i';;opo
ltas, arsitek'u' tJtJ
faktor-faktor kekuatan
lir gkungan"r"'
"iturnya'
,.it uoap kekok'han srruktur
ala'r tidak t.,rurf uJrp".'ngui,rt

bangunan yang dibangun dengan cara tradisional, pengertian

arsitektur mengalami perubahan. Unsur seni (urt) yang


masuknya ke dalam pengertian arsitektur justru terjadi
belakangan, malah semakin menonjol; sebaliknya unsur
strukturnya semakin memudar. Dengan berkembangnya
teknologi, termasuk teknologi membangun, timbullah reaksi
terhadap perkembangan arsitektur demikian.
Sekelompok pemikir ingin mengembalikan arsitektur ke
dalam relnya yang semula dengan menyatakan bahwa arsitektur adalah jalur insinyur dan bukan jalur seniman. Maka
timbullah pertentangan pendapat mengenai isyu ini yang tak
ada habis-habisnya sampai masa kini yang telah melanda hampir seluruh dunia (Ecole des Beoux Arts vs Ecole Polytechtique di Prancis: Horvord vs MIT di Amerika Serikat: dan
sebagainya), termasuk di Indonesia.
Di Jepang perkembangannya lain sama sekali. Lingkungan
alam yang kejam dan ganas yang setiap saat mengancam
kelangsungan hidup manusia dengan gempa-gempa dahsyat
yang dapat menyerang setiap saat dan topan-topan kencang
yang datang secara berkala, telah menanamkan dampak yang
kuat dalam perkembangan arsitektur. Arsitektur adalah urusan
insinyur dan bukan urusan seniman. Archilecturul Institute
of Japan (A.l.J.) adalah lembaga tertinggi di Jepang yang sampai saat ini mengurusi segala hal ikhwal mengenai bangunan.
Tetapi yang diurus bukanlah urusan seni melainkan urusan
struktur. Lembaga ini adalah yang menerbitkan berbagai
peraturan mengenai perencanaan bangunan tahan gempa,
peraturan beton, baja, dan segi-segi struktur lainnya.
Bagaimana sekarang di Indonesia? seperti telah
dikemukakan di atas, Indonesia telah ikut terseret ke dalam
pertentangan isyu apakah jalur arsitek itu jalur insinyur
ataukah jalur seniman. Hal ini dapat dimengerti mengingat
para pendiri fondasi bagi perkembangan arsitektur di lndonesia
adalah orang-orang Belanda yang dengan sendirinya sangat
terpengaruh oleh perkembangan arsitektur di Eropa (Karsten,
83

82

lainlain)' Yang
Romondt' Dicke' dan
Van
Pont,
Maclaine

n* i,;l, yy: f.;;I::m:U1i;['i:#l ti]l,*E:]i


ilkffiil;;" i:',il'":# -JlT
konsep:l::li"T:'il T:'::i#'
u"nill;;;;; ;ttiadi pembudavaan

mengherant'un,
cocok dilihat
dari Eropa yang tidak
Uungunu'
bentuk
konsep
contoh vans sansat
ketahanannva
dari
p aa a ar sit ek- ar sitek
;;11'1ffi;::tas
ul'v
g
ri'
k
meny olo vun
yang salah untuk menggamlndonesia adalah XtttnOt"ngan U*g""* berbentuk persegibarlmerencunuft"n t-Jfot-totl*

i#;;;tttoi'

punjung,,*q,._o_Ti:#

',:l?

ffiH

,tnrt"ll'l

seyogyanya

*lJ;,

:X*X*:lml

yl*l# ffi'.'fffi ffil'

f f l,li,i: ;:il, ""#-i:


itrt[*'

Andaikata

lt"i

tepat'

n"tl*"";;;;"""n"r"h

disadarkan dengan
itu direncanakan berbenperse'i panjang)' karena

t6.u1u,,
ruk bulat u,u, uu:u?"r""gr."i kekuatan vang (praktis) sama
bentuk demikian;;;"d"i

*'[:*ffi

i"1.r"9""".."P:]:I"?:",.',1J1',31H[','l#:

di
ataukah jalur seniman'
bangan t."t"Ai'i"siu'"

lndonesta
ro'tal para

u"ittk

lulusan Univer-

il;;tb..tr.,11;;i"'i'i1"iit+;31lff
U;;l,"litli?"-';
mt
ii;;;;i"kiur di Indonesia dewasa

'"T::f:Ha
kebutuhan

memecahkan masalah
dari arsitek aialah
dengan

;;;;"dern

menciptaka;1i;;

il

beserta lingkungannya
utnt't' v ung memadai !*:::?t"t'
of humon expertence

Architecturi is an express.ion
in tne creation of usable sPace)'
l98O;

'Namundi'";;i;t;;;';-th*"kekuatanstruktur(dansegtdan ini
harus i[ui tttpttahkan
segi teknolJgi tui"ny")

yung bersangkutan'
adalah tugas"para "i'ti
struktur^1anV1 *:lt'pif:"unt"
yang
Bahwasanya trelayakan
bagi arsitek sepertl
pemikiran ttau"l*g ftompementer

di

atas, kiranya dapat tercerminkan oleh


pernyataan-pernyataan berikut dari tokoh-tokoh arsitek kita,
dilukislian

yang telah penulis kutip dari Eko Budihardjo (1983):

Adhi Moersid (halaman 3l):


"Arsitektur yang kita huni ini punya peran banyak. Ia
merupakan manifestasi dari perilaku hidup kita sehari-hari,

cermin dari kebudayaan kita. Ia juga jadi petunjuk dari


tingkat perasaan artistik yang kita miliki"
Silaban (halaman 84):

"Tidak perlu meniru-niru bentuk khas Toraja.


Minangkabau, Bali, Batak dan sebagainya untuk
mengusahakan terciptanya arsitektur Indonesia. Kita
jangan ambil bentuknya, tetapi jiwanya yang banyak
menunjukkan ciri-ciri ketropisan. Hal-hal yang
memperhitungkan lebatnya hujan tropis, panasnya
matahari dan tentunya memperhitungkan adat-istiadat
yang pada hakikatnya tidaklah berupa sesuatu yang statis,

melainkan berkembang dari periode ke periode".


Sidharta (halaman 93 dan 94):
It*'--tA.rit.[tui-uJuruh

seniguna, karena dia menyelesaikan


persoalan fungsional, persoalan kemasyarakatan".

"Arsitektur adalah seniguna yang khusus, karena arsitektur


merupakan kerangka ruang untuk kehidupan kita,,.
ardjan (halaman 107

108):

"Arsitektur sebagai suatu karya kesenian hanya bisa tercapai dengan dukungan masyarakat yang luas, berbeda
dengan karya seni lukis atau seni-patung misalnya yang
bisa terlahir hanya dengan usaha satu orang seniman saja. Untuk melahirkan karya arsitektur diperlukan selain
arsitek, ahli-ahli reknik lainnya, industri bahan, sekelompok pelaksana, teknologi, dana dan lain-lain. Oleh
rJ5

84

b"ly1 Arsitektur adalah

dikatakan'
manusra'
karenanya patutlah
dar i kebudavaan
t*i"iitti"tr)
j
oleh
p en ge awantahan
selalu dipengaruhi
Atau dengan kata

t#"ffi;;itirr

teUuOayaan masYa-rakatnya'
159)
Praganta (hataman
Wastu
" -:;;;"rn*ur
intesral dari pensemadalah bagian vang
dart
iraka segenap perwujudan
k a) ser (eti
bangan ttuuJuvuun'
ir-os"i r. ul, temauan
pengemk eseluruhan n"ii rl,ritn,*"
manusia dalam rangka
testetifta)
perasaan
ta
il"rir"" rtpribadian bangsa"
r r-r^-aoio ser.,(
pandanganproresionalpara.tokotrfl

:'j'}rtf E'||il'#l
io ur' 3't"n
;:1}Ttr#r"Ei':11*il;;
ffi#
bentuk
*il**;'
'dan
xJ'iJm pembahasan masalah
terintegrasirtun
ruans. Penulis
kesadar an

sangat ingin melihat

diri rek anny a para


'J"ffi;;t:;li:t::[*
g tUitt
gllut
.klut'
f

lll

""'tt"ui?n
arsitek.Betapatki"'*"f;;.-'Tf
+11i."t.1,;tiTfi kita
namun

opis'
m'"nT"rffirlilfi:l'litim
Penulis
i::r:x
tahunnyat-*
400
juga mengatu*i
tr

in

gin

me n g'

'ut"-tuta
"*Ou
ti
"'' i :q:::l1

"Jffi

i :it:"l ll;
::i'|,':i::
;
uri s

Yl ;';il;;

an

Pen

Hru"tl;1':,:i,T;,.ilT''ll!I
iari makalah ini'
maksudkan di ;;;l;ul
urthirnva kita rumuskan
Barangkali

ffifi#;;u yung
'nturptnutis rnaksudkan itu' Un-

pengertian *'itl[tut sepeiti


tuk itu penutrs

kiranva

vang
;;il;;tt-ukun tuutu definisi
ul :
seu asai
B'ef 'f
ry'"
oara"l"f,l-9i,qt'i;*'fr
ai
"
coco k
of bu'ilding'

t!;
Architectur*i-'n''ii -;iA

rep::tical and expressivethat


employed'io"fiitttitlr'rye
,iiitirra oigoti' ine characteristics

\
..,

'

te;hnique

nom other man'made


/",\quirenenrr"i
distins'i'; ;*;:;i' iii"nite'1fi
.

,',;r

'itrllctures are:

(l)

f2,,_;. ,Itq gyllqb_ility

to use by human beings in generol and


its adaptability to particulor human activities.
(2) The stobility ond permanence of its construction.
(3) lls communication of experience and ideas through
form.
Dalam definisi di atas, kebutuhan manusia, kekuatan struktur
dan bentuk diucapkan dalam satu nafas sebagai satu kesatuan
pengertian tentang arti arsitektur.

Kesadaran Struktur Sebagai Bekal Utama Bagi Arsitek

Mungkin masih tetap akan diperdebatkan, bahwasanya


kesadaran yang mendalam tentang struktur merupakan persyaratan bagi seorang arsitek untuk menghasilkan karya arsitektur yang indah. Penulis sama sekali tidak meragukan
kebenaran dari pernyataan ini. Mungkin pendapat ini adalah
subjektif, karena subjeknya dilihat dari kacamata seorang
perencana struktur, tetapi naluri manusia pada umumnya
adalah cukup tajam dan peka untuk mendeteksi kelainankelainan struktur, sehingga karenanya serta-merta mengubah
citra keindahan dari suatu karya arsitektur. Beberapa contoh
kiranya dapat menjelaskan hal ini.
Parthenon di Athena biasa disebut-sebut sebagai karya
arsitektur pra-Roman yang paling indah. Walaupun dari segi
konfigurasi strukturnya adalah baik terhadap pengaruh gempa, tetapi dari segi sistem adalah salah. Sistem tersebut
yang berupa kolom dan balok-adalah cocok untuk struktur
kayu dan tidak cocok untuk struktur batu alam (marmer).
Balok-balok horisontal dari batu alam tidak akan dapat
menahan lentur yang tinggi dan karenanya peka terhadap
beban-beban berat. Perasaan takut ambruk menghantui si
pengunjung yang bernaluri tajam. Perasaan yang sama akan
kita alami bila kita mengunjungi candi kebanggaan kita,
Borobudur. Balok-balok horisontal dari batu alam andesit tersusun lepas sebagai kantilever-kantilever bebas membentuk
87

86

T
mengamati bangunan-bangunan karya Felix Candela dan Pier
Luigi Nervi. Hal itu tidak lain karena ketepatan strukrur, keindahan bentuk dan keserasian membaur menjadi saru kesatuan

?::"x,,-y:lf,i!t1$l:frl{iit*i}iifitl#i-,fr'
r,,"r
i uar
ber naru

ak an

Perasaan-perasaan

j,rlllrriilT,H:i.

r.r.;i, q,..y

ilt rur;i.inlulun olo,n,.,

o"'*;"t'fl:ffi ;'I^ili"""'k' ..:


:
"J';;'i * *
, ;
t' T :T i'ffIll
(busur)
"
ienekune

yang menerbitkan perasaan kekaguman tak henti-hentinya


pada si pengamat.
Dari contoh-contoh di atas kiranya cukup jelas, bahwa
ketepatan struktur merupakan prasyarat bagi keindahan suatu
karya arsitektur. Pendidik ternama Mario Salvadori (Salvadori,
Heller, 1963) mengungkapkan hal ini sebagai berikut:

sifat baru aram

tepat daram sistem


1$

iT

resa
"
r;';;";;;.rjadi^iTi.:^,["Xk$i:
i_,emanfaarkan erek

T[il'H$lil.1xl;;

:-'i'"r,*

" 1.n g,11

",

u1

;:r:tlf:"lx,i;:rnr;ji]l"ritfi
;r -:y

sam

"We may thus conclude thst s knowledge of structures on


part of the orchitect is, to soy the least, hiehly desirable,
and that correctness ofstructure cannol but udd to the beuu
ty of orchitecture".
the

pai puruh an

[u';

*r'
lffilJ:ffi

ffiilJ
ll* ','.?f^:I i1J[;"a"i,
Notre Dame) mell"iY:1'-tL-'i i""n"nan-bangunan

1",'-:lrl$;i'"x};]l-il"*'i'1x"'""*?"*t"'u.,ili::
g uas' x-1:t#;;.,a,ersedia datam
an g-r

Apabila sejauh ini ketepatan struktur kita kaitkan dengan


keindahan hasil karya arsitektur, maka di daerah gempa yang
penting seperti Indonesia ini, ketepatan slruktur juga
merupakan prasyarat bagi ketahanannya terhadap gempa.
Ketahanan struktur terhadap gempa terutama ditentukan oleh
baik-buruknya konfigurasinya. Karena konfigurasi berkaitan

erat dengan pengembangan bentuk dan ruang, seyogyanya para

[ :f,
j ik an oleh
g
disa
k eindahan van

*.lrU.n t ungi r u

uan

t'yli:l

*.*;
ilsemua
bahan

-bi:?tfi

u,,

ud u

"
rnr'
il.'t"upu cocoknva

3
li,u
ill T,,,"T3, :fi t; ;;il i;; adalah
salah'
ban
nrinsip
i'i
il"t
"tu'l
sebagai kuntitt"?l*"r"
;"
;;;k;
;
tu
k
u
r
st
1
1Y.L
i
Kec u ar
ff:ff|xT' *:::XT:"g
tarik' sesuatu vane dlu,11l:;ilt;';;e DPR-MPR

kj'

i.;;""
';;;;i1l"r1i'"'"
[tTi-f.:'#[il:lT'iili':I''ilffi
tt-.IX[
kan'*l o *u" r'lu' a":'
hati,

ti

apa

:lnil';lt',1fi

yang mengetanu
penyansga
sedikit di antara kita
diueri kolom-kolom
itt']uut
xuiuri
menunkeliling ttpi
yang seksama telah
ftuitnu analisis gempa
tersebut

tersembunyi'
iukkan bahwa

ilt;"t'ffi;"1."1*

xi'ui tuvup kubah

oieh kolom-kolom
ii*n"u
tenar-bena'
sulam ini tentu
tiilbal
"oil'i"t'f,struktur'*tu'u
*t"""*'"
sendiri'
tersebut'
pihak, ,.rl,u*u ursitekn_va boleh
t?l
tidak memu"r;;;;ra
uJrur'un*un vTs
contoh
raiakan bila kita
keindahan v",,g'tit"
tupaka"';;;;h
kita

tt-foll

t"'1"#i"i'-;;;;'

arsitek memahami betul persoalannya. Kita boleh bersyukur


bahwa sebegitu jauh bangunan-bangunan penting, tinggi dan
besar baru bermunculan di sekitar Jakarta yang kebetulan
terletak di wilayah gempa yang tidak terlalu berat (Wilayah
4), sehingga penyimpangan-penyimpangan sedikit dari prinsipprinsip konfigurasi struktur tahan gempa tidaklah terlalu
berpengaruh terhadap kelayakan struktur secara menyeluruh.
Akan tetapi, apabila kita akan mulai membangun secara besarbesaran di bagian-bagian lain dari Indonesia yang termasuk
dalam wilayah gempa yang lebih berat, seperti misalnya di
Sumatra Barat, Irian Jaya, dan lain-lain, maka konfigurasi
struktur akan memegang peranan yang penting dalam menentukan daya tahan struktur terhadap gempa. Bagaintana pentingnya konfigurasi, Henry Degenkoib (Arnold, Reitherman,
1982) menyatakannya sebagai berikut:
89

88

"If

we hove

poor configurotion to stsrt with, oll the engineer


u band-aid--improve a basically

can do is to provide

os besl he can. Conversely, d we start olf with


good conJigurution ond o reosonable framing scheme, even
o poor engineer can't harm its ultimqte performonce too

poor solution
o

much. This lqst stotement is only slighlly exaggerated".


Dalam daftar pustaka pada akhir dari makalah ini dicantumkan sejumlah judul buku yang secara jelas dan lengkap
menguraikan struktur-struktur tepat guna serta konfigurasinya.
Uraian-uraian tersebut kiranya mudah dapat difahami oleh
para arsitek, karena memang khusus ditulis untuk dan
beberapa di antaranya juga oleh arsitek. Banyak kiranya manfaat yang dapat dipetik oleh para arsitek Indonesia dari tulisantulisan tersebut. Kepada para pendidik penulis ingin nrenganjurkan agar mencantumkan judul-judul tluku tersebut sebagai
literatur wajib bagi mahasiswa arsitektur dan sipil. Mengapa
juga bagi rnahasiswa sipil? Tak lain untuk memberi pengertian bersama tentang konsep konfigurasi struktur, ruang dan
bentuk, sehingga dapat memperkecil jurang pemisah yang
sering dikatakan terjadi di antara arsitek dan insinyur.
Bila kita pelajari bangunan-bangunan tradisional yang telah
diwariskan oleh nenek moyang kita di seluruh pelosok tanah
air kita, maka semuanya itu ternyata mempunyai ketahanan
yang baik terhadap gernpa. Hal ini terjadi tak lain dan tak
bukan karena sistem dan konfigurasi strukturnya memberi
peluang untuk itu. Marilah kita mengambil hikmah dari kenyataan ini.

90
91

II.3. .+RSITEKTUR DAN',TEKNOLOGI*)


OIeh:

Pustaka

l.
z.

ConfiguraR' (1?.93)l "Building


Arnold, C"; Reitherman'john Wiley' 1982'
tion Seisrtti' ou'isn';:'
Arsitektur lndonesta '
u'
i""'i'"'ltt'ttnui'
Brrdihardjo'
Mc
"Engineering For Architecture"'

. tl,Hltitil?i'*, :
4

concepts

o tPy).- "structuratJohn wilev'


tf:rTli'r13?3,0,,r, s ina
Engineers"'
Andsvsrcm' nZ"'"i'l'ii'lt'

')!!e
l'3,Ltr."', P' (19^80):.
5.
'u

wortd's Greqt Architecture"'

t#*n,i*i; fihJ'itl' ttqor)' "structure rn Architec1?63'

1.
8.

Iure", Pr.nti..-ttull-Maruzen' iiiuint' stand up"'


?t;;o;'""*'"iii''
salvadori,
1980'
Co.,
&
prenticeHall, 1980.
Norton
p'l-' (1980): "Structure: r,,,

*:

S.ir"Otft,

,l
I

il

ii

Ir.

Yuswadi Saliya, M.Arch.

Sebenarnya, riwayat arsitektur sebagai bagian dari bidang


keahlian khusus cukup panjang. Sejak orang membutuhkan
bantuan untuk mengujudkan hasratnya melalui rnedia ruang
dan bentuk, di situ arsitek mulai berperan. I(eahlian tertentu
mulai terasa dibutuhkan. Tentu saja pengcrtian ruang dan bentuk berbeda dari waktu ke waktu. Keahlian yang mendalam
pada suatu aspek, mendorong timbulnya gejala pernisahan
(spesialisasi). Adakalanya gejala pemisahan timbul oleh adanya
kebutuhan baru namun sering pula sernata-mata oleh
kebutuhan atau keberuntungan yang tak terduga (penemuan
api, misalnya). Kiranya cukup kalau dikatakan bahwa umur
arsitektur sebagai profesi sama panjangnya dengan peradaban
manusia.
Orang mulai bertengkar pada saat membicarakan arsitektur
sebagai ilmu. Itu barang baru. Sebagai iimu, orang mulai
membedakan adanya hasil dari proses 'kebetulan' dengan hasil
dari proses'pemikiran' yang menyiratkan langkah-langkah
yang sistematis dan objektif. Pada tingkat itu, diperlukan tindakan abstraksi melalui tinjauan empiri. Orang mulai berteori.
Perkembangan teori ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan sejarah berpikir. Revolusi dalam dunia ilmu adalah
revolusi di dalam cara berpikir, dan sepatutnyalah ditinjau dari
sudut sejarah perkembangan berpikir (Westfall, l97l).
Cara berpikir ini mengatakan orang kepada tahapan yang lebih
jauh lagi, melampaui tahapan yang mrnyadarkan diri kepada
pengamatan (observasi) menuju ke tahapan berpikir murni (rasionalisme). Orang mulai berhadaparr dengan berbagai bentuk dilema, pilihan-pilihan sulit yang drarnatis clan minta
perhatian besar. Terdapat sejumlah besar pola berpikir' (rnodel)
Disajikan dalam Seminar Kecil Jurusan Arsiiekrur F-fSP-11

l2

92

flandung,

Desember l98ll.

r
\

u5'rAl;'\hN
JL Mrr'U
5lJ

DAERAH

a YU

Mi

rtAb

JAYYA

tt)6Ua

,t!l r,

ra

98

Pada waktu lembaga pendidikan (tinggi) dicaci maki tahun


60-an, terutama di Amerika dan Eropa (Prancis), orang mulai
membicarakan dimensi manusia (one/ many dimensional mon)
di setiap segi kehidupan masyarakat. Masih segar di ingatan

untuk meniru perkemyang memperlihatkan kecenderungan


pating popurer di antara para
pengetJ;;;;i"-.
ilmu
a t anbangan
i p un buk annv
"'
ii
i'
t'l'i
s
"
h
e
ts
-mest<
arsi t e k \al,rh
masih berada pada

"i''

"j "

dipa kritik. Sampai


"i"ti'-'"*paknya
pt*unyaan terpenting yang perlu
letak
tahap eksperimentui'
di manq
jelaskan dalam rt"i;n"tJl'i'iiuio'it"adalah a t erletak pada
annv
t t iiol'kesulit
manusia ?Menurut
iiduk ,nuu harus diciptakan;
sejumlah rr.'u'
dengan manusia seperti
orang tidak dapa''^UtiJft''""'imen jelas' batas-batas antara
tidat
halnya dengan u"t' i""^ilti:
korban dan lahirnva
iui"r'
objek';d;il';r'
dan
subjek
istilah
au'i P.avlov' watson (penemu
tffil#ui".ffif;lilu'
Bs itu
'asak
,Behaviorqt s,i,nrl]) ;#,;i;:ie11-sr<inner'
juga'
pendekatan yang mekanistik
tt"i""r
yang mengmengejutka, atiap kemajuan teknologi
otngln
umumnvu'
Pada
menghadapi

iiiffi
u"t'ii';;;;;;"

1r

t'rai

gebu seperti

bertrati-trati

"*"'#i'i' "'"X*i'tr."'i tt il" kalau b u kan malah


gala langkah yarl; ;;'tit;

se

*tTitt::','","

berbagai
-CJo"l-tradisi)
:ir1' "ll"'l^":'^,11t3;t:3;l,tt'
tampaknya pentrng

Iung dunii-balik an' (feedisolasi/asimilasi'


iirn6riii'-i'
untuk dibicarakanl "a"i"t'
gejala b'ahwa
dengan pengamatan
back world)' Bermula
tapl luga
memen'uhi kebutuhan
teknologi bukannya sekadar
keras datang dari lllich:
u"ir1q'
menciptokon'ro"'ftJtli*" un'ii rutnluti perlu diperbaiki ;
hubungan antara

;#;;il;

tujuan dan cara'

ialik -antara
sekolah hanva ;;;;i"t
akan adanya bahaya
Eisenhower (1956) ;;peringatkan
e80) menambah kan
ii't';; ;'; i:;;;" Falk' ( Icomtplex''
Pola-pola
m i i t ar v - i n au
"'l
'

dengan'^iti'oii-lina"iit'i-i"demic
rttt'"tan)
pemusatan ktkJJ;;ia*

terasa semakin besar


menurut
berbuat sesuatu (kecuali'

tanpa seorang p;;;';


-. dnd rlisorot
d
iili;h, para politisi - sic!)'
disorot dan diperditantang'
p"'
profesioriali'mt
Maka,
lecuati' termasuk arsitektur!
tanyakan o'un*'^tunou

kita, bagaimana Sputnik Syndrome (1957) telah demikian


memacu pendidikan di Amerika Serikat di dalam bidangbidang ilmu alam (fisika). Tunturan kebutuhan nasionai untuk dapat menandingi ketinggalan dalam bidang antariksa dari
Uni Soviet, telah melahirkan cabang spesialisasi yang sangat
tajam. Tiba-tiba, dunia dikejutkan oleh krisis energi (1973),
sesuatu yang sebenarnya bukannya takterduga (Berita Mingguan Time telah menurunkan sebagai berita utama beberapa
bulan sebelum OPEC melancarkan kenaikan harga berlipat
ganda). Kembali dunia pendidikan kena semprot. pengangguran yang menggelembung oleh tatanan kemasyarakatan yang
ada establishment) tampak seperti palu godam yang kembali
menimpa dunia pendidikan. Tidak hanya itu, ada semacam
'mental overhoul' di kalangan negara maju. Seperti orang
Romawi yang runtuh justru karena rnerasa ditakdirkan
untuk mengojar hingga lupa belajar.
Teknologi, peradaban manusia yang paling banyak
dibicarakan abad ini, menjadi titik terobos berbagai telaah
sosial. Tampaknya perlu dibahas tuntas. Mengapa teknologi
menimbulkan pesimisme? Menurut Lyngstad (1980), pesimisme
itu bukan semata-mata disebabkan oleh masalah yang nyataterukur (tangible) seperti polusi, kelangkaan energi, perlombaan senjata, atau gangguan syarat oleh kepadatan dan keseimbangan (diburu waktu), melainkan oleh 'kecenderungan
ototelesis yang tok terhindorkon dalam cara berpikir teknisilmioh dan struktur' (the unmistokable outotelic tendecies
in technicol-scientific thinking and structure).
Lyngstad mengutip Heidegger dalam menuniukkan bahwa
teknologi memandang alam sebagai lumbung (Bestond; stonding reserve) berdasarkan sifat dasar teknologi yang
memaksokan (Gestell; enframing, framework), kalau bukan
95

94

memojok kan

(!

ialah clomi""l

Demrk

ian,il{lT[.tTft

1::l;;'k'L

me1
manusia untuk

"urun yung

?#

j]Ji;fi

i*i+;iq,.g,;*6i:lyfl lt#illll',il*-r'.$

'#'JI;:1"'i;?"1TI;"ii'ii'io'^o"::^ff
;:::;','"i#ff l,*
yang dinamakan,\rut

,l

un rahapan saat

apa
sejajar dengan

ini
ontologis':1",';};i' uururun.alam;
Van peursen. runuo

1l

tm iut'x'.'l;*:v#*ntlim $:i;
lxit
o:i,|il)
iil, * +',

"':

W l,::
t[fltr,,tr
'i:l::"1t3-l$Ji;"',,

"
| +T,fllfi oT,
perubahan iTl,
bagian ^,,"f
i.ouuai
t
bumt
kesadaran

*.ngin*u,x"y:";i,1i:1""-:;!];,|".lruf ;:l'"',:H'.""'X"
mengg,cmParkan", *
*' * -,,.*i,ll
I
t r:Ti
"
""
o!"f,n hli'+.rlli',Tj
m
n",,111,o",, u e'r
x)
db
:'il'l'
lil,
* -, ru n s ff
-;;;;;;"as
"
it u' o::T#;il'v"ut'i"'i

jiil;l

ffi

ee

kesadaran

Bav an gk

an'

suat u per kemb

an*']

sekadar

:il;;;t;;;';'

mak

;:,r#il;" ; : Yff ;llii.lt{T,.,,.:lj#


n'*i
i,,,, *.,, "n,
I,] ffi ;;;*
'"
v

oc

ark

hluk
a
6)

an n y

e5

I 1' 3 I I, Jk S as r r a, A
'
F{adi ah l"btl-:i'
rnperoleh
Sepert i kapal
u nruk
peran
jelas
,"."**'*Uarkan denganangkasa rr),.tU""g menjelajahi
ruang
ur.t-tr"
Nabi Nuh, kapar
*tntnggalkan bum
y:'u'
alam rava '"t"['".,l"ti''iJlniu
oleh bom
dapat menyelesaikan
vang telah hangus

X;'r"'['.-.l
rne

n i a r a.

;i;;il;.
"i:'#il;e"j?",

utol;*

il;:,i;k;', keiadaran Y"'l f:j}"*, #,fi;;i;manusiaan


p.iuo*ngu1.1l,T;#l**ff lT,flll1Tifi?1"n1'#ili,o'"

Konflik-konflik yang terjadi antara awak kapal dengan penumpang seperti pertentangan dan dunianya CP.Snow (1956),
seperti selisih paham antara para teknisi dengan penyair. Apa
yarrg dibawakan Martinson adalah bahwa Aniuru merupakan
paduan antara teknologi dengan pursr, sintesis antara ilmu dan
seni, antara teknologi dengan olam. Antara okol-budi (inteliigence) dengan kata-hati (intuisi), seolah tanpa paduan
semacam itu, perjalanan Aniara takkan pernah berakhir.
Terguncang oleh konflik yang tak kunjung usai. Aniaroboleh
disamakan dengan perjalanan Bima yang mencari Dewaruci,
hakikat diri yang menjadijaminan kelangsungan hidup yang
sempurna. Pertanyaan sekarang adalah bagaimana memberi
makna kepada teknologi? Martinson menyatakan bahwa
teknologi terlalu kuat dan memaksa (insisten) untuk tidak
diberi makna. Sebagai struktur yang olarkik-teknik, teknologi
takkan pernah memperoleh makna,. Untuk itu diperlukan
kaidah (order) baru. Tapi, kaidah yang mana? Bagaimana?
Itulah yang tengah dicari oleh Aniara (atau Palupi, atau oleh
mereka yang menunggu Godot), diperlukan pendalaman
religius, sejenis kekhususan yang hakiki, sedemikian hingga,
kata Martinson dicapai keselarasan dengan kosmos, seperti
yang juga selalu dikejar dan dicari oleh Taoisme dan Budhisme
7*n. Dan terhadap kaidah yang (seharusnya) dapat diturunkan
dari pendalaman semacam itulah teknologi itu dikaitkan
(subordinate).
Tidak dapat dihindarkan lagi, pendidikan arsitektur di
dalam lingkungan teknologi pun perlu pendalaman teknologi
sedemikian, hingga itu memperoleh makna arsitektural yang
sepadan dengan peran dan kekuatannya. Dengan kata lain,
diperlukan suatu sikap arsitektural tertentu agar dapat
memadukan teknologi ke dalam dirinya, ke dalam arsitektur.
Memang, arsitektur itu adalah teknologi; tak ada arsitektur
tanpa teknologi. Namun mengamati sifat-sifat teknologi seperti
terurai di atas tadi, diperlukan pandangan baru, kesadaran

sepanjang Perl

Vadis?)'
91
q6

i'
seperti sedia

baru, nB&r arsirekrurd*::,1"ilX;X

::J;"o"an

tn

rlim*x*ru,:rx
}ii,u: ii{i*.jl}},:lTi
*l:11
a hakt xar t;i
oerangai
;;;; ;""usia
;';:,;;h
g.
v an

sert

n*l*mfrt*$r*i-*x*:l*li.i*

);

ff

m*rm****ruffi

0," * Iin p i :"#l',I:,* ;'i I ffi ;; r11" g ;i:;, lillT,lli ;


t.," I
i n i t i dak
* l^,.",11
ux ur ut,
" lli.,"lili, q;
"::lt::i;ses
X:::T H #;:il
basama';1t
Sif at ini'
dal am
;'
memb

utuhkul

an as
- u.,,.1 mernb

reati t' n am.un


*'-1i:'.';"
iiu' tn.*-

k
;, r oSeS

riirs:.'.liiii'*1-'"11:li**I;=ihLrJ"T#
ffi di i*'"i'trj; l"f:'ff:T.[1i"''u"
H',S:il" x,#H,*"nu'li.liliti,*
:.;k;6*sannva hanva
dari kebudav
"in

peluang

kebudav^"n' otttumbuhan'H;;,;;; "t"Y i9:


["t""
t"ndu'an,tuhirnva
daoat diperot.t'
r*r"n,:',t""Xlvfi};Hffiil;, proses beraiar dan

segi

ffifii ji,.

suatu budaYr

98

S::,:"r:ffil:;il

atau pendidikan sampai batas-batas tertentu membutuhkan


keluwesan. Pendidikan yang terbai(, dalam artian usaha
mengembangkan bakat-bakat (fakultas) manusiawi adalah
secara personal. Harus diakui bahwa sekalipun pendidikan
klasikal mempunyai beberapa keuntungan namun ia pun
menuntut beberapa pengorbanan. Hampir dapat dipastikan,
pengembangan daya imajinasi hanya dapat dilakukan secara
personal, secara perorangan. Pengalaman menunjukkan bahwa
waktu yang diperlukan berbeda-beda bagi orang untuk sampai pada taraf perkembangan tertentu. Kenyataan ini menjadi
beban yang sangat berat bagi seorang guru. Lebih dari itu
adalah adanya kenyataan lain bahwa manusia tidak bebas dari
pengaruh lingkungan, baik maupun buruk.
Dalam hubungan dengan faktor lingkungan ini, tampaknya
diperlukan adanya suasana akademik yang menarik conducive). Menanamkan kehormatan atau harga diri tidak dapat
diturunkan lewat peraturan atau tata tertib semata-mata.
Teristimewa bagi para rekayasa (engineer), apabila bagi mereka
yang jangkauan pengetahuannya terentang dari masalah teknisrasional sampai ke psikis-spiritual seperti seorang arsitek.
Kalaupun pada prakteknya seorang arsitek tidak bekerja padajangkauan selebar itu, namun batas-batasnya perlu dikenal.
Profesionalisme sempit hanya dapat ditembus melalui sikap
yang hadir dari pandangan luas itu. Itulah jalan yang paling
aman: berpandangan luas. Begitu sulitnya meramalkan ujud
dunia masa datang. Sehingga akhirnya, apa yang perlu dipersiapkan adalah keberanian oleh berpengetahuan imajinasi yang
lahir dari pendalaman. Dan wawasan yang berke(nbang dari
kesadaran baru.
Kalau boleh mengutip Clemenceau menyatakan bahwa
perang itulah terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada
para jendral, maka sesudah Susskind (1974) menyambutnya
untuk teknologi dan para rekayasa (engineer), kita dapat

mengiringinya dengan bahwa arsitektur itu terlalu penting


untuk diserahkan hanya kepada para arsitek. Untuk itu pulalah

99

i
l

Kepustakaan

ffi:ff fi $El$'r#lilf}I$$tr'+ft
makna'

l.

Barzun, Jacques 1964: Scince, The Glarions Entertoinment


New York: Harper & Row.

2.

Falk, Richard 1980: "Technology and Politics: Shifting


Balonces", dalam Future Alternotives, The Journal of
(
Utapian Studies, Spring.
Lyngstad, Sverre 1980: "Beyond the God-Machine:
Taward a Naturalized Technology" dalam Future Alternotives, The Journal of Utapian Studies, Spring.
Illich, lvan 1976: Limits to Medicine, Medical Memesis:
The Expropriation of Health, Penguin Books.
Ogilvy, James 1977: Mony Dimensionsl Man, Decentralizing Self, Society, and the Sacred; New York: Harper &

3.

4.
5.

Row.

6.

Susskind, Robert 19'13: Understonding Technology John


Hopkins University Press"

Wesrfall, Richard S.: The Construction of Modern Science:


Mechanism and Mechanrcs,'New York: John Wiley.

8. Abel, Chris l98l: "Vico and Herder: The Origin of


Methodologicol Plurulism", dalam Design: Science:
Method, suntingan Robin Jacques dan James A Powell;
Westbury House.

l0r
100

II.4. ARSITEKTUR DAN KESEMPATAN KERJA


DI SEKTOR INDUSTRI KONSTRUKSI

LamPiran

HiPPocratic
An Engineer's

f i!#,i x i i,?,i, T,,f,:[ ff*::'lffi


*' :l I ,.l.? : :; il, :''il":;;;ffi
tiJe mY Professron

Oleh: DR. Hidayat

Oath

$..|ffi

{;11,ffi'ffi

Li[1l,,J.'.tr;:]r;'*],l,xl'i'I!,;,,.:*.*Hiilffi
tro
corruPtion and
l:ffi :1
prot:s'1
even,tt:::::'l.liii..
my
purpose'
exercise
^ ,..iminal
J*[,t ."ir uno uniust.practt
;;i;; no it;actI l:l
w,,' ::'l[:fi
i;.;;;;;i
lil;. ,,. r wiu noi r.*i considerations
;;;;* "' I :Hi.l',':"::,'r;!i ; ::,'::l it :'J}'iJ:?lIli

iJfi [?,".?#:Ttr,"?Jfl*i*]5{7*:;;Til$};iil:
I will not Ytt TJ.*, cnrleavor
to avotu *1":,11:*t1.""'I.oitr.t
I wrr' !rru!the these prou:
Ir make
oi'f1r1nuni,y;
''
resources'
honor'
i",-"t nonrenewable
und upon my
solernnly' freery'

RobertSusskind:LJnderstandingTecnology'JohnHopkinsUniver13e'

;;r?;;'

ie?3' haraman

:,

li

il
i

Kalau dihubungkan dengan ilmu Arsitektur, maka penulis


termasuk outsider sehingga tidak merasa kompeten untuk ikut
membicarakan tentang materi disiplin ilmu tersebut. Perhatian penulis dalam bidang yang ada kaitannya dengan ilmu
Arsitektur ialah karena pemegang ilmu itu yaitu sarjano ar-

sitektur dalam kedudukannya di masyarakat baik sebagai


pemikir/designer maupun sebagai kontraktor mempunyai
kemampuan untuk mempengaruhi pasar kerja, khususnya subpasar kerja yang berhubungan dengan industri konstruksi. Industri konstruksi dalam makalah ini diartikan sebagai lapang
usaha yang meliputi:

(i)

kegiatan memproduksi bahan dan material;

(ii) kegiatan konstruksi atau assembling lapangan;

dan

(iii) kegiatan software seperti melakukan satu atau lebih fungsi


manajemen.

Artinya, seorang sarjana arsitektur dapat ikut baik secara


langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tingkat
penyerapan tenaga kerja. Dilihat dari tanggung jawab sosial,
seorang sarjana arsitektur dapat ikut memecahkan masalah
gawat yang negara Indonesia sedang (dan akan) alami yaitu
masalah pengongguran terbuka dan underemployment.
Makalah ini mempunyai tujuan tunggal yaitu bogoimana
kesempaton kerjo di kantor industri konstruksi dopat

ditingkotkon tanpa mengorbankan pemakaian teknologi


mutakhir.

Industrl Konstruksi dalam Konstruksi Perekonomian


Naslonal
Salah satu indikator peranan lndustri Konstruksi (selanjutnya disingkat dengan IK) ialah dengan melihat kepada data
CNP Indonesia dan Tabel Input-Outpur. Dalam publikasi

l0-l

t02

GNP oleh BPS terdapat lapangan usaha "Sektor Bangunan"


(Construction) yaitu digit ke-5. Kalau dihubungkan dengan
pengertian Industri Konstruksi yang dipakai dalam makalah
inimaka konsep Sektor Industri menurut GNP hanya meliputi
salah sotu dari tigo kegiatan. Kegiatan produksi bahan ke-2
yaitu lapangan Usaha Manufacturing. Kemudian kegiatan
Software juga tidak termasuk karena masuk dalam lapangan
Usaha "Sektor Jasa". Oleh karena dengan hanya menganalisis
perkemban gan value-added dan kesempatan kerja dari Sektor
Bangunan menurut CNP kita hanya mengetahui satu kegiatan
seluruh Industri Konstruksi. Di lndonesia sebaiknya perlu
dijabarkan data BPS untuk berbagai kegiatan aggregate seperti
Industri Konstruksi. Ini menunjukkan bahwa perkembangan
konsep (yang biasanya timbul dari keperluan praktis atau timbul dari pemikiran konsepsional teoretis) lebih cepat dari
penyediaan data oleh BPS. Cara yang baik ialah agar antara
produsen data (BPS) dan pemakai data (analis) ada forum
komunikasi.
Di Indonesia analisis setelah mengetahui data tidak tersedia
di BPS melakukan survai untuk mendapat datd primer.
Sayangnya sering terjadi metode survai tidak didasarkan pula
metode sampling design yang baik sehingga kesimpulan survai masih diragukan secara statistis. Di lain pihak produsen
data (BPS) sering mempergunakan datanya sendiri untuk
dipakai dalam pembuatan paper sehingga ada semacam persaingan antara analisis di dalam BPS dan analisis di luar BPS
(yang kebanyakandari Departemen dan Perguruan Tinggi). Apa
pun dalihnva keadaari ini kurang rnenguntultgkan kita semua.
Kalau kita nrenrbarasi lranva kepada satu kcgiatan dari Industri Konstruksi yaitr-l Lapangan lJsaha Sektor Bangunan
(yang terdapat di data GNP) maka di Indonesia dari tahun
1975 dan rneningkat menjadi690 dalam tahun 1980. lni berarti
bahwa pertunrbuhan t,alue-added sekror ini adalah sekitar
I 1,590 per tahun dalam periode tersebut suatu angka pertumbuhan vang mel*hihi perturntruhan ekonomi makro secara
keselun:han.

Bagaim

H,**fftff1#,-#fr***#,pi;:trlr
/

104

r05

-l

e EE?tatIEEH?

s"X-E'"-ts,

-K

n o.E a

d
=ee
i;E-Aa? ?ae=E

pa

"a

-E s= tB AE

?E ezl*er"B

Negara Indusfti

Ker.ja

Keahlian

Tidak Terlatih

Juru Teknik

Teknisi Ahli

Sarjana

fingkat

Negara BerkembanS

di lndonesia

ndonesia

Sekolah Dasar

singkat

ST, SKK. & Kursus-kursus

STM. SMT Perr. SMT Khusus


SMEA & SMKK

_slLP!.S_lqS_L,_

Diplorrra nada Unircr:itas


STM Pembangunan, SI,lTK, SMF.A

Politeknik Afuamrl lrogrunr

Produsen Keahlian di

_ _ __Psryr_br.nl.S!11_l!

Kerja

____

Struktur Keahlian Tenaga

Gambar: Perbandingan Struktur Keahlian Tenaga Kerja di Negara lndustri dan Indonesia

di

Struktur Keahlian Tenaga

----

e
-6

'i?Bia;iog"t',t,

ea
aEae E?EE a

A"eC'8"'-=-6F

*eaEH;,.8.3,B,'=
"qsaE?B sE-sla

6
i
ie,ie.ut--;=-='= a

eaBis?aeEE
'e -A:A
ts E 5 i E f
'= i="a.i E-; ?B?B?E1EaE
HiiggEgHe-? 1?aF+=z

igBEaE"g=*ag
q|1F-t * r6f.;'

E
6i-BgAitili?
?Ea*ta?.aIE E5,g-;[*?iru

i'=;V
dc-.9

Eeqa

aiEiiE ETq?i?EE?i =s a??eEr*aeee


-*-i?3t
tg aE e s?i3 r aB
l33E- ?tR-eEE="*?-"
-5-e?2t**aEE':r
E'a6_EA:
CgaE
Ep,

1?? ??ata?EH?illiqs

a{et111??t!

ao' *,- !ts' gE E=.-,gtEet*eB-,e

e ii1qqeaat ?tEtqet?s *=

,ung r.hutu^*lil,Ii'*."*" keria sepertr '"?"irfrri,as


i)engan
r.,^tr*a tinsrat Y:ilf6i.gkan
r. d1:::.ll"r:?', I l -ni r' r endah

st"':l;;

sariana
ae51f

"'i'r;;i;;'nelangkaan
pre.:::i

sam !.a

teknrr,,,:::';;, di'i}s;;; ;"ir;

l*lir

rendahnya

i::ilfJ"TJlxil;'*"i:i;frxiffisa lil$ j:lrfi:Tlii


aan

en

i rJ,*''. o, u" ?^ 11'":'


E:fi ili:1i"il".H3;.,:;:J[!,lt**19;';i't*trJ-'iii

:ili?:f [1$:: ;',"I],,'

u in

I'Iffi
'x-{*igryg'-5Pi11[':']ffieH::'1;1"'"

Ttr',l;*$I#flllth4l.ifr*,1fi
it.r daD1t

lileflsurq""

*'tl;:'ilfinokok.

"'*T'...^o"

^^:-j
,:^- 4i lndonesi"l

I IntUk saf-

Y.::!*."

;;m:ilfl #,Til?.Xffi lXllJlff ttfrit

\
I

iuffift4gn'ilfiEfl#gilffi
S:::JJii,:'[U:]J#lf;,X1"'*ili"'i-"""'"r.''"
;""n gut" *#;;:l##i;:::lm

;;'
'#ffi:it*61* Tffi ilH:[f i*"

?fi l' H:ii;l

[""f;

lBml;1ffig:*ff
keria lndont
kesimPulan:
inQ

:11in*,n",""

'llffi ,rH,"1'fi1#nt.u.,opu

I
i

(1) jumlah profesional kini masih kurang kalau dibandingkan


dengan permintaan sektor industri;
(2) sebagian besar dari sarjana teknik Indonesia belum termasuk manusia terampil (siap tahu dan siap pakai);
(3) sangat kekurangan untuk tingkat keahlian teknisi asli,
teknisi industri dan juru teknik;
(4) terlalu besar hasrat lulusan SD dan SMp untuk menempuh sekolah lanjutan umum agar kelik dapat masuk
universitas.
Dengan struktur keahlian tadi, tidak begitu salah kalau
dikatakan bahwa hambatan utama pembangunan industri
(terutama yang bersifat hulu) dalam dasawarsa 80-an terletak
pada langkanya mutu ,tenaga kerja yang diperlukan di
lapangan. Ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tinggi
sebagai suatu kelembagaan barang responsif dalam penyediaan
high-level monpower yang diperlukan sekarang dan esok.

Ini

adalah suatu bukti bahwa sudah sangat mendesak


kebutuhan untuk diadakan suatu perencanaan bidang high
level monpower, kemudian perencanaan bidang middle technicians,lambat laun ditingkatkan ke usaha melaksanakan suatu
perencanaan ketenagakerj aan (monpower planning) dan dalam
dasawarsa 90-an mulai dengan perencanaan sumber daya

manusia seperti dijelaskan di muka.


Jadi kebijakan pemerintah Orde Baru dengan program [npres SD dan kini ditingkatkan dengan program Inpres SMP
(dan Inpres STM yang akan menghasilkan juru teknik) sudah
melangkah ke arah yang benar. Dalam suatu perencanaan
ketenagakerjaan yang perlu diperhatikan ialah kaidah antara
pendidikan dan kesempatan kerja. Artinya, tujuan pendidikan
selain meningkatkan pengetahuan perlu dikaitkan dengan kebijakan kesempatan kerja. Demikian pula kalau berbicara soal
kesempatan kerja perlu diperhatikan aspek peningkatan pendidikan tenaga kerja. Mengingat usaha meningkatkan mutu
sumber daya manusia melalui pendidikan memerlukan waktu
yang relatif lama maka agar tidak terjadi kekurangan atau

l0e

bahwa: rumah ini didesain oleh si Anu nrahasiswa .


Suatu jasa di mana terdapat excess demand yang berlebilran
akan menyebabkan pemilik jasa itu memperbesar furn-over'

ffi$-*p
kurang'
P

asar Kerla

::Tl;i::::::[1ri

il:[:?:#i
Dengann,:ll3l,li'j, [J,uugui I'::l::.i;i-di tndon.'iu'
::txli

*il*,{.*itr'ffi
}T.r-'ryU"giigH}:"i#
*edikit Maka 9tffill:,ilT^#
il1:l; nl_ tXXJ.un"
'{lj:i,;,*x'f, l"+in* jm',utll:*,1ilil',xxt
i[l*;W t3,:i"g{tf t;:t.' liT iil?
l"J#: ffi :,-'[f
,

menganggut.tl.'--

^--^t

rnenJawao

Dattwq..

"-

.^^t oh ada ar-

i"puou,un
*.,l"rft 1;rlffiilffifu
*:#i'$ffi
t.^-,^
":::;
*'ka
Jabatat':
P&stl
satt,.
,rr.n*unttu:

'nemilikt
I'i.[;;;n**.t:Xi]"riiq,,:::,.1!;fq,:i":;;'(uut'tun

*,u*itthjun*#
*r
lebih dari 9*-"'J.,?;iana arsitel
:

*l,t l '"* ;li*;

i"""i''""nt-1;;in"beranireorn**'r::X'*Xtli"

HilJ;'{i[;{*UU:,1i,.f*:X;;";^'.'*ii3:{,:f'
*' i ii a,urtffi
K.udu*

*o
X".ti' rr r,ir, or

[:ilt,n,rr.,.,
Y.?I,"-"TII::l::'il;;u*'i'*,1,,T:Ii:;'i,.no*ngu'ucapan
heran x
iun ke
110

;;;

ridak

dengan kadang-kadang mengorbankan kualitas. Di sini


masalah baru timbul: Bagaimana mutu jasa arsitek tidak
dikalahkan oleh arus pesanan dari bouwheer.
Apakah perlu arsitek mempertinggi mutu? Dilihat dari segi
praktis business maka apa perlunya peningkatan mutu kalau
dengan mutu yang ada saja sudah terus dibanjiri pesanan?
Untuk menjaga agar mental arsitek tidak seperti "supir colt"
sewaktu musim lebaran (yaitu menjalankan usahanya tanpa
memperhatikan keselamatan koniumen) maka diperlukan
suatu buffer berupa Pendidikan Etika Kerja (atau etika
profesi).
Bagaimana pandangan seorang arsitek terhadap masalah
kesempatan kerja? Sering kita menemui kontradiksi sebab ada
sebagian yang melihat bahwa arsitek perlu memperhatikan soal
ini. Memang pada umumnya sejak menjadi mahasisrva seorang
arsitek itu selalu dihadapkan kepada gambar-gambar teknologi
modern ),ang terdapat di dunia Barat. Jarang kita melihat gambar tentang comberan atau kran bocor atau genteng pecah.
Akibatnya setelah dirembes dengan gambar yang enak dilihat
timbul naluri untuk meniru. Nah, kalau melihat yang mewah
kita cenderung ingin meniru. Tetapi bukankah dengan melihat
gambar comberan justru kita bukan ingin meniru tetapi timbul tantangan pada diri kita untuk mengatasinya? Maka dalam
pendidikan perlu ditambah dengan gambar-gambar yang
kurang enak dipandang sekadar untuk memberi simulai untuk menimbulkan challenge.

Masa Depan?
Kalau penulis sedikit mengkritik arsitek bukan karena
didasarkan kepada rasa iri atau perasaan emosional lainnya,
tetapi justru karena mengakui bahwa sarjana arsitek dalam
dua puluh tahun lagi masih mempunyai potensi untuk

lll

tltt ttt tttr

rr
II.5. PENJABARAN WAWASAN IDF]N'I'I'I'AS
DALAM WAI)AG ARSITIiK'I'I.]R
Oleh: Ir.tlko Budihardjo, tli.9c

Strategi pembangunan bern'awasarr identitas

tfiffi$fl;rlfiffi:'#:-tt,ffi
*ffi

n:l:iT,,*r.,-?l?l'#"1'X'f-:Sf"l::3*x

It

,\

yang

dicanangkan oleh Gubernur Jateng lvloharnird trsrnalr" telah


mendapatkan sambutan yang gegap gcn-rpita. ciart gaungnya
masih tetap terdengar lantang sampai saat ini. Harian Suara
Merdeka mensponsori Saresehan, l-entbaga Penelitian Undip
memprakarsai seminar, koran kampus Mantrnggai menyelenggarakan sayembara penulisan artikei" semuany'a Ientang
wawasan identitas. Kemudian Unika Soegijapranata bersama
DPU Propinsi Jateng bertekad rnelerngkah lebih ianjut, mencoba menjabarkan konsep handal tersebut daiarn trentuk rencana tindakan yang perlu dilakukan oieh berbagai pihak.
Terutama yang bidang tugasnya menggeluli perkara penciptaan wadag arsitektur dan tingkurtgan brnaan.
'Tindakan yang berani ini (barangkali) ctiiih;rnti olelr adanya
keluhan dan sentilan dari para penetltn kebijakan di riaerah,
bahwa pembicaraan, dwicakair, clan adu nluiut yartg berlangsung masih berkutat sekitar konsep vang serba abstrak.
Tidak banyak rnenyentuh ikhwal upaya penjabaran,rl,a secara
terperinci. "Pedoman praktis bagi aparat lapantrran belum
terumuskan" begitu judul laporan Bamtrang Sadono SY, SH
yang meliput seminar l-okakary*a di LJndip (Suara lv{erdeka
26 Oktober 1984). Pinjam istilah gagah dari filsaiat ilnru. yang
telah dijawab agak tuntas baru landasan ontologis (objek apa
yang ditelaah), sedikit menyentuh epistomologl lbagaimana
cara, proses dan prosedurnya) dan belurn sampai pada tahapan

aksiologis (untuk apa dan bagaimana operasionalnya).


Sekadar untuk menyegarkan ingatan, pengertian rnengenai
identitas yangberwayuh arti itu, perlu diluruskan dulu; bukan
dalam arti kesamaan yang absolut, atau kesenlpaan yang

ll.l

Barang tentu akan ada yang mempersoalkan, bagaimana


halnya dengan perumahan masal (mass housing). Apakah
mungkin keseragaman itu dihindari, agar tercipta
keberagaman. Mengenai hal ini, para arsitek garda depan telah
mempersiapkan jawaban. John Habraken, misalnya mengajukan konsep keberagaman yang hidup dengan prinsip "support structure and infill package". Dalam penerjemahan
konsep ini, struktur utama yang pokok ditentukan terlebih
dahulu, sedangkan pengisiannya untuk setiap unit diserahkan
pada keinginan penghuni masing-masing. Kesepakatan untuk
membuat cap pribadi yangmerupakan identitas, terbuka luas.
Alden Van Eyck, mendukungnya dengan pernyataan: ,,tanpa tanda pengenal spesifik, rumah bukanlah rumah, jalan
bukanlah jalan, desa bukanlah desa dan kota bukanlah kota,,.
Konsep tersebut dikenal dengan istilah "Codeterminotion in
architecture", yang diibaratkan oleh Herizberger sebagai
kebebasan bergerak dalam permainan catur yang berpola.
Perlu diingat bahwa "the will toform tidak selalu berarti the
will to make conform". Dalam menciptakan suatu bentuk
arsitektur, kita justru harus alergi terhadap pengulangan hal
yang sama statis, mandek. Karena ini menyalahi kodrat
kehidupan alami yang pqnta rer, selalu mengalir. Atau pinjam kata bertuah dari Bali, harus menganut trilogi Desa-KaloPot ro (tempat-waktu-situasi).
Dalam arsitektur, kita mengenal tradisi sebagai bentuk
(form) sekaligus jiwa (spirit). Yang perlu dilestarikan dan
dikembangkan sebetulnya justru bukan bentuk itu semata,
tetapi terlebih-lebih adalah jiwa atau semangat suatu tempat
yang lazim disebut "genius loci".
Bentuk fisik bisa berubah, bahkan mati, tetapi semangat
harus diupayakan tetap hidup. Manusia yang hidup masa kini
selalu mengingat masa lampau dan membayangkan masa
depan. Rantai yang sinambung itu tidak sepantasnya
diputuskan. Apa implikasinya terhadap rencana pembangunan
berwawasan identitas? Jelas, kita wajib mempertahankan
wawasan

l15

diperlihatkan dalam penjabaran wawasan identitas ke dalanr


wadag arsitektur dan lingkungan binaan.
Pasar, kakilima, MCK, artdong, dokar, becak dan lain-lain
harus dilihat bukan sebagai sesuatu yang memalukan,
melainkan justru potensi yang pantas untuk diaktualisasikan
sebagai cermin identitas. Selain hemat energi, cocok untuk
udara tropis, juga memberikan kenikmatan tersendiri bagi
masyarakat kita yang senang bercengkerama di udara terbuka, berdesas-desus, tawar-menawar. Sektor informal yang
merupakan wahana komunikasi serba aknab itu, tak akan bisa
dilenyapkan begitu saja. Tinggal bagaimana cara pengaturannya agar tertib, dalam penentuan lokasi maupun waktunya
dan dalam penyempurnaan, suana-prasarana penunggangnya.

Pola tataguna lahan tunggal dengan pengkotak-kotakan


kegiatan tertentu dalam kawasan tertentu, ternyata tidak begitu
tepat diterapkan untuk pengaturan tata ruang kita. Pola yang

tepat adalah tataguna lahan carnpuran {mixed land

use).

Penampilannya barangkali kelihatan semrawut kacau balau


tapi aktivitas di dalamnya bisa berlangsung dengan baik dan
suasana kehidupan yang hangat akan terasa sepanjang waktu.
Apa sikap kita terhadap arsitektur dan lingkungan tradisional?
Di Yogya
Solo dikenal ciri-ciri khas arsitekturnya dari ben-

- spesifik: Panggang Pe, Kampung, Limasan,


tuk atap yang

Tajuk, dan Joglo. Di Banyumas ragam-ragam yang unik itu


disebut Srotongan, Trojogan, dan Tikelan. Di Demak, konon
ada bentuk atap khas yang disebut Bekuk Lulang. Semua itu
merupakan ladang yang sangat subur untuk diolah dan dikembangkan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan
kemajuan teknologi. Tetapitidak untuk dijiplak secara wantah dengan begitu saja, karena kalau demikian halnya maka
arsitektur kita tidak akan berkembang" Kita tidak mendambakan situasi Status Quo, tetapijustru mengharapkan adanya

pluralitas dinamik yang tanggap tr:rhadap perubahan. Arsitektur, Iingkungan dan kota adalah itrarat jasad tridup yang
tumbuh dan berkembang. Peneliti;rn y;l.ng nrendalam tentang

ttl
masyarr

arsitektur tradisional, yang akan membuka selubung kaitan


antara tatanilai yang dianut dengan bentuk fisik arsitektur yang
tercipta, jelas akan memperkaya cakrawala pemahaman kita.

Kepustakaan
,1

Terutama dalam menjabarkan wawasan identitas yang konsep-

tual itu menjadi wadag yang nyata.


Beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari tulisan ini
adalah:

l.

Arsitektur perilaku/kontekstual ("jangan bikin sadel


sebelum kamu tahu kudanya") sudah saatnya menggantikan arsitektur deterministik. Perilaku yang unik dari

masyarakat tertentu dengan demikian diharapkan akan


menciptakan lingkungan yang beridentitas.
2. Dalam pembangunan masal, perlu dicegah timbulnya
monotoni, dengan jalan memberikan peluang bagi individu/masyarakat untuk ikut memberikan cap pribadi.
Tanpa peluang itu, tidak akan tercipta identitas yang khas,
yang dapat menumbuhkan harga diri, dan percaya diri.
3. Tradisi dalam arsitektur meliputi sekaligus bentuk dan
jiwa. "Genius Loci" itulah yang harus ditangkap untuk
diejawantahkan kembali dalam ungkapan baru.
4. Konservasi warisan budaya (arsitektur, lingkungan, dan
kota kuno bersejarah) harus digalakkan agar anak cucu
tidak kehilangan akar dan orientasi dalam menatap masa
depan.
5. Keunikan lingkungan binaan kita yang pas untuk negara
tropis layak dilestarikan dan disempurnakan, khususnya
yang menyangkut sektor informal.
6. Perlu dilakukan penelitian tentang arsitektur tradisional
di seluruh pelosok daerah, sebagai landasan berpijak untuk perencanaan dan perancangan masa mendatang, agar
lingkungan yang tercipta lebih memperkokoh identitas
yang sudah dimiliki.

ll
,c'e"

the

MIT

----

118

I l()

press,

BAB

III

ARSITEKTUR TROPIS INDONESIA


III"

I. PROSES

BERPIKIR PERANCANGAN AR.


SITEKTUR DAN ARSITEKTUR TROPIS*)

,?'

Ol"nr

lr.

Zaenudin Kartadiwiria, M.Arch

lsi makalah ini lebih mempersoalkan bahwa cikal bakal


yang nrenyebabkan arsitektur di Nusantara tidak diungkapkan
dalam bentuk-bentuk dart asas-asas tropisnya ialah karenaproses berpikir perilnfttngan tidak diajarkan. Yang diajarkan
selama ini di sekolah arsitektur di Indonesia ialah Perancangan
Arsitektur yang konvesiorral dan telah diajarkan terus-menerus,

tanpa perubahan selanta 35 tahun hingga saat ini. Tidak


disadari oleh kar-lnr arsitektur (akademi maupun profesional)
bohw,a proses berpikir 1)erancdngon arsitek pada kurun waktu
1950-1960 telah berkcrnbang dengan dipelopori oleh adanya
pernikiran tentarlg rnetoclologi perancangan. Pada kurun waktu
I 960 -- I 970 ;rerni ki rarr stluk I u ral dalam perallcangan arsitektur
didasari peniikir;rn bahwa arsitektur itu ialah sebagian dari
kebutiayaarr, sehingga untuk at'sitektur pendekatannya dapat
beraneka ragani riesuai ciengan kebr.ldayaan yang melingkupinya" [:]ada kurun \i,'al.:tu 1970--1980 tinrbul pemikiran tentang
Programtning Arlitektur yaitu suatu realisasi nyata bahwa arsitekt.ur itrr pcrlu r"lilatal bulakangi proses berpikir perancangon.
Jadi dr"ngan adatrya peltiahlrran pernikiran-pemikiran baru
tcrsebrit di ata-r maka inenurut pcndapat penulis ialah bahwa
maralah Tropis akan r"lcngarr scndirinya terungkapkan (malah
ter-c:'trit kan) yaitu jika lieredidikun prases herpikir perancongon

#i:rr

l.##ilI[trii

Arah per

:'t.x;:If1,1!},'i#.1n'i"

t)rrajir;:rir rlaian:

( er;r*tah Ilmiah Il.ti.1'.

22

IcLr':rl ,\r.ilr:kir;r ['.i-. [](iM. Yogyakarta

KMTA Wiswakirarrnan Jurusan

I April

1985.

r"r

si:

rik saja.

l:

;,,,qsi)

- **H#dij,1{f t#J, i;:;i .,


1,,
r,t,,i,,u
.,

Tinjauan t

.
r-,i,

1s1-

unsan

iliJu,:i*m*u;:i,::,

; r ::t;t;;
i
*r *,;;:ffi ;r:,;: i,iif:iM:f;; ;:
::"
;:;? i: jij jl
i:j;;!i, r#"d;x#:,i:i:l
;, r,,
mempersun"k;:,f:l_rdr'r rlio,l

";*,1

ffili[i::1",:,:._y ilii:t

fff*

fii,li

;;,i ;,r ler

::'

;:* :,

"

"

: :r I

Latar Belakang

melihaf
r, ,.il
: r,. .ti?\i:..,ay;1
i,( ,rr rci rneljhat

;,,.

iri

k (in ter-

i, ;,]

I,,

:,

h,#::

,;rp#**:,T,***f

wswwg

t20
121

I==-----

Perbedaan Pandangan Tentang Arsitektur

Dilatar belakangi oleh kerangka acuan "Ceramah Ilmiah


& Diskusi Panel Wiswakharman" dengan tema: Arsitektur
Tropis di Nusantara, tertulis pernyataan-pernyataan tentang
Arsitektur sebagai berikut:

Arsitektur dapat dilihat sebagai "seni", tapi arsitektur


harus dapat diterapkan dalam hasil yang nyata yang
berguna bagi kehidupan. (seni terapan, sic?)
"Arsitektur yang benar, wajar dan baik harus selalu berpaling pada alam sekelilingnya".
Dinyatakan pula tentang "kenikmatan" yang kurang
sesuai dengan kondisi iklim di Indonesia disebabkan karena
banyak asas-asas, dan bentukan-bentukan oiambil dari
dunia nontropis.

i;*tr;*#iilffi"f::,f:?,
- -'ur'Lr\H:;,,:,?*u,u,g.,1,,
t ropicotArchi,i,iik
-

;;;;:r,;izone".

,ffiru
i
f

orr er us

!,riden

t;
ir

trult

shode) co:"
,aro'"
gerak an
n; ffi i r';.'i*.i:;]
in i
ri,..,.lntu'l
""::as
ris i^ J: #":1 e..u t u r' h#"ff J*Ti ":ilu. J k a

Yngut

dr

Ada rasa kagum saya terhadap mahasiswa Wiswakharman,


yang menyelenggarakan Diskusi& Ceramah llmiah ini yang
dengan gamblang membuat pernyataan-pernyataan tersebut
di atas. Tetapi terlepas dari kekaguman itu ada terbetik
kekhawatiran disebabkan pernyataan-pernyataan itu pula.
Apakah kekhawatiran saya itu?
Kekhawatiran itu disebabkan karena jika arsitektur itu
dinyatakan demikian maka alangkah sempitnya dan
spesifiknya arsitektur, yang hendak dipermasalahkan itu. Dari
segi perkembangan arsitektur, gerakan Wiswakharman ini
dapat digolongkan ke gerakan Regionalisme (Regional Style)
yang memakai dalih regional tropis sebagai batasan-batasan
untuk menggali kekhususan arsitektur Indonesia. Gerakan
dengan dalih tropis (regionality) semacam ini, pernah timbul
pula sesudah Perang Dunia ke-II, yang diperkenalkan oleh
Maxwell Fry dengan istrinya Jane Drew. Mereka manamakan
gerakannya sebagai "Tropical Architecture", tapi sebetulnya
cikal bakalnya ialah "Arsitektur Kolonial".
Gerakan Arsitektur Tropis ini dipelopori yang oleh Maxwell Fry pada tahun 1940-1950 dan bersama istrinya Jane

u
i

;yj:I.,:il;[t+"::1'l!TT;i"TXH,k.i,'dil1X,l;n;1o,r,
ketahui aarilu]|i""at;
,"ru al'arsitektur ffiT:
i
m a rop is,.
# :1-rS:1_1' tf,'iJff I ::T: ;il; ilil, l,':i;I

sebagai
r

sen i

e.apai r * i1l;,

f:.r

rr,

"u

}'ffi

::

",:*U;T;|iX
;[:::i*.Tnfi$#r,;,i;?;ti.;t=iiili:,i:xi,T;

*lmm*mmffimm$ff
i;{}fffi tf
.!

I
I

t22

urew. M

I
I

xr,u,r,m:xd;ffi

;:

iftfrffifr';,jieiflq*:gM

1r

il

ii
Ii

l)1

t
":

rr B) erair,,.

Merancang (Design): menyusun model tentang wujud ruang.


Mengelola (Monaging).' mengatur dan mengendali kegiatan
& proses mewujudkan ruang.

?;"fJl[!l':ii#":}}*ll

:,,, :, :,:' :::, :, I l,;


'ltii[' .. ,, .r, 1:ltversltas ltg
pendti111:
Dara
t

'fi*[$f I,,,,

i*,ilfrr].i#

:,;;ir * iy#ilX

Berdasarkan perbedaan-perbedaan ungkapan tentang arsitektur antara Wiswakharman dengan kami (cq: Kurikulum
'85 Arsitektur ITB) ini maka kami menganggap perlu untuk
dalam kesempatan ini secara ekplisit menjabarkan pemikiranpemikiran mutakhir yang telah dan sedang berkembang perihal
Perancangan Arsitektur di Indonesia selama 1950 hingga 1985
sekarang ini.
Kemungkinan besar ungkapan ini bukan barang baru,
namun paling sedikit diharapkan bahwa masalah perancangan
arsitektur pada Peringatan 22 tahtn Wiswakharman di
Yogyakarta ini akan dapat menarik kita kembali ke daerah
penting yang agaknya hingga sekarang, walaupun dianggap
penting, tapi belum pernah dibahas secara tuntas dan secara
khusus di kalangan masyarakat kearsitekturan di Indonesia ini.

l'

:-l';,l;'i,,,'; illf l1'"','; H. f,i!.l,,i:


].rrr, r", "'"1'.'j', ;,,., ltii, l;,',.iun *.*p-ti::il,
''' .' ., i, r,i, ar,,',rurunniu
;;1i.1;, l':':
:, :
'lf ",oh,rrf
fj.l|} ff f:ilt:X"
bag'l l'"lt';t" l"'"

.,iilii iq'

:,, : :

#;:'fi;"

1985

i,,i;;k,,,; :,' i : :, i;' ::i:,,Tffil J;;


"ranan

:;'

l"HI' t1:l 1i,;'


"
;

l"+m

|,

"'

:'

"'l "'

;'

l''

i:**t;lftl1[il:Ei

f xlli,lllf i:iru'^?;i:rutxl

li"' *".n

-Ll

:l"fiir

:'i

l'l

;t

*l lt

m'[*r*r*ffi
"

,;,; ,j;ll:':"n^rai
::[il',?:,1il-il'1.;i
rrrurr",',,,.,.r;ur-',uunl,

l'l"t *"r';n,ul'
l,totnu'
a'un l',ukum
ya
r rrt
6eruuda
untuk rnanusla
",,:r'#;"k-o]iaan
"u
-:-;i,r^\"L^.,ralJ'i.;;;
ditata datr tltirrtil'|:ii'r
n, ni i
rn"'l nt o"':f
er ent u u,
1 :: :' i,

I
'

ma{rusia
hasir & tempat

Arsitettrrt'

A t !'r r'

"\::fii;

"'];'.'1,,?}'n
**,.** :i:illl-,o'#lr.,,tun
*.*q*'"11T,Y:':,li"o''
;lXi: ,.'Iffi
"-""' ""'r'
ITlefllrlB,otsI-- J'*iit aan
konsekuensiat:rs r.' tt,,,,:
sem'
j, ",^:";tor,r.n.ional dan
Ar si ck
]il;;;
r

perancanga..:i::T:;llJ:l'*ffiffi ;;*P::S':*H;"11
--- - ^r.-r4an (managing) settil
iaiut, *"nrperluosrr.v,-,
moder
l: ry.'#J#Ut
ixt.;n,f 'g'JlK
"husun
( I'tljtrrt.t',r,1.,1,
ruang'

Merencana

\, :r
tent.A,)6 l)i

t24

,.

Pendidikan Perancangan Arsitektur


Pendidikan arsitektur di Indonesia sudah berumur 35
tahun, dimulai di Fakultas Teknik UI di Bandung (sekarang

il
I

ITB) pada tahun 1950 hingga sekarang pendidikan arsitektur


sudah tersebar di beberapa universitas negeri maupun universitas swasta. Dalam menuju umur 35 tahun menurut
pengamatan kami selama berkecimpung dalam pendidikan
kearsitekturan, perubahan atau penyempurnaan tidak begitu
nampak dan rupanya semua berjalan secara mulus (atau tidak
mulus? Sic!).
Paling-paling yang menimbulkan riak gelombang ialah
adanya perubahan sistem kurikulum di ITB sejak tahun
1973/1974 dan riak gelombang itu pun sebagian besar
mengenai adanya perpendekan jangka waktu pendidikan saja.
Tidak ada, atau yang dipendekkan, pemikiran-pemikiran
tentang bagaimana "isi" mata-mata kuliahnya maupun cara
mengajarnya dibicarakan secara mendalam.

*uiutiut

125

sebagai bagian Proses


I

*Iffiffi

,li
*: Indonesra
:-,:- u,,,i^n-o.r,ama udi t"ti::.',J i:J:"lt::?u
Ti' in do n.'iaalam"l1[,f#"1 p J*1 ti' u *:
i
hrtrgso,
aix
uun ptn--i,- ^o.,'b atran u
-nei;;;"i.n*gut
Adapun
menqlf|"1ft1".,^.^r"
"studio"

. r -JarKarr

* tTlllf;#

T;';;;;"r:

"t "* "i11s'e;*


ffil,|ffi ,,"ii:ffi il""
i::l[iffi :]
a Ka
"'
a me se
t
i:* :Xill?u"'nli'u'it*
" "r "" :t t:t:t L
"
yll
i'i,r,
I'
';SIfr
:ffi i,l'l J " "t'^T'
I qr* TJ I "l'..,",t'
^["rL111,
"-. --_'^
o

lriro AfslteK'

iFi#
li :il

ffi

$
ui uI,

iffi

*"

^.

"
dan SeOl&Il-uto" i..1UX

l#

:, ri* [: l;l
r"';';:'
I1:'

rl:til,::l;[:u

Jj',Xi ",:iil l,*fl .1

x;

',:11,$:lq.Uii;:r':::ll;lx,?iff
l],ffitlil,;i;"
d^
auh
;i
*
T,'Ii*
:: :' ln, ;;,
lalu' tt;r;"*.*:ly:::Tun,
b

e r

vang

:#i

? I. il"l: ,
*u,ukhir yang

"li)

lejolak Pt*t*],.^r.,ran
.)
peranuo"e,* ArstteKru,..r"ii:,t"ilTJ;i
- ^r^cis
r.run.unrun

[l**il

iiiiu,'x""-'T:11,-l;:;:iild,
Pada kurun '
pada kurun waktu

re60-1e?0'

Arsirekrur

to
f;|,)'i'"u'io'ti" APProach
";:r:;;;
^"L^!rr::Nili:"?"
rnenB.lrrvs"e
.'

adalah

::l[X'T'JI["li'"
kebudaYaan'

pada kurun waktu

re?.-re80'

u*'

;;:'i*i* "tll'?.iil;

Perancangan.

Pemikiran-pemikiran tentang metodologi perancangan


diilhami cara-cara Operasional Research (O.R), Ergonomics
dan "Work Study" di Inggris, dicetuskan sebagai reaksi
ketidakpuasan dari hasil-hasil proses Perencanaan Tradisional
"(black box") (Jones, 1969). Titik tolak pemikirannya pada
dasarnya ialah bahwa perancangan arsitektur dapat
disistematikkan dan dianalisiskan ("Glass Box", Jones 1969)
dan dapat dikomunikasikan secara objektif. Teori tentang proses Perancangan atau Pemikiran Perancangan ini pada
mulanya ini "pikiran" di negara-negara lnggris, Scotland,
Cekoslowakia, Polandia dan Amerika. Nama yang termasuk
pemikir-pemikir ini seperti Jones, Broadbent, Ward, Alexander, mulai dikenal sebagai pemikir Pikiran-pikiran Perancangan Arsitektur.
Pada sekitar tahun-tahun tujuh puluhan ini timbul pemikirpemikir antara lain Rappoport, Brolin, Jencks yang mengajukan pemikiran tentang adanya "Plurolity of Appraoches"
dalam arsitektur. Mereka mempertanyakan bahwa pada arsitektur atau khusus arsitektur modern yang selama ini diajarkan seolah-olah hanya ada satu (Sic!) ("Unified Theory and
Practise " tentang arsitektur modern (Jencks). Latar belakang
pemikiran kelompok tersebut di atas terutama berkisar bahwa
arsitektur itu hasil dan bagian dari kebudayaan, sehingga dalam
perancangan arsitektur perlu ditinjau secara sistematis akarakar budaya yang melatar belakangi pemikiran-pemikiran dan
artifact arsitektur yang telah ada atau yang akan dihasilkan.
Jadi latar belakang pemikiran-pemikiran tentang perancangan arsitektur sebaliknya harus ditelusuri dari cikal bakal
dengan melihat lingkup arsitektur itu dari cakrawala
kebudayaan. Dari hasil cara berpikir ini Jencks (1971)
menghasilkan antara lain suatu pandangan secara struktural
bahwa pandangan yang pluralistik tentang arsitektur
sebetulnya ada dan memang ada. Dan ketidak "diexposekan"
121

t)6

pemikiran yang lain itu selama ini, semata-mata hanyadisebabkan karena "pilih kasih" dan pandangan remeh adanya
pemikiran-pemikiran perancangan yang lain-lain itu sama
sekali tidak penting.
Adapun pemikiran-pemikiran untuk Jencks yang di
oleh kalangan pelaku-pelaku arsitektur (secara sadar
atau tidak sadar) selama ini berdasarkan "selective Values"
yang dianutnya, ialah pemikiran "Idealist". Menurut Jencks
ada 5 pemikiran lainnya yang perlu dieksposekan secara "Fair"
yaitu yang diutarakan dalam bukunya Modern Movernent in

"jagoi"

sitektur konve

I
I

fl

i:ri:"tff **ildJ"+f;J;3.",:;.fl

sff

1-

::,:n

;truf

tT.'""r.Hf,H;

i"iilf

T J;1,, Tf#
*, *.lg
,:::[iii,,:,i;:;,::,:fr,;xn';::iy;:i,#,,:;:;yi:rn
cnngan pembob

I
I

Architecture, bab six Traditions Politics qnd Architecture,


yaitu: pemikiran Self Conscious, Intuitive, Logical, Unself Conscious dan Activist.

litfi*#;:_ _iil:lffi:ixtn i?:,f_l;r,

Pemikiran Programming dalam Perancangan Arsitektur


Pemikiran-pemikiran programming sebagai suatu pemikiran yang nampak mulai mengkristalisasi di cakrawala Perancangansekitar akhir tahun 1980-an, malah dengan diterbitkan
buku "ffte Architect Guide to Architecturol Progromming'
oleh Palmer dengan sponsor utama \alah Americon Institute
of Architecrs (A.t.A), maka secara "resmi" Programming
diakui sebagai unsur pelengkap dalam Perancangan Arsitektur.
Adanya pelopor programming sebelum Palmer ialah antara
Iain White, Sanof, Preiser, Pena, Wade, dan lain-lain.
Dasar pemikiran yang dianut programming adalah "concerned" tentang semua informasi yang bagainlana' apa siapanya klien/pemakai yang harus jadi titik tolak dari segala
pemikiran perancangan.
Cikal bakal dari pendekatan ini ialah karena adanya
kekhawatiran dan keraguan dari pihak klien/pemakai dan
masyarakat umum tentang kekecewaan yang telah dialaminya
ketika bangunan yang telah selesai dan mulai ditempati (Broadbent, 1973), bangunan tersebut tidak memenuhi apa yang telah
diharapkan/dibayangkan baik secara fungsional maupun ideal.
Pada intinya perbedaan antara pendidikan Perancangan Ar-

t28

Effia,i';;ffi

pen

utis), iaut

. ^ ;|-.or".r'-or'i"'r ir

t::^utu " Tradisional

Ii*-]i#f",l'{:i.T{;in*:#*:uxnr

fl1::'[;.1'T,':: J"*

^
z.

d,

*;i;;il;if IH A::,U:f:r

':""''r (ucngan kata


- '""'urrtxaSlk,.D
b_o*") t,ton-.r1.u'urkan' dikomunik^
secara "grass
r,endidikan Berniki.
o--^_

,i#ffiffi,-;l:ttffi
L'.iiffi Ti,l IiT t,xl J[fi ffi .]l:;1,, +*
i,::#, il:j,iur .l;;ll[ffi .tl*i ;:i
lxlltili
)retrs, tapi
Iebih
1

129

III.2. ARSITEKTUR TROPIS DI INDONESIA*)


Oleh: Dipl.Ing. Harisanto.

i:ffiTxtlXt"":,Tii-ilffi*trtril?l"#ix'xll
upaya menc
rangka

Batasan Pengertian

Arsitektur itu terjadi. Kejadian adalah bagian dari


kehidupan. Kenyataan adalah persepsi subjek, umumnya subjektif. Kaidah-kaidah yang pernah dan sudah ada bila teruji
zaman, dan dapat/masih diterima sebagai parameter bagi suatu
karya tersusun dalam wujud suatu yang tradisional yang utuh.
Suatu yang tradisional adalah jumlah unsur pengalaman empiri dan dalam pengejawantahan serta perwujudannya (realisot io n ) mengalami penger tian ( i n t e r p re t a t io n ) subj ek. Biasanya
bila terjadi, pengertian ini untuk menjelaskan kepentingan subjek itu sendiri, bukan kejadiannya.
Suatu yang tradisional bisa disebut suatu keberhasilan (achi
evement). Dalam pada itu keberhasilan itu mempunyai dua
kejadian. Subjektif bila insan yang bersangkutan merasa
berhasil dengan kejadian yang diprakarsai, suatu keberhasilan
subjektif. Objektif bila subjek selain insan yang bersangkutan,
tersendiri atau sebagai kelompok (community/society) dalam
perjalanan kehidupan mengakui keduanya. Hal ini biasanya
memakan waktu, bisa tahunan, biasanya lewat suatu generasi
dan lebih, malahan berabad.
Rencana (plan) dan rancangan (design/ memang dua
pengertian. Dalam bidang rekayasa dan rancang bangun perencanaan dan perancangan terjadi, bisa berurutan atau berkaitan,
malahan sering bersamaan kejadiannya.
Analis adalah kejadian dalam proses perwujudan (realiso_
tion) dan merupakan urusan lain dengan perencanaan dan
perancangan. Bagan hasil analisis adalah perwujudan pola
pikir. Perencanaan dan perancangan adalah pengalaman
')

Dsajikan dalam Ceramah Ilmiah H.U.T XXII KMTA Wiswakharman Jurusan


Teknik Arsitektur F.T. UCM, Yogyakarta, 8 April 1985.

l3l
130

I
Pengertian alih teknologr dan kelestarian buminya belum dirasa

i::ijTl;

ffi1',"',x,:"ffi,Ie*:ffi1ff11'J#is::'"'$ff

#g**

dapat saling mendukung.


Konsep perkembangan (developmenty) pada hakikatnya
adalah pengakuan kehidupan. Dalam waktu ada perubahan.
Kejadiannya adalah perubahan kehidupan, struktural dan
fungsional. Memang cepat-lambatnya, sekarang nanti, perlu
tidak, bisa diselesaikan dalam waktu. Barangkali fungsi dari
mau apa dan bisa apa.
rg

Wawasen Percobaan dan Jangkauan Nyata


Arsitektur/Rekayasa dalam Pengembangan

di

Bidang

Beban tanpa ada kepastian yang memadai akan memerlukan

penyelesaian khusus/sementara. Yang diperlukan untuk

**ffi

I.;[l:.'11il,$l"if.*f#i:;:f U{*rm'.rl
b:."Yifiil;''' lndonesi
kawasan
di
(Nigeria, et-al) da

,u,i-ru,rnyu. ,.-, jumlah penduduk

sumber'
bisa merupakan

KePenduduka

#ffi
ff##*

Rekava'",:ffi ';.,,l,l,lliiul"iJJt'".o'*i';*:il:::frTIrekan

dengan

;itxn:rtlY":-,m:ltfit'ilJt1l5r.rni;:'T
budaYa Perlt

132

menghasilkan S-1, siap pakai adalah empat sampai lima tahun.

Untuk teknisi menengah adalah tiga sampai empat tahun.


Untuk ini masih dipersyaratkan fasilitas Diklat dan penyelidik/instruktor, serta perlengkapan/peralatan termasuk
kurikulum dan buku yang memadai. Masih ada kebutuhan
akan S-2, S-3 untuk riset, dan pengkajian, dan lain sebagainya.

Kapasitas yang kurang, membuka masuknya rekan dari


luar Indonesia. Hakikat simpang siurnya ilrnu dan perubahan
serta pengembangan teknologi mendukung hubungan dengan
rekan dari luar Indonesia.
Keadaannya lain adalah masuknya dan diperlukannya
perangkat keras untuk kerja dan produksi serta produk yang
mempunyai pasaran di lndonesia maupun bakal hasil yang
dieksport, yang nonmigas. Konsep padat karya dan padat
modal masing-masing ada.
Justru pada masa peralihan, sebagaimana kita alami
sekarang, relatif hasil kerja memerlukan pemikiran, usaha,
kerja, dan dana yang lebih. Hal ini mendukung hal tersebut

di butir 3, dan2.
Diperlukan waktu untuk perkembangan; konsep; rencana
dan rancangan, pelaksanaan pembangunan, uji coba, peng133

gunaan dan perawatan, pengkajian dan penelitian untuk kembali menghasilkan umpan ke konsep.

persyaratannv

' a adalah Pensertian demikian


di piha k pem
beri
Mensada ka,
:,,:
t
u'u t an-',t:":u'
/
P
erl
":
m engaman
en
E
kur l^|,:f
vans memadaidan
naan butir ,,
il:Xiuuoun

tugas.

Dalam kemajemukan aktivitas di bidang Ar-

sitektur/Rekayasa: survai, feasibility, planning dan design,

detoil design, shop drowing development, pembuatan


mesin/peralatan dan fasilitas, pengawasan pelaksanaan pembangunan, pemasangan mesin dan utilitas, test-run, operotion
dan maintenance dari sistem proses/produksi; untuk mengembangkan produk; survai, need definition, morket feasibility,
technological feosibility, design, mathematicol model, test
model, engineering, process designation, machine loy-outing,
mochine- redesignat ion, facilities / spoce room requerements, site
feosibility, site surveys, mosterplan, detail engineering dan
seterusnya; diperlukan waktu untuk memperdalam keahlian
dalam masing-masing bidang rekayasa, memenuhi persyaratan
kerja/proyek.
Diperlukan waktu untuk basic research lewat proyek nyata,
dengan persyaratan hidup (viable) untuk mengisi aktivitas yang
menerus. Kemudian sejajar dengan ini, memang applied
reseorch lewat pengembangan produk/komponen (bangunan)
atau sistem.
Terlihat aktivitas majemuk yang perlu terjadi. Semua serba serentak diperlukannya. Memang berat kenyataannya.
Tidak ada kecuali apakah itu lembaga pemerintah, semi
pemerintah atau swasta yang melaksanakan.
Proses ini akan terus terjadi. Melalui suatu perkembangan
(developmenl. Melalui waktu, satu demi satu kita kumpulkan
unsur-unsur empiri, pengalaman menjadi ilmu; mengikuti
kehidupan. Hidup dan waktu.

,.#'jl1til;;

nfu I

;*flritj

fifrtir T.ii ; ft{fl il

;:[::,T,[,[l'*.iff Ef,

,,",r.-::

)'";:'--

:l r;;

;:
'

;;ffi:x,urermasuk

our,!!!"'

liiql

]Iii{.;::"}}1##;
hu

tT:j: l, I::i:
i:;r:xi*,lff
a,,
:ttt'
inr

masi/pen da

"v."'

r-1,1t'

rco m m u n i
m end e fin isik

:ffi #,fi:',fiii#:;;# nil'

*iiir:;;;l tit { };, ffi

_-_______

# i::, ilr:;

Iffi ::'

:i: i.:?:

,,,ffiiffifr1'-itffl,jfffi
nrun-o,il,ffi

&
a

;:xfilfi,J;1,

dapat

Sikap dan Tindakan Sekarang


Dengan tenaga ahli yang ada, menggalang keterampilan
dan pendalaman materi profesi bidang, lewat penanganan proyek, sebisanya yang bersifat pilot, majemuk dan multi-year.

134

t35

tu.::__---

III.3. LABORATORIUM
Oleh:

ARSITEKTUR TROPIS*)

,Tryffiifftrffi:?:il.'erwuj

Ir. Mauro Purnomo Rahardjo, M.S.Ars.

sasasan,,,

kalangan awam, kalangan pejabat maupun di antara para ar-

*)

Dituiis untuk Forunr Nasional Pendidikan Arsirektur (FNPA) Semarang, l6-19

April

136

1984

den ti r as

yans pasri renDiskusi vaa nB berkepa


nja ngan ty!1r<
f"J ;;;;,r
a l.an mem
ba r,,,a man-

Masalah Arsitektur lndonesia dalam masa 3 tahun


belakangan ini mulai ramai dibicarakan orang, baik itu di
sitek sendiri. Dalam pembicaraan baik di media publikasi,
dalam simposium, seminar ataupun diskusi-diskusi, boleh
dikatakan belum ada titik temu ataupun kata sepakat tentang
apakah Arsitektur Indonesia itu.
Ada kelompok yang menunjuk pada karya-karya Arsitektur Tradisional sebagai pencerminan Arsitektur Indonesia;
itu pun masih simpang siur, sebab ada di antaranya yang
merupakan arsitektur rakyat dan ada yang merupakan arsitektur ningrat, ataupun bangunan-bangunan umum yang
besar pada masa lalu. Mengingat negara Republik Indonesia
ini terdiri dari beraneka ragam budaya, maka ada kelompok
lain yang menunjuk Arsitektur "Bhineka Tunggal Ika" itulah
yang disebut Arsitektur Indonesia; Arsitektur Bali misalnya
adalah salah satu dari contoh karya Arsitektur Indonesia, tetapi
Arsitektur Bali secara sendirian tidak dapat disebut Arsitektur
Indonesia. Namun demikian jangan heran kalau ada kelompok lain yang meragukan eksistensi Arsitektur Indonesia, hal
ini karena mengingat pengaruh asing, perkembangan bahan
dan teknologi dan semacam itu yang sangat kuat melekat dan
mewarnai Arsitektur kita ini.
Terlepas dari berbagai pandangan dan pendapat-pendapat,
yang baik sejalan, sejajar maupun bertentangan itu, ada kaidah
yang dapat ditarik dari gejala tersebut. Ialah adanya kesadaran
('awarenes') tentang arsitektur milik kita ini. Ada kesepakatan
tentang masa depan karya-karya Arsitektur di Indonesia, dan

ud

"ir:ilffI

qremperlihatka
u,n r u

k,.,*,;ii

rlflfii

H:,,,fi,1"u,tuk.men*.,,n*,*rm

nf

ill,.n
;,;;;1fr i 1yang
f : t;kita#iissue_kan.

ff

Parameter: Arsitektur
Tropis

#I,Ti"',H,,J,15;;
mempunyai
satr

;:l:il

#xti

heiasam hudaya
dan

lr,, r';t H' 1:


,3
*,1 Jttu Tdi"""
r ndo ncsia,
rk rim ;;;;",JJ".: ?:l
panas clan lcrrtbap'
":r:T
iru terbukt;',"ioi,"to""
rerhadap .uru #
mrmbaw:t ktintsft11gnql
da, bangunu, ,.1n"i: ';;;;;;;r
tlipe,.tuiJnl'1"'l-,n"oran saranir'sarana
dungi diri rerhaalne,
saia rrrtt,l' rnerin<ran rerik ,u,rn,llnr.ir; ;il';;ir\alnva separtJarts
tahun
reriris vang ms.L:1 I"'S ;.n;r;:ssuns
otu'n teliilt rncqibuat
Bentuk,.ri,i.'llul .t'[urr,'fruii"'
tergttl..,rtg lehar'
perharian ar.:irek
seperri yang sudahilullrr';';'#;;:irr"u'
m

a.s i

#:.;ff

ng- m asi,

,.*ulberkaiya;,

keheranann,

ruar,

i,,.i,ir.,

;;;r*;ll;
i#ili"
hentrrk
bancur
lutu.ru.-p.'t,,o"Jl''"*
saar beriau

ifi]

fl:illl:;,?i:;

varrs fliirrsnai

yans banyat
!"tn.r,joriul"#un ben{rrl barrxunandi
iu
cocok unruk 6;,.n,1111 ai'rur,a.r'Jr";n""^

";;
k{

;rr3

;H',il ljtn rtlt fl #f;1,;|!Til:TJ;


: : :r
p"*o r ulu,';;"01' (' a rp o d b' )
ill,';ffi|, Tff ll'-t;:q,,
clt sepanjang
ubuh
b:t"tr;;,,;;t'
se

masuk. perhatian
panas
ultl t"'u' uiJ,
paur Rudorr
l'ui,:,'!n'ntrsilakan
r.ro,lli,
yans berser,
:? : : :,:il ffiT".l,ij
sangunan"*-r.,,riifb',;;;;;";;;,;'fi
yans
sepeni
;;;;#1j,l,To"*uttakan kr

i;

n.,ggu,*,;;'.6iffi

:*lfuT,;f ;*-:;Ii'fll;n:?,:
n dan iniakan
mem137

uar ban gu n a n

:il:

en !

ad'l

:':::, :: :J;' -.'11 lilil, li?J lii|-T,?l:

ffiir;l.ili-..ffi

l,i,U

:;:fl"y,-:.i;
E*;l;;;;l
ti^d'unon sekitar 600

Pendapat Yang
tti
KLH, [:rniI Salinr tJ#J.lrjaiurl"'u
; ;i-t; i-,''y: I I
r
sarian a ars i t e k tu o'
i?;],!t

il#"T'i';Iil

1::ili ;;; ^ r iuu- *.rl.ut


Jlljll.::,^'
Menteri nrengelnuKa.l3'"1,-,'l"rnu
yar
rrt*"*engg'nakan ben-

Lffi*;;,i,

-u:::

Barrk Bum'i Da!a


bangtrnan scnlacilm.
tl;rwaltnv-a rrtirip tritpestunl
ftuto utni*on Uugiun

tuk ntenara
dan

atasnvo,,''o'u'I'Iil'

;;il;;" P::'1.:,';':ll'l".ffitl#
Haru tiu

IJ#;Tst^N di KebaYorart
t-t"si cieugor* linukungatrnya'
untuk dipandang' ?;;;;;
ffi;;
orang r*', *''ffi;
l'J1il :if X'tH
t"
tr""t1:*:
pe
r
ar
cr r'r
l
t'
it'*
"'':
,ui J"'p
i''j ; ;',1 *, n, rty u' ux
e

tt

ia ta

'l'Jill":I.,l;il',lr;xj;J'lf
misi yang harus

*'B:ll3:i;li

*iI-''*"u

if !$;;;;;;ungi'*uur"n

yang sedang
cialarn nrasya'akat

i;ili:

p*,,i a,,*,

jl] ili: tindakan"'


ll<la1
I l1'::. i : l:
lne;i';rarattkan
murii'';;;;i;;'
kita dukung:
kecuaii L'ita
rnin **iotui jalur vartg
tindakan rit"' uit#'i
Pendidikan'
be r k

<

['ak*
Arsitektur d*n'Tlmgkuh
Dimensi lain

tropis

i.1 !
ur,t uk i:lre,n14ada ka11

rr

iaiah'-.;;;"-;;*1nr'''u*1

heda
tnt-unuuio I n'ioriesia'uer

ra

il r t:rl' adiiF Ar sil ek tur

;;;lmfl.ili?llli;

perwut**gtn
i ingkah laktt tttentttrtut
fi;;;;;'
tiugrli
laln
adalah:
antara
Jig"l*p ok:h arsitek
judan ruang'
'lri'ot'*l* 'u"e

manusia

tfl
'uurli*,r,,, i i! im r . "i1;r., ;ri. t,,' i lrl*'-],'*:,1"J,ia rliir'rar
1X;, maupun
baik
p"9'"
i"un'u'n
Yu;
dapat'*'uo '"u*u'
rlettgan negara
l:rgi ini tidalr sama
dr dal;rrn

p'r n ili rJalarrt


''u"**l*I'''i-[-ir
*T* ; ;; ;" *;;1t a si nr
din gin,'*t, o*'ot''

han gunan'

khususnya pada sa;rt musim dingin (saliu) tiba. tklim dengan


sendirinya ikut menrbcntuk kebiasaan lnidup) masyarakat.
\ebagai contoh masyarakat senang ineniknrati ngobrol dengan

rekan teman-temannya di luar bangunan" Ruang luar lebih


ban.ysk dinikmatr Can juga dapat lebih tama dinikmati.
- Sehubungan iierrgan hal vang ciirrrarkan di atas itu. maka
Tirnbullah p.rrunrur,n: Aclakah ruang-ruang luar kita ini
mencerminkan h;rl tersehut'l Banyak orang yang dapat
rnemperlihatkan hahwa pada saat nrerencanakan dan merancang lingkungan trLratan, ciapdt diidentitikasikan iingkungan
yang dibentuk itu 'mirip' dengan yang ada di Arnerika, Eropa
dan seterusnya. r\lasan vang dapat
atas t"enomena
"likemkakan
rtu ialah bahwa perancang-perancang lirta sudah 'westernminded', melihat contoi) ala lJarat atau negara maju, tanpa
rrrelihat potensi yang dimiliki sendiri.

Mengernbangknm Arsitektur Tropis Melnlui Lab


Jelaslah vang dapal dipakai untuk ukuran Arsitektur lropis
itu ada dua ntacaln: Kehuda;;;.ran fisik
Kebudayaan nonfisik
Keduanya daFat dinikmati baik ntelalrri eksperimen
maupun penilaian sosial. Dan boleh dibilang perhatian kita
terhadap masalah Arsitektur Tropis ini masih belum
dikernbangkan"

Jika kita rnenoleh pada arsrtektur di negara lain yang


rnemiliki identitas yang kuat, seperti iJiAsia misalnya ^Iepang,
Cjina. dan India" rnaka kita dapat ikut merasakan kebanggaan
mereka sencliri. Agaknya yang mernungkinkan negara-negara
itu memungkinkan mengembangkan identitas arsitekturnya
yang nasional itu ialah antara lain ada kebanggaan di sanubari
masing-masing warganya atas kalya arsitcktur tersebut.
Sebagaimana kiia sendiri juga rnentbanggakan tentang Bahasa
Indonesia yang teiah rnenyebar rata di $tgenap peniuru tanah
air. Sebagai frlos*fi pengernbangan latr, Arsitekiur Tropis ini
luga dapat disehr,i antard iain nicr:gg;riirng persutuan nasional.
t39

l3ri

Apalagi dalam dunia pendidikan bahkan Gubernur Jawa


Tengah saja dapat mengeluarkan instruksi-instruksi yang
mengharuskan pengembangan atap joglo dalam salah satu progranl yang dikenal 'Wawasan ldentitas'. lni artinya bukan terbatas pada disiplin arsitektur saja, visualisasi yang
berkarakteristik lndonesia ini.
I)alam banyak hal, program-program yang berorientasi
nasional ini clapat atau mungkin dimintakan bantuannya
kepada Itrernerintah. Khususnya melalui pengadaan atau
Program-program penelitian.'
Dilihat dalam konteks pendidikan arsitektur, maka secara
nasional clapatlah ditetapkan sebagai ciri-ciri yang somo yang
dimiliki oleh semua perguruan tinggi atau pendidikan arsitektur: yaitu mempunyai usaha yang seragam menggalang
terwujudnya ciri-ciri nasional arsitektur kita.

Dalam fas, yang


Iebih laniut. telat
canaan yang
dirakukan suatu peren_

b"[;;; E,;*1LlXrr!.#il:,
ui'#isarnya
i:::1, :,,..,.u
,;.T
+,
il ; ;" ifdtperlukan'
fj1, i#.;,;ru*:i: il I,,##
I::: T:::
bae'ima'ia
i,,
"

J<egiaran

: r1 # ff :Tn

a. Yang bersifat

Pemikiran Konseptual ('Conceptul


Thinking')
b. Yang bersifat Konfigurasi (Ruang, Bangunan, Struktur,
Konstruksi, Bahan, dan sebagainya).
c. Yang bersifat Implementatif (pelaksanaannya).
Dalam pemikiran konseptual, tentu lebih dahulu dipikirkan
tentang sifat kegiatan itu, apakah kurikuler atau nonkurikuler,
adakah kegiatan itu jika dilakukan oleh mahasiswa akan
memberikan kredit. Apakah kegiatan ini lebih menekankan
segi pengajaran, penelitian atau pengabdian masyarakat?
Bagaimana mengenai waktu, dan dana. Apa tujuannya yang
pokok? Apakah bisa diintegrasikan dengan kegiatan jangka
panjang? Apakah merupakan kegiatan kerja sama dengan lembaga lain, seperti misalnya dengan perguruan tinggi yang lain.
Adakah kegiatan itu bersifat rutin? Atau secara insidentil
saja dilakukan?

:[r',:t##
,,l"?ff","rtr

JxtilTttj i; :t#
ffffi I pil;ril
frTf;t
i:;:
seda1s r,,, i.Iffi
: iff :iH, ff :lX ^r:, g, v, r,.el"iin, n,,
A
ni, o. ;.i; u,;.'""nn va' darah pen ting
,:X',::rfi?:iu
kegiatan
}l'o

tersebutl
sehubungan 0..'1':':uPuu;
mekanisme vans
baik
i',''
rersebur, ,.lrr,
melakukan keiiatan
oli1',,
telah dipiki.*un
seperti miialnva
i-'uuu,,"oj'ttlrium
yans oi..n."nul::s"T ;;;;#axtr,Yo'
bekerjanva peralatan
mahasiswa ,.,unk1l .931
rnr Pelaksanaannya

Aktivitas Lab. Arsitektur Tropis


Kita dapat membedakan tiga macam kegiatan menurut fase
aktifitasnya:

;rftfiffi

i,u'rlilulhunnvi'

":;;;;'J'"'
.lrJil;#l'
;;i;;"

'"''
t..r.bi'dlPirtittun-uiol#'
:il..'f
metodorogi.,.J'J;l"I*::::i{f
dipikirkan

Sebagai

pengajaran,

conroh,
maka

ilil,.,flln.a.
j

;#;;ffi

,1

#-ffi li.ff ::f

,,

ll_!'l

di t ekan

kan ke segi

,tftf ;xtffil'#
i.t"uLu:l##i:r!!*fi,,trff
vans bersrrar erektif.
Jika
i:*:",i!':

inginkan prosram
g,

#;*'ffi lH'T ##,Tg,

1"-, l :'",
m-e.neliti
bahan, penc.ar,ayaan

da qa

di-

r p, r u a iCuie,
n

konstru k si yine
1;'J1m,
terusnya. Sedang
datam r,a ,,,.lupu;;;,tJ::,1:, rropis, aan semasyarakat, dapar
ur", -" -.,.] |] T un. Itgia t a n pen ga bd ian
t

;ffi
:

#.,?." #I'?#'ff;[111"
. Sebagai realisas.
+:J,',','
ben

ru

"#H?

ra

1;;

borat ori

r:i.it

;:'f,

u-."rJfi

ffiT'ilf mf]
:fl1?;i

r''

t#

A rs i, e k,

"ff
ffiil,flXli:lT,Tfl

fr [H.

140
141

Parameter arsrtektur tropis dapat bersifat:


o Fisik (bahan, konstruksi, pencahayaan. lingkungan, datt
seterusnya)
o Nonf isik (ruang, visualisasi, prilaku, kecenderungan, dan
sebagainya).
Laboratoriurn Arsitektur sebagai kegiaran yang mewarnai pendidikan arsil.ektur di Indonesia.

III.4. ARSIT.EXTUR TROPIS:


TTNJAIJAN DARI
sEGI FISIKA uANei;i\AN*)
Oteh: DR.Ir.R.M. Sugijanru

Menghasilk"ijrlgi:i

.xlffi'r

ser

# ::x

t"

Iingkr-rngan yang
sehar dan nyaman
h
*j,, J,l I

;il;ff ;\:.1:: {. ;;,

".,

ubung yang memi:.;k;;'

J#;'"I,T J:i:-.,,i,-#Xffi;
lr;,
;;r;
Lffir*un dapar rr,enlubah
pengaru h tangs
ung dari ikrim, ;;;i
;ffi}-,x,,",, :lr,:: i:^.r*l
m ah
i, ng n un k. r.
dengan rinskunsan,.Ji

Catatsn:
Pada saat ini berbagai informasi tentang arsitektur tropis ham-

ar

pir seluruhnya kita peroleh dari literatrir asing. Sudah saatnya bagi kita untuk rnengernbangkan sendiri arsitektur yang
kita miliki.

ar

*,
ffi ll j,H: ljl,ffi *,

;;;; ;#, fiii: l;,,l,JJlililjX}


0i,,0"i1,,
seditng kari yong
uui

Kondisi linSkungL,l
di Juar.bangunan
direnrukarr oleh iklim
serempar (iktirn makro)
,Ju,,

;ili-l'jif ,iXi#"',

kesehatan

i;;;

s*'r'ne
.

k.;;;;;;ti,gkungan
'ffiffit'
di sekitar_

.ro, t"nrllflgirtkan

;i #;;;/|"][Til#If

hcrganr

Iingkungan rri .aram


un.e kr:pada kriteria
r

#:,;,fi,

an baei

uc.,

[n,t,,,,,.

t" rla.larn ba,rgundiingink;n dapar diusahakan


ol:::
Lengan
Di antaranya aclalah:
betrerapa cara.
" yanS
an

--

dengan bangunan sendiri,


cJibanlu clengan faktor_l.aktor
dapar rJirnarf;u; k;:' "
vans
1k_lim
q.engan
sepenuhnya r,rL,r5tsuilaKan
rnenggunakan perirlatan
elektris.
mekanis/-

canaan
,"#,1";;;lr?T,Jfl ,, peren
n isli

;;

ri

da

bangu na rr.,

erl at u bebas d ar
am

br;r;#;

brh;;
d:^j,g-1
mempunyai p.ne.,ish]ll"riltffiping itu perencana
perilaku bangunin
aun ,;rui-liru, ornlllrlffir,Hl
ponen
aieu

nur#

bangunan dalam

')

Disajikan dalam C,erar

matt" Jur.

iuir"i"rr."#,1,

llrniah Peringatan 22
ta

r.rniu *lll-1
irckrur Fr

;;i:;U,#i:.[Tl,

;lJ'na

h*;;
*r;[:
Khar_

142
143

rnerencanakan
pada cara kedua, perencana,-ll',ut
gan digu nakanDen
t

uilit'luii' :t:t::t;bi aya-biaya perencaaip"'rurtan


nya peralatun-pt'utut'#iniu.*i31
on i.*
3t?*
naan, pen gaa uun
t"' 3;:Ii,ff xtilslJ

Demasan san

pttulut

Di samping itu peralatan-peralatan

l',';#;;r*ttin

tiaaf<

:#a#fi*?'"#:l*Hi[1*r*,grxtx***'r*:
Karena
konstrukst'
konstrukst
bahan,
Tt"11':: :::;;;.ifat
dengan sifat bahan'
-ru
misalnva, vung ut'n';;;;;
gal
r u an
n-gs
im I
" u,;?,T*:X1Xli,l"
iu r., o. - r ur, o r i u
melrgusahakan cari
sebaiknya perencana "
*i'it' o?il,* u"nnren
m un gk in' I l'u
untuk
,eralatan sekadar

diineinkan'

Illi

":'lollll[1 J:*#ilT

H;il;

ini'akandibatasi

,"Xl,-'lffif
*:l';;ffi I,T'Hffi
dan kondtst
p.n.rungan siang hari

oada kondiri ringxungln


"','ffi
ungun thermal'

horisontal rata-rata harian adalah sekitar 400 watt/rnz, dan


tidak banyak berbeda sepanjang tahun. Keadaan langit pada
umumnya selalu berawan. Pada keadaan awan tipis menutupi
langit, Iuminasi langit dapat mencapai i5.fi00 kanelela/m2.
Tingkat penerangan rata-rata yang dihasilkarr rnenurut
penukuran, yang pernah dilakukan cli tsanclung untuk tingkat
$ene.angan global horizonlal dapat mr.rrcapai 6{}.000 lux.
Sedang tingkat penerangan dari cahaya langit saja, ranpa
cahaya matahari langsung clapat rnencapai 20.tfi) lux dan
tingkat penerangan minirnurn antilra jarn 08.fi) - 1h.00 adalah
10.0@ lux.
Kecepatan angin pada rrmumnya agak rendah. Sehagai con-

toh kecepatan angin di Jakarta dalaiu saiu hari berkisar


antara I m/s
- 4 ms. Inilah gaml'iaran secara garis besar
mengenai iklim di Indonesia !'ang tropis lcrrrbap yiing perlu
diketahui oleh perencana bangunan untirk dirrianfa-rtkan segi
baiknya dan ditanggulangi segi buruknva.

iingt

Kondisi Lingkungan

Lembap
Ciri-ciri dari Iklinn Tropis
yang terjadi di
tropis lembap seperti
iklim
dari
yang trnggr
Ciri-ciri
kelembapan udara
un'ul'lnv"
tanun'
lndonesia ai
"iii"rl
,.ru,if panas sepanjang
iiig
menakan
temper",r,
80eo'
dan
sekitar
"lui"

hendaki

iii'"u'91*
Kelembapa" .d":;;;;
*' ll*'i""'1-;'3t* ItrilT,Tl I' H ffiY:l:
ap ai ma ks i'"'
ini harnptr
c

ir,iu,,iio'uo' Kelembapan

ffi#":?:;f"Hxl-l':i:';
I"'"

temperatur
suatu

rendah'
.lrffi
tinggi letak
Makin
12'C.'
udara

maksimum t"t"
"kitar n''ut'u
tempat oa'i pt'-tl'i-i[^"'i".o''un'urt
berkurartg

it*peratur

^akan
kenaikan 100 M'

:;*

"t"]i*1"'o^iic
sebagai conroh rri,.

ilTj} #l:ti;"tTi,'J.H.i::#
8'6' c'
'HIl#T]':lt,
7'i"-',,iantinggi dengan rata-rato
Hff
1

Ciri

t*un

uiurlr''t''un

l1;d;;
sekitar" 1500

r"i'"

v^ne

"iut'un''

i"oi""ti maiahari

global

&. Kondisi

di dalanr

ffiamgunan ysmg Dike-

penersngsn alnmi siang hnri

Dikehendaki di dalam bangunan, penerar4ian siang hari


dapat memberikan kenyamanan visual, Misainva tidak terjadi
penyilauan, tidak terjadi perbedaan yang Lresar dalarn tingkat
penerangan dan besarnya tingkat penerarlgan memenuhi persyaratan fungsional. Dalam hal tugas visual yang dilakukan
di dalam rumah pada umumnya termasuk tugas visual sedang
misalnya membaca, menulis, nlemasak, dan iain-lain. Tugas
visual ini memerlukan tingkat penerangan miniinal sekitar 200
lux. Kondisi penerangan di dalam banguniir; pada siang hari
sangat dipengaruhi oleh kondisi penerangan rli luar hangunan
yang selalu berubah, sehingga tingkal penerangan rli dalam
bangunan juga akan selalu berubah. Oleh sebab itu kriteria
untuk tingkat penerangan di dalam bangunan tidak dapat
l4-s

144

Kriteria yang
tertentu (dalam lux)'
harga
dalam
tingkat
dinvatakan
;;;;'peiuanoinsan antara
digunakan adalah #i;

;;";;;*""01':":: j:,Jl"nll:lm:'Jl:ff :,lXX!lXi:d:'

pada waktu vang sama'

:'"'ffTii[*'I"-ffi;;^";;k"'
tetap dan disebut
h-argayane-dinyatakan
*t'uil[un
Perbedaan ini

dalam

'uut'
t'"'ti-irpl' dan
faktor peneranganffi;
5000lux' ttttk
luar lingLat penerangannya mempunvar
di
Misalnya
Dersen'
fp - ltto
pada bidang kerja

ffi;'ffipunvai

""t:i,TH;ll:TI:lJ*:,111:l'*::lli:3Tli;i.':[l
tingkat

i*

i'"r.
"r,,I

Adhiwij oeo)'
!:"T.'T:;L;id;oo
ro'00 adalah 10'000 lux'
ogt;o-langit
cahava
""tJ'""i#ioq'' J"di iixa suatu titik pada bidang
ut,"fll"
faktor
memdengan
;"[a titik tersebut akan
kerja vang
200 lux antara
'"*,'ii#;;;q;'
ptnJ'u*un minimum sebesar lOvo'
punyai tingkat
i"xt"r kegagalan bangunan'
iam 08.00 - l6'00';;'ti'"'
di dalam
Jadi diinginkaf ;;;;;t';h-daerah
mempunyai fp rata-rata
tugas visual sedang'

dilakukan

sebesar 290'

Thermal

Kondisi Lingkungan
. -,^L -o-chrr '
K envamanan tt'ermat'T,*. I lXi:l"lJ}:l",Xl'illll,
faktor ta
Alp..gJ*t'i oleh beberapa ulliy' udara dan radiasi panas'
k;;;putun
kelembapan td";"'
dilakukan dan pakaian vans
Di samping
Kondisi udara di dalam
"ituitJ;;;*
"'
j'*'
*i;;';'pt"i^turl'
dikenakan
(thermit) ialah jika penghuni
a'nutu.iu'n
bangunan
'yu*u"
tidak- merasa dingin'
kommerasa tidax panis--dan
dirasakan nlaman mempunyal dan
Kondisi
'Ou'ulu"g ^d.rurnru
dari temperatur' kelembapan
binasi hu' gu-tla'iu'*'Itrr"
naiga dari masing-m.asing
kecepard. urirun*liur^.
harga-harga
dalam suaiu selang
besaran tersebut-Ut'*a"
kesan therudara yang memberikan
tertentu' Suutu. fonAisi
sebagainya'
dan
dingin' seiuk' hangat
ITlol tert.entu m'salnya

b.

dapat mempunyai kombinasi dari berbagai harga untuk


masing-masing besaran tersebut. Kombinasi dari ketiga besaran
tersebut dapat digabungkan menjadi suatu besaran, yang
disebut dengan temperatur efektif. Temperatur efektif ini mempunyai pengertian sebagai berikut, suatu keadaan udara akan
memberikan kesan thermal yang sama dengan keadaan udara
jenuh dalam keadaan diam, pada temperatur yang besarnya
sama dengan temperatur efektif tersebut. Misalnya keadaan
udara pada temperatur 32C, kelembapan 4290, kecepatan
aliran 0,1 m/s akan memberikan kesan thermol yang sama
dengan udara jenuh pada keadaan diam dengan temperatur
27"C atau ternperatur efektif 27'C.
Penelitian mengenai kenyataan thermal di lndonesia pernah dilakukan oleh Mom dan Wiesebrom (1940). Kedua
peneliti ini membagi daerah kenyamanan menjadi tiga ialah
kondisi sejuk, nyaman optimal dan hangat. Dihasilkan harga
ambang yang berlaku untuk orang Indonesia dengan pakaian
biasa dan kecepatan udara sekitar 0,1 m/s
- 0,2 m/s aclalah
sebagai berikut:

l.

Ambang bawah untuk kondisi sejuk adalah

pada

temperatur 23"C, RH = 5090 atau temperatur efektif


20,5"C.
2. Ambang bawah untuk kondisi nyaman optimal adalah
pada24oC, RH : 8090 atau temperatur efektif 22,8"C
yang juga digunakan ambang aras untuk kondisi sejuk
nyaman.
3. Ambang atas untuk kondisi nyaman optimal adalah pada
28oC, RH : 70Vo atau temperatur efektif 25,8oC yang
juga merupakan ambang bawah untuk kondisi hangat.
4. Ambang atas untuk kondisi hangat adalah pada 3loC,
RH : 60Vo atat temperatur efektif 27,loc.
Keadaan ideal adalah jika kondisi thermal di dalam
bangunan nyaman optimal. Di daerah pantai atau dataran rendah pada siang hari sering sulit dicapai, tetapi sebaiknya masih
berada pada kondisi hangat. Sedang di dataran tinggi pada
t47

r46

r
dini han" sering tidak pada kondisi nyaman optimal, tetapi

l59o dari luas lantai. Dengan


batasan_batasan posisi lubang
cahaya di dinding-pua,
r,Jtinggiui"y"1, normal
dari langit,
lebar teritis sekitar t m,
fakto]r"r.n.tri cahaya rata-rata
permukaan dalam ruangan
sekitar
_ 6070, tidak dari
penghalang di muka
ada
l}Vo
lrb;il;;;:--'- dan
- kaca penutup lubang
cahaya adalah kaca benin;.
Untuk bangunan/yang-tidak
terlalu dalam, persyaratan
dapat a""I"r'rrra"n
l?ijil,it'eransan'iune

sebaiknya rnasih trerada pada kondisi sejuk.

Perenesnsan Bangunan untuk Mendapatkan Kondisi di


dalam bangnnan yrng dlinginkan

a.

Pe*rerangnn

il

nlrmi slang hari

[Jt..r.ir,

Cahaya alanli siang hari yang terdiri dari cahaya matahari


langsung dan cahaya matahari difus yang diterima di permukaan burni di Indonesia r:ukup rnelimpah. Sudah seharusnya

dapat memanfaatkan sebaik-baiknya cahaya

b.

ini untuk

penerangan siang harr di dalam bangunan. Tetapi untuk


maksud ini, cahaya matahari langsung tidak dikehendaki
masuk ke dalarn bangunan karena akan menimbulkan
pemanasan dan penyilauan (kecuali pada pagi hari, cahaya
matahari langsung dimasukkan ke dalam bangunan untuk
kesehatan). Sehingga yang akan dimanfaatkan untuk
penerangan adalah cahaya langit.
Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi
dalam 3 komponen ialah komponen langit, komponen refleksi
luar dan komponen refleksi daiam. Dari ketiga komponen ini,
komponen langitlah yang akan memberikan bagian terbesar
pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang
cahaya.
Untuk dapat memanfaatkan sebaik-baiknya cahaya langit,
perlu diketahui faktor-taktor yang mempengaruhi besarnya
tingkat penerangan pada bidang kerja. Faktor-faktor tersebut
adalah: luas, dan posisi lubang cahaya, lebar teritis, penghalang
yang ada di muka lubang cahaya, faktor refleksi cahaya dari
permukaan dalam dari ruangan dan permukaan di luar
bangunan di sekitar lubang cahaya.
Dari penelitian yang perrrah dilakukan, baik pada model
bangunan dalam langit buatan, maupun pada rumah sebenarnya khususnya rumah sederhana, faktor penerangan siang hari
rata-rata 290 dapat diperoleh dengan lubang cahaya sebesar

Kenyamanan thermrl
'*-U;gha yans
-d,Ll4kukan untuk mendapatkan kenyamanan
thermal pada bangunan
dalam iklirniropis lembap,
terutama
adalah -.ngr.rrgi p..otrt
un p"rrur,'.".Uerikan
aliran udara
yang cukup untuk
memenuhi nr.rylrrlrn
kesehatan dan mem_
bawa panas keluar rureunun-rl;;;;;;:.r"h
radiasi panas baik
dari maiahari

I:ff

'"'pr"'a;t

fffiXng

,a:-Faiolehil
bahan yans

p.irrrl*;;;.

dagat. dikurangi dengan


...,rrrnuiun
mempunyui tuh"n";;;;;,
yang besar, sehingga

b;h#;;;'ebut'

baha;

"*lffix;:l'#::rb"
bantu;;il;o}:!{.iX';:li:,t.f,::,'i:i,:fi

;;;*B;'

;,fl

mn.
bunan panas di dalam.bat"i.
ilrii",';,:r" akan memperbesar
perbedaan waktu
terjadinya ,._r"#r, maksimun
antara
kedua permukaan uala.n
d*
maksimum tersebut. Sebagai il;;ilgan teaua temperatur
.*at'iiraing bata mempunvai
tahanan dan kapasit* punu,
yd;;;;. Sedang gerreng
mem-

#l',T*fi t*fankanasit";;;;;.';;sbbih"b;;;;a;ffi ;
^

.Permuk aan yang paling besar menerir

g ba h an u t
p uu" u _
kapasitas panas "p
yang
Seda

lebih

r;r;; ;;'#Jrffi t :fl :,flf lT;


k;i;ffiada

dindins. Untuk
memperbesar kapasitas panas
oari uatiln'utap agak surit
karena
akan memperberar
atap.

Tahar;;';;;",

dari bagian atas

148

t49

bangunan dapat diperbesar dengan beberapa cara. Misalnya

dengan adanya rongga langit-langit, dan langit-langit

serta
aliran udara di dalam rongga langitJangit. Penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahanan panas.

C; tillge

memperkecil panas yang masuk dinding, kecuali


memperbesar tahanan dan kapasitas panas, cara lain yang
dapat dilakukan antara lain:
* memperkecil luas permukaan yang menghadap ke Timur,
dan Barat.
melindungi dinding dengan alat peneduh.

Cara

ini

berlaku juga untuk uug'iur-ffiaffii!

y'ane

transparan, ditarnbah dengan penggunaan bahan/kaca khusus


maksud untuk mengurangi transmisi panas yang masuk ke
dalam bangunan. Perolehan panas dapat juga dikurangi
dengan memperkecil penyerapan panas dari permukaan,
terutama untuk permukaan atap.
Warna terang mempunyai penyerapan radiasi matahari
yang kecil sedang warna gelap sebaliknya. Penyerapan panas
yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan naik,
sehingga jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini
akan menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara
kedua permukaan bahan, yang akan berakibat aliran panas
yang lebih besar.

p)Allrrn

udare melalul bangunan


Kegunaan dari aliran udara melalui bangunan atau
ventilasi, adalah:
(l) Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan ialah untuk
penyediaan oksigen untuk pernafasan, membawa asap dan
uap air ke luar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas
dan bakteri serta menghilangkan bau.
(2) Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal ialah
untuk mengeluarkan panas, membantu penguapan keringat
dan mendinginkan bagian dalam bangunan.

AIiran udara ini dapat


terjadi karena adanya
,.rtq-.,^ gaya
^.,-,_ angin
dan gaya thermal.
alran-uo-a'rl-t{arena
j
r;J,XiTX#il::ii acr i
i k a a n gin
dan
dan udara keluar pada
permukaan
tekanan udara.
ffi
jadi kecuali dipengaruhi :
_ #J,..11
oleh

"d;i;;;;;#fl:,

B.,;;; ;,

:;J,Ti#ffi

f :;i i": ;; ;' ";;;i li l;;.:


keceoa

1",:; I ;;

H,

l;t,i;;}:,ffffi:
Jika tidak ada

ffi

-.1

ffi

i?tr

ff ff tJ nf", ffi [j

H:l:;
+,'i

ff

maka

masih dapat terjadi


turrru e;ii",-vo,4l18ttt'
aliran udara
ouunt.ffi J,;;;:.'ii';^llt;:i:5i5.;uir,;*""i*alp",o"lo.-tinggi
I'.1, ruansan,
dan perbedu"n
antara,uounnT..lll-d1
terse b u r rr a ru s d
apa r"i
il ; :H" I* l,:i?l, J;l
daparkan jumtah atiran
;;;;';rryiiterrenctat<i. Xl f,:ll
. Jumlah aliran udara unir[",
kesehatan, pada umumnya
trebih,_.*Trfli,;.rtJ,;*;
i

;;;;,

diperlukan untuk memenuhi


k.nyu.unun.thermal.

perrama sebaiknya
digunakan

terb uka, tetapi

ini u.r r,

i;;;;;,itasi

.."irr?" i.'.i.n

;x[#i;:."H? d;,"1$1
itti,Tff
jurplah
ariran udara yang diperrru.,

i_inrut ying

rctap yune r.tutu


u r, ;, y a y angk
edua.
d i e u,* k *;"

i;;;;

Jjl?*lfl1l,l*1:.,.n

@adlast panas
Radiasi panas dapat
terjadi.oleh radiasi nratahari
b;;;;#i.,'dr.i p.r*ukaan yang
lebih panas dari sekirarrr"l;;;;;.'
yann
il.n..g"r, rung p.r,rri
arai_arai
baik arar p*n*a,i
vertikal'
-'
atau alat penedul,
'
diatur-*
,r"g-a"rli
langsung masuk ke
daiam

f:i;:,lffHffff,

;;;;ffi,

Pancaran panas dar,i


suatu perrnukaan
akan menrberikan
nyamanan^

ketidak

jika
temperatur permukaan
^,1ry,ilt.T"ri"T.1rrnur,,
tersebut ;r";; remperatur beda
udara

150
I-5t

permukaan bawah

terjadi pada
melebihi 4"C. Hai ini sering
ptt*ukuun bawah dari atap'
dari langit-langit "t"'
yang nernah dilakukan di
'"01
Sebagai gambaran, Ju'i'ptnttitian
ptttu'ku11 bawah langit-langit
daerah Jakarta tt",l'":*t
atas
vang menggunakan
34'6;';;k
mencapai
dapat
'umah
asbes gelombang'

PenutuP

cara-cara untuk mendapatkan


Telah dibahas secara singkat
dalam bangunan'

ilftftendaki,di
kondisi lingkungan-'**
dalam iklim tropis lemdengan perencanaa"';;;t;;;;nva' mensurangi atau menlaadatah
bap. Yang puau poftofnia
matll
fe rt i r ad ias i
Ii

;;;;-trusr^k?l I -se
dak an f akt or
";
tt**flatkan-faktor-faktor
yang kuat aun
-f

tungkan,

akt

aun aliran

yang mengunudara sampai jumlah

tidak selalu usaha ini dapat

Tti:T:1::otll3"
adanya

seperti;;;;';;;it

tt"illlrung

karena di samping
kondisi yang dffinkan'.juga
mungkin masih ada kekuketerbatasan-keterbaiasan'

bai

men

eenai iklim dan

rangan-keku'unrun"i't1-'"Jtt;ifi :
sifat
ailtntndaki' -maupun mengenai Unkondisi yung
"btnu'"'v"
a"ri.l iklitn btttungkutan'
bahan dan

perilakffi;;;;

penelitian dalam hal-hal tersebut'


tuk itu masih pt'ru-airlrti'xun
dilakukan
dan kebiasaan yang telah
di samping itu tu'Jtu'u
dipelajari'
yang oerlu
oada ruman-'umat' tradisional
yang ada dan hasil-hasil
Penerapatt dari pengetahuan
sumbangan
penelitian t."tu"i, ;ilY;;Pk"1 1111,t^tt*oerikan
'pada
Arsitektur Tropis di lndonesta'

III.5. LANDASAN AR'TiITEKTUR INDONI,SIA


Oleh: Drs. Darmanto .!alman, S"U.
Tidaklah terlalu sulit untuk merurnuskan garis-gari,c besar
haluan arsitektur lndoflesia nlodr:rn. Arsitektur Irrdonesia
adalah arsitektur -v"ang menlenuhi kcbrrluhan manrrsia Indonesia. Persoalan akan segera berg.esr:r ilrerruju kebutuhan
akan perumusan kebutuhan nranusia Intlonesia ini. Lalu
siapakah yang menetapkan kebutuhan manusia lndonesia ini?
Manusia lndonesia seluruhnya, atau cliwakilkan sala pacla para
arsitek, atau pada para ahli perumus kebutuhan nranusia yang
sekarang ini agaknya sedang berbringa-bunganya"? Para

perumus kebuluhan manusia indouesia inilah yang biasa


disebut kaum cerdik cendekiawannya, traik yang terdiri dari
kaum teknokrat maupun apa "v-ang disebut intelektual yang
sangat heterogen, terbesar, dan sering anti struktu:. f'ersoalan
jadi: Apakah perumus ketrutuhan manusia Inrhne,'i;r yang
diwakili oleh para cerdik ccndekiawan ini sampai :"ekarang
sudah bisa dikatakan benar-tre ner n:,:w;rkili kc:hutuhan
manusia Indonesia? Karenanya maka, pemhicaraan tcntang
landasan arsitektur Indonesia akan kila nrulai dari gsgasangagasan tentang kebutuhan nranusia lndrinesia seba;iaimana
diungkapkan oleh para cerdik cendekianya.

Kebutuhan l)asar Manusia Indonesia


Rumusan-rumusan tentang kebriruhan clasar manusia
sesungguhnya merupakan kritik bagi rnodel pembangunan
"Tetes ke bawah" (Trickle Dovy,n f)evelopment) yang semula
menjadi ideologi pembangunan masyarakat kapitalis yang
berlandaskan pada pertumbuhan ekclnomi. Karerna tcrnyata
model pembangunan "Tetes ke bawah" dentrr,;.n industrialisasi
besaran, teknologi maju dan padat moclai ticiak berhasil
menyelesaikan persoalan negeri-negeri y,ang sedang berkembang; diciptakan model penrbangunan yang sungguh men-

153

r5l

negeri-negeri yang sedang


jawab kebutuhan d.asar masyarakat tepat guna' padat karya
ito^ologi
berkembang, yaknr Ot"tt^
model pemserta industri "ot';;;utiun"' 'S.lutnarnva
ialan tengah' atau
';"ttil
adalatr';;;;
ini
dan
.:lj"
bangunan
pembanguna'n ya;g kapitalistik
antara,ugu'un
kompromi'
t*r;isrik vans kedua-duanva
o.*uunrul?1''lJ'Peter Berger
sasasan
iAeJtogi seperti-tuduhan
telah membtrtu *"nj]Ji
of socrtfice;Iffi;T:Xouru, bukunva
yang
;ffi;.il;ta bahwa model Pembangu
ini
o'""*t"ai'atkan-kritikan-kritikan
dasar
tuhan
model ini tidak sanssup
tajam: P."u'u-ti;;"i;;;;;ta
pada masyarakat'
Jan inertia Y?ng'uau
melawan t .*t'r'n'n
laei punva kesangMasyarakat vans ##ili;Initrtiniiouk

";';;;;;ii

j"

".'* ryjj;[;['**:mffi fffl i{:i*''


langsung
Xi:[,T'iL ;:li',ll, i tffi ]{'i:i
r,*:':Xl'Y#ll'
gembangunan vang

e'p

ul

Haq

-tneuj"ii;';;;;";
gunannya mr np
rtn-oatl,pemb an
ou'u' iJ*tiii*n
Rakvat Cina dengan

menyeran g

model vu,,e

at'mf"#;?;;;i;i

Rep,uutik

kesanggupan

brigade-briguAt pt*iangunannya',.dengan
t:rlyata model pembangunan
kemandiriannya''ftrn"aiurr' ini juga tidak berhasil mengununtuk ikut
"Menjawab rto"'^n"tE*ui"
u"i *tntniut" apalagi atas'
potensr
dang kesedi""" oiJ*
menunjukkan bahwa
uuliiuurtti
puaJui
membangun,
pada lapisan ini'
pembangunun jt'Iti.r
Akhirnva,
kelompok r"',

itirt'urt

tJ;;";il;H"n

*,.a"1

bagt
merum uskan dasar

dari sudut kemampuan


tempat tinggalnya' kesukuanekonominyu''o'ffiolitiknya'
pun"Uagi lndonesia hal
budayanya'
fingi'ungun
maupun
nva.
suatu upava lain' vang

'"i'ii

ini ietas nvata'

r"!ttry,.11k

-';;;;;;aiutriut'iun

nutnun bersifat

ttuututtan'
*.niu*uu"';il;;'""
enggang tak
jr.firiiui*
r.o"tah "Makanan
,,mawa_ma*u,,

tetap

masing-masing

aen'ittiun.kebutuhan
termakan oftt' p"ipitll'Mutulahnva adalah
U*9tq*utdu'
tu'l^furt'u'
tidak
kelompok
aear diversifikasi ini
upava apakah

#fi;;

iiiatuttan

membawa perpecahan persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi

justru memperkaya dengan nuansa. Sistem dan cara berpikir


sistemik yang serasi, selaras dan seimbang diharapkan mampu untuk "ngesuhi" upaya ini
- dan semua ini agaknya masih
perlu diuji.

Tradisi Sebagai Landasan Arsitektur Indonesia


Beberapa waktu ini arsitektur Indonesia digoda oleh gagasan untuk menemukan kepribadiannya, untuk menciptakan

apa yang disebut Arsitekur Indonesia. Dan selaras perkembangan arsitektur "dunia" (baca: Barat) yang sedang mencoba untuk menggali potensi-potensi kearsitekturan di antara
tradisi-tradisi bangsa-bangsa, maka di Indonesia ramai
cendekiawan berpaling pada tradisi suku-suku bangsa Indonesia untuk mencoba menjawab tantangan zaman. Namun
kemudian ternyata bahwa tolehan kita jauh jadi sekadar
kegenitan dan keseronokan budaya karena tradisi lebih banyak
ditafsirkan sebagai bagian dari gaya atau bahkan selera keinlepas dari kesanggupan untuk
dahan yang formalistik
Fung"nggraita, ngrasa,njatra dan njarwa"
- kan tradisi,
kebutuhan
sional arsitektur tradisional dan menjawab
masyarakatnya luput dari panggraito, pangroso, ponolor, dan
panjarwa kita. Keutuhan budaya yang diliputi oleh agama,
mitos, sastra, seni, dan lain-lain dilepaskan dan diganti dengan
kesatuan berpikir yang ontologis, rasional, objektif dengan
penekanan pada kegiatan analitis sintesis. Dengan kata lain,
ilmu, teknologi telah dipakai untuk mengganti tradisi. Dengan
tidak kita sadari, bagaimanapun juga, dengan melakukan
tolehan kepada tradisi kita telah melakukan suatu loncatan
budaya ilmu-ilmu yang lain. Arsitektur lndonesia sebagai
ilmu pengetahuan berasal dari impor lewat bandar-bandar impor yang kita sebut sebagai perguruan tinggi. "Ciri-wanci"
dari perguruan tinggi kita telah terlanjur dilahirkan oleh
pemerintah India Belanda untuk memenuhi kebutuhannya
akan tenaga-tenaga ahli dan setengah ahli bagi pelaksanaan

ls5
154

arsitektur kognitif tok, arsitektur analisis sintesis dengan


melupakan bahwa arsitektur ini mestilah merupakan ekspresi,
pernyataan, aktualisasi total dari manusia lndonesia. Dengan
demikian kita perlu memahami manusia Indonesia ini sebagai
satu kenyataan sejarah, dan bukan sekadar sebagai gejala
konsumsi bagi nalar ontologis kita. Kalau benarlah pendapat

begitu
tidaklah bisa kita hilangkan
aclministrasi kolonialnva
tujua,,,
kita sadari telah menwauci ilrilah yang clengatr tidak
putu arsitek kita'
iuaiuusin,, dari kepirnotii^u
"Barat" melalui sejarahnya
Demikianlah ketika ar sitek-arsiiek
sendiri dan mulai
yang unik sampai o*;';;l-;t'*t-kejenuhan
k\ta
"'ruusr' Xos' atls Kosali" d'qn "Hasts Bumi"'
nrentrleh t.
aclalah suatu loncatan budaya
pun rnuiai menolclt k;;;;' lni
<rlch,Jean Jacques Servan
yang jatrh sepertr 1,'tlgJi""i'rkan
The wortd Challenge" untuk
Schr*iber dalartt u;i"';;;';
ttintioil puau' informasi (Mikroelektronika)

nremperkenutttun
uerkembang sambil melomke desa-clesu n.rtt'-L"*tfi'ttJurrt

*uru r*1*r"f, yung punjung yangtelatLit'.t-:lll:t


gutui yakni tahap teknologi "Newtontan'
negara-negara

pari suatu
oleh

i*t notogi paclat energi habis

pakai'.

Mohtar Lubis bahwa manusia Indonesia sekarang ini munafik,


titik inilah kita mesti mulai. Begitulah kalau
pendapat
Niels Mulder bahwa manusia Indonesia
benarlah
(maaf, baca dalam hal ini: Jawa) itu rasional tapi irrealistik,
maka dari sinilah kita mesti mulai. (Supaya tidak terjadi salah
paham, buru-buru harus segera saya tambahkan bahwa itu
adalah tangkapan yang terlalu simplistis dari kedua orang
tersebut, dan karenanya bersifat nonhistorikal).
Demikianlah kita perlu mengkaji suasana setiap orang menjadiarsitek bagi dirinya, suatu kelompok masyarakat mengarsiteki sendiri kebutuhan pengaturan ruangnya, "folk architecture" masih dimungkinkan
tidak untuk mempreteli faktornya kemudian mereka-rekanya, sesuai dengan keadaan
jeneh kalau begitu tidak perlu kita kehilangan
sekarang
kemampuan untuk membangun Borobudur, atau Prambanan
beribu-ribu sekarang. Kejadian ini diperlukan untuk
menghidupkan kembali sesuatu dalam diri kita yang telah lama
tidak kita perdi dan openi dan yang sekarang ini sungguhsungguh kita butuhkan: Kemampuan memadukan "Jagod
gede" dan "jagad cilik" itl. Kemampuan ini bukanlah kemampuan yang bisa diusahakan dengan belajar dalam pengertian
menambah pengetahuan dan keterampilan, tetapi terlebih-lebih
dengan cara mengalaminya sendiri. "Experience the evidence",
istilah yang dipakai oleh Ronald Laing. Artinya, tradisi
bukanlah menjadi suatu objek yang dikaji, diteliti, tetapi
terlebih-lebih didekati, dicintai, dihayati. Arsitektur Indonesia
bukanlah merupakan sekadar terjemahan dari gagasan-gagasan
dalam wujud bangunan-bangunan; atau sekadar teori yang
diaplikasikan, atau kata yang ditindakkan atau keyakinan yang

maka dari

i. mernilil
bahwa manusia memilikt
Servatr sctrreitrei s"a"g"t t''i*is.
telah
r'"t biasa' vang memangdaram
kemampuan ooupiu'i*r'i"g
yang paling seramat
membawanya rnenjacli spesies
ini' .Pertanvaatl adalah: Apakah
seleksi evolusi ufu*-";ouh
yang jauh dari "Cukure
tidak akan teriadi akiLat samping
memangielah siap merasuki
Shock" ini? Atau, apakah kita
fungsional (menurut tahapan
kebudayaan ontol'o;';';ampai.
diri.van Peursen)? Apakah
perkembangun u'iivu *"n"iu
nt uk memahami' meramal'
fungsi- fun gs i ilm u"p'Jrigetih i; .u
akan menjacli sekadar "Black
dan menga,u' g"ruiu in'i tiOat
Misi"" modern tli tangan kita?
tradisi adalah tolehan
Demikianlah,i"i;;; kita kepada teknis'
tolehan historis'
tolehan
budaya (mertinyu),"i;;;k";
;;;1;i"" sekaclar tolehan ontologis!
'

Ada di Sini:
[,andasan Arsitektur Indonesia
Manusia lndonesia SePenuhnYa'
pernyataan ini demikian:
Semula saya ingin merumuskanTetapi
ada di sini' di kepala kita'
Landasan u,ri,*xiuiinJun"'iu
pada
kita
menggelincirkan
pernyataan ini aXuniu'lalu mudah

157

156

7
diamalkarr" Ia nreruql:rk,ln wujud clari proses metaorphoses
manusia lncJorresia. Kelrornpottg hanyalah sisa dari proses
metamorpho.ies tersebrrt, seperli barangkali luga ioglo atau
daro gep,tk"tetapi ke Inclorresia itu sendiri adalah proses pen-

ciptaan yang

merupa

kan suatu kontinum dari

masa

Borobudur. Mesjid l-lernak" sampai ke kotak-kotak korek api


yang berjalar sepaniang i:rlan '['hamrin di Jakarta. Merumahi
komputer sama clengan rnentenuhi amben, memenuhi istri
sama dengan nrerumahi para sekretaris. Tetapi kearsitekturan
adalah keseluruhan penciptaan yang menghasilkan data-data
program dari konrputer yang dirumahi tersebut
seperti
penciptaan
dahulu kearsitekturan adalah keseluruhan proses
yang merumahi kehiarga Kramaleya. Dengan demikian kita
tidak akan berharap arsitektur menjadi semacam Badak Jawa
yang langka dan mahal harganya, yang hanya hidup karena
kita sedang obsesi ekologi dan pelestarian alam, dan bukan
karena rnemang badak itu berguna. f)engan singkat, arsitektur
Indonesia adalah arsitel*lur yang memproses lahirnya rnanusia
yang sangat
Indonesia
- suatu meturnorphose kebudayaan
luar biasa pada masa ini" Arsitektur lndonesia bukan sekadar
penerapan nilai-nilai Panca Sila dalam kaidah-kaidah perencanaannya, tetapi ialah yang menghidupi nilai-nilai tersebut.
Demikianlah kebhinekaan adalah kondisi nyata yang
memperkaya arsitektur Indonesia; sementara keekaan adalah
jiwa solidaritasnya. Derrgan kata lain, arsitektur Indonesia
adalah arsitektur yang solider dengan nasib bangsa Indonesia.
Sedangkan akhirnya dirasakan, betapa para arsitek "harus
peka dan secara tepat menundukkan dirinya jelas-jelas pada
situasi perubahan-perubahan sosial yang sedang terjadi".
Dan itu berartijuga "mempersiapkan generasi (arsitek) baru,
yang siap menghadapi problema besar dan nyata yang akan
datang".
Tentulah kita berbahagia mendengar ungkapan-ungkapan
keyakinan yang sejuiur itu; masih penuh idealisme dan tekad,
serta tanggung jau'ab. T'inggal apa yang dimaksud dengan
158

t3

a)

"rc

\.{
!

t
a)

^s

U
$l

r59

yang akan datang" itu; "politik


"problem besar dan nyata
mekanisme agar "sektor

'
resmi yang bagainrana'*t"*t'"
kedua-duanya sama-sama
ttaAitional"
modern sekaligus vang
jttut' s-alB lsitek masa kini bukan
dan adil dilayani' Vu"ng
iio* auput lagi (bahkan tidak
lagi sekuas u ttou,*)'n;
Ratu
Semmut di samping Sri
sepantasnya) bertinJal-'Lpttti
HatschePsut.
. -:L saja' yang serlng
satu pihak
Sang arsitek hanyalah salah
di negara berkembang untuk
juga
tidak sangat kuasa' iJiiii*t*u
sarjana-sarjana bidang lain
menentukan arah. Slperti
yang
pttfu dip.erhatikan ialah' apa
demikian. Namun Vung
sdr' lr' Bondan Hermani
dikatakan ot.t
sekarang' arsitek baru dididik'
Slamet M.Sc, batrwa lampui
pro*trrggut'p "hasil akhir dari suatu
dan dipersiapttun unt'X
dilatih
diiiut b'ng"un; dan belum
ses komplek., vuxni'vung
hasil akhir tersebut"'
mengenal proses ,"'* ilttUuahkan.
pendidikan ke arah itu tidak
Namun dari pihax iai;";;;l;h
fagi, memanglah definisi arakan terlalu berat?lurri:.fut
dan sebagainya itu perlu
sitektur, arsitek,'tugu'"*titek
dirinva
rn'i senoiri:
direvaluasi rugi; rnt'itii't
'''mendudukkan
sosial yang sedang
perubahan

e;

,.o'll;?"ilU;i'

puau

ielas-jelas
'ituu'i""U"n"" kaum Sthapati-Sutradhara
terjadi". tni tuga;;i';;; dari
praxis' tetapi tebih
Baik dalam'-tl-11j3*
generasi penerus'

secara ilmiah'
pentingi dalam pendasaran teoretis

III.6. PUDARNYA ARSITEKTUR TROPIS


INDONESIA
Oleh: Ir. Andy Siswanto, IAI
Dewasa ini, bila kita menelusuri desa-desa, kita akan masih
sempat menyaksikan sisa-sisa permukiman yang adern ayem,
sejuk, dan semilir. Pekarangannya luas, dengan tanaman keras
yang rindang. Pagar pembatasnya samar, sehingga tetangga
kiri-kanan maupun depan masih bisa bercengkerama ramah.

Rumah-rumah dibangun dengan material alami. Walaupun


acapkali pencahayaan dan penghawaan agak gelap dan lembap, tetapi secara umum pergantian udara cukup dan bersih,
mengingat dindingnya yang transparan; dan suhrr yang
dirasakan pun sejuk nyaman.
Seiring dengan proses urbanisasi yang demikian cepat dan
terjadi hampir di semua permukiman di Indonesia , maka di
sini terjadi pula degradasi kualitas ekologi, khususnya pada
kota-kota besar. Eko Budihardjo bahkan menuding (Kompas,
8 November 1986), orang kota makin tipis kadar kepekaannya terhadap lingkungan. Banyak lahan hanya dijejali rumahrumah, dengan sosok yang tunggal rupa. "Bunuh diri ekologis", katanya meminjami istilah dari seorang ahli lanskap
J.O. Simonds.
Salah satu aspek dalam ekologi kita vang pentinpr adalah
iklim. Iklim sejak zaman purba selalu memainkan peranan penting dalam kebutuhan permukiman. Setiap benua masingmasing memiliki spirit of placenya yang khas. Mereka terpolarisasi dalam lokasi-lokasitertentu, di atas permukaan bumi
yang berbeda-beda. Dan rumah, kampung halaman, tanah air
pun terjelma dalam ujud ruang dan bentuk arsitekiur permukiman yang khas sesuai dengan iklim masing-masing . The
spirit of place is a great reality, kata D.H. Lawrence.
Arsitektur nenek-moyang kita juga bereaksi secara khas
terhadap iklim. Rumah-rumah panggung terbuka adalah di-

161

160

71921. Berdenah teater Romawi, tapi seluruh ekspresi arsitekturnya adalah arsitektur Jawa dan tropis. Harus diakui,
arsitek
Belanda pecinta arsitektur tradisional Indonesia yang
menyem_
pal ini, ternyata sangat serius dalam penyiasat-i
itilm tropis.
Berekspresi Indonesia pula!

sain asli mereka, dan terukir jelas pada relief candi Borobudur

dan Prambanan.
Iklim lndonesia dikategorikan dalam zona basah-hangat
dan Filipina'
mirip iklim di Amerika Tengah, Madagaskar'
lembap'
tropis
rriiiit, yang populer dipakai adalah iklim 23oC dan
ratai.rnp.*,ui maksimum nya 32C, minimum 400 Watt/m2'
rata 27oC. Kelembapan 80 persen' radiasi
yang relatif berawan'
iluminasi 15.000 kandela pada langit

Arsitektur Hindia'Belanda
Angka rata-rata di atas memang tidak terlalu merisaukan
baik
bagi lingkungan tradisional, yang ekologinya masih
yang alami'
dengan liahan yang longgar dan bahan bangunan

w;i;

Gaya
demikian, tuin tluinyu bagi para penjajah Belanda'

arsitekturneoklasikdangayaarsitekturborjuisiBelandaSegera
dindingnya
disesuaikan dengan iklim tropis. Plafonnya tinggi,
Pada
i.Uut, trbu,tg ventilasi ditempatkan di berbagai sudut'
Yang
rumah tinggil, jenclela-jendela lebar berkisidiberi tritis.
anmencakup
luas'
yang
sangat
menarik adalah berandanya
konsep
sebuah
tara25 sampai 35 persen dari luas bangunan'
pada arsitektur
ruang hasil adaptasi terhadap ruang serambi
tradisional Nusantara. Antara rumah induk dan dapur/
bu,gununkecildihubungkandenganselasar-selasarterbuka.
Arsitektur kolonial itau arsitektur Hindia-Belanda ini
pribumi' sankemudian menjadi orientasi bagi para pedagang
tri, Cina, dan priyayi. Pada tahap selanjutnya banyak rumah
sakit dan sekolah dibangun dengan gaya serupa'

Diantarakarya-karyaarsitekturtropiskolonialini,ter-

yang lndonesia'
nyata bisa kita jumpai jenis arsitektur tropis
Ambilah conroh kimpus ITB (Institut Teknologi Bandung)
yang dirancang Mc. I-aine Pont' Yang sangat lndonesia dan
Sobokarti
Lerrungsi untuk sosial budaya modern adalah Teater

di Seriarang. Ini dirancang oleh Thomas Karsten dengan


rakyat"'
konsep yang sangat menarik "Daripendopoke teater
pada
tahun
seperti vung Oiu tulis dalam sebuah artikel di Jawa
162

Arsitektur Tropis Indonesia


Sejak kemerdekaan,.yang laku adalah gaya arsitektur
sub_
urban Eropa tahun 20-an. Gaya modern mulai disenangi,
di_
jiplak tanpa imajinasi dan meremehkan
iklim tropis. e.rii.ltr.
tropis kolonial pun mulai memudar. Arsitek Silaban dan
kawan-kawan tampil sebagai penyelamat dan berusaha
secara
konsisten sampai akhir hayatnya untuk menghadirk
un i_
sitektur tropis Indonesia. Dari segi kenyamanan termal,
beliau
cukup berhasil, tapi tidak cukup berhasil dalam
mengekspresikan,,lndonesia,,nya, karena tetap saja
meran_
cang dengan idiom arsitektur modern, dengan kekhasan
louv re- louv re pada focadeny o.
Era awal Orde Baru adalah cara era semakin memudar_
nya arsitektur tropis. Ia digilas oleh arsitektur
modern ber_
AC. yang dirancang tanpa AC pun seakan_aka,
_.tuputun
aspek tropis, sehingga pada suatu saat kita ,..r.nrut't
ug.,
hadirnya sebuah desain, yang dikerjakan ,,raksasii,
lenqa1
Paul Rudolph, yakni gedung wisma Dharmala
di Jakarta.
Inikah arsitektur tropis yang Indonesia? Saya U..p.nauput
tidak. Karena seluruh bangunan itu dirancang dengan gaya
internasional, dan seluruh bangunan menggunakan
sistem
penghawaan artifisial. Lisplang betonnya
yaflg miring
barangkali memang memberi citia tropis, tapi jeLs
Uefuri
menunjukkan "tropis Indonesia,,
'

Fisiologis dan Psikologis


Dalam kerancuan proses pencarian arsitektur
tropis In_
donesia, seperti sekarang ini barangkali perlu
tcita simat< tagi

163

Indonesia'
perancangan' ?ltit:-Y:,: di
kepentingan kita akan
troprs'
it<li1 Yang masih terasa
,"r* U.*.-benar tnemperhatitcalfisiologis'
rt";;;;Jaiakr
Kepentinga"
dan
menurut oenelitian Mom
nvaman bagimanusra Indonesia'
dan
nvaman
*;;egori vattniseiuk'
wiclsebrorn, terdiri ffiil;
efektiI
yang
UJngun harga temperatur
hangal. Masing-muSng
aun 25'8 c' Ambang atas
c'
2o:;"2:;;'s
bawah
ambang
karena
berperan kunci di sini'
alr
hangat 27,1 C" Aliran udara
uap
pernapasan' nrengalirkan
ia memasok oksigen dntuk
bakteri
gas'
konsenirasi
yang berlebitta" oun
"l;;';;"*tangi suhu' juga membantu

pat yang lain baik ruang satu ke ruang yang lain, baik ruang
dalam bangunan maupun ruang lingkungan dan kota, sementara ekologi khususnya di kota hanya semakin ganas saja,
maka tampaknya sudah tiba waktunya diadakan perencanaan
dan perancangan arsitektur, untuk lebih memperhatikan
faktor-faktor iklim tropis, seperti temperatur, kelembapan,
kecepatan aliran udara, dan radiasi panas.
Untuk memperoleh temperatur yang dirasakan (temperatur
efektif) nyaman dan pergantian udara bersih yang cukup,
sebenarnya muskil bila kita hanya mengandalkan buku suci
semacam standar penghawaan alami. Faktor-faktor di atas
masih bergantung kepada banyak variabel: Orientasi,

topografi, permukaan, bangunan-bangunan sekitar,

dan bau, aun


o'

"

:u#

#tnoing]ntun

Laporan Mac Pher


ilil:l, ,[il'f:i#il:tl' iiplkol:
?s.Australia' yang diulas
Tropicot

son, Enviro n*'n'oitoiii

Australia
Architecture in Tropical
Belwant SinghsainiOatam
1970) memberikan bukti-bukti
(Melbourne Uni"tt'ity Press'
o'it"
lingkungan
l:itil-;;;*unun
bahwa
'ti-tl':
menarik,
tropis' kelelahan troprs oan
mengakibatkan ;;;;;it
lain lesu' lemi::'"
neurasthenio tropir. iimtomnya -antara bertanggung jawab'
kurarg
ingatan aun tton"nt*'i' "p*it'
dan sebagainya'
t"r,inggu"g; ;;;t: paranoid'
mudah

Kendalat<itaptrtn;;ffi'riengalamiketidaknyamananterdi kelas' di
it'!'ii'it""uui ai atas' Entah
mal dengan
di kantor atau
'u'"
pasar, di eeoune;';;;l?l' S1-?':'nop'
Dan kita
di lingkungan kiia sendiri'
kanbarangkali ai tt"'iu[ aan
suasana tesu di berbagai
juga masih Uetumiattu' apakah
ini'
ketidaknvamanan termal
tor juga aixuttnurt?;plifi
permukrman
pada
Jut"putnva tentu
Yang bisa dipa'ti;;;:'u[u
macam
padat yang iorok' perumahan
kumuh, p..ku*pungan
pt"ncanaan-tapak dan desain
BTN di tengah koia' yung
barangkali?
ututiran' Juga rumah 'utun'
rumahnya
'ungui
Dibangkitkan Kembali
tiba'
hari'ke hari sampai ajal
Mengingat hidup kita dari
temke
u"tgtrak dari satu tempat
toh hanya uttun't'i]'t!"gui'au'

konstruksi, bahan yang dipilih (mempersoalkan daya absorbsi,


porositas, angka isolasi, kapasitas termal), dan sebagainya.
Jadi arsitektur tropis sungguh bukan sederhana. [a harus
ditekuni dan disiasati mulai dari tata letak pada perencanaan
tapak sampai dengan tata bentuk dan sistem peruangannya.
Banyak karya arsitektur kita telah dirancang dengan
pendekatan arsitektur tropis, khususnya pada perumahan
golongan menengah ke atas. Bahkan di sana sini ia telah
mampu menampilkan diri sebagai arsitektur tropis yang
beridentitas kultural Indonesia.
Walau demikian, masih jauh lebih banyak yang belum tergarap
dengan baik, yakni lingkungan dan perumahan golongan
menengah ke bawah, juga pada bangunan-bangunan umum
tempat mereka bekerja, belanja, belajar, dan kuliah. Ruangruang terbuka pada lingkungan permukiman dan kota, juga
semakin moderat, gersang menyengat dan langka. Padahal di
sanalah mgreka berinteraksi sosial dan mereka berkreasi
dengan rumah.
Arsitektur tropis Indonesia yang memudar, semestinya
dibangkitkan kembali.

165

164

BAB IV
ARSITEKTUR DAN MASYARAKAT

IV.l.

KEMBALIKAN ARSITEKTUR TRADISIO.


NAL KEPADA MASYARAKAT
Oleh: Ir. Johan Silas, IAI

Peserta seminar Bahan Bangunan Ekonomis di Paris diundang pula meninjau per'umahan di kota baru L'Isle d'Abeau
dekat Lyon. Perjalanan di sana ditempuh dengan kereta api
TGV berkecepatan rata-rata 250 km/ jam; berkat teknologi
super maju (iarak Surabaya-Jakarta bisa ditempuh hanya
dalam waktu 3 jam). Yang dibanggakan di kota baru tersebut

adalah rumah, yang hanya terbuat dari tanah dipadatkan.


Rumah tanah ini dianggap pula menunjang perkembangan
masa depan kota baru tersebut. Kunjungan ini adalah gambaran yang kontras, antara kereta api super-modern dengan
rumah tanah primitif yang lebih pantas untuk negara miskin
dan terbelakang. Bentuk rumah tanah ini memang sudah
umum dipakai penduduk desa tersebut.
Ada tiga alasan utama mengapa rumah tanah tersebut
dibangun sebagai bagian dari perumahan di kota baru yang
modern. Pertama karena sangat ekonomis baik dari segi biaya
membangun (l/3 harga konstruksi konvensional) maupun
kesesuaiannya dengan iklim setempat (bio-climate); sehingga
hemat energi. Kedua karena tidak merusak lingkungan, sebab
tanah dan bahan bangunan lainnya yang dipakai mudah didaur
ulang dan perlu sedikit energi dalam proses pembuatannya.
Alasan terakhir adalah turut melestarikan warisan budaya
setempat; Prancis memang bangga dengan kekhasannya
sendiri.
Rumah-tanah yang baru lebih tinggi dari yang lama (tiga
dibanding dengan satu-dua lantai) pemadatan dan konstruksi

tanah dilakukan dengan

teknolosi v
nya,dan,uaJ-Ji',ii;;;iffi:?J#?fr

:l,,X},lj,l::i::;

masa sekarang rnaupun


r.nautunglAlasan-alasan

ini

.sebenar_

;Il; :H:.il',Tff l,*:.u i'" u'"'i"iu p,ta uaei,.e;; #;..*


Arsitektur Tradisional

Apakah arsitektur rumah


tanah.ini bisa dianggap
sional? Kalau ya, apakah
.u*uf,-i'irbu_daduk kita juga tradi_
tradisionar dan patur
tidak
unruk aiu.r"r,ir_ra
dengan mud-ah bisa
memenuhi persvara(an
,umah_tanuh pran.i,
di atas. Kalau
yure punya TCV rerap
ba
-.::
ru m ah r a n a h,
apa k a h k I
j, ;; ;r"d#il:ff,
ftili;,T i.T f,
s.tonal agar dapat
r.rO..itl;';;;;,
daduh ving 5ld!h,,airoa.,"nl;rt
bam b u_
;:"r-11"._l
e r d' A
P P t i c o;'
'#,!:"X::{;
7::;

llT:,r

:{:

";

; El,1 I I.i' fff ;

* ;; il : f;L[r,l#; : i:L'", 3n
guna di tepi iari
Gede,
y ;,,,

l: I

uun

e,, u,' *lL

ba.mbu repar_

tu puta aloukung menjadi


ilrr'.jfr;";,-].,:.l]"h
pusat kajian. ---v' IJlr
sebuah
Agaknya ini bukannya
perkara ear
i,,'"',r
i.r., ;
fr

ilf,l'X,l iTllf,.Tq..,

d, d,

;;;H;,

,,1

;'[:ll,i",[i ?,?:';]lf

il#:XXJ'tf
dari mereka
ti.:iX
adalah urbanis miskin.
Ada baikn"
k

banya_k

I:trffi

o:ll,gif:i, ;;';*i'embangan

k4f

arsirekrur
hlstoris. {i,u^r,.,uuri
ke abao

ii:Hffilji:;Hp.ktir
:tr*il, *:#,ffi[,i[::f ilfi Hl {*;l
*' il;;;ffi

ffi

iir

rfr#

Hi jill ml;:i:i

11'.n,
ii
cratans;
ada pecinal: *::ffi
*,"tlrr*;;;:
Loji Beland?, dan
sebagainya. Tenru jusa
a{a i.u.i noio*[netrp
Eesarnya. Di Timur
dengan pasar
iAu puJ"rr;;;".;
r,

rarukan,c.nt.ne,iusahn:K;;ffi

:;i;::*UilJ:T.,fJ;

166

t67

tempat para pekerja. Dan kalau mau ke Kraton lewat timur


harus lapor pada patih dan melalui pintu Lawang Sekateng.
Sedang di Barat ada perumahan para pejabat, seperti Mas
patih, Tumenggung, Prabu, Ronggo. Dan untuk ke Kraton
bisa langsung melalui pintu Butonan, tanpa aling-aling. Sebelah
selatan ada taman Teratai Putih (Tunjungan), ada pengawal
kraton (Ketandan) dan sekretaris kraton, yaitu Carik. Dan
tentu juga tempat tinggal Keputrian, sedikit di luar batas
benteng Kraton.
Sistem pertahanan juga ampuh, di timur ada sungai yang
dikawal para pande besi, dan di barat didirikan tembokbenteng. Di sebelah selatan ada pengamanan berbentuk siput

urang (Kupang). Tentu tak lupa Baluwerti untuk


mengamankan kawasan Kraton. Sampai-sampai tentara

t)

Mataram yang dipimpin tiga orang Jenderalnya tidak ambil


risiko melakukan serangan militer. Surabaya ternyata
dikalahkan dengan senjata ekologi tanpa korban jiwa manusia
sama sekali.
Untung nama-nama ini masih lestari sebagai nama kampung dan hingga kini masih bangga dipakai oleh penduduk
setempat.
Saat ini Surabaya mungkin kota terbesar, penduduknya
tidak kurang dari 50.000 orang. Jayakarta dan Bandung masih
merupakan desa pantai dan pedalaman. Surabaya dan
Yogyakarta belum dibangun. Sayang tak diketahui dengan
pasti bentuk arsitekturnya. Tetapi menurut catatan para
musafir barat abad berikutnya, Surabaya dengan gaya
bangunan Jawa ("modern"?) merupakan kota yang indah dan
menarik. Melihat tata kota Jawa yang diterapkan secara konsisten kita bisa berspekulasi bahwa arsitekturnya juga Jawa,
seperti yang kini kita golongkan tradisional (versi Centini?).
Namun yang seharusnya tradisional untuk waktu itu adalah
bangunan seperti pada relief candi-candi Jawi, Surawana,
Jago, dan sebagainya. Bentuk ini sudah diungkapkan oleh T.P.
Galestin dalam disertasinya (1936). Tidak mustahil kalau waktu

UO

AAL

.ai
!pB

\s

.d

ist:

*\c s
a)U

'Bs
l!

\\l

v'

I68

t69

itu juga ada kritik terhadap bangunan Jawa-nya Surabaya (kini


kita sebut "tradisional").
Setelah perjanjian Gianti, Surabaya dikuasai Belanda.
Salah satu usaha mereka adalah membangun "Kota baru"
pada Renaissance, untuk menampung para penguasa baru.
Bagian kota ini masih ditempatkan di utara Kraton. Lalu posisi
Kraton diganti oleh Rumah Gubernur yang baru. Rumahrumah kota dibangun dengan gaya londhuis Belanda. Tamatlah
eksistensi kraton dan arsitektur Jawa yang sudah mulai tradisional tersebut. Lunturnya penghargaan terhadap berbagai pola
bangunan Jawa setempat dimanfaatkan lebih lanjut dengan
didirikan perguruan teknik, mulai tingkat rendah sampai tinggi
yang modern. Di saat kita baru merdeka keadaan ini tidak

banyak berubah. Demikian pula setelah kita mulai

menghasilkan arsitek-arsitek sendiri awal tahun enam puluhan


belum juga banyak menolong. Padahal di antara sarjanasarjana tersebut ada pula yang memperdalam ilmunya di luar
negeri.

Baru setelah pembangunan yang dilakukan

secara

sistematis melalui rangkaian Repelita dan berhasil, kita lebih


sadar dan merasa kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan
ciri dan identitas kita. Pencariannya diarahkan pada warisan
tradisional. Padahal kita belum punya pegangan yang man-

tap untuk memilih kekayaan budaya/rumah adat kita, agar


dapat menuju ke arsitektur beridentitas Indonesia. Mungkin
pula para parameter yang dipakai masih dominan dipengaruhi
oleh warisan persepsi lama yang kurang pas.
Agaknya, arsitektur yang tradisional atau tidak, bergantung kepada jarak rentang waktu yang cukup. Perhatian
diarahkan terutama pada bentuk yang lebih banyak unsur lama
dari yang baru. Akan tetapi mengapa harus tradisional yang
ini?
mana letak signifikannya? Apakah kita telah
terperangkap pada konseptualisasi yang ilusif? Dan bagaimana
dengan kelompok besar masyarakat kota yang harus membuat
rumahnya sendiri dengan sumber daya seadanya dan paspasan?

Di

Kalau mencari kaitannya

dengan masyarakat papa


ini, maka
kita barangkati mutai ;;",
;;;"'n,ru berada
perangkap persepsi yang
dalam
tidak attuai

Arsitektur yang Aktual


Apakah arsitektur Indonesia

memang belum hadir?


tuk mencoba menjawab p;.i;;;;un'ini
Un_
pertu kerangka ber_
pikir tertentu. Diajuka"
;;j;;ffi; krasifikasj yane mudah
dipakai dan mudah air".*t""'lUj.tnru.

klasifikasi Kampungan-Gedongan-iu-prrun.

Katalan

ada

Dan karau Arsitektur yang Indonesia,-;iiil^t.i


pu.umeter
tatanan
Iingkungan, taranan uurrun_uiuil.i.ru_pitun
dan tatanan
gaya-hidup, maka seben".nyu
arJ,.iiu. maon.sia sudah hadir
di kampung, kota, maupun
desa. pada arsitektur kampung
telah terjadi hubungan yang
pas, ,..ur,, dan seimbang
dari
ketiga parameter tatanan
t..r.Urt.
a.ri,.t,r. Indonesii yang
gedongan juga ada,,terutama
Oi ta*asan Real Estate.
Mereka
dalam barasan sendiri
prr'J.#
irg"
( yan
s u ur,un,' 1.. A c),
:,
por) dan ratanan gaya
hidup ,d.il;;';"tam cerita
kaset video
yang ada di dalam
rumah_rumuh t..r.Urt.
Lalu kita perlukan puta.
ketomfoU'rur, ..lakukan
kajian,
kritik dan mungkin
ymRai f.onr.iiu"iirasi bagi arsitektur
donesia; ini urusan
In_
Tenrunya
f.l"_o"t'tlrrrrran.
pelaku
kelompo k terakhir.ini
kampus, seperti
yang kampungan
:*F;".eJr"i.unu
br:a saja
seorangsarjunu yung banyak
diam
di kampunS dan mengutak-utit"senoii
kategori arsirektur tnaonesra'-ilJi;, rumahnya. Ketiea
akan rerus had[.
Masalahnya kini, bagaimar",Ufr,
,-*rsi
dan prioritas yang
hendak kita teraokan, pada
keriga ,ollnrun yang
telah ada,
dimasa mendarang. ruluan;;;;;;;ndak
kita capai. Dan
populasi mana yang
teruta.i r,."a""[ilta tayani. Lalu
tervensi apa yang harus
inkita Uf.rf.u" ilf,adap
*.
ketiga parameter
ffi:'j.it ?f;fi;lercaeai vang a;il*,11' i,1, -u.uruh yang perru

i;;;;

ffiT jlH:L #i,::iffi:

t'70
171

I
p.ertemuan ilmiah untuk
Disetenggarakannya berbagai
di lnclonesia' merupakan
membahas,qrsitetctui ituJitio"nur
pertemuan yang disiapkan
kesempatan yang baik' Namun
Perlu lanjutan upaya yang sebenarsecara tepat belum t"t'O'
kampus yang ada Jurusan
,r, a"oi aitugastta" paia berbagai
piofesi" untuk tampil dengan
Arsitektunrya dan ftf"*p"t
Le Arsitektur lndonesia masa
rumusan efektif untuk menuju
era pembangYlun
Mudah-mudahan dalam menuju
;il;"*
juga marnpu memberikan
tinggal landas, bid;;; ;titektur
konsep umum Arsitektur lnsumbangannya baik itt'p"
Termasuk arsitektur
donesia maupun'isiem ptnditlittu"nya'
kehadiran komputer dan
yang mampu *.nju*uU'tuntungun
atau rumah cerdas
pemroses mikro Ouiam bentuk bungunun
(smart house).
mampu berdialog dengan
Bangunan atau rumah yang
sendiri' Rumusan
,.r,g[uiinva dan berpikir uniuk "dirinya"
perru pula dicarikan
arsitekrur tt.aaisioriail rndonesiaterhadl! tilPl vang 1e:]signifikannya vans wajar; baik
situasi konflik-persepsl anbutuhkannyu, p.'un u"ittk dalam
yang
tanggap terhadap kondisi
tara yang aktual dan ilusif, serta
Dan
teknologi'
perkembangan
terus maju, ,aru,u*u ptngatut'
rakyat
tradisional kepada

mari kita
banyak.

f...uungtin-ultittti"

IY

.2. ARSITEKTUR MASYARAKAT TRANSISI*)


Oleh: DR. Umar Kayam

Asas Budaya
Masyarakat kita adalah masyarakat transisi dalam arti
beralih dari suatu masyarakat pertanian tradisional dan feodal
ke masyarakat industri, serta juga masyarakat etnik yang

terpisah-pisah yang sedang beralih ke masyarakat negara


kebangsaan yang lebih homogin.
Hakikat transisi yang demikian adalah peralihan dari suatu
asas budaya yang satu ke asas budaya yang lain. Dalam
masyarakat pertanian tradisional dan feodal asas itu adalah
budaya dan saling menenggang sebagai perwujudan dari pandangan dunia, world-view, yang melihat masyarakat sebagai
suatu jagad utuh bulat dan tak terpisahkan. Budaya yang
demikian tidak toleran dengan keaneka-ragaman pernyataan
yang tidak mengacu kepada prinsip jagad yang satu dan tidak
terpisahkan. Juga tidak akan menenggang pernyataan
kreativitas yang terlalu mencuat dari pernyataan kreativitas
yang diterima oleh sistem nilai masyarakat, karena pernyataan yang demikian dianggap mengabaikan asas selaras dan
seimbang. Pada waktu masyarakat pertanian itu sanggup
mengembangkan organisasi masyarakatnya menjadi organisasi
yang birokratik, teritorial, dan kerajaan asas budaya
masyarakat pertanian tradisional tersebut tetap dipertahankan
tetapi dengan tekanan acuan kepada raja sebagai pusat segala
gerakan dari jagad dan tempat menurut hierarki kerajaan.
Asas budaya masyarakat industri (dan perdagangan) adalah
budaya yang justru menghendaki pernyataan yang bhineka,
aneka ragam, bersaing, berlomba dalam kelainan sebagai perwujudan dari pandangan dunia yang melihat masyarakat
sebagai jagad yang disangga oleh pribadi-pribadi yang sanggup mengembangkan sistemekonomi yang terus-menerus meningkat efisiensinya. Masyarakat yang demikian tidak akan
toleran terhadap kemanunggalan pernyataan kreativitas karena

t73
172

kemanunggalan akan dianggap sebagai menghambat kemajuan


serta efisiensi sistem ekonomi.
Asas budaya masyarakat etnik yang terpisah-pisah adalah
budaya yang mementingkan serta sangat menekankan pada
kelangsungan hidup budaya tradisional yang sudah mencapai

tingkat kemantapan selama bergenerasi. Dan

Et \r

h,\

karena
masyarakat etnik yang terpisah-pisah adalah budaya yang
mementingkan serta sangat menekankan pada kelangsungan
hidup budaya tradisional yang sudah mencapaitingkat kemantapan selama bergenerasi. Dan karena masyarakat etnik kita
adalah masyarakat pertanian tradisional atau masyarakat pertanian feodal maka kelangsungan hidup budaya yang dipertahankan itu adalah budaya yang mengacu kepada pandangan
dunia rirasyarakat pertanian yang demikian.
Asas budaya masyarakat negara kebangsaan adalah budaya
yang menekankan kepada pengorganisasian atau penstrukturan
kembali unsur-unsur yang menyangga budaya etnik menjadi
unsur-unsur yang mampu menyangga secara kreatif suatu format budaya nasional sebagai perwujudan dari pandangan
dunia yang melihat kebangsaan, nasion, sebagai suatu pembauran budaya etnik.

s3
o*

Masa Transisi

\r
\3
q)

5o

FX
!(J

SE
uo

l*

S'r
.ao
oo
lqJ
tSB

EA'
\fa

:ril
is

:ab

C.Y
*rB

-&

tE='.R
\3

&

Dalam kenyataan proses perubahan sosial dan budaya tidak


pernah berjalan secara jelas mula dan akhirnya. Tidak pernah proses itu dapat ditandai secara sangat tandas akan
tonggak-tonggaknya. Bahkan juga masa transisi dari
perubahan itu tidak dapat digariskan tanda permulaan serta
berakhirnya. Dimulai dengan satu, dua gejala, "tahu-tahu',
nampak beberapa tanda perubahan dalam tubuh masyarakat.
Satu, dua gejala itu seringkali nampak sebagai gejala yang
lepas-lepas dan seakan tidak ada kaitannya satu dengan lainnya. Tetapi sesungguhnya mereka adalah unsur-unsur budaya
dari jagad yang berlainan dari jagad mapan yang dimasuki
unsur-unsur tersebut.
175

174

Demikianlah dengan kedatangan masa transisi masyarakat


kita. Masa transisi itu bukan dimulai pada waktu gerakan nasionalisme Boedi Oetomo atau Sarekat Islam atau Soempah
Pemoeda akan tetapi secara ironis justru dimulaijauh sebelumnya yakni pada waktu penjajah Belanda menggariskan suatu
kebijaksanaan untuk membuka perkebunan-perkebunan
komersial di Jawa dan Sumatra. Kebijaksanaan itu telah
merobek struktur sosial banyak daerah pertanian tradisional
di Jawa dan Sumatra, menambah jalan-jalan darat dan kereta
api, membangun kota-kota dan kota-kota antara dan yang
tidak kurang pentingnya membangun jaringan birokrasi yang
lebih besar dan luas yang mesti diisi dengan tenaga pribumi
dan sudah tentu dengan demikian dibukanya sekolah-sekolah
dasar dan menengah yang terbuka bagi anak pribumi.
Meskipun hingga sekarang masa transisi budaya pertaflian ke
budaya industri, serta masa transisi budaya etnik ke kebangsaan masih berlangsung dan masih jauh tanda-tandanya akan
berakhir, gejala permulaan transisi itu, saya kira mulai nampak pada waktu pemerintahan jajahan Belanda harus memikul
konsekuensi yang jauh dari kebijaksanaan komersialisasi
perkebunannya itu. Konsekuensi itu adalah semacam "westernisasi" terbatas yang bahkan bisa dikatakan sebagai "westernisasi" yang reluctont , yang dengan berat hati dilaksanakan
oleh Belanda. Akan tetapi, apa boleh buat, itu semua perlu
demi kelancaran roda administrasi penjajahan serta administrasi perkebunan yang harus mendatangkan banyak keuntungan bagi ibu negeri Belanda. Dan "westernisasi" terbatas
itu pun mulai menyebarkan virus-virus konsep Barat tentang
kapitalisme (dan marxisme serta nasionalisme), liberalisme, industrialisme, komersialisme, administrasi serta birokrasi
modern, ilmu dan teknologi modern, dan berbagai cabang
kesenian modern. Lapisan tipis dari klas menengah birokratik,
yang di Jawa disebut "priyayi", dengan didukung oleh lapisan
yang lebih tipis lagi dari klas menengah nonbirokratik dan nonpribumi" rnulai merangkul nilai-nilai baru itu serta menyerap

sebagian dari padanya


untuk dijadikan bagian
dari gaya hidup
mereka yang baru'
et

t.iun] ffi; kras rnenengah-hirokrarik


Itu, terurams yan{ Ol"n
.fawa,.aOJ"n,;r*o kelanjirran
masyarakat perr a n ia
Aari etit
n traAi., ionrjla ng
fec,cta I Mereka

"
masi h
;il'asa,
bu,r
"i:
ava
masyara kar
il}} :.ff#,lJ -q:li;;;
ili: il: t*}"X' y il [], ll t;", lil,i ::: i it.;: ]
I
I

mereka

."ri;

;;ff;;#?ilt

Belanda yans "cas-ci,


.,,;

;,

mi ;r

sansar

.',ilTarr

;;il;::::lT

p.,,in[.",uur.u

lii#ffi

kekuatan-kekuatan gaih
ff ?ilt;
bacl.dy pelajaran yang meskiprn,'t,,,Lu-flrku valre rriereka
dia.jarkan mr
posi ti v is m e da
n ra.sio n a"r i rr,.l
i, :fflX?
keluarga dan derrgan
i
demikian"*rr
percava i*,rrJo.ring
jagad yang utuh
",rrif.r,
meskipr" b;;;;;,;ln
o..nro, i,,, *,*,*r,o
percaya akan kara-kara
;;;il;:;r,,,,
iugu
.,kornperisi, ,,t,ru_
seperfi

iIffil j:lffif

,l

sionalisasi"

1i

m enenga

dan,,ekon;;;;,.'*;;

h bi rok rat i k ru',g [.,r*;,


?,, ;_ ;11;,i;: li,r:,;;
Jawa, yang meskipun
rictat .**.ilu,,ng heban
hurlava l.eodal
seberat sauclara_sa.arrr
toh rnirirr mereka
yang di Jawa dalam
hal kc,terika',J,l

,l

ketuarga dan

;]l;l:.,
r.r*iil:ri;

,f*o'

lagal perranian ,.r,li.;;,,;i.l;i:

bersikap mendua juga.dalam

:,[ff;, [iX,T:;

*;.;;;;; dan men),r:r.ap rrnsur_


u:r:r. budaya masyarakat
ird,;;;;i. ;;;,, peitdt
td ka rt lepang
ada lah zaman
nrr* *.r."' :;::l: j jji^tan,
puou,ulru ; ; ; J ;:,:j
: 5:ll
berarri dalam masyarakar
ki;;';;;,;;na
rr

fiiill, i::l #,

ruii :,ltr

Jawa. Masyarakar
,ada rnasvarakar
ncrranian fcoaaiy;,;;
,,,,lrh clirckuk rekuk
dalam hierarki sosiat

dan;;;;.;,i, ;f,
dan makin Jit.iunrun
rugi bu,ur_br;.1,.f:].,,y:

cJidrrkung

ilil;,f:h;ilfl I:lY'^;:;;;ffi ;';'il,i,,,X'i!i,,i{,!;


1,r l,*l#ffi !f,* fft.il,ff # m#,*
"il
b, r;;;;'
ffi ff'[li.lf i I ; I ifi ffi J.Iffi? ; i *llfl

., i

"

11

l'16
177

tanpa suatu
dibuka bagi semua klas sosial
menengah dan tinggi
serEerbagai jabatan birokratik

jr;;;;;

kecuali. Begiturah
para angsernuanya' dibuka bagi
ta militer (Peta dan iit'n";'
dalanr masvarakat mulai
sota klas wong t'r*).''n^(iu'"f"* { wong cilik yang hadir
jumlah
i.elihatan p.*untlungi" u"t''
lebih
Ui'okrasi dan militer kelihatan
dalam berbagai it"iu]lg
,r.".r:"f daiiPada Yang sudah' datang' prinsip "masyarakat
Dan pada waktu it'I'otrtuun
p.rinsip, vang ingin ditegakkan
egaliter" adalah *;;;k;^
sosial
kita, gelombang mobilitas
dalam demokrasi ";;;;;,
kuantitas
Dari sudut
"0"" ;;;i;;'[h],
secara vertikal tt'
iru berjalan deugan
gelombang itu, p'J"' clemokratisasi terjadi suatu gejala
memuaskan. Akan ;;i;;.kualitatif
para anggota
vaXni tidak m-empunyai
budaya run, *tnu'iit-'
mobilitas sosial vsrtikal itu
wong cilik ,un, *t']u;;;[""
justru
nitai yang baru melainkan
menggambaoftun 'uutt' 'iistem
mapan
sudah
hanya mengambil- ^f ift sistem
']l'-11, 'o"*
yang lahir itu
Maka
priyayi'
(meskipun terbelah) Jari klas
alih
pri-vuyi yang, nrcskipun mengambilbclum
adalah kaunl neo
karena
ikun tttupi
nilai-nilai fu*, tu,rir,' iriyayi'
luga baru mulai mapan
"mentradisi" ttun 'luugui klut 'ire'ekapri-voyi itu tebih "berikras nett
maka ada t ecenaeru,r"gan
keduclukan mereka
ngas", lebih'r';;j'"J;;"l "''tnt'upkan pasri apakah secara
tahu crengan
daram masyarakatl'i-vr,ia"t
kita telah berhasil juga

kualitatif "o'u'"n

tit'"tf*ift'si"

yang kuantitatii'
sebaiknya prosesnya

Arsitektur "Neo PriYaYi"

pertanian yang tradisional


Arsiteklur dalam masyarakat
tuncluk kepada asas

yang mesli
dan feodal tentulah arsitektur
sama dengan kedudukan
keutuhan jagacl' Arsitektur patung' manusia dan apa

pepohonan,
ikut
"ngui"t'oiu, i"*',tt'.
salah satu "sekrup" yang
saja dalarn iug"iliu-n<iriah
o*r.]T:
mc,jaga kelestarian
menrurar cra* erenga* de*rikian
sketlarto
pfat<''r arsitektrtr 1'run tunrluk kepada
bangan lag:rrl'

yang secara kolektif telah ditetapkan oleh jagad pertanian


masing-masing lingkungan buda'ya etnik. Arsitektur suatu
masyarakat pertanian tradisional organisasi kemasyarakatan
ditetapkan menurut sistem kekerabatan tertentu dan batas
teritorial dari kesatuan masyarakat itu tidak usah harus terlalu
jelas, maka arsitektur pemukiman, lanskap serta rumah-rumah
kerabat mereka disesuaikan dengan kondisi rersebut. Hal ini
jelas terlihat, misalnya, pada arsitektur nrasyarakat pertanian
Minangkabau, .Batak, dan Toraja. Sedang pada masyarakat
pertanian tradisional, sistem kekerabatanya tidak menurut
salah satu garis ibu atau ayah melainkan pada kedua belah
pihak, maka arsitektur pemukiman, lanskap serta rumahrumah mereka disesuaikan pula skenario jagad tersebut. Hal
ini dapat jelas dilihat misalnya pada masyarakat Jawa, Bali,
atau Bugis.
Sedang pada masyarakat pertanian tradisional yang feodal
arsitektur itu kecuali harus menurut pakem skenario jagad
juga harus menurut pakem skenario masy arakat kerajaan
yang ketar berlapis-lapis lapisan sosialnya. Maka pada
masyarakat pertanian tradisional f'eodal Jawa, misalnya,
berlaku satu konsep arsitektur yang "bertakuk-takuk,' pula
dengan stratifikasi sosialnya. Ada arsitektur rumah wong
cilik di desa, di daerah pertanian, kemudian limasan, joglo,
dan akhirnya rumah-rumah para bangsawan tinggi dan kraton
raja. Pada masyarakat kerajaan, yang juga memiliki pandangan dunia serta sistenr kepercayaan yang lebih rumit dan
canggih, arsitekturnya juga menrantulkan kerumil.an dan
kecanggihan itu.
Arsitek dalam masyarakat tradisioual pertanian, dengan
demikian juga berfungsi sebagai "aktor" yang harus "bermain" menurut suatu "skenario". Meskipun seorang arsitek
dalam dunia p!'rtanian tradisional itu secara nisbi dapat bertindak secara mandiri namun dia tidak mungkin bertindak
sebagai seorang "sutradara". Yang disebut sebagai
"sutradara" dalam jagad begitu sesungguhnya tidak terlihat,

179
178

yang memerintah
suatu ir'!'isi ble hond
tangarliii* Ilterupakarl

,il;il;,'-;i."',1 -L*,}1;*in ll;1, ;:IX,\ ff :[','"Ti:X:


sebagai
tugasny'a dengan seo
-:::::ti:';il;,td;
sentli'! Maka karena duriukannya
uiiar iitr
'
''ak, (tt rtulah u"it"ii

,i;;;t,

'^''""-)'i'iiitu metrinat diri mereka

tidak
Mereka
dilanr nrasvarakatnya'
sang
sebagai oranr)-orallgl'unl**u
Ju'"i *t"ka sebagai
'

-Ji
bahkan mungkt. 'i;tn;;t';;;j ;4"
in'iii
J'
sar
be
),.,
{
a.
*] :ff,:,1'#i'
se ni nr
fi f,ll''31,i
"
masyarakat tra'
pelukis
Oan
yang
biasa
pertanian
0.rn"n^1'
desa
J;;i;arga
-"11T:Xi
mereka pertama-tar;"
:i*:1" ut
iuga hcrtarri dan
""'?iisebagat
pengetahuan
i"*r,r, itat u kernudian

!,i'iil,"#ff
o'nun

"*-t
yang
.!l,u;
Pengetarruan n"'"''lJ';;"'";;t;
tet"anl seorang generalis
'tpt'iuti'
pakar,
seoratlg
"*pt*'
naskah-naskah lanra'
rnestinya iug" t*t"il"t"1uutu dan arsitek dalam dunia perarsitek
l)engan p"ntlttt'kata
ieodal) adalah menvatu
;ang
i;;;;;;
t'adisional
sekali
tauian
tlorut' ada akan kecil
jagad
dengan
dipikulnya
'*hi,.,;;"';i;;;'uiu
resiko y'ang akan harus
";;;;t
kemungkinannya f"oltnu
masyarakat)
teibuang' dari
sebagai "o"t"u"Tl'
lutut dan tidak
;;t;mencuat'"titluk
kentungkin"n "'uuiu
yang sudah ditata menurut
ri*g-kungan
crengan
seimbang
n'
a!
'
H:ll.'i,t1o k i t a sek arans ad1r -i::::::':,', (dan
i ffi feodal)'
berlainan Uet'-'t oaii i"*"J'*t^nian.tradisional
j3*ud, pertanian yang sudah
itu
t
laBi
Jagad
"J"""n
tlansisi yang bukan
"x'lu"*
ra-aaurar"'-jagad
mulai
(sedang)
jagad begitu
"t;il:
a"" ..irbang. Maka
uruh, buka" l"*i ,"i;,
skenano arpula.
skenario yang utuh
tidak lagi *.ny.oiu-tun
*uiditi yung mencerminkan
sitektur ,.xunu"g "l'uiut' 'Ltn*io
cita rasa
suatu masyarakat transisi'
aari
tttU*taf'
keadaan
cotlage'dari
;tt;t;;;;;ne rtull *trupakan
kesa-uniu'
esrerika ttu uourlil
merupakan
budaya yang belum
macam-mat"lagi merupakan'jagad
tuan yanB puaul'ilu'v^*[ut't''rtunr'ui n""vu adalah " sek ru p"
trt uh' pe n gr"

"rt#"'

^il.,v"'i't;;;;;tt"

180

yang fungsional untuk menjaga keseimbangan jagad melainkan

jagad yang merupakan "perserikatan" dari penghuni-penghuni


mandiri yang mempunyai vesled interest, -nya sendiri-sendiri.
Maka penghuni itu sudah rnulai menghendaki arsitektur tempat bermukim mereka sendiri menurut selera mereka sendiri
bukan selera sang sistem nilai yang membimbing keutuhan
jagad. Dan selera itu adalah collage seperti tersebut itulah. Sang

priyayi lama yang status sosial serta status ekonominya


sudah tergeser oleh sang neopriyayi dengan susah payah
mempertahankan harga diri mereka dengan mempertahankan
joglo atau pendopo lama mereka tetapi kemudian pelan-pelan
karena desakan ekonominya harus mulai menyekat-nyekat
joglo atau pendopo itu menjadi kamar-kamar indekosan.
Atau yang sedikit punya modal akan merombak joglo
atau pendopo mereka menjadi wisma alav guest house
Untuk para wisatawan dalam dan luar negeri. Maka dapat
dibayangkan arsitektur priyayi yang bagaimana kemudian
berkembang dari sikap terbelah dan darurat sepertiitu. Sedang
kaum neo priyoyi yang sekarong sesungguhnya merupokctn
klas menengoh kita long baru adaloh yang sebenornyo yang
memegong kendoli selero orsitektur "moso kini". Tetapi sekali
lagi selero yong tidak kurang terbelahnyo pula kareno neopriyayi" itu adalah produk dari dinamika masyarakat transisi. Ini adalah klas yang menerima segala macam masukan
persepsi estetika baik lewat pendidikannya, kesempatan
kekayaannya untuk melihat perbandingan di dunia luar sambil mendesak, mengukuhkan kedudukan klas mereka sebagai
klas "neo priyayi" betu[. Maka segala macam arsitek dalam
segala gaya (Spanyol, Romawi, Mexico, Arab, Neo Joglo, dan
gabungan dari semua itu) pun bermunculan di tengah-tengah
kota kita. Dan karena lanskap kota-kota kita bukan lagi lanskap alun-alun, mesjid, penjara, rumah bupati, rumah patih,
dan dibalik itu kotak-kotak daerah permukirnan, atau juga
tidak pernah berkembang seperti kota di Eropa dari kelompokkelompok gilda melainkan kota-kota urbanisasi justru kaum

l8l

"neopriyoyi" (yang sekarang mulai banyak juga anggotanya


yang "non pribumi") itu berperan besar dalam menentukan
lanskap yang centang perentang mendahului balai-kota
menetapkan city planningnyc, maka bisa dibayangkan arsitektur lanskap kota yang bagaimana yang berkembang di
kota-kota kita sekarang.

Laci Budaya
Sementara itu kota yang bukan kota kerajaan yang utuh
lagi, kota yang merupakan perserikatan dari berbagai unsur,
sekarang terkotak-kotak dalam berbagai "laci budaya" yang
tidak semuanya cukup jelas statusnya. Orang berbicara tentang sektor formal dan sektor nonformal dari penghuni kota,
di dalamnya masih terbagi-bagi lagi dalam lapisan-lapisan formal dan nonformal. Urbanisasi yang tanpa rencana yang
merupakan gelombang exodus dari desa-desa pertanian tradisional (dan menjadikan mereka drop-ottts dari budaya pertanian tradisional) telah menciptakan segmen-segmen tanpa
status, tanpa laci-budaya, karena tidak jelas status mata
pencariannya.
Arsitektur apa yang bisa diciptakan bagi mereka ini?
Dan desa-desa yang makin dekat "mengepung" kota, yang
juga makin retak jagadnya, arsitektur permukiman dan lanskap yang bagaimana dapat dikembangkan dalam suasana
transisi yang semrawut ini? Arsitek dalam masyarakat transisi juga bukan lagi bagian yang tak terpisahkan dari bagian
lain dari jagad. Ia bukan "sekrup" lagi. Ia adalah seorang
pribadi mandiri tetapi bukan pribadi yang bebas. Kalau
seorang undogi, atau dalang, atau pematung, dari masyarakat
tradisional pertanian tidak bebas, mereka menerima ketidak
bebasan mereka dengan tanpa bertanya-tanya lagi karena pandangan dunia mereka padu dengan pandangan dunia jagad

rl

rl

;l
:l

mereka.

Arsitek dunia transisi bebas statusnya akan tetapi tidak


bebas kenyataannya. Ini karena arsitektur sudah mntcut,
182

PERPU)TATAAX

,L

MbNUK

sU

!l

terlepas dari tangan yang tidak kelihatan dari jagad yang utuh
dulu, dan sekarang ditangkap oleh tangan-tangan nyata,
kongkret, yang memiliki kekuasaan dan uang" Tangan-tangan
itu banyak dan semuanya memiliki kekuasaan dan uang. Juga
arsitek itu banyak yang merupakan produk dari masyarakat

transisi itu sendiri. Banyak pula yang berasal dari klas


neopriyoyi itu.
Arsitek dunia transisi telah berkembang menjadi suatu
"propesi spesialisasi". Sang arsitek adalah sang pakar yang
makin memiliki kepakaran yang tersekat-sekat. Ia bukan lagi
seorang "generalis' dalam gaya undagi atau seniman
masyarakat tradisional pertanian. Ia tidak atau jarang membaca novel, sajak, buku dari disiplin lain, mendengarkan
konser , melihat teater, tetapi menghibur diri ke disko, bersosial dengan sesama arsitek, makan enak di restoran dan
sekali-kali menghadiri seminar profesi. Selebihnya kerja,
kerja, kerja menyelesaikan proyek dengan pesanan berbagai
pemesan yang "memegang" arsitektur.

sekian dari banyak kemungkinan


hambatan menuju konsen_
sus rer.sebur. Munskirr
si[ap i;*;';;;, para arsirek
kemauan potititi
serra
_vaig kuar ;l.f
saan untuk menerinra pe.ranan ,;.1,.*egans kendati kekua_
rnereka ,.t ugai pemegang
sama mandat sebagai-rhli
ber_
waris ,ri, n.r,.r"rg
arsitehtrrr itulah,
yang akan rnembuat q,.),rrArul
arsiteklur, ;;;i
rroak rrsalt berkembang
sernraw,ut.

Konsensus

Lalu bagaimana sekarang? Di tengah kebalauan dan


keterbelahan dunia atau jagad transisi ini apa lagi yang masih
dapat dilakukan? Masihkan ada harapan sang arsitek masih
dapat memegang arsitektur yang sudah mrucul, terlepas dari
tangan tak terlihat dari jagad utuh? Sedangkan jagadnya sudah
terlanjur tidak utuh lagi?
Saya tidak tahu pasti. Mungkin salah satu jalannya adalah
dengan mencapai suatu konsensus dengan sang pemegang
kekuasaan dan pemegang uang untuk tidak hanya mengeloni
arsitektur sendiri. Mereka dan arsitek adalah ahli waris yang
sah dari jagad yang utuh dulu. Bila jagad tidak dapat lagi dipertahankan keutuhannya setidaknya ia tidak usah dibuat tidak
menyenangkan untuk dihuni dan dipandang.
Konsensus hegitu sungguh lama bisa tercapai. Desakan
waktu, kekuatan riil kekuasaan, egosentrisme, egoisme adalah

In+
185

telah melupakan berbagai prinsip dasar termasuk dalam


prinsip-prinsip dasar arsitektur. Ditambah bahwa pem-

KEPENTINGAN
IV.3. ARSITEKTUR DAN
MASYARAKAT*)
Oleh: Permadi' SH
sebuah

p.t?fu:i yang berdasarkan


Arsitektur adalah sebuah
11':'l.ly
d i, i;, i
fikepada
kode
kegiatannya' Deng
terikat
tel ah
.d:t:.k"1'1lll";i.#.;i,i i* i . t t u'
kepada di si pli n lane
as' b aik
xll'xl:'xlT,ffir
i
r:iill;
dengan masvarakat'
yang menvungx" iiul'Ig"' "'"ittx
dan antarkawan'
l;;;"; lingku'n'gannva
bangsa dan negara'
;J*ltiun' baik disiplin maupun
kurang
Tanpa batasan-batil;;;t
kurans lenekap dan
pt;f*i;;ggap
sebuah
etik
kode
t' -u "" g"rlrIT::
,un ge up t1ladan nl'
frT
men
t",i"pi"rtsi yang bersangkutan
ditundisiplinnya disiplin r^- r.^Aa
nrofesi. arsitek ditu
profesi'
''"i'ui
kode otik
metode
$an
1ik
Dengan adanya
dengan
yuug
tut untuk metaXufun kegiatan
dan hak vang sesuar
t;*"jibanArsitek berhak untuk
horistik ,.rtu
disiplin'"1t"'o'"fesinya'
atau kondengan
kemauan masyarakat
it'ftudap
tiOuf
mengatakan
se'uai dengan disiplin
1igar arsi tek t ulp-u
sumen, apabila
apabila
dan k ode ., l. vunt'fr';i;*"u
memberikan saran
untuk
rtt*ijiuun
"
mempunyai
"v?"' * t t" u r'
t
u
1,,
i t t rt' t"i"
o
^ "' " "
m e li h a
lti fl;:HftT
l
.
" Lebih-lebih aPabila Par
"
an
h
uk lebi m enin gkatk
ii."v'uig'd#;
negara'
T1^::t
dan
tuk sebuah il'
bangsa'

;';;, *l

if mfll;*;:L:f *f'
H;

I#

*'x;i

#;i

*r;

H?T:ii:;

_ffi;;:

il;ffi;i"tan
:'i*Ily"

1':i"'

;;';J't'

pengabdian

"t
*t"fu

Dewasa
'"r
rupa sehinggu

*)

masyarakat'

Nu'ionuiitiuh dipacu sedemikian


untuk mencapai tatget'
ouiu* pituk'unuunnya

"'iladap
pt*u""'""*

--iulo*KongresNasionallAtlllDiJakartatanggal14-16
DisamPaikan o

bangunan nasional yang dilaksanakan telah menumbuhkan


pola hidup konsumtif yang hebat dikalangan kelompok elite,
maka dunia arsitektur juga terpengaruh. dapat dirasakan
semakin banyaknya karya arsitektur yang melibatkan para
arsitek, yang tidak lagi sesuai dengan disiplin serta kode etik
profesi yang ada. Bahkan terlihat adanya arsitek yang tidak
lagi mempedulikan disiplin ataupun kode etik, melakukan
kegiatan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Pembangunan nasional yang melibatkan profesi arsitek tidak
lagi melihat pembangunan secara holistik, akan tetapi secara
sektoral tanpa mengindahkan lingkungan hidup secara makro.
Ada sementara arsitek yang bersedia mengikuti kemauan konsumen asalkan memperoleh imbalan yang sangat besar,
sekalipun mengetahui keinginan konsumen yang bersangkutan
menyimpang dari prinsip dasar disiplin dan kode etik. Ada
pula arsitek yang memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat/
konsumen akan teknik arsitektur, dengan memberikan berbagai sugesti agar konsumen yang bersangkutan bersedia
menerima kondisi yang disodorkan oleh arsitek yang bersangkutan. Demikian pula terdapat arsitek yang mengikuti
kemauan Pemerintah dalam melakukan pembangunan,
misalnya pembangunan rumah murah dan lain-lain, sekalipun
mereka mengetahui bahwa bangunan yang dibuat sebenarnya
secara arsitektur tidak manusiawi dan tidak memenuhi syarat.
Dengan adanya kenyataan-kenyataan tersebut dewasa ini
pembangunan di Jakarta menunjukkan kesemrawutan yang
luar biasa dan tidak dapat memberikan ciri khas sebagai
Ibukota Negara Republik Indonesia yang dikenal mempunyai
tingkat kebudayaan yang tinggi. Jakarta merupakan kampung
besar yang pengap. Bangunan bertingkatnya sudah mengerikan
dibanding dengan fasilitas yang tersedia. Bangunan umum
seperti pasar dan lain-lain tidak mengindahkan aspek

Maret 1985'

187
186

keamanan dan ki:sciamatan llrasyarakat. Ciri bangunan


semrawut dan acah"ar.:ekari, ada gaya Spanyol campur Joglo
dan lain sebagirinyi..
Sulit rasanya bagi para arsitek lndonesia untuk dapat
menepuk dada, bahwa pembangunan fisik yang ada sekarang
adalah karya nrerska yang mencerminkan: Inilah Indonesiaku!

Masalah Yang llihadrpi


Untuk dapat mengenrbangkan arsitektur yang

sesuai

dengan kepribatlian dan kebudayaan Indonesia, dihadapi ber.*;.S6f


\:-"b
u4

;
r\

yartg terkcsan dragqtl." f:':::r..:'O'


Bangrntan baru
lris/r;rts'
sc ki t ar b un ilci

tt.:rhadap

lingkungan

bagai masalah vang dapat menjadi hambatan, antara lain:


l. Disiplir: arsitektur yang dipelajari atau diajarkan
melalui penclidikan fnrmal di Indonesia, merupakan disiplin
yang berasal dari negara-nc:gara Barat, yang seringkali mempunyai dasar fiiorofi yang sangat berbeda dengan jiwa
arsitektur Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam gaya
arsitektur sesuai rlengan tranyaknya daerah-daerah yang mempunyai karakteristik masing-masing, yang secara holistik
disesuaikan rlengan keadaan lingkungannya.
Dasar-dasar arsitektur tradisional sangat sedikit diberikan,
sekalipun terdapat arsitek-arsitek yang pada akhirnya juga
mendalami arsitektur tradisional, akan tetapi jarang yang
secara konsekuen menerapkannya. Pada umumnya arsitektur
tradisional yang clipergunakan, hanya berupa ornamenornamen saja. Kesulitan untuk rnernpelajari arsitektur tradisional, karena hahan-bahan tertulis secara ilmiah boleh
dikatakan sangat langka dan pendalaman arsitektur tradisional
pada umumnya juga harus banyak menggunakan naluri atau
kemampuan paranormal, suatu hal yang sangat sulit dituntut
oleh generasi masa kini.
Dengan demikian penggunaan arsitektur tradisional yang
sebenarnya sangat scsuai dengan lingkungannya dilihat dari
sudut geomansl, ikiinr, alur gempa, arah angin, estetika, dan
lain-lain, semakin lnma semakin langka karena terpengaruh
oleh perkembangan penerangan arsitektur "modern".
189

188

2.

Pembangunan nasional yang berbentuk bangunan

fisik juga berorientasi pada arsitektur negara maju. Baik


instansi Pemerintah maupun swasta, dalam membangun
gedung-gedung, jembatan, bendungan, dan lain-lain, menggunakan arsitektur "modern", sehingga bangunan fisik yang
tumbuh dalam alam pembangunan dewasa ini menunjukkan
arsitektur yang tidak sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Lebih-lebih belum adanya peraturan
tentang batasan-batasan bangunan fisik, atau kalau sudah ada
perenapannya tidak sesuai dengan maksud dibuatnya peraturan
yang bersangkutan, nampak bahwa bangunan fisik yang terdapat di kota-kota besar.terutama Jakarta, semrawut dan tidak
mempunyai ciri sebuah Ibukota Negara Kesatuan Republik
lndonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika.
Kebijaksanaan yang ditempuh oleh pejabat-pejabat juga
sering simpang siur. Sebagai contoh di Jawa Tengah karena
dikampanyekan Identitas Jawa Tengah, ada bangunan rumah
sakit yang harus dibongkar atapnya untuk diganti dengan
model Joglo atas permintaan Gubernur yang tidak bersedia
meresmikan bangunan tersebut sebelum mempunyai "identitas
Jawa Tengah". Apabila keinginan-keinginan yang demikian
dipenuhi tanpa adanya sikap yang mendasar, maka dapat
dipastikan, dalam tahun-tahun mendatang akan lebih banyak
bangunan yang berciri "gado-gado" sesuai dengan selera
pejabat yang bersangkutan tanpa mengindahkan disiplin dan
kode etik profesi. Dan apabila para arsitek yang bersangkutan
memenuhi keinginan, maka hilanglah "identitas arsitek" demi
terwujudnya identitas suatu daerah.
Pembangunan fisik yang sedang dipacu ini justru mendorong para arsitek untuk bersaing menawarkan disain dan
arsitektur modern yang sedang berkembang di negara maju,
tanpa lagi mengindahkan masalah kepribadian dan
kebudayaan.

3.

Dalam pola hidup yang sudah menjurus kearah konsumerisme dan bahkan dewasa ini bagi sekelompok masyarakat

telah menjurus kepada,,hedonisme,,


n, u, n vu [' r o n r r," ;;
apalagi kalau cara ,.rpr.ol.hnya
sangat mudah dan tidak
hatal
mengineint<an bu"g;r;;:ffiunon
yang sesuai dengan
"selera

;;;; ;#H ];,T:ff ,#[1iff];

u ga r a

ketamakannya,, denga"
iiJ".t mempersoalkan biaya
yang dikeluarkan.. Oan
bania[
memenuhi,'selera ketamakan,, ".j,.t yang tergiur untuk
-k;;#rl,.urru.akat.
ta.raUrt tanpa mengindahkan
lagi disiplin, kode etik
d;;
Timbulrah
berbagai bangunan mewah,-roaaln
,,aneh,,
Oun
di sebelah
perkampungan rakyat
t""g [.I;'ur, a.nru, kolam_kolam
renang yang menyedot
air ,.t,inggu rrmur-sumur penduduk
kering, yang diterangi a.rgan
trr?ir, ,.ur"h rumah mengkon_
sumsi tisrrik yang dapa.r
di;".d;;[ln
,n,ut penduduk sekam_
pung din lain sebagainyi.

4.

Masalah mutu dan keselamatan

masyarakat.
Banyak bangunan yang
mutu arsitekturnya tidak
dapat
tanggungjawabkan dan
tidak,,arrrl"*f . perumahan dioer_
muiah/
rakyat yang dibangun
oleh p.rurrurlaupun
BTN, terutama
yang paling murah,

dinilai of.r, ur,ri guUitat

pernah mengunjungi

,#;l'llil:,f
Sebagian

il.l

tndonJa ,.U"r"i kandang i;;;;*


ayam dan

l''

i'oir'

a.ffi' aie,nur,i,;ffi;,

besar, bangunan bertingkat


di Indonesia mem_
punyai disain arsirekr;r
y"r;-;;;?
baik,
karena
kekurangan tanah,. menghemit
b;;, bangunan danatasan
sebagainya. Anabira
lain
b";;;;;

;;;'demikian dibiarkan
berkembang seperri
kota-kota besar lain oi:*#;;,"orJi'1t ",, saar Jakarra dan
lnAonlsii Jtuni..roah menjadi
tum_
ouU:l batu yang sangat sumpek dan
mengerikan.
Di samping itu,. setama ;i
,;;ili banyaknya faktor
kearnanan rnasyarakat^r"r*'lrrril^oir.r*,atikan
dalam
mendesain bangunan. purur-puru
r"iunr lorong_lorongnya
sempir, plafonnya tioat<
memJnuhi ,rr"l,, pintu-pintu
(rolling door) sehinoga
lipat
apabila t.rjujiilouf u.un
sulit untuk
dipadam kan, Gedu ig_g.d
urg b";il;k;;',anpa r anssa
penye_

ll

il

190
191
l#

'z: -1?il''lirttilE

Iamat apabira terjadi kebakaran,


atau rangga-tangga berada
di dalam ruangan, gedung_ged"ng
Uiorf,np yang sangat curanr
ketinggian antara bagian 6.iutu,ri
Jui,, a.n* sehingga apabita
terjadi kepanikan akan dapat .ri.-Lunuvor,un
Di samping itu, dewasa ini juga banyak rniivuiliu,.
gedung_gedung
yang ditambal sulam, diperluas,
seperti rumah sakit, hotel

dan lain-lain. Tam.bal

,ufurn'ling dilakukan sering


mengabaikan segi_segi estetika,
keamanan, dan keselamatan
masyarakat lain-lain.
A.
q)
tr.
60

\
o

AJ

tl
\J
ql

"a

.{
+,,.,y:,,. il

a.
ql

t3-

<j

Pembahasan

Masalah seperti yang dikemukakan

berlangsung karena berba'gai

i"f.i*l

di

muka

dapat

lain:
l. Belum adanya peraturan "rrara
perunclangan beserta
kelengkapan dan perangkatnya,
yang mengatur masarah
arsitektur, sehingga belum ada
r*,u [onr.p rentang arsitektur
Indonesia yang hoiistik, mar..o,
J""1.r-"; dengan kehudayaan
dan kepribadian bangsa_ BeLrerapa
p*.u,u.u, yang telah ada
yang menyangkut
bangunin,
t.urnunur-r*;;;;,
.masarah
dan lain-lain, sekalipun
,.u.,rrrr,lu';;." sektoral telah mam_
pu membendung ekses-ekses
atau mencegah
^i.rrru.n,har-hai negatif,
akan retapi karena. berbugui
rur,in.,
fakt,r nrental,
tidak dapat diterapkan o*g""
J"il. it",r, Arsitek Indonesia

:1t;,?,_H1Tj,T]:ff

,nyui"p.ur,u.,"u"rrt.,*uiuony;;;;,

2. perkembangan rnasyarakat telah


menciptakan
struktur (politik, ekonomi,
Uujovu, sosial) seperti yang
kita
hadapi dewasa ini sehingga
;;;;;t;;;an sisrem cian tang_
gung jawab yang seharurryu
u,fi. Si.rr,ur
membuat arti "pemb,ang.unan,,sebagai ,,beradayang ada telah
di atas segala_
galanya" sehingga cteyi.oemb;;;;;"
seringkali
segala hal
yang menyimpang dari
disiprin da-n koae etik dimungkinkan.
Struktur sosiai politik telah
_*rrUri,kan sikap menral,
pejabar ridak berani mengamb;i;;l;",
rerhartap
penye_

t92

te3

pejabat lain' lebih-lebih yang


lewengan yang dilakukan oleh
mereka selalu ingin
mempunyai jabatan i.Uit' tinggi' Bahkan
sehingga tumbuh
menyenangt un "uuputt" atiti "Cukong"
sikap ABS atau ACS'

pola konsumsi
Struktur .t ono*i telah menumbuhkan konsumsi ter-

rn.*uf, (konsumerismt;, ma'yatakat melakukan


jasa arsitek' tidak
masuk dalam Uungunun yuni *t*trlukan

i;;i;;tJ;t"rxan

sudah terpengaruh dan bahkan bergantung


kepada struktur
yang ada. Banyak kalangan profesionar
daii seiuruh d;,di;
termasuk arsitek, yang pada akhirnya
,,inriiirii-oi

merakukan
prostitution!'. Dan tindakan tersebut
dilakukan

;;il;

mengabaikan kepentingan masyarakat/konsumen.


Beranikah
kita semua murai merakukan koieksi
Jiri ou, mulai melakukan
penertiban?

keinginan
t euutut'an, akan tetapi berdasarkan

hidup
dan atau bahkan ketamakan' Pola
3edernya
|1V..a
pemertninstansi-instansi
untuk
termasuk
slogan
merupakah
pola hidup
;;h ;;; puru p.luuut'va selalu mengkampanvekan
sederhana.

telah menumDi lain pihak struktur sosial kemasyarakatan


jabatan' dan lain
buhkan sikap koruf, p'ngti, komersialisasi
mema!1f
sebagainya tanpa uiunvu tinOakan vang
it-i:ii:
lzln-lzln
pengurusan
penyelewengan-penyelewengan atau
diselesaikan
dan
;;;;;;"" d'apai dilakukan tanpa prosedur
(K)asih (U)ang
istilah
Muncullah
melalui suap atau upeti'
P uncak vune.
ltt ktT!1lq,t:::i"
fHtuui t (P)eikara. Kawasan
sepertl yang
hidup
iatah dan membahayakan lingkungan
cagar alam Pakar
ditegaskan oletr presiien sewaktu membuka
tanggung jawab
Dago di Bandung, ,iauf. Ouput membebaskan
profesi arsitek.
menumbuhkan
Masalah yang bersifat struktural ini telah
segala masalah
sikap malas aan ingin mudahnya saja.' sehingga
yang
peraturan
bisa"ditembak". C)rang segan untuk melihat
pelanggaran
ada, segan untuk mengawasi dan menanggulangi
yang terjadi.

Kesimpulan

terStruktur masyarakat di lndonesia telah mengakibatkanyang


jadinya erosi mental di kalangan intelektual dan mereka
profesi arsitek' Banyak
menyandang ruu,u'piofesi, tJrmasuk
ciri intelektual
yang tidak fagi Ueruni tt"iiup mandiri sebagai
etik' tetapi
profesional yung *.*pu'yui disiplin dan kode
194

195

IV.4.'I'R.ADISI,'IRANSISI, DAN IDENTITAS")


Oleh: Dipl.,Ing. Suwondo Sutedjo, IAI

berbeda O.rsll apa yang


terdapat di sana: Overhang,
Claytiles, slender, columrr,"
op;;;;r, green.

Bentuk-bentlk

Bagaimana kuatnya keinginan untuk menyatakan identitos


daerah dalam bangunan, saya rasakan waktu mendampingi
Direktur Fermuseuman mengunjungi museum-museum negeri
yang dihangun di tiap Ibukclta propinsi. Cara menyatakan
identitas tersebut boleh dikatakan berbagai daerah sama, yaitu
dengan rnengolah bentuk-bentuk tradisional dalam bangunanbangunan rnonumental lhinnya, seperti gedung-gedung DPRD
(Medan dan Palu) dart gedung-gedung Bank Cabang (Denpasar, Mataram, Medan, Palu, Bengkulu, Banjarmasin).
Menyatakan ldentitas nasional dalam bangunan Kedutaan
Besar Republik Indonesia di Kuala l-umpur dengan mengolah
bentuk meru dalam bangunan bertingkat banyak, dianggap
wajar pula oleh almarhum Suyudi.
Pengolahan bentuk-bentuk tradisional untuk keperluan
baru dilakukan juga oleh arsitek yang merancang Hotel Bali
Hyatt. Entrance lobby berbentuk wantilan, demikian pula
restoran memanfaatkan tema yang sama. Deporture lounges
pada bandar udara antar bangsa Cengkareng diberi atap
berbentuk joglo, sebagai identitas nasional pintu gerbang negeri
dianggap wajar pula oleh kalangan-kalangan tertentu,
walaupun mengandung masalah: apakah Jawa sudah boletr
mewakili Indonesia.
Dengan khazanah yang sangat kaya akan berbagai bentuk arsitektur dari zaman yang sudah lampau sebenarnya tidak
mengherankan bila banyak dilakukan penyelesaian masalah
identitas "secara visual". Arsitek yang menurut katanya sendiri berusaha agar menara kantornya "belongs to Jakarta"
pada prinsipnya bermuat hal yang sama, yaitu mengolah unsurunsur yang terdapat pada bangunan-bangunan di sini, yang

t)

Makalah disajikan alam Simposium IAI: Identitas Budaya dalam Arsitektu.r",

.lakarla.

.vans d;rih ;;;;sar dari berrtuk_bentuk:


Lumbung,."T1:|<,,
;;-ii;;anuri),

rumah rengkorak
(patu), balai pertemran
l.logto-ATripendopo
di Jawa]
tilan di Bari)' Bagai-unu
a-.-nfui?ntur,-uentuk yang Wan_
masih
vang kini oii"tui
keperruun-rrrr,

fllHif,H"fi,:1'
h

ie

'"tuk

ilr

;il,fl:;il3;,l1,
dengan berbuat, demikian--il;; tf5ru;i:t;: i l,Jxur;;
;d;_ mensuransi arri dan
keaslian Borobudur
bdilr;;;*_]ir",
oolrur,^i..[*
buat demikian kita ,iout
*.ru]'Jan bentuk-bentuk up,
asri
fl"'"'.:?t'x,l$,:'-:*y"i.q"*'i,,orr,r.uiauil.,itlr,tu.
r#,jfl?:
o uj e, er
;ffi1 j:[fl:
rui':rj;,,,",,"i "i:.r
Satu har .r,
s

ebua

lrgu, setain masatah


"kew4j4psp" mingolah
i,1ti: il;*ilgLr
U.ntuL_-U.ni,I ouri zamanyang
iam_
s i,,ii i',i,
t ol p e)d i
i3i;,:i.i?l# ah
ara
s

at

gen iu

ri

to c

neg

Contoh:

a. Daerah sekitar istana.


Untuk menjaga keutuhan
bu.,,.,akai bahasa
Hr}:moH:::y:tune"ui'
rgan

rstana bekas Gubernur


l.na..ulljjn
dia Belanda.
b. Daerah elite seperti daerah
"'v'rrerl$ yang juga dipertahankan keutuhannyu. -'.^' Mentr
c. Pemugaran ba ngunan dan
lingkungan seperti Tanah
Fatahillah.

Pelestarian Ou.r.1l--ru,"rah
bekas penjajah ini yang
diperrahankan ditinjau
dapat
dari
r"gi"ilrl;,s
ridak menyatakan
identitas daerah maupun
nasional.
Tenru kita ticlak ingin
hanyJi'.]i.t nrrrutah visuat
learing history, but
ini. ,,No
isrnini ir:*"n,rirr!,,, kataseorang.

196

197

Yang dilakukan oleh nenek moyang adalah menyelesaikon


mqsalah dengon wetjar, masalah yang pada waktu itu mereka
hadapi dengan cara-cara yang pada waktu itu ada pada
mereka. Masaluh spa yang kini kita hadopi dan cara-cora apo
yang kini ado pado kita. Bentuk-bentuk Arsitektur Indonesia
modern hendaknya bersumber pada usaha-usaha memecahkart
masalah yang kini kita hadapi. []ukan bentuk tradisi yang pcrlu
kita lestarikan, tapi nranusizr Indonesia yar)g terancam ini yang
harus kita selanralkan.

s
t3

Nenek moyitng kita hidup dalarn kcadaan terisolir.


Sekarang negeri kita rnenjadi crossroad katanya, lnenjadi kartsekarang negeri kita menjadi crossroad katanya, menjadi kancah kekuatan-kekuatan dahsyat: model, bahan, ahli. Seorang

A.
ct'
ho

guru sejarah arsitektur Belanda pernah mengatakan: "Arsitektur barat akan menjadi Arsitektur dunia". Prof. Ir.
Sidharta dalam pidato pengukuhannya pufl, menyebut

\l

q)

t3

tS

kecenderungan yang sama dengan mengemukakan dua buah

\t

diagram dari brrku Doxiadis: "Architecture Introditional".


Dapatkah kita membendung kekuatan dahsyat yang satu ini?
asal kita ingat bahwa bangunan dengan dinding tirai kaca
sudah sejak lama ditinggalkan di negara-negara industri. Satu
atau dua buah sebagai aksen di lingkungan beton masih dapat
dibenarkan, setidaknya sebagai bahan penelitian, sejauh mana
benar-benar nyaman selain efisien dan lain sebagainya.
Nenek moyang dahulu kaya, sama miskin, sama pandai,
sama bodr.rh. Sekarang kita tidak homogen lagi, tapi heterogen.
Benl uran-bent uron anlaro herbagoi taraf kebudayaan terjadi
dalam bermacam skala cii seantero tanah air. Mengatasi
benturan-benturan ini sekali gus menyediakan peluang bogi
tronsforntasi budoya adalah salah satu masalah yang harus kita
pecahkan, dan yang jelas tidak dapat diatasi dalam skala
bangunan perbangunan, tetapi dalam skala kota dan tata
ruang, bahkan dalarn skala strotegi budayt.
Pernah dikemukakan oleh Dr. Emil Salim bahwa perkembangan kota seyogyanya diselenggarakan sedemikian rupa

t'13

a
TJ

AA

o
50
ct

.F
l3

\)
qJ

bo
L
ti

^u

t99
198

yang lebih
yang miskin. ke taraf
penuh
hingga yang kaya menarik
pernah
f9i"t111k akan
Machu
tinggi sehingga "rrt"ivi "LiJ
of
Kiia teringat,Pudu Charrcr
kontras seperti
konsep sektor
"ru'ung'
mengusliu"'-ortinfgalkannva
yang
as
Picchu,
*tntiingxun kon"p ko nt inuit
;;;
;;
perencanaa'
dalam
yang terintegrasikan' Pada
tekstur urban aon iJi'i sonla.benturart menuj u ke trans for-'tltiutt
h aki katnya unt uk';;;;t["akdisyarat kan daerah-daerah
pt'tu
'skala bangunan dan di urutanmasi budayu
"Out'
oeralihan di skala uti"'-Jf
"';;;;;;r"ng di dalam bagian bangunan' " antara" at au
pl' u';;"; out'.-un-autrah
D i s k s I a Lo'"
kantor sepanlenara
dan
" petrdukutlg", di';btlakang' ^*tnull
Pegawai-pegawai rendah
piototol'
jalan-jalan
iang
dan rekreast
tempat-tempat makan
menengah m"mbutuhttan
dalam
tersedia
tidak
*titxulllit
yang sepadun otngin'tu*r
;;;";;:;.nara ([aca) taraf internasional'
benturan perlu diusahakan
Dalam rangka i'Ji'pttr'nak
antara toko-toko dan
oemisahan, uut<an pengasingan,terpisah oleh ialur parkir
u*iu*unya
kota'
nedagang kaki lima'
beberapa pasar dipinggiran
seperti dapat dilihat di
a'ntara luar dan dalam
Di skols bangunon: peralihant11ik matahari dan curah
tt'naAup
sekaligus pt'rinotllgin
berandat"tir' da.Ra.t lewat dengan
di
hujan, uxun t"upii'"'
rumah
pada
yang tak.terdapat
uurr.on-ii?on
beranda,
unlum'
d]seaiatan untuk fasilitas
Tanah Abans' L;;;;*;n
Pola-pola hidup yang mungkin
Di skolo bagian bangunon:
ruang
ii autu' atau titik tolak susunan
masih akan bertahan f
antara
makan.dan ruans tamu'
yaitu pemis"hu";;;';;;;g
sasi
moderni
proses
b?l.th i adi
lak i dan r",."', uoii';;;JJa,i*;i
ngobrol
suka
dari barigsa vang
akan melanou rtit?aiJ"ii""'
me'ibaca dan menvendiri'
suka
dan isis' nlt"jaai iil*;;
';*s\*p' karena kita memang berada
Menggarap
yang
";il;";;;;
/envelesaian-penvelesaian
cli daerah rt*po''lti#;;i
;ttlktutal sampai ke detail'
konseptual

IV.s. ARSITEK'IUR: SLiATU

PROF

ESfl ESO-

TERIS?
Oleh: Gunawan W. Gandasubrata
Mengapa jarang ada petinju yang bisa merangkap
melakukan pekerjaan sekretaris? Jawabannya: karena bertinju
dan menulis steno memerlukan bakat yang jauh berbeda.
Mengapa media nlassa jarang menuli.s tentang arsitektur?
Jawabannya karena kepekaan terhadap keselarasan lingkungan

buatan manusia, dan kesanggupan untuk menyatakan diri


dengan kata-kata adalah dua bakat yang berbeda. .lawaban
ini singkat dan jelas. Tetapi, mengapa kita harus puas dengan

jawaban yang singkat dan jelas, kalau l..ita hisa juga


memperoleh jawaban yang panjang belit dan samar-samar?
Mari kita coba.
Mungkin orang jarang menulis tentang arsiteLtur, karena

menurut sejarahnya, profesi ini biasa diliprrti kerai'rasiaan,


suatu profesi esoteris. Tentu jangan sejarah bangsa iain yang
kita tinjau.
Di Yunani purba, para tukang-batu (para te(:toil) dipimpin oleh seorang tukang kepala (seorang srrhiterron). Jadi
kata "arsitek" artinya: "tukang-kepala dari para tukangbatu", singkatnya entah "tukang-batu-kepala" entah''i.ukangkepala-batu".
Kebudayaan Yunani bukan hal yang asing bagi kita. Seni
pahat Yunani, lewat Hellenisme dan seni Candhara, berbuahkan pahat timbul Borobudur. Filsafat Yunani, lewat
Neoplatonisme dan tasawuf Islam, membuahi saslra suluk
Jawa. Namun cara berpikir Yunaniyang lugas (sebagairnana
tercermin dalam julukan "architecton" ittii agaknya jauh
daripada watak kebudayaan masa lampau krra.

"''-o*'i^rrg

20t
200

Warisan Masa Lampau


Nenek moyang orang Ujung-pandang memanggil arsitek
mereka dengan sebutan: "pandita balla". Balla berarti rumah;
pandita (pendeta) jelas artinya. Julukan ini adalah warisan
masa lampau kita sendiri.
Sang merah-putih merupakan warisan masa lampau kita
lain. Setiap kali nenekmoyang kita menatap dwiwarna itu, lambang penyatuan roh dan jasad, lambang penyatuan bumilangit, mereka berkata: "lnilah alam raya, inilah aku, inilah
kita!" Tetapi identifikasi diri dengan dwiwarna itu lenyap, bila
garis-batas antara kedua warna itu terhapus dan meninggalkan
satu warna merah jambu.
Nyatalah betapa pentingnya garis-batas yang lebarnya nol
milimeter itu. Guna menandaskan pentingnya ada kalanya
garis-batas itu dilebarkan menjadi satu bidang tersendiri,
sehingga dengan diam-diam pembagian-dua merah-putih itu
berubah menjadi pembagian tiga: merah, putih dan hitam; tiga
warna dasar dari perisai lambang negara kita. Juga warna senihias di lrian dan tanah Toba, warna Trimukti di Bali, dan warna dari sogan, wedalan, dan kain rnori dalam dunia seni-batik
kita.
Pada saat bumi bertemu dengan langit, terbentuk suatu

bidang batas yang tebalnya

nol milimeter juga.

Bagi

nenekmoyang kita, dalam zzlrflan praastronout, bidang ini penting sekali, karena bidang itulah dunia milik mereka, sejak kaki

mereka menginjak burni.


Saat sc'orang bayi untuk pertarna kali menginjakkan
kakinya ke bumi, saat ia dengan resrni menjadi rnahluk muka
bumi, nterupakan saat yang maha penting, yang magis yang
perlu diarnankan dengan upacara. Dengan diam-diarn orang
beralih darisuatu pernbagian-dua (Bumi dan langit) ke suatu
pembagian-tiga (trumi, muka-bumi dan langit). Orang
Tapanuli, yang tidak pernah bersinggungan dengan agama
Hindu, menyehut ketiga lapisan alam raya ini (diurut dari
bawah ke atas): bonus taru, banus tong{t, dan builua ginjong.

Orang dari daerah yang dipengaruhi


kebuclayaan Hindu, bisa
clengan menggunakan kata_kata
asing: bhurtoka,
bhuwqrloku, clan swqrloka. Sama
saja.

jual lagak

Bumi-Langit
Bagi nenekmoyang kita, suatu hal yang penting
terjadi di
dunia tengah ini, kalau orang berhasil
menpsun materi (bagian
dari bumi) sehingga memisahkan ruang (sebagian
auri iunEitl,

karena pada saat itu terbentuk kedwitunggurun


uumi-ffiit
baru dalam ukuran kecil. Rumah ini,
tiruan kecil dari alam
raya ini dianggap- selesai terbentuk, ialau
balok h;;;;;,
selesai terpasang. M.aka saat yang magis
itu dirayakan orang
dengan melilitkan kain merah-puti]n,
lairbang p.nvu,run [r_ilangit, pada balok hubungan itu.
Kadang-kadang merah_putih itu disamarkan
orang dengan
mengikatkan tebu (gura jawa berwarna
merah) aan terlpa ffitan itu purih) pada balok itu. Hasil bumiitu,.kafigu,
il.iurn
bangkan kesuburan tanah yang disebabkan
oleh p.ir*uUrfru,
Bapa-langit dengan Ibu-bumi. Di Seram
tengah, dalam
dongeng Bapa-langit disebut Ataharitq,
fUr_Ui,,l' Oir.i'rt
P<thun; di tempat lain nama_nama
lain dipergunakan dalam
dongeng-dongeng yang sejenis.
Nenekmoyang kita berjiwa puitis.
Dalam puisi orang biasa
.beralih
kiasan. Dan pem.bicaraan tentang bumi
Ou, f.*gjtltuu
asas perempuan dan laki_laki, bisa
saja berubah rn.nluilp.r_
bicaraan tentang ma:la dan ruang, "ut*
,.nrung materi dan
yang imaterial, yang lahir dan yan[6atin,:uraa
a"un.ot,,;;;;

pu,1 dan menghidupkan,

ur.irnun maut dan harapan


keselamatan, k e kuatan d.e m o n i s
Ciur, uii aan e u a i
G;'i ;i,
yang^rendah dan yang tinggi,
Iaul dan gunung, Segoro Kidul

i' i;

dan_Sitihinggil, yang.nista-dan yung


uTu.u dan seterusnyal
Salah satu tugas dari pandito bittomasa
lampau adalah
menyelaraskan hubungan muka-bumi
denga, Uu*ufr_Ur.i-

Jelasnya membuat rumah yang aman


dengan jalan

menetralkan ancaman_ancaman dari


kekuat an

deionii

yang

202
203

(karena derajatnya di bawah derajat manusia) bersemayam di


bawah bumi. Dan inilah sebabnya maka profesi itu dalam masa
lampau kita menjadi suatu profesi esoteris karena orang yang
mengaku bisa melihat kekuatan-kekuatan yang mengancam
itu hanyalah orang-orang yang memiliki "ngelmu" tertentu.
Dalam buku memoar Howard P. Jones, yang mengenang

.ra

.$
tJ

.d
Xtl
qi%

frP
-\J

BS
$B oo
'Fs
ql!

.=n
A<t
r:L

q)

\J

5o

o
o

.ra
F,i

pengalamannya selama di tndonesia, diceritakan tentang


kolam-renang milik William Palmer yang airnya habis melulu.
Akhirnya pemiliknya putus asa dan minta nasihat dari seorang
yang punya "ngelmu", yang sebagaimana bisa memberikan
nasihat: selamatan! Ternyata sesudah selamatan, kebocoran
berhenti. Orang yang berpikiran lugas, apalagi yang berpembawaan ilmiah, tentu bertanya: apa hubungannya peristiwa
makan-makan dengan perbaikan kebocoran pelat beton?

Unsur Persamasn
Sepintas lalu orang tidak menemukan unsur persamaan
attara "ngelmu" seorangpondita ballamasa lampau dengan
ilmu seorang konstruktor bangunan masa kini. Namun toh
unsur persamaan itu ada. Konstruktor modern juga mengaku
melihat bangunan yang belum berdiri itu terancam oleh panahpanah yang tidak terlihat oleh orang lain. Kalau kemudian ternyata bangunan itu toh tidak ambruk maka sang konstruktor
mengaku berjasa, bahwa dialah yang menetralkan ancaman
panah-panah itu dengan manteranya yang sakti: "Sikhmo ha
is nol, sikhma ve is nol, sikhma em is nol!".
Ada lagi unsur persamaan antara magik masa lampau dan
teknologi masa kini: kedua-duanya bersumber pada kebanggaan manusia dan keinginan untuk memiliki, menaklukkan,
menguasai. Dulu yang dijinakkan adalah satwa-satwa di bawah
manusia. Kekuatan-kekuatan dalam bumi. Kini yang dijinak-

kan adalah gayatarik bumi, kekuatan-kekuatan dari bumi.


Unsur persamaan yang lain adalah bahwa kedua-duanya
sekadar alat untuk meningkatkan harmoni dalam alam, sambil mengabdi kepentingan manusia. Gejala teknologi yang
205

204

liepentingan. manltsia'
merusak alam clan berbalik meiawan
pemberontakan Caloagaknya dapat clisejajarkan dengan
,r"uiu"g. jurusihir hitanr dari Girah'
menjadi keangkuhan'
Kebanggaau ,,,u'l*iu mudah beralih
kegiatan itu dalam lingkar
Karena sekaclar ufut, rnuftu kedua
periferal' Kalau,kita
kebudayaan u.rt.auour.un di tepi-tepi,
mencarinya di tempat lain'
ingin mendekati inti, kita harus

Saya ini SiaPa?


dan di.s.ampine
Manusia adalah mahluk dunia tengah,
rnemiliki' menaklukkan dan
kebanggaan aan fteinlinon u'tutt
hati dan hasrat unmenguasai, ia rnengeiai pula kerenclahan
hal itu kita temukan dalam
tuk nrenyayungi, *tn;inoi' X"a"u
penciptaan lingkungan yang selaras'.
juga dengan ttap
Kecintaan akan-harrn''rni, sebagaimana
atas perhitungan
kecintaan, bukanlah hal yang berdasarkan
hati kita temukan pula'
untung-rugi Uugi *unutiu' Keiendahan
suatu lingkungan Where
karena lingkungan vung tttuti adalah
diri
mon can be trirnself", tempat orang menampilkan
,.[ugui*una adanya, secara polos' dan lugu'
mem.buat
Tukang-tukung [i,u mungkin saja sanggup
Napoleon' T.:?1t::
mejakursi yung r..'pu dtngun mejakursi
pa gelora ,.*ungut Kaisar liaqo]efn: vu"e^kt1llllt-1i'
kekaisaran Romawt pur,",rif memugar t<ejayaan duniawi bergaya
yang kosong' dan
ba, hal itu hanya .u*u pot., sikap
adanya'
tidak menampilkan manusia sebagaimana
wajar dari sikap
yang
buah
Taman-tamun l.pu,g adalah

t..niJuiutam' Kiranya agak membingungkan


di negeri
juga, kalau f.itu.n.natnlar pemilik taman "Jepang"
manusia' sebagai
kita itu, menyatakan diiinya' menyatakan
(Khalifatutlah) di atas alam
"Penguasa V*g.,'"*ukifi Tuhan"

orang Zen-Buda

seisinya.

yang

arsite-ktu.r
Tidak seberapa sulit untuk mernbangun
yang mutakhir di negeri
memamerk"n rroti'tt-p*<tut< lndustri
Alpen climusinr semi'
kita, lengkap dengan iklim pegunungan

Tetapi di tengah-tengah rakyat yang penghasiiannya


Rp 100.000,- seorang setahunnya patut dipertanyakan apakah
bangunan itu juga menyurnbang peningkaran harnroni.
Penciptaan lingkungarr '"where ntan con he hirnself",
penampilan manusia sebagaimana adanya itu membuat orang
berhadapan dengan suatu pertanyaan. Pertanyaan abadi, yang
lain zaman lain jawabannya. Pertanyaan abadi yang berbrrnyi:
"Maaf, numpang tanya, saya ini siapa'1 "
Columbus mengaku dirinya sebagai pr;"nemu telur yang bisa
berdiri. Tetapi jauh sebelum Columbus, di sini orang yang berbicara tentang telur yang selalu berdiri; telur dari Rrahrna atau

"Brahmanda", yaitu alarn raya kita ini.


Telur ini terbagi dua. Bagian yang atas itulah Iangit, bagian
bawah itulah bumi. Agar ielas mana ataso rnana hawah nenek
moyang kita menggamharkan seolah-olah lengkung langit
ditopang oleh pohon atau gunung itu pada akhirnya sering
mewakili telur dari Brahma sebagai simbol dari alam raya.
Magnet atau bcsi-berani selalu lnenunjuk aral: UtaraSelatan. Kalau magnet itr"r dipecah-pecah, maka pecahannya
juga selalu merupakah magnet yang utuh yang juga menunjuk arah Utara-Selatan. Dalam pikiran nenekmoyang kita,
alam raya yang dilambangkan dalam bentuk pohon atau
gunlrngan, selalu berdiritegak. Kalau alam raya dipecah-pecah
maka pecahannya pun, sampai ke pecahan yilng paling kecil,
merupakan alam lengkap lagi, yang berdiri tegak pula.
Kata-kerja-kopula "adalah" (yang menurut orang-orang
pandai, tidak dikenal dalan, bahasa Indonesia) dipakai untuk
membuat kalimat yang paniang: nasi tumpeng adalah
gunungan adalah Mahameru, adalah alam raya adalah kitasemua-yang-ada adalah engkau adalah aku.
Pohon atau gunung dengan sendirinya selalu. tegak; tetapi
manusia mempunyai kehendak yang bebas" Kris Biantoro pernah nrenyanyi: "Pring reketek, gltnung gamping gempal,
mlakuwo sing jejeg, dadi bocah ojo nakol." (... .Ialanlah yong

101

206

tegak,

jadi

anak isngon nokal). Kqlau terlqlu banyak mognet-

mognet kecil beriolan iungkir-balik magnet olom bisa kacau'

apa-apa untuk melangkahi kepala jemaah


haji yang ticlur di
lantai rumahnya).

Replika AIam Raya

Cerita tentang kaki tentu adalah kebalikannya


dari cerita
tentang kepara. pada sebuah proyek pembangunun

Dalam pameran foto "Setahun C)rde Baru" (1967) digambarkan seolah-olah segala macam bencana, yang masa itu
menimpa negara kita, merupakan akibat dosa-dosa Bung
Karno. Bung Karno adalah orang yang "mrojol ing akrep,
punjul ing apapak' ' (lolos dari yang rapat, menonjol dari yang
rata); kalau magnet yang begitu besar berjalan jungkir balik,
magnet alam raya langsung kacau, akibatnya Gunung Agung
meletus!.
Di Tanah Batak diceritakan tentang kejadian begini.
Seorang anak secara main-main bergantung dari dahan pohon,
kepala ke bawah, kontan semua tanaman padi di Tapanuli
tumbuh terbalik, akar ke atas. Bah! heran betul! Tetapi segala
keheranan hilang lenyap ketika ternyata bahwa si anak adalah
orang yang bakaljadi Si Singarnangarap, Singa ni uhum, Singo
ni horajoan, Singo ni hctta, dan entah Singa-singa apa lagi.
(Orang India yang biasa beryoga-kepala ke bawah pasti gelenggeleng kepala mendengar cerita ini).
Karena manusia adalah replika (tiruan) alam raya, maka
tentu kepalanya itu adalah puncak langit, sebagaimana
diceritakan oleh Jenderal Sirnatupang, selalu minta maaf tiga
kali dan diizinkan tiga kali sebelum ia berani mulai bekerja.
Seorang murid di Makasar mencabut badik, ketika gurunya,
orang Belanda, mengLlsap-ngusap rambut si murid dengan pujian: "Goed xo jongen!"
Ada orang tua yang biasa menggelar secarik kain di atas
tikar-sernbahyang setentang kepala waktu bersujud. Tikar sembahyang adalah sesuatu yang diinjak dan oleh karenanya derajatnya sederajat dengan bumi, jaditidak layak mengenal puncak langit, kepala rnanusia. (Orang Arab yang mendengar ini,
tentu akan gcleng-geleng kepala; dia sendiri tidak keberatan

208

ru** ari
sadikin, pernah terjadi insiien. xeiira
seorang mahasiswa

kerja praktek di sana, kakinya dihantam


crengan sendok semen
oleh

seorang tukang-batu yang ,ruik pirurn


ketika sang

mahasiswa menunjuk dengan tut."inv"


ke arah

sang tukang.

ilii;;ld;;,

Di Jakarta, dekat patung pak Tani,


berdiri

;l

Gereja Inggris.
Di bawah lantai gereia itu;eriajar_jajar
makam orang Ing_
gris. Orang Indonesia yong or"rg
Ouf , purti merasa kurang

enak menginjak lantai gereia itu,


ii merasa dirinya menistakan
makam-makam itu. Orang Jawa
agaknya akan membr"rngkuk_

bungkuk pergi. (Kerangka

orunglofun, Inggris yang di situ


agaknya akan geleng_geleng Lepita
ttotu,r, kuburnya; mereka
malah merasa menclapat L.troi*utan

.tikubr.ny;

;;;;;.-.

Satu Masyarakat
Magnet kecil-kecil yang digabungkan
menjacti satu,
membentuk

satu rnagnet besar. Mrnuiiu,


tiruan alam raya, kalau Ua.guUung, yung n;;;ur;;;;
membentuk satu
masyarakat.
yang seperti alam raya lagi,
Lerlapis t;Su

Itu tercermin juga dalam a.riteitrrnya.


Dengan cara ,'tiga orang

j,,gr. Hul

buta meiaba gajah,,, kita akan

meninjau tiga daerah kebudayaan,

*"rirg_rusing

kebudayaan

Ba.tak (Toba), yang mungkin


boreh kita unggup mewakiri masa
kebudayaan

Indonesia jada w.aktu ;;ruui menjelang


siang,,,
kebudayaan Bali (Se,latan),_yang
ilu*Ujn boleh kita anggap
mewakili masa kebuclayaan Ind<r-n.riu
,,siang

p"uJu waktu
menjelang sore", dan kebuclayuun
lu*u iX.u,onl yang rnungkin
boleh kita anggap mewakiii *ur"
t.Luouyaan Indonesia pada
waktu "senja menjelang malam,,.
Saya akan sangat berterima kasih,
kalau ada yang mau
mengirimkan orang buta tambahan,
agar rabaan atas gajah

209

yang paling menarik rasa


kita lebih nrenyeluruh' Khususnya yang terah hirang dalam
ingin tahu saya, adarah orang-orang
ieuidayuun lndonesia'
kabut "dinihari *t"iti"'*"r ui?'.''me.nrbawa warna merah
yuig tttut'
Orang-orang misteri-us
dalant bentuknya yang
putih dari daratan 'A'nlttiXu kenrari
bunga' Bunga wora wari-bang
paling puitis: dalam'Ut"tuft
buttga
alias ftiblsr: us roso sinensis)dan
(alias kembung
pro
"put"
iti"t plumeriu rubrq) dalani
kemboja tutiu' Jruniiu''ii
seekolru"[ipit'r'r"' clari. partner-partner
ses pemindai,an

sura kekeramatannya'
.dari
i.-tlr", i.opi'laur Jipisahl''an
yang tebitr siang'
zanran
ke
Tetapi maritan fiu kembali
sosialnya yang'trtama ada]1tt
raya
melihat pencerminan alam
ikatan kekeluargao,r.-t l.r.tu
Yaitu
hubungan kekeluargaan'
yang tiga ,u,un itu jt'go Autun''
'uniiru"nrto-hula, itngun subutuhu' dan boru'
arsitektu.rnva t'itik berat terletak
Seiring clengan
tiga pula: Kolong yang
pada rutnah keluarga yang tersusu.n
yang
untuk ternak; lantai rumah
mewakili arnlu Uu*"ui"fipu-ftui
sedang
nrewakili clunia tengah;
dipakai ot.t', orrggotl';il;^
raga-raga mewakili dunia atas'
ruang atap yang cligantungi
dari tnagnet-magnet kecil memben-

;;;'.Jail

Sebagaimana tt'uiiputan

pula kumpulan

tuk satu magnet ,l^*'ituirt besar'-demikian


satu "huta" (desa) yang
dari rumah-rr*u'h iii' '''*mbentuk
bentuk vang lebih
lagi,claiam

merupakan ,utu
desa
"oit'lu;i;;'-ttv"
terietak dalanr syarat bahwa
besar. Petunjuk xl "l't' itt-r
susunan
oleh ketiga-tiganya

tlga susun itu kita temukan


l'encerminan alanr raya Yang
(Setatan) mengekspresikan hubungan
lagi di Bali. Orang Bali
aralikc sununs tara\ kaia)
ke atas, clan kc o;t;;;'t';i;;l"*
yang kernuclian dielaborasikan
dan arah u. ,uur'iurlj, irtril
clierah (rtawa sartgal' Yaitu
lagi clalanr pt''ui!j'" "n'r''itou
datr pusat'
clJapan arah rnaia attgitt

:,

;:

Dalam kebudayaan Jawa (Kraton) alanr raya yang tiga lapis


itu tercermin pula. Di sini orang lebih lagi mernbagi dua perhatian kepada kutub-kutubnya. Kututr atas dirvakili oleh Sultan
(Kraton) dan kutub hawah oleh Nyai Loro Kidul (l.,aut
Selatan).
Kraton, jika ditinjau tersendiri, akan menampakkan diri
sebagai replika kosmos yang komplit tersusun tiga lapis: kutub
atas atau Utara berupa Sitihinggil yang menghadap alun-alun
Utara dan dunia luar; di tengah-tengah terdapat"tempat tinggal Sri Sultan dan di sebelah Selatan; sebagai kutub bawahnya,
terdapat bangunan-bangunan tanpa status. Ditinjau secara
keseluruhan, maka seluruh Kraton nrerupakan kutub atas atau
Utara, tempat pemukiman rakyat ditengah-tengah (kota pada
mulanya hanya terdapat di sebelah Selatan Kraton) dan pantai laut Selatan yang mengerikan sebagai kutub brawah.
Pada kutub bawah ini terdapat Cunung Kidul, yang semula
bernama Giriloyo (Gunung Maut). Di pantai terdapat koloni
orang-orang buangan: yang berpenyakir kusta. yang cebol dan
buie orang-orang yang karena kelainan fisiknya merupakan
ancaman magis terhadap keseimbangan alam.
Dalam zarnan kita, ada orang tua yang berpendirian,
bahrva soal-soal kelamin tidak perlu diceritakan kepada anak-

2tt

:l!

,l

Pecahan magnet selalu merupakan magnet lengkap yang


baru. Begitu pula pada rumah-rumah yang lebih besar, seperti
rumah bangsawan (puri), daerah yang satu persembilan itu
kalau ditinjau tersendiri memperlihatkan lagi suatu pembagian
nowa songa yang baru.
Arah kajo-kelod ini tidak hanya menentukan hentuk rumah
(halaman) Bali, melainkan karena bentuk kehidupan sosialnya
yang terikat dalam "republik-repubik desa", juga menentukan
bentuk desa-desa Bali. Bahkan pada akhir seluruh pulau Bali
bisa dilihat tersusun atas dasar arah kaja-kelod rni, yang
berkutubkan Gunung Agung dan Lautan.

Tahu Sendiri

Ikatan Kekeluargaan
Orang Batak lioba) ikatan

itu mutlak r,a'u' dihuni


kekerabatan itu'

rl

210

",-.e.-l-l

anak, "kalau sudah bqsar juga tahu sendiri". Dalam masa lampau, agaknya soal kawin antara bumi dan langit pun dirasa
kurang perlu dianalisis bagi orang awam, "kalau sudah berusia
juga tahu sendiri". Dan inilah lagi satu hal yang membuat halhal yang diutarakan di atas diliputi cadar esoterika.
Rasa kesatuan sealam raya adalah suatu rasa yang kalau
diuraikan, hanya jadi mainan kata-kata kosong. Nenek
moyang kita tidak pernah menguraikan apa-apa, kecuali

melalui dongeng yang liding dongeng-nya harus dicari sendiri. Oleh karena itu mereka juga tidak pernah menggunakan
kata-kata penutup yang klasik ini:
Demikianlah uraian ini dibikin dengan sesungguhnya;
semoga Bapak/lbu/Saudara senang menjadi tahu".
Zaman berubah. Kini pemuda-pemuda kita rambutnya
pendek-pendek, cuma sebatas bahu. Dulu, nenek rnoyang kita
bersanggul. Kini, untuk menghormati raja sehari (penganten),
kita penghuni daerah tropis-basah ini, menyiksa diri dengan
menggunakan jas dan dasi pakaian orang daerah dingin.
Dulu untuk menghormati Sultan yang betul-betul Sultan,
orang bertelanjang dada. Tiap Senen-Kenris orang menghadap
Raja sambil bersemedi, mendengarkan "napas yang SenenKemis". Yaitu suara napasnya sendiri (bunyinya konon: Hu
Allah! Hu Allah!), dan pemakaian baju hanya akan mengganggu audiensi itu (oudire: mendengarkan).
Zaman berubah. Kini, wanita bertelanjang dada segera kita
asosiasikan dengan pramuria bar di negara Barat, dan pakaian
yang serba menyelubungi tubuh dengan biarawati dan sumpah kesuciannya. Cuma orang bloon yang terpikir memberikan
contoh berikut, diangkat dari se.larah Timur, sejarah kita
sendiri.
Pada Candi Loro Jongrang, kita temukan relief tentang
Sinta, yang digambarkan bertelanjang dada. Sinta adalah
tokoh top teladan kesucian wanita. Di Singosari, kita temukan
patung Durga Mahisasuramardini yang berpakaian lengkap,
berkain dan berbaju. Durga adalah tokoh dunia bawah,

penyebar maut dan bencana,


yang semasa pasang_naik
aliran
Tantri itu dipuja dengan ,o;;;;';;
mendirikan bulu roma.

Peralihan Zaman
Bukan maksud daya membicarakan
soal rambut dan
pakaian. Soal rambu,
.,i_,

,""i'rurl.
pakaiand';:r;;;;i;;;i,i,"olli,r;::r3:i[l,f
,
iff
Jongrang (atau lebih ;;,;;;.ibunoi
Singosari (zaman
Jawa Timur)
agak

*.nu.ii'ritrt"'iir,r,ruu.

Mungkin kita. Iebih

b;ii;-'.;lri

dengan

peralihan
r*uffin*'Ulnrf, yaitu peralihan
dari
Abad pertengaha t*., n ii
[io';';"^;
Eropa.
".
Marikita akui, bahwa" kita iri.**
.;:I
kebudayaan yang kita

lffi

';

fi:TxlT.,.f
"1H,"

# ffi?#: : H;I,ffi

J:;:

Jalan_jalan kota Eropa


dalam abad pertengahan
sempit_
sempit dan patah_patuh
u.ut ryrl"remaksa orang
untuk
tengadah. para pendosu,
joru
p.nu.rffi
*u.irun,
setiap
srap menyarnbut turunnya
saat
Lem6ufiSu.re Juru Selamat.
Garis_garis vertikal
irr.,* iia"l lampat) yang mereka
air"rrii ,jrr*rru rerhunjam ke
li'pangkalnva
Dumr: orang
"0"
Abad pertengahan
IJ"l"t orang yang berakar
dalam-dalam di tempatnya.
Kota-kota Renoiisanie
memperlihatkan jalan_jalan
yang lebar dan lurus,
rava
me.eka seolah_olah menarik
garis yang
tegas dan horizontal.
fu"gf.ui gu.irIr",.n,, tidak lagi dilangit,
melainkan pada kepali
n.."io"rg,"L.purur.u. orang_orang
humanis dari masa itu
menyatuLu"n,J.ngun bangga,
bahwa
dirinya adalah sumber
au.i
f,.f
aap-al. dalam t.urJuyuu,
"ifui uf,]ri an apa pun yang terUjung garis horizontal
itu berakhir di cakrawala (ridak
kebetulan, bahwa orang
zaman itu ahli membuat
gambar
perseptif). Orang
Renaiisanc. U.ri."rl,',,Cakrawala
batas kampung_halaman
adalah
saya,,. Oaf am aUaa_abad
sesudahnya,
orans Barar_pun menyebai
k. ;;;; ilnru., dunia.

l:*,:'

212
213

Persamaan

Di T*nstr Air
ta'ndi zaman Jawa
*il"
!1']di
penJuru
M:ri kita l'crnbali ke ianah
herorient a'ci ke keetnpat
fgn i1$ lr',r i:r:r't i f**"'t"'Att''
L-akrawala adalah
bs:r kata : "
r - r *l rlah - t''l;ll' n*'iUou**'va
t'' ;':' K a pal; a n:.'rT:lf
r,, ;'
- l't
t,ui *' k.' o' n * g' o

3n

pi

t;:

"

;*:

-H': XIf IJ ; il:?:ff lli\ ?,:'ti:,


:*fl
Candi-candi
:

ilXi:

*:
Jfi iJawa

zaman
kita"
beromhak rJi antara O*f""-Ot""tl g' seolah-olah ditambatkan
n
Timur hg; o1, snt ast ffi;;tl ;;n"
orang masa itu berakar
iguttnya
oacla puncatt g"n"nglt"'
serasa
dalanr-clalaln di telnParnva'
Iapis" <Jan Dengunjungnya
Bt::' itrrlrlttr t*"li'i'u]ot'iga
g'
Budha
tln
g-pat
orah"keluhuran Pat tn
diant ark an t<.* ut a'
orarlg atas keting"
yang ber-iajar-iajar *i ;;;; "r*nging'tr'an
sampai"tt* ti" mlnolone sesamanya'
tiada'
-o.ian hu,ci n:anilsra i-"*
dalam
ke
rotrtiusan
iu*prri mau berkoft';';;;nJu imur' juga terdiri atas tiga
'lawa'I
Cancli Singosari, d;;;";
atas'
Juniu bawah' tengah dan
lapis, yang *tf"*io"'gf'un
bawah'
j"i?' Ji""t" ke lapis yang paling
retapi cli ,ini o'ung
bawah lanah'
karena rli sini aip'i''ttftuatan-kekuatan
suatu
f*g"ttdapat kita lihat sebagai bumi'
Agaknya za*ul'iu*u
langit dan menistakan
masa ketika
"'unr'#itih;;il;" sebagai masa ketika orang
Z.aman lawa Tiriu''ltU"fifttva
meluhurkan bumi'
,i.itirr", langit danseorang
pemimpin adalah seorangpon'
Secara tradisional'
cara nreniaga keseimbangan
ditara.ia, seorang yang dengan
dalam alam
dalam jagad tttiriiu'"ni*i1'u o'h Ieselarasan
jalan intrik
penguasa dengan
raya. Tetapi rtn atol rnt'juOi
persetubuhan di
pembu"'nun''i"ii""i"t^'*eiattuttan
dan
oleh
i eurtlttftakram a' la dibunuh
clepan unl um a ur"*' ui"u''
upacara
dalam
kctika sedang
r

pemberontak-p;;;;;tak
mabuk-mabukan'

Upacara mabuk-mabukan! Brlkanlah hal ilu ntengingatkan


kita kepada hal yang lebih kita ke'nal (karena berasal dari
sejarah asing) upacara esoteris perrtuiaan Dinnvrr.rs. upacara
Bacchanalia, yang biasa diadakan dalam rnasa Romawi Purba. Sesungguhnya persamaan anlara kedua era kebudayaan

itu tidak hanya itu

saia.

Terhadap zaman Romawi purba, olang Bar:rl jeli..s sekali


memperlihatkan sikap yang mendua hati Ada rasa hangga atas
kejayaan kekaisaran Romawi Purba, rasa b;rngga "vrang. bagi
seorang penakluk, maeam Kaisar Napr-lleon, henar-benar
melangit (hasilnya aclalah "gaya Inrperial" dalarn inlerior masa
itu). Di samping itu ada rasa rnalir atas kehohrokan zaman
Romawi itu, rasa malu yang bagi seclr:rrrg seniman yang perasa,
macam Fellini, benar-benar mendasar (hasilnya adalah film
Satyricon).
Sikap mcndua-hati yalrg sr:rupa ras;.inya datriat kita lihat
pula dalam sikap kita sendiri terhadap rna:rir \c_ii{r;ih l{indu
Jawa Timur. Mungkin bedanya hanyalah, bahwrr i iia bersikap
"tidak tahu apa-apa" tentang hai yang rnernalukan. Kita
dengan bangga mengenang kegagatran Kartanegara yang berani
rnenentang Kaisar '[iongkok. Tctapi dari zamalr iru-itu .]uga,
kita "tidak tahu apa-apa" lentang penllr1aan llhairtrva, tokoh
demonis. Kita dengair bangga nlengenang srrrilglah "palapa"
dari Gajah lr{ada, tetapi lebih Lrark lirpa akari l)eranan
negarawan yang itu-itu _iga, dalarn p*nlt,itrli;tlaH i.ri::"irgarltar
putri Sunda, sebagairnana diceritakan ilalarn Kicjuniq Sunda.
Kekayaan Romawi Purba, y'ang luar rnegah sepcrii r'etruah
porta triuntphale tcmyal.a teiah digerogoti tond;tsinya.
Ketika ia runtuh, seluruit Pantlrson cicwa-deu'a ltortrau'i ikut
runtuh bersamanya. Ilaru berabad-iihud kerniiciiarr. dalam
Renaissance yang telatr kita tinjau tadi, nilai-r.,,ui kebuda),aan
klasik lahir kernbali, dicangkokkan pada agarna tlaru yang
tumbuh di atas reruntuhan Pantheon dewa-tiewa [{tlirii:r..

]l5
214

luar megah seperti sebuah


Kejayaan Majapahit' yang da.ri
digt'ogoti fondasinya' Ketika
"candi bentar", tt'nyutu'tttuh
de*a-dewa Hindu ikut runtuh beria runtuh seluruh P#;;;"
di atas reruntuhan itu'
samanya. Agama Vu"g 'u'nUuh
punmengikat pandangan orang ke
melepaskan turuutun-yuilg
cak Gunung Pananggungan'
adalah keluar' ke arah
Pada nrula"v" Jfitn'""si mereka
kebudayaan mereka adalah
cakrawala' karena p"'*'-p""t
Jawa' Tetapi kemudian
kota-kota petaUut''ai ai p*tui Utara
pusatke clalam clirinya sendiri' dan
kehidupan prn t't'gutung"pinOut'
ke pedalaman pulau Jawa'
pusat kebudayaan p'n
yang tidak.dilayari' alias buntu'
meman<lang ke taut'selaian
disitu'
Dan kehidupan pull berakar dalam-dalam

Peralihan KebudaYaan
peralihan kebudayaan'
Kini kita menghadapi lagi satu masa
generasi-generasi terakhir berakar
Orang-orang yang selama
ragi cakrawala yang
dita,ahnya, t ini tercuuut din menghadapi dengan Laut Kidul
fttnifungun kontuk

luas. Ningrat asal :u*u


yang merantau kehilangan konyang mengerikan, seniman Bali
Iuhur' ina-ina Batak khi
tak dengan Crn''u^ ngung *nt
keramat' Tetapi tidak
langan kontak a"ngin duniuhouaJa:g
bahwa segalanya berubah'
benar juga kala tii^'*trrg"takan'
masih tetap arsitektur itu
Sebab, dulu maupun sekarang,
rohaniah (de onbewuste
merupakan ungkapan dari buday-a
Romonclt)' dan masih
Yan
uiting v'on de r"''''i'i*' cultuur'
kepada wawasan manusia atas
tetap kebudayaan iu'it'gut'ng
arah tujuannya (zeiin wesen'
lrakikat dirirtya, asal-usuinya clin
manusia itu ubunofkornsten b",t"'*iiil' clan masih.tetap
kaki digelitik oleh naluri-naluri
ubunnya terrrnoui Juiitfupuf

Dalam dialog terbuka cukup tempat untuk mempersoalkan


hal-hal yang membuat orang berkerinyut dahi. Salah satu hal
adalah pertanyaan, apakah "rasa kesatuan sealam raya"
(cosmisch eenheidsgevoel) masih hidup atau masih bisa
dihidupkan. Ada juga tempat untuk bercerita tentang hal-hal
yang biasa-biasa saja, karena adalah hal yang aneh tetapi
benar, bahwa soal-soal yang wajar dan biasa-biasa saja, dari
zaman ke zaman diketahui secara intuitif oleh setiap D ouwheer
yang buta huruf, kini harus dijelas-jelaskan expressis verbis
kepada bouwheer-bouwheer yang pengetahuannya selangit.
Pada pihak yang lain, dari orang yang jauh dari profesi
arsitektur, orang juga bisa memperoleh,pandangan yang bermanfaat. Orang yang jauh, pandangannya selalu lebih
menyeluruh dan lebih lekas melihat keanehan-keanehan yang
tidak nampak oleh orang yang dekat pada persoalan. Penghuni
planet Mars segera bisa melihat, betapa anehnya orang-orang
Australia itu, yang hidup jungkir balik melekat pada belahan
bumi sebelah bawah. Persis cicak.
Orang yang jauh mungkin juga lebih jeli melihat alternatif
yang mungkin dijalani. Pengunjung dari planet Mars akan
segera melihat, bahwa cara kita membaca buku bukanlah cara
yang satu-satunya, karena ia akan segera menunjuk ke orang
Jepang yang membaca kalimat dari atas ke bawah, dan mulai
dari halaman tempat kita biasa menulis kata "T A M A T".

purba (oerdriJtenl'
tidaklah bijaksana unPada masa peralihan kebudayaan
sekitar
.artuk tetap *.*p.tiuf''ankan selubung esoterika
sitektur.Terlalubany'akpertanyaanyangberkecamukuntuk
esoterika belaka'
Oupr, ,liu"fesaikan aaiuni saresehan
21t:'

2t7

IV.6.

ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA

plonned"' pola transportasi yang


berdaya guna dan berhasil
guna, b angunan_ bangun
an megah"_in Ouf, _tur"gd fr
r*r r.r, * _
bulkan kebanggaan penampilan

DALAM PENDIDIKAN ARSITEKTUR*)


Oleh:

Ir. Bko Budihardjo, M.Sc


"Whsl

i,s

yang serba cantik_bersih_mulus

its peaple"
(Shakespeare)

s cily but

Pertanyaan dan sekaligus jawaban yang dirumuskan secara


ringkas, dan sintal oleh sastrawan agung tersebut di atas sungguh sangat tajam menukik ke masalah aktual yang dewasa ini
muncul kembali di kalangan pendidikan arsitektur di
Indonesia.
Gelar insinyur atau sarjana teknik arsitektur, membawa
serta dalam dirinya konotasi dan bahwa bekal yang dijejalkan
selama proses pendidikannya sebagai arsitek adalah ilmu,
pengetahuan, dan keterampilan profesional yang lebih ber-

wawasan pada aspek rekayasa (engineering oriented).


Dan rupanya memang begitulah kenyataannya di tanah air.
Potulat yang dipegang dan diyakini oleh para wastuwidyawan
pribumi adalah bahwa bangunan dan lingkungan fisik secara
langsung mempengaruhi perilaku manusia.
Kita lantas harus percaya begitu saja bahwa penciptaan
lingkungan yang baik lengkap dengan taman-tamannya yang
dilakukan secara profesional akan memberikan kenikmatan,
kepuasan estetis, kesehatan yang lebih baik dengan
diperolehnya udara segar, sinar matahari, dan tata hijau.
Aliran kepercayaan seperti ini, yang dikenaldengan " orchitec
tural determinism, atau untuk skala kota dan daerah yang
lebih luas tersebut "environmentol determinism", telah
menyusup dan merasuk begitu dalam sehingga kita sering lebih
terpaku dengan penciptaan lingkungan pemukiman yang "well

Makalah disajikan dalatn Forum Nasional Pendidikan Arsitektttr, Semarang,


19

218

t9 April

1985.

walatr bangunan maupun


,kora

tunpu..tu f-Ui*prn ri*-, tu


topeng atau pupur-bedak yang
teblg. arpet .,,unr.iu JJrrrrn

segenap keunikan, k ek,asan

ain teanetra,

o*.ii"ilrr"1li, u,,
banyak lepas dari pengamatan
atau paling-paling hanya dilihat
dengan seberah mala saja.
,mu-,iu sosiar dan humaniora
memang sudah mulai masuk

kursil (kurikrl;-l;;.rli#rrt
pendidikan arsitektur,
akan tetapii.tit,r,ornya hanya
sekadar
menyentuh kurit luarnya
saja dan tidak secara erat
dikaitkan
rekavasa
dan perancansan
lr"riti1,.i"'u

;;;;;;;',

Herbert J. Gans*) menyatakan


bahwa
-' daram perencanaan
Iingkungan binaan ada dua
f.rtut,
Kutub pertama, arsitek Oun pfurnn.
- ring
kun gan iil k
;;;.*#;.f;:i:::Xl;,J?i.HH;
perubahan perilaku
manusia.
Kutub kedua, ahli_ahli ilm,,
sosiat, secara frontalmenyang_
- gah
dengan posrularnya urri*"-i."r.i;;;;;il;;i,11,
manusia justru bukan aspek
fisik melainf""
tanfisik seperti sosial, .tono*i
.tun budaya. "rp.t_r.p.t
Gans mengajukan kolsep
dasar yang merupakan kompromi
dari kedua kurub bertawanan
aerse;r;,
"Lingkungan fisik. gayut dengu, poiluL,
lingkungan rersebut-menrp.rguluhi;;;;.. manusia sejauh
sosial dan budaya
masyarakat yang terlibat di
dalamnvu,lta, sejauh lingkungan
tersebut, merasuk dan menyatu
dalam
Arsirekrur, lingkungan d; k;;;sistem sosial mereka,i*)
;rr;;;;;;nl.uuei
perikehidupan dan tata
cara hidup ,unu'u pada hakikatnya
adalah yang

;;;

terbentuk dan

:1,

,Tfl:T,,J.

ait"riu[uo;;;

ffi;;;;rffiir":

cans: "PEOpr-E AND PLANS".


re68 hrm.4.

'215

yang menghuninya. Pertanyaan tentang pengaruh lingkungan


fisik terhadap manusia penghuninya, telah menjadi pusat
perhatian dalam penelitian perancangan lingkungan.
Secara singkat Amos Rapoport menyajikan tiga pandangan
mengenai asal tersebut***).

a)

Environmental determinism:
Pandangan bahwa lingkungan fisik menentukan sikap dan

perilaku manusia.

b)

Possibilism:

Pandangan bahwa lingkungan fisik memberikan peluang


dan kendala, masyarakat menentukan pilihannya berdasarkan
tolok ukur, terutama tolok ukur kultural.

c)

Probabilism:

Pandangan bahwa lingkungan fisik memang memberikan


peluang untuk dipilih dan tidak menentukan perilaku, tetapi
juga bahwa dalam suatu latar fisik (pftysicol setting) tertentu
beberapa pilihan lebih memungkinkan daripada yang lain.

Dalam pandangan yang pertama, yang sudah dianggap


kuno, perubahan bentuk bangunan dan kota dipercaya akan
menyebabkan perubahan nyata dalam sikap dan perilaku, in
teraksi sosial, kebahagiaan, kesejahteraan, dan lain-lain.
Sebagai reaksi ekstrim terhadap pendapat tersebut muncul pen-

dapat bahwa lingkungan binaan sesungguhnya tidak


berpengaruh secara nyata terhadap manusia, dan bahwa lingkungan sosial, ekonomi, dan budayalah yang lebih banyak
berperan.

Bersikap ekstrim dalam berbagai hal memang kurang


bijak. Jadi sikap yang arif dalam hal ini adalah yang moderat,
tt*)

Amas Rapoport: "Human Aspecls of urban form", 1977, hlm. 2.

tanpa berpegang terlalu kaku


pada konsep hitam-putih,
atau
memihak sarah saru kutub.
riJ"[r"n terraru sarah b,a kita
bersepakat bahwa lingkungan
;;;;;;"prt dilihat sebagai latar
untuk aktivitas manusia, tata.
ini i.

mengham batlmencegah kegiaran


;;;,*::.
bahkan bisa berfungii seua"gai
["iuii*,r.

HLitI. i:lfrT;

unruk pengejawan_
tahan suatu jenis tindakariatu,
p..irur.u yang masirr laren.
Suatu latar fisik yang menghambit
tingkah kegiatan tertentu' biasanya hanya mempersulit
d,akukannya kegiatan tersebut
tetapi tidak dapat mencegah
,.p*uf,rryu (contoh: kasus tim_
bulnya jalan serapar. aiagonaioi
ulor_uror, kasus kurang berfungsinya jembatanpenyeberangan
atau kasus menjamurnya
pedagang kaki lima).
Kiranya masih sega.r dalam ingatan
kita, perkara rencana
penyeragaman pagar.di
sepanjang jalur protokol
kota pur_
worejo, yang kemuclian OiuUatr
aui, Oi,urgerh''',#"
naannya karena reaksi dari penduduknya.
agak jauh ke belakang, di'kota g"rirf Bila kita menoleh
juga pernah terbit
peraturan yang menggariskan
bahwa pe.autt_pe.;;;
;;;,
lingkungan p.rr.uhin *tv"ir,".r,
iiuuu,
seragam,
dengan
rancangan dan bahan yang
sudah ditentukan. 46;;;;;;.
tidak muncul persainga,
iure rujil-untu.p.rgt uni, menutup
peluang timbulnya pameran
kikayaan dan harta masing_
masing secara demonstratif.

Aturan Militeristik
Dapat dibayangkan suasana
dan citra lingkungan yang
tercipta dengan aturan m,iteristik
rumah seragam,
pagar seragam, perabot
seragam. Akan susah sekari
mengenari
rumah satu per satu, karenu
,iauf. uAurr,a jati diri atau iden-

;dil;i"ras:

titas dari setiap brngrn"n.r;;iG,


ada. Bita nomor
rumahnya copol. tak.ayal
p"rrif"'f.r
pemilik dilanda
si
l"gi
kebinsungan mensenali.;rd,rtri;;u*iorun,
Iain. Dan pada
an pal at i airi seueJuln'vl
."r."t,
111,_*1,
.t
b u k antah ru mah,
;alan bukanlah jalan, dan kota Uri""f.t
kota, begitu celoteh

l*,

220
221

-t

T
t

dan
jati cliri il:l.l."h yang meniadi napas
Karena
H,yck"
van
Aido
suatu bangunan atau

iiwa, pemberi k";;;;


iinsr

"if:ii,ii:

;pesifik

"'

iler ( r he r d w
ffi,iliiTi,,elitr"i:penentu
"" kebijakan dan inh ir

ov e

putu
Bantarn Books, rq8il)'
'ot'ttttint'u'I banyak yang mengidap
telektuai c1i negara
dianalogikan dengan
'fttechuno-rnurtia'"'S;;;l;'sesuatu
kota
Runtah' Iingkungan dan
teknuiogi nrekan.ts '";;;;';'
eksak'
teratur'
yunB
,1"'b'
dilihat bak perartgkut "'"'in
yan g me nghuni' yang
a
giian ntanusia-mau':si
mek anr !'al - Sedan
dan keatrekitugurnun kondisi
sarai di:trga" ttunii'?";;;;il-k;
iepas dari penglmatai- 113"
s'siai_ekonn,r,i-t,uiivJ-;;;:
saJa'
rle.ngirtt sebelah mata
palirrg-paling ftu"''u'tflt*tfing'
foto lantas rnenjadi ajang bagi
Perenciuraan penroangun*n
melampiaskan ide dan
;
para pen glr *,'l pu#tl';i;;;;il; "tuk
dulu
tanpa,ItToto perltt terlebih
gagasan-Eagiut*n p'it.)u'iinya'
penduduk
per-sepsi seita aspirasi
menghayati clan nrenyerap
abdi
diirigat' pemimpin adalah
kota vang oiauoinvaii'*';;
masYarakat)'

Tidak Pas

lagi' ide-ide baru yang


Sebetulnya tidak usah diragukan
maksuti dan iktikad baik'
bermuncula"
yang rapi' bersih' iniingkungan
-^1;;.r'
-vang
Miselnl'a: demi tcrc;ptrlnla
t'i*ni disadari adalah
itLupi
.lah dipanil"'*'
terasa di hati
i;"# r"n* kepala dantidak
bahwa apa vang
pas sama
besar
"
para penent" ktbj;;[;l it*ungL-inan
oleh
tiaambakan dan dihavati
clengan uou run*'Jii'ill-n""
kunci
sinilah -antara lain letak
masyarakat b"';;;";i
kota yang
Penanrpilan dan waiah
,*'J
masalahnya
ter'-i"*'' tanpa cacat cela (biarpunyang
serba cantik-ueisirr-mulus
polesan
aiau tledak-gincu
paksan)'a f,,'u' pufui
tidak
'opt"g
betul enak dipandang tetapi
tebal), memang 6arangkali
badan
aslinya bopeng budukan'
enak clisandmg';;i; kulit
keindahan
semua
apalah u'tinvu
keropos aun jl*a"fr;;t;G'

o;?;;;ii";;;

11'\

visual yang artifisial serba t-empelan itu" Bagi rnajoritas penduduk kota, yang terlebih penting adalah keindahal irirlup bermasyarakat itu sendiri, yang guyub rukun penuh vitalitas.
Konon perencanailn kota yang icieal aeialah yanii .lalam
prosesnya melibatkarr segenap lapisan masvarakat, antara lain
melalui wakil-wakilnya yang rerpercal'a, baik yang f ormal
maupun informal. lstiliih gagahnya adalah 'percncanaan bersama rakyat', jadi bukan lagi sekaciar 'prrencai.,aa;t untuk
rakyat'. Bahkan lebih ideal lagi suatu saat nanri, ruianakala
tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat suciah eukup
tinggi, bisa rnulai diuji-cobakan penerapan slt',gan ulr:pia:
'perencanaan oleh rakl'at'.

Budaya Diam
Wawasan perencanaan yang berorientasi pada kencntingan
masyarakat lapisan bawah, jelas menuntr-rt kepekaen sosial
yang tangguh dan tajanr dari aparat perrncana. Kita semua
rnallum, dewasa ini sebagian brrsar nenduduli i;ota masih
berada dalam tahapan berjuang untuk hisa bertahrln hiclup_
dengan tingkat pendidikan yang belum tinggi. "ladi tak perlu
dicengangkan bila ada kecenderungar) takut dan enqgan untuk angkat bicara menyuarakan hati nurani nrereka sendiri.
Daripada rnenghadapi risiko, lebih baik diar,r. Nah, hudaya
diam inilah yang sering disalah-mengertikan sel_ragai pertanda lampu hijau alras tidak ada keberalan. Oleli karena itu,
untuk bisa menggali keinginan, harapan dan dambaait yang
sebenarnya dari penduduk kota, para pimpinan claerah clan
perencana kotalah yang harus lebih banyak rleninggalkan
'singgasana'-nya untuk turun ke bumi, meraslkan denyul nadi
yang berdetak di masyarakat. Sckadar contolr: rencarla pembongkaran jalur hijau untuk disulap jatli terrr;-rat parkir mobil
di seputar Simpang Lima Semarang, rij';1r-rasanya perlu
mempertimbangkan terlebih dulu darn;rak yang mungkin
diakibatkannya. Tidak hanya masalah banjir yang akan
semakin parah menimpa lirigkungali di sekltarnya, t*rapi juga

4t

l
terutama dampak sosial yang menyangkut nasib para tukang
becak dan pedagang-pedagang lesehan, dasaran, dorongan,

Sedikir

dan warungan yang telah terlanjur bertumbuhan.

C"l:,:T Tentang penyumbang Tutisan


"Jati Diri Arsite*tur Indonesii,,

r' prof' IR' .IDHARTA, riirahirkan

Pembangunan Yang Mengakar

Lulus dari Bagian Arsirektur


rnstirut
dian langsung bekerja se.bagaianfi
semarang sampai rahun lgcl

di

Semarang pada tanggar 8


Mei r929.
pada tahun l9ig, kemu_

i.r""r.rr'ri"roung

f.f."ll *:r;1yl,r"

Model-model perencanaan deterministik yang dibuat dari


atas meja kiranya perlu ditinggalkan, diganti dengan perencanaan yang luwes dan tanggap terhadap sikon lokal, dengan
penekanan perhatian pada perilaku manusianya. Pola pembangunan yang mengakar dari bawah seperti ini telah dirintis
oleh Romo Mangunwijaya dengan lingkungan komunal
berswadaya di Ledok Code Yogya; Yayasan Sosial Sugiyapranata dengan beberapa lokasi perumahan kaum gelandangan
di Semarang; Prof. Ir. Hasan Poerbo dari PSLH-ITB yang
menangani masalah pemukiman bagi para pemungut sampah
di kota Bandung, dikaitkan dengan upaya ekonomis mendaurulangkan sampah menjadi bahan yang bermanfaat bagi
kehidupan.
Pola mengakar seperti dicontohkan di atas dilandasi
keyakinan bahwa pembangunan yang berhasil adalah yang
mampu menumbuhkan rasa harga diri dan percaya diri,
sehingga masyarakat terangsang sendiri untuk aktif berperan
serta dalam setiap gerak pembangunan.
Memang penting sekali artinya dalam perencanaan
lingkungan binaan, apakah kita melandasinya dengan konsep
"planning/or the people", "planning with the people" atau
"planning by the people". Tetapi yang lebih penting lagi adalah
upaya agar tidak timbul jarak antara arsitek dengan
masyarakatnya. untuk bisa bersenyawa tuntas antara arsitek
dengan masyarakat itulah diperlukan pendalaman dan
penghayatan ilmu-ilmu sosial, dan humaniora yang tidak hanya
menyentuh kulit tapi meresap sampai ketulang-tulang dan
jiwanya.

' Tuhun

Kepala Jawatan Gedung-cedung


dosen

$,'ffi:Xffi:X;sebagai

inii'rJrnrrri'r6j

Gedung_Gedung Negara

pirrdah ke surabava sebagai


Murai tahun r963 sampai sekarang

N"g"r" srrJu'iJ.
iet'p pua' lu*"ui e^it*rr*

e*rLo,i.[i,rT"i*,

Pendidikan tambahan yang


diperorehnya ialah antara.rain pa<Ja
Departement of
Architecture' universitv oJ washingron
aii.ri,r. imerit a serikat (1965 I966).
Jabatan-jabatan penting yang
pernah didudukinya adalah:
Ketua Jurusan Arcitektur-Faku,,^
a.,,r,i'rfiiversiras Diponegoro
Dekan Fakultas Teknik Unir.rrit",
Sekretaris Universitas Diponegoro.

;i;;;;;"

pembantu Rektor
Univeisiturbipon.goro.

Kepala Biro Bangunan Universitas

;,;;;;r"r".

Jabatan yang dipegangnya


sekarang di antaranya sebagar
Ketua Jurusan Arsitektur
Fakuttas Teknik uNorp
a"n
,"r*,-r,"i,
Memperoleh gelu.
p.;
n

c,_

2.

*.r.,
.u.

illJi
r;;;;;;;;,;,,:rilTlfJf,T i::: H,yi,?l!.

PTof.DR.S.BUDHI SANTOSA.
Dilahirkan

di C
tanggar r7 Agusrrrs 1937,
memperoreh gerar Doktor
aatam antr.poar, i".,ir,ii"rrt
1977' Sejak tahun itu puia..njabat
pada tahun
Kelua Jurusan on,"""u'Indonesia
ropologi dari Univcrsitas.yang
sama, sampai dengan tahun

19g2.
sejarahdan*u"i'i,#u",I?Tr*li,',..1#?fi
:..lXXl,ii?iill#,,#,il.*,:j::
anssora i;-;;;,;;,";emasvarakaran
penssunaan
3J"Tfi :lT,"L]',i:rl;:'"0'
Semenjak tahun l9g

Lebih dari r50 karya

turr's terah

[ji',11]'ili';li[i,T.:
J.

masarah

dihasirkannya, baik daram


skala nasionar nlaupun

e"'"*i"ri, ll',,,*u,,,

IR. HINDRO TJAHJONO SUMARDJAN.


Lahir

^ tober
6 ok
r s+s. l,r,,-d,.i
bag ian
Rupa Institut Teknologi
Bandung puau ,ui,un
.

Ernograri, Kesenian

il;*;;;';;J;.*#-#,:::,*
*
,"r1.

X#::Tgff

*.Jfi ",1#',1ff#H'J'-li,Ti.'ffi ilj;*1,,,_:$,,Xlllf


"";#
f i,; :ff ;ff l
::H A RC H TEN,
i. ;,:' ;::fl ::l?::,?,:?, ::","i "*,iL
Konsori um
l

224

22s

r
cukup
nrerancang dalanr bidang arsitektur'
Selain kegiatan merencanakan dan
antara lain:
telah.diselesaikannya'
banyak pula hasil srudi tt'"'f"tv"-ii*fufl v'ng
Berencana
Perhotelan dalam Pembangttnan
Studi Aspek Fisit< t'engemt'angan
0e72).
(1974)'
Studi Perencanaan Kota lnti Jakarta
Kebayoran llaru (1977)'
M
BIok
Lingkungan
Peremajaan
Studi
Kecil (1982)'
Potensi
Perbaikan x"*i'ngi"ngan

Studi

Studi Perumahan

lldu:lti
(1982)'
s't'emnecvclinsdi Mangga Dua Jakarta

M"J;;";;;';

Union Internationole des Architectes dan


la adalah juga Council Member dari
Xetua

er.it.{

lndonesia Periode 1980

1982'

7. lR. WIRATMAN WANGSADINATA.

l-ahir di Jakarta tanggal 25 Februari

1935, lulus sebagai Sarjana Teknik Sipil Jurusan Konstruksi ITB tahun 1960.
Menrulai kariernya sehagai Insilvur Peretrcana di Jawatan Jalan ilan Jembatan
D.P.(,I. (1961
1965) untuk kcnrudian nrenjadi [)ilektur PN. lndah Karya (1965

1969).

Setelah memperdalarn pcngetahuan tentang cara-cara perencanaan modern selama


satu tahun di perusahaan Scou Wilson Xirkputrick & Partners di London, tahun 1970
diangkat sebagai Insinyur Pengawas urrtuk proyek \fisma Nusantara (30 lantai),
gedung tinggi perlama di Indonesia, sarnpai provek selesai dalam tahun I972.
Sejak tahun 1972 terjun ke dunia wiraswasta dengan rnendirikan biro konsultan sendiri. Banyak sekali karya-karya yang telah dihasilkan, antara lain gedung Sarana Duta
(22 lantau, arsitek PT- Atelicr-6) dan Wisnra Dharmala (22 lantai, arsitek Paul

Rrrdolph).

4.IR.BUDIA.SUXANDAGrrd.Hons.Dlpl.(AA).LahirdiJakarta,tanggal
dari Fakultas Teknik LJniver-

8 Agustus 195 I . Lulus

oU"gui

'u'i"nu

teknik ariitektur

sitai lndonesia Jakarta, tahun 1978'


of
pada The Architectural Association' School
Memperoleh pendidikan ou'nt'utt'n
graduate (honours) diploma tahun 1983
Architecrure, London, o.r;;;;;;.roleh
Tarumanegara' Ikut serta dalam l-emUniversitas
lttian
FTUI
Saat ini mengajar di
<lan Perancang Kampus Ul di
Perencana
Tim
baga Teknologi FTI'll selaku anggota
DePal.

5. IR'

Selain sebagai stal pcngajar yang aktil'di Jrrrusarr Siprl lfB, banyak juga kegiatan
lain dalanr organisasi antara lain sebagai Ketua Flirlpunan Ahli Konstruksi Indonesia
(1974
- 1980), Ketrra lJmunr lkaran Nasional Konsuitan Indonesia (1980 - 1988),
Wakil Ketua Team Penasihat Konsrruksi Bangunan DKI Jakarra (197?_
- sekarang).
Sejumlah lebih dari 50 makalah ilmiah telah dibawakan ata. diprblikasikan
dalam
tbrum nasional dan internasional.

t.
Probolinggo pada tanggat 2l Januari
BASXORO SARDADI' Ditahirkan di
l97l'
Bagian Arsitektur ITB pada tahun

1944, lulus ,ebagai sarjala- i"ttft


SelainmengajarditurusanArsitekturFTUl,jugasebagaiperencanadanperan6
cang pada biro konsultan PT' Atelier
peneli-

tlihasilkannla antara lain mencakup


Karya-karya lrasil penetitian yang telah
Sumba' dan lingkungan desa Naga'
Utara'
u
uf
fUif
tian arsitektur tradisional At'et',

tanggal 7 September 1939'


KUSWARTOYO' Dilahirkan rli Ponorogo
ITB tahun 1979'
Arsitektur
Teknik
Su'i"numenyelesaikan p"naiaiLunni" it'ogui
tahun 1976 dalam bentuk
Belanda
Negeri
iari
Pendidikan lanjutan il;;il
gedung Laboratorium' kursus Environmental

6. lR' TJUI(

Latihan Kerja untuk O"'unt'u,un


Monogementdi ERT-Massicfruri,*,

l,Sa, Lhu,

1982; Kursus Lanjutiur Environnrcn'

tallmpacl,trssessrnenlOiOuft'outit'f-;ttiversityNovaScotia'Canada'tahunl98'ldan
Jerman Barat, tahun 1982.
Reseorch l-e!!ow |)tliversiteit Ber|irt,
diri sebagai staf pengajar di Bagian
Sejak lutus ,"*rti
juga sebagai
'ningaUdifan
'"1""t,
Lingkungan' I-l'B' di samping itu
Arsitektur Bidang Perencanaan lota dan
yang dijabat
I-r-B
-(ppLH)
Hidup
Sekretaris pusat penelitian dan Lingkungan
semenjak tahun 11i79
penelitian yang telah dihasilkannya' khususnya
Banyak sekali hasil-haril studt dan
hidup
iingkungan
pengelcrlaart
dalam bidang

IR. JUSWADI SALhIA, M.Arch. Lahir di Bandung tanggal l5 Juni I938,


nrenyelesaikan studi sebagai sarjana teknik arsitekiur di ITB tahun 1966.
Pendidikan Pasca-Sariana (S-2)-nya ditenrpuh di l.lniversity of f{awaii sampai
nreraih gelar Master of Archilecture tahun 1975. Sejak lulus lahurt 1966 santpai
sekarang menjadi stal pengajar departemen Arsrtektur l-l-8, dan pernah meniabat
Ketua Jurusan sampai tahun 1986.

9. DR. HIDAYAT. t.ahir di Cirehon tahun 1936, rnenyelesaikan pcndidikan


tingginya di Fakultas Ekonomi Universitas Pajajaran Bandurtg pada tahurt 1965.
Mendapat beasiswa RockeJeller Foundation untuk studi Paska Sarjana dalam lhnu
Ekonomi Sumberdaya Manusia di University ol'The Philipines. Sempat rnenggali
pengalarnan ker.ia sebagai Visiting Lecture di A.sian Sociol lnlitute di Manila (1974
(
- 975) dan sebagai Reseorch Consultont di Deporlmtnt oJ' Labour di Filipina I 976).
Awal tahun 1977 kembali ke tanah air dan mendirikan Pusat Penelitian Sumberdaya
Manusia dan [,.ingkungan yang bernaung di bawah UNPAD, serta ntenjadi direktur1

nya hingga sekarang.

10. IR. ZAENUDIN KARTADiWIRA, M.Arch. Lahir di Jakarta tanggal 20


Oktober 1930, lulus sebagai sarjana tcknik arsitektur dari lTtl tahun 1959. Sejak lulus
langsung menjacli staf pengajar di tTB. Studi [)asca-Sar3ane (S':)-nva ditempuh <li
Univcrsiry oi i\'lichlgan. LJSA, mcmperolch gelar lVl.Arcir tahun 1963. Peruah mertjabat sebagai Ketua Dcparteincn Arsitektur i1'lt pada tahun l9'i-l * l9'17. Ikut rnembanru sebagai d.rsen luar biasa pada l)eparten:err r\rritektur LJitiversitas Trisakti mulai
tahun l9l2 sampai sekarang.

227

226

r
Pada tahun 1962 bertindak sebagai visiting Lecturer pada Depdrtment of Architec-

ture University oJ Michigon dan rahun 1969 di University of Kentuckt, Amerika


Serikat.
Pengalaman profesional sebagai arsitek di dalam maupun luar negeri sangat luas.
ternrasuk sebagai arsilek pada Biro Arsitek risclrer & Elmore, washington DC (1960,
l97l/19'72) dan pada volmer Associales, New york, Anrerika Serikat (1972
1972).

l. Dlpl. Ing. HARISANTO. Direktur

dari Bir o Konsulran APARC, memperoleh

Satyalencana penghargaan dari pemerintah lewat Menteri Riset dan Teknologi atas
karya-karya arsitekturnya, terutama yang menyangkut kompleks lndustri pesawat

Terbang Nusantara

di Bandung.

12. IR. MAURO PURNOMO RAHARDJO, M.S.Ars. Lahir di Tegal

tanggal

l5 Januari 1954, lulus sebagai sarjana teknik arsitektur dari Universitas Katolik
Parahyangan tahun 1980. Aktif mengikuti seminar-seminar internasional, nasional,
daerah maupun intern. Perhatiannya ditujukan pada fenomena arsitektur dan kota
di Indonesia dan banyak menuljs arrikel tentang hal itu.
Sejak tahun 1980 menjadi staf pengajar pada Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur
UNPAR dan menjabat sebagai koordinaror mata kuliah rekayasa. pendidikan pascasarjana (S-2)-nya ditempuh di departemen Arsitektur ITB, dengan thesis tentang pertumbuhan morfologis ruang pusat kota
Poerbo, MC'D.

di

bawah bimbingan

prof. Ir.

Hasan

14.

Drs. DARMANTO JATMAN, SU. Lahir di Jakarta tanggal 16 Agustus 1942.


Lutus sebagai Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
Yogyakarta tahun 1968. Pendidikan tambahan yang telah ditempuhnya: Psikologi
Industri dari Universitas Indonesia (1972), "Basic Humanities" dari East west cen'
Pedesaan dari Universitas Gajah Mada (1977)
tre Hawaii (1972
- 1973), Sosiologi
dan "Development Plannin7" dari (Jniversity College London (1977 - 1978)' Pendidikan Pasca Sarjana-nya ditempuh di Universitas Cajah Mada, Yogyakarta'
Tugas utamanya adalah sebagai dosen Fakultas Sosial dan Politik universitas
Diponegoro (sejak tahun 1969), dengan tugas-tugas tambahan sebagai Ketua Badan
Konsultasi Mahasiswa, Ketua Subdepartemen llmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya
Dasar, Staf Ahli Bidang Minat Universitas Diponegoro, dan dosen pada Akademi
Seni Rupa lndonesia (ASRI) Yogyakarta.
Sering menulis artikel untuk Kompas, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Kedaulatan
Rakyat, dan lain-lain, di sela-sela kegiatannya sebagai Pimpinan Redaksi Koran Kampus "Manunggat" dan Redaksi Budaya "Dinamika Baru", "Mimbar/Tribun", serta

"Suara Merdeka".
Buku-buku hasil.karyanya yang telah diterbitkan antara lain:
"Kario Iya Bilang Boten", kumpulan sajak.
"Ki Blaka Suta Bla Bla", kumpulan sajak.

IR. ANDY SISWANTO, Dilahirkan di Wonosobo, tanggal 5 November l9!4.


Pernah menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa "ASRI" Sanata Dharma
Jurusan lnggris, lulus sebagai sarjana arsitek dari Universitas Cajah Mada,

15.

Yogyakarta tahun 1980.

Aktif berperan-serta dalam kegiatan dan pertemuan ilmiah, khususnya di bidang


arsitektur, perumahan/pemukiman, seni dan sosial budaya.

13.

DR. IR. R.M. SUGIJANTO. t.ahir di Solo ranggal 5 Marer 1938, menempuh
pendidikan tingginya di Jurusan Fisika TekniK ITB tahun 1956
- 1961.
Pada tahun 196l
1962 ke purdue University, USA dan tahun 1970 ke university
of New South Wales, Australia, untuk kemudian pada tahun 1975 ke Techische
Hocheschul Delft, Nederland Sekolah Pasca-sarjana 53 ditempuhnya di ITB sampai meraih gelar Doktor pada tahun 1982.
Jabatan-jabatan yang pernah diemban antara lail Ketua Bagian Fisika Teknik
(1969), Pembanru Dekan I Departemen Fisika Teknik dan Teknologi Kimia (1971
- 1972) serta Ketua Departemen Fisika Teknik (1973 1977). Selain mengajar di

lTB, juga di Unpar, Trisakti, Unpad dan UI.


Keanggotaan profesinya meliputi antara

Acoustical society

228

lain liluminating Engineering society,

of Ameriko dan Ikatan Ahli Fisika

Bangunan inaonesia.

Sejak mahasiswa telah menyelesaikan berpuluh-puluh proyek, seperti rumah tinggal, kantor pemerintah dan perdagangan, hotel, laboratorium, rumah sakit, sekolah
dan kampus perguruan tinggi.
Kegiatan studi dan penelitian yang telah dilakukan meliputi antara lain Studi Arsitektur Tradisional Kudus, Batang, Dieng, Sukoharjo; 'Central Java Integrated Rural
Settlement Development Slrdl',' Studi Perencanaan Pengembangan dan Disain
Skematik Benteng Vastenburg Surakarta.
Saat ini sedang memimpin perancangan dan pembangunan rumah-rumah sangat
murah dengan sistem aided self-helpbagi tuna wisma berpenghasilan sangat rendah
dan tidak tetap di pemukiman Mengunhardjo, Semarang, kerja sama dengan Yayasan
Sosial Sugiyapranata (YSS).
Jabatan yang diembannya sekarang adalah Direktur Utama Konsultan PT.

Wastuwiyawan, Ketua Studi Pemukiman Pusat Penelitian Universitas Katolik


Sugiyapranata dan pcrencana pada YSS.

229

v
t6.

IR..IOHAN SILAS. Lahir di Samarinda tahun t936, pindah ke Surabaya


sejak awal tahun 1950 da, lulus sebagai Sarjana Teknik Arsitekt,r (lr) dari ITts
tahun
1963, rneriilikuti pr"ogram perumahan di lJnivcr.sitos Col/ege London (1976)

lE. P E R M A D I, S.H. Lahir di Sernarang tanggal 16 l\{ei ),)40, lulus


Sarjana Hukum .lurusan Hukum Internasional Publik iiengan -iudul skr:ip:;i ".4 (Jrrr&,
to Diplomatic I'raclitz" dari Universitas lndonesia, Jakarta pada tirhllr 1965. Ltekerja
di Lembaga Pariwisata RI tahun 1966
- 1967, kemudian benviraswasta rlan h*rgerak
dalam lingkungan pels tahun 1967 -- 1973.

dan di

Inslitut.lbr tlou,sins srudie.s Rotterdanr (r9ri0). Masuk dan rnenjadi dosen lrS sejak
1967, kini mcniadi l.ektor Kepala pacla mata Kuliah pemukiman dan perumahan.

Selak tahun I973 sampai sekarang aktii' di Yayasan [.einbaga hr*irurncn.


Aktif dalam seminar di dalarn maupur) di luar negeri, darr banyak ni*nlarrgku

scjak lgir-5
- lr75 'relakukan penelitian terutarra tentang candi-candi dan
nrngumpuikan garnbar relief-relief
candi.
sejak awal 1970 mernpelajari pola-pola runrah desa di Jatim dan pora rumah
karnpungz'desa - kota Surabaya.
sejak 1974 terlibal dalanl studi Masarah perunrahan kota dan berbagai program
peruurahan yang dilaksanakan di Surabaya dan Jawa Timur.
AktiI r,enulis hasil peneiitiannya baik untuk papcr serrinar di tralam maupun luar

jabatan dalam organisasi, antara lain sebagai Sekretari:l laytsan I,araspikologi


Semesta" Wakil Ketua Yayasan Javanologi Jakarra, Peugurus l.eurbaga [,engkajian
Ekonomi Pancasila, dan Anggota T'im lnti f)ewan Puriahanan Keanrarral Nasicnai
Indonesia.

rregcri sebagai tulisan populer di koran dacrah.


Kcanggotaan Profesi:

..

llatun Ar\itck

19. Dlpl.Ing. SI-IWONDO BISMO SIITF,DJO. Dilahirkan di Pekalorrgau pada


tanggal 2 Juni 1928.
Celar Dipl.lng. diperolehnya dari T'echnishe Hochschule ltannover patla tahun 1961.
Tahun 1962
- 1970 mengabdikan dirinya sebagai closen di lnstitut'I'eknologi tsan,
dung, yang kemudian dilanjutkannya sebagai dosen di Liniversitas l;r<.lorresia di ^!akarta
tahun l97l sampai sekarang.
Menjadi Ketua Depanemen Arsrtektur IT[i, tahun l%6 * 1968 dan Keru;r.lurusan
Arsitektur Fakultas Teknik Unircrsitas lndonesia tahun 1972 .- lq?6.
Tahun 1974
pula jabatan sebagai l)ekan ['aLr,ltrs I'ekrrjk l.inirer- 1978 menrluduki
sitas Indonesia.
Saal ini selain sebagai D<isen Pengembangan Arritekiur.lan iisrua lliriang -fata
l.ingkungan Jurusan Arsitektur FTUI, juga sc'bagai Kctua"I'irn Pr'irasihat Arrite ktur
kota DKI dan Penasihat l)irektur Permuseuman Dit.Jen Ket:uri;r1,aan, l)epariemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Karya./Kegiatan ilmiahnya antara lain:
"Rumah Susun sebagai Unsur Perernajaan Kota".

ln(1,)nc\ta.

Pcrsatuan lrrsinyur lrrdonesia.


lkatan Sarjana Katolik lndonesia.

17. llR. uMArt KAJAM. Leitrir di Ngawi leurggal 30 Aprii 1932. Lulus Sarjana Muda
dari l;ak.,itas sastra Pcdagogi dan Filsatat Universitas cajah Mada yogyakarta
tahun
1956. celar M.A. diperolelt dari school oJ Education, New york lJniversity
tahun
1962, kernudiarr tahun 1965 memperoleh getar: ph.D dari cornell l)niversity,
rthaca,
lrsA.

Berbagai jabatan pernah didudukinya, antara rain sebagai Direktur Jenderar


Radio,

Televisi-Filnr l)epartomen Penerangan RI (1966


1969), Ketua I)ewan Kesenia.
pusat Latihan -penelirian Ilrnu-ilmu Sosial (r975
Jakarta (1969
- 1973), Direktu.

1976), Ketua Dewau

Filrn Nasional (197g _

L:lkonomi Pancasila, dan .Anggota'I'im


I ndonesia.

1979).

"Tipologi dan Ilentuk Bangunan".


Jabatan dalam organisasi profesi yang dipegangnyr:ldalah sehitai K(tua
Nlajelis Ikatan Arsitek Indonesia dan anggota llorking group I{ttbitut Lrtrion lnternolionole des Architectes (UlA\.

Inri Dewan pertahanan Keamanan Nasional

Cukup banyak buku-buku hasil karyanya yang telah diterbitkan: ,,Seribu


Kunang_
"sri Sumarah dan Bawuk" (1975), "Seni, Tradisi din

kunang di Manhattan" (1972)

Masyarakat".

Aktif mengikuti seminar, menulis makalah pada berbagai pertemuan irmiah


dalam
maupun dr luar negeri, terutama tentang kebudayaan, pendidikan,
dan komunikasi.
Kegiatan lainnya sangat bervariasi, mulai dari menulis di
majalah prisma, sebagai
kolumnis majalah rempo, menuris skenario firm ("yang Muda yang
Bercinta-,,,
"Frustasi Puncak (iunung,', ,,.lago,,), sampai dengan menjadi pemain
film 1,,Ka.mila", "Kugadaikan Cintamu,',,,pemberontakan C.30.S pKl,).
Saat ini menjabat sebagai Kepala pusat peneritian dan
Studi Kebudayaan Universitas cajah Mada, di samping tugas utanra sebagai stafpengajar
pada Fakurtas Sastra
dan Xebudayaarr UCM.

230

20. GUNAWAN W. GANDASIIBRATA. Terakhir rercatal sebagai mahasiswa


Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut
Teknologi Bandung.