Anda di halaman 1dari 2

DAMPAK KONVERGENSI STANDAR PELAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL

TERHADAP BISNIS DAN PENDIDIKAN DI INDONESIA


Dewi Sri Marasanti
Jurnal ini mengangkat masalah penerapan IFRS yang tidak mudah di Indonesia.
Diperlukan sumberdaya yang besar dan juga adanya masalah regulasi IFRS yang belum tentu
sesuai dengan praktik akuntansi di Indonesia. Ketika suatu perusahaan menerapkan IFRS,
perusahaan harus melakukan berbagai kajian terlebih dahulu. Selain mempengaruhi sumber daya
yang dimiliki perusahaan, penerapan IFRS juga dapat menyebabkan banyak ketidakcocokan di
berbagai aspek dalam perusahaan. Kesiapan dalam konvergensi IFRS juga harus sangat
ditekankan sebelum perusahaan memutuskan untuk mengimplementasikannya.
Konvergensi IFRS juga dapat mempengaruhi kebijakan perekonomian di suatu Negara.
Baik dari segi perpajakan, keuangan, bahkan hingga kerangka regulasinya. Sehingga
penyesuaian prinsip akuntansi terhadap perkembangan dunia dirasa perlu karena standar yang
berlaku di suatu Negara mencerminkan perkembangan praktik bisnis Negara tersebut.
Penerapan konvergensi IFRS di samping berdampak pada praktik bisnis yang berlaku di
suatu negara akhirnya akan berujung pada aspek pendidikan akuntansi, mengingat bahwa praktik
bisnis yang terjadi di suatu negara selalu dilandasi oleh teori-teori yang idealnya diberikan
melalui program pendidikan. Dengan sendirinya para pelaku bidang pendidikan akuntansi harus
mengantisipasi dan melakukan penyesuaian terhadap fenomena pemberlakuan konvergensi IFRS
tersebut.
Pada bagian pembahasan atau kajian pustaka, penulis memaparkan beberapa hal.
Diantaranya mengenai harmonisasi standar akuntansi dan standar keuangan yang membahas sisi
positif dan negative adanya konvergensi di Indonesia. Kemudian pembahasan mengenai kendala
dalam konvergensi IFRS yang berupa: 1) Sistem hukum dan politik, 2) Sistem perpajakan dan
fiscal, 3) Nilai-nilai budaya korporasi, 4) Sistem pasar modal dan peraturan yang terkait dengan
kepemilikan korporasi, 5) Kondisi ekonomi dan aktivitas bisnis, dan 6) Teknologi.
Pada pembahasan yang ketiga ditenagkan bagaimana tahap-tahap untuk melakukan
konvergensi IFRS dari berbagai aspek. Pembahasan keempat memaparkan rencana adopsi penuh
IFRS di Indonesia beserta IAS dan IFRS nomor berapa saja yang sudah diadopsi. Penulis juga
menambahkan beberapa hasil peneliatian tentang IFRS dari para ahli maupun para akademisi.
Dari beberapa pembahasan tersebut, didapatkan kesimpulan bahwa pengembangan
akuntansi saat ini yang lebih mengutamakan penegakan aturan/standar membawa dampak yang
menjadikan pengembangan akuntansi sebagai disiplin akademik tidak berfungsi secara optimal,
dan pengembangan IFRS sendiri juga diperkirakan tidak akan mencapai sasaran optimal. Hal ini
dikarenakan dari sisi aktivitas bisnis, perusahaan akan menanggung biaya untuk merubah system
pencatatan akuntansinya yang cukup besar tanpa memperoleh kenaikan penghasilan yang
signifikan.
Konvergensi IFRS juga berdampak pada aspek pendidikan akuntansi di Indonesia.
Lembaga pendidikan akuntansi di Indonesia harus terus menerus memperbarui kurikulumnya

seiring bertambahnya IFRS yang diadopsi. Sehingga pada akhirnya akan menambah biaya di
sector pendidikan.
Pembahasan jurnal ini terkait dengan materi perkuliahan Akuntansi Internasional dalam
buku International Accounting: Choi & Meek pada BAB 8 mengenai Akuntansi Global dan
Standar Audit. Dalam bab ini dibahas mengenai kritik terhadap adanya standar internasional,
yang dalam kasus ini adalah IFRS. Dimana standar internasioanl diragukan dapat cukup fleksibel
untuk mengatasi perbedaan-perbedaan latar belakang, tradisi, dan lingkungan ekonomi di setiap
Negara. Bahkan dikatakan juga bahwa proses internasionalisasi ini akan menjadi suatu tantangan
yang tidak bisa diterima secara politis bagi kedaulatan setiap Negara. Ada pula ketakutan bahwa
standar internasional ini akan menimbulkan standard overload, dimana perusahaan memberikan
tanggapan adanya masalah social, politik, dan ekonomi yang terus berkembang sehingga sulit
untuk memenuhi tuntutan-tuntutan internasional yang rumit dan memakan biaya.
Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan penulis bahwa adanya standar internasional
berupa IFRS ini telah membuat Indonesia mengalami kesulitan dalam pengaplikasian IFRS
karena tetap harus ada penyesuaian dengan kondisi Negara Indonesia saat ini yang berbeda
dengan Negara-negara lain yang sudah secara penuh mengaplikasikan IFRS.
Namun menurut kelompok kami, pada akhirnya tujuan diadakannya harmonisasi
akuntansi internasional ini adalah agar akuntansi, pengungkapan, dan audit dapat diterima secara
luas sehingga kecenderungan Negara-negara untuk melakukan konvergensi internasional akan
terus berlanjut atau meningkat. Mengenai perbedaan-perbedaan di setiap Negara dalam berbagai
aspek, kami yakini akan dapat berkurang seiring dengan makin meratanya pasar modal dan pasar
barang di seluruh dunia seperti dengan adanya AFTA di tahun 2015 ini.