Anda di halaman 1dari 5

Depresi post partum

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Depresi Postpartum
a. Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang
disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik
maupun mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa
gangguan depresi disertai kecemasan , kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah,
perasaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri.
b. Trisna (Hadi, 2004), menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih
yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari perasaan
murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak melakukan apa pun
untuk mengubahnya dan merasa bahwa respon apa pun yang dilakukan tidak akan
berpengaruh pada hasil yang muncul.Individu yang mengalami depresi sering merasa dirinya
tidak berharga dan merasa bersalah.
c.

Depresi menurut Kaplan dan Sadock (1998), merupakan suatu masa terganggunya fungsi
manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan,
rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri.
Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah
masamasa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional.
Gangguangangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan,
dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa
muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama
berbulanbulan

atau

bertahun

tahun

lamanya.

Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah


melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah
depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional.gangguan mood selama
periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita
baik primipara maupun multipara.

Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam gangguan mood dan


onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan. ada 3 tipe gangguan mood pascasalin,
diantaranya adalah maternity blues, postpartum depression dan postpartum psychosis (Ling
dan Duff, 2001).Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997),
bahwa ada 3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut
juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara
postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu
minggu atau bulan dan kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang
dialaminya merupakan penyakit.
Menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi.
Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang
berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau
maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau
melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai
tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah
gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa
setelah melahirkan dan berlangsung terus menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu
tahun.
2. Factor penyebab depresi post partum
Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda
secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar
kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan
emosional.
Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya
ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek sampingan kehamilan dan
persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor lain yang dianggap sebagai
penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami
penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi
terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki
sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap
selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan
dengan munculnya gejala depresi.

Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebeb depresi postpartum sebagai
berikut

a. Faktor konstitusional.
Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang
meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan
persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara
lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses
adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham
perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
b. Faktor fisik.
Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2
minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama
merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode
laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat
berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun
secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.
c. Faktor psikologis.
Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan menjadi dua
individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan
Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa
peralihan

ini

untuk

memulai

hubungan

baik

antara

ibu

dan

anak.

d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak
memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu ibu, selain kurangnya dukungan
dalam perkawinan.
Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi
pascasalin dipengaruhi oleh faktor :
a.

Biologis.
Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti
estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas
atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
b. Faktor pengalaman
c. Faktor pendidikan.
d. Faktor selama proses persalinan.

e. Faktor dukungan sosial.


Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban
seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi
postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya
ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.
3. Gejala gejala depresi postpartum
Depresi merupakan gangguan yang betulbetul dipertimbangkan sebagai psikopatologi
yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian.
Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua
gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa
bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri.
Menurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa keluhan dan
gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya.
Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran pikiran ingin bunuh diri, waham
waham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anakanaknya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi
postpartum yang dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya.
Tetapi dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai
karakteristik yang spesifik antara lain :
a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi mimpi yang
menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti
kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
c. Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat
dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya.
Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat
kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang
bermacammacam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap
apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan
bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap
peralatan

peralatan

operasi

dan

jarum

(Duffet-Smith,

1995).

d. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan

akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak
diketahuinya.
e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri
dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu
harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap
dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri
dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan
sensitivitas ibu (Santrock, 2002).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejalagejala depresi postpartum
antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan
mood, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain,
tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.
4. Penatalaksanaan Depresi Post partum
a.

Memberi dukungan kapada ibu, terutama keluarga terdekat.

b. Meyakinkan ibu bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja.


c.

Istirahat

d. Membantu ibu merawat bayi.


e.

Tidak membiarkan ibu menangis dan bersedih yang ber larut-larut.

f.

Menghibur ibu.