Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya Penyakit
Karantina dan Penyakit Menular Potensial Wabah, Kekarantinaan, Pelayanan Kesehatan terbatas
di wilayah kerja Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas, serta Pengendalian Dampak Kesehatan
Lingkungan. (Pasal 2 Kepmenkes 265/2004)1
KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit
potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit
baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan
radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. (Pasal 2
PERATURAN

MENTERI

KESEHATAN

REPUBLIK

INDONESIA

NOMOR

356/MENKES/PER/IV/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR


KESEHATAN PELABUHAN) 1
1. Fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, KKP menyelenggarakan
16 (enam belas) fungsi (Pasal 3 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 356/MENKES/ PER/IV/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA
KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN) :1
1. Pelaksanaan kekarantinaan

2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan;


3. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat
negara;
4. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit
yang muncul kembali;
5. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia;
6. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang
berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional;
7. Pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra termasuk
penyelenggaraan kesehatan haji dan perpindahan penduduk;
8. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan,
dan lintas batas darat negara;
9. Pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika dan alat kesehatan
serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan
OMKABA impor;
10. Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya;
11. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;

12. Pelaksanaan jejaring informasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
13. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
14. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans
kesehatan pelabuhan;
15. Pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat
negara;
16. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KKP
2. Organisasi, Tugas Pokok Dan Fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan
Kantor Kesehatan Pelabuhan, selanjutnya disingkat KKP, adalah unit pelaksana teknis
Departemen Kesehatan RI yang berada di pintu masuk negara (Pelabuhan, Bandara, Pos Lintas
Batas Darat) dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.
a. Tugas Pokok
KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit
potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit
baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan
radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
b. Fungsi

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud sebelumnya, KKP menyelenggarakan fungsi:


a. pelaksanaan kekarantinaan
b. pelaksanaan pelayanan kesehatan;
c. pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat
d.

negara;
pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit

yang muncul kembali;


e. pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia;
f. pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang berkaitan
dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional;
g. pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar
Biasa

(KLB)

dan

bencana

bidang

kesehatan,

serta

kesehatan

matra

termasuk

penyelenggaraan kesehatan haji dan perpindahan penduduk;


h. pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
i. pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika dan alat kesehatan
serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan
OMKABA impor;
j. pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya;
k. pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas
batas darat negara;
l. pelaksanaan jejaring informasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
m. pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara, pelabuhan, dan lintas
batas darat negara;
n. pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans kesehatan
pelabuhan;
o. pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat
negara;

KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit,


penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak
kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap
penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan
pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. (Pasal 2
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 356/Menkes/Per/Iv/2008 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan)
1. Unit PKSE
Bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi mempunyai tugas
melaksanakan perencanaan dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang kekarantinaan,
surveilans epidemiologi penyakit dan penyakit potensial wabah serta penyakit baru dan penyakit
yang muncul kembali, pengawasan alat angkut dan muatannya, lalu lintas OMKABA, jejaring
kerja, kemitraan, kajian, serta pengembangan teknologi, pendidikan dan pelatihan bidang
kekarantinaan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara.
Dalam

melaksanakan

tugas,

Bidang

Pengendalian

Karantina

dan

Surveilans

Epidemiologi menyelenggarakan fungsi:


1) kekarantinaan surveilans epidemiologi penyakit dan penyakit potensial wabah serta
penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali;
2) kesiapsiagaan, pengkajian, serta advokasi penanggulangan KLB dan bencana/pasca
bencana bidang kesehatan;
3) pengawasan lalu lintas OMKABA ekspor dan impor serta alat angkut, termasuk
muatannya;

4) kajian dan diseminasi informasi kekarantinaan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
5) pendidikan dan pelatihan bidang kekarantinaan;
6) pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kekarantinaan;
7) pelaksanaan pengembangan teknologi bidang kekarantinaan di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
8) penyusunan laporan bidang pengendalian karantina dan surveilans epidemiologi.
Seksi Pengendalian Karantina mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan
pemeriksaan dan sertifikasi OMKABA ekspor dan impor, pengembangan, pengawasan dan
tindakan kekarantinaan terhadap kapal, pesawat udara, dan alat transportasi lainnya, penerbitan
dokumen kesehatan kapal laut, pesawat udara, dan alat transportasi lainnya, pengangkutan orang
sakit/jenazah, kajian, pengembangan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan di bidang
kekarantinaan.
Seksi Surveilans Epidemiologi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan surveilans
epidemiologi penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit yang muncul
kembali, jejaring kerja surveilans epidemiologi nasional/internasional, serta kesiapsiagaan,
pengkajian, advokasi, dan penanggulangan KLB, bencana/pasca bencana bidang kesehatan
2. Unit PRL
Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan mempunyai tugas melaksanakan perencanaan,
pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang Pengendalian vektor dan binatang
penular penyakit, pembinaan sanitasi lingkungan, jejaring kerja, kemitraan, kajian dan

pengembangan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan bidang pengendalian risiko lingkungan
di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
Dalam melaksanakan tugas Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan menyelenggarakan
fungsi:
1) pengawasan penyediaan air bersih, serta pengamanan makanan dan minuman;
2) hygiene dan sanitasi lingkungan gedung/bangunan;
3) pengawasan pencemaran udara, air dan tanah;
4) pemeriksaan dan pengawasan higiene dan sanitasi kapal/pesawat/alat transportasi lainnya
di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
5) pemberantasan serangga penular penyakit, tikus dan pinjal di lingkungan bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
6) kajian dan pengembangan teknologi di bidang pengendalian risiko lingkungan bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
7) pendidikan dan pelatihan bidang pengendalian risiko lingkungan bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara;
8) pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengendalian risiko lingkungan
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara;
9) penyusunan laporan di bidang pengendalian risiko lingkungan.
Seksi Pengendalian Vektor dan Binatang Penular Penyakit mernpunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi
pelaksanaan pemberantasan serangga penular penyakit, tikus, dan pinjal, pengamanan pestisida,
kajian dan diseminasi informasi, pengembangan jejaring kerja, kemitraan dan teknologi serta

pendidikan dan pelatihan bidang pengendalian vector dan binatang penular penyakit di
lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
Seksi Sanitasi dan Dampak Risiko Lingkungan mernpunyai tugas melakukan penyiapan
bahan, perencanaan, pemantuan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan
pengawasan penyediaan air bersih, serta pengamanan makanan dan minuman, hygiene dan
sanitasi kapal laut dan pesawat, hygiene dan sanitasi gedung/bangunan, pengawasan pencemaran
udara, air, tanah, kajian dan diseminasi informasi, pengembangan jejaring kerja, kemitraan dan
teknologi serta pendidikan dan pelatihan bidang sanitasi lingkungan bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara.
3. Unit UKLW
Bidang Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah mernpunyai tugas melaksanakan
perencanaan dan evaluasi serta penyusunan laporan di bidang pelayanan kesehatan terbatas,
kesehatan haji, kesehatan kerja, kesehatan matra, vaksinasi internasional, pengembangan jejaring
kerja, kemitraan, kajian dan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan bidang upaya kesehatan
pelabuhan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
Dalam

melaksanakan

tugas,

Bidang

Upaya

Kesehatan

dan

Lintas

Wilayah

menyelenggarakan fungsi:
1) pelayanan kesehatan terbatas, rujukan dan gawat darurat medik di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
2) pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan kerja, kesehatan matra di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
3) pengujian kesehatan nahkoda/pilot dan anak buah kapal/pesawat udara serta penjamah
makanan;

4) vaksinasi dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional;


5) pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas
batas darat negara;
6) pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah di wilayah kerja bandara, pelabuhan,
dan lintas batas darat negara, serta ketersediaan obat-obatan/peralatan P3K di
kapal/pesawat udara/alat transportasi lainnya;
7) kajian dan pengembangan teknologi serta pelatihan teknis bidang upaya kesehatan dan
lintas wilayah;
8) penyusunan laporan di bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah.
Seksi Pencegahan dan Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelayanan
pengujian kesehatan nahkoda, anak buah kapal dan penjamah makanan, pengawasan persediaan
obat/P3K di kapal/pesawat udara/alat transportasi lainnya, kajian ergonomik, advokasi dan
sosialisasi kesehatan kerja, pengembangan jejaring kerja, kemitraan dan teknologi, serta
pelatihan teknis bidang kesehatan kerja di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas
darat negara.
Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan
vaksinasi dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional (ICV), pengawasan pengangkutan
orang sakit dan jenazah, kesehatan matra, kesehatan haji, perpindahan penduduk,
penanggulangan bencana, pelayanan kesehatan terbatas, rujukan gawat darurat medik,
pengembangan jejaring kerja, kemitraan, dan teknologi, serta pelatihan teknis bidang kesehatan
matra di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darai negara.

B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut (Lembaran Negara Tahun
1962, Tambahan Lembaran. Negara Nomor 2373);
2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara (Lembaran Negara Tahun
1962, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2374);
3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273); UndangUndang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor
100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Tahun 2004 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);
5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3848);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit
Menular (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3447);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan (Lembaran Negara
Tahun 2001 Nomor 127. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4145);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara
Tahun 2001 Nomor 128. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4146);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4737);
10. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 62/Kep/MenPAN/7/2003
tentang Pedoman Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Departemen dan Lembaga
Pemerintah Non Departemen;

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XII/2005 tentang Organisasi dan


Tata Kerja Departemen Kesehatan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1295/Menkes/Per/XII/2007;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan
13. International Health Regulations (IHR) 2005;

BAB II
LAPORAN KEGIATAN
A. Tinjauan Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan
bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan dari
setiap orang hidup secara produktif baik sosial dan ekonomi. Untuk itu upaya kesehatan bagi tiap
individu perlu dijaga dan ditingkatkan di manapun individu itu berada, tidak terkecuali di tempat
kerja, karena di tempat kerja terdapat berbagai macam faktor fisik yang dapat menyebabkan

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Salah satu faktor fisik yang ada di tempat kerja yaitu
penerangan.
Penerangan yang buruk dapat mengakibatkan kelelahan mata dengan berkurangnya daya
efisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan-keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar
mata, kerusakan alat penglihatan dan meningkatnya kecelakaan Penerangan yang baik adalah
penerangan yang memungkinkan tenaga kerja dapat melihat objek yang dikerjakannya secara
jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu.
Kelelahan mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan indera
penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan untuk melihat dalam jangka waktu
yang lama dan biasanya disertai dengan kondisi pandangan yang tidak nyaman Sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002, tentang Persyaratan Lingkungan Kerja
Industri, Pencahayaan di Ruangan, untuk jenis kegiatan pekerjaan rutin, seperti : pekerjaan
kantor/administrasi, ruang kontrol, pekerjaan mesin dan perakitan/penyusun tingkat pencahayaan
minimalnya adalah 300 Lux.
1. Pengertian Penerangan Di Tempat Kerja
Intensitas penerangan adalah banyaknya cahaya yang tiba pada satu luas permukaan.
Penerangan berdasar sumbernya dibagi menjadi tiga, pertama penerangan alami yaitu
penerangan yang berasal dari cahaya matahari, kedua penerangan buatan yaitu penerangan yang
berasal dari lampu, dan yang ketiga adalah penerangan alami dan buatan yaitu penggabungan
antara penerangan alami dari sinar matahari dengan lampu/penerangan buatan.
Ada tiga metode penerangan, yaitu : penerangan umum, penerangan lokal dan penerangan
cahaya aksen. Penerangan umum atau baur menerangi ruangan secara merata dan umumnya
terasa baur. Penerangan lokal atau penerangan untuk kegunaan khusus, menerangi sebagian

ruang dengan sumber cahaya biasanya dipasang dekat dengan permukaan yang diterangi.
Sedangkan penerangan aksen adalah bentuk dari pencahayaan lokal yang berfungsi menyinari
suatu tempat atau aktivitas tertentu atau obyek seni atau koleksi berharga lainnya.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penglihatan

adalah pertama faktor usia.

Dengan bertambahnya usia menyebabkan lensa mata berangsur-angsur kehilangan elastisitasnya,


dan agak kesulitan melihat pada jarak dekat.
Hal ini akan menyebabkan ketidaknyamanan penglihatan ketika mengerjakan sesuatu pada
jarak dekat, demikian pula penglihatan jauh. Kedua faktor penerangan. Luminansi adalah
banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan objek. Jumlah sumber cahaya yang tersedia
juga mempengaruhi kepekaan mata terhadap warna tertentu. Tingkat luminansi juga akan
mempengaruhi kemampuan mata melihat objek gambar dan pada usia tua diperlukan intensitas
penerangan lebih besar untuk melihat objek gambar. Semakin besar luminansi dari sebuah objek,
rincian objek yang dapat dilihat oleh mata juga akan semakin bertambah. Ketiga adalah faktor
silau (glare). Silau adalah suatu proses adaptasi yang berlebihan pada mata sebagai akibat dari
retina terkena sinar yang berlebihan. Keempat adalah faktor ukuran pupil. Agar jumlah sinar
yang diterima oleh retina sesuai, maka otot iris akan mengatur ukuran pupil. Lubang pupil juga
dipengaruhi oleh memfokusnya lensa mata, mengecil ketika lensa mata memfokus pada objek
yang dekat. Kelima adalah faktor sudut dan ketajaman penglihatan. Sudut penglihatan (visual
angle) didefinisikan sebagai sudut yang berhadapan dengan objek pada mata.
ukuran objek, derajat kontras di antara objek dan sekelilingnya, luminansi dari lapangan
penglihatan, yang tergantung dari penerangan dan pemantulan pada arah si pengamat, serta
lamanya melihat.
2. Sistem Pencahayaan

Ada 5 sistem pencahayaan di ruangan, yaitu :


1) Sistem Pencahayaan Langsung (direct lighting)
Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu
diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada
kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena
penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan
langi-langit, dinding serta benda yang ada di dalam ruangan perlu diberi warna cerah agar
tampak menyegarkan.
2) Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting)
Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi,
sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Dengan sistem ini kelemahan
system pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langitlangit dan dinding yang
diplester putih memiliki pemantulan 90%, apabila dicat putih pemantulan antara 5%-90%.
3) Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting)
Pada sistem ini setengah cahaya 40%-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari,
sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Dalam pencahayaan sistem ini
termasuk system direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya
keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.
4) Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting).
Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas,
sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal disarankan langit-langit
perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis
tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.
5) Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)

Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan ke langitlangit dan dinding bagian atas
kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat
menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan
sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya
mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.
3. Standart Pencahayaan di Ruangan
Kebutuhan intensitas penerangan tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan
yang membutuhkan ketelitian sulit dilakukan bila keadaan cahaya di tempat kerja tidak
memadai. Untuk lebih jelas, lihat tabel di bawah ini :
Tabel 1. Tingkat Penerangan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan

Contoh Pekerjaan

Tidak teliti
Agak teliti
Teliti
Sangat teliti

Penimbunan kurang
Pemasangan tak teliti
Membaca, menggammbar
pemasangan

Tingkat penerangan
yang dibutuhkan (Lux)
80-170
170-350
350-700
700-1000

Tabel 2. Standar Tingkat Pencahayaan Menurut Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002

Jenis Pekerjaan

Tingkat
Pencahayaan
Minimal ( Lux )

Pekerjaan kasar dan


tidak terus-menerus

100

Pekerjaan kasar dan


terus-menerus

200

Pekerjaan rutin

300

Pekerjaan agak halus

500

Keterangan
Ruang penyimpanan dan ruang
peralatan/instalasi yang
memerlukan pekerjaan yang
kontinyu
Pekerjaan dengan mesin dan
perakitan kasar
Ruang administrasi, ruang
kontrol, pekerjaan mesin &
perakitan/ penyusun
Pembuatan gambar atau
bekerja dengan mesin, kantor,
pekerja pemeriksaan atau

Pekerjaan halus

1000

Pekerjaan amat
halus

1500
Tidak menimbulkan
bayangan

Pekerjaan terinci

3000
Tidak menimbulkan
bayangan

pekerjaan dengan
mesin.
Pemilihan warna, pemrosesan
tekstil, pekerjaan mesin halus
& perakitan
halus.
Mengukir dengan tangan,
pemeriksaan pekerjaan mesin
dan perakitan yang sangat
halus.
Pemeriksaan pekerjaan,
perakitan sangat halus.

B. Pelaksanaan Kegiatan
1. Tujuan
1) Untuk melakukan penyuluhan akan pentingnya pencahayaan ditempat kerja
2) Untuk memberikan infomasi kepada pekerja pelabuhan akan pentingnya pencahayaan
ditempat kerja
3) Untuk memberikan informasi bahaya akan kurangnya penerangan di tempat kerja
4) untuk memberikan informasi akan pencahayaan normal ditempat kerja
2. Manfaat
1) Pekerja dapat mengetahui tentang pencahayaan yang baik dan benar ditempat kerja
2) Pekerja dapat mengetahui bahaya akan kurangnya pencahayaan di tempat kerja
3) Pekerja mengetahuhi nilai kebutuhan pencahayaan normal ditempat kerja
C. Sasaran
Waktu dan Lokasi
1 Waktu pelaksanaan
: Rabu, 27 Mei 2015
2 Lokasi
: Pelabuhan Nusantara Kota Kendari
D. Metode kegiatan
Adapun metode kegiatan ini adalah dengan melakukan penyuluhan menggunakan brosur
yang dibagikan terhadap semua pekerja di Pelabuhan Nusantara Kota Kendari terkhusus para
ABK kapal di pelabuhan nusantara
E. Hasil Kegiatan

Kegiatan ini di ikuti oleh 8 orang yang terdiri dari 4 orang dari dokter muda Fakultas
Kedokteran UHO, 4 orang pegawai dari Kantor Kesehatan Pelabuhan. Seluruh buruh pelabuhan
yang ada di pelabuhan Nusantara dan ABK kapal di pelabuhan Nusantara. Kegiatan ini berjalan
dengan baik, peserta cukup antusias dalam mengikuti dan memperhatikan serta menyajukan
pertanyaan saat kegiatan ini berlangsung.
F. Hambatan
Adapun hambatan yang terjadi saat kegiatan berlangsung adalah:
1 Peserta penyuluhan tidak terlalu banyak, karena penyuluhan dilakukan saat kapal
2

belum beroperasi penuh.


Rendahnya pendidikan sebagian peserta penyuluhan sehingga kurang peduli tentang

informasi kesehatan yang akan diberikan.


Sebagian besar diantara mereka sedang melakukan tugas masing-masing sehingga

mendengarkan informasi yang diberikan saat penyuluhan.


Peserta penyuluhan tiddak terkumpul disatu tempat untuk menddengarakan

penyuluhan
G. Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada kegiatan ini adalah:
1. Pada kegiatan ini di ikuti oleh 8 Orang
2. Kegiatan penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan tentang dampak yang
ditimbulkan oleh pencahayaan yang kurang ditempat kerja
3. Peserta penyuluhan dapat mengetahui bagaimana pencahayaan yang baik ditempat
kerja dan dampaknya untuk kesehatan diri pekerja
H. Saran
Adapun saran setelah melakukan kegiatan ini adalah: Kepada petugas kesehatan sebaiknya
sering melakukan penyuluhan agar meningkatkan kesadaran para pekerja akan pentingnya
mengetahui pentingnya pencahayaan yang baik ditempat kerja

Kendari, 28 Mei 2015

Mengetahui,
Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan
Lintas Wilayah KKP Kelas II Kendari

dr. Hj, Wahyuni Harti Thamrin, M.Kes


NIP. 198005292008012014

Penyusun

Wa Ode Azzahra Mustari


NIM: K1A1 09 054

Muh. Elyas Haeruddin


NIM: K1A109 029

Gambar 1. Alat dan Media yang digunakan saat penyuluhan dilaksanakan

Gambar 2. Melakukan pengukuran pencahayaan sekaligus tes kebisingan

Gambar 3. Pengukuran pencahayaan di ruang kapten kapal Cantika

Gambar 4. Mengukur pencahayaan dan kebisingan di ruang mesin kapal cantika

Gambar 5. Dokumentasi bersama Pegawai Kantor Kesehatan Pelabuhan

DAFTAR PUSTAKA

1
2
3

Permenkes No. 356 Tentang Kantor Kesehatan Pelabuhan


http://www.kkppalembang.com/index.php/tugas-pokok/19-profil-kkp
Firmansyah, Fatoni. 2010. Pengaruh Intensitas Penerangan Terhadap Kelelahan Mata Pada
Tenaga Kerja Di Bagian Pengepakan Pt. Ikapharmindo Putramas. Jakarta Timur.