Anda di halaman 1dari 50

4.

1 Kegiatan Belajar 3

DHARMA SIDDHYARTHA

4.1.1 Uraian dan Contoh

Dharma Siddhyartha adalah suatu adagium yang ditetapkan dalam kitab


Weda Smerti yang merupakan landasan sistem berpikir dalam penuangan suatu
konsep/ pendekatan atau penentuan alternatif untuk mencapai tujuan agama
(Dharma) yaitu Jagadhita dan Moksa. Pada kegiatan belajar terdahulu anda telah
mempelajari tentang Dharma. Dharma itu mempunyai pengertian yang sangat
luas. Sebagai istilah kerohanian Dharma berarti agama. Dharma juga berarti
hukum yang mengatur dan memlihara serta mengembalikan alam semesta beserta
isinya kepada asalanya.

Ditinjau dari segi hukum yang dikaitkan dengan peredaran alam semesta
beserta segala isinya maka kata Dharma berarti kodrat, sedangkan untuk
kehidupna umat manusia Dharma berarti ajaran suci, kewajiban suci, kebajikan,
peraturan-peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia guna mencapai
kesempurnaan hidup yang tercermin dalam tingkah laku dan budi pekerti luhur,
yang dapat menimbulkan kebahagiaan hidup dan kesejahteraan masyarakat
(Jagadhita), serta ketentraman/kebahagiaan batiniah/rohaniah yang tidak
didasarkan atas kebendaan/keduniawian sehingga Roh/Atman bebas dari
penjelmaan, mencapai kebahagiaan hakiki dan sejati (Moksa). Dengan demikian
secara singkat dapat diterjemahkan bahwa Dharma itu berarti “Kebenaran yang
hakiki” sebagai dasar dan sekaligus sebagai tujuan hidup.

Untuk dapat mencapai kebenaran atau Dharma sebagai dasar dan tujuan
hidup itu maka manusia harus berbuat berdasarkan Dharma karena Dharma itulah
yang mengatur peri-kehidupan manusia, alam semesta, beserta segala isinya.
Setiap langkah atau tindakan yang akan dilakukan, setiap keputusan yang akan
diambil harus dilandasi oleh Dharma atau hukum kebenaran, sehingga tujuan
hidup beragam dapat dicapai.

Dalam kenyataan hidup ini kita menyadari tingkah laku manusia, cita-cita
dan cara melihat lingkungan di mana manusia itu hidup akan sangat dipengaruhi

1
oleh cara pandang kelompok masyarakat atau lingkungannya itu, yang di dalam
agama Hindu kita mengenal istilah “Tattwa” (filsafat hidup beragama). Maju
mundurnya, tinggi rendahnya peradaban atau sifat dan sikap manusia dalam
mengatasi lingkungannya akan dipengaruhi oleh Tattwa itu yang pada umumnya
mempunyai sifat dan nilai dinamik, selalu berubah menurut perkembangan akal
dan kemampuan pikirannya (Budhi dan Manah).

Di samping itu kondisi lingkungan juga bersifat relatif konddisional


sehingga satu kelompok masyarakat akan berbeda tingkat peradaban, adat istiadat
atau tradisinya dengan masyarakat lain.

Demikian pula cara mereka dalam mengamalkan ajaran akan beraneka cara,
berbeda secara fisik antar satu masyarakat dengan masyarakat lain, namun tidak
terlepas dari prinsip cita-cita agamis atau itu, maka di dalam kehidupan
masyarakat Hindu dikenal istilah “”mawa cara” yang artinya setiap desa
(kelompok masyarakat) membawa adat istiadat atau tradisinya masing-masing
yang disebabkan oleh sepenuh waktu, tempat dan keadaan pada masa itu (menurut
Kala, Desa dan Patra). Misalnya suatu kelompok masyarakat Hindu di India akan
berbeda cara pengamalan agamanya ataupun tradisinya dengan kelompok
masyarakat Hindu di Malaysia maupun di Indonesia. Begitu pula kelompok
masyarakat Hindu di Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatra Utara, Maluku dan lain-
lain tampaknya berbeda tetapi sungguhnya tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip agama itu.

Jadi untuk mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa
ataupun tujuan hidup manusia (Catur Purusartha) akan sangat tergantung dari
pelaksanaan ajaran agama (Dharma) dengan baik dan tepat. Pengamalan Dharma
itu harus disesuaikan dengan kondisi yang ada, waktu ataupun tempat
melaksanakan sesuatu menurut Dharma itu sehingga tercapai keharmonisan antara
kemampuan. Lingkungan dan cita-cita yang diharapkan, serta keharmonisan
jasmani dan rohani dalam hidup ini.

Untuk mewujudkan keharmonisan itu dikaitkan dengan Kebhinekaan yang


terdapat dalam kehidupan masyarakat, maka diperlukan adanya sistem berpikir

2
sebagai dasar pendekatan penuangan konsepsi agar dapat terwujud rasa
kebersamaan, bbaik dalam kehidupan beragama maupun bernegara.

Sehubungan dengan itu maka pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan


bermasyarakat/bernegara tidak boleh bertentangan dengan Hukum Negara
ataupun norma yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat sepanjang tidak
menyimpang dari hukum agama.

Dalam pada itu agama Hindu memberi landasan kuat mengenai aplikasi
metode pendekatan yang merupakan sistem pikir dalam memilih alternatif yang
tepat, baik dan benar (Wiweka) untuk mencapai keharmonisan dan tujuan hidup
beragama (Jagadhita dan Moksa maupun catur Warga). Landasan sistem pikir itu
disebut (Dharma Siddhyarta” tercantum dalam kitab wera Smerti VII.10 yang
berbunyi sebagai berikut :

“Karyan so’weksya saktimea desa kalnca Tattwatah, kurute Dharma


Siddhyartham wiswa rupam punah-punah”

Artinya :

Setelah mempertimbangkan maksud dan tujuan (Iksa), kesadaran


kemampuan (sakti), tempat (Desa), waktu (Kala), filsafat dan ilmu
pengetahuan yang dimiliki (Tattwa) dia lakukan berbagai wujud perbuatan
untuk mencapai tujuan Dharma (kebenaran).

Jadi ada lima aspek yang harus diperhatikan bila hendak mewujudkan sesuatu
atau melakukan kegiatan (amal perbuatan) untuk mencapai suatu tujuan
berdasarkan Dharma, yaitu aspek Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattwa.

4.1.1.1 Iksa

Iksa berarti maksud dan tujuan, merupakan aspek utama yang menjadi
kompas/ukuran/garis sasaran/cita-cita yang harus direalisasikan. Misalnya dalam
berorganisasi maka yang pertama harus ditentukan adalah hakikat tujuan dari
organisasi itu, supaya jelas arahnya supaya dapat ditentukan langkah-langkah
kegiatannya. Organisasi “Subak” umpamanya dibentuk dengan tujuan

3
terwujudnya suatu tertib pelaksanaan irigasi pertanian (di Bali) guna mencapai
tingkat kemajuuan produksi pangan yang akhirnya akan dapat menciptakan
kesejahteraan anggota subak pada khususnya dan masyarakat pada umumnya
(tercapainya Jagadhita). Hakikat tujuan itu tidak boleh bertentangan dengan
norma yang hidup dan berkembang di masyarakat, baik itu norma agama maupun
norma hukum.

4.1.1.2 Sakti

Sakti berarti kesadaran kemampuan, merupakan aspek jnana sebagai upaya


dalam mewujudkan cita-cita atau tujuan yang telah ditetapkan. Jnana berarti ilmu
pengetahuan atau kemampuan pikir yang dapat menentukan apakah cita-cita atau
tujuan itu akan dapat direalisasikan.

Kemampuan dan kemajuan pikir akan menumbuhkan kesadaran pengabdian


untuk mewujudkan cita-cita itu. Di samping itu Sakti mengandung pengertian
kemampuan daya dukung dalam bentuk kekuatan nyata secara fisik (Bala-Kosha)
sebagai unsur dari aspek kriya. Tanpa daya dukung secara fisik yaitu sarana dan
prasaranan untuk mencapai tujuan maka apa yang akan dikerjakan tidak akan
mencapai hasil seperti yang dicita-citakan. Begitu pula sebaliknya apabila
kemampuan yang dimiliki tidak mencukupi maka kegiatan yang dilakukan harus
menyesuaikan agar suatu cita-cita tidak merupakan khayalan semata-mata.

Anda mungkin telah melihat secara pintas tentang pelaksanaan upacara


keagamaan di Bali yang kadang kala menimbulkan kesan pemborosan, bahkan
mungkin pelaksanaan seperti dipaksakan.

Kalau kita adakan penelitian secara dalam dengan melihat aspek Jnana dan
Kriya di atas maka kesan negatif itu akan hilang, karena sesungguhnya setiap
pelaksanaan upacara keagamaan Hindu didasarkan atas Sakti yaitu kesadaran akan
kemampuan yang dimiliki.

Bagi orang yang mampu akan melaksanakan upacara yang lebih besar,
sedangkan bagi orang yang kurang mampu akan melaksanakan upacara yang
sederhana saja atau melaksanakan upacara yang cukup (Madya) dengan dibiayai

4
secara bersama-sama (bergotong-royong). Hal ini merupakan realisasi dari ajaran
Catur Purusartha dimana penggunaan Artha (harta kekayaan) dibagi atas tiga
pemanfaatan yaitu untuk kepentingan agama, kepentingan pemenuhan keinginan
dan menambah harta kekayaan/berekonomi. Jadi aspek Sakti adalah merupakan
landasan berpikir untuk menentukan alternatif pilihan/tindakan yang tepat guna.

4.1.1.3 Desa

Desa berarti tempat dimana suatu kegiatan akan dilaksanakan. Perbedaan


tempat akan ikut mempengaruhi pola pelaksanaan ajaran agama, oleh karena itu
aspek tempat perlu diperhatikan baik segi tradisi, kaidah hukum positifnya yang
menurut ajaran Hindu Dharma tidak sama pada semua tempat. Untuk itulah
diperlukan adanya sistem pendekatan yang akomodatif agar tidak menimbulkan
keresahan sosial. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dalam pembinaan
kehidupan beragama dan tidak boleh bertentangan denggan ketentuan pokok-
pokok ajarana agama Hindu serta hukum positif yang berlaku. Jadi aspek tempat
itu akan memberi warna pula bagi pelaksanaan ajaran agama Hindu. Misalnya
dalam melaksanakan yadnya/korban suci dalam wujud upakara (sesajen), baik
jenis persembahan maupun bentuknya akan berbeda di masing-masing wilayah
(desa) tergantung dari kondisi geografis, ekonomis dan kemampuan penduduk di
suatu wilayah. Dengan demikian maka penerapan ajaran agama tidak kaku agar
menimbulkan kontradiksi dan keresahan sosial, karena agama tidak menghendaki
adanya kontradiksi dan keresahan kehidupan umatnya melainkan hanya bertujuan
untuk terwujudnya kebahagiaan lahir batin, kebahagiaan di dunia dan di akhirat
(Moksatham Jagadhita ya ca iti Dharmah).

4.1.1.4 Kala

Kala berarti waktu, merupakan aspek yang penting diperhatikan atau


dijadikan dasar pertimbangan dalam menerapkan ajaran agama dalam arti bahwa
tafsir tata cara pelaksanaan suatu kaidah agama tidak boleh ditetapkan secara
absolut. Dengan demikian maka asas universal dari ajaran agama Hindu akan

5
selalu mendasari setiap langkah-tindak dan cara umatnya dalam berpikir
berbicara, dan berbuat menuju kebenaran Dharma.

4.1.1.5 Tattwa

Aspek terakhir dari Dharma Siddhyartha adalah Tattwa yaitu filsafat atau
pengetahuan tentang kebenaran yang menjadi landasan dari ajaran agama yang
dianut/ diterapkan.

Aspek tattwa merupakan landasan sistem pikir terutama dalam hubungannya


dengan usaha-usaha pembudayaan ajaran agama Hindu sehingga ajaran tersebut
dapat memasyarakat. Dalam hal ini agama Hindu mengajarkan “Sad darsana”
sebagai sistem yang mencakup aspek Tattwa secara umum dan luas. Sad Darsana
adalah enam pandangan kebenaran atau sistem filsafat yang terdiri dari :

a. Nyaya, mengajarkan tentang logika.

b. Mimamsa, mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Dharma dengan


titik berat pada masalah etika dan ritual.

c. Waisesika, mengajarkan tentang pengetahuan penuntun realisasi


sang diri.

d. Samkhya, mengajarkan tentang proses perkembangan kejadian


alam semesta secara sistematik.

e. Yoga, mengajarkan tentang latihan pengendalian diri (fisik dan


pikiran) untuk mencapai Samadhi, yaitu suatu kondisi di mana pikiran
telah bersatu dengan Yang Sejati, manunggal dengan asalnya dan
mencapai Moksaka.

f. Wedanta, mengajarkan filsafat hubungan jiwa dengan Sumber


Kehidupan atau hubungan antara Atman dengan Paramatman dan
hubungan Tuhan dengan dunia/alam semesta.

Enam pandangan tentang kebenaranatau Sad Darsana tersebut merupakan


aspek Tattwa yang dikaitkan dengan upaya pembudayaan ajaran agama Hindu

6
agar memasyarakatkan uraian tentang Sad Darsana secara lebih luas akan dibahas
pada modul 3. Aspek Tattwa merupakan asas universal yang dianut dan tidak
bertentangan dengan norma agama, norma hukum, termasuk di dalamnya hukum
negara, dengan pengertian bahwa hukum negara yang dimaksud ialah hukum
yang berlaku pada negara yang mengakui kebenaran agama. Jadi di dalam aspek
Tattwa terkandung pula pengertian ideologi karena Tattwa itu sendiri merupakan
landasan filsafah yang diyakini kebenarannya.

Sehubungan dengan itulah aspek Tattwa selalu dipakai dasar atau landasan sistem
berpikir dalam memilih alternatif yang terbaik dari suatu tindakan atau langkah
yang akan dilaksanakan agar tujuan yang dicita-citakan dapat terwujud. Begitu
pula dalam upaya mencapai tujuan hidup beragama maka aspek Tattwa tidak
boleh ditinggalkan. Misalkan dalam setiap pelaksanaan ibadah agam Hindu, baik
yang menggunakan sarana upacara atau tanpa sarana selalu berpedoman pada
Tattwa (Widhi Tattwa, Atma Tattwa, Karmaphala Tattwa, dan sebagainya).

DARSANA HINDU

1. Pengantar

7
Modul Darsana Hindu ini berisi pokok bahasan tentang filsafat
(darsana) Hindu yang melatarbelakangi ajaran dan mendasari pola berpikir
Hindu beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara sistematis ajaran agama Hindu dibagi menjadi tiga kerangka


yaitu bagian tentang filsafat (tatwa, darsana), bagian tentang susila (ethica)
dan bagian tentang upacara (yadnya, ritual). Walaupun secara sistematis dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian tetapi pada kenyataannya tetap terjalin
menjadi satu. Ketiga-tiganya di dalam pemahaman dan pengalamannya tidak
berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan yang harus dimiliki. Jika
filsafat agama saja diketahui tanpa memahami ajaran susila dan upacara
tidaklah sempurna, demikian pula sebaliknya bila hanya memahami upacara
tanpa memahami dasar-dasar filsafat dan etika tidak juga sempurna, bahkan
ada kemungkinan dapat memberikan pengetahuan yang menyesatkan.

Dengan mempelajari modul Darsana Hindu ini, anda akan dapat


memahami ajaran sembilan filsafat Hindu (Nawa Darsana) yang meliputi
kelompok Astika dan kelompok Nastika, disamping Panca Sraddha yang
meliputi, hakikat Ketuhanan (Theologi Hindu Dharma), hakikat atman (roh)
hukum karmaphala, masalah penjelmaan kembali (samsara) dan pencapaian
kebahagiaan yang kekal abadi (moksa). Di samping itu juga anda dapat
memahami tentang Catur Marga Yoga dan Raja Yoga Marga. Hal ini tentu
akan dapat menggugah diri Anda sendiri untuk dapat berpikir dan bertindak
pada perbuatan yang lebih sesuai.

Konsep Darsana Hindu yang dibahas dalam modul ini merupakan


lanjutan konsep modul dua tentang kerangka agama Hindu dan berkaitan
langsung dengan konsep yang dibahas pada modul-modul ajaran agama
Hindu, terutama pada modul empat. Dengan demikian Anda perlu memahami
konsep Darsana Hindu ini.

2. Tujuan Instruksional Umum

8
Dengan mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu memahami
ajaran filsafat Hindu, sebagai filsafat yang mendasari ajaran Agama Hindu
dan pola berpikir umat Hindu, di dalam mencapai tujuan agamanya.

3. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah menyelesaikan modul ini, Anda diharapkan mampu :

a) Memahami pandangan masing-masing filsafat kelompok Astika dan


kelompok Nastika.

b) Menjelaskan hakikat ajaran Ketuhanan dan Agama Hindu (Theologi


Hindu Dharma)

c) Menjelaskan hakikat pengertian Atman (roh)

d) Menjelaskan pengertian dan hakikat hukum Karmapala

e) Menjelaskan hakikat keyakinan pada penjelmaan (Samsara)

f) Menjelaskan pengertian tentang moksa (terbebas dari penderitaan)

g) Menjelaskan tentang Bhakti Marga

h) Menjelaskan tentang Karma Marga

i) Menjelaskan tentang Jnayana Marga

j) Menjelaskan tentang Raja Yoga Marga

4. Kegiatan Belajar

4.1 Kegiatan Belajar 1

ASTIKA

Sistem filsafat Hindu yang tergolong pada klasifikasi Astika ialah


sistem / aliran yang percaya kepada kesucian Weda (Authority of the Veda).

9
Menurut klasifikasi ini ada enam aliran yang disebut Sad Darsana (Sad =
enam, Darsana = pandangan, filsafat) yang termasuk Astika yaitu Samkhya,
Yoga Niaya, Waisasika, Mimamsa dan Wedanta.

Dalam pengertian lain di samping percaya kepada kesucian Weda,


percaya pula pada reinkarnasi (kelahiran kembali) maka yang tergolong
Astika tidak hanya enam aliran filsafat tadi termasuk juga aliran Buddha dan
Jaina. Tetapi yang umum disebut Astika adalah Sad Darsana tadi.

Filsafat Samkhya

Perkataan Samkhya terjadi dari dua kata yaitu sam dan khya, sam
artinya bersama-sama dan khya berarti bilangan. Samkhya, berarti bilangan
bersama-sama, atau susunan berukuran bilangan. Dalam Samkhya bilangan
mempunyai fungsi-fungsi penting, sebagaimana pula peranan bilangan pada
filsafat Yunani. Walaupun ada juga bilangan yang tidak termasuk ukuran
bilangan dalam Samkhya. Inti pembahasan filsafat Samkhya adalah
penciptaan alam semesta dengan segala isinya 25 satwa.

Fungsi Bilangan

1) Bilangan satu : adalah simbul dari Yang Maha Ada yaitu Tunggal (Parama
Siwa Sanghyang Widhi). Dalam agama Hindu Yang Maha Ada itu tunggal
(Satu) digambarkan dengan satu huruf disebut Omkara yang pada
dasarnya adalah sepuluh aksara (dasaksara), setelah disarikan menjadi
lima aksara (pancaksara), disarikan lagi menjadi tiga aksara (tryaksara),
akhirnya kembali pada intinya semula pada angka satu yaitu Omkara
(aksara tunggal).

2) Bilangan dua : menunjukkan yang saling berbeda yaitu Rwabhineda,


Purusa pradana, centana acetana, adwaya adwayadnyana. Prinsip dua pada
Samkhya menimbulkan evolusi setelah adanya pertemuan dalam prinsip
itu sendiri, membawa perubahan pada keseimbangan semula.

10
3) Bilangan tiga : adalah bilangan untuk api, sifat api adalah menerangi dan
dharmanya api adalah membayar 3 x 7 = 21. Merupakan bilangan api
terbesar yaitu matahari. Angka 21 sama nilainya dengan 2 + 1 = 3,
kembali bilangan api. Dalam hubungan upacara agama Hindu terutama di
Bali bilangan 3 hampir tidak pernah ketinggalan, sejak bayi lahir sampai
tua dan meninggal, yang jelas maksudnya untuk mensucikan (memari
sudha) mala (kotoran jasmaniah rohaniah) membakar segala noda dan
dukha (penderitaan).

4) Bilangan empat : adalah bilangan menunjukkan penjuru / mata angin


(catur desa) dengan di masing-masing penjuru bersthana dewa tertentu.
Kata dewa berasal dari kata div yang berarti bersinar. Dewa adalah sinar
dari Sanghyang Widhi :

Utara sthana Wisnu

Timur sthana Iswara

Selatan sthana Brahma

Barat sthana Mahadewa

5) Bilangan lima : adalah bilangan dunia dengan keempat penjuru ditambah


zenit. Kuadrat bilangan 5 adalah 25 merupakan bilangan untuk melukiskan
penciptaan dunia sebagai makro kosmos (bhuwana agung) dan sebagai
mikro kosmos (bhuwana alit) dalam ajaran 25 tatwa.

6) Bilangan delapan : adalah menunjukkan delapan mata angin dan simbol


kekuatan Sang Hyang Widhi yang digambarkan dengan padma anglayang,
yaitu gambaran bumi berputar melayang-layang di angksa mengitari
matahari (surya sewana).

7) Bilangan sembilan : adalah menunjukkan 9 lubang pada badan manusia,


dan juga berarti pintu. Bila dihubungkan dengan meru maka angka
sembilan menunjukkan bilangan delapan arah mata angin dan ditambah
dengan satu yaitu tengah, jumlah tingkat daripada meru, tempat
menghormati roh para raja-raja penguasa alam dunia.

11
Bilangan-bilangan selanjutnya adalah pengadaan dari bilangan satu
sampai dengan sembilan atau kelipatan dari bilangan-bilangan itu, dan
nilainya adalah jumlah dari masing-masing bilangan.

Contoh :

Di candi Borobudur terdapat 504 patung Buddha. Angka 504 nilainya


adalah 5 + 0 + 4 = 9. Bilangan sembilan menunjukkan Yang Maha
Ada atau Adi Buddha dalam ajaran Buddha.

Cetana dan Acetana

Filsafat Samkhya pada dasarnya memulai dari pembahasan Cetana dan


Acetana yaitu hakikat dua unsur yang mempunyai kesamaan keutamaannya,
gaib tiada terkena dari suka dan duka duniawi. Ia ada tanpa diciptakan atau
tanpa sebab, dinamai Cetana dan Acetana di dalam Sastra. Dua unsur inilah
yang menjadi awal daripada penciptaan. Cetana dan Acetana itu adalah duau
nsur yang saling bertentangan, Cetana adalah unsur kesadaran yang kekal.
Sedangkan Acetana adalah kebingungan atau ketidaksadaran yang bersifat
awidya. Pertemuan Cetana dan Acetana itu, menimbulkan sesuatu yang
bersifat jasmaniah. Tetapi jika kedua Cetana dengan Acetana tidak
mengadakan pertemuan, maka dunia dengan segala isinya tak akan ada.
Cetana dengan Acetana itu juga disebut Siwa Tattwa dengan Majatatwa, atau
sekala dengan niskala. Cetana itu terbagi lagi menjadi tiga bagian yaitu
masing-masing sebagai berikut :

a) Paramasiwa

b) Sadasiwa

c) Siwa

a) Paramasiwa-Tattwa

Yang pertama ini disebut Parama – Siwa yaitu yang masih suci
nirguna, adalah yang kekal selama-lamanya, tidak tunduk oleh ruang tempat

12
dan waktu, hidup tak mengenal mati, ingat tak mengenal lupa, ialah yang
disebut dengan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).

b) Sadasiwa-Tattwa

Yang kedua disebut Sada-Siwa yaitu bertingkatan di bawah Parama


Siswa tersebut di atas adalah juka kekal, tidak hidup tidak mati. Tidak ingat
dan tak lupa (Saguna Brahma), tersebut sebagai Ida Sang Hyang Widhi yang
mempunyai sifat-sifat kemahakuasaan-Nya yang disebut Padmasana yaitu
simbol daripada segala macam kemahakuasaan bersusun-susun bagaikana
kelopak daunnya bunga teratai. Karena dia menempati yaitu yang bagaikan
bunga teratai terus dinamai Padmasana. Padmasana (tempat kedudukan yang
menyerupai bunga teratai) dinamai Cadu Sakti (catur sakti) yaitu :

1) Jnana sakti

2) Wibhu sakti

3) Prabhu sakti

4) Kriya sakti

1) Jnana Sakti

Berarti maha tahu. Segala kejadian di dunia skala niskala diketahui


semuanya, dilihat, didengar, dipikirkan. Karena itu Jnana sakti ini berisikan
tiga unsur yaitu :

a. Duradarsana : melihat segala sesuatu yang tak mungkin dilihat oleh orang.

b. Durasrawa : mendengar apa yang tak mungkin, didengar oleh orang.

c. Durajnana : memikirkan apa yang tak dapat dipikirkan oleh orang.

2) Wibhu Sakti

13
Berarti sifat Maha Ada meresap memenuhi bhuwana, tiada tempat
yang tiada dipenuhi oleh-Nya di mana-mana Dia selalu ada (wyapi-wyapaka).
Kekosongan ruang angkasa dipenuhi oleh wujudnya yang Maha Sukma itu.

3) Prabhu Sakti

Berarti sifatnya Maha Kuasa sebagai pencipta (Utpeti), pemelihara


(Sthiti) dan dapat menghilangkan atau menghancurkan segala isi alam
(Bralina).

4) Krya Sakti

Berarti Maha Karya, dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.


Ini berisikan delapan unsur yaitu yang dikenal dengan nama ”Asta Eswarya”.

a) Anima : kekuatan untuk mengubah diri sekecil atom dan dapat


berhubungan dengan barang-barang yang terkecil sekalipun.

b) Lagima : kekuatan mengubah badan menjadi ringan sehingga dapat


terbang sebagai kapas terbawa oleh angin, demikian juga ia berat seberat-
beratnya.

c) Mahima : kekuatan untuk menjadikan diri-Nya tujuan umat, di mana-


mana.

d) Prapti : kekuatan untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Tidak tunduk


kepada tempat, ruang dan waktu ia seketika ada.

e) Prakamia : kemauan untuk menginginkan segala sesuatu ia serba jenis,


tidak tunduk oleh umur tua muda besar kecil.

f) Isitwa : kekuatan menguasai dan menciptakan, menguasai alam surga dan


neraka.

g) Wastwa : kekuatan memerintah segala sesuatu, tidak tunduk oleh kodrat


lahir-hidup-mati pendeknya ia ada di bumi, air, cahaya, angin, dan langit
tidak terbakar oleh api. Tidak basah oleh air karena ia adalah air.

14
h) Yatrakamawasayitwa : kekuatan untuk menentukan, tidak ada yang dapat
menentang kehendak dan kodrat-Nya, segala yang telah ditakdirkan
berlaku, dengan tak ada sesuatu kekuatan apa pun yang mungkin
menghalangi-Nya.

Demikianlah delapan sifat keagungan Ida Sanghyang Widhi Wasa,


Sada Siwa (saguna Brahma) disimpulkan dengan singasana teratai
(padmasana) yang berdaun kelopak delapan (astadala) merupakan lambang
daripada kemahakuasaan-Nya menguasai dan mengatur alam semesta beserta
makhluk –makhluk di dalamnya.

c) Siwa (Siwatma – Tattwa)

Yang ketiga setelah Sadasiwa yaitu tingkatan di bawahnya dinamai


Siwadma atau disebut juga Sanghyang Mahasiratatwa, Sanghyang Darma,
Sanghyang Jagatkarana, Sanghyan Icana, dan Sanghyang Rudra. Mulai
disinilah pengaruh dunia yiatu seperti lupa, bingung dan lain sebagainya yang
disebut Acecana, timbul sebagai pengaruh sifat-sifat tattwa-tattwa berikutnya.
Tattwa-tattwa berikutnya yang dimaksudkan di sini ialah Purusattwa yang
ditimbulkan oleh pertemuan antara Siwa dan Maya.

Purusa dan Pradana Tattwa

Sesudah selesai pertemuannya Siwa dengan Maya maka muncullah


dari pada-Nya apa yang disebut Purusa dan Pradana Tattwa yang tampaknya
terwujud tunggal memenuhi seluruh ruangan alam ini bersifat Rwabhineda.
Purusa itu adalah Atman yang selalu hidup kekal abadi tidak pernah
mengalami mati. Pradhana (Prakrti) itu merupakan badannya Purusa yang
mempunyai sifat mati atau berganti. Antara Purusa dan Pradhana terdapat
kekuatan saling tari-menarik (magnitisme) yang memang telah ada pada setiap
prakrti, yaitu bagaikan hubungan antara elektron dan proton pada aliran listrik.
Pertemuan elektron dengan ploton menimbulkan api listrik, demikian pula
pertemuannya Purusa dengan Prakrti menimbulkan sesuatu wujud.

15
Citta dan Triguna

Telah disebut bahwa Purusa adalah Jnana swabhawa wruh tan keneng
lupa atau dengan kata lain. purusa adalah Maha Tahu (sadar). Dalam bentuk
kejiwaan ia adalah spiritual dan segala gejal psikis yang termasuk benda
pengalaman ilmu jiwa. Jadi organ-organ atau alat-alat materi (prakrti)
mendapatkan gejala-gejala psikis ini dari dalam dan mengadakan citta.

Maka yang terlahir dari spiritual dan material membawa pula sifat-
sifatnya yaitu kebendaan dan kejiwaan yang menurut Samkhya sudah ada
pada sebab (satkaryavada) yaitu kenyataan-peristiwa dan anggapan. Tiga
faktor sifat-sifat itu adalah :

1) Yang menjadi sebab adanya anggapan (sebutan), misalnya api menjilat


rumah penduduk. Hal yang demikian, kebakaran.

2) Yang menjadi sebab adanya peristiwa itu misalnya keluarga itu karena
lengah menaruh pelita di dalam rumah.

3) Kenyataan : adalah akibat dari 1 dan 2.

Hal yang terurai di atas ini dipandang dari segi kebendaannya.


Selanjutnya jika ada tiga faktor sifat tersebut di atas tentu ada asalnya. Inilah
prakerti si pemberi sifat khas kepada citta.

Jadi tiap-tiap kejadian hanya pernyataan dari ada sebab digambarkan


oleh citta yang terlahir dari spiritual dan material itu.

Citta dapat digambarkan, mengambil macam-macam rupa, sehingga


rupa-rupa yang terjadi itu menyusun vrittis (gerakan-gerakan pikiran).
Gerakan-gerakan pikiran itu dapat diubah, perubahan-perubaan itu disebut
gelombang-gelombang pikiran atau kisaran-kisaran pikiran. Kalau citta
memikirkan tentang kebakaran maka gelombang pikiran (vrittis) hal
kebakaran terbentuklah dalam lautan citta itu. Gelombang pikiran hal
kebakaran itu akan berangsur-angsur surut, jika citta telah memikirkan hal-hal
yang lain sehingga muncul vrittis yang baru.

16
Hal ini mungkin dapat dibandingkan dengan pita tape rekorder yang
jika hendak merekam suara baru, maka suara yang lama hilang saja dengan
sendirinya. Sebagaimana di atas telah diuraikan, bahwa citta terlahir dari
Samyoganya purusan dan prakrti yang bagaikan hubungan positif dengan
negatif mempunyai kekuatan daya tahan menarik. Pertemuannya inilah yang
disebut Samyoga.

Evolusi dimulai setelah adanya Samyoga yang dengan sendirinya


mengubah keseimbangan semula dan berubahlah menjadi gerak. Untuk
terjadinya Samyoga itu berlakulah asas salingu berhubungan yang berdasarkan
hukum sifat tarik-menarik. Pemberi sifat tarik-menarik (magnit) itu telah ada
pula pada setiap prakrti (materi) yang selalu bekerja berputar berbeda arah
satu sama lain sesuai dengan asas kontradiksi, itulah Triguna.

Tri guna adalah yaitu :

Sattwam (satwika), Rajas (Rajasika) dan Tamas (Tamasika)

1) Sattwam (Satwika) : berasal dari kata sat dengan twa. Sat berarti benar dan
twa berarti mempunyai sifat. Sattwa berarti sifat benar. Disini berarti sifat
ringan bagi benda dan sifat baik bagi makluk hidup.

2) Rajas (Rajasika) : berasal dari kata Raj yang berarti mengendalikan (kata
raja bahasa Indonesia berasal dari kata Raj tersebut, di atas berarti yang
mengendalikan.

Disini Rajas berarti sifat yang menjadi penggerak dari segala benda yang
ada dalam alam semesta, dan bagi makhluk hidup berarti sifat yang
memberi kekuatan untuk mengerjakan sesuatu atau kekuatan yang
menyebabkan makhluk atif dalam hidupnya. Sifat-sifat Rajas bergerak,
bekerja sangat dibutuhkan dewasa ini bagi kepentingan pembangunan
negara, karena dengan banyak omong dan hanya teori di atas meja tak
akan dapat menyelesaikan cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur
(no great work can be sachieved by humbug).

3) Tamas (Tamasika) : berasal dari kata Sanskerta Tam yang berarti susah
atau gelap. Tamas, artinya sifat yang menyebabkan segala makhluk di

17
dalam kegelapan atau kemalasan, bagi benda mati Thamas berarti sifat,
yang menyebabkan benda itu lamban (statis atau tak bergerak). Jadi
jelaslah bahwa Tamas bersifat amerih sukaning awak tan ton laraning len
(menghendaki kesenangan diri sendiri tanpa melihat kesusahan orang
lain).

Rajas dan Tamas lebih menguasai Ksipta (kegusaran dan kecemasan).


Karenanya jika Sattwam ketenteraman disimbolkan dengan warna putih, maka
Rajas disimbolkan dengan warna merah dan Tamas disimbolkan dengan
warna hitam (Kegelapan).

Mahat Buddhi

Hasil dari gerak pertama yang kita sebut evolusi, karena rwabhineda
tadi menimbulkan suatu benih maha besar (mahat) yang membawa suatu
unsur kesadaran. Setelah mahat (buddhi) mendapatkan sifat-sifatnya saling
mempengaruhi satu dengan yang lain bagaikan kabel, bohlam, dan aliran
listrik yang ketiga-tiganya adalah memegang peranan penting, baik, bohlam,
kabel, maupun aliran listirk, jika satu di antaranya rusak maka ia tak dapat
menyala. Demikianlah Buddhi mempunyai sifat wikerta, rejasa, dan butadi
yang kegunaannya sama dengan Sattwam, Rajas dan Tamas tersebut di atas.
Karena ia memberi kesadaran, maka ia disebut : Buddhi di mana Satwam
menduduki tempat yang terbesar. Mahat (Buddhi), dapat diumpamakan air
laut yang ditiup angin bergelombang. Matahari di atas kelihatan bayangannya
berombak juga pada hal matahari itu tetap tidak bergoyang sebagai
bayangannya di air.

Demikianlah dalam Samkhya Yoga bahwa Yoga itu bertujuan


menghilangkan gelombang-gelombang itu. Tahap yang harus dilalui dalam
berusaha menghilangkan gejolak budhi itu dalam hal ini ada lima tingkatan
yang disebut Citta Bhumi yaitu :

1. Ksipta : (gusar) di mana pikiran tidak tetap, karena alamnya dikuasai


oleh kedua-duanya baik rajas maupun tamas.

18
2. Mudha : (bodoH0 di mana segala sesuatu tak dapat ditangkap oleh
pikiran, sering linglung, bagaikan seorang yang amat bodoh karena
alamnya dikuasai sendiri oleh Tamas.

3. Viksipta : (kacau) karena alamnya dikuasai oleh Rajas sendiri yang


berlaku sebagai pengemudi bergerak maju tetapi tak menentu tujuan.

4. Ekagra : konsentrasi pikiran dapat terpusat serta telah dapat menguasai


suka duka di dunia ini, karena telah dikuasai oleh Sattwam.

5. Niruddha : (ketenangan) kekuasaan Satwam yang mutlak dimana pada


tingkatan ini manusia misalnya dapat membedakan dirinya dengan subjek-
subjeknya.

1) Dasa Indria

Dalam proses penciptaan setelah timbul unsur-unsur di atas kemudian


barulah timbul Dasa Indria yaitu sepuluh sumber Indria yang terbadi dua
menjadi Panca Budhi Indria dan Panca Karma Indria.

1) Panca Budhi Indria

a. Srota indria = Rangsang pendengar

b. Twak indria = Rangsang perasa

c. Caksu indria = Rangsang pelihat

d. Jihwa indria = Rangsang pengecap

e. Grana indria = Rangsang pencium

2) Panca Karma Indria

a. Wak indria = Penggerak mulut

b. Pani indria = Penggerak tangan

c. Pada indria = Penggerak kaki

d. Payu indria = Penggerak dubur / pelepasan

e. Upasatha indria = Penggerak kemaluan

19
Setelah timbul indria-indria kemudian timbul : Panca Tan Matra yaitu
lima benih alam :

a. Sabda tan matra = Benih suara

b. Sparsa tan matra = Benih rasa sentuhan

c. Rupa tan matra = Benih penglihatan

d. Rasa tan matra = Benih rasa

e. Gandha tan matra = Benih penciuman

Dari unsur-unsur Panca tan Matra inilah kemudian timbul unsur-unsur


benda materi yang nyata yang dinamai Panca Maha Bhuta.

a. Akasa = Ether

b. Bayu = Gas, udara

c. Teja = Sinar, panas

d. Apah = Zat cair

e. Pratiwi = Zat padat

Dari kelima unsur-unsur alam inilah kemudian terbentuk parama anu


(atom) yang mengalami evolusi sampai kemudian terbentuk alam semesta
yang terdiri dari Brahmanda. Brahmanda yaitu planet-planet seperti matahari,
bulan, bumi, dan bintang-bintang lainnya. Panca Maha Butha ini pula yang
menjadikan unsur badan manusia (mikrokosmos = bhuwana alit). Dalam
filsafat Samkhya ini Tuhan tidak begitu dibahas karena dinilai tidak perlu,
sehingga filsafat Samkhya disebut juga ajaran Micro Iswara Samkhya.

Filsafat Yoga

Yoga berasal dari kata Yuj artinya menghubungkan diri. Yoga berarti
jalan atau proses, cara manusia menghubungkan jiwa atau atmannya yang suci
dengan Parama atma (Tuhan). Sehingga bersatu kepada-Nya. Filsafat Yoga

20
disponsori oleh Patanjali. Dalam hal ini methafisika dan evolusi kejadian
dunia ini Yoga sama dengan ajaran Samkhya, dengan menambah kepercayaan
bahwa ada Tuhan yang menciptakan Purusa dan Prakrti. Hal penting dalam
sistem filsafat Yoga adalah tentang praktek yoga dilakukan untuk mencapai
Wiweka Jnyana yaitu pengetahuan untuk membedakan jiwa dengan bukan
jiwa. Yoga mempunyai praktek tingkat-tingkat pelaksanaan mental (citta urtti
niroddha), untuk mencapai keadaan moksa ada lima tingkat mental disebut
Citta Bhumi yaitu :

1) Ksipta

2) Mudha

3) Viksipta

4) Ekagra

5) Nirudha

Ksipta, Mudha, dan Viksipta adalah masih dalam keadaan konsentrasi


pikiran pada sesuatu objek, sedangkan Ekagra dan Nirudha adalah konsentrasi
yang telah sempurna. Tiga daripada yang disebut pertama dinamai.
Samprajnata dan dua dari yang lainnya disebut belakangan dinamai
Asamprajanata.

Di samping lima tahap tersebut di atas, yoga juga mengajarkan delapan


jalan untuk melakukan yoga yang disebut Astangga Yoga.

1. Yama (larangan)

Yaitu suatu disiplin penahanan diri terhadap keinginan atas nafsu, Yama
terdiri dari :

a. Ahimsa : tidak menyiksa (membunuh). Janganlah menyiksa atau


membunuh sesama makhluk dan jangan berbuat yang menyakiti hati
orang lain.

b. Satya : pupuklah kejujuran, pantang kepada keburukan,


kembangkanlah kebenaran.

c. Astaya : jangan bohong, mencuri serta pantang segala kejahatan

21
d. Aparigraha : jangan loba, batasi diri, pada kebaikanlah selalu
menempatkan diri, makanlah makanan yang sewajarnya dan jangan
sekali-kali minum yang memabukan.

e. Brahmacarya : Artinya dalam keadaan belum kawin / tidak kawin yaitu


tidak mengobral nafsu. Brahmacarya juga dimaksudkan tingkatan
hidup manusia yaitu untuk mengikuti pelajaran.

Tingkatan-tingkatan lainnya adalah sebagai berikut :

a. Sukla brahmacari : tidak kawin sama sekali sampai tua dan mati.

b. Sewala brahmacarya kawin hanya satu kali dengan seorang istri.

c. Trsna brahmacarya : kawin lebih dari satu kali yaitu poligami. Karena
memerlukan keturunan dan seizin istri pertama.

2. Niyama

Suruhan untuk berdisiplin, beradab yang baik dengan memupuk


kebiasaan-kebiasaan baik. Niyama terdiri dari :

a. Saucha : (pembersihan luar dalam) yaitu pembersihan badan jasmani


dengan jalan mandi dan makan yang murni sebagai langkah kebersihan
lahir. Kebersihan dalam yaitu kebersihan rohani jalannya yaitu dengan
memupuk perasaan-perasaan yang baik, berlaku ramah-riang
menjauhkan diri dari pengaruh-pengaruh yang buruk.

b. Dhariti : tetap tenang di dalam menghadapi segala keadaan yang


bagaimanapun juga, baik dalam keadaan menggembirakan, ataupun
kecelakaan, kekecewaan maupun keuntungan.

c. Ksama : tidak mengeluh atas segala derita menahan segala cobaan


hidup.

d. Swadhyaya : belajar mengekang diri. Bermuka manis terhadap kawan


atau lawan.

e. Dana : dana punya dan beramal dengan tulus ikhlas, jangan


mengharapkan balasannya (zakat).

22
3. Asana

Cara duduk yang baik dengan maksud, Prana dapat mengontrol semua
bagian badan termasuk urat syaraf, karena penyakit-penyakit berasal dari
urat syaraf.

4. Pranayama

Mengatur pernapasan untuk membersihkan darah dengan melalui tiga


jalan yaitu :

a. Menarik napas panjang dan dalam-dalam hal ini dinamai Puraka

b. Menahan napas yang telah penuh, hal ini dinamai Kumbaka

c. Setelah sesaat lamanya, lalu dikeluarkan perlahan-lahan : hal ini


dinamai Recaka.

5. Pratyahara

Berasal dari urat kata a V hr = mengatur. Mengontrol semua panca indria


sehingga mendapat tanda-tanda misalnya melihat sinar-sinar, sastrajendra,
bahkan suara-suara halus dan sebagainya. Dari angka satu sampai dengan
angka lima tersebut di atas merupakan bantuan luar dari Yoga.

6. Dharana

Yaitu usaha untuk menyatukan pikiran untuk ditujukan ke satu arah yaitu
kepada Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Kalau lima faktor
yang tersebut di atas adalah bantuan luar dari Yoga maka tiga yang
tersebut belakangan yaitu : Dharana, Dhyana, dan Semadhi adalah bantuan
dalam dari Yoga.

7. Dhyana

23
Yaitu usaha untuk menyatukan pikiran yang lebih tinggi tarafnya daripada
Dharana.

8. Samadhi

Penyatuan pikiran pada benda yang diciptakan sehingga pikiran itu bersatu
dengan benda itu. Setelah menjauhkan pikiran-pikiran yang tak benar yaitu
dalam keadaan benar-benar tentang tenteram ia lupa akan badannya tetapi
ingat akan apa yang diciptakannya saja.

Yoga disebut Sa Icwara Samkhya percaya bahwa Tuhan adalah satu-


satunya objek yang termulia dan tertinggi untuk dikonsentrasikan karena
Tuhan Maha Sempurna, Maha Tahu, Maha Adil, Maha Agung, Maha
Pengasih dan lain sebagainya. Argumentasi Yoga tentang adanya Tuhan
adalah sebagai berikut :

1) Ia percaya akan adanya tingkatan di dunia ini oleh karena itu ia


memerlukan suatu tingkatan yang maksimum : misalnya ada sesuatu yang
baik-ada pula yang lebih baik-dan tentu ada pula yang paling baik atau
paling sempurna. Yang paling sempurna yaitu paling maksimum adalah
Tuhan. Karenanya ia adalah disebut : Maha Sempurna, Maha Tahu, Maha
Adil dan sebagainya.

2) Betul ada Purusa dan Prakrti yang diumpamakan sebagai orang buta dan
orang lumpuh. Pertemuan di antara keduanya memerlukan perantara
(penghubung). Penghubung inilah Tuhan.

Yoga mengajarkan bahwa bila telah mencapai alam semadhi dengan


Tuhan sebagai objek, jiwa dapat bersatu dengan-Nya. Pada saat itulah
kebahagiaan tertinggi dapat dicapai bersatu dengan Tuhan, Tujuan dari Yoga.

Filsafat Nyaya (Niaya)

Niaya artinya logika, filsafat Niaya adalah sistem filsafat yang


mengajarkan cara menelaah sesuatu dengan cara berpikir yang kritis, logis,

24
tepat dan masuk akal, diajarkan oleh Rsi Gautama dengan mengemukakan
empat sumber cara berpikir (catur pramana) yaitu :

1) Pratyaksa : praty yang berarti langsung dan ksa berarti pengamatan. Jadi
pratyaksa berarti pengamatan langsung dari panca Indria, yaitu dengan
melihat sendiri sesuatu kejadian, melanggar, mencium langsung dari alat-
alat indria sehingga itu semuanya menjadi pengetahuan yang dapat
dirasakan.

2) Anumana : Pengetahuan yang didapat dengan jalan menarik kesimpulan


dengan melihat sesuatu tanda (lingga) yang selalu berhubungan dengan
objek yang ditarik kesimpulannya (sadhya). Perhubungan antara lingga
dan sandhya disebuy vyapti. Dalam pengertian Anumana ini paling sedikit
harus ada tiga syarat yaitu :

a) Paksa : sesuatu kesimpulan yang kita tarik

b) Sandhya : objek yang ditarik kesimpulannya.

c) Lingga : tanda yang tak dapat dipisahkan dengan bendanya dan


kesimpulannya.

Contoh :

Jauh di sana kelihatan ada asap (merupakan tanda bagi kita bahwa di
sana tentu ada benda yang mengeluarkan asap). Benda yang
mengeluarkan asap tak lain ialah api (sandhya). Dengan melihat itu
maka kita lalu menarik kesimpulan : mungkin ada kebakaran di sana
(paksa).

3) Upamana : pengetahuan yang didapat dengan cara memberi contoh atau


tafsiran.

Contoh : Kepada anak kecil yang belum pernah melihat harimau,


diberitahukan kepadanya bahwa harimau itu seperti kucing, tetapi
badannya lebih besar.

4) Sabda : Pengetahuan yang didapat dari pembuktian orang lain, Misalnya


seorang ahli kimia memberitahukan kepada kita bahwa air itu terdiri dari

25
molekul-molekul hidrogen dan oksigen yaitu dengan persenyawaan H2O.
Kita pun percaya saja meskipun kita sendiri tak pernah membuktikan
kebenarannya.

Keempat pengetahuan tersebut di atas berasal dari kaum Naiyayiiksa.


Menurut Nyaya, objek dari keempat pengetahuan itu berkisar kepada pribadi
kita sendiri, panca indria, buddhi, perasaan (activity), dosa, pratyabhawa
(rebirth), phala, dhuka, apavarga (freddom from suffering).

Nyaya sebagai juga sistem filsafat yang lain-lainnya mencari ”Aku


(Ego) pada badan sendiri dan pada panca indria. Menurut itu bahwa diri
sendiri ”Aku” berbeda dengan ”Sarira” (badan) atau body dan Manas (mind).
Badan hanyalah benda-benda materi, Manas adalah sesuatu yang sukar
diketahui yaitu tak dapat dilihat, bersifat kekal yang dengan kata lain disebut
Anu. Ia adalah alat dari jiwa yang dipakai untuk merasakan bermacam-macam
perasaan sebagai senang, sakit dan lain-lainnya, karena itu ia disebut antara
rasa (interna sense) kebalikannya ialah bahwa rasa (external sense).

Atman merupakan unsur lain yang sangat berbeda dengan Manas dan
jasmaniah (Sarira). Atman itu ada, ia dapat dibuktikan melalui Sarira dan
Manas.

Contoh perbandingan :

Aliran listrik dapat diketahui melalui kawat atau kabel dengan alat tes,
atau dicoba dengan memegangnya. Adanya aliran listrik dapat dirasakan
walaupun tidak dapat dilihat.

Hubungan Atman dengan Brahman

Atman adalah bagian dari Brahman oleh karena itu pada dasarnya
hakikat Atman adalah sama dengan hakikat Brahman (Aham Brahman Asmi
artinya saya (Atman) adalah bagian daripada Brahman). Jiwa (roh) itu suci.
Yang mengalami serbaneka penderitaan, kebahagiaan, kegembiraan
pendeknya suka dan duka itu adalah ditimbulkan oleh Manas melalui panca
indrianya serta derita dan dirasakan oleh sarira (body). Dari manaslah timbul

26
Mithya Jnana yaitu kebodohan terhadap kebenaran, raga, dwasa, dan moha
yang memaksa badan bekerja dengan segala konsekuen. Apawarga berarti
terlepas sama sekali dari kesengsaraan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh
apa yang disebut Tattwa-Jnana.

Adanya Tuhan oleh golongan Naiyayikas dikemukakan dengan


beberapa bukti. Tuhan adalah Maha Pencipta Pemelihara dan Penghancur.
Dalam bentuk Brahma ada sebagai pencipta, dalam bentuk (manifestasi)
Wisnu sebagai pemelihara dan dalam manifestasi Icwara sebagai pelebur.
Tidaklah benar jika dikatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dari sesuatu
yang tidak ada, tetapi adalah evolusi atom-atom yang kekal, yaitu ruang,
waktu, ether dan lain-lainnya. Diadakannya dunia ini agar individual soul
(jiwa) dapat merasakan kesenangan atau kesusahan (penderitaan), sesuai
dengan karmanya ataupun dapat memetik buah perbuatannya di dunia lain.

Waisasika

Filsafat Waisasika ini diajarkan oleh Rsi Kanada yang juga dinamai
Rsi Ulaka. Filsafat ini banyak hubungannya dengan sistem filsafat Niaya dan
mempunyai pandangan yang sama misalnya dalam memberi pendapat tentang
kebesaran jiwa individu (perorangan) atau The Liberation of the individual
selg. Waisasika memberi kupasan ilmiah terhadap semua objek di dunia ini
yang menurut pendapatnya dibagi menjadi tujuh kategori yang merupakan :

1) Substansi (grawya)

2) Perbuatan (karma)

3) Kualitas (guna)

4) Kesatuan (Samanya)

5) Keistimewaan (Wisesa)

6) Hubungan yang tak terpisah (Samawaya)

7) Ketiaaan (Abhana)

27
1) Substansi (graywa)

Sesuatu substansi bersumber pada sifat-sifat dan gaya, tetapi baik sifat
maupun gaya itu berbeda satu sama lain, ada sembilan macam substansi,
yaitu : tanah, air, api, udara, ether (akasa), ruang, waktu, jiwa dan pikiran
(manas). Tanah, air, api, udara, ether disebut Panca Mahabhuta yaitu
mempunyai sifatnya masing-masing seperti : bau, rasa, warna, rabaan dan
suara. Akasa, ruang, dan waktu adalah substansi yang tak dapat dilihat yang
pada hakikatnya masing-masing adalah kekal, tetapi ”mana” adalah juga suatu
substansi yang tak terbatas kecilnya.

Manas itu adalah suatu perasaan yang dalam (internal sence) yang
langsung atau tidak langsung merasakan segala perasaan dan keinginan.
Manas juga adalah suatu yang hanya dapat dirasakan. Jiwa (atman) adalah
kekal, meresap ke dalam substansi yang menjadi lapis segala kesadaran, Jiwa
(atman) itu dapat dirasakan di dalam oleh ”Manas” orang itu sendiri, ini
terbukti bahwa setiap orang dapat merasakan ”senang, susah” dan lain
sebagainya.

Paramatma (Tuhan) menurut kepercayaan kaum Waisasika adalah


pencipta dunia dari atom-atom, yang susunan dan persenyawaan dari atom itu
adalah disebabkan karena kemauan Tuhan yang secara langsung berhubungan
dengan hukum karma dairpada objek yang tercinta daripada atom-atom
tersebut. Demikianlah atom-atom itu bersenyawa menurut kehendak Tuhan
menjadi suatu dunia dengan isinya yang langsung bekerja sesuai dengan
Hukum Karma.

2. Hukum Karma

Berdasarkan atas teori ilmu pengetahuan lebih terkenal dengan hukum


sebab akibat. Ini berarti bahwa apapun yang terjadi di dunia ini mestilah ada
sebab-sebabnya dan tiap-tiap apa yang kita lakukan mestilah pula ada
pengaruhnya. Dalam dunia ini, tidak ada suatu pun yang terjadi tanpa ada

28
sebab-sebabnya. Apabila kita melakukan sesuatu perbuatan, baik dengan
bertujuan menolong maupun bertujuan membuat keonaran, maka perbuatan
tersebut menghasilkan suatu tenaga. Dalam ilmu pengetahuan telah
dibuktikan, bahwa tenaga itu adalah sama dengan benda nyata (material
object) yang tak bisa habis hanya bisa berganti bentuk apabila dipengaruhi
oleh unsur-unsur kimia. Listrik bukan berasal dari dinamo, tetapi berasal dari
tenaga yang ditimbulkan air terjun, umpamanya : dinamo merubah bentuk
tenaga itu.

Teori daya atom menunjukkan bahwa tenaga itu adalah suatu benda
yang nyata, bahwa atom itu dibuat oleh kumpulan-kumpulan tenaga adalah
teori yang telah lama ada sejak zaman dahulu, dan terdapat dalam buku-buku
Hindu Kuno dann Yunani Purba serta rontal di Bali.

Hukum Newton dalam ilmu alam mengatakan bahwa tiap-tiap benda


semuanya ingin mencoba untuk dapat kembali ke tempat asalnya dari mana
gelombang-gelombang akan sampai ke tepi kolam dan kemudian bergerak
kembali hingga sampai di pusat pelemparan itu, lenyaplah alunan gelombang
itu. Apabila mengayunkan sebuah batu yang digantungkan pada seutas tali
maka ia akan kembali ke tempatnya semula dengan kekuatan ayunan yang
sama.

Demikianlah apabila seorang melakukan perbuatan, baik dengan


maksud menolong ataupun untuk membuat onar, maka timbullah suatu tenaga
sesuai dengan teori ilmu tersebut di atas, maka hasil tenaga itu akan kembali
kepada orang itu juga.

Demikianlah hukum karma itu sesuai dengan ilmu pengetahuan dapat


dipecahkan secara ilmiah. Teori atom dari golongan Weisesika yang agak
bersifat teologi menunjukkan suatu yang dapat diterima meskipun berbeda
dengan teori atom lainnya yang bersifat mekanis dan materialistis belaka.

3. Guna (kualitas)

29
Semua substansi yang terjadi dari atom-atom mempunyai sifat (guna)
yang banyaknya adalah dua puluh empat sifat yaitu : warna, rasa, perabaan,
bunyi, bilangan, batasnya (magnitude). Hal yang dapat membedakan
(prthaktwa), pertemuan (samyoga), kerusakan (wibhaga), karena terpencil
(paratwa), berdekatan (aparatwa), kecairan (drawatta), kepekaan (sucha),
pengamatan (buddhi), senang, sakit, keinginan, kesenangan, bercita-cita
(prayatna), kebahagiaan (gurutwa), samsara, dharma dan adharma.

Sebagai juga sifat-sifat tersebut di atas, maka gerak terdapat juga di


dalam tiap-tiap laku. Jadi sesuatu laku adalah sesuatu gerak.

1) Utksewana – gerakan

2) Awaksewana – gerakan turun

3) Akuncana – berkerut yaitu gerakan yang bersifat menjadikan sesuatu itu


lebih pendek.

4) Prasarana – perluasan yaitu gerakan yang menyebabkan menjadi makin


lebar

5) Gamana-gerakan maju.

4. Samanya (kesatuan)

Sifat-sifat dari sesuatu substansi, ditakdirkan oleh alam yang


merupakan sifatnya yang hakiki misalnya : alamnya sapi ditakdirkan oleh
sifatnya yang hakiki yaitu mereka dapat dikumpulkan menjadi satu grup
(kelompok). Meskipun dari sapi-sapi yang berasal dari golongan-golongan
lain. Sifat-sifat sapi yang demikian disebut gotwa dan dapat berkumpul
dengan berbagai golongan sapi menjadi kelompok besar (samanya) adalah
sifatnya yang universal. Kalau sifat ke ”Sapian” itu tidak ditaruh karena
kelahiran ataupun sapi itu belum mati, maka gotva tadi kekal adanya.
Demikianlah sifat-sifat universal dari sapi adalah hal yang biasa yang primer
terhadap individu daripada golongan-golongan sapi manapun juga.

30
5. Wisesa (keistimewaan)

Biasanya kita membedakan dua buah benda yaitu yang satu dengan
yang lainnya dengan melihat bagian keistimewaannya berbeda pada sifat-sifat
yang ada pada kedua benda itu. Tetapi bagaimana kita dapat membedakan
substansi yang kekal yang paling sederhana yang tak dapat dipecah lagi di
dunia ini yaitu sebagai 2 atom tanah. Tentu harus ada sesuatu perbedaan
pokok (wisesa) pada tiap-tiap atom-atom itu namun tidak mungkin dapat
dibedakan satu sama lain tetapi ia adalah atom-atom dari tanah wisesa
(particularity) itu adalah dimaksudkan keistimewaan daripada wujud kesatuan
yang kekal yang membentuk dunia ini.

6. Samavaya (hubungan yang tak terpisahkan)

Sifat perhubungan yang kekal pada keseluruhan di dalam bagian


bagiannya, sesuatu sifat atau sesuatu gerak di dalam substansi, sesuatu
kesatuan (universal) di dalam wujud terkecil yang berbeda-beda.

Contoh : Kain sebagai sesuatu keseluruhan selalu ada karena jalinan-jalinan


benang. Sesuatu sifat sebagai hijau, manis, harum ada di dalam substansi
bersangkutan demikian juga (sifat) kesapian sebagai kesatuan sifat sapi ada di
dalam sapi itu sendiri.

Sifat hubungan yang kekal ini yaitu hubungan antara sesuatu


keseluruhan dengan bagian-bagiannya, di antara kesatuan dengan
individualitasnya dan diantara sifat-sifat atau gerakan-gerakan yang
substansinya terkenal dengan nama Samavaya.

7. Abhawa ketiadaan (non-existence)

Yang dimaksud dengan abhawa yaitu faktor-faktor / hal-hal yang tidak


ada.

Contoh :

Disini tak ada ular

31
Mawar itu bukan merah

Tidak ada bau pada air yang jernih.

Contoh-contoh di atas adalah menunjukkan hal-hal bahwa sesuatu tidak ada.

Yang pertama – tidak ada ular

Yang kedua – tidak ada warna merah dan

Yang ketiga – tidak ada bau

Hal yang semacam ini dimaksudkan dalam golongan abhawa yang terjadi dari
empat :

a. Ragabhawa : Sesuatu benda tidak ada sebelum dibuat. (pot bunga tak akan
ada sebelum dibuat oleh tukang pot).

b. Dhawamsabhava : tidak ada sesuatu benda itu karena dirusakan


(dhawamsa). Pot bunga tidak akan ada lagi sesudah pot itu sendiri
dipecahkan.

c. Atyantabhawa : tidak ada sesuatu benda (sifat sesuatu benda) pada benda-
benda lain, baik dahulu, sekarang, maupun yang akan datang yaitu : attita-
nagata-wartamana yakni tak akan ada warna di dalam udara sejak dahulu
sampai sekarang dan terus sampai masa akan datang.

Ketiga-tiganya yang tersebut di atas dinamai Syamsaryabhawa yaitu


ketidakadaan sesuatu substansi di dalam sesuatu benda atau tempat.

d. Anyonybhawa : tidak terdapat hubungan dua benda yang saling berbeda


misalnya : sebuah ember dengan sepotong kain dan sebaliknya : sebuah
ember bukanlah sepotong kain atau sepotong kain bukanlah sebuah ember.
Antara kedua benda yang tidak ada unsur hubungannya disebut
Anyonybhawa.

Dengan berhakti kepada Tuhan dan membebaskan jiwatman dari


prakerti maka atma akan dapat bersatu dengan sumbernya (Brahman).

32
Mimamsa

Filsafat mimamsa terdiri dari dua bagian filsafat di mana yang satu
berbeda dengan yang lainnya. Yang pertama disebut Purwa mimamsa atau
karma mimasa yaitu menekankan kepada karma. Dengan pendek disebut
mimamsa saja. Yang kedua ialah uttara mimmasa atau jnana mimamsa
menekankan kepada jnana, ya pula disebut Wedanta.

Mimamsa (Purwa Mimamsa) dipelopori oleh Jaimini. Tujuan filsafat


mimasa ini ialah mempertahankan upacara-upacara (ritual) yang diajarkan
oleh Weda. Golongan pengikut mimamsa percaya bahwa weda Maha
Sempurna dan abadi. Karenanya apa yang disebutkan di dalam weda adalah
benar. Apa yang disuruh lakukan oleh Weda itulah Dharma sebaliknya apa
dilarang itulah adharma dan salah.

Melakukan upacara-upacara itu bukanlah karena ingin akan


balasannya tetapi adalah sesuatu yang menjadi kewajiban yang harus
dilaksanakannya menurut ketentuan di dalam weda dan mengetahui akan
tujuan dari upacara-upacara yang diadakan. Mensucikan diri dalam
menghadapi upacara-upacara tersebut, misalnya dengan melepaskan sama
sekali nafsu, kemarahan dan lain-lain yang dapat menodai seluruh upacara
yang diadakan. Jika hal tersebut di atas dapat dipenuhi maka menurut
mimamsa akan dapat mencapai kebebasan (librartion) dari kehidupan ini.
Sebaliknya meskipun upacara dilakukan tetapi dengan maksud-maksud
tertentu misalnya ngaben, secara besar-besaran dengan maksud untuk
diketahui orang bahwa ia sangat kaya dan dengan demikian agar dipuji orang
maka upacara yang demikian tidak mengenal maksud yang sebenarnya, jadi
percuma.

1) Bahwa Jiwa itu abadi dan tidak akan mati meskipun benda – benda itu sudah
hancur

33
2) Percaya akan kebenaran segala benda – benda yang ada di dunia ini diterima
oleh panca indrya

Dengan demikian mereka itu juga berpandangan realistis. Karena pengaruh


pendapat yang realistis ini meskipun mereka percaya akan kekekalan jiwa (atma)
tetapi mereka tak percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan dunia ini.

Mereka berpendapat dan percaya segala yang ada di dunia ini adalah
komposisi dari benda – benda itu saja dengan disesuaikan dengan Karma daripada
tiap – tiap jiwa itu sendiri. Mereka menganggap bahwa Karma adalah sesuatu
moral yang berkuasa untuk menentukan kebebasan tiap – tiap jiwa manusia
daripada kelahiran kembali, karena itu tiap – tiap orang yang melakukan upacara
dengan sasaran yang benar, maka pada jiwanya akan timbul suatu benih yang
akan menumbuhkan karma pada waktu – waktu yang sudah tertentu sehingga
kepadanya akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Dua aliran di dalam mimamsa yaitu yang pertama terdapat dalam prabhakara
yang mengemukakan lima sumber pramanas (panca pramana):

1) Pratyaksa, 2) anumana, 3) upamana, 4) sabda (testimony), dan 5) arthapatti


(postulation). Nomor satu sampai dengan empat sama dengan yang terdapat
didalam fisafat Nyaya didepan tetapi yang kelima yaitu arthapatti adalah
pengetahuan yang didapat dengan menyatakan sesuatu perbandingan.

Contoh: seseorang yang pergi ke hutan lalu melihat “serigala” dan membuktikan
sendiri bahwa serigala seperti anjing. Kemudian orang itu lalu melihat anjing lalu
berkata “serigala” yang saya lihat dahulu seperti anjing ini.

Jalan lainnya didapat dan dikemukakan oleh Kumarila Bhatta terjadi dari
enam pokok, diantaranya lima sama dengan yang tersebut diatas ditambah dengan
yang keenam yaitu anupalabdhi (non cognition), yaitu tak dapat diamati karena
bedanya memang tidak ada. Umpama: di kamar ini tidak ada kipas, ketiadaan
benda yang bernama kipas di kamar itu tidak bisa diamati, inilah yang disebut
anupalabdhi.

34
Fisafat Wedanta

Kata Wedanta berarti akhir daripada Weda. Mula – mula kata Wedanta ini
dimaksudkan upanishad karena upanishad dianggap akhir daripada Weda. Tetapi
kemudian yang dimaksud dengan Wedanta adalah filsafat yang berdasar pada
upanishad. Di dalam sementara upanishad dikatakan bahwa dunia ini diciptakan
oleh Brahman dan dari Brahman. Tetapi dalam upanishad lainnya dunia ini
dinyatakan tiada lain kepalsuan belaka. Perbedaan pendapat ini tentu saja
menimbulkan suatu teka- teki apakah dunia ini benar – benar diciptakan oleh
Tuhan, kalau Tuhan itu benar – benar ada berarti dunia ini pun benar – benar ada,
ataukah dunia ini sesungguhnya tidak ada. Semua pendapat ini dikumpulkan dan
disusun secara sistematis oleh Badarayana dalam bukunya Brahma Sutra. Kitab
ini berusaha menganalisis tentang adanya Brahman dan ditulis dengan bentuk
sutra (kalimat – kalimat pendek) hingga masih memerlukan komentar – komentar
untuk mengartikannya. Dengan sendirinya komentar yang satu tidak sama dengan
komentar yang lain bahkan kadang – kadang bertentangan. Kemudian timbullah
beberapa aliran filsafat Wedanta di antaranya:

1) Adwaita Wedanta: yaitu monisme yang dipelopori oleh Sankara.

2) Wasistha Wedanta: disponsori oleh Ramanuja.

Adwaita Wedanta oleh Sankara

Sankara ragu – ragu akan pernyataan dari upanishad yang menyatakan dunia
ini diciptakan oleh Brahman, akan tetapi tidak percaya akan keanekaragaman di
dunia ini sebagai yang dianjurkan oleh Ramanuja. Kalau dunia ini ada dengan
nyata maka tak mungkin keanekaragaman itu tak ada. Dengan pemikiran ini ia
berusaha menemukan pendapat – pendapat yang bertentangan itu dengan
berdasarkan pada upacara – upacara dalam Sweta Upanishad yang menyatakan
bahwa prakreti daripada dunia ini terletak pada kekuatan maya dari Tuhan. Maya
pada Tuhan tak akan dapat dipisahkan dengan Tuhan sebagaimana halnya tenaga

35
membakarnya api tak dapat dipisahkan dari api itu sendiri. Semua
keanekaragaman di dunia ini dianggap benar ada oleh orang yang bodoh, tetapi
orang yang benar – benar bijaksana yang dapat melihat yang ada di balik ini
semua hanya melihat adanya Brahman. Dengan demikian Brahman dengan
mayanya memperlihatkan segala yang kita lihat ini sesungguhnya mengelabuhi
pengetahuan kita tentang yang sebenarnya tentang Brahman. Pengaruh maya
terhadapa manusia itu ada dua:

1) Membuat kita tertipu mengenai dunia yang kita lihat.

2) Tertipu apa sebenarnya Tuhan itu.

Oleh karena itu pengaruh maya juga disebut awidya.

Pandangan Sankara terhadap penciptaan dunia

Menurut Upanishad bahwa isi dunia ini adalah merupakan evolusi dari
Brahma karena kekuatan maya. Evolusi itu jalannya demikian, dari Brahman
timbul panca tan matra sebagai asal benih alam. Terjadinya suatu benda,
misalnya, akasa adalah merupakan gabungan dari lima unsur panca tan matra tadi.
Misalnya: ½ akasa, 1/8 air, 1/8 api, 1/8 tanah, 1/8 angin.

Sankara setuju dengan evolusi ini tetapi tetap pada jalur teori wiwarta, yaitu teori
perubahan yang berdasar pada pandangan seperti melihat ular seperti tali atau
melihat tali seperti ular. Sedangkan sesungguhnya tali tidak berubah menjadi ular,
ular tidak berubah menjadi tali. Sankara mengajukan argumen, jika Tuhan
menciptakan dunia ini dan menciptakan segalanya dari benda lain tentu harus
diakui bahwa ada sesuatu di samping Tuhan itu sendiri, hingga ciri Tuhan tak
terbatas tidaklah benar. Dan jika Tuhan menciptakan dunia memakai benda lain
yang ada di dalamnya tentu Tuhan itu terbagi – bagi dan karena terbagi – bagi
tentu menandakan ketidakabadiannya, jikalau sesuatu atau bahan tidak dapat
merupakan bagian dari Tuhan, tetapi Tuhan sendiri manjadi dunia ini. Dengan
alasan ini sankara tidak setuju bahwa Tuhan menciptakan dunia ini, tetapi
menyatakan diproyeksikan pada Tuhan (Wiwarta Wada). Seolah – olah dunia ini

36
hanyalah bayangan Tuhan, Tuhan ada dunia ini ada, Tuhan tidak ada dunia ini
tidak ada.

Wasista adwaita

Wasista adwaita dipelopori oleh Ramanuja yang mengikuti teori upanishad


bahwa Tuhan menciptakan dunia ini karena Ia mau menciptakannya. Di dalam
Brahman terdapat dua macam yaitu:

1) Acit ialah bahan yang mati, tidak sadar

2) Cit spirit yang selalu sadar

Acit adalah sumber dari segala benda yang ada di dunia dan oleh karena itu
dinamai mula prakreti. Dan prakreti acit ini tidak diciptakan oleh Tuhan oleh
karena itu tidak bisa mati. Ramanuja menganggap bahwa prakreti adalah juga
bagian dari Tuhan sebagaimana jiwa mengontrol badan ini. Ketika Pralaya (pada
saat belum ada apa – apa) prakreti ini sudah ada pada Tuhan, tetapi tak bisa
dibedakan dengannya, dan kemudian Tuhan menciptakan dunia ini dari prakreti
itu. Karena kemauan Tuhan prakreti yang tidak terpisahkan itu mula – mula
menjadi api, air, tanah yang masing – masing membawa gunanya yaitu satwam
rajas dan tamas. Kemudian ketiga elemen ini bercampur satu dengan lainnya
sesuai dengan kualitasnya, sehingga menimbulkan segala yang ada di dunia
ini.Ramanuja juga menegaskan bahwa penciptaan ini memang benar ada sebagai
kebenaran adanya Tuhan. Upanishad menegaskan bahwa benda – benda di dunia
ini hanya satu, menurut Ramanuja yang dimaksud ialah memang benda itu
banyak, tetapi di masing – masing benda itu ada satu yang sama ialah Brahman,
sebagai halnya berbagai perhiasan ada satu yang tetap sama yaitu emasnya. Maya
menurut Ramanuja ialah kekuatan Tuhan yang maha besar sebagai alat untuk
menciptakan dunia ini. Dan maya dengan Tuhan ini bukanlah dua hal yang
berbeda karena ditegaskan di samping Tuhan tidak ada hal apa – apa lagi. Tetapi
di dalamnya terdapatlah apa yang kita dapati di dunia ini. Jadi di dalam Brahman

37
yang absolut tunggal ini ada terdapat banyak hal. Oleh karena itulah filsafat
Ramanuja ini dinamai qualivaid monisme. Jadi monisme yang mempunyai bagian
– bagian di dalamnya baik Acit ataupun Cit dan bukan dinamai absolut monisme
(tak ada apa – apa, nirguna Brahman). Di dalam filsafat Wedanta ada tiga macam
perbedaan:

1) Wijatiya bheda: perbedaan di luar warga, seperti perbedaan anjing dengan


kuda.

2) Satya bheda: perbedaan dalam satu warga, seperti perbedaan sapi betina
dengan sapi jantan.

3) Swajatiya bheda: perbedaan antara bagian dari satu benda seperti beda kaki
dengan ekor.

Perbedeaan antara Tuhan dengan Cit dan Acit tadi menurut Ramanuja
bukanlah perbedaan wijatiya atau satyabedha karena selain Tuhan tak ada apa –
apa lagi. Perbedaan itu adalah Swajatiya bheda. Di samping itu Ramanuja percaya
bahwa Tuhan mempunyai segala sifat yang bagus atau Saguna Brahman. Cit dan
Acit itu tetap abadi sedangkan Cit dan Acit itu mempunyai tiga kualitas yaitu:

1) Berubah,

2) Tumbuh, dan

3) Mati.

Di saat pralaya dimana benda – benda yang kelihatan ini sirna Brahman
tinggal bersama Cit dan Acit. Keadaan Brahman dalam hal demikian dinamai
Karana Brahman, Tuhan dalam bentuk penyebab, dan dalam hal penciptaan
dinamai Karya Brahman. Jadi konsep Ramanuja tentang Tuhan adalah Theisme
yang berarti Tuhan ada di dunia ini merupakan sesuatu yang mempunyai kemauan
dan yang merupakan sasaran dari tujuan Sembahyang dan dengan menyembah
Tuhanlah kita akan bisa melepaskan diri dari ikatan dunia.

Jiwa dan Moksa

38
Upanishad mengajarkan bahwa Tuhan dan Jiwa itu sama, yang oleh
Ramanuja diartikan bukanlah persamaan yang absolut. Karena ia yakin bahwa
mustahil manusia yang punya kemauan terbatas ini bisa disamakan dengan Tuhan
yang abadi bahkan tanpa batas, jadi yang dimaksud adalah persamaan hakikat
Brahman dengan jiwa (atman). Menurut Ramanuja manusia itu mempunyai:
badan dan jiwa.

Badan ini terdiri dari benda – benda yang merupakan bagian dari Tuhan
hanya tidak kekal, sedang jiwa itu adalah bagian dari Tuhan jadi kekal. Moksa
dapat dicapai dengan jalan kerja dan laksana dan pengetahuan. Yang dimaksud
dengan kerja adalah pelaksanaan semua upacara menurut warna asrama tetapi
pelaksanaan ini hendaknya tanpa pamrih apapun juga. Dengam moksa tidak
berarti jiwa berubah menjadi Brahman, melainkan hanya bersatu dengan-Nya.

39
NASTIKA

4.2.1. Uraian dan Contoh

Kelompok filsafat yang tergolong dalam nastika adalah kelompok filsafat


yang tidak mengakui kesucian Weda. Kelompok ini terdiri dari filsafat Buddha,
Jaina dan Carvaka.

Filsafat Buddha

Pelopor filsafat Buddha adalah Siddharta dari keluarga Gautama, sehingga


biasa juga disebut Siddharta Gautama, putra dari Raja Suddhana dari kerajaan
Kapilavastu. Ibunya bernama Maya, pada usia 29 tahun tatkala anak yang pertama
lahir Siddharta meninggalkan istananya untuk masuk hutan menjadi pertapa.
Pertapa Siddharta pada usia 35 tahun memperoleh kesadaran Agung, ia mencapai
tingkat Buddha, seorang yang telah mendapat penerangan sejati. Sejak saat itu ia
disebut sang Buddha dan mengajarkan ajarannya secara berkeliling dari satu
tempat ke tempat lain. Dalam usia 80 tahun meninggal di kota Kusinara (Utar
Pradesh). Dari rangkaian khotbah – khotbahnya di berbagai tempat dihimpun satu
ajaran yang sekarang di kenal sebagai agama Buddha. Pokok – pokok ajaran
Buddha adalah sebagai berikut:

Empat kesunyian mulia (Chattari Ariya Saccani)

1) Dukkha = penderitaan, ketidakkekalan.

2) Dukkha Samudaya = sumber dari dukkha.

3) Dukkha Nirodha = terhentinya dukkha.

40
4) Magga = jalan menuju terhentinya dukkha.

1) Dukkha (Dukkha – Ariya Sacca)

Hidup manusia pada dasarnya adalah dukkha (penderitaan) yaitu keseluruhan


dari semua kegembiraan, kebahagiaan dan penderitaan yang sifatnya tidak
kekal.

a. Dukkha sebagai derita biasa yaitu semua macam derita dalam


kehidupan seperti: dilahirkan, usia tua, sakit mati, bekerja sama dengan
orang yang tidak disukai, dipisahkan dari orang yang dicintai, tidak
mendapat sesuatu yang dikehendaki, kesedihan, keluh kesah dan lain –
lain.

b. Dukkha sebagai akibat dari perubahan (Wiparinama dukkha). Rasa


bahagia dalam kehidupan bersifat tidak kekal. Cepat atau lambat
kebahagiaan dapat berubah dan perubahan ini menimbulkan kesedihan,
derita dan ketidakbahagiaan. Semua ini tergolong duka akibat perubahan.

c. Dukkah sebagai keadaan yang saling bergantungan (sankhara –


dukkha). Pikiran atau keinginan selalu mempunyai rasa keterikatan pada
sesuatu yang merupakan sebab dan membawa akibat, keterikatan ini juga
menimbulkan dukkha.

2) Dukkha Samudaya (sumber dari dukkha).

Kesunyatan kedua adalah sumber dari dukkha (dukkha samudaya ariya


saceani). Tanha (kehausan) adalah sumber dari dukkha, yang menghasilkan
kelangsungan kembali dan kelahiran kembali (ponobhavika) dan yang terikat
oleh hawa nafsu (nandi raga sohagata) yang disana sini memperoleh
kenikmatan baru yaitu:

a. Kehausan akan kenikmatan hawa nafsu (kama – tanha).

b. Kehausan akan kelangsungan dan kelahiran (bhawa – tanha).

41
c. Kehausan akan tidak kelangsungan (wibhawa tanha).

Kehausan ini keinginan dan keserakahan memperlihatkan diri dalam


berbagai cara dan bentuk merupakan sumber dari beraneka ragam
penderitaan dalam hidup tiap – tiap makhluk.

3) Dukkha Nirodha.

Kesunyatan mulia ketiga adalah tentang pembebasan diri dari pada derita
atau terhentinya dukkha. Untuk menghilangkan dukkha secara total harus
dihilangkan akar dari dukkha yaitu tanha (kehausan, keinginan, hawa nafsu).
Hilangnya penderitaan berarti Nirwana. Nirwana dikenal juga dengan istilah
tanha khaya. Atau juga dikatakan padamnya hawa nafsu (raga khaya)
padamnya kebencian (dosa khaya) dan padamnya kebodohan (maha khaya).

4) Magga (marga).

Kesunyatan mulia keempat ialah jalan yang menuju kepenghentian dukkha.


Dikenal dengan jalan tengah, oleh karena ia menghindari dua hal yang
ekstrim. Hal yang ekstrim pertama ialah mencari kebahagiaan dengan
menuruti nafsu – nafsu indrya, dan ekstrim kedua ialah mencari kebahagiaan
dengan menyiksa diri dalam berbagai cara yang menyakiti. Buddha sendiri
melalui pengalaman – pengalamannya telah menemukan jalan tengah itu
yang menghasilkan pandangan dan pengetahuan yang membawa kepada
ketenangan, pengertian benar dan kesadaran agung. Jalan tengah ini disebut
juga: delapan jalan utama (griya asthangika marga) karena dapat dibagi
dalam delapan bagian yaitu:

a. Samma Ditthi = pengertian benar

b. Samma Sankappa = berpikir yang benar

c. Samma Waca = berkata yang benar

d. Samma Kammanta = berbuat yang benar

42
e. Samma Ajiwa = mata pencaharian yang benar

f. Samma Wayama = daya upaya yang benar

g. Samma Sati = berperhatian yang benar

h. Samma Samdhi = memusatkan pikiran yang benar

Pandangan Buddha Terhadap Manusia

Manusia adalah gabungan nama (bathin) dan rupa (lahir). Nama dan rupa
terdiri atas lima kelompok kegemaran (Pancakhanda):

1) Rupa khanda = kegemaran akan bentuk.

2) Wedana khanda = kegemaran akan perasaan.

3) Sanna khanda = kegemaran akan pencerapan.

4) Sankara khanda = kegemaran akan bentuk – bentuk pikiran.

5) Winanna khanda = kegemaran akan kesadaran.

Gabungan dari lima kelompok kegemaran (panca khanda) selalu berubah –


ubah, tidak kekal, dan tidak bisa sama keadaannya walaupun untuk sekejap saja.
Oleh karena itu manusia adalah tidak kekal, karena roh sendiri adalah tidak kekal
(anatha). Dalam filsafat Budha tidak dibahas tentang Tuhan.

Filsafat Jaina

Aliran ini mempunyai Nabi yang terakhir bernama Mahavira yang hidup
abad-6 sebelum Masehi yaitu sezaman dengan Sidharta Gautama. Mabi I bernama
Babhadewa dan disamping kedua Nabi ini ada guru – guru lain yang berjumlah 22
yang hidup pada zaman prehistory. Arti kata “Jaina” ialah “yang menang” dan
nama guru yang terakhir ialah Mahavira sedangkan nama aslinya Vardhaman.
Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan mendewa – dewakan guru – gurunya

43
sebagai jiwa yang dahulunya terikat dengan usahanya sendiri, kini menjadi bebas.
Walaupun mereka itu Atheis mereka adalah optimis juga karena mereka
mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, bahwa akhirnya mereka bisa sama
dengan guru – gurunya itu bukan hanya merupakan spekulasi tetapi merupakan
harapan yang pasti akan tercapai.

Jaina terjadi dari dua golongan yaitu: pertama Digambara dan kedua
Swethambara. Golongan Digambara sangat fanatik dan mengajarkan bahwa
manusia itu tidak boleh mempunyai apapun juga sehingga golongan ini telanjang
bulat (dig = langit: ambara = udara; pikiran berpakaian udara). Pengikut
Swetambara berpakaian putih – putih, tidaklah begitu fanatik dan mengakui akan
kelemahan – kelemahan manusia. Digambara melarang wanita – wanita mengikuti
sektenya karena mereka percaya bahwa wanita itu tidak bisa dibebaskan sebelum
ia lahir lagi menjadi laki – laki, Swetambara tak setuju dengan teori ini. Yang
menjadi pokok pegangan bagi aliran ini ialah “ahimsa” sehingga bila mereka itu
berjalan atau berbuat apa saja, mereka membersihkan terlebih dahulu tempat –
tempat itu dengan sapu, sehingga jangan sampai mereka membunuh serangga atau
lain – lainnya yang mereka tak sengaja perbuat. Tanda – tanda lain dari kaum
Jaina ini ialah bahwa mulutnya ditutup dengan kain putih dan membawa sapu.
Dalam lapangan filsafat, cara berpikir orang Jaina ini dinamai Syadwada yaitu
bahwa semua itu adalah mungkin, dengan kepercayaannya bahwa apa yang nyata
di dunia ini bisa ditelaah dari bermacam – macam sudut dengan membawa
kebenarannya masing – masing. (Syat = artinya benar). Umpama: ada seekor
gajah, gajah itu jika dilihat hanya kakinya ialah sama dengan “pilar”, maka orang
yang hanya melihat kaki gajah itu mengatakan bahwa gajah itu ialah pilar; hal itu
benar. Jika dilihat dari sudut telinganya, gajah itu seperti kipas, itu pun betul;
semuanya betul dari sudutnya masing – masing. Contoh ini untuk membedakan
Syadwada dengan seepticisme yang ada pada filsafat barat yang menganggap
bahwa tak ada sesuatu yang benar. Berhubung dengan Syadwada ini mereka
mempunyai 7 prinsip dalam cara mereka berpikir:

1) Syatesti: Umpama dalam beberapa hal periuk ada di luar rumah.

44
2) Syatnasti: Dalam beberapa hal periuk tidak ada di luar kamar.

3) Syatesti canas ti ca: Periuk dalam beberapa hal ada di luar dan di dalam
beberapa hal tidak ada di luar.

4) Syatawaktawyam: Dalam beberapa hal periuk itu tak bisa digambar

5) Syatasti avaktavyam ca: Dalam beberapa hal ada di luar kamar dan beberapa
hal tak bisa digambar.

6) Syatnasti ca avaktavyam ca: Dalam beberap hal periuk tidak ada di luar dan
tidak bisa digambar.

7) Syatesti ca nasti ca avaktavyam ca : Dalam beberapa hal periuk itu ada di


luar dan dalam beberapa hal ada di dalam serta tidak bisa digambar.

Ajaran Syadvada ini dibandingkan dengan filsafat Barat yaitu


“Pragmatisme”. Umpama: Shiller menganggap bahwa tanggapan itu tak benar,
pun benar (tidak benar) tanpa hubungannya yang tertentu dan maksudnya yang
tertentu pula. Selanjutnya dia mengatakan bahwa kebenaran yang sudah lumrah
umpamanya segi empat itu bukan lingkaran, atau 2 x 2 = 4. Ini benar dalam hal
dan hubungannya dengan sesuatu tertentu. Memang ada persamaan antara Jaina
dan Pragmatisme ala Shiller ini. Tetapi bedanya Jaina adalah realis, sedangkan
Pragmatis adalah idealis. Karena Jaina menganggap bahwa tanggapan yang
berbeda – beda terhadap sesuatu hal, dilihat dari keadaan sebenarnya daripada
benda itu, sedangkan shiller membeda – bedakan tanggapannya berdasarkan
pemikiran yang subjektif tentang benda itu.

Kesimpulannya ialah bahwa:

Jaina = pragmatis realitas.

Shiller = pragmatis idealitas.

Yang terpenting dalam ajaran Jaina ialah Ethica-nya sedangkan yang lain
– lainnya adalah sebagai jalan, untuk melakukan perbuatan – perbuatan yang baik
dan benar yang merupakan juga jalan untuk mencapai “moksha”. Moksha dalam
filsafat India (Hindu) ialah penuntutan dari seseorang untuk tidak lahir kembali ke

45
dunia, karena lahir ke dunia adalah menderita. Menurut Jaina, yang lahir serta
menderita ialah “Jiwa yang sebenarnya Jiwa ini adalah maha sempurna, maha
tahu, suksma dan sempurna. Karena “kelahiran” maka jiwa itu dengan sendirinya
mengadakan hubungan dengan kebendaan yang selanjutnya melakukan “karma”
sehingga semua ini menyebabkan jiwa yang maha sempurna itu diselubunginya
sebagaimana halnya matahari diselubungi oleh mendung. Diselubunginya jiwa itu
oleh benda karena ditarik oleh nafsu, keinginan dan keinginan ini ditentukan oleh
karma dari orang tua yang kita warisi. Lahirnya manusia ke dunia ini pada
keluarga tertentu, sifat tertentu dan keadaan badan tertentu, semuanya disebabkan
oleh karma yang kita warisi.

Jaina mengakui adanya banyak karma umpamanya:

Bhuta Karma: karma yang menentukan di keluarga mana kita dilahirkan. Ayu
Karma: karma yang menentukan panjang/ pendek umur seseorang. Ada pula
karma yang meliputi pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang disebut Jnana
Warania Karma. Darsana Warania Karma adalah karma yang meliputi
kepercayaan seseorang. Warania berasal dari urut kata (wr) artinya yang meliputi.
Wara artinya memiliki, dan warna = kasta pilihan. Nafsu yang menyebabkan
terikatnya jiwa pada keduniawian ialah: kroda (kemarahan); moha
(kesombongan); maya (kepalsuan); dan lobha (tamak atau serakah). Menurut
Jaina kita bisa mencapai moksha setelah kita bisa memutuskan diri dari nafsu –
nafsu keduniawian yang ditimbulkan oleh kebodohan, baik tentang sesuatu yang
bersifat harta benda maupun yang lain – lainnya. Kebodohan ini bisa dihapuskan
dengan pengetahuan yang sejati dan menurut Jaina pengetahuan itu dapat diterima
dari ajaran – ajaran dari tirthankara (guru – guru yang sudah mencapai moksha).
Tetapi untuk meresapkan ajaran – ajaran ini haruslah kita mencapai serta
mempunyai kepercayaan akan kebenaran ajaran – ajaran itu. Selanjutnya
pengetahuan itu tidak akan ada gunanya jika salah pelaksanaannya dan oleh
karena itu kita harus mempunyai laksana yang baik dan benar. Dan kepercayaan
yang baik itu akan timbul karena kita sudah tahu apa yang kita percayai (bukan
sembarang percaya saja).

46
Dalam perbuatan harus melakukan Panca Maha Vrata (5 janji besar) yaitu:

a. 1) ahimsa, 2) satya, 3) asteya, 4) brahmacari, dan 5) aparigraha (tidak


menuruti kemauan, 5) indrianya.

b. Dalam berbicara hendaklah diusahakan, jangan sampai menyakiti hati orang,


baik sengaja maupun tidak.

c. Dalam perbuatan haruslah ditunjukkan rasa kasih sayang kepada sesama


makhluk.

d. Melakukan pengekangan dalam pikiran, berbicara dan gerak.

e. Meditasi. Jaina sebagaimana juga Buddha mengajarkan orang ber-Meditasi


untuk mendapatkan pengalaman – pengalaman sendiri dalam hal kebatinan.
Jaina mengajarkan suatu agama yang tidak percaya akan Tuhan (Atheis).

Adapun dasar – dasar dari keatheisan Jaina ialah bahwa ia tidak percaya
dunia ini ciptaan dari Tuhan, karena untuk menciptakan sesuatu Tuhan harus
mempunyai alat beserta bahan ciptaannya. Tetapi kita belum pernah melihat
Tuhan mempergunakan alatnya dan bahannya menciptakan dunia. Jaina juga tidak
percaya jika kita berikan atributes bahwa Tuhan itu maha sempurna. Jika
demikian tentu yang dihasilkan dunia ini adalah buatan Tuhan; tetapi nyatanya
tidak. Periuk umpamanya, dihasilkan oleh tukang periuk, sedangkan sakit bukan
buatan Tuhan tetapi disebabkan karena penyakit. Karenanya kita harus percaya
pada orang yang terlepas dari hukum karma.

Filsafat Aliran Carwaka

Fisafat India aliran Carwaka ini digolongkan dalam aliran materialisme,


karena mereka ini menganggap bahwa hanya apa yang bisa dilihat hanya itulah
merupakan sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya. Mereka
menyatakan bahwa semua apa yang tidak bisa dilihat atau apa yang di dapat
hanya dengan mendengar/ perbandingan saja adalah sumber pengetahuan yang

47
sering menyesatkan. Oleh karena itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Mereka
hanya percaya kepada apa yang dilihat pada waktu dan tempat itu juga.
Menurutnya pendapatnya, material yang dilihat itu terdiri dari Catur Maha Bhuta
(4 unsur alam) yaitu: hawa, api, air, tanah. Aliran filsafat lain menganggap dunia
ini terjadi dari Panca Maha Bhuta yaitu: hawa, api, air, tanah dan ether. Tetapi
karena Carwaka tidak percaya akan apa yang tidak dilihat dan dirasa sendiri dan
ternyata bahwa ether itu tidak bisa dillihat dan dirasakan maka mereka
meniadakan unsur ether itu. Dengan pemikiran demikian sudah sewajarnya
mereka tidak percaya akan adanya roh/ jiwa, karena mereka tak melihat dan
merasakan adanya roh/ jiwa. Jika seseorang menyatakan “saya gemuk” atau “saya
berani” semuanya ini bertalian dengan badan yang terbuat dan terjadi dari
material. Ketika ada pertanyaan mungkinkah kumpulan dari benda – benda materi
itu menjelmakan sesuatu yang hidup? Mereka menjawab bahwa itu mungkin.
Buktinya: kalau kita makan sirih, kapur, gambir, pinang semuanya dipersatukan
(dikunyah) maka akan menimbulkan warna merah, sedangkan sebelumnya
tidaklah demikian. Berhubung adanya kemungkinan demikian, bukanlah sesuatu
kemustahilan jika persenyawaan diantara benda – benda mati memungkinkan
akan menimbulkan sesuatu benda hidup. Karena ketidakpercayaan mereka akan
adanya roh/ jiwa maka sudah sewajarnya mereka tidak percaya akan adanya
kehidupan di dunia baka. Dan oleh karena itu pula mereka tidak berusaha untuk
hidup secara baik, bertuha dan bermoral tinggi, karena mereka tidak percaya akan
adanya phala (hukuman) setelah mereka mati.

Etika orang Carwaka

Beberapa aliran filsafat India umpama Mimamsa, percaya bahwa tujuan


tertinggi dari manusia adalah mencapai sorga yaitu tempat yang serba sukha yang
bisa dicapai dengan Upacara menurut ajaran Weda. Tetapi orang Carwaka
menolak teori ini karena Mimamsa itu tidak bisa membuktikan adanya hidup
sesudah mati. Surga dan Neraka itu hanyalah buatan para Pendeta untuk memaksa

48
agar rakyat melakukan upacara – upacara. Pendapat Mimamsa itu tidak diakui
kebenarannya oleh aliran – aliran filsafat lainnya; karena mereka percaya bahwa
tujuan hidup tertinggi adalah Moksa yaitu mendapat tempat dimana semua
penderitaan – penderitaan menjadi sirna (hilang). Tetapi golongan Carwaka
menentang pendapat ini; karena Moksa berarti terlepasnya jiwa dari belenggu
lingkaran lahir mati (incarnasi). Sedangkan Carwaka tidak percaya akan adanya
jiwa itu sendiri. Sehingga tidak percaya juga akan adanya Moksa. Surga dan
Neraka itu dicapai semasa hidup sekarang ini. Orang – orang Carwaka itu percaya
bahwa badan manusia itu sudah terikat oleh perasaan senang ataupun sedih, tidak
bisa dilepaskan tidak bisa dilepaskan lagi yang mengakibatkan bertemunya
dengan Surga atau Neraka. Yang dapat diusahakan oleh manusia yaitu
mempersedikit perasaan sedih/ sakit, karena menghabiskan sama sekali sedih/
sakit sama dengan kematian. Mereka yang mengatakan bahwa Moksa itu bisa
dicapai semasih hidup dengan jalan mematikan (menghabiskan) perasaan senang
itu adalah manusia tolol. Carwaka percaya bahwa sedih dan senang itu tiada dapat
dipisahkan. Tetapi adalah ketololan belaka bila kita membuang semua itu karena
takut akan kesedihan. Mereka percaya bahwa hidup mereka adalah untuk hari ini
belaka. Maka dengan demikian mereka mencemoohkan orang yang mau dengan
harapan untuk mendapatkan kebahagiaan untuk hari depan. Mereka menyatakan
lebih baik menjadi burung kecil sekarang daripada menjadi burung merak besok
(itupun kalau ada penjelmaan hari esok). Menurut tanggapan Carwaka, tujuan
hidup utama/ tujuan tertinggi dari hidup kita ini ialah: Kesenangan.

Oleh karena itu, pendapat Carwaka ini di dunia barat dinamai Hedonisme
(teori bahwa kesenangan adalah tujuan hidup tertinggi). Hal ini dengan sendirinya
bertentangan dengan ideal hidup filsafat lainnya di India, yang percaya bahwa
tujuan hidup manusia ada 4 macam:

1) Artha (membutuhkan harta kekayaan).

2) Kama (memenuhi keinginan – keinginan).

3) Dharma (melakukan tugas kebajikan).

4) Moksha (mencapai kebahagiaan yang kekal).

49
Menurut ini tujuan hidup kaum Carwaka hanyalah Kama belaka
sedangkan artha hanya merupakan suatu alat untuk kama atau kekayaan hanyalah
alat untuk mencapai kesenangan. Golongan kaum Carwaka ini ada dua yaitu:

1) Durta artinya licik/ tak terpelajar.

2) Suchiksita artinya terpelajar.

Di dalam filsafat barat yang pertama dinamai Crude Hedonist dan yang
kedua dinamai Cultured Hedonist. Kedua – duanya menganggap bahwa
kesenangan memang menjadi tujuan hidup, tetapi pengikut – pengikut Suchiksita,
Carwaka mencapai kesenangan itu dengan mempelajari kesenian – kesenian dan
lain – lain sebagainya yang 64 macam cabangnya, salah seorang pengikut
Suchiksita Carwaka ini ialah Vatsyayana yang mengarang “Kama Sutra”, yaitu
ilmu percintaan, yang mengajarkan di samping rasa dan tingkah laku cinta juga
filsafat cinta.

Berbeda dengan Dhurta Carwaka yang menganggap bahwa Artha dan


Dharma itu semata – mata untuk Kama. Vatsyayana mengajarkan bahwa ketiga
tiganya itu harus berkembang dengan harmonis. Ia mengganggap bahwa
kesenangan manusia tanpa seni adalah kesenangan ala binatang. Vatsyayana
hidup dalam abad – 1 Masehi dan “Kama Sutra” – nya ialah kumpulan dari buku
– buku dan tulisan – tulisan dari masa sebelumnya.

50