Anda di halaman 1dari 18

Etika dan Moral Ilmu Pengetahuan?

Sukron Abdilah
| 5 November 2009 | 17:23
704
0
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik.
Ilmu dalam perspektif Aristoteles tak mengabdi pada pihak lain. Ilmu digeluti umat manusia
demi ilmu itu sendiri. Dikenallah ucapan, primun vivere, deinde philoshopori berjuanglah
terlebih dahulu, baru boleh berfilsafat. Ilmu hadir untuk kepentingan umat manusia. Sehingga
dengan tesis inilah, sebuah ilmu memiliki dasar tujuan. Etika dan moral adalah sebuah nilai.
Muncul persoalan problematis, ketika nilai mengerangkeng ilmu pengetahuan, apakah ilmu
akan mengalami perkembangan?
Pertanyaan tersebut, tentunya memiliki ragam jawaban. Tergantung apa yang dijadikan
sebagai landasan berpikir seseorang. Bagi kaum materialistik-rasional-dan empirisme murni,
ilmu mesti bebas dari berbagai nilai. Dari moralitas dan etika yang mengerangkeng. Jean Paul
Sartre, menyebut nilai sebagai penjara bagi kaum berpikir atau seorang ilmuwan.
Akan tetapi, bagi kalangan agamwan atau kaum spiritualis dan humanis, mereka lebih
mengedepankan azas kemanfaatan. Dalam khazanah filsafat dikenal dengan moral atau aliran
utilitiarisme (mementingkan banyak orang). Dengan landasan berpikir seperti inilah, peran
etika dan moral sangat kental sekali sehingga selalu mempertanyakan hasil produksi ilmu
pengetahuan bagi umat manusia. Secara sosiologis mungkin kita mengenal madzhab
fungsionalisme. Mereka mempertanyakan segala produk manusia, apakah bermanfaat bagi
kehidupan manusia ataukah tidak.
Filosof beragama biasanya, menempatkan kebenaran berpikir manusia berada di bawah
kebenaran transenden. Sebagai sebuah produsen moralitas dan etika, tak bisa disangkal
bahwa doktrin agama akan mengarahkan seseorang untuk merefleksikan penemuan atau
penciptaan sebuah ilmu. Euthanasia, aborsi, kloning dan penerbangan ke bulan atau produksi
tenaga nuklir merupakan beberapa contoh hasil perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk
menciptakan tatanan manusia yang lebih baik dan beradab, ketidakmanusiaan merupakan
pelanggaran terhadap etika seorang ilmuwan. Profesi dokter di Indonesia misalnya, terbatasi
oleh etika-aturan yang terakumulasi dalam etika profesi dokter. Tidak dibenarkan, misalnya,
seorang dokter yang sedang melakukan penelitian virus HN51 menyebarkannya ke
lingkungan masyarakat sekitar untuk mencari obat penawarnya.
Moralitas dalam filsafat ilmu, merupakan wasit yang berfungsi sebagai pembentuk sikap
hidup sang ilmuwan. Ini berguna bagi pembangunan hubungan yang harmonis antara dirinya
dengan orang lain.

ETIKA DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

A. Pendahuluan
Segala puji bagi allah SWT yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum
diketahui. Shalawat dan salam kepada Rasul pembawa rahmat bagi sekalian alam; Tidaklah
kamu memperhatikan bahwa Allah memudahkan untuk kamu apa yang di langit dan apa
yang di bumi dan menyempurnakan nimat-Nya atas kamu, baik yang lahir maupun yang
bathin. Dan di antara manusia ada yang membantah Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan
tanpa kitab yang terang kebenarannya. Alquran surah Luqman ayat 20: Barangsiapa
menginginkan dunia dia harus berilmu, barangsiapa menginginkan akhirat dia harus
berilmu dan barangsiapa menginginkan keduanya maka dia harus berilmu. Hal senada juga
pernah diucapkan oleh Imam Syafii ra., dalam kata-kata hikmah dan nasehat-nasehat beliau:
Siapa senang kepada dunia maka hendaklah ia mencari ilmu dan barangsiapa berkehendak
kepada akhirat juga hendaklah mencari ilmu. Karena menuntut ilmu lebih baik daripada
shalat sunnat dan barangsiapa menuntut ilmu hendaklah ia mendalaminya, tanpanya
kehalusan ilmu akan hilang serta manusia yang paling tinggi derajatnya ialah mereka yang
tidak melihat derajatnya. Begitu juga semulia-mulia manusia ialah mereka yang tidak
melihat kemuliannya. Dan sabda Nabi SAW: Sebaik-baik manusia diantara kalian ialah yang
paling baik etika atau akhlaknya.
Manusia dalam pencarian mereka terhadap alam semesta dalam berbagai sisinya
memperoleh penemuan-penemuan baru yang ketika diolah secara sistematis melalui
penyelidikan-penyelidikan dan pengujuian-pengujian lantas menjadi apa yang disebut dengan
ilmu pengetahuan. Beragamnya lapangan penggalian dan penyelidikan membuahkan
beragamnya lapangan ilmu pengetahuan yang dirumuskan yang dikira oleh manusia akan
memberikan keuntungan dan kemudahan bagi hidup mereka, namun dalam kenyataannya
juga menimbulkan akibat-akibat yang justru merusak dan meyusahkan mereka. Oleh karena
itu, diperlukan moral/etika dalam penggalian, perumusan dan pengembangan serta

pemanfaatan ilmu agar ilmu menjadi sesuatu yang memberikan kemudahan, ketentraman dan
kebahagiaan bagi manusia. Berkaitan dengan hal di atas, dalam makalah ini dikemukakan
tentang pengertian etika, standar buruk baik dan etika dalam pengembangan ilmu.

B. Pengertian Etika
Dalam mendefinisikan etika ini para ahli mengemukakan beberapa pendapat
diantaranya:
Ethics is the branch of philosophy in which men attemp to evaluate and decide upon
particular courses of moral actions or general theories of conduct. The term ethies or
ethic from thr Greek Ethios (moral) and Ethos (character), also refers to the values of
rules of conduct held by agroup or individual, as for examplein the phrase Cristian Ethies
or Unithical Behavior.
Etika adalah studi tentang tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan
kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan seluruh
tingkah laku manusia.
Etika adalah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilainilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia tetapi tentang idenya.
Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh dapat diketahui oleh akal pikiran.
Objek material etika adalah tingkah laku manusia dan objek formalnya adalah
buruk atau baiknya perbuatan mereka atau bermoral dan tidak bermoralnya tingkah laku
manusia.
Jika objek material dan objek formalnya adalah seperti di atas, maka di dalam Islam
dapat disebut dengan akhlak yang ukurannya telah ditetapkan Allah yang menciptakan semua
makhluk, Yang Maha Mengetahui, yang Dia informasikan kepada para Nabi dan Rasul

melalui Malaikat Jibril hingga kepada Rasul Muhammad SAW. Di dalam sebuah hadits
dinyatakan:







, yang artinya: Aku hanya diutus

untuk menyempurnakan Akhlak. Siti Aisyah isteri Rasulullah ditanya tantang akhlak
Rasulullah, ia menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran

. Pertanyaan ini berkaitan dengan Alquran surah 68 ayat 4:



()



Artinya: Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. AlQalam: 4)
Di dalam agama Islam standar akhlak diterangkan dengan sempurna pada semua hal
yang menyangkut kepentingan untuk menjaga dan memelihara kebahagiaan manusia dalam
menunaikan tugas mereka sebagai khalifah di bumi yang berdiri tegak di atas kata adil, yaitu
meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan ihsan lawan fahsya, munkar dan melampaui
batas yang juga disebut zhalim, tabdziir dan israf. Dalam Alquran surah an-Nahal ayat 90
Allah SWT menjelaskan:


()








Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan,
memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu
dapat mengambil pelajaran. (Q.S. An-Nahal: 90)

Kata al-adl dalam segala bentuknya disebut sebanyak 26 kali, merupakan penekanan
yang sangat tegas bahwa tanpa adil maka apapun yang dilakukan manusia pasti akan
mendatangkan bencana termasuk dalam pengembangan ilmu.

















()




Artinya:

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun
dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).
makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir
miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-Anam: 141)

Ini tentang Israf (berlebih-lebihan), sesuatu yang berlebih-lebihan atau melampaui


batas maka akan menimbulkan bencana. Tentang israf ini disebutkan dalam segala aspeknya
sebanyak 22 kali


( )











()










Artinya: Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan
makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu
sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk
orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu
dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu!
sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat
kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (Q.S. AlBaqarah: 35-36)

Zhalim, melangggar ketentuan Allah menyebabkan Adam dan Hawa dipindahkan


kepemukaan bumi, ini juga berarti zhalim mengakibatkan penderitaan dan bencana yang
sangat mengerikan. Allah menyebutkan dalam Alquran tentang zhalim dengan segala bentuk
dan kaitan pemahamannya sebanyak 321 kali, lebih dari 4% dari keseluruhan ayat Alquran
yang berjumlah 6236 ayat.
Inilah di antara batsan-batasan etika/moral/akhlak dalam alquran, belum lagi dalam
Hadits Nabi Muhammad SAW, jelas gamblang dan pasti, datang dari Rabbul Alamin yang
Maha Mengetahui. Dari hadits dan ayat-ayat di atas, dapat dikemukakan bahwa akhlak dalam
Islam adalah: Ketentuan dari Allah dan rasul-Nya tentang ukuran buruk dan baiknya tingkah
laku atau perbuatan manusia.

Apapun ukuran etika/moral yang datang dari selain Allah, pada hakekatnya hanyalah
hasil akal pikiran dan hawa nafsu dengan interaksinya dengan alam yang dapat diindra baik
secara langsung maupun secara tidak langsung melalui apa yang disebut ilmu. Berikut akan
dikemukakan hal ini lebih jauh, berkenaan dengan ukuran baik dan buruk.

C. Beberapa Pendapat Tentang Ukuran Buruk dan Baik di dalam Aliran Filsafat

Di dalam aliran filsafat terdapat beberapa pendapat mengenai ukuran buruk dan
baiknya perbuatan manusia, diantaranya:
1. Pendapat Aliran Hedonisme
Menurut penganut aliran ini perbuatan manusia dikatakan baik jika mendatangkan
kenikmatan, kebahagiaan dan kelezatan. Tidak perduli, yang penting nikmat,
walaupun sesudah itu mengakibatkan penderitaan. Sebaliknya semua perbuatan
manusia itu dipandang buruk jika mengakibatkan penderitaan walaupun dibalik
penderitaan itu sesungguhnya ada kebahagiaan.

2. Pendapat Aliran Vitalisme


Aliran ini berpendapat bahwa orang yang baik atau perbuatan yang baik ialah orang
atau perbuatan yang mencerminkan kekuatan dan orang atau perbuatan yang tidak
baik ialah yang mencerminkan kelemahan.
Paham aliran ini melahirkan penjajahan, feodalisme dan tirani, sebagaimana dapat
disaksikan dalam pentas sejarah dimulai dari penjajahan Inggris, kemudian Belanda,
Portugis dan negara-negara yang kuat hingga pecahnya perang dunia kedua yang

kemudian masih dilanjutkan dengan bentuk penjajahan ideologis, ekonomi dan lainlain.
3. Aliran Utilitarisme
Aliran ini berpendapat bahwa benar suatu tindakan tergantung dengan manfaat
akibatnya. Sifat utalitarisme adalah universal, artinya yang menjadi norma-norma
moral bukanlah akibat-akibat baik bagi dirinya sendiri saja, melainkan juga bagi
seluruh manusia. Pengorbanan pribadi untuk kepentingan orang lain adalah tindakan
yang tertinggi nilainya.
4. Aliran Sosialisme atau Adat Kebiasaan
Menurut aliran ini, buruk dan baik adalah tergantung dengan pandangan masyarakat
yang telah terlembaga dalam adat mereka. Apa yang baik menurut pandangan
masyarakat maka itulah yang baik dan apa yang buruk menurut mereka maka itulah
yang buruk. Pendapat aliran ini condong hanya bersifat lokal.
5. Aliran Humanisme
Menurut aliran ini perbuatan yang baik ialah perbuatan yang sesuai dengan kodrat
manusia itu sendiri, dalam arti bahwa seluruh faktor yang melingkupi mereka ikut
berperan menjadi alat ukur, seperti pikiran, perasaan dan situasi lingkungannya.
6. Aliran Religiosisme
Aliran ini berpendapat bahwa perbuatan yang baik ialah apa yang sesuai dengan
kehendak Tuhan dan perbuatan yang tidak baik ialah apa yang tidak sesuai dengan
kehendak Tuhan. Maka tugas para agamawanlah untuk merumuskan apa yang
menjadi kehendak Tuhan itu.
Jika rumusan-rumusan itu ditentukan oleh para agamawan, maka atas nama Tuhan
sesungguhnya yang terjadi bukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, tetapi lebih condong
adalah apa yang dikehendaki oleh orang-orang yang mengatas namakan Tuhan, kenyataan
inilah yang terjadi pada semua rumusan-rumusan yang mengatas namakan agama, kecuali
agama Islam.


()

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan
selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam,
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan. (Q.S. Al-Taubah: 31)

Selain pendapat-pendapat aliran di atas, ada lagi beberapa teori moral yang lain seperti
yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yang mengatakan bahwa manusia berkewajiban
melaksanakan moral imperatif, sehingga manusia bertinfak baik tanpa ada pemaksaan dari
pihak lain, melainkan sadar bahwa tindakan tidak baik orang lain akan merugikan diri kita
sendiri. Teori Etika Hak Asasi Manusia, yang dikemukakan oleh Jhon Lock (1632-1704).
Dilihat dari rekayasa teori moral ini lebih mengaksentuasikan hak setiap orang, terutama hak
publik sebagai konsumen produk rekayasa. Jhon Wals dengan theory of justice-nya
mensinthesiskan dua teori yang di atas.
Dua teori keadilan menurut Rawls, yaitu pertama bahwa setiap orang memiliki
persamaan hak atas kebebasan yang sangat luas sehingga kompatibel dengan orang lain,
kedua bahwa ketidaksamaan sosial dan ekonomi ditata sedemikian sehingga keduanya, a)
bermanfaat bagi setiap orang sesuai dengan harapan yang patut dan b) memberi peluang yang
sama bagi semua untuk segala posisi dan jabatan.
Teori keutamaan dan jalan tengah yang baik. Aristoteles mengetengahkan tentang
tendensi (defisiensi). Keberanian merupakan jalan tengah antara nekad dan pengecut,
kejujuran merupakan jalan tengah antara membukakan segala yang menghancurkan dengan
menyembunyikan segala sesuatu. Dilihat dari sisi rekayasawan teori moral ini sangat realitik.
Artinya akan terus terjadi konflik kepentingan antara produsen dan konsumen, antara strata
tertentu dengan strata yang lain, antara hak dan kewajiban profesional dengan hak kewajiban
publik, mungkin juga kelompok, sehingga perlu dicari jalan tengah yang baik.

D. Etika Dalam Pengembangan Ilmu

Ilmu sangat bermanfaat, tetapi juga bisa menimbulkan bencana bagi manusia dan alam
semesta tergantung dengan orang-orang yang menggunakannya. Karena itu ilmu sebagai
masyarakat, karena ilmu didukung dan dikembangkan oleh masyarakat yang mematuhi
kaedah-kaedah tertentu. Untuk itu perlu ada etika, ukuran-ukuran yang diyakini oleh para
ilmuwan yang dapat menjadikan pengembangan ilmu dan aplikasinya bagi kehidupan
manusia tidak menimbulkan dampak negatif.
Tentang masalah etika dalam pengembangan ilmu Noeng Muhadjir membagi kepada
empat klaster, yaitu: 1) Temuan basic research, 2) Rekayasa teknologi, 3) Dampak sosial
rekayasa, dan 4) Rekayasa sosial.
Etika merupakan acuan moral bagi pengembangan ilmu. Tampilnya dapat berupa:
visi, misi, keputusan, pedoman prilaku dan kebijakan moral dalam pengembangan ilmu.

Penjelasan :
1. Temuan Basic Research dan Masalah Etika
Dunia ilmu telah menemukan DNA sebagai konstitusi genetik makhluk hidup.
Ditemukan DNA unggul dan DNA cacat. Ketika mengembangkan DNA jati unggul untuk
memperluas, mempercepat dan meningkatkan kualitas reboisasi kita, tidak jadi masalah. Juga
ketika kloning domba kita berhasil dan tergambarkan bagaimana domba masa depan akan
lebih dapat memberikan protein hewani kepada manusia yang semakin bertambah dengan
pesat, juga tidak menimbulkan masalah. Tetapi ketika masuk ranah manusia, apakah manusia
unggul perlu dikloning dan pakah manusia yang memiliki DNA cacat tidak diberi hak untuk
memiliki keturunan, menimbulkan masalah HAM. Di Amerika Latin ditemukan DNA
keluarga cacat secara turun temurun, ditemukan pada keluarga tersebut tidak ada bulubulunya, berbeda dengan DNA yang pada umumnya berbulu. Di suatu lokasi di Indonesia
ditemukan penduduk desa tersebut seluruhnya mengalami mental retarded. Apakah tidak
dapat diadakan upaya.
Telah ditemukan tiga partikel radio aktif, yaitu sinar alpha, sinar beta dan sinar gamma
dan sejenisnya yang dikenal dengan sinar x, sangat berguna bagi dunia kedokteran, sinar beta
yang dikenal dengan sinar laser sangat berguna bagi dunia konstruksi, sinar alpha merupakan

radio aktif dan partikel alpha dikenal sebagai atom helium dan atom hydrogen. Temuan tiga
basic research itu sangat berguna bagi manusia, tetapi juga sekaligus direkayasa untuk tujuan
perang, mendeteksi musuh dalam gelap, untuk membuat senjata laser dan bom atom, sangat
menyedihkan jika dihadapkan untuk tujuan perang.
Penisilin yang ditemukan secara kebetulan oleh Alexander Fleming dalam wujud
jamur dapat dikembangkan menjadi adonan roti dan dapat dikembangkan menjadi bakteri
antibiotiok bagi banyak penyakit infeksi, sampai sekarang masih banyak digunakan orang.
Temuan tersebut disyukuri banyak orang karena karena banyak sekali gunanya untuk
menyembuhkan keracunan darah, penumonia meningitis, dan berbagai infeksi. Eksesnya baru
diketahui akhir-akhir ini masalahnya sejauhmana etika diterapkan pada penemuan tersebut.
Temuan DNA, atom dan penisilin sebagai temuan basic research memang benar-benar
hebat. Pengembangan DNA untuk teknlogi genetik berprosfek bagus, sekaligus membuka
masalah pengembangan temuan atom untuk pengembangan teknologi energi dan teknologi
medis sangat menjanjikan bagi manusia, tetapi sekaligus menimbulkan masalah dalam
penggunaannya dan juga terhadap eksesnya. Penggunaan penisilin sebagai obat antibiotik
yang mujarab patut dipujikan mengingat besar jumlah orang yang meninggal karena infeksi.
Tetapi ekses menjadi minimum terhadap sejumlah obat siapa yang mesti bertanggung jawab.
Apakah lebih terkait pada tanggung jawab professional dokter atau pemahaman pasien
terhadap resiko.
2. Temuan Rekayasa Teknologi dan Masalah Etik
Thalidomide suatu temuan obat tidur yang dianggap aman yang telah diujikan kepada
binatang dan manusia. Kemudian para ilmuan menemukan bahwa obat itu berbahaya jika
dikonsumsi oleh ibu hamil memasuki bulan kedua karena akan mengakibatkan anaknya
cacat, ekses obat ini menyangkut masa depan anak yang selamanya cacat fisik dan
mengerikan.
Kapal Tetanik (1912) dicanangkan sebagai kapal pesiar terbesar dan termewah dan
diyakini tidak akan mungkin tenggelam, tetapi kenyataannya tenggelam dari jumlah
penumpang 2.227 orang hanya 705 orang yang selamat, siapa yang bertanggung jawab ?
3. Dampak Sosial Pengembangan Teknologi dan Masalah Etik

Dampak pengembangan teknologi dapat dipilah menjadi dua, yaitu dampak pada
kualitas hidup individu dan dampak pada kualitas hidup sosial menyeluruh. Dengan
ditemukanya energi partikel alpha yang radio aktif dalam konstruksi pemikiran destruktif
telah dipergunakan untuk membuat bom nuklir yang mengakibatkan kehancuran secara
massal dan merusak kelestarian alam. Alhamdulillah masyarakat manusia sadar sehingga
energi nuklir yang radio aktif digunakan untuk keperluan media dan untuk alternatif energi
listrik.
4. Rekayasa Sosial dan Masalah Etik
Sistem kapitalisme dan sistem sosialisme adalah merupakan rekayasa sosial. Sistem
sosialisme Rusia yang komonistik terbukti gagal sehingga memang harus ditinggalkan.
Sistem sosialisme Inggris dan Perancis mengalami banyak sekali modifikasi sehingga
semakin mendekat dengan kapitalisme, sementara kapitalisme itu sendiri juga mengalami
banyak sekali perubahan. Ide demokrasi yang mengakui persamaan antar manusia merupakan
rekayasa sosial yang konter terhadap legitimasi monarki atau sistem kasta. Ide demokrasi
kapitalistik menampilkan struktur masyarkat bentuk piramidal, hal mana 40 % merupakan
masyarakat miskin yang diidealkan menerima kue kekayaan dan pendapatan hanya sekitar 16
%, dan kenyataanya banyak yang lebih kecil dari 10 %. Marxisme menteorikan bahwa
masyarakat terbelah menjadi dua golongan, yaitu borjuis dan proleter yang anta gonistik.
Ternyata muncul antar keduanya golongan menengah yang makin besar.
Sementara itu Noeng Muhadjir menawarkan ide demokrasi mayoritas terdidik.
Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dan peran iptek menggeser peran moral, maka
teori rekayasa sosial yang kami tawarkan yang dominan mengendalikan kehidupan ekonomi,
politik, sosial dan budaya. Sedangkan 16 % yang lebih berhasil dan 2 % yang sangat berhasil
akan menjadi reference group keberhasilan. Sedangkan 16 % yang kurang berhasil dan 2 %
yang gagal dalam hidup akan menjadi eksponen penajaman prikemanusiaan yang perlu
tumbuh dalam totalitas kehidupan.
Berkaitan dengan etika pengembangan ilmu ini, Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya
Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah mengemukakan bahwa ada tujuh
moralitas ilmu yang harus diperhatikan oleh setiap ilmuan, yaitu:

1.

Rasa tanggung jawab di hadapan Allah, sebab ulama merupakan pewaris para anbiya.
Tidak ada pangkat yang lebih tinggi daripada pangkat kenabian dan tidak ada derajat
yang ketinggiannya melebihi para pewaris pangkat itu. Pada hari kiamat nanti, kaki
manusia tidak akan bergerak sebelum ditanya kepadanya empat masalah: tentang
umurnya untuk apa dipergunakannya, tentang masa mudanya untuk apa
dihabiskanya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan dibelanjakan untuk apa
serta tentang ilmunya, apa yang telah dilakukannya denga ilmunya itu.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani, dengan isnad shahih dan dengan
lapadznya, termaktub dalam Kitab At-Targhib, hadits nomor 1564. Semakin luas
penguasaan akan ilmu oleh seorang ulama/ilmuwan, maka semakin berat tanggung
jawabnya.

2.

Amanat Ilmiah. Sifat amanah merupakan kemestian iman termasuk ke dalam


moralitas ilmu, tak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah. Dalam
memberikan kriteria orang beriman Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

()








Artinya: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya. (Q.S. Al-Mukminun: 8)

Sebaliknya sifat khianat merupakan kriteria orang yang munafik, yang salah satu
sifatnya yang paling menonjol adalah apabila diberikan amanat maka dia berkhianat.
Rasulullah SAW bersabda: Hendaklah kamu saling menasehati dalam hal ilmu, karena
sesungguhnya khianat seseorang diantara kamu dalam ilmunya lebih dasyat daripada
khianatnya dalam urusan harta dan sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung
jawabanmu pada hari kiamat. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, lihat Majmuuz Zawaid jilid
I halaman 141 dan At-Targhib jilid I hadits nomor 206.
Salah satu dari amanat ilmiah adalah merujuk ucapan kepada orang yang
mengucapkanya, merujuk pemikiran kepada pemikirnya, dan tidak mengutip dari orang lain
kemudian mengklaim bahwa itu pendapatnya karena hal seperti itu merupakan plagiat dan
penipuan. Berkaitan dengan ini dapat disaksikan bahwa ilmuan kaum muslimin sangat

memprihatinkan tentang sanad di dalam semua bidang ilmu yang mereka tekuni, bukan hanya
dalam bidang hadits saja.
Seseorang yang tahu bertahan dengan pendirianya dan terhadap hal-hal yang tidak
diketahuinya dia berkata: Aku tidak tahu. Di dalam dunia ilmiah tidak dikenal sifat malu
dan sombong. Dunia ilmiah selalu mengakui kebenaran apapun atau faedah apapun yang
sudah jelas, sekalipun bersumber dari orang yang tidak memiliki ilmu yang luas atau berusia
muda atau berkedudukan rendah. Dari Zubair bin Matham bahwa seorang pria bertanya: Ya
Rasulullah, daerah mana yang paling disukai Allah dan daerah mana yang paling dimurkai
Allah ? Rasulullah menjawab: aku tidak tahu sebelum aku menanyakannya kepada Jibril.
Rasulullah didatangi Jibril dan memberitahukan bahwa: Sesungguhnya daerah yang paling
dicintai Allah adalah mesjid-mesjid dan yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasar.
Ibnu Said dan Ibnu Abdil Bar tentang ilmu, Khanzul Ummah jilid I hadits nomor 1419.
Para sahabat Rasulullah dan para tabiin tidak malu untuk mengatakan tidak tahu,
terhadap hal-hal yang memang mereka tidak mengetahuinya atau mereka mempersilahkan
kepada orang lain demi kebenarann. Mereka tidak merasa rendah diri dan tidak pula takabbur.
Pendapat-pendapat mereka tanpa ragu merasa tarik jika kemudian ternyata ijtihad mereka
tidak benar.
3.

Tawadhu. Salah satu moralitas yang harus dimiliki oleh ilmuan iaah tawadhu. Orang
yang benar berilmu tidak akan diperalat oleh ketertipuan dan tidak akan diperbudak
oleh perasaan ujub mengagumi diri sendiri, karena dia yakin bahwa ilmu itu adalah
laksana lautan yang tidak bertepi yang tidak ada seorang pun yang akan berhasil
mencapai pantainya. Maha benar Allah dengan firman-Nya:




()

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S.
Al-Isra: 85)

Para ilmuwan merupan iring-iringan yang sangat panjang yang jauh mengakar pada
masa silam dan terus menjalar ke masa depan. Apa yang dimiliki oleh seorang ilmuan
hanyalah merupakan satu bagian dari iring-iringan yang panjang itu. Tidaklah layak jika ia
mengingkari kelebihan orang-orang yang terdahulu atau mengingkari upaya generasi yang
berikutnya. Tidak ada seorang pun yang ilmunya meliputi segala sesuatu kecuali Allah,
manusia hanya mengetahui sedikit sementara sejumlah besar tidak diketahuinya. Hari ini dia
tahu apa yang kemaren belum diketahuinya dan besok dia tidak mengetahui lagi apa yang
telah diketahuinya hari ini. Perhatikanlah pernyataan seorang ulama fiqih yang terkenal di
bawah ini ketika beliau menimba ilmu seorang shaleh, yatu Imam Syafii menatakan: Setiap
kali aku belajar dari sejarah aku semakin tahubahwa akalku berkurang atau aku tahu bahwa
ilmuku bertambah, semakin bertambah pula ilmuku tentang kebodohanku.
4.

Izzah. Perasaan mulia yang merupakan fadhillah paling spesifik bagi kaum muslimin
secara umum. Allah berfirman:














()












Artinya:

Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benarbenar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya."
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang
mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (Q.S. Al-Munafiqun: 8)

Izzah di sini adalah perasaan diri mulia ketika menghadapi orang-orang yang takabbur
atau orang yang berbangga dengan kekayaan, keturunan, kekuatan atau kebanggaankebanggaan lain yang bersifat duniawi. Izzah adalah bangga dengan iman dan bukan dosa
dan permusuhan. Suatu perasaan mulia yang bersumber dari Allah dan tidak mengharapkan
apapun dari manusia, tidak menjilat kepada orang yang berkuasa.

()




Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu
semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang

saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka


azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur. (Q.S. Fathir: 10)

Merasa cukup adalah perasaan yang ada sebelum seseorang memiliki yang
sesungguhnya. Ada sementara orang yang memiliki harta banyak, tetapi sebenarnya jiwanya
miskin dan tangannya terbelenggu, kikir, padahal sementara orang lain yang bertangan hampa
tidak berharta masih tetap merasa lebih kaya dari Qarun. Dalam sebuah hadits Rasulullah
bersabda: Yang disebut kaya bukanlah karena banyak harta akan tetapi yang sesungguhnya
kaya adalah kaya hati. (Hadits Muttafaq Alaihi dari Abu Hurairah)
5.

Mengutamakan Ilmu
Salah satu moralitas yang orisinil dalam Islam adalah menerapkan ilmu dalam

pengertian bahwa ada keterkaitan antara ilmu dan iradah. Kehancuran kebanyakan manusia
adalah karena mereka berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu itu atau mengamalkan sesuatu
yang ertolak belakang dengan apa yang mereka ketahui, seperti dokter yang mengetahui
bahayanya suatu makanan atau minuman bagi dirinya tetapi tetap juga dia menikmatinya
karena mengikuti hawa nafsu atau tradisi. Seorang moralis yang memandang sesuatu
perbuatan tetapi dia sendiri ikut melakukannya dan bergelimang dengan kehinaan itu. Jenis
ilmu yang hanya teoritis seperti ini tidak diridhai dalam Islam. Menggambarkan hal ini
Rasulullah bersabda: Dunia ini diperuntukkan bagi empat kelompok orang, yaitu:
1. Seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu yang dengan
rezeki itu dia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturrahmi dan mengetahui
bahwa disitu Allah mempunyai hak. Orang ini menempati posisi peringkat teratas.
2. Seorang hamba yang diberi rezeki berupa ilmu, tetapi tidak diberi harta. Dia
mempunyai niat yang benar dan berkata: kalau aku diberi harta aku akan
mengamalkan perbuatan si Fulan. Dengan niatnya itu dia mendapat pahala yang
sama dengan yang pertama.
3. Seorang haba yang diberiharta tetapi tidak diberi ilmu. Dia membelanjakan hartanya
secara sembarangan dan tidk takut akan Tuhanya, tidak menyambung silaturrahmi
dan tidak megetahui bahwa pada hartanya itu ada hak Allah. Orang seperti ini
menempati posisi peringkat yang paling hina.

4. Seorang hamba yang tidak diberi harta dan juga tidak diberi ilmu oleh Allah tetapi
dia berkata: Sekiranya aku diberi harta aku akan mengerjakan pekerjaan si Fulan.
Dengan niatnya ini dia mendapatkan pahala yang sama dengan si Fulan. (Hadits
Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi, At-Targhib hadits nomor 20)
6.

Menyebarkan ilmu
Menyebarkan ilmu adalah moralitas yag harus dimiliki oleh para ilmuwan/ulama,

mereka berkewajiban agar ilmu tersebar dan bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu yang
disembunyikan tidak mendatangkan kebaikan, sama halnya dengan harta yang ditimbun.
Ketika Haji Wada diakhir khutbah Rasulullah SAW berpesan: Hendaklah yang hadir
menyampaikan kepada yang tidak hadir. (Hadits Muttafaq Alaihi). Abu Hurairah
meriwayatkan dari Rasulullah SAW: Barangsiapa yang ditanya tentang sesuatu yang
diketahuinya, lalu dia menyembunyikannya, ada hari kiamat dia dibelenggu dengan
belenggu dari apai neraka. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, AtTirmidzi, Al-Naihaqi dan Al-Hakim)
Kewajiban menyebarkan ilmu hanya dibatasi jika ilmu yang disebarkan itu akan
menimbulkan akibat negatif bagi yang menerimanya atau akan mengakibatkan dampak
negatif bagi orang lain atau jika disampaikan akan menimbulkan mudaratnya lebih banyak
daripada manfaatnya.
7.

Hak Cipta dan Penerbit


Mengenai hak cipta dan penerbit digambarkan bahwa kehidupan para ilmuan tidak

semudah kehidupan orang lain pada umumnya, karena menuntut kesungguhan yang khusus
mlebihi orang lan, seorang ilmuwan pengarang memerlukan perpustakaan yang kaya dengan
referensi penting dan juga memerlukan pembantu yang menolongnya untuk menukil,
mengkliping dan sebaginya dan memerlukan pula orang yang mendapat menopang khidupa
keluarganya. Tanpa semua itu tidak mungkin seorang pengarang akan menghasilkan suatu
karya ilmiah yang berbobot. Di samping itu, jika suatu karya ilmiah telah diterbitkan kadangkadang pengarang masih memerlukan lagi untuk mengadakan koreksi dan perbaikanperbaikan, semua ini memerlukan tenaga dan biaya. Oleh karena itu, jika dia sebagai pemilik
suatu karya ilmiah maka dialah yang berhak mendapatkan sesuatu berkenan dengan karya
ilmiahnya. Tetapi perlu diingat dan dipertegas satu hal, bahwa jangan sampai penerbit dan

pengarang mengeksploitasi para pembaca dengan menaikkan harga buku-buku dengan harga
yang tidak seimbang dengan daya beli pembaca atau pendapatan yang diperoleh pembaca.
Jika terjadi yang demikian maka hal itu tidak dibenarkan oleh syara.
Dari uraian di atas dapat dilihat betapa pentingnya etika bagi pegembangan ilmu,
untuk menjaga agar ilmu itu tidak menjadi penyebab bencana bagi kehidupan manusia dan
kerusakan lingkungan serta kehancuran di muka bumi. Kemudian sejauhana konsep-konsep
etika yag dirumuskan oleh para ilmuan dalam bidangnya akan efektif untuk menangkal
penyalahgunaan ilmu, mengingat konsep-konsepnya yang masih bertentangan antara satu
dengan lainya sebagai lazimnya pertentangan diantara orang-orang yang mengikuti hawa
nafsu. Orang-orang yang mengkuti hawa nafsu, semakin tinggi ilmu yang mereka dapat,
semakin tinggi teknologi yang mereka kembangkan, semakin canggih persenjataan yang
mereka miliki, semua itu hanya mereka tujukan untuk memuaskan hawa nafsu mereka, tanpa
mempertimbangan dengan baik kewajiban mereka terhadap orang lain dan hak-hak orang
lain.
Inilah yang terjadi dengan dunia kita sekarang, negara-negara yang disebut adikuasa
berbuat yang mereka kehendaki terhadap negara-negara yang sedang berkembang, demi
keuntungan dan kepentingan mereka walaupun dengan semboyan-semboyan demokrasi, hak
asasi manusia, dan lain-lain. Memang dalam data sejarah hanya ilmuwan-ilmuwan kaum
muslim yang membimbing para khalifah yang senantiasa menebarkan ilmu dan kemakmuran
untuk manusia secara bersama-sama walaupun berbeda agama.

E. Kesimpulan
1. Ilmu adalah netral menghasilkan manfaat atau mengakibatkan bencana tergantung
di tangan yang menguasainya. Bagaimana dia nantinya menerapkanya di dalam
kehidupan.
2. Ilmu tanpa dilandasi etika yang benar akan mengakibatkan kerusakan bagi diri sendiri
dan bagi orang lain.

3. Diperlukan adanya orang-orang yang mampu untuk menjaga berlakunya etika yang
benar dalam pengembangan ilmu agar ilmu tersebut lebih bermanfaat nantinya baik
didunia maupun di akhirat.
4. Di dalam Islam etika pengembangan ilmu pengetahuan disandarkan kepada iman akan
Allah Rabbul Alamin Yang Maha Mengetahui.
5. Etika yang baik akan memperoleh pahala dan etika yang jahat sebaliknya.