Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom
Alport

merupakan

sindrom

yang

terdiri

dari

glomerunefritis,gangguan ginjal tahap akhir, gangguan penglihatan dan


pendengaran.
Sindrom alport juga merupakan penyakit gemetik yang disebabkan
mutasi pada COL4A3, COL4A4, COL4A5 gen biosintesis collagen. Mutasi
gen ini mencegah produksi dari jaringan kolagen tipe IV yang merupakan
komponen stuktural penting dari membran basalis di ginjal,telinga dan mata.
Basement membrane berfungsing untuk mendukung pemisahan sel-sel dalam
banyak jaringan. Ketika mutasi mencegah pembentukan serat kolagen tipe
IV , maka membrane ginjal tidak dapat menyaring produksi limbah dari darah
menyebabkan kerusakan pada pembulu-pembulu darah kecil pada ginjal
sehingga darah dan protein masuk ke dalam urin akhirnya menimbulkan gagal
ginjal.
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui anatomi dan fisiologi ginjal
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang penyakit sindrom Alport
3. Mahasiswa dapat mengetahui definisi, etiologi dan patofisiologi sindrom
Alport

BAB II
PEMBAHASAN
A. GINJAL
TR 18

Page 1

1. Definisi
Ginjal merupakan adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang
berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi
menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama
dengan air dalam bentuk urin.
2. Anatomi Ginjal

Gambar 2.1 System Urogenital Tubuh


Gambar 2.2 Anatomi Ginjal

TR 18

Page 2

Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, di belakang


peritoneum, di depan dua iga terakhir, dan tiga otot besar-transversus
abdominalis, kuadratus lumborum,dan psoas mayor. Ginjal sebelah kanan
lebih rendah dibandingkan dengan gijal kiri karena tertekan kebawah oleh
hati. Kutub atasnya terletak setinggi iga kedua belas. Sedangkan kutub
atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas. Kedua ginjal dibungkus oleh
dua lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu
meredam goncangan.
Ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm pada
bagian paling tebal dan berbentuk seperti kacang. Terletak pada bagian
belakang abdomen.Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri
karena ada hepar di sisi kanan.Ginjal memiliki tiga bagian penting yaitu
korteks, medulla dan pelvis renal.

TR 18

Page 3

Bagian paling superfisial adalah korteks renal, yang tampak


bergranula.Di sebelah dalamnya terdapat bagian lebih gelap, yaitu
medulla renal, yang berbentuk seperti kerucut disebut piramid renal,
dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau
papilla renal.Di antara piramid terdapat jaringan korteks, disebut kolum
renal (Bertini).
Ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar disebut
pelvis renal.Pelvis renal bercabang dua atau tiga, disebut kaliks mayor
yang masing-masingbercabang membentuk beberapa kaliks minor, yang
langsung menutupi papilla renal dari piramid.Kaliks minor ini
menampung urin yang terus-menerus keluar daripapila. Dari kaliks minor,
urin masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renal kemudian keureter, sampai
akhirnya ditampung di dalam kandung kemih.
Setiap ginjal terdapat satu juta atau lebih nefron, masing-masing
nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler.Komponen vaskuler
terdiri atas pembuluh-pembuluh darah, yaitu glomerulus dan kapiler
peritubuler, yang mengitari tubuli.Komponen tubuler berawal dengan
kapsula Bowman (glomerular) dan mencakup tubuli kontortus proksimal,
ansa Henle dan tubuli kontortus distal.Dari tubuli distal, isinya disalurkan
ke dalam duktus koligens (saluran penampung atau pengumpul). Kedua
ginjal menghasilkan sekitar 125 ml filtrat per menit; dari jumlah ini, 124
ml diabsorpsi dan hanya 1 ml dikeluarkan ke dalam kaliks-kaliks sebagai
urin.

TR 18

Page 4

3. Fisiologi Ginjal
Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit
berupa

ekskresi

kelebihan

air

dan

elektrolit,

mempertahankan

keseimbangan asam basa, mengekskresi hormon, berperan dalam


pembentukan vitamin D, mengekskresi beberapa obat-obatan dan
mengekskresi renin yang turut dalam pengaturan tekanan darah.

Ginjal juga memiliki fungsi untuk membersihkan tubuh dari bahanbahan sisa hasil pencernaan atau yang diproduksi oleh metabolisme.Selain
itu, fungsi yang sangat penting yaitu mengontrol volume dan komposisi
cairan tubuh.Untuk air dan semua elektrolit dalam tubuh, keseimbangan
antara asupan (hasil konsumsi metabolik) sebagian besar dipertahankan
oleh ginjal. Ginjal menjalankan fungsinya dengan cara menya
Sering plasma dan memisahkan zat dari filtrat dengan kecepatan yang
bervariasi, bergantung pada kebutuhan tubuh.Ginjal menjalankan fungsi
multiper. Antara lain :
a. Ekskresi produk sisa metabolisme dan bahan kimia asing
Produk yang diekskresikan meliputi urea (dari metabolisme asam
amino), kreatinin (sari kreatin otot), asam urat (dari asam nukleat),
produk akhir pemecahan hemoglobulin (seperti bilurubin), dan
metabolit berbagai hormon.Ginjal juga mensekresikan bahan kimia
asing seperti petisida, obat-obatan, dan zat aditif makanan.
b. Pengaturan keseimbangan air dan elektrolit
Untuk mempertahankan homeostatis, ekskresi air dan elektrolit
harus sesuai dengan asupannya. Jika asupan melebihi ekskresi, jumlah

TR 18

Page 5

zat dalam tubuh akan meningkat. Jika asupan kurang dari ekskresi,
jumlah zat dalam tubuh akan berkurang
c. Pengaturan osmolalitas cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit
d. Pengaturan tekanan arteri
Ginjal berperan penting dalam mengatur tekanan arteri jangka
panjang dengan mengekskresikan sejumlah natrium dan air. Selain itu,
ginjal turut mengatur tekanan arteri jangka pendek dengan
menyekskresikan faktor dan zat vasoaktif, seperti renin, yang
meyebabkan pembentukan produk vasoaktif lainnya (misalnya
angiotensin II)
e. Pengaturan keseimbangan asam-basa
Ginjal turut mengatur asam-basa, bersama dengan paru dan sistem
dapar cairan tubuh, dengan cara menyekresikan asam dan mengatur
penyimpanan dapar cairan tubuh. Ginjal satu-satunya organ untuk
membuang tipe-tipe asam tertentu dari tubuh, seperti asam sulfur dan
asam fosfat yang dihasilkan dari metabolisme protein.
f. Sekresi, metabolisme, dan ekskresi hormon
g. Glukoneogenesis
Ginjal menyintesis glukosa dari asam amino dan prekursor lainnya
selama masa puasa yang panjang, proses ini disebut glukoneogenesis.
Pada penyakit gagal ginjal akut, penyakit ginjal kronik, fungsi
homeostatis ini terganggu, dan kemudian terjadi abnormalitas
komposisi dan volume cairan tubuh yang berat dan cepat

4. Vaskularisasi Ginjal

TR 18

Page 6

a. Arteri renalis adalah percabangan aorta abdomen yang mensuplai


masing-masing ginjal dan masuk ke hilus melalui cabang posterior dan
anterior.
b. Cabang arterior dan posterior arteri renalis membentuk arteri-arteri
interlobaris yang mengali diantara piramda-piramida ginjal.
c. Arteri arkuata berasal dari arteri interlobaris pada area pertemuan
antara korteks dan medulla.
d. Arteri interlobularis merupakan percabangan arteri arkuata di sudut
kanan dan melewati korteks.
e. Arteriol aferen berasal dari arteri interlobularis. Satu arteriol aferen
membentuk sekitar 50 kapiler yang membentuk glomerulus.
f. Arteriol aferen meninggalakan setiap glomerulus dan memebentuk
jaring-jaring kapiler lain, kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus
proksimal dan distal untuk memberi nutrient pada tubulus tersebut dan
mengeluarkan zat-zat yang direabsorbsi.
a. Arteriol aferen dari glomerulus nefron korteks memasuki jarringjaring kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan
distal pada nefron tersebut.
b. Arteriol aferen dari glomerulus pada nefron jukstaglomerular memiliki
perpanjangan pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut vasa recta
yang berdesenden ke dalam piramida medulla. Lekukan vasa recta
membentuk lengkungan jepit yang melewati ansa henle. Lengkungan
ini memungkinkan terjadinya pertukaran zat antara ansa henle dan
kapiler serta memegang peranan dalam konsentrasi urin.
g. Kapiler peritubular mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian
menyatu dan membentuk vena interlobularis.
h. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata
bermuara ke dalam vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara
ke dalam vena renalis. Vena ini meninggalkan ginjal untuk bersatu
dengan vena kava inferior.

TR 18

Page 7

Gambar 2.3 Suplai Pembuluh darah Ginjal

5. Inervasi Ginjal

TR 18

Page 8

Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf


ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk kedalam ginjal,
saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluhdarah yang masuk ke ginjal.
Fisiologi Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah yang
sangat banyak (sangat vaskuler) tugasnya memang pada dasarnya adalah
menyaring/membersihkan darah. Aliran darah ke ginjal adalah 1,2
liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah tersebut disaring menjadi cairan
filtrat sebanyak 120 ml/menit (170 liter/hari) ke Tubulus. Cairan filtrat ini
diproses dalam Tubulus sehingga akhirnya keluar dari kedua ginjal
menjadi urin sebanyak 1-2 liter/hari.
B. SINDROM ALPORT
1. Definisi
Sindrom Alport adalah sebuah kondisi warisan yang menyebabkan
penyakit ginjal. Kondisi ini biasanya berkembang selama masa awal
kanak-kanak dan lebih serius pada anak laki-laki daripada anak
perempuan. Kondisi ini dapat menyebabkan stadium akhir penyakit ginjal
serta masalah pendengaran dan penglihatan, dengan gejala umum
terdapatnya darah dan protein kronis dalam urin

TR 18

Page 9

Nama-nama lain yang di gunakan dalam sindrom Alport :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Bawaan hematuria keturunan


Hematuria-nefropati tuli sindrom
Hematuric nefritis herediter
Hemoragik nefritis familial
Hemoragik nefritis herediter
Keluarga keturunan bawaan hemoragik nefritis
Sindrom hematuria herediter
Keturunan pielonefritis interstitial
Nefritis herediter
Sindrom Alport dapat memiliki pola warisan yang berbeda. Sekitar 80

persen dari kasus disebabkan oleh mutasi pada gen COL4A5 dan
diwariskan dalam pola terkait-X. Gen ini terletak pada kromosom X, yang
merupakan salah satu dari dua kromosom seks. Pada laki-laki (yang hanya
memiliki satu kromosom X), satu salinan mengubah gen COL4A5 di
setiap sel cukup untuk menyebabkan gagal ginjal dan gejala berat lainnya
dari gangguan tersebut. Pada wanita (yang memiliki dua kromosom X),
mutasi dalam satu salinan gen COL4A5 biasanya hasil hanya dalam
hematuria, tetapi beberapa wanita mengalami gejala yang lebih parah.
Karakteristik warisan terkait-X adalah bahwa ayah tidak bisa lewat ciri Xlinked untuk anak-anak mereka.
Pada sekitar 15 persen dari kasus, sindrom Alport hasil dari mutasi
pada kedua salinan dari gen COL4A3 atau COL4A4 dan diwariskan
dalam pola resesif autosomal. Orang tua dari seorang individu dengan
bentuk resesif autosomal dari kondisi ini masing-masing memiliki satu
salinan gen bermutasi dan disebut operator. Beberapa operator tidak
terpengaruh dan lain-lain mengembangkan kondisi yang lebih ringan
disebut tipis membran basement nefropati, yang ditandai dengan
hematuria.

TR 18

Page 10

Sindrom Alport memiliki warisan dominan autosomal di sekitar 5


persen dari kasus. Orang dengan bentuk sindrom Alport memiliki satu
mutasi baik dalam COL4A3 atau gen COL4A4 di setiap sel. Masih belum
jelas mengapa beberapa orang dengan satu mutasi pada COL4A3 atau gen
COL4A4 memiliki autosomal dominan sindrom Alport dan lain-lain
memiliki tipis membran basement nefropati
2. Patogenesis
a. Sindrom Alport (AS) disebabkan oleh cacat pada kolagen tipe IV,
komponen struktural utama dari membran dasar dalam ginjal, telinga,
dan mata.
b. X-linked AS disebabkan oleh cacat pada gen COL4A5 yang mengkode
kolagen alpha-5 (IV) rantai, yang terletak di Xq22.
c. Autosomal resesif AS disebabkan oleh mutasi baik dalam COL4A3
atau gen COL4A4.
d. Akumulasi jenis V dan rantai kolagen VI di membran basal
glomerulus (GBM) terjadi sebagai respon kompensasi.
e. Protein ini menyebar dan mengakibatkan GBM penebalan dan
penurunan selektivitas dengan sclerosis berikutnya glomerulus,
fibrosis interstisial, dan gagal ginjal.
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis biasanya berupa hematuria asitomatik,jarang terjadi
gross hematuri, terrjadi pada usia muda,mikrohematuria persiten sering
terjadi terutama pada anak laki-laki . Pada tahap awal biasanya kreatinin
serum dan tekanan darah tidak mengalami perubahan ,tetapi dengan
berjalannya waktu fungsi ginjal mengalami penurunan secara progresif
yang ditandai proteinuria yang semakin presinten dan menjadi gagal ginjal
tahap akhir pada usia 16 sampai 35 tahun. Variasi gambaran klinis
ditentukan oleh besarnya mutasi genetic.

TR 18

Page 11

Gangguan ekstra renal yang paling sering didapati adalah hilangnya


pendengaran,dimulai dengan hilangnya kemampuan mendengarkan nadanada dan akhirnya hilang kemampuan untuk mendengar percakapan
normal . Pada mata di jumpai gangguan berupa kurangnya kemampuan
lengsung lensa mata 9 anterior lenticonus , bintik putih atau kuning di
daerah perimakular lensa , kelainan kornea berupa distrofi polimorfis
posterior dan erosi korona dan berakhir dengan mundurnya ketajaman
penglihatan. Mengatrombosittopenia dapat di tentukan pada tipe
autosomal dominalt
4. Diagnosa
Adanya riwayat penyakit ginjal disertai gangguan pendengaran pada
anggota keluarga merupakan tuntutan untuk mencurigai sindrom alport .
Hal ini di hubungkan dengan adanya hematuria glomerulus persintesis .
Pada biopsy ginjal ditemukan adanya kelainan MBG perkembangan klinis
menuju pada progresivitas penyakit ginjal kronis serta bila mungkin tes
genetika adanya gen COL4A5,COL4A3,COL4A4.
5. Terapi
Saat ini belum ada terapi yang spesifik, terapi lebih banyak
ditunjukkan pada pengendalian keadaan sekunder akibat gangguan fungsi
ginjal seperti pengendalian hipertensi dengan menggunakan angiotensin
converting enzyme inhibitor. Obat ini dapat menurunkan tekanan
intraglomerulus dan terbukti dapat menurunkan progrestivitas penurunan
fungsi ginjal. Untuk mencegah meluasnya ekspansi mesanial dapat
diberikan Siklosporin A terutama pada pasien dengan proteinuria berat,
sedangkan untuk pengendalian fosfat digunakan pengikat fosfat, serta
pengendalian dislipedemia menggunakan statin. Gangguan fungsi
pendengaran biasanya permanen sehingga pasien dapat diberikan
pelatihan keterampilan berkomunikasi dengan isyarat, pada gangguan

TR 18

Page 12

lensa mata dapat diatasi dengan penggantian lensa mata dan penggantian
kornea kemudian dialysis digunakan pada pasien penyakit ginjal kronik
tahap akhir.
Transplantasi ginjal dilakukan pada pasien yang sudah pada tahap
akhir penyakit ginjal kronik. Dilaporkan bahwa 3-4% dari pasien
transplantasi ginjal tersebut mengalami anti-GBM antibody disease dan
umumnya terjadi pada tahun pertama pasca transplantasi, terjadi
glomerulonefritis kresenik dan berakhir dengan graft loss. Bila terjadi hal
tersebut maka plasmaferesis dan pemberian siklofosfamid merupakan
pilihan pengobatan.
6. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjalani konsultasi pranikah
pada seseorang dengan riwayat penyakit ginjal dan ketulian dalam
keluarganya. Keadaan tersebut berpotensial mempunyai resiko terhadap
sindrom alport. Konsultasi tersebut dilakukan oleh ahli genetika.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sindrom alport merupakan penyakit keturunan yang menyebabkan
kerusakan ginjal dan gangguan penglihatan serta pendengaran biasanya
berkembang pada saat masa kanak-kanak dan berlanjud hingga dewasa dan
TR 18

Page 13

lebih serius terjadi pada laki di bandingkan perempuan, pada kasus ini belum
jelas penyebab terjadinya sehingga mengakibatkan kelainan mutasi genetic
pada COL4A3, COL4A4, COL4A5 gen biosintesis collagen .
Pada penderita sindrom alpor biasanya di temui gejala klinis hematuria,
tetapi air kemih juga bisa mengandung sejumlah protein, sel darah putih dan
cast (gumpalan-gumpalan kecil), di sertai dengan hipertensi dan Gangguan
pendengaran yang sering terjadi biasanya berupa ketidakmampuan untuk
mendengar suara dengan frekuensi yang lebih tinggi, Bisa juga terjadi
gangguan penglihtan, meskipun lebih jarang dibandingkan dengan gangguan
pendengaran.
Kelainan pada kornea, lensa atau retina kadang menyebabkan kebutaan.
Pengobatan bisa di lakukan dengan cara pengendalian hipertensi dan
untuk pendengaran bisa di berikan alat bantu pendengaran sedangkan pada
keadaan tahap akhir penyakit ginjal kronik di lakukan transplantasi ginjal .
Pencegahan terjadinya sindrom alport dapat di lakukan dengan
mengetahui riwayat penyakit keluarga .

DAFTAR PUSTAKA
1. F. Paulsen and J. Waschke. 2012. Sobota Atlas Anaomi Manusia. Jakarta :
EGC
2. Guyton and hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke -11. Jakarta:
EGC

TR 18

Page 14

3. Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-dasar Urologi. Edisi ke-3. Jakarta


4. J.navin.Hereditary nefritis.Merck Manual Home Handbook.2013

TR 18

Page 15