Anda di halaman 1dari 26

BAB I

REKAM MEDIS
I.IDENTIFIKASI
Nama

: Ny.HK

Umur

: 28 tahun

Alamat

: Musi Banyuasin

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Nama Suami

: Tn. W

Umur

: 28 tahun

Pekerjaan Suami

: Petani

Alamat

: Musi Banyuasin

MRS

: 28 Desember 2013

II.ANAMNESIS (Autoanamnesis, 28 Desember 2013)


Keluhan Utama : Mau melahirkan dengan bekas operasi melahirkan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
4 jam SMRS, parturient mengeluh perut mulas yang menjalar ke pinggang,
hilang timbul, makin lama makin sering dan kuat. Riwayat keluar darah lendir (+),
riwayat keluar air-air (+), riwayat keputihan (-) , riwayat demam (-), riwayat sakit
gigi (-), riwayat minum jamu (-), riwayat trauma (-), riwayat post coital (-),
riwayat darah tinggi sebelum hamil (-), riwayat darah tinggi pada hamil ini (-),
Parturient lalu ke RSUD Sekayu lalu dirujuk ke RSMH karena bekas operasi
melahirkan. Parturient mengaku hamil kurang bulan dan gerakan anak masih
dirasakan.

Riwayat Reproduksi :
Menarche

: 14 tahun

Siklus haid

: 28 hari, teratur lamanya 5 hari

HPHT

: lupa

Riwayat perkawinan

: 1 kali, lamanya 2 tahun

Riwayat obstetri

: G2P1A0

No

Tempat

Tahun

Bersalin
1.

2012

Hasil

Jenis

Kehamilan

Persalinan

SC

0rang

Penyulit

2.

Anak
Sex

Tidak

hidup

Nifas

ada

Baik

1.
2.

Perempuan
Perempuan

BB

KU

1800 g

Baik

1600 g

Hamil
ini

Riwayat kontrol kehamilan

: 5 kali di bidan

Riwayat sosial ekonomi

: Sedang

Riwayat gizi

: Nafsu makan kurang baik dan tidak ada gangguan

pada miksi maupun defekasi


Riwayat penyakit dalam keluarga :
R/ DM disangkal
R/ Hipertensi disangkal
R/ Penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit yang pernah diderita : (-)
Riwayat operasi

: 1x seksio sesaria atas indikasi partus


kering + gemeli tahun 2012

PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Berat badan

: 68 kg

Tinggi badan

: 150 cm

Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5oC

Anemia

: -/-

Gizi

: Sedang

Jantung

: Murmur (-), gallop (-)

Paru

: Vesikuler (+) N
Wheezing (-/-)
Ronkhi (-/-)

Hati/limfa

: Sulit dinilai

Refleks fisiologis

: Biseps (N/N), Triseps (N/N), Patella

(N/N),

Achilles (N/N)

Refleks patologis

: Babinsky (-/-) Chaddock (-/-)

BAK

: Biasa

BAB

: Biasa

Turgor kulit

: Biasa

Mata cekung

: -/-

Edema pretibial

: -/-

Status Obstetri ( pemeriksaan tanggal 28 Desember 2013 )


Pemeriksaan luar :
Tinggi fundus uteri 4 jari bawah proc.xiphoideus (27 cm), letak janin memanjang,
punggung kanan, terbawah kepala, penurunan 1/5, his 4/10/40, DJJ 150x/mnt,
teratur, TBJ 2325 g.

Pemeriksaan dalam :
VT :
Portio tak teraba, pembukaan 10 cm, pendataran 100%, ketuban (-), jernih, bau
(-), terbawah kepala, penurunan H3+ dan penunjuk ubun-ubun kecil kanan depan

Indeks Vaginal Birth After Caecarian (Flamm dan Geiger)

Usia < 40 tahun


R/ pervaginam
Alasan SC
Pendataran >75%
Dilatasi serviks >4
Jumlah

:0
:0
:1
:2
:1
:6

Kemungkinan keberhasilan partus per vaginam : 88-89%


DIAGNOSA KERJA
G2P1A0 hamil 35 minggu inpartu kala II dengan bekas SC 1x atas indikasi partus
kering + gemeli janin tunggal hidup presentasi kepala.
PENATALAKSANAAN

Observasi his, DJJ, tanda vital ibu

Rencana partus pervaginam

Inj Dexamethason 2 x 6 mg

Kosongkan kandung kemih

IVFD RL gtt XX/m

Evaluasi partograf WHO modifikasi

Pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin, kimia darah dan cross match

PROGNOSIS
Ibu

: dubia

Anak : dubia
LAPORAN PERSALINAN

Tanggal 28 Desember 2013


Pukul 15.30 WIB
Tampak parturient ingin mengedan kuat
Pada pemeriksaan dalam didapatkan:
- Portio tak teraba
- Pembukaan lengkap
- Ketuban (-), jernih, bau (-)
- Penurunan HIII+
- Penunjuk UUK kanan depan
Diagnosis : G2P1A0 hamil 35 minggu inpartu kala II dengan bekas SC 1x atas
indikasi partus kering janin tunggal hidup presentasi kepala.
Penatalaksanaan:
-

Pimpin persalinan

Dilakukan episiotomi mediolateral

Pukul : 15.40 WIB Lahir neonatus hidup perempuan, BB 2300 gram, PB 45 cm,
AS 8/9
Dilakukan manajemen aktif kala III:
Injeksi oksitosin 10 IU
Masase fundus uteri
Peregangan tali pusat terkendali

Pukul : 15.45 WIB

Lahir plasenta lengkap dengan BP 440 gram, PTP 46 cm


dengan diameter 15 20 cm. Dilakukan eksplorasi jalan
lahir. Dilakukan penjahitan pada luka episiotomi dengan
catgut 2.0 secara jelujur subkutikuler, kemudian dikompres
dengan kasa betadine. Keadaan ibu dan bayi post partum
baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Seksio Sesarea
2.1.1 Definisi
Seksio sesarea merupakan salah satu tindakan operasi yang tertua dan
terpenting dalam bidang obstetri. Operasi ini bertujuan mengeluarkan janin
melalui suatu jalan yang dibuat pada dinding perut dan uterus. 1 Seksio sesaria
merupakan suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi
pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh
serta berat janin di atas 500 gram. 2,3 Luka sayat di perut dapat transversal
(Pfannenstiel) maupun vertikal (mediana); sedangkan di uterus dapat transversal
(SC Transperitonealis Profunda) maupun insisi vertikal (SC klasik/corporal).4
Leveno, dkk (2003) menyatakan bahwa definisi ini tidak mencakup pengeluaran
janin dari rongga abdomen pada kasus ruptur uterus atau pada kasus kehamilan
abdomen.3
2.1.2 Jenis
a. Seksio sesaria klasik: pembedahan secara sanger2,4
b. Seksio sesaria secara transperitonial profunda (supracervicalis = lower
segmen caesarian section)2,4
c. Seksio sesaria diikuti dengan histerektomi (caesarian histerektomy =
sectio hysterectomy)2
d. Seksio sesaria ekstra peritoneal2
e. Seksio sesaria vagina2
2.1.3 Indikasi
I. Indikasi Ibu
a. Riwayat sesar
b. Panggul sempit absolut
c. Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
d. Stenosis serviks atau vagina

e. Plasenta previa
f. Disproproposi kepala panggul
g. Ruptur uteri membakat2,3
II. Indikasi Janin
a. Distosia persalinan
b. Presentasi bokong
c. Kelainan letak
d. Gawat janin2,3
2.1.4 Kontraindikasi
Pada umumnya seksio sesaria tidak dilakukan pada:
a. Janin mati
b. Syok, anemia berat, sebelum diatasi
c. Kelainan kongenital berat (monster)
2.1.5 Prosedur
I. Teknik Seksio Sesaria Klasik (Corporal)
a. Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi
dipersempit dengan kain suci hama
b. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang
12 cm sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum
peritoneal terbuka.
c. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi
d. Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atas rahim, kemudian
diperlebar secara sagital dengan gunting
e. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan
dengan meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Setelah janin lahir
seluruhnya, tali pusat dijepit dan dipotong di antara kedua penjepit.
f.

Plasenta dilahirkan secara manual. Disuntikkan 10 unit oksitosin ke dalam


rahim secara intramural.

g. Luka insisi segmen atas rahim dijahit kembali.

Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur


dengan benang cat gut, khromik
Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul (berhubung
otot segmen atas rahim sangat tebal) dengan cat gut
khromik.
Lapisan III: Perimetrium saja dijahit secara simpul dengan benang cat
gut biasa.
h. Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.
i. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding
perut dijahit.2,3

Sumber: Ilmu bedah kebidanan, 2002


Gambar 1. Seksio sesaria secara klasik
Teknik seksio sesaria klasik (corporal) ini diindikasikan bila:
a. Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk
mencapai segmen bawah rahim, misalnya karena adanya perlekatanperlekatan akibat pembedahan akibat seksio sesaria yang lalu, atau
adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim.
b. Janin besar dalam letak lintang.
c. Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah
rahim. 2,3
d. Seksio sesaria yang diikuti dengan sterilisasi

e. Terdapat pembuluh darah besar sehingga diperkirakan akan terjadi


robekan di segmen bawah rahim dan perdarahan.
f. Kepala bayi telah masuk pintu atas panggul.
g. Grande multipara yang diikuti dengan histerektomi.6
Keuntungan dari teknik ini, antara lain:
a.

Mudah dilakukan karena lapangan operasi relatif luas

b.

Mengeluarkan janin lebih cepat

c.

Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik

d.

Sayatan bisa diperpanjang proksimal ataupun distal6


Kerugiannya, yaitu:

a. Kesembuhan luka operasi cukup sulit


b. Kemungkinan terjadinya ruptura uteri kehamilan berikutnya lebih besar.
c. Kemungkinan terjadinya perlekatan pada dinding abdomen lebih besar.6
II. Teknik Seksio Sesaria Transperitoneal Profunda
a. Mula-mula dilakukan disinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi
dipersempit dengan kain suci hama.
b. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di
bawah umbulikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.
c. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.
d. Dibuat bladder flap, yaitu dengan menggunting peritoneum kandung
kencing (plika vesikouterina) di depan segmen bawah rahim secara
melintang. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah
samping dan bawah, dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah
bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing.
e. Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika
vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah 2 cm, kemudian
diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk operator.
Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversal) sesuai
cara Kerr, atau membujur (sagital) sesuai cara Kronig.

f. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan, janin dilahirkan


dengan meluksir kepalanya. Badan janin dilahirkan dengan mengai kedua
ketiaknya. Tali pusat dijepit dan dipotong, plasenta dilahirkan secara
manual. Ke dalam otot rahim intamural disuntikkan 10 unit oksitosin.
Luka dinding rahim dijahit.
Lapisan I : dijahit jelujur, pada endometrium dan miometrium
Lapisan II : dijahit jelujur hanya pada miometrium saja.
Lapisan III: dijahit jelujur pada plika vesikouterina.
g. Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.
h. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding
perut dijahit.2,3
Teknik ini diindikasikan untuk:
a. Indikasi ibu

Pada primigravida dengan kelainan letak

Primi para tua yang disertai kelainan letak, disproporsi sefalopelvik


(disproporsi janin/ panggul)

Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk

Terdapat kesempitan panggul

Plasenta previa terutama pada primigravida

Solusio plasenta

Komplikasi kehamilan, yaitu preeklampsia sampai eklampsia

Setelah operasi plastik vagina

Gangguan perjalanan persalinan karena kista, mioma uteri, karsinoma


serviks, ruptur uteri.

Kehamilan disertai penyakit, seperti penyakit jantung, dan diabetes


melitus.

b. Indikasi janin

Gawat janin

Malpresentasi dan malposisi kedudukan janin

Prolaps tali pusat dengan pembukaan kecil

Kegagalan persalunan vakum atau forsep ekstraksi


Keunggulan teknik ini, antara lain:

a.

Segmen bawah rahim lebih tenang

b.

Kesembuhan lebih baik

c.

Tidak banyak menimbulkan perlengketan

Kerugiannya, yaitu:
a. Terdapat kesulitan pada waktu mengeluarkan janin
b. Terdapat perluasan luka insisi dan menimbulkan perdarahan

Sumber: Ilmu bedah kebidanan, 2002

Gambar 2. Seksio sesaria transperitoneal profunda


III. Teknik Seksio-Histerektomi
a. Setelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan
hemostasis pada insisi dinding rahim, cukup dengan jahitan jelujur atau
simpul
b. Untuk memudahkan histerektomi, rahim boleh dikeluarkan dari rongga
pelvis.
c. Mula-mula ligamentum profundum dijepit dengan cunam kocher dan
cunam oschner kemudian dipotong sedekqat mungkin dengan rahim, dan
jaringan yang sudah dipotong diligasi dengan benang catgut khromik no.0.
Bladder flap yang telah dibuat pada waktu seksio sesaria transpertoneal
profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral. Pada ligamentum
latum belakang dibuat lubang dengan telunjuk tangan kiri di bawah
adneksadari arah belakang. Dengan cara ini ureter akan terhindar dari
kemungkinan terpotong.
d. Melalui lubang pada ligamentum latum ini, tuba falopii, ligamentum
uteroovarica, dan pembuluh darah dalam jaringan tersebut dijepit dengan 2
cunam oshner lengkung dan di sisi rahim dengan cunam Kocher. Jaringan
di antaranya kemudian digunting dengan gunting Mayo. Jaringan yang
terpotong diikat dengan jahitan transfiks untuk hemostasis dengan catgut
no. 0.
e. Jaringan ligamentum latum yang sebagian adalah avaskular dipotong
secara tajam ke arah serviks. Setelah pemotongan ligamentum latum
sampai di daerah serviks, kandung kencing disisihkan jauh ke bawah dan
samping.
f. Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservical dilakukan penjepitan
dengan cunam Oshner lengkung secara ganda, dan pada tempat yang sama
di sisi rahim dijepit dengan cunam Kocher lurus. Kemusian jaringan di
antaranya digunting dengan gunting mayo. Tindakan ini dilakukan pada
beberapa tahap sehingga ligamentum kardinale terpotong seluruhnya.

Punctum ligamentum kardinale dijahit transfiks secara ganda dengan


benang catgut khromik no. 0
g. Demikian juga ligamentum sakrouterina kiri dan kanan dipotong dengan
cara yang sama dan diligasi secara transfiks dengan benang catgut
khromik no. 0
h. Setelah mencapai di atas dinding vagina serviks, pada sisi dcepan serbiks
dibuat irisan sagital dengan pisau, kemudian melaui insisi tersebut dinding
vagina dijepit dengan cunam Oshner melingkari serviks dan dinding
vagina dipotong tahap demi tahap. Pemotongan dinding vagina dapat
dilakukan dengan gunting atau pisau. Rahim akhirnya dapat diangkat.
i. Puntung vagina dijepit beberapa cunam Kocher untuk hemostasis. Mulamula puntung kedua ligamentum kardinane dijahitkan pada ujung kiri dan
kanan puntung vagina, sehingga terjadi hemostasis pada kedua ujung
puntung vagina. Puntung vagina dijahit secara jelujur untuk hemostasis
dengan catgut khromik. Puntung adneksa yang telah dipotong dapat
dijahitkan digantungkan pada puntung vagina, asalkan tidak terlalu
kencang. Akhirnya puntung vagina ditutup dengan retroperitonealisasi
dengan menutupkan bladder flap pada sisi belakang puntung vagina.
j. Setelah kulit perut dibersihkan dari sisa darah, luka perut ditutup lapis
demi lapis. 2,3

Sumber: Ilmu bedah kebidanan, 2002


Gambar 3. Seksio-histerektomi
2.1.6 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi setelah tindakan seksio sesarea sebagai berikut:
a. Infeksi Puerperal (nifas)
Infeksi puerperal terbagi 3 tingkatan, yaitu:
a. Ringan: kenaikan suhu tubuh beberapa hari saja
b. Sedang: kenaikan suhu tubuh lebih tinggi, disertai dehidrasi dan sedikit
kembung.
c. Berat: dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita
jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi
intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama. 4
b. Perdarahan
Perdarahan dapat disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang
terputus dan terbuka, atonia uteri, dan perdarahan pada placental bed. Perdarahan

dapat mengakibatkan terbentuknya bekuan-bekuan darah pada pembuluh darah


balik di kaki dan rongga panggul.4
c. Luka Kandung Kemih
Tindakan seksio sesarea, apabila dilakukan dengan tidak hati-hati dapat
mengakibatkan luka pada organ lain seperti kandung kemih, yang dapat
menyebabkan infeksi.4
2.2.

Persalinan Pervaginam dengan Bekas Seksio Sesarea

2.2.1. Definisi
Persalinan pervaginam dengan bekas seksio sesarea atau Vaginal Birth
After Cesarean-section (VBAC) adalah proses melahirkan normal setelah pernah
melakukan seksio sesarea.1
2.2.2. Diagnosis
VBAC dapat didiagnosis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yaitu
dengan adanya parut luka di perut.5
2.2.3. Indikasi
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun
1999 dan 2004 memberikan rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang
direncanakan untuk persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea. Menurut
Cunningham FG (2001) kriteria seleksinya adalah berikut :
a. Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim.
b. Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik
c. Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus
d. Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring,
persalinan dan seksio sesarea emergensi.
e. Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea
darurat1,3,5

Menurut Cunningham FG (2001) kriteria yang masih kontroversi adalah :


a. Parut uterus yang tidak diketahui
b. Parut uterus pada segmen bawah rahim vertikal
c. Kehamilan kembar
d. Letak sungsang
e. Kehamilan lewat waktu
f. Taksiran berat janin lebih dari 4000 gram1,5
Sementara berdasarkan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia), dilakukan persalinan pervaginam jika: 4
a. Imbang feto pelvik baik
b. Perjalanan persalinan normal
Untuk memprediksi keberhasilan penanganan persalinan pervaginal bekas
seksio sesarea, beberapa peneliti telah membuat sistem skoring. Adapun skoring
yang ditentukan untuk memprediksi persalinan pada wanita dengan bekas seksio
sesarea adalah sebagai berikut:1,5
Tabel 1 . Skor VBAC menurut Flamm dan Geiger (1997)
No
1
2

Karakteristik

Usia < 40 tahun


Riwayat persalinan pervaginal
- sebelum dan sesudah seksio sesarea
- persalinan pervaginal sesudah seksio sesarea
- persalinan pervaginal sebelum seksio sesarea
- tidak ada
3
Alasan lain seksio sesarea terdahulu
4
Pendataran dan penipisan serviks saat tiba di Rumah Sakit dalam keadaan
5
Inpartu:
- >75 %
- 25 75 %
- < 25 %
Dilatasi serviks > 4 cm
Interpretasi:
Skor

Angka Keberhasilan

Skor
2
4
2
1
0
1
2
1
0
1

0-2
3
4
5
6
7
8-10
Total

42-49%
59-60%
64-67%
77-79%
88-89%
93%
95-99%
74-75%

Tabel 2. Skor VBAC menurut Weinstein Factor


No.
1. Bishop Score 4
2. Riwayat persalinan pervaginal sebelum seksio sesarea
3. Indikasi seksio sesarea yang lalu
Malpresentasi,Preeklampsi/Eklampsi, Kembar
HAP, PRM, Persalinan Prematur
Fetal Distres, CPD, Prolapsus tali pusat
Makrosemia, IUGR

Tidak
0
0

Ya
4
2

0
0
0
0

6
5
4
3

2.2.4. Kontraindikasi
Kontra indikasi mutlak melakukan VBAC adalah :
a. Bekas seksio sesarea klasik
b. Bekas seksio sesarea dengan insisi T
c. Bekas ruptur uteri
d. Bekas komplikasi operasi seksio sesarea dengan laserasi serviks yang luas
e. Bekas sayatan uterus lainnya di fundus uteri contohnya miomektomi
f. Disproporsi sefalopelvik yang jelas.
g. Pasien menolak persalinan pervaginal
h. Panggul sempit
i. Ada komplikasi medis dan obstetrik yang merupakan kontra indikasi
persalinan pervaginal1,5
Berdasarkan POGI, seksio primer dilakukan jika: 4
a. Plasenta previa
b. Vasa previa
c. CPD/FPD

d. Panggul patologik
e. Presentasi abnormal
f. Kelainan letak
g. Posterm dengan skor pelvik rendah
h. 2 kali seksio
i. Penyembuhan luka operasi yang lalu buruk
j. Operasi yang lalu kolporal/klasik
2.2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi VBAC
a. Teknik operasi sebelumnya
Pasien bekas seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim transversal
merupakan salah satu syarat dalam melakukan VBAC, dimana pasien dengan tipe
insisi ini mempunyai resiko ruptur yang lebih rendah dari pada tipe insisi lainnya.
Bekas seksio sesaria klasik, insisi T pada uterus dan komplikasi yang terjadi pada
seksio sesarea yang lalu misalnya laserasi serviks yang luas merupakan
kontraindikasi melakukan VBAC.1
b. Jumlah seksio sesarea sebelumnya
VBAC tidak dilakukan pada pasien dengan insisi korporal sebelumnya
maupun pada kasus yang pernah seksio sesarea dua kali berurutan atau lebih,
sebab pada kasus tersebut diatas seksio sesarea elektif adalah lebih baik
dibandingkan persalinan pervaginal.1
c. Penyembuhan luka pada seksio sesarea sebelumnya
Insisi uterus dengan potongan vertikal yang dikenal dengan seksio sesarea
klasik dilakukan pada otot uterus. Luka pada uterus dengan cara ini mungkin tidak
dapat pulih seperti semula dan dapat terbuka lagi sepanjang kehamilan atau
persalinan berikutnya.1
d. Indikasi operasi pada seksio sesarea yang lalu
Tabel 3. Hubungan indikasi seksio sesarea lalu dengan keberhasilan
penanganan VBAC
Indikasi seksio yang lalu
Letak sungsang

Keberhasilan VBAC (%)


80.5

Fetal distress
Solusio plasenta
Plasenta previa
Gagal induksi
Disfungsi persalinan

80.7
100
100
79.6
63.4

e. Usia Maternal
Dari penelitian didapatkan wanita yang berumur lebih dari 35 tahun
mempunyai angka seksio sesarea yang lebih tinggi.1
f. Usia kehamilan saat seksio sesarea sebelumnya
Pada usia kehamilan <37 minggu dan belum inpartu misalnya pada
plasenta previa dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna
kemungkinan insisi uterus tidak pada segmen bawah rahim dan dapat mengenai
bagian korpus uteri yang mana keadaannya sama dengan insisi pada seksio
sesarea klasik.1
g. Riwayat persalinan pervaginal
Pasien dengan bekas seksio sesarea yang pernah menjalani persalinan
pervaginal memiliki angka keberhasilan persalinan pervaginal yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pasien tanpa persalinan pervaginal.1
h. Keadaan serviks pada saat partus
Penipisan serviks serta dilatasi serviks memperbesar keberhasilan VBAC.
Induksi persalinan dengan misoprostol akan meningkatkan resiko ruptur uteri
pada maternal dengan bekas seksio sesarea.1
2.6 Komplikasi
Menurut Landon komplikasi terhadap maternal, antara lain:
a. Ruptur uteri,
Tanda-tanda ruptur uteri adalah sebagai berikut :

Nyeri akut abdomen

Sensasi popping (seperti akan pecah)

Teraba bagian-bagian janin diluar uterus pada pemeriksaan


Leopold

Deselerasi dan bradikardi pada denyut jantung bayi

Presenting parutnya tinggi pada pemeriksaan pervaginal

Perdarahan pervaginal

b. Gangguan sistem tromboembolik,


c. Endometritis,
d. Kematian maternal dan gangguan-gangguan lain.1

BAGAN PENATALAKSANAAN PERSALINAN


BEKAS SEKSIO SESAREA
PERSALINAN
BEKAS
SEKSIO SESAREA
Tipe
Seksio Sesarea

Segmen
Bawah Rahim

Korporal

Letak dan
Presentasi
Verteks

Kriteria
(+)

Non Verteks

Kontra
Indikasi (+)

Partus
Percobaan
Maju

Gagal

Ekstraksi Vakum /
Ekstraksi Forceps

PARTUS VAGINAM

SEKSIO
SESAREA

Sumber : Saifuddin AB. Kehamilan dan Persalinan dengan Parut Uterus. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2000 ; 322.
BAB III
PERMASALAHAN
1. Bagaimana cara mendiagnosis kasus ini?
2. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini?
3. Bagaimana jenis persalinan untuk kasus ini?

BAB IV
ANALISIS KASUS
1. Bagaimana cara mendiagnosis kasus ini?
Dari anamnesis didapatkan pasien hamil 35 minggu, perut mulas
menjalar ke pinggang hilang timbul makin lama makin sering dan kuat,
riwayat keluar darah lendir (+), keluar air-air (+), jernih, bau (-), Parturient
lalu ke RSUD Sekayu lalu dirujuk

ke RSMH karena bekas operasi

melahirkan.
Pemeriksaan luar menunjukkan parut bekas seksio sesarea masih
utuh dan tidak ada nyeri tekan abdomen.Tinggu fundus uteri 4 jari di
bawah processus xyphoideus (27cm), denyut jantung janin 150x/mnt
teratur, letak janin memanjang, punggung kanan, terbawah kepala,
penurunan 1/5, his 4/10/40, taksiran berat janin 2325 gram. Pemeriksaan
dalam menunjukkan portio tak teraba, pendataran 100%, pembukaan 10
cm, ketuban (-) jernih, bau (-), bagian terbawah kepala, penurunan Hodge
III+, penunjuk ubun-ubun kecil kiri depan.
Dari anamnesis dan pemeriksaan obstetrik di atas dapat disimpulkan
bahwa diagnosis pada kasus ini adalah G2P1A0 hamil 35 minggu inpartu
kala II dengan bekas SC 1x atas indikasi partus kering + gemeli janin
tunggal hidup presentasi kepala.
2. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini?
a.
b.
c.
d.

Observasi : his, denyut jantung janin, dan tanda vital ibu


Rencana partus pervaginam
Inj Dexamethason 2 x 6 mg
IVFD RL gtt XX/m

e. Kosongkan kandung kemih


f. Evaluasi partograf WHO modifikasi
g. Pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin, kimia darah,
crossmatch
3. Bagaimana jenis persalinan untuk kasus ini?
Jenis persalinan untuk kasus ini adalah persalinan pervaginam.
Berikut alasan dipilih persalinan pervaginam:
a. Hasil scoring VBAC FLAMM-GEIGER didapatkan skor 6 yang
mengindikasikan keberhasilan VBAC sebesar 88-89%.
b. Pasien ini memenuhi kriteria seleksi VBAC
Dari American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG)
(2004), yaitu:
1. Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah
rahim.
2. Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik
3. Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus
4. Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring,
persalinan dan seksio sesarea emergensi.
5. Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea
darurat1,3,5
Dari POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
(2006):
1. Imbang feto pelvik baik
2. Perjalanan persalinan normal
c. Tidak ditemukan kontraindikasi untuk VBAC.
d. Beberapa faktor ibu mendukung keberhasilan VBAC, seperti usia <35
tahun, riwayat seksio sesarea hanya 1x dengan indikasi plasenta previa,
riwayat persalinan pervaginal, dan keadaan serviks saat partus baik.

BAB V
KESIMPULAN
1. Diagnosa pada kasus ini didapatkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan
obstetri.
2. Penatalaksanaan pada kasus yaitu observasi (his, denyut jantung janin, dan
tanda vital ibu), partus pervaginam, dexamethasone 2x 6 mg, IVFD RL gtt
XX/m, kosongkan kandung kemih, evaluasi partograf WHO modifikasi,
pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin rutin, kimia darah, crossmatch.
3. Jenis persalinan untuk kasus ini adalah persalinan pervaginam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. Persalinan pervaginam dengan bekas seksio sesarea [serial online]
2010 Didapat dari: http://library.usu.ac.id/download/pdf.
2. Angsar MD dan Listya S. Seksio sesarea. Dalam: Hanifah W, Abdul BS, dan
Trijatmo R, penyunting. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: EGC; 2000. h. 13343.
3. Leveno KJ,dkk. Sesar. Dalam: Leveno KJ, Gary C, Norman FG, James MA,
Steven LB, Brian MC, dkk, penyunting. Obstetri Williams panduan ringkas.
Jakarta: EGC;2003. h. 247-58.
4. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bekas seksio sesarea.
Dalam: Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Jakarta: POGI;
2006. h. 47-48.
5. Porter TF dan James RS. Cesarean Delivery. Dalam: Danforths obstetric and
gynecology, chapter 24. Isilo; 2007.
6. Anonim. Vaginal Birth after Cesarean-section [serial online] 2009
Didapatdari:http://www.scribd.com/doc/15127665/faktor_predisposisi_seksio
_sesarea.
7. Cunningham, F.G et al. 2005. Breech Presentation and Delivery In: Williams
Obstetrics.22st edition. New York: Mc Graw Hill Medical Publising Division,
509-536.
8. Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL. Malpresentation. In: Obstetrics normal
and problem pregnancies. 3rd ed. New York: Churchill Livingstone. Ltd.
2000:478-90.