Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN KEMIH

A. Pengertian
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection
(UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran
kemih (Agus Tessy, 2001).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi
bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)
Infeksi tractus urinarius adalah merupakan suatu keadaan dimana
adanya suatu proses peradangan yang akut ataupun kronis dari ginjal
ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial
dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan
urethra (uretritis).
Infeksi saluran

kemih

adalah

berkembang

biaknya

mikroorganisme di dalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak


mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain.
Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan
yang disebabkan oleh bakteri terutama Escherichia coli ; resiko dan
beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi
saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru,
septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998).
Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari
menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita.
Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari
rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik
melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria
jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan
adanya

abnormalitas

fungsi

dan

struktur

dari

traktus

urinarius

(Rahmadania, 2011)

B. Klasifikasi
Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain:
1. Kandung kemih (sistitis)

2.

uretra (uretritis)

3.

prostat (prostatitis)

4.

ginjal (pielonefritis)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:

1. ISK uncomplicated (simple)


ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak
baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama
mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial
kandung kemih.
2. ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab
sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam
antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila
terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral
obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap
dan prostatitis.
b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
c. Gangguan daya tahan tubuh
d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang
memproduksi urease.
C. Etiologi
Pada umumnya faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan
infeksi saluran kemih adalah :
1. Wanita cenderung mudah terserang dibandingkan dengan laki-laki.
Faktor-faktor postulasi dari tingkat infeksi yang tinggi terdiri dari urethra
dekat kepada rektum dan kurang proteksi sekresi prostat dibandingkan
dengn pria.
2. Abnormalitas Struktural dan Fungsional

Mekanisme yang berhubungan termasuk stasis urine yang merupakan


media untuk kultur bakteri, refluks urine yang infeksi lebih tinggi pada
saluran kemih dan peningkatan tekanan hidrostatik.
Contoh : strikur,anomali ketidak sempurnaan hubungan uretero vesicalis
3. Obstruksi
Contoh : tumor, Hipertofi prostat, calculus, sebab-sebab iatrogenik
4. Gangguan inervasi kandung kemih
Contoh : Malformasi sum-sum tulang belakang kongenital, multiple
sklerosis
5. Penyakit kronis
Contoh : Gout, DM, hipertensi, Penyakit Sickle cell.
6. Instrumentasi
Contoh : prosedur kateterisasi.
7.

Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:


a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif
b. Mobilitas menurun
c. Nutrisi yang sering kurang baik
d. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
e. Adanya hambatan pada aliran urin
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

8.

Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:


a. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)

b. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated


c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.

D. Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme
patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak

langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur
utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu:
masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor
anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek
daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor
tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam
traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya
dekubitus yang terinfeksi.
Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada
imunnya

pasien yang system

rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara

hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal
sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan
total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal
akibat jaringan parut, dan lain-lain.
Sisa

urin

dalam

kandung

kemih

yang

meningkat

tersebut

mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri,


keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan
residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan
mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara
hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal
yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih
proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis
ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum
obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate
yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.
E. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis):

Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih

Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis

Hematuria

Nyeri punggung dapat terjadi

Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis)


Demam
Menggigil
Nyeri panggul dan pinggang
Nyeri ketika berkemih
Malaise
Pusing
Mual dan muntah
F. Komplikasi
- Pembentukan Abses ginjal atau perirenal
- Gagal ginjal
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Urinalisis
Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya
ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang
pandang besar (LPB) sediment air kemih
Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment
air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik
berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2. Bakteriologis
Mikroskopis
Biakan bakteri
3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari
urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap
sebagai criteria utama adanya infeksi.
5. Metode tes
Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes
Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka
psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika
terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):
Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal,
klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
Tes- tes tambahan:
Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan
ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi
akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal
atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau
evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat
dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang
resisten.
H. Penatalaksanaan
Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens
antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius
dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina.
Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan
atas:
Terapi antibiotika dosis tunggal
Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
Terapi dosis rendah untuk supresi

Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan


infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi,
factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera
ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis
rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin),
trimethoprim/sulfamethoxazole

(TMP/SMZ,

bactrim,

septra),

kadang

ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap


bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk
mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:
Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
Interansi obat
Efek samping obat
Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui
ginjal
Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:
1. Efek nefrotosik obat
2. Efek toksisitas obat
Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi
keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut:
Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/
Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh
membahnayakan/
Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan?
Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan?

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Anamnesa
1 Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : nama, umur, pendidikan, pekerjaan, suku,
agama, alamat, No. Medical Record, tanggal pengkajian dan diagnose
medis.
Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri pada perut, gangguan elimininasi urine.
3 Riwayat penyakit sekarang
Keterangan tentang kapan pasien mengalaminya penyakit tersebut
4 Riwayat penyakit dahulu
Pernahkah mengalami penyakit ini sebelumnya atau pernah mengalami
2

gangguan eliminasi lain lain.


Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit ini, adanya penyakit

keturunan, penyakit kronis


6 Kebiasaan sehari hari
a Pola persepsi kesehatan
Bagaimana persepsi pasien terhadap penyakit yang diderita, apakah
pasien mengetahui tentang penyakitnya
b Pola nutrisi
Bagaimana status gizi pasien sebelum sakit dan nutrisi selama sakit yang
memengaruhi kesehatan pasien, tentang gangguan pemenhan kebutuhan
c

nutrisi
Pola eliminasi
Bagaimana pola eliminasi BAB dan BAK pasien sebelum sakit apakah
mengalami gangguan dan bagaimana pola eliminasi BAB dan BAK
selama sakit apakah ada riwayat ISK, obstruksi sebelumnya, penurunan
keluaran urine, kandung kemih penuh, nyeri saat berkemih, rsa terbaka,

dll. Tandanya poliuria, hematuria, dan piuria.


Aktifitas
Bagimana aktivitas pasien sebelum sakit, apa pekerjaan pasien dan
bagaimana pola aktivitas pasien selama sakit, gangguan aktivitas apa

yang dialami oleh pasien.


Pola istirahat dan tidur
Bagaimana pola istirahat dan tidur pasien sebelum sakit apakah cukup
atau mengalami gangguan dan bagaimana pola istirahat dan tidur pasien

selama sakit apakah mengalami gangguan sebagai akibat proses penyaki,


tidur kurang nyenyak akibat nokturia.
Personal Hygiene
Bagaimana tentang kebersihan pasien apakah terjaga atau tidak tentang

pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, kebersihan genitalia, pola


g

berpakaian, tatarias, rambut dan wajah.


Pola sensori kognitif
Apakah sebelum sakit pasien membutuhkan alat bantu dalam untuk
berjalan, mendengar, atau melihat dan bagaimana selama sakit ini apakah

mengalami perubahan
Pola peran dan hubungan
Bagaimana pasien bersosialisasi dengan keluarga dan lingkungan apakah
sebelum sakit baik-baik saja dan dilihat perkembangannya selama sakit
apakah ada perubahan tentang sosialisasinya, bagaimaa keadaan
psikologis pasien yang memengaruhi penyakitnya.
Pola seksual/reproduksi
Bagaimana pola seksual pasien sebelum sakit, apakah sudah menikah

atau belum dan pengkajian pola seksual selama sakit, perubahan apa yang
terjadi.
Koping dan mekanisme stress
Bagaimana mekanisme koping stress pada pasien sebelum sakit jika

memiliki masalah apakah cerita ke orang lain atau dipendam sendiri dan
selama sakit bagaimana mekanisme koping pasien dan bagaimana cara
k

pasien menanggulangi stressnya.


Nilai dan kepercayaan
Kepercayaan apakah yang dianut pasien, bagaimana pasien menjalankan
kepercayaannnya dan selama sakit apakah pola kepercayaan pasien

terganggu.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara lengkap dengan head to toe dan
dilakukan dengan Inspeksi, Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi. Fokus
pengkajian pada bagian abdomen dan genetalia apakah ada kelainan, nyeri
tekan, dll.

B. Diagnose keperawatan

1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi


uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada
kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
3. Resiko Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran
kemih.
4. Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif.
5. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
C. Intervensi Keperawatan
1 Diagnose 1 Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan
infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
Tujuan dan criteria hasil
Setelah

dilakukan

Intervensi

Rasionalisasi

a. Pantau haluaran urine

tindakan

terhadap

keperawatan

warna, bau dan pola

indikasi

berkemih,

atau penyimpangan

diharapkan
nyeri

Tidak

perubahan

a.
untuk

masukan

mengidentifikasi
kemajuan

waktu

dan haluaran setiap 8

dari

hasil

berkemih, tidak nyeri

jam dan pantau hasil

diharapkan

pada perkusi panggul

urinalisis ulang

yang

b. Catat lokasi, lamanya


intensitas skala (1-10)

b.

penyebaran nyeri.

membantu

c. Berikan

tindakan

mengevaluasi

nyaman, seprti pijatan

tempat

punggung, lingkungan
atau

dorong

penggunaan

nafas

berfokus

dan penyebab nyeri


c.

istirahat;
d. Bantu

obstruksi

meningkatkan relaksasi,
menurunkan
tegangan otot.
d.
Relaksasi:

membantu

mengarahkan
10

e. Kolaborasi:
Konsul

kembali

dokter

kuning

gading-urine

kuning,

jingga gelap, berkabut


atau

dan untuk relaksasi

bila:

sebelumnya

keruh.

otot.
e.
Rasional:

berubah,

sering

berkemih

memeberi

tanda

kerusakan

jaringan

dan

perlu

menetes

setelah
Nyeri

dapat

pemeriksaan luas

ingin

kencing,

ini

lanjut

dengan jumlah sedikit,


perasaan

Temuan-

temuan

Billa

berkemih

perhatian

berkemih.
menetap

atau

bertambah sakit
Berikan

analgesic

sesuia kebutuhan dan


evaluasi
keberhasilannya
Rasional:

analgesic

memblok

lintasan

nyeri

sehingga

mengurangi nyeri
f. Buat

berbagai

sediaan

variasi
minum,

termasuk air segar .


Pemberian air sampai
2400 ml/hari

f.
Rasional:

akibat

haluaran

dari
urin

memudahkan
berkemih sering dan
membentu
membilas

saluran

berkemih

2. Diagnosa 2 Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik


pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
Tujuan dan criteria hasil
Setelah
dilakukan

Intervensi
a. Awasi

Rasionalisasi

pemasukan a. memberikan informasi


11

tindakan
diharapkan
eliminasi

dan

keperawatan

berkemih

gangguan

dan

b. Dorong meningkatkan
pemasukan cairan

tidak terjadi tandatanda

tentang fungsi ginjal

karakteristi urin

Pola
membaik,

pengeluaran

c. Kaji keluhan kandung

komplikasi
b. peningkatan

hidrasi

membilas bakteri.
c. retensi
urin
dapat

kemih penuh

(urgensi,

adanya

terjadi

oliguri, disuria)

menyebabkan

distensi
jaringan(kandung
d. Observasi perubahan

kemih/ginjal)
mental:, d. akumulasi sisa uremik

status

perilaku atau tingkat

dan

kesadaran

ketidakseimbangan
elektrolit

dapat

menjadi toksik pada


e. Kecuali
dikontraindikasikan:
ubah

posisi

susunan saraf pusat


e. untuk
mencegah
statis urin

pasien

setiap dua jam


f.

Kolaborasi:

Awasi

pemeriksaan

laboratorium;
elektrolit,

BUN,

kreatinin

f.

asam
menghalangi
tumbuhnya

Lakukan tindakan untuk


memelihara

asam

urin:

tingkatkan

masukan

sari

kuman.

Peningkatan masukan
sari

urin

buah

dapt

berpengaruh

dalm

pengobatan

infeksi

saluran kemih.

buah

dan berikan obat-obat


untuk

meningkatkan

asam urin.

12

3. Diagnose 3 Resiko Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada


saluran kemih
Tujuan dan criteria hasil
Setelah
dilakukan
tindakan

keperawatan

diharapkan

resiko

infeksi teratasi dengan

Intervensi
a. Kaji suhu tubuh pasien
setiap 4 jam dan lapor
jika suhu diatas 38,50 C.
b. Catat karakteristik urine

di

dalam tubuh
b. Untuk

atau penyimpangan dari

batas normal
kultur

perubahan

kasi indikasi kemajuan

- Tanda vital dalam


Nilai

adanya

mengetahui/mengidentifi

Kriteria Hasil :

Rasionalisasi
a. Tanda vital menandakan

urine
c. Anjurkan pasien untuk

negatif
- Urine berwarna bening
dan tidak bau

mengosongkan kandung

hasil yang diharapkan.


c. Untuk mencegah adanya
distensi kandung kemih.

kemih secara komplit


setiap kali kemih.
d. Berikan perawatan

d. Untuk

menjaga

perineal, pertahankan

kebersihan

dan

agar tetap bersih dan

menghindari

kering.

yang membuat infeksi

bakteri

uretra.

4.

Diagnosa 4 Ansietas berhubungan dengan koping


yang tidak efektif

Tujuan dan criteria hasil


Intervensi
Setelah dilakukan
a. Kaji tingkat kecemasan
tindakan keperawatan
diharpkan ansietas dapat

Rasionalisasi
a. Untuk mengetahui berat
ringannya kecemasan
klien
b. Agar klien mempunyai
13

teratasi dengan Kriteria

b. Beri kesempatan klien

semangat dan mau

hasil :

untuk mengungkapkan

empati terhadap

- Klien tidak gelisah

perasaannya

perawatan dan

- Klien tenang
c. Beri dorongan spiritual

pengobatan
c. Agar klien kembali
menyerahkan sepenuhnya
kepada Tuhan YME. Beri

d. Beri penjelasan tentang

support pada klien


d. Agar klien mengerti
sepenuhnya tentang

penyakitnya

penyakit yang
dialaminya.

5.

Diagnose 5 Kurag pengerahuan tentang kondisi,


prognosis, dah kebutuan pengobatan berhubungan dengan kuangnya informasi

Tujuan dan criteria hasil


Setelah
dilakukan
tindakan

keperawatan

dharapkan

kurang

penetahuan

Intervensi
a. Kaji
ulang
pemyakit

proses a.

dan

harapan

yang akan dating

dapat
menyatakna

mengerti
kondisi,

b. Berikan

informasi

tentang

tentang: sumber infeksi,

pemeriksaan

tindakan untuk mencegah

diagnostic,
pengobatan,

rencana
dan

pengetahuan

dasar

dimana

dapat

pasien

membuat

teratasi dengan criteria


hasil

Rasionalisasi
memberikan

penyebaran,
pemberian

jelaskna
antibiotic,

tindakan perawatan diri

pemeriksaan diagnostic:

preventif.

tujuan, gambaran singkat,


persiapan
dibutuhkan

pilihan

beradasarkan informasi.
b. pengetahuan apa yang
diharapkan

dapat

mengurangi ansietas dan


m,embantu
mengembankan
kepatuhan klien terhadap
rencan terapetik.

ynag
sebelum

pemeriksaan, perawatan

14

sesudah pemeriksaan.
c. Pastikan
orang

pasien

atau c. instruksi

terdekat

telah

verbal

dapat

dengan mudah dilupakan

menulis perjanjian untuk


perawatan

lanjut

dan

instruksi tertulis untuk


perawatn

sesudah

pemeriksaan
d. Instruksikan pasien untuk d. Pasien

sering

menggunakan obat yang

menghentikan

diberikan,

minum

mereka, jika tanda-tanda

sebanyak kurang lebih

penyakit mereda. Cairan

delapan gelas per hari

menolong

khususnya

ginjal. Asam piruvat dari

sari

buah

berri.

obat

membilas

sari buah berri membantu


mempertahankan
keadaan asam urin dan
mencegah

e. Berikan
kepada

kesempatan
pasien

untuk

perasaan

dan

tentang
pengobatan.

bakteri
e. Untuk mendeteksi isyarat
indikatif

mengekspresikan
masalah
rencana

pertumbuhan

kemungkinan

ketidakpatuhan

dan

membantu
mengembangkan
penerimaan

rencana

terapeutik.

D. Evaluasi

15

Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk


mengetahui sampai dimana keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga
dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I
Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.
Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan
Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.
Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI
Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses
penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih
Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

16

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi
Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

17