Anda di halaman 1dari 12

KONSTITUSIONALISME

RULE OF LAW SEBAGAI BASIS GOVERNMENT

PAPER

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Dan Teori Konstitusi
Pada Program Studi Magister Ilmu Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Nimatul Huda, SH.,MH

Oleh:
HENDRA SETYADI KURNIA PUTRA

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM


PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirobbilalamin, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang mana atas limpahan, rahmat dan karunia-Nya
sehingga tugas paper teori konstitusi ini yang berjudul: Konstitusionalisme Rule
Of Law Sebagai Basis Government dapat terselesaikan. Penulis menyadari tugas
paper teori konstitusi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bimbingan,
dorongan, dan bantuan dari beberapa pihak baik dalam bentuk materi maupun non
materi.
Dalam penulisan paper ini penulis senantiasa dihadapkan berbagai
kesulitan dan hambatan. Oleh karena itu, perkenangkanlah penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Hj. Nimatul Huda, SH.,MH selaku dosen
pengampu mata kuliah Hukum Dan Teori Konstitusi, yang telah membimbing
penulis dalam memahami teori konstitusi pada khususnya.
Harapan penulis semoga paper ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk
maupun isi paper ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Oleh kerena itu
penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan paper ini.

Surakarta, 20 Oktober 2014


Penulis,

Hendra Setyadi K P

KONSTITUSIONALISME
RULE OF LAW SEBAGAI BASIS GOVERNMENT
PENDAHULUAN
Menurut Carl J. Friedrich konstitusionalisme ialah: Gagasan bahwa
pemerintah merupakan suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan
atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang diharapkan
akan menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan itu tidak
disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.1
Konstitusionalisme di zaman sekarang dianggap sebagai suatu konsep
yang niscaya bagi setiap negara modern. Seperti dikemukakan oleh C.J. Friedrich
sebagaimana dikutip di atas, constitutionalism is an institutionalized system of
effective, regularized restraints upon governmental action. Basis pokoknya
adalah kesepakatan umum atau persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat
mengenai bangunan yang diidealkan berkenaan dengan negara.2
Konsensus yang menjamin tegaknya konstitusionalisme di zaman modern
pada umumnya dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan (consensus),
yaitu:3
1. Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama (the general goals of
society or general acceptance of the same philosophy of government).
2. Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau
penyelenggaraan negara (the basis of government).
3. Kesepakatan

tentang

bentuk

institusi-institusi

dan

prosedur-prosedur

ketatanegaraan (the form of institutions and procedures).


Dari uraian diatas diketahui bahwa konstitusi merupakan hukum-hukum
atau aturan-aturan dasar yang harus benar-benar dipahami. Dasar Negara menjadi
sumber bagi pembentukan konstitusi. Dasar Negara menempati kedudukan
sebagai norma hukum tertinggi suatu Negara. Sebagai norma tertinggi, dasar
1

Nimatul Huda, Teori Konstitusi, Bahan Kuliah Program Pascasarjana FH UNS/2014


Jimly Asshiddiqie, Ideologi, Pancasila dan konstitusi, Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia
3
Ibid
2

Negara menjadi sumber bagi pembentukan norma-norma hukum dibawahnya.


Konstitusi adalah salah satu norma hukum dibawah dasar Negara.4
Bertolak dari konsepsi tersebut, maka secara umum istilah konsitusi
menggambarkan keseluruhan sistem ketatanegaraan suatu negara, yaitu berupa
kumpulan peraturan yang membentuk, mengatur, atau memerintah negara.
Peraturan-peraturan tersebut ada yang tertulis dan yang tidak tertulis. 5 Namun
dalam praktiknya pengertian Konstitusi dapat berarti lebih luas daripada
pengertian Undang-Undang Dasar, tetapi ada juga yang menyamakan dengan
pengertian Undang-Undang Dasar.
Pasca meletusnya reformasi, para pelaku kenegaraan mengumandangkan
bahwa untuk memperbaiki masa depan Indonesia haruslah dimulai dengan
melakukan reformasi konstitusi, sehingga muncul jargon tidak ada reformasi
tanpa amandemen konstitusi. proses perubahan UUD 1945 yang telah terjadi
dalam empat tahapan. Terjadi perdebatan cukup keras dan sengit ketika usulan
perubahan UUD 1945 tersebut diajukan di hadapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat. Hal demikian sangatlah wajar terjadi, sebab konstitusi merupakan kontrak
sosial dan politik yang melibatkan kepentingan dan ideologi dari sebuah negara
bangsa yang sangat plural serta menjadi dasar-dasar aturan main politik untuk
menegakkan HAM dan membatasi kekuasaan dalam negara.6
Mempelajari konstitusi berarti juga mempelajari hukum tata negara dari
suatu negara, sehingga hukum tata negara disebut juga dengan constitutional law.7
Istilah Constitutional Law di Inggris menunjukkan arti yang sama dengan hukum
tata negara. Penggunaan istilah Constitutional Law didasarkan atas alasan bahwa
dalam hukum tata Negara unsur konstitusi lebih menonjol.
Dengan demikian suatu konstitusi memuat aturan atau sendi-sendi pokok
yang bersifat fundamental untuk menegakkan bangunan besar yang bernama
4

Andriana Abiem, Makalah Konstitusi Negara; http://hitamkopiku.blogspot.com/2013


Titik Triwulan Tutik, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006, hlm.44.
6
MD Mahfud, Konstitusi Negara, http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCAQFjAA&url=http%3A
%2F%2Fwww.mahfudmd.com%2Findex.php%3Fpage%3Dweb.MakalahVisit%26id
%3D15&ei=mcBIVJeMB6GimQXA_ILIAw&usg=AFQjCNEw6gwuWr9HqIg-8AglYQkj52Pi2w,
hlm.1
7
Site Said, Makalah Konstitusi, http://saidsite.blogspot.com/2011/03/makalah-konstitusi.html
5

Negara. Karena sifatnya yang fundamental ini maka aturan ini harus kuat dan
tidak boleh mudah berubah-ubah. Dengan kata lain aturan fundamental itu harus
tahan uji terhadap kemungkinan untuk diubah-ubah berdasarkan kepentingan
jangka pendek yang bersifat sesaat.
Apalagi Negara Indonesia termasuk salah satu penganut konsep negara
hukum (atau di negeri-negeri yang terpengaruh oleh sistem hukum Anglo Saxon
disebut rule of law) artinya menyatakan bahwa

kewibawaan hukum secara

universal mengatasi kekuasaan negara, dan sehubungan dengan itu hukum akan
mengontrol politik (dan tidak sebaliknya). Sehingga hak-hak sipil warga negara
dijamin oleh konstitusi dan kekuasaan negara pun akan dibatasi oleh konstitusi,
dan kekuasaan itu pun hanya mungkin memperoleh legitimasinya dari konstitusi
saja.8
PEMBAHASAN
A. Pengertian Konstutionalisme dan Konstitusi
Konstitusionalisme menurut Carl J. Friedrich ialah gagasan bahwa
pemerintah merupakan suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh
dan atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang
diharapkan akan menjamin bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk
pemerintahan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas
untuk memerintah.9
Konstitusionalisme modern pada intinya menganut prinsip pengaturan dan
pembatasan kekuasaan. Konstitusionalisme juga mengatur dua hubungan
yang saling berkaitan satu sama lain, pertama, hubungan antara pemerintahan
dengan warga negara; kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang
satu dengan lembaga pemerintahan yang lain.
Oleh karena itu, konstitusionalisme dimaksudkan untuk mengatur
mengenai tiga hal penting, yaitu untuk menentukan pembatasan kekuasaan
8
9

Nimatul Huda, Teori Konstitusi, Bahan Kuliah Program Pascasarjana FH UNS/2014


Nimatul Huda, Teori Konstitusi, Op.Cit

organ-organ negara, untuk mengatur hubungan antara lembaga-lembaga


negara yang satu dengan lainnya, dan untuk mengatur hubungan kekuasaan
antara lembaga-lembaga negara dengan warga negara.
Sementara Istilah konstitusi berasal dari bahasa Perancis (constituer) yang
berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah
pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara. 10
Sehingga konstitusi mengandung permulaan dari segala peraturan mengenai
suatu negara, dengan demikian suatu konstitusi memuat suatu peraturan
pokok (fundamental) mengenai sendi-sendi pertama untuk menegakkan
bangunan besar yaitu negara.11
Dari uraian di atas diketahui bahwa konstitusi yang sifatnya yang
fundamental ini maka aturan ini haruslah kuat dan tidak boleh mudah
berubah-ubah. Dengan kata lain aturan fundamental itu harus tahan uji
terhadap kemungkinan untuk diubah-ubah berdasarkan kepentingan jangka
pendek yang bersifat sesaat. Pada hukum yang ada disuatu negara telah
menjadi tatanan dalam dokumen penting yang sering juga disebut sebagai
undang-undang, hal inilah yang bisa dikatakan sebagai bentuk konstitusi
tertulis. Sedangkan kontitusi tidak tertulis adalah konstitusi yang tidak
dituangkan dalam suatu dokumen formal,. Seperti konstitusi yang berlaku di
Inggris, Israel, dan New Zaeland.
B. Konsensus dan Konstitusionalisme: Rule Of Law Sebagai Basis Government
Pada dasarnya Konstitusi selalu terkait dengan paham konstitusionalisme.
Walton H. Hamilton menyatakan Constitutionalism is the name given to the
trust which men repose in the power of words engrossed on parchment to
keep a government in order. Untuk tujuan to keep a government in order itu
diperlukan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan
10

Wirjono Projodikoro, Asas-asas Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat, 1989,
hlm.10
11
Dasril Radjab, Hukum Tata Negara Indonesia, hlm. 37. Lihat juga M. Solly Lubis, Hukum Tata
Negara, hlm.30

dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana


mestinya.12 Sehingga diketahui bahwa gagasan untuk mengatur dan
membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan
untuk merespons perkembangan peran relatif kekuasaan umum dalam
kehidupan umat manusia.
Konstitusionalisme di zaman sekarang dianggap sebagai suatu konsep
yang niscaya bagi setiap negara modern. Basis pokoknya adalah kesepakatan
umum atau persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat mengenai
bangunan yang diidealkan berkenaan dengan negara. Organisasi negara itu
diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama
dapat dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan
mekanisme yang disebut negara.13
Pada paparan di atas telah disebutkan konsensus-konsensus yang
dimaksud, yang salah satu konsensus itu adalah Kesepakatan tentang the rule
of law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan negara (the basis
of government). Konsensus ini sangatlah menarik dikaji lebih lanjut karena
pada perjalanan konstitusi di Indonesia terjadi beberapa fenomena-fenomena
yang sangat berbanding terbalik di dalam praktiknya atau di dalam penerapan
prinsip Rule Of Law. Pada penyelenggaraan negara. didalam prinsip rule of
law, seluruh aspek negara menjunjung tinggi supremasi hukum yang
dibangun diatas prinsip keadilan.
Rule of law adalah rule by the law bukan rule by the man. A.V.Dicey
menegaskan bahwa unsur-unsur rule of law meliputi:14 Pertama, adanya
superemasi aturan-aturan hukum. Artinya bahwa, hukum harus menjadi
panglima, ditaati dan dipatuhi oleh setiap warga negara, aparatur negara, dan
setiap unsur yang ada di masyarakat. Kedua, adanya pengakuan Equality
before the law artinya setiap orang memiliki kedudukan yang sama
dihadapan hukum. Tidak ada perbedaan atau diskriminasi baik menyangkut
12

Jimly Asshiddiqie, Ideologi, Pancasila dan konstitusi, Op.Cit, Hlm.5


Ibid
14
Pratiwi Setya, Menemukan Karakteristik Rule Of Law Dalam Konstitusi Indonesia, 2012,
http://ceklipratiwi.staff.umm.ac.id/2012/02/01/menemukan-karakteristik-the-rule-of-law-dalamkonstitusi-indonesia
13

suku, agama, ras, warna kulit, status ekonomi, sosial, dll. Ada tidaknya rule
of law pada suatu negara ditentukan oleh kenyataan, apakah rakyat
menikmati keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik sesama warga Negara
maupun pemerintah.
Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal juga termuat di dalam
pasal-pasal UUD 1945, yaitu Pasal 1 Ayat 3: Negara Indonesia adalah
negara hukum; Pasal 24 Ayat 1 Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan
yang merdeka untuk menyelenggaraakan peradilan guna menegakan hukum
dan keadilan; Pasal 27 Ayat 1 Segala warga Negara bersamaan kedudukanya
didalam

hokum

dan

pemerintahan,

serta

menjunjung

hukum

dan

pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya; Dalam Bab X A Tentang Hak
Asasi Manusia mulai Apsal 28 A sd 28 J yang memuat 10 pasal, antara lain
bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan
kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
(pasal 28 D ayat 1), Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat
imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja (pasal 28 D
ayat 2).
Walaupun telah ada jaminan konstitusional, namun realitas
menunjukkan, misalnya di permasalahan diskriminasi, diskriminasi
gender masih terjadi di masyarakat Indonesia. Hal ini tidak terlepas
dari stereotype dan budaya patriakhi yang dominan tidak hanya di
Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Bahkan pada saat negaranegara kawasan Asia dan Amerika Latin sudah banyak yang pernah
dipimpin oleh perempuan, negara Eropa masih jarang, bahkan di
Amerika belum pernah sama sekali.15
Berhadapan dengan realitas masih adanya diskriminasi atas
perempuan baik secara kultural maupun struktural, adalah suatu
ketidakadilan jika sekedar memberikan kesempatan yang sama
kepada perempuan dan laki-laki untuk berperan dalam berbagai
bidang kehidupan. Perempuan jelas akan tetap tertinggal karena
15

Jimly Asshiddiqie, Ideologi, Pancasila dan konstitusi, Op.Cit, Hlm.19

kemampuan dan dukungan sosial yang diperoleh kalah dibandingkan


dengan laki-laki yang sejak awal memang dominan.16
Karena itulah adalah sah dan memenuhi rasa keadilan jika terdapat
kebijakan yang berupaya mendorong peran perempuan dengan
memberikan kuota khusus (affirmative action). Hal ini secara
konstitusional dijamin dalam Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 yang
menyatakan Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan
perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang
sama guna mencapai persamaan dan keadilan.17
Selain permasalahan gender diatas, yang menjadi permasalahan
negara Indonesia adalah masih terjadinya fenomena bahwa politik itu
mengatur hukum (rule of law) itu sendiri, sehingga ini terjadi banyak
produk-produk hukum di negara ini yang bukan lagi berprinsip asas
asas keadilan di masyarakat, namun justru peraturan yang dijadikan
payung berlindung oleh penguasa penguasa yang berkepentingan di
dalam sistem tersebut. Sehingga justru yang terjadi pengadilan pada
dewasa ini adalah dijadikan instrumen kejahatan oleh para pembuat
kebijakan.
Prinsip equality before the law Sebagai perwujudan konstitusi di negara
Indonesia nyaris tidak diindahkan oleh para aparat penegak hukum, sebagai
contoh sekarang ini banyak para penguasa,keluarga penguasa yang
tersandung masalah hukum, namun yang terjadi adalah proses peradilan
kasusnya tidak sesuai dengan peraturan negara ini. Ini menunjukkan bahwa
yang kuat akan selalu di atas sedangkan yang lemah akan selalu tertindas.
Hukum di negara ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ini sangat
bertentangan dengan konstitusi.

KESIMPULAN
16
17

Ibid
Ibid

1. Konstitusi dalam bahasa latin adalah constitusio yang memiliki makna


sebagai sebuah norma pada sistem politik atau hukum yang dibentuk oleh
suatu pemerintahan negara dan biasanya telah disiapkan sebagai dokumen
tertulis.
2. Konstitusi ditegakkan untuk membentuk suatu tatanan negara yang dapat
diatur dan berlandaskan hukum.
3. Prinsip Rule of law belum sepenuhnya tercermin dalam negara
Indonesia.
4. Dalam realitas masih adanya diskriminasi atas perempuan baik
secara kultural maupun struktural, adalah suatu ketidakadilan jika
sekedar memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan
dan laki-laki untuk berperan dalam berbagai bidang kehidupan.
5. Prinsip equality before the law Sebagai perwujudan konstitusi di negara
Indonesia nyaris tidak diindahkan oleh para aparat penegak hukum.
Peraturan semakin dibuat adanya celah untuk tercapainya suatu tujuan
tertentu oleh para penguasa.
SARAN
1. Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita mengetahui serta
memahami dasar dari konstitusi kita sendiri.
2. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita harus mampu menghayati,
mewujudkan, menaati, menghormati peraturan, dasar negara terutama
pancasila.
3. Sebagai warga negara yang baik kita haruslah menjunjung tinggi hukum
dan kaidah-kaidahnya agar terselenggara keamanan, ketentraman, dan
kenyamanan. Pelajari Undang-Undang 1945 beserta nilai-nilainya dan
jalankan apa yang jadi tuntutanya agar tercipta kehidupan yang stabil.
4. Penguatan kembali prinsip Rule of law sangat diperlukan untuk Negara
Indonesia karena akan mewujudkan keadilan. Tetapi harus mengacu pada
orang yang ada di dalamnya yaitu orang-orang yang jujur tidak memihak
dan hanya memikirkan keadilan tidak terkotori hal yang buruk.

5. Sangat memenuhi rasa keadilan jika terdapat kebijakan yang


berupaya mendorong peran perempuan dengan memberikan kuota
khusus (affirmative action).
6. Prinsip equality before the law Sebagai perwujudan konstitusi di negara
Indonesia seharusnya selalu diperhatikan dan dijadikan rujukan oleh para
pembuat kebijakan untuk tercapainya keadilan yang sesungguhnya sesuai
yang diharapkan oleh rakyat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Undang-Undang Dasar Tahun 1945

2.

Nimatul Huda, 2014, Teori Konstitusi, Bahan Kuliah Program


Pascasarjana FH UNS/2014

3.

Wirjono Projodikoro, 1989, Asas-asas Hukum Tata Negara di


Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat

4.

Titik Triwulan Tutik, 2006, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara,


Jakarta: Prestasi Pustaka

5.

Jimly Asshiddiqie, Ideologi, Pancasila dan konstitusi, Mahkamah


Konstitusi
Republik
Indonesia,
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CB0QF
jAA&url=http%3A%2F%2Fwww.jimly.com%2Fmakalah%2Fnamafile
%2F3%2Fideologi__pancasila__dan_konstitusi.doc&ei=o7VIVMG2CM_r8A
XexYGQDQ&usg=AFQjCNHcGFwJEEFDqREJ3IDlyCQewl7YQ&bvm=bv.77880786,d.dGY diunduh 13 Oktober 2014, pukul
19:30

6.

Moh.
Mahfud
MD
,
Konstitusi
Negara,
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCAQF
jAA&url=http%3A%2F%2Fwww.mahfudmd.com%2Findex.php%3Fpage
%3Dweb.MakalahVisit%26id
%3D15&ei=mcBIVJeMB6GimQXA_ILIAw&usg=AFQjCNEw6gwuWr9HqIg
-8AglYQkj52Pi2w, diunduh 13 Oktober 2014, pukul 19:35

7.

Abiem
Andriana,
Makalah
Konstitusi
Negara,
http://hitamkopiku.blogspot.com/2013 diunduh 13 Oktober 2014, pukul 20:00

8.

Site
Said,
Makalah
http://saidsite.blogspot.com/2011/03/makalah-konstitusi.html
Oktober 2014, pukul 15:20

9.

Pratiwi Setya, 2012, Menemukan Karakteristik Rule Of Law


Dalam
Konstitusi
Indonesia,
http://ceklipratiwi.staff.umm.ac.id/2012/02/01/menemukan-karakteristik-therule-of-law-dalam-konstitusi-indonesia diunduh 14 Oktober 2014, pukul 15:30

Konstitusi,
diunduh
14

Anda mungkin juga menyukai