Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II


HEAT EXCHANGER

Disusun oleh :
Kelompok :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Canna Suprianofa
M. Bahrul Ullumuddin
Maria Ulfa Sri Sundari
Millahi Nursyafaah
Rena Nuryana
Rifqi Munip
Siti Nurjanah

3 / 4KD

(061330401009)
(061330401012)
(061330401014)
(061330401017)
(061330401019)
(061330401022)
(061330401025)

Dosen pembimbing : Ir. Selastia Yuliati, M.Si

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015

ABSORBSI 3
ABSORBSI CO2 DALAM LARUTAN NaOH
ANALISIS LARUTAN
1. Tujuan Percobaan
Untuk menghitung laju absorbsi CO2 terhadap larutan NaOH dengan melakukan analisa
terhadap larutan yang turun dari kolom.
2. Bahan yang digunakan

Indikator fenol ftalein

Indikator metil orange

1 liter 0,2 M HCl standar

1 liter (5% berat ) larutan BaCl2

Larutan NaOH (60% w/v)

3. Dasar Teori
Penyerapan CO2 dari dalam campuran dengan udara menggunakan larutan NaOH dapat
ditunjukdengan reaksi sebagai berikut:
CO2 +
NaOH
Na2CO3
+
H2O
Jumlah CO2 yang diserap dari aliran udara dapat dihitung dari jumlah NaOH dan
Na2CO3 pada larutan sampel dengan metode analisis yaitu titrasi. Pada teknik analisa titrasi,
asam yang pertama digunakan untuk menetralkan NaOH dan pada saat yang sama merubah
semua Natrium Karbonat menjadi Bikarbonat. Titrasi selanjutnya bertujuan untuk
menetralkan semua Bikarbonat.
Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara
pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan pelarutan.
Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-gaya fisik (pada absorpsi
fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia (pada absorpsi kimia). Komponen gas
yang dapat mengadakan ikatan kimia akan dilarutkan lebih dahulu dan juga dengan kecepatan
yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi kimia mengungguli absorpsi fisik. Kegunaan utama
dari absorpsi adalah pembersihan gas (misalnya gas buang) dan pemisahan campuran gas
(bertujuan untuk memperoleh kembali komponen tertentu). Absorpsi juga berperan penting
dalam kaitannya dengan proses-proses kimia, misalnya pada pembuatan asam sulfat dan asam
nitrat.

Absorben
Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada
permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia. Absorben sering juga disebut
sebagai cairan pencuci.

Persyaratan absorben :
Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang besar.
Memiliki tekanan uap yang rendah
Tidak korosif.
Mempunyai viskositas yang rendah
Stabil secara termis.
Murah

Absorber
Absorber atau alat tempat terjadinya absorbsi adalah tempat campuran gas dan
absorben yang dikontakkan satu sama lain secara intensif, yang biasanya berlawanan.
Absorben didistribusikan sebaik mungkin yaitu permukaannya dibuat luas dengan bantuan
perlengkapan yang khusus misalnya benda pengisi, penyemprot, benda rotasi atau pelat .

Fungsi absorpsi dalam Industri


Meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah fasenya.
Contoh :
Formalin yang berfase cair berasal dari formaldehid yang berfase gas dapat dihasilkan
melalui proses

Kolom Absorpsi
Adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsi dari zat yang
dilewatkan di kolom/tabung tersebut. Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang
terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat
fase cair dari komponen tersebut.

Gambar Kolom Absorber


Struktur dalam absorber :
Bagian atas
: Spray untuk megubah gas input menjadi fase cair.
Bagian tengah : Packed tower untuk memperluas permukaan
sehingga mudah untuk diabsorbsi
Bagian bawah : Input gas sebagai tempat masuknya gas ke dalam reaktor.

sentuh

Prinsip Kerja Kolom Absorpsi


Kolom absorbsi adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase mengalir
berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia ditransfer dari satu fase cairan ke
fase lainnya, terjadi hampir pada setiap reaktor kimia. Proses ini dapat berupa absorpsi gas,
destilasi, pelarutan yang terjadi pada semua reaksi kimia.
Campuran gas yang merupakan keluaran dari reaktor diumpankan kebawah menara
absorber. Didalam absorber terjadi kontak antar dua fasa yaitu fasa gas dan fasa cair
mengakibatkan perpindahan massa difusional dalam umpan gas dari bawah menara ke dalam
pelarut air sprayer yang diumpankan dari bagian atas menara. Peristiwa absorbsi ini terjadi
pada sebuah kolom yang berisi packing dengan dua tingkat. Keluaran dari absorber pada
tingkat I mengandung larutan dari gas yang dimasukkan tadi.

Gambar Prinsip Kerja Kolom Absorpsi

Proses pengolahan kembali pelarut dalam kolom absorber

Konfigurasi reaktor akan berbeda dan disesuaikan dengan sifat alami dari pelarut yang
digunakan. Aspek Thermodynamic (suhu dekomposisi dari pelarut), Volalitas pelarut, dan
aspek kimia/fisika seperti korosivitas, viskositas, toxisitas, saat volalitas pelarut sangat
rendah ,contohnya pelarut tidak muncul pada aliran gas, proses untuk meregenerasinya cukup
sederhana yakni dengan memanaskannya .
Aplikasi Kolom Absorber
1) Proses pembuatan asam nitrat
Tahap akhir dari proses pembuatan asam nitrat berlangsung dalam kolom absorpsi.
Pada setiap tingkat kolom terjadi reaksi oksidasi NO menjadi NO2 dan reaksi absorpsi NO2
oleh air menjadi asam nitrat. Kolom absorpsi mempunyai empat fluks masuk dan dua fluks
keluar. Empat fluks masuk yaitu air umpan absorber, udara pemutih, gas proses, dan asam
lemah. Dua fluks keluar yaitu asam nitrat produk dan gas buang. Kolom absorpsi dirancang
untuk menghasilkan asam nitrat dengan konsentrasi 60 % berat dan kandungan NOx gas
buang tidak lebih dari 200 ppm.
Aplikasi kolom absorbsi:
Teknologi Refrigerasi
Teknologi proses pembuatan formalin
Proses pembuatan asam nitrat
1

Teknologi Proses Pembuatan Formalin


Formaldehid sebagai gas input dimasukkan ke dalam reaktor. Output dari reaktor yang
berupa gas yang mempunyai suhu 182 0C didinginkan pada kondensor hingga suhu 55
0
C,dimasukkan ke dalam absorber. Keluaran dari absorber pada tingkat I mengandung larutan
formalin dengan kadar formaldehid sekitar 37 40%. Bagian terbesar dari metanol, air,dan
formaldehid dikondensasi di bawah air pendingin bagian dari menara, dan hampir semua
removal dari sisa metanol dan formaldehid dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan
counter current contact dengan air proses.

4. Langkah Kerja
a)
b)
c)
d)
e)

Mengisi bak dengan larutan NaOH 0,2 M sebanyak kapasitas bak


Menghidupkan pompa fluida dan mengatur laju alirnya 3 L/min
Menghidupakan kompressor dan mengatur laju alirnya 40 L/min
Membuka katup regulator silinder CO2 dan mengatur laju alirnya 3 L/min
Setelah 15 menit pengoperasian yang stabil, mengambil sampel dari S 4 dan
S5 dengan interval waktu 20 menit. Ambil masing-masing sampel sebanyak
100 ml dan menganalisa keduanya dengancara sebagai berikut:
Mengambil masing-masing sampel sebanyak 50 ml, menempatkan kedalam
dua erlenmeyer yang berbeda.

Erlenmeyer 1
Menambahkan indikator PP dan melakukan titrasi dengan 0,2 M HCl
standar, sehingga warna ungunya agak menghilang. Mencatat volume
HCl yang ditambahkan (T1). Kemudian menambahkan indikator
metyl orange kedalam erlenmeyer dan melanjutkan titrasi hingga titik
akhir. Mencatat volume total HCl yang ditambahkan (T2).

Erlenmeyer 2
Menambahkan larutan BaCl2 10% lebih banyak dari (T2-T1), lalu
mengoncang dengan baik sehingga terbentuk endapan.
Menambahkan 2 tetes indikator PP dan mentitrasi hingga titik akhir.
Mencatat volume HCl yang ditambahkan (T3).

5. Data Pengamatan

No

Analisis Sampel
Dari Bak (inlet)
T1

T2

T3

45,4

49

39,6

43,5

46,5

40,8

43,9

45,6

40,9

Dari bawah kolom (outlet)

Cc
0,158
4
0,163
2
0,163
6

Cn

T3

50

38,6

48

39,8

0,009
4

46,6

39

a) Mencari ml HCl
=

x % x 1000
BM
= 1,18 x 36% x 1000
36,5
= 11,638 M

M1 x V1
= M2 x V2
11,638 M x V1 = 0,2 M x 500 ml
V1
= 8,592 ml
b) Mencari Gr BaCl2

T2

0,018 43,2
8
0,0114 45

6. Perhitungan

M1

T1

43,7

Cc

Cn

0,154
4
0,159
2
0,156

0,0228
0,0164
0,0152

=
=
=
=

Gr BaCl2 / BM BaCl2
5/ BaCl2
+
95 /H2O
5 / 208,23
5/3,0979
+
95/1
0,024
1,6139 + 95
2,484 x 10-4

Gram = M V BM
= 2,484 x 10-4 x 100 x 208,23
= 5,1726 gram

c) Mencari konsentrasi NaOH pada sampel asal (Cc)


Cc = T3 / 50 x 0,2 M (grmol/liter)

Inlet (15 menit)


Cc = 39,6 / 50 x 0,2 M

= 0,1584 grmol/L

Outlet (15 menit)


Cc = 38,6 / 50 x 0,2 M

= 0,1544 grmol/L

Inlet ( 30 menit)
Cc = 40,8 / 50 x 0,2 M

= 0,1632 grmol/L

Outlet (30 menit)


Cc = 39,8 / 50 x 0,2 M

= 0,1592 grmol/L

Inlet (45 menit)


Cc = 40,9 / 50 x 0,2 M

= 0,1636 grmol/L

Outlet (45 menit)


Cc = 39 / 50 x 0,2 M

= 0,156 grmol/L

d) Mencari konsentrasi Na2CO3 pada sampel asal (Cn)

Cn = (T2 T3) / 50 x 0,2 M x 0,5


Inlet (15 menit)
Cn = (49 36,5) / 50 x 0,2 M x 0,5 = 0,0242
Outlet (15 menit)
Cn = (50 38,6) / 50 x 0,2 M x 0,5

= 0,0228

Inlet (30 menit)


Cn = (46,5 40,8)/50 x 0,2 M x 0,5 = 0,0114

Outlet (30 menit)


Cn = (48 39,8 ) /50 x 0,2 M x 0,5

= 0,0164

Inlet (45 menit)


Cn = (45,6-40,9) / 50 x 0,2 M x 0,5 = 0,0094

Outlet (45 menit)


Cn = (46,6 39) / 50 x 0,2 M x 0,5

= 0,0152

e) Banyaknya CO2 yang terserap dari campuran dengan udara


CO2 yang terserap
Dimana F1

= Liquid flow rate (F1) [ (Cn)o (Cn)i]


= F1 [(Cc)i (Cc)o]
= 3 L/ menit x 1/60 L/ sekon = 0,05 L/sekon

Pada waktu 15 menit


GCn= 0,05 L/s x [(0,0228 0,0188)] = 4 x 10-5 grmol/sec
GCc = x 0,05 L/s x [0,1584 0,1544)
= 9 x 10-5 grmol/sec

Pada waktu 30 menit


GCn= 0,05 L/s x [(0,0164 0,0144)] = 2,5 x 10-4 grmol/sec
GCc= x 0,05 L/s x [0,1632 0,1592)
= 1 x 10-4 grmol/sec

Pada waktu 45 menit


GCn= 0,05 L/s x [(0,0152 0,0094)] = 5,8 x 10-3 grmol/sec
GCc= x 0,05 L/s x [0,1636 0,156)
= 1,9 x 10-4 grmol/sec

7. Analisa Percobaan
Berdasarkan praktikum kali ini dapat dianalisa bahwa absorbsi merupakan salah satu
operasi pemisahan dalam industri kimia dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan
suatu cairan penyerap yang sesuai. Dalam praktikum ini digunakan gas Co 2 sebagai absrobat
dan larutan NaOH sebagai absorben.
Absorbsi yang dilakukan menggunakan larutan NaOH yang dialirkan kedalam
kolom yang dilengkapi dengan packing. Hal ini bertujuan untuk memperluas kontak antara
NaOH dan CO2 sehingga didapatkan proses absorbsi yang optimal. NaOH mengalir dari
bagian atas dan CO2 dari bagian bawah. Hal ini dikarenakan NaOH memiliki berat jenis yang
lebih besar dari pada CO2 dan juga dikarenakan sifat alaminya, dimana cairan lebih mudah
mengalir kearah bawah mengikuti gaya gravitasi bumi. Sedangkan gas akan bergerak keatas
seperti menguap. Aliran ini ditunjukkan agar kontak dapat terjadi antara cairan dan gas.
15 menit pertama proses absorbsi diambil sebagai sampel 1, dimana masing-masing
sampel terdiri dari bagian inlet dan outlet, masing-masing diambil 100 ml dan dibagi menjadi
50 ml untuk satu erlenmeyer. Erlenmeyer pertama ditambahkan dengan 2 tetes indikator PP
dan warnanya berubah menjadi keunguan, kemudian dititrasi dengan 0,2 M HCl sebanyak
45,4 ml dan cairan akan menjadi bening (warna ungunya menghilang), kemudian ditambah
dengan 1 tetes indic metyl orange, dan warna larutan berubah menjadi orange, lalu dititrasi
dengan HCl sebanyak 49 ml larutan akan menjadi berwarna pink. Hal yang sama dilakukan
seperti pada bagian outlet, dimana diambil sampel NaOH sebanyak 100 ml dan dibagi
menjadi 50 ml untuk dua erlenmeyer. Erlemneyer pertama yang ditambah dengan indic pp
menghasilkan volume titran 43,2 ml dan setelah ditambah indic Methyl orange menghasilkan
volume titran 50 ml. Pada erlemeyer kedua, terlebih dahulu ditambah larutan BaCl 2 sebanyak
10 ml hal ini dilakukan agar terdapat endapan, kemudian ditambah dengan 2 tetes indic PP
dan ditirasi dengan 0,2 M HCl dan menghasilkan volume titran sebanyak 38,6 ml.
30 menit pertama proses absorbsi diambil sebagai sampel 2, dimana masing-masing
sampel terdiri dari bagian inlet dan outlet, masing-masing diambil 100 ml dan dibagi menjadi
50 ml untuk satu erlenmeyer. Erlenmeyer pertama ditambahkan dengan 2 tetes indikator PP
dan warnanya berubah menjadi keunguan, kemudian dititrasi dengan 0,2 M HCl sebanyak

43,5 ml dan cairan akan menjadi bening (warna ungunya menghilang), kemudian ditambah
dengan 1 tetes indic metyl orange, dan warna larutan berubah menjadi orange, lalu dititrasi
dengan HCl sebanyak 46,5 ml larutan akan menjadi berwarna pink. Hal yang sama dilakukan
seperti pada bagian outlet, dimana diambil sampel NaOH sebanyak 100 ml dan dibagi
menjadi 50 ml untuk dua erlenmeyer. Erlemneyer pertama yang ditambah dengan indic pp
menghasilkan volume titran 45 ml dan setelah ditambah indic Methyl orange menghasilkan
volume titran 48 ml. Pada erlemeyer kedua, terlebih dahulu ditambah larutan BaCl 2 sebanyak
10 ml hal ini dilakukan agar terdapat endapan, kemudian ditambah dengan 2 tetes indic PP
dan ditirasi dengan 0,2 M HCl dan menghasilkan volume titran sebanyak 39,8 ml.
45 menit pertama proses absorbsi diambil sebagai sampel 3, dimana masing-masing
sampel terdiri dari bagian inlet dan outlet, masing-masing diambil 100 ml dan dibagi menjadi
50 ml untuk satu erlenmeyer. Erlenmeyer pertama ditambahkan dengan 2 tetes indikator PP
dan warnanya berubah menjadi keunguan, kemudian dititrasi dengan 0,2 M HCl sebanyak
43,9 ml dan cairan akan menjadi bening (warna ungunya menghilang), kemudian ditambah
dengan 1 tetes indic metyl orange, dan warna larutan berubah menjadi orange, lalu dititrasi
dengan HCl sebanyak 45,6 ml larutan akan menjadi berwarna pink. Hal yang sama dilakukan
seperti pada bagian outlet, dimana diambil sampel NaOH sebanyak 100 ml dan dibagi
menjadi 50 ml untuk dua erlenmeyer. Erlemneyer pertama yang ditambah dengan indic pp
menghasilkan volume titran 43,7 ml dan setelah ditambah indic Methyl orange menghasilkan
volume titran 46,6 ml. Pada erlemeyer kedua, terlebih dahulu ditambah larutan BaCl 2
sebanyak 10 ml hal ini dilakukan agar terdapat endapan, kemudian ditambah dengan 2 tetes
indic PP dan ditirasi dengan 0,2 M HCl dan menghasilkan volume titran sebanyak 39 ml.

8. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa:
a) Absorbsi merupakan proses pencampuran antara cairan dan gas yang terjadi
didalam menara absorbsi
b) Absorbat yang digunakan adalah CO2 dan absorben yang digunakan adalah
NaOH, serata cairan titran yang digunakan adalah 0,2 M HCl standar.
c) Banyaknya CO2 yang terserap dari campuran dengan udara
- Pada waktu 15 menit
GCn = 4 x 10-5 grmol/sec ; GCc = 9 x 10-5 grmol/sec
- Pada waktu 30 menit
GCn= 2,5 x 10-4 grmol/sec ; GCc= 1 x 10-4 grmol/sec
- Pada waktu 45 menit
GCn= 5,8 x 10-3 grmol/sec ; GCc= 1,9 x 10-4 grmol/sec

9. Daftar Pustaka

Jobsheet. 2015. Penuntun praktikum satuan operasi 2 absorbsi CO 2 dalam larutan


NaOH. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang

10. Gambar Alat

Erlenmeyer

Gelas kimia

buret

gelas ukur

Pipet tetes

Neraca analitik

pipet ukur

bola karet