Anda di halaman 1dari 7

KORELASI MORFOLOGI ABNORMALITAS PRIMER SPERMATOZOA TERHADAP UMUR PADA BEBERAPA BANGSA SAPI POTONG

CORRELATION BETWEEN SPERM MORPHOLOGY PRI MARY ABNORMALITY OF BULLS AT SEVERAL BREEDS OF BEEF CATTLE WITH AGE S

Muhammad Riyadhi 1 , R. Iis Arifiantini 2 , Bambang Purwantara 2

1 Program Studi Produksi Ternak Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNLAM Jl. Jend. A. Yani Km.36 PO Box 1028 Banjarbaru 70714

2 Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Darmaga, Bogor 16680

ABSTRACT

Morphologically abnormal sperm in semen have been a ssociated with age and sterility for many years. This study assessed the sperm primary abnormality of beef cattle bull semen which was collected from several Artificial Insemination (AI) centers in Indonesia. Total of 101 bulls were used in this study; an ejaculate from each bull was examined. Three to four glass slides were prepared for each bull sample; a drop of semen was placed on each glass slide, smeared, and air -dried. The smeared samples were stained w ith carbolfuchsin- eosin (Williams stain). Morphological abnormality types were recorded from total of 500 spermatozoa. Results demonstrated that all 80 bulls in Simmental and Limousine ages more than nine year had higher sperm abnormality (>7.49%), while i n 21 bulls Brahman and Bali ages more than nine year was the lowest

(2.35-2.60%).

Key word : Sperm morphology, beef cattle, Artificial Insemination centers .

ABSTRACT

Morfologi abnormalitas spermatozoa telah lama diketahui berhubungan erat dengan peningkatan umur dan sterilitas. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati abnormalitas primer spermatozoa pada beberapa bangsa sapi potong yang berasal dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Indonesia. Total pejantan sapi potong yang diamati sebanyak 101 ekor, dimana pengamatan dilakukan dengan mengamati setiap ejakulat yang dihasilkan dari setiap pejantan. Sebanyak satu tetes semen dari hasil ejakulasi pejantan ditempatkan diatas tiga sampai empat objek gelas, selanjutnya dibuat preparat ulas. Preparat ulas yang dihasilkan selanjutnya diberi pewarnaan dengan menggunakan Teknik pewarnaan Williams dan abnormalitas spermatozoa selanjutnya dihitung dari total 500 sel spermatozoa dengan menggunakan mikroskop cahaya. Hasil penelitian memperlihatkan dari 80 pejantan sapi Simental dan Limousin yang berumur lebih dari 9 tahun mempunyai abnormalitas spermatozoa lebih tinggi (>7.49%), sementara pada 21 pejantan sapi Brahman dan Bali ditemukan lebih rendah (2.35 -2.60%).

Kata Kunci : Abnormalitas primer spermatozoa , Sapi potong, Balai Inseminasi Buatan.

PENDAHULUAN

Balai Inseminasi Buatan (BIB) adalah suatu balai yang bertugas untuk menyediakan bibit sapi jantan, khususnya semen beku untuk memenuhi kebutuhan dinas-dinas Peternakan di Seluruh Indonesia. Menurut Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal (Dirjen) Peternakan saat ini yang resmi tercatat ada 2 BIB berskala nasional dan 15 BIBD berskala lokal. Selain untuk menghasilkan bibit pejantan sapi potong yang baik BIB juga harus melaksanakan proses seleksi agar sem en beku yang diproduksi dan diedarkan mempunyai kualitas yang baik. Untuk mengetahui potensi seekor sapi jantan, telah dikembangkan suatu metode yang disebut breeding soundness evaluation (BSE). Di luar negeri BSE telah dilakukan pada berbagai ternak diantaranya pada domba ( Bagley, 2009), Babi

(Shipley, 1999), dan kuda (Griffin, 2000). Pada sapi, BSE telah dilakukan pada pejantan sapi potong dan perah (Spitzer, 2000) dan telah digunakan diberbagai negara diantaranya di Australia utara (Fitzpatrick et al. 2002), di Belgia dan Belanda (Hoflack et al., 2006). Menurut Alexander (2008) BSE atau disebut juga BBSE (bull breeding soundness evaluation ) mudah dilakukan dan relative tidak mahal serta saat berguna untuk peternakan. Saat ini Society for Theriogenology (SFT) menggunakan standar BBSE yang diadopsi pada tahun 1993, dimana seekor pejantan harus memenuhi minimum standar 4 katagori yaitu organ reproduksi umum, index lingkar skrotum (scrotal circumference indexed ) sesuai umurnya, motilitas spermato zoa dan morfologi spermatozoa.

Volume 19 Nomor 2 Agustus 2012

79

Disamping standar yang telah ditetapkan, pengaruh peningkatan umur pada seekor pejantan juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan pejantan dengan umur yang semakin tua akan mengalami degenerasi pada sel-sel tubuh, termasuk pada organ reproduksi. Penelitian sebelumnya oleh Söderquist et al. (1996) menyatakan bahwa terdapat pengaruh umur yang sangat signifikan terhadap abnormalitas spermatozoa. Pelaksanaan BSE di BIB Indonesia telah dilakukan, meliputi pengukuran lingkar skrotum dan pemeriksaan kesehatan, akan tetapi untuk analisis semen dilakukan masih sebatas pemeriksaan konsentrasi dan motilitas (pergerakan sperma), sedangkan morfologi (normalitas dan abnormalitas) spermatozoa masih belum dilak ukan. Berbagai kajian yang berhubungan dengan morfologi (abnormalitas) spermatozoa telah banyak dilaporkan (Barth dan Oko, 1989; Ax et al., 2000), yakni pada pejantan sapi potong dan perah (Soderquist et al., 1996; Sarder, 2004; Rocha et al., 2006, Makhzoomi et al., 2007, Freneau et al., 2009), kuda (Morrell et al., 2008) dan ruminansia kecil ( capricornis sumatraensis) (Suwanpugdee et al., 2009). Determinasi abnormalitas spermatozoa berbeda - beda diantara peneliti maupun laboratorium. Menurut Chenoweth (2005), abnormalitas spermatozoa terbagi dalam dua katagori, yakni berdasarkan sekuen proses pembentukan spermatozoa (primer dan sekunder) dan berdasarkan dampaknya bagi fertilitas. Katagori kerusakan spermatozoa bersifat primer adalah yang terjadi pada saat spermatogenesis, sedangkan sekunder jika kejadiannya setelah spermiasi. Pengelompokkan kelainan mayor dan minor didasarkan pada dampaknya terhadap fertilitas jantan tersebut. Kelainan mayor akan berdampak besar pada fertilitas, sebalikn ya kelainan yang bersifat minor dampaknya kecil pada fertilitas. Sementara itu Ax et al. (2000) mengelompokkan abnormalitas spermatozoa ke dalam tiga katagori, yaitu primer (mempunyai hubungan erat dengan kepala spermatozoa dan akrosom), sekunder (keberadaan droplet pada bagian tengah ekor) dan tersier (kerusakan pada ekor). McPeake dan Pennington (2009), mengelompokkan abnormalitas dalam dua katagori, yaitu primer (yang meliputi abnormalitas kepala dan bentuk midpiece, abnormalitas midpiece dan tightly coiled tails) dan sekunder (kepala normal yang terputus, droplet dan ekor yang membengkok). Pada beberapa negara maju seperti Amerika, Swedia dan Belanda, pengamatan morfologi merupakan salah satu faktor penghitungan dalam pelaksanaan pengenceran semen untuk tujuan pembuatan semen cair dan semen beku (Arifiantini et al., 2006). Hal ini dikarenakan, abnormalitas spermatozoa mempunyai hubungan dengan kemampuan membuahi sel telur dari betina. Menurut Ax et al. (2000) bahwa tingginya

abnormalitas spermatozoa yang melebihi 20% dapat menurunkan fertilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan morfologi spermatozoa abnormal pada berbagai pejantan sapi potong yang terdapat di beberapa balai inseminasi buatan (BIB) di Indonesia.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan, pewarnaan dan pengamatan sampel dimulai pada bulan Juli sampai Oktober 2009. Data dikelompokkan berdasarkan bangsa sapi dan umur (2, 3, 4, 5, 6, >9 tahun). Sampel penelitian dikoleksi dari 14 BIB/BIBD di Indonesia. Sampel dikirim menggunakan angkutan udara. Pewarnaan dan pengamatan terhadap sampel dilakukan di Laboratorium Unit Rehabilitasi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Parameter pengamatan pada penelitian ini adalah abnormalitas spermatozoa primer.

Metode Penelitian

Pengambilan sampel preparat ulas semen segar dilakukan oleh teknisi pada masing -masing BIB, dan selanjutnya sampel dikirimkan kepada peneliti. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan protokol yang diberikan, dengan cara meletakan setetes semen diatas objek gelas pertama. Selanjutnya empat tetes NaCl fisiologis diteteskan diatas objek gelas dan dihomogenkan dengan menggunakan stik. Dengan menggunakan objek gelas kedua, sudut-sudut objek gelas tersebut ditempelkan pada campuran semen -NaCl dan ditempatkan pada permukaan objek gelas ketiga dan dibuat usapan (smear) tipis. Usapan yang telah terbentuk selanjutnya dikering udarakan, diberi kode pejantan dan ditempatkan pada kotak objek gelas. Sampel yang telah dikirimkan selanjutnya diwarnai dengan carbolfluchsin-eosin berdasarkan metode Williams yang dikembangkan pada tahun 1920 dan dimodifikasi oleh Lagerlof tahun 1934 (Kavak et al., 2004). Protokol pewarnaan Williams dilakukan sebagai ber ikut : preparat sampel ulas semen segar yang dikirim dari BIB/BIBD difiksasi menggunakan bunsen, dicuci dengan alkohol absolut selama 4 menit, selanjutnya dikering udarakan. Setelah itu preparat dimasukkan ke dalam larutan chloramin 0.5% selama 2 menit, sampai mukus (lendir) hilang dan ulasan terlihat jernih. Berikutnya preparat dicuci dengan distilled water, alkohol 95% dan diwarnai dengan larutan Williams selama 8-10 menit. Tahap akhir preparat dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan. Morfologi spermatozoa diamati dengan cara melihat kelainan bentuk kepala spermatozoa dan menghitung jumlah spermatozoa sebanyak 500 sel dengan pembesaran 400x. Selanjutnya semua jenis abnormalitas spermatozoa yang ditemukan dicatat

80

ISSN 0854-2333

dan diklasifikasikan. Pengklasfika sian jenis abnormalitas spermatozoa primer dilakukan berdasarkan temuan yang didapat pada waktu pengamatan.

Analisis Data.

Data abnormalitas diolah menggunakan analisis sidik ragam dengan software Minitab versi 14.0. Data disajikan dalam bentuk rataan d an simpangan baku.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Abnormalitas Primer Spermatozoa

Berdasarkan pengelompokkan yang dilakukan oleh Ax et al. (2000), maka abnormalitas spermatozoa primer, yaitu abnormalitas yang mempunyai hubungan erat dengan kepala spermatozoa dan akrosom, pada penelitian ini ditemukan 13 jenis kelainan yaitu pearshape atau narrow at the base, narrow (tapered head), abnormal contour, undeveloped, round head, variable size (macrocephalus/microcephalus), double head, abaxial, knobbed acrosome (KA) defect, detached head, dan diadem (gambar 1).

a
a
d
d
g
g
b
b
e
e
h
h
c
c
f
f
i
i

Gambar 1 Bentuk normal dan abnormalitas primer spermatozoa (Pewarnaan Williams)

a) Bentuk sperma

normal, b) Pearshap/Narrow at the base, c) Abnormal contour, d) Undeveloped e) Round head,

f) Microsephalus dengan KA defect, g) Abaxial, h) knobbed acrosome (KA) defect, i) Detached head

Figure 1. Normal spermatozoa and spermatozoa with primer abnormality defects (Williams stain) )

a)

normal head, b) Pearshap/Narrow at the base, c) Abnormal contour, d) Undeveloped e) Round

head, f) Microsephalus dengan KA defect, g) Abaxial, h) knobbed acrosome (KA) defect, i) Detached head

Bentuk kepala pearshape atau pyriform dalam Barth et al. (1992) disebut juga narrow at the base. Bentuk pearshape dibedakan dengan kelainan yang berbentuk seperti buah pear di mana daerah akrosom (anterior) tampak penuh berisi kromatin atau membesar, sedangkan post acrosome sempit sedikit memanjang dengan batas jelas antara daerah anterior dan posterior. Pada penelitian ini tanpa melihat bangsa sapi ditemukan abnormalitas pearshape sebesar 2.21%. Penelitian yang dilakukan oleh Sarder (2004) terhadap enam kelompok bangsa sapi menemukan

tingkat abnormalitas pearshape lebih rendah dari hasil penelitian ini yaitu hanya 0.79%. Menurut Barth et al. (1992) kelainan pearshape atau narrow at the base ini biasa ditemukan pada semen seekor pejantan sapi dengan jumlah yang bervariasi dan tidak mempengaruhi fertilitas sepanjang derajat penyimpitan yang tidak terlalu parah. Sebelumnya Barth dan Oko (1989) juga melaporkan kelainan pearshape dalam jumlah yang tinggi dapat menurunkan fertilitas. Kelainan ini bersifat genetik, hal ini terbukti sapi jantan keturunan dari tetua dengan tingkat abnormalitas pearshape yang tinggi memperlihatkan gambaran semen yang sama dengan tetuanya (Barth & Oko 1989). Abnormal contour dan undeveloped. Kedua istilah ini oleh Barth dan Oko (1989) disebut teratoid spermatozoa yaitu spermatozoa yang mengalami aberasi struktur ya ng menyebabkan spermatozoa tidak dapat melakukan fungsinya dalam fertilisasi. Abnormal contour merupakan kelainan bentuk spermatozoa yang secara keseluruhan tidak normal, baik pada bagian kepala maupun ekor. Sedangkan undeveloped merupakan spermatozoa yang tidak mengalami perkembangan sehingga dapat berbentuk kecil, ekor pendek dan dengan pemeriksaan lanjut diperoleh bahwa sel tersebut tidak disusun oleh materi genetik yang lengkap (Barth & Oko 1989). Pada penelitian ini abnormalitas bentuk abnormal contour dan undeveloped ditemukan sebesar 0.13 % dan 0.16%. Laporan sebelumnya menyatakan bahwa bentuk abnormal contour ditemukan sebesar 0.3% (Al-Makhzoomi et al. 2008), dan abnormalitas bentuk undeveloped sebesar 0.13% (Sarder 2004) sampai dengan 0.7% (Al-Makhzoomi et al. 2008). Besarnya variasi abnormalitas teratoid spermatozoa dipengaruhi oleh genetik, dimana hal ini didasarkan oleh penelitian yang dilakukan Barth dan Oko (1989) pada sapi Charolais dengan tingkat teratoid dari 1-

2,5 x 10

kecelakaan, penyakit dan stress. Round head adalah abnormalitas pada kepala spermatozoa, dimana kepala spermatozoa berbentuk bulat tanpa ada batas akrosom. Menurut Chenoweth (2005) kebanyakan k epala spermatozoa mempunyai kantung tanpa disertai pembentukkan akrosom. Pada penelitian ini abnormalitas round head ditemukan sebesar 0.07%. Abnormalitas round head jarang dilaporkan pada pejantan sapi

6

per ml semen, tanpa ada latar belakang

(Chenoweth 2005), tetapi sering ditemukan pada spermatozoa manusia (Jones et al. 2003). Variable size, merupakan istilah untuk abnormalitas pada spermatozoa memiliki ukuran kepala lebih besar (macrocephalus) atau lebih kecil (microcephalus) dari ukuran normal spermatozoa umumnya pada spesies tersebut. Pa da penelitian ini abnormalitas bentuk macrocephalus dan microcephalus ditemukan masing-masing sebesar 0.03% dan 0.12%. Penelitian sebelumnya oleh Al - Makhzoomi et al. (2008) menemukan abnormalitas variable size sebesar 1.4%. Menurut Barth dan Oko (1989) u kuran kepala spermatozoa yang lebih kecil atau lebih besar dari ukuran normal akan mempengaruhi kandungan kromosom inti pada kepala, sehingga dapat lebih sedikit atau lebih banyak dibandingkan normal, dimana selanjutnya akan menyebabkan tidak terdapat atau berlebihnya kromosom. Tinggi rendahnya kejadian abnormalitas variable size dipengaruhi oleh genetik, dimana tingkat abnormalitas macrocephalus pada khususnya, ditemukan lebih tinggi pada sapi -sapi inbreeding dibandingkan persilangan (Salisbury & Baker 1 966). Double head adalah kejadian dimana kepala spermatozoa memiliki dua kepala dengan satu ekor. Kedua kepala tersebut dapat berukuran serupa atau berbeda. Pada penelitian ini tingkat kejadian double head ditemukan paling sedikit dari abnormalitas jenis lainnya, yaitu sebesar 0.01%. Kejadian ini pernah dilaporkan pada babi yang menderita demam (pyrexia) (Kojima 1973). Penyebab utama kejadian ini adalah abnormalitas pada saat proses miosis spermatogenesis (Zukerman et al. 1986). Abaxial merupakan bentuk abnormalitas dimana posisi ekor spermatozoa tidak terletak dibagian tengah. Ekor yang seharusnya terletak menempel pada bagian tengah kepala, bergeser ke arah samping dengan membentuk fosa implantasi baru sebagai tempat pertautan ekor. Pada penelitian yang dilakukan, abnormalitas abaxial ditemukan sebesar 0.13%. Menurut Barth (1989) abnormalitas abaxial merupakan gambaran normal yang biasa ditemukan pada semen kuda dan babi, cenderung bersifat genetik, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap fertilitas (Barth & Oko 1989), sehingga dikatagorikan sebagai suatu bentuk variasi dari spermatozoa normal pada sapi (Barth 1989). Knobbed acrosome (KA) defect. merupakan kelainan yang terjadi pada bagian akrosom spermatozoa, dimana bentuk kepala tidak mulus tetapi seperti ada lekukan ke arah dalam atau ke arah luar. Barth (1986) pernah melaporkan persentase KA defect yang sangat tinggi yaitu 25 - 100% pada 16 dari 2054 ekor sapi potong serta pada bangsa Charolais. Sebelumnya Donald dan Hancock (1953) melaporkan bahw a KA defect yang tinggi pada FH berhubungan erat dengan autosomal seks resesif. Kelainan ini disebabkan oleh berlebihnya matriks akrosomal dan pelipatan bagian akrosom sampai ke

82

ISSN 0854-2333

bagian apeks dari kepala spermatozoa dan kejadian disebabkan keterlambatan p embentukkan fase akrosomal saat spermiogenesis (Barth & Oko 1989). Pada penelitian ini, abnormalitas KA defect ditemukan sebesar 0.15%, angka ini hampir sama dengan yang ditemukan pada sapi perah Swedia yaitu 0.2% (Al-Makhzoomi et al. 2008) tetapi lebih rendah dari laporan Söderquist et al. (1996) sebesar 0.8% pada jenis sapi yang sama . Menurut Chenoweth (2005) peningkatan KA defect pada semen sapi pejantan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Detached head adalah keadaan dimana kepala spermatozoa patah atau sampai terlepas dari bagian leher dan ekor. Pada penelitian ini abnormalitas detached head sebesar 0.02%. Penelitian yang dilakukan oleh Söderquist et al. (1996) pada sapi perah Swedia melaporkan jumlah yang lebih tinggi, yaitu 1.6%. Kejadian detached head biasanya dihubungkan dengan hipoplasia testikular, akan tetapi apabila ditemukan dalam jumlah tinggi dapat disebabkan pengaruh genetik (B arth & Oko 1989). Diadem merupakan jenis abnormalitas spermatozoa dimana terlihat seperti ada lubang- lubang yang ditemukan di daerah nukleus posterior sampai apikal akrosom, batas selubung acrosome atau diseluruh kepala spermatozoa, akan tetapi lebih sering terdapat pada bagian apeks nukleus yang disebabkan invaginasi membran nuklear ke dalam nukleoplasma. Lubang tersebut juga terlihat sebagai sebuah kantung, sehingga beberapa peneliti menamakan diadem dengan pouches, craters dan nuclear vacuoles (Barth & Oko 1989). Pada penelitian ini, abnormalitas diadem ditemukan sebesar 0.18%. Hasil ini hamp ir sama dengan yang ditemukan pada sapi perah Swedia yaitu sebesar 0.1% sampai dengan 0.2% (Söderquist et al. 1996; Al-Makhzoomi et al. 2008). Menurut Barth dan Oko (1989) jumlah

spermatozoa dengan kelainan diadem ini dapat meningkat akibat stress karena cedera, kekurangan pakan, kondisi iklim yang ekstrim, serta beberapa kondisi lain yang tidak mendukung. Abnormalitas jenis diadem cenderung menyebabkan infertilitas, pejantan yang mempunyai fertilitas yang rendah ternyata pada semennya ditemukan abnormalitas diadem >80% (Miller et al. 1982). Menurut Dada et al. (2001), abnormalitas spermatozoa akan menyebabkan terjadinya gangguan terhadap proses pembuahan. Ada dua kemungkinan yang terjadi terhadap kemampuan fertilitas seekor pejantan dengan persentase abnormalitas spermatozoa yang tinggi, pertama spermatozoa tidak dapat mencapai tempat fertilisasi dan kedua spermatozoa tidak dapat membuahi sel telur atau mempertahankan perkembangan tahap awal embrio (Chenoweth 2005 ). Selain itu ditemukan juga beberapa abnormalitas primer spermatozoa yang apabila ditemukan tinggi di dalam semen akan dapat menurunkan fertilitas, akan tetapi abnormalitas morfologi spermatozoa dan fertilitas berbeda-beda antar bangsa (Al-Makhzoomi et al.

2007).

Karakteristik Abnormalitas Primer Spermatozoa Pada Sapi Potong Berdasarkan Umur Sapi

Berdasarkan bangsa sapi potong dan sebaran umur dari kelompok sapi dengan jumlah sampel lebih dari 10 ekor, ternyata tingkat abnormalitas primer spermatozoa tert inggi ditemukan pada sapi- sapi yang berumur sembilan tahun ke atas yaitu pada sapi Simmental, Limousine dan Bali berturut - turut adalah 7.93, 7.49 dan 2.35%, sedangkan pada sapi Brahman ditemukan pada umur dua tahun (3.30%). Tetapi ditemukan juga tingkat abnormalitas primer spermatozoa >10% pada umur kurang dari sembilan tahun ( tabel 1).

Tabel 1. Tingkat abnormalitas primer spermatozoa empat bangsa sapi potong berdasarkan sebaran umur Table 1 Primary sperm abnormality levels of fourth beef cattle breeds in associated with age

Bangsa

Umur

Jumlah

Abnormalitas

(Range %)

(tahun)

(ekor)

(mean± SEM

(%))

Simmental

2

15

2.76±0.49 c

1.0-7.4

3

12

3.52±0.76 bc

1.0-10.8

4

6

5.33±1.65 abc

1.6-13.8

5

9

5.87±1.37 abc

2.0-14.4

6

7

6.20±2.03 ab

1.0-15.6

≥9

9

7.93±1.08 a

4.2-13.4

Limousine

3

11

2.51±0.58 b

0.6-5.6

4

4

1.15±0.45 b

0.4-2.4

≥9

7

7.49±1.97 a

2.6-16.8

Brahman

2

2

3.30±1.70 a

1.6-5.0

6

2

1.50±0.10 a

1.4 -1.6

≥9

3

2.60±0.12 a

2.4–2.8

Bali

3

4

1.40±0.74 a

0.4-3.6

4

2

1.20±0.40 a

0.8-1.6

6

4

1.30±0.17 a

1.0-1.8

≥9

4

2.35±0.46 a

1.2-3.4

Huruf berbeda mengikuti angka pada lajur yang sama berbeda nyata (P<0.05)

Volume 19 Nomor 2 Agustus 2012

83

Tingkat abnormalitas primer spermatozoa sapi Simmental yang berumur ≥9 tahun berbeda nyata (p<0.05) dengan umur 2 -3 tahun tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan umur 4 -6 tahun. Akan tetapi tingkat abnormalitas primer spermatozoa yang berumur ≥9 tahun masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan 4 -6 tahun. Pada sapi Limousine berumur ≥9 tahun, tingkat abnormalitas primer spermatozoa berbeda nyata (p<0.05) dengan umur 3 -4 tahun. Pada sapi Brahman umur 2, 6 dan 9 tahun keatas serta Bali yang berumur 3, 4, 6 dan 9 tahun keatas, masing - masing tidak berbeda nyata (p> 0.05). Tingginya abnormalitas primer spermatozoa pada sapi-sapi Simmental, dan Limousine yang berumur ≥9 tahun dapat dipengaruhi oleh terjadinya degenerasi sel pada saluran reproduksi jantan karena pengaruh penuaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dowsett dan Knott (1996) melaporkan terjadinya peningkatan abnormalitas spermatozoa pada kuda berumur >11 tahun yang disebabkan oleh berkurangnya kemampuan proses spermatogenesis dan fungsi epididimis. Pernyataan ini diperkuat oleh Söderquist et al. (1996) bahwa terdapat pengaruh umur yang sangat signifikan terhadap abnormalitas primer spermatozoa dan total abnormalitas spermatozoa. Al -Makhzoomi et al. (2007) menyatakan bahwa tingkat abnormalitas primer spermatozoa >10% akan dapat berpengaruh terhadap fertilitas. Oleh karena itu sangat tepat jika batasan umur penggunaan pejantan untuk produksi semen beku di Indonesia telah ditetapkan antara umur 6-7 tahun (Dirjennak 2007). Tidak ditemukannya perbedaan yang nyata abnormalitas primer spermatozoa pada sa pi Brahman dan sapi Bali mungkin dipengaruhi oleh jumlah sampel yang diamati pada masing -masing umur sapi-sapi tersebut. Pada penelitian ini tingginya abnormalitas primer spermatozoa yang ditemukan pada sapi Brahman berumur dua tahun mungkin dipengaruhi ol eh sedikitnya jumlah sampel pada sapi Brahman tersebut. Jumlah sampel pada masing -masing umur berkisar antara 2-3 ekor. Ditemukannya tingkat abnormalitas primer spermatozoa yang tinggi pada pejantan umur produksi 3-5 tahun telah diprediksi sebelumnya., hal ini dikarenakan sapi-sapi pejantan yang terdapat di BIB, hampir tidak dilakukan evaluasi abnormalitas spermatozoa sebelumnya. Adanya pengaruh genetik, lingkungan dan manajemen pemeliharaan, memungkinkan abnormalitas spermatozoa dapat ditemukan pada umur yang lebih muda. Kejadian abnormalitas spermatozoa juga tidak berhubungan dengan penampilan kesehatan secara umum, sehingga tidak mudah dideteksi tanpa melalui analisis semen di laboratorium. Penelitian yang dilakukan oleh Miller et al. (1982) menemukan bahwa tingginya abnormalitas spermatozoa terkadang tidak ditunjukkan oleh adanya perubahan anatomi atau gangguan fungsional organ

reproduksi, akan tetapi menunjukkan tingkat fertilitas yang rendah.

SIMPULAN

1. Terdapat 13 jenis abnormalitas primer yang ditemukan pada sapi potong

2. Secara umum abnormalitas spermatozoa primer bersifat genetik

3. Pada sapi Simmental dan Limousin ada kecenderungan peningkatan umur berpengaruh terhadap tingkat abnormlitas spermatozoa, akan tetapi pada sapi Brahman dan Bali tidak t erlihat kecenderungan tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Alexander,

J.H.

2008.

Bull

breeding

soundness

evaluation:

A

practitioner’s

perspective.

Theriogenology 70:469–472

Al-Makhzoomi, A., N. Lundeheim., M. Haard., & H. Rodriguez-Martinez. 2007. Sperm morphology and fertility of progeny-tested AI Swedish dairy bull. J of Anim and Vet Advances 8: 975-980.

Al-Makhzoomi A, N. Lundeheim., M. Haard., & H. Rodriguez-Martinez. 2008. Sperm morphology and fertility of progeny-tested AI dairy bull in Sweden. Theriogenology 70: 682-691.

In Page:

Ax

Hafez, E.S.E & B. Hafez, editor. Reproduction in Farm Animal. Ed. Ke -2 . USA: Lippincot Wiliams dan Wilkins.

RL et al. 2000.

Semen Evaluation.

Bagley,

C.V.

2009.

Breeding

soundness

examination

of

rams

cooperative

extension

work

Utah

State

University.

Barth, A.D. 1986. The knobbed acrosome defect in beef bulls: case report. Can Vet J 27 (10):379-

384

Barth, A.D. 1989.

Abaxial tail attachment of bovine

spermatozoa and its effect on fertility. Can Vet J 30:656-662

Abnormal

morphology of bovine spermatozoa . Iowa:

Iowa State University Press.

Barth,

A.D.,

&

R.J.

Oko.

1989.

Barth,

A.D.,

P.A.

Bowman,

G.A.

Bo,

&

R.J.

Mapletoft. 1992. Effect of narrow sperm head shape on fertility in cattle. Can Vet J 33:31-39

Chenoweth, P.J. 2005. Genetic Sperm Defect. Theriogenology 64: 457-468

Dada,

R.,

N.P.

Gupta,

&

K.

Kucheria.

2001.

Deterioration

of

sperm

morphology

in

men

exposed to high temperature. J Anat Soc India

50:107-111

84

ISSN 0854-2333

[Dirjennak]

Direktorat

Jenderal

Peternakan,

Miller,

D.M.,

F.

Hrudka,

W.F.

Cates,

&

R.J.

Departemen Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis

Mapletoft.

1982.

Infertility in

a

bull with

a

Produksi dan

Distribusi Semen Beku.

nuclear

sperm

defect;

A

case

report.

Departemen Pertanian.

[Dirjennak] Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. 2008. Road Map Perbibitan Ternak. Departemen Pertanian.

Donald, H.P., & J.L. Hancock. 1953.

Evidence of a

gene-controlled sterility in bulls. J Agric Sci

(Camb) 43: 178.

Dowsett, K.F., & L.M. Knott. 1996. The influence of

semen.

Age

and

breed

on

stallion

Theriogenology 46:397-412.

Fitzpatrick, L.A., et al. 2002. Bull selection and use in northern Australia Part 2. Semen traits. Anim Reprod Sci 71:39–49

Freneau, G.E., P.J. Chenoweth, R. Ellis, & G. Rupp. 2009. Sperm morphology of beef bulls evaluated by two different methods. Anim Repro Sci 3898:1-6

Griffin,

P.

2000.

The

breeding

soundness

examination

in

the

stallion

J of Equine Vet Sci 20: 168-171

Hoflack, G., et al. 2006. Breeding soundness and libido examination of Belgian Blue and Holstein Friesian artificial insemination bulls in Belgium and The Netherlands. Theriogenology 66: 207–

216.

Jones, I.L., N. Aziz, S. Seshadri, A. Douglas, & P. Howard. 2003. Sperm chromosomal abnormalities are linked to sperm morphologic deformities. Fertil and Sterility 79:212-215.

Kavak, A., N. Lundeheim, M. Aidnik, & S. Einarsson. 2004. Sperm morphology in Estonian and Tori breed stallions. Act Vet Scand 45:11-18.

McPeake, S.R., & J.A. Pennington. Breeding soundness evaluation for beef and dairy bulls. http://www.uaex.edu/other_areas/publications/p df/fsa-3046.pdf (1 November 2009)

Theriogenology 17:611-621

Morrell, J.M., et al. 2008. Sperm morphology and chromatin integrity in Swedish warmblood stallions and their relationship to pregnancy rates. Acta Vet Scand 50:1-7.

Rocha, A., E. Oliveira, M.J. Vilhena, J. Diaz, & M. Sousa. 2006. A novel apical midpiece defect in the spermatozoa of a bull without an apparent decrease in motility and fertility-a case study. Theriogenology 66:913-922.

Salisbury, G.W., & F.N. Baker. 1966. Frequency of Occurence of Diploid Bovine Spermatozoa. J Reprod Fertil 11:477-480

Sarder, M.J.U. 2004. Morphological sperm abnormalities of different breeds of AI bull and its impact on conception rate of cows in AI programme. Bangl J Vet Med 2:129-135.

Shipley,

C.F.

1999.

Breeding

soundness

examination of the boar. Swine Health Prod

117–120

7:

Söderquist, L., L. Janson, M. Haard, & S. Einarsson. 1996. Influence of season, age, breed and some other factors on the variation in sperm morphological abnormalities in swedish dairy A.I. bulls. Anim Repro Sci 44: 91-98.

evaluation:

Spitzer,

USA:International Veterinary

J.C.

2000.

Bull

breeding

current status.

Information Service.

Suwanpugdee, A. et al. 2009. Semen characteristic and sperm morphology of serow ( Capricornis sumatraensis). Anim Repro Sci 71:576-585.

Zukerman, Z., et al. 1986. A high proportion of double-headed and double-tailed sperm in semen of a human male. A case report. Andrologia 18:495-501.

Volume 19 Nomor 2 Agustus 2012

85