Anda di halaman 1dari 1

Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk simplisia kering

(penyerbukan). Dari simplisia dibuat serbuk simplisia dengan peralatan tertentu


sampai derajat kehalusan tertentu. Proses ini dapat mempengaruhi mutu ekstrak
dengan dasar beberapa hal :
Makin halus serbuk simplisia, proses ekstraksi makin efektif efisien namun
makin halus serbuk, maka makin rumit secara teknologi peralatan untuk
tahapan filtrasi.
Selama penggunaan peralatan penyerbukan dimana ada gerakan dan interaksi
dengan benda keras (logam, dll) maka akan timbul panas yang dapat
berpengaruh pada senyawa kandungan. Namun hal ini dapat dikompensasi
dengan penggunaan nitrogen cair.
Tahap selanjutnya adalah menambahkan pelarut yang sesuai untuk mengektraksi
kandungan zat aktif dari serbuk simplisia. Pemilihan pelarut/cairan penyari yang baik
harus mempertimbangkan beberapa kriteria yaitu murah dan mudah diperoleh, stabil
secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah
terbakar, selektif yakni hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki, tidak
mempengaruhi zat berkhasiat, dan diperbolehkan oleh peraturan. Untuk penyarian
ini, Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air,
etanol, etanol-air atau eter. Penyarian pada perusahaan obat tradisional masih
terbatas pada penggunaan cairan penyari air, etanol atau etanol-air.

Setelah itu, dilakukan tahap separasi dan pemurnian. Tujuan dari tahapan ini adalah
menghilangkan (memisahkan) senyawa yang tidak dikehendaki semaksimal mungkin
tanpa berpengaruh pada senyawa berkhasiat yang dikehendaki, sehingga diperoleh
ekstrak yang lebih murni. Proses-proses pada tahapan ini adalah pengendapan,
pemisahan dua cairan tak campur, sentrifugasi, filtrasi serta proses adsorbsi dan
penukar ion.
Selanjutnya dilakukan pemekatan dengan cara penguapan/evaporasi cairan pelarut
tapi tidak sampai pada kondisi kering, hanya sampai diperoleh ekstrak kental/pekat.