Anda di halaman 1dari 62

PENDAHULUAN

Sel mempunyai dua tugas utama yaitu bekerja dan berkembang biak. Bekerja
bergantung kepada aktivitas sitoplasma sedangkan berkembang biak bergantung
pada aktivitas intinya. Proliferasi sel adalah proses fisiologis yang terjadi hampir
pada semua jaringan tubuh manusia pada berbagai keadaan sel untuk berkembang
biak. Homeostasis antara proliferasi sel dan kematian sel yang terprogram
(apoptosis) secara normal dipertahankan untuk menyediakan integritas jaringan
dan organ.
Mutasi pada DNA sel menyebabkan kemungkinan terjadinya neoplasma sehingga
terdapat gangguan pada proses regulasi homeostasis sel. Karsinogenesis akibat
mutasi materi genetik ini menyebabkan pembelahan sel yang tidak terkontrol dan
pembentukan tumor atau neoplasma. Jadi neoplasma ialah kumpulan sel abnormal
yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak
berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Pada sel
neoplasma terjadi perubahan sifat, sehingga sebagian besar energi digunakan
untuk berkembang biak. Pertumbuhan tak terkontrol yang seringnya terjadi
dengan cepat itu dapat mengarah ke pertumbuhan jinak (benign) maupun ganas
(malignant atau kanker). Tumor jinak biasanya tidak menginvasi dan tidak
menyebar ke jaringan lain sekitarnya. Tumor jinak biasanya juga tidak
mengancam jiwa kecuali bila ia terletak pada area struktur vital. Sedangkan tumor
ganas dapat menginvasi jaringan lain dan beranak sebar ke tempat jauh
( metastasis) bahkan dapat menimbulkan kematian. Sel-sel malignant ini
mempunyai sifat resisten terhadap apoptosis, tidak sensitif terhadap faktor anti
pertumbuhan dan contact inhibition-nya disupresi.
Definisi
Neoplasma secara harfiah berarti pertumbuhan baru. Suatu neoplasma, sesuai
definisi willis, adalah massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan
dan tidak terkoordinasi dengan pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian
walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti. Hal
mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas terhadap faktor

pengendali pertumbuhan yang normal. Sel neoplastik disebut mengalami


transformasi karena erus membelah diri, tampaknya tidak peduli terhadap
regulatorik yang mengendalikan pertumbuhan sel normal. Selain itu, neoplasma
berperilaku seperti parasit dan bersaing dengan sel dan jaringan normal untuk
memenuhi kebutuhan metaboliknya.
Tumor mungkin tumbuh subur pada pasien yang kurus kering. Sampai tahap
tertentu, neoplasma memiliki otonomi dan sedikit banyak terus membesar tanpa
tergantung pada lingkungan local dan status gizi pejamu. Namun, otonomi
tersebut tidak sempurna. Beberapa neoplasma membutuhkan dukungan endokrin,
dan ketergantungan semacam ini kadang-kadang dapat dieksploitasi untuk
merugikan neoplasma tersebut. Semua neoplasma bergantung pada pejamu untuk
memenuhi kebutuhan gizi dan aliran darah.
Dalam penggunaan istilah kedokteran yang umum, neoplasma sering disebut
sebagai tumor, dan ilmu tentang tumor disebut onkologi (dari oncos, tumor dan
logos, ilmu). Dalam onkologi, pembagian neoplasma menjadi kategori jinak dan
ganas merupakan hal penting. Pembagian ini didasarkan pada penilaian tentang
kemungkinan perilaku klinis neoplasma.
Suatu tumor dikatakan jinak (benigna) apabila gambaran mikroskopik dan
makroskopiknya dianggap relatif tidak berdosa, yang mengisyaratkan bahwa
tumor tersebut akan tetap terlokalisasi, tidak dapat menyebar ke tempat lain, dan
pada umumnya dapat dikeluarkan dengan tindakan bedah local; pasien umumnya
selamat. Namun, perlu dicatat bahwa tumor jinak dapat menimbulkan kelainan
yang lebih dari sekadar benjolan local, dan kadang-kadang tumor jinak
menimbulkan penyakit serius.
Tumor ganas (maligna) secara kolektif disebut kanker, yang berasal dari kata latin
untuk kepitingtumor melekat erat ke semua permukaan yang dipijaknya, seperti
seekor kepiting. Ganas, apabila diterapkan pada neoplasma, menunjukkan bahwa
lesi dapat menyerbu dan merusak struktur didekatnya dan menyebar ke tempat
jauh (metastasis) serta menyebabkan kematian.
Tata nama

Semua tumor, jinak dan ganas, memiliki dua komponen dasar: (1) parenkim, yang
terdiri atas sel yang telah mengalami transformasi atau neoplastik, dan (2) stroma
penunjang nonneoplastik yang berasal dari pejamu dan terdiri atas jaringan ikat
dan pembuluh darah. Parenkim neoplasma menentukan perilaku biologisnya,dan
komponen ini yang menentukan nama tumor bersangkutan. Stroma mengandung
pembuluh darah dan memberikan dukungan bagi pertumbuhan sel parenkim dan
sangat penting untuk pertumbuhan neoplasma.
Tumor jinak. Secara umum, tumor jinak diberi nama dengan tambahan akhiranoma ke jenis sel asal tumor tersebut.suatu tumor jinak yang berasal dari jaringan
fibrosa adalah fibroma; tumor tulang rawan yang jinak disebut kondroma.
Tata nama untuk tumor epitel jinak lebih rumit. Tumor ini kadang-kadang
diklasifikasikan berdasarkan pola mikroskopik dan kadang-kadang makroskopik.
Yang lain diklasifikasikan berdasarkan asal sel.
Kata adenoma diterapkan untuk neoplasma epitel jinak yang menghasilkan pola
kelenjar dan untuk neoplasma yang berasal dari kelenjar, tetapi tidak harus
memperlihatkan pola kelenjar. Neoplasma epitel jinak yang berasal dari sel
tubulus ginjal dan tumbuh dalam pola seperti kelenjar akan diberi nama suatu
adenoma, demikian juga suatu massa sel epitel jinak yang tidak menghasilkan
pola kelenjar, tetapi berasal dari korteks adrenal.
Papiloma adalah neoplasma epitel jinak, yang tumbuh disuatu permukaan, dan
menghasilkan tonjolan mirip jari, baik secara mikroskopis maupun makroskopis.
Polip adalah suatu massa yang menonjol diatas permukaan mukosa, seperti pada
usus, untuk membentuk struktur yang terlihat dengan mata telanjang. Walaupun
kata ini sering digunakan untuk tumor jinak, beberapa tumor ganas juga dapat
tampak sebagai polip. Kadang-kadang, terutama di kolon, kata ini diterapkan
untuk pertumbuhan non-neoplastik yang membentuk massa polipoid.
Kistadenoma adalah massa kistik berongga; khas ditemukan di ovarium.
Tumor ganas. Tata nama tumor ganas pada dasarnya mengikuti tata nama tumor
jinak, dengan penambahan dan pengecualian tertentu. Neoplasma ganas yang

berasal dari jaringan mesenkim atau turunannya disebut sarcoma. Kanker yang
berasal dari jaringan fibrosa disebut fibrosarkoma, dan neoplasma ganas yang
terdiri atas kondrosit disebut kondrosarkoma. Sarcoma diberi nama berdasarkan
histogenesisnya (yaitu jenis sel yang membentuknya).
Neoplasma ganas yang berasal dari sel epitel disebut karsinoma. Perlu diingat
bahwa epitel tubuh berasal dari ketiga lapisan sel germinativum; neoplasma ganas
yang muncul di epitel tubulus ginjal (mesoderm) adalah karsinoma, demikian juga
kanker yang tumbuh di kulit (ektoderm) dan epitel yang melapisi usus
(endoderm). Jelaslah bahwa mesoderm dapat menimbulkan karsinoma (epitel) dan
sarcoma (mesenkim).
Karsinoma dibagi-bagi lebih lanjut. Karsinoma sel skuamosa menandakan suatu
kanker yang sel tumornya mirip dengan epitel skuamosa berlapis, dan
adenokarsinoma berarti lesi yang sel epitel neoplastiknya tumbuh dalam pola
kelenjar.
Kadang-kadang jaringan atau organ asal dapat diidentifikasi, seperti pada
penyebutan adenokarsinoma sel ginjal atau pada kolangiokarsinoma, yang
mengisyaratkan asal duktus empedu. Kadang-kadang tumor tumbuh dalam pola
tidak terdiferensiasi dan harus disebut karsinoma berdiferensiasi buruk.
Sel parenkim pada suatu neoplasma, baik jinak maupun ganas, mirip satu sama
lain, seolah-olah semua berasal dari satu progenitor. Memang, neoplasma
memiliki asal yang monoclonal. Namun, pada beberapa kasus, sel bakal mungkin
mengalami diferensiasi divergen, menghasilkan apa yang disebut sebagai tumor
campuran. Contoh terbaik adalah tumor campuran yang berasal dari kelenjar liur,
tumor ini memiliki komponen epitel yang tersebar di seluruh stroma fibromiksoid,
kadang-kadang mengandung pulau tulang rawan atau tulang. Semua elemen yang
beragam ini diperkirakan berasal dari sel epitel, sel mioepitel, atau keduanya di
kelenjar liur, dan nama yang dianjurkan untuk neoplasma ini adalah adenoma
pleomorfik.

Fibroadenoma pada payudara perempuan adalah tumor campuran lain yang sering
ditemukan. Tumor jinak ini mengandung campuran elemen duktus yang
berproliferasi (adenoma) yang terbenam didalam jaringan ikat longgar (fibroma).
Walaupun penelitian mengisyaratkan bahwa hanya komponen fibrosa yang
bersifat neoplastik, kata fibroadenoma tetap sering digunakan.
TUMOR JANTUNG
Jantung biasanya tidak terkena tumor. Tumor yang terjadi biasanya metastatic.
Neoplasma metastatic
Neoplasma metastatic yang mengenai jantung jauh lebih sering ditemukan
daripada tumor jaantung primer. Metastasis ke jantung terjadi pada hampir 10%
pasien dengan kanker diseminata. Umumnya metastasis mengenai pericardium,
dimana tumor menyebabkan perikarditis dan efusi pericardium hemoragik.
Neoplasma primer tersering yang bermetastasis ke jantung adalah karsinoma paru
dan payudara, melanoma maligna, dan keganasan hematopoietic (limfoma dan
leukemia). Metastasis dapat mencapai jantung melalui sauran limf, vena, atau
arteri.

Neoplasma primer
Tumor primer di jantung jarang ditemukan. Jenis yang tersering ditemukan, dalam
urutan frekuensi yang menurun, adalah miksoma, lipoma, dan elastifibroma
papilaris, rabdomioma, angiosarkoma, dan rabdomiosarkoma.
Miksoma secara histologist adalah neoplasma jinak yang paing sering timbul
pada atrium kiri dekat fosa ovalis. Tumor ini muncul sebagai lesi bertangkai atau
tak bertangkai, biasanya ditutupi oleh endokardium utuh. Tumor paling sering
terjadi pada orang dewasa tetapi dapat juga ditemukan pada semua usia. Secara
mikroskopis, tumor terdiri atas sel-sel stelata berinti banyak yang terbenam dalam
stroma edematosa kaya mukopolisakariida. Juga, dapat ditemukan sel otot polos
imatur dan matur. Walaupun secara histologist jinak, miksoma dapat
menimbulkan masalah signifikan bagi pasien, karena kecendrungan sebagian lesi

mengalami fragmentasi dan membentuk embolus atau karena tumor dapat


menyebabkan obstruksi ball-valve katup atrioventrikel, yang menyebabkan
serangan-serangan sinkop dan bahkan kematian mendadak. Reseksi bedah lesi
semacam ini dapat menyelamatkan jiwa.
Rabdomioma jantung, merupakan tumor jantunng primer terserinng pada bayi
dan anak, sering ditemukan karena obstruksi suatu lubang katup. Tumor ini dapat
timbul sebagai kelainan yang tampaknya tersendiri, tetapi lebih dikenal karena
keterkaitannya dengan sklerosis tuberose, salah satu dari yang disebut sindrom
neurokutaneus. Mungkin proliferasi ini lebih mencerminkan malformasi atau
hamartoma bukan neoplasma sejati. Secara makroskopis, rabdomioma jantung
tampak sebagai massa miokardium yang sering menonjol kedalam lumen
ventrikel. Lesi dapat solitary atau multifocal. Secara mikroskopis, tumor terdiri
atas sel polygonal eosinofilik; banyak yang mengandung granula sitoplasma besar
yang kaya glikogen. Dibawah mikroskop electron, dapat ditemukan myofibril
pada sel ini.
Lipoma dapat timbul dimana saja pada jantung. Tumor ini lebih mencerminkan
malformasi bukan neoplasma sejati. Akumulasi mirip-lipoma pada septum antar
atrium relatif sering ditemukan dan kadang-kadang dinamai hipertrofi lipomatosa.
Walaupun secara morfologis jinak, kelainan ini pernah diduga mejadi penyebab
beberapa kasus kematian jantung mendadak.
TUMOR PARU
Meskipun tumor sering menjadi tempat metastasis dari kanker diluar toraks,
kanker paru primer juga sering ditemukan. Sembilan puluh lima persen tumor
paru primer berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkogenik) 5% adalah
kelompok lain yang mencakup karsinoid bronkus, tumor kelenjar bronkus
(karsinoma mukoepidermoid dan kistik adenoid), keganasan mesenkim (missal,
fibrosarkoma, leimioma), limfoma, dan beberapa lesi jinak. Lesi jinak yang paling
sering adalah hamartoma diskret, kecil (3 hingga 4 cm), bulat yang sering muncul
sebagai coin lesion pada foto toraks. Tumor tersebut terutama terdiri atas tulang

rawan matur tetapi sering bercampur dengan lemak, jaringan fibrosa, dan
pembuluh darah dengan proporsi bervariasi.
Karsinoma bronkogenik
Tidak diragukan lagi bahwa karsinoma bronkogenik (karsinoma bronkus) adalah
penyebab nomor satu kematian akibat kanker di Negara industry. Penyakit ini
telah lama menduduki posisi ini untuk kaum laki-laki di Amerika serikat,
menyebabkan sekitar sepertiga kematian akibat kanker pada laki-laki, dan juga
telah menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan. Laju
peningkatan diantara kaum laki-laki telah melambat, tetapi pada perempuan
lajunya terus meningkat. Statistik ini jelas berkaitan dengan hubungan sebabakibat antara merokok dan karsinoma bronkogenik. Insiden puncak kanker paru
terjadi pada usia antara 55 dan 65 tahun. Saat ini, perbandingan laki-laki terhadap
perempuan adalah 2:1. Saat diagnosis, lebih dari 50% pasien telah mengalami
metastasis jauh, sementara seperempat memperlihatkan penyakit di kelenjar getah
bening regional. Prognosis kanker paru buruk; angka kesintasan 5 tahun untuk
semua stadium kanker paru yang digabungkan adalah sekitar 14% bahkan, pasien
dengan penyakit terbatas di paru memiliki angka kesintasan 5 tahun hanya sekitar
45%.

Klasifikasi histologik karsinoma bronkogenik dan perkiraan insidensi


I. Karsinoma Paru Non Sel Kecil (NSLC) (70%-75%)
1. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid) (25%-30%)
2. Adenokarsinoma, termasuk karsinoma bronkioalveous (30-35%)
3. Karsinoma sel besar (10%-15%)

II. Karsinoma Paru Sel Kecil (SCLC) (20%-25%)


III. Pola Kombinasi (5%-10%)
Paling sering
Campuran karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma
Campuran karsinoma sel skuamosa dan SCLC

Untuk tujuan pengobatan, karsinoma bronkogenik diklasifikasikan menjadi dua


kelompok besar: karsinoma paru sel kecil (SCLC) dan karsinoma paru non sel

kecil (NSCLC). Kategori yang terakhir mencakup karsinoma sel skuamosa,


adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar tak berdiferensiasi.
Alasan kunci perbedaan ini adalah bahwa hampir semua SCLC telah
bermetastasis saat diagnosis sehingga bukan kandidat untuk pembedahan kuratif.
Oleh karena itu, tumor ini sebaiknya diterapi dengan kemoterapi, dengan atau
tanpa radiasi. Sebaliknya, NSCLC biasanya kurang berespon terhadap kemoterapi
dan sebaiknya ditangani secara bedah.
Selain perbedaan dalam morfologi, karakteristik imunofenotipe, dan respons
terhadap pengobatan juga terdapat perbedaan genetik antara SCLC dan NSCLC.
Sebagai contoh, SCLC ditandai dengan frekuensi tinggi mutasi gen TP 53 dan RB,
sedangkan p16/CDKN2A sering mengalami inaktivasi pada NSCLC. Demikian
juga, mutasi yang mengaktifkan onkogen K-RAS hampir hanya terjadi pada
adenokarsinoma dalam kelompok NSCLC dan jarang pada SCLC.
Perbandingan karsinoma paru sel kecil (SCLC) dan karsinoma paru non sel
kecil (NSCLC)
SCLC
Histologi

Sitoplasma
kecil

NSCLC
sedikit;

nucleus

Sitoplasma banyak; nucleus

hiperkromatik

dengan

pleomorfik

dengan

pola kromatin halus; nekleolus

kromatin

tidak jelas; lembaran-lembaran

serinng mencolok; arsitektur

sel yang difus

glandular atau skuamosa

Biasanya ada

Biasanya tidak ada

Ada

Ada

Musin

Tidak ada

Ada pada adenokarsinoma

Pembentukan hormon peptide

Hormon

Penanda neuroendokrin (misal,

kasar;

pola

nukeolus

granula dense core pada


mikroskop electron; ekspresi
kromogranin,
spesifik

enolase

neuron,

dan

sinaptofsin)
Penanda

epitel

membran

(antigen

epitel.

Antigen

karsinoembrionik,

dan

filament

intermediet

sitokeratin)
adrenokorteks,

Parathyroid

hormone-related

hormon antidiuretik, peptide

peptide (PTH-rp)

pelepas gastrin, kalsitonin


Kelainan gen penekan tumor
Delesi 3p

>90%

>80%

Mutasi RB

Sekitar 90%

Sekitar 20%

Mutasi p16/CDKN2A

Sekitar 10%

>50%

Mutasi TP53

>90%

>50%

Mutasi K-RAS

<1%

Sekitar 30% (adenokarsinoma)

Ekspresi berlebihan family

>50%

>50%

Sering respons tuntas

Jarang respons tuntas

Kelainan onkogen dominan

MYC
Respons terhadap kemoterapi
dan radioterapi

Perjalanan penyakit
Karsinoma bronkogenik adalah lesi yang berkembang perlahan, asimtomatik dan
umumnya telah menyebar sehingga tidak lagi dapat direseksi sebelum
menimbulkan gejala. Pada beberapa kasus, lesi yang masih bersifat local dan
dapat direseksi menyebabkan batuk kronis dan pengeluaran dahak. Jika sudah
timbul suara serak, nyeri dada, sindrom vena kava superior, efusi pericardium atau
pleura, atau pneumonitis atau atelektasis segmental persisten, prognosisnya suram.
Tumor sering menimbulkan gejala yang disebabkan oleh penyebaran metastasik
ke otak (perubahan mental atau gejala neurologik), hati (hepatosplenomegali),
atau tulang (nyeri). Meskipun adrenal mungkin lenyap akibat metastasis ke tempat
tersebut, insufisiensi adrenal (penyakit addison) jarang terjadi karena biasanya
masih terdapat pulau sel korteks yang cukup untuk mempertahankan fungsi
adrenal.
Secara keseluruhan, NSCLC memiliki prognosis lebih baik daripada SCLC. Jika
NSCLC (karsinoma sel skuamosa atau adenokarsinoma) terdeteksi sebelum
metastasis atau penyebaran local, dapat dicapai kesembuhan dengan lobektomi
atau pneumonektomi. SCLC, di pihak lain, biasanya telah menyebar saat pertama
kali terdeteksi, bahkan jika tumor primernya tampak kecil dan local. Oleh karena
itu, reseksi bedah bukan merupakan pilihan. Tumor ini sangat peka terhadap

kemoterapi tetapi umumnya akan kambuh. Kesintasan median bahkan dengan


pengobatan adalah 1 tahun.
Biasanya diperkirakan 3% hingga 10% dari semua pasien kanker paru
memperlihatkan

gejala klinis

sindrom paraneoplastik. Sindrom tersebut

mencakup:
1. Hiperkalsemia akibat sekresi parathyroid hormone related peptide (lesi
osteolitik juga dapat menyebabkan hiperkalsemia, tetapi hal ini bukan
merupakan sindrom paraneoplastik)
2. Sindrom
cushing
(akibat
peningkatan

pembentukan

hormon

adrenokortikotropik)
3. Sindrom sekresi hormon antidiuretik yang tidak sesuai (SIADH)
4. Sindrom neuromuskulus, termasuk sindrom miastenia, neuropati perifer, dan
polimiositis
5. Jari gada dan osteoartropati paru hipertropik
6. Manifestasi hematologic, termasuk tromboflebitis migratorik, endokarditis
nonbakterialis, dan koagulasi intravascular diseminata.
Sekresi kalsitonin dan hormon ektopik lain juga pernah dilaporkan melalui
pemeriksaan darah, tetapi produk ini biasanya tidak menimbulkan sindrom yang
khas. Hiperkalsemia paling sering ditemukan pada neoplasma sel skuamosa,
sindrom hematologic pada adenokarsinoma. Sindrom lainnya jauh lebih sering
terjadi pada neoplasma sel kecil, tetapi banyak terdapat pengecualian.
Karsinoid Bronkus
Karsinoid bronkus diperkirakan berasal dari sel kulchitsky (sel neuroendokrin
yang melapisi mukosa bronkus) dan mirip karsinoid usus. Sel neoplastik
mengandung granula neurosekretorik padat didalam sitoplasmanya dan, meskipun
jarang, mungkin mengeluarkan polipeptida yang secara hormonal aktif.
Neoplasma ini kadang-kadang timbul sebagai bagian neoplasia endokrin multiple.
Karsinoid bronkus muncul pada usia dini (rerata 40 tahun) dan membentuk sekitar
5% dari semua neoplasma paru. Berbeda dengan karsinoma sel kecil,
neuroendokrin padanannya yang berprognosis lebih buruk, karsinoid sering dapat
direseksi dan disembuhkan.
Morfologi
10

Sebagian besar karsinoid bronkus berasal dari bronkus utama dan tumbuh dalam
satu dari dua pola:
1. Massa polipoid sferis intralumen yang menyebabkan obstruksi atau,
2. Plak di mukosa yang menembus dinding bronkus dan menyebar di jaringan
peribronkussesuatu yang disebut sebagai collar button lesion.
Lesi penetrans ini menekan jaringan paru secara luas sehingga membentuk batas
yang tegas. Lima hingga 15 persen tumor telah bermetastasis ke kelenjar getah
bening hilus saat diagnosis, walaupun metastasis jauh jarang terjadi. Secara
histologist, neoplasma ini, seperti padanannya di saluran cerna, terdiri atas sarangsarang sel uniform yang memiliki nucleus bulat regular dan kromatin garam dan
merica, mitosis sedikit atau tidak ada, dan sedikit pleomorfisme.
Sebagian besar karsinoid bronkus bermanifestasi sebagai temuan yang berkaitan
dengan pertumbuhan intralumennya (yaitu batuk, hemoptisis, dan infeksi bronkus
dan paru berulang). Sebagian asimtomatik dan ditemukan secara tidak sengaja
pada foto toraks. Tumor ini jarang memicu timbulnya sindrom karsinoid.
Bagaimanapun, karena tumbuh lambat dan jarang menyebar melewati kelenjar
hilus local, tumor ini dapat direseksi secara konservatif. Angka kesintasan 5
hingga 10 tahun dilaporkan berkisar dari 50% hingga 95%, tetapi kadang-kadang
timbul rekurensi setelah beberapa lama.
TUMOR SALURAN KEMIH
Banyak tipe tumor benigna dan maligna terjadi dalam saluran kemih. Secara
umum, tumor jinak seperti adenoma papilaris korteks yang kecil (kurang dari 0,5
cm) atau fibroma medularis (tumor sel interstisium) tidak bermakna secara klinis.
Tumor ginjal tersering adalah karsinoma sel ginjal, diikuti oleh nefroblastoma
(tumor wilms) dan tumor primer kaliks dan pelvis. Tipe lain kanker ginjal jarang
ditemukan. Tumor di saluran kemih bawah dua kali lebih sering ditemukan
daripada karsinoma sel ginjal.
Karsinoma Sel Ginjal
Tumor ini berasal dari epitel tubulus ginjal sehingga terutama terletak di korteks.
Karsinoma ginjal membentuk 80% sampai 85% dari semua tumor ganas primer di
ginjal, dan 2% sampai 3% kanker pada orang dewasa. Hal ini berarti sekitar
30.000 kasus per tahun; 40% pasien meninggal akibat penyakit ini. Karsinoma

11

ginjal paling sering terjadi pada usia decade keenam sampai ketujuh, dan laki-laki
terkena dua kali lebih sering daripada perempuan. Risiko terjangkit tumor ini
lebih tinggi pada perokok dan mereka yang terpajan cadmium di tempat kerjanya.
Perokok yang terpajan cadmium mengalami insiden karsinoma sel ginjal yang
cukup tinggi. Risiko terjangkit kanker sel ginjal meningkat 30 kali lipat pada
orang yang mengidap penyakit polikistik didapat sebagai penyulit dialysis kronis.
Dahulu, kanker sel ginjal diklasifikasikan berdasarkan morfologi dan pola
pertumbuhan. Namun, kemajuan terakhir dalam pemahaman mengenai dasar
genetik karsinoma sel ginjal menghasilkan klasifikasi baru didasarkan pada
penyebab molecular tumor ini. Tiga bentuk yang tersering adalah sebagai berikut:
Karsinoma sel jernih (clear cell carcinoma)
Karsinoma tersebut adalah tipe terserig, membentuk 70% sampai 80% dari kanker
sel ginjal. Secara histologist, tumor terdiri atas sel yang sitoplasmanya jernih atau
granular. Meskipun mayoritas kasus bersifat sporadic, juga terdapat kasus familial
atau berkaitan dengan penyakit von Hippel-Lindau (VHL). Penelitian terhadap
penyakit VHL memberikan pemahaman tentang penyebab molecular karsinoma
sel jernih. VHL adalah suatu penyakit dominan autosomal yang ditandai dengan
predisposisi mengalami berbagai neoplasma, tetapi terutama hemangioblastoma
serebelum dan retina. Ratusan kista ginjal bilateral dan karsinoma sel jernih
bilateral sering multiple terjadi pada 40% sampai 60% kasus. Pasien dengan
sindrom VHL mewarisi mutasi germinal gen VHL di kromosom 3p25 dan
kehilangan alel kedua akibat mutasi somatik. Oleh karena itu, hilangnya kedua
salinan gen penekan tumor ini menyebabkan karsinoma sel jernih. Gen VHL juga
berperan dalam karsinoma sel jernih sporadic. Kelainan sitogenik yang
menyebabkan hilangnya segmen kromosom 3p14 sampai 3p26 sering ditemukan
pada kasus kanker sel ginjal sporadic. Region ini berisi gen VHL (3p25.3). alel
kedua yang tidak terdelesi mengalami inaktivasi oleh mutasi somatik atau
hipermetilasi pada 80% kasus sporadic. Oleh karena itu, kehilangan gen VHL
secara homozigot tampaknya menjadi kelainan molecular yang mendasari
karsinoma sel jernih, baik bentuk familial maupun sporadic.
Karsinoma Sel Ginjal Papilaris

12

Tumor ini membentuk 10% sampai 15% dari semua kanker ginjal . seperti
diisyaratkan oleh namanya, tumor ini memperlihatkan pola pertumbuhan papilar.
Tumor ini sering multifocal dan bilateral serta muncul sebagai tumor stadium
awal. Seperti karsinoma sel jernih, tumor ini terdapat dalam bentuk familial dan
sporadic, tetapi kanker ginjal papilaris tidak memperlihatkan kelainan di
kromosom 3. Penyebab pada kasus kanker sel ginjal papilaris adalah
protoonkogen MET yang terletak di kromosom 7q31. Gen MET adalah suatu
rreseptor tirosin kinase untuk faktor pertumbuhan yang disebut faktor
pertumbuhan hepatosit (juga disebut scatter factor). Yang tampaknya memicu
pertumbuhan abnormal precursor sel epitel tubulus proksimal pada karsinoma
papilaris adalah kelebihan gen MET akibat penambahan dua sampai tiga kali lipat
di kromosom 7. Sesuai dengan hal ini, pada kasus familial sering ditemukan
trisomi kromosom 7. Pada pasien tersebut, selain terdapat kelebihan juga terjadi
mutasi yang menyebabkan pangaktifan gen MET. Sebaliknya, pada kasus sporadic
terdapat trisomi kromosom 7, tetapi tidak terjadi mutasi pada gen MET. Kasus
sporadic juga memperlihatkan trisomi kromosom 16 dan 17 serta hilangnya
kromosom Y. tidak ada onkogen spesifik yang dilaporkan berkaitan dengan
kromosom ini.
Karsinoma Ginjal Kromofob
Karsinoma tersebut adalah jenis yang paling jarang, membentuk 5% dari semua
karsinoma sel ginjal. Tumor ini berasal dari duktus koligentes korteks atau sel
diantaranya. Nama tumor ini berasal dari kenyataan bahwa sel tumor berwarna
lebih gelap (yaitu kurang jelas) dibandingkan dengan sel di karsinoma sel jernih.
Tumor ini bersifat unik karena memperlihatkan hilangnya beberapa kromosom
secara keseluruhan, termasuk kromosom 1,2,6,10,13,17, dan 21. Oleh karena itu,
critical hit (mutasi penentu) belum diketahui pasti. Secara umum, kanker ginjal
kromosom memiliki prognosis baik.
Perjalanan penyakit
Karsinoma sel ginjal memiliki beberapa gambaran klinis aneh yang menimbulkan
masalah diagnostik yang sulit dan menantang. Gejala bervariasi, tetapi manifestasi
awal tersering adalah hamaturia, yang terjadi pada lebih dari 50% kasus.
Hematuria makroskopik cenderung intermitten dan cepat berlalu, terjadi pada

13

hematuria mikroskopik yang terus menerus. Yang lebih jarang (karena luasnya
penggunaan pemeriksaan pencitraan untuk penyakit lain) adalah tumor
menyatakan diri karena ukurannya, yaitu tumbuh cukup beasar untuk
menimbukan nyeri pinggang dan massa yang dapat diraba. Efek ekstrarenal
adalah demam dan polisitemia, yang keduanya mungkin berkaitan dengan
karsinoma sel ginjal tetapi, karena tidak spesifik, mungkin tidak diperhatikan
selama beberapa waktu sampai makna sebenarnya disadari. Polisitemia mengenai
5% hingga 10% pasien dengan penyakit ini. Kelainan ini terjadi akibat
dikeluarkannya eritropoietin oleh tumor ginjal. Walaupun jarang, tumor ini dapat
menghasilkan sejumlah zat mirip-hormon sehingga timbul hiperkalsemia,
hipertensi, sindrom cushing, atau feminisasi atau maskulinisasi. Berbagai kelainan
ini adalah sindrom paraneoplastik. Pada banyak pasien, tumor primer tetap
asimtomatik dan ditemukan hanya setelah timbul gejala akibat metastasis. Lokasi
tersering metastasis adalah paru dan tulang. Jelaslah, karsinoma sel ginjal
memiliki manifestasi beragam, tetapi trias hematuria tak-nyeri, demam kronis, dan
nyeri tumpul (pegal) di pinggang merupakan gejala khas.
Tumor wilms
Walaupun jarang timbul pada orang dewasa, tumor wilms merupakan kanker
organ ketiga tersering pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Oleh karena itu,
tumor ini adalah salah satu kanker utama pada anak. Tumor wilms mengandung
beragam komponen sel dan jaringan, yang semuanya berasal dari mesoderm.
Tumor wilms, seperti retinoblastoma, dapat timbul secara sporadic atau familial,
dengan kerentanan mengalami tumorigenesis diwariskan sebagai sifat dominan
autosomal.
Tumor kandung kemih dan sistem penyalur (kaliks ginjal, pelvis ginjal,
ureter, dan uretra)
Keseluruhan sistem penyalur kemih dari pelvis ginjal ke uretra dilapisi oleh epitel
transisional, sehingga tumor epitelnya memperlihatkan pola morfologik serupa.
Tumor di sistem penyalur diatas kandung kemih relatif jarang ditemukan; namun,
tumor di kandung kemih merupakan penyebab kematian yang lebih sering
dibandingkan dengan tumor ginjal. Namun, pada setiap kasus, lesi kecil di ureter,
sebagai contoh, dapat menyebabkan sumbatan aliran keluar urin dan

14

menimbulkan dampak klinis lebih besar daripada massa yang lebih besar yang
terletak di kandung kemih.
Tumor Kandung Kemih
Tumor yang timbul di kandung kemih berkisar dari papiloma benigna kecil hingga
kanker invasive besar. Papiloma benigna yang sangat jarang ini adalh struktur
mirip daun pakis berukuran 0,2 sampai 1,0 cm dengan bagian tengah
fibrovaskulas halus dibungkus oleh lapisan epitel transisional yang berdiferensiasi
baik. Pada beberapa lasi ini, epitel penutup tampak normal seperti permukaan
mukosa tempat terbentuknya lesi ini; lesi ini biasanya tunggal, hampir selalu nonivasif, dan jinak serta jarang kambuh setelah diangkat.
Klasifikasi dan tata nama kanker kandung kemih telah mengalami revisi. Secara
tradisional, karsinoma kandung kemih disebut karsinoma sel transisional, tetapi
istilah neoplasma uroterial lebih dianjurkan oleh klasifikasi consensus dari the
international society of urologic pathology (ISUP).
Karsinoma sel uroterial (transisional) berkisar dari tumor yang papilaris atau
datar, noninvasive hingga invasive, dan berdiferensiasi sangat baik hingga sangat
anaplastik dan agresif. Karsinoma derajat I (ISUP, potensi keganasan rendah)
selalu papilaris dan jarang invasive, tetapi dapat kambuh setelah diangkat. Apakah
pertumbuhan kembali ini mencerminkan rekurensi sejati atau pertumbuhan primer
kedua masih belum diketahui. Pada pertumbuhan papilaris eksofitik, disertai
peningkatan ukuran lesi dan tanda-tanda invasi lapisan submukosa atau otot,
semakin sering ditemukan atipia dan anaplasia sel. Tumor-tumor ini jelas
merupakan karsinoma sel uroterial, derajat II atau III. Kanker derajat III dapat
bersifat papilar atau kadang-kadang datar, mungkin menutupi permukaan mukosa
yang luas, menginvasi lebih dalam, dan memiliki permukaan nekrotik yang
berserat-serat (karsinoma transisional derajat I dan III masing-masing secara kasar
sepadan dengan karsinoma uroterial, derajat rendah dan tinggi). Kadang-kadang
kanker ini memperlihatkan focus diferensiasi sel skuamosa, tetapi hanya 5% dari
kanker kandung kemih merupakan karsinoma sel skuamosa sejati. Karsinoma
derajat I dan III menginfiltrasi struktur disekitarnya, menyebar ke kelenjar getah
bening regional, dan kadang-kadang, bermetastasis secara luas.

15

Selain karsinoma yang nyata secara makroskopis, juga dapat ditemukan


karsinoma kandung kemih stadium in situ, sering pada pasien dengan riwayat atau
sedang mengalami tumor papilaris atau tumor invasive. Memang, mungkin
ditemukan daerah hyperplasia atipikal dan dysplasia yang luas. Sekarang
diperkirakan bahwa perubahan epitel ini dan kanker in situ disebabkan oleh
pengaruh umum suatu karsinogen putative pada urotelium dan bahwa perubahan
tersebut mungkin merupakan precursor karsinoma invasive pada beberapa pasien.
Namun, walaupun terdapat lesi epitel yang luas, tumor kandung kemih, kalaupun
multiple, berasal dari satu sel (monoklonal). tampaknya satu sel yang telah
mengalami tranformasi berkembang biak menjadi sel turunan klonal yang
kemudian menyebar di berbagai tempat di mukosa kandung kemih.
Perjalanan penyakit
Hematuria tanpa nyeri adalah gambaran klinis utama pada semua tumor ini.
Karena sebagian besar tumor timbul di kandung kemih. Tumor ini mengenai lakilaki sekitar tiga kali lebih sering daripada perempuan dan biasanya timbul pada
usia antara 50 dan 70 tahun. Walaupun sebagian besar terjadi pada orang tanpa
riwayat terpajan zat pelarut industry, tumor kandung kemih 50 kali lebih sering
ditemukan pada mereka yang terpajan -naftilamin. Merokok, sistitis kronis,
skistosomiasis

kandung kemih, dan obat tertentu (siklofosfamid) juga

diperkirakan meningkatkan insiden.


Makna klinis tumor kandung kemih bergantung pada derajat histologik dan
diferensiasi serta, yang terpenting, kedalaman invasi lesi. Kecuali papiloma yang
jelas jinak, semua tumor cenderung kambuh setelah diangkat dan cenderung
mematikan

dengan

menyebabkan

obstruksi

infiltrative

bukan

dengan

bermetastasis. Lesi yang menginvasi orifisium ureter atau uretra menyebabkan


obstruksi urin. Secara umum, pada lesi dangkal deraat rendah, prognosis setelah
pengangkatan baik, tetapi bila telah terjadi penetrasi dalam ke dinding kandung
kemih, angka harapan hidup 5 tahun menjadi kurang dari 20%. Harapan hidup 5
tahun keseluruhan adalah 57%.
Meskipun neoplasma papilaris dan karsinoma epitel yang melapisi sistem saluran
kemih jauh lebih jarang terjadi di pelvis ginjal daripada di kandung kemih,
neoplasma tersebut membentuk 5% sampai 10% tumor ginjal primer. Hematuria
16

tanpa nyeri merupakan gambaran paling khas pada tumor ini, tetapi di lokasinya
yang kritis tumor ini menimbulkan nyeri sudut kostovertebra seiring dengan
terbentuknya hidronefrosis. Infiltrasi dinding pelvis, kaliks, dan vena renalis
memperburuk prognosis. Walaupun tumor diangkat dengan nefrektomi, kurang
dari 50% pasien bertahan hidup selam 5 tahun. Kanker ureter untungnya
merupakan kanker sistem saluran kemih yang paling jarang. Angka harapan hidup
5 tahun kurang dari 10%.
KANKER RONGGA MULUT DAN LIDAH
Hampir semua kanker rongga mulut adalah karsinoma sel skuamosa. Meskipun
hanya merupakan 3% dari semua kanker di Amerika Serikat, kanker rongga mulut
sangat penting. Hampir semuanya mudah diakses untuk biopsy dan didiagnosis
secara dini, tetapi sekitar separuh menyebabkan kematian dalam 5 tahun dan
mungkin telah bermetastasis saat lesi primer ditemukan. Kanker inni cenderung
terjadi pada usia lanjut dan jarang sebelum usia 40 tahun.
Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses
yang terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi, promosi dan
perkembangan tumor. Secara garis besar, etiologi kanker rongga mulut dapat
dikelompokkan atas :
1. Faktor lokal, meliputi kebersihan rongga mulut yang jelek, iritasi kronis dari
restorasi, gigi-gigi karies/akar gigi, gigi palsu.
2. Faktor luar, antara lain karsinogen kimia berupa rokok dan cara
penggunaannya, tembakau, agen fisik, radiasi ionisasi, virus, sinar matahari.
3. Faktor host, meliputi usia, jenis kelamin, nutrisi imunologi dan genetik
Tiga tempat asal karsinoma rongga mulut yang predominan adalah (sesuai urutan
frekuensi):
1. Batas vermilion tepi lateral bibir bawah
2. Dasar mulut dan
3. Batas lateral lidah yang bergerak
Lesi awal tampak sebagai penebalan sirkumskripta yang berwarna putih seperti
mutiara hingga abu-abu dan sangat mirip dengan bercak leukoplakia. Lesi
kemudia tumbuh secara eksofitik dan menghasilkan nodus yang mudah terlihat
dan diraba yang akhirnya tumbuh seperti fungus, atau mungkin mengambil pola
pertumbuhan endofitik invasive dengan nekrosis sentral sehingga terbentuk ulkus
17

kanker. Tumor biasanya adalah karsinoma sel skuamosa penghasil keratin yang
berdiferensiasi sedang samapai baik. Sebelum lesi berkembang jauh biasanya
dapat ditemukan atipia, dysplasia, atau karsinoma in situ di tepi lesi, yang
mengisyaratkan bahwa lesi berasal dari leukoplakia atau eritroplasia. Penyebaran
ke kelenjar getah bening regional jarang ditemukan pada awal diagnosis kanker di
bibir, pada sekitar 50% kasus kanker di lidah, dan pada lebih dari 60% mereka
yang kankernya didasar mulut. Penyebaran ke jaringan atau organ jauh di toraks
atau abdomen lebih jarang daripada penyebaran regional.
Manifestasi Klinik
1. Keluhan yang paling sering nyeri yang tak terasa sakit atau massa yang tidak
dapat sembuh.
2. Lesi tipikal adalah ulkus indurasi yang sangat nyeri dengan peningkatan sudut.
3. Sejalan dengan kemajuan kanker pasien dapat mengeluhkan nyeri tekan,
kesulitan mengunyah, menelan, dan berbicara, batuk dengan sputum bersemu
darah atau terjadi perbesaran nodus limfe servikal.
TUMOR KELENJAR LIUR
Kelenjar liur menghasilkan beragam tumor yang mengingkari ukuran kecilnya.
Sekitar 80% tumor terjadi didalam kelenjar parotis dan sebagian besar sisanya di
kelenjar submandibula. Laki-laki dan perempuan sama seringnya terkena,
biasanya pada usia 60an dan 70an. Di kelenjar parotis, 70% hingga 80% tumor ini
jinak, sedangkan di kelenjara submaksila hanya separuh yang jinak. Oleh karena
itu, jelaslah bahwa neoplasma di kelenjar submaksila lebih berbahaya daripada
neoplasma di parotis. Tumor utama yang timbul di parotis adalah adenoma
pleomorfik jinak, yang kadang-kadang disebut tumor campuran yang berasal dari
kelenjar liur. Yang jauh lebih jarang adalah sistadenoma papilaris limfomatosus
(tumor warthin). Apa pun tipenya, tumor ini bermanifestasi secara klinis sebagai
massa yang menyebabkan pembengkakan disudut rahang.
Adenoma Pleomorfik (Tumor Caampuran Kelenjar Liur)
Adenoma Pleomorfik adalah tumor kelenjar saliva dan paling umum di jumpai
pada kelenjar parotid. Tumor ini merupakan tumor campuran (benign mixed

18

tumor), yang terdiri dari komponen epitel, mioepitel dan mesenkim dan tersusun
dalam beberapa variasi komponennya.
Kelenjar saliva dikategorikan kedalam kelenjar saliva mayor dan minor. Kelenjar
saliva mayor ada 3 (tiga ) : parotid, submandibularis, sublingualis. Kelenjar saliva
minor terdapat disepanjang aerodigestif bagian atas submukosa : palatum, bibir,
pharynx, nasophrynx, larynx, ruang parapharyngeal.3,9 Pada kelenjar saliva
mayor Adenoma Pleomorfik paling sering di jumpai pada kelenjar parotid,
sedangkan pada kelenjar saliva minor Adenoma Pleomorfik lebih sering dijumpai
pada palatum dan bibir atas.
Adenoma Pleomorfik dapat terjadi pada semua umur, baik anak-anak maupun
dewasa. Pada sebagian besar kasus menunjukkan 45% sampai 75% dari semua
neoplasma kelenjar saliva, timbulnya penyakit 2 sampai 35 kasus per 100,000
orang. Adenoma Pleomorfik lebih sering terjadi pada wanita dibanding laki-laki
dengan perbandingan 2:1. Adenoma Pleomorfik paling sering terjadi diantara
dekade ke- 3 sampai ke- 6, dengan presentase usia rata-rata 43-46 tahun. Di
Amerika, Adenoma Pleomorfik di jumpai sebanyak 80% dari seluruh tumor jinak
kelenjar saliva.
Tumor Warthin
Tumor Warthin merupakan tumor jinak yang hampir sering terjadi di kelenjar
parotis disbanding kelenjar liur lainnya. Presentasinya 5-6% dari seluruh tumor
kelenjar ludah. Dari seluruh tumor jinak kelenjar parotis tumor Warthin
menduduki peringkat kedua terbanyak setelah adenoma pleomorfik, dengan
insidensi 6-10% dari seluruh tumor jinak kelenjar parotis. Secara umum tumor ini
lebih banyak pada pria dibanding wanita dengan perbandingan 5:1. Umur 40-70an
merupakan dekade terbanyak yang menderita tumor ini. Puncak insiden terjadi
pada usia tujuhpuluhan. Tumor ini jarang terjadi pada bangsa berkulit hitam
Afrika. Tumor didiagnosis rata-rata setelah berukuran 2,5cm. Kebanyakan tumor
berlokasi di kutub bawah. Tumor bisa tumbuh bilateral kira-kira 10-12% dan
tumor Warthin yang multipel dapat terjadi pada satu kelenjar parotis.
Kekerapannya diperkirakan 6%. Terdapat hubungan kuat antara kebiasaan
merokok dengan tumor Warthin, kekerapannya delapan kali dibanding yang tak

19

merokok. Mekanismenya tidak diketahui dengan pasti. Diduga tembakau pada


rokok menyebabkan metaplasia di kelenjar parotis. Paparan radiasi dapat
meningkatkan risiko terjadinya tumor Warthin. Penelitian pada orang-orang
Jepang yang terpapar radiasi ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki
menunjukkan peningkatan risiko sebanyak 3,5 sampai 11 kali.
KARSINOMA ESOPHAGUS
Tumor pada esofagus secara garis besar dibedakan menjadi Karsinoma sel
skuamus (squamous cell carcinoma), adenokarsinoma, neoplasma malignan
lainnya, tumor jinak, dan lesi menyerupai tumor. Karsinoma sel skuamus
merupakan tumor esophagus yang sering dijumpai, yaitu sekitar60% dari
keseluruhan karsinoma esofagus, dan biasanya bersifat Fatal dalam kurang dari 5
tahun. Secara patologis,gambaran karsinoma esofagus secara garis besar
dibedakan menjadi polipoid, ulseratif, dan infiltratif. Tapi penampakannya sering
tumpang tindih dimana tumorpolipoid dapat menjadi ulseratif. Klasifikasi
karsinoma esofagus sangat beragam, tetapi secara umum menurut lokasinya
dibedakan menjadi 3, yaitu proksimal, tengah, dan distal.
Etiologi dari karsinoma sel skuamus esophagus sangat kompleks dan
multifaktorial. Fakta yang ada, tidak ada satupun penyebab yang dikatakan
sebagai penyebab tunggal. Beberapa faktor seperti paparan lingkungan,
kebiasaanmakan, iritasi mukosa kronis, infeksi, pengaruh budaya, dan predisposisi
faktor genetik juga berperan. Peranan virus (Human Papillovirus) dan perubahan
gen saat ini juga telah dibahas dalam patogenesis terjadinya karsinoma sel
skuamus esofagus.
Adenokarsinoma tampaknya berasal dari mukosa displastik yang melapisi
esophagus barrett. Tidak seperti karsinoma sel skuamosa, kanker ini biasanya
terletak di sepertiga distal esophagus dan mungkin menginvasi kardia lambung di
dekatnya. Kanker ini, yang awalnya tampak sebagai bercak datar atau meninggi
pada mukosa yang utuh, dapat berkembang menjadi massa nodular yang besar
atau memperlihatkan ulkus dalam atau infiltrate difus. Secara mikroskopis,
sebagian besar tumor adalah tumor kelenjar yang menghasilkan musin dan
memperlihatkan gambaran tipe intestinal, sesuai dengan morfologi mukosa

20

metaplastik sebelumnya. Kadang-kadang terbentuk tumor dari jenis sel saluran


cerna lain yang mendukung konsep bahwa epitel Barret berasal dari sel
multipotensial.
Gambaran

klinis.

Karsinoma

esophagus

memiliki

onset

lambat

dan

menyebabkan disfagia serta obstruksi secara bertahap dan lambat. Terjadi


penurunan berat, anoreksia, rasa lelah, dan kelemahan tubuh yang diikuti oleh
nyeri, biasanya berkaitan dengan menelan.

TUMOR LAMBUNG
Seperti di saluran cerna lainnya, tumor yang berasal dari mukosa lebih sering
ditemukan

daripada

tumor

mesenkim.

Tumor

ini

secara

garis

besar

diklasifikasikan menjadi polip dan karsinoma.


Polip Lambung
Kata polip digunakan untuk setiap nodus atau massa yang menonjol lebih tinggi
daripada mukosa di sekitarnya. Kadang-kadang lipoma atau leimioma yang
tumbuh didinding lambung dapat menonjol dari bawah mukosa dan menghasilkan
suatu lesi yang tampak polipoid. Namun, pemakaian kata polip di saluran cerna
umumnya dibatasi untuk lesi massa yang tumbuh dimukosa. Polip lambung jarang
terjadi dan ditemukan pada sekitar 0,4% autopsy orang dewasa, dibandingkan
dengan polip kolon, yang ditemukan pada 25% hingga 50% orang berusia lanjut.
Di lambung, lesi ini paling sering berupa:
1. Polip hiperplastik (80-85%)
2. Polip kelenjar fundus (sekitar 10%)
3. Polip adenomatosa (sekitar 5%)
Ketiga tipe timbul pada gastritis kronis sehingga ditemukan pada populasi pasien
yang sama. Polip hiperplastik dan polip kelenjar fundus pada dasarnya tidak
berbahaya. Sebaliknya, jelas terdapat risiko adanya adenokarsinoma pada polip
adenomatosa, yang meningkat seiring dengan ukuran polip.
Morfologi

21

Polip hiperplastik tumbuh dari respons perbaikan yang berlebihan terhadap


kerusakan kronis mukosa sehingga terdiri atas epitel mukosa hiperplastik dan
stroma edematosa yang meradang. Lesi ini bukan neoplasma sejati. Polip
kelenjar fundus adalah kumpulan kecil kelenjar tipe-korpus yang melebar dan
diperkirakan merupakan suatu hamartoma kecil. Di pihak lain, adenoma (yang
lebih jarang ditemukan) mengandung epitel displastik. Seperti adenoma kolon,
adenoma merupakan neoplasma sejati.
Karsinoma Lambung
Diantara tumor ganas yang terdapat dilambung, karsinoma merupkan yang
terpenting dan tersering (90 sampai 95%). Urutan berikutnya dalam frekuensi
adalah limfoma dan karsinoid (masing-masing 4% dan 3%) dan tumor sel
gelendong mesenkim.
Epidemiologi dan Klasifikasi. Karsinnoma lambunng merupakan penyakit
mendunia dengan insidensi sangat bervariasi. Jepang, Kolombia, Kosta rika, dan
hungaria memiliki insidensi yang tinggi. Namun, di sebagian besar Negara terjadi
penurunan tetap insidensi dan mortalitas kanker lambung. Namun, kanker ini
masih merupakan kanker pembunuh utama, menyebabkan 3% dari semua
kematian akibat kanker di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh angka
harapan hidup 5 tahun yang mengecewakan, yaitu tetap di bawah 20%.
Kanker lambung memperlihatkan dua tipe morfologik, yang disebut intestinal dan
difus. Varian intestinal diperkirakan berasal dari sel mucus lambung yang
mengalami metaplasia intestinal pada gastritis kronis. Pola kanker ini cenderung
berdiferensiasi baik dan merupakan tipe yang sering ditemukan pada populasi
beresiko tinggi. Karsinoma tipe intestinal adalah pola yang frekuensinya terus
berkurang di Amerika Serikat. Sebaliknya varian difus diperkirakan timbul de
novo dari sel mucus lambung asli, tidak berkaitan dengan gastritis kronis, dan
cenderung kurang berdiferensiasi. Yang lebih penting, karsinoma lambung difus
tidak banyak berubah frekuensinya dalam 60 tahun terakhir dan sekarang
membentuk sekitar separuh dari karsinoma lambung di Amerika Serikat.
Sementara karsinoma tipe intestinal terutama timbul setelah usia 50 tahun dengan
predominansi laki-laki 2:1, karsinoma difus timbul pada usia lebih dini tanpa

22

predominansi laki-laki. Hampir pasti bahwa terdapat dua bentuk karsinoma


lambung yang berbeda.
Patogenesis. Faktor utama yang diperkirakan memengaruhi pembentukan kanker
ini adalah lingkungan.
Faktor risiko untuk karsinoma lambung
Adenokarsinoma tipe-intestinal
Makanan
Nitrit yang berasal dari nitrat (ditemukan dalam makanan dan air minum, dan digunakan sebagai
pengawet daging) dapat mengalami nitrosasi untuk membentuk nitrosamine dan nitrosamida
Makanan yang diasapkan dan acar
Asupan garam berlebihan
Menurunnya asupan buah dan sayuran segar; antioksidan yang terdapat dalam makanan ini
mungkin bersifat protektif dengan menghambat nitrosasi.
Gastritis kronis dengan metaplasia intestinal
Infeksi Helicobacter pylori
Anemia pernisiosa
Kelainan anatomi
Setelah gastrektomi distal subtotal
Karsinoma Difus
Faktor risiko belum diketahui, kecuali mutasi herediter E-kaderin (jarang ditemukan)
Sering tidak terdapat infeksi Helicobacter pylori dan gastritis kronis.

Faktor risiko yang menyebabkan peningkatan karsinoma difus umumnya tidak


diketahui, walaupun pernah dilaporkan mutasi sel germinativum di E-kaderin
sehingga terjadi pewarisan dominan autosomal karsinoma lambung difus. Faktor
predisposisi untuk adenokarsinoma tipe intestinal banyak, tetapi derajat
kemaknaannya berubah-ubah. Sebagai contoh , faktor makanan telah berubah
drastis dalam tahun-tahun terakhir seiring dengan meluasnya pemakaian lemari es
di seluruh dunia, yang secara mencolok mengurangi kebutuhan mengawetkan
makanan melalui pengguanaan nitrat, pengasapan dan garam. Gastritis kronis
yang berkaitan dengan infeksi H,pylori masih merupakan faktor resiko utama
untuk karsinoma lambung. Suatu penelitian prospektif dari jepang menggaris
bawahi hubungan antara infeksi H.pylori dan karsinoma lambung. Risiko
terutama tinggi pada mereka yang mengidap gastritis kronis yang terbatas di
23

antrum lambung. Para pasien ini mengalami atrofi lambung berat, metaplasia
intestinal, dan akhirnya dysplasia dan kanker. Yang perlu dicatat, pasien dengan
ulkus duodenum terkait H.pylori umumnya terlindung dari kanker lambung.
Mekanisme bagaimana H.pylori menyebabkan transformasi neoplastik masih
belum jelas. Mungkin peradangan kronis menghasilkan radikal bebas yang
merusak DNA, dan mutasi yang terjadi menyebabkan hiperproliferasi yang tidak
diimbangi oleh apoptosis.
Klasifikasi
Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Berdasarkan hasil pemeriksaan
radiologi,gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas :
1. Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa
yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata,
perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.
2. Tipe II (superficial type)Dapat dibagi atas 3 sub tipe.
a. Tipe IIa (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung.
Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi danlebih meluas dan
melebar.
b. Tipe IIb (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan
hanya terlihat perubahan pada warnamukosa.
c. Tipe IIc (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan
pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan.
3. Tipe III (Excavated type) Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan
sering disertai kombinasi seperti tipe II c dantipe III atau tipe III dan tipe II c,
dan tipe II a dan tipe II c.Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut).
Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :
1. Bormann I Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut
sebagai fungating dan mukosa disekitar tumor atropik dan irregular.
2. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi
ulkus serta mukosa sekitarnyamenonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus
terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuandan merah kehitaman.
Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik.
3. Bormann III.Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas
pada dinding dan infiltrasi difuspada seluruh mukosa.

24

4. Bormann IVBerupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas
pada dinding dan infiltrasi difuspada seluruh mukosa.
Gambaran klinis. Karsinoma lambung dini umumnya tak-bergejala dan dapat
ditemukan hanya dengan pemeriksaan endoskopik berulang pada orang yang
berisiko tinggi, seperti yang dipraktikkan di jepang. Karsinoma stadium lanjut
juga mungkin asimtomatik, tetapi sering dicurigai karena rasa tidak nyaman
diperut atau penurunan berat badan. Walaupun jarang, neoplasma ini dapat
menyebabkan disfagia apabila terletak di kardia atau gejala obstruktif bila
terbentuk di kanalis pylorus. Satu-satunya harapan untuk sembuh adalah deteksi
dini dan pengangkatan secara bedah, karena indikator prognostic terpenting
adalah stadium tumor saat reseksi.

TUMOR APENDIKS
Karsinod merupakan bentuk neoplasia tersering di apendiks. Satu-satunya lesi lain
yang perlu disinggung adalah mukokel apendiks dan neoplasma musinosa.
Mukokel adalah dilatasi lumen apendiks oleh sekresi musinosa. Kelainan ini
disebabkan oleh obstruksi nonneoplastik lumen dan biasanya berkaitan dengan
fekalit di lumen sehingga terjadi akumulasi sekresi musinosa steril secara
perlahan. Akhirnya, terjadi distensi yang menyebabkan atrofi sel mukosa
penghasil musin sehingga sekresi berhenti. Keadaan ini biasanya asimptomatik;
walaupun jarang mukokel dapat rupture dan menumpahkan musinn yang tidak
berbahaya ke dalam peritoneum.
Neoplasma musinosa berkisar dari kistadenoma musinosa jinak, hingga
kistadenokarsinoma musinosa, yang menginvasi dinding untuk menimbulkan
kanker intraperitoneum diseminata yang disebut pseudomiksoma peritonei.
Kistadenoma ini secara histologi identik dengan tumor analog diovarium.
Neoplasma ganas pengahasil musin (kistadeokarsinoma) menginvasi dinding
sehingga sel tumor dapat berimplantasi diseluruh rongga peritoneum, yang
kemudian terisi oleh musin (pseudomiksoma peritonei).
TUMOR HATI

25

Hati dan paru merupakan dua organ visceral yang paling sering terkena
penyebaran kanker. Memang, neoplasma hati yang tersering adalah karsinoma
metastasik, dengan kolon, paru, dan payudara sebagai tempat tumor primer
tersering. Di seluruh dunia, insidensi keganasan hati primer bervariasi sesuai
dengan prevalensi setempat faktor resiko, terutama infeksi HBV.
Massa di hati menimbulkan perhatian karena bermacam-macam alasan. Massa
tersebut dapat menyebabkan rasa penuh dan tidak enak di ulu hati atau terdeteksi
saat pemeriksaan fisik rutin. Pemeriksaan radiografik untuk indikasi lain mungkin
secara tidak sengaja mendeteksi massa di hati. Yang penting dalam diagnosis
banding massa di hati adalah:
1) Apakah terdapat penyakit hati yang mendasari, terutama sirosis, yang risiko
karsinoma hepatoselularnya cukup tinggi, dan
2) Apakah massa tersebut tunggal atau jamak.
Keainan nonmaligna lebih besar kemungkinannya tunggal pada hati yang normal,
meskipun beberapa lesi (missal, kista) mungkin multiple.
Tumor jinak
Lesi jinak yang tersering adalah hemangioma kavernosa, yang identik dengan
yang terjadi dibagian tubuh lain. Lesi berbatas tegas ini terdiri atas saluran
vascular berlapis endotel dengan stroma diantaranya. Tumor tampak sebagai
nodus diskret merah-biru, biasanya bergaris tengah kurang dari 2cm, dan sering
terletak tepat dibawah kapsul. Makna klinis utamanya adalah jangan salah
menyangka sebagai tumor metastasik; biopsy jarum perkutis buta dapat
menyebabkan perdarahan intra abdomen yang parah.
Nodus hepatoselular jinak soliter atau multiple dapat timbul di hati yang tidak
mengalami sirosis. Hyperplasia nodular fokal tampak sebagai nodus berbatas
tegas, tetapi tidak jelas berkapsul, dengan jaringan parut fibrosa ditengah dan
diameter hingga beberapa sentimeter. Lesi ini diperkirakan merupakan regenerasi
nodular sebagai respons terhadap cedera vascular local dan bukan neoplasma per
se. hyperplasia nodular fokal paling sering terjadi pada usia dewasa muda hingga
pertengahan dan tampaknya tidak menimbulkan risiko keganasan.
26

Adenoma Sel Hati


Neoplasma hepatosit jinak ini cenderung timbul pada perempuan usia subur yang
menggunakan kontrasepsi oral, dan tumor mengecil jika pemakaian hormon
dihentikan. Tumor ini berupa nodus pucar, kuning-cokelat, atau berwarna empedu,
berbatas tegas, dan dapat ditemukan dimana saja di hati tetapi sering dibawah
kapsul. Garis tengah tumor dapat mencapai 30cm. secara histologist, adenoma sel
hati terdiri atas lembaran-lembaran dan genjel-genjel sel yang dapat mirip
hepatosit normal atau memperlihatkan variasi dalam ukuran nucleus dan sel.
Tidak terdapat saluran porta; diseluruh tumor tersebar pembuluh arteri dan vena
drainase. Adenoma sel hati bermakna karena dua alasan:
1) Jika terdapat sebagai massa intrahati, tumor ini dapat salah disangka sebagai
karsinoma hepatoselular yang prognosisnya lebih buruk; dan
2) Adenoma subkapsul berisiko mengalami rupture, terutama sewaktu kehamilan
(dibawah pengaruh estrogen), menyebabkan perdarahan intraabdomen yang
berbahaya.
Tumor ini jarang berkembang menjadi karsinoma hepatoselular.
Karsinoma hati primer
Karsinoma primer di hati relatif jarang ditemukan di Amerika Utara dan Eropa
Barat (0,5% sampai 2% dari semua kanker), tetapi 20% hingga 40% kanker di
banyak Negara lain. Sebagian besar berasal dari hepatosit dan disebut karsinoma
hepatoselular (HCC). Yang jauh lebih jarang adalah karsinoma yang berasal dari
saluran empedu (kolangikarsinoma) atau tumor yang merupakan campuran dari
dua jenis sel. Dua bentuk yang jarang adalah hepatoblastoma, suatu tumor
hepatoselular agresif pada mas anak, dan angiosarkoma yang sangat ganas.
Faktor Risiko
1. Sirosis hati.
Sirosis hati adalah faktor risiko penting dalam proses terbentuknya HCC.
Sebagian besar HCC muncul dari sirosis yang diinduksi baik oleh hepatitis
kronis

viral,

penyakit

hati

alkoholik,

steatohepatitis

non-alkoholik,

hemokromatosis, ataupun gangguan metabolik. Sirosis merupakan stadium

27

akhir dari inflamasi kronis hati akibat berbagai etiologi tadi. Inflamasi kronis
yang meliputi kerusakan, regenerasi maupun proliferasi sel ini member tempat
bagi mutasi maupun ketidakstabilan gen, yang pada gilirannya dapat
memunculkan HCC.
2. Virus Hepatitis B (HBV).
Infeksi virus hepatitis B (HBV) merupakan faktor risiko terpenting dalam
etiologi sirosis hati dan HCC. Virus ini merupakan virus DNA sirkuler yang
beralur ganda. Pada tahun 2010, disebutkan di seluruh dunia diperkirakan 300
juta orang yang terinfeksi infeksi kronis virus ini. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa carrier HBV memiliki risiko terjadinya HCC 5 hingga 15
kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Risiko HCC pada penderita
sirosis terkait HBV lebih tinggi lagi, berkisar antara 2,2 dan 4,3 perseratus
orang pertahun, sedangkan pada pasien hepatitis B tanpa sirosis kurang dari 1
perseratus orang pertahun. Sekitar 70 hingga 90% pasien HCC terkait HBV
timbul setelah terjadi sirosis. Ditemukannya DNA HBV pada genom hepatosit
sel pejamu baik yang terinfeksi maupun yang ganas, menunjukkan
kemungkinan HBV menginduksi transformasi ganas melalui insersi DNA
virus tersebut ke dalam atau di dekat proto-onkogen atau gen supresor tumor.
3. Virus Hepatitis C (HCV).
Virus hepatitis C merupakan virus RNA beralur tunggal. Infeksi kronis HCV
juga merupakan faktor risiko utama dalam terjadinya HCC. Antibodi terhadap
virus ini (antiHCV) dapat terdeteksi pada hingga 90% penderita HCC.
Inflamasi kronis oleh sebab infeksi HCV meningkatkan risiko HCC dengan
pemicuan fibrogenesis hati yang pada akhirnya berujung sirosis, melalui
pengaktifan transforming growth factor (TGF)-, di samping adanya
kemungkinan induksi transformasi ganas pada hepatosit sendiri oleh mutasi
pada gen yang instabil dalam kondisi inflamasi kronis tersebut.
4. Konsumsi alkohol secara eksesif.
Risiko HCC meningkat secara bermakna pada pengkonsumsi alkohol yang
melebihi 80 gram perharinya selama 10 tahun atau lebih. Efek induksi
malignansi akan lebih besar apabila peminum alkohol adalah seorang yang
terinfeksi HBV atau HCV. Mekanisme induksi belum dipahami dangan jelas,

28

tapi diperkirakan melibatkan stres oksidatif, metilasi DNA, menurunnya


pengawasan imun serta kerentanan genetik.
5. Aflatoksin.
Aflatoksin (AF) merupakan hepatokarsinogen yang poten. Aflatoksin adalah
metabolit fungus (mikotoksin) yang diproduksi oleh Aspergillus flavus dan A.
parasiticus. Fungi tersebut tumbuh subur pada beberapa produk makanan dari
kelompok padi-padian dan kacang-kacangan di bawah kondisi lembab di
daerah tropis dan subtropis. Ada empat senyawa aflatoksin: B1, B2, G1 dan
G2, yang terlazim dan paling toksik adalah AFB1, toksisitasnya menyebabkan
nekrosis hati dan proliferasi duktus biliaris. Saat ini sedang dilakukan studi
epidemiologi yang mendokumentasikan faktor risiko ini di antara populasi
yang mengkonsumsi diet yang terkontaminasi AF. Pengembangan biomarker
AF yang didasarkan deteksi metabolit aktif AFB1 juga sedang dilakukan.
6. Faktor-faktor lain.
Beberapa faktor lain yang disebut-sebut memiliki kaitan cukup erat dengan
terjadinya HCC adalah:
Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD)
Non-alcoholic steatohepatitis (NASH)
Diabetes mellitus tipe 2 dan obesitas
Terjadinya HCC terkait hiperinsulinemia diperantarai oleh inflamasi,

proliferasi sel, inhibisi apoptosis, dan mutasi gen-gen supresor tumor


Obesitas
Perokok
Asap tembakau mengandung sedikitnya 55 bahan karsinogen, beberapa di

antaranya memiliki hepatokarsinogenitas


Konsumsi kontrasepsi hormonal: estrogen diyakini memiliki efek

proliferatif pada hepatosit terutama bila dikonsumsi lama (>5 tahun)


Beberapa penyakit herediter, seperti hemokromatosis herediter, defisiensi
antitripsin-1.

Patogenesis
Patogenesis pasti HCC tidak diketahui. Namun jelas bahwa hepatokarsinogenesis
merupakan suatu proses bertingkat yang melibatkan interaksi antara faktor
eksogen dan faktor endogen, mekanisme karsinogen langsung (misalnya bahan
kimia tertentu dan karsinogenesis virus (HBV)) dan karsinogenik tidak langsung

29

(misalnya nekroinflamasi kronis). Proses nekroinflamasi kronis ditandai oleh


destruksi berulang parenkim hepar yang disertai stimulasi regenerasi dan
remodelling hepar yang terus-menerus. Bahan-bahan sitokin dan imunomodulator
seperti interleukin, interferon, tumor necrosis factor-, protease, dan faktor-faktor
pertumbuhan dilepaskan dan dapat memicu timbulnya fokus-fokus praganas dari
hepatosit yang mengalami displasia yang dapat berujung pada transformasi ganas.
Patogenesis molekuler HCC tidaklah seragam. HCC adalah tumor yang secara
genetik sangat heterogen, dengan abnormalitas kromosom yang multipel
walaupun tidak semuanya terekspresi pada suatu HCC. Mutasi gen DNA,
modifikasi epigenetik dari gen supresor tumor, kerentanan genetik akibat
polimorfisme genetik dalam enzim-enzim yang memetabolisme obat, berbagai
faktor pertumbuhan (seperti misalnya insulin-like growth factors, epidermal
growth factors/EGF, transforming growth factor-/TGF-) tampaknya memiliki
peran dalam patogenesis HCC.
Manifestasi Klinis
HCC sering tetap tanpa gejala untuk jangka waktu yang lama. Jika diagnosis
bergantung hanya pada manifestasi klinis saja, HCC pasti akan ditemukan sudah
pada stadium lanjut. Gejala biasanya tidak khas dan biasa berkembang pada
pasien dengan penyakit hati kronis seiring perjalanan penyakit mereka. Pada
pasien dengan sirosis hati yang tanpa alasan yang jelas timbul asites, ensefalopati
hepatik, varises perdarahan, atau demam yang tidak diketahui sebabnya, harus
dicari adanya HCC. Pada HCC yang lanjut, pasien kerap mengeluhkan rasa
tertekan dan penuh pada perut bagian atas dan adanya penurunan berat badan.
Ikterus mungkin timbul, disebabkan oleh kompresi saluran empedu atau mungkin
karena infiltrasi difus tumor ke parenkim. Jarang terjadi suatu tumor HCC ruptur
ke

dalam

rongga

peritoneum

sehingga

menyebabkan

perdarahan

akut

intraperitoneal dan peritonitis. Pada tumor yang besar dan baik vascularisasinya
baik, desau/murmur aliran darah bisa terdengar (pada 25% kasus). Sindroma
Budd-Chiari (nyeri perut, asites, hepatomegali, ikterus) ataupun obstruksi vena
kava inferior yang jarang terjadi dapat merupakan manifestasi awal HCC.

30

Kadangkala pada pasien HCC terjadi sindroma paraneoplastik, seperti


hipoglikemia (akibat konsumsi glukosa oleh tumor, sekresi insulin-like growth
factor II oleh HCC dalam waktu kurang dari 5% kasus), eritrositosis (akibat
produksi eritropoietin oleh HCC), hiperkalsemia (sekresi parathyroid hormonerelated protein), diare berair/watery (karena sekresi peptida intestinal vasoaktif
dan peptida gastrointestinal lainnya) atau hipertensi arteri (akibat produksi
angiotensinogen oleh HCC). Angka kejadian metastasis ekstrahepatik adalah
sekitar 13%.
KARSINOMA KANDUNG EMPEDU
Diantara beragai kanker saluran empedu ekstrahati, karsinoma kandung empedu
jauh lebih prevalaen dibandingkan dengan kanker yang timbul di saluran empedu
(2 hingga 4;1). Kanker ini merupakan kanker kelima tersering disaluran cerna,
sedikit lebih sering pada perempuan, dan paling sering timbul pada usia 70an.
Kanker ini jarang ditemukan pada stadium yang masih dapat direseksi, dan angka
ketahanan hidup 5 tahun masih hanya sekitar 1%. Batu empedu ditemukan pada
60% hingga 90% kasus. Namun, di Asia, tempat penyakit piogenik dan parasit
dalam saluran empedu lebih sering terjadi, batu empedu tidak terlalu penting.
Diperkirakan, kandung empedu yang mengandung batu atau terinfeksi terjangkit
kanker akibat trauma berulang dan peradangan kronis. Peran turunan karsinogenik
asam empedu masih belum jelas.
Morfologi
Kanker empedu memperlihatkan pola pertumbuhan eksofilik atau infiltrative. Pola
infiltrative lebih sering terjadi dan biasanya tampak sebagai daerah penebalan dan
indurasi difus di dinding kandung empedu yang mungkin berukuran luas beberapa
sentimeter persegi atau mengenai seluruh kandung empedu. Tumor ini bersifat
scirrhous dan sangat padat. Tumor dengan pola eksofitik tumbuh ke dalam lumen
sebagai massa irregular mirip kembang kol, tetapi pada saat yang sama juga
menginvasi dinding bawahnya. Sebagian besar karsinoma kandung empedu
adalah adenokarsinoma. Sebagian papilaris, dan yang lain berupa tumor
infiltrative yang berdiferensiasi buruk atau tidak berdiferensiasi. Sekitar 5%
adalah karsinoma sel skuamosa atau memperlihatkan diferensiasi adenoskuamosa.

31

Sebagian kecil adalah tumor karsinoid. Pada saat ditemukan, sebagian besar
kanker kandung empedu telah menginvasi hati secara langsung, dan banyak yang
telah meluas ke duktus sistikus dan saluran empedu didekatnya dan kelenjar getah
bening portahepatika. Peritoneum, saluran cerna, dan paru merupakan tempat
perbenihan yang lebih jarang.
Gambaran klinis. Kanker kandung empedu jarang didiagnosis praoperasi
(kurang dari 20% pasien). Gejala awal tidak jelas dan biasanya sulit dibedakan
dengan gejala yang berkaitan dengan kolelitiasis: nyeri abdomen, anoreksia,
ikterus, serta mual dan muntah. beberapa pasien yang beruntung mengalami
obstruksi secara dini dan kolesistitis akut sebelum tumor meluas ke struktur
disekitarnya atau menjalani kolesistektomi atas indikasi adanya batu empedu
simptomatik. Diagnosis praoperasi terutama bergantung pada deteksi batu empedu
disertai kelainan di dinding kandung empedu yang diketahui dari pemeriksaanpemeriksaan pencitraan.
Karsinoma saluran empedu ekstrahati, termasuk ampula vateri
Karsinoma pada saluran empedu inntrahati (kolangiokarsinoma) bermanifestasi
sangat mirip dengan karsinoma hepatoselular. Sebaliknya, kanker yang timbul
disaluran ekstra hati, meskipun masih disebut sebagai kolangiokarsinoma,
memiliki gejala yang sangat samar dan umumnya menyebabkan ikterus yang tak
nyeri dan semakin berat. Kanker ini juga timbul pada usia lanjut dan, tidak seperti
kanker kandung empedu, terjadi sedikit lebih sering pada laki-laki. Upaya
mengaitkan batu empedu dengan pembentukan tumor ini kurang meyakinkan;
batu

emepedu

terdapat

pada

hanya

sepertiga

kasus.

Seperti

pada

kolangiokarsinoma intrahati, populasi yang berisiko adlah mereka yang mengidap


infeksi cacingg atau kolangitis sklerotikans primer atau penyakit usus meradang.
Karena obstruksi parsial atau total terhadap saluran empedu cepat menyebabkan
ikterus, tumor empedu ekstrahati cenderung berukuran kecil saat didiagnosis.
Sebagian besar kanker tampak sebagai nodus abu-abu padat didalam dinding
saluran empedu; sebagian mungkin berupa lesi infiltrate difus, membentuk
penebalan dinding yang batasnya tidak jelas; tumor lain berbentuk lesi papilar

32

polipoid. Sebagian besar tumor saluran empedu adalah adenokarsinoma yang


mungkin menghasilkan musin mungkin juga tidak.
Gejala yang muncul akibat neoplasma ini (ikterus, tinja tidak berwarna, mual dan
muntah, serta penurunan berat) umumnya terjadi akibat obstruksi. Hepatomegali
terdapat pada sekitar 50% dan pembesaran kandung empedu yang dapat diraba
ditemukan pada sekitar 25%. Kelainan terkait adalah peningkatan kadar fosfatase
alkali dan aminotransferase serum, urin tercemar empedu, dan memanjangnya
waktu protrombin.
Diffrensiasi ikterus obstruktif akibat penyakit jinak seperti batu dari neoplasia
merupakan massalah klinis yang besar, terutama karena adanya batu tidak
menyingkirkan adanya keganasan. Meskipun berukuran kecil, sebagian besar
kanker duktus tidak dapat diangkat secara bedah saat didiagnosis. Lama ketahanan
hidup rerata berkisar dari 6 hingga 18 bulan, seberapa pun agresifnya reseksi atau
bedah paliatif dilakukan.
KARSNOMA PANCREAS
Istilah karsinoma pancreas memiliki arti karsinoma yang muncul dibagian
eksokrin kelenjar. Karsinoma ankreas sekarang menjadi penyebab tersering
kelima kematian akibat kanker di Amerika Serikat, hanya dikalahkan oleh kanker
paru, kolon, payudara, dan prostat.
Sekitar 60% hingga 70% kanker pada organ ini timbul di kaput pancreas, 5%
hingga 10% di korpus, dan 10% hingga 15% di kauda; pada 20%, tumor secara
difus mengenai seluruh kelanjar. Hampir semua tumor ini adalah adenokarsinoma
yang berasal dari epitel duktus. Sebagian mungkin mengeluarkan musin, dan
banyak yang memiliki sroma fibrosa dalam jumlah besar. Oleh karena itu, lesi
desmoplastik ini tampak sebagai massa keras, abu-abu putih, dan kasar seperti
pasir. Pada stadium awal, tumor melakukan infiltrasi local dan akhirnya meluas ke
struktur didekatnya.
Pada karsinoma kaput pancreas, region ampula mengalami invasi sehingga aliran
keluar empedu terhambat. Juga dapat terjadi ulserasi tumor ke dalam mukosa
duodenum. Akibat obstruksi di duktus koledokus, saluran empedu mengalami

33

pelebaran mencolok pada sekitar separuh pasien dengan karsinoma kaput


pancreas. Sebaliknya, karsinoma di korpus dan kauda pancreas tidak menekan
saluran empedu sehingga tetap asimptomatik selama beberapa waktu. Tumor ini
mungkin sudah cukup besar dan menyebar luas saat pertama kali ditemukan.
Secara mikroskopis, tidak terdapat perbedaan antar karsinoma kaput pancreas dan
karsinoma korpus/kauda pancreas. Sebagian besar tumor sedikit banyak tumbuh
dalam pola glandular; tumor mungkin musinosa atau tidak mengeluarkan musin.
Pada banyak kasus, kelenjar tampak atipikal, irregular, dan kecil, serta dilapisi
oleh sel epitel anaplastik kuboid hingga kolumnar.

TUMOR SISTEM GENITALIA LAKI-LAKI


1. Neoplasma penis
a. Karsinoma sel skuamosa: diperkirakan karena higiene yang kurang,
sehingga penis terpajan karsinogen potensial di smegma, dan infeksi HPV
terutama tipe 16 dan 18. Tampak sebagai lesi papular, abu-abu, dan
berkrusta paling sering mengenai glans penis atau preputium.
b. Karsinoma in situ
- Penyakit Bowen: secara makroskopis sebagai lesi soliter mirip plak di
-

batang penis.
Eritroplasia Queyrat: bercak eritematosa di glands penis.
Papulosis Bowenoid: lesi virus menular seksual yang mengenai batang

penis.
c. Karsinoma verukosa: tumbuh dengan pola papilaris, ditandai dengan atipia
sel yang tidak terlalu mencolok.
2. Tumor testis
a. Seminoma, usia puncak 40-50 tahun.
Morfologi: lembaran sel poligonal uniform, dengan sitoplasma jernih;
limfosit vdi stroma
Penanda tumor: 10% memperlihatkan peningkatan Hcg
b. Karsinoma embrional, usia puncak 20-30 tahun.
Morfologi: sel pleomorfik berdiferensiasi buruk dalam bentuk genjel,
lembaran atau papila; sebagian besar mengandung sel koriokarsinoma dan
yolk sac.
Penanda tumor: 90% memperlihatkan peningkatan Hcg atau AFP atau
keduanya
34

c. Tumor yolk sac, usia puncak 3 tahun.


Morfologi: sel kuboid, kolumnar, atau mirip endotelyang berdiferensiasi
buruk
Penanda tumor: 100% memperlihatkan peningkatan AFP
d. Koriokarsinoma. Usia puncak 20-30 tahun.
Morologi: sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas tanpa pembentukan vilus.
Penanda tumor: 100% memperlihatkan peningkatan hcg
e. Teratoma, semua usia
Morfologi: jaringan dan ketiga lapisan sel germinativum dengan derajat
diferensiasi bervariasi.
Penanda tumor: 50% memperlihatkan peningkatan hcg atau AFP atau
keduanya.
f. Tumor campuran. Usia puncak 15-30 tahun.
Morfologi: bervariasi bergantung pada campurannya; umumnya teratoma
dan karsinoma embrional
Penanda tumor: 90% memperlihatkan peningkatan hcg dan AFP.
3. Karsinoma prostat
Kanker ini menyerang laki-laki usia lanjut, antara usia 65-75 tahun. Faktor
hormon, genetik, dan lingkungan berperan dalam patogenesisnya. Secara
mikroskopis, sebagian besar karsinoma prostat adalah adenokarsinoma yang
memperlihatkan diferensiasi dengan derajat yang berbeda-beda.
Karsinoma prostat sering tidak menimbulkan gejala klinis, terutama pada
tahap awal. Adanya metastasis osteoblastik merupakan isyarat kuat adanya
karsinoma prostat tahap lanjut. Pemeriksaan PSA serum telah secara luas
digunakan dalam diagnosis karsinoma dini.

TUMOR SISTEM GENITALIA PEREMPUAN


A. Vulva
1. Kondiloma dan neoplasia intraepitel vulva derajat ringan (VIN I)
a. Kondiloma lata: jarang ditemukan , merupakan lesi datar, basah, sedikit
meninggi yang terjadi pada sifilis sekunder.
b. Kondiloma akuminata: bersifat papilar dan jelas meninggi atau sedikit
datar dan rugosa.
c. VIN I dan kondiloma disebabkan oleh HPV.
2. Neoplasia intraepitel vulva derajat berat (VIN derajat II atau III) dan
karsinoma vulva
VIN dapat diklasifikasikan menjadi VIN II atau VIN III (karsinoma in situ).
Pada banyak kasus VIN mendahului terbentuknya kanker vulva selama
35

bertahun-tahun. VIN dan karsinoma vulva dini tampak sebagai daerah-daerah


leukoplakia akibat penebalan epitel yang dapat mengenai semua bagian vulva
atau kulit disekitarnya.
3. Penyakit paget ekstramamari
Adalah suatu bentuk karsinoma epitel yang khas karena adanya sel
karsinomatosa tersebar tunggal dalam kelompok sel kecil. Secara mikroskopis
tampak sebagai fokus yang soliter atau multipel, tampak meradang, berbatas
tegas, kemerahan, dan berkrusta, biasanya di labia mayora dan mudah
disangka suatu bentuk dermatitis.
4. Melanoma vulva
Pada tahap awal, sel melanoma mungkin tersebar di dalam epidermis sehingga
menimbulkan pola mikroskopis mirip penyakit Paget. Namun, melanoma
tidak dikelilingi oleh halo mukopolisakarida.
B. Vagina
1. Neoplasia intraepitel dan karsinoma sel gepeng vagina
Lesi-lesi ini sangat jarang, biasanya ditemukan pada perempuan berusia 60
tahun atau lebih. Kadang-kadang juga terdapat karsinoma di serviks atau
vulva. Muncul inklusi mikrositik atau gglandular kecil di mukosa vagina.
Lesi jinak tampak sebagai fokus granular merah dan dilapisi oleh sel
penghasil mukus atau silindris bersilia.
2. Sarkoma botrioides
Membentuk massa polipoid lunak. Kanker ini biasanya ditemukan pada
bayi dan anak berusia kurang dari 5 tahun.
C. Serviks
1. Neoplasma intraepitel dan karsinoma sel gepeng serviks
Sebagian besar karsinoma sel gepeng serviks invasif berasal dari kelainan
epitel prekursor yang disebut CIN

(cervical intraephitelia neoplasia).

Namun, tidak semua kasus CIN berkembang menjadi kanker invasif.


2. Neoplasia intraepitel serviks (CIN), lesi intraepitel gepeng (SIL)
CIN I: displasia ringan
CIN II: displasia sedang
CIN III: displasia berat dan karsinoma in situ
Faktor risiko terjadinya CIN dan karsinoma invasif adalah:
- Usia dini saat mulai berhubungan kelamin
- Memiliki banyak pasangan seksual
- Pasangan laki-laki memiliki riwayat banyak memiliki pasangan
- Infeksi persisten oleh virus papiloma manusia risiko tinggi
3. Karsinoma invasif serviks

36

Karsinoma serviks tersering adalah karsinoma sel gepeng (75%), diikuti


adenokarsinoma dan karsinoma adenoskuamosa (20%) serta karsinoma
neuroendokrin sel kecil (kurang dari 5%). Karsinoma invasif terbentuk di
zona transformasi dan berkisar dari fokus mikroskopik invasi stroma dini
hingga tumor yang jelas mengelilingi os. Tumor yang mengelilingi serviks
dan menembus ke dalam stroma di bawahnya menimbulkan barrel
cervix (serviks seperti tong) yang dapat diidentifikasi dengan palpasi
langsung.
D. Corpus uteri
a. Tumor endometrium dan miometrium
- Polip endometrium adalah lesi tak bertangkai, biasanya hemisferis, dan
bergaris tengah 0,5 hingga 3 cm. Pada pemeriksaan histologik, polip
tampak dilapisi oleh sel silindris, sebagian memiliki arsitektur
endometrium yang pada dasarnya nomal, tetapi umumnya memiliki
-

kelenjar yang melebar mirip kista. Sering terjadi saat menopouse.


Leioma dan leiomiosarkoma
Leiomioma adalah tumor jinak terering pada perempuan dan
ditemukan pada 30% sampai 50% perempuan usia subur. Estrogen dan
mungkin kontrasepsi oral merangsang pertumbuhan tumor ini.
Leiomioma mungkin asimptomatik dan hanya ditemukan pada
pemeriksaan panggul rutin,. Manifestasinya menoragi dengan atau
tanpa metroragi. Leiomiosarkoma timbul langsung dari sel mesenkim

miometrium bukan dari leiomioma yang sedah ada.


Karsinoma endometrium
Kanker endometrium paling sering timbul pada usia antara 55 dan 65
tahun dan sangat jarang ditemukan pada usia kurang dari 40 tahun.

Faktor resikonya:
1. Kegemukn
2. Diabetes
3. Hipertensi
4. Infertilitas
E. Ovarium
a. Tumor ovarium memiliki faktor resiko yaitu nuliparitas dan riwayat
keluarga. Sebagian besar tumor ovarium herediter disebabkan oleh mutasi
di gen BRCA, BRCA1, dan BRCA2.
b. Tumor stroma epitel permukaan

37

Tumor serosa: ditemukan usia antara 30 sampai 40 tahun, tumor ini


biasanya

kistik

sehingga

dikenal

sebagai

kistadenoma

atau

kistadenokarsinoma.
Tumor musinosa: tumor ini cenderung lebih besar dan multilokular,

dan jarang ditemukan pembentukan papila.


Tumor endometrioid: tumor ini mungkin padat atau kistik, tetapi
membentuk

suatu

massa

yang

menonjol

dari

dinding

kista

endometriotikyang terisi cairan coklat.


Kistadenofibroma: biasanya kecil dan multilokular dengan tonjolan

papilaris biasa tidak bercabang. Jarang terjadi transformasi ganas.


Tumor brenner: tumor ovarium unilateral padat. Terdiri dari banyak
stroma yang mengandung sarang-sarang epitel transisional.tomor
brenner biasanya berkapsul licin dan tampak putih abu-abu jika

dipotong dengan garis tengah.


c. Tumor ovarium lainnya
- Teratoma: neoplasma yang berasal dari sel germinativum. Tumor ini
memperlihatkan gambaran buruk, semakin muda usia pasien, semakin
-

besar kemungkinan terjadinya keganasan.


Teratoma kistik benigna: ditndai dengan diferensiasi ektodermal sel
germinativum titipoten. Biasanya terjadi pembentukan kista yang
dilapisi oleh epidermis penuh dengan adneksa sehingga nama

umumnya adalah kista dermoid.


Teratoma malignasi matur: ditemukan pada usia dini, usia rerata 18
tahun. Lebih sering berukuran besar, padat atau hampir padat jika

dipotong dan ditandai dengan daerah nekrosis..


Teratoma khusus: tumor ini tampak sebagai massa ovarium coklat,
padat, kecil dan unilateral

TUMOR KULIT
1. Lesi epitel benigna dan pramaligna
a. Keratosis seboroik
Tumor epidermis yang umum ditemukan ini paling sering timbul pada usia
pertengahan dan usia lanjut. Secara klinis, keratosis seboroik tampak
sebagai plak bulat, datar, seperti koin yang garis tengahnya bervariasi dari
beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter. Lesi berwarna cokelat

38

muda hingga cokelat tua merata dan biasanya memperlihatkan permukaan


granular seperti beludru. Kadang-kadang, keratosis seboroik meradang
atau mirip melanoma sehingga perlu diangkat.
Keratosis seboroik adalah neoplasma indolen benigna yang mudah diterapi
dengan eksisi. Meskipun jarang, kemunculan mendadak ratusan lesi dapat
terjadi pada sindrom paraneoplastik. Pasien dengan gambaran ini mungkin
mengidap keganasan internal yang menghasilkan faktor pertumbuhan yang
merangsang proliferasi epidermis.
Morfologi
Secara histologis, neoplasma ini bersifat eksofitik dan berbatas tegas dari
epidermis sekitarnya. Tumor ini terdiri atas lembaran-lembaran sel kecil
yang sangat mirip dengan sel basal di epidermis normal. Di dalam sel
basaloid ini terdapat pigmentasi melanin dengan derajat bervariasi yang
merupakan penyebab lesi secara klinis berwarna cokelat dan mungkin
mirip melanoma. Pembentukan keratin yang berlebihan (hyperkeratosis)
terjadi di permukaan keratosis seboroik, dan adanya kista kecil berisi
keratin (horn cysts) serta pertumbuhan ke bawah keratin ke dalam massa
tumor utama (pseudo-horn cysts) merupakan gambaran khas.
b. Keratoakantoma
Keratoakantoma merupakan neoplasma yang berkembang cepat dan secara
klinis serta histologis mungkin mirip dengan karsinoma sel skuamosa
berdiferensiasi baik, tetapi sembuh spontan tanpa pengobatan. Laki-laki
lebih sering terkena daripada perempuan, dan lesi paling sering mengenai
bagian tubuh yang terpajan matahari pada laki-laki berkulit putih berusia
lebih dari 50 tahun.
Secar klinis, keratoakantoma tampak sebagai nodul berwarna kulit
berbentuk kubah dengan sumbat terisi keratin di bagian tenganya sehingga
terbentuk topografi seperti kawah. Ukuran diameter lesi bervariasi dari 1
cm hingga beberapa centimeter dan memiliki predileksi di pipi, hidung,
telinga, dan punggung tangan.
Morfologi

39

Secara histologis, keratioakantoma ditandai dengan kawah berisi keratin di


bagian tengah yang dikelilingi oleh proliferasi sel epitel yang meluas ke
atas membentuk bibir di sisi-sisi kawah dank e bawah ke dalam dermis
membentuk juluran lidah irregular. Epitel ini terdiri atas del besar yang
memperlihatkan tanda-tanda atipia sitologik reaktif. Sel ini memiliki
sitoplasma eosinofilik seperti kaca khas dan menghasilkan keratin secara
mendadak, seperti yang biasanya terjadi di bagian tengah folikel rambut
(tanpa terbentuknya lapisan sel granular yang khas untuk keratinisasi pada
epidermis).
c. Veruka (kutil)
Veruka sering ditemukan pada anak dan remaja meskipun dapat timbul
pada usia berapa saja. Lesi ini disebabkan oleh virus papiloma manusia
(human papillomavirus, HPV). Penularan penyakit biasanya melalui
kontak langsung antara individu atau autoinokulasi. Veruka biasanya
swasirna, mereda secara spontan dalam 6 bulan hingga 2 tahun.
Kutil dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe berdasarkan morfologi
dan lokasinya. Selain itu, setiap tipe kutil disebabkan oleh jenis HPV yang
berbeda. Veruka vulgaris adalah tipe kutil tersering. Lesi ini dapat timbul
dimana saja tetapi paling sering tumbuh di tangan, terutama permukan
dorsal dan daerah periungual, dan lesi tampak sebagai papula putih abuabu hingga cokelat, datar hingga konveks, berukuran 0,1 hingga 1,0 cm,
dan berpermukaan kasar seperti berkerikil. Veruka plana, atau kutil datar,
sering terbentuk di wajah atau permukaan dorsal tangan.kutil ini tampak
sebagai papula yang sedikit meninggi, datar, halus, berwarna coklat muda,
dan umumnya lebih kecil daripada veruka vulgaris. Veruka plantaris dan
veruka Palmaris masing-masing terbentuk di telapak kaki dan telapak
tangan. Lesi kasar berskuama memiliki garis tengah hingga 1 sampai 2
cm, bersatu dan sering disangka mata ikan (kalus). Kondiloma akuminata
(kutil veneral, kutil genital) terbentuk di penis, genitalia perempuan,
uretra, daeraah perianus, dan rectum. Lesi ini tampak sebagai massa lunak,
kecoklatan, mirip kembang kol, yang kadang-kadang berdiameter hingga
beberapa sentimeter.

40

d. Keratosis aktinik
Lesi keratosis aktinik biasanya berdiameter kurang dari 1 cm, berwarna
cokelat muda hingga cokelat tua, merah, atau seperti kulit, dan memilki
konsistensi kasar seperti kertas ampelas. Sebagian lesi menghasilkan
sedemikian banyak keratin sehingga terbentuk suatu tanduk kulit
(cutaneous horn). Seperti dapat diperkirakan, bagian kulit yang sering
terkena adalah yang terpajan matahari (wajah, lengan, punggung tangan).
2. Tumor epidermis maligna
a. Karsinoma sel skuamosa
b. Karsinoma sel basal
3. Tumor dan lesi mirip tumor pada melanosit
a. Nevus nevoselular (nevus pigmentosus, tahi lalat)
b. Nevus displastik
MELANOMA MALIGNA
Melanoma maligna sebagian besar timbul di kulit, namun tempat lain yang dapat
menjadi asal lesi antara lain permukaan mukosa mulut dan anogenital, esophagus,
meningen, dan mata.
Seperti pada keganasan kulit lain, sinar matahari berperan pentng dalam
pembentukan melanoma maligna. Namun, sinar matahari bukan satu-satunya
faktor predisposisi dan adanya nevus sebelumnya (misal, nevus displastik), faktor
herediter, atau bahkan pajanan ke karsinogen tertentu mungkin berperan dalam
pembentukan dan perkembangan lesi.
Secara klinis, melanoma maligna di kulit biasanya asimtomatik, meskipun gatal
mungkin merupakan manifestasi awal. Gejala klinis terpenting pada penyakit ini
adalah perubahan warna atau ukuran pada suatu lesi berpigmen. Tidak seperti
nevus jinak (nondisplastik), melanoma memperlihatkan variasi pigmentasi yang
sangat mencolok, tampak hitam, cokelat, merah, biru tua dan abu-abu. Batas
melanoma ireguler dan sering bertakik. Secara singkat, tanda-tanda peringatan
klinis untuk melanoma adalah (1) membesarnya suatu tahi lalat, (2) gatal atau

41

nyeri pada tahi lalat, (3) timbulnya lesi berpigmen baru pada masa dewasa, (4)
tepi ireguler pada lesi berpigmen, dan (5) variasi warna dalam satu lesi
berpigmen.
Hal pokok dalam pemahaman tentang histologi melanoma maligna yang rumit
adalah konsep pertumbuhan radial dan vertical. Pertumbuhan radial menunjukkan
kecenderungan awal suatu melanoma untuk tumbuh secara horizontal di dalam
epidermis dan dermi superficial, sering untuk waktu yang lama. Pola pertumbuhan
vertical menunjukkan pertumbuhan kea rah bawah menuju lapisan dermis yang
lebih dalam sebagai suatu massa ekspansif yang tidak memperlihatkan
pematangan sel, sel tidak memperlihatkan kecenderungan menjadi lebih kecil
sewaktu turun ke dermis reticular.
Metastasi tidak saja mengenai kelnejar getah bening regional, tetapi juga hati,
paru, otak, dan hampir semua tempat yang dapat disemai oleh rute hematogen.

SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. Tumor Tulang
Tumor tulang primer jauh lebih jarang ditemukan dari pada lesi metastatic.
Tempat asal yang paling sering untuk metastasis ke tulang, dalam urutan
frekuensi yang menurun, adalah prostat, payudara, paru, ginjal, saluran cerna,
dan

tiroid.

Metastasis

mungkin

bersifat

destruktif

(osteolitik)

atau

menyebabkan pembentukan reaktif tulang baru (osteoblastik). Sebagian besar


metastatic bermanifestasi sebagai proses osteolitik, meskipun pada satu lesi
kedua pola mungkin terdapat bersama-sama. Pada sebagian tumor, seperti
karsinoma prostat, aktivitas osteoblastik predominan. Perbedaan antara tumor
tulang primer dan metastatic umumnya mudah, tetapi mungkin sulit pada
pasien yang datang dengan lesi tunggal tanpa riwayat di tempat lain.
Tumor pembentuk tulang
Neoplama ini ditandai dengan pembentukan osteoid oleh sel tumor.
Pembentukan osteoid intrinsik jenis ini harus dibedakan dengan pembentukan

42

tulang pada metastasis osteoblastik, yang osteoidnya diproduksi oleh osteoblas


reaktif dan bukan oleh sel neoplastik. Pada beberapa tumor pembentuk tulang
primer, elemen mesenkim yang lain, seperti tulang rawan, juga dapat
ditemukan. Karena beberapa elemen tulang berasal dari sel bakal mesenkim
yang sama, pencampuran tersebut tidak mengherankan.
a. Osteoma
Osteoma adalah lesi jinak di tulang yang pada banyak kasus lebih
mencerminkan penyimpangan perkembangan atau pertumbuhan reaktif
bukan neoplasma sejati. Lesi ini paling sering ditemukan di kepala dan
leher, termasuk sinus paranasalis, meskipun juga dapat terbentuk di tempat
lain. Osteoma bermanifestasi sebagai pertumbuhan eksofitik lokal yang
biasanya tunggal, keras, dan melekat ke permukaan tulang. Lesi multipel
adalah gambaran sindrom Gardner, suatu penyakit herediter yang dibahas
lebih lanjut dalam pembicaraan tentang fibromatosis. Secara histologist,
osteoma terdiri atas campuran tulang anyaman dan tulang lamellar, yang
mungkin sulit dibedakan dengan tulang normal. Meskipun dapat
menyebabkan masalah mekanis lokal dan cacat kosmetis, tumor ini tidak
invasive atau mengalami transformasi keganasan.
b. Osteoma osteoid dan osteoblastoma
Osteoma eosteoid dan osteoblastoma adalah neoplasma jinak yang
memiliki pola histologist yang sangat mirip. Keduanya dibedakan terutama
berdasarkan ukuran, tempat asal, dan beberapa gambaran radiografik
tertentu. Osteoma osteoid muncul paling sering di femur proksimal dan
tibia selama decade kedua sampai ketiga kehidupan. Tumor ini lebih sering
muncul pada laki-laki daripada perempuan dengan rasio 2:1. Berdasarkan
defenisi, tumor ini berukuran terbesar kurang dari 2 cm, sedangkan
osteoblastoma berukuran lebih besar. Nyeri lokal merupakan keluhan yang
hampir universal pada pasien osteoma osteoid dan biasanya dapat diatasi
dengan aspirin. Osteoblastoma paling sering timbul di kolumna vertebra
meskipun juga dapat timbul di tempat lain. Seperti osteoma osteoid, tumor
ini paling sering terbentuk pada decade kedua dan ketiga serta lebih serig
mengenai laki-laki daripada perempuan. Osteoblastoma juga dapat

43

menyebabkan nyeri, yang sering lebih sulit diketahui lokasinya daripada


nyeri pada osteoma osteoid serta tidak berespons terhadap aspirin. Eksisi
lokal adalah terapi pilihan bagi sebagian besar lesi; lesi yang tidak direseksi
dengan tuntas dapat kambuh.
Morfologi
Secara radiografis, neoplasma ini bermanifestasi sebagai lesi berbatas
tegas, yang biasanya mengenai korteks, jarang hingga ke rongga medularis
tulang. Bagian tengah tumor, yang disebut nidus, biasanya radiolusen,
tetapi dapat mengalami mineralisasi dan menjadi sklerotik. Di tepi kedua
jenis tumor terdapat suatu cincin tulang sklerotik; namun, cincin ini jauh
lebih jelas pada osteoma osteoid. Secar mikroskopis, kedua neoplasma
terdiri atas trabekula tulang anyaman yang saling jalin dan dikelilingi oleh
osteoblas. Stroma diantara trabekula terdiri atas jaringan ikat vascular
longgar dan bukan elemen sumsum tulang serta mengandung sel raksasa
dalam jumlah bervariasi.
c. Osteosarkoma (Sarkoma osteogenik)
Osteosarkoma adalah neoplasma mesenkim ganas yang sel neoplastiknya
menghasilkan osteoid. Dalam skema klasifikasi paling sederhana,
osteosarkoma dapat dibagi menjadi bentuk primer, yang muncul de novo,
dan bentuk sekunder, yang timbul sebagai komplikasi suatu proses yang
lebih mendasar, seperti penyakit paget pada tulang atau riwayat terpajan
radiasi.
Diketahui terdapat beberapa bentuk osteosarkoma primer. Bentuk ini
mencakup bentuk konvensional, yang membentuk sekitar tiga perempat
kasus, dan beberapa varian yang lebih jarang. Osteosarkoma konvensional
paling sering terjadi pada dekade kedua kehidupan. Meskipun dapat
muncul dimana saja di tubuh, tumor umumnya berasal dari daerah di
sekitar lutut, terutama femur distal dan tibia proksimal. Laki-laki lebih
sering terkena daripada perempuan. Meskipun penyebab osteosarkoma
primer masih belum diketahui, seperti pada neoplasma ganas lainnya,
mutasi tampaknya penting dalam pathogenesis tumor ini. Mutasi pada gen
penekanan tumor TP53, secara khusus, terdapat pada banyak osteosarkoma

44

sporadic. Ekspresi berlebihan onkogen MDM2 juga banyak terlihat pada


banyak kasus. Protein MDM2 berikatan dengan dan menginaktifkan
produk gen TP53. Mutasi sel germinativum pada gen retinoblastoma
mempermudah pasien menderita osteosarkoma serta retinoblastoma
herediter. Selain itu, hilangnya heterozigositas pada 3p, 13q, 17p, dan 18q
juga terjadi. Tingginya insidensi hilangnya heterozigositas pada 3p
mengisyaratkan adanya suatu gen penekan tumor lukos ini/
Morfologi
Osteosarkoma tipikal biasanya bermanifestasi sebagai lesi besar berbatas
tidak tegas di region metafisis tulang yang terkena. Tumor secara khas
merusak korteks dan sering meluas ke dalam menuju rongga sumsum
tulang dan keluar ke jarinngan lunak didekatnya. Tumor sering mengangkat
periosteum dan menimbulkan apa yang disebut sebagai segitiga codman
pada radiograf, yang terbentuk oleh sudut antara periosteum yang terangkat
dan permukaan tulang yang terkena. Jarang terjadi invasi ke lempeng
epifisis.

Secara

mikroskopis,

tanda

utama

osteosarkoma

adalah

pembentukan osteosid oleh sel mesenkim ganas. Hal ini terlihat dalam
bentuk pulau trabekula tulang primitif yang dikelilingi oleh cincin
osteoblas ganas. Jumlah osteoid sangat bervariasi pada tumor yang
berlainan, tetapi harus ada untuk menegakkan diagnosis osteosarkoma.
Elemen mesenkim yang lain, terutama tulang rawan, juga mungkin ada,
kadang-kadang dalam jumlah besar. Sel mesenkim neoplastik mungkin
berbentuk lonjong dan seragam atau pleomorfik, dan dengan nukleus aneh
hiperkromatik disertai banyak gambaran mitotic. Sel raksasa, yang kadangkadang disangka osteoklas, sering ditemukan.
Gambaran Klinis
Osteosarkoma bermanifestasi sebagai massa yang terus membesar, sering
nyeri, dan mungkin menimbulkan perhatian karena fraktur pada tulang
yang terkena. Meskipun kombinasi gambaran klinis dan radiografik
mungkin member dukungan kuat mengenai diagnosis, diperlukan
konfirmasi histologis untuk semua kasus. Osteosarkoma konvensional

45

adalah lesi agresif yang bermetastasis melalui aliran darah pada awal
perjalanan penyakitnya. Paru sering menjadi tempat metastasis.
Osteosarkoma sekunder timbul pada kelompok usia yang lebih tua daripada
osteosarkma primer konvensional. Tumor ini paling sering terbentuk dalam
kaitannya dengan penyakit paget atau riwayat terpajan radiasi dan,
walaupun jarang, dysplasia fibrosa, infark tulang, atau osteomielitis kronis.
Osteosarkoma sekunder adalah neoplasma yang sangat agresif, kurang
berespons terhadap terapi yang ada saat ini dibandingkan dengan
osteosarkoma konvensional.
Bentuk lain osteosarkoma adalah varian parosteal (jukstakorteks),
periosteal, telangiektatik, intraoseus derajat ringan-sedang, dan sel kecil.
Pembahasan mengenai varian yang jarang ini dapat ditemukan pada
referensi yang terdapat di akhir bab ini.
Tumor tulang rawan
a. Osteokondroma
Osteokondroma atau eksostosis adalah proliferasi jinak yang terdiri atas
tulang matur dan lapisan penutup tulang rawan. Tumor ini cukup sering
ditemukan, membentuk sekitar sepertiga dari semua tumor jinak di tulang.
Seperti osteoma, osteokondroma mungkin lebih mencerminkan malformasi
daripada neoplasma sejati. Tumor ini cenderung berhenti tumbuh setelah
pertumbuhan normal tulang selesai. Osteokondroma paling sering muncul
sebagai lesi soliter sporadic meskipun dapat juga multipel pada sutau
gangguan familial yang jarang yang disebut eksostosis herediter multipel.
Sebagian besar osteokondroma asimtomatik, tetapi sebagian dapat
menimbulkan cacat kosmetik yang mengganggu. Tumor biasanya timbul
dari metafisis dekat lempeng pertumbuhan tulang tubular panjang dan
bermanifestasi sebagai tonjolan tulang beralas lebar yang melekat erat ke
korteks tulang didekatnya. Terdapat suatu penutup yang terdiri atas tulang
rawan hialin yang pada pasien muda mengandung lempeng pertumbuhan
yang serupa dengan yang ditemukan pada epifisis normal. Lempeng
pertumbuhan biasanya lenyap jika telah terjadi penutupan epifisis di tempat

46

lain. Sebagian besar tumor bersifat jinak. Meskipun jarang, pernah


dilaporkan transformasi sarkomatosa, terutama pada penyakit familial.
b. Kondroma (Enkondroma)
Kondroma adalah lesi jinak yang terdiri atas tulang rawan hialin matur
yang paling sering timbul di tulang kecil tangan dan kaki. Meskipun
umumnya muncul pada dekade ketiga hingga kelima kehidupan, tumor ini
dapat muncul pada semua usia dan mungkin tunggal atau jamak. Beberapa
sindrom berkaitan dengan kondroma multipel: penyakit Ollier ditandai
dengan kondroma multipel yang umunya mengenai salah satu sisi tubuh,
dan sindrom Maffucci yang di tandai dengan kondroma multipel dan tumor
vascular jinak (angioma) di jaringan lunak.
Kondroma adalah lesi berbatas tegas yang biasanya tumbuh di dalam
rongga medular tulang (oleh karena itu, disebut enkondroma). Meskipun
jarang, tumor ini dapat terbentuk di permukaan tulang. Secara mikroskopis
tumor ini terdiri atas tulang rawan hialin matur, hiposelular, dan dipenuhi
oleh kondrosit polos. Pada kondroma yang berkaitan dengna dengan
penyakit Ollier atau sindrom Maffucci, dapat ditemukan sel atipik, tetapi
hal ini tidak ditemukan pada lesi soliter. Kondroma soliter hampir selalu
tidak berbahaya. Sebaliknya, kondrosarkoma terbentuk pada sekitar
sepertiga pasien dengan sindrom kondroma multipel.
c. Kondrosarkoma
Kondrosarkoma adalah neoplasma ganas yang berisi sel mesenkim yang
menghasilkan suatu matriks kartilaginosa. Laki-laki terkena dua kali lebih
sering dibandingkan perempuan. Tumor ini memiliki frekuensi kedua
tersering setelah osteosarkoma. Tumor ini timbul di di bagian tengah
kerangka; tempat yang umum menjadi asal tumor ini adalah daerah bahu,
panggul, femur proksimal, dan iga, meskipun tumor ini dapat timbul di
mana saja. Sebagian besar kondrosarkoma timbul de novo meskipun
sebagian timbul pada pasien dengan endokondroma multipel atau, yang
lebih jarang, osteokondroma.
Morfologi
Kondrosarkoma tipikal biasanya timbul di dalam rongga medularis tulang
untuk membentuk suatu massa berkilap ekspansif yang sering mengikis
47

korteks. Kadang-kadang lesi tumbuh di permukaan tulang. Secara


mikroskopis, kondrosarkoma memiliki penampakan yang sangat beragam.
Lesi yang berdifferensiasi baik mungkin tampak tidak berbahaya, dengan
hanya sedikit sel atipik dan sedikit banyak sulit dibedakan dengan tulang
rawan nonneoplastik. Lesi pada keadaan ekstrem yang lain mungkin terdiri
atas kondrosit yang sangat pleomorfik disertai banyak gambaran mitotic.
Terdapat sel berinti banyak, dengan lakuna mengandung satu atau lebih
kondrosit. Sekitar 10% kondrosarkoma derajat-ringan berubah menjadi
sarcoma derajat-tinggi dan disebut sebagai kondrosarkoma dediferensiasi.
Elemen sarkomatosa mungkin berupa osteosarkoma atau fibrosarkoma.
Varian kondrosarkoma yang lain dan lebih jarang adalah kondrosarkoma
mesenkim dan kondrosarkoma sel jernih.
Gambaran Klinis
Kondrosarkoma paling sering bermanifestasi sebagai masa yang terus
membesar, kadang-kadang nyeri, dan mengenai bagian tengah kerangka
tubuh. Kecepatan pertumbuhan dan perilaku akhir tumor ini berkaitan erat
dengan derajat histologist, dengan lesi yang berdifferensiasi buruk
berperilaku lebih agresif daripada yang berdifferensiasi lebih baik.
Kondrosarkoma bermetastasis melalui rute hematogen, paling sering ke
paru.
Tumor lain dan penyakit mirip tumor pada tulang
a. Tumor sel raksasa pada tulang
Tumor sel raksasa pada tulang, juga dikenal sebagai osteoklastoma, adalah
suatu neoplasma yang mengandung sejumlah besar sel raksasa miriposteoklas bercampur dengan sel mononukleus. Tumor ini paling sering
timbul pada usia antara 20 dan 40 tahun; perempuan sedikit lebih sering
terkena.
Morfologi
Tumor sel raksasa bermanifestasi sebagai lesi radiolusen yang mengenai
ujung sebuah tulang panjang atau yang lebih jarang, tulang lain seperti
sacrum. Tumor ini hampir selalu tunggal. Tumor yang telah lama akan
mengikis korteks tulang dan mungkin meluas melalui periosteum di
atasnya. Secara makroskopis, tumor sel raksasa tipikal tampak cokelat tua
48

karena vaskularisasi yang tinggi. Kadang-kadang ditemukan daerah


nekrosis dan perubahan kistik. Secara histologist, tumor terdiri atas dua
populasi sel utama. Elemen yang paling mencolok adalah sel raksasa
berinti banyak yang mirip osteoklas. Sel ini tampaknya berasal dari fusi
monosit dan diperkirakan merupakan suatu komponen reaktif, bukan
neoplastik, dari tumor ini. Komponen neoplastik proliferative terbentuk
dari

sel

mononukleus

bulat

hingga

lonjong.

Populasi

sel

ini

memperlihatkan gambaran mitotic dalam jumlah bervariasi, tetapi secara


umum tampak cukup jinak. Kadang-kadang terbentuk keganasan, baik de
novo maupun pada tumor sel raksasa yang pernah diobati. Pada kasus
seperti ini, sel mononukleuslah yang memperlihatkan gambaran anaplastik,
bukan sel raksasa.
Gambaran Klinis
Tumor sel raksasa biasanya menyebabkan nyeri lokal karena letaknya
berdekatan dengan sendi mungkin dapat disangka artitis. Biopsy diperlukan
untuk menegakkan diagnosis. Pada tumor sel raksasa sangat jarang
ditemukan multisentrisitas dan, jika ada, seyogyanya menimbulkan
kecurigaan adanya hiperparatiroidisme adanya osteoklas multinukleus
menciptakan

gambaran

yang

sangat

mirip

dengan

tumor

sel

raksasa.perilaku neoplasma ini agak sulit diperkirakan. Transformasi


sarkomatosa jarang terjadi, tetapi seperti telah disebutkan, dapat terjadi de
novo atau pada tumor yang sebelumnya jinak yang diterapi dengan radiasi.
b. Famili tumor sarkoma ewing
Kelompok tumor ini mencakup sarcoma ewing (EWS) pada tulang, EWS
di luar tulang, tumor neuroektoderm primitive (PNET), neuroepitelioma,
dan tumor Askin. Gambaran yang menyatukan family tumor sarkoma
ewing adalah asalnya yang dari saraf dan adanya translokasi kromosom
yang menyebabkan fusi gen EWS di 22q12 ke anggota dari family ETS
faktor transkripsi, terutama FLI (di 11q24) dan ERG (di21q22).
Sarcoma ewing terutama timbul pada anak dan remaja, dengan insidensi
puncak pada dekade kedua kehidupan. Ini merupakan neoplasma yang
sangat agresif dan harus dibedakan dengan tumor anak lain yang terdiri
atas sel biru kecil.
49

Morfologi
Sarcoma ewing timbul di dalam rongga medular tulang yang terkena dan
berupa massa lunak ekspansif. Femur, tibia, dan panggul adalah tempat
asal yang tersering, meskipun tumor dapat timbul pada tulang lain dan
kadang-kadang, di jaringan ikat. Tumor ini paling sering terbentuk di
diafisis, tetapi penyebaran ke tempat lain jarang terjadi. Sarcoma ewing
biasanya meluas melebihi rongga medularis menuju tulang korteks dan
periosteum, tempat tumor ini mungkin menyebabkan terbentuknya tulang
lamellar reaktif dengan pola seperti kulit bawang. Secara mikroskopis,
sarcoma ewing terdiri atas lembaran sel primitif dengan nukleus kecil yang
cukup seragam dan sedikit sitoplasma. Sitoplasma sel tumor mengandung
glikogen, sutau gambaran yang mudah ditemukan dengan pewarnaan
periodic acid-schiff (PAS) atau dengan mikroskop electron. Neoplasma
mungkin menyebabkan pembentukan tulang reaktif di rongga medularis,
tetapi sel neoplastik tidak menghasilkan osteoid. Biasanya dibutuhkan
pemeriksaan imunohistokimia untuk membedakan sarcoma ewing dari
tumor sel biru kecil lain, seperti neuroblastoma, rabdomiosarkoma, dan
limfoma maligna. Sel sarcoma ewing biasanya mengekspresikan penanda
saraf, antigen MIC2 (CD99), yang dikenali oleh sejumlah antibody
monoclonal.
Gambaran Klinis
Sarcoma ewing biasanya menyebabkan nyeri yang sering disertai
peradangan lokal. Demam cukup sering terjadi dan mungkin pada awalnya
mengisyaratkan peradangan kemungkinan lesi peradangan. Diagnosis
memerlukan biopsy, untuk membuktikan gambaran morfologik dan
sitologik yang khas dari tumor ini.
c. Displasia fibrosa
Dysplasia fibrosa adalah lesi mirip tumor yang jinak dan jarang pada tulang
yang trabekula normalnya diganti oleh jaringan fibrosa proliferative dan
pulau-pulau tulang yang cacat dan tersebar acak. Kelainan ini terjadi dalam
3 bentuk: (1) mengenai satu tulang (dysplasia fibrosa monostotik); (2)

50

mengenai banyak, tetapi tidak semua tulang (dysplasia fibrosa poliostotik);


dan (3) penyakit poliostotik dengan kelainan endokrin.
Morfologi
Lesi pada dysplasia fibrosa berbatas tegas dan radiolusen. Lesi biasanya
dikelilingi oleh suatu batas tipis tulang sklerotik. Secara histologist, fokus
dysplasia fibrosa mengandung fibroblast proliferatif dan banyak kolagen,
mengelilingi pulau-pulau tulang anyaman yang kecil dan tersebar acak.
Mungkin terdapat elemen tulang rawan, tetapi biasanya merupakan
komponen minor proliferasi.
Gambaran Klinis
Gambaran klinis bergantung pada luas keterlibatan tulang. Lesi monostotik
mungkin asimtomatik. Fraktur patologis dan deformitas tulang, dapat
terjadi pada semua bentuk dysplasia fibrosa, tetapi jauh lebih sering
menimbulkan masalah pada pasien dengan penyakit poliostotik.
Tumor jaringan lunak
Tumor jaringan lemak
Lipoma
Lipoma ialah tumor jaringan jinak jaringan lemak. Tumor ini sering bercampur
dengan jaringan lainnya, sehingga ada bermacam-macam tipe lipoma.
Tabel. Macam-macam Lipoma
No

Jenis Lipoma

.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Fibrolipoma
Fibromyxolipoma
Intramuscular lipoma
Angiomyolipoma
Angiolipoma
Angiolipoma, infiltrate
Myelolipoma
Hybernoma

Lipoma dapat single dapat pula multiple. Bentuk lipoma bila masih kecil bulat
atau oval, bila sudah besar berbenjol-benjol atau lobuler, karena adanya sekatsekat jaringan ikat yang masuk ke dalam tumor. Lipoma dapat mencapai
ukuran yang sangat besar 10 kg atau lebih dan dapat menggantung dari kulit

51

sepert buah. Konsistensi lipoma tergantung dari jaringan lain yang menyertai.
Umumnya lunak, dapat kisteus (pseudokisteus) dan dapat pula padat. Lipoma
umumnya terdapat subkutan, tetapi dapat di tempat lain, seperti di
mediasstinum, retroperitoneum, dsb.

Liposarcoma
Adalah tumor ganas yang muncul dalam sel-sel lemak termasuk dalam jaringan
lunak, seperti bahwa di dalam paha atau di retroperitoneum. Biasanya
merupakan tumor besar yang cenderung memiliki satelit yang kecil meluas
hingga melampaui batas dari tumornya sendiri. Liposarcoma, sama seperti
semua sarcoma jarang terjadi.

Gejala :
Biasanya pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan di tubuhnya. Hanya ketika
tumor sangat besar dengan gejala nyeri atau gangguan fungsional terjadi.
Tumor retroperitoneal dapat menampilkan diri dengan tanda-tanda penurunan
berat badan, dan sakit pada perut. Tumor ini juga dapat menyumbat ureter
menyebabkan gagal ginjal.
Diagnosa :
Diagnosis ditegakkan dengan histologist pemeriksaan jaringan, yaitu biopsy
atau biopsy eksisi. Lipoblast sering terlihat, ini adalah sel-sel dengan jelass
berlimpah multi vacuolated sitoplasma dan inti muram pewarnaan eksentrik
yang menjorok oleh vakuola.
Beberapa subtipe liposarcoma antara lain :

Liposarcoma berdiferensiasi baik, identik dengan tumor lipomatous atipikal.


Istilah ini hampir secara eksklusif untuk lesi di retroperitoneum, sedangkan

yang kedua digunakan untuk lesi yang timbul di tempat lain.


Liposarcoma terdiferensiasi yang terdiri dari liposarcoma berdiferensiasi
baik sampai batas tumor yang lebih sulit dibedakan.
52

Myxoid/putaran liposarcoma sel


Pleomorfik liposarcoma.

Insiden dan Prevalensi


Paling sering pada orang dewasa muda dan lebih tua (usia 40 tahun ke atas),
liposarcoma adalah urutan kedua yang paling umum dari semu jaringan lunak
sarcoma mengikuti hitiocytoma berserat ganas. Setiap tahun 2,5% kasus terjadi
per juta penduduk.
Prognosis
Prognosis bervariasi tergantung pada tempat asal, jenis kanker, ukuran tumor,
kedalaman, dan kedekatan dnegan Kelenjar getah bening.

Liposarcoma

berdiferensiasi baik dilakukan tindakan pembedahan dan radiasi memiliki


tingkat kekambuhan rendah (sekitar 10%) dan jarang bermetastatis lima tahun
tingkat kelangsungan hidup bervariasi dari 100% menjadi 39% berdasarkan
subtipe histologist.
Jaringan Fibrous
Fibroma
Fibroma ialah tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat. Seperti halnya
dengan lipoma, fibroma itu dapat bercampur dengan tumor jaringan lainnya,
sehingga ada bermacam-macam tipe fibroma.
Tabel. Macam-macam Fibroma
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Jenis Fibroma
Fibroma durum
Myxofibroma
Periostalfibroma
Fascial fibroma
Elastofibroma
Fibrohistiocytoma
Neurofibroma
Fibroma mobile
Aggressive fibromatosis
Abdominal fibromatosis
Desmoplastic fibroma
Atyp. Fibroxanthoma
Atyp. Fibrohistiocytoma
53

14. Neurofibromatosis
Konsistensi fibroma tergantung dari banyaknya jaringan ikat yang terdapat
dalam tumor. Makin banyak jaringan ikat, makin keras konsistensinya.
Fibroma durum konsistensinya keras dan fibroma mobile lunak.
Fibrosarcoma
Fibrosarcoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan ikat fibrosa dan
ditandai oleh adanya perkembangan fibroblast yang belum matang secara
banyak atau tidak dibedakan anaplastik sel spindle. Hal ini biasnya ditemukan
pada pria usia 30-40 tahun. Tumor ganas ini berasala dari jaringan fibrosa
tulang dan menyerang tulang panjang atau flat sepeeti femur, tibia, dan
mandibula. Hal ini juga melibatkan periosteum dan oto atasnya.
Patologi :
Tumor dapat menimbulkan berbagai tingkat diferensiasi : grade rendah
(berdiferensiasi baik), keganasan menengah dan keganasan tinggi (anaplastik).
Tergantung pada diferensiasi ini, sel-sel tumor bisa menyerupai fibroblast
dewasa (berbentuk geledong), mesekresi kolagen, dengan mitosis jarang. Selsel ini diatur dalam fasikula pendek yang memisahkan diri dan bergabung,
memberikan penampilan tulang ikan yang dikenal sebagai pola heeringbone.
Tumor dengan diferensiasi buruk terdiri dalam sel lebih atipikal, pleomorfik,
sel raksasa, berinti, mitosis atipikal banyak dan produksi kolagen berkurang.
Adanya pembuluh darah yang belum matang (pembuluh sarkomatous dengan
sedikit sel endotel) dapat bermetastasis melalui aliran darah.
Malignant Fibrous Histiocytoma
Malignant Fibrous Histiocytoma (MFH) adalah bagian sarcoma jaringan lunak,
merupakan suatu massa yang tanpa rasa nyeri, paling sering terdapat pada
ekstremitas, walaupun dapat tumbuh dimana saja dalam tubuh. Awalnya dari
sel histiosit dan muncul dalam jaringan lunak pada bagian tubuh mana saja.
Sering ditemui pada dewasa, sangat jarang pada anak-anak. Prevalensinya 2030 % dari seluruh keganasan jaringan lunak.\
Klasifikasi MFH :
1. Stroriform Pleimorphie
54

2. Myxoid
3. Malignant giant cell tumor of the soft parts
4. Inflammatory malignant fibrous histiocyroma
Jaringan Otot
Leiomyioma
Leiomioma adalah neoplasma jinak jaringan lunak yang timbul dari otot polos,
pertama kali dijelaskan oleh Virchow

pada 1854. Bentuk herediter, yang

menyebabkan, beberapa leiomioma, pada awalnya dicatat oleh Kloepfer dkk pada
tahun 1958. Mereka dapat mengembangkan otot polos di mana pun hadir.
Transformasi maligna mungkin tidak terjadi.
Leiomioma dapat dikategorikan ke dalam 4 jenis berikut:

Beberapa piloleiomyomas

Solitary piloleiomyoma

Angioleiomyoma (soliter)

Genital leiomyoma (soliter)

Tiga jenis yang cukup berbeda dari leiomioma kulit ada: piloleiomyomas,
angioleiomyomas, dan leiomioma genitalia. Klasifikasi ini mencerminkan asal
yang paling logis dari tumor otot polos dan sesuai dengan histologis atau anatomi
dimana leiomioma ditemukan. Piloleiomyomas berasal dari otot pili arrector unit
pilosebaceous, sedangkan angioleiomyomas berasal dari otot polos (yaitu, media
tunika) dalam dinding-dinding arteri dan vena. Leiomioma genitalia berasal dari
otot dartos skrotum dan labia majora. Tumor pada klasifikasi masing-masing
memiliki karakteristik klinis dan / atau histologis yang berbeda.
Gambaran Klinis :

Piloleiomyoma merupakan tumor tunggal dengan permukaan halus ,papula,


atau nodul, biasanya lebih kecil dengan diameter 2 cm dan berwarna coklat
kemerahan. Tempat predileksi pada tubuh, wajah atau ekstremitas. Pola

distribusi bilateral simetris, dikelompokkan dermatomal dan pola linier.


Angioleiomyoma biasanya didefinisikan sebagai nodul pada kulit yang cukup
dalam dengan diameter 4 cm. biasanya dirasakan nyeri terutama pada saat
palpasi. Angioleiomyoma umumnya soliter dan terjadi terutama pada
ekstremitas bawah.

55

Leiomyoma genitalia pada vulva atau skrotum biasanya berukuran lebih besar
dari kedua jenis leiomyoma yang lainnya.

Leiomyosarcoma
Leiomyomasarcoma adalah tumor mesenkim yang berasal dari otot polos terutama
terjadi pada usus. Leiomyosarcoma berasal antara propria muskularis dan lapisan
mukosa muskularis dinding usus.

Metastasis adalah terutama hematologi. Metastasis kelenjar getah bening jarang,


terjadi pada 0-15% kasus, tergantung pada seri. Leiomyosarcomas menyebar ke
hati dan peritoneum pertama. Menyebar ke paru-paru terjadi lebih jarang daripada
menyebar ke hati dan peritoneum. Hal ini berbeda dengan lainnya sarkoma
jaringan lunak di mana paru-paru adalah situs yang paling umum dari metastasis.
Tentang 20-40% pasien memiliki metastasis pada laparotomi awal.

Epidemiologi
Leiomyosarcomas usus cukup langka, dengan frekuensi sekitar 1,4 kasus per
100.000 pasien. Sebuah studi tahun 2004 oleh Jun Zhan dan rekan menentukan
bahwa tumor ganas adalah penyakit yang paling umum usus kecil. Dari 125
pasien dengan tumor ganas, 11% memiliki leiomyosarcoma, 11% memiliki
adenokarsinoma, dan 9% memiliki limfoma usus kecil. Pasien dengan penyakit
usus kecil primer yang paling sering disajikan dengan nyeri periumbilikalis.
Menurut usia leiomyosarcoma terjadi pada orang setengah baya dengan kisaran
usia antara decade kelima hingga ketujuh.

Gambaran klinik

56

Tidak dapat terlihat dengan jelas kecuali terdapat perdarahan akut dan massa
jarang teraba.

Pemeriksaan Histologi
Dapat dilakukan pemeriksaan dengan biopsi pada dinding lumen yang dipadukan
dengan uSG endoskopi.

Tumor ini spindle sel dalam karakter, dengan selularitas tinggi. Hitungan angka
mitosis adalah yang sangat penting. Sebuah hitungan lebih dari 5 angka mitosis
per 10 bertenaga tinggi bidang menempatkan tumor ke dalam kategori high grade.
Nekrosis sering terjadi pada tumor dengan stadium tinggi.

Rhabdomyoma
Rhabdomyoma adalah tumor otot lurik. Ada 2 jenis rhabdomyoma adalah
neoplastik dan hamartoma. Hamartoma dibagi menjadi rhabdomyoma jantung dan
mesenchymal rhabdomyomatous kulit. Paling banyak terdapat terdapat pada
daerah kepala dan leher. Penyebab dari rhabdomyoma kemungkinan terbesar
merupakan varian genetic dari perkembangan otot lurik.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat rhabdomyoma adalah tumor yang sangat jarang terjadi
disbanding dengan tumor jaringan lunak yang lain. Secara khusus dalam kategori
tumor primer jinak jantung, rhabdomyoma memiliki insiden yang relatif sekitar
5,8%. Biasa terjadi pada sebagian besar pada pria.
Gambaran Klinis

57

Pemeriksaan fisik pada pasien dewasa dengan rhabdomyoma mengungkapkan


adanya massa polypoid di wilayah leher, dan bisa terdapat pada daerah kepala

serta leher.
Pasien dengan rhabdomyoma jantung terdapat murmur jantung.

Rhabdomyosarcoma
Rabdomiosarkoma (RMS) kata ini berasal dari bahasa Yunani, (rhabdo yang
artinya bentuk lurik, dan myo yang artinya otot). Rabdomiosarkoma merupakan
suatu tumor ganas yang aslinya berasal dari jaringan lunak ( soft tissue ) tubuh,
termasuk

disini

adalah

jaringan

otot,

tendon

dan

connective

tissue.

Rabdomiosarkoma merupakan keganasan yang sering didapatkan pada anak-anak.


Respon pengobatan dan prognosis dari penyakit ini sangat bergantung dari lokasi
dan gambaran histologi dari tumor ini sendiri.
Insidensi tertinggi pada umur rata-rata 6 tahun dan dapat ditemukan sejak masa
bayi baru lahir sampai dewasa muda. Biasanya tampak sebagai masa tumor,
paling sering di daerah kepala dan leher yang meliputi orbita, nasofaring, sinus,
telinga tengah dan kulit kepala, dan dapat dijumpai pula pada saluran urogenital.
Lesi pada otak frekuensinya rendah; selain penyebaran hematogen dapat juga
perluasan langsung dari kepala dan leher. Penyakit ini sangat ganas, sehingga pada
saat diagnosis ditegakkan biasanya telah terjadi metastasis luas.
Histopatologi Rhabdomyosarcoma
Tumor ini dapat muncul dimanapun. Pada 30 persen kasus paling sering muncul
di daerah kepala-leher; lalu dalam insidensinya, menyusul lengan dan tungkai,
saluran kemih dan organ-organ kelamin serta akhirnya tubuh (10%).
Penyebaranya secara lifogen dan hematogen.
1. Embrional : Jenis ini merupakan jenis yang tersering didapati pada anak-anak
didapati >60% kasus. Tumor bisa tumbuh dimana saja, tetapitempat yang
paling sering terkena adalah pada bagian genitourinaria atau pada bagian
kepala dan leher.

58

2. Alveolar : Tumor jenis ini kurang lebih 31% dari semua kasus
Rabdomiosarkoma. Tumor ini banyak didapati pada orang dewasa dan tumbuh
pada bagian ekstremitas, perianal dan atau perirektal.
3. Botryoid embrional : Terdapat 6% dari seluuruh

kasus

dari

Rabdomiosarkoma.Tipe ini khas muncul di atas permukaan mukosa mulut,


dengan bentuk tumor seperti polipoid dan seperti buah anggur.
4. Sel Spindel Rabdomiosarkoma : Tumor ini terdapat kurang lebih 3% dari
semua kasus Rabdomiosarkoma, dan memiliki pola pertumbuhan yang
fasikuler, spindle, dan leimimatous. Jenis ini jarang muncul didaerah kepala
dan leher, dan sering muncul didaerah paratestikuler.
5. Anaplastik Rabdomiosarkoma : Dulunya jenis ini dikenal dengan nama
Pleomorfik Rabdomiosarkoma, tumor ini adalah tumor yang paling jarang
terjadi, paling sering diderita oleh pasien berusia 30-50 tahun.
Manifestasi Klinik
Terdapat berbagai macam manifestasi klinik pada RMS, perlu disadari bahwa
penderita RMS terutama anak-anak mungkin mendapat gejala-gejala yang
berbeda satu dengan yang lain tergantung dari lokasi tumor itu sendiri. Gejala
sering kali tidak muncul sebelum tumor mencapai ukuran yang besar, teristimewa
jika tumor terletak pada jaringan otot yang dalam pada perut. Ini adalah
manifestasi klinik yang paling sering terjadi pada RMS.

Massa dari RMS yang dapat dilihat dan dirasakan, bisa dirasakan nyeri

maupun tidak.
Perdarahan pada hidung, vagina, rectum, atau mulut dapat terjadi jika tumor

terletak pada area ini.


Rasa geli, nyeri serta pergerakan dapat terjadi jika tumor menekan saraf pada

area yang terkena.


Penonjolan serta kelopak mata yang layu, dapat mengindikasikan suatu tumor
dibelakang area ini.

59

60

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Oral Cancer. American Cancer Society. 207; No.30208- Rev.02/12.


Anonim. Oral Cancer. U. S. Departement of Health and Human Services, National
Instiute of Health, National Instiute of Dental and Craniofacial Research.
208; No. 08-5032.
Ayu, S. Adenoma Plaiomorfik Kelenjar Parotis. Universitas Sumatera
Utara:2011:3-19
Cervantes J. Update on the pathogenesis and immunotherapy of oesophageal
squamous cell carcinoma. Rev Gastroenterol Peru 2004;24: 165-70.
Curr Top Med Chem. Combining Cytotoxic and ImmuneMediated Gene

Therapy to Traet Brain Tumors. 2005. 5(12) :

1151-1170
Garavelo W, Negri E, Talamini R. Family history of cancer, its combination with
smoking and drinking, and risk of squamous cell carcinoma of the
oesophagus. Cancer Epidemiol Biomarker 2005;14(6):1390-4..
The

Oncology

Group.

2003.

Cancer

Management

Multidiciplinary Approach.
Oncology. News Interantional. New York.
Lee W-C, Chen M-F. Epidemiology, Etiology, and Natural History of
Hepatocellular Carcinoma. In Clavien P-A, et al. editors. Malignant Liver
Tumors, 3rd ed., Chichester: Blackwell Publishing Ltd. 2010; P 52-54
Modiano

N,

Gerson

LB.

Barret Esophagus

Insidence,

Etilogy,

Pathophysiology, Prevention and Treament. Ther and Cli R Man.2007.

1035-1045.

61

Ovedoff, David. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Binarupa


Aksara. 2002.

Jakarta.

Prof. Dr. dr. I.B Tjakra Wibawa Manuaba, M.P.H., Sp.B(K)Onk. 2010. Panduan
Kanker Solid. Jakarta. CV Sagung Seto. Halaman 104-106.
Robert L, Hatch, Sejal. Warthin Tumor : A Common, Benign Tumor Presenting as
a Highly Suspicious mass.The Journal of the American Board of Family
Practice 2005;18: 320-2.
Robbins SL, Kumar VK. Neoplasia . In : Basic Pathology. 7th edition.
Philadelphia : Saunders.2003.
Wang XW, et al. Biology of Hepatocelular Carcinoma: Past, Present and
Beyond. In Wang XW, et al. editors. Molecular Genetics of Liver
Neoplasia. Springer, New York, 2011; P 3-18

62