Anda di halaman 1dari 3

PENGKODEAN DIAGNOSIS PENYAKIT BERDASARKAN ICD-X

I.

LATAR BELAKANG
Salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif
dan efisien berdasarkan mutu dan cost containment (pengendalian biaya) ialah
dengan

mengembangkan

sistem

casemix.

Kunci

utama

dalam

penyelenggaraan sistem ini adalah pengisian diagnosis yang sesuai dengan


standar kode International Classification Of Diseases-Ten (ICD-X).
ICD-X merupakan pengkodean atas penyakit dan tanda-tanda, gejala,
temuan-temuan yang abnormal, keluhan, keadaan sosial, dan faktor eksternal
yang menyebabkan cedera atau penyakit, seperti yang diklasifikasikan oleh
World

Health

Organization

(WHO).

Klasifikasi

tersebut

telah

mengelompokkan penyakit berdasarkan anatomi dan fungsi organ tubuh


secara keseluruhan. Pengelompokkan penyakit dalam ICD-X tersebut
tercantum di dalam Major Diagnostic Categories (MDC) yang merupakan
kategori diagnosis penyakit yang dikelompokkan secara umum.
Penerapan Pengkodean sistem lCD bermanfaat untuk :
1. Mengindeks pencatatan penyakit dan tindakan di sarana pelayanan
kesehatan
2. Masukan bagi sistem pelaporan diagnosis medis untuk mengklasifikasikan
penyakit
3. Memudahkan proses penyimpanan dan pengambilan data terkait diagnosis
karakteristik pasien dan penyedia layanan
4. Mempermudah sistem penagihan pembayaran biaya pelayanan kesehatan.
5. Membantu dalam proses pelaporan morbiditas-mortalitas nasional dan
internasional
6. Menentukan bentuk pelayanan terdepan yang harus direncanakan dan
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman

II.

PERMASALAHAN

Pengkodean berdasarkan ICD-X bukanlah hal yang baru dalam sistem


administrasi pelayanan Puskesmas. Namun, sebagai dokter yang baru saja
lulus dari jenjang pendidikan, peserta masih jarang melakukan hal tersebut.
III.

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Mengingat begitu banyak manfaat yang diperoleh jika melakukan proses
pengkodean diagnosis, maka kegiatan ini harus dijadikan sebagai suatu
rangkaikan dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan peserta
Internsip di puskesmas.

IV.

PELAKSANAAN
Proses pengkodean diagnosis ini dilakukan setiap hari ketika melakukan
pelayanan baik ketika bertugas di poliklinik, UGD, maupun di unit perawatan
puskesmas. Proses pengkodean ini dibantu dengan menggunakan fotokopian
daftar kode penyakit berdasarkan ICD-X yang tersedia di ruang poliklinik
puskesmas.

V.

MONITORING DAN EVALUASI


Proses pengkodean diagnosis ini ternyata tidak semudah yang saya
perkirakan sebelumnya. Awalnya terdapat dua kendala utama yang
menghambat proses pelaksanaannya, namun kedua kendala tersebut dapat
tertangani dengan baik sehingga semakin hari proses pengkodean tersebut
menjadi semakin mudah. Adapun kendala-kendala yang ditemui tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Peserta belum menghafal dengan baik seluruh daftar kode penyakit,
sehingga ketika dilakukan setelah memberikan pelayanan kesehatan,
proses ini memerlukan waktu ekstra untuk sekedar mencari kode dan
menuliskannya pada rekam medis pasien. Hal tersebut dirasakan agak
menghambat proses pelayanan, utamanya ketika kunjungan pasien
poliklinik sedang banyak. Untuk menangani kendala ini, dilakukan
beberapa upaya antara lain :
a. Menggunakan bantuan sofware elektronik yaitu ICD-X for Android,
dimana program ini menyediakan bantuan search sehingga bisa dengan
mudah menemukan kode diagnosis hanya dengan mengetikkan
diagnosisnya. Namun metode ini juga dinilai masih kurang efektif,

karena masih tetap membutuhkan sedikit waktu tambahan untuk


mengetikkan diagnosis.
b. Menuliskan daftar kode diagnosis untuk penyakit-penyakit yang sering
di jumpai di poliklinik. Penulisan kode tersebut disusun berdasarkan
sistem organ sehingga memudahkan dalam pencarian. Catatan ini
kemudian disimpan di bawah kaca meja pelayanan, sehingga mudah
untuk dilihat. Metode ini dalam penggunaannya dinilai sangat efektif,
sangat menghemat waktu dan tidak lagi mengganggu proses
pelayanan. Untuk diagnosis yang jarang dijumpai, pengkodeannya
dibantu dengan program seperti yang telah disebutkan pada poin (a)
diatas.
2. Kebiasaan mendiagnosis dengan menggunakan istilah dalam bahasa latin.
Pada beberapa diagnosis, khususnya diagnosis untuk kasus trauma /
external caused injury, pada kode berdasarkan ICD-X semua diagnosis
menggunakan bahasa inggris. Walalupun membutuhkan waktu ekstra
untuk menyesuaikan diagnosis kerja dengan diagnosis ICD-X, namun
proses pengkodean ini tidak mengganggu proses pelayanan karena waktu
yang digunakan untuk melakukan pengkodean adalah ketika pasien
diobservasi setelah ditangani hingga stabil, sehingga untuk kendala ini
hanya membutuhkan proses pembiasaan dan peningkatan kemampuan
berbahasa inggris.

Peserta

Pendamping

dr. Wawan Susilo

dr. Hj. Dahlia