Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini
ditandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan kacau, delusi,
halusinasi, gangguan kognitif dan persepsi. Gejala negatif seperti penurunan
avolition (menurunnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan bicara,
miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar dan terganggunya relasi personal.
Gejala-gejala skizofrenia tampak menimbulkan kendala berat dalam
kemampuan individu berpikir, memecahkan masalah kehidupan dan
melaksanakan relasi soisal. Hal tersebut mengakibatkan penderita skizofrenia
mengalami penurunan fungsi ataupun ketidakmampuan dalam menjalani
hidupnya, sangat terhambat produktivitasnya dan nyaris terputus relasinya
dengan orang lain (Arif, 2006).
American Psychiatric Association (APA) (1995), menyebutkan bahwa 1%
populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. Penelitian yang sama oleh
WHO juga menjelaskan bahwa prevalensi skizofrenia dalam masyarakat
berkisar antara satu sampai tiga per mil penduduk dan di Amerika Serikat
penderita skizofrenia lebih dari dua juta orang. Skizofrenia lebih sering terjadi
pada populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah (Sadock
dalam Arif, 2006).
Menurut Sosrosumiharjo dalam Arif (2006), prevalensi penderita
skizofrenia di Indonesia adalah 0,3%-1% dan biasanya timbul pada usia
sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang berusia 11-12 tahun sudah
menderita skizofrenia. Menurut hasil penelitian di Indonesia, terdapat sekitar
1-2% penduduk menderita skizofrenia yang berarti 2-4 juta jiwa, dan dari
jumlah tersebut diperkirakan penderita skizofrenia yang aktif sekitar 700.0001,4 juta jiwa. Menurut Irmansyah (2006), penderita gangguan jiwa yang
dirawat di rumah sakit jiwa di Indonesia hampir 70% karena skizofrenia.
Menurut Fleischacker (2003), kronisitas gangguan skizofrenia merupakan
salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam penatalaksanaan terhadap

penderita. Hampir semua pasien skizofrenia kronis mengalami kekambuhan


berulang kali sehingga mengakibatkan defisit keterampilan personal dan
vokasional. Perawatan kembali penderita skizofrenia juga disebabkan oleh
adanya prasangka (prejudice) dan stigma yang menyertai penderita
skizofrenia sehingga menyebabkan kesulitan yang dihadapi penderita
skizofrenia bertambah. Misalnya, penderita mendapat halangan untuk
mendapat perlakuan yang layak, kesulitan dalam mencari pekerjaan dan
sebagainya.
Penelitian yang dilakukan di Singapura memperlihatkan terdapat 73%
responden mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, 52% mengalami
rendah diri dan 51% dimusuhi akibat menderita skizofrenia. Sementara bagi
keluarga memiliki anggota keluarga yang mengalami skizofrenia menimbulkan
aib bagi keluarga dan membuat mereka mengalami isolasi sosial. Stigma
sosial atau disebut juga stigma eksternal yaitu seseorang atau kelompok
termasuk keluarga sendiri yang memberikan penilaian atau sikap negatif
terhadap penderita skizofrenia.
Menurut survey yang dilakukan oleh Otto F Wahl (1999), menjelaskan
masyarakat merupakan sumber stigma yang utama. Adanya lelucon tentang
rumah sakit jiwa dan tentang penderita gangguan jiwa sangat sering dijumpai
dalam media ataupun pada masyarakat. Keluarga dan penderita yang
seharusnya terluka oleh lelucon tersebut kehilangan hak untuk marah dan
akhirnya terbawa untuk ikut menikmatinya. Stigma jika dibiarkan akan
mengukuhkan pelecehan masyarakat terhadap penderita. Masyarakat berhak
menjauhi, mengucilkan, menganggap penderita skizofrenia sebagai lelucon
yang dapat dipermainkan dan diolok-olok. Masalah stigma, dalam
penanggulangan pasien skizofrenia ini masih merupakan kendala yang cukup
berarti. Pada berbagai kalangan, stigma tersebut dapat tampak dalam bentuk
keinginan memasukkan setiap anggota masyarakat yang dicurigai menderita
gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa (http://repository.usu.ac.id diunduh tanggal
09 Januari 2012).
Berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut maka peneliti
melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Minggir. Wilayah kerja Puskesas

Minggir meliputi 5 desa yaitu Sendangagung, Sendangsari, Sendangrejo,


Sendangarum dan Sendangmulyo. Menurut studi pendahuluan yang telah
peneliti lakukan diketahui bahwa gangguan jiwa yang peling banyak dialami
oleh penduduk adalah skizofrenia. Penderita skizofrenia yang tercatat 25
orang dari 48 orang yang mengalami gangguan jiwa. Jumlah penderita
skizofrenia ini mencapai 52% dari total keseluruhan penderita gangguan jiwa.
Menurut data yang ada, penderita skizofrenia yang paling banyak ada di
wilayah Desa Sendangagung terutama di Dusun Tengahan. Penderita
skizofrenia di Desa Sendangagung sendiri secara keseluruhan diketahui yang
rutin melakukan kontrol ke Puskesmas Minggir ada 11 penderita, sedangkan
yang terdapat di Dusun Tengahan terdapat 3 penderita yang rutin melakukan
kontrol. Menurut keterangan dari Puskesmas yang mengurusi bagian
kesehatan jiwa, penderita skizofrenia yang ada di masyarakat jumlahnya lebih
banyak karena banyak diantaranya yang tidak melakukan kontrol secara rutin.
Menurut keteragan dari kepala dusun, di Dusun Tengahan memang ada 3
warga yang menderita gangguan jiwa. Warga tersebut dulu pernah dirawat di
rumah sakit, tetapi saat ini sudah dipulangkan dan dirawat di rumah oleh
keluarganya. Kepala dusun menyatakan kurang mnegerti dengan jelas
tentang kondisi warganya yang mengalami gangguan jiwa tersebut. Kepala
dusun hanya mengetahui kalau selama ini ketiga warganya tersebut rutin
untuk kontrol ke Puskesmas. Ketika dimintai keterangan mengenai sikap
masyarakat di dusun pada warga yang sakit jiwa tersebut kepala dusun
menyatakan kalau warga di dusunnya cenderung tidak begitu peduli. Kepala
dusun menyatakan kalau wargannya selama ini sibuk dengan pekerjaannya
sendiri dalam mencari nafkah, sehingga tidak memperhatikan hal-hal yang
terjadi pada tetangganya yang pernah sakit jiwa.
Menurut hasil wawancara yang didapat dari 3 warga setempat, mereka
cenderung tidak peduli dengan penderita skizofrenia meskipun sudah di
rehabilitasi. Mereka menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti dengan asalasalan. Mereka cenderung bersikap acuh dan tidak mau tahu dengan kondisi
penderita serta hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat demi
membantu menegah adanya kekambuhan bagi penderita.

Berdasarkan data yang didapat dari studi pendahuluan tersebut maka


peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan mengangkat
judul Gambaran Sikap Masyarakat pada Penderita Skizofrenia
Pascarehabilitasi di Dusun Tengahan Sendangagung Minggir Sleman.
B. Rumusan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah
penelitian Bagaimanakah gambaran sikap masyarakat pada penderita
skizofrenia pascarehabilitasi di Dusun Tengahan Sendangagung Minggir
Sleman?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui gambaran sikap masyarakat pada penderita skizofrenia
pascarehabilitasi di Dusun Tengahan Sendangagung Minggir Sleman.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui keyakinan atau kepercayaan masyarakat mengenai
penderita skizofrenia pascarehabilitasi di Dusun Tengahan
Sendangagung Minggir Sleman.
b. Mengetahui respon emosional masyarakat pada penderita skizofrenia
pascarehabilitasi di Dusun Tengahan Sendangagung Minggir Sleman.
c. Mengetahui kecenderungan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat
oleh penderita skizofrenia pascarehabilitasi di Dusun Tengahan
Sendangagung Minggir Sleman.
D. Ruang Lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian di bidang keperawatan jiwa yang
dilakukan pada komunitas masyarakat di Dusun Tengahan Sendangagung
Minggir Sleman.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu informasi yang
dapat digunakan sebagai masukan untuk ilmu pengetahuan keperawatan
khususnya mengenai sikap masyarakat pada penderita skizofrenia
pascarehabilitasi di Dusun Tengahan Sendangagung Minggir Sleman.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan
dokumentasi mengenai penelitian keperawatan yang ada di
perpustakaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan tentang riset
keperawatan.
b. Bagi Profesi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai
sikap masyarakat bagi penerita skizofrenia pascarehabilitasi.
c. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi
masyarakat, terutama kepala dusun dan tokoh masyarakat mengenai
gambaran sikap masyarakat pada penerita skizofrenia
pascarehabilitasi di dusunnya.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman nyata
dalam melakukan penelitian mengenai sikap masyarakat pada
penderita skizofrenia pasca rehabilitasi.
e. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penelitian yang
lain yang berhubungan dengan skizofrenia.

F. Keaslian Penelitian
1. Penelitian yang dilakukan oleh Tenter (2011) dengan judul Peran
Keluarga pada Penanganan Penderita Skizofrenia dengan Halusinasi di
Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Ghrasia Yogyakarta. Metode yang digunakan
dalam penelitian tersebut adalah metode survey. Hasil penelitian peran
keluarga secara keseluruhan didapatkan bahwa peran menunjukkan
mayoritas peran keluarga dengan jumlah 55 dari 69 responden memiliki
peran yang baik pada penderita skizofrenia. Perbedaan dengan penelitian
ini adalah wilayah, responden dan variabel yang akan diteliti.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Ambari (2010) denga judul Hubungan
Antara Dukungan Keluarga dengan Keberfungsian Sosial pada Pasien
Skizofrenia Pasca Perawatan di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan
penelitian korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan
antara dukungan keluarga dengan keberfungsian sosial pada pasien
skizofrenia pasca perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.
Semakin tinggi dukungan keluarga, maka semakin tinggi pula
keberfungsian sosial pasien. Sebaliknya semakin rendah dukungan
keluarga, semakin rendah pula keberfungsian sosial pasien skizofrenia
pasca perawatan di rumah sakit. Perbedaan dengan penelitian ini adalah
tentang metode penelitian, responden dan variabel.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Sikap
Sikap (atticude) merupakan konsep paling penting dalam psikologis
sosial yang membahas unsur sikap, baik sebagai individu maupun
kelompok. Banyak kajian dirumuskan untuk merumuskan pengertian
sikap, proses terbentuknya sikap maupun perubahan.
a. Pengertian
Secord dan Backman dalam Azwar (2011), mendefinisikan sikap
sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran
(kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu
aspek di lingkungan sekitarnya.
b. Komponen sikap
Menurut Azwar (2011), struktur sikap terdiri atas tiga komponen
yang saling menunjang yaitu :
1) Komponen kognitif
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai
apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Sesuatu
yang dipercaya itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah
terpolakan dalam pikiran. Kepercayaan datang dari apa yang pernah
dilihat atau apa yang telah diketahui.
2) Komponen afektif
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif
seseorang terhadap objek sikap. Komponen ini disamakan dengan
perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Pada umumnya reaksi
emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak dipengaruhi

oleh kepercayaan atau apa yang dipercayai sebagai sesuatu yang


benar dan berlaku bagi objek sikap. Komponen afektif berhubungan
dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa
senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang
merupakan hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah sikap
positif atau negatif.
3) Komponen konatif
Komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan
bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam
diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
Bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu terhadap
stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana
kepercayaan dan perasaan terhadap stimulus tersebut.
kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan
kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena
itu logis bahwa sikap sesorang akan dicerminkan dalam bentuk
tendensi perilaku terhadap objek.
c. Tingkatan sikap
Menurut Notoatmodjo (2007), seperti halnya pengetahuan, sikap
juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas
yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah berarti
bahwa orang menerima ide.

3) Menghargai (valuing)
Indikasi sikap tingkat tiga adalah mengajak orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
4) Bertanggung jawa (responsible)
Sikap yang paling tinggi adalah bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko.
d. Sifat sikap
Menurut Purwanto dalam Wawan dan Dewi (2011), sikap dapat
pula bersifat positif dan dapat pula bersikap negatif yaitu :
1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyayangi, mengharapkan objek tertentu.
2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauh, menghindari,
membenci, tidak menyukai objek tertentu.
e. Ciri-ciri sikap
Menurut Purwanto dalam Wawan dan Dewi (2001), ciri-ciri sikap
adalah :
1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan dalam hubungan dengan objeknya.
2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan
sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaankeadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada
orang itu.
3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan
tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,
dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek
tertentu yang dapat diumuskan dengan jelas.

4) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat


alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau
pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.
f.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap


Menurut Azwar (2011), ada 6 faktor yang yang dapat
mempengaruhi sikap yaitu :
1) Pangalaman Pribadi
Pengalaman pribadi dapat berpengaruh terhadap sikap
karena apa yang telah dialami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial. Penghayatan
tersebut dapat membentuk sikap positif ataukah sikap negatif.
2) Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting
Pada umumnya individu cenderung memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya
penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan
untuk berasiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan
orang yang dianggap pendting tersebut.
3) Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita
terhadap berbagai masalah. Kebudayaan menwarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena budaya pula lah yang memberi corak
pengalaman individu-individu yang menjad anggota kelompok
asuhnya.
4) Media Massa
Pemberitaan di surat kabar maupun radio atau media
komunikasi lainnya, berita-berita faktual yang seharusnya
dismpaikan secara objektif seringkali dimasuki unsur subjektifitas
penulis berita, baik secara sengaja maupun tidak. Hal ini sering
berpengaruh terhadap sikap pembaca atau pendengarnya, sehingga

dengan hanya menerima berita-berita yang sudah dimasuki unsur


subjektif itu terbentuklah sikap tertentu.
5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan
sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada
gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam
menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.
6) Faktor Emosional
Suatu bentuk sikap kadang merupakan pernyataan yang
didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran
frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
g. Cara Pengukuran Sikap
Menurut Azwar dalam Wawan dan Dewi (2011), pengukuran sikap
dapat dilakukan dengan menilai pernyataan seseorang. Pernyataan
sikap adalah rangkaian kalimat yang menyatakan sesuatu mengenai
objek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi
atau mengatakan hal-hal positif mengenai objek sikap, yaitu kalimatnya
bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. Pernyataan ini
disebut dengan pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan
sikap mungkin pula berisi hal-hal negatif mengenai objek sikap yang
bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap objek sikap.
Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak
favourable. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahkan agar terdiri
atas pernyataan favourable dan tidak favourable dalamjumlah yang
seimbang.
Menurut Notoadmodjo (2007), pengukuran sikap dapat dilakukan
secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat
dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap
suatu objek. Secara tidak lansung dapat dilakukan dengan pernyataan-

pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui


kuisioner.
Menurut Hadi dalam Wwan dan Dewi ( 2011), ada beberapa faktor
yang mempengaruhi pengukuran sikap yaitu :
1) Keadaan objek yang diukur
2) Situasi pengukuran
3) Alat ukur yang digunakan
4) Penyelenggaraan pengukuran
5) Pembacaan atau penilaian hasil pengukuran
h. Pengukuran Sikap
Menurut Wawan dan Dewi (2011), ada beberapa teknik yang
digunakan dalam pengukuran sikap.
1) Skala Thurstone (Method of Equal-Appearing Intervals)
Metode ini mencob menempatkan sikap seseorang pada
rentangan kontinum dari yang sangat unfavourable hingga sangat
favourable terhadap suatu objek sikap. Cara untuk menghitung nilai
skala dan memilih skala dan memilih pernyataan sikap yaitu
pembuat skala membuat sampel pernyataan sikap sekitar lebih dari
100 buah.pernyataan tersebut kemudian diberikan kepada penilai
yang bertugas menentukan derajat favourabilitas masing-masing
pernyataan. Favourabilitas penilai diekspresikan melalui titik skala
rating yang memiliki rentang 1-11. Median penilaian antarpenilai
terhadap item ini kemudian dijadikan sebagai nilai skala masingmasing item. Pembuat skala kemudian menyusun item mulai dari
item yang memiliki nilai skala terendah sampai tertinggi.
Berdasarkan item tersebut pembuat skala kemudian memilih item
untuk kuisioner skala sikap yang sesungguhnya. Skala kemudian
diberikan kepada responden untuk diminta menunjukkan seberapa

besar kesetujuan dan ketidaksetujuannya pada masing-masing item


sikap tersebut.
2) Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Likert menggunakan teknik konstruksi test yang lebih
sederhana dibandingkan skala Thurstone. Masing-masing
responden diminta melakukan agreement atau disagreement-nya
untuk masing-masing item dalam skala yang terdiri dari 5 poin
(sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju).
Semua item yang favourable kemudian diubah nilainya dalam
angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5 sedangkan untuk yang
sangat tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya untuk item yang
unfavourable nilai skala sangat setuju adalah 1 sedangkan untuk
yang sangat tidak setuju nilainya 5.
2. Masyarakat
a. Pengertian
Menurut Abdulsyani dalam Ratna (2010), masyarakat adalah
wadah hidup bersama dari individu-individu yang terjalin dan terikat
dalam hubungan interaksi serta relasi sosial. Kata masyarakat berasal
dari bahasa arab: Syirk: bergaul, syaraka artinya berpartisipasi, ikut
serta dan musyarak artinya bersama-sama.
Menurut Koentjaraningrat dalam Ratna (2010), masyarakat
merupakan satu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut
sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan saling terikat
oleh suatu rasa identitas bersama.
b. Unsur-unsur
Menurut Ratna (2010), hidup bersama data dikatakan masyarakan
bila mempunyai unsur-unsur yaitu:
1) Manusia yang hidup bersama, sehingga dalam kebersamaan itu
terjalin ikatan yang kuat untuk saling membantu.

2) Bercampur atau hidup bersama-sama untuk waktu yang cukup


lama, bukan hanya dalam pertemuan-pertemuan sekilas karena
mereka saling berinteraksi dalam waktu yang cukup lama.
3) Menyadari bahwa mereka merupakan satu kesatuan untuk itu
mereka selalu saling tolong-menolong.
4) Mematuhi terhadap norma-norma atau peraturan-peraturan yang
menjadi kesepakatan bersama dan memberikan sangsi bila salah
satu anggotanya tidak mematuhi aturan yang telah disepakati baik
secara tertulis maupun tidak.
5) Menyadari bahwa mereka bersama-sama diikat oleh perasaan
diantara para anggota satu dengan yang lainnya, seihingga
mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
6) Menghasilkan suatu kebudayaan tertentu.
c. Ciri-ciri Masyarakat
Menurut Mubarak (2009), ciri-ciri dari masyarakat yaitu:
1) Adanya interaksi diantara sesama anggota.
2) Saling bergantung
3) Menempati wilayah dengan batas tertentu.
4) Adanya adat istiadat, norma, hukum serta aturan yang mengatur
pola tingkah laku anggotanya.
5) Adanya rasa identitas yang kuat dan mengikat semua warganya
seperti: bahasa, pakaian, simbol-simbol tertentu (perumahan),
benda-benda tertentu (mata uang, alat pertanian) dan lain-lain.
6) Ada kesinambungan dalam waktu.

d. Syarat-syarat terbentuknya Masyarakat


Menurut Mubarak (2009), untuk membentuk suatu perkumpulan
yang bisa disebut sebagai masyarakat harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1) Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan
bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2) Adanya hubungan timbal-balik antar anggota yang satu dengan
anggota yang lainnya.
3) Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan
antara mereka bertambah erat.
4) Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
5) Bersistem dan berproses.
e. Dukungan sosial
1) Pengertian
Menurut Taylor dalam Ratna (2010), dukungan sosial adalah
sebuah pertukaran interpersonal dimana seseorang memberikan
bantuan kepada orang lain. Dukungan sosial merupakan faktor
penting yang dibutuhkan seseorang ketika menghadapi masalah
(kesehatan).
2) Faktor yang Mempengaruhi Efektifitas Dukungan Sosial
Menurut Ratna (2010), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
efektifitas dukungan sosial yaitu:
a) Pemberi Dukungan Sosial
Dukungan lebih efektif bila berasal dari orang-orang
terdekat yang mempunyai arti dalam hidup individu.

b) Jenis Dukungan Sosial


Dukungan akan lebih memiliki arti jika bermanfaat dan
sesuai dengan situasi yang ada.
c) Penerima Dukungan Sosial
Perlu diperhatikan juga karakteristik orang yang menerima
bantuan, kepribadian dan peran sosial penerima dukungan.
d) Waktu Pemberi Dukungan
Pemberi dukungan harus mempelajari waktu yang tepat
sebelum memberikan dukungan.
e) Lamanya Pemberi Dukungan
Lama dukungan tergantung dari masalah yang dihadapi,
kadang bila kasusnya kronis maka diperlukan kesabaran dari
pemberi dukungan karena membutuhkan waktu yang cukup
lama.
3) Bentuk Dukungan Sosial
Menurut Sherburne dan Stewart dalam Ratna (2010), bentuk
dukungan sosial yaitu:
a) Memberikan dukungan emosional, cinta, empati.
b) Bantuan instrumental atau nyata berupa benda, kebutuhan
pangan, sandang.
c) Menyediakan informasi, petunjuk atau memberikan kemudahan
sehingga klien tidak menjadi bertambah stress karena
informasi yang tidak jelas.
d) Memberikan penilaian yang membantu seseorang untuk
mengevaluasi dirinya.
e) Menemani aktivitas rekreasi dan bersenang-senang.

4) Sumber Dukungan Sosial


Menurut WHO dalam Ratna (2010), sumber dukungan sosial ada
3 level yaitu:
a) Level promer: anggota keluarga dan sahabat.
b) Level sekunder: teman, kenalan, tetangga dan rekan kerja.
c) Level tersier: instansi dan petugas kesehatan.
f.

Stigma Gangguan Jiwa


1) Pandangan Masyarakat pada Penderita Gangguan Jiwa
Menurut Hawari (2001), dalam kaitannya pada penderita
skizofrenia, stigma merupakan sikap keluarga dan masyarakat
yang menganggap bahwa salah seorang anggota keluarga
menderita skizofrenia, hal ini merupakan aib bagi keluarga. Selama
bertahun-tahun, banyak bentuk diskriminasi secara bertahap turun
temurun dalam masyarakat kita. Penyakit mental dalam
meghasilkan kesalahpahaman, prasangka, kebingungan, dan
ketakutan. Masyarakat masih menganggap bahwa gangguan jiwa
merupakan aib bagi penderitanya maupun keluarganya. Selain dari
itu, gangguan jiwa juga dianggap penyakit yang disebabkan oleh
hal-hal supranatural oleh sebagian masyarakat (Abizhaki, 2010).

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif tentang sikap
masyarakat pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasai. Penelitian
deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan
utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan obyektif
(Setiadi, 2007).
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian
survey. Survey adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan
terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka
waktu tertentu. Informasi yang disediakan biasanya berhubungan dengan
prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu populasi.
Penelitian dengan metode survey tidak ada intervensi (Setiadi, 2007).
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 4 Maret sampai
dengan 15 April 2012.
2. Tempat
Penelitian ini telah dilaksanakan di Dusun Tengahan,
Sendangagung, Minggir, Sleman.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan obyek penelitian atau
obyek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam
penelitian ini adalah masyarakat di Dusun Tengahan, Sendangagung,
Minggir, Sleman tahun 2011 yang berjumlah 827 orang.
2. Sampel
Sampel penelitian adalah obyek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel dalam

penelitian ini adalah masyarakat di Dusun Tengahan, Sendangagung,


Minggir, Sleman yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut :
a. Mengetahui penderita skizofrenia pasca rehabilitasi di Dusun
b.
c.
d.
e.

Tengahan.
Usia 16 sampai dengan 60 tahun.
Sehat jasmani dan rohani.
Bisa membaca dan menulis.
Bersedia untuk menjadi responden.
Sampel yang dipilih dalam penelitian ini juga diambil dengan

mempertimbangkan kriteria eksklusi sebagai berikut :


a. Anggota masyarakat usia 16-60 tahun yang tidak berada di dusun.
b. Tidak bersedia menjadi responden.
Menurut Setiadi (2007), besarnya sampel penelitian dapat
ditentukan dengan rumus berikut :
n=

N
1+ N ( d 2)

Keterangan :
N = Besar populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,10)
Berdasarkan rumus di atas maka jumlah sampel minimal adalah :
n=

827
1+827 (0,102 )

827
1+8,27

827
9,83

= 89,21 = 89

Jadi, besarnya sampel minimal yang harus diteliti ada 89 responden.


Cara pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan
purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu sesuai yang dikehendaki peneliti (Setiadi, 2007). Peneliti
menentukan dan memilih sejumlah 89 responden berdasarkan letak
tempat tinggalnya yang berdekatan dengan rumah penderita skizofrenia
pasca rehabilitasi. Peneliti dalam melakukan penelitian mengutamakan
responden yang letak rumahnya berada dalam satu Rukun Tetangga (RT)
dengan rumah penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Akan tetapi karena
jumlah sampel belum terpenuhi maka peneliti juga meneliti beberapa
responden yang berada dalam satu Rukun Warga (RW) dengan penderita
skizofrenia pasca rehabilitasi untuk memenuhi jumlah sampel penelitian.

E. Variabel Penelitian
Variabel adalah karakteristik yang diamati yang mempunyai variasi
nilai dan merupakan operasionalisasi dari suatu konsep agar dapat diteliti

secara empiris atau ditentukan tingkatannya (Setiadi, 2007). Penelitian ini


menggunakan satu variable yaitu sikap. Variable ini terdiri dari 3 sub
variable yang telah diteliti yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan
komponen konatif.

F. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memperjelaskan
bagaimana caranya menentukan variabel, sehingga definisi operasional
ini merupakan suatu informasi ilmiah yang akan membantu peneliti lain
yang ingin menggunakan variabel yang sama (Setiadi, 2007).
Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui gambaran
sikap masyarakat pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Penderita
skizofrenia pasca rehabilitasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
penderita skizofrenia yang sudah dipulangkan dari rumah sakit setelah
mendapatkan perawatan dan saat ini penderita tersebut dirawat di rumah
oleh keluarganya. Sikap masyarakat dalam penelitian ini diukur
berdasarkan kemampuan responden yaitu masyarakat Dusun Tengahan
dalam menjawab 30 pertanyaan. Pertanyaan yang disediakan mencakup
3 komponen sikap yang meliputi komponen kognitif, komponen afektif,
dan komponen konatif. Definisi operasional dalam penelitian ini dijelaskan
sebagai berikut :

a. Komponen kognitif
Komponen kognitif digunakan untuk mengetahui keyakinan atau
kepercayaan masyarakat pada penderita skizofrenia pasca
rehabilitasi. Pengetahuan dan pandangan masyarakat ini diukur
dengan kuesioner tertutup yang berisi 10 pertanyaan. Pertanyaan
tersebut dimenifestasikan dalam pernyataan positif dan negative
dengan menggunakan skala ordinal. Sikap masyarakat kemudian
dikategorikan menjadi keyakinan positif dan keyakinan negatif.
Keyakinan positif yaitu bila masyarakat tidak setuju atau tidak yakin
dengan pernyataan yang tidak benar bagi penderita skizofrenia
pasca rehabilitasi, terutama pernyataan mengenai stigma yang
berkembang. Keyakinan negatif yaitu bila masyarakat setuju atau
yakin dengan pernyataan mengenai stigma yang berkembang bagi
penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Pengukuran komponen

kognitif ini menggunakan skala likert 1-5 yang dinyatakan dalam


berbagai tingkat persetujuan. Keyakinan positif jika skor T 50 dan
keyakinan negatif jika skor T < 50.

b. Komponen afektif
Komponen afektif digunakan untuk mengetahui respon
masyarakat pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Respon
masyarakat tersebut dilihat dari kemampuan masyarakat dalam
menjawab 10 pernyataan dalam kuesioner tertutup yang
dimanifestasikan menggunakan pernyataan positif dan negatif
dengan skala ordinal. Respon masyarakat dikategorikan dalam
respon tersebut dikategorikan positif bila masyarakat bersedia
masyarakat bersedia menerima penderita skizofrenia pasca
rehabilitasi sebagai bagian dari anggota masyarakat. Sebalikny
respon masyarakat dikategorikan negatif bila masyarakat menolak
kehadiran penderita skizofrenia pasca rehabilitasi di tengah-tengah
kehidupan mereka dalam masyarakat. Pengukuran komponen afektif
ini menggunakan skala likert 1-5 yang dinyatakan dalam berbagai
tingkat peretujuan. Respon positif jika responden memiliki skor T
60.
c. Komponen konatif
Komponen konatif digunakan untuk mengetahui
kecenderungan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat pada
penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Tindakan masyarakat dilihat
dari kemampuan masyarakat dalam menjawab 10 pertanyaan dalam
kuesioner tertutup yang dimanifestasikan menggunakan pernyataan
positif dan negatif dengan skala ordinal. Tindakan dikategorikan
menjadi positif dan negatif. Tindakan positif bila masyarakat
cenderung memberikan dukungan social pada penderita dalam
kehidupannya di masyarakat. Sedangkan tindakan dikatakan negatif
bila masyarakat tidak memberikan dukungan social pada penderita.
Pengukuran komponen konatif ini menggunakan skala likert 1-5 yang
dinyatakan dalam berbagai tingkat persetujuan. Kecenderungan
tindakan positif bila skor T responden 50 dan kecenderungan
tindakan negatif bila skor T responden 50.

d. Sikap secara keseluruhan

Sikap secara keseluruhan ini merupakan hasil merespon atau


menjawab 30 pernyataan mengenai sikap masyarakat pada
penderita skizofrenia pasca rehabilitasi yang dimanifestasikan
dengan pernyataan tertutup. Sikap kemudian dikategorikan menjadi
sikap positif dan sikap negatif. Sikap positif yaitu sikap yang yakin,
senang dan mendukung penderita skizofrenia pasca rehabilitasi.
Sedangkan sikap negatif adalah sikap yang tidak yakin, tidak
menyukai dan tidak mau mendukung penderita skizofrenia pasca
rehabilitasi. Pengukuran sikap ini menggunakan skala Likert dengan
skor 1-5 yang dinyatakan dalam berbagai macam tingkat
persetujuan. Sikap positif bila hasil skor T 50. Sikap negatif bila
hasil skor T < 50.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang
berupa formulir (Setiadi, 2007). Penelitian ini menggunakan kuesioner
tertutup mengenai sikap masyarakat pada penderita skizofrenia pasca
rehabilitasi. Kuesioner dalam penelitian ini berisi pertanyaan-pertanyaan
yang sudah disiapkan jawabannya.
Instrumen sikap ini digunakan untuk mengukur sikap responden
pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasi. Instrument ini terdiri dari 30
pernyataan favourable dan unfavourable mencakup aspek kognitif, afektif,
dan konatif yang disusun berdasarkan skala likert dengan skor 1-5.
Responden diminta menyatakan kesetujuan dan ketidaksetujuannya pada
setiap komponen sikap terhadap 5 macam kategori jawaban, yaitu sangat
setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (RR), tidak setuju (TS) dan sangat tidak
setuju (STS) dengan cara membubuhkan tanda () pada kolom yang
sudah disediakan. Pernyataan bersifat favourable jawaban STS diberi
nilai 1, jawaban TS diberi nilai 2, jawaban RR diberi nilai 3, jawaban S
diberi nilai 4, dan jawaban SS diberi nilai 5. Sebaliknya untuk pernyataan
yang bersifat unfavourable jawaban STS diberi nilai 5, jawaban TS diberi
nilai 4, jawaban RR diberi nilai 3, jawaban S diberi nilai 2, dan jawaban
SS diberi nilai 1. Jumlah skor dari jawaban masing-masing responden

tersebut kemudian dikategorikan menjadi 2 yaitu positif dan negatif


berdasarkan skor yang diperoleh.
Instrumen dalam penelitian ini sebelum digunakan untuk
penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji validitas internal kepada pakar
yang dapat dimintai pendapatnya. Berdasarkan pendapat dan saran dari
pakar maka instrumen ini sebelum digunakan sudah diperbaiki terlebih
dahulu, sehingga diharapkan dapat menjadi sebuah instrumen yang valid
untuk melakukan penelitian mengenai sikap masyarakat pada penderita
skizofrenia. Selain uji kepahaman terhadap beberapa masyarakat untuk
memastikan bahwa pernyataan dalam instrument ini dapat dipahami oleh
masyarakat.
Tabel 3.1.
Kisi-kisi kuesioner tentang sikap pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasi
No
.
1.
2.
3.

Komponen Sikap
Kognitif
Afektif
Konatif
Jumlah soal

Nomor

Jumlah

Soal
1-10
11-20
21-30

Soal
10
10
10
30

Favourable

Unfavourabl

2
3
9
14

e
8
7
1
16

H. Teknik Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh
sendiri oleh peneliti dari hasil survey. Langkah-langkah teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu :
a. Mengurus ijin penelitian.
b. Mendatangi rumah responden dan memperkenalkan identitas diri.
c. Memberikan penjelasan pada responden tentang maksud dan tujuan
pengumpulan data.
d. Memberikan informed concent kepada responden sebagai bukti
persetujuan menjadi responden.
e. Memberikan kuesioner kepada responden dan menjelaskan tentang
petunjuk pengisian kuesioner.

f.

Memberikan waktu kepada responden untuk menjawab pertanyaan

dalam kuesioner selama 15 menit.


g. Mengambil kuesioner yang telah dijawab oleh responden.
h. Melakukan pengecekan kelengkapan hasil pengisian kuesioner satu
demi satu, apabila ada item pertanyaan yang belum terisi, peneliti
akan meminta responden untuk melengkapinya kembali saat itu juga.
I.

Pengolahan dan Analisis Data


1. Pengolahan Data
Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses
untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu
kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu
sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi, 2007).
Penelitian ini menggunakan cara pengolahan data analisis deskriptif.
Langkah-langkah pengolahan dan analisis data menurut
Setiadi (2007) sebagai berikut :
a. Editing
Editing adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah
diserahkan oleh para pengumpul data. Pada tahap ini peneliti
memeriksa kelengkapan jawaban, keterbatasan tulisan dan
relevansi jawaban responden.
b. Coding
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari
para responden ke dalam kategori nilai. Pada proses ini peneliti
memberikan nilai pada setiap item jawaban responden pada
kuesioner. Pernyataan bersifat favourable jawanan STS diberi
nilai 1, jawaban TS diberi nilai 2, jawaban RR diberi nilai 3,
jawaban S diberi nilai 4, dan jawaban SS diberi nilai 5.
Sebaliknya, untuk pernyataan yang bersifat unfavourable
jawaban STS diberi nilai 5, jawaban TS diberi nilai 4, jawaban
RR diberi nilai 3, jawaban S diberi nilai 2, dan jawaban SS diberi
nilai 1.
c. Sorting
Sorting adalah mensorting dengan memilih atau
mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki
(klasifikasi data). Tahap ini peneliti memilah dan
mengelompokkan data yang dibutuhkan dalam penelitian terkait

dengan karakteristik responden, komponen kognitif sikap,


komponen afektif sikap, dan komponen konatif sikap.
d. Entry Data
Jawaban-jawaban pernyataan yang sudah diberi kode dan
dikelompokkan kemudian dimasukkan dalam table.
e. Scoring
Peneliti memberikan nilai pada data yang diperoleh. Data
yang sudah dimasukkan ke dalam table kemudian diberikan skor
untuk masing-masing item kuesioner.
2. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dan ditabulasi dalam table
kemudian dilakukan perhitungan dengan menentukan skor sikap
dan dikategorikan menurut tiap komponen sikap. Pengkategorian
dirumuskan dengan nilai T (Azwar, 2010) yaitu :
Skor T = 50 +10

~
X X
S

Keterangan :
x = skor responden yang hendak diubah menjadi skor T

~
x = mean skor kelompok

s = standar deviasi kelompok


Menurut Riwidikdo (2009), untuk mencari standard deviation (SD)
atau simpangan baku sampel kelompok digunakan rumus
matematika berikut :
s=

x i ( x i)
n1

Keterangan :

= jumlah skor

x i = skor responden
n

= jumlah sampel

Hasil skor T yang dicapai oleh setiap responden kemudian


diinterpretasikan ke dalam kategori berikut :
a. Komponen Kognitif
1) Keyakinan positif

= T 50

2) Keyakinan negatif = T < 50


b. Komponen Afektif
1) Respon positif
= T 50
2) Respon negatif
= T < 50
c. Komponen Konatif
1) Tindakan positif
= T 50
2) Tindakan negatif = T < 50
d. Sikap secara Keseluruhan
1) Sikap positif
= T 50
2) Sikap negatif
= T < 50

Setelah hasil analisis data diketahui maka hasil tersebut kemudian


dikelompokkan dengan rumus distribusi frekuensi yaitu :

P=

f
N

x 100%

Keterangan :
P = Prosentase
f = Jumlah responden yang mempunyai kategori sama
N = Jumlah total responden
J. Kelemahan Penelitian
Penelitian ini meneliti mengenai sikap, sedangkan sikap
seseorang bukan dibawa sejak lahir melainkan dapat dibentuk atau
dipelajari dan dapat diubah selama perkembangan seseorang menjadi
dewasa. Sikap seseorang juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti pengalaman pribadi, media massa, pengaruh budaya, pengaruh
orang lain dan faktor emosional pribadi individu. Oleh karena itu,
penelitian ini memiliki kelemahan yaitu hasil dari penelitian ini hanya
dapat digunakan untuk menilai sikap masyarakat pada saat ini dan tidak
bisa digunakan untuk menilai sikap masyarakat di waktu yang akan
datang karena sikap dapat diubah dan dipelajari, sehingga hasil penelitian
ini dapat berbeda hasilnya bila dilakukan penelitian di waktu yang akan
datang.

DAFTAR PUSTAKA
Abizaki. 2010. Oktober 2014. Stigma Gangguan Jiwa. Diunduh dari 11 Januari
2012 dari http://abizhaki.blogspot.com/2010/stigma-gangguan-jiwa.html
Ambari, P. K. M. 2010. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan
Keberfungsian Sosial Pada Pasien Skizofrenia Pascaperawatan di
Rumah Sakit. Semarang: Universitas Diponegoro.
Arif, I. S. 2006. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung:
Refika Aditama.
Azwar, S. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Departemen Pendidikan Nasional. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Hapsari, D. R. M. 2011. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putra
Tentang Miras dan Narkoba di Dusun Tambakrejo, Ngaglik, Sleman.
Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
Hapsari, D. 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta:
Gaya Baru.
Irmansyah. 2006. Pencegahan dan Intervensi Dini Skizofrenia.
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0410/19/ipeng/1331282.htm. Diunduh
pada tanggal 09 Januari 2012.
Khoiriani, D. 2009. Gambaran Perilaku Merokok Pada Remaja di SMK Maarif 2
Temon. Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
Mubarak, W.I., dkk. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta. 2009. Panduan Karya Tulis Ilmiah


dan Skripsi. Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
Ratna, W. 2010. Sosiologi dan Antropologi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka
Rihama.
Riwidikdo, H. 2009. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendekia.
Sarwono, S. W. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Raja ------ Persada.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penuisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: ---- Ilmu.
Soehartono, I. 2007. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja ---Soekanto, S. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Trubus
Sutiono, A. 2009. Survei Pada Ibu-ibu Dalam Memberikan Kolostrum dan ASI
Secara Eksklusif di Desa Jimbaran Kecamatan Kayon Kabupaten ---- ----Tengah. Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
Tenter, I. K. 2011. Peran Keluarga Pada Penanganan Penderita Skizofrenia
dengan Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta.
Yogyakarta: Politeknik Kesehatan Yogyakarta.
USUs repository bitsream. (n.d). Diunduh tanggal 09 Januari 2012 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25526/5/Chapter----Videbeck. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Wawan, A., & Dewi, M. 2011. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika.

LAMPIRAN
KUESIONER PENELITIAN

Tujuan

: Kuesioner ini dirancang untuk mengidentifikasi gambaran sikap


masyarakat pada penderita skizofrenia pasca rehabilitasi.

Identitas responden
Nama

: ..

Umur

: ..

Jenis Kelamin

: ..

Petunjuk pengisian :
1. Telitilah dengan cermat setiap butir pernyataan.
2. Pilihlah jawaban sesuai dengan keadaan Anda dengan cara member tanda
() pada kolom yang sudah disediakan.
3. Mohon semua butir pernyataan dijawab.
Karakteristik responden
Pendidikan terakhir
SD
SMP

SMA
Akademia/Perguruan Tinggi
Pekerjaan
Pelajar/Mahasiswa
Bekerja
Tidak Bekerja
Petunjuk :
Di bawah ini terdapat pernyataan tentang sikap masyarakat pada orang yang
pernah sakit jiwa. Pilihlah SS bila Anda sangat setuju, S bila Anda setuju, RR bila
Anda ragu-ragu, TS bila Anda tidak setuju dan STS bila Anda sangat tidak setuju
dengan pernyataan yang dituliskan dengan cara memberikan tanda () pada
kolom yang tersedia.
No
.
1.

Pernyataan
Saya yakin orang yang pernah
sakit jiwa pasti mempunyai

2.

tingkah laku yang tidak wajar.


Saya percaya bahwa orang bisa

3.

sakit jiwa karena keturunan.


Saya yakin orang yang sakit jiwa

4.

selamanya akan sakit jiwa.


Saya tidak bisa percaya pada
orang yang pernah sakit jiwa
sekalipun ia sudah dinyatakan

5.

sembuh.
Saya yakin orang sakit jiwa

6.

hidupnya tergantung pada obat.


Saya yakin bahwa orang sakit jiwa
itu tidak bisa dilibatkan dalam

7.

kegiatan masyarakat
Saya yakin orang yang sudah
pernah sakit jiwa tidak akan bisa
berguna bagi masyarakat dan
keluarganya.

SS

RR

TS

STS

8.

Saya yakin orang yang sakit jiwa


sepanjang hidupnya akan

9.

bergantung pada orang lain.


Orang yang pernah mengalami
sakit jiwa seharusnya disingkirkan

10.

dari masyarakat.
Saya yakin orang yang pernah
sakit jiwa akan selalu
menimbulkan masalah bagi

11.

masyarakat.
Saya merasa kasihan bila ada

12.

tetangga yang pernah sakit jiwa.


Saya merasa takut pada orang

13.

yang pernah sakit jiwa.


Saya merasa khawatir bila ada
tetangga saya yang menderita
sakit jiwa.

No
.
14.

Pernyataan
Saya senang bila tetangga saya
pernah sakit jiwa tidak dibiarkan

15.

untuk keluar rumah.


Saya lebih suka bila tetangga
saya yang pernah sakit jiwa

16.

dibawa ke Rumah Sakit Jiwa saja.


Saya tidak suka meminjamkan
barang saya pada orang lain
apalagi orang itu pernah sakit

17.

jiwa.
Saya tidak bisa mempercayakan
pekerjaan saya dikerjakan orang

18.

yang pernah sakit jiwa.


Saya senang bila orang yang
pernah sakit jiwa mau duduk

19.

berobat secara rutin.


Saya tidak suka berbicara dengan

SS

RR

TS

STS

20.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya tidak suka bila anggota
keluarga saya dekat dengan

21.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya bersedia mempekerjakan

22.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya akan membiarkan bila
tetangga saya yang pernah sakit

23.

jiwa dikurung di dalam rumah.


Saya akan mengizinkan tetangga
saya masuk ke rumah saya

24.

sekalipun ia pernah sakit jiwa.


Saya bersedia mengingatkan
tetangga saya yang pernah sakit
jiwa bila ia mengenakan pakaian

25.

yang tidak cocok warnanya.


Saya bersedia mengajak tetangga
saya ikut kerja bakti sekalipun ia

26.

pernah sakit jiwa.


Saya bersedia untuk membiarkan
makanan bila tetangga saya yang
pernah sakit jiwa tidak punya

27.

makanan.
Saya bersedia memberikan
informasi kepada pihak keluarga
bila melihat tetangga saya yang
pernah sakit jiwa berkeliaran di
jalan.

28.

Saya bersedia bekerja bersama


dengan tetangga saya yang
pernah sakit jiwa.

No
.
29.

Pernyataan
Saya bersedia mengantarkan ke
rumah sakit atau puskesmas
untuk control.

SS

RR

TS

STS

30.

Saya bersedia mengajak tetangga


saya yang pernah sakit jiwa
berekreasi.

KRITERIA PENILAIAN KUESIONER

Nomor
Pernyataan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

SS

RR

TS

STS

1
5
1
1
5
1
1
1
1
1
5
1
1
1
5
1
1
5
1
1
5
1
5
5
5
5
5
5
5
5

2
4
2
2
4
2
2
2
2
2
4
2
2
2
4
2
2
4
2
2
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

4
2
4
4
2
4
4
4
4
4
2
4
4
4
2
4
4
2
4
4
2
4
2
2
2
2
2
2
2
2

5
1
5
5
1
5
5
5
5
5
1
5
5
5
1
5
5
1
5
5
1
5
1
1
1
1
1
1
1
1

Frekuensi Pengisian Kuesioner Penelitian Mengenai Sikap Masyarakat


Pada Penderita Skizofrenia Pasca Rehabilitasi di Dusun Tengahan Tahun
2012
No
.
1.

Pernyataan

2.

tingkah laku yang tidak wajar.


Saya percaya bahwa orang bisa

3.

sakit jiwa karena keturunan.


Saya yakin orang yang sakit jiwa

4.

selamanya akan sakit jiwa.


Saya tidak bisa percaya pada
orang yang pernah sakit jiwa
sekalipun ia sudah dinyatakan

5.

sembuh.
Saya yakin orang sakit jiwa

6.

hidupnya tergantung pada obat.


Saya yakin bahwa orang sakit jiwa
itu tidak bisa dilibatkan dalam

berguna bagi masyarakat dan

bergantung pada orang lain.

STS

14

52

17

22

34

19

12

47

27

24

44

13

26

17

39

22

14

33

11

59

25

15

55

55

63

12

Orang yang pernah mengalami


sakit jiwa seharusnya disingkirkan
dari masyarakat.

10.

TS

keluarganya.
Saya yakin orang yang sakit jiwa
sepanjang hidupnya akan

9.

RR

kegiatan masyarakat
Saya yakin orang yang sudah
pernah sakit jiwa tidak akan bisa

8.

Saya yakin orang yang pernah


sakit jiwa pasti mempunyai

7.

SS

Saya yakin orang yang pernah


sakit jiwa akan selalu
menimbulkan masalah bagi

masyarakat.
11.

Saya merasa kasihan bila ada


tetangga yang pernah sakit jiwa.

12.

sakit jiwa.

.
14.

Pernyataan

apalagi orang itu pernah sakit

12

22

47

32

10

36

SS

RR

TS

STS

10

45

20

10

52

19

48

14

13

19

48

30

55

57

18

10

52

17

44

25

17

51

14

jiwa.
Saya tidak bisa mempercayakan
pekerjaan saya dikerjakan orang

18.

dibawa ke Rumah Sakit Jiwa saja.


Saya tidak suka meminjamkan
barang saya pada orang lain

17.

untuk keluar rumah.


Saya lebih suka bila tetangga
saya yang pernah sakit jiwa

16.

Saya senang bila tetangga saya


pernah sakit jiwa tidak dibiarkan

15.

Saya merasa khawatir bila ada


tetangga saya yang menderita

No

57

Saya merasa takut pada orang


yang pernah sakit jiwa.

13.

27

yang pernah sakit jiwa.


Saya senang bila orang yang
pernah sakit jiwa mau duduk

19.

berobat secara rutin.


Saya tidak suka berbicara dengan

20.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya tidak suka bila anggota
keluarga saya dekat dengan

21.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya bersedia mempekerjakan

22.

orang yang pernah sakit jiwa.


Saya akan membiarkan bila

tetangga saya yang pernah sakit


23.

jiwa dikurung di dalam rumah.


Saya akan mengizinkan tetangga
saya masuk ke rumah saya

24.

jiwa bila ia mengenakan pakaian

53

14

14

25

59

34

51

24

54

12

43

30

SS

RR

TS

STS

15

58

12

45

22

pernah sakit jiwa.


Saya bersedia untuk membiarkan
makanan bila tetangga saya yang
pernah sakit jiwa tidak punya

27.

yang tidak cocok warnanya.


Saya bersedia mengajak tetangga
saya ikut kerja bakti sekalipun ia

26.

61

sekalipun ia pernah sakit jiwa.


Saya bersedia mengingatkan
tetangga saya yang pernah sakit

25.

17

makanan.
Saya bersedia memberikan
informasi kepada pihak keluarga
bila melihat tetangga saya yang
pernah sakit jiwa berkeliaran di
jalan.

28.

Saya bersedia bekerja bersama


dengan tetangga saya yang
pernah sakit jiwa.

N
o.
29.

Pernyataan
Saya bersedia mengantarkan ke
rumah sakit atau puskesmas

30.

untuk control.
Saya bersedia mengajak tetangga
saya yang pernah sakit jiwa
berekreasi.