Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dalam akuntansi syariah ada beberapa macam akad diantaranya adalah akad
murabahah, akad salam dan akad istinja. Namun yang di bahas kali ini bukan ketiga akad
tersebut, tapi yang akan di bahas dalam makalah ini adalah menyangkut akad salam.
Akad salam ini dapat membantu produsen untuk penyediaan modal sehingga ia dapat
menyerahkan sesuai yang telah di pesan sebelumnya. Salam In front payment Pembelian
barang yang diserahkan di kemudian hari sementara pembayaran dilakukan di muka.
Rukun: Muslam (pembeli) Muslam alaih atau penjual Modal atau uang Muslam fihi
(barang) Sighat (ucapan) Barang Harus spesifik dan dapat diakui sebagai utang
Diidentifikasi secara jelas Diserahkan kemudian Boleh ditentukan tanggal penyerahannya
Tempat penyerahan Penggantian dengan barang lain.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1.

Apa yang dimaksud dengan akad salam dalam akuntansi syariah?

2.

Bagaimana ketentuan-ketentuan dalam akuntansi salam?

3.

Bagaimana standar akuntansi salam dalam PSAK no 59 tentang Akuntansi Bank


Syariah?

4.

Bagaimana perlakuan akuntansi salam?

1.3. TUJUAN PENULISAN


1.

Untuk mengetahui pengertian akad salam dalam akuntansi syaria

2.

Untuk mengetahui ketentuan-ketentuan dalam akuntansi salam

3.

Untuk mengetahui standar akuntansi salam dalam PSAK no 59 tentang


Akuntansi Bank Syariah

4.

Untuk mengetahui perlakuan akuntansi salam

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN DASAR AKAD SALAM


Salam berasal dari kata As syalaf yang artinya adalah pendahuluan. Jadi pengertian
akad salam di sini adalah harta jual beli barang pesangon dengan pengiriman barang
dilakukan di kemudian hari dan pelunasanya di lakukan oleh pembeli pada saat
akad/perjanjian di sepakati sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah disepakati.
Jual Salam adalah perjanjian jual-beli suatu barang antara pemilik barang dengan
pembeli, di mana pembeli membayar barang itu dengan serta merta dan pemilik barang
menangguhkan penyerahan barang tersebut sampai waktu tertentu. Jual Salam adalah
kebalikan dari Penjualan secara Angsuran yang telah dijelaskan tadi.
Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan pengiriman di
kemudian hari oleh muslam illaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli
pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Nilai wajar adalah suatu
jumlah yang dapat digunakan untuk mengukur aset yang dapat dipertukarkan melalui
suatu transaksi yang wajar (arms length transaction) yang melibatkan pihak-pihak yang
berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai
Ketentuan tentang pembayaran salam:
1.

Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang atau
manfaat.

2.

Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.

3.

Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Ketentuan tentang Barang:


1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.

4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.


5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
Akad salam ini dapat membantu produsen untuk penyediaan modal sehingga ia dapat
menyerahkan sesuai yang telah di pesan sebelumnya .
Syarat Salam :
1.

Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada
sehingga barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan
secara tunai.

2.

Saat barang diserahkan kepada bank oleh produsen maka bank akan menjualnya
kepada nasabah secara tunai ataun secara cicilan. Harga jual yang ditetapkan
bank adalah harga beli bank dari nasabah yang ditambah keuntungan.

3.

Bila bank menjualnya secara tunai biasanya disebut pembiayaan talangan. Bila
bank menjual secara cicilan, maka bank dan nasabah harus menyepakati harga
jual dan jangka waktu pembayaran.

4.

Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak
dapat berubah selama berlakunya akad.

2.2. KETENTUAN-KETENTUAN DALAM AKUNTANSI SALAM


Al Quran
Hai orang-orang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secar tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah:282)
Al Hadis
Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh,
muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan
rumah, bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah)

Ketentuan umum dalam transaksi salam adalah:


1.

Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti


jenis, macam, mutu, dan jumlahnya.

2.

Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan akad maka
produsen harus bertanggungjawab dengan cara mengembalikan dana yang
diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.

3.

Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai
persediaan, maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad salam kepada
pihak ketiga(pemebeli kedua), seperti: bulog, pedagang pasar induk, dan rekanan
dan sebagainya.

Fatwa DSN tentang Transaksi Salam (Fatwa No.05/DSN-MUI/IV/2000) tentang Jual


Beli Salam
Pertama: Ketentuan tentang pembayaran
1.

Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentknya, baik berupa uang, barang atau
manfaat.

2.

Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.

3.

Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Kedua: Ketentuan tentang barang


1. Harus jelas cirri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dialakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
Ketiga: Ketentuan tentang salam paralel Dibolehkan melakukan salam paralel
dengan syarat:
1. Akad kedua terpisah dari akad pertama, dan

2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.


Keempat: Penyerahan sebelum atau pada waktunya
1.

Penjual harus menyerahkan barang tepat waktunya dengan kualitas dan jumlah yang
telah disepakati

2.

Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak
boleh meminta tambahan harga.

3.

Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli
rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga.

4.

Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan
syarat: kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh
menuntut tambahan harga.

5.

Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau
kualitasnya lebih rendah dan pemebeli tidak rela meneimanya, maka ia memiliki dua
pilihan:
a. Membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,
b. Menunggu sampai barang tersedia.

Kelima: Pembatalan kontrak


Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua belah
pihak.
Keenam : Perselisihan
Jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka persoalannya diselesaikan
melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2.3. STANDAR AKUNTANSI SALAM DALAM PSAK NO 59 Tentang Akuntansi
Bank Syariah
Dalam PSAK nomor 59 tentang Akuntansi Bank Syariah dijelaskan beberapa
pernyataan yang berkaitan dengan Akuntansi Murabahah adalah sebagai berikut:

Karakteristik
Salam merupakan akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan penangguhan
pengiriman oleh muslam ilaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli
sebelum barang pesanan tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu transaksi salam.
Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk
menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel.
Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:
a) akad kedua antara bank dan pemasok terpisah dari akad pertama antara bank dan
pembeli akhir; dan
b) akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal
akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
Dalam hal bank bertindak sebagai pembeli, bank syariah dapat meminta jaminan kepada
nasabah untuk menghindari risiko yang merugikan bank.
Barang pesanan harus diketahui karakateristiknya secara umum yang meliputi: jenis,
spesifikasi teknis, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan harus sesuai dengan
karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang
dikirimkan salah atau cacat maka penjual harus bertanggungjawab atas kelalaiannya.
Bank sebagai Pembeli
Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada
penjual.
Modal usaha salam dapat berupa kas dan aktiva non-kas. Modal usaha salam dalam
bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam
bentuk aktiva nonkas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati antara bank dan
nasabah).
Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
(a) jika barang pesanan sesuai dengan akad dinilai sesuai nilai yang disepakati;
(b) jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka:
i.

barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akad, jika nilai

pasar (nilai wajar jika nilai pasar tidak tersedia) dari barang pesanan yang
diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai barang pesanan yang
tercantum dalam akad;
ii. barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai pasar (nilai wajar jika nilai
pasar tidak tersedia) pada saat diterima dan selisihnya diakui sebagai
kerugian, jika nilai pasar dari barang pesanan lebih rendah dari nilai barang
pesanan yang tercantum dalam akad;
(c) jika bank tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal
jatuh tempo pengiriman, maka:
i.

jika tanggal pengiriman diperpanjang, nilai tercatat piutang salam sebesar


bagian yang belum dipenuhi tetap sesuai dengan nilai yang tercantum dalam
akad;

ii. jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam
berubah menjadi piutang yang harus dilunasi oleh nasabah sebesar bagian
yang tidak dapat dipenuhi;
iii. jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan bank mempunyai
jaminan atas barang pesanan serta hasil penjual jaminan tersebut lebih kecil
dari nilai piutang salam, maka selisih antara nilai tercatat piutang salam dan
hasil penjualan jaminan tersebut diakui sebagai piutang kepada nasabah
yang telah jatuh tempo. Sebaliknya, jika hasil penjualan jaminan tersebut
lebih besar dari nilai tercatat piutang salam maka selisihnya menjadi hak
nasabah; dan
iv. bank dapat mengenakan denda kepada nasabah, denda hanya boleh
dikenakan kepada nasabah yang mampu menunaikan kewajibannya, tetapi
tidak memenuhinya dengan sengaja. Hal ini tidak berlaku bagi nasabah yang
tidak mampu menunaikan kewajibannya karena force majeur.
Barang pesanan yang telah diterima diakui sebagai persediaan. Pada akhir periode
pelaporan keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi salam diukur sebesar
nilai terendah biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih
yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai
kerugian. .

Bank sebagai Penjual


Hutang saham diakui pada saat bank menerima modal usaha salam sebesar modal
usaha salam yang diterima.
Modal usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aktiva non-kas. Modal usaha
salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diterima, sedangkan modal usaha
salam dalam bentuk aktiva non-kas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati
antara bank dan nasabah).
Apabila bank melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar
oleh nasabah dan biaya perolehan barang pesanan diakui sebagai keuntungan atau
kerugian pada saat pengiriman barang pesanan oleh bank ke nasabah.
2.4. PERLAKUAN AKUNTANSI SALAM
Seperti yang disebutkan dalam PSAK No. 103, bahwa Salam adalah akad jual
belimuslam fiih (barang pesanan) dengan penangguhan pengiriman oleh muslam
ilaihi(penjual) dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan
tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Transaksi salam terjadi karena
pembeli berniat memberkan modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan penjual
(produsen) menyediakan barangnya. Transaksi salam diselesaikan pada saat penjual
menyerahkan barang kepada pembeli.
Dengan demikian transaksi Salam dilakukan karena pembeli berniat memberikan
modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan penjual (produsen) memproduksi
barang yang diinginkannya melalui pesanan lebih dahulu. Barang yang dipesan memiliki
spesifikasi khusus dan pembeli membutuhkan kepastian dari pihak penjual. Transaksi
Salam berakhir pada saat penjual menyerahkan barang kepada pembeli.
Karakteristik dan harga barang harus sudah disepakati di awal akad. Jika ada
ketidaksesuaian karakteristik barang yang dikirimkan ke pembeli maka menjadi tanggung
jawab penjual. Ketentuan harga barang tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
Alat pembayaran dapat berupa kas, barang atau manfaat. Pelunasan harus dilakukan pada
saat akad disepakati dan tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang penjual atau
penyerahan piutang pembeli dari pihak lain. Jaminan dapat diminta untuk menghindari
risiko yang merugikan.

Pada situasi dimana pihak penjual tidak dapat menyediakan sendiri barang pesanan
dari pembeli maka dilakukan Salam Paralel, yaitu entitas yang bertindak sebagai penjual
kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan
transaksi Salam juga. Salam paralel dikatakan sah jika 1) akad kedua antara pembeli dan
penjual (produsen) terpisah dari akad pertama antara penjual dan pembeli akhir, dan 2)
kedua akad tidak saling bergantung (taalluq).
Ada kemungkinan kontrak salam dibatalkan oleh pembeli jika barang yang dipesan
tidak tersedia pada waktu yang ditentukan, barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai
dengan yang disepakati dalam akad, dan barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah.
Oleh karena itu
a. Akuntansi untuk Pembeli
Penyerahan Modal saham
Db. Piutang Salam

xxx

Cr. Kas

xxx

Penerimaan Barang Pesanan


a. Jika barang pesanan sesuai dengan akad,
Db. Aset Salam

xxx

Cr. Piutang Salam

xxx

b. Jika barang pesanan berbeda kualitasnya


i.

Nilai wajar barang pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari
nilai yang tercantum dalam akad,
Db. Aset Salam

xxx

Cr. Piutang salam

xxx

ii. Nilai wajar dari barang pesanan yang diterima lebih rendah dari nilai yang
tercantum dalam akad
Db. Aset Salam

xxx

Db. Kerugian Salam

xxx

Cr. Piutang Salam

xxx

c. Jika pembeli menolak sebagian atau seluruh barang pesanan, maka:


i. Jika tanggal pengiriman diperpanjang, dicatat sebesar jumlah yang diterima
Db. Aset Salam

xxx

Cr. Piutang Salam

xxx

ii. Jika akadsalam dibatalkan sebagian atau seluruhnya,


Db. Piutang pd Penjual

xxx

Cr. Piutang Salam

xxx

iii. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli mempunyai
jaminan untuk dijual,
Db. Kas

xxx

Db. Piutang

xxx

Cr, Piutang salam

xxx

Atau
Db. Kas

xxx

Cr. Hutang pada Penjual

xxx

Cr. Piutang Salam

xxx

b. Akuntansi Untuk Penjual


Penerimaan modal usaha salam
Db. Kas

xxx

Cr. Hutang salam

xxx

Penyerahan barang kepada pembeli,


Db. Hutang salam

xxx

Cr. Penjualan

xxx

Ketika memperoleh aset salam,


Db. Aset Salam

xxx

Cr. Kas

xxx

Penyerahan aset salam ke pembeli.


Db. Hutang Salam

xxx

Db. Kerugian Salam

xxx

Cr. Aset salam

xxx

10

Atau
Db. Hutang Salam

xxx

Cr. Aset Salam

xxx

Cr. Keuntungan Salam

xxx

Penyajian
Pada akhir periode pelaporan keuangan, persediaan yang diperoleh melalui transaksi
salam diukur sebesar nilai terendah biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat
direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan,
maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
1. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai Piutang salam.
2. Piutang yang harus dilunasi oleh penjual karena tidak dapat memenuhi
kewajibannya dalam transaksi Salam disajikan secara terpisah dari Piutang salam.
3. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai Hutang Salam.
Pengungkapan
Dalam catatan atas laporan keuangan, pembeli dan penjual dalam transaksi salam
mengungkapkan hal-hal berikut :
1. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai
secara bersama-sama dengan pihak lain;
2. Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
3. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK N0. 101 tentang Penyajian Laporan
Keuangan Syariah.

11

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Salam berasal dari kata as syalaf yang artinya adalah pendahuluan . jadi pengertian
akad salam di sini adalah harta jual beli barang pesangon dengan pengiriman barang
dilakukan di kemudian hari dan pellunasanya di lakukan oleh pembeli pada saat
akad/perjanjian di sepakati sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah disepakati
Rukun: Muslam (pembeli) Muslam alaih atau penjual Modal atau uang Muslam fihi
(barang) Sighat (ucapan) Barang Harus spesifik dan dapat diakui sebagai utang
Diidentifikasi secara jelas Diserahkan kemudian Boleh ditentukan tanggal penyerahannya
Tempat penyerahan Penggantian dengan barang lain. Syarat Salam :
1. Pembayaran dilakukan di muka pada majelis akad.
2. Penjual hutang barang pada si pembeli sesuai dengan kesepakatan.
3. Barang yang disalam jelas spesifikasinya baik bentuk, takaran, jumlah, dan
sebagainya
Pelaksanaan LKS di Indonesia dalam semua aspek perjalanan dan operasinya adalah
dengan berlandaskan kepada hukum dan peraturan Syariah. Hukum dan peraturan ini
kebanyakan adalah dari Kelompok hukum dan peraturan Ilmu Fiqih yang berhubungan
dengan muamalat ekonomi dan urusan Bank dan Keuangan.
Hasil dari penggabungan tenaga dan usaha para Ulama Fiqih, ahli-ahli ekonomi, dan
pejabat-pejabat tinggi Bank umat Islam seperti yang disebutkan tadi, hukum dan
peraturan ini mula-mula disusun untuk diamalkan melalui Bank-Bank dan LembagaLembaga Keuangan Islam yang sedang didirikan merata di berbagai tempat. Hasil dari
usaha ini adalah timbulnya gagasan-gagasan dan ide-ide baru guna merespond
permasalahan yang ada khususnya mengenai lembaga keungan islam seperti akuntansi
dalam perbankan pada setiap produknya (akuntasi mudharabah, akuntansi murabahah,
akuntasi ijarah, akuntasi wadiah, akuntansi salam dll).
Untuk bereaksi terhadap masalah-masalah tersebut yang dialami oleh lembaga
keungan islam Indonesia khususnya lembaga keuangan perbankan, maka perbankan
12

syariah menyiasati dengan memberlakukan pola bagi hasil yang merujuk kepada
pedoman akuntanasi perbankan syariah Indonesia (PAPSI), pernyataan standar akuntansi
keuangan (PSAK) dan fatwa dewan syariah nasioanal (DSN) Majelis Ulama Indonesia.
Reaksi ini telah membawa perbankan syariah di Indonesia lebih semangat dan lebih maju
dengan ketepatan akuntabilitas.

3.2. SARAN
Mohon maaf jika dalam penulisan ini terdapat kesalahan.

13

DAFTAR PUSTAKA
Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 05/DSN-MUI/IV/2000.
http//www.wirausaha.com. Pembiayaan Salam Untuk Petani dan Pedagang.htm
Muhammad, Rifqi. 2008. Akuntansi Keuangan Syariah: Konsep dan Implementasi PSAK
Syariah. Yogyakarta: P3EI Press
Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) 2003 Bag. III Piutang Salam.
Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) 2003 Bag. IV Hutang Salam.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) NO. 103 Akuntansi Salam Ed PSAK
103 (Revisi 2006)
http://blog.stie-mce.ac.id//perlakuan-akuntansi-transaksi/
http://akunt.blogspot.com/2012/04/pengertian-akad-salam.html

14

Anda mungkin juga menyukai